[Chapter 2] DESIRABLE

 

DESIRABLE

Author: Ifaloyshee | Characters:  Kim Jongin, Jo Sebyul (OC) | Genre: Angst, dark, Marriage life | DISC: The idea is mine, included the plot and  a whole of this story. The Characters are belong to their parents. Don’t reblog or copy without my permission! |Rating: Mature

/////

 

 vvvvvvvvvvvvvv

 

 

 

chapter 1

 

Ada sebuah perpustakaan yang cukup lebar didekat café tempatku bekerja, Lire et à Vivre, karena sang pemilik seorang translator bahasa Prancis mungkin aku bisa mengerti kenapa judul perpustakaan tersebut seperti demikian. Lagipula, aku juga suka namanya. Dan bekerja disana tidak buruk juga, aku bisa membaca buku apapun secara gratis dan rasanya seperti buku yang berada dibalik bilik kayu yang menjulang tinggi itu milikku semua. Ya, pekerjaanku ketika siang hari adalah penjaga perpustakaan Lire et a Vivre.

Namun disini cukup membosankan, tidak ada yang cukup menarik untuk dikerjakan. Aku hanya membaca buku, mengawasi, atau sekedar mendengarkan musik. Tak apa, yang penting aku digaji. Aku mendapatkan uang. Apapun akan aku lakukan.

Aku sedang membereskan tumpukan buku di atas meja tempatku biasa meletakkan notebook untuk mendata peminjaman buku ketika selembar kertas terbang bebas dari balik celah – celah buku dan hinggap tepat diatas telapak tanganku. Aku mengerutkan alis, sepertinya cukup menarik.

Hanya selembar brosur biasa dengan warna biru membentuk persegi simetris di sisi kertas, dan sebuah tulisan dengan bold juga ukuran yang besar terpampang disana.

‘New Programme of Seoul Art University ! Graffiti Design’

Sejak sekolah menengah atas, aku selalu menyukai Desain Grafiti. Aku bahkan mengagumi Street Art yang mengotori dinding – dinding jalan di pinggiran Seoul. Menurutku, hal itu kreatif. Disamping desainnya yang mengagumkan, apa yang tertulis disana juga mengandung arti yang agaknya cukup sarkastik, namun disitulah sisi jeniusnya.

Katakan saja aku impulsif. Aku memang begitu. Setelah melihat brosur tadi di perpustakaan, aku memutuskan untuk naik subway menuju Seongbuk-gu dan memimpikan hal – hal indah selama berada didalam subway. Lalu ketika aku sampai didepan gerbang Universitas…barulah aku menyadari. Apa yang sedang aku lakukan?

Terkadang tingkat ke-impulsif-an ku yang tinggi cukup mengganggu dan membuatku resah pada diriku sendiri. Kenapa? Bagaimana bisa aku memutuskan suatu hal tanpa berpikir panjang, sedangkan dibelakang nanti aku akan menyesal. Seperti keputusan untuk menuju ke Seoul Art University ini memang ide yang bodoh? Kalaupun aku tertarik pada Graffiti Design, memang aku mampu bersekolah disini? Menjadi mahasiswi yang berangkat ke kampus, pulang dan makan, membuat tugas, lalu berangkat ke kampus lagi… rutinitas yang normal. Memangnya aku bisa menjalani rutinitas harian yang normal?

Seharusnya aku sadar sejak awal kalau biaya saja aku tidak punya. Bahkan waktu.

Aku tertawa. Menertawai diriku sendiri yang kelewat bodoh. Untuk apa membuang tenaga, waktu dan UANG untuk naik subway? Sementara yang bisa aku lakukan disini hanya menatap gedung Universitas dihadapanku dengan angan – angan kosong. Aku hanya bisa mengangkat tanganku, mencoba menggapai, namun tidak bisa aku dapatkan.

Aku rasa aku harus kembali, dan bekerja.

“noona, kau sudah pulang.”

Aku melepas heels-ku dan mantel bulu, menutup pintu apartemen lalu meletakkan mantel bulu-ku diatas meja. Aku ingat kalau mantel ini sudah cukup kotor karena kupakai seharian dan mungkin akan aku bawa ke laundry seusai mengajar di Sekolah Rakyat besok. Aku mendesah lega lalu menyandar ke sisi sofa, sambil memandang kearah Junhoong yang sedang mencuci gelas diatas wastafel, tersenyum kearahku.

Junhoong. Jo Junhoong. Dongsaeng laki-lakiku satu – satunya. Juga satu – satunya keluargaku yang tersisa.

“Aku membelikanmu Bulgogi.” Aku meletakkan dua bungkusan Bulgogi diatas meja. Junhoong memandang kearah Bulgogi tersebut dengan menekuk sebelah alisnya, ia pasti heran kenapa aku membeli daging padahal jelas makanan itu mahal. “Noona.. kau tidak perlu membeli daging terus – terusan.” Ucapnya prihatin. Satu minggu belakangan ini aku selalu membeli daging—Bulgogi atau ayam—dan beberapa Kimchi.

junk food bukan makanan yang sehat, walaupun lebih murah tapi aku juga mengkhawatirkan nutrisimu.”

“tetapi tidak apa noona, aku—“

“Makan saja. Simpan satu bungkus yang lain untuk besok.” Aku bangkit dan meletakkan bungkusan Bulgogi tersebut diatas konter. Junhoong mengintip kedalam kantong pelastik lalu ia menoleh kearahku. “Noona ini hanya dua bungkus. Kalau semua untukku bagaimana denganmu?”

“gwenchana. AKu bisa memasak ramyun instan. Atau makan diluar.”

Junhoong mengangguk. Setelah yakin kalau dia tidak berkomplen apapun lagi, aku membalikkan tubuh utnuk melangkah menuju kamar namun Junhoong memanggilku lagi. Kali ini nadanya agak ragu.

“Noona.. Tadi pagi aku dipanggil oleh staff administrasi sekolah lagi.”

Ah, bukan hal yang mengejutkan. Namun sepertinya cukup kuat untuk membuatku terjaga sepanjang malam. Tentu saja biaya sekolah Junhoong. Siapa lagi yang mau menanggungnya selain aku?

“Sampai kapan batas waktunya?”

“satu minggu ini. Atau aku.. aku.. akan diberhentikan selama satu bulan dari kegiatan sekolah.”

Yang ini cukup mengejutkan. Selama ini peringatan yang diberikan sekolah pada Junhoong hanya berupa peringatan saja, namun sepertinya sekolah tidak bisa kompromi lagi jadi mereka membuat ancaman seperti ini pada Junhoong. Aku tidak bisa mengatakan kalau mereka jahat—atau sekolah tersebut tidak mau mengerti—tapi memang konsekuensi menyekolahkan Junhoong di salah satu sekolah ternama di Seoul memang seperti ini.

“Aku mengerti. Sekarang, pergilah tidur. Jangan pikirkan hal itu, aku yang akan mengatasinya.”

Arasseo. Selamat malam noona.” Junhoong menghampiriku lalu memelukku cukup lama—ini sudah menjadi rutinitas kami setiap akan pergi tidur—rasanya ingin sekali memeluk Junhoong selamanya. Bahwa  kami, akan selalu bersama dan saling mengulurkan tangan, menyayangi satu sama lain, karena hanya tinggal aku dan dirinya yang tersisa. Kami hidup tanpa bimbingan orang tua.

be a good boy. Okay?”

“Yes ma’am.” Aku mengecup keningnya lalu mengacak – acak rambut Junhoong. Ia hanya membalasnya dengan senyuman lalu melangkah menuju kamarnya.

Sampai memastikan Junhoong menutup pintu kamar, barulah aku beranjak untuk menuju kamarku sendiri. Merebahkan tubuh diatas ranjang lalu memejamkan mata. Sejurus kemudian aku tertidur pulas.

I must be very tired.

Ternyata keinginan untuk mendaftarkan diri sebagai salah satu mahasiswi Grafitti Design masih menghantuiku juga, aku kira ketika aku terbawa oleh mimpi dimalam hari, impianku akan aku terlarut didalam tidurku dan aku tidak akan mengingatnya lagi. Namun ketika aku bangun pagi tadi, satu hal pertama kali melintas dipikiranku adalah menjadi mahasiswi Grafitti Design.  Siang tadi ketika aku bekerja di perpustakaan, dan sampai malam ini ketika aku duduk di kursi bar café dengan secangkir Americano didepanku..bahkan masih terngiang – ngiang.

Aku benci perasaan ini. Aku benci perasaanku ketika aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan.

Mencoba mengalihkan perhatian, aku mengedarkan pandangan ke segala penjuru café dan hanya menemukan segelintir orang disana. Karena jam sudah cukup larut malam, hanya ada beberapa pria berumur tiga puluh-an yang duduk dipojok ruangan sambil berdiskusi tentang sesuatu. Mereka masih mengenakan kemeja kantornya. Dan sepasang pria dan wanita yang duduk berhadap – hadapan sambil berbincang seru. Sisanya kosong.

Lalu pandanganku tertumbuk pada seorang gadis barista yang sedang berdiri didekat pintu depan café, dengan seorang pria berambut hitam cepak dihadapannya. Gadis barista itu tentu saja Josey Hwang, rekanku. Dan pria didepannya, sudah jelas, kekasihnya.

Si pria itu tiba – tiba mengeluarkan sebuah kalung berwarna perak mengkilap dari balik punggungnya, lalu menunjukkannya tepat didepan wajah Josey—gadis itu girang sekali, tentu saja—dan memakaikan kalung itu melingkari leher Josey. Josey memandang takjub kekasihnya lalu mereka berpelukan.

Dan aku hanay tersenyum. Aku…tidak tau senyum apa yang aku tunjukkan, entah bahagia melihat Josey atau.. senyum miris karena aku ingin mendapat perlakuan yang sama dari seorang pria?

Tidak. I never been believed In love. Bagiku, cinta itu hanya bentuk lebih halus dari memanfaatkan. Aku bukanlah tipikal gadis yang suka drama roman tentang percintaan anak kuliahan di televisi. Aku tidak suka romantisme. Apapun itu. Aku tidak suka cinta.

Yang membuatku cemburu pada pemandangan Josey dan kekasihnya itu hanyalah satu…

Sebuah kalung. Josey mendapatkannya dengan gratis sementara aku harus bekerja sampai lelah demi membeli sebuah kalung.

Aku buru – buru mengalihkan perhatianku ketika Josey membalikkan tubuhnya lalu berjalan kembali kearah Espresso Bar, ia menyapaku dan hanya kubalas dengan senyuman. Aku merapatkan jaket kulitku yang tidak begitu hangat untuk cuaca dingin malam ini, dan sebuah tanktop putih serta celana jeans pendek mungkin pilihan yang salah untuk bekerja dimalam hari. Sungguh dingin sekali.

***

Setelah berbulan – bulan aku tidak mendapatkan jatah pulang lebih awal, akhirnya malam ini café tempatku bekerja memperbolehkanku pulang dibawah pukul sebelas malam dengan alasan aku butuh istirahat karena aku terlihat kurang sehat, walaupun aku tidak mengeluh apapun.

Aku duduk sendiri di halte bus, tidak jauh dari café dengan dingin yang masih menusuk sampai ke tulang. Dan aku sekali lagi, hanya bisa mengandalkan jaket kulitku namun kaki ku rasanya seperti mau beku, aku bersumpah ketika aku sampai apartemen nanti aku akan berendam di air hangat berjam- jam.

Sebuah mobil Ford berwarna merah mengkilap tiba – tiba saja berhenti didepan halte, mengerem mendadak—atau memang pengemudi-nya sengaja begitu?—dan terdiam selama beberapa detik dihadapanku. Aku menoleh ke sebelah kanan dan kiri, memastikan apakah ada seseorang lain disini yang mungkin akan dijemput oleh si pemilik Ford itu tapi hasilnya nihil. Hanya aku yang duduk disini, mengantisipasi sang pengemudi yang sudah pasti tidak mengenalku.

Dan perasaanku tidak enak.

Sang pengemudi turun. Sialan!

Kim Jongin muncul lagi dihadapanku, mengenakan kaus biru dengan cardigan hitam serta celana jeans. Ia tampak memukau. Dia berjalan menghampriku yang masih terududuk di bangku panjang halte sambil memandang kearahnya. Dia tidak melepaskan pandangannya sedetik pun dari wajahku sampai akhirnya ia berdiri dijarak yang sangat dekat dihadapnku, pandangannya turun dari wajahku ke seluruh tubuhku.

Jongin mengulurkan tangannya untuk menyelipkan rambutku kebelakang telinga. “Let’s go home with me.”

Aku menepis tangannya.

“Kalau kau sedang mencari teman kencan, mungkin kau salah memilih wanita.”

Jongin tertawa, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi. Ia menarik lagi tangannya kemudian melipatnya didepan dada, memiringkan kepalanya untuk memandangku lagi. “Jadi kau tau kalau aku berniat mengencanimu?”

Aku hanya mengangkat bahu tidak peduli.

Jongin duduk disebelahku. Dari jarak yang begitu dekat aku bisa merasakan aroma tubuhnya yang menyegarkan. Peppermint. Tipikal parfum pria sekali. Dan aku sesungguhnya… tidak pernah tertarik pada pria – pria macam seperti Kim Jongin ini, tapi.. dia memikat. Dari bentuk luarnya saja memikat, aku hanya ingin mengakui kalau dia sangat tampan. Sudah, sebatas itu saja.

“Lihat aku.”

Entah kenapa aku menuruti ucapannya, menoleh kearah Jongin dan kedua mata kami bertemu.

“I like you.”

Aku hanya menaikkan sebelah alisku diringi dengan tawa meremehkan terhadapnya. Terlalu sering aku mendengarkan kalimat seperti ini—dalam drama televisi. Dan aku, sama sekali tidak merasa terharu atau apa. “Karena?”

Sesaat Jongin terdiam, ia menurunkan lagi pandangannya, kearah short jeans yang aku kenakan. “…Kaki jenjangmu…” ia menaikkan pandangannya kearah tanktop putihku yang sebagian tertutup oleh jaket kulit. “Perutmu yang datar…” kemudian kearah lenganku yang sedang menumpu di bangku halte. “kulitmu yang terlihat..halus?” lalu akhirnya ia menghentikan pandangannya di wajahku. “Wajahmu yang manis, dan matamu.”

“Kau tidak menyukaiku. Kau menyukai tubuhku.”

Jongin hanya menyeringai, menyatakan secara tersirat kalau kesimpulanku itu benar adanya.

“Dan apakah kau masih mau menerimaku?”

“Tentu saja tidak.”

“walaupun aku tampan, tinggi, dan mempesona?”

“Tetap tidak, terimakasih.”

Jongin mengerang sambil menggelengkan kepalanya, aku masih menatap datar kearahnya.

“Oke… sebenarnya, aku mencintaimu.”

Dan aku lagi – lagi tertawa remeh merespon ucapannya. Jongin menatapku dengan pandangan setengah tidak percaya. “Kau tidak percaya itu?” tanyanya.

Aku hanya menggelengkan kepalaku.

“Kau tau kalau aku berbohong.”

Sudah kuduga.

“Aku sudah berpikir sejak awal kalau kau pasti sedikit sulit..” keluhnya. Sebenarnya kalaupun Jongin mengatakan secara tulus kalau ia mencintaiku, aku juga tidak akan percaya. Aku tidak mudah termakan oleh kalimat manis sepert itu. Sepertinya aku trauma dengan kejadian di masa lalu.

“Tapi kau menginginkan seorang pria bukan?”

Aku tampak berpikir sejenak.

right. Aku melihatmu terus memandang kearah Josey si barista berambut blonde itu bersama pacarnya. Aku tau kalau kau terus memandang kearah mereka. Tidak salah lagi, kau sedang menginginkan seorang pria bukan? Kau pasti iri dengannya.” Kali ini wajah Jongin tampak berseri – seri, seolah dia baru saja menangkapku basah dan ia terlihat optimis sekali dengan kalimatnya. Seolah – olah benar saja. Dasar sok tau.

“Kalau kau ingin tau, aku tidak memandang kearah mereka melainkan…”

“Melainkan?”

“Kalung itu. Yang kekasih Josey berikan pada Josey. “

“Kau menginginkannya?”

“bohong kalau aku mengatakan tidak. Tapi.. aku lebih iri pada bagian kalau Josey bisa mendapatkan benda mahal itu secara gratis sedangkan aku harus bekerja pagi siang dan malam.” Aku mengalihkan pandanganku, menatap ford merah milik Jongin sambil berpikir berapa banyak won yang pria ini keluarkan untuk mobil semewah ini, mungkin harganya bisa untuk membayar lunas sekolah Junhoong dan membiayaiku kuliah si Seoul Art University. Kalau saja benda metal merah itu milikku.

I got the point now. Kau sedang membutuhkan uang? Seberapa banyak?”

Well, kalau kau bermaksud untuk menyewaku dengan memberikan sejumlah uang padaku.. jawabanku masih sama, tidak.”

“Kau yakin?”

“Aku sangat kaya. Ayahku adalah pewaris LG Corporation dan kau bisa melihat kakekku berada di daftar 50 orang terkaya di Korea Selatan. Ford merah itu adalah hadiah ulang tahun kakak perempuanku, namun ia tidak menyukai warnanya dan segampang itu ia membuang mobil itu padaku. Dia hanya cukup meminta yang lain, esoknya sebuah Mercedez silver sudah terparkir didepan rumah kami.”

Aku terkesiap. Kalau yang seperti ini sanggup membuatku terkejut setengah mati. Aku… hanya tidak menyangka saja kalau pria sekaya Kim Jongin ini mau meminum kopi di café kecil tempatk bekerja, dan mengajak gadis sepertiku berkencan dengannya. Aku tidak tau apa intensinya… ia hanya mengatakan, kalau ia menyukai tubuhku. Padahal diluar sana banyak berates – ratus wanita yang lebih seksi dariku dan mau bertekuk lutut padanya.

“Kau pasti sedang mempertimbangkan, kan?”

Dan ia peka sekali terhadap pemikiranku.

“Apa yang sedang kau inginkan saat ini?”

“Biaya sekolah untuk adikku… dan kuliah. Aku sadar sepenuhnya kalau aku sama sekali tidak memiliki uang untuk membiayai kuliah tapi…. Dua hari yang lalu aku mendapatkan brosur dari Seoul Art University dan Desain graffiti benar – benar menarik perhatianku. Aku terus memikirkan hal itu tapi juga berusaha untuk sadar dengan kenyataan. Well, ini cukup menyulitkan.” Aku tidak tau kenapa aku menceritakan ini padanya, padahal Junhoong pun tidak kuberitahu. Aku mungkin butuh teman untuk mendengarkan keluh kesahku, dan aku rasa, aku sedikit sinting kalau menganggap pria yang menginginkan tubuhku ini menjadi temanku.

“Apakah kau tau kalau pengantar Desain graffiti menggukanan bahasa inggris?”

“Well… tidak, lalu kenapa?”

“Kau menguasai bahasa inggris?”

“Well, ya. Inggris dan Jepang. Saat Sekolah Menengah Atas dulu, aku pernah diikut sertakan pertukaran pelajar ke Osaka selama satu semester.”

“Kau pasti pintar.”

“Tidak juga.”

“Sepertinya aku sedang butuh translator bahasa jepang.”

“Ya kau bisa mencarinya di Seoul… banyak orang jepang menganggur.”

“Bagaimana denganmu?”

Well… aku…”

“It’s okay. Kalau kau tidak mau, juga tidak masalah bagiku.” Dengan itu Jongin berdiri, memandangku sebentar lalu melangkahkan kakinya menuju ford merah miliknya.

Aku masih terdiam. Berpikir. Sejak SMA, aku tidak pernah menyukai siapapun karena memang aku trauma akan suatu hal dan aku terlalu sibuk menghidupi diriku sendiri. Aku tidak pernah berkencan dengan pria, atau tidur dengan mereka—seperti yang teman – temanku lakukan semasa SMA—dan memanfaatkan pria hanya demi kesenangan semata. Namun kemudian aku memutuskan untuk keluar dari panti asuhan bersama dengan Junhoong, dan hidup sendiri. Mulai saat itu aku mencari kerja untuk menghidupi ‘keluarga kecil’ ku. Mungkin setelah bertahun – tahun lamanya, aku sedikiit lelah? Aku ingin ada seseorang yang menyediakan suatu hal untukku? Aku tidak tau. Aku 22 tahun dan sendiri, lelah, butuh seseorang. Tapi aku tidak percaya cinta.

Kim Jongin menyiratkan secara jelas kalau mengencaninya hanya demi uang itu tidak apa – apa. Dan secara tersirat juga, ia menjelaskan kalau kami berdua sama – sama menguntungkan satu sama lain. Junhoong mungkin butuh gadget karena semua teman – temannya memiliki gadget dan Jongin mungkin bisa memberiku segala macam produk LG secara Cuma – cuma. Dan… mungkin, dengannya aku bisa masuk ke Desiain graffiti?

Aku tidak tau kenapa aku meneguk ludahku ketika Jongin membuka pintu ford merahnya dengan mulut bersiul. Dan.. aku tidak tau kenapa aku bangkit berdiri lalu berjalan menghampirinya. Jongin menoleh kearahku, menyeringai sambil menaikkan satu alisnya. Sepertinya ia tau maksudku.

“Tidakkah kau lupa satu hal?”

“Apa?”

Aku berjinjit, tanganku menarik kerah kausnya dan…

Aku menciumnya.

 

 

 

 

 

TBC

 

 

halo!! terimakasih ya yang sudah baca chapter 1 nya dan meninggalkan komen disana, belom sempet aku bales karena masih sibuk dengan heavy sbmptn exam and another university exams (God this is freaking tiring) jangan lupa tinggalkan komen juga disini 🙂 makasih makasih!!

 

catch me on; @grangeriokai

97 responses to “[Chapter 2] DESIRABLE

  1. wiiiiw kaya bener si kai..
    sebyul nya disini memang bener” memprihatinkan soal keuangan.. kasian..

    mulai seru ceritanya.. lanjut yaaa..

  2. Pingback: [Chapter 5] DESIRABLE | FFindo·

  3. Widih… makin seru aje ceritanye thor…
    Kayaknya kai suka sama sebyul ya? ._. Hahaha
    Lanjut terus thor!

  4. Aduh jongin >_< stop make me crazy baby wkkw jonginn gw cinta luu okesipp lanjut ke chaptered berikutnya hahaha koment ane ga penting bgd sumpah hahaha chapt ini keren…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s