You’re My Idol – [2 – 2]

Hai, ini bukan FF saya melainkan FF titipan. Setelah membacanya, dimohon memberikan apresiasi dalam bentuk komentar ya. Terima kasih.

 

You’re My Idol – [2 – 2]

youre-my-idol_

Poster by : Mutia

Tittle: You’re My Idol (2-2) || Author: LE || Genre : Romance, Drama, Angst || Lenght: Twoshot || Main Cast: Choi Junhee (OC) ; Oh Sehun (EXO) ; Park Chanyeol (EXO) || Sub-cast: Choi Junhong/Zelo (BAP) as Choi Junhee’s little brother ; Oh Soojin (OC) ; Kim Sera (OC) ; Krystal Jung (F(x))

Part sebelumnya : Chapter 1

 

***

 

Sehun’s POV

 

Aku membuka pintu kamarku dan mendapati mom tengah berdiri di depan kamarku. Wanita yang aku akui masih terlihat cantik dan segar itu masuk begitu saja. Aku tau benar dia ingin membicarakan sesuatu. Jarang sekali Mom mau repot-repot datang ke kamarku. Biasanya kami berbincang hanya diruang makan saat makan malam.

“Apa yang ingin mom bicarakan?” tanyaku terus mengekorinya. Mom memberhentikan langkahnya ketika sampai dipinggir ranjangku.

“Tidak ada.” Wanita itu duduk di atas springbed empukku. Sesekali mengelus sprey biru muda dengan telapak tangannya.

“Lalu apa maksud mom datang kema-”

“-Apa ada yang salah jika seorang ibu ingin bertemu anaknya?”

Aku diam,  terlalu malas untuk berdebat dengan mom hari ini.

Hening. Sama sekali tidak ada suasana akrab yang tercipta di antara kami.

“Pertunanganmu dibatalkan kau senang?” tanyanya dengan suara yang sengaja dipelankan. Aku diam, setidaknya sekarang aku tau arah pembicaraannya.

“Persentase saham milikmu berkurang, dan aku yakin kau tak akan memusingkannya. Sehun-ah, mom khawatir jika seperti ini terus bagaimana dengan masa depanmu?”

Aku memutar bolamataku malas, “Tidak, aku sama sekali tidak menyesal. Asal kau tau Mom, hidupku lebih baik sekarang.”

“Dan sekarang mom tanya, apa alasanmu membatalkan pertunangan ini dan memilih gadis miskin itu? Apa kurangnya Krystal Jung? Gadis itu sempurna, dan mom yakin kau akan bahagia dengannya kelak. Dia cantik, cerdas, dan-“

“-Kaya.” Sahutku dengan malas.

“Apa kau tidak berpikir sejauh ini Sehun? Kau tau tak mengerti apapun, jadi tolong hentikan ini semua sebelum Mom yang akan bertindak membereskan semuanya.”

“…Gadis miskin itu telah menyita banyak uangmu.”

Aku menoleh cepat menatap wajah mom yang jarang tak bermake-up.

“Mom, kau tak tau apa-apa tentang Junhee.”

“Ini keterlaluan. Sudah dibiarkan selama sebulan, dan-“

“Hentikan.” Aku sudah tidak tahan lagi dengan ucapan mom yang menjelekkan Junhee didepanku.

“Sehun, pikirkan kembali. Tinggalkan gadis matre itu, dan Mom akan meneruskan kembali pertunanganmu yang tertunda.”

Aku membelalakkan mataku tak percaya. Gadis matre katanya? Kau yang matre, mom. Aku menghabiskan uangku bukan untuk bersenang-senang dengan gadis itu, aku malah membantunya dengan meringankan beban hidupnya, terakhir kali aku membayar biaya rumah sakit Junhong. Lagipula bukan urusan mom untuk mengatur keuanganku, aku tau apa yang aku lakukan itu baik dan berguna untuk orang lain.

“Tidak akan.” Ucapku datar. Aku tidak akan meneruskan pertunangan konyol itu. setidaknya aku ingin kelak bersama orang yang aku cintai, bukan karena paksaan dan tuntutan melebarkan sayap dunia bisnis yang mengerikan, hanya demi memperbanyak saham.

“Sehun!” bentak mom keras, ia berdiri dan menatapku dengan tajam. Aku tak bergeming dan tetap menunjukkan wajah tak acuh, bersikukuh untuk tidak mengikuti aturannya.

Plaaakk!!

Tamparan keras mendarat di pipi kiriku. Aku kembali menatap tajam mom dengan mata memanas.

“Kau keterlaluan. Apa yang sudah kau perbuat huh? Karenamu Krystal Jung mengalami depresi berat…”

Apa? Krystal depresi berat? Mom pasti bercanda.

Krystal, gadis keturunan Amerika-Korea sahabatku sejak kecil, kami dipertemukan saat usia 8 tahun oleh kedua orangtua kami. Kami sempat satu sekolah saat duduk di bangku menengah pertama, itupun hanya berlangsung setahun, setelah itu Krystal pindah ke California mengikuti orangtuanya yang telah berkecimpung didunia bisnis di negeri pamansam. Terakhir kali aku bertemu dengannya saat aku mengadakan pesta sweetseventen-ku setahun yang lalu. Dia tumbuh semakin cantik dan tingginya hampir setelingaku.

Aku tidak akan mau bertunangan dengan sahabatku sendiri. Krystal yang aku kenal gadis ceria dan menyenangkan, dia tidak mungkin mengalami depresi berat karena… aku menolak pertunangan kami. Setauku Krystal tidak menyimpan rasa suka kepadaku dan aku pun sebaliknya.

“…kau harus mempertanggungjawabkan kebodohanmu, Sehun.” Mom berjalan cepat melewatiku, aku masih mematung disini.

Mempertanggungjawabkan? Apa maksud mom aku harus meneruskan pertunangan ini?

Malam ini aku tidak bisa tidur. Omongan tajam mom berkelebat dipikiranku, aku muak. Tidak bisakah aku menjalani hidup dengan caraku sendiri? Selama ini aku hidup dengan di atur kedua orangtuaku, khususnya mom. Walaupun beliau ibu kandungku tapi tetap saja aku membencinya karena caranya mendidikku membuatku terkekang.

Aku memiringkan badanku kekanan-kekiri, sekarang aku kesepian. Aku bosan, dan setelah aku menemukan Handphone yang tergeletak manis di atas nakas samping ranjangku aku menemukan sebuah ide.

Menelpon Junhee.

“Ada apa, Hun?”

Aku selalu ingin tertawa ketika Junhee memanggilku Hun, panggilan favoritnya. Dan jujur aku sangat menyukai panggilan itu.

“Aku bosan.”

“Kalau begitu kemarilah. Bantu aku mencuci piring.” Junhee diseberang sana terkekeh kecil.

“Kau mau membayarku berapa?”

“Kau mau dibayar? Aisshh, Hun, aku tak punya uang cukup. Bagaimana kalau sebuah nyanyian pengantar tidur?”

Aku kembali melentangkan tubuhku. “Boleh,”

“Sebentar. Eum, aku sedang melayani pembeli. Kau tau, semakin malam warung tteobokki Ibuku semakin ramai.”

“Tidak masalah, aku akan menunggumu.”

“…..”

“Junhee-ya?” panggilku, hanya ada suara bising diseberang sana.

“I..iya Hun. Maaf aku baru saja selesai melayani pembeli.”

“Kau ingat besok hari jadi kita yang sebulan.”

“Aigoo.. bahkan kau sempat menghitungnya. Aku lupa, kenapa cepat sekali ya? Ah, jadi kurang sebulan lagi kan kontraknya?”

Lagi-lagi Junhee mengungkit kontrak bodoh itu.

“Bagaimana kalau kita merayakannya?”

“Ne?”

“Besok sepulang sekolah kita berkencan.” Aku mengatakan itu dalam sekali tarikan napas.

Tak ada balasan dari Junhee.

“Junhee?”

“Nde? Aku tidak dengar. Hun, kau belum mengantuk? Bagaimana jika aku menyanyikan sebuah lagu untukmu? Sekarang aku tidak lagi sibuk dengan melayani pembeli.”

Aku tersenyum pahit. Susah payah aku mengatakan untuk memintanya berkencan denganku dia malah tidak dengar.

“Baiklah.”

“Jangan tertawa kalau suaraku jelek.” Junhee menghela napasnya. Aku tau dia sangat lelah.

“Tidak akan.” Jawabku dengan mengulum senyum, Junhee tentu tidak dapat melihatnya.

You touched these tired eyes of mine

And map my face out line by line

And somehow growing old feels fine

I listen close for I’m not smart

You wrap your thoughts in works of art

And they’re hanging on the walls of my heart…”

 

Lagu favorit Junghee. I’m Yous, lagu dari band asal Irlandia –The Script. Dan sejak kapan aku juga mulai menyukai lagu ini.

Junhee menyanyikannya dengan baik, suaranya yang selalu terdengar merdu ditelingaku, membuat susasana hatiku kembali damai. Rasa kantuk dan lelah menyelimutiku.

“…I may not have the softest touch

I May not say the words as much

And though I may not look like much

And though my edges maybe rough

I never feel I’m quite enough

I may not seem like very much

But  I’m yours…”

 

Junhee’s POV

 

Sore ini Sehun mengajakku kencan. Dan yang aku tidak sukai adalah kata kencan. Menurutku itu memalukan. Dan dia menyuruh seseorang mengantar dress dan sepatu wedges saat tadi saat pulang sekolah dan diberikan kepadaku. Dia juga mengirimkan pesan agar aku wajib memakai dress super mini dan sepatu dengan heels 11 cm ini. Oke, aku tau aku pendek, tapi tidak juga harus memakai sepatu menyiksa ini kan?

Kalau Sehun bukan orang yang baru-baru ini membantuku (sebut saja dia donatur). Aku pasti akan menolak ajakan ini mentah-mentah.

“Junhee-ya!” seseorang meyerukan namaku. Aku segera mencari sumber suara. “Eh, Chanyeol sunbae?” tanyaku terkejut, ternyata dia Chanyeol sunbae.

“Kau terlihat cantik.” Puji Chanyeol sunbae, aku tersenyum malu. Kemudian dia duduk didepanku.

Ne, gomawo. Ngomong-ngomong sunbae sendiri?”

Aku ada janji dengan teman. Sebenarnya aku akan kesana, tapi berhubung aku melihatmu jadi aku mampir kemari.”

Aku mengangguk mengerti.

Dan sekarang yang aku lakukan seperti sejam yang lalu adalah duduk diam sambil melihat orang-orang yang lalu lalang di jalan. Kadang menatap segelas minuman yang aku pesan sejak datang kemari diatas meja dengan malas. Aku menunggu Sehun, yang katanya ingin mengajakku nonton film denganku, tapi nyatanya dia belum menampakkan batang hidungnya.

“Kau sendiri?”

Aku terkesiap, lalu menghadap ke Chanyeol sunbae yang memakai topi hitam itu, aku hampir saja lupa dia ada didepanku.

“Aku sedang menunggu Sehun.” Jawabku seadanya.

“Aku tadi sempat melihat Sehun-“

-Mwo? Dimana?”

Chanyeol sunbae menghembuskan napas panjangnya. “Dia sedang bersama seorang wanita dan beberapa pengawal…”

Aku terdiam, berpikir sesaat. Wanita yang disebut Chanyeol sunbae pasti Ny. Oh.

Itu masuk akal, sebenarnya seharian ini aku sama sekali tidak melihat Sehun yang biasanya merecoki hari-hariku disekolah. Dan entah kenapa aku merasa ada yang hilang.

“Aishh. Aku tau.” Aku menundukkan kepalaku. Bodoh sekali aku baru menyadarinya.

“Sebaiknya kau cepat pulang. Junhee-ya, aku yakin Sehun tidak akan datang.” Chanyeol sunbae berdiri dari duduknya, kemudian dia berjalan menjauhiku.

Aku memang bodoh, menghabiskan waktu sia-sia ditempat ini. Dan sekarang aku tidak akan membuang-buang waktu lagi, lebih baik aku membantu ibuku bersiap-siap untuk berjualan.

“Junhee-ya!!” seseorang memegang pundak kiriku, aku agak terkejut lalu memberhentikan langkah dan membalikkan badanku.

Dia Oh Sehun.

Napasnya terengah-engah dan aku yakin dia tidak membawa mobilnya. Keringat dipelipisnya berjatuhan. Aku segera membuka tas selempenganku dan mengambil sapu tangan didalamnya.

“Aku kira kau tidak akan datang.” Ucapku sambil menyodorkan sapu tangan kepadanya.

“Mana mungkin aku membatalkan kencan kita?” Sehun terkekeh kecil, kemudian dia mengelap keringat didahinya sendiri.

“Tapi filmnya sudah dimulai setengah jam yang lalu.” Aku melirik jam tangan dipergelangan tangan kiriku. Sehun menggenggam tangan kananku dan seketika aku terkesiap.

“Kalau begitu aku ingin kerumahmu.”

“Kau yakin?” tanyaku meyakinkan, aku tidak yakin Sehun akan suka dengan rumah kontrakanku yang jauh dari kata mewah.

Sehun menganggukkan kepalanya yakin dan tertawa memperlihatkan eyesmilenya yang manis.

 

Author’s POV

 

Mereka naik subway lalu berjalan sekitar 5 menit agar sampai dirumah kontrakan Junhee yang tidak sebegitu luas namun juga tidak sempit. Setelah gadis berpakaian mini dress musim semi berwarna labu itu membuka pintu rumahnya ia masuk dengan menarik pergelangan kurus Sehun.

“Kau tau Hun, sepatu ini membuatku tersiksa, tumit dan kakiku rasanya mau pecah.” Junhee melepaskan sepatu highheels berwarna merah muda pemberian Sehun sambil menggerutu. Sehun tertawa gemas melihatnya.

“Sepi. Kemana yang lainnya?” tanya Sehun mengedarkan pandangannya pada seluruh ruangan saat Junhee menyeretnya duduk di ruang tamu.

“Junhong ada dirumah Nam ahjussi tetangga sebelah. Dan ibuku sedang menyiapkan barang dagangannya di warung.” Junhee memberikan Sehun segelas minuman orange juice.

“Kau tidak membantu ibumu?”

“Harusnya begitu. Tapi kau memintaku bertemu denganmu, lagipula ibuku tidak masalah. Ada pegawai baru dari tiga hari yang lalu.” Kata Junhee menerangkan.

“Apa kau mau melihat kamarku?” tawar Junhee mulai berdiri, dress mini-nya terlihat cocok dengan tubuh mungilnya. Cantik, itu yang ada dipikiran Sehun tentang penampilan baru Junhee sejak bertemu dengannya di jalan tadi.

“Tentu.” Sehun tersenyum simpul lalu mengikuti Junhee berdiri.

Dia mengekor dibelakang Junhee dan tak perlu waktu yang lama gadis itu berhenti didepan pintu berwarna pink dengan aneka stiker tertempel acak disana. Sehun yakin itu pintu kamar Junee.

“Selamat datang dikamarku.” Junhee mempersilahkan Sehun untuk masuk dengan senyum yang merekah.

Pertama kali yang dapat disimpulkan Sehun dari kamar Junhee adalah sempit, tapi cukup menarik. Kamar Junhee penuh dengan hiasaan dinding bintang-bintang dan juga ada bulan di dinding atap. Seperti kamar anak balita.

“Aku tau yang kau pikirkan. Kamarku seperti kamar anak TK kan?”

Sehun tertawa. “Ya, tapi aku suka.”

“Aku akan ganti baju, dress ini sangat tidak nyaman.” Junhee berjalan menuju lemarinya, lalu mengambil pakaian ganti. Setelah itu dia keluar dari kamarnya dan meninggalkan Sehun yang sedang mengedarkan pandangannya melihat seisi kamar Junhee.

Sehun berjalan pelan menuju meja belajar Junhee yang rapi. Dia mengacak-acak apapun yang ada disana, terlalu penasaran. Sehun menemukan sebuah kalender yang terdapat lingkaran merah disetiap tanggal pertengahan bulan, kadang di akhir bulan dengan jumlah merah lingkaran yang tidak sama. Sehun mengangkat bahunya acuh dan mengembalikan kalender ditempat asalnya. Setelah itu dia melihat sebuah buku catatan kecil dengan sampul coklat tua yang menarik perhatiannya.

Sehun membuka covernya, halaman utama bergambar sebuah pakaian.

Suatu saat nanti aku ingin menjadi desainer fashion yang terkenal. Menciptakan berbagai kreasi yang menakjubkan dan setelah aku sukses aku akan membangun butik dengan namaku sendiri.

Sehun tersenyum kecil membacanya, setelah itu dia membuka halaman selanjutnya, masih dengan gambar yang sama –berbagai model pakaian-. Dan setelah itu sehun menemukan tulisan baru lagi.

Ibuku sangat suka memasak dan masakannya selalu enak, sejak kematian ayah beliau bertekad untuk mendirikan warung tteobokki. Aku ingin sekali membangun restoran dengan nama ibuku suatu saat nanti.

Sehun membuka halaman selanjutnya. Kosong, tidak ada tulisan lagi. Dia menutup buku catatan dan meletakkan ditempat yang sama. Sehun mendesah pelan, ia baru menyadari gadis yang terkesan cuek itu ternyata menyimpan banyak mimpi.

Sehun berdiri dari duduknya, yang menjadi pusat perhatiannya saat ini adalah kasur berukuran kecil dengan sprei berwarna krem. Dia berjalan pelan lalu duduk di pinggir kasur yang lumayan empuk meski tidak seempuk kasur di kamarnya. Kemudian ia menyandarkan kepalanya lalu merentangkan kaki panjangnya. Lumayan nyaman. Apalagi sejak Sehun masuk kedalam kamar Junhee ini ia menghirup aroma bunga mawar yang menyejukkan. Junhee benar-benar tipe gadis yang menenangkan.

Mata sipit sehun terpejam dengan sudut bibir membentuk seulas senyum yang menawan.

 

***

 

Seorang gadis dengan bando merah yang mengikat dipuncak rambut untuk menghalangi poni yang bisa sewaktu-waktu jatuh dan menghalangi pandangannya sedang membersihkan deretan meja di warung malam itu dengan kain lap. Peluhnya berjatuhan, sesekali dia mengelapnya dengan punggung tangannya. Lalu mengambil piring-piring bekas makanan yang kadang kala terdapat sisa. Gadis itu menggumam, setidaknya para pembeli harus menghabiskan makanan mereka karena banyak diluar sana yang sulit mendapat sesuap nasi pun. Manusia jaman sekarang benar-benar egois.

Choi Junhee, gadis itu duduk dikursi yang kosong. Ia memperhatikan Ibunya yang sibuk menaruh makanan di atas piring dan mangkok kecil. Seorang wanita 30an –pelayan baru- mengambil pesanan makanan para pembeli itu lalu menghidangkan di meja untuk para pembeli. Junhee meregangkan leher dan bahunya karena letih.

Tak lama dua mobil hitam berhenti di depan warung ttebokki ibunya. Jarang sekali ada mobil mewah yang berhenti disana –ia pikir orang yang didalam mobil itu akan makan diwarung pinggirannya. selang beberapa menit terdengar pintu mobil terbuka dan tiga orang berpakaian serba hitam serta kacamata berwarna senada masuk kedalam warung.

Sempat Junhee menahan napas ketika pria-pria kekar itu mendobrak kasar meja. Junhee segera bangkit dan menghampiri pria-pria itu tidak takut.

“Apa keperluan anda? Jangan seenaknya mengganggu tuan-tuan. Ini tempat umum.”

“Kau gadis kecil, jangan ikut campur!” seorang pria membentak Junhee kasar. Junhee mendesis, ia melirik ibunya yang hanya berdiri mematung ketakutan.

“Jika tuan datang kesini hanya untuk berbuat onar saya tidak segan-segan menghubungi polisi.” Ancam Junhee dengan mengangkat Handphonenya. Tidak ada yang menggubris ancaman Junhee.

Seorang pria mengangkat tangan dan dibalas anggukan oleh dua pria lainnya. Detik selanjutnya sleuruh warung diporak-porandakan sehingga para pembeli berlari ketakutan. Meja-meja tergeletak dan beberapa kursi dan meja plastik itu hancur.

“HENTIKAN!!” Junhee berlari cepat menghalangi salah seorang pria yang akan mendekati dapur terbuka –dimana ada ibunya yang berdiri kaku disana.

Mata Junhee memanas, ia marah, sangat marah. “Hentikan, kumohon.” Ucap Junhee memelas, pria itu menghentikan aksinya.

“Siapa yang menyuruhmu kemari?” tanya Junhee pelan, amarahnya mendadak hilang ketika pria-pria menunduk hormat. Junhee bingung, ia segera membalikkan badannya dan betapa terkejutnya dia.

Seorang wanita cantik dengan blazzer yang pas dengan postur tubuh langsingnya berjalan anggun, sepatu hak tinggi berwarna hitam miliknya menginjak tanah basah dan itu membuatnya mendesah. Ia masuk warung pinggiran yang menurutnya sangat menjijikkan -dengan santai.

Mata Junhee melebar seketika, “Nyonya Oh.”

Ny. Oh menyunggingkan senyum dibibir tipisnya.

“Hai, lama tidak berjumpa denganmu.” Wanita itu berjalan mendekat kearah Junhee yang mematung disana.

Setelah beberapa detik Junhee tersadar. Ia sudah bisa menarik kesimpulan.

Plaakk!!

“DASAR GADIS JALANG!” teriak Ny. Oh tepat diwajah Junhee.

Junhee hanya bisa diam sambil memegang pipinya yang memanas, ia tersenyum kecut.

“KAU?!… TIDAK TAUKAH KAU TELAH MENGHANCURKAN HIDUP ANAKKU!” pekik wanita itu keras, memberi suasana mencekam didalam warung yang sepi tanpa pembeli. Ibu Junhee yang mendengar itu hanya membungkam mulutnya sendiri dengan telapak tangannya, menahan isak tangisnya. Ingin sekali ia membantu Junhee dengan membela putri sulungnya, tapi wanita 40-tahunan itu terlalu takut. Bibi Jo –pelayan barunya- mengusap punggungnya untuk memberikan sedikit ketenangan.

Plaakk!!

Tamparan kedua membuat Junhee membelalakkan matanya.

“Ini peringatan pertama dan aku harap peringatan yang terakhir kalinya…” wanita itu menarik napas yang cukup dalam, “..tinggalkan Sehun secepatnya, atau kau ingin akhir yang lebih dramatis lagi?-”

“-Maaf Nyonya.” Junhee mengangkat wajahnya menatap sepasang mata bersoftlense biru tua didepannya.

“-Bukannya aku tidak mau, hanya saja aku masih tetap mempertahankan hubungan kami..” Junhee memotong kalimatnya.

“..Karena aku sudah berjanji akan tetap berdiri tegak untuk perjanjian itu.  Aku sudah berkomitmen untuk tidak melanggar kontrak itu.” lanjut Junhee dalam hati.

“Brengsek!” umpat Ny. Oh. Dia tak habis pikir bisa bertemu dengan gadis keras kepala dihadapannya. Wanita itu menghembuskan napas kasar tepat diwajah Junhee.

“Ini peringatan kecil, kalau dalam seminggu kau masih bersamanya, aku akan berbuat lebih… Choi Junhee.” Sungut Ny. Oh dengan kilatan mata tajam.

Ny. Oh membalikkan badan lalu berjalan cepat keluar dari warung diikuti pria-pria kekar  dibelakangnya.

Bahu Junhee merosot, kedua kakinya terlalu lemah untuk menyanggah tubuhnya yang  gemetar. Dia terduduk lemas diatas lantai semen dibawah kakinya. Gadis itu mencoba menahan sesak didadanya. Ibu Junhee datang menghampiri putri sulungnya dengan wajah yang berlinang air mata.

Gwencanha.. Eomma, aku baik-baik saja. jangan menangis.” Junhee memeluk ibunya dengan menahan tangis, ia mengusap punggung ringkih Ibunya.

“Kumohon… jangan menangis. Aku tidak apa-apa, sungguh.” Junhee melepaskan pelukannya dengan Ibunya.

“Bagaimana kau tidak baik-baik saja. Hubungi Oh Sehun pacarmu itu.”

Junhee terdiam, ia menghembuskan napas kasar.

Arra, aku akan memberitahunya.. eomma bisa pulang sekarang. Biar aku saja yang membereskan semuanya.”

“Kau yakin? Junhee.. aku tau ini berat-”

“-Tidak. eomma yang lebih lelah. Biar aku dan bibi jo yang membereskan ini semua. Junhong pasti sudah tertidur jam segini.” Bujuk Junhee lagi, dan akhirnya ibunya mau menurutinya.

 

Ditempat lain diwaktu yang sama…

 

Sehun baru saja keluar dari arah dapur dengan membawa sekaleng bir di genggaman tangannya, ia mendapati ibunya dengan wajah kusut dan dongkol. Sebenarnya dia agak penasaran dengan sikap Ibunya akhir-akhir ini, tapi dia mengacuhkan rasa penasaran itu.

“Sehun-ah.”

Ne,” dia membalikkan badan setelah mendengar panggilan lirih dari Ny.Oh.

“Ada yang ingim mom bicarakan.” Kata Ny. Oh kemudian melewati Sehun, laki-laki berkaos putih itu mengekorinya sampai di ruang kerja milik Ny. Oh yang sebenarnya milik Tuan Oh, pria yang menjadi Presdir utama di salah satu perusahaan properti di distrik Gangnam dan beliau masih di Jepang sejak tiga minggu yang lalu karena ada sebuah urusan.

“Aku baru saja menghancurkan warung ibu gadis jalang itu.” Ny. Oh duduk di kursi kerjanya. Sehun tentu kaget setengah mati mendengarnya.

Mwo?! Mom, kau gil-“ pekik Sehun, tapi Ny. Oh cepat-cepat menaikkan tangannya.

“-kau yang gila Sehun-ah. Tinggalkan dia, masih banyak gadis yang lebih baik diluar sana.”

“Tapi mom, itu tidak bisa, tidak akan.”

Wae? Sehun, mom sudah lelah menyuruhmu untuk bertunangan dengan Krystal Jung, tapi setidaknya jika kau mencari gadis yang lebih baik dari Krystal apalagi Junhee maka kejadiannya tidak akan seperti ini.”

Sehun mengumpat didalam hatinya.

“Tidak, aku akan tetap bersamanya. Dia gadis terbaik yang pernah kutemui.”

Mwo? Sehun-ah, apa gadis itu sudah memberimu guna-guna? Pikirkan kembali, gadis itu bukan investasi yang berharga. Dia muraha-“

“-Cukup mom, berhenti mengatakan sesuatu yang buruk tentangnya. Aku menyukainya, dan dia tidak seperti yang mom pikirkan!” Sehun keluar dari ruang kerja ibunya.

Ia sangat kesal, lalu dengan cepat ia merogoh saku celana jeansnya dan mengambil Handphone –untuk menghubungi Junhee. Ia sangat penasaran bagaimana kedaan Junhee dan Ibunya saat ini.

Ditolak, panggilannya selalu ditolak Junhee entah sudah berapa kali ia mencoba menghubunginya sampai akhirnya Sehun menyerah karena sepertinya Junhee mematikan Handphonenya.

Sehun mengacak rambutnya gusar. Ia frustasi.

“Apa gadis itu marah?”

 

Junhee’s POV

 

“Kita harus bicara!”

Sehun menarik pergelangan tanganku kasar saat aku baru keluar dari kelas ketika bel istirahat baru dibunyikan. Aku terlalu malas sebenarnya untuk bertemu dengan laki-laki jangkung itu. Tapi apa daya, aku tidak bisa menahannya.

“Apa!? Oh… aku tau, kau pasti ingin tau keadaanku kan? Aku baik, sungguh. Jadi lepaskan aku!!” aku mencoba melepaskan genggaman tangan Sehun yang rapat itu. tidak mempan, kulirik Sehun dengan sedikit mendongakkan kepalaku, dia terlalu tinggi.

“Hun, ayolah. Aku hanya ingin keluar dari ruangan senyap ini.” Kataku mulai memohon. Kami baru saja sampai di dalam perpustakaan. Sehun hanya diam, dia terus menarik tanganku hingga kini kami berhadapan di tengah dua rak besar yang sepi dan jauh dari lalu lalang para siswa lainnya.

Sehun menarik napas panjang. “Aku minta maaf atas kejadian yang ibuku lakukan kemarin.” Katanya datar dan pelan. Aku membuang mukaku, melihat deretan buku berdebu disamping kanan-kiriku yang entah sejak kapan lebih menarik dibanding dengan wajah tirus dan tegas dihadapanku.

“Dari awal aku sudah memaafkan Ny. Oh. Ini bukan salahnya, tapi salahku karena mau menerima kontrak bodohmu.” Jawabku ketus.

Sehun tak bergeming, kedua tangannya mencengkram halus pundakku.

“Junhee-ya… apa kau masih memikirkan kontrak bodoh itu?”

Aku mengangguk mengiyakan.

“Apa kau akan berhenti?” tanyanya lagi. Aku menggeleng.

“Dari awal perjanjian kita aku tidak ingin berhenti, aku bukan tipe gadis yang akan menyerah dengan kontrak tolol itu. Hun, apa kau dulu pernah berpikir kalau kejadiannya akan seperti ini?” Aku menatap sepasang mata elangnya dengan serius. Sehun mengerjap sesekali. “Tidak.”

“Jika saja saat itu kau bilang bahwa kau akan bertunangan aku tidak akan mau melakukan hal ini dan lebih memilih untuk keluar dari sekolah.” Kataku jujur. Sehun membulatkan matanya, tapi tak lama.

Ck, aku tau aku yang paling bodoh diposisi ini. Hun, jika aku katakan aku menyerah bisakah kau melepaskanku?”

Sehun menggeleng pelan, mulut tipisnya terkatup rapat.

“Aku akan membayar ganti ruginya.” kataku bersikeras. Sehun tetap menggeleng. Aku mendesah pasrah.

“Aku tidak takut dengan ancaman ibumu. Tapi yang paling aku sesalkan adalah kenapa dia membalaskan dendamnya kepada ibuku? Hun, ini salah, aku tidak akan bisa meneruskan kontrak keparat ini. Kau cari saja gadis lain.” Aku memundurkan langkahku, berharap agar Sehun mau melepaskan cengkraman yang semakin kuat di kedua sisi pundakku.

“Tidak, Junhee-ya, kau perlu tau bahwa sebenarnya aku…” Sehun menggantungkan kalimatnya di udara, aku tetap menatap matanya menunggu kata-kata yang yang akan diteruskannya. Sehun mendesah pelan, ia menundukkan kepalanya.

“Aku menyukaimu.”

Detik itu juga serasa dunia berhenti. Sehun menyukaiku? Sejak kapan?

“Ta-tap-“

Chu~

Author’s POV

 

Sehun mengecup bibir mungil Junhee, merasakan setiap getaran disetiap kujur tubuhnya. Tak beda halnya dengan Junhee yang sempurna membulatkan kedua matanya karena terlalu syok. Ini ciuman pertamanya… dan ciuman pertama Sehun.

Sehun diam dengan posisi yang sama, dia menempelkan bibirnya tepat dibibir Junhee. Sejujurnya laki-laki itu menginginkan lebih, ia menarik tengkuk Junhee agar sampai di pangkuannya. Ia memilih untuk memperdalam ciuman mereka.

Awalnya Junhee berontak, ia mencoba memukul dada bidang Sehun tapi ternyata itu tidak mempan. Badannya terlalu lemas dan gemetar untuk melakukan perlawanan disituasi seperti ini. Junhee hanya bisa pasrah menerima perlakuan Sehun. Entah kenapa Junhee merasa geli dan suka disaat yang sama. Ia meringis pelan saat Sehun menggigit bibir bawahnya.

Junhee semakin lemas saat Sehun mengelus punggung dan rambutnyanya dengan halus dan lembut. Apalagi saat Sehun semakin mempercepat lumatannya di bibir atas dan bawah Junhee secara bergantian. Gadis itu hanya bisa memejamkan mata dan berdoa dalam hatinya agar Sehun mau memberhentikan aksi gilanya itu.

Tidak hanya sampai disitu, Sehun menurunkan kepalanya sampai di leher mulus Junhee, Sehun menghirup aroma mawar yang tercium manis lalu menghembuskan napas pelan. Junhee merasa tubuhnya menegang seketika saat merasakan napas hangat Sehun dan sesuatu yang basah menempel di permukaan lehernya. Gadis itu mencoba menahan desahan yang bisa saja keluar dari mulutnya, jika saja dia tidak berusaha sekuat tenaga untuk menggigit bibir bawahnya sendiri.

“Hentikan, Hun.. kumohon…”

Bagi Sehun kata-kata yang diucapkan Junhee barusan terdengar seperti desahan. Sehun tetap bergulat dengan aksinya saat ini. Menciptakan beberapa kissmark di permukaan leher Junhee yang putih mulus dan selalu terlihat menggoda bagi Sehun. Akal sehat Sehun telah hilang entah kemana.

Please.. Hentikan.”

Sehun tetap mengabaikan Junhee yang terus meronta-ronta dalam pelukannya. Sehun menegakkan kembali kepalanya dan ketika ia akan mencium bibir Junhee lagi, ia melihat sepasang mata indah Junhee tertutupi cairan bening.

Gadis itu menangis.

“Kumohon Hun, jangan lakukan ini.” Junhee terisak, ia meneteskan air mata yang menurutnya paling berharga itu. Selanjutnya Sehun merasakan tamparan keras diwajahnya, ia telah menyebabkan gadis yang ia cintai menangis. Sehun mengumpat dalam hatinya, ia merutuki dirinya sendiri yang melakukan hal bodoh dan pervert.

Jeongmal.. mianhae, Junhee-ya aku tak bermaksud menyakitimu.” Sehun melepaskan pelukannya, berusaha meraih wajah Junhee yang menunduk dalam dan setengah basah karena menangis.

Mianhae.. Junhee-ya, aku salah, aku minta maaf.”

Sehun menyentuh dagu Junhee dan menegakkan kepala gadis itu agar ia dapat menatap sepasang mata berair itu dengan intens. Sehun menghapus air mata Junhee yang mengalir dengan kedua ibu jarinya. Junhee memejamkan matanya sejenak, ia tidak menangis lagi. Matanya tetap memandang kebawah, ia terlalu malu untuk menatap wajah Sehun lagi, ia takut dan… trauma.

“Junhee-ya.. aku tidak bermaksud melakukan itu.”

Sehun menurunkan kembali tangannya, ia tetap menatap Junhee dengan tatapan sedih dan penuh rasa bersalah. Apalagi saat Junhee sama sekali tidak bersuara dan selalu menghindari kontak mata dengan Sehun.

“Aku akan melindungi, aku mencintaimu Junhee-ya… aku, aku tak ingin kehilanganmu.”

“…percayalah.” Sehun menggenggam erat kedua tangan Junhee dan menatap gadis itu lekat-lekat. Ia sudah cukup yakin dengan pilihannya.

Lain halnya dengan Junhee, ia sendiri masih terlalu bimbang dan menurutnya ini sangat mendadak.

Setidaknya gadis itu merasakan ada getaran aneh yang menjalar di hatinya.

 

***

 

Seorang gadis berambut panjang hitam lurus sedang bergulat dengan selimut tebal di atas kasur tempat tidunya. Wajah cantiknya terlihat kusut, guratan kesedihan nampak jelas disana. Tak lama seorang wanita memasuki kamar lalu duduk disamping ranjang gadis itu –anak tunggalnya.

“Sampai kapan kau seperti ini?” tanya wanita itu khawatir, ia mengelus rambut anak gadisnya yang jauh dari kata rapi, tidak seperti biasanya. Sedangkan gadis yang diajak bicara itu hanya diam, tatapan matanya kosong.

“Mom hanya ingin memberikanmu yang terbaik… anakku, ayo kita ke Seoul. Kau merindukan Oh Sehun bukan?”

Mendengar nama Sehun disebut gadis itu bangkit dan menatap Ibunya dengan tatapan penuh harap. “Mom yakin?” wanita itu mengangguk.

“Jangan sedih lagi, Kyrstal Jung… keinginanmu akan tersampaikan. Mom sudah siapkan segala yang kau perlukan.”

Gadis cantik yang ternyata adalah Krystal Jung itu tersenyum girang.

Arraseo.”

..

“Sehun ?!”

Sehun terkejut tepat saat dia baru membuka pintu mobil dan bersiap untuk berangkat sekolah karena seorang gadis yang tak asing berlari kearahnya dan memeluknya rapat. Sehun sedikit sesak napas dan takut melihat Krystal apalagi dengan posisinya yang saat ini sedang masa-masa jatuh cintanya pada Junhee –walaupun Sehun tidak tau pasti apa Junhee juga mempunyai perasaan yang sama dengannya.

“K-kapan kau datang?”

“Baru saja.”

Krystal mendongakkan kepalanya menatap Sehun. “I miss you Sehun-ah… so much.”

“Jangan bercanda nona Jung…” Sehun mendesah pelan, “..aaku berangkat sekolah sekarang juga. Mom ada didalam, apa ibumu juga datang kemari?” tanya Sehun dengan mengedarkan seluruh pandangannya pada halaman depan rumahnya.

Krystal menggeleng, “Nope, I come alone.”

Sehun mendesis, Krystal masih belum juga melepaskan pelukannya.

“Krystal, aku harus berangkat sekolah. Jadi bisa lepaskan aku?” pinta Sehun dengan wajah sengaja memelas.

Krystal menurut, ia melepaskan pelukannya. “Arraseo.”

Sehun mengacak rambut Krystal –kebiasaannya dari dulu. Sehun sebenarnya agak merasa bersalah mengingat dialah yang bersikeras menentang pertunangannya dengan Krystal, maka dari itu Sehun berusaha memperlakukan Krystal sama seperti dulu walaupun ia sendiri merasa agak canggung.

Sehun masuk kedalam mobil dan menyalakan mesinnya.

“Hati-hati dijalan!” Krystal melambaikan tangan kanannya dengan tersenyum ceria. Setelah mobil Sehun –benar berbalik dan menghilang dari penglihatannya, Krystal menurunkan sudut bibirnya. Ia tersenyum kecut.

Junhee melangkahkan kakinya karena ban sepedanya bocor, wajahnya terlihat gelisah dan frustasi. Kejadian kemarin di perpustakaan bersama Sehun terus terulang seperti kaset rusak diotaknya. Junhee menggeleng pelan, berusaha untuk menetralkan kembali otak normalnya. Setelah ia sampai di pemberhentian bus ia duduk tenang disana, sambil sesekali melirik jam tangan.

Apa dia berangkat terlalu siang?

Ini semua gara-gara semalam ia tidak bisa tidur dan saat hari mulai fajar ia malah ketiduran dan akhirnya seperti sekarang…

Junhee menghela napas panjang, ia merogoh tasnya dan mengambil sebuah cermin kecil. Ia mendesah pelan saat melihat ada lingkaran hitam di bawah matanya.

“Aku terlihat mengerikan.” Gumam Junhee.

Tak lama suara klakson mobil yang terdengar berulang membuat Junhee terkesiap, ia menoleh ke sumber suara yang ternyata ada sebuah mobil berhenti di depannya. Mobil sport merah yang tidak asing. Dan benar saja, ketika kaca mobil diturunkan sosok laki-laki berambut coklat melambaikan tangannya.

“Ayo naik!”

Junhee diam, gadis itu menoleh kekanan dan kekiri.

“Kau! Junhee, ayo naik. Kau mau terlambat?” suara berat itu terdengar nyaring di telinga Junhee. Buru-buru dia berjalan mendekati mobil itu.

“Apa Chanyeol sunbae tidak keberatan?”

“Tidak.” jawab laki-laki itu yang ternyata Chanyeol dengan menggelengkan kepala dan tersenyum manis. Tak butuh waktu lama Junhee membuka pintu mobil lalu masuk kedalam dan duduk di jok samping kemudi.

Chanyeol menancap gas mobil dengan kecepatan sedang.

“Ehm…” Chanyeol berdehem pelan. Suasanannya terlalu canggung dan itu membuatnya tidak nyaman.

“K-kau tidak bersama Sehun?” tanya Chanyeol memecah keheningan. Junhee yang pada awalnya melamun sedikit tersentak ketika nama Sehun disebut, ia jadi teringat kejadian kemarin, lagi.

“Ah.. itu, aku.. eumm… kami i-iya.” Jawab Junhee gugup, dia benar-benar terlihat bodoh saat ini. Chanyeol terkekeh pelan. “Kenapa? Bukankah kalian masih berpacara-“

“-Sunbae sendiri?”tanya Junhee tiba-tiba memotong pertanyaan Chanyeol.

“Aku? Eh?”

“Iya.. sunbae sendiri masih dengan Lee Jinri?” tanya Junhe balik. Sebenarnya Junhee sendiri sudah tidak memperdulikan hal itu, ia hanya ingin mengganti topik yang berhubungan dengan Sehun, itu saja. Jika dikatakan Junhee masih menyukai Chanyeol, mungkin sekarang tidak lagi.

“Lee Jinri?” Chanyeol memutar bola matanya sejenak, ia membelokkan setir lalu menghembuskan napas pelan. “Aku tidak pernah menjalin hubungan dengannya.” Jawabnya.

“Jadi gadis itu bohong.” Gumam Junhee pelan.

Setelah mereka sampai halaman parkir sekolah, Chanyeol mematikan mesin mobil dan menarik kunci mobilnya, ia segera turun lalu diikuti dengan Junhee.

Khamsahamnida sunbae.” Seru Junhee dengan menundukkan kepalanya sopan.

“Tidak perlu sesungkan itu..,” Chanyeol terkekeh, “..panggil saja aku Oppa, supaya terdengar lebih akrab.”

“Ne? Oppa!?” Junhee sedikit terlonjak. Jika saat ini ia masih menyandang sebagai fangirlnya mungkin saja ia bisa pingsan detik itu juga.

Chanyeol menggaruk tengkuknya kikuk.

“Junhee-ya!”

Junhee dan Chanyeol sama-sama membalikkan badannya dan mendapati Sehun yang berlari kearah mereka. Jika saja Junhee bisa menghilang seperti jin di film yang pernah ia lihat, gadis itu pasti menghilang saat ini juga.

Sehun menarik pergelangan tangan kanan Junhee dengan paksa sehingga badan mungilnya ikut bergeser mendekat Sehun.

Sehun mendelik tajam tepat di sepasang mata bulat Chanyeol seolah berkata ‘jangan-dekati-gadisku’

Tanpa sepatah katapun Sehun berbalik begitu saja dengan menggenggam erat tangan Junhee. Dan dengan sedikit kualahan gadis itu mengikuti langkah besar Sehun yang berjalan menuju gedung sekolah.

“Sudah bertemu Sehun?”

Ne.” Krystal mengangguk pelan sembari menyantap hidangan sarapannya bersama Ny. Oh di ruang makan. Ny. Oh meneguk segelas air putih hingga tersisa setengah gelas lalu menatap Krystal diujung meja makan.

“Bagaimana dengan kondis-“

“-Baik. Bibi tenang saja.” Krystal menyunggingkan senyum, Ny. Oh juga ikut tersenyum lega mendengarnya.

“Hanya saja…” Krystal memotong kalimatnya diudara, gadis itu menyudahi sarapannya dan menyapu permukaan bibirnya dengan serbet makan.

“…Apa alasan Sehun membatalkan pertunangan kami?”

Ny. Oh sedikit tersetak dengan pertanyaan Krystal, tetapi detik selanjutnya ia bersikap kembali normal. Setidaknya selama ini Krystal tidak mengerti alasan Sehun yang tiba-tiba membatalkan pertunangan yang sudah direncanakan sejak kedua orangtua mereka bersahabat. Krystal yang sebenarnya menyukai Sehun sejak sekolah menengah pertama sangat setuju dengan pertunangan ini, tapi akhirnya Sehun menoak keras. Bisa dibayangkan betapa kecewanya Krystal.

“Alasannya… jika kau benar-benar ingin tau Krys..”

“…Apa kau yakin mau mendengarkan alasannya?” tanya Ny. Oh kembali memastikan, Krystal mengangguk mantap.

“Karena Sehun menyukai gadis lain.” Krystal tersentak mendengarnya.

“Tapi kau tidak perlu memusingkannya, bibi sudah melakukan yang terbaik untuk kalian. Pertunangan pasti dilanjutkan.”

“Kalau boleh tau… siapa gadis itu?”

 

***

 

Junhee berjalan menuju rumahnya dengan menggandeng tangan kecil Junhong setelah ia diam-diam pulang sendirian padahal Sehun menyuruhnya untuk menunggu di mobil saja, tapi gadis itu menolak, dia berusaha untu menjauhi Sehun karena menurutnya Sehunlah pusat permasalahannya yang rumit sejak laki-laki berbadan kurus itu datang dalam kehidupannya. Tapi Junhee tidak sepenuhnya menyalahkannya, semua tergantung pada dirinya yang saat itu terlalu bodoh untuk menyetujui kontrak bodoh dan berimbas pada dirinya sendiri.

Tapi sejujurnya Junhee merasa ada yang mengganjal… dia merasa bersalah. Entah pada siapa.

“A-apa ini? Kenapa eomma… diluar?!” pekik Junhee kaget saat dilihatnya Ibunya jongkok diluar rumah kontrakannya dengan banyak tas besar disisi kanan dan kirinya. Junhee mendadak panik dan si kecil Junhong segera berhambur dipelukan sang ibu.

Eomma, ada apa?” Junhee jongkok didepan ibunya yang terlihat khawatir.

“Tuan Kim akan menyewakan rumah ini kepada orang lain. Eomma sudah berusaha membujuk Tuan Kim tapi dia sudah terlanjur mengiyakan perjanjian dengan penyewa baru yang katanya mau membayar 10 kali lipat…”

“…Junhee-ya Eomma bingung kita harus kemana.”

Junhee tak habis pikir, bukankah dia sudah melunasi kontrakan untuk setahun terakhir. Apa ini ulah Ny. Oh lagi?

Junhee segera bangkit dan menelpon Sehun.

“Aku ingin bicara, ini penting…”

 

Sehun’s POV

 

“Aku ingin bicara, ini penting…”  suara Junhee terdengar parau diseberang sana. Aku menghamburkan tas di atas meja belajarku begitu saja. Aku keluar dari kamar setelah Junhee menyuruhku untuk bertemu dengannya di suatu tempat. Pasti ada sesuatu yang tidak beres.

“Kau mau kemana?” tiba-tiba Krystal muncul didepanku. Aku mendesis dan mengisyaratkan agar dia minggir, tapi tidak berhasil.

“Katakan kau mau kemana?” tanya Krystal penasaran dengan melipat kedua tangan di dadanya.

“Itu bukan urusanmu.” Jawabku ketus. Aku berjalan melewatinya begitu saja tetapi Krystal dengan sigap berhasil menangkap lenganku.

“Mau bertemu dengan gadis miskin itu lagi?”

Aku reflek membalikkan tubuhku mendengar pertanyaan sarkastiknya itu. Oh.. dia pasti sudah mendengarnya dari mom. Aku menatap wajahnya malas.

“Iya, dan itu bukan urusanmu-“

“-Tidak, ini urusanku juga, aku mau ikut!”

“Tidak bisa, kau disini saja, atau jalan-jalan ke mall sana.”

“Sehun-ah! Aku ikut!” Krystal bersikeras memaksaku agar dia bisa ikut denganku bertemu dengan Junhee. Aish, sungguh merepotkan. Aku tau ini tidak akan berhasil, Krystal benar-benar keras kepala.

“Aku ingin tau gadis seperti apa dia… apa yang dia punya sedangkan aku tidak.” kata Krystal pelan, tangan kanannya masil mencengkram lenganku kuat.

Aku mendengus, kupikir ini ide yang buruk. Apa reaksi Junhee jika ia tau aku membawa calon tunangan. Ya, aku ingat lagi, mom masih melanjutkan pertunangan bodoh itu.

“Aku ikut.”

Aku menyurukkan rambutku, tidak ada alasan lagi untuk membujuk Krystal.

Aku meninggalkan Krystal yang masih didalam mobil dan berlari kecil masuk kedalam kafe yang sebelumnya Junhee pernah menungguku disini saat aku memintanya berkencan denganku pada akhirnya kami tidak jadi melakukannya. Jika teringat kejadian itu aku tersenyum tipis, sebenarnya pada waktu itu aku berusaha kabur dari pengawasan bodyguard suruhan mom karena aku dilarang keluar bertemu dengan Junhee. Tentu gadis itu tidak tau.

Aku menemukan banyak gadis yang memakai seragam denganku di dalam kafe bernuansa remaja ini, dan aku yakin Junhee juga masih memakain seragam sekolahnya. Dan gadis berambut hitam bergelombang yang memunggungiku dengan kepala sedikit menunduk itu aku yakini sebagai Junhee.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyaku to the point setelah duduk berhadapan dengan Junhee, Junhee menegakkan kepalanya yang sebelumnya tertunduk dan menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Bilang pada ibumu kita sudah putus.” Jawab Junhee datar. aku menaikkan alisku bingung, jujur kata-kata ‘putus’ itu seperti menusuk dadaku saja, sakit.

“A-apa maksudmu?”

“Hun, kita tidak akan bisa bersama…” Junhee menarik napas dalam. “…aku mohon, sekali ini saja, katakan bahwa kita sudah putus dan anggap kau tidak pernah menyukaik-“

“-Apa yang terjadi padamu? Ibuku menerormu lagi?” potongku cepat, aku tidak ingin mendengar kata-kata pedas yang dilontarkan Junhee lagi, dan aku yakin pasti mom telah melakukan sesuatu pada Junhee.

Junhee membuang mukanya menatap pintu kafe yang terbuka dan menampakkan Krystal di ambang pintu. Aku kaget, dan pada awalnya Junhee menatap Krystal juga sebaliknya. Aku menahan napasku melihat pemandangan ini. Junhee kembali menatapku dan tersenyum.

“Dia cantik.”

Aku tidak tau apa maksud Junhee mengatakan itu. Apa dia tau kalau Krytal adalah calon tunanganku?

Krystal sudah sampai di meja kami dan menatap Junhee sengit, dengan wajah yang dongkol dia duduk di sampingku.

“Apa dia gadis miskin itu?” Krystal menatap penampilan Junhee dari atas hingga bawah. Junhee hanya bisa tersenyum.

Annyeong, kau pasti calon tunangan Sehun kan? Kau sangat cantik… dan kalian sangat cocok.” Junhee menatapku saat dia mengatakan kalimat teakhirnya. Dia bilang kami cocok?

“Kau pacarnya Sehun?!”

“Aniya.. kau salah paham. Kami tidak pernah menjalani hubungan apa-apa.”

Aku sedikit terlonjak mendengar penuturan Junhee. Aku hanya diam, tidak bisa mengelak atau mencoba menyalahkannya. Dia benar, kami hanya pacaran hanya demi status. Dari awal Junhee menganggap itu hanyalah kontrak bodoh, tapi bagiku sebaliknya, dari awal aku menjalani hubungan ini dengan serius.

“Kau bohong!” desis Krystal masih dengan menatap Junhee tajam. Aku terlihat paling bodoh dan tidak berguna dalam situasi seperti ini.

“Tidak, nona. Kalau tidak percaya tanya saja Sehun.” Junhee menunjukku dengan dagunya, ia masih tersenyum. Krystal menatapku dengan banyak tanda tanya. Aku mendengus kesal. Seharusnya Junhee tidak perlu mengatakan hal itu, dan membuatku… sakit hati.

“Maaf telah menyita waktumu, ah, jangan lupa dengan apa yang aku sampaikan tadi.” Junhee melirik jam tangannya lalu berdiri dari duduknya, awalnya aku ingin menahannya tapi Krystal sudah lebih dulu menahan pundakku. Aku hanya bisa melihat Junhee yang benar-benar telah keluar dari kafe.

“Apa yang dikatakannya benar?”

Aku mengacuhkan pertanyaan Krystal dan memilih untuk mengejar Junhee. Ada sesuatu yang menyuruhku untuk segera menemuinya. Belum terlambat, Junhee masih ada dalam jangkauanku. Aku berlari kearahnya yang sedang berjalan pelan dengan bahunya yang merosot. Semakin dekat dengannya aku mendengar dengan jelas sebuah isak tangis  dan aku yakin gadis itu… sedang menangis.

Aku membalikkan badannya agar bisa berhadapan denganku. Dan benar dugaanku, Junhee menagis. “Junhee..” bisikku pelan. Junhee semakin mengeraskan isak tangisnya. Wajahnya menunduk dan kedua tangannya membungkam mulitnya sendiri. Sakit dan sesak bersamaan saat melihatnya lemah seperti ini.

Mianhae..” ucapku lirih dan tulus.

Junhee menggeleng keras, lalu ia mengusap asal air matanya dan menatapku dengan tatapan memohon.

“Hun, ini bukan salahmu tapi salahku, tolong katakan pada Ibumu kau tidak pernah menyukaiku dan aku juga tidak menyukai-“

“-jadi benar kau tidak menyukaiku?” potongku cepat, sepasang mata Junhee menatapku lekat. Dia mengangguk, bahwa dia tidak menyukaiku. Tapi matanya berkata sebaliknya. Aku tau, aku tidak bodoh.

“Jangan boho-“

“-Tidak Hun, aku tidak pernah berbohong. Aku tidak pernah menyukaimu.” Junhee melepaskan kedua tanganku yang mencengkram ringan kedua sisi bahunya.

“Ini keputusan yang terbaik. Aku tidak ingin diriku rugi karena kotrak bodoh itu, dan juga ibumu yang semakin membenciku walau nyatanya semua ini hanya salah paham dan tak lebih dari sebuah permainan konyol. Jadi, tolong turuti semua kemauan ibumu agar tidak ada lagi manusia tak bersalah menanggung semua penderitaan ini…”

Kata-kata Junhee yang terlontar dari mulutnya membuatku sadar, selama ini aku telah egois. Junhee melangkahkan kakinya mundur memperbesar jarak diantara kami.

“Aku memaafkan semua kesalahanmu, dan kuharap kau melakukan hal yang sama. Aku juga berterimakasih atas semua waktu telah kau berikan…”

Seperti Junhee akan pergi jauh saja, dia mengatakan kata-kata itu dengan melambaikan tangannya. Aku hanya diam menatapnya bingung. Ada perasaan yang mendorongku agar menahannya. Tapi akal sehatku membiarkannya pergi… aku harus melepaskannya, agar dia tidak sakit lagi. Aku sadar selama dia bersamaku banyak hal pahit yang dialaminya dan untuk itu aku membiarkannya berjalan memunggungiku, tenggelam diantara lautan manusia yang seakan menjadi penghalangku untuk mendekapnya.

Seketika sesuatu mengganjal di dalam rongga dadaku membuatku tercekat. Aku merabanya sekilas, perasaan sesak terus menyelimutiku dan seakan aku kehilangan sumber oksigenku –Choi Junhee- semua rasa sakit menjalar didalam sini. Terakhir aku merasa pusing yang amat menyiksa kepalaku dan pemandangan orang-orang yang lalu lalang semakin mengabur.

 

***

 

7 years later…

 

Seorang pria memakai setelan jas abu-abu sedang duduk disebuah restoran menunggu pramusaji menyiapkan hidangan yang dipesannya sekitar 10 menit lalu. Kepalanya sedikit menunduk dan jemari tangannya menari dipermukaan layar gadget dipangkuannya. Sebuah video yang memperlihatkan keramaian dan suara bidikan kamera wartawan maupun paparazzi untuk men-shoot seorang wanita cantik dengan pakaian yang anggun sambil tersenyum dan melambaikan tangannya ramah.

Jecelyn Choi namanya, seorang desainer fashion kelahiran terkenal dari Amerika Serikat yang sering mengusung pakaian berkualitas dengan desaian yang unik.

“Bagaimana perasaan anda?” seorang wartawan tak henti-hentinya meng-close up wajah cantik Jecelyn.

“Senang, saya selalu senang dan bangga akan hasil kerja keras saya.” Jawab wanita berbadan mungil masih dengan senyum ramah. Dengan beberapa pengawal dan wanita  yang mengikutinya berjalan ke tengah agar semua wartawan dan paparazzi.

“Apa tema peragaan ini?”

“Musim dingin. Semua orang perlu kehangatan, untuk itu aku mengusung tema hangat dan nyaman tapi tak lepas dari sentuhan sebuah desain unik untuk memberi kesan percaya diri.”

“Tapi jika dilihat-dilihat semua koleksi pakaian ini tidak sama dengan edisi tahun kemarin.”

“Kau benar.” Jecelyn menunjukkan sebuah pakaian sexy dan tipis. “Pakaian ini tipis dan jika kalian memakai pakaian ini dimusim dingin akan lebih memilih untuk memakain pakaian bertumpuk bukan?”

“Lalu aku menciptakan sesuatu yang beda dari tahun kemarin, aku menggunakan banyak ide ketika melihat pakaian penduduk kutub.”

“Menggunakan kulit binatang?”

Jecelyn menggeleng. “Bukan, aku tidak akan tega menggunakan kulit binatang. Meskipun corak jaket ini mirip dengan kulit macan tapi ini bukan kulit macan…”

“…untuk memproduksi pakaian yang lebih murah aku menggunakan bahan sintetis. Dari awal mottoku adalah bukan pakaian yang mahal tetapi pakaian yang berkesan, aku menciptakan segala sesuatu yang mengutamakan kenyamanan dan keselarasan.” Jecelyn menyuruh orang-orangnya untuk mengembalikan pakaian yang baru ditunjukkan untuk dikembalikan ke asalnya.

Jecelyn Choi memang terkenal dengan sifat ramah dan menyenangkan. Dia juga seorang aktifis yang sering menyumbangkan donasi pada penduduk sekitar yang membutuhkan, membuat dirinya sangat terkenal di kalangan para wartawan yang sering memburunya dan itu membuatnya cukup terkenal meskipun tidak sebanding dengan desainer kawakan Tom Ford.

“Aku dengar rumor bahwa Jecelyn Choi akan kembali ke Korea Selatan. Apa itu benar?” Jecelyn sedikit tersentak dengan pertanyaan wartawan yang ada dibelakang sana. Jecelyn menghembuskan napas pelan.

“Itu benar. Aku rindu suasana Seoul, dan aku akan menetap disana. meniti karir dari awal.”

Para wartawan awalnya terkejut dengan kata-kata Jecelyn barusan tak henti-hentinya mereka membidiknya dengan berbagai angle dan sinar blitz yang menyilaukan mata, bagi jecelyn hal itu tidak masalah. Ini mungkin sebuah perpisahan dari perjalanan karir di dunia fashion di negeri pamansam itu.

“Apa anda akan bertemu dengan cinta pertama anda?” sebuah pertanyaan yang membuat kegiatan potret-memotret terhenti. Semua tatapan teralihkan pada Jecelyn yang diam dengan mulut yang terkatup rapat.

Tak lama Jecelyn tertawa. “Apa aku sangat terlihat seperti itu?”

Para wartawan ikut tertawa dan kembali terbawa suasana akrab yang diciptakan wanita berumur 25 tahunan itu.

 

“Oh Sehun?”

Pria yang dipanggil dengan nama Sehun itu sedikit terkesiap dan reflek menekan stop pada layar. Ia berdiri dari duduknya karena mendapati seorang pria yang lebih pendek darinya berdiri dengan tersenyum ramah, pria itu adalah direktur dari sebuah perusahaan properti yang terkenal di Korea Selatan.

“Silahkan duduk,” Sehun mempersilahkannya duduk.

“Maaf menunggumu lama.”

“Tidak masalah, hyung.” Sehun tersenyum, pria didepannya juga tertawa. “Aigoo… sudah lama kita tidak bertemu, kau semakin tampan saja.” pria itu mendengus.

“Kapan kau akan menikah?” pria itu mendelik jahil kearah Sehun.

“Aku tidak memikirkan pernikahan Kim. Joon Myun.” Pria bernama Kim Joon Myun tertawa mengejek, kebiasaan lama jika Sehun kesal akan menghilangkan embel-embel hyung.

7 tahun yang lalu saat keberadaan Junhee yang tiba-tiba menghilang membuat Sehun syok dan beberapa hari harus dirawat dirumah sakit akibat anemianya kambuh. Gadis itu hilang seakan dilenyapkan bumi, disekolah, di rumahnya bahkan ia meninggalkan pekerjaan di Coffee Shop Chanyeol tanpa sepatah katapun. Ada yang bilang Junhee, Ibu serta adiknya menjalani hidup di luar negeri. Sehun yang pada awalnya harus menerima kenyataan bahwa Junhee meninggalkannya tanpa jejak hanya tersenyum miris ditambah pertunangannya dengan Krystal harus dilanjutkan. Untung saat itu Tuhan berbaik hati padanya, Krystal bertemu dengan teman Sehun –Kai- di kafe yang sama saat ia terakhir melihat Junhee-  dengan tidak sengaja keduanya memiliki perasaan yang sama. Love at first sight. Krystal dan Sehun sama-sama menentang pertunangan mereka dan akhirnya kedua orangtua mereka menyetujuinya.

Arraseo.. kita kembali ke permasalah kita…” Joon Myun memberikan sebuah amplop coklat kepada Sehun. Sehun menerimanya dan segera membuka isi amplop tersebut.

Oppa!” pekik seorang gadis setelah keluar dari gerbang sekolah menengah pertama dan mendapati Sehun yang dengan santainya berdiri dengan bersandar di tembok, membuat semua wanita yang lalu lalang menatapnya kagum. Gadis berumur 13 tahun itu berjalan cepat menghampiri Sehun.

“Soojin.” Sehun melepaskan earphone yang terpasang manis di kedua telinganya. Gadis cantik bernama Soojin itu menghembuskan napas kasar hingga terlihat jelas kepulan putih di dekat mulutnya.

Mereka berdua masuk kedalam mobil hitam BMW milik Sehun.

Oppa.. aku mau cerita-“

“-cerita saja, ah.. Oppa tau, pasti ada laki-laki yang menembakmu lagi kan?” potong Sehun malas.

“Bukan!” Soojin mengerucutkan bibirnya kesal.

“Lihat itu, anak laki-laki yang memakain tas merah.” Soojin menunjuk dengan antusias di balik kaca mobil.

“Lumayan, setidaknya lebih keren dari yang biasanya menembakmu.” Komentar Sehun dan mendapat pukulan keras di lengan kirinya.

“Bukan Oppa! Apa kau lupa… dia Junhong.” Soojin menatap anak laki-laki berambut coklat yang sedang menuntun sepedanya. Sehun memperhatikannya sekilas, memang mirip.

“Dia murid pindahan dari Amerika, sejak kedatangannya tadi pagi semua siswi berteriak histeris.” Lanjut Soojin dengan melipat kedua tangannya.

“Lalu apa masalahmu?” Sehun menolehkan kepalanya melihat Soojin dengan alis berkerut.

“Dia bukan Junhong… namanya Zelo. Aneh bukan? Jelas-jelas mereka mirip. Aku masih ingat wajah Junhong walaupun tidak bertemu dengannya hampir 7 tahun.”

Sehun yang mendengar perkataan adiknya menghela napas halus. Soojin masih belum melupakan teman TK-nya tersebut, padahal jika Sehun ada diposisi yang sama dengan Soojin pasti dia lupa.

“Kau merindukannya, iya kan?” tanya Sehun menggoda sambil memiringkan kepalanya, ia terkekeh kecil saat melihat reaksi malu dari Soojin karena terdapat semburat merah di pipi chubby-nya.

 

***

 

Seorang wanita dengan memakai jaket berbulu untuk menutupi tubuhnya dikala suhu sore dimusim dingin yang menusuk kulit berjalan santai dengan sepatu boots yang memberi kesan glamour, hampir semua orang yang melihatnya menatapnya kagum.

Seorang pria jangkung menabrak pundaknya dengan tidak sengaja sehingga wanita itu meringis hampir jatuh jika saja pria itu tidak menahan lengannya.

Kedua pasang mata mereka saling menatap dengan alis yang sama-sama berkerut.

“Junhee?”

“Chanyeol Oppa?”

Mereka berdua saling tertawa.

“Ini benar kau Junhee-ya?” Junhee mengangguk sambil tertawa lebar, meskipun penampilannya berbeda 180 derajat tapi Chanyeol masih ingat betul dengan mantan fangirl dan pegawai kasirnya itu. Chanyeol mengajak Junhee ke Coffee Shop-nya yang kebetulan dia juga akan kesana.

“Masih tetap sama.” Kata Junhee pelan dan mengepulkan embun putih ketika ia tepat didepan bangunan Coffe Shop dimana ia pernah bekerja disana, ia menggosok-gosokkan telapak tangannya yang tertutupi kaos tangan lalu mengikuti Chanyeol yang telah masuk lebih dulu kedalam Coffee Shop-nya.

“Lihat, kau masih mengenalnya?” Chanyeol menunjuk seorang wanita yang sibuk dengan handphone dan cangkir di kedua sisi tangannya.

“Sera unnie…”

Junhee tersenyum lebar lalu menghampiri Sera yang tengah duduk sambil bicara dengan lawan bicaranya lewat Handphone. Awalnya Sera tidak menyadarinya tapi setelah Chanyeol menepuk pundaknya ia terkesiap.

“Junhee?!” Sera berdiri dari duduknya, memperhatikan penampilan Junhee yang membuatnya menganga tak percaya jika yang dilihatnya adalah gadis polos si penunggu kasir rekan kerjanya kini berubah menjadi wanita yang cantik. Junhee terkekeh lalu mengangguk .

“Kau melupakanku Unnie? Aku masih sam-“ Junhee memotong kalimatnya karena Sera memeluknya erat.

“-Aigoo.. kau semakin cantik.” Sera mendesis lalu melepaskan pelukannya. Chanyeol yang berdiri disebelah Sera menyenggol lengannya. “Tapi kau tidak kalah cantik.” Ujar Chan Yeol dengan senyum menggoda.

Mereka bertiga duduk dengan posisi Junhee yang menghadap Sera dan Chanyeol yang duduk berdampingan. Junhee bisa menarik kesimpulan bahwa mereka –Sera dan Chanyeol- punya hubungan dekat.

“Kalian pacaran?” tanya Junhee penasaran. Chanyeol tersenyum malu sama halnya dengan Sera.

“Sepertinya begitu.” Sera mengendikkan bahunya pura-pura acuh.

“Kita sudah bertunangan.” Sahut Chanyeol.

“Jinjja?!” Junhee terkejut, lalu detik berikutnya dia tertawa. “Aku sudah menduganya.”

“Lalu begaimana dengan kabarmu? Kau menghilang dengan tiba-tiba..” Chanyeol menyesap kopi panasnya.

“Ya, bahkan kau meninggalkan pekerjaanmu tanpa memberitauku.” Tambah Sera. Junhee terkekeh sebelum akhirnya ia menjawab. “Baik, lebih dari baik.”

“Tapi Junhee… aku dengar selama ini kau ada diluar negeri?” tanya Sera. Junhee mengendikkan bahunya.

“Dia Jecelyn Choi.” Sahut Chanyeol yang otomatis membuat Sera membulatkan matanya. Junhee hanya bisa tersenyum malu. Sera memang tau kalau Jecelyn Choi seorang desainer kelahiran Korea Selatan tapi dia tidak tau jika Junhee dan Jecelyn adalah orang yang sama. Yang Sera tau Junhee ada diluar negeri itu pun Chanyeol yang memberitau. Beda halnya dengan Chanyeol yang mengetahuinya lebih dulu, tapi ia tidak terlalu tertarik membahasnya dengan Sera karena ia tau Sera akan lebih heboh lagi nantinya.

“Jadi benar?” Sera membungkam mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangannya, berlebihan. Chanyeol memutar bola matanya malas karena dia menduga reaksi tunangannya akan seperti ini.

Junhee mengangguk malu.

“Lalu bagaimana hubunganmu dengan Sehun?”

Junhee tersedak setelah mendengar nama Sehun disebutkan Chanyeol, ia meletakkan kembali cangkir kopinya.

Junhee tersenyum lalu mengendikkan bahunya acuh.

“Entahlah.”

Setelah menyudahi obrolan panjang dengan Sera dan Chanyeol, Junhee pamit karena hari sudah semakin malam. Suhu diluar sana pasti menurun, entah berapa derajat dibawah 0.

“Jangan lupa ya Junhee, eh, Jecelyn. Buatkan aku gaun pengantin yang bagus.” Kata Sera mengingatkan, Junhee tersenyum lebar.

“Tentu.”

Junhee mengambil tas-nya lalu berdiri dari duduknya setelah sebelumnya bersalaman dengan Sera, sedangkan Chanyeol sendiri sudah pergi semenit yang lalu karena ada keperluan mendadak. Ternyata Coffee Shop milik Chanyeol sepenuhnya Sera kini yang mengurus.

“Hati-hati!” Sera melambaikan tangannya di ambang pintu Coffee Shop yang mulai sepi, Junhee melambaikan tangannya juga kemudian dia berbalik dan berjalan menjauhi Coffe Shop dimana dulunya ia pernah menghabiskan waktu untuk kerja paruh waktunya disana. Mengingat hal itu Junhee tersenyum sendiri, perjuangan hidupnya tidaklah sia-sia.

Junhee berjalan di pinggir jalan raya yang mulai sepi. Salju mulai turun hanya segelintir, tidak perlu memakai jas atau payung yang ia sendiri tidak membawanya. Berjalan santai menikmati suasana dingin yang menusuk kulit, Junhee sendiri sangat menyukai musim dingin. Ia menggosokkan kedua telapak tangannya sesering mungkin, kemudian berdiri tepat dipemberhentian bus, jika dia beruntung bus malam akan datang sebentar lagi atau tidak dia perlu mencari taksi.

Junhee menatap jalanan yang mulai sepi dengan tidak minat, menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri lalu merapikan anak rambutnya agar dapat menutupi daun telinganya yang mulai memerah karena kedinginan.

Junhee menegakkan kembali kepalanya yang sebelumnya tertunduk, kedua matanya tepat melihat sebuah obyek yang tak terduga seberang jalan sana. Seorang pria berambut coklat madu yang tengah berdiri di tengah hujan salju dengan raut wajah yang datar. Junhee menahan napas, kedua pasang mata itu saling menatap lekat meski pria itu masih berdiam diri disana dengan bibir yang terkatup rapat.

Pria itu Oh Sehun.

 

“Aku benar-benar merindukanmu, Junhee…”

“…Dan aku tidak pernah melupakanmu, Hun.”

 

-END-

 

Kepanjangan? Semoga kalian suka, terhibur dan puas meski karya ini banyak kekurangan *Author masih baru belajar menulis FF hehe ^^

Ohya, alurnya maksa banget yak -_- *authornya nyadar, emang kurang suka buat cerita yg muluk-muluk dan kurang bisa bikin chapter panjang meski banyak ide numpuk, hehe . Like dan Komentarnya jangan lupa J kritik saran juga boleh, aku pasti baca satu per satu kok, kalo perlu juga aku bales … gomapta ^^

165 responses to “You’re My Idol – [2 – 2]

  1. Gantung bgt, kyak cicak mw jatuh dri phon cabe.. Asli bagus, cuma knpa hnya smpe situ end.nya? Sequel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s