The Unexpected You – Prologue

the-unexpected-you

Title : The Unexpected You –Prologue

Author : ohyeolliepop

Genre : Marriage-life, Romance

Rating : T

Cast : Kim Sora (OC), Kim Jongin (EXO), Lu Han (EXO), Kim Taehyung (BTS), Lee Hunji (OC)

Poster by : diajengdeaa

Disclaimer : I own nothing but the storyline. Please be a good reader. Do not plagiarize.

 

Cinta itu memang bodoh, konyol, dan menggelikan pada saat yang bersamaan. Hey, kau tidak percaya? Tanyakan saja pada Sora, Jongin, atau Lu –mereka pasti akan mengatakan hal yang sama.

 

***

 

“Kau dipecat dari pekerjaanmu lagi?”

Hunji memandang Sora heran dari balik bingkai kacamatanya. Keningnya berkerut dalam, seolah tak habis pikir bagaimana bisa seseorang dipecat tiga kali dalam sebulan–dengan tempo waktu yang berturut-turut.

“Mm.” Sora memainkan sumpitnya acuh, berusaha untuk mengabaikan fakta bahwa ia kembali menyandang titel pengangguran.

“Kali ini karena masalah apalagi?” tanya Hunji, yang entah mengapa kelihangan selera makannya. Gadis itu mendorong mangkuk ramennya sedikit menjauh, kemudian kembali menatap Sora.

Sora mendengus kesal, lantas membanting sumpitnya ke atas meja dengan dramatis. “Tugas yang mereka berikan terlalu mengada-ada, Hunji! Bayangkan, mereka menyuruhku untuk mengamati tumbuhan–yang benar saja, memangnya aku sudah gila?”

Sora mendengus sekali lagi. Jika Hunji sedang mencari target untuk disalahkan atas pemecatan ini, salahkan saja bosnya yang tua dan menyebalkan itu. Tugas yang ia berikan benar-benar tidak masuk akal–mengamati bunga matahari, katanya? Tidak ada yang lebih parah dari itu?

Hunji mendesah pelan. Menghadapi Sora yang baru saja dipecat tidak pernah jadi perkara mudah karena gadis itu adalah pengeluh ulung. Masalah sekecil apapun akan jadi besar jika gadis itu yang harus menghadapinya.

“Kau harus serius dalam mencari pekerjaan, Sora. Jika kau terus bermain-main seperti ini, kapan kau bisa hidup dengan layak?” tanya Hunji. Sudah jutaan kali ia mengarahkan Sora ke jalan yang benar, namun gadis berambut hitam itu selalu saja bersikap semaunya sendiri.

Oke, mungkin ia terbiasa hidup enak dan berkelebihan selama belasan tahun, namun ia juga harus secepatnya sadar bahwa roda kehidupan sudah berbalik tiga ratus enam puluh derajat. Kecelakaan maut yang merenggut nyawa kedua orangnya setahun lalu tidak menyisakan apapun–selain luka dan tumpukan hutang yang harus dilunasi secepatnya.

Sebagai anak tertua dari Keluarga Kim, seharusnya Sora segera mencari pekerjaan dan melunasi hutang-hutang mendiang orang tuanya. Namun ternyata ia sama payahnya dengan Taehyung–si bungsu yang menghabiskan delapan belas tahun hidupnya hanya untuk bermain PSP dan membaca majalah dewasa.

Sora menggembungkan pipinya kesal. Dulu–ketika Hunji masih berstatus anak dari pelayan di rumahnya–gadis itu selalu mengalah padanya. Tidak pernah ia mencoba sekalipun menasihati Sora, yang sudah kebal dengan nasihat siapapun juga.

“Oke, nanti sore aku akan mencari pekerjaan dengan sangat serius,” ujar Sora dengan memberi penekanan khusus pada dua suku kata terakhir. “Tapi, Hunji-ya, kau tidak akan mengusirku dan Taehyung–setidaknya sampai aku mendapat pekerjaan tetap, kan?” Sora menuding Hunji dengan sumpitnya.

Hunji mendesah kesal. Kalau saja ia tidak ingat dulu orang tua Sora telah banyak membantunya, mungkin sudah lama ia membiarkan Sora dan Taehyung menjadi gelandangan. Kakak beradik itu benar-benar merepotkan dan tidak tahu diri.

“Ya,” sahut Hunji pada akhirnya. Ia kembali menyantap ramennya yang sudah mendingin dan kuahnya mulai terasa aneh–mungkin karena ini hanya ramen instan murahan.

Sora melebarkan senyum dengan puas, kemudian kembali memainkan sumpitnya. Untuk sementara ia tidak perlu merasa khawatir karena Hunji masih akan menampungnya di flat-nya yang kecil ini. Memang bukan tempat tinggal yang layak untuk seorang anak bekas konglomerat–tapi tempat ini jauh lebih baik daripada ia harus tinggal di jalanan.

“Hunji, menurutmu aku harus mencari pekerjaan apalagi?” tanya Sora, sembari memangku dagunya dengan bertumpu pada telapak tangan kanannya.

Hunji menelan suapan terakhir ramennya bulat-bulat–jelas karena ia merasa kesal luar biasa. Percuma saja, pertanyaan Sora barusan tidak membutuhkan jawaban. Apapun saran yang akan diberikannya nanti pasti akan ditolak oleh gadis itu.

Terakhir kali Hunji menyarankan Sora agar melamar pekerjaan sebagai editor–mengingat hobinya membaca novel–, namun kenyataannya? Gadis itu justru melamar pekerjaan sebagai jurnalis di majalah flora–dan tentu saja karirnya disana berujung pada pemecatan.

“Terserah kau saja,” sahut Hunji malas. Ia bangkit dan mengangkat mangkuk ramennya, kemudian berjalan ke arah dapur. Ia baru saja akan mencuci seluruh piring kotor yang ada saat manik matanya menangkap sesuatu yang ganjil–sebuah majalah dengan seorang gadis setengah telanjang terpampang di sampulnya.

 

“Astaga–SORA! Ingatkan adikmu itu, jangan menaruh majalah sialannya sembarangan!”

 

***

 

“Selamat datang di kafe kami.”

Seorang pramuniaga membungkuk dengan sopan begitu pintu kafe terbuka dan menyebabkan lonceng kecil yang tersemat di atasnya bergemerincing pelan.

Sora tersenyum dan membungkuk untuk sekedar berbasa-basi, kemudian mengamati seluruh penjuru kafe mungil ini. Bukan kafe yang mewah, sebenarnya. Ia bahkan tidak yakin gadis-gadis remaja mau menghabiskan akhir pekan mereka di kafe ini–tapi setidaknya kafe ini sedang membuka lowongan pekerjaan. Itu lah yang menggerakkan Sora untuk masuk ke dalamnya.

“Ada yang bisa kubantu?” Pramuniaga itu bertanya ramah karena gadis cantik yang berdiri di depannya tidak terlihat seperti akan memesan sesuatu.

“Ya, ada. Kau harus membantuku,” sahut Sora sembari mengumbar senyum terbaiknya. “Aku butuh pekerjaan.”

“Oh,” Pramuniaga itu bergumam pelan, nyaris tak terdengar. Ia menganggukkan kepalanya paham, kemudian berkata, “Biar ku antar kau menemui pemilik kafe ini.”

Pramuniaga itu berjalan masuk ke dalam kafe, sementara Sora mengikutinya dengan patuh dari belakang. Diam-diam ia mengagumi seragam kerja yang pramuniaga itu kenakan–bagus sekali.

Tergelitik untuk mengetahui calon atasannya lebih lanjut, Sora mengajukan sebuah pertanyaan, “Apa pemilik kafe ini seorang perempuan?”

“Bukan, Nona.”

“Jadi.. Seorang pria?”

“Tepat sekali.”

Kening Sora berkerut heran–bukannya apa-apa, kafe ini hanya terlalu imut untuk dikelola oleh seorang pria. Atau jangan-jangan–ah, sudahlah. Tidak usah memikirkan hal yang aneh-aneh.

Pramuniaga itu mengantar Sora sampai ke depan sebuah pintu dengan warna biru pastel yang cantik–sedikit mengingatkan gadis itu pada pintu kamar di rumahnya yang lama. Di daun pintu itu tergantung papan kecil dengan ukiran bertuliskan Manajer Lu.

Manajer Lu?

Pramuniaga itu mengetuk pintu tiga kali, kemudian memutar kenopnya perlahan begitu mendengar sahutan ‘masuk!’ dari dalam. Sora mendesah lega. Kalau ditilik dari suaranya, sih, sepertinya pemilik sekaligus manajer kafe ini bukan orang yang galak dan menyeramkan seperti bos-bosnya dulu.

Pramuniaga itu memberi kode dengan telunjuk agar Sora mengikutinya masuk ke dalam. Dan begitu menginjakkan kakinya di ruangan mungil itu, Sora tidak dapat menahan dirinya sendiri untuk tidak berdecak kagum.

Ruangan ini imut sekali! Dindingnya berlapis cat berwarna ungu muda, ada tempelan glow in the dark bermotif kupu-kupu di sudut-sudut dinding, ditambah lagi dengan meja kerja yang lebih mirip dengan meja di rumah boneka. Sora benar-benar dibuat jatuh cinta pada pandangan pertama.

Ehm,” Pria yang duduk di bangku itu terbatuk pelan karena gadis asing ini justru sibuk melihat-lihat dekorasi ruangannya dengan tidak sopan–gadis itu bahkan belum mengucapkan ‘selamat sore’ atau semacamnya.

Sora tersentak kaget. Ia segera mengalihkan pandangannya ke arah pria yang menempati bangku manajer super imut itu, dan–Ya Tuhan, ternyata manajer kafe ini juga sangat imut!

Tanpa sadar bibir Sora setengah ternganga. Susah payah ia menyadarkan dirinya sendiri kalau ia tidak sedang tersesat di dalam rumah boneka.

“Kau bisa duduk,” kata pria itu–Lu–sembari menunjuk bangku di depan mejanya dengan tidak sabar. Gadis ini berasal dari planet mana, sih? Kenapa tidak tahu sopan santun sama sekali?

“Oh, ya, baiklah,” Tersadar dari lamunannya, Sora mengambil langkah seribu untuk duduk di bangku yang telah ditunjuk oleh pria itu.

“Jadi, apa tuju–“

“–perkenalkan, namaku Kim Sora. Apa terdengar familiar? Uh, ya, seperti itulah–aku memang berasal dari keluarga Kim yang dulu mengelola Kim Corporation. Tapi sebuah tragedi mengubah segalanya dan membuatku berada disini untuk melamar pekerjaan. Jadi.. Kapan aku bisa mulai bekerja?”

Lu refleks menepuk keningnya. Selama bertahun-tahun mengelola kafe dan menyeleksi ratusan orang yang datang untuk melamar kerja, baru kali ini ia berhadapan dengan gadis yang kelewat ajaib–mungkin ia alien yang tersasar di bumi dan butuh pekerjaan agar bisa kembali pulang ke tempat asalnya.

“Nona Kim, begini–pertama, aku minta maaf karena aku tidak tahu apa itu Kim Corporation. Kedua, kau harus tahu bahwa yang barusan itu bukanlah sikap yang tepat untuk melamar pekerjaan.” Lu menyilangkan kedua tangannya di dada, kemudian menatap gadis itu jengah.

“Kau yakin, kau tidak tahu Kim Corporation?” Rupanya sindiran Lu tidak membuat Sora sadar akan kekeliruan sikapnya, namun justru membuat gadis itu tergelitik karena–hey, penduduk Korea Selatan mana yang tak mengenal Kim Corporation?

“Kim Corporation adalah perusahaan besar yang menaungi berbagai macam perusahaan lainnya–seperti, kau tahu asuransi Kim yang terkenal? Atau Kim Electronics? Dan.. Apa kau tidak pernah belanja di Kim Supermarket?” Sora terus mengoceh tanpa mempedulikan perubahan air muka Lu. Pria itu tidak sanggup mengatakan apa-apa lagi.

Berada satu ruangan dengan Kim Sora selama lebih dari tiga menit bisa membuat siapa saja terserang mental breakdown dadakan.

“Oke, oke. Ya, aku tahu–atau anggap saja aku tahu tentang Kim Corporation-mu itu, sekarang kembali ke tujuanmu untuk mencari pekerjaan. Beritahu aku, apa yang bisa kau lakukan?”

Sora mengerutkan keningnya, namun detik berikut senyum cerahnya kembali terumbar. “Tentu saja ada banyak hal yang bisa kulakukan,” ujarnya dengan sangat percaya diri. “Aku bisa merebus air, menghitung uang, mengoperasikan komputer dengan baik, meng–“

“–apa kau bisa memasak?” potong Lu, teringat akan kekosongan posisi chef di kafenya yang harus segera terisi.

“Aku rasa bisa,” ucap Sora setengah bergumam, membuat Lu kembali menepuk keningnya–jika gadis itu saja ragu akan perkataannya sendiri, lantas bagaimana dengan orang lain seperti dirinya?

“Apa kau bisa masak bulgogi?”

“Aku biasa memasak bulgogi instan, jadi mudah saja,” sahut Sora senang. Jika hanya memasak masakan ringan seperti itu, sih, ia bisa.

“Tapi yang akan kau masak akan bulgogi sungguhan, Nona Kim. Bukan bulgogi instan,” keluh Lu pelan.

Perkataan Lu sontak membuat Sora mengerucutkan bibirnya. “Jadi selama ini yang kumakan itu bulgogi bohongan? Produsen itu menipuku?”

“Bukan, bukan seperti itu,” buru-buru Lu meralat ucapannya sebelum gadis ini semakin salah paham dan masalahnya justru melebar kemana-mana. Ia menarik nafasnya dalam, kemudian menghembuskannya lambat.

“Jadi–maaf, Nona Kim, jika kau tidak bisa memasak maka aku tidak bisa menerimamu untuk bekerja disini,” ujar Lu pelan, sebenarnya karena takut membuat Sora sakit hati dan melakukan tindakan yang aneh-aneh.

Hah?” Sora melebarkan pandangannya. “Jahat sekali!”

Reaksi Sora benar-benar di luar dugaan. Lu kira gadis itu hanya akan tersenyum masam, atau paling parah menangis–tapi ternyata tidak, gadis itu justru berteriak dan kelihatan marah sekali.

“Kau pasti tidak tahu betapa sulitnya bagiku untuk mencari pekerjaan! Kau tidak tahu betapa sulitnya menggantungkan hidup pada seseorang hanya karena tidak ingin menjadi gelandangan! Kenapa kau jahat sekali, sih? Aku benar-benar butuh pekerjaan!” teriak Sora histeris.

Ia melakukan tindakan gila ini bukannya tanpa alasan. Ia pernah membaca artikel di majalah tentang ‘menjadi histeris akan membuat kekasihmu tidak jadi memutuskanmu’, jadi siapa tahu cara itu bisa berlaku juga pada saat-saat seperti ini.

Pekikan Sora kelihatannya terlampau kencang, sehingga membuat beberapa pegawai Lu berlarian datang lalu mengintip dari celah kecil pada pintu ruang kerja pria itu.

Sembari berusaha mati-matian menahan rasa malunya, Lu memberi kode dengan jemarinya–berusaha mengatakan bahwa tidak ada yang terjadi. Setelah kerumunan di depan ruangannya bubar, Lu menahan nafasnya sesaat kemudian berkata, “Nona Kim–berhenti berteriak seperti itu, oke? Baik, baik, kurasa.. Aku bisa membantumu.”

“Kau.. Bisa membantuku?” Sora menyipitkan matanya dan menatap Lu penuh selidik. “Jadi kau menerimaku bekerja disini?”

“Tidak,” sahut Lu. “Aku menawarkanmu pekerjaan yang lain, dengan honor yang jauh lebih tinggi daripada gaji pegawai di kafe ini.”

Sora berjengit. Instingnya sebagai seorang perempuan berkata ada yang tidak beres dalam tawaran Lu–bagaimana jika Lu menawarinya pekerjaan yang tidak benar? Untuk menjadi gadis penghibur di klab malam, misalnya? Ya Tuhan, Sora tidak mau!

“Ada apa denganmu?” tanya Lu heran, karena tiba-tiba saja Sora terlihat ketakutan. “Hey, aku tidak akan memberimu pekerjaan yang aneh-aneh, kau tenang saja.”

“Oh, ya? Lalu pekerjaan apa itu?” tanya Sora dengan nada yang dibuat segalak mungkin–ia sedang membangun tameng untuk dirinya sendiri.

Lu membuka laci meja kerjanya, terlihat seperti mencari sesuatu, kemudian menutup laci itu kembali setelah menemukan apa yang ia cari. Detik berikutnya Lu mengulurkan selembar foto yang tampak tak asing bagi Sora.

“Kau kenal siapa pria dalam foto ini?”

“Tentu saja. Bukankah ini Kim Jongin–penyanyi solo yang baru saja comeback bulan lalu?”

“Ya, kau benar sekali.”

“Lalu..,” Sora menimang foto di tangannya dengan ragu. “Apa hubungannya Kim Jongin dengan pekerjaan yang akan kau berikan?”

Lu tersenyum kecil, menambah kesan misterius yang sedari tadi ditunjukkannya secara tidak langsung.

Aku menawarimu pekerjaan untuk menjadi istri dari Kim Jongin. Apa kau mau?

 

 

/dadah-dadah bareng chanyeol/

 

Hai! Maafin aku karena habis hiatus bukannya bawa chapter terbaru How To Steal A Kiss justru bikin prolog ff baru T_T tapi kalian nggak perlu nagih-nagih kelanjutan HTSAK kok hehe, I’m still working on it dan kalo udah selesai pasti langsung aku publish.

 

Dan, soal ff ini, sebenernya nggak tau juga idenya dateng darimana. Absurd gitu, jatuh dari langit mungkin? :3 untuk kelanjutannya, aku mau lihat reaksi kalian dulu deh. Kalo oke ya boleh lah lanjut ke chapter berikutnya, kalo enggak yaudah sampe sini aja cukup._.

 

Cheerio!<3

 

Regards,

ohyeolliepop

tumblr_n2ewiokJzD1tp940wo3_250

98 responses to “The Unexpected You – Prologue

  1. w-wow keak nya cerita nya bakal menarik dilihat dari karakter si OC nya, ditambah lagi main cast nya jongin-luhan \o/
    dan- hey marriage life? tbh ini salah satu genre favorit aku kk~
    jadi please kak, dilanjut cerita nya, aku bakal nungguin banget. Semangat kak ! ‘o’9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s