It’s Not You [Part 7]

It's Not You Part 6

It’s Not You

Author            : Dwi Tesna Andini

Tittle               : It’s Not You

Length            : Chaptered

Rating             : PG-15

Genre             : Romantic, Comedy, Angst

Cast                : Chorong, Donghae, Krystal

 

* * *

 Previous : 6

Tak susah untuk mengejar sosok Krystal. Langkah gadis itu tidak sepecat Donghae, terlebih sepatu tinggi yang melilit kaki jenjangnya. Dari belakang Donghae meraih tubuh Krystal ke dalam pelukannya. Krystal berusaha melepaskan pelukannya namun tangan laki-laki itu terlalu kuat mencengkram tubuhnya.

Krystal masih terus meronta, “Lepaskan aku.”

“Biarkan aku tetap seperti ini. Aku mohon.” Donghae mulai mencium tengkuk Krystal.

“Kau tak malu dengan orang di sekitar kita?” berontak Krystal lagi.

“Baiklah.”

Tanpa melepas genggamannya, Donghae menarik tangan Krystal menuju mobilnya.

Donghae menatap Krystal yang sedang memandangi dari rute-rute untuk pejalan kaki. Ia sengaja mengajak Krystal ke taman. Taman ini memiliki pemandangan yang cantik. sangat bersih dan tertata apik. Bunga-bunga yang menjulang di sekitar taman terlihat selalu hidup karena tak pernah kekurangan air.

“Jadi benar yang dikatakan orang-orang tentangmu,” ujar Krystal membuka pembicaraan.

“Maksudmu?” Donghae tak mengerti dengan pertanyaan Krystal yang tiba-tiba.

“Tak usah menyangkal lagi, Donghae-ssi.”

“Kau memanggil aku seformal itu. Apa tak ada lagi aku di hatimu.”

“Tak peduli aku mau menyebutmu dengan sebutan apa. Yang jelas kau telah menghianatiku.” Krystal bangkit dari tempat duduknya.

Donghae menahan tangan Krystal, “Akan ku jelaskan sayang.”

Krystal kembali duduk, “Apalagi yang harus dijelaskan?”

“Sebenarnya itu hanya pernikahan kontrak?”

“Apa??” Krystal membelalakkan matanya, tak percaya.

“Seperti yang kau ketahui. Ibuku sudah terlanjur mengenal Chorong sebagai kekasihku. Sebelum kau berangkat ke Amerika, ibuku sudah menyuruhku membawamu ke rumah. Selama setahun itu, ibu selalu memaksaku untuk membawamu ke hadapannya, sampai-sampai beliau mengancamku.”

Donghae menarik nafas panjang, “Aku tidak akan dianggap keluarga jika tak menikah secepatnya. Aku tak mungkin menunggumu, kuliahmu tinggal setahun lagi. Jadi… seperti yang kau lihat.”

“Donghae kenapa ceritamu sulit sekali untuk dipercaya.”

Donghae menenggelamkan wajah Krystal ke dalam pelukannya. “Percayalah padaku sayang. Aku tak mungkin berbohong. Lagi pula aku menikah dengannya hanya sementara waktu.”

Krystal melepaskan pelukannya, “Lalu kenapa kau tak mengunjungiku sebelum aku pergi ke Amerika.”

Donghae berpikir sejenak, “Owh masalah itu. Aku sengaja melakukan itu.”

“Setidaknya kau menyusulku ke bandara. Bukankah itu pertemuan terakhir kita? Apa kau tak merindukanku, hah?”

“Sebenarnya aku berdiri di belakang punggungmu. Aku juga melihatmu berdoa sebelum kau berangkat.”

Krystal terperangah mendengar pengakuan Donghae, “Lalu kenapa kau tak menghampiriku. Padahal…”

Ucapan Krystal terputus, “Karena aku tahu, kau pasti akan membatalkan perjalanmu kalau kau melihat kedatanganku.”

“Yaa… kau menyebalkan,” ucap Krystal sambil memukul-mukul dada bidang Donghae.

Donghae kembali meraih tubuh Krystal ke dalam pelukannya. “Dan aku yakin kau pasti pulang ke sini untuk mencari tahu kebenaran isu itu. Iya kan?”

“Apa setelah lulus, kau berprofesi sebagai paranormal.”

Donghae terkekeh “Aku telah mengenalmu lebih dari lima tahun. Aku sudah menguasai perasaanmu sayang.”

“Aku tak mau terlarut dengan gombalanmu.”

Krystal melepaskan pelukannya. “Ayo kita main ayunan. Rasanya sudah lama sekali tak bermain denganmu,” ajaknya.

“Kau yang ayun,” tawar Donghae sambil mengangkat kedua alisnya. Donghae mengangkat tubuhnya dan berjalan meninggalkan Krystal yang masih duduk.

“Kau saja.”

“Aku tak mau. Tubuhmu terlihat lebih gemuk sekarang,” canda Donghae sambil mempercepat langkahnya.

“Ya, kau mengejekku.” Krystal meletakkan tubuhnya ke punggung Donghae.

“Ya.. Kau berat sekali.”

Krystal semakin mempererat lingkaran tangannya di leher Donghae.

“Aku tidak bisa bernafas.”

“Itu hukuman untukmu.” ujar Krystal tepat di telinga Donghae.

“Aku tak mau mati sekarang. Aku kan belum menikahimu.”

Setelah keceplosan mengatakan itu, Donghae teringat dengan sosok istrinya. Bagaimana kabarnyas sekarang?

* * *

Chorong berdiri di depan lift. Ini adalah hari pertama ia masuk kantor setelah melalui masa cutinya. Badannya terasa lemas sekali, pikirannya masih terpenuhi dengan kejadian kemarin. Ia tak sanggup lagi melihat Donghae, Krystal apalagi. Semalam ia sengaja tak mau bertemu dengan Donghae. Dia memutuskan untuk tidur lebih awal dan mengunci pintunya. Ia juga tak tahu apakah Donghae pulang ke rumah atau tidak. Sebab, sebelum ia berangkat kerja pintu Donghae masih tertutup. Ia memang tak berniat bertemu dengan orang yang telah menyakiti hatinya. Bisa-bisanya Donghae meninggalkan ia sendiri di tengah jalan. Benar-benar keterlaluan.

Bunyi dentig halus membuyarkan lamunan Chorong. Pintu lift sudah terbuka lebar. Ia memasuki lift tersebut dan diikuti oleh beberapa orang di depannya. Chorong menekan tombol naik. Sekilas ia melihat seorang laki-laki yang sepertinya pernah ia lihat sebelumnya tengah berjalan menghampiri lift. Pintu lift itu sudah tertutup rapat. Chorong menahan nafas, namun terhenti. Kemudian ia mengabaikan laki-laki itu saat pintu lift sudah terbuka lagi.

Chorong melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya. Ia melambaikan tangannya kepada Eunji yang sedang menghadap layar komputer. Eunji adalah partner kerjanya sekarang, dan dia termasuk orang yang sangat baik hati karena telah menggantikan posisinya selama cuti.

Chorong mengambil posisi duduk di tempat kerjanya. Tumpukan kertas sudah menumpuk di meja kerjanya. Kepalanya sebentar lagi akan pecah jika mengerjakan ini semua. Ditambah lagi pesan dari emailnya membuatnya tak hanya kepalanya saja yang pecah melainkan jarinya dipastikan akan putus.

Sambil sibuk mengerjakan beberapa file di layar komputer. Pikirannya juga masih saja dipenuhi oleh Donghae. Beberapa kali ia mengetik kata Donghae di file-nya. Untung saja program di microsoft word bisa dapat mendeteksi kata-kata aneh di sana hanya mengklik ctrl+f. Karena ia mengetik tanpa sadar ia telah menulis kata-kata diluar konteks. Dalam file yang ia ketik ia sudah mendapat sebelas kata Donghae, dua kata Krystal, dan empat kata nenek sihir. Keterlaluan sekali.

“Yeobseyo,” ucap Chorong saat mengangkat telepon di meja kerjanya.

Sebuah jawaban datang dari seorang wanita, “Park Chorong, Anda disuruh menghadap CEO di ruangannya sekarang.”

“Owh baik, saya ke sana sekarang. Terima kasih.” Chorong menutup pesawat teleponnya.

“Kau mau ke mana?” tanya Eunji saat melihat Chorong keluar dari meja kerjanya.

“Pak bos memanggilku ke ruangannya. Kau mau ikut?”

“Aigoo lebih baik aku ke neraka saja dari pada harus berhadapan dengannya,” jawab Eunji dengan wajah ketakutan.

“Memangnya kenapa?” Chorong menatapnya tak percaya.

“Kau belum tahu. Pak bos kita sekarang adalah anaknya Jang sajangnim. Dia sangat menyeramkan sekali. Sangat berbeda dengan ayahnya.” Bulu kuduk Eunji mulai merinding menceritakan bosnya.

“Apakah kepalanya botak.” Chorong malah bertanya yang tidak-tidak.

“Tidak. Dia masih muda dan dia sangat tampan. Cuman ketampanannya tertutupi oleh sikap galaknya.” Dasar Eunji tak bisa melihat orang tampan. Pasti matanya sudah seliweran ke mana-mana. Lama-lama Tuhan jengah dan menjulingkan matanya.

“Aku jadi penasaran.”

Obrolan mereka terhenti saat terdengar deringan telepon dari meja Chorong.

“Sepertinya gosip tentang CEO galak ditunda sementara. Aku harus cepat ke sana. Daoakan aku Eunji-aa,” ucap Chorong sambil memegang kedua tangan Eunji untuk meminta restu.

“Doaku selalu menyertaimu,” balas Eunji dengan wajah haru.

Chorong menatap pintu dengan pasrah lalu meninggalkan Eunji yang sedang menghela nafas.

“Kau sudah ditunggu di ruangannya,” sekretaris Kwon mempersilahkan Chorong masuk.

Chorong membungkukkan badanya kemudian meraih gagang pintu. Ruangan itu pasti akan terasa panas. Pendingin ruangan itu mungkin tak akan bekerja lagi.

“Selamat pagi sajangnim,” sapa Chorong ramah.

“Silahkan duduk,” jawab CEO itu ramah.

Sebelum berani menatap bosnya secara langsung, Chorong terlebih dahulu melihat papan nama yang terpampang di atas meja, Jang Hyunseung. Chorong terperangah saat melihat orang yang di depannya kini. Bukankah laki-laki itu yang ia lihat saat berada di dalam lift. Chorong mengingat-ngingat kembali kejadian masa lalu. Ia yakin bahwa ia pernah bertemu dengan laki-laki itu. tapi di mana?

“Park Chorong.” Sebuah panggilan membuyarkan lamunannya.

“Ne,” ucap Chorong dengan posisi menunduk.

Hyunseung meraih berkas di atas mejanya. “Park Chorong. Karyawan yang belum genap setahun bekerja di sini tapi sudah mengambil cuti terlama. Selain itu Anda juga sering telat begitu.” Hyunseung menatap Chorong yang masih menunduk.

“Maafkan saya sajangnim.”

Hyunseung memukul kepala Chorong dengan berkas yang dipegangnya. “Jika Anda sedang berbicara, tataplah lawan bicara Anda,” ujar Hyunseung dengan suara yang tidak bisa dikategorikan pelan.

Chorong mengangkat wajahnya, “Ne sajangnim, maafkan saya.”

“Dasar gadis bodoh,”

Emosi Chorong mulai terpancing, “Apa Anda meragukan intelektual saya sajangnim,” tanyanya sinis.

“Bukankah kau sendiri yang mengatakannya?” ucapnya dengan bahasa lebih santai.

“Hah?” ujar Chorong terkejut.

“Kapasitas otakmu apa tak cukup mengingat masa lampau.” Hyunseung meletakkan berkas di tangannya.

Chorong semakin tak mengerti dengan perkataan Hyunseung. Memang benar, ia berfirasat pernah betemu dengan Hyunseung tapi di mana, kapan?

“Apa kau benar-benar tidak ingat.” Hyunseung mendekatkan wajahnya ke hadapan Chorong. Gadis itu benar-benar melupakannya.

Chorong yang ditanya hanya menggelengkan kepala.

Hyunseung melonggarkan dasinya. Ia kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berpindah ke sofa. Ia mengambil posisi duduk seperti seorang wanita.

Hyunseung memukul-mukul kepalanya, “Dasar bodoh, dasar gadis ceroboh….” teriak Hyunseung dengan suara seperti wanita.

Chorong membulatkan matanya. Apakah benar Hyunseung adalah orang yang ditemuinya di taman belakang kampus. Saat di mana ia meratapi kebodohannya karena tulisannya dibaca oleh teman-teman kelasnya. Tidak salah lagi, pria inilah yang menemukan dirinya dalam keadaan kacau.

Chorong segera mengambil posisi duduk tepat di sebelah Hyunseung. “Apakah kau benar-benar mengingatnya?” tanya Chorong tanpa melepas pandangannya dari Hyunseung.

“Aku ini atasanmu, Chorong-ssi.”

“Maafkan saya sajangnim.”

Heyunsung mengibaskan rambutnya, “Aishh.. aku geli mendengarnya. Kau lebih baik bicara santai saja.”

Dasar plin-plan bukankah Hyunseung yang menyuruhnya bicara formal. Giliran diajak bicara formal malah ia geli sendiri, batin Chorong.

“Bagiamana kalau aku panggil oppa,” ujar Chorong sembari menegakkan jari telunjuknya.

“Sepertinya aku nyaman mendengar panggilan itu.”

Ceklek

Suara pintu menghentikan pembicaraan mereka. Keduanya mengangkat wajah dan menoleh. Kwon Yuri yang baru masuk ke ruangan Hyunseung membungkukkan badannya. Yuri imut dengan tampilan rambut panjang yang sengaja diikat, kulitnya kecoklatan membuat dirinya tampak begitu elegan. Dia adalah orang yang paling pelit memberikan senyuman.

Yuri sedikit kaget melihat mereka berdua yang terlihat akrab. Dengan melawan rasa gugup ia akhirnya memutuskan untuk berbicara, “Meeting sebentar lagi akan dimulai. Kami akan menunggu sajangnim di ruang meeting.”

Yuri kemudian menoleh ke arah Chorong, “Saya pinjam sajangnim sebentar.”

Setelah mendapatkan jawaban ‘iya’ dari Hyunseung. Yuri kemudian pamit keluar ruangan.

“Sepertinya aku juga akan mengikuti jejak sekretarismu yang galak itu.” Chorong membungkukkan badannya.

“Sampai ketemu jam makan siang,” ujar Hyunseung saat Chorong telah berada di ambang pintu.

Chorong hanya mengangguk dengan jawaban mengambang.

* * *

Chorong sedang duduk santai di ruang kerjanya yang sempit dan berantakan oleh kertas. Ia menjulurkan tangannya ke depan mengambil kopinya. Lalu mulai meminum kopinya. Sebentar lagi jam istrirahat tapi ia tetap berkutat dengan tugas. Saat ini ia masih sibuk dengan pekerjaannya yaitu menganalasis produk yang tengah tren di pasaran.

Chorong memegang kepalanya yang mulai terasa pusing.

“Chorong-ah.”

Chorong mendengar suara Eunji yang seperti biasa selalu ceria. “Apa?” ucapnya menoleh ke arah Eunji.

“Bagaiamana pertemuan kau tadi dengan pak bos.”

“Seperti yang kau lihat.” Chorong kembali memegang kepalanya yang pusing.

“Pasti kau habis dibantai habis-habisan,” terka Eunji sok tahu. Ia mengira Chorong terlihat lesu karena mulut pedas Hyunseung.

“Tidak juga,” jawab Chorong acuh tak acuh.

“Aku heran dengannya padahal masih muda tapi tingkahnya seperti orang berumur lima puluh tahun. Mulut pedasnya memang berfungsi sebagai penebar hawa panas di sekujur tubuh orang yang bearada di sekitarnya. Dan kau tahu aku rela naik tangga dari pada harus satu lift dengannya. Aku tak sanggung menatap wajahnya yang sangar. Aku sampai bertanya-tanya, apa dia lupa bagaimana cara tersenyum?” oceh Eunji panjang lebar.

Chorong tersenyum mendengar ocehan yang tanpa spasi itu, “Anggap saja dia lagi PMS.”

“Yaa.. dia kan laki-laki,” bantah Eunji.

“Anggap saja dia juga ikutan PMS,” ujar Chorong dengan suara penuh penekanan.

“Tapi ya, namanya orang pasti memiliki siklus tersendiri. Kadang dia bahagia, kadang dia sedih. Terkadang jadi orang pemarah jika lagi PMS. Sedangkan pak bos itu marahnya setip hari.”

Chorong menyesap kopinya kembali. Yahh sudah dingin. “Anggap saja PMS-nya dia tiap hari.”

“Hahh kau ini, tak pernah membelaku.”

Chorong hanya tertawa mendengar perkataan Eunji.

“Kau tahu tiap hari wajahnya selalu seperti ini.” Eunji mengembungkan wajahnya dan memonyongkan bibirnya beberapa senti.

“Hemm”

Suara di sebelahnya membuatnya menghentikan aktivitasnya sementara waktu. Eunji kelabakan tak tahu harus berbuat apa. Tanpa memandang ke arah sumber suara yang dia sendiri sudah tahu siapa pemilik suara tersebut, Eunji memutuskan kembali ke meja kerjanya.

Hyunseung melihat Eunji sekilas kemudian beralih menatap Chorong. “Chorong-ssi temani aku makan siang.”

“Ya?” Chorong bertanya seperti orang yang tak mendengar.

Hyunseung menarik tangan Chorong dengan paksa. Chorong terpaksa harus meninggalkan ruang kerjanya, sekilas ia menatap ke belakang. Melihat Eunji yang menatap dirinya dengan tatapan tak percaya.

Hyunseung sengaja mengajak Chorong makan siang di restauran Italia, selain karena rasanya enak, tempat itu juga dekat dengan kantornya. Jadi mereka tak buru-buru mengejar waktu saat jam istirahat telah habis. Hyunseung memilih meja kosong di pojok dan memandang berkeliling mencari pelayan. Ia mengangkat sebelah tangan ke arah pelayan yang menuju ke mejanya. Pelayan itu menyodorkan menu tersebut ke arah mereka berdua.

Chorong sempat terperangah dengan harga yang tertera di sana. Harganya bisa memenuhi kebutuhan makannya berhari-hari.

“Aku pesan Eliche satu, dan strowbery float,” ujar Hyunseung kepada pelayan.

“Kau,” tanya Hyunseung kepada Chorong.

“Hmm. Aku baked ziti dan vanila late.” Setelah mengatakan itu Chorong mengembalikan menu tersebut kepada pelayan.

Omong-omong soal masakan Italia, Chorong jadi teringat Donghae. Ia sempat berjanji untuk memasak spagethi untuknya sebelum malapetaka itu terjadi. Kenapa selalu Donghae yang ada dipikirannya. Ia menepiskan bayangan terhadap laki-laki itu.

“Terima kasih,” sahut Chorong kemudian ia dengan senang hati menerima ajakan Hyunseung. Ia memang bosan harus makan sendirian, meskipun terkadang ditemani oleh Eunji. Selain itu mumpung gratis, sikat saja.

Hyunseung hanya membalasnya dengan tersenyum. Senyumnya sangat manis. Rasanya air es sudah mulai meleleh di kepala Chorong.

Hyunseung menatap Chorong sejenak, “Wajahmu kacau sekali seharian ini, sama persis seperti waktu aku menemuimu pertama kali. Apa wajahmu memang selalu seperti ini.” Hyunseung menyadari bahwa sebenarnya gadis di hadapannya ini sedang dalam masalah. Namun, ia tak berani menanyakan itu langsung. Siapa dia? Tahu namanya saja hanya beberapa jam yang lalu.

“Aku sebenarnya tak suka dengan keadaan berantakan seperti itu. Aku jadi malu harus ketemu ka… oppa lagi.” Chorong mengkoreksi panggilannya terhadap Hyunseung. Bukankah ia sendiri yang memiliki usul untuk memanggilnya oppa.

“Jangan biasakan seperti itu. Apa kau tak takut keriput bertandang di wajahmu sebelum waktunya.”

Chorong memandang wajahnya. Masih muda saja wajahnya sudah tak menarik lagi apalagi ditambah dengan keriput di wajahnya. Bisa-bisa Donghae menendangnya sampai pagar rumah. Donghae lagi Donghae lagi.

“Aku sebenarnya orangnya ceria. Hanya saja kau menemuiku di saat yang tidak tepat.”

“Aku yakin kau pasti lebih cantik jika sedang ceria.”

Saat itu pelayan datang mengantarkan pesanan mereka berdua. Mereka mengucapkan terima kasih dan setelah itu pergi, ia kembali menatap laki-laki di depannya. “Aku janji akan selalu ceria di depanmu.”

“Kau ingin terlihat cantik di depanku,” ujar Hyunseung dengan nada bergurau.

Wajah Chorong tegang. Matanya menoleh ke kiri ke kanan seolah ingin menjawab ‘bukan itu’. Hyunseung hanya tertawa melihat ekpresi Chorong.

“Aku mengerti. Ayo makan dulu,” tawar Hyunseung akhirnya.

“Ngomong-ngomong ada yang ingin kutanyakan,” tanya Hyunseung mencairkan suasana hening. “Sebenarnya apa yang membuatmu frustasi waktu aku pertama kali menemuimu.”

Chorong mengunyah sisa makanan di mulutnya. “Apa aku benar-benar berantakan saat itu?”

“Bahkan ku pikir kau itu orang gila,” jawab Hyunseung sekenanya.

“Aigoo aku tak yakin, aku akan seburuk itu.”

“Untung saja aku yang menemukanmu.”

“Tidak ada untungnya sama sekali,” sergah Chorong.

“Yaa ceritakan dulu kenapa kau sampai seperti itu?” desak Hyunseung.

Chorong mengangkat alisnya, berpikir-pikir, lalu menunduk menyantap makanannya kembali. “Bukan apa-apa.”

“Ada apa?” bukan itu jawaban yang ingin didengarkan oleh Hyunseung.

“Apa kau begitu penasaran dengan ceritaku?” ujar Chorong sambil mengelap sisa noda di mulutnya.

Hyunseung menghembuskan nafasnya dengan keras. Baiklah, sepertinya ia sungguh harus menekan rasa penasarannya. Saat ini mungkin Chorong tak mau mengungkit masa lalu itu. sebagai gantinya Hyunseung mencari topik baru.

“Aku jadi teringat dengan teman di sebelah mejamu tadi.”

“Eunji maksudmu?” Tanya Chorong memastikan.

Hyunseung mengangguk, “Sepertinya ia takut sekali bertemu denganku.”

Chorong tertawa, “Karena kau selalu memasang wajah sangar.”

“Apakah aku begitu menyeramkan.” Hyunseung memegang-megang wajahnya.

Chorong meminum vanilla late yang tinggal setengah, “Tidak juga. Kau sebenarnya sangat baik.”

“Tapi jangan bilang-bilang ke temanmu kalau aku itu berhati malaikat.”

“Aishh orang baik belum tentu berhati malaikat,” sela Chorong. “Memangnya kenapa kau tak mau terlihat baik?”

“Biar aku tetap terlihat seperti bos,” candanya.

“Bercandamu tak lucu. Ngomong-ngomong sebenarnya yang menyeramkan itu Yuri, sekretarismu,” ujar Chorong tiba-tiba.

“Sebenarnya dia berhati baik,” bela Hyunseung.

“Berarti kalian benar-benar pas. Sama-sama seperti buah durian. Menyakitkan di luar tapi di dalamnya nikmat luar biasa.” Chorong mengangat kedua ibu jarinya di hadapan Hyunseung.

“Begitulah,” jawab Hyunseung.

To Be Continued

 

 

10 responses to “It’s Not You [Part 7]

  1. Aigoooo… Kependekaan eonni.. >.< Ditunggu yaa kelanjutannyaaa… Mkin serru.. Aku slalu nungguin ff ini loh eoonn 😉

  2. kependekan. Tp bikin penasaran, kayaknya itu tujuan author ya?? /plak/ *sok tau* ditunggu kelanjutannya thor. Semoga cepet update

  3. yah~ kependekan thor ><

    gk ada momen donghae-chorong sama sekali sih??

    keep writing n fighting ^^9

  4. Aigoo apa hyunseung jatuh hati sama corong? Tapi cerita ini memang keren jadi pengen getok donghae hahaaa mian thor abis gregetan sama namja satu itu. Mian mian miaaaann authornimmm

  5. Pendek author… Tapi tak apa ttp keren
    D sini banyakan adegan chorong dgn Hyunseung yah, .
    Trus itu donge ngapa malah melanggar perjanjian yg kelima sih. Dia malah beritau ke kristal masalah pernikahan mereka. Dia yg buat perjanjian dia yg ngelanggar, gmn coba reaksi corong klo smpai dia tau. Hikzz Donge penghianat.
    Tapi biar bagaimana pun yang namanya cinta segitiga pasti akan ada pihak yang tersakiti. Smua sama2 salah, smua sama2 berhak bahagia, Smua berhak egois.
    Tapi smua hanya author yang menentukan. Mau d bawa kemana hubungan mereka.
    Awas aja Donge nyakitin chorong lagi. Bakal q cekik teman q yang biasnya donge’ (ngaco mode on) hahah…
    Ditunggu next partnya. Fighting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s