(Un)Fated Scene [Part 6]

 

Annyeongg ~ Saya membawa salah satu titipan dari lanjutan epep yang kemaren. Siapa yang kangen dengan author dan epep ini? Dan… Tak lupa juga saya selalu mengingatkan untuk meninggalkan jejak dan hargai karya author yang satu ini. Happy Reading ~ ^^

 

Title: [Un]Fated

Author: chandoras

Cast: Oh Sehun, Park Cheonsa(OC)

Genre: Romance, angst, sad, AU

Rating: PG-15

Poster: hyunji

Previous : Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part  5 |

Disclaimer: Originally slipped out of my mind. Plagiarize is strictly prohibited.

NOTE : LONG PART (lagi)! Diharapkan gak bosen bacanya ya:) Buat yang lupa chapter sebelumnya bisa dibaca lagi ya..bakal ada beberapa flasback soalnya

***

“The sin of loving you, if that love is a sin
I will throw everything away
The day I had to turn away like a fool
Please forgive me, if that love is a sin
If that love is a sin”

— V.O.S- Sin

***

Kau tanya padaku apakah hidupku baik-baik saja?

Jawaban seharusnya adalah ya. Sebab aku masih bisa bernapas dengan baik, makan teratur, tidur nyenyak di malam hari, kuliah dengan lancar, uang saku berkecukupan, dan tertawa bersama teman.

Tapi kenyataannya sisi lain hatiku mengatakan tidak.

Sebab ujarnya, sosok pria di dalamnya telah menjelma menjadi separuh bagiannya. Dan ketiadaannya, membuat segalanya tak berasa semestinya.

***

Tak!

“Kau melamun lagi, Park Cheonsa.”

Aku mengerjapkan mataku beberapa kali setelah mendengar bunyi jentikan jari di telingaku. Pemilik jari-jari itu, Im Seori, memandangku khawatir. “Mungkin kau sebaiknya masih beristirahat di rumah,” ujarnya lagi.

“Wae?”

“Sudah berapa kali kau melamun sejak pagi tadi? Apa kau masih sakit? Mungkin tiga hari kemarin masih tak cukup untuk istirahatmu..”

Kepalaku menggeleng kecil. “Itu tidak benar. Aku baik-baik saja,” kilahku. Aku segera melanjutkan pekerjaan yang tadi sedang kulakukan, mengetik notulensi diskusi yang baru saja aku ikuti.

Seori menghembuskan napasnya panjang dan mengetuk-ngetuk meja cafe tempat kami sekarang berada. “Kau masih sama saja, Cheonsa..kukira setelah kau pingsan tiga hari yang lalu, kau akan menghentikan seluruh-kegiatan-sok-sibukmu itu..nyatanya tidak! Ini hari pertama kau masuk kuliah dan kau sudah kembali mengikuti diskusi menyeramkan itu? Oh ayolah..” Ia kemudian menopang kepalanya dengan sebelah tangannya dan menatapku. “Ini gila.”

“Apanya yang gila, hm?” Aku masih terus mengetik sembari sesekali menyesap milkshake coklatku tanpa terlalu menghiraukan Seori.

“Yang gila itu kau! Yang benar saja Park Cheonsa-ssi..kau mengikuti kegiatan sebanyak itu tanpa makan sebutir nasi pun dari pagi?! Kau tahu tidak betapa sulitnya membawamu ke klinik kampus? Oh, aku nyaris pingsan juga!”

Aku tertawa kecil mendengar omelannya barusan. “Maaf. Makanya aku mentraktirmu sekarang Im Seori..”

Seori tak mengatakan apapun dan malah menatapku dengan pandangan menyelidiknya. Sorot matanya seperti hendak melubangi kepalaku. Aku yang sedari tadi mengetik akhirnya berhenti karena merasa jengah. “Wae? Tatapan itu, hentikan, Seori-ah..”

Seori menutup laptopku dan meminggirkannya dari meja yang membatasi kami berdua. “Kau menyembunyikan sesuatu dariku. Dengar, aku mungkin memang bukan pemberi solusi atau tukang ramal yang dapat memberitahu hal-hal yang kau inginkan dan kau butuhkan, tapi aku memiliki dua telinga yang selalu siap mendengarkanmu..”

Kalimatnya barusan seperti menamparku. Aku selalu meminta seseorang untuk bercerita padaku, namun aku sendiri tak mau berbagi keluh kesahku. Licik.

“Apa ini tentang..pria itu? Sehun?”

Kepalaku seperti dipukul oleh palu godam besar. Nama itu. Nama pria itu. Sudah berapa kali aku mencoba menahan diriku sendiri untuk tak menyebut namanya? Ratusan kali? Ribuan? Atau lebih?

“Ini bukan tentang—“

“Ya, ini tentangnya. Aku tahu.” Seori menggenggam kedua tanganku yang saling bertautan satu sama lain di atas meja. “Sorot matamu yang mengatakan bahwa ini memang tentangnya..”

Aku menunduk dan mengalihkan pandanganku ke arah jendela yang menunjukkan pemandangan luar cafe. “Aktingku buruk,ya?” Aku mendengus pelan, mencemooh diri sendiri.

Aku merasakan genggaman tangan Seori mengerat. Tatapannya seperti memaksaku untuk menumpahkan segala hal yang menyumbat pikiranku. Mungkin ia ingin membuatku merasa lebih baik.

“Perasaanku padanya..apakah kau tahu?” tanyaku lirih. Wajah Sehun yang sedang tersenyum mendadak muncul di pikiranku. Mengingatkanku betapa manisnya perasaan ini kala itu.

Seori tersenyum dan menganggukkan kepalanya, “Hanya dari tatapan matamu terhadapnya saja aku sudah tahu. Gumpalan perasaan itu terlalu besar untuk kau sembunyikan.”

“Benarkah?” Aku tersenyum getir. Apa mungkin pria itu menghindariku karena perasaanku terlalu terlihat? Apakah keberadaanku baginya hanya menambah bebannya saja?

“Pria itu..menyuruhku menjauh darinya,” ujarku akhirnya.

“Tolong hentikan air matamu. Tolong hentikan kekhawatiranmu terhadapku. Jangan berikan perhatianmu. Hanya itu.”

Kata-katanya malam itu kembali terngiang-ngiang di kepalaku. Aku menengadahkan kepalaku begitu merasa bahwa air mataku hendak meluncur. Bercerita pada orang lain rupanya lebih sulit daripada menahannya sendirian. Aku tidak boleh menangis. Tidak ada masalah yang akan terselesaikan hanya dengan menangis. Bukankah aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk melepaskannya?

Perasaan ini, perasaan bodoh ini, perasaan egois ini..aku akhirnya menyerah atasnya.

“Baginya, mungkin aku hanya menjadi beban hidupnya. Aku tahu ia sudah banyak memiliki beban dan ya..aku tak pernah mencoba berpikir dari sudut pandangnya. Aku bahkan tak tahu apakah ia membenciku atau tidak, tapi—“

“Cheonsa,” gadis yang duduk di hadapanku itu kini melepaskan genggaman tangannya dari tanganku, “Ini mungkin tak akan menyelesaikan masalahmu, tapi aku ingin kau tahu satu hal..”

Aku menurunkan kepalaku hingga mataku menatapnya sempurna, menunggu kelanjutan kalimatnya.

“Setiap kali aku melihat kau tersenyum bersamanya, setiap itu pula aku melihat percik kebahagiaan di mata seorang Oh Sehun. Aku mungkin memang tak mengenalnya. Ini terserah padamu untuk percaya atau tidak, tapi semua yang ia lakukan mungkin memiliki alasan..dan mungkin ia tak bisa mengatakannya padamu..” Seori menarik napasnya sekali sebelum kembali berbicara, “satu yang harus kau ingat..ia tidak membencimu..”

Aku merasakan mataku mulai berkaca-kaca. Kenapa ia justru mempersulit langkahku untuk menjauh dari Sehun? Kenapa Seori tak mengatakan saja bahwa Sehun memang membenciku? Kenapa ia harus memberitahukan hal ini padaku?

“Terima kasih, Seori-ah..” Aku tersenyum lemah sembari menyibak poniku yang mulai memanjang, “tapi aku sudah menyerah. Aku tak bisa terlalu sedih berlarut-larut. Jadi kuharap, kita tak akan membahas soal pria itu lebih jauh lagi. Berjanjilah padaku, eo?” 

“Hei, jangan seperti itu.” Seori menatapku tak yakin. Ia nampak tak puas dengan akhir dari pembicaraan ini. Namun aku terus memandangnya dengan tatapan memohon. Melihatku yang sudah seperti itu, ia akhirnya menyerah dan mengangguk. “Asalkan kau kembali tersenyum, baiklah. Kau juga harus berjanji untuk menjaga terus senyumanmu, Park Cheonsa..”

Aku tertawa kecil dan mengangguk. Tersenyum pada semua orang mudah saja. Yang mungkin tak mudah adalah tersenyum di hadapannya. Pria itu.

***

Sehari. Dua hari. Tiga hari.

Aku masih merasakan denyar perasaan itu di dadaku. Setiap Sehun lewat di hadapanku bahkan tanpa berbicara satu kata pun, jantungku masih meningkatkan laju detaknya.

Semalam. Dua malam. Tiga malam.

Masih saja aku membayangkan gurat wajahnya sebelum tidur. Berharap jika aku bangun keesokan paginya, semuanya kembali seperti dulu.

Namun tidak.

Aku dan Sehun masih berjalan di jalur masing-masing.

***

Seminggu.

Masih sama. Masih tak ada yang berubah.

Bagaimana cara melepaskan pria itu, aku masih belum menemukannya.

***

Satu minggu tiga hari.

Suara derit pintunya tak lagi terdengar saat lewat tengah malam. Ia kini pulang jam sebelas malam. Cuti kerja, mungkin?

Aku menghembuskan napasku perlahan.

Hal-hal seperti ini saja masih menjadi perhatianku. Janji pada diriku sendiri soal melepaskan Sehun menjadi terasa semakin sulit untuk ditepati.

Aneh, semakin lama justru semakin sulit diabaikan.

Time heals everything.

But not ‘this’ thing.

***

Dua minggu.

Jam sebelas malam. Selalu.

Apa ia sudah berhenti kerja di tempat itu?

Kuharap itu benar.

***

Tiga minggu.

Aku terbangun saat suara petir menyambar. Jam satu malam. Dan hujan. Aku turun ke lantai bawah untuk mengambil air minum. Namun, sosok yang kini terbaring di sofa mengalihkan perhatianku.

Sehun.

Kakiku melangkah pelan menghampirinya. Rasa rindu di hatiku membuncah. Aku menatap wajahnya yang terlelap kelelahan. Tanganku tetap diam di tempatnya, khawatir sentuhanku akan membangunkannya. Tiba-tiba tubuhnya meringkuk saat angin masuk lewat ventilasi jendela. Aku baru sadar, ia tak mengenakan selimut.

Setelah mengambil air minum, aku segera naik ke atas dan kembali ke bawah dengan selimut di tanganku. Meski awalnya ragu—karena takut membangunkannya—aku akhirnya menyelimutinya dengan selimut tersebut.

Ini detik-detik yang terasa begitu berharga. Dapat menatap wajahnya sedekat ini setelah tiga minggu tak berbicara dengannya adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagiku.

“Apa kabarmu?” Aku berbisik pelan sembari tersenyum lemah padanya.

“Apakah kau masih merasa kesakitan setiap malam? Sudah lama aku tak mendengar rintihanmu, itu artinya..kau sudah sehat, bukan?”

Aku tak bisa menahan air mataku untuk tak menetes. Rasanya hal ini begitu menyedihkan. Saat kita hanya bisa berbicara pada orang yang kita cintai di saat ia tak menyadari. Padahal aku begitu merindukan suara datarnya, berharap bahwa ia dapat membalas perkataanku meski dengan sepatah kata miliknya. Meski hanya berujar, ‘Ya, aku baik-baik saja.’

“Sehun,”

“Aku..merindukanmu.”

Ini minggu ketiga. Waktu terlama yang pernah kulewati tanpa kehadirannya.

***

“Aku pulang.” Aku membuka sepatuku dan memasuki rumah. Biasanya tak akan ada yang menjawab salamku karena aku selalu menjadi orang pertama yang pulang ke rumah. Karena jam malamku kini dibatasi hanya sampai jam sembilan, aku memilih untuk selalu langsung pulang ke rumah setelah kegiatan di kampus selesai. Aku tak ingin membuat eomma kecewa padaku lagi.

“Ah, itu dia sudah pulang,” terdengar suara eomma dari arah ruang tamu. Aku yang mendengarnya sedikit kaget karena mengira tak ada orang di dalam rumah. Penasaran, aku akhirnya bergegas melangkah ke arah suara tersebut.

“Cheonsa-yaaaa!” Sesosok tubuh semampai langsung menubrukku dan memelukku erat saat aku baru saja melewati ruang tamu. Aku terbatuk-batuk dan berusaha melepaskan pelukan yang membuatku sesak itu. “Yoojin eonni, aku tak bisa bernapas,” bisikku susah payah.

Bibiku itu akhirnya melepaskan pelukannya dan mencubit kedua pipiku gemas, “Ya! Kau tidak rindu padaku?” tanyanya dengan nada galak yang dibuat-buat.

“A-ah..pipiku, pipiku..” Aku mengaduh pelan sembari memukul lengannya agar ia segera melepaskan cubitannya dari pipiku.

Yoojin eonni tertawa puas dan mengacak rambutku, “Baru tiga bulan kita tak bertemu, tapi mengapa kau jadi lebih manis? Aaah~ aku sangat merindukan keponakanku inii!”

Aku hanya bisa terkekeh menertawakan kelakuan bibiku satu ini. Ia anak bungsu, jadi sifatnya memang sangat manja, bahkan kepadaku yang lebih muda daripadanya. Umurnya yang terpaut jauh dari eomma membuat ia lebih dekat denganku dibanding dengannya. Katanya dulu ia sangat ingin punya adik, jadilah ia akhirnya menganggapku seperti adiknya sendiri.

“Ya! Mana oppa-mu? Kau tak pulang bersamanya?” Yoojin eonni menoleh ke kiri dan kanan, mencari sosok Sehun yang tentu tak akan ada.

Aku tersenyum masam mendengar pertanyaannya tadi. Kapan pula terakhir kali aku pulang bersamanya? Ah, tiga minggu yang lalu. Saat ia menjemputku pulang dari klinik kampus. Namun memori itu sama sekali tak menyenangkan untuk diingat, karena malamnya kami berdua malah berseru satu sama lain dan akhirnya berakhir dengan saling menjauh seperti ini.

“Ia harus kerja sambilan, eonni..” Aku menjawabnya sembari melepaskan tasku dan meletakkannya di atas sofa ruang tamu. “Eomma tumben sekali tak pulang malam. Kau akan makan malam bersamaku?” Aku beralih pada eomma yang sedari tadi hanya duduk memperhatikan kami berdua.

Yang ditanya tersenyum dan mengangguk kecil, “Eo, aku dipaksa bibimu pulang bersamanya karena ia sengaja datang kesini hanya untuk makan malam bersama kita.”

Yoojin eonni tiba-tiba mengacungkan sekantung plastik belanja tepat di depan wajahku. “Tadaaa! Aku sudah belanja! Kau harus membantuku memasak, Cheosa-ya! Kau tahu kan kalau aku tidak bisa berbuat apa-apa di dapur tanpamu? Yayaya?” Ia mulai merajuk, menunjukkan sifat aslinya yang manja.

“Kukira eonni kemari karena mau menunjukkan perkembangan kemampuan memasakmu. Kalau begini caranya sama saja aku yang memasak..” Aku mengerucutkan bibirku dan mengambil kantung plastik yang masih dipegang olehnya. Terakhir kali aku memasak dengannya, Yoojin eonni membuat seisi rumah berasap karena lupa mengeluarkan lasagna yang kami buat dari microwave. Ia lupa mengatur timer otomatisnya sehingga alat itu tetap menyala meskipun makanan di dalamnya sudah mengerak hingga nyaris tak bersisa.

Yoojin eonni menunjukkan gigi geliginya yang tersusun rapi dan kembali mencubit pipiku, kali ini hanya sebelah saja. “Kau tahu saja! Dongsaeng-ku memang luar biasa! Hahahaha..”

“Keponakanmu Yoojin-ah, bukan dongsaeng-mu.” Eomma mengoreksi dari tempatnya duduk. Aku dan Yoojin eonni tertawa kecil bersamaan saat mendengarnya.

Selang beberapa menit kemudian, aku dan Yoojin eonni memulai acara masak-memasak kami. Eomma tak bisa membantu karena masih harus menyelesaikan pekerjaannya yang terpotong di kantor karena dipaksa pulang bersama oleh Yoojin eonni. Sibuk sekali ia. Bahkan ketika di rumah pun masih harus mengerjakan tugas kantornya. Kurasa pernikahannya sama sekali tak bisa mengubah kebiasaan bekerja kerasnya dengan mudah.

Sementara itu, keberadaan Yoojin eonni membuatku melupakan masalah-masalahku untuk sejenak. Ia senang sekali bergurau di tengah-tengah ceritanya. Membuatku tergelak karena lelucon konyolnya dan karena tingkah cerobohnya jika sudah berada di dapur. Sudah lama sekali rasanya aku tak tertawa dengan lepas seperti ini. Terima kasih kepadanya, hari ini menjadi terasa lebih ringan.

Setelah kurang lebih satu jam memasak, makan malam akhirnya siap. Kami bertiga duduk melingkar mengelilingi meja makan kecil kami. Eomma nampak senang saat mencicipi hasil masakanku dan Yoojin eonni. Ia mengacungkan kedua jempolnya pada kami berdua yang membuat Yoojin eonni menepuk dadanya bangga. “Kau lihat itu? Skill-ku tak bisa dipandang remeh,” ujarnya.

“Kutebak kau hanya sepuluh persen berkontribusi dalam prosesnya, Yoojin-ah,” ujar eomma sebelum menyendokkan nasi ke dalam mulutnya.

“Eonni! Kau tak percaya dengan adikmu sendiri, huh?”

Eomma tertawa. Tawa yang membuatnya nampak lebih cantik di usianya yang tak lagi muda. Aku yang melihatnya ikut tersenyum bahagia. Yoojin eonni benar-benar membuat rumah kami ini nampak lebih hidup malam ini.

“Sup buatan Cheonsa enak sekali. Aku akui diusia 19 tahunnya ini kemampuan memasaknya sudah jauh melampauiku. Kau setuju denganku?” Eomma melemparkan pandangannya pada Yoojin eonni. Yang ditanya hanya memajukan bibirnya—tak rela karena hanya aku yang dipuji—meski akhirnya mengangguk setuju. “Ia sudah dewasa sekarang, eonni. Berapa tahun sudah ia memasak sendiri karena kau dulu sibuk bekerja saat kalian hanya tinggal berdua? Hebat sekali..kau tak pernah mengeluh, Cheonsa-ya..”

Aku hanya tersenyum kecut mendengarnya. Itu tidak benar. Aku sering sekali mengeluh, namun aku tak pernah melakukannya di hadapan orang lain, apalagi eomma. Kurasa ia tak punya pilihan lain selain menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan karena ia harus membiayai kehidupan kami berdua. Bila aku mengeluh di hadapannya, itu akan terkesan sangat kurang ajar.

Ketika kulirik eomma, wanita itu tersenyum sendu padaku. “Yoojin benar. Aku selalu pulang malam dan kau tak pernah mengeluh dengan semua pekerjaan rumah yang kulimpahkan padamu. Aku baru sadar bahwa kau tak pernah banyak protes dan selalu menuruti perintahku.” Ia meletakkan sumpitnya di atas mangkuk yang sudah kosong, menandakan bahwa ia sudah selesai makan.

“Setelah kupikir-pikir, tak adil rasanya bila kau kumarahi sebulan yang lalu karena pergi ke tempat itu. Kau mungkin kesepian. Kau mungkin ingin menghabiskan waktumu bersama teman-teman. Kau mungkin memiliki alasan. Aku tidak bertanya dulu padamu dan langsung mengambil simpulan secara sepihak. Maafkan aku, Cheonsa-ya..”

Aku menggelengkan kepalaku setelah mendengarkan kalimat eomma barusan. Pada kasus itu memang aku yang salah. “Tidak, eomma..aku yang salah..”

“Ya, tapi itu salahku juga untuk tak memberikanmu waktu bicara..kau sudah dewasa, seharusnya aku ingat itu. Mulai besok jam malammu kukembalikan seperti dulu. Paling lambat tengah malam kau harus sudah berada di rumah. Dengan syarat, kau tidak pergi ke tempat-tempat yang tak aku sukai. Mengerti?”

Aku mengangguk dan tersenyum penuh terima kasih. Walaupun dalam hati sebenarnya aku tak pernah terlalu keberatan akan potongan jam malamku yang terbatas hanya sampai jam sembilan malam, namun kurasa aku sesekali akan membutuhkan waktu untuk bermain. Terlebih di masa-masa seperti ini. Masa-masa dimana aku membutuhkan pengalih perhatian dari kakak tiriku.

“Ehem!” Suara dehaman yang berasal dari sampingku membuat aku dan eomma mengalihkan perhatian kami padanya. “Sepertinya hanya aku yang tak mengerti apa yang terjadi disini. Apakah kalian butuh waktu pribadi untuk mengobrol berdua lebih lama? Baiklah, baiklah, aku akan cepat pulang..” Yoojin eonni pura-pura bangkit dari kursinya sementara aku dan eomma hanya bisa tertawa melihatnya.

“Nanti kau tanya saja pada Cheonsa bila kau tak mengerti,” ujar eomma pada adiknya itu. Aku mengedikkan kedua bahuku sembari melirik Yoojin eonni. “Aku tak janji akan menceritakannya,” candaku.

“Ya!”

Dan tawa kami bertiga kembali memenuhi seisi ruang makan.

***

Hujan deras turun kembali membasahi tanah kota Seoul. Aku membuka tirai jendela dan menatap peristiwa jatuhnya bulir-bulir air dari langit itu. Jalanan di depan rumahku nampak sepi. Hanya sinar lampu remang di ujung jalan yang menyapu permukaan aspal.

“Eonni yakin akan pulang di tengah hujan seperti ini?” tanyaku pada Yoojin eonni yang sedang memakai mantelnya. Yang ditanya menganggukkan kepalanya satu kali sebagai jawaban. Ia kemudian mengambil sepatunya dari rak dan membawanya menuju pintu depan. “Aku harus segera pulang. Teman satu flatku lupa membawa kunci dan ia sudah dalam perjalanan pulang. Aku harus menyelamatkannya, bukan?”

“Tapi di luar hujan deras.”

“Hei, aku akan pulang naik taksi, bukan jalan kaki. Sebentar lagi juga taksi yang kupanggil akan datang..jadi kau tenang sa—“

Drrt..drrt..

Ponsel Yoojin eonni bergetar. Ia memberikan gestur dengan tangannya untuk menyuruhku diam dulu. “Yeoboseyo..nde..”

Kulihat kepalanya mengangguk-angguk beberapa kali sembari berbicara di telepon. Aku menghela napasku dan kembali menatap pemandangan di luar sana.

Sehun belum pulang.

Kalimat itu muncul di benakku tiba-tiba. Aku menatap jam dinding yang tergantung di dinding ruang tamu. Pukul 22.45. Dimana ia sekarang? Apakah ia tak kehujanan? Tidakkah ia kelelahan?

 Bodoh. Sudah kuduga, tak mengkhawatirkannya sama sekali adalah hal yang tak mungkin. Sulit sekali rasanya menepis bayang-bayangnya yang sudah terlanjur mengakar kuat.

“Cheonsa-ya!” suara Yoojin eonni mengalihkan pikiranku tiba-tiba. “Taksi tidak bisa masuk! Ada pohon tumbang yang menghalangi jalan masuk kesini. Kau tahu jalan selain jalan yang tertutup pohon itu kan? Kau antar aku ke depan, eo? Taksinya menunggu disana!”

Aku menepuk dahiku pelan. Ada-ada saja. Aku segera bangkit dari dudukku dan mengambil dua buah payung. Kami berdua akhirnya keluar dari rumah bersamaan dan segera disambut oleh angin yang menderu kencang. Aku dan Yoojin eonni segera berjalan beriringan melawan hujan.

“Cheonsa-ya, kau tak apa-apa? Bajumu tipis, kau harus segera ganti baju setelah sampai rumah nanti!” Yoojin eonni berseru kencang karena suaranya tak akan terdengar bila ia tak berteriak seperti tadi. Aku menganggukkan kepalaku, “Aku akan baik-baik saja, eonni..ayo cepat jalannya, kau harus segera masuk mobil,” ujarku sembari mempercepat langkah kakiku.

Taksi yang menunggu Yoojin eonni sudah nampak di depan gang kompleks. Ia akhirnya buru-buru masuk ke dalamnya setelah melambaikan tangan padaku. ”Hati-hati!” Aku balas melambaikan tangan dan menunggunya hingga benar-benar pergi.

Ketika aku berjalan pulang ke arah rumah, secercah cahaya kilat tiba-tiba muncul di langit. Aku refleks memejamkan mata dan diam di tempatku berdiri saat gemuruh guntur datang menyusul. Saat itulah aku melihat sebuah mobil yang nampak familiar berhenti di depan pohon tumbang yang menghalangi jalan. Mobil tersebut memutar balik dan akhirnya mengambil tempat parkir di tanah lapang yang berada tak jauh dari situ.

Aku berjalan melewati tanah lapang itu dan melihat sesosok pria yang keluar dari mobil tersebut . Ia berjalan santai melawan hujan. Langkahku mendadak terhenti saat menyadari bahwa pria itu tak lain adalah kakak tiriku. Oh Sehun.

Aku menatap tubuhnya yang telah terguyur oleh derasnya air hujan. Kemeja hijau tua kotak-kotaknya basah kuyup, sementara kaus putih di dalamnya sudah berubah transparan. Ia tetap berjalan lambat-lambat dengan telapak tangan yang membuka ke arah langit. Membiarkan butiran-butiran air itu menelusup di sela-sela jarinya.

Sebuah memori tiba-tiba datang layaknya batu yang menghantam kepalaku dengan keras.

“Tadi kau bilang..kamus hidupmu tak akan pernah sama mengartikan kata-kata dengan orang lain. Lalu menurutmu, apa arti diriku dalam kamusmu?”

 “Hujan.”

“Hujan?”

“Tak usah dipikirkan. Keriput di dahimu akan muncul jika kau terlalu banyak berpikir,”

.

.

“Satu yang harus kau tahu, aku..suka hujan..”

Ia suka hujan.

Itu sebabnya kini ia malah sengaja berbasah-basah ria di bawah guyurannya. Dan ia masih belum menyadari keberadaanku. Padahal aku hanya beberapa langkah di belakangnya.

Segaris cahaya dengan tiga cabang di ujungnya tiba-tiba muncul berkilat di tengah hitamnya langit. Aku tak sengaja melepaskan pegangan tanganku pada payung karena kaget dan membuatnya terbang terseret angin. “Ya!” Aku berseru kaget. Kedua kakiku bergegas mengejar benda yang telah terbang ke arah belakang itu.

Aku menghembuskan napasku lega saat berhasil menangkap payung yang belum terseret jauh dari tempatku berdiri barusan. Setelah menggenggamnya erat-erat, aku membalikkan tubuhku untuk kembali berjalan pulang.

Namun yang kutemukan saat badanku sempurna berputar 180 derajat adalah tatapan mata milik seorang pria yang sudah kuyup tubuhnya. Dari setiap ujung rambutnya, menetes bulir-bulir air yang kembali jatuh ke tanah. Pria itu menatapku dari tempatnya berdiri, membuatku gentar untuk sekadar melangkah maju.

Setelah membeku di tempat selama beberapa detik, aku akhirnya memberanikan diriku untuk berjalan kembali. Detak jantungku semakin cepat seiring menipisnya jarak yang memisahkan kami berdua. Aku tak mengerti mengapa Sehun hanya menatapku seperti itu. Mungkin ia terganggu karena aku merusak momen kesukaannya?

Hingga aku berpapasan dengannya, barulah ia menghentikan gerakanku. Telapak tangannya melingkari pergelangan tanganku, membuatku tak percaya karena ia membuat kontak dengan tubuhku.

Ragu, aku menghentikan langkahku dan menoleh padanya. Menemukan wajahnya yang kini terlihat lebih jelas dibandingkan tadi. Sorot matanya mengirimkan getaran-getaran seperti layaknya dulu aku baru pertama mengenalnya. Momen ini seperti sebuah nostalgia bagi perasaanku.

“Gwaenchana?” Pertanyaan itu tak sadar aku ucapkan saat menangkap emosi dan kepedihan dalam manik mata coklatnya.

Diam. Ia tak melakukan apapun selain hanya menahanku di tempat.

“Se-sehun?” Aku melirik tanganku yang masih berada dalam genggamannya. Bingung. “Kau..mau berbagi payung denganku? Bajumu sudah basah. Kau bisa sakit.” Kakiku melangkah lebih dekat ke arahnya agar payung yang kupegang dapat melindungi kami berdua. Di luar dugaanku, Sehun menerimanya begitu saja. Ia tak mengatakan apapun saat aku bersikap seperti ini.

Ia kemudian memindahkan genggamannya dari pergelangan tangan menuju telapak tanganku. Saling mengaitkan jari-jemari miliknya dengan milikku sendiri. Perbuatan yang membuatku menundukkan kepalaku. Rona merah sudah muncul kembali. Jantungku berdetak kencang seakan berpacu dengan derasnya hujan yang turun. Genggaman ini..betapa aku merindukannya..

“Biar aku yang memegang payungnya,” ujarnya sembari mengambil payung dari tanganku.

Mataku menatap wajahnya takjub. Antara senang dan bingung, begitulah kira-kira perasaanku sekarang. Sifatnya ini tak pernah bisa kutebak. Aku tak tahu mengapa ia tiba-tiba mendekatiku setelah ia menyuruhku untuk menjauhi dirinya sendiri. Hubungan tarik-ulur ini membingungkan, namun aku tetap saja mengikutinya.

Kami berdua kemudian berjalan perlahan. Melukis siluet gelap di atas aspal jalan. Setiap langkah yang kuayunkan bersamanya, setiap nafas yang kuhembuskan di sisinya, seakan menjadi momen paling berharga yang pernah ada.

Aku merasakan hatiku berteriak tak rela saat pagar rumah kami mulai terlihat. Cepat atau lambat Sehun akan melepaskan genggaman tangannya bila kami berdua sudah sampai rumah. Aku tak mau ini berakhir. Aku masih merindukannya.

Derasnya hujan kini sudah berubah menjadi rinai. Bau tanah basah mulai terasa menyeruak. Derik serangga kini terdengar saling bersahutan, tak lagi tertutupi oleh bunyi petir yang memekakkan telinga. Aku membuka pagar rumahku dengan berat hati. Sisi egois diriku kembali mendominasi. Lihat? Sulit untuk berpikir rasional dikala makhluk keturunan Adam ini berada di dekatku.

“Cheonsa.” 

Aku menghentikan gerakanku yang sedang mendorong pagar. Kepalaku menoleh sempurna ke arahnya. Ia melepaskan genggaman tangannya dari tanganku dan beralih menuju wajahku. Dingin terasa saat telapak tangannya menyentuh pipiku. Mataku mengedip beberapa kali, masih tak percaya kalau ia melakukan hal tersebut.

“Banyak orang menyukai hujan, namun tak ada satupun orang di dunia ini yang menyukai badai. Seperti hujan badai barusan.”

“Ma-maksudmu?”

Sehun tersenyum menatapku. Bukan, bukan tersenyum penuh kebahagiaan, melainkan sebuah kepahitan yang tercermin pada manik coklatnya. “Kau mengerti maksudku, aku tahu.”

Aku menggelengkan kepalaku dengan dahi yang berkerut. “Aku tidak—“

“Kau akan mengerti.” Ia melepepaskan tangannya dari pipiku dan mendorong pintu pagar, melanjutkan gerakanku yang sempat terhenti.

Pikiranku masih belum menyatu sepenuhnya akibat perkataan Sehun barusan. Ia menarikku masuk ke dalam rumah karena aku masih tak bergeming di tempatku berdiri. Saat kami berdua memasuki rumah, eomma menghampiri kami dengan handuk di tangannya. “Kalian tak apa-apa? Sehun, kau basah sekali! Dan kau, Cheonsa, kenapa tak memakai mantel?”

Aku terkesiap dari lamunanku dan menerima handuk tersebut. Kulihat Sehun sedang meminta maaf pada eomma dengan senyum tipisnya. “Aku akan berendam dengan air hangat, eomoni. Jangan khawatir,” ujarnya.

Eomma akhirnya kembali ke kamarnya setelah menyuruhku berganti baju. Aku hanya mengangguk kecil. Mataku masih tak bisa terlepas dari sosok pria yang kini sedang mengeringkan kepalanya dengan handuk. Ada apa dengannya hari ini?

“Sehun,” panggilku akhirnya. “Aku masih tak mengerti.”

Ia menghela napasnya. Sekali, dua kali, menatapku sekilas, kemudian membuang pandangannya. “Maaf, aku tak bisa menahan diriku tadi. Aku tak akan berbicara padamu lagi, aku berjanji. Hal ini tak akan terulang. Anggap perkataanku di luar tadi tak pernah ada.”

Aku jelas menautkan kedua alisku begitu mendengar perkataannya. Kenapa ia tiba-tiba memutar balik segalanya ke garis awal? Bukankah tadi kami sudah mulai meniti langkah bersama lagi?

“Bukan itu penjelasan yang kuharapkan keluar dari bibirmu. Kau membuat semuanya terasa abstrak,”ujarku hampir frustasi.

Sehun tak menghiraukanku. Ia kini malah berjalan menaiki tangga. Meninggalkan aku di belakangnya. Tuhan, ia sudah kembali lagi ke sifat dinginnya. Aku bergegas menyusulnya ke atas. Ia selalu meninggalkan diriku sendirian di belakang. Membiarkan aku tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi di depan sana.

 “Sehun!” Aku menghentikannya yang hampir masuk ke dalam kamarnya. Tanganku menarik kenop pintu dan menutupnya, menghalangi dirinya agar tak masuk.

“Apa yang kau lakukan?” Ia menatapku dengan tatapan tajamnya. “Biarkan aku masuk.”

Aku menggelengkan kepalaku keras kepala. “Buat aku mengerti,” ujarku sembari melawan tatapannya. “Buat aku mengerti dengan semua yang terjadi.”

“Kurasa semuanya sudah je—“

 “Tidak. Ini sama sekali tak bisa kumengerti. Tiga kali, Sehun. Sudah tiga kali kau menyuruhku menjauhimu. Aku sudah melakukannya. Aku bahkan sudah menyerah atasmu, tapi tidak..kau justru menghancurkan tembok pertahanan yang sudah kubuat sedemikian rupa dengan berbicara lagi padaku. Kau yang pertama kali menolongku saat aku pingsan dulu, kau pula yang tadi memegang tanganku dan menghentikan langkahku. Kau bahkan berbicara padaku lebih dulu, Sehun..” Aku mencengkeram erat ujung-ujung bajuku. Tanganku gemetar karena gejolak emosi yang sudah tak bisa lagi kutahan.

“Tapi setelah itu kau kembali mendiamkanku. Bersikap seolah tak ada apa-apa di antara kita berdua, layaknya dua orang yang saling tak mengenal satu sama lain. Aku tak tahu berapa kali kau berniat melakukan hal ini, tapi aku tak bisa lagi menahannya. Aku harus mengerti dengan apa yang terjadi.”

“Aku..lelah,” bisikku. “Tarik ulur ini..melelahkan.”

Sehun memejamkan matanya sembari menengadah ke langit-langit rumah. Ia kemudian menoleh ke arah tangga, memastikan bahwa tak ada orang di ujung sana. “Aku pun lelah,” ia berujar pelan. “Saat kau meminta penjelasan seperti ini adalah waktu tersulit untukku. Aku tak bisa menjawabnya.”

“Wae?” Aku menarik lengan bajunya. “Wae?”

“ Anggaplah aku egois. Aku hanya memikirkan diriku sendiri. Kau hanya perlu mengabaikanku. Tak bisakah kau melakukannya tanpa harus bertanya alasannya?”

“Kau kira aku tidak egois? Aku pun egois. Ya, aku egois karena aku ingin kita tetap seperti dulu. Tak peduli apakah aku menyakitimu atau tidak dengan keberadaanku. Tak peduli apakah aku hanya menjadi beban hidupmu. Kau harus tahu bahwa saat bersamamu, saat bertatap mata denganmu, saat kau menggenggam tanganku, aku selalu egois.”

Sehun menampakkan sorot mata terkejutnya. Mungkin ia tak menyangka bahwa aku akan berkata sejujur ini padanya. Aku tak bisa mengontrol lidahku sendiri. Saat ini hatiku yang mengambil alih kendali seluruhnya.

“Cheonsa, aku harus masuk.“ Ia berusaha melepaskan tanganku dari lengan bajunya, namun aku tetap memegangnya erat.

“Kau tanya padaku kenapa aku tak bisa menjauhimu begitu saja? Kau tak bisa menebak alasannya?”

“Hentikan. Berhenti berbicara, Park Cheonsa.”

“Kenapa kau tak mau mendengarkanku barang sekali saja?”

Sehun menepis sebelah tanganku yang masih menahan kenop pintunya. Ia berusaha masuk ke kamarnya namun gerakannya segera terhenti karena detik berikutnya, sebuah kalimat yang selalu kutahan keluar begitu saja dari kedua bibirku.

“Aku mencintaimu.”

Kepalanya menoleh sempurna kepadaku. Kedua matanya menatapku tak percaya.

Aku terpaku. Terkesiap dengan apa yang kukatakan tadi. Aku menutup mulutku dengan sebelah telapak tanganku. Menyesali dua kata yang telah terlontar tanpa kuasa. Kakiku mundur dari tempatku berdiri, sementara sebelah tanganku yang lain meraba-raba tembok di belakangku, berusaha menemukan pintu kamarku sendiri.

“Cheon—“

BRAK!

Aku masuk ke dalam kamarku dan membanting pintunya keras. Aku takut. Takut mendengar kalimat yang akan dikatakan Sehun setelah ini. Ia akan membenciku. Ia tak akan pernah lagi mau bersamaku. Tak ada seorang kakak yang mau dicintai oleh adiknya sendiri.

Di luar masih hujan. Dan aku tak akan pernah lagi menjadi hujan baginya.

***

“Kau..baik-baik saja?” Seori menyodorkan sekaleng minuman bersoda. Ia duduk di sampingku setelah aku menerima minuman tersebut. Tangannya menepuk-nepuk punggungku pelan. Berusaha memberi semangat dan menunjukkan empatinya secara bersamaan.

Aku menggelengkan kepalaku untuk menjawab pertanyaan Seori barusan. Mataku memandangi kaleng yang kini ada dalam genggamanku, benda itu hanya kuputar-putar tanpa ada niat untuk membuka dan meminum isinya.

“Hei..bukankah kau bilang kau sudah menyerah? Lalu ada apa ini? Masih tentang pria yang sama?”

“Masih.”

Seori menghela napasnya dan memelukku erat. “Kau pasti sangat mencintainya, ya?” Ia berbisik di telingaku. “Aku iri. Tak pernah aku mencintai seseorang sampai seperti kau. Pria itu..harusnya berterima kasih karena kau begitu memikirkannya.”

Aku mengangguk dalam pelukannya. “Aku..sangat..mencintainya, Seori-ah..” ujarku lirih.

Seori melepaskan pelukannya dan menemukan mataku yang sudah berkaca-kaca. “Apakah ia tahu perasaanmu?”

“Ya.” Aku mengangguk pelan. Teringat pengakuanku tadi malam yang tak disengaja. “Justru karena ia mengetahuinya, aku takut..ia akan meninggalkanku. Benar-benar meninggalkanku.”

“Kenapa?”

Karena kami berdua saudara tiri.

“Karena..karena..” Aku menggelengkan kepalaku, tak bisa menceritakan alasan sebenarnya pada Seori. Aku tak tahu bagaimana ia akan memandangku bila ia tahu kenyataan bahwa aku mencintai saudara tiriku sendiri.

“Tak apa. Kau tak perlu memberitahunya padaku bila itu sulit.”

Aku memandangnya dengan perasaan bersalah. Meminta maaf karena tak bisa bercerita lebih jauh dari ini. Ia hanya tersenyum dan mengacak rambutku. “Hei..tak apa, lagipula aku tak memaksamu, bukan? Jadi, apa yang bisa kulakukan untuk menolongmu?”

Aku mengedikkan sebelah bahuku. Tak ada yang bisa menyelesaikan masalah ini selain diriku sendiri. Namun aku sendiri tak berani untuk bertemu dengan Sehun. “Kau punya sesuatu yang bisa mengalihkan pikiranku darinya?” tanyaku.

“Hmm..coba kulihat..ah, kau mau menemaniku ke pesta ulang tahun sepupuku? Aku dan ia agak jarang bertemu sekarang dan..yeah, aku takut situasi akan sangat canggung nantinya. Kau mau ikut denganku? Disana pasti akan banyak orang dan siapa tahu..kau akan menemukan pria yang lebih tampan daripada Oh Sehun itu,” Ia menatapku bercanda. “Kau terus memikirkannya karena kau menganggur di rumah, bukan? Kau harus bersenang-senang, Cheonsa-ya!”

Seulas senyum terbentuk di bibirku. Seori benar. Aku harus bersenang-senang dan menekan sisi melankolisku. Lagipula, eomma sudah mengembalikan jam malamku seperti biasa. Ia tentu akan mengizinkanku jika hanya sekedar pergi ke pesta ulang tahun bukan?

“Kurasa aku mau, Seori-ah. Tapi apakah aku boleh datang? Aku tak diundang oleh sepupumu itu..”

“Kau ini bicara apa? Tentu saja boleh! Ia yang mengizinkanku untuk membawa teman. Kau tak perlu khawatir, cukup persiapkan dirimu besok malam, eo?”

Aku mengiyakannya dengan senyumanku. Senang karena aku memiliki setidaknya seorang sahabat yang dapat menghiburku di masa-masa seperti ini.

Besok, ya? Semoga acara itu dapat mengobati hatiku.

***

Hari Jumat. Hari terakhir kegiatan belajar mengajar selama seminggu. Saat yang menjadi akhir pekan bagi orang-orang yang membutuhkan istirahat dan hiburan setelah beraktivitas selama lima hari penuh. Begitu pula bagiku. Malam ini, aku akan pergi ke Apgujeong bersama Seori. Ia bilang pestanya diadakan di sana. Aku sedikit tak nyaman saat mengetahui bahwa aku akan pergi ke kawasan elit seperti itu. Keluarga Seori ternyata cukup berada. Aku tentu harus memperhatikan penampilanku bila akan bepergian ke sana.

Malam tadi aku sudah meminta izin pada eomma. Ia mengizinkanku dan bahkan memberikan uang untukku berbelanja. Ia mungkin tahu bahwa anaknya sudah mencapai umur untuk memikirkan penampilannya. Ah, dan tadi malam pula, pria itu tak pulang ke rumah. Eomma bilang bahwa ia pergi menginap di rumah temannya. Aku bersyukur tak perlu melihatnya karena aku takut ia akan mengatakan sesuatu tentang pengakuan perasaanku padanya.

Din din.

Aku menoleh dan meminggirkan langkahku begitu mendengar bunyi klakson dari arah belakangku. Sebuah mobil dengan warna putih yang baru saja keluar dari tempat parkir.

“Annyeong Park Cheonsa-ssi~” Seorang pria dengan suara berat melambaikan tangannya dari jendela supir. Aku menyipitkan pandanganku dan menemukan wajah seorang pria yang sedang tersenyum lebar. Mataku refleks meneliti seisi mobilnya, khawatir sosok yang kuhindari itu ada di dalamnya.

Saat menemukan bahwa ia sendirian, barulah aku tersenyum tipis dan membalas salamnya. “Anyeong, Park Chanyeol-ssi..”

“Kita bertemu lagi. Tak bersama Sehun?” Ia menghentikan laju mobilnya untuk berbicara denganku. Aku menggelengkan kepalaku begitu mendengar nama yang ia sebut. Tentu saja tidak.

“Aku..sudah kubilang hubunganku dengannya tak seperti yang kau kira,” ujarku sembari merapikan poniku yang tertiup angin. Akhir-akhir ini angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Padahal masih musim semi, tapi rasanya seperti musim gugur.

“Aaah..sedang bertengkar ya? Hahaha..lucu sekali. Baik kau dan Sehun mengucapkan hal yang sama. Kalian ini terlalu mencurigakan.” Pria yang bernama Park Chanyeol itu terkekeh pelan menertawaiku.

Aku tertegun sesaat begitu mendengar kalimat Chanyeol barusan. Sehun mengucapkan hal yang sama denganku? Lalu apa yang harus kurasakan? Sedih? Senang? Entahlah..

“Hei, nona..jangan melamun..” Chanyeol mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku.”Kalau kau mau pulang aku bisa mengantarmu. Ayo masuk ke dalam.” Ia mengerling ke arah kursi di samping kursi supir.

Aku menaikkan alisku tak yakin. Kenapa pria ini tiba-tiba bersikap seolah kami adalah teman baik? Seingatku kami hanya pernah bertemu dua kali. Ah, atau tiga kali?

“Tingkat kecurigaanmu cukup tinggi ya, hahaha..tenang saja, aku hanya ingin menebus kesalahanku di masa lalu. Pertemuan pertama kita buruk sekali, bukan?” Chanyeol akhirnya keluar dari mobilnya. Ia kemudian mendorong bahuku dari belakang dan membukakan pintu mobilnya untukku. “Silakan masuk~”

“Aku belum mengatakan ya.”

“Dan kau tidak menolaknya. Ayolah, waktu kita bisa habis hanya karena perdebatan tak berguna ini.”

Aku tertawa dan akhirnya memutuskan untuk menyerah. Setelah kami berdua masuk, Chanyeol menjalankan mesin mobilnya dan membawanya pergi meninggalkan kampus. Aku meliriknya sesekali selama perjalanan. Dari apa yang kulihat, pria ini jelas tipe orang yang banyak bicara dan supel. Ia sama sekali tak merasa canggung dengan keberadaanku. Yang ada ia malah mengajakku berbicara tanpa henti. Membuatku terkekeh karena lawakan konyolnya.

“Jadi, kemana arah rumahmu?” tanyanya saat kami hampir mencapai perempatan jalan.

“Ah..kau bisa turunkan aku di supermarket setelah perempatan nanti.” Aku menunjuk puncak bangunan yang sudah terlihat dari posisi kami sekarang. Selain untuk berbelanja pernak-pernikku, eomma juga menyuruhku untuk memenuhi kulkas yang sudah mulai kosong.

“Hooo..kau berbelanja sendiri? Jangan bilang kau bisa memasak sendiri pula?”

Aku mengedikkan sebelah bahuku. “Sedikit.”

Chanyeol menoleh padaku dan menatapku sekilas sebelum akhirnya mengembalikan pandangannya ke depan.

“Wae?”

Pria itu menggeleng dan terkekeh, “Aku iri. Sehun beruntung sekali punya gadis yang pintar memasak sepertimu. Aku selalu ingin punya gadis yang dapat membuatkan bekal untukku, hahaha..Kau tahu telinganya selalu memerah saat kami menggodainya tentang kebersamaannya denganmu. Hanya akhir-akhir ini saja ia mengucapkan hal yang sama denganmu. ‘Hyung, aku dan Cheonsa tak seperti yang kalian kira’  begitu katanya.”

Aku menundukkan kepalaku. Mulai tak nyaman akan obrolan ini. “Memang seperti itu kenyataannya, Chanyeol-ssi..”

“Yayaya..kami tak bisa kalian bohongi! Sehun tak pernah tersenyum pada kami sebanyak saat ia bersamamu. Kurasa kalian bertengkar cukup lama, ya? Sebulan? Atau lebih? Sehun jadi lebih mengerikan sekarang. Setiap kami godai, ia selalu menyinggung tentang hujan dan angin. Hahaha..konyol sekali..”

“Hujan dan angin? Maksudmu?” Aku tiba-tiba teringat perkataannya saat hujan kemarin. Itu juga salah satu pertanyaan yang tak ia jawab untukku.

“Ia bilang jika hujan dan angin bersatu, maka akan terjadi badai yang dibenci orang-orang. Oh, ia bertingkah seperti penyiar ramalan cuaca saja! Aku tak mengerti maksudnya. Padahal sebelumnya ia tak pernah menyangkal saat kami bilang bahwa kau adalah kekasihnya.”

Aku hampir tak mempercayai telingaku sendiri saat mendengar Chanyeol mengatakan hal tersebut. Gambarannya mengenai perasaan Sehun terhadapku membuat roda yang berada di dalam hatiku berderak pelan.

                “Aku merasa kau dan angin adalah satu hal yang sama. Kau..seperti angin,”

 

“Satu yang harus kau tahu, aku..suka hujan..”

 

Angin. Hujan. Badai. Jadi..itukah maksudnya? Jadi..selama ini perasaannya terhadapku…?

Air mataku tanpa sadar menetes, membuat Chanyeol yang sedang menyetir menatapku panik. 

“W-wae? Apa aku salah bicara?”

Aku menggeleng dan menoleh padanya. Tersenyum perih. “Tidak. Terima kasih, Chanyeol-ssi..”

Chanyeol mengerutkan dahinya tak mengerti. “He-hei..kau tidak apa-apa kan?” Ia bertanya masih dengan wajah paniknya. Dan aku kembali menggeleng untuk yang kedua kalinya untuk menjawabnya. Tanganku mengambil tisu di dashboard dan menggunakannya untuk mengelap air mataku.

Selama ini aku selalu bertanya-tanya dalam hati mengenai perasaan Sehun terhadapku. Dan hari ini, Tuhan memberikan jawabannya lewat mulut seorang Park Chanyeol. Meski tak mengatakannya langsung, aku paham bahwa setidaknya Sehun memiliki perasaan khusus padaku. Ya, ia tak membenciku. Tak pernah membenciku.

“Chanyeol-ssi..boleh aku tanya satu hal padamu?”

Pria jangkung itu menoleh padaku dan mengangguk, “O-oh..ya, tentu saja..”

“Sehun..apa pria itu menyukaiku?”

Terdengar tawa kecil dari bibir Chanyeol. Ia mengembalikan pandangannya ke depan, fokus dengan jalanan yang ia hadapi.

“Lebih dari yang kau bayangkan, Park Cheonsa-ssi.”

***

Seori memandangku takjub saat aku baru saja turun dari mobil taksi yang membawaku ke rumahnya. Kami berdua akan berangkat bersama dan diantar oleh supir keluarganya. Selama aku mengenal Seori, baru kali ini aku datang ke rumahnya. Rumah tingkat dua dengan arsitektur yang elegan. Halamannya tak bisa dikatakan sangat luas, namun setidaknya cukup untuk menampung empat hingga lima mobil di atasnya.

Lampu tamannya bersinar lembut, membuat kilauan saat sinarnya menyentuh embun-embun rerumputan. Aku merapikan blazer putihku sembari tersenyum canggung. Ini pertama kalinya aku datang ke rumah sebesar ini.

“Park Cheonsa, kau manis sekali..” Seori masih memandangku dengan matanya yang bulat. Ia menyapu penampilanku dari ujung kepala ke ujung kaki, membuatku menggaruk tengkukku tak nyaman.

“Kau juga,” balasku ringan. Dress yang dikenakan Seori cantik sekali. Anggun dan simpel. Warna putih gading dengan bebatuan yang menghiasi bagian leher hingga bahunya. Ia membawa clutch berwarna toska, senada dengan kedua anting yang menempel di telinganya.

“Tidak, kau..kau tak boleh datang ke pesta itu..”

“Wae?” Aku bertanya panik. Aku sudah bersiap seperti ini dan ia menyuruhku untuk tak ikut? Aku menatap dress dengan warna pastel yang kukenakan. Tak ada yang salah dengan penampilanku, bukan?

“Karena kau akan diculik oleh banyak pria saking manisnya! Park Cheonsa, menikahlah denganku!” Seori menyodorkan sebelah telapak tangannya, layaknya seorang pria yang sedang meminang kekasihnya.

Aku tertawa dan memukul tangannya pelan. “Aku masih normal, Im Seori..”

Seori ikut tertawa mendengarnya. Ia kemudian memanggil supirnya, memberitahu bahwa kami berdua sudah siap. Tak sampai sepuluh menit kemudian, aku sudah berada di dalam mobilnya yang merayap halus di jalanan. Duduk sembari memainkan kuku jariku.

Sesungguhnya pikiranku masih tak bisa lepas dari pembicaraan bersama Chanyeol sore tadi. Pria itu membuatku terbang sesaat karena ia memberitahuku gambaran mengenai perasaan Sehun terhadapku. Namun di saat yang bersamaan, muncul rasa khawatir pula di hatiku. Bila kami berdua saling menyimpan perasaan satu sama lain, lantas bagaimana kelanjutan hidup kami berdua nantinya?

Tentu akan lebih sulit menahan gejolak perasaan ini saat kau tahu bahwa orang yang kau cintai ternyata memendam perasaan juga padamu. Meski sebenarnya, aku belum tahu jelas, benar atau tidaknya perkataan Chanyeol itu.

“Ahjusshi, kau ingat apartemen Joon-oppa? Aku sedikit lupa. Sudah lama tak kesana.” Suara nyaring Seori membuatku tersadar dari lamunanku.

“Tentu saja, nona. Jangan khawatir,” jawab supir itu dengan tenang.

Aku melirik pemandangan di kanan dan kiriku. Pertama kalinya juga aku datang ke kompleks yang berada di Apgujeong ini. Gedung-gedung tinggi dan kehidupan jalanan yang glamor. Aku sempat berpikir bagaimana rasanya menjadi orang yang berkecukupan hingga dapat membuang uang dengan mengadakan pesta mewah di daerah ini.

Mobil sedan yang kami naiki akhirnya berbelok memasuki sebuah komplek hotel apartemen yang cukup megah. Aku menelan ludahku. Tiba-tiba saja merasa salah tempat. Setelah menurunkan kami berdua di pintu masuk, mobil yang kami kendarai menuju tempat parkir. Aku menatap pemandangan sekitarku yang terasa asing. Gaya hidup seperti ini benar-benar hal baru untukku.

“Ayo, Joon-oppa sudah menunggu. Nanti kukenalkan kau padanya,” ujarnya sembari menarik tanganku untuk masuk ke dalam apartemen tersebut. Ia kemudian bertanya pada resepsionis tentang letak ballroom yang menjadi tempat acara pesta ini.

“Kudengar akan ada acara dansa juga. Oh, aku tak sabar untuk mencari pasangan hidupku..hahaha..”

Aku tersenyum kecil mendengarnya. Kami berdua akhirnya menaiki lift dan sampai di ballroom yang dituju. Tak terlalu banyak orang seperti yang kubayangkan. Sepertinya ini adalah pesta privat yang tamunya hanya orang-orang yang dikenalnya saja.

“Oppa!” Seori melambaikan tangannya pada sosok seorang pria yang memakai jas hitam dengan kemeja putih di dalamnya. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, menunjukkan dahinya yang menarik. Ia sedang berbicara dengan seorang temannya saat kami datang. Tangannya balas melambai, kemudian memberi gestur untuk menyuruh kami mendekat padanya.

“Ya Im Seori! Kita satu kampus tapi kau sama sekali tak pernah menemuiku? Kurasa kau sudah lupa dengan keberadaanku, ya?” Pria itu menyentil dahi Seori pelan, membuat gadis itu mendecak tak suka.

“Aish..lupakan. Selamat ulang tahun, oppa..maaf aku jarang menghubungimu. Aku sibuk, kau tahulah.. Ah, ini perkenalkan temanku, Park Cheonsa.”

Aku mengulurkan tanganku sembari tersenyum sopan padanya. Pria itu menyambut uluran tanganku dan menjabatnya. “Kim Joonmyun,” ujarnya memperkenalkan dirinya.

Kim Joonmyun? Nama yang familiar..

“Hei, tunggu..bukankah kita pernah bertemu sebelumnya?” Pria itu memandangi wajahku dengan seksama, berusaha mengingat-ingat kejadian yang telah dilampauinya. “Cheonsa-ssi..kita pernah bertemu sebelumnya di bus. Aku sedang bersama Chanyeol saat itu. Kau ingat?”

Ah, ia pria yang waktu itu mengaku bernama Suho. Aku menganggukkan kepalaku begitu mengingatnya. “Maaf, ingatanku sedikit buruk..”

“Hei..kalian pernah saling bertemu rupanya? Baguslah. Pesta ini tak akan secanggung yang aku bayangkan,” bisik Seori di telingaku. Aku menyenggol lengannya sembari tertawa kecil.

“Cheonsa-ssi?” suara berat itu membuatku menolehkan kepalaku ke samping kiriku. Menemukan seorang pria jangkung dengan setelan suit berwarna kelabu. Ia menunjukkan reaksi yang sama seperti Seori saat melihatku pertama kali. Meneliti dari ujung kepala hingga ujung kaki, lantas kembali menatap wajahku. “Kau nampak luar biasa,” pujinya dengan senyum lebarnya yang khas.

Pipiku bersemu merah saat ia memujiku seperti itu. Apakah aku semenarik itu? Sejujurnya seorang Park Chanyeol pun nampak luar biasa malam ini. Tampilan formalnya memberikan kesan yang kuat. Berbeda dengan penampilan sehari-harinya yang sporty, kali ini ia nampak elegan dan casual. Jas slim fitnya memberikan bentuk tubuhnya yang lebih jelas. Membuat tubuh tingginya menjadi atraktif bagi setiap gadis yang melihatnya.

“Oh, halo..aku Park Chanyeol, teman baik Suho—ani, Joonmyun hyung..” Chanyeol membungkukkan badannya pada Seori. Ia kemudian melirik jahil pada pria di sampingnya, “Hyung, pasti sepupumu ini tidak tahu nama panggilan memalukan itu, kan?”

“Ya!” Suho berseru kesal. Pria itu meninju bahu Chanyeol yang kemudian hanya di balas oleh kekehan dari mulut kami semua.

Tawaku tiba-tiba terhenti saat menyadari satu hal. Jika ini adalah pesta Suho, dan teman-temannya seperti Chanyeol ikut diundang, maka pria itu pasti ada disini. Oh Sehun pasti ada disini.

“Kau sudah bertemu Sehun?” Pertanyaan yang diajukan oleh Suho barusan membuat napasku tertahan sejenak. Aku melirik Seori, meminta bantuan. Aku masih tak bisa bertemu dengannya.

Seori sendiri nampaknya belum menangkap apa yang terjadi saat ini. Ia hanya mengerutkan dahinya tak mengerti begitu melihat tatapan panikku. “Maaf, kami harus bicara berdua dulu. Sampai nanti Joon-oppa, Chanyeol-ssi..” Seori menunduk sekilas sebelum akhirnya menyeretku ke salah satu meja yang letaknya jauh dari mereka berdua.

“Aku tak bisa ada disini..” Aku mengusap wajahku dengan tangan yang sudah mulai berkeringat dingin.

“Wae? Aku tak mengerti..”

“Sepupumu itu adalah teman baik Sehun. Ia pasti ada disini. Aku tidak bisa bertemu dengannya sekarang. Tidak dengan kondisi hatiku yang masih kacau seperti ini..” ujarku sembari melirik ke kanan dan ke kiri. Khawatir benar sosoknya akan muncul tiba-tiba di hadapanku.

Seori menggigit bibirnya bingung. Ia tak mungkin langsung pulang begitu saja hanya karena aku tak mau bertemu dengan Sehun, aku tahu. Tapi bagaimana denganku? Bagaimana bila aku bertemu dengannya? Dengan perasaanku yang sudah diketahui olehnya?

“Lalu apa yang harus aku lakukan? Maafkan aku..” Seori melempar tatapan bersalahnya padaku. Aku jelas langsung menggelengkan kepalaku. Ini jelas bukan salahnya.

“Aku..aku akan duduk di meja pojok sana. Kau boleh berkeliling dan berjalan-jalan tanpaku. Jika sudah saatnya pulang, kau bisa menjemputku disana. Bagaimana?” Aku mengerling pada salah satu pojok ballroom yang tak terlalu ramai. Untuk saat ini, sepertinya berdiam disana cukup bagus.

“Benarkah? Kau tak apa-apa? Ah..aku tak tahu kalau Joon-oppa adalah teman baik pria itu..maafkan aku,” ucapnya dengan wajah memelas. Entah mengapa aku jadi malah ingin tertawa melihatnya.

“Aku tak apa-apa. Baiklah, kau silakan bersenang-senang. Aku akan menunggumu disana, ok?”

Seori membentuk tanda ‘ok’ dengan melingkarkan ibu jari dan telunjuknya. Ia kemudian melambaikan tangannya padaku, harus pergi untuk memberikan salamnya pada keluarganya yang lain.

Dan disinilah akhirnya aku berada. Duduk sendirian di antara gempitanya acara. Yang kulakukan hanyalah memakan hidangan appetizer sembari menatap Suho yang kini sedang meniup kue ulang tahunnya.

“Benar-benar tamu tak diundang,” gumamku pelan.

***

Recommended song: Westlife-Unbreakable

Aku melirik arloji putih yang melingkar di pergelangan tanganku. Sudah hampir sejam aku berada disini. Seori belum nampak batang hidungnya. Ia sepertinya sedang sibuk menyapa keluarganya yang datang. Aku tentu saja memakluminya. Ia tak mungkin terus menemaniku dan mengabaikan keluarganya begitu saja.

Tiba-tiba perutku terasa sakit. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, berusaha menemukan letak toilet. Kulihat di salah satu pojok ballroom lainnya terdapat simbol yang kucari. Aku bergegas membawa clutch dan blazer milikku untuk segera kesana. Sepertinya aku terlalu banyak makan?

Setelah menyelesaikan urusan di kamar mandi, aku segera keluar dari tempat tersebut dan tak sengaja berpapasan dengan Chanyeol dan dua orang temannya yang tak kukenal. Satu diantara mereka bermata besar dengan bibir berbentuk hati, sedangkan pria yang lainnya memiliki mata sipit yang terkesan jahil. Wajahnya tirus dan bibirnya tipis—oh, aku sedikit iri dengannya. Mereka bertiga sedang meminum anggur saat aku tak sengaja menyenggol bahu salah seorang diantara mereka.

“Ah, maafkan aku,” Aku menundukkan kepalaku ketika menyadari bahwa anggur yang diminum oleh pria yang kusenggol tersebut tumpah ke lantai. Untungnya, minuman itu tak mengenai bajunya sama sekali.

“Oh, ya..tak apa, aku bisa mengambilnya kembali, jangan khawatir,” ujar pria bermata besar itu.

“Eo, Park Cheonsa, kita bertemu lagi.” Chanyeol memamerkan deretan giginya yang tersusun rapi begitu melihatku. “Kukira kau bersama temanmu barusan. Kenapa sekarang kau sendirian?” tanyanya kemudian.

“Ah..aku baru dari toilet tadi..” jawabku sembari mengerling ke arah toilet di belakangku.

“Tunggu, kau..bukankah kau gadis yang dulu sering bersama Sehun? Wah, aku sampai tak mengenalimu. Sehun tentu tak akan berkutik bila melihatmu seperti ini.” Pria bermata sipit yang berdiri di samping Chanyeol ikut berbicara. “Ah, perkenalkan, aku Baekhyun. Byun Baekhyun.”

“Dan ini Do Kyungsoo,” Chanyeol mengacak rambut pria dengan mata besar. Pria itu balas menyikut perut Chanyeol dan tersenyum canggung padaku. “Annyeonghaseyo,” ujarnya sopan.

Aku membungkukkan punggungku dan balas memperkenalkan diriku. “Annyeonghaseyo..Park Cheonsa-imnida..”

“Hyung!” sebuah suara lainnya terdengar tepat setelah aku selesai berbicara.

Tiga pria di hadapanku serempak menoleh ke arah asal suara, begitu juga aku.

“Aku sudah menghubungi Jongin namun ia tak—“ Kalimat pria itu terputus tiba-tiba. Ia mematung di tempatnya begitu melihat sosokku bersama tiga orang temannya.

Aku merasakan kakiku tak lagi memijak lantai saat manik coklatnya tepat jatuh menembus mataku. Di hadapanku, berdiri seorang pria dengan jas hitam dan kemeja putihnya. Rambutnya tak lagi turun menutupi dahinya, namun diatur rapi ke belakang. Dan yang paling penting, pria itu adalah pria yang kuhindari sejak tadi. Oh Sehun.

“Ups, sepertinya kita harus segera pergi. Ayo, jangan ganggu mereka berdua.” Baekhyun menggamit lengan Chanyeol serta Kyungsoo dan berjalan pergi meninggalkan kami berdua.

Aku tak terlalu menghiraukan kepergian tiga orang itu karena aku telah terseret jauh dalam gelapnya bola mata milik Sehun. Pria itu masih diam di tempatnya, sama sepertiku. Ia berjalan satu langkah ke arahku dan kakiku tanpa sadar mundur ke belakang. Tidak, aku tak bisa bertemu dengannya seperti ini.

Sehun terus berjalan mendekatiku sementara kakiku mendadak kehilangan kekuatannya. Suara musik tiba-tiba terdengar memenuhi seisi ruangan. Itu tanda acara dansa akan dimulai.

Punggungku nyaris mengenai pilar yang berdiri di belakangku kalau saja Sehun tak menarikku ke arahnya. Aku berusaha menjauh darinya namun ia memegang kedua pergelangan tanganku erat. Dan aku tak bisa berbuat apa-apa saat wangi parfumnya tercium dengan jelas dari jarak sedekat ini.

“Sehun, aku—“

“Jangan katakan apapun. Aku mohon.” Ia menatap mataku dalam. “Aku tak ingin lagi menahan diriku malam ini,” bisiknya sembari menyelipkan helaian rambutku ke belakang telingaku. Aku merasakan sensasi yang sama seperti dulu muncul kembali. Ya, puluhan atau mungkin ratusan confetti meletup-letup di dalam dadaku.

Perlahan namun pasti, Sehun membawaku ke tengah-tengah ballroom. Aku sama sekali tak bisa mengalihkan pandanganku dari wajahnya. Ia beratus-ratus kali lebih tampan dari biasanya. Dengan dasi hitam yang melingkari lehernya, setelan formal yang melekat di badannya, serta rambut coklatnya yang nampak semakin gelap.

Saat kutolehkan kepalaku ke kanan dan ke kiri, beberapa pasangan nampak sedang asyik berdansa. Mereka semua berputar-putar di atas lantai dengan tatapan yang melekat pada pasangannya masing-masing. Sehun memegang pipiku dan mengembalikan wajahku ke hadapannya. “Jangan tatap apapun selain aku.”

Tatapan kami saling terkunci satu sama lain bersamaan dengan diputarnya musik romantis yang mengiringi langkah-langkah kecil kami. Gerakan kaki yang lambat, sentuhan tangannya di bahu dan pinggangku, serta wangi parfumnya yang khas membuatku tak bisa mengalihkan perhatianku sedikit pun dari wajahnya. Ia menuntun pergerakanku dengan caranya yang perlahan dan elegan, membuatku merasa terbuai atas kelembutannya. Aku tak ingat dimana tempat kami berdiri saat ini, siapa orang-orang yang berada di sekitar kami, atau hal lainnya. Di mataku, kini hanya ada sosok seorang Oh Sehun.

Tak ada satu pun kata yang terucap, baik itu dari bibirku atau bibirnya. Kami sibuk berkomunikasi lewat tatapan mata. Menyelami isi hati lawan bicara dengan bertukar rasa lewat sorot mata. Kami larut dalam dimensi rasa yang tak seorang pun tahu dimana letaknya. Dimensi yang di dalamnya hanya aku dan Sehun yang nyata.

Musik semakin menghanyutkanku dalam kolam memoar tentangnya saat tiba-tiba Sehun menarikku dengan satu sentakan halus. Ia memotong jarak diantara kami hingga sebatas lebar kepalan tangan saja. Aku tercekat saat menemukan betapa dekatnya wajah kami berdua. Sehun dengan napasnya yang menyapu wajahku. Ia membawaku berputar-putar pelan di atas lantai dansa tanpa mengubah jarak diantara kami berdua.

Mata rapuhnya kini dilapisi selapis kaca bening cair. Ia mendekatkan wajahnya hingga hidung kami berdua nyaris bersentuhan. “Aku, merindukanmu,” bisiknya pelan. “Sangat..merindukanmu..”

Wanita mana yang hatinya tak luluh lantak melihat pria yang dicintainya mengatakan bahwa ia merindukanmu. Pria yang wajahnya selalu menggantung di tempat matahari dan bulan hingga keberadaannya membuat kau tak bisa membedakan siang dan malam. Pria yang membuat waktumu habis hanya karena lamunan lamunan kosong tentangnya. Angan-angan dan perandaian yang terkesan percuma. Pria yang kini merengkuh lembut tubuhmu dengan kedua tangannya. Pria yang sungguhan mengatakan bahwa ia merindukanmu.

Apakah masih ada musik yang mengiringi gerakan kami atau tidak aku tak tahu. Yang aku tahu bahwa pria di hadapanku ini sekarang menghentikan langkah-langkahnya dan menatapku dalam. “Maafkan aku..yang tak bisa menahan diriku..”

Detik selanjutnya, aku merasakan bibir merah pucatnya mengecup bibirku lembut. Bersamaan dengan turunnya air mataku, aku memejamkan kedua mataku. Membiarkan bibirku tersapu oleh sentuhannya. Merasakan aliran perasaannya dari setiap gerakannya. Ibu jarinya mengusap pipiku perlahan, berusaha menghapus air mataku yang masih mengalir.

Ini..apakah ini mimpi?

Ini bukan ciuman yang sering kutemui di sinema bioskop, atau drama setiap malam. Tidak intim, namun penuh kasih sayang. Satu perbuatan yang membuatku sadar bahwa pria ini benar-benar memiliki perasaan yang sama dengan perasaanku terhadapnya.Bila bintang-bintang yang bertebaran di langit malam ini bersinar dengan seluruh kekuatannya, maka seorang Oh Sehun tetap akan menjadi nyala terterang yang menjadi pelita malamku saat ini.

Aku membuka mataku perlahan saat ia mulai menjauhkan wajahnya. Kami berdua kembali saling bertatapan satu sama lain. Memastikan bahwa malam ini bukan salah satu dari mimpi-mimpi dalam  tidur kami. Ia kemudian mengecup keningku singkat dan menarikku ke dalam dekapannya. “Maafkan aku. Jangan pernah pergi lagi dari kehidupanku..”

Aku membalas erat pelukannya dan mengangguk dalam dekapannya.

“Cheonsa..terima kasih..telah mencintaiku..”

***TBC***

Haiii~ aku kembali setelah sebulan lebih hiatus! Aarghh..maaf banget buat para reader karena aku gak bisa update sama sekali. UAS telah merenggut nyawa dan pikiran soalnya!

Eniwei, aku minta maaf kalo part ini panjang, alurnya lambat, dan kurang ngena feelnya. Kenapa ya? Kenapaa? Aku juga gak tau kenapa tapi ini udah aku bikin dengan sepenuh hati banget! Di part ini aku ceritain tentang keluarganya Cheonsa, karena gak mungkin hidup dia muter-muter sama Sehun aja kan ya?

Daaan..makasih banyak buat yang udah komen di part 5 kemaren.. pas aku buka terakhir kali, komennya udah banyak dan itu sama sekali belum sempet aku bales. Maaf yaaa..tapi aku baca kok komen kalian..nah buat yang nanya di komen kemaren, aku jawab disini aja yaa..

Q: Kenapa pake sudut pandang Cheonsa terus sih thor? Kan bosen..

A: Karena itu udah aku rencanain dari awal..klo ntar gonta-ganti POV, perasaan Sehun ke Cheonsa bakal cepet ketauan dan itu gak bakal surprise dong..hehe

Q: Jadi anak-anak EXO-K itu pecandu bukan sih?!

A: Oke maaf kalo aku kasih taunya rada muter-muter kemaren. Intinya, mereka bukan pecandu.

Q: Siapa cewek yang ada di foto dalem dompet Sehun?

A: Di part selanjutnya baru bakal aku bahas, hehe..sabar yaa

Q: Punya blog pribadi gak thor?

A: Ada, tapi masih dalam masa rekontruksi karena sudah sarang laba-labaan..hahaha..kalo udah rapi ntar aku kasih tau buat yang mau/gak ada/

Err..sebenernya aku lupa apalagi yang kalian tanyain kemaren..ntar kalian bisa tanya lagi aja ya kalo masih ada yang bikin bingung.

Oh iya, karena ini part bener-bener baru selesai fresh fom oven, aku sama sekali belum bikin lanjutannya..jadi untuk update selanjutnya mohon maaf kalo rada lama yaa..

As always, comments and critis are highly recommended! Thousand love for you, guyysss!

Advertisements

175 responses to “(Un)Fated Scene [Part 6]

  1. kyaaaa…stelah nyesek2an,akhrny yg dtggu2 kluar jg..
    akhrnyaaa..sehun emg keren dah!gk nyngka uri sehun udh dewasa *elap ingus

  2. Perutku serasa ada kupu-kupu yg bertebaran, jantungku udh kyk olimpiade lari😂 gila part dansa sehun cheonsa kena bgt feel nya ditambah sm alunan musik westlife-unbreakable😍

  3. 4 tahun. Udah 4 tahun dari awal peluncuran ff ini, tapi kenapa gue masih gabisa move on??!! Sumpah thor, setiap gue baca ff ini (gatau udah berapa kali baca ulang) feel nya selalu dapet dan ujung”nya dada gue ikutan nyesek.

    Kenapa cerita sebagus ini gaada kelanjutannya?? 😥

    Gue tau ini egois dan bertentangan dg apa yg udah gue sampein di comment sebelomnya, tapi gue bener” berharap ff ini dilanjut sampai akhirnya ketemu endingnya 😥

    Maap ya thor kalo harapan gue itu terlalu egois.. Cheonsa aja boleh egois, gue juga mau kali” egois hehe :’)

    Sebenernya gue gatau apa masih ada yg mampir buat baca ff ini atau engga (termasuk si author sendiri), gue cuma mau menyampaikan apa yg selama ini terkubur di benak gue.

    Dan as always, makasih thor udah sempetin buat bikin cerita sebagus dan se masterpiece ini 🙂 sukses terus~

    • Halo dear, maafin ya aku baru baca komen kamu. Aku baru tau bahwa ada komen baru di ff aku yang sudah sarang laba-labaan ini dari admin yang aku titipin cerita. Well, thanks to her, aku jadi tau kalo masih ada reader yang nunggu cerita ini sampai sekarang. Aku mau ucapin makasih banget, udah suka sama cerita aku, dan tentunya nungguin lanjutan dari cerita ini.
      Bukannya aku gak mau lanjutin, tapi sejujurnya aku dulu sempet stuck buat bikin lanjutan dari part ini –entah berapa draft yang aku simpen kalo kamu mau tau– dan saat itu juga aku mulai gak bisa nyediain waktu buat lanjutin ff ini karena kesibukan kuliah. Sampai detik ini, jujur lanjutan ff ini belom ada. Aku gak bisa janji, tapi kalo kamu mau hubungi aku buat nanya2 seputar ff ini (yang barangkali aku lanjutin tiba-tiba) kamu bisa hubungin aku lewat twitter @sichiil. Thanks ya, makasih buat komennya sekali lagi :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s