Romance Rhapsody (Chapter 3)

Annyeong, saya hadir bawa fanfic titipan! Happy reading~ jangan lupa kasih komentar! Terima kasih.

   rr

Previous: CHAPTER 1 | CHAPTER 2

    Title         :        Romance Rhapsody

    Rating    :    PG-13

    Genre        :    Romance / School life

    Cast        :    _ Kim Myungsoo / L

                _ Kwon Yurin

                _ Son Naeun

                _Jung Yong Hwa

                _ Krystal

                _Kang Min Hyuk

CHAPTER 3

 

Kalau ada orang yang paling Yurin benci di dunia ini sekarang adalah seseorang bernama L. Yurin tidak pernah mengira bagaimana bisa ada manusia semenyebalkan L di dunia ini?

Sudah seminggu lamanya Yurin menjadi pembantu lelaki itu, namun L benar-benar memperlakukannya layaknya pembantu  yang sebenarnya sekarang. Yurin harus mengerjakan semua tugas  ataupun PR lelaki itu tanpa terkecuali, mulai dari pelajaran Aljabar sampai pelajaran Sejarah untuk murid Tingkat 2.

Itu adalah hal yang menyebalkan mengingat Yurin harus mengerjakan PR tingkat dua yang luar biasa susahnya sementara ia sendiri baru berada di tingkat satu. Selain itu Yurin  juga pernah harus berlari-lari seperti orang gila ke atas balkon hanya untuk mengupaskan lelaki itu apel. Ia juga pernah berlari secepat kilat dari pelajaran olahraga ke kantin dan ia hanya disuruh Oleh L untuk membuka tutup botol Cola. Sangat Konyol. Benar-benar konyol.

Ayolah, Yurin dibayar hanya untuk melakukan pekerjaan tidak penting. Ini benar-benar gila. Belum lagi Yurin harus ikut bersama L dan 2 anak buahnya yang sama menyebalkannya seperti L , Kai dan DO ke kantin. Itu bagaikan pekerjaan rutin yang wajib dilakukan Yurin setiap hari di sekolah.  Yurin harus meladeni 3 orang itu layaknya seorang raja, seperti mengambilkan mereka makanan dan menyiapkan minuman . Ya, semua itu sebenarnya hal biasa, namun ini semua terasa menyebalkan melihat bagaimana L 3 kali meminta di ganti menu makanan yang sudah dibawa Yurin dengan susah payah hanya karena alasan tidak masuk akal seperti  L tidak menyukai potongan selada di piring atau secara tiba-tiba ia ingin makan ramen saat itu juga. Mau tidak mau, Yurin harus memakan semua makanan yang bahkan belum disentuh L itu karena tentu saja Yurin tidak mungkin membuang semua makanan itu begitu saja, itu adalah pemborosan dan Yurin benci itu.

Dan sekarang  Yurin tepaksa harus membolos dari pelajaran Sastra hanya karena L mengiriminya pesan untuk segera datang ke UKS saat itu juga. L kembali mengancam akan menyebarkan fakta bahwa Yurin adalah seorang hostess ke seluruh penjuru sekolah jika gadis itu tidak segera datang. Lagi-lagi, lelaki itu mengancam—nya dengan rahasia terbesar yang sudah lama disembunyikan Yurin setengah mati. Yurin bergerutu di sepanjang jalannya menuju ruang UKS , gadis itu sibuk bergerutu tentang mengapa nasibnya harus seburuk ini. Harus terus patuh kepada lelaki menyebalkan itu.

Yurin melangkahkan kakinya memasuki ruang UKS yang penuh aroma obat yang menyeruak sejak pintu dibuka, UKS nampak sepi karena tidak ada siapapun disana, bahkan Nona Yeol yang biasanya bertugas menjaga  ruangan itu tidak nampak.Yurin bertanya-tanya, mengapa ruangan UKS menjadi  se—lenggang ini, dan kemana perginya Nona Yeol yang selalu menjaga disini?

Mata Yurin sibuk mencari keberadaan L yang tidak terlihat, jangan bilang L kembali mengerjainya lagi. Ya, L kan selalu berbuat seenaknya dan suka sekali menyuruhnya melakukan hal tidak penting. Jangan-jangan kali ini ia dipanggil ke UKS hanya untuk disuruh melakukan hal-hal aneh. Yurin menelan ludahnya sendiri, pikiran buruk mulai berputar-putar dikepalanya.

Yurin menyibakkan salah satu tirai putih yang sedari tadi menghalangi jalannya, dan sekarang Nampak seorang L sedang  terduduk di ranjang UKS Sambil memegangi kepalanya. Yurin terkejut melihatnya, wajah lelaki itu penuh keringat dingin dan Nampak sangat pucat di balik wajah tampannya.

“Sunbae—kau tidak apa-apa?” Yurin segera menghampiri lelaki itu, nampak panik karena ini pertama kalinya ia melihat L seperti ini.

“Ergghh” L nampak mengerang, jelas sekali ia nampak menahan rasa sakit di kepalanya. Yurin menjadi panik, dengan buru-buru gadis itu segera mengambil kotak obat yang berada di atas meja dan mencari obat pereda sakit kepala , setelah menemukannya ia langsung meraih segelas air melalui dispenser dan menyodorkannya kepada L.

L menerima obat itu dan langsung meminumnya, kepalanya menjadi terasa begitu ringan meskipun masih agak sedikit sakit namun rasa sakit kepalanya  mulai berangsur berkurang. Sehabis istirahat tadi, entah mengapa rasa sakit yang sangat tajam itu  kembali menghampiri kepalanya, membuat pandangannya mengabur, dan ia segera menuju UKS setelah mengusir penjaga disana untuk membiarkannya sendiri. Namun, rasa sakit kepalanya semakin menjadi-jadi, ia tidak ingin pingsan dan ditemukan secara menyedihkan, oleh karena itu ia segera mengirim pesan kepada Yurin—satu-satunya orang yang muncul dipikirannya saat itu.

“Apa aku terlihat menyedihkan?” tanya L dengan suara parau nya yang cukup serak begitu Yurin mulai menaruh bantal di sisi punggungnya.

“Untuk orang sok jagoan seperti dirimu, ya” jawab Yurin yang mulai duduk di bangku kecil di samping tempat tidur. L tertawa mendengarnya, kata-kata yang selalu keluar dari mulut gadis ini entah mengapa selalu jadi hiburan tersendiri untuknya. Itulah mengapa L tertarik sejak awal, sejak Yurin berniat mengancamnya ke dinas pendidikan di atap sekolah waktu itu.

“Pasti efek operasi—kan?” sahut Yurin pelan, L cukup tersentak. Bagaimana gadis ini bisa tahu?

“Nyonya memberi tahuku” ujar Yurin, seakan memahami raut wajah L. L mendengus , ibunya itu benar-benar tidak bisa di andalkan.

“Hanya kau dan ibuku yang mengetahuinya. Kalau kau berani mengatakannya pada yang lain, mati kau” ancam L,  namun  Yurin hanya  memutar matanya. Bahkan disaat begini lelaki ini masih saja bersikap menyebalkan. Memangnya sesuatu yang memalukan jika orang-orang tahu kau pernah mempunyai penyakit kronis dan habis menjalani operasi? Tapi , sepertinya untuk ukuran lelaki menyeramkan sok penguasa sekolah seperti L itu memang cukup mengejutkan.

“Aku akan menutup mulut asal Sunbae tidak membocorkan pekerjaan hostess—ku. Bukankah itu impas? Deal, Tuan Muda?” Yurin mengajukan tangannya, mengajukan perjanjian. L hanya tertawa menyeringai melihat tingkah gadis ini, terlalu polos, terlalu lugu, sekaligus blak-blak—an.

“Bagaimana ya?” L berpura-pura seperti sedang berpikir. Yurin mengerucutkan bibirnya dan menarik tangannya kembali, dari segi mana pun lelaki ini memang benar-benar menyebalkan.

“Aku mau tidur. Dan kau tidak boleh kemana-mana. Aku akan membunuhmu kalau kau sampai meninggalkan ruangan sejengkal saja” ujar L, lelaki itu membalikkan tubuhnya perlahan , rasa kantuk menyerangnya karena efek obat yang baru saja diminumnya, L menutup matanya hanya  untuk beristirahat sejenak.

Yurin  memandangi punggung lelaki itu dalam diam, ia melihat sosok L yang manusiawi sekarang, L tuan—muda nya yang juga bisa terlihat rapuh dan tidak bersikap sok berkuasa nan menakutkan. Yurin segera meraih ponselnya dan menghubungi Nyonya Taeyeon untuk memberi tahu hal ini. Ny. Taeyeon sudah mewanti-wanti Yurin sejak awal untuk melapor jika hal seperti ini terjadi.

“Benarkah? Jadi bagaimana keadaannya sekarang?” suara Ny. Taeyeon yang kedengaran cukup panik terdengar begitu telepon tersambung.

“Tuan muda tidak apa-apa Nyonya. Aku memberinya obat sakit kepala. Ia sekarang tidur di ruang kesehatan dengan lelap” jawab Yurin, lebih terdengar seperti berbisik karena takut membangunkan L.

“Kerjamu bagus. Anak itu—ia seharusnya memberitahuku, tapi sekarang aku bisa lega karena ada kau. Kau benar-benar mengerjakan tugasmu dengan baik.” Yurin hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Ny. Taeyeon, padahal ia juga tidak akan tahu jika bukan L yang mengirimkan pesan kepadanya.

Yurin menutup flip ponselnya, ia jadi tersadar kalau L memang tipikal orang yang tertutup, tidak menutup kemungkinan kejadian seperti ini terjadi lagi dan L hanya menutupi semuanya, Yurin harus lebih peka dalam memperhatikan dan menjaga Tuan Muda—nya.

Yurin mulai menguap. Entahlah , ia juga merasa mengantuk sekarang. Semalam suntuk ia bekerja paruh waktu dan ia tidak memiliki waktu untuk tidur. Lagipula, ia juga sudah terlanjur membolos……..

*

 

Suara angin berhembus menerpa wajah Yurin, gadis itu mengerjapkan matanya perlahan. Matanya terasa begitu berat, kepalanya terlihat berada di sisi tempat tidur ruang kesehatan. Yurin mendadak bangkit dan memperbaiki posisi duduknya. Ternyata ia ikut ketiduran selama menjaga L tadi. Yurin mengedarkan pandangannya, mencari sosok L yang menghilang dari ruangan itu.  Yurin menghela nafas, L pasti sudah Terbangun dan pergi sejak tadi. Yurin menyadari, ada sebuah jas seragam yang sejak tadi terpasang di bahunya. Gadis itu segera melihat seragam itu dan cukup mengejutkan mengetahui bahwa itu adalah jas seragam milik L. Yurin mengerutkan keningnya, apa mungkin L memberikan jas seragam—nya saat Yurin tertidur tadi? Ini cukup aneh, namun Yurin  memilih untuk tidak mau pusing dan memikirkannya.

Hari terlihat mulai beranjak sore, Yurin melihat jam menunjukkan pukul 3 sore melalui ponselnya. Ia pasti sudah tertidur lama sekali. Yurin melangkah keluar ruang kesehatan untuk segera bergegas pulang karena kelas pasti sudah berakhir. Ketika ia berjalan menuju kelas ia melihat Kai dan DO—2 anak buah L itu sedang memalak seorang murid di koridor kelas. Kebetulan sekali, pikir Yurin. Yurin memutuskan untuk menitipkan jas seragam L kepada mereka saja.

“Oh, annyeong hoobae–, tumben sekali kau menghampiri kami”   DO segera menyapanya begitu Yurin melangkah mendekat.

“Kalian kumpulan anak orang kaya, tapi masih suka memalak. Apa uang dari orang tua kalian tidak cukup?” Yurin seakan mengindahkan sapaan tidak penting DO, ia memberi tanda kepada Baekhyun—murid yang sedang dipalak itu untuk segera pergi.

“Aah—hoobae, kau benar-benar bermulut pedas” Kai yang terkenal playboy itu berusaha merangkul Yurin namun tentu saja Yurin segera menghindar.

“Berikan ini pada L sunbae” Yurin menyerahkan jas seragam L pada Kai , namun Kai dan DO segera bertatapan dan mulai memasang wajah aneh.

“Apa kalian menghabiskan waktu bersama? L membolos dari pelajaran seni dan…. Ia bersamamu?” DO kelihatan heboh sendiri, sementara Yurin memutar bola matanya.

Kai menangkap kehadiran seorang gadis di belakang mereka, Son Na eun sedang berdiri sambil memegang buku sejarahnya, gadis itu tidak melanjutkan langkahnya, ia nampak tertegun mendengar ucapan DO barusan. Kai tersenyum menyeringai, ia tahu persis hubungan masa lalu antara Naeun dan L karena mereka bertiga bersekolah di SMP yang sama. Kai juga sangat tahu alasan mengapa keduanya berpisah dan menghindar satu sama lain hingga sekarang.

“OOH—JADI HUBUNGAN KALIAN SUDAH SEJAUH INI YAH” Kai berbicara dengan suara yang terkesan sengaja di buat keras, bahkan Yurin menutup telinganya ketika Kai mengucapkan hal itu, sungguh suara Kai bisa disandingkan dengan suara speaker sekolah. Naeun melanjutkan langkahnya sambil berjalan menunduk, Kai tertawa begitu tahu ucapannya barusan sukses dimasukkan ke  hati oleh Naeun. Ia memang sengaja melakukan itu. Namun secara tiba-tiba sebuah kaki sukses mengenai lututnya, Yurin menendangnya bahkan saat lelaki itu tengah sibuk tertawa.

“Ya! Hoobae—apa yang kau lakukan?” Kai meringis memegangi lututnya, sungguh tendangan Yurin barusan itu benar-benar membuat lututnya ngilu sampai ke tulang.

“Kau baru saja hampir membuat gendang telingaku pecah”jawab Yurin sambil menyerahkan jas seragam L dan berlalu pergi begitu saja.

“Kai—sunbae, suaramu itu jelek sekali” tambahnya, sukses membuat Kai ternganga mendengarnya.

*

Yurin berjalan menyusuri pekarangan sekolah untuk bersiap pulang, ia berharap Krystal masih berbaik hati mau menungguinya karena jujur saja Yurin tidak membawa uang lebih hari ini, jadi ia tidak bisa pulang naik bis.

“Ya!!! Kwon Yurin—kau berani membuatku menunggu lagi!” suara lengkingan tajam Jung Krystal terdengar, gadis berpita merah itu melipat tangannya di depan dada dan berdiri  disamping pagar sekolah, menatap Yurin seperti boneka chucky yang menakutkan.

“Kau menungguku? Syukurlah” Yurin menghampiri Krystal dengan sedikit berlari. Yurin tahu meskipun ia dan Krystal selalu bertengkar layaknya Tom & Jerry setiap hari namun Krystal itu pada dasarnya gadis yang baik, kekurangannya hanyalah Krystal sangat suka berteriak dan super heboh terhadap sesuatu.

“Kau membolos pelajaran Sastra & Kimia. Nyali—mu besar juga” Yurin baru menyadari kalau ada Minhyuk  yang sedari tadi  berdiri disamping Krystal dan  sedang sibuk meminum coffee ice—nya.

“Ya, benar. Sebenarnya kau darimana? Aku saja murid terbodoh di kelas tidak pernah berani membolos” tambah Krystal, Minhyuk hampir tersedak karena tertawa saat mendengarnya, secara tidak langsung Krystal sudah mengakui dirinya bodoh dan itu lucu sekali bagi Minhyuk, sementara Krystal sudah memberikan death-glare kepada Minhyuk duluan.

“Eummm—aku ketiduran di ruang kesehatan. Aku datang untuk mencari obat namun aroma terapi disana sangat kuat dan membuatku tidur. Ya, seperti itu” Yurin sibuk mencari alasan,ia tidak mungkin menceritakan kejadian sebenarnya, bisa-bisa ia habis diamuk Krystal.

“Whatever.” Krystal mengibaskan jari lentiknya, Yurin hanya mendengus.

“Kita masih harus menunggu Yong Hwa oppa–, karena dia yang akan membawa mobilnya” sahut Krystal sibuk membersihkan ujung jarinya. Yurin cukup terkejut mendengarnya.

“Maksudmu, Yong Hwa oppa sudah kembali ke sekolah?” tanya Yurin kaget, Yong Hwa tidak pernah mengatakan sebelumnya kalau hari ini ia akan kembali ke sekolah setelah masa skors yang panjang. Krystal tidak menjawab, ia menunjuk ke arah lapangan membuat Yurin refleks berbalik dan mendapati Yong Hwa tengah berjalan ke arah mereka, sementara bias  Yurin lihat beberapa murid perempuan sibuk menjerit histeris di belakang Yong Hwa ketika lelaki itu berjalan, Yong Hwa kelihatan cukup populer disekolah ini, buktinya banyak murid perempuan yang meneriakkan namanya dan beberapa murid lelaki nampak segan ketika lelaki itu berjalan.

“Surprise” Yonghwa berbisik di telinga Yurin tepat ketika ia sudah mendapati gadis itu tengah menatapnya.

“Aah—mengejutkan melihat oppa ada disini. Bukankah Oppa bilang Oppa—diskors selama sebulan? Pembohong.” Sahut Yurin, sementara Yonghwa sudah mengacak rambut gadis itu gemas hingga Yurin kembali harus merapikannya. Ya, Yurin sudah sangat hafal kebiasaan lelaki itu. Yonghwa yang selalu mengacak rambutnya .

“Oppa—ayo cepat, aku benar-benar tidak sabar untuk berbelanja” Krystal sudah merengek dan bergelayut di lengan Yonghwa, Yurin mengerutkan keningnya.

“Berbelanja apa?”

“Perlengkapan Pesta Pertunangan ku dengan L oppa tentunya” jawab Krystal dengan mata berbinar, Yonghwa hampir saja akan muntah mendengarnya. Sementara Yurin justru menangkap raut wajah yang tidak senang tergambar di wajah Minhyuk, sebagai sahabatnya Yurin sangat tahu kalau jika Minhyuk tengah sibuk mengiggiti sedotan itu berarti ia tengah merasa tidak suka terhadap sesuatu.

“Minhyuk—ah, kau bisa ikut dengan kami” tawar Yonghwa.

“Tidak usah Hyung, aku masih harus mengerjakan proposal ku. Itu harus dikumpul besok. Sampai jumpa semua” jawab Minhyuk kemudian berlalu menuju arah motornya.

“Uh—dasar beruang!” desis Krystal sambil melipat tangannya menatap lelaki berjaket biru itu yang mula berjalan menjauh. Yurin jadi menyadari sesuatu, apa mungkin….. Minhyuk mempunyai perasaan terhadap Krystal?

*

Awan mulai beranjak menghitam, seperti  akan terjadi hujan yang sangat deras nanti malam, L menatap langit yang mulai menggelap itu saat keluar dari mobil sport—nya. ‘Sialan—‘ rutuknya dalam hati. Awan yang gelap, hujan yang deras, petir akan datang, dan L benci semua itu. Sialnya lagi, L menatap sosok Naeun yang tengah berjalan beriringan dengan Sungjae disudut jalan, sepertinya keduanya habis dari perpustakaan melihat beberapa buku pelajaran yang dibawa Naeun dan Sungjae.

“Kencan yang menarik , ya?” L membuka suaranya, menatap Naeun dan Sungjae dengan tajam dan tidak dapat di artikan. Naeun terperanjat mendapati sosok L sudah berada didepannya, menatapnya dengan kedua tangan disaku seragamnya. Naeun memilih menghentikan langkahnya dan mengeratkan pelukan kepada buku yang sedang ia bawa.

“Naeun—ah. Nanti malam ku hubungi.Sampai jumpa” Sungjae segera bergegas pergi begitu mengetahui L Sedang berada di depan nya, L murid yang cukup menakutkan disekolah. Sungjae pernah menjadi target bully lelaki itu dan ia tidak mau berurusan lagi dengan orang yang bernama L.

“Jadi, kau pacaran dengan pengecut itu” sahut L , menatap kepergian Sungjae yang pergi terburu-buru.

“Dia hanya teman satu kelas ku. Bagaimana bisa kau mengatakan ia pengecut? Sementara kau lebih pengecut daripada itu….” Naeun memberanikan diri mengangkat wajahnya, menatap lelaki di depannya dalam penuh kesenduan.

“Kau melepaskan ku karena ibu—mu, kau bahkan tidak membelaku saat Ibu—mu menamparku dijamuan makan malam itu. Kau membiarkan ibu—mu menginjak – injak harga diriku. Entah sudah berapa kali ia mengataiku miskin hingga rasanya aku kebal dipanggil seperti itu, namun kau tidak pernah sedikit pun datang membelaku. Kau sangat pengecut Myungsoo—ah” suara isakan Naeun terdengar di jalan yang cukup sunyi itu, mata gadis itu berkaca-kaca menahan segala kesedihan yang selama ini merelungi lubuk hatinya. L hanya terdiam mendengarkan itu semua. Semua yang dikatakan Naeun itu semua benar, dan telah menusuk sampai kedalam hatinya.

“Aku ingin kau melupakan apa yang telah terjadi. Tentang hubungan kita, kebersamaan yang pernah kita lalui, itu tidak pernah terjadi. “ Tangis Naeun sudah pecah, gadis itu menangis sesengukan dan segera berlari pergi dari sana secepat mungkin.

L hanya terdiam di tempatnya berdiri sekarang untuk beberapa saat, ucapan Naeun barusan terus berputar bagaikan soundtrack sebuah musik di kepalanya. Detik berikutnya, L sudah menendang bagian depan mobilnya, seperti seseorang yang frustasi. L tidak tahu apa yang harus ia lakukan, bahkan untuk mengejar Naeun, itu tidak ia lakukan. Hujan menetes membasahi seragam pemuda itu, dan bisa dipastikan hujan deras berikutnya akan segera datang….

*

 

Yurin duduk di salah satu tempat istirahat dekat toko aksesoris setelah lelah seharian berputar mengelilingi pusat perbelanjaan bersama Krystal. Krystal yang nampak seperti orang gila karena pertunangannya terus saja berpindah dari satu toko ke toko yang lain hanya untuk membeli perlengkapan persiapan Pesta pertunangannya yang dalam waktu dekat akan segera diadakan. Sudah hampir jam 7 malam dan gadis itu masih betah berbelanja, Yurin hanya menghela nafas melihat hal itu.

“Choco Shake?” sebuah minuman berwarna cokelat itu nampak di depan wajah Yurin yang kelelahan. Yonghwa tengah berdiri di depannya dengan membawa minuman favorit Yurin itu.

“Gomawo, oppa” Yurin segera meraih dan meminumnya, choco shake disaat seperti ini memang mampu menghilangkan haus gadis itu. Yonghwa memang yang paling tahu apa yang di inginkan Yurin sekarang.

“lihatlah—bahkan kau tidak bisa meminum choco shake dengan baik” Yonghwa membersihkan ujung bibir Yurin dengan ujung jarinya, sementara Yurin hanya tertawa polos seperti biasanya sambil meminum choco shake dengan penuh semangat.

“Disana ada toko tas yang bagus. Kau mau melihatnya?” tanya Yonghwa sambil menunjuk toko yang cukup ramai di arah belakang Yurin. Yurin sudah akan mengangguk dengan semangat, kalau saja ponselnya tidak bergetar. Yurin meraih ponselnya dan terkejut ketika ternyata L yang mengiriminya pesan.

“Oppa—aku pergi dulu” dengan terburu-buru Yurin segera meraih tas biru—nya dan memberikan gelas choco shake—nya kembali kepada Yonghwa.

“Ada apa?” tangan Yonghwa sudah menahan lengan Yurin, sepengetahuannya Yurin tidak memiliki shift part time hari ini.

“Aku ada urusan penting. Oppa temani saja Krystal. Aku harus pergi” Yurin segera berlalu saat itu juga, gadis   itu kelihatan benar-benar panik dan berlari sekencang mungkin.

“Urusan penting?” Yonghwa bergumam dengan dirinya sendiri, urusan sepenting apa yang bisa membuat Yurin jadi sepanik itu?

 

*

Yurin segera menyetop taksi apa saja yang lewat di depan pusat perbelanjaan, beruntungnya Yonghwa memberikannya beberapa uang jajan untuk berbelanja tadi sehingga Yurin bisa membayar taksi. Yurin menggigit bibir bawahnya dengan cemas ketika membaca kembali pesan yang baru diterimanya dari L dengan bunyi

“Aku sekarat. Sendrisment Hotel kamar 2096”.

Taksi tersebut berhenti di alamat yang dimaksud Yurin. Yurin segera turun tergesa-gesa setelah menanyakan kepada resepsionis hotel dimana kamar L berada gadis tersebut segera melesat sekuat tenaga. Yurin merasa cukup aneh mengapa L membiarkan kamar—nya terbuka begitu begitu saja hingga Yurin tidak perlu repot-repot mengetuk dan mencari kunci.

“Sunbae—“ Yurin mendapati L sedang duduk terbaring di salah satu sofa dengan memegang sebotol alkohol, dari merk—nya Yurin sudah tahu kalau minuman itu memiliki alkohol yang sangat keras. Dan juga ada beberapa bungkus obat penenang tergeletak mengitari meja.

Yurin segera menghampiri L, Pemuda itu terlihat kacau dan sangat berantakan, keringat dingin mengalir deras di kening lelaki itu. L masih dalam keadaan sadar, meskipun lelaki itu kelihatan sangat susah membuka matanya. “Sunbae—“ Yurin terlihat cukup panic begitu ia menghampiri L di sofa.

Tanpa aba-aba lagi, Yurin segera memapah tubuh lelaki yang beratnya 2x lipat dari dirinya itu dengan sekuat tenaga dan keluar dari kamar. Ia harus segera membawa L ke rumah sakit secepatnya. Mereka berdua memasuki lift, L kelihatan terus meracau seperti orang yang mengingau,sementara Yurin tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan lelaki itu.

Namun sungguh sial atau apa, tiba-tiba ruangan dalam lift itu bergoncang sangat hebat. Yurin dibuat panic untuk kesekian kalinya. Bersamaan dengan itu lampu lift mati sehingga Yurin bahkan tidak bisa melihat apapun dalam sana.

“Eottohke?” Yurin panik, gadis itu menyadari lift dalam keadaan tidak berfungsi. Ia segera merogoh ponsel di sakunya untuk memberikan cahaya di dalam ruangan itu dan Yurin bisa melihat L sudah tidak sadarkan diri. Yurin meringis, tidak ada tanda sinyal dalam ponselnya. Pandangannya beralih ke arah L, Lelaki itu sudah tertidur  di bahu Yurin. Yurin masih bisa merasakan deru nafas  dan suhu tubuh lelaki itu yang sangat panas seperti air yang baru saja dipanaskan.

“Sunbae—aku mohon bertahanlah”…..

*

 

Naeun pulang kerumahnya dengan raut wajah sembab, ia bahkan tidak menjawab ajakan ibunya untuk makan malam. Gadis itu segera menjatuhkan diri di ranjang sederhana milik—nya dan menangis disana. Sungguh, Naeun ingin mengakui kalau dirinya masih memiliki perasaan kepada L. Ia benar-benar tidak bisa melupakan lelaki itu dalam hidupnya. L adalah cinta pertama—nya, orang yang sangat berarti dalam hidup N aeun selama ini. Namun, ia dan L tidak akan pernah bersama. Ia terlahir dengan derajat yang sangat jauh berbeda dengan lelaki itu. Jika mengingat perlakuan ibu L selama ini hatinya terasa begitu sakit, bahkan ia memiliki dendam yang sangat besar terhadap Ny. Taeyeon itu. Orang yang selalu menjatuhkan harga dirinya dengan semena-mena.

Naeun segera beranjak dari tidurnya dan mengambil semua barang pemberian L di masa lalu, semua yang ada kaitannya dengan L harus segera ia buang sejauh mungkin. Naeun sudah akan membuang semua barang itu ke tempat sampah, namun gadis itu hanya bisa kembali menjatuhkannya ke lantai. Jauh dalam lubuk hati Naeun, ia tidak ingin menghapus L dalam hatinya. Karena Naeun dengan jelas masih menyukai lelaki itu……….

 

*

Yurin menidurkan tubuh L ke pangkuannya dengan susah payah, tangan Yurin sudah meraba kening lelaki itu dan hasilnya…sangat panas. Seperti saat kau merebus air panas untuk membuat mie ramen, seperti itulah suhu tubuh L sekarang.  Yurin hanya bisa berharap agar pintu lift cepat terbuka namun sudah 3 jam terjebak di lift ini tidak ada satu pun orang yang datang menyelamatkan mereka. Sialnya lagi, disaat begini ponselnya tidak memiliki sinyal untuk sekedar menelpon meminta bantuan. Yurin menggigiti bibir bawahnya sedari tadi dengan cemas, sungguh hal ini mengingatkannya kembali dengan saat ibunya sekarat pada waktu itu.  Saat bahkan dimana ibunya tidak memiliki kesanggupan untuk membuka matanya, untuk melihat putri—nya yang selalu berdoa sepanjang hari untuk kesembuhannya, namun Ibu—nya malah meninggalkannya untuk selama-lamanya.

Yurin  tidak ingin hal seperti itu terulang lagi.

Sudah cukup ia melihat hal seperti itu.

Sudah cukup ia merasakan perasaan seperti itu.

Gadis itu segera mengeluarkan jaket  tebal nya dari dalam tas dan menyelimuti tubuh lelaki itu dengan hati-hati. L memang seseorang yang sangat menyebalkan, bahkan pernah terlintas pikiran dalam Otak Yurin untuk membuat lelaki itu mati jika mengingat perlakuan L selama ini padanya. Namun, melihat L yang sedang tertidur dalam kesakitan seperti ini Yurin tentu tidak tega. Mata yurin mulai berkaca-kaca, ia mengenggam tangan L yang menghangat dengan penuh ketulusan.

“Sunbae—kau benar-benar orang yang menyebalkan” gumam Yurin dengan suara terisak.

***

 

L mengerjap-erjapkan matanya ketika ia merasakan rasa pusing yang cukup hebat di kepalanya. Pertama pandangan lelaki itu terlihat mengabur, namun berikutnya ia bisa merasakan bahwa ia berada di sebuah ruangan gelap yang cukup pengap. L mengedarkan pandangannya ke segala arah, ia sama sekali tidak tahu ada dimana dirinya sekarang. Namun kemudian L tersadar ada orang lain diruangan itu, sebuah tangan mengenggam tangannya erat dan memberikannya ke hangatan. L meraba sosok di sampingnya dan ia menyadari bahwa ada seorang gadis yang juga bersamanya ketika ia tidak sengaja menyentuh kain yang ia yakini itu adalah sebuah rok, namun L tidak bisa melihatnya karena terlalu gelap di dalam sini.

 

TING!

 

Terdengar suara mirip sebuah bel berbunyi, bersamaan dengan itu pintu lift yang dari tadi tertutup akhirnya terbuka menampakkan cahaya terang yang membuat pandangan L silau dan seorang lelaki berseragam seorang teknisi muncul saat itu juga.

“Kalian terjebak ya?” ucap lelaki itu langsung menunduk menatap wajah L lebih jelas. L langsung mengalihkan pandangannya ke gadis di sampingnya. L dibuat terkejut ketika ia mendapati Yurin dengan posisi setengah terduduk dalam lift dengan penuh keringat yang mengucur dari kening gadis itu.

 

“Yurin?” L terperanjat kaget, ia berapa kali menguncangkan tubuh gadis itu namun nampaknya tidak ada reaksi. Yurin tidak bangun dan membuka matanya. L langsung meraih tubuh gadis itu dan  menggendongnya untuk segera keluar dari ruangan kecil bernama lift itu sesegera mungkin. L sempat melirik ke arah jarum jam yang terpasang di bawah kursi resepsionis saat ia melewati lobbi hotel. Pukul 3 pagi.

Sudah berapa lama mereka terkurung dalam sana? Sudah berapa lama Yurin menjaganya?

“Dasar, gadis bodoh!” gumam L sambil menatap Yurin dalam dekapannya. Ia tidak akan memaafkan dirinya jika terjadi sesuatu pada Yurin kali ini.

*

“Dia hanya sedikit kecapaian dan sedikit dehidrasi. Yang ia butuhkan hanyalah mendapatkan istirahat dan ia akan kembali pulih” L bisa bernafas lega ketika mendengar diagnosis dokter barusan. Beruntunglah masih ada rumah sakit di daerah itu yang buka pada jam selarut ini. L sempat berpikiran yang tidak-tidak. Takut jika Yurin kenapa-kenapa, namun nyatanya gadis itu hanya sedikit kecapaian.

Yurin agak sedikit tersadar begitu ia mencium bau obat yang cukup menyeruak mengelilinginya. Gadis itu membuka matanya dan mendapati dirinya sedang berada di tempat yang cukup terang, ada banyak lemari obat dan selang infus di sekitarnya. Kenapa ia berada di sini? Bukankah seharusnya ia terkurung dalam lift bersama L sunbae?

 

“L sunbae?” Yurin refleks bangkit dari tidurnya begitu ia mengingat L dan merasakan sedikit nyeri pada lengannya akibat infusnya yang ikut tertarik.

“Ya!  Apa yang kau lakukan?” L dengan sigap menahan pundak gadis itu, menyuruhnya untuk jangan banyak bergerak dulu dan memberikan bantal di belakang punggung Yurin sebagai penyangga.

Yurin mengernyitkan dahinya samar ketika ia melihat pakaian rumah sakit bergaris-garis terbalut dalam tubuhnya dan selang infus yang terpasang dengan manis di lengannya. Apakah ia berada di rumah sakit? Seketika ia mengingat kondisi L semalam yang kelihatan mengalami sakit berat, gadis itu langsung mengarahkan tatapannya kepada lelaki  yang duduk di tepi ranjangnya.

“Sunbae–, kau tidak apa-apa kan? “ Yurin refleks meraba tubuh L disampingnya mengamati apakah lelaki itu baik-baik saja, raut wajah khawatir sangat terlihat pada gadis itu. L hanya terdiam.

Ada apa dengan gadis ini? Bahkan ia lebih mementingkan L dibanding dirinya sendiri. Bahkan gadis ini langsung datang tanpa ragu dan berpikir apapun ketika menerima pesan L. Padahal L tidak serius dengan pesan itu.

Baginya pesan yang ia kirimkan itu hanya pesan konyol untuk mempermainkan Yurin kembali.

Ia hanya mabuk berat dan merasakan kepalanya pusing setelah meneguk begitu banyak alkohol. Ia tidak benar-benar sekarat.

Namun gadis ini begitu panik dan sangat khawatir, bahkan ibunya saja tidak pernah menunjukkan sikap serius  seperti ini.

“Kenapa kau melakukan semua ini? Kenapa kau begitu patuh padaku—“ tanya L setelah terdiam cukup lama.

“Apa karena aku tahu rahasiamu? Apa karena kau takut aku memberi tahu orang-orang bahwa kau adalah hostess?” lanjutnya , menatap Yurin  yang sudah menghentikan semua pergerakannya.

“Sunbae–,kenapa kau bertanya? Bukankah kau selalu bilang kalau aku pembantu—mu? Aku melakukan ini karena aku pembantu—mu. Kalau tuan muda  mengalami masalah, bukankah aku harus membantu—nya ?” jawaban Yurin sanggup membuat L terbungkam saat itu juga. Gadis itu menjawabnya dengan sangat polos seperti biasa. Seketika perasaan bersalah menyelubungi hati seorang L.

Bagaimana mungkin ia tega mempermainkan gadis sepolos ini yang selalu mengutamakan kepentingannya? Ia merasa bersalah… sudah terlalu banyak menyusahkan gadis ini. Meskipun L sangat menyebalkan namun Yurin selalu menuruti setiap perintah yang keluar dari mulut L .

“Aah~ tapi kenapa jadi aku yang masuk rumah sakit?” Yurin memiringkan kepalanya, menatap L dengan wajah bingungnya yang entah kenapa bagi L  kali ini terlihat begitu menggemaskan.

“Kau kecapaian dan dehidrasi. Lain kali kau harus memperhatikan diri—mu sendiri. Aku dengar dari dokter kalau kurang beristirahat dan berolahraga.” Ujar L.

“Aku sudah biasa seperti ini. Membawaku sampai ke rumah sakit, ini sedikit berlebihan. Aku tidak bawa uang” ujar Yurin sambil sedikit menggoyang-goyangkan selang infusnya seperti anak kecil.

“Aku sudah membayar semuanya” ujar L.

“Euh? Jinjja? Kalau begitu tagihannya kau masukkan saja ke dalam potongan gajiku bulan ini” L memutar matanya mendengar ucapan Yurin. Ia heran mengapa gadis ini begitu polos hingga tidak tahu bahwa L memang sengaja membayar semua tagihan rumah sakit tanpa meminta balasan.

“Kau terlalu banyak bicara, hoobae” ucap L kemudian menyentuh pundak gadis itu dan mengembalikan posisinya kembali untuk tertidur.

Kening Yurin kembali mengerut samar ketika L menyelimutinya dan menyuruh Yurin untuk tidur saja karena ini masih jam 4 pagi. Ada apa dengan Tuan Mudanya ini? L tidak salah makan obat kan? Kenapa orang menyebalkan bisa menjadi sebaik ini?

***

“ Kau kemana saja? Kenapa kau tidak pulang semalam? Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi? Kenapa kau tidak memberi kabar?” Yurin sedikit meringis mendengar pertanyaan beruntun yang keluar dari mulut Yonghwa saat ia baru hendak memasuki kelas dan mendapati lelaki itu ternyata sedang menungguinya di depan kelas.

“Sudahlah~ oppa. Bukankah Yurin sudah bilang ia menginap di rumah teman kerja—nya. Oppa itu berlebihan, too much, Over” cerocos Krystal yang muncul kembali dengan bando besar dan gaya super lebaynya seperti biasa.

“Mianhae~ ponselku kehabisan battery. Aku bersalah. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji” Yurin mengacungkan tanda peace di depan wajah Yonghwa sebagai tanda bersalah. Sebenarnya ia sangat merasa bersalah kembali membohongi Yonghwa kesekian kalinya dengan mengatakan bahwa semalam ia menginap di rumah Jiyeon—teman kerjanya. Entah sudah berapa banyak kebohongan yang ia perbuat.

“Baiklah. Lain kali kau harus setidaknya memberi kabar. Kau membuat kita semua khawatir” jawab Yonghwa.

“Hello~ kita? Bukannya cuman Oppa yang kelihatan khawatir dan resah tidak karuan seperti orang gila semalam? Eomma dan Appa sudah bilang kalau Yurin itu bukan anak kecil, dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri” cerocos Krystal lagi namun langsung mendapatkan death-glare dari Yonghwa dalam sekali tatapan. Yurin hanya tertawa kecil melihatnya, lucu sekali rasanya melihat dua saudara ini.

“Yang penting Yurin sudah pulang” tangan Yonghwa langsung mengacak pelan poni gadis itu membuat Yurin kembali menggembungkan pipinya karena poni ratanya kembali di buat berantakan.

Krystal hanya terdiam menatap adegan di depannya. Selama ini, memang ada hal yang selalu mengganjal  pikirannya dan ingin ia pertanyakan. Mengapa Yonghwa selalu bersikap baik pada Yurin? Mengapa Yonghwa selalu memperhatikan Yurin?  Padahal Krystal sangat tahu bahwa kakaknya satu ini memiliki sikap sinis kepada siapapun. Entah mengapa ia merasa bahwa…. Mungkin Yonghwa menyukai Yurin?

 

***

 

Suara bel pertanda istirahat berdering, semua murid langsung meregangkan tubuh mereka masing-masing. Merasa lelah setelah hampir 2 jam lebih berkutat dengan pelajaran Matematika yang memusingkan kepala. Yurin keluar dari kelas hanya untuk menghirup udara segar dan sedikit berjalan-jalan untuk menghilangkan rasa penat.

Sebenarnya tadi L melarang—nya untuk pergi ke sekolah dan menyuruhnya beristirahat saja di rumah sakit, namun Yurin menolak. Pertama karena Yurin tidak begitu suka rumah sakit, Kedua karena Yurin tidak ingin absen, dan Ketiga ia merasa aneh dengan sikap L yang tiba-tiba berubah jadi aneh. Aneh? Ya, aneh.

Kenapa orang se—menyebalkan itu bisa menjadi begitu perhatian hanya karena satu malam?

L yang menyelimutinya, menunggunya sampai bangun dari tidur di rumah sakit tadi, L yang memaksanya untuk sarapan setidaknya sedikit saja, dan L yang menyuruhnya untuk beristirahat. Well, semua itu kelihatan seperti bukan L, si penjahat sekolah yang suka membuat onar dan ditakuti hampir seluruh penduduk sekolah. L yang seperti itu terlalu baik.

“Selamat siang, gadis keras kepala!” sebuah tangan yang muncul dari arah tembok menepuk kening gadis itu sehingga membuat poni rata Yurin berantakan seketika. Yurin sedikit meringis, siapa lagi orang yang berani mengacaukan poni satu garis—nya hari ini? Yurin sudah akan berteriak namun ia menahannya begitu melihat bahwa orang itu adalah L yang menjadi pelakunya.

“Uh~ Sunbae, tidak bisakah kau tidak mengacaukan rambutku?” Yurin menggembungkan pipinya, sebenarnya ia tidak begitu memperhatikan penampilan namun Yurin akan stress sendiri kalau rambutnya jadi berantakan.

“Tidak perlu terlalu di rapi—kan. Dengan rambut apapun kau tetap kelihatan manis” Yurin hampir saja terjungkal dari tangga begitu mendengarnya. Bahkan L saja bingung dengan apa yang baru saja ia katakan. Kata-kata itu tiba-tiba saja meluncur tanpa di duga. Mengapa ia bisa melihat Yurin menjadi seorang gadis yang sangat manis hari ini? Sementara Yurin semakin yakin bahwa memang ada yang aneh dengan L hari ini, sejak mereka keluar dari lift semalam.

“Ah~ sudahlah. Kau lapar, kan? Ayo kita makan!” L mencoba mencairkan suasana canggung yang tercipta, menaruh lengannya ke bahu gadis itu dan membawanya pergi sementara Yurin hanya menurut saja mengingat ia juga sedang mencari makanan dan perutnya yang sudah kelaparan.

Dan keduanya sekarang sudah sampai di sebuah ruangan kosong yang merupakan kelas musik yang sedang dalam keadaan sepi dan kosong dimana hanya ada DO dan Kai di dalamnya. Ternyata mereka sudah memesan beberapa porsi pizza dan hamburger untuk makan siang dan mengajak Yurin untuk turut serta.

“Hoobae—aku baru lihat ada gadis yang punya selera makan sepertimu. Aku menyukaimu” ujar Kai sambil melihat Yurin yang menangkup satu bun hamburger dan memasukkannya ke mulut tanpa segan. Yurin tidak menjawab, ia sibuk mengunyah dari tadi. Mimpi apa semalam hingga ia ditraktir oleh orang-orang ini?

“Kau harus makan pelan-pelan. Nanti kau tersedak.” L secara spontan langsung membersihkan beberapa sisa makanan yang ada di bibir Yurin membuat Kai dan DO jadi heran melihatnya. Ada apa dengan ketua mereka ini? Mengapa menjadi begitu baik terhadap gadis ini? Bukan hanya Kai dan DO yang heran, Yurin juga ikut merasa bingung dengan perlakuan L tadi tapi pada akhirnya gadis itu kembali sibuk menghabiskan makanannya.

“Ya! Apa kepalamu baru saja terbentur di jalan?” tanya DO menatap L dengan tatapan penuh tanda tanya.

“Tidak” jawab L santai, lagipula pertanyaan macam apa itu?

 

***

Krystal sedang berada di toilet untuk sekedar merapikan seragamnya sehabis buang air, baru saja gadis itu akan membuka knop pintunya ia mendengar beberapa sekelompok  gadis di luar sana yang sedang membuka keran wastafel menyebutkan namanya.

“Aku benar-benar benci dengan Krystal Jung itu ! Dia sok cantik!” ujar seorang gadis bernama Hayoung yang sedang mencuci tangannya di wastafel sambil memasang wajah bergidik.

“Ya jelaslah, cantikan juga aku” gadis yang bernama Chorong juga ikut menimpali sambil mengibaskan rambutnya dan tersenyum ke arah cermin. Naeun yang ikut bergabung bersama kelompok itu hanya terdiam dan sesekali tersenyum sementara tangannya sibuk merapikan poni panjangnya agak tidak berhamburan.

“Udah gitu dia selalu nempel sama L. Malah bilang kalau dia  bakal tunangan sama L lagi. L kan cuman suka sama Naeun” cerocos gadis berambut pendek sebahu yang bernama Namjoo itu.

“Ya, paling dia cuman bohong. Krystal itu kan cuman omong doang. Sampai kapan pun L itu cintanya cuman sama Naeun. Dasar Krystal gak tahu diri!” timpal Hayoung lagi membuat gadis itu terkikik sementara Naeun hanya tersenyum simpul mendengar celotehan para temannya ini.

Krystal yang berada di dalam sana sudah tidak bisa mendengarnya lebih lama lagi. Gadis-gadis itu memang cari mati. Krystal sudah akan  membuka pintunya namun sebuah suara menghentikannya.

“Apa ini yang selalu kalian lakukan? Membicarakan orang lain dalam toilet?” Yurin tiba-tiba muncul membuka pintu salah satu bilik setelah cukup lama mendengarkan ucapan para gadis ini saat ia sakit perut di dalam sana dari tadi. Naeun cukup terkejut, ia menyadari bahwa ia sering melihat gadis ini beberapa kali bersama L. Saat di aula, saat di kantin , dan juga saat L mencium gadis ini di perpustakaan. Sementara Hayoung, Bomi, dan Namjoo cukup kaget begitu mengetahui ada seseorang yang melabrak mereka tanpa segan.

“Aku tahu kita seangkatan, berada di tingkat kelas yang sama maka aku tidak ingin menggurui kalian. Namun apakah kalian pernah berpikir apakah seorang Krystal lebih baik daripada kalian?” ujar Yurin lagi menatap 4 gadis di depannya dengan tatapan datar. Diam-diam Krystal tersenyum di dalam sana, mendengarkan semua ucapan Yurin dengan sangat jelas. Meskipun ia dan Yurin sering bertengkar hampir setiap hari ia tidak menyangka bahwa Yurin akan membelanya seperti ini. Yonghwa memang benar, bahwa Yurin merupakan gadis yang benar-benar baik dari dalam lubuk hatinya.

Knop pintu berputar, Krystal keluar dari dalam biliknya dan membuat Naeun, Chorong, Hayoung dan Namjoo semakin terkejut untuk ke sekian kalinya begitu tahu bahwa Krystal—orang yang dari tadi mereka bicarakan berada disini, sudah dapat dipastikan bahwa Krystal sudah mendengar semuanya. Namun Krystal tidak menunjukkan wajah  marah atau tertekannya, gadis itu lantas meraih lengan Yurin seraya berkata “ Ayo, kita pergi. Jangan ladeni orang- orang menyebalkan dan sok tahu ini. Euww~” ujar Krystal seraya menatap meremehkan ke arah 4 gadis di depannya, lebih tepatnya ke arah Naeun yang sedari tadi menunduk layaknya gadis yang baru saja menjalani masa orientasi.

“Kau mendengar semuanya? Kau tidak apa-apa?” tanya Yurin ketika mereka sudah berjalan keluar dari toilet itu  ,  menatap Krystal dengan tatapan khawatir.

“Hey, apa kau pernah lihat aku frustasi karena omongan seseorang? Never” jawab Krystal santai. Kalau boleh jujur sebenarnya ucapan yang didengarnya tadi itu cukup menyakitkan, namun Krystal tidak peduli. Dia akan menunjukkan kepada orang-orang itu bahwa ia bukanlah seseorang yang hanya sekedar ber-omong kosong. Terutama kepada gadis bernama Naeun itu yang Krystal tahu sebagai mantan pacar L di masa lalu. Krystal memang cukup sentimen pada gadis itu, entah kenapa, yang jelas Krystal tidak suka meskipun Naeun adalah gadis yang baik-baik.

“Ada angin apa sampai kalian bisa berjalan bersama?” Minhyuk datang menghampiri dua gadis itu dengan matanya yang menyipit seperti biasa. Ya, ini sungguh aneh bisa melihat Yurin yang selalu beradu mulut dengan seorang Jung Krystal berjalan beriringan.

“Tidak ada apa-apa. Jangan berlebihan, Minhyuk—ah” jawab Yurin sambil sedikit menyunggingkan senyumnya.

“Hey, Beruang. Sebenarnya aku malas mengundangmu, tapi karena kau wakil ketua kelas, kau harus datang ke pesta pertunangan—ku besok malam. Arra?” ujar Krystal sambil memainkan rambut panjangnya.

Yurin dapat menangkap air muka Minhyuk yang langsung berubah begitu mendengarnya. Wajah ceria Minhyuk langsung hilang seketika. Yurin menyadari pasti ada sesuatu yang Minhyuk rasakan.

“Kalau aku tidak sibuk” jawab Minhyuk pada akhirnya.

“Whatever” Krystal mengibaskan tangan lentiknya kemudian berjalan meninggalkan Minhyuk dan Yurin dengan berjalan layaknya seorang model papan atas.

“Minhyuk—ah, ayo kita ke kelas” Yurin langsung menggandeng lengan sahabatnya itu dengan memasang senyum manisnya,menyiratkan bahwa ia ingin menghibur Minhyuk. Minhyuk ikut tersenyum, memasang kembali wajah cerahnya di hadapan Yurin dan berjalan beriringan dengan gadis itu. Memang, hanya Yurin—lah yang mengerti perasaannya.

 

***

 

“Aku tidak suka kau menyentuh pria lain dengan seenaknya.” Yonghwa berbicara sambil meneguk  ice latte yang baru saja di pesannya menatap gadis berseragam pelayan itu yang  kini ikut duduk di depannya.

“Oppa jangan bercanda. Itu Minhyuk Oppa–. Minhyuk. Dia bukan orang lain” jawab Yurin setengah berteriak. Gadis itu tidak habis pikir kenapa tiba-tiba Yonghwa melarangnya menyentuh lelaki biar sedikit pun.

“Minhyuk atau apapun, pokoknya tidak boleh” ujar Yonghwa lagi, kali ini menyeruput lattenya dengan suara cukup keras. Yurin memutar matanya, jadi Yonghwa datang kesini hanya untuk memesan minuman dan mengatakan hal konyol rupanya. Well, ini bukan pertama kalinya.

“Kalau kau terlalu dekat dengan seseorang, kau akan menaruh hati padanya” ujar Yonghwa lagi dengan suara yang cukup pelan namun Yurin yang mempunyai indera pendengaran super ini masih sanggup mendengarnya.

“Ya, ampun. Omongan Oppa makin lama makin melantur. Ayo, Oppa, cepat habiskan latte—mu. Sebentar lagi kami tutup” Yurin memaksa Yonghwa untuk segera berdiri dan keluar dari café—nya, ia tidak peduli meski bos—nya sudah menatapnya karena sudah berani mengusir seorang pelanggan. Tentu saja Yurin berani karena ini adalah Yonghwa.

“Ya,ya, ya. Aku akan pergi. Tapi kau harus ingat kata-kataku. Arra?” Yonghwa kembali mengacak rambut gadis itu seperti biasa, seakan sudah menjadi kebiasaan dan keharusan bagi Yonghwa.

“Oppa~” Yurin sudah menggembungkan pipinya menatap punggung lelaki berjaket hitam itu yang sudah melangkah menjauh dan menghilang setelah mengendarai motor sportnya yang terparkir di ujung jalan sana. Yonghwa selalu saja begitu padanya.

 

***

 

Yurin melangkah memasuki club yang berkedip-kedip itu tepat pada jam 9 malam. Gadis itu mengganti kaus putihnya dengan sebuah gaun mini berwarna keunguan yang mengkilap dan mengikat rambut panjangnya ke atas, tentu saja kembali melakukan pekerjaannya sebagai hostess seperti biasa. Saat berjalan menuju ruang bar Yurin sempat membuka kalender di ponselnya, menghitung sisa hari yang harus di jalaninya sebagai hostess. Akhir bulan masih terasa lama. Sekarang saja masih tanggal 15. Masih ada 2 minggu lebih. Yurin menghela nafasnya berat. Jujur, rasanya ia ingin langsung loncat ke akhir bulan agar bisa terlepas dari pekerjaan ini.

“Yurin—ah, kamar 007 memesan-mu” Jieun, rekan hostess yang memakai gaun lebih mini dari dirinya itu langsung memberikan nampan berisi beberapa potongan buah dan 3 botol soda kepada Yurin. Yurin langsung menerima nampan itu dengan sigap, kemudian berjalan menyusuri lorong yang menampakkan pintu-pintu kamar.

Tepat di kamar 007 gadis itu menghentikkan langkahnya. Yurin merasa aneh dengan botol soda yang dipesan pemilik kamar ini. Siapa yang gerangan memesan minuman semacam ini? Soda adalah minuman yang dianggap kuno di tiap club mana pun, rata-rata pelanggan pasti kan memilih memesan bir, vodka, atau jenis alkohol lainnya.

Yurin tidak mau berpikir lebih lanjut lagi. Ia memilih tidak terlalu peduli. Yurin langsung memutar knop dan membuka pintu dengan santainya, kemudian berjalan memasuki ruang kamar itu dengan kepala tetap tertunduk.

“Terima kasih sudah memesan saya. Saya akan melayani anda untuk 2 jam ke dep………… EEEEH??? SUNBAENIM????”

Mata Yurin melebar dan berteriak sekeras mungkin begitu ia mengangkat wajahnya dan mendapati ada 3 orang lelaki yang di kenalnya sedang duduk di atas sofa berwarna merah itu dengan tangan menyapa Yurin yang sudah hampir terjungkal dengan nampan yang dibawanya.

“Annyeong Hoobae” ucap mereka bersamaan.

Kenapa mereka bisa di sini?

 

Kai, DO dan L………………….?

 

***

 

“Apa segini tidak cukup?” L melemparkan  2 amplop uang berwarna cokelat ke meja pemilik club yang langsung meraih amplop itu dan melihat isinya.

“Aah~ ini lebih dari cukup. Kau bisa membawa pergi gadis itu” ujar Ahjumma itu sambil mengibaskan tangannya pertanda tidak keberatan jika Yurin harus berhenti dari pekerjaannya lebih cepat dari kontrak yang sudah di tetapkan.

Yurin hanya menghela nafasnya berat begitu sudah keluar dari ruangan club mengekori langkah lelaki tinggi yang berjalan di depannya. Disatu sisi ia merasa senang, akhirnya ia bisa terlepas dari pekerjaan hostess sekian lama, di satu sisi ia terheran-heran mengapa L yang harus menebusnya.

“Sunbae–, kenapa kau melakukan ini?” tanya Yurin membuat tubuh L langsung berbalik menatap gadis itu yang sudah memasang wajah kebingungannya.

“Aku hanya ingin pembantu—ku fokus. Bagaimana mungkin pembantu—ku melakukan pekerjaan lain ? Itu akan menganggu konsentrasiMU  dalam melakukan tugas-tugas ” jawab L, sedikit memutar matanya mencari jawaban. Yurin hanya mengangguk pelan. Ya, sudah pasti ini karena dia adalah pembantu L. Padahal Yurin sudah mempunyai firasat bahwa L mungkin memperhatikannya. Tapi  Mana mungkin L melakukan semua ini demi dirinya?

“Waa~ ternyata tubuhmu bagus juga hoobae” ujar Kai yang sedari tadi memperhatikan tubuh Yurin yang terbalut gaun pendek tanpa lengan.

“Iya. Aku tidak pernah tahu. Selama ini kan, kau selalu pakai seragam” timpal DO ikut memperhatikan Yurin.

“Issh… kalian!” teriak Yurin begitu sadar dari tadi tubuhnya di perhatikan 2 orang pervert ini. Tiba-tiba sebuah jaket menutupi pundak gadis itu, menutupi bagian depan dan lengan Yurin yang terbuka. Yurin berbalik, menatap sang pemberi jaket yang ternyata adalah L.

“Udara jadi dingin. Kuantar kau pulang” ujar L sementara tangannya mengancingkan resleting jaket yang sekarang dipakai Yurin.

Kening Yurin mendadak mengernyit melihat perlakuan L padanya. Bukan hanya Yurin yang merasa aneh, namun Kai dan DO yang berasa di belakang juga memandang aneh kepada L.

“Kalian kenapa?” tanya L memandang tiga orang di depannya yang memasang wajah bingung kepadanya.

Yurin memajukan langkahnya kemudian menyentuh kening L dengan punggung tangannya.

“Sunbae—apa kau sakit?” tanya Yurin , mendekatkan wajahnya hanya untuk melihat apakah tuan-nya satu ini memiliki gejala sakit atau salah makan obat, karena akhir-akhir ini L benar-benar berbeda dari biasanya.

L tidak menjawab. Lelaki itu sibuk menahan nafas dan gemuruh dalam dadanya saat Yurin mendekatkan diri dan menyentuh keningnya. Jarak diantara mereka terlalu dekat, dan L bergetar hebat saat wajah menggemaskan Yurin terlihat sedekat ini. Ada apa dengan dirinya? Apa yang terjadi sebenarnya?

TO  ~ BE   ~ CONTINUE

Note’s : Akhirnya Chapter 3 selesai juga ^^

Bagaimana menurut kalian ? Apakah ceritanya menarik atau justru menjadi kurang seru ? Soalnya aku menulis chapter ini saat mendekati ulangan :3 Mohon kesan, kritik, dan saran-nya yahh terhadap cerita yang satu ini. Maaf juga kalau masih banyak typo—nya. O ya aku pengen nanya siapa karakter favorit kalian disini? Kalian pengen siapa yang jadian di sini?? Hehe aku pengen tahu pendapat kalian untuk membantu melanjutkan ff ini.

Okay, see u in next chap !!!

Facebook : Naomi Reeyu

Twitter : @_nraesky

36 responses to “Romance Rhapsody (Chapter 3)

  1. Daebak thor,jadi ikut ngayal klo aku slh 1 pemeran dstu…hahahaha *plaaaakkk….
    Ayo thor buruan lanjutkan,udh ga sabar nieh…

  2. Pingback: Romance Rhapsody (Chapter 4) | FFindo·

  3. Hwaaaa.. Aku pengen yonghwa jadian am aku aja eon, bisakah? Hahahha…
    Bagus ceritanya eon.. Tp aku takut ama mamanya si L..

  4. Buuuiiinnggggg

    Karma Myungsoo Karma
    hahahahahhaa

    Myungsoo ada signyal signyal jatuh cinta sama Yurin
    kakakaka

    Bayanging Myungsoo yang kek di scene terakhir itu bikin ngakak parah

    buahahahaha

    Okheh
    keep writing as always ne thor

    Fighting :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s