[Oneshoot] Probably Perfect

Hai, ini bukan FF saya melainkan FF titipan. Setelah membacanya, dimohon memberikan apresiasi dalam bentuk komentar ya. Terima kasih.

 

Tittle: Probably Perfect

Author: Shin Ri Rin

Genre: romance

Rating: G

Main Cast:

–          Yun YooMi (OC)

–          Kwon Jiyong a.k.a GDragon ‘BIgbang’

Desclaimer: cerita dan OC milik author, jiyong sobang sebenarnya milik author juga tapi biarlah ia jadi milik YG dulu untuk mengumpulkan seember berlian dan beberapa Lamborghini. Kkkk

Notes:

Terimakasih untuk @diajengdea23 yang udah posting ff ini.

FF ini pernah di posting di blog pribadi aku, semoga suka ya dengan FF ini. kritik dan saran yang membangun bisa memajukan author newbie seperti aku. Dan kalian dapat salam dari Jiyong sobang xD

Maaf ya kalo judul dan isi cerita kurang sinkron, ntar aku ambilin Jiyong sobang buatin jembatan biar nyambung gitu :p

Happy reading ^^

————————————————————

 

“good morning…”

Sentuhannya membuat darahku mengalir lebih cepat naik ke kepala. Suaranya yang khas membuatku semakin malas membuka mata ditambah sinar matahari yang terasa hangat menerpa kulitku semakin membuat tubuhku mengulat di bawah selimut. Seseorang dengan aroma tubuh yang ku kenal merengkuhku ke dalam pelukannya hingga tak kurasakan lagi ada udara yang melewatii celah antara kulitku dan kulitnya. Perlahan dia mulai melucuti selimut yang menutupi tubuhku hingga aku bisa dengan jelas mencium aroma yang keluar dari tubuhnya. Sambil tetap memejamkan mata, udara dingin membelai kulitku,

“ireona..”

Bukannya melepas dekapannya atas tubuhku, dia malah merekatkan tubuhnya dengan tubuhku semakin dalam, dengan enggan aku mengangkat kepalaku ke arahnya dan memicingkan mata. sekalipun aku yakin siapa yang memelukku tapi aku hanya ingin melihatnya dengan lebih jelas.

“jiyong-i…”

“mm.. kau sudah bangun?”

“umm… kau tidak ada jadwal?”

“hari ini aku mengosongkan jadwalku untukmu. Kau masih mengantuk?”

“sedikit. Bisakah aku tidur lagi sebentar?”

“10 menit lagi eung? kita ada janji untuk pemotretan prawedding hari ini.”

Kupejamkan lagi mataku, perlahan ia melepaskan pelukannya atas tubuhku dan beranjak dari kasurku. Tentu saja aku masih merasakan perpindahannya karena posisi kami sangat dekat.

Prawedding. Tiga bulan lalu ia melamarku di hadapan ratusan ribu penggemarnya saat dia melakukan solo concert di shibuya. Aku masih sangat mengingat bagaimana cara dia melamarku.

* * *

-FLASHBACK-

“kau akan menyusulku ke shibuya kan?”

“entahlah, aku ada schedule di sini.”

“atau kau ikut saja minggu depan bersamaku.”

“tidak bisa sayang. Schedule-ku minggu depan sangat padat.”

“aku akan membatalkannya.”

“ya!”

Aku tidak mengerti kenapa hari ini dia sangat memaksaku untuk ikut dengannya. wajah yang tadinya terlihat sangat manja berubah menjadi tekukan tekukan yang menyebalkan. Dia mengabaikanku.

“YooMi-ya… sebaiknya kau pergi menemani jiyong solo concert di shibuya lusa, eung?”

Kwong jiyong, kau bahkan meminta sajangnim untuk membujukku ikut denganmu ke shibuya. Awas saja nanti.

“tapi aku ada jadwal pemotretan lusa, sajangnim. Bagaimana mungkin?”

“jadwal pemotretanmu dilakukan sekembalinya kau dari jepang. Jiyong sangat ingin kau ikut dengannya kali ini. dia sampai memohon kepadaku minggu lalu.”

“namja itu… ye, sajangnim. Aku permisi dulu.”

Ku rogoh tasku untuk mengambil handphone dan segera menghubungi jiyong. dua kali… empat kali… lima kali aku mencoba menghubunginya tapi dia tidak mengangkatnya.

Hari ini aku menunggunya di lounge bandara, setelah hari itu aku tidak bisa menghubunginya lagi. aku melihat seseorang yang ku kenal tapi bukan kekasihku, dia…

“YooMi-ssi…”

“o? dimana jiyong?”

“dia sudah pergi semalam. aku akan pergi bersamamu hari ini. dia minta maaf karena tak mengangkat teleponmu beberapa hari ini.”

“pergi? Semalam? dia sedang mengerjaiku?”

“ada beberapa persiapan yang harus dia selesaikan di sana. neo gwenchana?”

“mm…”

Setelah tiba di Tokyo, aku masih bersama sahabatnya menuju hotel tempat kami menginap. Aku masih juga belum bertemu kekasihku itu. sahabatnya yang selalu menemaniku kemanapun aku pergi, sedang kekasihku masih sibuk dengan persiapan solo concert-nya besok malam. Dia hanya mengirimiku beberapa sms sekedar bilang cinta dan rindu tapi hampir setiap jam dia menelepon sahabatnya untuk menanyakanku tapi tak ingin bicara denganku. ’aku merindukanmu, bodoh.’ Pesan singkat itu yang ku kirim padanya malam ini.

“youngbae-ya. ayo kita ke rehearsal jiyong.”

“tidak bisa.”

“apa dia selingkuh? Apa model jepang itu ada di sana sekarang?”

“tidak.. bukan begitu. Dia memintaku untuk membawamu ke toko bunga, dia memintamu membelikannya bunga untuk konsernya malam ini.”

Aku benar-benar bisa gila karena kekasihku itu. bagaimana mungkin dia sempat-sempatnya memintaku membelikan bunga untuknya sedangkan aku tidak diperbolehkan bertemu dengannya sejak tiba di Tokyo, bukan bukan sejak tiba di Tokyo tapi sejak dia berhasil membuat jadwal pemotretanku mundur. Dengan malas ku gontaikan kakiku menuju toko bunga di dekat hotel, aku sedang tidak ingin ramah tapi beberapa dari orang-orang yang lewat berbisik sambil melambaikan tangannya dengan riang kepadaku.

Bouqet bunga sudah dalam pelukanku, aku dan youngbae pergi bersama menuju area konser. Kuberikan bouqet bunga itu kepada asistennya jiyong dan menunggunya di ruang tunggu. Dia tetap tidak datang hanya sebuah telepon darinya.

“ya! kenapa dengan pesan di bunga itu? ‘kau selingkuh?’ apa mungkin aku selingkuh darimu?”

“entahlah. Kau bahkan tidak menemuiku setelah aku tiba di jepang. Kau tidak menemuiku padahal kita satu hotel. Kau tidak mencariku dan hanya terus meminta youngbae untuk bersamaku bahkan kau tidak memperbolehkan aku menemuimu saat rehearsal. Apa aku tidak boleh curiga bahwa kau selingkuh dari ku?”

“aku hanya mencintaimu, Yun YooMi. Tiga menit lagi aku akan memulai konserku. Tetaplah menatap layar tv untuk melihatku. Aku merindukanmu.”

Tidak ada pertemuan sebelum konser, hanya sebuah telepon. Mataku terasa panas, penglihatanku mulai tidak jelas karena seluruh mataku tertutup bulir airmata yang siap jatuh kapanpun. Aku tidak mengerti dengan sikap kekasihku kali ini. ini adalah pertama kalinya dia mengabaikanku sejadi-jadinya, apa dia benar selingkuh dariku. tapi kenapa dia mengajakku ke jepang kalau nyatanya dia akan berselingkuh. Apa dia ingin menunjukkannya kepadaku. ah aku benci karena spekulasi-spekulasi yang kubuat ini.

“malam ini aku punya tamu yang sangat special. Dia sengaja kuculik dari pekerjaannya di seoul. Mungkin beberapa dari kalian telah melihat dia berkeliaran di hotel atau mungkin melihatnya di beberapa tempat di shibuya. Apa kalian penasaran siapa tamu spesialku? Aku juga penasaran dengan apa yang dipersiapkan kru untuknya. Mari kita lihat bersama.”

Sebuah video diputar pada layar raksasa di belakang tubuh jiyong, dia berbalik lalu duduk bersila dan menonton video yang diputar kru. Ini… foto-foto yang diputar ini… lagu yang mengiringinya ini… apa maksudnya.

Sebuah slideshow foto-foto jiyong dan aku berputar dengan lagu yang paling kusukai milik temannya ‘Girlfriend-jaypark’ yang dimainkan secara akustik. Hanya senyuman yang kulihat dari wajahnya saat menonton video itu, airmata yang mengalir segera berhenti berganti sunggingan senyum. Bagaimana bisa dia memutar video itu di hadapan ratusan ribu fansnya, apa hubungan kami sudah menjadi hubungan public.

“YooMi-ssi, silakan ikut aku.”

Seorang kru korea mengajakku untuk mengikutinya, suara jiyong masih terdengar.

“kalian tau, gadis yang ada di video ini memberikanku sebouqet bunga dan juga sebuah kartu ucapan. Tadinya aku pikir kartu itu berisi ‘aku mencintaimu’ atau ‘aku merindukanmu’ tapi ucapan di kartu itu berbeda dari yang aku pikirkan. Dia mengirimiku ucapan ‘kau selingkuh?’ tentu saja aku kaget saat membacanya, sepertinya gadis ini minta dicium. Hahahaha..”

Aku sudah tiba di belakang panggung tepat saat dia melirik ke arahku dan mengedipkan sebelah matanya kepadaku. tiba-tiba lampu panggungnya mati dan hanya menyisakan satu lampu untuk dirinya saja. Mau apa dia?

“Yun YooMi. Masuklah.”

Kru yang tadi menjemputku memberikan sebuah mic kepadaku dan menyuruhku mendekati jiyong, sekali lagi riuh fansnya semakin menjadi mengiringi langkahku yang mendekat ke arah jiyong. namja itu tersenyum penuh arti kepadaku.

“kau habis menangis?”

Aku tertunduk malu karenanya, apa aku tidak menyeka airmata yang tadi mengalir dengan benar?. Kedua tangannya meraih pipiku dan mengangkat wajahku agar bisa melihat wajahku dengan jelas. Disekanya sisa airmata dari pipiku. Aku terlalu deg-degan untuk ini hingga yang kudengar dari tempat ini bukan lagi teriakan riuh dari fansnya tapi hanya dengungan dan suara jantungku yang terdengar.

Backsound: will you marry me-lee seunggi (no lyric)                                                                                                       

“dia menangis karena terlalu merindukanku, aku tau itu. tapi aku mengajaknya ke sini bukan hanya karena aku ingin mengumumkan hubungan cinta kami. Tapi aku sengaja mengajaknya ke sini untuk melamarnya di hadapan kalian. Pertengahan musim semi nanti kami akan menikah. Yun YooMi, aku sudah mempersiapkan pernikahan yang kau inginkan sejak dulu. Tapi pesta pernikahan itu tidak akan berlangsung kalau hanya ada aku di altarnya. Aku membutuhkanmu sebagai pengantin wanitanya. Maukah kau menjadi pengantin wanita yang akan bersamaku di altar nanti?”

Pipiku telah basah lagi oleh airmata kali ini bukan airmata kekesalan tapi airmata kebahagiaan setelah mendengar lamarannya. Kilatan lampu kamera semakin menjadi, gemuruh fans nya kembali terdengar, teriakan yang tak berhenti dari bibir-bibir fansnya semua menyatu. Layar besar yang ada di samping kami memunculkan tulisan yang membuatku tersenyum. Bagaimana tidak, layar itu menampilkan pilihan: a. Yes, I Do., lalu b. choose a, lalu c. choose b. semua jawaban hanya mengacu untuk memilih pilihan a.

“cepatlah jawab, aku sudah malu di hadapan mereka.”

Jiyong menyadarkanku, aku tersenyum malu melihatnya. Tentu saja aku mau menikah dengannya. hubungan sembunyi-sembunyi selama tujuh tahun terakhir, gossip-gossip yang beredar tentang dia yang dekat dengan beberapa wanita, spekulasi-spekulasi yang membuatku cemburu setengah mati, sms-sms wanita yang menggodanya. Hal-hal  yang mungkin membuatku menyerah seperti itu akan berakhir malam ini karena dia melamarku.

“aku memilih a sebagai jawabanku.”

Sebuah pelukan mendarat di tubuhku. Pelukan yang hangat, pelukan yang aku rindukan selama tiga hari terakhir. Keringatnya tidak lagi kupedulikan, aroma tubuhnya yang khas. Ku balas pelukannya.

“gomawo~”

Bisikan lembut yang kuterima darinya membuat ruhku telah terbang ke langit. Aku mencintainya. Ya, aku sangat mencintai kwon jiyong.

-FLASHBACK END-

* * *

Apa kau tidak merindukanku? Anak ini merindukanmu, temuilah aku, aku sedang di London juga.

Pesan singkat di ponselnya membuatku terduduk lesu. Yeoja ini… wanita jepang ini… masih menghubunginya? Apa jiyong masih berhubungan dengannya? kenapa dia bisa tau kami berada di London? Dan tunggu.. anak? Apa wanita itu hamil anak jiyong? Aku menatap tunanganku yang sedang berganti pakaian, senyuman yang terkembang darinya tak membuatku bergeming untuk membalasnya. Aku hanya menatapnya kosong namun terasa baju yang kupakai ini menyempit, dadaku sesak.

“yoomi-ssi, silakan menuju lokasi.”

Kru pemotretan memintaku menghampiri jiyong yang sudah terlebih dahulu berada di lokasi pemotretan prawedding kami. Kami melakukan pemotretan di London, inggris Negara kesukaanku. Berjalan menghampirinya, aku sudah kehilangan semangatku untuk melanjutkan ini. berdiri di dekatnya membuat dadaku semakin sesak, ku pegang dadaku dan mencoba bernafas dengan benar.

“aku.. tidak bisa melanjutkan ini lagi. aku mau pulang ke hotel.”

Semua mata menatapku heran, aku hanya melengos tanpa memedulikan panggilan jiyong. langkahku terhenti, sebuah tangan menggenggam erat tangan kananku dan memberikan tenaga yang membuatku tubuhku berbalik menghadapnya.

“ada apa? Kenapa denganmu?”

“entahlah.. dadaku terasa sesak, jiyong.”

“kau sakit? Kau menangis? Yoomi… ada apa?”

“aku hanya ingin kembali ke hotel, aku lelah. Tolong lepaskan genggamannya, apha~”

Genggaman yang terasa kuat perlahan melemah dan terlepas. Wajahnya terlihat bingung dengan sikap yang kuberikan. Aku tidak  berminat untuk membahasnya di sini, ini adalah masalah pribadi kami dan aku tau ini bukan untuk dibicarakan public. Aku kembali ke hotel masih dengan menggunakan dress yang akan kugunakan untuk pemotretan tadi.

Aku hanya menangis kesal mengingat sms yang kubaca di ponsel jiyong, tak lama jiyong tiba di kamar kami dan menghampiriku. Ia sudah berganti pakaian.

“yoomi-ya… ada apa?”

“kau masih berhubungan dengan model jepang itu?”

“apa maksudmu?”

“bagaimana dia tau kita sedang di London? Kau masih berhubungan dengannya?”

“aku… tidak mengerti.”

“sms di ponselmu.”

Dia merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel dan melihat sms yang ku maksud tadi, raut wajah yang tenang dan bingung berganti menjadi keterkejutan yang membuatku yakin dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku.

“aku bisa menjelaskannya sayang.”

“kita re-schedule saja pemotretan ini, aku mau kembali ke seoul besok pagi. Aku akan memikirkan hubungan kita, jiyong”

“apa yang harus kau pikirkan? Aku hanya mencintaimu, yoomi-ya”

“cinta yang seperti apa jiyong bila kau masih bisa berhubungan dengan gadis lain tepat di depan mataku? Aku pikir kau sudah berubah, ternyata belum sama sekali. Tujuh tahun bersamamu, aku harus menelan pahit-pahit semua berita kedekatanmu dengan beberapa wanita, melihatmu berganti wanita di depanku. bahkan aku juga harus menelan harapan-harapan manis fans mu yang menginginkan kau berpacaran dengan dara eonni atau chaerin-ssi. Sampai hari kemarin pun masih banyak yang menghujat hubungan kita, jiyong. dan itu semua membuat dadaku kian sesak. Lalu kau masih menanyakan apa yang harus aku pikirkan?”

Jiyong terduduk lesu di pinggir tempat tidur, aku sendiri tidak lagi menangis. Sesak di dadaku mulai hilang, apa yang ku ucapkan tadi yang menyebabkan dadaku sesak. Masih tertunduk lesu dia mulai menghela nafas yang panjang seolah ingin mengurangi beban dalam dirinya. Hening ini sudah berlanjut tiga menit, lima menit atau sepuluh menit mungkin sampai dia mulai menengadahkan kepalanya menatapku dengan mata yang mengurai rasa bersalah.

“maafkan aku yoomi-ya. waktu itu aku sedang mabuk setelah melakukan konser di shibuya, after party yang diadakan untukku membuatku lepas kendali. Setelah kau pulang ke seoul, aku tidak menyangka dia akan hadir. Suasana sangat riuh, aku mabuk yang terlalu hingga tidak bisa membedakan antara kalian…”

“maksudmu… kau tidur dengannya?”

“maafkan aku… saat itu aku benar-benar mabuk.”

“lalu sekarang dia sedang mengandung anakmu?”

“dia bilang padaku begitu.”

“kwon jiyong… bagaimana kau bisa… aku tidak mengerti… kau tidak seharusnya menyembunyikan ini dariku… aku…”

Aku meracau, airmataku tidak terbendung lagi. dia membuatku gila. tidak bergerak dari posisiku, aku merasakan tulang-tulangku tiba-tiba menghilang tenagaku tidak ada padahal aku sangat ingin menamparnya tapi aku tidak bisa melakukannya, aku hanya bisa menangis. Tangan miliknya memegang tanganku dan menggenggamnya dengan lembut.

“singkirkan tanganmu. Sebaiknya kita akhiri saja semua ini. aku sudah tidak tahan.”

“yoomi.. maafkan aku… aku sudah berusaha mengusirnya dari hidupku, bahkan mengusirnya dari hidup kita tapi dia menolaknya yoomi. Demi tuhan, aku hanya mencintaimu dari dulu sampai sekarang bahkan sampai mati.”

“dia sedang mengandung anakmu jiyong.”

“aku akan tetap mengakui anak itu sebagai anakku bila itu memang anakku tapi untuk menikahinya? Tidak yoomi.. aku hanya ingin menikah denganmu. Aku mohon yoomi, aku tidak ingin mengakhiri hubungan kita, bulan depan kita akan menikah. Pernikahan yang sudah lama kita rancang, pernikahan impianmu.”

“tidak ada gunanya lagi sekarang. Setibanya kau di seoul, kita akan mengadakan konferensi pers tentang perpisahan kita. Lakukanlah pernikahan itu dengan wanita itu. pergilah jiyong. aku ingin sendiri.”

Aku mendorong tubuh itu menjauh dariku. aku sudah tidak ingin melihat tubuh itu di sekitarku. Aku masih mencintainya tapi hatiku terlalu sakit untuk memaafkannya. Ku tarik selimut untuk menutupi tubuhku, menggulung hingga semua menjadi gelap bagiku.

Pemotretan itu tidak dilanjutkan dan entah kapan akan dilanjutkan kembali, kini aku sudah berada di seoul lagi. mencoba menghubungi seorang teman, aku ingin membagi bebanku padanya dan tentunya mencari tau tentang hubungan wanita jepang itu dan jiyong.

“youngbae-ssi. Kau sedang sibuk? aku ingin bertemu.”

“aku masih di stasiun tv melakukan tapping. Jam 10 nanti kita bertemu di mango six gangnam saja ya. see you there.”

Aku sudah berada di mango six coffee and dessert tempat aku dan youngbae janjian, selayang pikiranku menuju jiyong. sejak aku kembali ke korea, aku belum bertemu dengannya. sekalipun kami satu agency tapi sebisa mungkin aku menghindarinya. Manager ku selalu menyampaikan bahwa jiyong menghubungiku, jiyong ingin menemuiku, jiyong datang ke rumahku dan jiyong yang berusaha mencariku. Aku menolak semua akses darinya, aku tidak tau bagaimana harus bersikap kepadanya. Wanita jepang itu sempat menghubungiku tapi aku menolaknya juga. Aku takut mendengar kenyataan itu darinya.

“sudah lama?”

Suara youngbae memecah lamunanku. Tersenyum kepadanya, kugelengkan kepalaku sebagai ganti kata jawabanku. Dia beralih duduk di hadapanku. wajahnya terlihat tenang dan membuatku lebih rileks.

“apa jiyong tau kita bertemu?”

“iya.. aku memberitahunya. Aku pikir dia harus tau. Ada apa dengan kalian? Pernikahan kalian tinggal hitungan minggu.”

“kiko hamil, dan itu anak jiyong. Bagaimana aku bisa melanjutkan pernikahan kami?”

Wajah terkejut dari youngbae beralih menjadi tatapan kasihan untukku. Youngbae tak menanggapi pertanyaanku, dia menyeruput ice Americano miliknya dan mengambil napas yang panjang dari hidungnya.

“sebenarnya aku ragu itu anak jiyong. harusnya kau lebih tau tentang jiyong yoomi-ssi. Aku tidak yakin jiyong melakukannya.”

“tapi dia sendiri telah mengakuinya.”

“keadaan memaksanya untuk mengakui itu tapi aku yakin itu hanya jebakan kiko saja. Bisa jadi dia telah hamil lebih dulu sebelum melakukannya bersama jiyong lalu pura-pura bahwa ia hamil karena jiyong. ayolah yoomi, jiyong memang playboy dia terang-terangan menduakanmu dengan beberapa wanita namun kau juga bertahan untuknya dan selalu memaafkannya. Tapi setelah dia melamarmu, jiyong sudah tidak pernah lagi menerima ajakan wanita lain untuk bermain dengan mereka. kejadian kiko hanya ketidaksengajaan saja, dia sendiri kaget dengan kehadiran kiko di after party setelah kau kembali ke seoul.”

aku tak mampu menanggapi pernyataan youngbae lagi. kekasihku memang seorang playboy, dia memang terang-terangan menduakanku. Bermain wanita di hadapanku, selalu membuatku menangis melihatnya melakukan itu. tapi dia tidak pernah sekalipun meminta putus dariku bahkan selalu mengumbar kata cinta kepadaku dan selalu bilang bahwa dia sengaja melakukan selingkuh di depanku karena aku terlalu cuek terhadapnya dan agar aku selalu tahu gerak-geriknya daripada dia harus membuatku berspekulasi di belakangnya.

“agency sedang menyelediki tentang ini, beruntung beritanya belum sampai di netizen jadi jiyong masih bisa sedikit bernafas lega. Aku baru ingat jiyong titip pesan, kalau kau bersedia menemuinya besok. Dia akan menunggumu di ruang latihan di gedung agency jam 8 malam besok. Kau baik-baik saja yoomi-ssi?”

“aku rasa begitu. Agency sedang menyelediki tentang ini? apa mungkin kiko menjebak jiyong?”

“mungkin saja, mereka hanya bertemu sekali saat tahun baru di vegas. Setelahnya tidak ada pertemuan lagi, yang aku tau waktu jiyong sibuk mempromosikan albumnya di jepang. Kiko selalu mencari celah untuk bertemu jiyong. manager jiyong yang menceritakan itu jadi selalu ada kemungkinan tentang itu yoomi-ssi.”

“aku sampai lupa.. kau sudah makan youngbae-ssi?”

“aku sudah makan. Kau sendiri?”

“aku juga sudah makan.”

“sebaiknya kau pulang yoomi-ssi. Apa kau mau ku antar?”

“tidak usah. Aku membawa mobil sendiri ke sini. gomapta youngbae-ssi”

Kami berpisah. Kulaju mobilku menuju rumah. Apa mungkin wanita itu berani melakukannya?

* * *

Setelah pemotretan untuk majalah vogue, aku melaju mobilku ke agency. Masih di parkiran, aku ragu menemuinya malam ini. entah apa yang akan dia bicarakan kepadaku. aku sendiri tidak mengerti kenapa aku berada di sini untuk menemuinya. Menjadi ragu untuk menemuinya tapi juga ada kerinduan yang hampir membuncah untuknya. Apa aku harus menemuinya atau aku pulang saja ke rumah? Baru akan menghidupkan mesin mobilku sebuah ketukan dari kaca mobilku membuatku terjaga dari lamunanku.

“masuklah ke dalam, aku ingin bicara.”

“aku tidak datang untuk menemuimu. Aku baru akan pulang.”

“jangan seperti ini sayang. Kalau kau tidak datang untuk menemuiku, lalu untuk menemui siapa? Atau kau tidak mau bicara di sini. kau mau bicara dimana? Di rumahmu? Atau di taman dekat sungai Han?”

“bicaralah di mobilku.”

Jiyong duduk di simpingku. Beberapa saat suasana hening yang terdengar hanya desahan nafas kami yang bergantian.

“apa kabarmu sayang?”

“baik.”

“aku merindukanmu. Sungguh-sungguh merindukanmu. Aku sangat tersiksa karena tidak bisa menemuimu padahal kau adalah tunanganku.”

“apa yang mau kau bicarakan?”

“tentang wanita itu… tadi pagi aku sudah mendapatkan perkembangan terbaru dari sajangnim. Anak yang dikandung kiko bukan anakku. Itu anak kekasihnya yang pergi meninggalkan tanggung jawab.”

“namja itu bukan kau?”

“kalau memang itu aku, aku akan mengakui anak itu. tapi itu bukan aku sayang. Percayalah.”

Dia mengambil ponsel dalam saku celananya dan mulai menghubungi seseorang. Mengaktifkan loud speaker, seorang wanita menjawab panggilannya.

“moshi-moshi?”

Bahasanya.. mungkinkah itu kiko? Jiyong menggunakan bahasa jepang untuk berkomunikasi dengan wanita itu. aku tidak terlalu paham dengan pembicaraan mereka namun kemudian dia menyerahkan ponselnya kepadaku.

“hello, yoomi. This is kiko. I wanna say sorry, so sorry. I fell guilty for trapping your fiancé to be responsible for my pregnancy. It’s not he’s fault. I’m the one. I’m sorry, yoomi-ssi”

 “are you sure about it?”

“yes. I’m sorry…”

Aku memutuskan sambungan telepon dengan kiko. Dada yang sesak itu kini terasa sangat lega, sebongkah batu yang menghalanginya perlahan hancur menjadi butiran kerikil lalu debu dan terbang terbawa angin. Air mataku mengalir deras, ada kehangatan di ujung jemariku. Tangan jiyong sudah meraih dan menggengam tanganku lembut perlahan ditariknya tanganku sehingga tubuhku mendekat ke arahnya, pelukan yang kurindukan terasa sangat hangat dan menenangkan. Tangisku menjadi saat dia mengecup lembut kepalaku.

“mianhaeyo, jiyongi.”

“gwenchana chagi-ah. nan bogoshipposeo. Neomu neomu bogoshippo.”

“na do… saranghae…”

Jiyong mengajakku pulang ke rumah kami, sebuah rumah yang dipersiapkannya untuk tempat tinggal kami setelah menikah. Hanya sesekali kami tinggal di sana karena waktu kebersamaan kami juga tidak banyak. Sebuah rumah di lantai 18 apartemen yang berada di tengah kota seoul. Rumah ini telah di desain sesuai dengan seleraku sebagai hadiah pernikahan kami.

Aku membuatkannya espresso dari mesin espresso yang ada di dapur kami. Dia duduk di sofa yang menghadap ke jendela dengan pemandangan kota seoul di malam hari. aku sangat bersyukur bahwa ini hanya kesalahan yang sengaja dibuat wanita jepang itu.

“yoomi-ya… kemarilah. Duduk di sebelahku.”

Aku mendekat dengan dua cangkir espresso di tanganku, menaruhnya di atas meja di depan kami lalu duduk di sampingnya. Menempelkan kepalaku di dadanya yang terbuka karena tangan kanannya merangkulku dengan lembut.

“jadi.. kita tetap akan menikah bukan?”

“mmm.. kau belum membatalkan apapun kan?”

“tidak mungkin aku batalkan. Yeoja yang aku nikahi adalah dirimu, sampai hari pernikahan aku akan terus membujukmu untuk tetap menikah denganku. bagaimanapun caranya kau akan kunikahi.”

“jinjjahaeyo?”

“o… aku mencintaimu dari dulu, kini dan sampai akhir hidupku bahkan di kehidupan yang akan datang aku akan tetap mencintaimu yun yoomi.”

Tangan kirinya yang tadi menggenggam tanganku beranjak naik dan meraih daguku lalu mengangkatnya sehingga aku bisa melihat jelas wajah namja yang akan menikah denganku nanti. Wajah jiyong mendekat ke arahku dan bibirnya berhasil menyentuh bibirku dengan lembut, pahit rasa bibir yang menyentuh bibirku tapi kemudian menjadi sangat manis. Ku pejamkan mataku untuk merasakan kelembutan bibir jiyong. sedikit ku buka bibir bawahku, terasa semakin dalam bibir kami bersentuhan. Ciuman kami yang lama membuatku sedikit kesulitan bernafas, ku tarik wajahku menjauh dari wajahnya dan membuka mataku. Yang kudapati adalah matanya yang menatapku dengan lembut.

“bolehkah aku melanjutkannya?”

Apa maksudnya dia akan mengajakku melakukan ‘itu’? bagaimana ini? jelas ini akan jadi yang pertama untukku.

“ini akan jadi yang pertama untuk kita.”

“maksudmu untukku?”

“untukku juga yoomi-ya..”

“apa kau tidak pernah tidur dengan wanita lain? apa kiko bukan wanita?”

“ya! aku tidak pernah tidur dengan wanita lain. dengan kiko? Aku diperkosanya.”

“ya! bagaimana mungkin yeoja memperkosa namja. Kau pasti sangat menikmati tidur dengan kiko?”

“yun yoomi..!!! kenapa bahas kiko lagi? aku kehilangan selera.”

Aku tersenyum puas karena mematahkan selera nakalnya. Dia kembali menyeruput espresso sampai habis lalu menghidupkan tv dan mencari acara yang bagus. Dia berhenti mempedulikanku dan sibuk dengan tv, hingga kami sama-sama terkejut melihat berita terbaru yang disiarkan tv

Model Jepang Kiko mengaku anak yang dikandungnya adalah anak bintang hallyu terkenal di korea selatan G-Dragon.

Jiyong yang panic langsung meraih ponselnya dan menghubungi entah siapa, aku shock melihat berita itu. kemudian aku merasakan genggaman yang kencang menyambar tanganku. Tangannya.

“kau tunggu di rumah, jangan kemana-mana. Aku akan mengurus ini dengan sajangnim. Arrachi?”

“aku tidak mengerti. Itu anakmu atau bukan hah?”

“bukan.. itu bukan anakku. Percayalah. Aku sudah menelepon HyeSun nuna untuk menemanimu di sini. aku pergi dulu.”

Dia mengecup kepalaku dan langsung pergi meninggalkanku sendiri di sini. masih kuperhatikan berita itu.

GDgragon-ssi dan kiko-ssi diketahui pernah menghabiskan malam tahun baru di vegas, dan beberapa kali melakukan pertemuan secara private di jepang. Pertemuan terakhir mereka adalah saat GDragon-ssi mengadakan after party setelah konser di shibuya. Padahal seperti kita ketahui, malam konser GDragon-ssi diadakan ia baru saja melamar seorang model cantik korea selatan Yun YooMi yang dilansir telah berpacaran selama tujuh tahun.

Rekam jejak percintaan GDragon-ssi membuat cap playboy menempel di dirinya selain karena lagu-lagu sexy yang dibuatnya, berita kedekatan GDragon-ssi dengan beberapa artis membuat cap playboy semakin melekat di dirinya.

Sampai berita ini diluncurkan, agency tempat GDragon-ssi dan Yun YooMi-ssi bernaung belum bisa di hubungi.

wanita jepang itu benar-benar sudah gila. bel pintu rumahku berbunyi. Ku buka pintu dan melihat HyeSun eonni dengan tatapan cemas langsung memelukku. Tubuhku yang tadinya menegang melihat berita itu langsung kehilangan tenaga dan terhuyung jatuh, tangisku pecah. HyeSun eonni masih memelukku.

“tenangkan dirimu yoomi-ya.”

“eonni…”

Eonni memapahku duduk di sofa kembali. tangis sesenggukan dariku masih saja ada. Entah apa yang kutangisi tapi ketika HyeSun eonni memelukku tubuhku terdorong untuk menangis.

“berita itu tidak benar yoomi. Jiyong sedang berusaha membersihkan namanya. Bersabarlah.”

“tiga jam yang lalu aku sudah bicara dengan wanita itu eonni. Dia juga bilang bahwa ia hanya menjebak uri jiyong. tapi kenapa berita ini beredar?”

“bersabarlah dan tunggu kabar dari jiyong.”

Aku memasrahkan tubuhku kepada HyeSun eonni untuk dibawanya ke kamar. Semoga ini hanya mimpi.

* * *

“pernikahan kita sebaiknya dimajukan jadi minggu depan.”

Ini bukan mimpi. Ini nyata, wajah kuyuh yang menatapku dan meminta pernikahan dimajukan ini milik tunanganku kwon jiyong. sudah tiga hari ini dia tidak tidur demi menyelesaikan permasalahan yang ditimbulkan wanita jepang yang bernama kiko.

“kenapa?”

“aku tidak tahan lagi. aku ingin menghentikan penderitaanmu karena aku. Dengan menikah, semua gangguan yang ditujukan untuk kita akan menghilang begitu saja. Eotte, chagia?”

“kau yakin?”

“aku yakin. Kau maukan pernikahan kita dimajukan seminggu lebih cepat.”

“baiklah.”

Persiapan pernikahan di mulai. Bukan maksudku tidak ikut andil dalam mempersiapkan pernikahan kami, tapi kami sendiri sudah memakai jasa wedding organizer untuk mempersiapkannya lagipula jiyong yang memintaku untuk tidak ikut campur. Aku tau dia adalah orang yang sangat detil dan perfeksionis, campur tanganku hanya akan  membuatnya jengkel.

Hari ini aku melakukan fitting baju pengantin di butik HyeSun eonni tanpa jiyong, karena dia harus menjadwalkan ulang undangan yang hampir semuanya telah selesai dicetak.

“gaun ini sangat cocok untukmu, yoomi-ya”

Aku sedang memakai gaun pengantin dengan panjang gaun hanya sebatas paha namun mengembang karena tumpukan tile putih di bagian roknya, bagian atas gaun menggunakan brokat warna putih dengan leher Sabrina dan tanpa lengan. Sebagai hiasan di kepalaku, aku menggunakan headband seperti bunga yang sederhana. Aku mengambil selca dan mengirimnya ke jiyong.

Yeppeuda.. kau adalah pengantin tercantik.

Aku tersenyum membaca pesan singkat darinya.

“kenapa jiyong memajukan jadwal pernikahan kalian? Bukankah masalah kiko belum selesai?”

“menurutnya ini jalan terbaik untuk menghentikan pemberitaan yang tidak benar itu.”

“apa kiko sudah membuat permintaan maaf secara tertulis?”

“sedang mereka usahakan. Jiyong sangat sibuk, aku juga sudah menanyakannya ke sajangnim kami tapi dia tidak menjawabnya dan hanya mengatakan ‘uri yoomi, kau tidak perlu mengkhawatirkan ini, staf kita sedang mengurusnya’”

Aku melepas gaun pengantin ini dan berganti pakaian. Duduk di sofa milik HyeSun eonni.

“bagaimana kabar oppaku?”

“dia akan pulang saat pernikahanmu.”

“kenapa kau tidak ikut ke paris saja eon? Kau bisa mengembangkan kemampuan desain bridal mu di sana.”

“kalau aku pergi, kau sendiri di sini. lagipula oppa mu kan hanya sementara di sana.”

“kapan aku punya keponakan kalau kalian saja hidup terpisah. Bisa-bisa aku duluan yang punya anak.”

“siapa bilang?”

“jadi kau sedang mengandung ya eon? Anyyeong, yun kecil. Bibi akan menikah dan akan segera memberimu teman kwon. Bersabarlah ya.”

Aku pamit pulang darinya dan memutuskan menemui jiyong di kantor agency kami. Tiba-tiba saja aku merindukan orang yang seminggu lagi akan jadi suamiku. Tiba di gedung agency, aku mulai menuju ruang kerjanya. Tapi yang aku temui bukan dia melainkan sahabatnya youngbae.

“dimana jiyong?”

“dia sedang di ruangan sajangnim. Apa kabar yoomi-ssi?”

“baik. Apa kau tau kelanjutan kiko?”

“aku rasa jiyong dan sajangnim sedang membicarakan itu sekarang. Tunggulah di sini.”

“aku menunggu di cafeteria saja.”

Aku berjalan ke cafeteria dan menunggunya di sana sambil menyeruput orange juice yang diberikan ahjumma tadi.

“yoomi-ya..”

Suara yang ku kenal memanggilku dari jauh. Berbalik dan melihat calon suamiku tersenyum berjalan ke arahku. ku balas senyuman manis miliknya itu.

“kau ada pekerjaan ke sini?”

“aku ingin menemuimu, tiba-tiba saja aku merindukanmu.”

“geurae? Bagaimana kalau kita melepas rindu di rumah saja?”

Mata yang nakal, senyum yang nakal bahkan suara dan pertanyaan yang nakal dari jiyong membuatku salah tingkah. Aih dia masih saja…

“bagaimana kiko?”

“sedikit lagi. bagaimana kalau kita melanjutkannya di rumah?”

“ya! kwon jiyong…”

Tanpa menunggu kelanjutan ucapanku, tangannya sudah menarik tanganku untuk mengikutinya. Dia menyuruhku naik ke mobilnya, sementara mobilku di biarkan terparkir di gedung agency. Apa dia akan benar-benar mengajakku ke rumah? Dia masih diam, sesekali melihat ke arahku dengan senyum nakal atau kedipan nakalnya. Tapi tunggu.. ini bukan jalan ke rumah kami.

“ini bukan jalan ke rumah. Kita akan kemana?”

“kau benar ingin kita menuju rumah saja?”

“ya..!! aku serius..”

“setelah dari tempat ini kita menuju ke rumah menyelesaikan urusan yang terhambat karena yeoja dari jepang itu.”

Masih saja memikirkan itu. kami tiba di sebuah taman bunga di belakang gedung hotel. Untuk apa dia membawaku ke sini? hotel? Apa dia mengajakku melakukannya di hotel?

“ini tempat kita akan mengikat janji pernikahan kita. Kau suka?”

Taman yang indah ini menjadi tempat kami mengikat janji setia. Dia benar-benar mengingat dengan detail setiap keinginanku.

“neomu choa. Sempurna.”

Dia menunjukkan dimana kami akan mengikat janji, dimana tamu undangan akan duduk, dimana stage perform untuk penyanyi yang aku suka, setiap detail yang disebutkannya sangat indah dan sempurna untukku.

“ayo kita pulang.”

Kami memang pulang kali ini, entah apakah dia akan benar-benar mengajakku melakukan ‘itu’ atau tidak yang jelas dia memintaku untuk menginap bersamanya di rumah kami.

“mandilah dulu, aku akan membuatkan makanan untuk makan malam kita.”

“kau benar-benar memanjakanku, chagia.”

“karena kau adalah hidupku, yun yoomi. Aku akan memberikan dunia untukmu bila perlu.”

Dia menggombal. Aku menuju kamar kami dan membuka lemari yang sudah terisi pakaian kami dan mulai mandi. Selesai mandi dan berpakaian aku menuju meja makan dimana dia sudah menungguku di sana.

“kau tidak mau mandi dulu?”

“kau sangat sexy saat ini.”

“kwon jiyong, kenapa akhir-akhir ini kau sangat mesum?”

“ya..! yun yoomi! Dimana letak mesumnya kalau aku memuji kesexy-anmu atau menciummu dengan lembut seperti kemarin. Apa aku perlu menunjukkan kemesumanku yang sebenarnya?”

“ah~ aku sangat lapar. Ayo kita makan.”

Aku pura-pura tidak mendengar perkataannya dan mulai memakan spaghetti aglio e olio yang dibuatnya. Setelah selesai, aku membereskan meja makan belum sempat aku mencuci piring makan kami tadi sebuah rangkulan dari jiyong mendarat di bahuku.

“aku ingin kamu malam ini, bisakah?”

“hoaamh.. aku mengantuk. Ayo kita tidur saja.”

Kulepas rangkulannya dan berjalan menuju kamar sambil menguap seolah setengah tidur. Aku berbaring di kasur kami dan mengintip jiyong yang berdiri di dekat pintu.

“aku tau kau belum mengantuk apalagi tidur. Kau mau aku menyusup ke dalam selimut?”

“ya! tidak bisakah kau menunggu seminggu lagi untuk itu? pada akhirnya kau akan mendapatkannya hanya masalah waktu.”

Mendengar pertanyaan nakalnya aku langsung bangkit dan duduk serta menghentakkan selimut sambil menatapnya dengan kesal. Kenapa dia tidak bisa sabar untuk masalah itu sih.

“apa bedanya sayang? Sekarang atau nanti..”

Dia mulai berjalan mendekat dan tiba di atas kasur kami. Mengucek-ngucek rambutku hingga berantakan. Dia sangat manis kalau sedang seperti ini, senyumnya mengembang lebar. Aku paling tidak tahan untuk mengecupnya kalau dia manis seperti ini.

-cup-

“kenapa singkat sekali? Aku mau yang lama chagia.”

Dia menyodorkan bibirnya kepadaku, ku ambil bantal dan menempelkan ke bibirnya dengan keras lalu tidur membelakanginya.

“hahahaha.. baiklah, aku akan bersabar untuk itu. mungkin kau ingin kita bisa lebih hot kalau menahan hasrat ini lebih lama lagi. kemarilah, aku ingin memelukmu.”

Aku berbalik menghadapnya, -jeng- tubuhnya sudah menghadap ke arahku sambil tersenyum. Tangan kirinya menarik tubuhku mendekat ke tubuhnya. Wangi parfum yang biasa dia kenakan menyeruak diantara hidungku. Parfume yang menggoda, pikirku.

“terima kasih, karena kau tidak pernah meninggalkanku sekalipun aku sering menyakitimu. Terima kasih karena selalu bertahan di sisiku sekalipun masalah besar menghadang kita. Terima kasih sayang, karena kau tegar sekalipun sering menerima sumpah serapah dari fansku,. Neomu neomu gomawo. Saranghaeyo.”

Pelukannya terasa sangat hangat, tulus dan menenangkanku. Bajunya telah basah oleh airmata yang terurai karena mendengar ucapannya.

“mianhae… aku selalu membuatmu banyak mengurai airmata. Airmata kesalmu, airmata bencimu, airmata sakitmu akan segera ku ganti dengan airmata kebahagiaan.”

Aku memejamkan mataku sambil berdoa semoga yang diucapkan kekasihku ini akan terwujud.

“gomawo chagia… neomu saranghae.”

Aku tidur dalam pelukan hangat miliknya.

* * *

D-DAY

Hari ini kami menikah. Aku sedang dalam persiapan untuk berjalan menuju altar. Baju pengantin yang kupakai waktu itu, benar-benar ku pakai dalam pemberkatan pernikahan kami. Bouqet mawar putih bercampur aster telah siap ku genggam. Oppaku telah pulang dari paris dan siap mengantarku ke altar untuk bertemu calon suamiku kwon jiyong.

“kau mirip sekali dengan ibu.”

Oppa melihatku dari kaca saat aku sedang merias diri yang dibantu oleh HyeSun eonni. Ku lihat oppaku yang tampan dengan jas abu-abu tua yang dipadu kemeja putih dan dasi kupu-kupu abu-abu lengkap dengan celana dasar abu-abu serta sepatu kulit warna hitam. Oppaku sangat tampan.

“gomawo oppa..”

“permasalahan kalian sudah selesai?”

“aku rasa ya…”

Aku ingat, permasalahan jiyong sebenarnya belum usai. Masih tersisa 10% lagi, tapi 10% itu akan terhapus dengan sendirinya karena penikahan kami. Ah iya, pernikahan kami tidak diliput media. Jiyong ingin ini menjadi hari yang dikhususkan untuk keluarga, kerabat dan rekan kerja kami saja. Setelah ini baru kami mengadakan konferensi pers untuk menuntaskan 10% itu.

“kau sudah siap?”

Oppa memecahkan lamunanku. Aku sendiri baru sadar bahwa aku sudah siap berjalan menuju altar dimana nantinya aku akan bertemu dengan calon suamiku untuk mengikat janji sebagai pasangan suami-istri. HyeSun eonni telah pergi menuju lokasi pengucapan janji nikah. Hanya ada aku dan oppa saja.

“yoomi-ya. kau sudah sangat besar sekarang. Oppa pikir kau akan selalu menjadi adik kecilku.”

Suara oppa mulai terdengar bergetar saat memegang pundakku dan melihatku dari kaca rias. Aku tersenyum dan menyentuh tangan oppa untuk menenangkan oppa.

“aku akan selalu jadi adik kecil untukmu oppa…”

“seandainya ayah dan ibu ada di sini…”

“oppa.. mereka memang ada di sini.”

Aku menunjuk hatiku kepada oppa. orang tua kami meninggal pada kecelakaan pesawat saat aku berumur 10 tahun, aku hidup bersama oppa yang saat itu berumur 15 tahun. Kami sempat tinggal di rumah paman dari pihak ayah sampai suatu saat oppa mengajakku pindah ke seoul saat dia masuk kuliah di perguruan tinggi S.

“kajja..”

Aku menggandeng tangan oppaku dan berjalan perlahan menuju lokasi pengucapan janji nikah. Saat tiba, kami berhenti sejenak untuk mempersiapkan langkah menuju altar dimana namja tampan milikku telah berdiri terlebih dahulu di sana.

“kau harus bahagia, adikku.”

Kami melangkah menuju altar dan para tamu yang hadir berdiri melihat kami berjalan. Aku melihat banyak tamu yang datang. Ada artis dari agency kami, sajangnim, fotografer yang kukenal, staf majalah vogue, staf dari beberapa sponsor. Dan tentunya youngbae dan suara merdunya yang mengiringiku langkahku menuju altar.

“aku serahkan adikku kepadamu, kau harus berjanji untuk selalu membahagiakannya dan menghentikan airmata duka darinya.”

“ye hyung.”

Tanganku diserahkan oppa untuk jiyong genggam lembut. Oppa meninggalkan kami di altar untuk melanjutkan pembacaan janji nikah yang telah kami buat.

“janjiku. Aku tidak akan mempermasalahkan jam kerjamu.”

“aku akan menyisihkan waktu kerjaku untuk bersamamu.”

“aku akan selalu menghubungimu untuk meminta persetujuanmu bila aku harus beradegan mesra dengan namja lain dalam pengambilan gambar untuk majalah.”

“aku tidak akan menggoda wanita lain sekalipun aku sedang tidak bersamamu.”

“aku akan menjadi istri yang penurut untukmu.”

“aku akan lebih memilih makan malam denganmu daripada minum-minum bersama member bigbang.”

“aku akan menjadi kebahagiaanmu selamanya.”

“aku akan melakukan apapun untuk membahagiakanmu.”

Begitulah janji yang kami ucapkan secara bergantian. Sebenarnya kami menyiapkan daftar yang lebih panjang dari ini sebagai janji pernikahan kami. Tapi ini hanya simbolis dan yang penting dari yang penting dalam hubungan kami. Kami menutup janji pernikahan kami dengan saling memberi hormat.

Youngbae mulai menyanyikan lagu-lagu kesukaan kami berdua diiringi dengan piano. Jiyong tau bahwa aku sangat menyukai suara youngbae sehingga untuk sore ini, dia sengaja meminta bantuan youngbae menyanyi di pernikahan kami.

* * *

-8 bulan kemudian-

“aigoo.. sebentar lagi yun kecil akan lahir.”

Aku mengunjungi HyeSun eonni di rumah sakit bersama suamiku, ia terlihat lelah karena baru selesai promo album terbaru bigbang di sejumlah stasiun tv.

“kau kelihatan lelah, jiyong-a.”

“ani nuna. Selelah apapun aku, aku harus tetap menemani yoomi kemanapun dia pergi terlebih sekarang sedang tumbuh kwon kecil dalam perutnya. Aku harus jadi suami siaga untuknya.”

“aku sudah bilang untuk istirahat di rumah tapi dia bersikeras untuk ikut.”

“aigoo… kalian semakin mesra saja.”

Usia kandunganku baru lima bulan dan seharusnya tidak masalah bagiku untuk bepergian sendiri tapi suamiku bersikeras untuk ikut kemanapun aku pergi karena hyesun eonni tidak bisa menemaniku. Ah aku masih menjadi model, baru-baru ini aku baru selesai pemotretan untuk cover majalah wanita hamil. Suamiku masih mengizinkanku untuk itu tapi tidak boleh terlalu lelah.

Semakin ke sini, dia semakin seperti pengawal bagiku.

Sangat protektif. Tapi aku semakin mencintainya.

Aku sangat bersyukur memilikinya sebagai suamiku. ucapannya tentang permasalahan yang tidak akan menghampiri kami lagi setelah menikah memang benar adanya. Pemberitaan negative tentang jiyong berakhir setelah kami menikah. Berita tentang kiko menguap begitu saja.

Sekarang kami sangat bahagia dengan kehidupan pernikahan kami.

 

-kkeut-

13 responses to “[Oneshoot] Probably Perfect

  1. GD OPPA ROMANTIS PISAAANNNNN . suka thorr keep writin ya thor . feelnya dpt konfliknya jg dpt . perfect

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s