THE PORTAL 2 [ Part 1 : Nice to Meet… You? ]

theportal2wallpaper2

Title :

THE PORTAL 2

 

Author :

citrapertiwtiw a.k.a Citra Pertiwi Putri ( @CitraTiwie ) *visit me in http://b2stgenerationyeongwonhi.wordpress.com/ *

 

Main Cast(s) :

– A Pink’s Son Naeun / Son Yeoshin as the Witch

– INFINITE’s L as the Witch ( another side : Kim Myungsoo )

– A Pink’s Jung Eunji / Jung Hyerim as The Princess of Junghwa Kingdom

– INFINITE’s Lee Howon / Hoya as The Bodyguard and celebrity

 

Genre : Fantasy, Romance, Friendship, and little bit Comedy

 

Other Cast(s) :

In Junghwa :

– CNBlue’s Jung Yonghwa as The King / Eunji’s Father

– SNSD’s Seo Joohyun as The Queen / Eunji’s Mother

– BAP’s Jung Daehyun as The First Prince / Eunji’s brother

– F(x)’s Jung Soojung / Krystal as The Second Princess / Eunji’s sister

– BtoB’s Jung Ilhoon as The Second Prince / Eunji’s Brother

– SNSD’s Lee Soonkyu / Sunny as The Palace’s Witch

– B2ST’s Son Dongwoon as Naeun’s Brother

– B.E.G’s Son Gain as Naeun’s Sister

– SNSD’s Kim Hyoyeon / A Pink’s Hong Yookyung as the most mysterious witch in Junghwa

– SNSD’s Kim Taeyeon as L’s Mother & Hyoyeon’s sister (good side : as Kim Haeyeon, Junghwa’s Headmaster)

– A Pink’s Kim Namjoo as Hyoyeon’s foster daughter

– EXO’s Byun Baekhyun as the Prince from another Kingdom

 

In South Korea :

– EXO’s Kim Jongin / Kai as Myungsoo’s brother

– INFINITE’s Lee Sungyeol as a medium

– INFINITE’s Nam Woohyun as Naeun’s foster brother

– A Pink’s Park Chorong as Myungsoo’s best friend & Woohyun’s fiancee

– B2ST’s Yoon Doojoon & 4Minute’s Heo Gayoon as Eunji’s foster parents

– A Pink’s Yoon Bomi as Eunji’s foster sister

– EXO’s Do Kyungsoo / D.O as an ordinary boy

– Girl’s Day’s Bang Minah as a celebrity, and introducing ;

– Girl’s Day Yura / Kim Ahyoung as Minah’s Manager

 

Rating : PG15 – NC17

 

Type :

Chaptered, Season

 

Cerita Sebelumnya :

Synopsis The Portal 1

Part 1              : I Hate My Life

Part 2              : Big Decision

Part 3A           : I Will Find You | 3B : You Will Find Me

Part 4               : Another Me

Part 5               : Over Protective?

Part 6               : Faithfulness

Part 7               : Something New

Part 8               : The Hidden Truths

Part 9               : Unpredictable

Part 10             : The Scandals

Part 11             : Reality

Part 12             : True Love

Part 13             : It’s Time To…

Part 14             : The Real Story

Part 15 ( final ) : Open or Close The Portal?

 

PROLOG SEASON 2

 

Ringkasan Prolog :

L, Naeun, Hoya, dan Eunji seakan siap memulai kehidupan bahagia di dunia yang berbeda. Di dunia nyata, Hoya tengah bersinar dengan karir keartisannya bersama Eunji disampingnya. Dan di negeri Junghwa, L dan Naeun baru bisa menikmati kehidupan pernikahan dengan kehadiran bayi laki-laki mereka yang kelak akan menjadi penyihir nomor satu, Lin. Kehidupan mereka pun mulai terasa manis karena L mencoba untuk menjadi penyihir berhati baik.

Jika sudah demikian, apa yang perlu diceritakan?

Yang perlu diceritakan adalah sesuatu yang tak bisa mereka hindari, yakni bangkitnya Kim Haeyeon dan Kim Myungsoo dari kematian sebagai akibat dari kelalaian Naeun yang meninggalkan ramuannya ditempat dimana mayat mereka disimpan hingga ditemukan dan digunakan oleh Kim Hyoyeon, penyihir yang kini menyimpan dendam besar terhadap L karena hilangnya tato tanda kehebatan yang ia miliki di perutnya.

Keberadaan Kim Hyoyeon memang masih menjadi mitos di kalangan rakyat negeri Junghwa. Namun pada kenyataannya, sang penyihir masih hidup, bahkan meninggalkan sifat baiknya dan mulai mengatur strategi untuk balas dendam bersama arwah anaknya, Kim Namjoo, dan Sungyeol, sang cenayang dari dunia nyata yang masih ia tahan sampai dendamnya terbalaskan. Maka itu, Hyoyeon merubah dirinya menjadi Yookyung agar Sungyeol tak pergi darinya.

 

Berbicara tentang Myungsoo dan Haeyeon, keduanya mengalami nasib yang berbeda saat memulai ‘kehidupan kedua’ mereka. Dimana Kim Myungsoo mendapatkan pertolongan Hoya dan Eunji hingga ia masih bisa hidup meski harta bahkan adiknya –Kai- menghilang karena ulah L. Sedangkan Kim Haeyeon, belum sempat ia menerima pertolongan dari Hoya dan Eunji, ia sudah dijebloskan ke dalam penjara untuk menanggung kesalahan Taeyeon yang melarikan diri disaat ia harus bertanggung jawab sebagai kepala sekolah atas kasus pembunuhan misterius yang dilakukan L di SMA Junghwa.

Meski demikian, terdapat kesamaan pada Kim Myungsoo dan Kim Haeyeon.

Mereka sama-sama sudah mengetahui apa yang terjadi selama mereka mati.

*

 

Kehadiran Lin sepertinya bisa membantu L untuk mulai waspada tentang Hyoyeon. Kegelisahan Lin beberapa malam terakhir hingga ditemukannya seberkas cahaya merah keluar dari rumahnya membuat L sadar sesuatu sedang mengganggu anaknya dan mengancam keluarga kecilnya.

Keyakinan L memuncak ketika mendengar bahwa Baekhyun, pangeran dari negeri Gwangdam yang akan menikahi Krystal mengajukan permintaan aneh kepada Raja, yakni agar pernikahannya dilaksanakan di negeri Gwangdam dan disaksikan oleh seluruh rakyat negeri Junghwa terkecuali para penyihir, yang diwajibkan untuk tinggal di negeri Junghwa yang akan sepi disaat seluruh rakyat bersama keluarga kerajaan mengiringi Baekhyun dan Krystal dalam perjalanan menuju negeri Gwangdam selama lima belas hari.

Dengan tetap menutupi kerisauannya karena berpikir Baekhyun ada dalam pengaruh Hyoyeon, L mencoba untuk melindungi keluarga kecilnya dengan meminta Naeun dan Lin untuk ikut pergi meninggalkan negeri Junghwa saat rakyat menyisakan para penyihir di negeri mereka itu, L meminta –bahkan memaksa- istri dan anaknya itu untuk tinggal sementara di dunia nyata tanpa alasan yang jelas, hingga membuat Naeun merasa enggan.

Terlebih ketika Naeun memimpikan kehadiran Myungsoo di dunia nyata dalam tidurnya, ia merasa semakin enggan untuk pergi ke dunia nyata tanpa L disampingnya. Mengapa ia begitu takut jika Myungsoo hidup kembali? Bukankah ia yang menciptakan ramuan untuk lelaki berhati malaikat itu?

Jawabannya hanya satu, ia takut jatuh cinta, seperti tujuan awalnya membuat ramuan itu untuk Myungsoo. Keadaan sudah berbeda karena ia tak lagi menghindari L.

Namun bagaimana jika L tetap mendesaknya untuk pergi ke dunia nyata demi melindunginya dan Lin?

Apakah Naeun memang ditakdirkan untuk bertemu Myungsoo di dunia nyata?

 

*

 

1

Nice To Meet You

 

Author POV

 

“ Aku bahkan tidak bisa membedakan apakah itu mimpi atau kenyataan. Semuanya terasa nyata. Perutku bahkan terasa kenyang dan lidahku masih terasa… seperti benar-benar selesai memakan ramen di dalam mimpi itu.”

“ Benarkah?”

“ Kepala sekolah, jangan anggap aku gila. Kau tahu aku tidak pernah berbohong padamu, kan?”

 

Haeyeon mencoba mempercayai cerita Myungsoo, mungkin karena ia tak punya banyak waktu untuk memperdebatkan mimpi aneh yang baru saja diceritakan siswa kesayangannya itu. Lagipula logikanya, untuk apa Myungsoo datang sepagi ini ke kantor polisi untuk menemuinya dan berbohong padanya?

Myungsoo pasti berbicara jujur, meski agak sulit diterima oleh akal sehat.

Lelaki itu memutuskan untuk melanggar janjinya pada Hoya untuk tidak keluar apartemen setelah bermimpi aneh semalam. Mimpi yang rasanya tak tahan ia pendam sendiri.

Myungsoo bermimpi bertemu Naeun dalam tidurnya. Jika hanya sebatas itu, mungkin masih bisa ia simpan sendiri. Namun yang membuatnya merasa janggal adalah perutnya yang terasa kenyang dan lidahnya yang masih merasakan bumbu khas ramen saat bangun tidur, padahal ia hanya makan di dalam mimpi. Apa yang dialaminya tentu bukan mimpi biasa.

“ Mungkin seperti itu rasanya jika bermimpi bertemu dengan penyihir.”tebak Haeyeon seadanya.

“ Aku juga berpikir demikian. Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa aku sampai mengalami mimpi ini? tidakkah kau merasa..ini semacam pertanda aku memang akan bertemu dengannya? Ah.. semoga saja.” Myungsoo sedikit berbicara sendiri di kata-kata terakhirnya.

“ Kau menyukainya?”

“ Aku hanya ingin berterimakasih.”

“ Ah.. padahal aku ingin sekali melihat siswa kesayanganku ini jatuh cinta.”

Myungsoo tertawa kecil mendengarnya, ia lantas memegang tangan Haeyeon dan menatap wanita muda itu dengan prihatin. Sementara satu tangannya mengambil kotak makanan dan botol susu dari kantung plastik yang ia bawa.

“ Kepala sekolah baik-baik saja kan? Aku tahu kau pasti bosan dengan makanan penjara, jadi aku bawakan makanan kesukaanmu.”

Haeyeon mengangguk dan tersenyum, merasa terharu dengan perhatian Myungsoo yang notabene bukanlah anaknya. Bagaimana dengan anaknya sendiri? Haeyeon tidak punya. Wanita muda itu sudah bertahun-tahun menjanda dan tak sempat menjadi seorang ibu karena masa pernikahannya yang terlalu singkat. Suaminya terlalu cepat meninggalkannya demi wanita lain hingga ia harus mengatakan cerai dan berubah menjadi wanita tegas agar tak lagi dipermainkan.

Baik, berhenti mengingatnya. Haeyeon sudah menghapus masa-masa sulit itu dari memorinya, sebab kini masa sulitnya yang baru telah dimulai, dimana ia harus menikmati kehidupan keduanya di dalam penjara, menanggung kesalahan yang diperbuat Kim Taeyeon, sisi jahatnya.

Beruntung Myungsoo masih berada disampingnya dan memberinya perhatian seperti ini. Jika tidak, Haeyeon mungkin lebih memilih untuk menyia-nyiakan kesempatan hidupnya karena tak ada lagi yang bisa membuatnya bahagia.

 

“ Kau membuat sandwich ini sendiri? Hmm.. mashita.”ucap Haeyeon sambil mengunyah sandwich dari Myungsoo, siswanya itu mengangguk dan tersenyum.

“ Terimakasih. Hoya menaruh banyak bahan makanan di apartemen sebelum dia pergi agar aku tidak punya alasan untuk keluar apartemen mencari makanan. Tapi aku tetap melanggarnya, aku merasa bersalah..”

“ Tidak apa-apa, yang penting jangan beritahu dia. Dan.. apa kau tahu, berapa lama artis dan tuan putri itu ke negeri mereka?”

“ Aku tidak tahu, dia tidak bilang padaku. Hoya hanya berjanji akan membawa Kai pulang.”

“ Artis itu baik sekali, tuan putri juga. Aku jadi tidak tega jika menyeret nama mereka di sidang nanti. Apalagi Hoya seorang artis..”

“ Kau sudah tahu apa yang akan kau lakukan di sidang nanti?”

Haeyeon menggeleng, ia pun mengeluarkan dua buku yang kemarin diberi oleh Myungsoo padanya, “ Aku belum selesai membaca dua buku tebal ini. Tapi kau benar, aku terkejut di setiap halamannya. Teman-teman satu sel sampai mengira aku gila.”

“…tadinya aku berpikir untuk membawa dua buku ini pada saat sidang nanti, karena ini merupakan bukti kuat bahwa aku tidak bersalah. Tapi siapa yang mau percaya dengan dunia sihir? Semua pasti menuduhku mengada-ngada. Lagipula, asal usul buku ini pun pasti dipertanyakan. Itu hanya akan membuat masalah semakin rumit.”

“ Aku setuju. Tapi apa ada cara lain untuk membela diri?”

“ Aku tidak tahu. Aku masih memikirkannya.”

“ Kau harus segera keluar dari sini, sampai kapan sekolah kita ditutup?”

Haeyeon hanya tersenyum getir, ia pun melanjutkan sarapannya dan membuka salah satu bukunya, kemudian tersenyum melihat sketsa yang ada di salah satu halamannya.

“ Ah.. cantik sekali. Sebenarnya wajar saja kalau kau memang menyukainya.” Haeyeon menunjuk sketsa Naeun yang tergambar berdampingan dengan L mengenakan pakaian pengantin berwarna hitam itu, “…kalian juga serasi.”

“ Itu L, bukan aku.”

“ Apa bedanya? Yang jelas jika gadis ini dengan lelaki ini berdampingan, maka terlihat serasi.”

Myungsoo hanya geleng-geleng kepala, perkataan Haeyeon hanya membuatnya menjadi susah melupakan mimpi yang baru saja ia alami.

“ Kim Haeyeon, waktumu habis.”

Seorang sipir memasuki ruangan tempat Haeyeon dan Myungsoo berada kemudian melempar tatapan mengusir kearah Myungsoo. Sementara Haeyeon segera membereskan buku dan makanannya karena sudah dijemput.

“ Hei anak muda, apa kau satu-satunya keluarga Kim Haeyeon?”tanya si sipir penjara tersebut pada Myungsoo.

“ Aku bahkan hanya siswa di sekolahnya.”jawab Myungsoo, “…ada apa?”

“ Dimana keluargamu, Kim Haeyeon?”kini sang sipir bertanya pada Haeyeon.

“ Kedua orangtuaku sudah tidak ada, dan aku sudah bercerai dengan suamiku. Jadi aku sendiri saja..”jawab Haeyeon tanpa beban, mungkin karena sudah terbiasa.

“ Jadi siapa yang akan menghadiri persidanganmu nanti?”

“ Aku saja.”jawab Myungsoo cepat.

“ Tidak mungkin kau saja, anak muda. Bagaimana kalau penangkapan kepala sekolahmu ini diberitakan saja? Pihak kami tidak mungkin merahasiakannya terus walaupun ini permintaan artis terkenal.”

Myungsoo nampak berpikir, mungkin sudah saatnya orang-orang terutama para guru dan siswa tahu kepala sekolah SMA mereka sudah tertangkap kurang lebih sebulan yang lalu, karena keadaan tak mungkin selamanya seperti ini.

“…kami berencana memberitakannya besok, lewat media cetak dan elektronik.” sambung sipir tersebut, “…dan tolong sampaikan ini pada Hoya. Kami janji tidak akan membawa-bawa namanya dalam berita besok.”

Myungsoo mengangguk kearah Haeyeon memberi ketenangan pada kepala sekolahnya yang kini menunduk itu, mungkin karena sedih keberadaannya akan diketahui oleh semua orang besok.

“ Semua warga sekolah akan mengutukku..”lirih Haeyeon dengan mata berkaca-kaca, Myungsoo segera memeluknya.

“ Kau tidak bersalah. Untuk apa menangis?”

Haeyeon mengeratkan pelukannya, “ Tetaplah disisiku, Kim Myungsoo. Bagaimanapun nasibku nanti.. kita hidup kembali bersama, kita tidak bisa berpisah. Bukankah begitu? Kau sudah kuanggap sebagai anakku.”

Myungsoo mengangguk dan mengelus punggung kepala sekolahnya itu dengan lembut, “ Aku tidak mungkin meninggalkanmu..”

“ Baiklah. Jadi.. jika suatu saat kau memang ditakdirkan bertemu dengannya, biarkan aku tahu.”

“ Dia..siapa?”

“ Son Yeoshin yang kau mimpikan itu.”

Myungsoo hanya tersenyum mendengarnya, ia tak ingin terlalu berharap hanya karena mimpinya tadi pagi. Lelaki itupun melepas pelukannya dan bertanya pada sang sipir.

“ Kapan sidang Kim Haeyeon diadakan?”

“ Enam belas hari lagi.”

*****

 

 

My Yeoshin, wake up.”

 

Naeun tetap tak bergeming, entah karena memang masih terlelap atau tak ingin berbicara dengan L hari ini. Tubuh rampingnya tetap memunggungi L, yang sejak tadi mengguncang-guncang bahu kurusnya.

“…aku minta maaf soal yang tadi malam.”

“ Jangan sentuh aku.”

Naeun yang ternyata sejak tadi sudah bangun menyingkirkan tangan L dari bahunya, namun tangan itu tak menyerah dan kini membalik paksa tubuhnya.

“ Ya! cengeng sekali..” lelaki tampan itu geleng-geleng kepala sambil tertawa melihat mata istrinya yang sembab akibat ribut dengannya semalam, “…Lin bahkan kalah cengeng darimu.”

“ Ish!” Naeun kesal dan mencoba meraih bantal untuk menutupi wajah cantiknya yang agak bengkak, namun L menghalanginya.

Good morning kiss dulu.”

Naeun memutar bola matanya, “ Apa aku kelihatan sedang tidak marah!? Kau tidak ingat kau bicara apa semalam!? Kau tidak tahu kalau semalaman aku tidak bisa tidur!?”

Gadis itu akhirnya memberanikan diri untuk meracau dengan suara serak hingga terdengar oleh Kai yang baru saja turun dari lantai dua.

 

“ Apa setiap pagi mereka seberisik ini? ckckck.. katanya L sudah baik, tapi kenapa masih bisa ribut..?”

Kai geleng-geleng kepala, namun rasa ingin tahunya kumat. Perlahan ia mendekatkan telinga kanannya ke lubang pintu kamar dimana suara Naeun terdengar barusan.

 

“ Apa salahku? Aku hanya tidak bisa percaya dengan mimpimu semalam, itu terlalu konyol. Kalau tidak mau pergi ke dunia nyata jangan begitu caranya membohongiku. Ckckck..”

“ YA! aku serius! Aku benar-benar bermimpi buruk tentang dunia nyata!”

“ Kalau begitu apa mimpimu!? Kau hanya bilang mimpi buruk tentang dunia nyata, kau tidak mau cerita mimpinya seperti apa. Makanya aku bilang kau berbohong.”

Naeun terdiam, ia masih tak berani mengatakan bahwa ia bermimpi bertemu Myungsoo. Yang ada L akan bertanya-tanya bagaimana bisa mimpi itu terjadi, dan ujung-ujungnya ulah Naeun membuat ramuan pembangkit kematian di ruang penyimpanan mayat Myungsoo akan diketahui oleh suaminya. Naeun memang masih merahasiakan hal itu karena L tentu saja akan sangat marah jika tahu ia pernah punya niat untuk membangunkan Myungsoo.

“ Kau tidak bisa membaca mimpiku kan?”

“ Kalau kau bisa bercerita mengapa aku harus membacanya? Buang-buang energi.”

“ Tapi kau bisa membacanya atau tidak?”Naeun terlihat khawatir sekarang, seandainya bisa ia ingin sekali melupakan mimpinya semalam.

L meraih tongkat sihirnya, menempelkan ujungnya ke kening Naeun dan sedikit mendekat lalu menatap mata istrinya itu, mencoba membaca mimpi yang dialaminya semalam. Naeun benar-benar takut namun tak bisa menghindari kontak matanya dengan L, ia memang sering terpaku setiap suaminya itu menatap matanya.

“ Kenapa tidak bisa?”kening L sedikit berkerut bahkan muncul titik-titik peluh dari sana, tanda ia sedang berusaha keras.

“ Hah? Tidak bisa!?”Naeun merasa lega, “…benar tidak bisa!?”

“ Kenapa kau girang sekali!?”

“ Eh..” Naeun agak salah tingkah sekarang, “…sudahlah, tidak usah dilanjutkan.”ia menurunkan tongkat sihir L yang masih menempel di keningnya.

“ Artinya kau berbohong padaku, kan? Kau tidak bermimpi apa-apa. Kalau begitu tidak ada alasan untuk tidak pergi ke dunia nyata.”

“ Ya! bukan begitu juga.. aku benar-benar..”

“ Hari Kamis, buka portal. Pergi ke dunia nyata. Titik.” L memotong, niatnya untuk melindungi Naeun dan Lin memang sudah bulat.

“ Tidak mau!”

“ Harus mau!”

“ Untuk apa aku kesana tanpa alasan yang jelas darimu!? Beri aku alasan dulu!”

“ Berhenti berdebat, mandi sana.” L mengalihkan pembicaraan karena tak mau menceritakan kerisauannya, lelaki itupun berjalan keluar dari kamar.

“ Ish!! Jangan harap aku mau pergi!”

BUK!

Sebuah bantal melayang dan menghantam kepala belakang L. Sebelum suaminya balas melempar, Naeun sudah berlari ke kamar mandi.

 

“ Awas kau, Son Yeoshin.”

***

 

“ Kau menyuruh Naeun pergi dengan Lin ke dunia nyata? Ada apa?”

“ Kau menguping?”

“ Eh..” Kai salah tingkah karena kini L menatapnya tajam, “…ng.. oke, aku mengaku. Aku mendengar pembicaraan kalian. Bagaimana tidak dengar? Kalian berisik sekali.”

L hanya geleng-geleng kepala dan melanjutkan kegiatannya merapikan penampilan di depan kaca besar yang ada didepannya.

“…untuk apa kau menyuruh mereka ke dunia nyata?”Kai mengulang pertanyaannya.

“ Kalau aku bilang kau pasti menceritakannya pada Naeun.”

“ Jadi Naeun tidak tahu alasannya?”

“ Hm.”

“ Ck, pantas saja dia tidak mau! Memang apa alasanmu menyuruh mereka kesana? Kau ingin Naeun satu sekolah lagi denganku lalu dia naksir lagi padaku, begitu?”

“ YA!” L langsung menoyor kepalanya, Kai tertawa.

“ Hahaha, aku bercanda. Aku hanya penasaran, kau misterius sekali sih. Suami macam apa yang ingin istrinya pergi meninggalkannya?”

“ Hanya sementara dan demi kebaikannya.”jawab L seadanya lalu mengambil tongkat sihirnya dan berjalan keluar rumah.

“ Mwo? Ya! kau mau kemana!? Kita belum sarapan bersama!”

“ Kau pikir Naeun mau membuatkan sarapan setelah kami ribut barusan? Aku mau makan di istana!”

“ Gampang sekali bilang begitu, dia kira istana warung makan?”Kai geleng-geleng kepala, namun setelah itu berdiri dan berlari mengejar L.

 

“ Aku ikut!”

********

 

“ Radio di apartemen kami rusak……”

 

Myungsoo merasa geli menatap wajah gadis yang kini meminta tolong (lagi) dengan wajah grogi didepannya. Pintu apartemennya benar-benar diketuk setiap hari oleh gadis itu, ada saja sesuatu dan kerusakan yang terjadi dan mengharuskan Myungsoo datang sebagai penolongnya. Entah kebetulan atau disengaja, Myungsoo ikhlas saja menolong mereka selagi ia bisa.

Pagi ini gadis itu kembali mengunjungi pintu apartemen Myungsoo, mengetuknya berkali-kali karena sang penghuni tak juga membukakan pintu. Setelah lama menunggu, lelaki yang ditunggunya muncul dari dalam lift karena baru saja pulang dari kantor polisi.

“ Radio kalian rusak? Lalu?”tanya lelaki itu dengan wajah tampannya yang masih saja menahan tawa karena tetangganya itu benar-benar kelihatan malu dan sepertinya merasa sedikit tak tahu diri.

“ Aku tahu aku merepotkanmu lagi hari ini, tapi.. tapi..”

“ Hahaha, baiklah. Mana radionya?”

Gadis itu tersenyum dengan salah tingkah dan langsung mengajak Myungsoo masuk ke apartemennya, yang jaraknya hanya beberapa langkah dari apartemen lelaki itu.

 

“ Sekalian saja suruh dia tinggal disini kalau setiap hari dia dipanggil kesini terus.”

Gadis lain yang ada di dalam apartemennya kembali protes karena manajernya lagi-lagi memanggil lelaki yang sama untuk menolong mereka, “…lagipula kau yang sengaja membanting radionya kemarin, harusnya kau yang bertanggung jawab!”

“ Duh..” gadis itu salah tingkah karena Myungsoo mendengarnya, tetapi lelaki itu tetap diam dan tak berkomentar seperti biasanya.

“…ya..ya ini bentuk tanggung jawabku, meminta tolong seseorang untuk membetulkannya, hehe.”jawab gadis itu seadanya, “…sudahlah, kau siap-siap saja. Kau mau ke kantor agensi kan hari ini? aku sudah menyiapkan pakaianmu.”

“ Kau juga cepat berangkat sekolah! Kalau tidak niat sekolah kau harus make up aku nanti.”

“ Arasseo, Bang Minah.”

“ Oh ya, kau sudah berseragam. Kenapa tidak ke sekolah? Radionya biar aku yang urus.”sela Myungsoo, karena baru menyadari gadis yang memanggilnya sudah berseragam sekolah dengan rapi.

“ Ah.. santai saja, masih terlalu pagi berangkat jam segini. Hehe.”

“ Bukan terlalu pagi, tapi terlanjur terlambat.”sahut Minah sambil mencibir kearah manajernya itu, kemudian masuk kamar untuk bersiap-siap.

“ Apa benar?”tanya Myungsoo, gadis itu langsung menggeleng.

“ Ani, Minah memang suka bercanda. Hehe.”

“ Ah, begitukah? Ya sudah.. mana radionya?”

“ Ini..! ini..” gadis itu langsung berlari kecil dan menepuk-nepuk sebuah radio tape berwarna biru yang ada di atas meja. Myungsoo ikut menghampirinya.

“ Wah. Sebagus ini bisa rusak? Apa masalahnya?”

“ Ng.. tidak bisa tersambung ke radio.”

“ Biar kucoba dulu.”Myungsoo mencoba menyalakan radionya dan menggerak-gerakkan antenanya, membuat gadis disampingnya merasa sangat canggung namun ingin berlama-lama dalam situasi seperti ini.

“ Hmm.. kau dari mana tadi?”tanya gadis itu, mencoba mengajak lelaki itu mengobrol.

“ Mengunjungi seseorang, hehe.”jawab Myungsoo seadanya sambil tertawa kecil.

“ Seseorang..siapa?”

“ Seseorang yang sangat kuhormati.”

“ Ibumu?”

“ Ya..anggap saja ibuku.”

Yes, bukan kekasihnya. Batin gadis itu. ia tak ingin bertanya lebih lanjut.

“ Kau tidak sekolah?”tanya gadis itu, mencoba mengarahkan pada topik lain.

“ Sekolahku masih ditutup, mungkin kau tahu.”

“ Aah.. kau sekolah di Junghwa?”

Myungsoo mengangguk dan lagi-lagi tersenyum, sedikit membuat gadis itu kesulitan mengontrol debar jantung dan desiran darahnya. Mengapa lelaki didepannya ini begitu ramah? Tidak bisakah ia mengurangi ketampanannya sedikit? Terdengar berlebihan. Tapi memang ini yang sedang dirasakan oleh manajer Minah itu.

“…ng.. kau kelas berapa?”

“ Tahun terakhir, kelas dua belas.”

“ Wah, kita seumur.”

“ Benarkah? Wah, senang bertemu dengan teman satu angkatan.”

“ Teman? Kurasa bukan. Kau bahkan belum tahu namaku, dan aku sendiri hanya tahu kau adalah manajer Hoya.”

“ Hahaha. Benar juga, kalau begitu..” Myungsoo melepaskan tangan mulusnya sebentar dari antena dan menggesekkannya ke permukaan celana jeans yang ia pakai untuk membersihkannya sedikit, setelah itu mengulurkannya kearah gadis itu.

“…Kim Myungsoo imnida.”

Gila. Aku harus menjabat tangan ini? Ya Tuhan, semoga aku tidak berat hati melepaskannya nanti. Gadis itu tersenyum canggung dan pelan-pelan mengarahkan tangannya untuk menyambut tangan Myungsoo.

 

“ Yura!!! Aku sudah selesai! Cepat make up! Kau belum ke sekolah kan!?”

Terdengar suara teriakan Minah dari dalam kamar, dan gadis itu terpaksa membatalkan perkenalannya dengan Myungsoo. Ia buru-buru berdiri, mengambil beberapa peralatan make up yang berantakan di meja lain dan berlari menuju kamar hingga terpeleset beberapa kali.

Myungsoo memperhatikan gadis itu sejenak.

 

“ Oh, namanya Yura.”

*****

 

“ Lin? Lin!?”

Naeun benar-benar panik dan hampir menangis, pasalnya saat keluar dari kamar mandi ia tak menemukan bayinya di tempat tidur. Apakah L yang membawanya keluar? Seingat Naeun lelaki itu keluar sendiri.

“…apa Kai yang membawanya keluar?” ia buru-buru keluar kamar bahkan naik ke lantai dua. Namun suasana begitu sunyi. Tak ada siapapun, membuatnya semakin linglung.

Disambarnya ponsel yang ada di atas meja, namun diletakkannya lagi benda itu mengingat tak ada sinyal di negeri Junghwa. Jadi apa yang harus ia lakukan?

“ L akan membunuhku kalau begini..”yeoja itu mulai menangis. tak hanya khawatir tentang Lin, ia juga takut L akan marah. Dan semua orang tentu tahu bagaimana suaminya itu jika sudah meledak, negeri Junghwa bisa saja hancur dalam sekejap.

Tap..tap..

Mendengar suara langkah kaki dari luar, Naeun buru-buru berdiri dan keluar dari rumahnya. Benar saja, nampak punggung dua orang dengan tinggi badan yang jauh berbeda namun sama-sama mengenakan jubah hitam terlihat berjalan menjauh dari rumahnya, apa mereka yang membawa Lin?

Bagaimana jika dua orang berjubah itu adalah Hyoyeon dan…Sungyeol? Mengingat tubuh Hyoyeon tidak begitu tinggi dan tubuh Sungyeol yang begitu jangkung. Naeun benar-benar takut, jika dugaannya benar ia tak bisa berbuat apa-apa. L sedang tidak ada dan suaminya itu pasti pergi karena ia marah tadi pagi. Ini semua salahnya.

“ Demi Lin..”

Naeun nekat meraih tongkat sihir dari balik punggungnya dan pelan-pelan mengejar dua sosok yang semakin menjauh itu dengan kaki berjinjit agar langkah kakinya tak terdengar. Apa ia harus menyihir mereka dari belakang?

“ Berhenti!”

“ YA!”

Lin nyaris jatuh dari pegangan kedua orang tersebut karena sihir Naeun membuat tubuh mereka sedikit terdorong ke depan, beruntung salah satu dari mereka langsung menangkapnya. Kini justru Naeun yang gemetaran karena kedua orang tersebut langsung berbalik kearahnya.

“ Apa-apaan kau hah!? Kurang ajar!”

“ Dongwoon oppa? Gain unnie? Haaafft..” Naeun menghela nafas lega terlebih dahulu karena kedua orang tersebut bukanlah Hyoyeon dan Sungyeol seperti dugaannya barusan. Namun setelah itu raut wajahnya kembali tegang karena tak menyangka kedua kakaknya-lah yang membawa Lin pergi tanpa izin.

“…kenapa kalian membawa….”

“ Apa-apaan kau menyihir kami!? Kau mau mati!?” Dongwoon dan Gain menyemprotnya duluan, kesempatan mumpung tak ada L. Memang, meski keadaan sudah banyak berubah, tidak sama halnya dengan sikap Dongwoon dan Gain yang sepertinya akan selamanya sentimen pada adik mereka sendiri. Terlebih sekarang mereka tak bisa lagi memperlakukan Naeun seperti pembantu di rumah karena kini adiknya itu tinggal dengan L dan lebih bahagia dari mereka.

Naeun mencoba sabar dan berkata pelan-pelan, “ Kapan kalian masuk rumah? Dan kenapa kalian membawa anak kami?”

“ Kau tidak perlu tahu. Yang jelas, jangan harap anakmu kami berikan sebelum kau dan L membagi itu pada kami!”jawab Gain, dibarengi oleh anggukan Dongwoon.

“ Membagi itu? apa?”

“ Jangan pura-pura bodoh. Emas! Sebelas peti emas yang L curi dari istana! bukankah masih ada pada kalian!? Mana bagian kami!!??”tanya Dongwoon keras, membuat Naeun terkejut.

Oppa, unnie.. dengar…..”

“ Jangan nikmati kekayaan itu sendiri! Kau tidak tahu kita berdua hidup menderita!?”Gain memotong, Naeun terpaksa meninggikan nada suaranya yang biasanya lembut itu karena tak tahan dengan sikap kedua kakaknya.

“ Kami tidak memakai emas-emas itu!!! kami menyimpannya sampai Raja mau menerimanya! Jadi jangan minta macam-macam!”

“ A..apa? m..maksudnya..kalian mau mengembalikan peti-peti itu!?”

“ Y…y..ya.”

PLAK! PLAK!

“ Ah..” Naeun meringis karena kedua kakaknya langsung menamparnya bergantian di pipi kiri dan kanannya. Ck, sampai kapan mereka menghentikan kebiasaan ini? jika L tahu dan melihatnya mungkin lelaki itu akan langsung murka.

“ Inilah mengapa kami benci kau menjadi orang baik. Kau pasti mempengaruhi L agar mengembalikan peti-peti itu, iya kan!?”omel Dongwoon.

“ Lagipula L.. mengapa ia mau-mau saja berubah demi kau!? Kalau tahu begini lebih baik kau mati saja saat melahirkan.” sambung Gain menyakitkan, Naeun mulai tak bisa membendung airmatanya.

“ Emas itu bukan hak kita, sudah seharusnya kita mengembalikan….”

“ DIAM!”

Naeun terpaksa tutup mulut karena tak ingin dilukai lagi, ia takut bekasnya nanti akan dilihat oleh L dan membuat lelaki itu marah. Tapi kalau hanya diam, bagaimana caranya mencegah Dongwoon dan Gain yang masih menahan bayinya?

“ Dengar, Son Yeoshin. Sekarang kembalilah ke rumah, ambil lima peti untuk kami baru kami akan mengembalikan Lin.”putus Dongwoon, Naeun buru-buru menggeleng.

“ A..apa? tidak.. aku tidak bisa. Aku tidak akan memberikannya, peti itu…..”

“ Baik, baiklah. Kita lihat sampai kapan kau bertahan tanpa bayimu.”potong Gain seraya menjauhkan Lin yang ia gendong dari jangkauan Naeun.

“ Kau tidak akan tahu apa yang akan kami lakukan pada anak ini nanti.”sambung Dongwoon.

“ Dan kami tidak takut pada apapun, adikku yang terlalu baik ini pasti akan bepikir ribuan kali untuk mengadu pada suaminya..”Gain tertawa licik dan berbalik, “…Dongwoon-ah, kita pergi.”

Andwae! Jangan bawa Lin!” Naeun mencoba menahan kedua kakaknya yang mulai pergi meninggalkannya dengan membawa putranya itu. Ditarik-tariknya jubah kedua kakaknya sambil menangis karena takut mereka menyakiti anaknya.

“ Pergi!!!”

Jebal oppa..unnie.. jangan Lin, kumohon.. kembalikan dia!!”

Naeun semakin mengeraskan tangisannya dan menguatkan pegangannya pada jubah kedua kakaknya hingga membuatnya terduduk dan terseret-seret di tanah sampai kakinya terluka oleh batu-batu tajam. Beruntung tak ada yang melihat mereka karena suasana sekitar rumah L dan Naeun memang sepi dan berada di dekat hutan. Seandainya saja ada yang melihat, tentu saja akan ada yang melaporkannya pada L.

“ YA!! berhenti menahan kami!!” dengan kesal Dongwoon berbalik sebentar untuk melempar Naeun dengan tongkat sihirnya hingga adiknya itu terdorong ke belakang. Naeun tak bisa melakukan perlawanan, tongkat sihirnya yang memang sudah rapuh kembali patah karena dorongan tersebut.

“ Lin.. andwae.. Lin..!”

Ia hanya bisa menangis karena kedua kakaknya kini berlari dan benar-benar pergi membawa anaknya.

***

 

“ Lima acara dalam sehari!? Kau benar-benar melakukannya?”

“ Ya! bahkan pernah lebih dari itu! aku benar-benar terkenal. Dan kau tahu? Dalam satu acara saja aku honorku selalu lebih dari sepuluh juta won! Belum lagi jika aku membintangi CF!”

L geleng-geleng kepala mendengar cerita Howon tentang popularitasnya di dunia nyata saat ini, sementara Kai memilih untuk tetap fokus melahap makanan yang ia dapat dari istana karena merasa iri dengan Howon, sebab kalau ingin mengingat masa lalu, seharusnya ialah yang mengikuti audisi kompetisi dance itu.

“ Lalu kenapa kau masih mau seperti ini?”tanya L sambil menunjuk penampilan Howon yang kini kembali dibalut seragam pengawal yang panas dan kaku, bahkan ditambah dengan topi besi untuk menutupi rambut birunya yang sempat diprotes habis oleh Raja.

Sang artis dengan nama panggung Hoya itu kini sedang menjaga pintu masuk peternakan kuda kerajaan yang terletak beberapa meter di belakang istana. L dan Kai mengunjunginya dan kini mengajaknya sarapan bersama setelah mendapatkan beberapa potong makanan dari koki istana.

“ Karena di negeri ini aku dapat emas dan perak. Di tempat ini uangku tidak ada artinya.”jawab Howon.

“ Benar! Saat pertama kali datang kesini, aku memberi uang seratus ribu won pada seorang penjual ikan, uangku malah dirobek. Dia bilang itu hanya kertas tidak berguna.”Kai mulai menyahut.

“ Ck, negeri ini tidak tahu kalau manusia dunia nyata melakukan segala cara demi kertas yang mereka anggap tidak berguna itu.”jawab L.

“ Bicara soal harta, apa saja hadiah yang kau dapat sebagai pemenang SDC?”tanya Kai penasaran, meski sepertinya jawaban Howon akan membuatnya semakin iri.

“ Lima ratus juta won, mobil sport hitam yang sudah kuganti dengan warna ungu. Dan satu unit apartemen mewah di Hapjeongdong.”jawab Howon santai, namun membuat rahang Kai jatuh mendengarnya.

“ Wah, kau bahkan menandingi kekayaan Raja.”Kai benar-benar iri, “…pantas saja Raja menyetujui hubunganmu dengan Hyerim.”

“ Bagaimana denganmu?”

“ Ck, jangan ditanya.”Kai yang mengerti arah pertanyaan Howon menunduk dan menatap kesal kearah kuda-kuda besar yang ada di peternakan, kuda-kuda tersebut yang akan mengangkut warga negeri Junghwa ke negeri Gwangdam nanti.

Aahh.. haruskah kubunuh kuda-kuda ini agar mereka tidak jadi menikah?” ucap L tiba-tiba, membuat Kai terkejut.

“ Ya! kenapa kau tahu apa yang kuucapkan dalam hati barusan?”

“ Aku penyihir hebat, bodoh. Aku bisa mendengar ucapanmu walaupun hanya dalam hati.”

Kai salah tingkah, “ Ck, berbahaya juga bicara dalam hati kalau dekat-dekat denganmu.”

“ Kau masih mengharapkan Krystal?”tanya Howon, Kai tak tahu harus menjawab ya atau tidak. Menjawab ‘ya’, ia seperti tak tahu diri. Menjawab tidak, bertentangan dengan isi hatinya.
“ Apa dia senang? Sebentar lagi dia menikah. Dan aku tak habis pikir dengan Baekhyun. Ia tidak salah melamar Krystal, tapi mengapa harus minta yang aneh-aneh? Apa itu memang sifatnya?”tanya L, masih kesal mengingat permintaan Baekhyun yang menginginkan para penyihir tinggal di negeri Junghwa dan tak ikut ke negeri Gwangdam.

“ Kudengar dari Daehyun dan Ilhoon, sifat Baekhyun memang berubah setelah tahu Krystal bukanlah Hyerim. Wae? Kau keberatan dengan keinginannya agar penyihir tetap tinggal disini saat semua pergi ke negerinya?”tebak Howon, L mengangguk dengan dongkol.

“…kau merasa ini diskriminasi?”

“ Bukan. Bukan soal itu.”

“ Lantas?”

“ Aku tidak bisa bilang sebelum aku tahu pasti apa tujuannya meminta hal itu. tapi aku merasa ada yang tidak beres.”

“ Kau terlalu berpikiran negatif. Sudah kubilang bisa saja Baekhyun hanya ingin negeri ini aman saat ditinggalkan.”sela Kai.

“ Terkadang pikiran negatif juga berguna untuk mencegah hal-hal buruk yang akan terjadi di masa depan.”

“ Ada benarnya sih.”sahut Howon, “…bagaimana kalau kita cari tahu?”

“ Caranya?”

“ Masuk sana.” Howon langsung mendorong Kai agar masuk ke salah satu pintu masuk istana, “…aku pengawal, jadi tidak mungkin bisa memata-matai. Apalagi Baekhyun kelihatan benci padaku saat tahu aku pacar Hyerim yang asli.”

“ Jadi maksudmu aku harus memata-matai Baekhyun!?”Kai sewot.

“ Kenapa tidak? sekalian menengok Krystal, kau tidak merindukannya? Nih, alasan saja kembalikan piring ke dapur istana” L menjawab sambil menaruh tiga piring makanan yang sudah kosong ke tangan Kai yang belum siap hingga lelaki itu hampir memecahkannya.

“ Ya, masuk saja. Pengamanan di istana tidak seketat biasanya, semua sibuk dengan persiapan pernikahan Baekhyun dengan Krystal.”sambung Howon.

Karena tak ingin banyak bicara, Kai menurut saja. Ia beranjak dari peternakan kuda tersebut dan memasuki pintu belakang istana, meninggalkan L dan Howon.

Sepeninggal Kai, rasanya kedua sahabat itu semakin leluasa untuk mengobrol. Tentu karena Kai tak begitu tahu keadaan di dunia nyata karena ia terlalu cepat ‘dibuang’, ia bahkan tidak tahu bahwa mayat kakaknya ada dan disimpan oleh Sungyeol –dan sekarang hidup kembali-.

 

“ Jadi sekarang kau tinggal di apartemen yang kau dapat itu?”tanya L, Howon mengangguk.

“ Sendiri? Atau dengan Hyerim? Bukankah selama aku tidak ada Hyerim yang menggantikanku sebagai manajer?”

“ Aku tinggal dengan Kim Myungsoo! Eh..”

PLAK!

Howon memukul keningnya, mengapa semudah itu ia mengatakannya? Bukankah ia yang paling ingin merahasiakan hal ini?

Tamatlah riwayatnya, kini L terdiam menatapnya. Sebentar lagi ia akan dihujani banyak pertanyaan.

“…ng..maksudku..aku memindahkan mayat Myungsoo dan Haeyeon ke apartemen!”sambung Hoya mengarang dengan berusaha tenang, beruntung sejak menjadi artis ia diajari akting oleh mentor-mentornya. L terlihat percaya padanya, bahkan kelihatan tidak ingin membaca pikirannya, mungkin karena sudah yakin sebab Howon adalah sahabatnya. Benar-benar melegakan. Aktingnya berhasil.

“ Kenapa memindahkannya? Kau tidak takut tinggal dengan mayat?” tanya L tak habis pikir.

“ Polisi mengadakan penyelidikan terus di sekolah, dan mantra Taeyeon untuk mengamankan ruangan penyimpanan mayat sudah tak bekerja, jadi aku dan Hyerim memindahkan mayat mereka tengah malam ke apartemen. Kami meletakkannya di gudang jadi…tidak apa-apa.”

Kemampuan mengarang Hoya benar-benar baik disaat seperti ini, jawaban bohongnya masuk akal dan tak membuat L merasa curiga.

“ Kalau kau ketahuan wartawan menyimpan mayat bisa-bisa karirmu langsung hancur. Berhati-hatilah.”pesan L, Howon mengangguk cepat karena keringat dingin mulai meluncur dari dahinya.

“ Oh iya! Bagaimana dengan Yeoshin? Kau tidak cerita apa-apa, hehe.” Howon buru-buru mengalihkan pembicaraan sebelum L membahas mayat Myungsoo lebih lanjut lagi.

“ Dia baik-baik saja.”

“ Oh, kukira dia sedang sakit.”

“ Sakit?”

“ Ya. kalau tidak sakit kenapa kau harus minta makanan ke istana? istrimu kan bisa memasak sarapan.”

L hanya tertawa mendengarnya, membuat Howon penasaran.

“…ah, jangan-jangan kau masih jahat padanya.”

“ Ya! enak saja, aku sudah berubah walaupun masih usaha.”

“ Lalu kenapa kau harus minta makanan ke istana?”Howon mengulang pertanyaannya dan L tertawa lagi mengingat wajah lucu Naeun yang marah sampai melemparnya dengan bantal tadi pagi. Meski ia tahu Naeun serius dengan kekesalannya, tapi ia menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang menggemaskan.

“ Naeun repot mengurus Lin.”jawab L seadanya.

“ Lin? Itu..itu nama anakmu? Anakmu perempuan?”

“ Pasti disangka perempuan.”L memijat kepalanya karena ini bukan pertama kalinya anaknya disangka perempuan, “…dia laki-laki.”

“ Dan namanya Lin?!”

“ Ya! Taeyeon yang memberikannya. Masih mau protes?”

“ Eh..tidak.”

***

 

“ Stop. Bukankah itu Yeoshin!?”

Kereta kuda yang dinaiki oleh Hyerim pun berhenti saat sang putri melihat sosok familiar di jalan yang ia lintasi, tanpa pikir panjang gadis itu sedikit mengangkat gaun violetnya dan segera turun untuk menolong. Penyihir berjubah merah yang ikut dengannya pun ikut turun dan berlari kecil menuju yeoja yang tengah menangis dengan terduduk di tanah itu.

“ Yeoshin!”

Hyerim segera menenangkan Naeun yang tengah menangis itu, dan yang ditenangkan masih belum sadar bahwa sahabatnya yang sudah lama tak bertemu dengannya datang.

Oppa.. unnie..uri Lin..

Gadis itu masih menangis dan terduduk di tanah sambil terus menunjuk-nunjuk ke depan, merasa lemah mengejar kedua kakaknya yang sudah berjalan cukup jauh. Lin harus kembali padanya sebelum L pulang. Jika tidak, sesuatu yang buruk pasti akan terjadi. L pasti akan benar-benar marah.

Madame Sunny, penyihir berjubah merah itu tak menunggu penjelasan Naeun yang masih menangis, ia berlari mengejar dua orang yang ditunjuk-tunjuk oleh Naeun, sementara Hyerim segera memberdirikan sahabatnya itu.

“ Sshh.. tenang..tenang..jangan cengeng. Ck, kau ini. sudah satu bulan tidak bertemu ternyata tidak berubah juga.”hibur Hyerim, membuat Naeun tertawa disela tangisannya, ia pun mau dibawa oleh sahabatnya untuk duduk di teras rumah menunggu Madame Sunny yang berusaha mengejar Dongwoon dan Gain.

“ Hah, untung mereka penyihir biasa. Kalau Hyoyeon yang menculik bayimu aku tidak bisa menolong.”

Benar saja, Madame Sunny kembali dengan Lin dalam gendongannya. Naeun buru-buru mengambil alih dan memeluk putranya yang tertidur pulas itu. Sementara Hyerim merasa gemas karena ini pertama kalinya ia melihat Lin.

“ Terimakasih, Madame. Kau apakan kedua kakakku?”tanya Naeun yang sudah berhenti menangis.

Madame Sunny terdiam sejenak, nampak seperti berpikir.

“ Ng.. mereka hanya kusuruh pulang. Aku tidak menyakitinya.”

“ Syukurlah. Aku hanya bisa berharap mereka tidak datang lagi.”

“ Mereka masih saja berulah?”tanya Hyerim, Naeun mengangguk.

“…apa lagi masalahnya?”

Naeun tak langsung menjawab, ia lantas memeluk Hyerim. Sang tuan putri tersenyum dan membalas pelukannya.

“ Dongwoon oppa dan Gain unnie benar-benar menginginkan peti-peti emas dari istanamu. Aku minta maaf karena L pernah mencurinya, tapi kami sudah mencoba mengembalikannya..”

Rupanya pelukan Naeun bukan hanya pelukan rindu, tetapi juga diliputi rasa bersalah. Hyerim mengangguk-angguk dan tertawa kecil kearah madame Sunny yang agak gemas dengan Naeun yang masih saja cengeng.

“ Sekarang bukan salah kalian. Tapi salah ayahku sudah menolak niat kalian mengembalikannya. Jadi jangan menangis..”bujuk Hyerim, Naeun mengangguk namun semakin mengeratkan pelukannya.

“ Aku merindukanmu, Jung…Eunji.”

Hyerim tertawa mendengar Naeun menyebut nama ‘dunia nyata’nya, “ Hahaha. Aku juga merindukanmu. Tapi kenapa kita harus bertemu dalam situasi seperti ini? berhenti menangis, kau jelek sekali.”

Naeun melepas pelukannya dan menghapus airmatanya sambil tertawa malu, “ Kau juga belum melihat Lin, kan?” sekarang ia mengizinkan Hyerim untuk menggendong Lin. Dengan senang hati Hyerim menerimanya.

“ Aaa.. kyeopta!”

“ Terimakasih sudah membantu persalinanku, madame.”Naeun berterimakasih pada Madame Sunny, penyihir itu mengangguk.

“ Kau dan L pasti sudah tahu ada apa dipunggungnya.”

Naeun mengangguk, rupanya madame Sunny juga sudah tahu tato di punggung Lin, tentu karena ia orang pertama yang menggendong Lin saat bayi itu baru saja lahir. Sementara Hyerim yang mendengar pembicaraan tersebut langsung menyibak sedikit selimut hitam yang membalut tubuh Lin untuk melihat punggungnya.

“ Hah!? Tato? Ada berapa? Di punggung saja!?”Hyerim agak heboh, Naeun mengangguk dengan bangga.

“…omo..bayi tampan ini akan menjadi penyihir sempurna. Lalu bagaimana dengan Kim Hyoyeon?”

“ Aaa!!”

Lin mendadak membuka matanya dan menjerit setelah Hyerim menyebut nama penyihir nomor satu tersebut. Hyerim panik dan langsung menenangkan bayi itu dengan segala cara, sementara Madame Sunny mendadak berpikir.

Twinkle twinkle little star..how I wonder what you are~” Hyerim mulai menggunakan suara merdunya untuk menenangkan Lin. Berhasil, bayi mungil itu berhenti menjerit bahkan tersenyum lebar. Hyerim merasa lega.

“ Ini bukan yang pertama kalinya Lin menjerit jika mendengar nama Hyoyeon..”ucap Naeun pelan. Madame Sunny terkejut mendengarnya.

Jinjja? Apa L sudah mencari tahu apa penyebabnya?”

Naeun menggeleng, “ Pikiran Lin tidak bisa ditembus.”

“ Ah, benar. Dia kan penyihir nomor satu. Jadi bagaimana caranya?” Madame Sunny benar-benar penasaran karena perasaannya mendadak tak enak.

“ Sudahlah..mungkin hanya kebetulan.”Hyerim mencoba berpikir positif setelah itu kembali asyik menghibur Lin dengan bersenandung sambil sesekali ber-aegyo. Lin nampak senang dan tertawa, ia cepat sekali bersahabat dengan Hyerim.

“ Mana L?”tanya Madame Sunny, “…apa dia bekerja?”

Naeun menggeleng, “ Aku tidak tahu dia kemana, dari pagi sudah pergi. Dia belum bekerja, statusnya masih manajer Howon di dunia nyata. Tapi kalau kami memutuskan untuk tinggal selamanya disini, L harus mencari pekerjaan baru.”

Hyerim memucat, ingin mempengaruhi agar L dan Naeun tidak perlu lagi ke dunia nyata, ia takut Naeun merasa curiga. Ia hanya bisa berdoa semoga L dan Naeun selamanya saja tinggal di negeri Junghwa. Jika mereka memutuskan untuk pindah ke dunia nyata, keadaan pasti akan sangat aneh bila mereka tahu Myungsoo dan Haeyeon hidup kembali. Mereka belum tentu bisa hidup berdampingan di dunia yang sama, L bisa saja marah jika tahu Myungsoo hidup oleh ramuan buatan Naeun.

Ya, hidupnya Myungsoo dan Haeyeon memang menimbulkan resiko jika L dan Naeun mengetahuinya.

“ Kalau kalian ingin tetap tinggal disini, kalian tidak akan menggunakan sebelas peti emas itu untuk hidup, kan?”tanya Madame Sunny, Naeun mengangguk cepat.

“ Aku dan L sudah berkomitmen, meski raja menolak emas-emas itu.. kami tidak akan menggunakannya. Atau mumpung Madame dan Hyerim ada disini, aku berikan saja pada kalian..”Naeun hendak berdiri namun Hyerim menahannya.

Andwae. Simpan saja peti-peti itu, membawanya pulang ke istana hanya akan menimbulkan masalah. Lagipula semuanya sudah terlanjur, Krystal akan tetap menikah.”

“ Apa adikmu itu baik-baik saja?”

Hyerim tersenyum getir sambil menatap Madame Sunny, membuat Naeun merasa heran.

“…ada masalah?”

“ Kurasa itu normal saja, Tuan Putri. Tidak usah bersedih. Krystal tidak akan lama-lama marah padamu.”Madame Sunny menyentuh bahu Hyerim, dan Naeun sudah bisa menebak.

“ Krystal marah padamu?”tanya Naeun, Hyerim mengangguk.

“ Sangat. Sangat marah. Padahal aku ingin sekali bersama dengannya karena sudah sekian lama kami tidak bertemu. Tapi saat aku datang bersama Howon, dia begitu benci padaku. Karena seharusnya akulah yang ada di posisinya, bukan dia..”Hyerim mulai berkaca-kaca, namun wajah polos Lin yang memperhatikannya tanpa berkedip membuatnya masih bisa tersenyum karena merasa gemas.

“…istana sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya, dan Krystal begitu tertekan. Aku merasa sangat bersalah, aku ingin menghampirinya tapi ia selalu mengusirku. Jadi aku pergi saja kesini dengan ditemani Madame Sunny. Aku tidak tahu bagaimana caranya menebus kesalahan ini, karena kebahagiaan Krystal tergantung bagaimana pangeran Baekhyun memperlakukannya nanti.”sambung Hyerim panjang lebar, Naeun merasa prihatin dan segera merangkul Hyerim.

“ Tapi kau akan ikut perjalanan lima belas hari ke negeri Gwangdam, kan?”

“ Tentu saja. Sayang sekali bangsa penyihir tak boleh ikut, aku tidak tahu kenapa ada keputusan seperti itu. tidak apa-apa, kan? Jangan anggap ini diskriminasi.”

Naeun mengangguk saja meski merasa kesal, sebab ini yang membuatnya ribut dengan L karena suaminya itu memaksanya untuk pergi ke dunia nyata saat negeri Junghwa sepi nanti. Namun gadis itu menahan diri untuk tidak bercerita karena ini permasalahan keluarga kecilnya.

“ Aku mendapat tugas yang sangat berat karena harus menjaga istana sebesar itu seorang diri nantinya. Seluruh pekerja istana ikut pergi ke negeri Gwangdam.”ucap Madame Sunny, “…tapi tidak apa-apa. Aku bisa meminta bantuan Taeyeon.”

“ Kau juga bisa minta bantuan L, dia sangat ahli menjaga sesuatu.”ucap Naeun, Madame Sunny menggeleng pelan.

“ Ani, L punya pekerjaan lain. itupun kalau dia mau mengambilnya.” Madame Sunny mengeluarkan selembar kertas yang digulung dengan tali berwarna silver dari dalam jubahnya lalu memberikannya pada Naeun.

“ Apa ini?”

“ Kami mendapatkannya dari kepala sekolah sihir tempat kalian belajar dulu. Kebetulan kami bertemu dengannya saat melintasi sekolah sihir.” jawab Hyerim dibarengi anggukan Madame Sunny.

Naeun penasaran dan segera membuka gulungan kertas tersebut, mata indahnya langsung membesar.

“ Ini..untuk L?”

******

 

“ Kau mau memakai gaun yang ini? atau yang ini?”

“…”

“ Krystal!!!”

Gadis itu mengangkat kepalanya dan menunjukkan wajah pucatnya yang sudah berlumuran airmata, membuat Ratu Seohyun ragu untuk membentaknya lagi. Mungkin karena ini pertama kalinya ia berlaku keras terhadap anaknya. Jika bukan karena Baekhyun yang masih mengawasi mereka di sudut ruangan sambil melipat kedua tangannya, mungkin ratu Seohyun akan berhenti dan memeluk Krystal yang sejak tadi tidak mau fitting pakaian pengantinnya.

Kai memperhatikannya dari lubang pintu yang agak besar, merasa miris. Terlebih ketika Ratu Seohyun dengan terpaksa meminta beberapa pelayan untuk memaksa Krystal mencoba gaun-gaun pengantinnya. Gadis itu meronta namun terlalu lemah, pada akhirnya ia hanya bisa menangis.

Baekhyun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu keluar, Kai segera bersembunyi.

“ Rupanya sampai hari ini anakmu masih bodoh. Mengapa ia harus menangis dinikahkan denganku? Seharusnya ia berterimakasih karena aku mau menerima gadis gila seperti dia.”

Ratu Seohyun hanya bisa terdiam mendengarnya dan membiarkan Baekhyun pergi. Ia dan suaminya sudah sepakat untuk tidak menentang Baekhyun sama sekali untuk menebus kesalahan mereka. Dan rupanya sang pangeran dari negeri seberang itu benar-benar memanfaatkan kesempatannya.

Sekeluarga dari kamar besar tersebut, Baekhyun nampak berjalan sendirian menyusuri koridor istana. pelan-pelan, Kai mulai mengikutinya dengan langkah pelan agar tak terdengar.

“ Ya! kalian berdua.”

Kai kembali bersembunyi karena kini Baekhyun menghentikan langkahnya di depan pangeran Daehyun dan Ilhoon yang berpapasan dengannya.

Daehyun, kakak tertua yang paling menentang pernikahan Krystal tak menyahut. Sementara si bungsu Ilhoon mencoba sopan dengan membungkukkan badannya.

“ Ada apa, pangeran?”

“ Saat berangkat nanti, aku tak mau Krystal mengeluarkan airmata barang setetes pun. Kalau ia masih menangis, aku akan mengadu pada kerajaanku bahwa aku telah ditipu disini, dan kerajaan kita akan berperang. Mau?”

Emosi Daehyun langsung tersulut mendengarnya.

“ Baiklah! Ayo perang…! Aku tidak tak….”

“ Ya!” Ilhoon memotongnya dan sedikit mendorong kakaknya yang hampir mengacungkan pedang di depan Baekhyun yang masih berdiri dengan santai, ia sedikit berbisik, “…tentara negeri Gwangdam sangat banyak. Jadi jangan bicara sembarangan.”

Daehyun terdiam menahan kekesalan dan membiarkan Ilhoon yang berbicara.

Arasseo, pangeran. Krystal tak akan menangis saat kita semua berangkat. Aku akan minta bantuan Madame Sunny untuk menghentikan airmatanya.”

“ Nah. Itu jawaban yang ingin kudengar. Kalau begitu, bisa beritahu aku dimana kamar Madame Sunny?”

“ Untuk apa?”

“ Tunjukkan saja padaku.”

Ilhoon nampak ragu, Daehyun menggeleng kuat-kuat.

“…cepat, tunjukkan. Kalau tidak..”

“ Lurus saja, kemudian belok ke kanan sedikit. Disana ada pintu besar berwarna merah. Itu…ruangannya.”Ilhoon terpaksa memberi tahu, Daehyun yang sudah malas memilih untuk pergi.

“ Terimakasih. Sudah sana, susul kakakmu. Jangan ikuti aku.”Baekhyun mulai mengikuti petunjuk yang diberitahu Ilhoon. Karena takut, meski penasaran Ilhoon benar-benar tak mengikuti Baekhyun, ia berlari menyusul Daehyun.

Kai keluar dari persembunyiannya dan berhasil membuntuti Baekhyun hingga kamar Madame Sunny yang kebetulan sedang tak ada pemiliknya. Baekhyun membukanya dengan santai, membuat Kai heran apakah Madame Sunny tidak mengunci kamarnya?

Dengan nekat, Kai beringsut mendekati pintu dan mengintip dari celah. Kini Baekhyun terlihat sibuk membuka lemari yang berisi benda-benda sihir milik Madame Sunny. Tak hanya itu, ia terdengar sedang berbicara sendiri.

“ Apakah disini? aku tidak melihatnya.”

“…ara, aku akan menemukannya.”

“…aku masih mencarinya.”

“…ya? hahaha. Aku benar-benar akan membuat kerajaan ini kacau. Lihat saja, pernikahan ini akan menjadi tanda bencana mereka.”

“…tapi kau benar-benar akan menepati janjimu, kan?”

 

Ribuan pertanyaan mendadak muncul dalam benak Kai. Apa yang Baekhyun cari di kamar Madame Sunny? Apa ia benar-benar akan mengacaukan kerajaan? Memangnya dengan siapa ia berbicara? Mengapa Kai tidak bisa melihatnya?

Mengetahui hal ini, Kai menjadi semakin khawatir dengan situasi dalam istana. dan tentu saja, kondisi Krystal. Jika keadaan sedang seperti ini, apakah ia benar-benar akan tetap pulang ke dunia nyata?

*******

 

“ Aku tidak bisa memperbaikinya kalau hanya dari luar. Ingin membongkar radionya, aku takut malah semakin rusak. Jadi sebaiknya dibawa ke tempat servis saja.”

Myungsoo menyerah dan berdiri, bersiap untuk pulang ke apartemennya. Yura yang baru saja selesai mendandani Minah dan keluar kamar nampak kecewa. Entah karena radionya masih rusak atau Myungsoo yang kelihatannya ingin pulang. Ia kembali memutar otak.

“ Hmm.. bagaimana aku membawanya ya? Minah mana mau mengurusi hal sekecil ini, apalagi radio itu milikku.”

“ Bukankah kau dan Minah akan pergi? Berhenti saja sebentar di tempat servis.”saran Myungsoo.

“ Ah.. Minah tidak akan mau. Sudah jadi peraturan untukku, aku tidak boleh merepotkannya sama sekali.”

Myungsoo bingung, lelaki itu terdiam dan berpikir. Sementara Yura masih menunggu-nunggu tawaran bantuan berikutnya dari lelaki tampan itu : menemaninya ke tempat servis.

“ Aah.. kalau begitu aku berangkat ke sekolah saja sambil membawa ini ke tempat servis. Daripada harus merepotkan Minah, biar saja dia bawa mobilnya sendiri.”

Gadis itu mulai bersandiwara dengan meletakkan kunci mobil Minah di atas meja kemudian memakai tas sekolahnya. Setelah itu mencoba mengangkat radionya.

“ Ahh! Hampir saja!” Yura nyaris –sengaja- menjatuhkan radio tersebut dari pegangannya, beruntung Myungsoo segera mencegahnya.

“…maaf, berat sekali ternyata. Aku berangkat sekolah jalan kaki, sepertinya akan sulit kalau harus bawa radio berat-berat.”

“ Kau tidak naik taksi?”

Ani..aku menghemat uang sakuku. Aku tak pernah ke sekolah dengan kendaraan kecuali Minah sedang mood mengantarku.”

Myungsoo mengambil alih radio tersebut, “ Biar aku saja yang bawa ke tempat servis.”

Yeah! Ini yang ingin kudengar sejak tadi. Yura mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah. Ia pun membungkukkan badannya.

“ Terimakasih..aku merepotkanmu lagi.”

“ Tidak apa-apa.”

Myungsoo memang sulit untuk tidak membantu orang lain. ia terpaksa melanggar perkataan Hoya lagi karena harus keluar dari apartemen untuk membantu Yura mengangkut radio ke tempat servis. Semoga saja Hoya tidak pulang hari ini dan memergokinya di luar apartemen.

 

“ Minah! Bawa mobilmu sendiri! Kalau ada sesuatu telepon aku! aku ingin sekolah!”

Setelah berteriak pada Minah yang masih bersiap-siap di kamar, Yura buru-buru menarik Myungsoo keluar dari apartemen dan berjalan riang menuju lift.

“ Sepertinya kau tidak biasa ya absen sekolah sehari saja.”puji Myungsoo, gadis itu tertawa.

 

“ Siapa bilang? Aku hanya ingin berjalan denganmu.”

***

 

“ Benarkah? Jadi kau seorang pencinta alam? Tapi kau juga seorang pemain basket? Dan.. kau menyukai fotografi?”

“ Hmm.. minatku agak random ya?hehe.”

Ani! Itu mengagumkan!”

Myungsoo tersenyum, Yura kelihatan takjub mendengar ceritanya. Ya, agar lelahnya berjalan kaki tidak begitu terasa, lelaki dan gadis itu bergantian menceritakan diri mereka satu sama lain untuk melanjutkan perkenalan yang sempat tertunda beberapa saat yang lalu.

Tanpa mengatakan bahwa ia tak jauh berbeda dari zombie karena bangkit dari kematian, Myungsoo cukup bercerita pada Yura tentang dirinya apa adanya namun sudah membuat gadis itu merasa kagum.

“ Kalau kau seorang pencinta alam.. pasti kau sudah sering hiking. Bagaimana rasanya? Aku ingin sekali tapi aku takut.”

Mendengar kata hiking, Myungsoo jadi ingat dengan kematiannya. Cuaca dan hujan yang sangat lebat serta angin kencang membuat tim pencinta alam yang ia pimpin tergelincir saat pendakian, namun Myungsoo menolong mereka agar bisa turun dengan selamat meski nyawa yang menjadi taruhannya.

Hiking sangat menyenangkan. Tapi kita harus berhati-hati dengan kondisi cuaca.”

“ Hmm..kalau begitu harus melihat ramalan cuaca dulu.”jawab Yura polos, Myungsoo membenarkan saja.

“…oh iya, aku ingat sesuatu. Berita lama sih, tapi aku pernah dengar kalau tim pencinta alam SMA Junghwa mengalami kecelakaan saat pendakian. Dua belas orang selamat dan satu dinyatakan hilang jadi dianggap meninggal. Kau pasti salah satu dari yang selamat.”sambung Yura.

Mendengar itu, Myungsoo tak mampu menahan ekspresi wajahnya yang merasa geli. Bukan hanya karena sebenarnya ialah yang hilang dan dinyatakan meninggal itu, tapi juga karena wajah Yura yang nampak polos dan sok tahu.

“ Ya, anggap saja aku salah satu yang selamat.”

Mwo? Kenapa.. ‘anggap saja’?”

“ Ah.. tidak apa-apa. Memangnya darimana kau tahu berita itu?”

“ Ayahku kan guru di SMA Junghwa.”

Jinjja?”

Yura mengangguk, “ Ayahku seorang guru Kimia.”

“ Guru Kimia..”Myungsoo mengingat-ingat guru-guru Kimia yang ada di sekolahnya, hingga yang pertama kali muncul dalam benaknya adalah seorang guru killer yang mengajar di kelasnya.

“ Kau pasti tahu. Ayahku terkenal galak, hehe. Tapi dia sayang padaku karena aku anak perempuan dan satu-satunya. Apalagi ibuku sudah tidak ada.”sambung Yura, “…hmm..coba tebak!”

“ Kim Sung….”

“ Ya! kau benar. Kim Sunggyu songsaenim.. dia adalah ayahku. Sipit-sipit begitu tetap saja menyeramkan kan? Hehe.”

Myungsoo cukup terkejut mendengarnya. Ia kira gurunya yang satu itu belum menikah karena masih kelihatan muda, tapi rupanya sudah punya anak sebesar Yura. Guru Kimia yang lebih sering dijuluki killer Gyu itu memang misterius. Myungsoo jadi ingat bagaimana dirinya diajar oleh guru itu selama sekolah. Sunggyu songsaenim berbeda dari guru-guru lainnya yang sering memuji Myungsoo, beliau justru tidak suka jika ada siswa yang terkadang lebih pintar darinya. Meski demikian, Myungsoo tak mempermasalahkannya karena setiap guru punya pandangan berbeda tentang muridnya.

“…karena SMA Junghwa ditutup hampir dua bulan ini, ayahku jadi tidak menerima gajinya. Perekonomian kami menjadi sulit, makanya aku mau menjadi manajer Minah untuk membantu ayah walaupun sepertinya lebih menyerupai pembantu daripada manajer.”Yura kembali bercerita dengan sedih.

“ Itu bagus. Kau anak yang baik. Lakukan saja pekerjaanmu dengan baik.”

Yura tersipu mendengarnya, “ Hmm..bagaimana denganmu? Dimana orangtuamu bekerja? Apa kau punya saudara?”

Myungsoo tersenyum getir, “ Kedua orangtuaku sudah lama meninggal. Aku punya adik laki-laki.. tapi..”

“ Tapi…?”

“ Dia sedang berada di tempat yang jauh.”

“ Dimana?”

“ Ah, tidak usah dibahas. Sebentar lagi dia pulang kok.”

“ Lalu mengapa wajahmu sedih begitu? Untung masih tetap tampan.”

Myungsoo tertawa mendengarnya, Yura pun mengeluarkan headset berwarna putih dari tasnya kemudian memakai benda itu di satu telinganya, sementara yang satunya ia sodorkan pada lelaki disampingnya.

“ Mau dengar radio? Aku agak mengotot radioku butuh diservis karena aku sangat suka mendengarkan radio. Untung masih bisa dengar lewat ponsel walaupun suaranya kurang jernih.”

“ Ah, kau saja. Aku susah memakai itu.”Myungsoo menolak dengan lembut karena tangannya susah terlepas dari radio player besar yang masih ia bawa.

Jeogi..” Yura meminta izin dan memasangkan sebelah headsetnya di telinga Myungsoo, “…dengar saja, kau pasti terhibur. Siapa tahu artis yang mempekerjakan kita muncul di berita, hehe.”

“ Terimakasih.”

Yura mencari-cari saluran yang bagus, karena suaranya kurang jernih terkadang ia mengangkat-angkat ponselnya bahkan sampai melompat-lompat, tak peduli menjadi perhatian banyak orang di jalan yang mereka lalui. Myungsoo ingin menegurnya, namun merasa lucu juga melihat tingkah gadis itu.

“ Ah. Aku menyerah. Saluran ini saja yang jernih!”

“ Tidak apa-apa, siapa tahu bagus.”

 

“ Annyeong haseyo, selamat pagi para pendengar setia Sun Radio dimanapun kalian berada. Kembali lagi bersama saya DJ Lee, yang akan membawakan acara rutin kita setiap pagi yaitu ‘Play for Someone’. Disini kalian bisa menghubungi kami di nomor 43211234 untuk request lagu yang ditujukan kepada orang-orang yang kalian kenal entah itu pacar, sahabat, atau orangtua. Kalian juga kami beri kesempatan untuk mengirim pesan dan salam. Menyenangkan, bukan? Oke.. telepon masih kita tunggu.”

 

“ Ah, ini acara pagi favoritku. Tapi aku tidak pernah bisa menelpon karena biaya teleponnya mahal.”jelas Yura, Myungsoo tertawa mendengarnya.

 

“…ya. ada telepon masuk. Halo.. dengan siapa dan dimana?” terdengar suara penyiar radio menyapa seseorang yang menelpon.

“ Annyeong haseyo. Terimakasih telah menjawab teleponku. Bisakah aku request lagu Gift of a Friend?”

 

“ Suaranya? Dan lagu itu..”Myungsoo agak terkejut karena begitu familiar dengan suara si penelepon dan juga lagu yang dimintanya.

Waeyo? Itu lagu Demi Lovato.”sahut Yura santai.

“ Tolong besarkan volumenya.”

Yura menurut, ia menambah volume radionya beberapa strip.

 

“ Baik, requestmu akan segera kami putar. Untuk siapa lagu ini?”

“ Untuk kedua sahabat laki-lakiku. Satu yang belum kembali padaku, dan satu yang sudah berada di surga.. ini adalah lagu yang sering kami dengar saat kami bersama. Kami juga sering memainkannya dan sahabatku yang kini berada di surga yang memainkan gitarnya..”

 

“ Aih.. sedih sekali.”komentar Yura, sementara Myungsoo terdiam mendengarnya, lelaki itu menatap jemarinya yang sudah lama tak menyentuh gitar dan memainkan lagu itu. mengapa ia merasakan emosi yang berbeda sekarang? Perasaannya bergetar mendengar suara penelepon radio itu.

 

“ Semoga kedua sahabatmu mendengar. Mereka pasti akan sangat senang kau masih mengingat lagu persahabatan kalian. Apa pesanmu untuk mereka?”

“ Aku harap persahabatan kami tetap abadi meski kami sudah terpisah sekarang.. aku menyayangi mereka. Sangat menyayangi mereka..”

 

Yura menoleh kearah Myungsoo yang menunduk dan hampir saja menjatuhkan radio yang dipegangnya karena melemah, lelaki itu menangis?

“ Hei..kau kenapa?”

Lelaki itu menggeleng, namun airmatanya semakin deras saat mendengar sang penyiar radio meminta si penelepon menyebutkan namanya.

 

“ Park Chorong..”

*****

 

“ Aku pulang..”

L terdiam karena Naeun berdiri dengan melipat kedua tangannya dengan tanpa ekspresi tepat didepannya saat ia baru saja membuka pintu rumah. Kai yang berdiri di belakang L sudah bisa membaca situasi.

“ Tuh kan, makanya jangan pergi tanpa izin.”bisik Kai, L tak menyahut dan masih perang kontak mata dengan Naeun yang ikut diam. Sepertinya mereka belum melupakan keributan tadi pagi.

“ Lin mana?”tanya Kai basa-basi, Naeun hanya menunjuk pintu kamarnya tanpa mengalihkan pandangannya dari L,Kai pun masuk ke kamar untuk melihat Lin yang sedang tidur.

“ Kenapa itu?”tanya L sambil menunjuk betis Naeun yang sedikit luka-luka akibat menahan Dongwoon dan Gain hingga terseret-seret di tanah beberapa saat yang lalu.

Naeun hanya menggeleng, sepertinya yang ingin ia dengar hanyalah L membatalkan keputusannya untuk menyuruhnya ke dunia nyata. Tapi rasanya mustahil, sejak dulu L memang keras kepala.

Lelaki itu maju dan mengangkat tubuh istrinya itu, mendudukkannya di kursi lalu mencari-cari beberapa lembar daun sihir dari salah satu laci untuk mengobati betis Naeun. Gadis itu tak menolak, meski ia tetap diam tanpa ekspresi. Memarahi L masih butuh keberanian ekstra, marahnya tadi pagi hanya sekedar refleks karena L tidak mempercayai mimpinya.

“ Apa kau masih suka melihatku terluka?”tanya Naeun tiba-tiba saat L mulai mengobatinya dengan menempelkan daun-daun sihir di setiap luka kecil pada betisnya, suaminya itu langsung menatapnya heran.

“ Kalau masih untuk apa aku mengobatimu?”

“ Oke. Lalu mengapa kau menyuruhku ke dunia nyata? Permintaanmu membuatku terluka.”

L menyelesaikan kegiatannya dan duduk di samping Naeun, “ Secinta itukah kau padaku sampai-sampai berpisah kurang lebih lima belas hari saja tidak mau?”

“ Ish!!” Naeun memukulnya dengan gemas karena mengira lelaki itu bercanda, “…pokoknya batalkan dulu keputusanmu itu, kalau tidak…”

“ Kalau tidak..apa?”

“ Aku tidak akan memberimu berita bagus.”

“ Ada berita bagus?”

Naeun mengangguk dengan wajah menyimpan rahasia agar L penasaran.

“ Ah, nanti juga aku tahu sendiri.”

“ Ya! tidak akan! Aku tidak akan membiarkanmu tahu!!”

“ Memangnya apa sih? Penting?”

“ Sangat penting.”Naeun semakin misterius agar L semakin penasaran, berita yang ingin ia beritahu tentu saja kertas pemberian Madame Sunny barusan, karena isi kertas tersebut benar-benar kabar baik untuk L. tapi ia ingin memanfaatkan kesempatan untuk menghindari permintaan suaminya dulu untuk pergi ke dunia nyata.

“ Ck, jangan main-main. Beritahu aku.”

“ Batalkan dulu keputusanmu, aku tidak mau ke dunia nyata tanpamu.”

“ Tidak akan, kau harus tetap kesana lusa nanti.”

“ Aneh, menyuruhku kesana tanpa alasan.”

“ Ada alasannya.”

“ Apa?”

“ Kau tidak perlu tahu.”

“ Tuhkan, seharusnya aku tahu! Kan aku yang pergi. Beritahu dulu apa alasannya.”

“ Bilang dulu kau mau kesana, baru kuberitahu alasannya.”

 

“ Mampus, kalau begitu tidak akan selesai debatnya. Itulah akibat menikah terlalu muda..” Kai yang menguping (lagi) dari dalam kamar hanya bisa geleng-geleng kepala, ia menutup telinga si kecil Lin yang ada dalam gendongannya agar tidak mendengar keributan ayah dan ibunya.

“ Ada apa?”

“ YA!” Kai terkejut bukan main karena seorang wanita tiba-tiba muncul di belakangnya, hampir saja Lin jatuh dari pegangannya. Namun sebelum Lin menangis karena kaget, Kai langsung menghiburnya.

“…Lin.. lihat siapa yang datang? Nenek..”

“ Ya! aku bukan nenek-nenek!”Taeyeon –wanita itu- protes, tentu saja karena ia masih –dan selamanya- terlihat muda, sebab penyihir bisa menghentikan penuaan mereka di usia berapapun mereka mau. Dan Taeyeon sudah menghentikan penuaannya di usia 26.

“ Baik..baiklah. lalu kenapa kau tiba-tiba muncul?”

“ Mana anak dan menantuku?”

“ Tuh, sedang ribut.”Kai menunjuk ke ruang tengah, Taeyeon mengerutkan keningnya.

“ Ribut kenapa? Pasti gara-gara kau.”

“ Enak saja! Mereka ribut karena L menyuruh Naeun dan si kecil ini ke dunia nyata saat negeri ini ditinggalkan rombongan ke negeri Gwangdam.”

Jinjja?”

Kai mengangguk, tak disangka Taeyeon langsung keluar menghampiri sepasang pengantin muda yang masih adu argumen di ruang tengah itu.

“ Taeyeon? Kapan kau datang kesin… aw!! Aw!! YA!! berhenti memukuliku! Ahh!! Ada apa sih!? Aw!” L terkejut karena Taeyeon yang datang tiba-tiba memukulinya, Naeun kebingungan.

“ Kau menyuruh istri dan anakmu di dunia nyata!!?? Dasar!! Katanya penyihir hebat, kenapa tidak ingat teori sih!?”omel Taeyeon sambil terus memukuli anaknya, L yang masih menahan pukulan Taeyeon mencoba mengingat-ingat teori apa yang dimaksud sang ibu.

“ Teori..apa? aw!!! Aw! Ya!! jangan pukuli aku terus!!”

“ Dasar bodoh! Buku teori sihir halaman 326!”Taeyeon mengingatkan sambil terus memukuli anaknya dengan kesal, Naeun langsung mengambil buku sihir yang dimaksud Taeyeon dari dalam rak dan membuka halamannya karena ia sendiri lupa dengan apa yang dimaksud oleh mertuanya itu.

“ Ha? Oh iya! Aku lupa ada teori ini! yaaaayy!! Aku dan Lin tidak perlu ke dunia nyata!! Hahaha!” Naeun girang sendiri setelah membaca halaman tersebut, L buru-buru menghindar dari Taeyeon dan merampas bukunya dari Naeun kemudian membacanya.

 

Teori bayi penyihir – mereka tak bisa pergi ke tempat yang jauh sebelum genap berusia satu tahun.

 

“ Kau tetap ke dunia nyata, Lin tetap disini denganku karena usianya masih satu bulan.”putus L santai, Naeun kembali memasang wajah protes dan terlihat merengek pada Taeyeon.

“ Kenapa kau memaksa sekali? Memangnya ada apa?”tanya Taeyeon tak habis pikir, Naeun pasang telinga karena L bisa saja memberitahu alasannya jika Taeyeon yang meminta.

“ Jadi..”

“ Aaaa!!”

L tak jadi bicara saat ia mendengar suara Lin menjerit dari dalam kamar, Naeun buru-buru berlari ke kamar disusul L dan Taeyeon.

“ Bukan.. bukan aku yang membuatnya menangis. serius!” Kai klarifikasi duluan sebelum L melemparinya tatapan membunuh.

“ Lalu kenapa?”Naeun segera mengambil alih Lin dan menenangkan bayinya, “…apa dia melihat sesuatu?”

“ Aku melihat cahaya merah keluar dari jendela, aku tidak berpikir macam-macam tapi Lin langsung menangis saat melihatnya.”jelas Kai jujur, Naeun menatap L, tentu karena ia ingat kejadian sama dua malam yang lalu. Taeyeon mulai bisa menebaknya.

“ L, kita perlu bicara.”Taeyeon menarik anaknya untuk pergi sebentar. Naeun terpaksa tidak mengikuti mereka karena masih menenangkan Lin.

“ Semoga L mau bilang pada Taeyeon apa alasannya menyuruhku ke dunia nyata.”ucap Naeun pasrah.

“ Kau benar-benar tidak mau kesana? Aku justru merindukan dunia itu.” sahut Kai.

“ Kau merindukannya karena itu dunia aslimu. Aku juga merindukan Woohyun oppa disana, tapi kalau aku pergi tanpa L dan Lin..aku tidak mau. Walaupun hanya lima sampai enam belas hari.”

“ Aku mengerti.” Kai mengangguk dan keluar dari kamar, namun kembali berbalik sejenak.

“…tadi pagi L bilang padaku, dia menyuruhmu pergi demi kebaikanmu juga.”

“ Benarkah?”

“ Ya. jadi kalau dia tetap memaksamu, jangan protes lagi. Kalian berisik sekali kalau sudah ribut. Hahaha.”

Naeun hanya tersenyum malu mendengar ucapan Kai.

 

“ L menyuruhku pergi demi kebaikanku? Memangnya ada apa?”

***

 

“ Apa? Jadi itu prediksimu? Hyoyeon akan muncul disaat negeri Junghwa hanya dihuni penyihir?”

L mengangguk saja kemudian kembali fokus dengan kegiatannya memperbaiki tongkat sihir Naeun yang ia temukan di dapur dalam keadaan patah, sementara Taeyeon terlihat berpikir.

“…karena cahaya merah itu?”

L mengangguk lagi, “ Dan aku menghubungkannya dengan permintaan pangeran Baekhyun.”

“ Dugaanmu masih kurang masuk akal.”

“ Kita lihat saja nanti. Apa salahnya antisipasi? Aku tidak mau Naeun ikut menanggung dosa-dosaku di masa lalu jika Hyoyeon datang untuk balas dendam. Ia tidak boleh menderita lagi.”

“ Apa kau yakin melepasnya sendiri di dunia nyata?”

“ Tentu. Auranya ada padaku, tak seorangpun bisa jatuh cinta padanya. Ia tak mungkin selingkuh. Yang bisa merasakan auranya hanyalah aku.”

“ Nah kan, lupa teori lagi. Jika seorang penyihir menyimpan aura, sisi baiknya pun bisa merasakan aura itu.”

 

“ Oh.. benar, teori halaman 459. Tapi untuk apa aku khawatir? Kim Myungsoo kan sudah meninggal.”

***

 

“ Sunny, jangan buat istana gempar. Ingat-ingat dimana kau meletakkannya!”

“ Aku yakin ada didalam sini! Kenapa tiba-tiba hilang!?”

Raja tidak habis pikir dan tetap membiarkan penyihir istananya –Madame Sunny- membongkar seisi lemarinya untuk mencari buku Rahasia Dunia Luar milik kerajaan yang hilang. Howon, yang kini kebetulan bertugas untuk berdiri di belakang raja merasa heran, rasanya ia ingin menemui Kai yang sempat ia suruh untuk mengamati Baekhyun, tapi lelaki itu keburu pergi dari istana tanpa bercerita padanya.

“ Sudahlah, kita fokus pada keberangkatan ke negeri Gwangdam lusa nanti. Jangan menambah masalah.” Raja Yonghwa menyerah dan berbalik meninggalkan madame Sunny yang masih dirundung panik karena buku tersebut tidak boleh jatuh ke tangan yang salah. Howon ikut berbalik dan mengawal dari belakang.

“ Hei, kau tidak tahu apapun?”Madame Sunny menahan Howon sebentar, pengawal itu menggeleng.

“ Bukan kau yang mengambilnya?!”

“ Enak saja, apa itu penting untuk seorang artis?”

“ Ck, dasar sombong. Pergilah!”

Howon tertawa dan justru ikut membantu penyihir istana itu untuk mencari bukunya karena Raja sudah pergi duluan, “ Kau tidak mengunci kamarmu?”

“ Aku menguncinya!”

“ Dengan apa?”

“ Mantra. Mantra yang hanya bisa ditembus penyihir nomor satu dan nomor dua, karena aku penyihir nomor tiga.”

“ Jangan tuduh L ya, dia tidak seburuk itu lagi sekarang. Lagipula dia juga sudah punya buku itu.”

“ Jadi maksudmu yang menembus mantraku adalah penyihir nomor satu? Lin? Anak bayi mencuri buku? Apa itu masuk akal?”

“ Lin itu generasi baru. Maksudku generasi sebelumnya.”

“ Kim Hyoyeon?”

Howon hanya mengangkat bahunya, Madame Sunny langsung memukulnya.

“ Kau membuatku takut saja, aku menjaga istana sebesar ini seorang diri saat semua pergi ke negeri Gwangdam. Bagaimana kalau terjadi sesuatu?”

***

 

“ For you, the kindest witch.”

Naeun menatap tongkat sihir utuh yang tiba-tiba muncul di depannya, kemudian sedikit menoleh kearah L yang menyodorkannya dari belakang.

“ Terimakasih.”ia menerimanya dan menyimpannya, kemudian melanjutkan kegiatannya menyusui Lin tanpa menghiraukan lelaki dibelakangnya lagi.

“ Masih marah?”

Naeun menepis tangan L yang melingkar di pinggangnya, “ Pergi. Tidak lihat aku sedang apa?”

“ Aku tidak melihatnya.”

“ Bohong.”

L tertawa kecil dan membenamkan wajah tampannya di bahu Naeun. Gadis itu menunggu kata-katanya, namun lelaki diam saja dan hanya menikmati wangi parfum di leher istrinya itu, membuat Naeun merasa gemas sekaligus kasihan, apalagi jika mengingat kata-kata Kai bahwa L menginginkannya pergi demi kebaikannya juga.

“ L..”

“ Hm?”

“ Maaf.”

“ Untuk?”

“ Marah-marah tadi pagi..dan yang barusan.”

“ Hahaha, untung kau cepat minta maaf. Kalau tidak kau sudah kubunuh.”

“ YA!” Naeun menginjak kaki lelaki itu, “…masih suka membunuh rupanya.”

“ Aku bercanda, sayang. Mana mungkin aku membunuh orang yang kucintai, sama saja membunuh diriku sendiri..” L mengeratkan pelukannya dan sesekali mengelus rambut halus Lin, “…jadi kau mengalah, kan?”

Naeun mengangguk pelan, “ Kalau itu demi kebaikan kita bertiga. Walaupun aku tidak tahu apa alasannya.”

L merasa sangat lega, dikecupnya pipi Naeun singkat tanda berterimakasih, “ Akhirnya! Kau memang penyihir terbaik.”

Naeun tersipu malu dan menatap L dengan gemas, “ Dan kau adalah yang terjahat.”

“ Hahaha. Terserah. Kalau begitu tidak usah kau beritahu kabar bagusnya, biar aku cari tahu sendiri.”

Aniyo.. aku akan memberitahumu.” Naeun menghentikan kegiatannya menyusui Lin. Setelah mengancing pakaiannya, Naeun mengambil kertas yang diberikan Madame Sunny padanya tadi pagi dan menyerahkannya pada L.

Mwo? Aku diminta menjadi guru di sekolah sihir?”

Naeun mengangguk dengan wajah berseri, “ Kau mendapatkan pekerjaan!”

***

 

“ Baru saja lulus dari pertandingan sihir tahun ini dan sudah diminta menjadi guru? Apa kau tidak ragu?”

“ Tidak ada yang perlu diragukan dari penyihir yang memiliki tato di tubuhnya. Kau bahkan lebih hebat dariku.”

L sangat berterimakasih pada penyihir Park, kepala sekolah sihir yang merekrutnya untuk menjadi tenaga pengajar. Karena dijanjikan gaji yang cukup besar, L menerima pekerjaan tersebut sebab ia sudah berkomitmen untuk tidak menggunakan emas curiannya untuk menghidupi keluarga kecilnya. Meski ia masih tak tahu dengan cara apa ia mengajar anak-anak penyihir yang rata-rata berusia hanya 4 tahun dibawahnya itu.

Ya, selain akan mengajari materi tersulit karena ia menguasainya, L juga menjadi guru termuda di sekolahnya, sebab ia sendiri baru lulus tahun ini namun sudah diberi kepercayaan. Sedangkan Naeun yang sebenarnya masih punya waktu satu tahun untuk menyelesaikan pendidikan sihirnya memilih untuk berhenti karena pengetahuannya tentang ramuan sudah terlampau jauh.

 

“ Ini jadwalmu, sekarang aku akan menunjukkan kelas yang akan kau asuh.”kepala sekolah Park menyerahkan segulung kertas pada L kemudian berdiri dan meminta L untuk mengikutinya.

“ Aku akan menjadi wali kelas juga?”tanya L tak percaya seraya mengikuti langkah kepala sekolah Park.

“ Ya. kebetulan ada kelas yang masih tidak punya wali kelas. Tidak apa-apa, kan? Aku yakin kau benar-benar sudah berubah dan mengasuh mereka dengan cara yang seharusnya.”

“ Tapi..”

“ Ini kelasnya.”

 

“…”

Kelas yang tadinya ribut dan ramai dengan anak-anak yang bermain mendadak sunyi senyap ketika melihat siapa yang datang. Beberapa anak bahkan menahan tangis karena takut. Ya, menghilangkan rasa takut terhadap penyihir sejahat L memang sulit, meski bukan rahasia lagi bahwa setelah memiliki bayi sang penyihir mulai mencoba menjadi baik demi istrinya.

“ A..”

Kepala sekolah mengangguk untuk meyakinkan L yang ragu untuk menyapa anak-anak penyihir tersebut.

“ A..a..annyeong.”

“…” semua anak masih terpaku, entah karena masih takut atau karena tak menyangka penyihir sejahat L bisa menyapa mereka dengan seramah –dan setampan- itu.

“ Ah.. mungkin mereka belum terbiasa.”kepala sekolah berpikir positif, L mengakuinya saja.

“…anak-anak, kelas kalian akan menjadi kelas yang terbaik, karena kalian akan diasuh oleh penyihir hebat. Mungkin ia tak perlu memperkenalkan diri karena kita semua sudah tahu siapa dia..”

L membungkukkan badannya, kemudian menatap satu per satu wajah muridnya. Hingga sosok seorang gadis yang duduk di pojok kelas dan tersenyum kearahnya membuatnya jantungnya nyaris berhenti.

 

“ Kim Namjoo?”

***

 

“ Bagaimana di dalam? Apakah menyenang….”

Naeun yang menunggu di lapangan sekolah bersama Lin langsung menyambut L yang keluar dari gedung sekolah dengan wajah agak pucat.

“…kau sakit?”Naeun menyentuh kening putih suaminya yang sedikit berpeluh dingin, “…ada apa?”

“ Tidak..tidak ada apa-apa.”L buru-buru menghapus peluhnya dan mencoba tenang, ia tak akan menceritakan apa yang ia lihat karena itu hanya akan membuat Naeun menolak kepergiannya lagi ke dunia nyata.

“ Padahal aku ingin menghabiskan waktu denganmu dan Lin karena lusa aku ke dunia nyata sesuai keinginanmu. Tapi kalau kau sakit begini lebih baik kita pulang.”

“ Sudah kubilang tidak apa-apa. Ayo pergi, kau mau kemana?”

“ Bagaimana kalau kita tunjukkan pada Lin tempat-tempat yang bagus di negeri ini?”saran Naeun sambil menatap Lin yang duduk dengan tenang di kereta bayinya.

“ Kenapa tidak? ayo.” L buru-buru mengajak keluarga kecilnya untuk meninggalkan lingkungan sekolah.

Lelaki itu menoleh sejenak, Namjoo memperhatikannya melalui jendela kelas.

*****

 

“ Mereka tidak ada? yah. Padahal aku ingin lihat bayinya sekalian minta ramuan portal, kebetulan aku belum bertemu Yeoshin.”

“ Mwo? Minta ramuan?”

“ Ya, aku harus pulang besok.”

Kai agak terkejut mendengar penuturan Howon. Sebelum berbicara lebih lanjut, ia mempersilahkan pengawal istana itu untuk masuk dan duduk di ruang tamu. Hyerim yang ikut datang dengan wajah suram pun ikut masuk.

“ Jadi kau tidak ikut perjalanan lima belas hari itu?”

“ Ya. aku lupa aku punya schedule besok. Aku hanya diberi izin sampai hari ini oleh agensi.”

Kai menatap Hyerim yang duduk diam seribu bahasa, sepertinya ia sangat kecewa tapi masih mau menemani Howon ke rumah L untuk meminta ramuan. Ia memang gadis yang baik.

“ Memangnya apa schedulemu besok?”tanya Kai.

“ Aku harus menjadi juri acara kompetisi dance di Jepang.”

“ Hah!? Jadi.. keluar dari portal kau harus sudah di Jepang!”

“ Ya. semoga Yeoshin bisa mengaturnya. Aku ingin minta dibuatkan ramuan oleh Madame Sunny, tapi dia sedang panik mencari buku Rahasia Dunia Luar di kamarnya yang hilang.”

“ A..apa?” Kai jadi teringat dengan apa yang ia lihat tadi pagi, ia yakin Baekhyun yang mengambilnya. Tapi untuk apa? Entahlah.

“ Kau tahu sesuatu?”

“ Aku melihat Baekhyun masuk ke kamar Madame saat Madame masih pergi dengan Hyerim. Kan kau yang menyuruhku masuk istana.”

Jinjja? Jadi menurutmu yang mengambilnya adalah Baekhyun?”Hyerim buka suara karena terkejut, sama halnya dengan Howon.

“ Tentu saja, siapa lagi?”

“ Tapi.. madame Sunny bilang kamarnya dikunci oleh mantra. Baekhyun hanya seorang pangeran, dia bukan penyihir. Bagaimana dia membukanya?”Howon heran.

“ Hah? Nah.. kalau soal itu aku tidak tahu. Yang jelas Baekhyun benar-benar masuk kesana dan membuka pintunya dengan mudah.”

“ Ck, ada yang tidak beres ini.. coba saja aku tidak punya jadwal, mungkin aku akan tetap disini sampai memastikan kerajaan ini aman.” Howon mendadak risau dan menyesalkan jadwalnya.

“ Kelihatannya nona Eunji kecewa sekali.”Kai yang notabene pernah menyukai Hyerim memperhatikan wajah suram gadis itu.

“ Ya, dan dia sangat kecewa. Tapi ia gadis yang dewasa, ia lebih mengutamakan karirku. Padahal aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengannya di tempat ini.. aku juga masih ragu membiarkannya ikut perjalanan itu. bukan karena nantinya kami akan saling merindukan, tapi aku takut terjadi sesuatu. Apalagi Baekhyun sepertinya tidak sebaik yang aku kira.”Howon merangkul Hyerim, membuat gadis itu hampir menangis.

“ Kenapa kau tidak ikut Howon saja ke Jepang?”tanya Kai.

Hyerim menggeleng, “ Krystal akan semakin marah jika aku tidak ikut perjalanan itu. lagipula mana mungkin aku tidak hadir di acara pernikahan saudara kandungku..”

“ Benar juga.. tapi Baekhyun benar-benar mengkhawatirkan. Pangeran itu benar-benar berbeda dari saat aku pertama kali bertemu dengannya. Aku takut Krystal…ah sudahlah, bukan urusanku.”

“ Masih berusaha move on rupanya. Aku kecewa, kukira kau akan bertindak saat tahu Baekhyun seperti ini.”ucap Howon.

“ Memangnya aku siapa? Kalau aku juga pangeran mungkin aku masih berani merebut Krystal kembali. Tapi kenyataannya aku hanya orang asing yang terdampar di negeri ini.”

“ Yah.. kalau kau pasrah begini aku jadi tidak bisa memintamu menggantikan aku.”

“ Menggantikan..apa?”

“ Jumlah pengawal tentu saja berkurang karena aku pergi. Jadi..”

“ Ya..ya.. kau memintaku untuk menjadi pengawal dan ikut perjalanan? No way, bayangkan betapa sakitnya menjadi pengawal untuk acara pernikahan orang yang kau cintai.”

“ Aku mengerti, Kai. Tapi ini bisa jadi kesempatanmu untuk melindungi Krystal.”

“ Tidak, aku tidak mau.”

“ Ck, bagaimana ini?”bisik Hyerim, Howon memutar otaknya.

“ Kalau kau tidak mau, kami tidak akan membawamu pulang.”

“ Hah!? Y..yasudah, aku bisa minta ramuan portal pada Yeoshin dan pulang sendiri!”

“ Ah, iya juga sih..” Howon kalah, kini Hyerim yang bicara.

“ Kalau kau tidak mau, kami tidak akan mempertemukanmu dengan seseorang yang kau rindukan.”

M..mwo? siapa?”

“ Ya.. siapa yang kau rindukan?”

“ Aku merindukan Myungsoo hyung, tapi kan dia sudah…”

“ Kau tak perlu tahu bagaimana prosesnya, yang jelas dia tinggal denganku sekarang. Dia menunggumu.”potong Howon, Kai tertawa sinis.

“ Kalau ingin memaksaku jangan begitu caranya, tidak lucu membawa-bawa orang yang sudah meninggal!”

“ Kau boleh ambil semua kekayaanku kalau ternyata aku berbohong.”

“ Heh.. apa ini serius?”

Hyerim mengangguk, “ Dan kami hanya akan mempertemukanmu dengan Myungsoo jika kau mau menggantikan Howon untuk ikut mengawal perjalanan lima belas hari.”

“ Ya, jadi nanti kau akan kembali ke dunia nyata bersama Hyerim karena besok aku pergi duluan. Bagaimana?”

Kai merenung.

 

“ Aku benar-benar merindukan Myungsoo hyung. Tapi aku benar-benar tak ingin lagi bertemu Krystal agar bisa cepat melupakannya. Apa yang harus kulakukan?”

***

 

 

“ Tempat ini indah, bukan?”

L merasa senang karena Lin nampak gembira melihat matahari terbenam di depan mereka, sementara Naeun menempatkan dirinya disamping L yang duduk di atas bukit paling indah di negeri Junghwa itu. satu-satunya tempat dimana mereka bisa melihat matahari terbenam, tempat itu menjadi tempat terakhir mereka berjalan-jalan dari siang hingga menjelang malam.

L kembali membuka tasnya dan mengambil kamera DSLR dari sana kemudian menggunakan benda itu untuk memotret matahari terbenam didepannya beberapa kali. Naeun memperhatikannya dengan kagum.

“ Kau keren sekali kalau sudah memegang benda itu.”

“ Hahaha, kau mau mencobanya?”

Naeun mengangguk semangat, L memberikan kameranya.

“ Ya! kenapa kabur begini.”Naeun kecewa dengan hasil bidikannya, L pun mengajarinya.

“ Jangan goyang, fokus..”

KLIK!

“ Ah, bagus!!” Naeun merasa puas karena gambar matahari terbenam didepannya tidak lagi kabur, “…gambarnya jernih sekali. Pantas saja sepanjang jalan kau tidak berhenti memotret. Kameranya benar-benar bagus.”

“ Ya, sayangnya benda ini bukan milikku. Kamera ini sangat mahal, aku bisa membayangkan bagaimana Kim Myungsoo bekerja keras mengumpulkan uangnya untuk membeli kamera ini.”

“ Apa banyak benda milik Myungsoo yang ada padamu?”

“ Hampir semua. Aku mengeruk semua hartanya.. tapi tidak banyak yang kugunakan, aku tidak punya waktu untuk membuka barang-barangnya. Aku lebih sibuk mengejarmu.”

Naeun tertawa kecil, ia pun menyandarkan kepalanya di bahu L dan memeluk lengan suaminya itu, kemudian menghela nafas panjang.

“ Gunakan saja benda-benda milik Myungsoo yang kau simpan. Lagipula pemiliknya sudah tidak ada.”

“ Aku ingin seperti itu. tapi aku masih sering merasa bersalah setiap kali menggunakannya. Kecuali kamera ini, mungkin karena aku sudah sering memegangnya, aku merasa benda ini milikku.”

“ Lalu bagaimana? Sayang sekali kalau benda-benda itu tidak digunakan.”

“ Tidak apa-apa, aku akan meminta Kai untuk membawanya pulang ke dunia nyata.”

“ Termasuk kamera ini? ah.. aku tidak rela, benda ini sangat bagus.”

“ Kalau begitu gunakan dulu sepuasnya.”L menyerahkan kamera tersebut, Naeun mulai memotret sana-sini tanpa memperhatikan angle dan lain sebagainya. Sepertinya menekan tombol dan mendengar bunyi klik saja sudah menjadi kesenangan baginya.

Kini Naeun mulai mendekati kereta bayi dan memotret Lin berkali-kali, tapi rupanya ia masih belum puas.

“ L, coba gendong uri Lin. Aku foto kalian berdua!”

L menurut, ia mengambil putranya dari kereta bayi dan mengambil gambar, setelah itu bergantian dengan Naeun. Gadis itu sepertinya mulai ketagihan menggunakan kamera.

“ Bagaimana caranya foto bertiga ya?”Naeun bingung, L segera mengambil alih kameranya dan meminta Naeun beserta Lin untuk merapat padanya karena kini mereka mencoba untuk selfie. Suatu hal yang sedang ramai dilakukan oleh warga dunia nyata.

KLIK!

“ Ya! bagus sekali!”Naeun senang melihat hasilnya, “…kau fotografer profesional! Ayo ambil lagi!”

“ Yah.. sayangnya anak kita sudah kelelahan.”L menatap Lin yang sudah tertidur pulas, Naeun terpaksa mengembalikannya ke kereta bayi.

“ Kalau begitu ayo foto berdua. Biar seperti orang-orang pacaran di dunia nyata. Setelah berfoto biasanya dipasang di internet.”ucap Naeun polos, L tertawa karena istrinya itu masih saja bertingkah seperti anak kecil.

Keduanya mengambil banyak foto berdua, memanfaatkan sinar yang semakin sedikit karena matahari semakin terbenam. Hingga di foto terakhir sepertinya L ingin mengambil gambar yang tidak biasa.

“ Sekarang, jangan fokus ke kamera.”ucap lelaki itu sambil kembali mengarahkan lensa kearah keduanya.

“ Lalu kemana?”

“ Lihat aku.”

Mwo?”

Cup~

Klik!

“ YA!! kelewat kreatif!” Naeun protes dan malu karena L mencium bibirnya lalu memotretnya, sementara lelaki itu puas karena bidikannya bagus, walaupun sedikit memalukan jika foto tersebut dilihat orang lain.

“ Kau akan merindukannya saat kita berpisah. Jadi bawa saja kamera ini nanti.”

Naeun mendadak sedih mendengarnya, mengingat kepergiannya lusa nanti. Ingin membahasnya, ia takut ribut lagi. Ia pasrah dengan keputusan L meski sampai saat ini masih belum tahu apa alasannya.

Gadis itu menyandarkan dirinya lagi di bahu L, mengelus tato berbentuk akar di leher lelaki itu.

“ Besok hari terakhir kita menghabiskan waktu bersama-sama. Hilangkan tatomu itu untuk sementara, bisa kan?”

“ Untuk apa?”

 

“ Ayo kita jalan-jalan ke dunia nyata. Sebentar saja, aku ingin menghabiskan waktu denganmu disana.”

*******

 

Morning, 5.00 AM

 

“ Kai belum bangun tidur, bagaimana? Apa perlu kusiram dia?”

“ Ya! tidak..tidak usah.”Howon menahan L yang sudah hendak membawa seember air ke kamar Kai yang ada di lantai atas rumahnya, “…biar saja dia memutuskan. Kalau aku membangunkannya kesannya aku memaksa. Yang penting serahkan saja ini padanya, terserah dia mau pakai atau tidak.”

Howon meletakkan seragam pengawalnya yang ada di dalam kotak berwarna putih ke atas meja, ia sendiri sudah dengan kaos oblong dan celana jeans model sobek-sobeknya, pagi buta itu ia sudah meninggalkan istana dan pergi ke rumah L untuk meminta ramuan pada Naeun agar ia bisa segera ke Jepang untuk jadwalnya hari ini.

“ Mana Eunji? Eh.. Hyerim maksudku.”tanya Naeun yang masih mempersiapkan ramuan portalnya di dapur.

“ Aku sengaja tidak membangunkannya, dia tidak tahu aku pergi sepagi ini.”jawab Howon dengan sedikit penyesalan.

“ Kenapa? Kalau begitu tidak ada ciuman perpisahan.”

“ Hahaha, memang. Tapi itu hanya akan membuatku tidak fokus dengan pekerjaanku, apalagi kalau dia sampai menangis.”

“ Kapan kau akan kembali kesini?”tanya L.

“ Aku..tidak tahu.”Howon agak bimbang untuk menjawab secara pasti. Karena ia benar-benar sedang naik daun di dunia nyata, jadwalnya benar-benar padat. Dan satu lagi alasan kuat yang membuatnya ragu pulang-pergi ke negerinya : ia tidak bisa meninggalkan Myungsoo lama-lama.

“ Kalau Hyerim ikut perjalanan, bagaimana dengan manajermu? Seharusnya aku ikut juga.”

“ Eh.. tidak.. tidak usah.. tidak usah khawatir, banyak staf.”Howon buru-buru menjawab, “…aku tahu kau sudah dapat pekerjaan disini, jadi fokus saja dengan pekerjaanmu yang baru.”

“ Hm.. baiklah kalau begitu.. oh ya, hati-hati dengan mayat itu.”

“ Hah? Eh.. ya.. ya.”

“ Mayat apa?”tanya Naeun tak mengerti.

“ Howon memindahkan mayat Myungsoo dan Haeyeon ke apartemennya. Benar begitu?”jawab L, Howon mengangguk-angguk dengan salah tingkah karena itu hanya kebohongan. Beruntung L dan Naeun percaya.

“ Ya ampun. Berhati-hatilah. Resikonya besar kalau kau ketahuan menyimpan mayat.” Naeun keluar dari dapur dan memberikan sebotol ramuan pada Howon.

“ I..iya, hehe. Tenang saja. Tidak usah dipikirkan.. tidak usah.”jawab Howon sambil menerima botol berisi ramuan portal itu, “…oh iya, ini.. berikan pada Hyerim.”

Howon menukar ramuan portal itu dengan sebuah amplop di tangan Naeun.

“ Apa ini?”

“ Surat, untuk Hyerim.”

“ Kenapa tidak diberikan langsung saja di istana?”

“ Aku baru menulisnya saat bangun tidur, karena kurasa aku perlu memberinya pesan. Ingin meletakkannya di bawah pintu kamarnya, aku takut orang lain yang mengambilnya. Pintu kamarnya sangat rapat sehingga tak ada celah untukku memasukkan amplop itu.”

“ Baiklah.. akan kusampaikan.”

“ Terimakasih. Kalau begitu aku pergi dulu,” Howon melakukan salaman khasnya dengan L kemudian menghampiri Lin yang dibawa oleh Naeun.

“…sayang sekali aku tidak bisa bermain denganmu, lain kali pasti ada waktu..”Howon mengelus dan mencubit kecil pipi Lin, “…Yeoshin, ramuannya langsung ke Jepang kan?”

Naeun mengangguk yakin, Howon segera pergi ke tembok belakang rumah dan menyiramkan ramuan tersebut hingga sebuah lubang besar terbentuk disana.

“ L,Yeoshin.. terimakasih atas bantuannya. Aku pergi!”

L dan Yeoshin mengangguk, Howon kelihatan sedikit ragu memasuki portal. Ia kembali berpesan.

“…katakan pada Hyerim, aku mencintainya. Dan aku minta maaf.”

“ Minta maaf untuk ap…”

Howon sudah pergi memasuki portal, lubang besar itu sudah tertutup.

Naeun menatap surat yang diberikan Howon padanya untuk disampaikan pada Hyerim.

 

“ Mengapa aku berfirasat buruk tentang hubungan mereka?”

*****

 

Night, 8.00 pm

 

“ Tuan putri, ada surat untukmu.”

Mwo? Dari siapa?”

“ Yeoshin, dia bilang surat itu dari Howon.”

“ Howon? Ck, artis sialan itu. Pergi tanpa pamit dengan meninggalkan surat saja rupanya.” Hyerim agak mendengus namun tetap menerima surat itu dari tangan Daehyun.

“ Sudahlah, kau sendiri yang bilang Howon orang sibuk. Jadi fokus saja dengan perjalanan besok. Pikirkan bagaimana caranya agar Krystal tidak membencimu lagi.”

Hyerim mengangguk, Daehyun pun berlalu.

Oppa!”Hyerim menahan Daehyun sebentar.

“ Ne?”

“ Kau bilang surat ini dari Yeoshin, apa dia mengantarnya kesini?”

“ Ya. kenapa?”

“ Kenapa tak diajak masuk dulu?”

“ Dia bilang dia buru-buru karena akan pergi dengan L.”

“ Benarkah? Kemana?”

“ Mereka ingin jalan-jalan ke dunia nyata malam ini. ya.. mungkin karena besok para penyihir sudah tidak boleh meninggalkan negeri Junghwa.”

Hyerim mendadak memucat.

“ Dunia nyata?”

*****
The world comes to life
And everything’s bright
From beginning to end
When you have a friend
By your side
That helps you to find
The beauty you are
When you open your heart
And believe in
The gift of a friend
The gift of a friend

 

“ Tekan tidak yah..”

Yura yang berada di depan pintu apartemen Myungsoo merasa agak ragu kali ini untuk meminta lelaki itu keluar, tidak seperti biasanya. Karena ia mendengar suara lelaki itu bernyanyi dengan gitar dari dalam sana. Gadis itu menikmatinya, namun lama kelamaan merasa miris karena lelaki itu mengulang-ulang lagunya dan mulai bernyanyi dengan suara serak dan bergetar. Jelas sekali lelaki itu bernyanyi sambil menangis.

Apa yang terjadi padanya? Apa karena siaran radio yang mereka dengar tadi siang? Kalau begitu hati Myungsoo benar-benar lembut, mendengar kisah sedih orang lain saja sampai-sampai ikut merasakannya –begitu pikir Yura-.

 

Teng..tong..

“ M..Myungsoo-ssi..~” Yura akhirnya menekan bel, namun lelaki itu tetap bernyanyi. Apa karena terlalu menghayati? Entahlah.

“…Kim Myungsoo..?”

“…”

Yura mulai gemas, setelah berdoa dalam hati. Gadis itu mulai meletakkan tangannya di gagang pintu, pelan-pelan digerakkannya knop tersebut untuk membuka pintunya.

“ Ah!”

“ Eh, Myungsoo?!”

Gadis itu terkejut karena rupanya Myungsoo duduk di belakang pintu dan terdorong karena pintunya terbuka. Ia buru-buru memberdirikan lelaki itu.

“…maaf, maaf aku lancang. Kau tidak apa-apa?”

“ Y..ya..ya.. tidak apa-apa. Hehe.”Myungsoo merasa malu karena wajah tampannya berlumuran airmata, ia segera menyimpan gitarnya dan menghapus airmatanya.

“ Permainanmu bagus.”

“ Hah? Ah..hahaha..terimakasih.”Myungsoo benar-benar salah tingkah, “…ada apa? Ada masalah lagi di apartemenmu?”tanya Myungsoo mengalihkan pembicaraan setelah wajah tampannya bersih dari airmata.

“ Menurutmu aku kelihatan seperti mau minta tolong?”

Yura agak kecewa karena Myungsoo tak melihat ia sedikit berubah malam ini. jika biasanya ia hanya datang meminta tolong dengan kaos dan celana pendek, gadis itu kini datang dengan kaos lengan panjang bergaris pink-putih dan rok diatas lutut dengan tas dan sepatu yang berwarna senada. Tentu saja gadis itu tak datang untuk minta tolong.

“ Ah, mianhae.. lalu ada apa?”tanya Myungsoo salah tingkah, karena masih malu.

“ Kau baik-baik saja kan?”

“ Hah? T..tentu saja. Ada apa?”

“ Aku ingin..mengajakmu..pergi.”

Mwo? Kemana?”

“ Kau suka menonton film? ayo ke bioskop, aku dapat uang tambahan dari Minah. Tadi sore ia mendadak terbang ke Jepang.”

Jinjja?”

“ Sepertinya kau sedang sedih, menonton film bisa membuatmu senang. Kajja, kita naik taksi. Tidak jalan kaki seperti tadi siang.”

“ Tapi..”

“ Aku tunggu diluar! Bersiap-siaplah!”

Yura keluar dari apartemen Myungsoo, lelaki itu merasa bimbang dan merasa tak tega untuk menolak karena Yura sudah siap.

 

“ Mianhae, Hoya. Aku keluar apartemen lagi.”

***

 

“ Kau benar-benar tidak memperhatikan hal-hal sekecil ini! hah, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kau mengurus Lin selama aku pergi. Lihat, kebutuhan kita sangat banyak! Kau tidak bisa berbelanja ke pasar karena orang-orang pasar juga ikut perjalanan ke negeri Gwangdam. Negeri kita akan sangat sepi!!”

L mengangguk-angguk saja mendengar Naeun yang terus saja mengoceh sambil terus mengambil banyak barang di supermarket sebuah mal yang malam ini mereka kunjungi. ‘jalan-jalan di dunia’ nyata yang diinginkan Naeun rupanya jauh dari ekspektasinya. Mengira akan makan di restoran atau ke Namsan Tower, rupanya Naeun mengajaknya berbelanja untuk memenuhi kebutuhan Lin, yang saat ini sedang dijaga oleh Taeyeon di rumah mereka karena tak bisa memasuki dunia nyata sebelum berusia satu tahun.

“ Cukup.. cukup. Belanjaan kita sudah dua troli, aku tidak kuat membayarnya.”

“ Ck, kau lupa siapa aku di dunia ini? putri angkat keluarga Nam. Jadi jangan khawatir soal uang.”jawab Naeun santai, membuat L merasa gemas.

“ Memangnya Woohyun tahu kita ada disini?”

“ Tidak. aku tidak memberitahunya, kita kan hanya sebentar disini. tapi bukan berarti aku tidak punya uang, aku pernah diberi kartu kredit oleh Woohyun oppa.”

“ Tetap saja aku tidak enak kalau kau yang membayar ini semua, aku yang berkewajiban mengeluarkan uang.”

“ Santai saja. Gunakan uangmu untuk hal lain.”

“ Untuk apa?”

 

“ Hm..bagaimana kalau untuk..menonton film?”

*****

 

“ Kepala sekolah SMA Junghwa sudah tertangkap! Wah.. kenapa ayahku tidak memberitahu..” Yura heboh sendiri saat membaca koran yang ia beli untuk menunggu jam filmnya diputar.

Myungsoo yang duduk disampingnya hanya diam, merasa sedih karena Haeyeon pasti merasa malu saat ini.

“…ya!kau tidak senang? Kasus sekolahmu pasti akan segera selesai! Kepala sekolah itu pasti akan diberi hukuman yang berat, lagipula salah dia tidak bertanggung jawab..”Yura menyenggol Myungsoo sambil memasang wajahnya yang membuat Myungsoo gemas, wajah sok tahu.

Lelaki itu hanya mengangguk sambil meremas-remas tiket film mereka, membuat Yura merasa curiga dan lagi-lagi sok tahu.

“…ah.. kau pasti takut karena kita akan menonton film horor.”

Mwo? Tidak.. aku tidak takut!”

Jinjja? Oke, ayo kita masuk! Pintu teater sudah dibuka!” Yura berdiri dengan semangat dan menarik Myungsoo menuju pintu teater tempat film pilihan mereka diputar.

*

 

“ Ya! kau ini jahat sekali, aku kan tidak suka film horor!”

“ Ck, jangan cerewet. Kita sudah terlambat, untung dapat bangku yang kosong.”

L dan Naeun yang baru saja tiba di gedung bioskop segera memasuki teater karena film yang L pilih sudah mulai diputar, Naeun terpaksa ia seret-seret karena istrinya itu takut memasuki teater sebab mereka akan menonton film horor.

 

“ Hah, ada yang datang. Syukurlah.”Yura yang mendengar suara orang duduk di bangku kosong yang ada di samping Myungsoo bernafas lega, “…jadi kau tidak perlu khawatir kalau menoleh ke kiri. Karena mitosnya.. kalau seseorang menonton film horor di bioskop tepat disamping bangku yang kosong, ketika menoleh ke bangku kosong itu kau bisa melihat hantu.”

“ Hahaha.. anggapan macam apa itu.”Myungsoo hanya tertawa kecil, ia menegakkan duduknya karena film akan segera diputar.

“ Aah.. gelap sekali. Aku takut!” Naeun kembali mengeluh ketika lampu bioskop mulai dimatikan, “…L, kau duduk dimana?”

“ Sshh..” hanya terdengar suara lelaki yang menyuruhnya diam, Naeun semakin tegang karena suara dalam teater yang begitu besar. Terakhir kali ke bioskop dengan Woohyun, ia tidak merasa setakut ini.

Film dimulai. Naeun yang mengharapkan teater sedikit terang oleh layar hanya bisa menelan ludah karena suasana teater justru semakin mencekam oleh adegan pembuka film yang berlatar sebuah rumah yang gelap.

“ Untung Lin tidak ikut, kalau ikut dia pasti menangis.”Naeun masih saja mengoceh agar L membawanya keluar, namun suaminya itu sepertinya fokus pada film dan tak merasa takut sama sekali –mungkin karena ia lebih menakutkan-.

HA!

“ AAAAA!!! L..! sumpah L.. aku tidak mau.. ayo pulang.. pulaaang!!” Naeun menjerit bersama penonton yang lain karena terkejut melihat penampakan yang muncul mendadak di layar besar, gadis itu langsung mencabut pembatas kursi dengan tongkat sihirnya dan memeluk lelaki disampingnya erat-erat karena ketakutan.

 

Myungsoo mendadak tegang karena seorang gadis tak dikenal tiba-tiba memeluk tubuhnya erat-erat, perlahan ia singkirkan rambut coklat yang menutupi wajah gadis itu. Hanya dengan bantuan sinar dari layar, Myungsoo mencoba mengenalinya.

Gadis dalam sketsa tersebut.

 

“ Son Yeoshin?”

Gadis itu menatapnya dan memukulnya, “ Ya! Jangan pura-pura! Aku kesal kau mengajakku menonton film seperti ini!”

“ Eh..tapi..”

“ Baik..baiklah, aku memaafkanmu, karena ini hari terakhir kita menghabiskan waktu bersama. Tapi aku tidak akan melihat ke layar lagi, aku ingin mengganggumu saja. Hahaha.”

“ M..maaf, Son Yeo..”

“ Kau mau tahu bagaimana aku mengganggumu?”gadis itu memotong perkataannya lagi, kemudian mendekat dan membuat Myungsoo semakin gugup.

Cup~

Gadis itu menciumnya.

“ Lihat saja, akan kulakukan ini sepanjang film agar kau tidak fokus menonton! Siapa suruh mengajakku menonton film horor!”

 

“ Tidak.. jangan.”

 

To be Continued

 

Oke ini bersambungnya tanggung sekali ya? iya ._.

Mohon maaf atas keterlambatan update! Author sibuk mengurus kuliah, maklum ntar lagi jadi mahasiswa h3h3h3 😀

Apa kalian puas dengan part perdananya? Semoga! Mungkin hanya di part ini author lebih banyak menggunakan latar negeri Junghwa. Part-part berikutnya akan lebih condong ke dunia nyata. Semoga masih tetap mengikuti fanfic ini ya.

Terimakasih, maaf merepotkan (?). sampai jumpa di part berikutnya!!

Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like+komen. Tolong jangan menjadi silent reader, komentar kalian mempengaruhi part selanjutnya^^

 

Part 2 >> 15 Days

192 responses to “THE PORTAL 2 [ Part 1 : Nice to Meet… You? ]

  1. yeee, akhirnya di post jugaaaa xD

    itu kok tiba-tiba Naeun bisa di samping Myungsoo sih? Terus L kemana? Duh Naeun, kamu salah nyosor(?) Dx /eh/

    Terus kayaknya, Baekhyun diperalat(?) sama Hyoyeon, iya ga sih unnie? /ini sotoy/

    Oh iya, itu kenapa Naeun punya firasat buruk tentang Hoya-Eunji? ._. Dan Yura kayaknya mau pdkt sama Myungsoo ya xD

    oke, ditunggu lanjutannya Citra unnieee~

  2. mohon dong thorr nanti Yeoshin tetep sama L ya? plis plis plis . aaa ga rela Yeoshin sm myungsoo. gk rela /kibar spanduk/
    Trus Howon sm Hyerim, jangan bilang mereka putus /gigitmeja(?)/ Sumpah geregetan bacanya , pingin aku makan lepi ku baca epep ini, daebak banget aduhhhh pokoknya god job deh thor lop yu, setia menunggu pokoknya Yeoshin tetp sm L di akhir cerita ya pelisssss /maksa/ /ditimpuk author/ /Nyeengir//

  3. euuaahh… daebak.. misteri ny tegang bgt.. ihh yeoshin cium2 myungsoo.. awas L nanti marah.. fighting buat part selanjutny kak cit. ‘-‘9

  4. Gue rasa si baekhyun di rasukin hyoyeon deh *sok tau xD
    OMG si L disebelah mana duduknya sih Sampai si naeun salah cium. Malah myungsoo bukan L. *padahal bentuk orangnya sama ja xD*
    wkwkw gue gak bisa bayangin gimana cara si L akan jaga Lin selama 15 hari xD
    so, ditunggu chapter selanjutnya ka citra 😀

  5. Huaa Naeun sudah main cium aja padahal itu Myung Soo. Tapi L kemana ?
    Pangeran baekhyun benar – benar aneh tingkahnya. Apa ada hubungannnya dengan Hyeyeon. Apa mungkin itu pengaruh sihir hyeyeon atau sama seperti Namjoo pangeran baekhyun suda di bunuh Hyeyeon cs berharap nanti kalau semuanya pergi ke Gwang dam L tidak apa apa. Dan untuk next part jangan lama – lama ya eonnie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s