A!—Part 1. Siapa dan Apa?

2222

A!

BAB 1

SIAPA DAN APA?

MinHyuniee storyline

PROLOG

OC’s/You as Oh Hana | GOT 7’s Mark Tuan

EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Amber Liu | SHINee’s Lee Taemin | BTS’s Kim Taehyung | BTOB’s Lee Minhyuk | HELLOVENUS’s Kim Hyelim | BAP’s Choi Junhong | NU’EST’s Choi Minki | etc

chaptered | romance, comedy, school life, family, friendship, AU, OOC, little bit smut, typos

PG-13

Ini fanfiction kedua saya yang menjurus ke hal yang ‘iya-iya’ dan well, saya harap reaksi fanfiction saya yang satu ini lebih bagus daripada yang sebelumnya. Btw, terimakasih banyak buat komentar kalian di prolog cerita ini. Saya seneng ternyata banyak yang minat sama ff abal ini /LOL. Oke, saya udah menyarankan agar anak dibawah tiga/tujuh belas tahun tidak membacanya, tapi kalau masih ngeyel mau baca ya silahkan. Resiko ditanggung pembaca. Last, saya mau ngucapin happy reading!

DON’T LIKE? DON’T READ! DON’T BASH/FLAME ME!

-A-

Wajah manis gadis bersurai hitam legam itu masih tertekuk. Dagunya ia topang memakai tangan kanannya. Matanya sibuk menatap seorang laki-laki berpostur tegap yang tengah men-dribble bola basket di tengah lapangan. Ia menghela nafas berat untuk ke-sekian kalinya. Hanya satu kata yang dapat menggambarkan keadaannya saat ini: frustasi.

Gadis itu tidak tahu mengapa moodnya hari ini sangat-sangat buruk. Seharusnya moodnya itu bagus karena hei lihatlah, laki-laki jangkung itu tampak keren dengan gaya elegannya saat memasukkan bola basket itu ke ring. Oh dan jangan lupakan juga keringatnya yang mengalir deras hingga makin melekatkan kesan sexy di tubuh lelaki tersebut. Pemandangan yang indah bukan? Ya, hanya saja, gadis itu benar-benar tidak ingin membahas masalah kesexyan pria berambut husky tersebut. Oh ayolah, mood buruknya itu sungguh merusak harinya saat ini.

“Oh Hana!”

Walau enggan, gadis itu tetap menyahut, “Apa?”

“Tangkap!”

Dengan sigap, jemari lentik itu menangkap sebuah bola basket yang melayang ke arahnya. Lalu ‘hap’ ia berhasil. Dan selanjutnya, gadis bermarga Oh itu membuang bola itu ke sembarang arah, mengabaikan kalimat protes dari lelaki tampan yang berjalan ke arahnya.

“Kau melakukannya lagi,” Pria itu berteriak kesal, “dan korbannya bola basketku lagi.”

Perempuan itu—Hana—mengendikkan bahunya acuh tak acuh membuat pria bermarga Choi tersebut mendecih sebal.

“Kau kenap—ah ah.. jangan bilang kalau kau mendapatkan nilai c lagi, nona Oh.”

Hana melirik tajam pria yang lebih muda 2 tahun darinya itu, “Diam Choi Junhong.”

Bersamaan dengan berakhirnya ucapan Hana, suara gelak tawa langsung terdengar dari lapangan basket outdoor universitas Inha itu. Well, suasana kampus memang belum terlalu sepi tapi tetap saja suara tawa kekanakan itu bisa terdengar hingga koridor dalam kampus. Junhong memang manusia idiot, begitu batinnya.

“Haha.. pfft.. seharusnya kau tidak melawan dosen itu, Hana-yya. Khukhu~” Lelaki cukup jangkung itu—Junhong—meringis kecil ketika kaki kecil Hana menginjak kakinya. “Hey, sakit!”

Hana mendengus kecil, ia menyilangkan kedua kakinya kemudian kembali pada posisi bertopang dagunya—berusaha untuk mengabaikan tatapan mengintimidasi dari laki-laki tampan di hadapannya. Junhong menghela nafas kecil lalu dengan santainya duduk di sebelah Hana. Sementara lelaki itu mengambil sebuah handuk kecil dan sebotol air mineral dari dalam ransel hitamnya, Hana tampak  sedang mengambil ponselnya yang bergetar dari dalam saku kemejanya. Tersentak, gadis itu memilih untuk diam setelah melihat nama sang penelpon yang tertera di layar ponselnya.

“Hyelim?” Junhong yang terlanjur penasaran pada siapa-si-penelpon-hana itu berucap. Ia menatap Hana bingung, “Kenapa kau tidak menjawabnya?” tanyanya kemudian.

Gadis berambut coklat almond itu melirik sekilas Junhong sebelum ia menekan tanda terima dan menempelkan ponselnya itu pada telinganya.

“Halo?”

“Oh Hana!!!” refleks Hana menjauhkan ponselnya dari telinganya, secepat mungkin tangannya menekan tombol loud speaker pada ponselnya.

“Jangan menganggu acara kencan kami, Limie.”

“Apa?!”

Hana mendelik tajam pada Junhong, membuat pria berkulit putih pucat itu tersenyum jahil.

“Maaf, tadi aku ada urusan dengan Junhong. Tenanglah, Hyelim-ah. Sekarang kau ada dimana?”

“Bagaimana aku bisa tenang kalau dosen paling menyebalkan seantero kampus itu mendatangiku lalu menanyakan keberadaanmu?! Dia bahkan menyuruhku untuk mencarimu! Dosen itu benar-benar—”

Hana memutar bola matanya malas, “Bisakah kau berhenti berteriak dan segera mengatakan kau ada dimana?” ia memotong ucapan suara di seberang dengan nada kesal.

“Aish kau ini! Aku ada di depan gedung inti. Sebaiknya kau cepat-cepat ke ruangan dosen bebal itu atau kalau tidak nilai tugasmu melayang! Dan Junhong ka—”

Belum selesai suara itu berbicara, Hana sudah memutuskan panggilannya secara sepihak kemudian menarik tangan Junhong yang tadinya sedang serius mendengarkan suara itu—karena merasa namanya disebut—tanpa aba-aba. Dengan langkah seribu Hana pun menyeret Junhong yang kini mau tak mau harus rela meninggalkan ransel kesayangannya di tribun penonton.

-A-

“Hii kecoa!!”

Pria berkulit putih pucat itu nampak memandang datar seorang pria berwajah cantik yang ada di hadapannya. Ia mendesah berat, mengacak kasar rambutnya seakan sedang frustasi. Namun pada kenyataannya tidak, dia hanya sedikit kesal saja dengan pria cantik di depannya yang kini terlihat sedang menginjak brutal seekor hewan bernama kecoa tanpa rasa bersalah sedikitpun. Penawaran bosnya untuk pindah ruangan kerja sepertinya akan kembali dia pertimbangkan.

“Sehun-ah! Ruang kerjamu ini benar-benar kumuh!” Pria cantik itu berteriak, mengabaikan fakta bahwa mereka sedang berada di tempat kerjanya—tentu saja semua mata akan mengarah pada mereka.

Laki-laki yang dipanggil Sehun itu hanya mengulas senyum tipis dengan watadosnya. “Kau semakin seksi saja, Renata.” Ucapnya menghiraukan kalimat protesan dari sahabatnya.

“Berhenti memanggilku Renata, bodoh! Namaku Choi Minki dan aku ini bukan perempuan! Aish, dasar byuntae.”

Pria bernama asli Choi Minki tersebut menendang sebal setumpukan kertas yang berserakan di lantai ruangan kerja sahabatnya kemudian berjalan santai mendekati sebuah sofa. Sehun menatap nanar kertas-kertas hasil reservasi keuangan kantornya yang diinjak tanpa perasaan oleh Minki. Sahabatnya itu benar-benar brutal.

“Amber mencarimu.” Katanya setelah berhasil mendaratkan bokongnya pada sofa ruang kerja Sehun. Ia mengendikkan bahunya ketika Sehun menampakkan ekspresi bertanya-tanya padanya. “Kau tahu ‘kan, Amber itu orang yang penuh dengan rahasia.” Lanjut Minki seraya mengikatkan rambut blonde sebahunya dengan karet mungil yang dibawanya.

Sehun mengangguk acuh tak acuh, tak mau ambil pusing perihal kekasihnya itu. Kedua mata brown choconya kembali sibuk membaca ulang beberapa kertas reservasi kantorannya yang baru saja diberikan oleh atasannya. Sementara itu, Minki nampak mengambil kertas reservasi yang tadi ia injak lalu membacanya dengan seksama.

“Bagaimana kabar, Hana?”

Sehun melirik Minki sebentar lalu menghela nafas, “Aku tak bertemu dengannya akhir-akhir ini karena jadwal pulang kuliahnya berlawanan dengan jadwal pulang kantorku. Tapi kurasa ia baik-baik saja. Lagipula ada Junhong dan Hyelim yang selalu menjaganya.” Ujarnya panjang lebar tanpa melepaskan pandangannya dari kertasnya.

“Kau terlalu sibuk dengan pekerjaan tak pentingmu itu. Walaupun Junhong dan Hyelim menjaganya tapi bukan berarti Hana akan selalu ada disamping mereka. Cobalah untuk meluangkan sedikit waktumu dengan adikmu, Sehun-ah. Keluarga itu lebih penting dari apapun.” Minki mengoceh membuat Sehun yang duduk tak jauh darinya memutar bola matanya jengah.

Oh ayolah, Minki terlalu berlebihan. Adiknya itu sudah besar, jadi untuk apa dia mengurusnya terus? Yah terkecuali kalau Sehun sister complex. Itu beda urusan lagi.

“Biar kutebak, pasti Hana tidak tahu kalau kau dan Amber berpacaran?” Sehun tercekat, ia menatap horror sahabatnya yang kini tampak memamerkan senyum kemenangannya. Dasar, mahluk idiot.

Sehun menghempaskan punggungnya pada kursinya sambil bergumam, “Itu tidak penting.” Namun Minki masih bisa mendengarkannya. Laki-laki cantik itu hanya mendesah pasrah melihat respon sahabat kecilnya itu.

“Suatu saat nanti kau akan menyesal telah mengabaikan Hana, Oh Sehun.” Ia berdiri, berjalan menuju pintu masuk ruang kerja Sehun kemudian melambaikan tangan kanannya sekilas.

Sehun (kembali) memutar bola matanya malas ketika pintu ruangannya ditutup secara kasar oleh sahabatnya itu.

Huh, berlebihan.

-A-

“Minhyuk hyung!!”

Laki-laki berparas tampan itu terhenyak saat ada yang meneriakkan namanya. Ia membalikkan badannya hingga manik matanya bisa melihat seorang lelaki jangkung yang berlari ke arahnya dengan diekori seorang perempuan berwajah cukup manis. Minhyuk—nama si laki-laki tampan—menutup buku ekonominya kemudian memasukkannya ke dalam ranselnya.

Yaa! kutu buku!”

Minhyuk meringis pelan setelah mendapat jitakan telak dari perempuan manis berambut sebahu yang sudah sampai di hadapannya. Ia lalu menatap heran kedua manusia yang kini sedang menyilangkan kedua tangan mereka sambil menatap tajam dirinya. Ini bahkan masih terlalu sore untuk mengkhayalkan hal-hal aneh seperti keberadaan kedua mahluk tersebut.

Mentang-mentang kau pintar, jadi kau tidak mau menunggu kami lagi?”

Tak mengerti, Minhyuk menautkan kedua alisnya lalu membalas, “Maksudmu apa, limie?”

Hyelim—sang perempuan manis sebahu—menghela nafas berat. Ia menaruh ransel birunya pada meja yang ada di hadapan Minhyuk, sedangkan laki-laki yang awalnya memanggil Minhyuk itu kini malah hanya diam di belakang Hyelim dengan wajah tanpa ekspresinya. Well, sepertinya Minhyuk harus percaya bahwa mereka berdua bukanlah khyalannya.

“Kau tak pernah bilang pada kami kalau kau akan lulus minggu depan.” Hyelim berkata dengan raut wajah suram setelah ia berhasil mendaratkan bokongnya pada kursi yang ada di hadapan seniornya. Minhyuk tersentak. Dia tak menyangka Hyelim dan Junhong—si laki-laki jangkung—akan mengetahui perihal jadwal kelulusannya secepat itu. Bahkan teman-teman seangkatannya pun tidak ada yang tahu.

“Maaf, aku tidak bermaksud untuk meninggalkan kalian. Aku pun tidak tahu mengapa aku bisa lulus secepat ini..”

Junhong memutar bola matanya malas, “Sudah jelas itu karena kau terlalu pintar, hyung.”

Sejurus kemudian, Hyelim pun tertawa lepas, mengabaikan tangan kanannya yang secara sengaja memukul lengan Junhong dengan cukup keras hingga membuat sang empunya lengan mengerang kesakitan. Sudah jelas sekali Hyelim ingin membuat Junhong menutup mulut pedasnya itu. Oke, sekarang salahkan Hyelim yang mengajak bocah itu untuk mengikutinya tadi. Menyebalkan.

Yaa! Sakit bodoh!” Junhong menoyor kepala Hyelim. Perempuan berpipi cukup tembam itu pun balas menoyor kepala laki-laki yang 2 tahun lebih muda darinya itu. Setelahnya, mereka berdua hanya saling adu pandang seolah mengatakan ‘kau-ingin-berkelahi-denganku?’ tanpa perduli dengan keberadaan Minhyuk di sebelah mereka. Sungguh kekanakan.

“Oh ya, dimana Hana?”

“Aku tidak tau. Tadi dia meninggalkanku di depan gedung inti. Kurasa dia pergi ke gedung barat.” Jawab Junhong santai—berusaha mengabaikan deathglare Hyelim.

Minhyuk mengganguk paham. Kemudian dia beranjak dari tempat duduknya, mengambil ransel biru lautnya dan menenggerkannya di bahunya, “Aku harap kalian baik-baik saja tanpaku. Yah. Setidaknya kalau kalian kesulitan dengan tugas-tugas kuliah, kalian bisa meminta bantuan pada Hana.”

Baru saja pria berkemeja hijau itu berniat melangkah pergi dari sana, Junhong sudah lebih dulu menarik bahunya lalu menatapnya dengan wajah datar, “Apa kau bercanda? Hana bahkan masih kesulitan dengan tugas materi sosialnya itu! Kau mau membuat Hana mendapat nilai F karena mengurusi kami, huh?”

Mata Minhyuk membelalak, “Kau serius??”

“Tentu saja. Mark saenim benar-benar menyebalkan. Kurasa ada yang aneh dengannya.” Timpal Hyelim seraya menopang dagunya, “Dia bahkan menyuruh Hana untuk memanggilnya sajangnim. Apa dia pikir Hana pembantunnya? Tsk, aku semakin tak habis pikir dengannya.”

“Eh? Kupikir Hana memanggilnya sajangnim karena marganya Tuan.”

Heol, Idiot.” Junhong melirik tajam Hyelim, sedangkan yang dilirik tampak melempar pandangan ke arah lain—menghindari perkelahian lagi.

Minhyuk terdiam sebentar. Otaknya masih berusaha mencerna segala perkataan para juniornya itu. Hana si mahasiswi cerdas dan teladan yang setiap harinya aktif di berbagai kegiatan sosial, tidak bisa melewati kelas materi sosial umum? Tidakkah itu terdengar janggal? Minhyuk bahkan kenal betul dengan Mark Tuan sang dosen muda berbakat yang sangat dikagumi karena sifat murah hatinya. Ini benar-benar aneh.

“Tadi dosen itu juga mencari Hana sampai ke kelas terakhirku. Sehancur-hancurnya nilai seorang mahasiswa, kurasa dosen manapun tidak akan mau ambil pusing mencarinya sampai seperti itu. Aish, entah kenapa aku jadi khawatir dengan Hana.”

“Hana itu perempuan yang kuat. Berhentilah mengkhawatirkan hal yang aneh-aneh. Tsk, apakah semua perempuan memang seperti itu?” Junhong membenarkan letak topinya sambil menghela nafas (sok) heran.

“Bisakah kalian berdua tidak bertengkar untuk saat ini saja?”

Hyelim yang tadinya ingin memukul kepala Junhong, kini menundukkan kepalanya. Ia mengabaikan ekspresi wajah senang di wajah laki-laki jangkung yang ada di sebelahnya.

“Sudahlah. Pikirkan itu lain kali saja. Lebih baik sekarang kalian pulang.” Minhyuk lalu kembali mengambil langkah keluar dari perpustakaan kampusnya itu, namun tiba-tiba ia menoleh lagi membuat Junhong dan Hyelim menatapnya bingung.

Laki-laki berambut hitam legam itu tersenyum lebar sebelum berkata, “Sebaiknya kalian pacaran saja.”

Sore yang indah di universitas Inha itu pun berakhir dengan sebuah teriakan kesal dari seorang Kim Hyelim dan Choi Junhong. Kapan ya dua bocah itu bisa akur? Haha

-A-

Asap mengepul dari secangkir kopi hitam yang berada di atas meja kerja seorang pria berkacamata bergaya casual. Pria berusia 23 tahun itu tampak sedang fokus menatap seorang perempuan yang sedang mengerjakan sesuatu di hadapannya. Ia memandang lekat si gadis tak berdosa itu sampai-sampai rasanya matanya tidak berkedip sama sekali karena terlalu bersemangat. Oke, lupakan saja pekerjaannya sebagai dosen. Terlalu aneh jika seorang dosen berprilaku seperti itu. Well, bukankah sekarang dia sudah sangat aneh?

Hana—si gadis yang ditatapi seolah-olah dia adalah pelaku pembunuhan—terlihat menyumpahi pria aneh di hadapannya itu dalam hati. Sungguh ia tidak akan mau pergi ke ruangan dosennya itu jika tahu akan begini jadinya. Dia hanya sedang mengerjakkan ujian susulan, tapi mengapa dosen itu memperhatikkannya dengan tatapan mengintrogasi? Ia kesal bukan main, pasalnya ini sudah menit ke-30nya yang masih berjalan dengan diiringi tatapan maut sang dosen. Apakah Hana pernah melakukan kejahatan? Tidak masuk akal sekali.

Hana akhirnya mendongakkan kepalanya, benar-benar sudah tidak tahan lagi ditatapi oleh dosennya itu.

“Apa ada sesuatu yang aneh, sajangnim?”

Dosen itu—Mark—terperanjat sedikit kaget, ia lalu menggaruk asal tengkuknya yang tidak gatal, “Eoh? Tidak. Hmm, hanya saja aku bingung. Apa memang kau memerlukan waktu selama 30 menit untuk membaca 1 soal?”

Hana melirik kertas soal ujiannya sebentar, sejurus kemudian ia pun tersenyum miris. Kertas lembar jawabannya masih kosong melompong, soal ujiannya juga masih rapi tanpa goresan sedikitpun. Hana mulai merutuki dirinya sendiri yang dengan bodohnya memikirkan alasan mengapa mahluk di hadapannya menatapnya seperti itu, padahal itu adalah ujian akhir semester 3 nya. Kini Hana berpikir, dosennya itu benar-benar membuatnya tidak akan bisa cepat lulus jika dia berprilaku seperti itu.

“Oh ya, ini sudah satu bulan, berarti hukumanmu selesai. Kau tidak usah memanggilku sajangnim lagi sekarang.”

Gadis berambut panjang almond itu terdiam, masa bodoh dengan perkataan laki-laki berpredikat ‘Dosen cerdas, muda dan berbakat’ di universitas Inha tersebut. Matanya kembali fokus membaca soal ujian di hadapannya tanpa merespon ucapan dosennya.

Merasa diabaikan, Mark pun berpikir sebentar. Seakan mendapatkan ide dari surga, pria yang menganggap dirinya pujaan semua wanita itu tampak menyeringai tipis. Sementara Hana kembali mengerjakkan soalnya, Mark melepaskan kacamatanya lalu membuka beberapa kancing kemejanya dengan gaya yang sensual.

“Sepertinya musim panas akan segera datang.” Ucap Mark seraya mengibaskan tangan kanannya—bergerak seperti mengipasinya. “Kau tidak merasakannya, Hana-ssi?”

“Tidak.” Hana menjawab namun masih dengan kepala yang menunduk serta tangan yang sibuk menggoreskan pena hitamnya pada secarik kertas.

Mark memandang datar muridnya. Seolah tak kehabisan akal, pria itu lalu mengacak rambutnya membuat penampilannya kini menjadi sangat-sangat menggoda iman. Well, Byuntae Mark mode on.

“Menurutmu, apa akan terlihat bagus kalau musim panas ini aku mencukur rambutku?”

“Tidak.”

“Bagaimana kalau mengganti kemejaku dengan kaus oblong?”

“Tidak.”

“Atau mungkin mengganti celanaku dengan boxer?”

“Tidak.”

“Apakah aku tampan?”

“Tidak.”

Kesal, dengan secepat kilat Mark pun menahan tangan kanan Hana yang tadinya terus saja menggoreskan tinta penanya pada lembar jawabannya. Kontan Hana mendongakkan kepalanya, dan yang terjadi selanjutnya adalah seorang Oh Hana membelalakkan matanya seakan-akan ia sedang melihat hantu.

Mark sedang murka. Itu terlihat jelas dari kerutan wajahnya yang berlipat ganda, dan juga jangan lupakan wajah tanpa ekspresinya. Oh Tuhan, Hana bahkan tidak sempat melihat bagaimana penampilan dosen paling berpengaruh di kampusnya itu. Sungguh lamban.

“A-a-apa yang—”

Perkataan Hana terpotong ketika Mark secara tiba-tiba menarik tangannya, menyebabkan wajahnya mendekat dengan wajah Mark. Shock, gadis itu hanya terdiam dengan ekspresi tekejutnya. Hana membiarkan manik mata yang sedari dulu ia kagumi itu menatapnya dalam. Warna coklat karamel yang selalu berhasil menghipnotisnya untuk diam tanpa suara maupun gerakan.

“Jangan pernah mengabaikanku.” Suara berat itu mengudara, sukses mencekat nafas Hana yang tadinya memburu saking cepatnya jantungnya berdetak.

Setelahnya, mereka hanya saling bertatap-tatapan tanpa ada yang mau membuka suara ataupun bergerak. Perlahan, Mark mendekatkan wajahnya hingga keningnya dan kening gadis manis di depannya bersentuhan. Hana diam tanpa perlawanan, ia seolah menikmati perlakuan Mark walaupun jantungnya terus berdebar lebih cepat. Lagipula, dia sudah lama tidak diperlakukan seperti itu oleh orang lain. Dia rindu kehangatan dan kasih sayang dari seseorang yang sangat ia sayangi. Apakah ia salah jika bersikap seperti itu?

‘drrt drrt’

Getaran dari ponsel yang ada di tasnya, berhasil membuat Hana kembali pada dunia nyata. Dengan terpaksa, Mark melepaskan genggaman tangannya pada lengan Hana, lalu menjauhkan wajahnya. Ia menghela nafas sedikit gusar saat melihat Hana berdiri dan berjalan menjauh untuk menerima telepon dari seseorang. Beberapa menit kemudian, Hana pun kembali dengan kepala yang sengaja ditundukkan. Mark mengangkat salah satu alisnya, bingung.

“A-aku harus pergi.. dan itu u-ujianku sudah selesai, sa-saenim.” Ucap Hana gugup. Wajahnya sudah semerah tomat sekarang.

Mendengar tak ada respon dari dosennya, Hana ragu-ragu mengambil tasnya. Baru saja badannya berbalik—ia berniat untuk berlari ke pintu masuk ruangan dosennya itu—tiba-tiba sebuah suara berat mengudara lagi.

“Berhati-hatilah di jalan.”

Tubuh mungilnya membeku ketika suara berat Mark mengucapkan sesuatu. Otaknya tidak bisa lagi mencerna apa yang tadi diucapkan oleh pria berkacamata tersebut. Bibirnya dia gigit sekuat tenaga agar bisa menyadarkannya kembali. Sejurus kemudian, Hana pun berlari keluar secepat kilat, meninggalkan Mark yang kini malah menatap kosong kertas lembar jawaban milik muridnya.

Haruskah aku memberikannya nilai c lagi?

 

TO BE CONTINUED

-A-

Akhirnya selesai juga! LOL ini part percobaan (lagi) karena setelah saya liat, disini banyak silent readersnya T_T apa mesti nanti part ncnya saya isi password? /ga. Btw, saya kaget banget nget nget waktu ngeliat judul lagu barunya GOT7!! Yup! Judulnya ‘A’! HAHAHA ga nyangka banget sumpah. Apakah ini yang namanya jodoh? /ga.  Oke-oke tanpa banyak bacut lagi, saya cuma mau bilang kalau ff ini bakalan update seminggu sekali/2 minggu sekali. Well, bulan ini saya lagi sibuk buat nyari sma. Jadi, jangan ada yang protes kalau ff ini bisa lamaaa banget dilanjutinnya. Mungkin saya bakal cepet update kalau yang jadi silent readers berkurang /ga. Lol haha segitu aja deh curhat-curhat saya. Oh ya, bagi yang mau nitip ff, bisa langsung hubungin saya di twitter!

Last, RCL Please?

185 responses to “A!—Part 1. Siapa dan Apa?

  1. Setelah sekian lama gabuka ffindo nemu ff ini
    Kerennnn bangeeettttt
    Marknya byuntaee haha 😂😂😂
    Suka banget sama ffnyaaa dan kita seumuraaannn 😘😘😍😍

    • waah xD yaampun makasiih lol
      seriusan? wow nama kita pun sama btw :’D
      makasih ya udah mau baca+comment!

    • lol iya aku jarang update ff sih T_T
      HAHA CREEP wkwk gak creep kok… tapi okelah kalo dianggep gitu xD
      makasih ya udah mau baca+comment!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s