THE BROTHERS (Prologue)

Annyeong, saya hadir kembali dengan fanfic titipan. Happy reading dan jangan lupa beri komentar~! Terima kasih.

bro

THE BROTHERS

TITLE : THE BROTHERS

LENGTH : CHAPTERED

GENRE : FAMILY, ROMANCE

RATING : PG – 13

AUTHOR : NAOMIREE @_nraesky

CAST

EXO COMPLETE MEMBER

LEE AHREUM

LEE YURIN

JESSICA JUNG

KIM TAEYEON

HAN DASOM

SEO JOO HYUN

 

DISCLAIMER : LEE AHREUM, YANG SEJAK DULU HANYA HIDUP SEBATANG KARA MENDADAK MEMILIKI 12 SAUDARA LAKI-LAKI DALAM HIDUPNYA……

 

 

PROLOGUE

Namanya Lee Ahreum.

Seorang gadis yatim piatu yang sejak kecil tinggal di sebuah Panti Asuhan Kecil di pinggir kota Seoul.

18 tahun lalu, seorang bayi perempuan mungil di tinggalkan begitu saja di depan pintu gerbang Yayasan Panti Asuhan ‘St. Xavier’ di hari bersalju.

Bayi itu telah tumbuh menjadi seorang gadis cantik dengan nama Lee Ahreum.

Ahreum yang melalui harinya sebagai gadis yatim piatu.

Ahreum yang tidak pernah mengharapkan kasih sayang sejak dulu.

Ahreum yang tidak mengerti apa itu keluarga karena ia tidak tahu.

Ahreum yang hanya ingin terus tinggal selamanya di panti asuhan kecil ini.

 

“Ahreum—ah, saengil chukahamnida” Ibu Jang datang ke kamar sempit Ahreum dengan membawa sebuah cheese cake kecil yang di hiasi satu buah lilin di atasnya.

Ahreum tersenyum tipis, menutup buku pelajaran yang sedari tadi di bacanya lantas menghampiri Ibu Jang—Kepala Panti itu dengan senyum bahagia.

Ahreum meniup lilin kue ulang tahunnya lantas memeluk wanita paruh baya itu dengan penuh kasih sayang.

“Terima kasih, Ibu Kepala—“ Ibu Jang tersenyum, membelai rambut gadis itu dalam pelukannya.

Padahal rasanya baru kemarin, ia menimang bayi yang ia temukan di depan gerbang itu dan sekarang ia sudah tumbuh menjadi gadis yang sudah besar.

“Ahreum—ah. Kau sudah berusia 18. Apakah kau terus ingin begini?” ucap Ibu Jang pelan, Ahreum melepaskan pelukannya, menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan bingung.

“Ibu tahu, sejak dulu kau selalu menolak adopsi. Kau selalu membuat ulah agar para orang tua itu tidak mengambilmu, tapi……”

“Aku tidak memerlukan itu. Apakah Ibu tidak senang aku terus disini?”

“Bukan begitu Ahreum—ah. Kau tahu kan Panti Asuhan ini sudah sangat tua……”

“Aku hanya ingin terus berada disini. Aku akan berusaha keras agar tidak merepotkan Ibu dan yang lain. Aku akan merawat adik-adikku dengan baik. Tidak peduli berusia berapa pun, aku ingin tetap berada disini. Karena dari kecil aku sudah di sini. Hidupku di mulai di sini. Aku tidak butuh keluarga. Keluarga—ku adalah kalian” suara Ahreum terdengar mulai parau. Ia sangat menghindari situasi dan pembicaraan seperti ini. Ahreum mulai meraih tangan Ibu Jang dengan wajah memelas dan cemas,

“Ibu—Izinkan aku terus berada di sini. Izinkan aku mengabdikan hidupku di sini”

 

***

 

“Lee Ahreum. Apa yang sudah kau lakukan? Kau tahu, kau bisa bersekolah di sini karena beasiswa. Bahkan uang buku pelajaran kau belum melunasi—nya. Seharusnya kau tahu diri, tapi sekarang kau malah berkelahi?” Ahreum hanya terdiam mendengarkan semua makian gurunya itu.

“Dia menjambak rambutku, Songsaenim. Kenapa murid barbar seperti dia bisa berada di sekolah ini?”

“Ya!!! Han Dasom! Jelas-jelas kau yang menarik rambut—ku duluan” Ahreum mengangkat wajahnya yang sedari tertunduk menatap gadis dengan rambut acak-acakan yang duduk di sampingnya.

“Lihat ini Songsaenim. Dia mencakarku. Kulit indah ku menjadi biru. Semua gara-gara dia songsaenim” Gadis bernama Dasom itu mulai memasang tampang sedihnya , menggulung lengan bajunya dan memperlihatkan ke guru di depannya. Ahreum memutar bola matanya jengah, sudah berapa kali ia melihat si ratu Drama satu ini melakukan hal seperti ini padanya. Ini benar-benar memuakkan.

“Sudah. Aku akan memanggil wali—mu untuk datang” ujar guru berkacamata itu kembali menyudahi perdebatan tanpa ujung antara Ahreum dan Dasom.

“Tidak songsaenim. Jangan. Jangan memanggil Ibu Jang” Ahreum langsung mengalihkan pandangannya kembali ke guru—nya, dengan wajah memohon gadis itu meminta agar guru—nya tidak memberitahu Ibu Jang tentang masalah ini. Ibu Jang pasti sedih, kalau tahu Ahreum mendapatkan hukuman lagi di sekolah.

“Lalu apa? Kau mau apa sebenarnya?” guru berkacamata itu mulai jengah, ia menatap Ahreum meminta kepastian selanjutnya.

“Pukul aku Songsaenim.” Ucap Ahreum pada akhirnya.

Tidak ada jalan lain. Selalu seperti ini.

Dasom tersenyum sinis mendengarnya.

“Lee Ahreum–, berdiri” ujar Guru itu. Ahreum serta merta bangkit dari duduknya.

Detik berikutnya ia bisa merasakan sebuah kayu memukul betisnya. Ahreum meringis, menggigit bibir bawahnya merasakan rasa sakit setiap kayu itu menyentuh betis mulus—nya.

“Kau tidak akan membuat masalah lagi, kan?” tanya Guru itu sambil tetap melayangkan pukulan kayunya di kaki Ahreum.

“Tidak …. Ak..an” jawab Ahreum pelan, meremas rok seragam—nya hanya untuk meredakan rasa sakit di kakinya.

“Kau tidak akan berkelahi dengan Han Dasom lagi?” tanya Guru itu kembali, masih mengayunkan kayunya ke arah kaki Ahreum.

Ahreum mencoba untuk menahan tangisnya yang sudah mau keluar.

“Tidak….” Sahutnya.

Ahreum meringis di balik wajahnya. Tuhan, mengapa hidup ini sangat tidak adil?

 

***

“Kau puas?” tanya Ahreum begitu ia keluar dari ruangan guru dan kembali bertemu dengan Dasom yang kini sudah menata rambutnya kembali.

“Puas sekali. Bukankah sudah kubilang kalau fitnah—ku selalu berjalan dengan baik. Tidak akan ada yang mau mempercayai anak yatim buangan seperti mu” jawab Dasom dengan tatapan mata meremehkan.

Ahreum sudah akan maju dan mendorong Dasom untuk menarik kembali ucapannya barusan, namun Ahreum mengurungkan niatnya mengingat ia tidak boleh membuat masalah lagi. Ia tidak boleh merepotkan Ibu Kepala lagi.

“Hah? Wae? Akhirnya kau sadar juga ya kalau kau tidak punya kekuatan. Selamanya kau hanya akan berakhir sebagai sampah Lee Ahreum” sahut Dasom kembali dan mulai tertawa meremehkan.

“Terserah kau mau bilang apa” ujar Ahreum pada akhirnya dan mulai berjalan pergi dengan langkah terseok-seok kembali ke kelas menahan rasa sakit yang mengelilingi kakinya akibat hukuman barusan.

“Setidaknya kau bisa bernafas lega. Aku akan segera pindah dari sekolah jelek ini. Aku akan ke Dangwon High School. Tempat bagi para murid-murid berkelas seperti diriku. Sementara kau, huh, hanya bisa terus membusuk di sekolah tidak bermutu ini” Dasom kembali membuka suaranya, kemudian beranjak pergi dari lorong panjang itu.

Ahreum menghentikan langkahnya sejenak setelah mendengar ucapan Dasom barusan.

Dangwon High School?

 

***

 

Suara air mengalir masih mengelilingi wastafel pagi itu. Jam masih menunjukkan pukul 5 pagi, dan Ahreum sudah berjibaku di dapur untuk mencuci piring-piring kotor bekas makan malam para penghuni panti.Lamunan Ahreum kembali melayang saat ia memikirkan ucapan Dasom kemarin. Tentang Dasom yang akan pindah ke Dangwon High School.

Siapa sih yang tidak tahu Dangwon High School?

Setiap murid di Seoul pasti memiliki mimpi untuk bersekolah di sana. Sekolah itu adalah sekolah dengan taraf yang sangat bagus, pendidikan—nya bermutu dan fasilitas yang di tawarkan cukup baik. Kalau boleh jujur, Ahreum pernah mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di sana saat ia baru lulus dari sekolah menengah.

Sebenarnya Ahreum sangat senang akan tawaran beasiswa itu, namun seketika Ahreum tersadar jika menerima tawaran bersekolah di Dangwon itu sama saja ia akan semakin memberatkan Ibu Kepala. Uang semester di Dangwon itu sangat mahal, belum lagi untuk membeli seragam dan uang ekstrakulikuler tiap bulan yang akan memakan banyak biaya. Oleh karena itu, Ahreum mengurungkan mimpinya dan menolak tawaran itu begitu saja. Dan pada akhirnya gadis itu berakhir di sebuah sekolah reguler biasa . Dasom benar, orang seperti dirinya memang tidak akan bisa melakukan sesuatu yang besar, karena dia bukan siapa-siapa. Hanyalah seorang gadis panti asuhan yang penuh mimpi-mimpi kelabu belaka.

‘Lee Ahreum, mengapa kau selalu mengeluh. Bukankah kau seharusnya bersyukur setidaknya kau punya panti ini sebagai tempat bernaung. Bukankah kau masih memiliki kehidupan yang layak?’ Ahreum mencoba berkata pada dirinya sendiri, mengingatkan dirinya agar tidak menangis seperti orang bodoh menangisi kehidupan-nya.

“Ada apa dengan kakimu?” ucapan Ibu Jang membuat lamunan gadis itu menguap seketika. Ahreum buru-buru berbalik menatap Ibu Kepala dengan senyum cerahnya yang sengaja ia tunjukkan.

“Ibu…. Aku terjatuh saat sepulang sekolah. Tidak apa-apa , kan?” Ahreum memaksakan senyum bodohnya yang bisa langsung terbaca oleh Ibu Kepala. Waita paruh baya itu hanya terdiam menatap kaki Ahreum yang membiru seperti habis mendapatkan sebuah pukulan yang cukup banyak.

“Bergegaslah ke sekolah. Dan jangan lupa untuk pulang sebelum hari sore, akan ada orang tua yang datang ke sini . Kau harus mengurus adik-adik mu, arra? Setidaknya hari ini, harus ada satu yang terpilih”

“Aku mengerti”

 

***

 

Ahreum melirik jam di ponselnya, sebentar lagi jam 4 sore dan ia belum juga pulang. Padahal hari ini akan ada orang tua yang datang ke panti untuk melihat anak-anak. Ahreum kan harus mengurus para anak-anak yatim yang sudah ia anggap seperti adik-adiknya sendiri itu, karena Ahreum tahu para anak itu sebagian ada yang nakal dan hanya Ahreum—lah yang bisa membuat mereka patuh. Ahreum mempercepat langkahnya agar bisa pulang tepat waktu setidaknya sebelum ‘orang tua’ itu datang namun langkah gadis itu terhalang seketika karena begitu banyak—nya murid yang mendadak berkerubung di depan trotoar jalanan menutup berbagai akses jalan membuat Ahreum tidak bisa lewat dengan mudahnya.

WAA!!!! Mereka benar-benar EXO!!!”

“Semuanya sangat tampan”

“kenapa mereka bisa berada di sini? “

“kenapa kau bertanya, Gedung Dangwon kan tidak begitu jauh dari sini”

“sepertinya mereka habis mencoba coffee di café ujung jalan itu”

“waa~ mereka sangat tampan! Lihat, itu kai oppa sedang meminum kopinya!

“apa kau sudah mengambil foto mereka? Ppalii~”

“Aku menyentuhnya! Aku menyentuh Luhan”

“mereka memang benar-benar pangeran Dangwon. Sangat berbeda dengan lingkungan kita.”

“aku akan pingsan”

“jangan biarkan mereka pergi!!!”

 

Ahreum menggosok kuping dengan tangannya, mendadak menjadi bising mendengar suara-suara para manusia ini yang entah sedang meributkan apa, sungguh apa yang terjadi sebenarnya? Apa ada artis yang tiba-tiba kedapatan berjalan di jalan trotoar ini dan langsung di kepung massa? Apa INFINITE datang melakukan jumpa fans di jalan sempit ini? Atau justru Bangtan Boys yang datang? Ahreum mendengus berat, ia tidak peduli dengan semua itu. Yang ia inginkan sekarang hanyalah agar ia bisa di beri jalan hingga ia bisa menyebrang ke ujung jalan sana dan sampai ke panti dengan tenang.

 

“Chogiyo~ aku harus pulang cepat” Ahreum berusaha menyelusup masuk ke kerubungan itu hanya untuk bisa melewati jalan, namun itu benar-benar sulit mengingat banyak sekali manusia di sini yang entah sedang mengerubungi apa.

“Permisi~ tolong biarkan aku lewat” Ahreum berusaha menyelusup dari satu celah ke celah lain. Targetnya sekarang hanyalah agar segera bisa melewati jalan ini dan menyebrang ke arah sana, kembali pulang ke panti. Namun seakan tidak ada yang mendengarkannya, ucapan Ahreum menguap begitu saja ke udara.

Ahreum justru makin terdesak terdorong oleh seorang murid wanita berbadan besar yang menghimpitnya. Kekesalan Ahreum semakin memuncak begitu badannya seenaknya saja di dorong-dorong dengan kasar dan kakinya di injak begitu saja oleh orang-orang ini. Belum lagi udara begitu panas, Ahreum merasakan kekesalannya memuncak. Kenapa ia selalu di persulit oleh orang-orang?

 

“YAAAAA!!!! APA KALIAN TIDAK BISA MEMBIARKAN KU LEWAT SEBENTAR SAJA!!!” Ahreum berteriak dengan kesal membuat orang-orang yang berada disana terdiam seketika, menatap Ahreum yang sudah berteriak dan menampakkan raut wajah kesalnya.

Ahreum memandang ke arah depan mendapatkan 12 orang lelaki tampan dengan seragam abu-abu rokok khas – Dangwon tengah menatapnya. Bisa Ahreum rasakan kalau ke 12 orang itu mengarahkan pandangan mereka hanya kepada Ahreum, gadis yang memecah suasana ramai tadi dengan teriakannya.

“Aah~ Lee Ahreum si anak buangan ya~ Berani sekali kau berteriak kepada kami” murid wanita berbadan besar yang tadi mendorong Ahreum itu kembali mendorong tubuh kecil Ahreum membuat Ahreum tersungkur ke jalan trotoar dengan mudahnya hanya dalam sekali dorongan.

“Ya!!! Kau sudah membuat Uri Oppa kaget. Kau memang pembuat masalah, Lee Ahreum” sekarang seorang gadis jangkung yang agak kurus merampas tas yang dibawa Ahreum begitu saja, Ahreum segera bangkit, hendak melawan dan mengambil kembali tas—nya dari tangan gadis kurus itu.

“Siapa suruh kau berteriak kepada kami? Kau bahkan membuat Uri Oppa terkejut. Oppa, kalian tidak apa-apa kan? Gadis bodoh ini memang tidak punya etika. Seenaknya saja ia berteriak. Memang itu adalah yang dilakukan oleh seseorang yang tidak punya orang tua” gadis kurus itu kembali berceloteh dan dengan seenaknya membuang tas orange Ahreum begitu saja sambil sesekali menatap 12 pemuda di depannya dan memasang senyum munafiknya sesekali.

Ahreum terkesiap mendapati tas orange—nya yang sudah rusak dan menjadi kotor atas perlakuan gadis kurus tadi. Kenapa? Kenapa semua orang menjahatinya? Kenapa seorang membencinya? Hanya karena ia adalah seorang gadis panti asuhan , ia bahkan tidak diizinkan untuk hidup dengan baik di dunia?

 

“Ya, terbaca dengan jelas. Dia kan tidak punya orang tua, jadi dia tidak pernah di ajari dengan benar” timpal gadi berbadn besar tadi sambil tertawa.

Ahreum mengepalkan tangannya perlahan mendengar celotehan orang-orang yang sudah menghinanya. Sungguh, ia tidak masalah jika semua orang meneriakinya gadis panti asuhan atau gadis buangan, namun jikan menyinggung masalah orang tua Ahreum tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia sangat sensitif dengan kata itu. Memangnya kenapa kalau ia tidak mempunyai orang tua? Apakah ini salahnya kalau ia terlahir tanpa memiliki orang tua disisinya?

Tess~

Satu bulir air mata jatuh membasahi pipi putih merona Ahreum.

Ahreum bukanlah gadis yang cengeng, ia juga jarang untuk menangis sesulit apapun masalah membelenggunya.

Namun entah mengapa, kali ini ia tidak bisa menahan diri dan bersikap tegar seperti biasanya. Terlalu menyakitkan. Hidup yang terlalu menyedihkan.

Tanpa Ahreum sadari, ke-12 pemuda di sana itu—yang merupakan objek kerubungan– para murid wanita ini sedari tadi terus menatap Ahreum dalam diam. Tidak ada yang mengalihkan pandangan mereka sedetik pun dari sosok Ahreum saat gadis itu menangis.

Ahreum menghapus bulir airmata yang menyentuh pipinya, lantas meraih kembali tas—nya yang sudah kotor berbalik untuk segera meninggalkan tempat ini.

“Bisakah kalian menyingkir? Aku sudah muak dengan kehidupan ini” ujar Ahreum pelan kepada 12 pemuda yang berada di depan dan menghalangi langkahnya.

Satu per satu para pemuda itu menggeser langkah mereka dengan teratur memberikan jalan kepada Ahreum untuk lewat. Ahreum tidak peduli, ia tidak peduli pada apapun. Tidak peduli kepada pandangan sinis dan mengejek yang di ajukan para teman-temannya itu. Gadis itu menyeret langkahnya menyebrangi sisi jalan untuk segera kembali pulang.

Ke—12 pemuda itu masih memandangi sosok Ahreum yang berjalan pergi dari arah belakang. Seakan tidak memperdulikan teriakan histeris para gadis yang kembali mengelukan nama mereka, ke 12 lelaki itu hanya fokus kepada pandangan mereka masing-masing. Gadis dengan seragam cokelat yang sedang beranjak pergi itu. Gadis yang dari tadi terus mereka perhatikan.

“Gadis yang menarik, huh?”

 

***

Ahreum menghapus sisa-sisa jejak air matanya dan menepuk-nepuk tas—nya hanya untuk menghilangkan debu dan pasir yang membuat tas—nya ini menjadi kotor begitu sampai di depan gerbang panti asuhan. Gadis itu berusaha mengambil nafas dan memaksakan senyumnya, ia tidak boleh membuat Ibu Kepala curiga.

“Aku pulang~” sahut Ahreum begitu ia beranjak masuk ke dalam. Anak-anak panti sudah menunggunya sedari tadi, mereka langsung menyambut kedatangan Ahreum yang baru pulang dari sekolah.

“Noona~ kenapa lama sekali? Noona, kata Ibu Kepala ‘orang tua’ akan datang” anak lelaki kecil dengan rambut jamur itu langsung menghampiri Ahreum yang baru akan membuka kaus kakinya.

“Eonnie~ apa benar salah satu dari kita akan diambil? Aku takut eonnie?” sekarang gadis kecil berambut pendek sebahu dengan gigi susu itu merengek di lengan Ahreum dan menampakkan wajah cemas yang menggemaskan. Ahreum terkekeh pelan menatap adik-adiknya ini.

“Juyeon-a, kenapa kau harus takut? Seharusnya kau senang , mungkin salah satu dari kalian akan mendapatkan keluarga baru. Keluarga yang hangat” jawab Ahreum sambil membelai pelan rambut lurus gadis kecil bernama Juyeon itu.

“Yesol minggu lalu juga mendapatkan keluarga baru. Tapi ia tidak pernah datang kembali kemari, eonnie~”

“Noona, lalu kenapa noona belum mendapatkan keluarga baru?” Ahreum terkesiap mendengar ucapan polos yang begitu saja keluar dari adik kecilnya yang sedang menatapnya polos itu. Ahreum terdiam sejenak.

Ahreum sejak kecil selalu menolak jika ia akan diadopsi. Banyak pasangan orang tua yang berniat mengambilnya , namun Ahreum benar-benar selalu membuat masalah agar orang tua itu batal mengadopsinya. Ahreum juga tidak tahu mengapa ia menjadi seperti itu. Ahreum hanya merasa takut dengan kehidupan yang baru. Ia takut meninggalkan panti asuhan ini. Ia takut mengenal arti sebuah keluarga yang mungkin hanya akan memberikan sebuah luka padanya. Itulah mengapa, sampai sekarang Ahreum tinggal di Panti Asuhan kecil ini. Ia sudah terlalu terbiasa tinggal disini.

“Sudah~ sudah. Apa kalian sudah mandi? Eonnie akan mengganti baju kalian. Ppali~” Ahreum kembali memasang senyum—nya yang sempat memudar dan menggiring para adik-adiknya itu kembali ke kamar.

 

***

“ Yang ini namanya Kim Minho. Usianya baru 5 tahun. Dia anak yang pintar. Dia bahkan sudah pandai menghitung. Yang ini namanya Jung Sae Bin. Usianya 6 tahun. Dia cantik, kan? Saebin-a, ayo menunduk pada Ahjussi dan Ahjumma” Ahreum mengenalkan setiap anak dengan telaten kepada pasangan orang tua paruh baya yang kini sedang duduk di sofa ruang tamu, menatap satu persatu anak kecil menggemaskan yang di perkenalkan Ahreum.

“Apa kau staf disini? Apa kau juga salah satu biarawati? Kau masih kelihatan cukup muda” wanita paruh baya berparas cantik itu membuka suaranya, menatap Ahreum yang justru menjadi bingung harus menjawab apa.

“Ah… Itu…..” Ahreum tergagap sendiri, apa yang harus ia katakan?

“Anio, dia juga salah satu anak asuhan kami” ucapan Ahreum terhenti ketika Ibu Kepala muncul dan ikut bergabung bersama mereka.

Pasangan itu nampak menunjukkan keterkejutan mereka, Ahreum hanya menundukkan wajahnya sejenak menatap lantai ubin itu tanpa suara.

“Dia memang sudah besar. Dia anak yang nakal dan selalu membuat masalah, itulah mengapa tidak ada satu pun yang mau mengadopsi—nya” Ahreum kembali menundukkan wajahnya dalam mendengar ucapan Ibu Kepala.

“Dia tidak kelihatan seperti itu.” Ujar lelaki paruh baya itu sambil tersenyum.

“Iya. Dia gadis yang manis dan cantik” timpal sang istri sambil tersenyum simpul.

 

“Tuan dan Nyonya Choi, jadi apa keputusan kalian?” tanya Ibu Kepala sambil tersenyum ramah, “ Apa kalian memiliki niat mengadopsi satu dari anak kami?” lanjutnya.

“Ya, kami sudah membuat keputusan”

“Aku selalu menyetujui apa kata istri—ku.”

“Gadis manis, siapa namamu?” tanya wanita itu lagi kepada Ahreum. Ahreum mengangkat wajahnya perlahan kemudian menjawab, “ Lee Ahreum—imnida” Ahreum memperkenalkan dirinya dengan perlahan dan membungkukkan sedikit punggungnya memberi hormat kepada pasangan di depannya.

“Nama yang cantik. Ahreum~a, izinkan kami mengadopsi mu”

“MWO??”

 

 

***

“Ini kesempatan besar untuk mu Ahreum-a. Tuhan sudah memberikanmu kesempatan untuk hidup dengan lebih baik. Mereka mengirimkan pasangan itu untuk mengambil dan menjagamu. Seharusnya kau senang. Mana ada pasangan yang memiliki niat mengadopsi gadis berusai 18 tahun selan mereka di dunia ini? Mereka akan membuat hidupmu menjadi lebih baik. Mereka akan membiayai kehidupan dan sekolahmu. Kau tidak bisa terus menerus tinggal di sini. Panti ini tidak akan membuatmu menjadi orang yang besar. Kau harus menentukan jalan—mu dan memulai hidup baru bersama keluarga baru—mu.”

“Tapi… Ibu…..”

“Tidak ada tapi-tapian. Ibu akan sangat kecewa kalau kau menolak mereka Ahreum—a. Kau harus bisa bergerak maju Ahreum~a. Jadilah gadis yang membanggakan sehingga kami tidak akan pernah menyesal sudah membesarkanmu, Ahreum~a. Ahreum~a, kau selalu mendengarkan kata Ibu kan? Pergilah. Pergilah dan mulai hidupmu bersama mereka”

 

Ahreum tidak bisa menahan tangisnya, gadis itu memeluk Ibu Kepala dan menagis sekeras-kerasnya di ruangan kecil yang menjadi ruangan khusus bagi Ibu Kepala sejak dulu. Ibu Kepala membalas memeluk tubuh Ahreum sambil berusaha menahan tangis—nya. Ia juga sebenarnya tidak rela mengatakan ini, tidak rela juga menyuruh gadis yang sudah 18 tahun ia besarkan dengan susah payah untuk pergi. Tapi ini adalah jalan yang terbaik. Jalan yang seharusnya Ahreum tempuh untuk kehidupannya di masa kelak.

 

***

3 HARI KEMUDIAN….

 

“Noona!!! Jangan tinggalkan kami noona!!!”

“Eonni~ eonnie mau pergi kemana”

Ahreum berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis saat mendengar adik-adiknya itu memanggil namanya. Ahreum kembali menarik ujung bibirnya, memaksakan sebuah senyuman yang bisa ia tunjukkan ke hadapan anak-anak kecil yang sudah menjadi seperti adiknya ini.

“Jangan khawatir. Eonnie akan sering mengunjungi kalian. Kalian juga hiduplah dengan baik. Eonnie sudah mendapatkan keluarga baru. Kalian juga harus mendapatkannya, arra?” Ahreum berusaha tetap tersenyum meskipun sulit baginya, menatap sekumpulan anak ini yang berusaha menahan langkahnya untuk pergi memasuki mobil hitam yang sudah menunggu di depan gerbang.

“Lalu siapa yang akan menggantikan pakaian kami Noona? Siapa yang akan memasakkan sphagetti seenak buatan noona? Siapa yang akan membacakan buku cerita kalau kami tidak bisa tertidur?”

“Minjoon-a, noona tidak suka anak yang cengeng. Lagipula kau sudah besar kan. Kau anak lelaki yang hebat. Lagipula masih ada Ibu Kepala dan perawat yang lain . Jangan menjadi anak yang manja” Ahreum merasakan suaranya sedikit bergetar saat ia mengucapkan hal itu, sedikit lagi, tangisnya sudah pasti akan pecah untung saja Choi Ahjussi sudah datang menghampirinya dan membawakan kopernya.

“Ahreum~a, sudah waktunya pergi” ujar Tuan Choi memegang bahu gadis itu seakan memberinya kekuatan untuk pergi. Ahreum mengangguk pelan dan menahan tangis yang sudah akan keluar dari kedua matanya.

“Selamat tinggal semua” selamat tinggal Kalian. Selamat tinggal adik-adikku. Selamat tinggal Ibu Kepala………..

 

***

 

Ahreum mengedarkan pandangannya ke kaca mobil yang membawanya pergi menyusuri jalanan. Sesekali gadis itu melihat banyaknya pohon rindang di luar sana yang cukup menyejukkan hati. Panti asuhan sudah menghilang dari pandangannya sejak tadi, Ahreum hanya terdiam dalam duduknya sambil sesekali mengeratkan sweater yang di pakainya.

“Yeobo~ aku senang sekali. Akhirnya kita punya anak perempuan juga setelah sekian lama” Ny. Choi tidak berhenti menampakkan senyum sumringahnya sejak tadi.

“Ahreum~a , kau juga senang kan?” sekarang Tuan Choi yang mengemudi di depan ikut bertanya membuyarkan Ahreum dari lamunannya, gadis itu mengangguk pelan dan berkata “ Ne, ahjussi~”

“aah~ mulai sekarang dia adalah ayahmu Ahreum-a. Dan aku adalah Ibumu. Jadi panggil kami Abeoji dan Eomoni. Bagaimana?”

“Ne, Eomoni. Maafkan aku”

“Kenapa kau minta maaf?? Kau gadis yang lucu sekali. Iya kan , yeobo?” Ny. Choi tidak bisa menutupi kesenangannya, dari tadi ia sibuk tertawa dan kelihatan sangat bahagia. Ahreum tersenyum samar, sepertinya ia mendapatkan orang tua yang menyenangkan kali ini.

“Oya, kami juga sudah men-transfermu ke Sekolah Dangwon. Maaf karena kami melakukannya tanpa berbicara padamu “

“Ne? Dangwon? Maksudnya … aku pindah ke Dangwon?” Ahreum terkejut mendengar ucapan Ny. Choi barusan . Ia tidak salah dengar kan?

“Apa kau marah? Apa kau tidak suka?” tanya Ny. Choi terlihat khawatir. Ahreum buru-buru menggeleng,

“Bukan begitu……” sahutnya cepat. Dangwon High School adalah impiannya sejak dulu, ia ingin sekali bersekolah disana dan sekarang orang tua barunya akan menyekolahkannya di Dangwon? Ini hanya terlalu megejutkan untuk Ahreum.

“Kami memindahkanmu ke sana karena kami pikir itu sekolah yang bagus. Lagipula saudara-saudaramu juga bersekolah di sana” lanjut Ny. Choi membuat Ahreum kembali terkejut untuk kedua kalinya.

“Saudara?”

“Aah~ kau pasti terkejut karena kami belum bercerita. Ya, kau mempunyai banyak saudara. Aku dan suami—ku sudah menikah untuk waktu yang lama, namun kami tidak bisa mempunyai anak sekeras apapun kami berusaha. Maka dari itu, kami memutuskan untuk mengadopsi anak. Tapi setelah mengadopsi satu anak kami merasa sangat ketagihan hingga kembali mengadopsi anak lagi, lagi, dan seterusnya. Tidak terasa kami sudah mengadopsi 13 anak” cerita Ny. Choi yang justru membuat Ahreum semakin bingung di buatnya.

“Jadi begini Ahreum~a, sebelumnya kami sudah pernah mengadopsi anak. Kami mengadopsi 12 anak sebelum kau. Mereka semua adalah anak yatim piatu sama seperti kau dari panti asuhan yang berbeda-beda. Kami melakukan itu karena kami tidak bisa memiliki anak dan kami ingin suasana rumah menjadi ramai. Mereka semua adalah anak lelaki dan sudah tumbuh besar sama sepertimu. Jumlah mereka ada 12orang. Aku pikir akan bagus jika menambah satu anak perempuan, jadi kami mengadopsi mu. Aah~ sudahlah. Jangan di pikirkan. Kau juga akan bertemu mereka di rumah nanti” lanjut Ny. Choi sambil tersenyum.

Sementara Ahreum masih mencerna ucapan Ny. Choi barusan. Maksudnya, ia akan memiliki 12 saudara laki-laki sekaligus? Begitukah? Apa ini bukan lelucon?

 

 

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

THE BROTHERS INTRODUCING CASTS

 exo

 

EXO ALL MEMBER as Ahreum New Brothers

12 pemuda tampan yang dijuluki sebagai EXO dan sangat terkenal di sekolah maupun diluar sekolah. Mereka semua adalah anak yatim piatu dari panti asuhan yang berbeda – beda yang satu persatu ditemukan dan di adopsi oleh Keluarga Choi. Mereka cukup berpengaruh dan ditakuti oleh orang-orang.

 

 ahreum

AHREUM EX- T-ARA as LEE AHREUM

Seorang gadis yatim piatu cantik yang akhirnya mendapatkan keluarga baru setelah 18 tahun tinggal di Panti Asuhan. Ahreum merupakan gadis yang tegar, agak sedikit polos, ceria meskipun sering mengalami sesuatu yang buruk. Ia adalah tipikal gadis yang suka menyembunyikan perasaannya sendiri.

 

 yu

LEE YURIN

 

Teman sebangku Ahreum saat pindah di Dangwon. Merupakan tipikal gadis aneh dan di diagnosa memiliki gangguan kejiwaan karena perilakunya bisa berubah begitu saja tanpa di duga. Terkadang ia bisa tertawa tanpa alasan dan mendadak berubah menjadi sinis dan diam begitu saja. Tidak begitu menyukai EXO karena ia benci pria tampan.

 

 jess

SNSD JESSICA as JESSICA JUNG

The Hottest Senior di Dangwon yang terkenal atas kecantikan dan sifat galaknya. Ia tidak begitu tertarik dengan urusan pria atau cinta, namun ada satu pria yang menarik perhatiannya. Tipikal gadis perfeksionis yang selalu berpendapat kalau setiap keinginannya harus bisa ia dapatkan.

 

 dasom

DASOM SISTAR as Han Dasom

Gadis licik yang selalu mem-bully Ahreum di sekolah lamanya. Pindah ke Dangwon karena ia terobsesi ingin menjadi gadis populer dan berkelas. Sangat menyukai EXO dan mempunyai rencana untuk setidaknya memacari salah satu dari mereka. Tipikal gadis munafik yang suka cari perhatian.

 tae

TAEYEON SNSD as KIM TAEYEON SEONGSAENIM

Guru pelajaran Sastra di Dangwon High School. Wajahnya kelihatan muda dan imut, namun sebenarnya ia merupakan seorang janda dan sudah memiliki satu orang anak.

 seo

SNSD SEOHYUN as SEO JOO HYUN

 

Dewi dari Dangwon High School. Senior yang terkenal atas kelembutan dan sikap baik hatinya. Namun siapa sangka, di balik itu semua ia menyembunyikan sesuatu dalam dirinya.

 

 

 

Author’s Note : Hai, semua. Aku pengen mengucapkan selamat liburan dan selamat mempersiapkan diri untuk bulan puasa. Aku datang lagi nih dengan membawa sebuah FF chaptered dan kali ini aku mem-posting prolog—nya terlebih dahulu. Bagaimana menurut kalian? Apakah ini akan menarik? Mohon meninggalkan komentarnya yaa~~ terima kasih sudah membaca Prolog ini ^^

 

166 responses to “THE BROTHERS (Prologue)

  1. Pingback: THE BROTHERS [Part Six - Brother Complex] | FFindo·

  2. Pingback: THE BROTHERS [Part Seven – That Angel] | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s