THE SECOND LIFE [PART 16] END

Image

Author : Keyholic (@keyholic9193)

Main Cast : Byun Baekhyun,Shin Hyunchan

Minor Cast :

Park Chanyeol

Do Kyungsoo

Suho

Yoon Jisun

Lee JinKi as Baekhyun’s Father

Genre : Romance/fantasy

Rating:  PG 16

Poster by : Cute Pixie

Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 |Part 7Part 8 | Part 9 | Part 10 | Part 11Part 12 | Part 13 | Part 14 | Part 15 |

***

Malam kian pekat namun mata Hyunchan tak kunjung menampakkan niat untuk menutup. Pikirannya berkecamuk, membuat tidur malamnya terusik. Esok, genaplah harinya di angka 49. Akhirnya hari itu akan segera tiba dan itulah yang mengusiknya sedari tadi. Ia takut. Seolah dewa kematian telah siap menghunuskan pedangnya.

Angin semakin dingin menusuk tulangnya, menimbulkan kengiluan. Tapi tubuhnya masih enggan  beranjak dari balkon apartemen. Suara lalu lalang kendaraan kian tertutupi oleh lolongan anjing. Jalan mulai menyepi. Membiarkan kesunyian menemani kegundahan yang kian menyesakkan.

Ia belum siap dan mungkin tak akan pernah siap meninggalkan kehidupannya, kehidupan 49 harinya. Melepaskan cinta yang baru saja bersemi. Rasanya begitu kejam jika perasaan yang sedang bermekaran itu harus dicabut paksa beserta akarnya.

Ponselnya berdering, memaksa kakinya meninggalkan balkon mencari benda mini itu. Pada layar tertera id si pemanggil. Orang yang  sedetik lalu mengisi kepalanya.

“Halo..” Ucapnya sembari melangkah keluar menuju balkon.

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…

seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu…

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…

Seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada…”

Ia tersentuh. Menghilangkan gundah yang sedari tadi menghantuinya. Bak udara segar yang menyegarkan jiwa. Melambungkannya ke lapisan tertinggi langit.

 

“Kemarin aku sendirian di dunia ini, kekasih; dan kesendirianku…

sebengis kematian…

Kemarin diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara…

di dalam pikiran malam. Hari ini…

aku menjelma menjadi sebuah nyanyian menyenangkan di atas lidah hari. Dan, ini berlangsung

dalam semenit dari sang waktu yang melahirkan sekilasan pandang, sepatah kata,sebuah

desakan dan…

sekecup ciuman” (Kahlil Gibran)

Untuk sepersekian detik saluran telepon itu menjadi sunyi senyap. Hyunchan terlalu terhipnotis oleh romantisme yang barusaja disuguhkan Baekhyun.

“Aku merindukanmu Shin Hyunchan.”

“Bagaiman puisi ku?”

“Kahlil Gibran.”  Tebak Hyunchan begitu kesadarannya kembali.

Baekhyun hanya terkekeh mendengar tebakan Hyunchan yang tepat.”Untuk malam ini aku meminjam puisinya, sampai aku bisa membuat puisiku sendiri.”

“Baek…” Hyunchan tak tahu harus berkata apa. Otaknya memilih untuk bungkam.Seolah kosa kata yang diketahuinya sedari kecil hilang semua.

“Apa sekarang kau merasa ingin berlari dan segera memeluk ku? Tangan ku sudah terbuka lebar disini. Atau aku yang kesana,uhmm sekalian menginap mungkin?”

Sudut bibirnya terangkat,melengkung membentuk sebuah senyuman. Percaya atau tidak, tebakan Baekhyun yang baru saja ia lontarkan sungguh sempat melintasi otak Hyunchan. Hyunchan menggeleng-gelengkan kepalanya, menghilangkan fantasi anehnya.

“Itu sangat manis.” Semburat merah seperti gincu Marilyn Monroe pasti menggerogoti wajahnya sedari tadi. Ia bisa merasakan panas di sekitar pipinya. Hanya 3 kosa kata itu yang pada akhirnya ia temukan tersisa di sudut paling dalam otaknya untuk mengutarakan komentarnya atas puisi Baekhyun. Meski itu menghasilkan kombinasi kata yang agak kurang pas dipendengaran.

“Apanya yang manis? Bagian kita berpelukan atau bagian rencana kita nginap bareng?” goda lelaki itu. Keduanya tau, kata ‘nginap bareng’ di otak Baekhyun berbeda makna dengan kata ‘nginap bareng’ pada otak manusia normal lainnya.

“jangan gila!” Ucapnya jutek. Akhirnya ia tersadar.

“Terlambat! Aku sudah gila disini! Kau tahu, kadang aku berpikir mungkin kau mengirimi ku semacam voodoo sehingga aku bisa seperti ini.” Cerocos suara diseberang sana.

Tawa gadis itu spontan menerobos keluar rongganya. Ia tak jadi marah atas pikiran aneh Baekhyun. Dan tanpa ia sadari gunda gulana yang baru saja melandanya terlupakan sejenak. Entah bagian mana yang lucu, namun suara protes Baekhyun seolah menggelitiknya untuk tertawa.

“Apa aku baru saja mendengarmu tertawa? Oh tahan sebentar, aku ingin merekamnya! Akan kujadikan Ringtone ku.”

Tawa Hyunchan semakin keras mendengar suara grasak grusuk dari ponsel Baekhyun. Apakah lelaki itu  merekam tawanya? Konyol. Sungguh. Sepertinya Baekhyun memang sudah gila.

Wanita itu terus tertawa, membuat gaun tidurnya ikut bergerak seiring dengan gerakan badannya yang cekikikan. Tawanya masih memenuhi kamar tidur dengan dominasi warna coklat muda dan sebentar lagi mungkin akan mendapat teguran dari tetangga sebelahnya. Kalau bisa, ia akan meminta rekaman itu pada Baekhyun. Mungkin saja setelah ini ia akan kembali lupa seperti apa tawanya terdengar.

Lalu masalah yang menggelayut dipikirannya beberapa saat lalu kembali datang membuat tawa itu berangsur menjadi kesedihan. Kenapa suasana hatinya jadi labil begini?

Ia masih tertawa. Namun ada pedih yang  bercampur disetiap ritmenya. Ada pahit yang memaksa mendominasi rasa manis. Hyunchan segera menjauhkan ponselnya dari jangkauan pendengaran Baekhyun. Ia mulai sesenggukan. Sial! Ia tak pernah merasa selemah ini. Salah satu telapak tangannya membekap kuat mulutnya, mencegah jeritan hati menyeruak kepermukaan.

Tubuhnya merosot, jatuh ke lantai. Kedua kaki yang kokoh itu tak lagi tegar menopang sang tubuh. Ia meringkuk,membenamkan wajahnya di antara kedua lutut.

“Hey,Shin Hyunchan! ..”

“Halo…?”

“Kau masih disana?”

“Hyunchan-ah?  Kau baik-baik saja? Halo?”

Tidak. Dia tidak baik baik saja. Ingin rasanya Hyunchan melontarkan kata kata itu hingga suaranya hilang. Bagaimana mungkin ia bisa? Kehidupan bahagianya, kehidupan impiannya sebentar lagi akan direnggut paksa.Diakhiri. Terburuknya, ia harus menerimanya dengan dada lapang.Sungguh gila! Ia tidak akan pernah baik baik saja hingga hari esok berakhir. Ia kacau.

Hyunchan meraih ponselnya, menekan tombol untuk mengakhiri sambungan telponnya. Dengan gesit tangannya mengetik sebuah pesan singkat.

“Ada gangguan dengan sinyalnya. Telpon besok saja. “ Send.

Tak cukup semenit, balasan dari Baekhyun pun muncul dilayar smartphonenya.

“Padahal aku ingin menunjukkan permainan piano ku. Yasudah,dengarkan saja hasil rekamannya. Dengarkan sebagai lagu pengantar tidurmu.” Pesan singkat itu diakhiri dengan emot ‘kiss and hug.

Hyunchan tersenyum miris. Ia memencet lampiran nada yang disertakan dengan pesan singkat Baekhyun. Dentingan piano menyambut telinganya. Menggema di ruang tidurnya, menemani kesedihannya.

***

Angin memainkan anak rambut berwarna hitam milik Hyunchan. Terpaannya sesekali mengusap lembut wajahnya. Sore yang sejuk. Dibawah sana siswa-siswi nampak tak sabaran meninggalkan pekarangan sekolah menuju peristirahatan mereka, rumah. Celotehan  mulut-mulut mereka yang masih membahas topic seputar sekolah atau rencana sepulang sekolah terdengar riuh ditelinga. Kepalanya menoleh menatap sosok yang tengah bersandar pada pagar pembatas . Jarak mereka cukup dekat hingga penciuman Hyunchan mampu menyesap aroma wewangian yang dikenakan Kyungsoo.

Dejavu. Ia merasakan hal itu. Adegan yang tengah tergambar sekarang ini seolah pernah terjadi sebelumnya. Tiba tiba saja pendengarannya dipenuhi oleh suara-suara yang tak jelas. Seperti sebuah dialog namun tak punya jeda. Itu adalah suara Kyungsoo, padahal jelas Kyungsoo ada dihadapannya dan mulut lelaki itu sama sekali tak bergerak seperti berujar sesuatu.

“Kau tahu,kau adalah siswi pertama yang naik ke atap.  Kebanyakan yang lain takut karena gosip hantu atap yang beredar di sekolah ini.Padahal pemandangan dari sini tak kalah bagusnya dibanding dari atas Namsan tower.”

“Sebentar lagi matahari akan terbenam.Kau tahu,melihat sunset dari sini ,itu sungguh pemandangan yang sangat indah.Semuanya akan percuma kalau kau naik ke atap sekolah tanpa menyaksikannya.”

“Aku selalu berada di sini setiap sore!! Aku jamin pemandangan Sunset di sini salah satu yang terbaik! Kau tak akan menyesalinya! Jadi,kalau kau punya waktu datanglah!!!”

Hyunchan menatap wajah Kyungsoo yang kini terpejam menikmati sapuan angin sore. Entah apa arti tatapan itu. Bias senja membuat wajahnya sedikit menguning. Membuat wajahnya semakin tampan. Hyunchan ingat kapan kalimat-kalimat Kyungsoo itu terlontar. Ia mengingatnya dengan jelas. Pertemuan pertama mereka. Itulah kejadiannya.

“Kyungsoo-ya.” Rapalnya lembut

Kelopak mata Kyungsoo perlahan terbuka, bak adegan slow motion. Ia mengarahkan wajahnya kepada wanita yang baru saja memanggilnya. Senyumannya terkembang, seperti yang biasa ia lakukan ketika disapa oleh seseorang.

“terima kasih. Terima kasih untuk segalanya.” Hyunchan tersenyum. Senyum tertulus yang pernah ia berikan kepada Kyungsoo. Senyuman untuk kawan baiknya. Senyuman untuk lelaki yang mencintainya.

Tak ada suara dari mulut Kyungsoo. Tatapannya teduh, senyumannya masih mengembang. Untuk beberapa saat mereka hanya saling bertatapan, menyampaikan apa yang tak bisa disampaikan melalui deretan kata. Hingga perlahan tubuh Kyungsoo mengabur dan akhirnya hilang. Meninggalkan Hyunchan sendiri.  Atau lebih tepatnya, mungkin Hyunchanlah yang perlahan menghilang. Kembali dari alam bawah sadarnya.

Angin dingin  menyentuh kulitnya menghantarkannya kepada dunia nyata. Aroma kamarnya seketika menyambut indra penciuman sesaat alat tersebut mulai berfungsi. Matanya bersambut mentari dari balik tirai yang tersibak. Seingatnya semalam ia  menutup tirai itu, siapa yang membukanya?

Ia mengerang pelan tanda kesadarannya sudah hampir mencapai tahap sempurna. Tapi ada yang aneh. Dari balik pandangannya yang masih kabur ia melihat ada sesuatu yang berada disampingnya dan itu bukanlah sebuah guling. Jemarinya mengucek matanya, bermaksud memperjelas apa yang baru saja dilihatnya.

“Morning Princess.”

“Byun Baekhyun!”

Bak melihat arwah gentayangan, badan Hyunchan tak lagi dalam posisi tertidur. Reflex tubuhnya terduduk dan berusaha menjauh dari sumber suara tersebut.  Segera ia memastikan keadaan tubuhnya bahwa ia tidak menjadi korban mesum Baekhyun. Mata Hyunchan awas.Sementara sang tersangka hanya cekikikan melihat reaksi berlebihan Hyunchan.

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Aku merindukan mu.” Gombalnya. Mengulang ucapannya semalam.

“Bagaimana rekaman lagu ku semalam? Apa kau mendengarkannya sampai tertidur?” Jemarinya menggapai ponsel slim berwarna putih yang tak jauh dari posisinya.

Tak ada balasan Hyunchan.  Tubuhnya tetap saja waspada seolah makhluk didepannya kapan saja dapat menerkamnya.

Selimutnya ia rapatkan. Kedua tangannya menggengam erat. Badannya merapat ke sudut ranjang.

“Hey, berhenti menatapku seolah aku adalah tukang cabul. Aku hanya …” Ide usil Baekhyun muncul lagi. perlahan lelaki itu merangkak mendekati posisi Hyunchan yang semakin terpojok. Hyunchan tak bisa bergerak mundur lagi. Tembok telah menubruk punggungnya. Sial.

Ranjang itu mendecit disetiap gerakan Baekhyun yang seperti harimau siap menerjang mangsanya. Hanya dalam hitungan detik dan Hyunchan sudah bisa merasakan hembusan nafas Baekhyun menerpa kulit wajahnya. Sekarang Hyunchan mulai curiga kalau Baekhyun punya kekuatan super dalam bidang kecepatan. Matanya terpejam,tak lagi sanggup menatap. Ia berharap bisa kembali ke dunia mimpinya beberapa saat yang lalu.

CUP

Sesuatu yang kenyal menyentuh dahinya. Ia terkejut, menyebabkan bola mata hitam itu kembali mencuat dari balik kelopaknya.

“Aku merindukanmu.“ Untuk ketiga kalinya Baekhyun merapalkan dua kata itu, namun yang terakhir inilah yang membuatnya merinding. Untuk sepersekian detik mereka bertatapan. Tenggelam disetiap pesonanya. Tuhan! Lelaki itu sungguh merindunya? Ia bisa membaca seberapa besar itu didalam tatapannya.

“Kurang kerjaan!” Didorongnya pelan badan Baekhyun hingga menciptakan jarak yang cukup besar . Kesadarannya telah kembali. Meski di dalam sana jantungnya masih bergemuruh  seperti tapak kaki kuda di sebuah pertandingan. Suara tawa Baekhyun masih mampu didengarnya bahkan ketika ia beranjak menuju kamar mandi untuk membasuh wajah.

“hey, kau belum membalas ucapan ku.” Ia bersandar di kusen pintu kamar mandi.

Hyunchan tak menanggapi, ia masih sibuk dengan deretan gigi yang sedang bermandikan busa pasta gigi.

“Shin Hyunchan~” Rengeknya. Ia langsung mendekati gadis yang sibuk menggosok giginya itu lalu memeluknya dari belakang.

“Uhuk… Uhuk.. Uhuk…” hampir saja ia menelan busa pasta gigi saking terkejutnya. Cermin dihadapan mereka menampilkan bagaimana kedekatan keduanya. Pipi baekhyun menempel di pipi Hyunchan, membuat kelopak matanya terangkat naik. Mulutnya sedikit terbuka membiarkan liurnya yang bercampur pasta gigi mengalir ke bawah. Baekhyun memandangnya dengan pandangan menggoda.

“Uhuk…” sekali lagi busa pasta gigi muncrat keluar menodai cermin yang tak berdosa itu.

Tawa baekhyun langsung menggema, memantul di dinding-dinding kamar mandi. Tingkah Hyunchan sungguh menggelitik perutnya untuk tertawa. Diraihnya lembaran tissue dari box tissue lalu membersihkan sekitaran mulut Hyunchan. Ia sudah puas menggodai perempuan ini. Jika lebih jauh, bisa jadi Hyunchan keracunan pasta gigi.

“Bersihkan gigi mu dengan benar.”

CUP

Ciuman singkat di salah satu pipinya sukses membuat sikat gigi itu lepas dari genggaman tangannya. Ia menatap pantulannya dicerpin, terlihat seperti orang bodoh. Mungkin hari ini Baekhyun sedang kelebihan hormone. Ini saja, sudah dua kali pemuda itu menciumnya. Entah skinship apa lagi setelah ini. Hyunchan harus lebih waspada.

Ia mengeringkan wajahnya sembari menatap keluar balkonnya. Matahari bersinar cukup cerah. Tak seperti beberapa hari yang lalu ketika salju turun dengan ganasnya diiringi oleh angin yang hendak mematahkan ranting-ranting yang kering. Disesapnya udara pagi ini. Udara pagi terakhirnya sebelum semuanya berakhir. Rasa sedih itu  kembali menyeruak. Membuat matanya kembali buram oleh genangan air mata. Ia begitu cengeng akhir-akhir ini.

“waktunya sarapan pagi!” seru Baekhyun muncul dibalik pintu kamarnya dengan nampan berisikan menu breakfast komplit ala hotel bintang 5.

Disekanya air mata itu sesegera mungkin sebelum Baekhyun melihatnya. Baru saja ia hendak berbalik menghampiri Baekhyun, sepasang lengan tengah melingkar manis di perutnya. Sebuah kepala menyembul dari balik pundak kanannya. Baekhyun memeluknya dari belakang. Astaga, lagi? Tapi… Bagaimana bisa secepat ini? Bukankah dia baru saja masuk ke kamar?

“Mungkin aku mengalami gangguan hormone. Entahlah, aku punya perasaan rindu yang kelewatan. Bahkan ketika aku memelukmu seperti ini rasa rindu itu belum hilang juga. Apa kau tau penyakit macam apa itu?”

Tebakannya sedari tadi betul. Baekhyun sendiri yang mengakuinya. Namun meski begitu, Hyunchan masih dibuat tersipu dengan kalimat yang entah masuk kekategori apa. Gombalan atau sejenisnyakah?

“Sepertinya setiap playboy memang punya rayuan gombal yang maha dahsyat.” Cibirnya, meski didalam sana ia melambung.

“Percaya atau tidak, yang tadi itu bukan gombalan. Aku serius. Yah meskipun dengan sedikit hiperbola.” Ia menertawai kalimatnya. Pelukannya semakin ia rapatkan.

Cukup lama mereka terdiam menikmati kehangatan mentari pagi di musim dingin. Menghirup aroma khas angin musim dingin. Membuat mereka menikamti momen kecil ini di hari terakhirnya. Baekhyun bersenandung. Entah lagu apa. Yang Hyunchan tahu, ia larut dalam hipnotisnya. Membuatnya membayangkan ia dan Baekhyun berada di sebuah bukit hijau yang luas. Merebahkan diri beralaskan rumput. Jemari yang saling mengait. Senyuman bahagia. Jika ia boleh bermimpi, ia hanya ingin suasana seperti itu dengan Byun Baekhyun. Tak ada 49 hari, tak ada larangan jatuh cinta, ia hanya ingin bebas. Hanya ingin berdua bersama Baekhyun. Apa itu terdengar menjijikkan? Tapi masa bodoh, ia sedang jatuh cinta dan itu hal yang lumrah melanda orang-orang seperti dirinya.

“Jisun mengirimiku fotomu semalam. Kau cantik. Tapi sayangnya itu untuk Kyungsoo.”

Hyunchan menoleh sejenak. Sudut matanya masih mampu menangkap wajah Baekhyun merengut.

“Apa semalam dia menyatakan perasaannya padamu? Apa kalian jadian?” selidiknya bak detektif.

Ada jeda yang lama sebelum sebuah pernyataan mengejutkan keluar dari mulut seorang Byun Baekhyun.

“Aku cemburu.” Hyunchan bisa merasakan Baekhyun membenamkan wajahnya di pundak kanannya. Pelukannya semakin erat seiring dengan ucapannya. Lengkungan kebahagiaan bibirnya tak lagi mampu ia sembunyikan. Entahlah, deklarasi kecemburuan Baekhyun menurutnya adalah sesuatu yang manis.Semanis kembang gula.

Ia berbalik mengahadap Baekhyun lalu mengangkat wajah lelaki yang tengah menunduk itu. Senyumannya belum juga hilang,. Seolah mengisyaratkan ‘apakah kau serius dengan ucapanmu tadi?’.

“Apa maksud dari pandanganmu? Memangnya aneh jika playboy sepertiku cemburu?” Dibuangnya wajahnya, tak ingin menatap Hyunchan. sial! Apakah ia baru saja merasakan pipinya memanas?Ia bersemu merah! Seorang playboy kelas kakap seperti dirinya dibuat bersemu oleh seorang gadis? What the… !

Alih alih menjawab, Hyunchan malah memeluk lelaki itu erat membuat Baekhyun terkejut. Ia terlanjur senang dan tubuhnya tak bisa ia control lagi untuk tetap berperilaku normal.

“Aku menyukai Kyungsoo. Tampan, baik hati, ramah, selalu berada dijalan yang benar.Coba katakan padaku siapa yang tak terpesona dengan lelaki seperti itu? Tapi sialnya hatiku lebih memilih kepada anak nakal yang entah sudah berapa kali membawa wanita ke kamarnya, persis seperti baju. Tiap kali berganti rupa.”

“Satu-satunya wanita yang pernah memasuki kamarku adalah kau. Aku tak pernah bermain dengan mereka di tempat privasiku.” Potong Baekhyun mengklarifikasi kesimpulan Hyunchan sesegera mungkin.

Hyunchan hanya tertawa mendengar pembelaan Baekhyun. Ia melongarkan pelukannya dan mencari breakfast yang diantarkan Baekhyun sebelumnya.

“Tapi kalian berdua tidak melakukan sesuatu kan?”

“Kenapa aku harus menjawabnya?”

“karena.. karena..” Baekhyun menatap ke atas mencari jawaban dari pertanyaan Hyunchan seolah jawaban itu sungguh di atas sana.”Pokoknya jawab saja!”

“Kenapa? Apa aku pacar mu?”

“Bukankah memang seperti itu?”

“Sejak kapan? Aku tak pernah merasa kau pernah memintaku untuk menjadi pacarmu.” Hyunchan terseyum kemenangan.

“Sejak acara tidur bareng di sofa itu.”

Hyunchan mengernyitkan dahinya. Ia ingin bermain-main dengan anak ini dulu. Memangnya hanya Baekhyun yang bisa usil?

Tak menghiraukan Baekhyun,Hyunchan malah asik mencomot roti bakar buatan Baekhyun. Enak juga ternyata.

“Ayolah,Shin Hyunchan! Haruskah aku mengatakan ‘Shin Hyunchan aku mencintai mu,maukah kau jadi pacarku’? itu sangat kekanak kanakan sekali. Kita bukan anak SMP. Ku kira kau sudah menangkap isyaratku waktu itu?”

Baekhyun terlihat begitu lucu ketika wajahnya berekspresi seperti anak anjing yang tengah merajuk. Ia melipat kedua tangannya lalu membuang wajahnya. Membelakangi Hyunchan. Hyunchan meneguk asal susu putih untuk melancarkan sisa sisa roti melolosi kerongkongannya, sebelum menghampiri lelaki yang sudah memunggunginya di balkon sana. Ia tersenyum tipis melihat tingkah Baekhyun.

“Kau tau…” Tangannya menyusup kebalik pinggang Baekhyun. Pipinya menyentuh punggung lelaki itu.

“Apapun yang terjadi dengan ku dan Kyungsoo malam itu, tak akan pernah merubah apa yang aku rasakan padamu.”

Semilir angin sempat mengisi jeda kalimat Hyunchan. Baekhyun masih bergeming dengan acara marah marahannya. Heran juga kenapa dirinya bisa sok manja begini? Padahal sebelum-sebelumnya ia tak pernah menampakkan sifatnya yang ini.

“ Aku mencintaimu, Baek.” Mulutnya dengan kurang ajar melontarkan kata kata sacral itu. Ia memang ingin menenangkan Baekhyun. Tapi bukan kata kata seperti itu yang diperintahkan oleh otaknya.. Matanya membulat. Otaknya tak sanggup mencegah. Mulutnya ternyata berkhianat. Kenapa bisa seperti ini? Ibarat guntur yang menggelegar tiba-tiba, padahal langit sedang terik-teriknya.

Kedua sudut bibir Baekhyun terangkat detik itu juga. Ia tak menyangka Hyunchan mampu dengan gamblang mengutarakan perasaannya. Jantungnya berdegup kencang hanya dengan mendengar suara Hyunchan mengujarkan dua kata kata maut tersebut. Padahal ia tak tahu sudah berapa kali dirinya mendengar kata kata serupa dari wanita yang mengejarnya hingga membuat telinganya sakit. Namun Hyunchan merapalkannya dengan sensasi yang berbeda. Sensasi yang mampu membuatnya merasakan letupan letupan di atas kepalanya. Membuat dirinya seolah kehilangan gravitasi dan begitu ringan. Ia sungguh jatuh cinta dengan gadis ini.

“Nggg… Maksudnya… itu… Ak—“

“Aku juga mencintaimu, Shin Hyunchan.” Digenggamnya erat  jemari yang tengah melingkar diperutnya. Mengapresiasi keberanian Hyunchan. Seolah berkata, ‘itu hal terhebat yang pernah kau lakukan dan kau tak perlu merasa malu karena aku juga memiliki rasa demikian. ‘

Mereka larut dalam momen kebersamaan ini. Membiarkan perasaan mereka terus memekarkan bunganya. Membuat partikel partikel cinta terus memenuhi rongga dada mereka. Melupakan kekhawatiran akan masa depan hubungan mereka. Hingga deringan ponsel Baekhyun mematahkan momen romantis itu.

“Astaga! aku hampir lupa,Ji. Oke, baiklah.”

“Lain kali jika aku akan menemuimu aku harus mencatat hal yang ingin kusampaikan. Otak ku benar benar tak bisa bekerja dengan baik jika bersamamu.” Omel Baekhyun lebih mengarah untuk dirinya sendiri.

“Memangnya ada apa? Yang tadi itu telpon dari Jisun?” Hyunchan sudah melepaskan pelukannya. Ia menatap keheranan pada Baekhyun.

“Tadinya aku kesini ingin mengabarkan sesuatu.”

“Tuh, kan! kau terlalu banyak bercanda,makanya kurang focus.”

“kau yang membuatku tak bisa focus.”

“Kenapa aku? Salah ku dimana?”

“Aku juga tak tahu! Tanyakan pada rasa aneh yang selalu bergejolak di dalam sini tiap kau berada di dekatku!” Baekhyun berteriak frustasi. Matanya melotot. Nafasnya berderu tak beraturan.

Hyunchan sejenak syok namun detik berikutnya tawanya telah menghiasi balkon apartemennya. Baekhyun sungguh lucu.

“Berhenti tertawa! Kau membuat playboy seperti ku jatuh pamor dan terlihat bodoh!” pagar besi di balkon Hyunchan berdenting pelan ketika Baekhyun mendaratkan telapak tangannya ke benda itu dengan sedikit kasar.

“Aku minta maaf.” Sekuat tenaga Hyunchan berusaha menahan sisa tawanya. Ia tak pernah tertawa seperti ini sebelumnya. Bahkan ketika melihat acara lawak pun tak mampu mengundang gelak tawanya. Baekhyunlah yang bisa membuatnya merasa bukan dirinya yang dulu. Mewarnai hidupnya yang sebelumnya hanya dua warna, hitam dan putih.

“cepat katakan kabar apa yang ingin kau sampaikan?” Ia kembali ke topik awal pembicaraan mereka.

“Ibu  dan Jisun ingin kau ikut dalam acara liburan keluarga di Jeju.”

Hyunchan nampak bingung.

“Kalau bisa sih aku ingin kita sekalian menikah disana,tapi ayah tak akan membiarkan ku sebelum aku bisa memimpin perusahaannya.” Lanjut Baekhyun yang langsung mendapat pukulan ringan di lengannya oleh Hyunchan.

Baekhyun mendesis pura pura kesakitan.

“Aku…”

“Aku tak menerima tolakan! Cepatlah, kita benar benar akan ketinggalan pesawat.”  Pagi yang tadinya hening berubah mencadi rusuh karena kegaduhan Baekhyun dengan suaranya yang melengking sempurna.

Didorongnya pelan tubuh Hyunchan menuju kamar mandi. Hyunchan menatapnya bengong begitu mereka telah tiba di kamar mandi milik Hyunchan.

“Apa lag—“

“Apakah kau akan tetap berdiri disini?”

“Eh?”

“Aku ingin mandi, dan kau tak berniat untuk keluar?” Hyunchan melotot

Awanya Baekhyun tak mengerti, namun akhirnya ia paham apa yang dimaksud hyunchan. Senyuman nakal seketika menghiasi wajahnya.

“Kalau kau tak keberatan, aku bisa tetap disin—“

“Gelas kumur ini bisa memberikan mu cinderamata kalau kau masih tak beranjak juga.” Tangan Hyunchan tengah menganggkat gelas kumurnya seolah hendak melemparya ke wajah Baekhyun.

“Oke okeh. Aku keluar.” Baekhyun mengangkat kedua tangannya tanda menyerah sambil tertawa kecil.

Pintu kamar mandi perlahan tertutup rapat namun sedetik kemudian sebuah kepala muncul dari balik daun pintu.

“Aku ada diluar jika kau membutuhkan sesuatu. Dan Oh! Jangan lupa mengunci pintu kamar mandimu, maksudku,yah kecuali jika kau mau aku—“ sebuah handuk wajah melayang kearah pintu namun sialnya tak sempat mengenai wajah Baekhyun karena lelaki itu lebih dulu menutup daun pintu.

Dari arah luar ia bisa mendengar tawa kemenangan Baekhyun yang semakin beranjak jauh dari area kamarnya.

“Dasar mesum!” hujat Hyunchan.

Baru saja ia ingin memulai ritual mandinya namun ia teringat sesuatu. Ia lupa membawa handuknya. Dengan desisan kekesalan, ia melangkah malas keluar dari kamar mandi dan segera mencari handuknya.

***

Sekumpulan awan itu nampak seperti sebuah busa yang empuk untuk ditiduri. Warna putih pucatnya serta bentuknya yang tak beraturan sedari tadi masih menjadi objek yang menarik mata Hyunchan untuk tetap memandang jendela. Dari arah pandangannya ia bisa melihat sayap pesawat yang memanjang keluar menghantam kabut kabut putih yang menghalangi lajunya. Mendadak pikiran konyol melintas di otaknya. Apakah tempat pertama kali ia bertemu dengan Suho adalah diatas awan sama seperti awan yang dilihatnya sekarang ini? Mungkin jika ia sedikit cerdik, ia akan mencoba rebahan sejenak saat Suho mulai menjelaskan peraturan 49 hari waktu itu yang terdengar membosankan. Ia benar benar penasaran dengan rasanya tidur diatas awan.

Mengahayalkan tentang 49 hari membuatnya kembali gunda. Flashback kedatangan Suho semalam mengusik hayalannya tentang awan.

Flashback

Saat itu ada yang berbeda dengan ekspresi Suho ketika mengunjunginya. Senyuman yang selalu bersinar diwajahnya tak tampak, entah lenyap kemana. Ekspresinya bak mendung yang siap menginfokan datangnya badai.Hyunchan masih tersandar di dinding pojok kamarnya. Untuk yang kesekian kalinya rekaman suara permainan piano Baekhyun mengalun merdu. Mata wanita itu sembab. Tak ada lagi tatapan dingin dari dalam sana. Yang ada hanya perih dan jeritan mengaduh, memohon agar takdir tak terlalu kejam merenggut kebahagiannnya, kisah cinta pertamanya yang  baru memulai bab pertama.

“Itulah mengapa aku melarangmu memiliki perasaan dengan Baekhyun.”

Suho terduduk diranjang Hyunchan. Membiarkan kakinya menjuntai kelantai. Matanya intens menatap kondisi Hyunchan di ujung sana. Kacau. Itulah sebuah kata yang cocok menggambarkan kondisi gadis itu.

“Lagi-lagi kondisinya seperti ini.” Suho mengehelah nafas. Seolah iapun merasa letih terus dihadapkan pada kejadian yang hampir serupa ketika tugasnya mendekati masa akhir.

“Sebenarnya, syarat ‘jangan jatuh hati pada target mu’ tak masuk kedalam daftar syarat resmi 49 hari. Itu hanya buatan ku semata. Aku tak ingin lebih banyak  lagi korban 49 hari yang bernasib sama dengan kasus terdahulu. Tak akan ada happy ending untuk kisah cinta di dunia 49 hari. Seharusnya setiap peserta menamkan kata kata itu pada diri mereka.”

Pandangan Suho menatap kaca yang membatasi antara balkon dan kamar Hyunchan. Ia tak menemukan bayangannya disana. Tentu saja, dia kan malaikat. Makhluk tak kasat mata.

“Aku mengatakan itu semua tidak bermaksud untuk mengejekmu karena tidak mendengar peringatanku. Aku tahu, itu sulit untuk dilakukan. Mengontrol cinta mu. Terdengar tolol memang. Cinta bukanlah sesuatu yang bisa dikontrol. Jika ia ingin bermekaran maka ia bermekaran. Jika dia ingin layu, maka ia akan layu. Dan berniat mengontrolnya merupakan hal yang sia sia. Sesia sia ketika kau mengharapkan orang buta untuk memenangkan kejuaran lari melawan atlit professional yang berpenglihatan normal.”

“Lantas apa yang mesti kulakukan?” Suara serak itu untuk pertamakalinya mencuat. Matanya menatap nyalang kearah Suho. Merah. Sembab.

“Aku tak ingin pergi dari tempat ini. Aku tak bisa meninggalkan Baekhyun. Kumohon. Aku akan lakukan apa saja asal aku tetap disini. Atau paling tidak, agar ingatan kami masih bertahan.” Hyunchan sesenggukan. Air matanya mengalir tanpa henti. Menjerit pada nasib.

“Apapun yang kau lakukan, tak akan mengubah peraturan yang telah ada.” Suho menunduk. Ia tak bisa berbuat banyak.

Tangisan membawa pilu itu memenuhi sunyinya malam. Bahkan lolongan anjing yang sedari tadi bersahut sahutan enggan mengusik. Hingga kemudian…

“Terkadang, tak semua yang kita inginkan bisa kita miliki. Bukan karena kita tak pantas mendapatkannya, tetapi mungkin itu bukan yang terbaik.  Karena tak selamanya apa yang manusia anggap baik untuk dirinya, memang baik. Kesalahan predikisi bisa saja terjadi. Serahkan semuanya kepada yang mengatur takdir. Yakini itulah yang terbaik untuk ciptaannNya.”

Suho menghampiri Hyunchan. Ia berlutut lalu dipeluknya tubuh yang sebentar lagi akan tumbang itu. Benteng yang selalu nampak kokoh dari luar namun hanya dengan senggolan sedikit dibagian dalamnya, bisa ambruk seketika. Itulah Shin Hyunchan saat ini.

“Aku akan datang tepat jam 12 tengah malam esok. Selesaikan yang memang harus kau selesaikan. “ Suho menepuk pelan pundak Hyunchan sebelum ia bangkit dan bersiap untuk menghilang lagi.

“Suho-ssi…”

Suho menoleh ditengah—tengah posisinya yang berdiri pada tiang balkon Hyunchan.

“terima kasih.” Senyuman yang tulus Hyunchan persembahkan untuk pembimbing 49 harinya yang selama ini telah banyak membantunya.

Suho hanya mengangguk kemudian membalas senyuman Hyunchan sebelum akhirnya ia menghilang diiringi hembusan angin yang cukup kencang.

End of flashback

Sesuatu yang berat  menindih salah satu pundaknya, berhasil mengalihkan perhatian Hyuchan. Pipinya basah tanpa ia sadari. Diusapnya air mata itu lalu sgeera menengok siapa penyebab pundaknya  berat sebelah. Ia mendapati wajah teduh Baekhyun disana. Tepat diatas salah satu pundaknya. Dia tertidur pulas. Lama Hyunchan menatap wajah itu. Memikirkan hari terkahir kebersamaan mereka.

Jari-jemarinya perlahan menyingkirkan poni yang menghalangi wajah Baekhyun. Diusapanya pelan wajah itu. Merasakan tekstur kulit Baekhyun. Disesapnnya aroma lemon yang bersumber dari rambut Baekhyun. Matanya menatap lekat setiap inci dari wajah Baekhyun. Bulu matanya, alisnya,hidungnya,bibirnya. Ia memfungsikan indranya semaksimal mungkin. Berharap suatu ketika, meski otaknya tak lagi mampu mengingat namun indranya masih mampuu mengenali.

Rasa sesak itu kembali mendorong butir air mata menetes lagi. Hyunchan memalingkan wajahnya menghadap jendela. Ia tak sanggup menatap Baekhyun lebih lama. Semakin ia menatap lelaki itu semakin dalam ia tenggelam pada cinta salahnya.

“Hey, kau baik baik saja?” Hyunchan terkejut ketika wajahnya dipaksa untuk menoleh menghadap ke sumber suara. Ia mendapati Baekhyun telah kembali ke alam sadarnya.

Suara serak hasil bangun tidur itu semakin membuat dadanya nyeri hingga bendungan air matanya pun jebol. Air matanya terus berjatuhan bak rintik hujan pada hari mereka berada di bawah naungan yang sama, sebulan lalu. Badannya berguncang. Wajahnya telah ia tutupi oleh kedua telapak tangannya.

Meski bingung dengan reaksi Hyunchan,namun Baekhyun tak banyak pikir. Ditariknya tubuh wanita itu kedalam pelukannya. Tangannya mengusap pelan rambut Hyunchan.“Sssshh.  Semuanya akan baik baik saja.”

Baekhyun tak tahu menahu apa penyebab Hyunchan seperti ini. Yang ia tahu kalimat yang ia lontarkankan adalah kalimat yang biasa digunakan untuk orang orang yang sedang bersedih. Dikecupnya ubun ubun gadis itu, sembari terus menenangkannya.

Dari sedari pagi ia memang melihat mata Hyunchan bengkak tapi di hiraukan. Setelah melihat gadis itu menangis tanpa alasan yang jelas, ia mulai berfirasat aneh. Mungkinkah ada hal buruk yang membuat Hyunchan seperti ini? Ini pertamakalinya ia melihat seorang Shin Hyunchan menangis, membuat sebuah perih muncul dari dalam sana.

Mereka tiba menjelang sore hari. Udara Jeju saat winter tak seekstrim  wilayah di Korea Selatan  lainnya. Cuaca cukup bersahabat. Jeju terlihat ramai. Mungkin ini berkaitan dengan libur musim dingin yang mulai disambut oleh beberapa pelajar sekaligus persiapan perayaan natal minggu depan. Villa yang dihuni oleh keluarga Baekhyun terlihat cukup sunyi. Sepertinya mereka sedang asyik menikmati keindahan Jeju diluar sana.

“Sudah merasa lebih baik? Atau aku perlu mencium mu?” Baekhyun mencoba mengembalikan mood gadis itu. “ Option kedua terdengar menarik” Baekhyun menggoda kegirangan lalu dimatikan oleh pukulan Hyunchan dilengannya.

“Mesum!” ujar Hyunchan meninggalkan Baekhyun yang masih mengusap lengannya dibelakang sana. Berhasil! Ia tersenyum puas. Setelah kejadian dipesawat itu memang tak ada pembicaraan diantara keduanya. Baekhyun seolah mengerti untuk tak bertanya macam-macam. Namun lama-lama didiamkan, ia jengah sendiri.

Hyunchan sibuk menatap takjub pada villa minimalis dengan arsitektur yang mendecakkan lidah. Kekayaan keluarga byun memang tak diragukan.

“Hyunchan-ah.”

Ia sedikit syok dengan posisi Baekhyun yang begitu dekat dengannya saat ia berbalik. Baekhyun selalu membuat ritme jantungnya tak karuan. Tak ada mimik jenakan tersirat disana.

“Kau baik-baik saja ?” sekali lagi Baekhyun berniat memastikan. Kali ini ia serius dengan pertanyannya. Suara lembut yang seolah berbisik menyusup masuk ke lorong lorong telinganya membuat Hyunchan merinding. Mata hitam Baekhyun yang dalam waktu bersamaan terlihat tajam namun mampu menenggelamkannya membuatnya terhipnotis.

Lidahnya keluh. Hanya anggukan dari kepalanya yang mampu mewakili jawaban yang ingin dilontarkan oleh mulutnya

“Dengarkan aku…” Baekhyun membungkuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Hyunchan.

Jarak pandang mereka tak lebih dari sejengkal. Ada jemari jemari yang menyusuri lengan Hyunchan dan bermuara pada kedua  sisi jemarinya. Mereka saling bertaut. Menggengam satu sama lain.

“Apapun masalahmu, aku akan selalu ada. Tangan ini akan selalu menggenggam untuk menopangmu, membantumu melewatinya. Jangan takut. Kita akan melewatinya bersama.”

Tangan Baekhyun beralih ke wajah Hyunchan, mengusapnya dengan lembut. Mata Hyunchan terpejam. Merasakan setiap gesture yang dilakukan oleh tangan Baekhyun di wajahnya. Halus dan lembut..

“Selama liburan ini, aku ingin kau melupakan apapun masalah yang sedang mengusikmu. Singkirkan jauh jauh pikiran pikiran itu. Biarkan hanya ada pikiran tentang kebahagiaan kita. Kau dan aku.”

Sugesti sugesti itu diakhiri dengan kecupan hangat yang mendarat dikening Hyunchan. Entah Baekhyun belajar ilmu hypnonterapi dari mana namun sugestinya berhasil diterima oleh otak Hyunchan. Seketika otak gadis itu terasa ringan, lebih segar dari sebelumnya.

“jangan mesum disini. Langit masih terang.” Teguran sekaligus ejekan itu sedikit mengacaukan ending manis dari momen mereka. Suara itu. Ya siapalagi kalau bukan Do Kyungsoo. Hyunchan sedikit terkejut dengan kehadiran Kyungsoo yang kini berjalan menghampirinya tepat di halaman depan villa. Ia menatap Baekhyun meminta penjelasan. Karena disangkanya hanya ada keluarga Byun yang ada disini.

“Aku lupa sepertinya. Kyungsoo dan Chanyeol juga akan menginap di villa. Liburan tanpa dua setan itu tak akan menarik.” Bakehyun terkekeh pelan.

Kyungsooo sudah berada di hadapan mereka. Memandangi Hyunchan dan Baekhyun secara bergantian dengan senyum yang tak satupun mampu menangkap apa maksdunya. Suasana mendadak menjadi awkward. Entah karena mereka bertiga terlibat dalam satu lingkaran masalah yang bernama cinta atau karena faktor lain?

“Sepertinya kemesraan tadi cukup menjadi bukti bahwa hubungan kalian meningkat ke level yang lebih tinggi. “ Kyungsoo tertawa renyah. Tawa khasnya yang menyerupai remah remah biscuit.

“selamat yah. Aku dan Chanyeol menunggu traktiran jadiannya.” Kyungsoo masih dengan mode senyumnya dan menatap Baekhyun-Hyunchan secara bergantian. Senyumannya semakin melebar ketika di dapatinya pandangan yang tak pernah Hyunchan berikan padanya… Cinta. Sekarang ia benar benar lega. Hatinya ikhlas.

Ditepuknya pundak Baekhyun sebanyak 3 kali. Setelah itu Kyungsoo melengggang pergi tanpa sepatah kata lagi.

“Mau kemana, Soo?”

Kyungsoo berhenti lalu menengok sambil memutar mutar gantungan kunci mobilnya.  “Aku ada urusan sebentar dengan rekan bisnis cafeku. “

“Oh iya, kata paman Byun dia ingin kita berkumpul disini sebelum waktu dinner. Jadi jika  kau ingin berjalan jalan, jangan lupa segera kembali. Aku pergi yah.  Orangnya telah menungguku sedari tadi.”

Kyungsoo terlihat berlari-lari kecil menuju mobilnya sambil  berbicara dengan orang di ponselnya.”Iya Kai…”

“Kurasa nilai plus akan bertambah di diri Kyungsoo lagi.” Gumam Baekhyun setelah mobil Kyungsoo menghilang dari pandangannya.

“emm?”

“Dia akan jadi bisnisman muda yang sukses… tapi kau tidak akan tertarik meskipun itu terjadi kan?” Baekhyun segera memastikan.

“Uhmm, aku tak bisa menjamin. Masa depan siapa yang tau?”

“Mwo?! Ya! Shin Hyunchan!” jerit Baekhyun dengan mata melotot hampir keluar dari rongganya.

Hyunchan tersenyum puas menuju pintu masuk villa mewah itu  menghiraukan Baekhyun yang sedang mengamuk tak jelas dibelakang sana.

***

Hyunchan mengatur letak barang bawaannya setelah ia memasuki salah satu kamar di villa Baekhyun. Untuk beberapa saat ia sempat terpesona dengan ke arsitektur kamarnya. Mulai dari perabotnya, wallpapernya, hingga landscape indah yang ditawarkan oleh jendela besar kamarnya. Puncak gunung Halla yang indah terlihat begitu jelas dari jendela ini. Ia sempat melangkah ke arah balkon dan langsung disambut oleh hembusan angin yang membuatnya merapatkan jaket hangatnya.

Badannya beberapa kali terpental kecil ketika ia hempas di kasur. Pakaian dari kopernya telah tersusun rapi di lemari coklat tak jauh dari tempat tidurnya. Ditatapnya gorden putih yang sedang menari mengikuti hembusan angin. Membawa perasaan melankolis bertandang. Ingatannya melayang. Mengundang perih untuk hadir lagi.

“Shin Hyunchan!” Tiba tiba pintunya terbuka lebar disertai jeritan Baekhyun. Entah ia harus terkejut oleh suara apa? Suara teriakan Baekhyun kah atau suara pintu yang menghantam tembok dibelakanganya saking kerasnya Baekhyun mendorongnya?

Byun Baekhyun telah berdri di ambang pintu dengan wajah sumringah tanpa perasaan menyesal karena telah membuat seseorang hampir saja terkena serangan jantung. Hyunchan menatapnya kesal. Baru saja ia ingin protes, Baekhyun kembali berbicara dengan suara menghampiri delapan oktaf. Apa dia pikir dia hidup di hutan?

“Park Saem baru saja menghubungiku. Nilai ujian ku 8.9! Mendekati angka Sembilan!”

Hyunchan tak tahu apa yang terjadi selanjutnya, yang ia rasakan begitu Baekhyun mengakhiri ucapannya yang terakhir dengan teriakan yang lebih keras, tubuhnya telah tersungkur ke atas kasur dengan posis Baekhyun menindihnya. Tunggu sebentar? Menindih? OMG!

Sepertinya kronologi sebenarnya adalah Baekhyun berlari sambil berteriak dari arah pintu dan langsung menubruk dirinya yang tengah terduduk di pinggir tempat tidur hingga ia terjungkang kebelakang karena tak sanggup menanahan massa tubuh Baekhyun.

“Ini benar benar tak bisa dipercaya!” Baekhyun lagi lagi berbicara diatas nada suara normal Tak sadarkah dia jika telinga  Hyunchan tak jauh berada dari mulutnya. Gendang telinganya bisa saja mengalami gangguan.

“Baek, turun sekarang juga!” Titah Hyunchan dengan suara yang tertahan karena ia mulai kesulitan menghirup oksigen.

“Uhm? Kenapa?” dengan polosnya Baekhyun bertanya sambil menatap wajah Hyunchan yang tepat berada dibawahnya.

“Kau ingin aku mati? Mata Hyunchan melotot. “Aku… tidak.. bisa..bernafassshhh.” sekuat tenaga didorongnya tubuh Baekhyun yang membuat diafragmanya bermasalah.

Rongga dada wanita itu naik turun secara cepat begitu tak ada lagi beban yang menghimpitnya. Mulutnya mengambil alih proses bernafas agar bisa menghirup oksigen sebanyak mungkin.

“Maaf. Aku terlalu kegirangan.” Baekhyun tertawa pelan melihat kondisi Hyunchan.

“Bukannya pengumuman masih 2 hari lagi?” Hyunchan kembali berbicara begitu ia selesai dengan urusan pernafasannya.

“resminya sih begitu. Tapi kata Park saem, pihak sekolah sudah memiliki hasilnya.”

Hyunchan hanya ber-oh ria. Ia senang dengan kabar baik yang dibawa Baekhyun. Tugasnya benar benar telah rampung diakhir masa 49 harinya. Nilai Baekhyun membaik, kelakuannya pun tak sekacau di awal kisah ini.

“Padahal lulus dengan nilai 7 saja aku tak berani membayangkan,ini benar benar Waw! Tak kusangka aku bisa sepintar ini.”

“Kau sebenarnya pintar,Baek. Tapi sayangnya kau terlalu sibuk memikirkan para wanita wanita mu.”

“Makasih atas motivasinya. Aku yakin di masa depan aku bisa dengan mudah meraih gelar doktor.” Ucapnya bangga.

“jangan terlalu cepat berbangga.” Cibir Hyunchan. Baru saja dipuji sedikit.

“Aku serius. Karena mulai saat ini aku hanya disibukkan oleh satu wanita saja. Kurasa itu tak akan menyita banyak waktu belajarku.” Baekhyun mengerling nakal pada Hyunchan. Keduanya sama sama tahu bahwa satu wanita itu tak lain dan tak bukan adalah wanita yang tengah berbaring disampingnya. Hyunchan tertawa sambil menggeleng gelengkan kepalanya tak percaya bahwa Baekhyun baru saja mengeluarkan jurus rayuannya.

“Selamat ya. Kuharap di masa depan kau bisa menjadi orang sukses yang berguna bagi banyak orang.” Hyunchan kembali bersuara setelah jeda keheningan yang mengisi. Pandangannya menerawang menatap plafon kamar. Baekhyun menatap wajah Hyunchan dari arah samping. Entah mengapa ia merasa ada yang aneh dengan ucapan Hyunchan. Seolah Hyunchan tak akan ikut serta  bersamanya menyusuri garis takdir yang akan membawanya kepada harapan itu.

Hyunchan menoleh dan dalam beberapa menit itu mereka hanya terdiam saling menatap satu sama lain. Tenggelam dalam tabuhan jantung mereka. Menyadari bahwa setiap detiknya cinta itu semakin tumbuh dan membesar. Dan itu menyakitkan bagi salah satu pihak yang akan pergi sebentar lagi. Kadang terlintas dipikirannya, karma kah ini? Karma yang mungkin akhirnya diturunkan Tuhan setelah mendengar keluhan-keluhan wanita yang telah disakiti oleh Baekhyun.

“Hyun.” Bisik Baekhyun memanggil.

“Mmm?”

“Boleh aku mendapat hadiah ciuman?”

BLETAKK

“AWWw!!!

Hyunchan sungguh tak sadar,tangannya reflex memukul wajah Baekhyun yang mulai mencondongan bibirnya.

“keluarlah! sebelum otak mesum mu mulai mengendalikan mu,” Hyunchan bangkit lalu berdiri di bawah kaki Baekhyun sambil melipat kedua tangannya di dada.

“Kau ini sungguh keterlaluan. Dari mana kau dapatkan sifat ringan tangan itu?” Baekhyun mencoba berdiri dengan wajahnya yang kusut sambil mengusap pelan pipinya.

Hyunchan ingin sekali tertawa melihat ekspresi Baekhyun. “ Itu bukan ringan tangan, Baek. Itu salah satu gerak reflex perempuan terhadap lelaki mesum.” Gadis itu terkekeh pelan.” Maafkan aku.” Hyunchan menutup kalimatnya dengan sebuah senyuman yang tulus.

Baru saja Baekhyun ingin protes karena Hyunchan selalu melabelinya dengan kata mesum tapi ia luluh hanya dengan melihat senyuman gadis itu. Efek cinta sungguh mengerikan.

“Yasudah, aku keluar. Bisa bisa wajah ku rusak jika terlalu lama seruangan dengan mu. Biaya oplas itu mahal tauk!” Ia berjalan keluar menuju pintu kamar Hyunchan persis seperti anak kecil yang sedang ngambek. Kakinya ia hentak hentakkan. Hyunchan hanya bisa menggeleng geleng melihat tingkah Baekhyun.

Mandi sore mungkin akan menghilangkan kepenatannya dan semua kekonyolan Baekhyun yang tak henti hentinya membuat jantuknya syok. Baru saja ia  ingin menggapai kamar mandi, lagi lagi sesuatu menubruknya dari arah belakang. Ia mulai kesal. Kali siapa lagi?

Namun detik berikutnya kesal itu tak  jadi menggerogotinya. Seseorang tengah memeluknya dari arah belakang lalu dengan cepat mendaratkan ciuman di pipinya.

“Aku mendapatkan hadiah ku! Thanks Hyunchan.”

“BYUN BAEKHYUN!!!”

***

Suasana halaman belakang villa keluarga Byun cukup rame dan riuh malam itu. Pesta barbequelah penyebabnya. Baekhyun dan Kyungsoo bertugas  memanggang daging. Chanyeol bertugas menyiapkan wine. Jisun yang mengatur peralatan makan yang diantarkan oleh Hyunchan dari dalam villa, sedangkan ayah dan ibu Baekhyun sedang asik di dalam sana membuat saus dan makanan tambahan lainnya. Winter seperti ini memang sangat pas mengadakan pesta barbeque. Langit nampak terang dipenuhi taburan bintang.

Sesekali Chanyeol berkelakar, menggoda setiap orang yang berada disekitarnya. Ia memang bertugas sebagai mood maker. Sampai sampai Baekhyun dan Kyungsoo memberikannya julukan happy virus. Selama ada Chanyeol maka jangan pernah berharap suasana akan berubah menjadi sunyi senyap. Kecuali untuk beberapa saat yang lalu, itu tak terhitung.

“Yang sekarang butuh perhatian mu adalah daging ini Baek, bukannya Shin Hyunchan.” Tegur Kyungsoo ketika beberapa kali mendapati Baekhyun tak fokus dengan pekerjaannya dan hanya sibuk memandangi Hyunchan yang tak jauh dari pandangan mereka. Baekhyun hanya menyikutnya lalu Kyungsoo tertawa puas.

Jika ditanya ia cemburu atau tidak, tentu saja ya. Perasaannya tak akan semudah itu terhapuskan. Namun kebahagiannya melihat Baekhyun dan Hyunchan lebih mendominasi dibanding rasa cemburunya. Ia turut senang melihat kebahagiaan kedua orang terdekatnya itu.

“Sepertinya kau sungguh menyayanginya.”

Baekhyun menghentikan tangannya yang sedari tadi mengipasi daging dipanggangan. Ia menatap Kyungsoo lalu beralih menatap Hyunchan. Keduanya kini bersama sama menatap gadis yang baru saja mengambil beberapa tumpukan gelas siap ditata oleh Jisun di atas meja. Saat pandangan mereka bertemu, ia mengirimkan ciuman jarak jauhnya yang langsung dibalas oleh pelototan mata Hyunchan yang menyuruhnya fokus. Lagi lagi Kyungsoo tertawa menggelengkan kepala melihat adegan itu. Yang satu genit dan yang satu dingin. Sungguh pasangan yang unik.

“Bahkan lebih dari sekedar sayang,Soo. Kecanduan mungkin kata yang tepat.”

“Hiperbola.” Cibir Kyungsoo.

“Itu salah satu syndrome yang melandamu ketika jatuh cinta.”

“Itu majas baek, bukan sindrom. Ingat pelajaran bahasa?”

Baekhyun berbalik menatap kesal pada Kyungsoo.”sepertinya akan lebih enak jika kau menggantikan posisi daging ini,Soo.” Kyungsoo hanya tertawa menanggapi ucapan Baekhyun.

“Aku tau. Belakangan ini aku juga sedang dilanda sindrom itu.” Ujar Kyungsoo seakan masih ingin berada di topik yang sama. Tak ada suara setelah itu. Keduanya tau, ini akan bermuara ke satu orang, Shin Hyunchan. Dan topic soal perasaan keduanya terhadap Hyunchan adalah sesuatu sensitif yang bisa menimbulkan suasana awkward.

“jadi kau masih mencintainya?” Baekhyun berbisik pelan seolah setiap kata yang meluncur dari mulut bisa kapan saja melukai Kyungsoo.

Ia memang tak suka jika Kyungsoo bersama dengan Hyunchan. Tapi bukan berarti dia membenci Kyungsoo layaknya musuh ataupun penghianat. Hanya rasa cemburu saja, tak ada rasa dendam ataupun sejenisnya. Bahkan kalau bisa, ia  tak ingin ada yang tersakiti dengan terjalinnya hubungan anatara ia dan Hyunchan. Ia tak ingin Kyungsoo sakit. Karena ia menyayangi Kyungsoo. Menyakiti Kyungsoo ataupun Chanyeol sama saja melukai salah satu bagian dirinya.

“Soo,Aku… ma—“

“Jangan teruskan. Tak ada yang perlu dimaafkan, Baek. Tak satupun dari kita yang bersalah. Takdirnya memang sudah seperti ini.” Ia tertawa getir.

“Seorang penyair pernah berkata ‘akan tiba saatnya di mana kamu harus berhenti mencintai seseorang. Bukan karena orang itu berhenti mencintai kita. Melainkan karena kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya’. Aku tak pernah mau memaksa. Jika memang tak bisa, yasudah.Ikhlaskan. Memaksakannya hanya akan membuat banyak orang terluka..”

 

Baekhyun terdiam. Sahabatnya sungguh memiliki hati yang besar. Diantara ketiganya, memang Kyungsoolah yang selalu berpikiran dewasa. Ia menyelesaikan masalah demi masalah dengan begitu simple. Ia tak pernah membuatnya serumit memecahkan rubik.

“Ketika melihat mu dengan Hyunchan, aku tak berbohong.Aku cemburu. Namun melihat kalian berdua bahagia,..” ia menggantung kalimatnya. Matanya menatap Hyunchan lalu beralih ke Baekhyun “ membuatku lupa akan rasa itu.” Senyuman mengakhiri ucapannya.

“Jaga Hyunchan baik-baik. Aku mempercayakannya pada mu sekarang. Jangan sampai aku melihat peluang untuk merebutnya kembali.” Kyungsoo menepuk pundak  Baekhyun.

“Tenang saja. Tak sedikitpun kuberikan celah untukmu merebutnya kembali.” Keduanya tersenyum. Perjanjian tersirat itu secara tidak langsung  mereka ikrarkan. Jika Baekhyun melanggar janjinya maka ia harus siap merelakan Hyunchan.

“Berhenti tersenyum seperti itu. Kalian terlihat seperti pasangan homo.” Suara bas yang entah muncul dari mana mengusik keduanya. Dan dalam hitungan detik lelaki jangkung bersuara bas itu mendapatkan karma dari ucapannya yang asal bunyi.

“Arrggg!”

Tangan Baekhyun memukul belakang kepalanya sementara kaki Kyungsoo sukses melakukan pendaratan menukik tajam tepat di kakinya.

“Lusa aku sudah berangkat dan kalian berdua masih membully ku? Lihat saja! Akan kubuat kalian menderita merindukanku. Aku tak akan mau mengingat kalian lagi di jepang nanti!” Ancam Chanyeol si lelaki bersuara bas. Ia berteriak-teriak tak jelas seperti penyihir yang memberi kutukan kepada penduduk desa.

“Kau tau, kau terlihat seperti banci salon yang mengamuk karena wignya terlepas.” Ejek Baekhyun menaikkan tusukan daging-daging yang telah matang diatas piring.

“Kita lihat saja, Soo. Paling baru sampai semenit di Jepang ia langsung menghubungi kita dan berkata ‘ aku merindukan kalian~” Baekhyun membuat buat nada suaranya selebay mungkin.

“Dan tak sampai seminggu ia pasti menyuruh kita menjenguknya ke Jepang seperi tragedy summer champ di UK dulu.” Kyungsoo menimpali dengan suara yang sama menjengkelkannya dengan Baekhyun.

Ia dan Kyungsoo berjalan beriringin membawa piring yang berisikan barbeque yang telah matang, meninggalkan Chanyeol dibelakang sana dengan tampang geram.

“dasar kurcaci!!” dipungutnya batu batu kecil disekitarnya dan melempari Kyungsoo dan Baekhyun yang kini secara kompak menjulurkan lidahnya karena lemparan Chanyeol tak menjangkau mereka.

Itulah persahabatan mereka. Masalah sebesar apapun tak akan meruntuhkan pilar pilar penyanggahnya. Menyelesaikannya dengan apik tanpa merusak sedikitpun tiang-tiang kokoh yang telah terbangun selama ini, itulah yang dilakukan Baekhyun, Chanyeol, dan Kyungsoo. Menurunkan ego mereka demi sebuah kata penuh makna ‘persahabatan’.

***

Pesta barbeque -yang menurut Hyunchan sama dengan pesta perpisahan untuknya- telah berakhir beberapa jam yang lalu. Pesta yang menyenangkan. Keluarga Byun, Chanyeol,Kyungsoo dan dirinya berada dialam satu meja besar yang sama, membuat suasana kekeluargaan itu semakin terasa. Mereka bercengkrama satu sama lainnya. Ada cerita mengenai pernikahan Jisun dan Chanyeol, ada bagian yang menyudutkan Kyungsoo sebagai satu-satunya pria single di meja itu, ada rentetan ucapan terima kasih dari kepala keluarga Byun atas kontribusi Hyunchan yang besar mengutuhkan keluarga mereka, hingga deklarasi Baekhyun dihadapan keluarganya mengenai hubungannya dengan Hyunchan yang seketika membuat meja itu semakin riuh. Semuanya tertawa bahagia.

Hyunchan senang, diakhir masanya ia mampu terlibat dalam momen indah ini. Dipandangnya satu persatu orang  yang berada disekelilinya. Satu hal yang ia syukuri dari 49 hari ini adalah ia dipertemukan oleh orang-orang yang baik serta menyayanginya. Ia diberikan kenangan-kenangan yang tak biasa dengan orang-orang yang hanya dikenalnya dalam waktu 49 hari. Meski pada akhirnya mereka akan menjadi asing, tapi itu tak menyurutkan niatnya untuk bersyukur atas kesempatan langka ini.

Tak terasa jam telah menunjukkan pukul sebelas. Dentingan bell yang bersumber dari jam raksasa di ruang keluarga menggema. Jam itu memang akan selalu berdenting tiap memasuki pergantian jam. Dan Hyunchan sudah muak mendengarnya. Bunyinya seolah mengolok-olok. Memperingati ambang waktu yang semakin dekat dan Hyunchan tak mampu berbuat apapun. Tubuh gadis itu masih duduk tegap di kasur busa empuk. Kakinya menjuntai ke lantai. Jika saja ia tak berada dalam perjalanan 49 hari, mungkin ia sudah lelap di kasur itu, menikmati kisah  yang dipersembahkan alam mimpinya.

Suasana villa telah sunyi. Tentu saja,penghuninya pasti tertidur nyenyak setelah menyantap makanan yang membuat perut mereka penuh hingga kantuk menjemput lebih cepat. Semuanya, kecuali Hyunchan. Didalam kamar yang hanya diterangi cahaya bulan yang timbul dari tirai jendelanya, ia hanya bisa termenung. Menunggu detik-detik kepergiannya. Pandangannya kosong, menerawang jauh kedepan. Ia menggigit jarinya dengan gigi-gigi yang bergemeletukan. Tubuhnya mengayun ke depan dan ke belakang dengan ritme dinamis. Nafasnya berkejar kejaran. Keringat dinging bertengger di jidatnya.

Dengan tergesa-gesa tubuhnya bangkit, berjalan tak jelas ke arah pintu. Sempat ia terjatuh karena menginjak gaun tidurnya yang menjuntai cukup panjang. Ia bangkit lagi,  terseok seok mencapai gagang pintu. Dengan linglung ia berjalan menuju kamar Baekhyun, tepat disebelah. Diketoknya pintu itu dengan buku-buku jari yang bergetar.

“Baek…”

Tok Tok Tok

“Baek…”

Panggilan ketiga namun tak kunjung ada sahutan dari yang bersangkutan. Hingga dengan lancang tangan Hyunchan menggenggam knop pintu lalu memutarnya.

Tidak terkunci.

Pelan, ia mendekat ke sosok yang tengah tertidur pulas dibalik selimut sana. Kakinya ia seret. Berusaha sepelan mungkin. Matanya tak berkedip sedikit pun memandangi seonggok tubuh yang berbaring hanya disinari oleh cahaya bulan, persis seperti di kamarnya tadi.

Gadis itu duduk di tepi ranjang, membuat busanya sedikit menukik ke bawah menahan beban baru. Nafas Baekhyun terdengar begitu tenang dan teratur menandakan pemiliknya sangat lelap. Hidung bangir yang selalu menarik perhatiannya. Bulu mata lentik yang kadang membuatnya iri, alis hitam tebalnya, bibirnya yang tipis, sudut matanya yang menukik ke atas menjadi alasan mengapan ia memiliki tatapan tajam, dipandangnya bagian-bagian yang membuat wajah itu menjadi salah satu pahatan terbaik Sang Maha Pencipta.

Ia meraih jari jemari yang tergeletak pasrah tepat di atas perut Baekhyun yang tertutupi selimut. Jemari yang telah menghasilkan irama indah kala bertemu dengan tuts piano. Jemari yang membuatnay terpesona ketika berkolaborasi dengan sebuah piano di kafe Kyungsoo dahulu. Membentuk simfoni menakjubkan.

Indra perasa yang merasakan ada sentuhan lain di wajahnya  mengantar Baekhyun ke dalam kesadarannya. Matanya terbuka pelan. Baru saja ia ingin memarahi orang yang tengah mengusik tidurnya, namun urung ia lakukan. Ia mendapati Hyunchan disana, menatapnya dengan pandangan sejuta luka. “Hyun…” tegurnya sambil bangkit menyalakan lampu tidurnya.

“Ada apa?” tanyanya lembut.

Tak ada jawaban. Hyunchan diam bagaikan patung. Tak beraga. Hanya bola matanya yang bergerak. Meneliti setiap bagian dari wajah Baekhyun.

“Hey, Kau baik-baik saja?” Tangannya mengusap rambut Hyunchan pelan.

Khawatir mulai menghampiri ketika gadis itu tak meresponnya sama sekali.

“Hyun…”

Hyunchan ingin merespon, namun tak satupun bagian tubuhnya yang bergerak. Otaknya seolah mengalami kram. Sakit itu kini menyerang system otaknya. Mungkin air mata tak lagi mampu meredamnya. Dadanya sesak. Ia ingit teriak namun pita suaranya tak kunjung menghasilkan nada.

“Hyunchan-ah…”

“Shin Hyunchan !”

“Bicaralah Shin Hyunchan!”

“Kumohon, Keluarkan sedikit suara saja !” Guncangan yang dirasakan tubuhnya kian keras hingga mengembalikan semua system di otaknya sediakala. Pada akhirnya matanya mampu mengerjap.

“Iya…”

“Tuhan! Kau membuat ku khawatir, Hyun !” Tangannya seketika membawa Hyunchan ke dalam pelukannya. Ia mendesah legah.

“Ada apa dengan mu?”

Hyunchan tak menjawab namun ia bisa merasakan gadis itu tengah mencengkram kimono tidurnya dengan erat.

“Mimpi buruk?”

Hyunchan menggeleng.

“Lalu?”

Hyunchan lagi-lagi menggeleng. Ia tak tahu harus berkata apa. Ingin rasanya ia berteriak ‘aku tak ingin meningggalkan mu. Kumohon, tolong aku.’ Tapi itu hanya jeritan tanpa suara.

“Tidurlah disini. Kita bahas masalah ini besok.” Ujar Baekhyun melepas pelukannya. Digesernya sedikit badannya ke posisi agak dalam agar Hyunchan bisa berbaring didekatnya. Hyunchan memandang lelaki itu, belum bergerak sesuai perintah Baekhyun.

Besok? Hyunchan miris mendengar kata itu. Tak akan pernah ada esok baginya. Esok yang dimaksud Baekhyun berbeda dengan esok yang akan dihadapi Hyunchan. Ketika esok datang, jangankan membahas masalah ini, mengenal  identitas mereka satu sama lainnya saja ia sangsi. Menjadi orang asing. Itulah fakta yang akan mereka hadapi ketika esok tiba.

“Aku tidak akan berbuat mesum. Kemarilah. Jangan Khawatir.” Baekhyun meyakinkan lalu kembali menepuk-nepuk sisi tempat tidurnya.

Antiklimaks itu sukses menciptakan segaris senyum di bibir Hyunchan. Membuatnya sadar akan tindakannya. Tak seharusnya ia juga menyeret Baekhyun ke dalam permasalahan ini. Biarlah, hanya dia yang merasanya. Ia melebarkan senyumannya. Membuat otot pipinya terangkat ke atas.

“Aku tak bisa tidur Baek, jadi jangan menyuruh ku untuk tidur.” Dengan suara seraknya ia tertawa pelan. Ia seolah menjelaskan alasannnya mengapa ia kemari. Meski itu tak logis. Alsan tak bisa tidur tidak akan membuat mu mendatangi kamar seorang pemuda lalu bengong seperti orang kesurupan.

“Mungkin saja kau rindu tidur bersama ku. Kita sudah lama tidak tidur bersama kan? Efeknya akan beda.” Baekhyun mengerling nakal.

“Sudahlah. Lanjutkan saja tidur mu. Maaf sempat mengganggunya.”

“mau kemana?” Tanya Baekhyun heran ketika Hyunchan ingin meninggalkannya.

“Menyeduh teh lalu kembali ke kamarku.” Ucap Hyunchan santai dan beranjak.

“Tunggu! Biar kutemani.” Cegahnya.

“minum teh sambil memandang langit biasanya membuat kantuk cepat datang.” Ia merayap turun dari kasurnya lalu segera menggamit lengan Hyunchan.

“tapi baek—“

“aku sulit tertidur lagi jika terbangun. Jangan banya protes lagi!” mereka pun berjalan bersama  menuju dapur.

Api unggun menghiasi pekarangan dibelakang rumah tak jauh dari lokasi pesta barbeque tadi. Dua anak manusia tengan duduk bersama diatas ayunan berbentuk sofa memanjang berwarna putih. Selimut putih tulang membalut tubuh mereka yang berdempetan. Dua buah cangkir beserta tekonya berada disudut kiri tepat di atas meja kecil berwarna senada.  Asapnya mengepul dari corong teko.

Ayunan berderit pelan mengisi sepi. Langit sedang bermandikan bintang. Menakjubkan. Seolah tak ada lagi ruang kosong di atas sana. Jutaan atau bahkan milyaran bintang kerlap kerlip. Begitu banyak. Sebanyak harapan manusia-manusia yang bernaung dibawahnya. Salah satu harapan Hyunchan mungkin ada diantara ribuan bintang itu. Harapan untuk tetap bersama pemuda disampingnya.

“Apakah ini ada kaitannya dengan yang di pesawat?” Baekhyun mulai membahas penyebab sikap Hyunchan yang aneh sedari tadi.

Hyunchan hanya bergumam pelan mengiyakan.

“Sebenarnya ada apa? Aku tak bisa membantumu jika kau memendamnya sendiri. Ceritalah.”

Mereka saling bertatapan. Cerita. Apa yang harus Hyunchan ceritakan? Bahwa sebelumnya ia adalah gadis biasa yang suatau malam meyelamatkan kucing lalu meninggal lalu tiba tiba bertemu dengan malaikat yang mengajukan perjalan 49 hari. Kemudian ia membuat rumit perjalanan itu ketika ia jatuh hati pada targernya sendiri, Byun Baekhyun. Lalu didetik-detik akhir perjalannya, ia berharap tak berpisah dengan lelaki itu. Ia berharap tak satupun ingatannya akan terhapus. Namun peraturan tetaplah peraturan. Dimana ada awal pasti ada akhir. Ketentuannya sudah seperti itu. Dan beberapa menit lagi, petaka itu akan terjadi.

Hyunchan mengalihkan pandangannya. Kepalanya diarahkan menuju pundak Baekhyun lalu menyender disana. Tangannya mencari jari Baekhyun untuk kemudian digenggamnya. Baekhyun menghela nafas. Ia tau apa arti gerakan Hyunchan.

“ya sudah kalau kau masih tak mau menceritakannya.”

Hening kembali. Bunyi letupan kecil kayu-kayu yang terbakar dan nyanyian jengkriklah yang membuat alam tetap bersuara. Sesekali percikan kecil mencuat seperi kembang api.

“Baek… ”

“mmm?”

“Menurutmu cinta itu apa?” Baekhyun menengok kebawah, namun yang ia lihat hanya ubun ubun Hyunchan. Pertanyaan klise. Namun tak satupun mampu memaparkannya secara pasti dan paten.

“saat dulu aku ditanya seperti itu maka aku akan kesulitan menjawabnya. Itu karena aku tak pernah merasakannya. Tapi sekarang…” ia menggantungkan kalimatnya lalu kembali tersenyum. “ cinta adalah Shin Hyunchan.”

Hyunchan mendongak, Baekhyun menatap ke depan. Membuat titik tumpunya berada pada api unggun.

“Merayuku lagi?” Selidiknya yang langsung disambut kekehan Baekhyun.

“Tidak,Hyun. Aku serius. Sulit mendeskripsikannya kedalam kalimat. Hanya dua kata itu yang mampu memaknai kata ‘cinta’ bagi ku. Shin Hyunchan. Setiap hal dari mu, adalah sebuah cinta. Senyum, tatapan,tawa,suara,tangis,pelukan,sikap,sifat, semuanya menjadi satu dalam sebuah kata bernama cinta.”

Jujur,siapun yang mendengar kalimat terakhir Baekhyun akan merasa geli atau dilandah rasa mual dan keram diperutnya. Tapi percayalah, jika kau diposisi Hyunchan maka satu satunya hal yang kau rasakan adalah melayang layaknya baru saja membuat narkoba mengalir kedalam darah mu.

“Apa alasanmu memasukkan namaku sebagai defenisi dari cinta mu? Bukankah ada banyak gadis diluar sana yang pantas menyandangnya?”

“Cinta itu bukan soal pantas ataupun tidak pantas. Dan soal alasan, cinta tak pernah punya alasan, Hyun. Jadi jangan pertanyakan alasan ku. Karena otak ku tak akan pernah mampu menemukannya. Hanya  inilah yang mampu menjawabnya.” Telapak tangan Hyunchan digiring untuk menyentuh dada Baekhyun. Ia bisa merasakan detak yang iramanya serupa dengan miliknya.

Hyunchan tersenyum,wajahnya bersemu. Rasanya seperti roket yang baru saja lepas landas, meluncur ke udara dengan kecepatan tinggi.

“lalu menurut pendapatmu sendiri, cinta itu apa?”

Hyunchan terdiam sejenak. Cinta, ia kehilangan rasa itu sejak ia lahir. Satu satunya defenisi cinta yang bisa ia rasakan hanyalah cintanya kepada Neneknya. Itu dulu. Sebelum pemuda bernama Byun Baekhyun mulai mengisi tempat kosong itu di sudut hatinya. Namun sebentar lagi, tempat itu akan kembali kosong seperti semula.

“Cinta adalah sesuatu yang bisa terasa manis bagi mereka yang sedang berbahagia, namun bisa menjadi pahit bagi mereka yang akan ditinggalkan ataupun meninggalkan.”

Baekhyun sempat menurunkan wajahnya saat kalimat terakhir Hyunchan itu terlontar. Lama ia memandang gadis yang terus menatap lurus ke arah api unggun. Untuk kedua kalinya, ia merasa ada pesan tersirat yang ingin disampaikan Hyunchan melalui ucapannya,namun ia tak bisa menangkap apa itu.

Meningalkan atau ditinggalkan? Baekhyun tak pernah membayangkan bagaimana jika mereka berada pada posisi itu. Ia berfirasat mungkin Hyunchanlah yang akan meninggalkannya karena dirinya tak mungkin berbuat demikian. Pertanyaan yang kemudian menghantuinya adalah apakah ia sanggup ditinggal Hyunchan? Baekhyun berdehem pelan menghilangkan khayalan yang  mencekat tenggorokannya.

“tapi kurasa kita masuk di defenisi pertama… Atau jangan-jangan kau ingin meninggalkan ku?” raut khawatir tergambar jelas dari kening yang berkerut berbalut alis yang bertaut.

Hyunchan segera tersadar akan ucapannya. Ia sempat blank beberapa saat. Dipaksakannya kedua sudut bibrnya terangkat. Tangannya mengusap pelan wajah Baekhyun. Matanya menatap jauh kedalam tatapan Baekhyun.

“Sedikitpun aku tak pernah ada niat melakukannya. Tapi kita tak pernah bisa menebak rencana Tuhan kan?”

Entah mengapa tiba tiba Baekhyun dilandah kesedihan yang begitu dahsyat sesaat setelah Hyunchan menyelesaikan kalimatnya. Pikirannya spontan membayangkan adegan dimana Hyunchan dan dirinya dipisahkan oleh takdir. Hyunchan pergi meninggalkannya. Melayukan cinta yang baru saja bersemi. Tak bertemu sehari saja ia bisa dilanda kegilaan. Apalagi jika Hyunchan harus meningalkannya untuk waktu yang lama?

“katanya bintang mampu menyampaikan kerinduan mu kepada seseorang yang jauh. Jadi ingatlah, jika memang jalan hidup kita tak bersinggungan lagi lantas kau merindukan ku,pandanglah bintang. Karena aku akan melakukan hal yang sama di suatu tempat.”

Lagi. Air mata itu menetes.Merembes dengan sempurna dipipinya. Kepalanya mendongak menatap langit. Menitipkan pesan hatinya. Menitipkan rasanya. Teruntuk lelaki yang paling berharga baginya, Byun Baekhyun.

Baekhyun meraih wajah sendu itu. Jempolnya mengusap pelan pipi Hyunchan. Entah mengapa ia merasakan sakit seolah ada yang mencabik-cabiknya. Tanpa ia sadari pelupuk matanya mulai digenangi air. Sekali di waktu lampau ia pernah merasakan kesedihan serupa, saat sang Ibu hendak meninggalkannya.

Wajahnya kini sejajar dengan wajah Hyunchan. “Kita tak akan pernah berpisah.” Ikrarnya di bawah ribuan bintang. Berharap jika takdir memang memisahkan mereka maka bintang akan menjadi titik balik pertemuan mereka.

Hyunchan tersenyum getir, matanya perlahan terpejam. Tak mampu menatap tatapan yang sebentar lagi tak akan bermakna apapun. Detik selanjutnya, Baekhyun merapatkan bibirnya. Membuat sensasi aneh itu datang lagi. Mereka saling berpagut. Mempertemukan gumpalan merah itu lalu menyapunya dengan lembut. Menyatukan indra pengecap mereka.  Saling berkait. Hendak pamer pada bintang bahwa cinta mereka bukan bahan candaan yang layak dipermainkan oleh sesuatu bernama takdir. Tangan Baekhyun menelusup kesela-sela rambut Hyunchan, merapatkan keduanya. Deru nafas itu seolah menelan suara letupan api unggun.

Malam tak lagi dingin. Selimutpun menjadi hilang fungsi. Tubuh mereka memanas. Berbagai emosi bercampur aduk hingga kesadaran kembali menyentil mereka. Hyunchan ingin menjauhkan wajahnya, namun tangan Baekhyun di belakang sana masih menahannya. Hingga menyebabkan jidat mereka saling menempel satu sama lain.

“Kita tak akan pernah berpisah. Tak. Akan.Pernah.” Lagi lagi Baekhyun merapalkan kata kata itu bak mantra agar Hyunchan selalu mengingatnya.

“Kalaupun aku dan kau berpisah, aku akan berusaha mencarimu. Sejauh apapun. Itu janjiku.”

Hyunchan memejamkan matanya. Menumbuk numbukkan dahinya secara pelan dengan dahi Baekhyun. Janji? Entahlah. Kemungkinannya satu berbanding seribu janji itu bisa tertepati.

All of the lights land on you
The rest of the world fades from view
And all of the love I see
Please please say you feel it too
And all of the noise I hear inside
Restless and loud, unspoken and wild
And all that you need to say
To make it all go away
Is that you feel the same way too

And I know
The scariest part is letting go
‘Cause love is a ghost you can’t control
I promise you the truth can’t hurt us now
So let the words slip out of your mouth

And all of the steps that led me to you
And all of the hell I had to walk through
But I wouldn’t trade a day for the chance to say
My love, I’m in love with you

And I know
The scariest part is letting go
‘Cause love is a ghost you can’t control
I promise you the truth can’t hurt us now
So let the words slip out of your mouth

I know that we’re both afraid
We both made the same mistakes
An open heart is an open wound to you
And in the wind of a heavy choice
Love has a quiet voice
Still your mind, now I’m yours to choose

And I know
The scariest part is letting go
Let my love be the light that guides you home

And I know
The scariest part is letting go
‘Cause love is a ghost you can’t control
I promise you the truth can’t hurt us now
So let the words slip out of your mouth

 

Bara terakhir dari api unggun telah padam. Dingin mulai mengambil alih bergabung dengan pekatnya malam. Dentingan lonceng jam raksasa dari dalam villa kembali berkoar. Gemanya berkali lipat menyakitkan dibanding satu jam sebelumnya. Menghunuskan ribuan samurai di sekujur tubuhnya.

Baekhyun telah lama terlelap. Terlihat nyaman menyenderkan kepala di pundak Hyunchan. Selimut tebal menghalau dari dinginnya tengah malam saat winter. Sementara Hyunchan, bak mayat hidup. Ia mematung ditempatnya. Tanpa ekspresi. Pandangannya kosong. Seperti kejadian di kamar Baekhyun. Bahkan tubuhnya yang hanya berbalut gaun tidur tanpa selimut,tak bergeming oleh dinginnya suhu Jeju. Sakit terperih yang mengguncang psikisnya membuat rasa yang lain tak berarti.

“Sudah waktunya Shin Hyunchan.” Suara itu berkumandang layaknya panggilan kematian. Suho telah berdiri di  belakangnya. Siap menyelesaikan tugas akhir. Dadanya sesak tetapi air mata itu tak kunjung merembes dari bola matanya. Lelah mungkin?

Disingkirkannya kepala Baekhyun yang nampak nyenyak di bahunya. Sosok itu terlihat menggeliat kecil, mencari posisi nyaman saat Hyunchan menyenderkannya pada sandaran bangku ayunan.

Ditatapnya untuk terakhir kali wajah makhluk adam yang memberikan decak kagum bagi kaum hawa itu. Ia memajukan wajahnya lalu mengecup kening Si lelaki. Hangat. Lembut. Menumpahkan segenap sayangnya. Berharap otak pemuda itu mampu mengingat secuil adegan ini.

“Aku mencintai mu, Baek.” Bisiknya pelan. Dengan perpindahan yang cepat, flashback awal pertemuan mereka mulai bermunculan satu persatu. Semakin banyak, semakin cepat dan berakhir di taman ini.

“ Aku pergi, Byun Baekhyun.”

Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini…

Pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang…

***

Fajar muncul dengan malu-malu dari ufuk timur sana. Menyambut hari baru. Menyambut kehidupan baru. Bahkan ayam pun menyorakkan rasa syukurnya terhadap matahari yang masih mampu memberikan harapan hidup bagi mereka yang putus asa. Memberikan semangat untuk hidup yang lebih baik. Jalan besar Seoul sudah mulai dipadati mesin mesin berjalan berbingkai baja. Masyarakat kembali beraktivitas setelah melepas penat semalam.

Perkantoran mulai terlihat hidup dengan karyawan yang mulai berdatangan. Lembaga pendidikan yang dipenuhi antusiasme manusia manusia yang haus ilmu atau meski sekedar sebagai topeng pengangkat derajat di masyarakat. Pabrik mulai bekerja. Setiap orang yang memiliki peranan demi kelangsungan hidup manusia satu dengan yang lainnya kembali bangkit dan beraktivitas demi menyambung nyawa. Dan rumah sakit yang siap merawat siapa saja yang membutuhkan agar mereka mampu bangkit dan kembali menyongsong masa depannya.

Pagi itu, tak beda jauh dengan rumah sakit rumah sakit lainnya. Dokter sudah mulai berkeliaran, siap memeriksa kondisi pasien. Perawat dan petugas rumah sakit juga sudah siap dengan tugasnya. Bunyi alarm dari sebuah kamar di ujung koridor lantai 3 rumah sakit membuat riuh pagi itu. Seorang dokter jaga dan beberapa perawat berhamburan menuju ruangan bersangkutan.

Kamar 305 kini dipenuhi oleh beberapa perawat dan seorang dokter yang mengomandoi pemeriksaan kondisi pasien yang baru saja siuman tersebut. Shin Hyunchan.18 tahun. Itulah yang tertulis di tag name yang terpampang di sudut bawah kaki tempat tidurnya. Gadis itu merupakan korban tabrak lari yang terbaring koma hampir 2 bulan. Dokter sudah ingin melepas alat bantunya seminggu setelah kejadiaan itu. Karena sudah tak ada harapan lagi. Namun wanita renta, yang selalu mendampinginya bersikeras hingga terlibat konflik dengan pihak rumah sakit untuk tetap memepertahankan alat bantu cucunya. Ia berfirasat masih ada kesempatan hidup bagi cucu perempuannya itu. Atas dasar keibaan, akhirnya pihak rumah sakit memberikan tenggang waktu  hingga 2 bulan.

“Semuanya normal,Dok.” Jawab sang perawat mantap.

Dan hari ini, keajaiban menunjukkan tajinya pada dunia. Bahwa keajaiban itu adalah nyata dan bukan sebuah kata pelipur lara saat keputusasaan melanda. Gadis koma itu baru saja tersadar. Gadis yang sebenarnya sebulan yang lalu akan berakhir di liang lahat, namun ia masih diberi kesempatan untuk hidup.

“Hyunchan-ah.”

“Nek !”

Haru memenuhi ruangan yang beberapa saat yang lalu sempat riuh oleh petugas medis yang memeriksa kondisi Hyunchan. Beberapa alat bantu mulai dilepas dan  menyisakan selang infuse yang masih menancap di kulit lengan kanannya. Selesai dengan urusannya para petugas medis keluar dari ruangan dan membiarkan nenek dan cucunya tersebut kembali bereuni setelah memberikan beberapa arahan dan saran.

Acara haru biru telah berlalu  berjam- jam yang lalu. Hyunchan duduk bersandar di tempat tidurnya sambil mengunyah apel yang dikupas oleh neneknya. Sudut matanya menangkap sesuatu yang berkilau pada tangan kanannya. Bertengger diantara jari tengah dan kelingkingya. Kini seluruh perhatiannya tertuju pada cincin yang melingkar manis di jari tengahnya. Ia menatap lekat cincin itu. Memikirkan dari mana benda itu berasal. Karena setahu ingatnnya, ia tak pernah memiliki cincin sebelumnya.

“Ini cincin dari nenek?” tanyanya asal tebak. Mungkin saja memang neneknyalah yang memasangkan cincin ini saat ia tak sadar.

Wanita renta itu berhenti mengupas apel. Tatapannya tertuju pada benda yang dimaksud oleh Hyunchan. Ia menatap bingung. Menggali ingatannya yang usang. Kemudain ia menggeleng ketika tak sedikitpun ia menemukan ingatan yang berhubungan dengan cincin.

Hyunchan menatap heran pada cincin itu. Benaknya sempat penasaran tetapi ia mengabaikan rasa penasaran itu dan kembali menikmati apelnya. Mungkin memang ia lupa pernah membeli benda itu.

“kamar ini sumpek. Aku ingin mencari udara segar.”

“Tapi kau baru saja siuman, Hyunchan-ah.”

“Aku bosan di kamar, nek.” Manja. Ia merasa asing dengan sifat manjanya ini.

“Baiklah. Tunggu sebentar, nenek akan membereskan ini dulu.” Wanita yang dipanggilnya nenek itu tersenyum lalu membereskan kupasan apelnya.

“makanlah apel ini sambil menghirup udara segar.” Ia memberikan Hyunchan sekotak apel yang telah dipotong-potong dadu.

Hyunchan tersenyum.” Terimakasih nek. Maaf  sudah merepotkan mu selama ini.” Dengan cepat  dipeluknya pinggang sang nenek yang berdiri tak jauh dari selang infuse. Sang nenek hanya membalas dengan usapan pelan diatas dikepala Hyunchan.

” Sepertinya kau merasa lebih baik setelah siuman.” Gumam sang nenek.

Ia sedikit terkejut dengan sifat cucu angkatnya ini. Tak ada lagi aura dingin yang selalu terpancar. Tak ada tatapan kebencian pada takdir yang kerap kali menghiasi pandangan gadis muda yang ia selamatkan ketika akan melakukakn bunuh diri itu. Tak ada lagi kejengahan disana. Cucunya itu seolah terlahir sebagai manusai baru dengan pribadi yang  jauh lebih baik.

Di sudut lain rumah sakit seorang  pemuda usia 18 tahunan terlihat muak dengan suasana rumah sakit. Ia menunggu tak sabaran disalah satu kursi tunggu bersama seorang wanita yang sepertinya adalah ibunya. Kakinya selonjoran tak jelas. Tangannya ia rentangkan di kedua sisi sandaran kursi tunggu. Ia celingak celinguk mencari objek menarik. Namun hingga hampir sejam kemudain ia tak kunjung mendapatinnya. Yang ada hanya petugas yang sibuk lalu lalang, pasien yang kebanyak orang jompo, tulisan tulisan tentang kesehatan, dan suara berisik ala rumah sakit dengan jadwal sibuk yang tinggi.

“Jadwal pemanggilan ibu masih lama?”

“sabar, Byun Baekhyun. sebentar lagi.”

“Kenapa tidak pergi sebentar sore saja sih,bu? ” protesnya

“Kau akan sibuk sebentar sore, kan? Ibu tahu jadwal kumpulmu dengan Kyungsoo dan Chanyeol diakhir pekan seperti ini.” Sang ibu dengan sabar menjelaskan. Baekhyun hanya cengengesan membenarkan tebakan sang ibu.

Pemuda itu bernama Byun Baekhyun. Menelisik dari marganya, seharusnya orang sudah tahu bahwa dia keturunan salah satu bisnismen berpengaruh di Korea Selatan,Byun jinki. Namun tampilannya yang sederhana mengecohkan orang orang dan membatalkan fakta itu.

Ia suka kesederhanaan, mungkin bercermin dari ibunya yang juga tak glamour dalam berdandan seperti istri pengusaha lainnya. Ibu. Wanita yang berada disampingnya adalah wanita yang begitu ia sayangi. Meski kadang rasa malas melandanya, namun apapun permintaan sang ibu akan berusaha ia kabulkan. Salah satunya adalah mengantar ibunya untuk check up kesehatan pagi ini.

“Yasudah, kalau kau bosan pergilah ke taman rumah sakit ini. Ibu dengar tamannya bagus. Mungkin saja disana ada gadis cantik yang sedari tadi kau cari cari?” ujar sang ibu menggoda anaknya.

“hahaha ibu tau saja. Tapi, tak apakan ku tinggal sendiri?”

“Apa ibumu sudah terlihat serenta itu? Bahkan menyetir truk pun ibu masih mampu Baekhyun-ah. Pergilah. Ibu akan menghubungimu jika check upnya selesai.”

“Ye, mama. Kau ibu yang paling baik !” ia mencium sekilas pipi ibunya layaknya bocah 6 tahun tanpa malu dengan postur tubuhnya yang sudah setinggi itu.

Jadi disinilah ia berada. Di sebuah taman yang cukup asri terletak agak menjorok kebelakang dari bangunan rumah sakit. Selain pepohonan yang rindang, bunga bunga juga menghiasi taman ini. Menambah nilai plus keindahannya. Selain itu tempatnya bersih dan rapi. Taman yang bagus. Seperti tebakan Ibunya. Membawa kenyamanan dan ketenangan bagi siapa saja yang berkunjung dan mampu melepas kepenatan tentang hal yang berbau rumah sakit. Tak ada wanita cantiknya pun tak jadi masalah.

Cukup banyak orang yang memenuhi taman ini. Sebagian diantaranya adalah mereka yang berseragam pasien. Mungkin menyegarkan otak. Apalagi ini masih terbilang pagi. Cukup bagus untuk kesembuhan pasien. Ia berjalan mencari tempat yang agak lengang dari orang orang. sebuah bangku di bawah pohon yang rindang arah utara menjadi tempat pilihannya.

Tak jauh dari posisinya, ia melihat seorang gadis dengan kursi roda dan selang infuse yang menggantung didekatnya. Ia tak bisa melihat jelas wajahnya, sinar matahari dari sela sela daun pepohonan menghalau pandangannya. Tak jauh dari wanita itu ia bisa melihat nenek tua yang terus mengusap rambut gadis itu. Baekhyun tersenyum melihatnya. Mendadak ia mengingat neneknya. Ia tak terlalu banyak memiliki memory dengan neneknya. Tangannya lalu mengeluarkan headset dari saku hoodie Calvin Kleinnya.

Ia mulai larut dalam lagu lagu yang mengalun pada headsetnya. Membuat rasa kantuk menyerangnya. Apalagi dibawah pohon rindang dengan angin sepoi sepoinya. Hingga salah satu lagu favorit yang di didengarkannya beberapa minggu terakhir ini, memutar di playlistnya. Lagu Chistina Perri dengan judul The Words mengalun merdu membuatnya mendadak melankolis. Tak jarang ia mempelajari not pianonya.

Sebenarnya ia bukan penyuka music slow. Bahkan ia hanya tahu lagu  Christina Perri yang ini dengan a thousand years . Seolah lagu The Words itu memiliki magis,  pertama kali mendengarnya seolah ada sesuatu lain yang ia rasakan. Seperti sebuah lagu yang punya banyak kenangan. Membuat perasaannya bercampur aduk. Sedih,senang, marah, kecewa, dan lain sebagainya. Entah sebabnya apa.

Matanya tertuju pada sebuah cincin yang melingkar di jari tengahnya. Selalu ada ikatan emosional antara ia, lagu Christina Perri, dan cincin ini. Ada gejolak yang tak mampu ia namakan menyerangnya. Sejenis kesedihan namun itu bukan kesedihan seperti kebanyakan. Seperti sedih yang membuatmu ingin meraung, berteriak penuh emosi. Kira kira seperti itulah.

Ia bahkan tak ingat pernah membeli sebuah cincin, dan tak satupun orang terdekatnya tahu kapan waktu tepatnya cincin itu bertengger manis di jemarinya. Semuanya hanya menjawab ‘ cincin itu telah ada sejak lama menghiasi tanganmu, Baek.’ Dan itu membuatnya bingung karena ia sama sekali tak memiliki ingatan soal cincin ini, namun mampu membuatnya begitu emosional.

And I know
The scariest part is letting go
‘Cause love is a ghost you can’t control
I promise you the truth can’t hurt us now
So let the words slip out of your mouth

 

Kelopak matanya membuka saat untuk kedua kalinya lagu itu kembali mengalun. Padahal ia telah memilih option random di playlist musiknya. Bersamaan dengan itu gadis berkursi roda yang tak sempat ia lihat secara sempurna sebelumnya sedang menuju ke arahnya. Neneknya mendorong kursinya. Gadis itu semakin dekat, hingga Baekhyun mampu menatap jelas wajahnya. Mereka kini berpapasan. Sepersekian detik itu mata mereka beradu semakin intens.

And all of the steps that led me to you
And all of the hell I had to walk through
But I wouldn’t trade a day for the chance to say
My love, I’m in love with you

DEG… DEG… DEG…

Tubuhnya seolah tersengat listrik. Jantungnya berpacu tak karuan. Dadanya dilanda nyeri. Ada sesuatu didalam sana yang membuat matanya memanas dan mulai digenangi oleh air mata. Sial! Ada apa dengannya? Ia diselimuti perasaan aneh yang tak tahu apa maksudnya.

Di satu sisi, gadis di kursi roda itupun merasakan hal serupa. Sebuah sensasi aneh memenuhi sekujur tubuhnya. Apalagi ketika menatap bola mata pria berheadset dengan hoodie yang menutupi kepalanya. Ia tak tahu mengapa tiba-tiba saja matanya bak magnet yang spontan tertarik pada sebuah mata di depan sana. Wajahya putih mulus. Hidungnya bangir. Dagu lancip. Tatapan tajam namun meneduhkan dengan bibir yang kecil dan menipis. Tipikal lelaki yang akan membuat wanita rela berkorban apa saja demi memilikinya.

Ciptaahan Tuhan yang mana lagi ini? Sejenak hatinya bertanya. Sungguh ukiran yang sempurna disetiap lekuknya.

Keduanya kini sejajar. Jarak pandang mereka tak sejauh sebelumnya. Keduanya menatap intens. Seolah ada perekat yang menyebabkan pandangan mereka saling bertaut. Tiba-tiba saja mereka terseret ke tempat asing dengan latar putih . Hanya ada mereka berdua beserta degub jantung yang bertalu-talu. Menelisik lebih dalam, seonggok rindu menghiasi manik hitam keduanya. Ada pesan tersirat yang hendak indra penglihatan itu sampaikan, namun tak kunjung dipahami.

Andai saja mereka tahu, bahwa di waktu lampau mereka disatukan oleh kekuatan cinta sebesar cinta Romeo and Juliette. Andai saja mereka paham isyarat yang dilontarkan oleh benda bisu di tubuh mereka. Sayangnya itu terlalu sulit untuk terjadi. Persentasenya seperti menyelamatkan korban kecelakan yang mengalami pendarahan otak.

“Baekhyun!”

“…”

“Byun Baekhyun!” Baekhyun tersadar. Raganya seolah lepas selama beberapa menit itu. Ia terhipnotis. Dan ia tak tahu mengapa?

“Ada apa? Kau baik baik saja? Ibu dari tadi menghubungi mu… bla bla bla..” kata kata sang ibu selanjutnya tak lagi masuk ke dalam lorong telinganya. Ia masih bertanya-tanya tentang kejadian yang baru saja dialaminya. Pandangannya masih tertuju pada gadis kursi roda yang sudah berlalu dari hadapannya entah sejak kapan.

Vertigo seketika melandanya.

‘Hyunchan-ah? Ada apa?” sang nenek menghentikan dorongannya pada kursi roda cucunya. Jarak ia dan pemuda di bangku yang kini terus menatap ke arah cucunya sudah cukup jauh. Tapi baik pandangan cucunya ataupun pemuda itu masih tak saling melepas.

“hey, Shin Hyunchan.” Guncangan sang nenek menyadarkan kembali sang cucu.

”Kau mengenal pemuda itu? Siapa?” Rasa penasarannya mendorong Sang nenek melontarkan pertanyaan beruntun itu.

Hyunchan masih menatap kebelakang. Mencoba mengerti apa yang baru saja dirasakannya. Kenapa dadanya nyeri? Mengapa tubuhnya seolah ingin berlari dan mendekap lelaki itu? Setahunya ia tak punya masalah dengan hormone berlebihan sehingga memiliki keinginan memeluk lelaki asing yang kebetulan rupawan.Ia akhirnya mengalihkan pandangannya,menunduk lalu menggeleng lemah. “ Tidak, Nek. Bukan siapa siapa.”

Byun Baekhyun

Shin Hyunchan

Nama itu… terasa tak asing bagi dua anak manusia yang sekali lagi dipertemukan dalam schene yang sama. Menggetarkan sesuatu didalam sana yang baru saja dimatikan paksa oleh kejamnya takdir. Nama yang mengartikan makna cinta dua adam-hawa yang  dipermainkan oleh scenario terdahulu.

Byun Baekhyun dan Shin Hyunchan. Mereka bukanlah salah satu tokoh cinta melegenda layaknya Jack and Rose ataupun tokoh buatan Shakespeare yang terkenal seantero jagad. Mereka hanya sepasang manusia yang bernasib serupa dengan kisah-kisah melegenda itu. Terpisah oleh kondisi yang telah dirangkai takdir jauh sebelum mereka lahir.

Namun bedanya, mereka masih memiliki kesempatan. Garis hidup mereka belum terputus oleh sesuatu bernama kematian. Mereka hanya dipisahkan agar menapaki jalan masing-masing. Namun sekali lagi garis itu dipersinggungkan. Entah apa maksudnya. Apakah akan seterusnya atau ini hanya sebuah kebetulan  lalu akhirnya Tuhan sadar bahwa ada kesalahan dan mungkin seharusnya mereka tak dipertemukan lagi diwaktu mendatang?

Semuanya masih rahasia. Hidup masih punya banyak kejutan. Tak akan ada yang tahu skenario masa depan. Tuhan baru saja memilih pemeran dalam kisah hidup yang akan dituliskan oleh garis takdir. Entah mereka hanya jadi kameo atau kembali berlakon sebagai pemeran utama,sekali lagi semuanya menjadi bagian dari kejutan-kejutan yang dipersembahkan oleh kehidupan.

Wahai langit …. 
Tanyakan pada-Nya Mengapa Dia menciptakan sekeping hati ini ….
Begitu rapuh dan mudah terluka ….
Saat dihadapkan dengan duri-duri cinta Begitu kuat dan kokoh ….
Saat berselimut cinta dan asa ….
Mengapa Dia menciptakan rasa sayang dan rindu di dalam hati ini ….
Mengisi kekosongan di dalamnya Menyisakan kegelisahan akan sosok sang kekasih Menimbulkan segudang tanya ….
Menghimpun berjuta asa ….
Memberikan semangat juga meninggalkan kepedihan yang tak terkira ….
Mengapa Dia menciptakan kegelisahan dalam jiwa ….
Menghimpit bayangan ….
Menyesakkan dada ….
Tak berdaya melawan gejolak yang menerpa ….
Wahai ilalang ….
Pernahkan kau merasakan rasa yang begitu menyiksa ini ? Mengapa kau hanya diam ….
Katakan padaku ….
Sebuah kata yang bisa meredam gejolak jiwa ini ….
Sesuatu yang dibutuhkan raga ini ….
Sebagai pengobat rasa sakit yang tak terkendali ….
Desiran angin membuat berisik dirimu ….
Seolah ada sesuatu yang kau ucapkan padaku ….
Aku tak tahu apa maksudmu ….
Hanya menduga ….
Bisikanmu mengatakan ada seseorang di balik bukit sana ….
Menunggumu dengan setia ….
Menghargai apa arti cinta ….
Hati terjatuh dan terluka ….
Merobek malam menoreh seribu duka ….
Kukepakkan sayap – sayap patahku ….
Mengikuti hembusan angin yang berlalu ….
Menancapkan rindu ….
Di sudut hati yang beku ….
Dia retak, hancur bagai serpihan cermin ….
Berserakan ….
Sebelum hilang diterpa angin ….
Sambil terduduk lemah Ku coba kembali mengais sisa hati ….
Bercampur baur dengan debu ….
Ingin ku rengkuh ….
Ku gapai kepingan di sudut hati ….
Hanya bayangan yang ku dapat ….
Ia menghilang saat mentari turun dari peraduannya ….
Tak sanggup kukepakkan kembali sayap ini ….
Ia telah patah ….
Tertusuk duri yang tajam ….
Hanya bisa meratap ….
Meringis ….
Mencoba menggapai sebuah pegangan …. 

(Kahlil Gibran)

THE END

Cuap cuap Author :

EITSSS tahan komennya duluuu!! Haha
Gimana gimana gimana? Pada suka gak? Ini adalah ending yang berhasil author – gaje yang suka nunda ff selama berbulan bulan sampe 3 kali puasa tiga kali lebaran- ini pikirkan. Kalo menurut aku sendiri sih untuk ukuran cerita angst endingnya kurang BINGITSSS. Kurang greget, kurang menggigit, kurang nendang, kurang nampar *etdah ini ff atau adegan KDRT?*

Tapi yah,mau diapa lagi daripada readersnya lumutan nunggu gara2 authornya ga nemu nemu ending yang PAS, yah ginilah. Terima sejadinya aja ya readers tercinta sebangsa dan setanah air hehe

Yaelah gak usah pada ditekuk gitu mukanya. Author punya kabar bagus nih, rencananya bakal ada kok epilognya tapi ga tau kapan sih bisanya haha. Kalau bisa aku kerjain yah aku adain epilognya tapi kalau ga bisa aku kelariin yaaa terima yang ini aja yah.. yah yah..

Jujur ya, ini ff author yang paling berkesan dibanding ff ff yang lain. Sadar ga sih ini ff bikinnya pas 2012 dan sekarang udah tahun berapa coba??? 2014 Coyyyyy wuakkakaka lama banget yah. Ingat dulu ngerjain ini masih jadi maba eh kelarnya juga pas udah mau nyusun skripsi gini wkwkw

Makanya pas nulis part terakhir ini rada ngegalau juga. Ngebayangin gimana readers yg udah setia banget selama hampir 3 tahun nungguin ff ini. Kadang di PHPin sama aku, kadang digantungin,dibuat jamuranlah,lumutanlah, tapi masih setia nunggu ff abal abal ini, MAKASIH BANYAK.

Buat semua readers yang selalu setia komen, selalu ngikutin kelanjutan ff ini, yg ngedemo di twitter minta dilanjut, cuma bisa ngomong TERIMA KASIH BANYAK SEMUANYA !!!

Maaf gak bisa ngasih apa apa sebagai hadiahnya 😦 Coba bisa sungkem, aku sungkem deh satu satu sama readersnya hahaha *lebay*

Sebenernya pengen nyantumin thanks to satu satu nama kalian kayak di Love and Truth dulu tapi takut ada yang gak kesebut trus merasa kecewa, jadi untuk menghindari hal hal yang kayak gitu makanya aku ucapin untuk SEMUA READERS FF INI aja… Kayaknya itu lebih adil, jadi semuanya mencakup bahkan untuk silent reader juga hahha

Soal komen komennya, sebenernya pengen aku bales satu satu cuma waktunya ga ada. Terakhir ngebales komen di dua part sebelum ini itupun ga sempat kebales semua. MAAF ya. Ga bermaksd sombong kok apalagi gak ngehargain komen kalian. Aku tuh baca semua loh cuma ga pernah ada kesempatan buat ngebalas hehehe di maafin yah 🙂

Terakhir, doain authornya ya kuliahnya selesai tepat waktu dan tugas akhirnya dilancarin semua. Mungkin abis ini bakal hiatus dulu dari dunia perffan. Tapi selama masih ada kesempatan buat nulis, pasti bakal terus ngebuat karya karya baru hehe.

Oke itu aja kata penutup dari author gaje ini yang merasa tersanjung dengan readers setianya. Sekali lagi makasih banyak semua. Maaf klo selama ini ada banyak salah sama kalian.

Yang mau bergosip bareng, atau nanya nanya soal ff ini kali aja ada yg gak jelas boleh langsung cusss ke twitter aku hehe

Nah, giliran kalian yang berkomentar hahahaha

117 responses to “THE SECOND LIFE [PART 16] END

  1. woah…keren!!suka bgt ending nya.. wlwpn emg gk happy ending bgt,tp mrk msh pny ksmptan bwt bkin crta mrk yg bru..hohoho..#ngmg apa cb?hehe#
    pko ny keren,suka bgt dh! 🙂

  2. Ga rela endingnya bakal angst kaya gini, dan aku masih deg degan karena part ini terlalu tegang dan buat aku nangis bukan main. Apalagi pas hyunchan sama baekhyun ngabisin waktu terakhir mereka, pas bagian itu aku sumpahnya marah banget sama aa suho :”
    Tapi di sisi lain aku seneng karena hyunchan yang udah siuman dan sikap baekhyun yang udah berubah, dia jadi anak yang baik dan penyayang banget sama ibunya.
    Pas tatapan mereka bertemu ga tau kenapa ada yang nyayat hati aku, sesek banget bacanya dan deg degan banget.

    Sukses selalu untuk kaka, aku akan baca dan nunggu epilognya. Karena menurutku masih sedikit ngegantung. Gantungungnya sih ya menurut aku pas ibu baekhyun bilang cwe yang selama kni di cari cari sama baekhyun, dan nasib cincin couple itu gmana coba? Nah kan.. Hehe.
    Kalo gtu selamat tinggal ff the second life. Ff ini BENER-BENER BUAT AKU DEG DEGAN SAMPE BIKIN KOMEN, KEPIKIRAN DAN BAPER. Gimana nih ka aku masih deg degan dan masih kebawa feelnya nih TT

  3. Ini akhirnya ada epilog nya gak thor, aku gemes deh di ending nya pengen ada epilog nya 😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s