[1] Secretly, Falling

PicsArt_1403516561954

SECRETLY, FALLING

By: hgks11

Park Aeri – Kim Jongin – Kim Joonmyun

PG-NC 17

[due to the scenes and languages]

Drama-Romance-Angst-University AU

***

WARNING! : PLEASE TO THE ONE WHO IS STILL UNDERAGE, PLEASE DON’T READ THIS FICT IF I MAY ADVICE YOU. THERE ARE SOME SCENES THAT’S NOT SUITABLE FOR PEOPLE UNDERAGE. THANKS.

[be wise before you decided to read this fict]

 

[Prolog]

 

 

AUTHOR’S POV

Yo, Kai!”

Yo, hyung” jawab Kai dengan senyum malas di wajahnya. Lelaki berparas tampan itu menarik kursi di hadapannya, mengundang perhatian para gadis yang duduk di sekitar meja yang dipenuhi member Exo itu. Suho menggelengkan kepalanya pelan, melihat adiknya yang menebar pesona.

Tsk. Cassanova” gumamnya pelan.

“Kau berkata seolah-olah kau juga bukan seorang cassanova saja hyung” decak Baekhyun yang duduk di sebelah Suho.

“Setidaknya, aku tidak separah dia”, jari telunjuk milik Suho mengarah ke arah Kai, sebelum berpindah ke arah Baekhyun. “Dan kau” lanjutnya, memberikan Baekhyun senyum polos miliknya. Baekhyun scwols when he heard that, yet he isn’t going to deny it either.

“Hey, hyung” ujar Sehun, tiba-tiba. Semua kepala di meja silver itu kini tertuju pada lelaki berkulit putih pucat di ujung meja, menatap maknae mereka dengan tatapan bertanya. Sehun mengangkat tangan kanannya, menunjukkan foto sebuah club yang terpampang di layar iphone miliknya.

Wanna try this one? Mereka mengadakan grand opening malam ini. Dan, well. Kita diundang, VIP guest

Why not? As long as we can have fun” ujar kesebelas laki-laki di meja itu tanpa sadar bersamaan, mengundang tawa orang-orang yang berada di sekitar mereka.

 

***

Ugh, I hate history.

Aku tidak mengerti, kenapa aku masih perlu mempelajari sejarah? Membosankan.

“Park Aeri” jantungku berhenti sejenak, mendengar namaku yang terlontar dari mulut dosenku. Ia menatap tajam ke arahku dari balik kacamatanya yang tebal, berusaha memarahiku dengan tatapannya.

Ye, seongsaengnim?” jawabku ragu. Bagaimana tidak? Aku tidak merasa melakukan kesalahan apapun, jadi kenapa ia tiba-tiba memanggil namaku?

“Jika Anda mengantuk atau lelah, tolong jangan menguap saat jam pelajaran saya. Anda bisa pergi ke ruang kesehatan, jika itu memang diperlukan” ujarnya, masih menatap tajam ke arahku.

Oh. Jadi tadi aku menguap? Well, sorry professor. I don’t even know it.

Wait a minute. Tadi ia bilang ruang kesehatan, bukan?

To be honest, Professor” aku mengangkat tanganku, menarik perhatian seluruh manusia yang berada di kelasku, termasuk dosen sialan itu kembali melihat ke arahku.

“Aku sedikit lelah, dan sepertinya jika aku berada di kelas ini, aku akan mengganggu berjalannya kelas Anda, right? So,” kuraih tas jinjing milikku yang tergeletak di atas meja, menyampirkannya di bahu kananku.

Excuse me to the nursery room” ujarku tersenyum mengejek pada dosen yang menatapku speechless, sebelum aku melangkahkan kakiku keluar dari kelas yang membosankan ini. Well, ini bukan pertama kalinya, bukan? Aku heran kenapa dosen sok galak itu masih saja mempunyai reaksi yang sama. Toh, dia duluan yang menyarankan aku untuk pergi ke ruang kesehatan.

Finally.

Aku segera melangkahkan kakiku ke lorong kampus, begitu aku keluar dari ruang kelas sejarah. Ugh, mengingat nama pelajarannya saja aku sudah muak.

Tak biasanya, hanya sedikit mahasiswa yang lalu-lalang di lorong ini. Mungkin, mereka masih di kelas, pikirku, sambil menggelengkan kepala pelan. Dapat kurasakan alisku terangkat, begitu aku melihat sebuah sosok yang tengah menyandar di dekat lokerku. Aku tak dapat melihat wajah laki-laki itu dengan jelas, karena sebuah topi hitam yang dikenakannya. Kuputuskan untuk mengacuhkan laki-laki yang kini berada di sebelahku itu, fokus dengan apa yang ingin kulakukan. Tanganku merogoh saku celana jeans yang kukenakan, mengeluarkan sebuah kunci dengan gantungan Mickey Mouse. Sebenarnya, ini agak memalukan. Seorang mahasiswi, yang sudah beranjak 20 tahun, masih mengenakan gantungan kunci Mickey Mouse yang kekanakan? Aku bertaruh, jika ada salah satu dari para haters-ku melihat ini, mereka pasti akan membesar-besarkan masalah ini.

“Mickey Mouse? Aku tidak menyangka hal seperti itu darimu, Park Aeri”

Kutolehkan kepalaku ke samping, siap memaki laki-laki di sebelahku itu dengan ‘Fuck off! Mind your own business, dude’. Namun lidahku terasa kelu, begitu menyadari siapa laki-laki di sebelahku itu. Ia membuka topi yang dikenakannya, membuatku dapat dengan jelas melihat sebuah seringai di wajahnya.

What the h—“ lagi-lagi. Kai menyelaku berbicara dengan bibirnya yang menempel di bibirku. Ugh, terkadang aku benci jika seperti ini. Ia selalu saja tidak memberiku kesempatan untuk menyelesaikan ucapanku!

Dengan sekuat tenaga, kudorong kedua bahu Kai, berusaha menghentikan gerakan bibirnya yang terus melumat bibirku—meskipun aku belum  memberikan respon apapun. Dan ada satu hal lagi yang tidak kusukai dari Kai, he’s so fucking strong! Ugh. Membuat usahaku untuk menyingkirkannya sia-sia saja.

Mickey Mouse? Seriously, Park Aeri?” aku menatap tajam ke arah Kai. Setelah menciumku dengan paksa, itu yang ia katakan pertama kali? Bukan permintaan maaf?

“Yah—“

Ssstt” jari telunjuk nan panjang milik Kai itu mendarat di bibirku, membuatku mengingat apa yang bisa dilakukan jari-jari panjang miliknya itu di—shit. Apa yang kau pikirkan Park Aeri?!

By the way,” aku menghela nafas lega, begitu Kai sedikit menjauhkan badannya dari badanku. Aku tak ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, jika tubuh dengan chocolate abs itu terus menerus berada dalam radius 1 senti meter dengan tubuhku. You know what? It’s so hard to resist that body of Kim Kai.

“Nanti malam, kau akan datang ke tempat ini. Sebagai date-ku” ujarnya sambil menunjukkan layar handphone miliknya di hadapanku, menunjukkan sebuah undangan ke Marie club.

Memaksa sekali, batinku. Tapi tunggu sebentar. Aku tidak salah baca bukan? Marie club?

Dapat kurasakan kedua ujung bibirku melengkung ke atas, begitu sebuah lampu imajinasi menyala terang di atas kepalaku. Masih dengan sebuah senyum menggoda yang terpampang di wajahku, kutarik tepian kemeja yang dikenakan Kai, memperkecil jarak yang sudah kecil di antara kami.

 “Well” jari-jari ku bergerak menelusuri tubuhnya, merambat dengan pelan dari ujung kemejanya, hingga berhenti di tepi kerah bajunya. Sekilas, dapat kulihat Kai mengerang pelan, membuatku tertawa dalam hati.

“Sayang sekali, Kim Kai. Aku juga mendapatkan undangan. So,

So, what?!” erang Kai pelan, ketika jemariku terus bergerak melingkar di rahang bawahnya—tepat di tempat sensitif miliknya. Aku tertawa kecil, sebelum mendekatkan bibirku pada telinga kanan laki-laki di hadapanku ini.

See you later, darl. But not as a date” bisikku pelan, sebelum kakiku membawaku pergi beranjak dari hadapan Kai.

***

 

 

Author’s POV

Dentuman musik dari lantai dansa dapat terdengar jelas, bahkan dari ruang VIP di mana EXO tengah berada. Suho menggelengkan kepalanya pelan, mendengar hingar bingar lantai dansa yang masuk melalui sela-sela pintu. Lelaki dengan rambut pirang keemasan itu menolehkan kepalanya ke kiri, hanya untuk mendapati sahabat-sahabatnya dengan masing-masing seorang wanita di samping mereka. Well, kecuali Baekhyun dan Luhan yang berada di tengah-tengah dua orang wanita. Oh, dan juga Kai. Alis Suho terangkat, melihat adiknya yang hanya terduduk di tengah sofa panjang itu, dengan segelas wine di tangannya. Dengan sekali lihat, Suho menyadari bahwa Kai sedari tadi melihat ke arah lantai dansa, yang berada di lantai bawah. Kedua alis milik Kai tampak saling bertautan, bibirnya melengkung ke bawah, dahinya mengerut ke atas. Kedua bola mata Suho menelusuri arah pandangan Kai, hingga sesuatu terasa seperti masuk akal sekarang ketika ia melihat Park Aeri sedang berada di lantai dansa.

Perlu ia akui, Park Aeri memang seorang gadis yang cantik. Well, scratch that. She’s beyond than just pretty. Rambut coklat kemerahan miliknya yang tampak berkilau karena pantulan cahaya lampu yang samar, dress hitam yang membalut tubuhnya dengan sangat baik, dan ujung bibirnya yang terangkat, memperlihatkan seringai kecil miliknya. Semua orang yang melihat sosoknya pasti akan berpikir dua kali sebelum mengalihkan pandangan mereka dari Aeri, begitu pula dengan Suho.

I wonder, what kind of person she is behind that facade of her?, pikir Suho. There is just something off about Aeri, since the first time Suho saw her. Nah, it’s not like something odd that gives you bad vibes, instead it’s a good one. Tapi Suho benar-benar tak punya clue sedikitpun tentang apa yang ia rasakan.

This is odd, very odd. Doesn’t make sense at all” gumamnya pelan, sambil menggelengkan kepalanya. Suho menghela nafas frustasi, berusaha menyingkirkan Park Aeri dari dalam kepalanya. Ia mengacak rambutnya frustasi, his face looks troubled. Baekhyun yang berada di sebelahnya itu, mengangkat sebelah alisnya heran. Well, meskipun literally he’s making out with the girl beside him right now, bukan berarti ia tidak memperhatikan sekelilingnya.

“Oh, Aeri”

Semua kepala di ruangan VIP itu tertuju pada seorang gadis yang berdiri di ujung pintu, dengan lengan Kai yang melingkari pinggang kecilnya. Sehun—yang pertama kali menyadari kehadiran Aeri—melambaikan tangannya pada Aeri, memberikan senyum manis miliknya yang dapat membuat para gadis di kampus meleleh. Aeri tersenyum kecil, membalas senyuman Sehun sebelum menganggukkan kepalanya pada seluruh laki-laki yang berada di ruangan itu. Kedua bola mata Suho tidak berhenti memperhatikan semua gerak-gerik Aeri semenjak ia melayangkan pandangannya pada gadis itu. Dan Suho always look amused everytime he looks at Aeri. There is something that draws him to her.

So, how you like it so far?” Aeri menelusuri badan tegap milik Kai dengan jari lentiknya, menyiksa Kai dengan gerakan melingkar jarinya di atas baju tipis yang ia kenakan. Aeri menyeringai puas, melihat ekspresi Kai. Aeri sangat menyukai di mana jari lentik miliknya menari di atas kain tipis milik Kai, menggoda lelaki itu dengan sangat sensual dan pelan, membuat Kai menginginkan lebih dari sekedar sentuhan.

Here? Not bad” erang Kai pelan, berusaha menyingkirkan sensasi yang ia rasakan karena ulah Aeri. Gadis yang kini duduk di atas pangkuannya itu, mungkin tidak tahu seberapa besar efek yang bisa ia berikan pada Kai. Hanya dengan sentuhan tidak langsung seperti ini saja, ia sudah berhasil membuat Kai mengerang pelan, menahan adrenalin yang mengalir deras di sekujur tubuhnya. Aeri tidak tahu, detak jantung Kai yang selalu berdegup kencang setiap kali gadis itu berada di dekatnya, menyentuhnya, berbicara padanya. Aeri tidak tahu, sekuat apa Kai berusaha mengontrol semua perasaannya pada Aeri, berusaha menyingkirkan perasaannya saat bersama Aeri. Karena ia tahu, mungkin baginya memiliki Aeri sebagai partner in crime membuatnya bahagia dan seperti berada di atas langit, namun tidak bagi Aeri. Karena bagi Aeri hubungan mereka hanya platonik. Sekedar teman dengan keuntungan, tidak lebih atau kurang dari itu.

Hmm kupikir juga begitu.” Gumam Aeri, memainkan jemarinya di kancing baju Kai. Ia menelusuri pundak Kai dengan jemarinya, pelan dan perlahan, berpindah hingga ke tengkuk Kai. Semakin naik ke atas dan ke atas, hingga ujung jemarinya bertemu dengan bibir Kai. Kai’s grip on her tighten, as she suddenly crash her lips on his. Seductivly, Aeri moves her lips on Kai’s, tilts her head left and right, finding the perfect angle. Tangan kiri milik Kai kini sudah berada di tengkuk belakang Aeri, menarik kepala gadis itu semakin dekat—jika itu mungkin. Jarak di antara kedua tubuh mereka semakin mengecil, hingga mereka dapat merasakan kain baju mereka yang saling bertemu.

 

A moan slips through Aeri’s lips when Kai nibble her bottom lips, licking it before nibble it hard, so Aeri’s lips will parted. Lidah Kai menelusuri setiap relung di rongga mulut Aeri, begitu bibir Aeri slightly apart. Erangan kecil dapat terdengar lagi dari balik tenggorokan Aeri, begitu lidah Kai menemukan lidahnya, melilitnya dengan cara yang sensual dan membuat sekujur tubuhnya menginginkan lebih. Lidah Aeri bergerak, berusaha menguasai lidah Kai. Namun Kai terlalu hafal gerakan gadis itu, hingga dengan mudah ia menghindari gerakan lidah Aeri yang menuntut akan kekuasaan atas ciuman basah itu. Kai menggoda lidah Aeri sekali lagi, memperjelas kekuasaannya sebelum ia menarik kepalanya, menghirup udara untuk mengisi suplai oksigennya yang sudah menipis.

 

Kedua dada manusia itu tampak bergerak naik dan turun, menghirup udara sebanyak mungkin sebelum Kai menarik kembali kepala Aeri, membawa gadis itu kedalam ciuman lain yang membuat kepalanya berputar, full of ectasy. Aeri tidak akan menyangkal, having sex with Kai is really addictive so far. Sentuhan jemari laki-laki itu di atas kulitnya, membuatnya mabuk akan sensasi yang sangat sensual. And that tounge of his, is also another definition of tease. Ia menyukai betapa lihainya lidah Kai menelusuri kulitnya, menyentuh setiap inci tubuhnya dengan sangat seksi. Terlebih, saat ia menggunakan lidahnya itu dengan pussy-nya yang sudah mulai berkedut di bawah sana, memikirkan hal-hal yang bisa dilakukan Kai dengannya di sebuah kamar dengan lampu temarang.

Ugh, get a room you too! Don’t fuck here!” Sehun melempar bungkus rokok miliknya ke kepala Kai, membuat hot session between him and Aeri terganggu begitu saja. Kai melepaskan bibirnya dari bibir Aeri, menatap tajam ke arah Sehun yang memiliki seorang gadis sedang mencium lehernya, meninggalkan beberapa bekas kemerahan di atas kulitnya yang putih itu. Di sisi lain, Aeri menggelengkan kepalanya pelan, tertawa kecil melihat ekspresi Sehun. Sehun menatap sebal ke arah Kai, sifat protektif di dalam dirinya menendang Sehun. Semenjak Kai dan Aeri menjadi partner in crime, jarang sekali waktu untuk Sehun bisa berada di dekat Aeri. Sehun mempunyai sikap possesive terhadap Aeri, yang sejak dulu telah ada di sisinya. Baginya, Aeri sudah seperti saudara perempuan yang tidak ia punya. Mereka sudah bersama sejak mereka masih mengenakan popok, hingga sekarang Aeri telah tumbuh menjadi gadis yang cantik. Ia tidak ingin, Aeri—gadis yang ia sayangi dan sangai ia pedulikan—hanya akan menjadi mainan bagi Kai. Laki-laki yang berstatus sahabat baginya itu, tidak tahu apa-apa tentang Aeri. Tentang masa lalu dirinya yang ditutup rapat-rapat oleh Aeri. Masa lalu yang ia harap, tidak pernah terjadi pada Aeri.

“Kai, c’mon. Don’t make him green with jealousy. He’s like a little brother that I never had” ujar Aeri, menyenggol lengan Kai. Sehun memutar kedua bola matanya malas, sebelum menggelengkan kepalanya pelan. Laki-laki itu menghela nafas, “I believe you know what are you doing, Aeri-ya” gumamnya pelan, sebelum kembali melirik gadis yang berada di sampingnya. Oblivious to the fact that Sehun already lost his lust, just because a mere thought about what had happened with Aeri a long time ago.

 

 

 

***

Sinar matahari menelusup masuk ke dalam ruangan dengan dinding abu-abu muda itu, menyinari wajah Aeri yang tampak damai dalam tidurnya. Kai menopang kepalanya dengan tangan kirinya di atas kasur, memperhatikan malaikat yang tengah tidur di hadapannya. Rona merah masih tampak di sekujur tubuh gadis itu, mengingatkan Kai akan hal yang mereka lakukan bersama semalam. Sebuah senyum mencari caranya sendiri ke wajah Kai, sorot mata laki-laki itu tampak lembut dan penuh kasih. Dengan tangan kanannya yang bebas, ia menyingkirkan anak rambut di sekitar wajah Aeri, agar dapat melihat wajah gadis itu dengan lebih baik. Perasaan hangat menyergap tubuhnya, betapa ia berharap setiap hari hal yang pertama ia lihat adalah wajah damai milik Aeri. Dan ia ingin wajah itu pula yang ia lihat terakhir kali sebelum ia menutup matanya setiap malam.

Kai menggelengkan kepalanya pelan, menyingkirkan harapan yang mustahil dari otaknya. Ia tahu, hal itu tidak akan pernah terjadi. Tidak jika Aeri tidak memiliki perasaan yang sama sepertinya.

Enghh

Kedua bola mata Kai melebar begitu mendengar erangan kecil keluar dari bibir Aeri. Dengan segera lelaki itu kembali ke posisi awalnya, menutup matanya seakan-akan ia belum terbangun. Ia dapat merasakan gerakan kasur di sebelahnya, mengindikasikan gerakan Aeri yang terbangun dari tidurnya. Gadis itu mengusap kedua matanya pelan, sebelum benar-benar membuka kedua bola matanya. Kedua matanya tampak menyipit, beradaptasi dengan jumlah cahaya yang masuh ke dalam matanya, hingga ia bisa melihat dinding abu-abu muda yang familiar baginya.

Oh, apartemen Kai.

Aeri menolehkan kepalanya ke kanan, menangkap sosok Kai yang masih tertidur pulas. Gadis itu menganggukkan kepalanya pelan, benar ini kamar Kai.

Ia beranjak dari tempat tidur perlahan, tidak ingin membangunkan Kai. Di raihnya bajunya yang tergeletak di atas lantai, beserta dengan pakaian dalamnya dan bra yang tersampir di dekat pintu. Aeri menggelengkan kepalanya pelan, tidak habis pikir kenapa bra hitam miliknya dapat berada sejauh itu.

Ia berjalan meraih branya, dan memutar knop pintu kamar mandi yang berada tak jauh darinya. Rahang Aeri seperti jatuh ke bawah saat ia melihat bayangan dirinya di cermin besar di kamar mandi Kai. Ia dapat melihat rona merah di sekujur tubuhnya, jelas dan banyak. Ia mendecakkan lidahnya kesal.

 

I told him to not leave any hickey yet he did it! Fuck you, Kim Kai. Teriak Aeri dalam hatinya, dahinya mengerut tidak senang. Mengesampingkan keingininannya untuk mencabik-cabik Kai, gadis itu segera memakai bajunya dan merapikan penampilannya. Tak berapa lama kemudian, gadis itu keluar dari kamar mandi dengan wajah yang tampak lebih segar, dan lebih presentable. Ujung mata Aeri menangkap sosok Kai yang kini terduduk di atas kasur, mengacak rambutnya. Aeri menatap tajam ke arah Kai, yang hanya ditanggapi dengan sebuah uapan malas dari Kai.

Yah, bukankah semalam kubilang kau tidak bisa meninggalkan hickey di tubuhku?” ujar Aeri tajam, amarah terdengar jelas di suaranya. Kai mengedikkan kedua bahunya acuh, “Can’t help it. Sorry

Aeri memutar kedua bolanya malas, meraih tas jinjingnya yang berada di meja sebelah tempat tidur. Tanpa menghiraukan Kai yang masih berada di tempat tidur, Aeri melangkahkan kakinya ke pintu kamar itu. Meninggalkan Kai begitu saja.

Kai menghela nafas kesal, ketika melihat pintu kamarnya yang tertutup dan sosok Aeri yang menghilang. Ia mengacak rambutnya frustasi, tak bisa berbuat apa-apa. Kapan kau akan menganggapku lebih dari sekedar pemuas hasratmu, Park Aeri?

 

“Aeri?”

Aeri menolehkan kepalanya, begitu mendengar namanya dipanggil. Aeri terpatung begitu ia mendapati sosok Suho yang berdiri tak jauh darinya, masih mengusap matanya dan menguap. Rambut laki-laki itu tampak berantakan, namun hal itu malah membuat lelaki berwajah malaikat itu terlihat seksi dan cute di saat yang bersamaan. Rona merah merambat ke kedua pipi Aeri melihat sisi Suho yang seperti ini. Ntah kenapa, Aeri memiliki sebuah soft spot for Suho. Setiap kali gadis itu melihat Suho, laki-laki itu tidak pernah berhenti membuatnya terkejut dan terdiam.

 

“Hey, Park Aeri?” kibasan tangan Suho di depan wajah Aeri membuyarkan lamunan gadis itu.

Earth to Park Aeri?” Suho masih mengangkat tangannya di depan wajah Aeri, membuat gadis itu tertawa kecil. Earth to Park Aeri? I don’t know you’re this childish, Suho.

Suho tersenyum begitu begitu melihat Aeri yang tertawa kecil, membuat mood-nya tiba-tiba menjadi baik.

“Apakah kau ingin sarapan di sini dulu? Aku bisa membuatkan sarapan untuk kita bertiga jika kau mau” tawar Suho, berjalan di samping Aeri. Aeri menggelengkan kepalanya pelan, menolak tawaran Suho dengan lembut.

Ani, tidak apa-apa. Aku harus segera pulang, ada hal yang harus kuurus” ujar gadis itu, melirik ke arah jam dinding yang berada di ruang tamu apartemen milik Kim brothers itu. Suho menganggukkan kepalanya pelan, sebelum ia memutar knop pintu apartemen mereka. Ia membukakan pintu untuk Aeri, mengantar gadis itu hingga ke depan apartemen mereka. Namun tiba-tiba laki-laki itu terdiam, ketika sesuatu terlintas di benaknya.

“Apakah kau membawa kendaraan Aeri?” tanya Suho dengan alis terangkat.

Dang. Aku lupa jika mobilku masih berada di parkiran klub semalam.

Aeri menggelengkan kepalanya pelan, mengerucutkan bibirnya tanpa gadis itu sadari. Suho mengulum senyum yang tampak di wajahnya, melihat wajah Aeri yang terlihat sangat menggemaskan. Rasanya ia ingin mencium bibir Aeri yam tampak lez—yah. Apa yang kau pikirkan Suho?

Wait a minute, aku akan mengantarmu.” Tanpa menunggu jawaban Aeri, laki-laki itu segera bergegas ke dalam apartemennya, meraih jaket dan kunci mobil miliknya.

“Joonmyun hyung? Kau ingin kemana pagi-pagi seperti ini?” tanya Kai yang tiba-tiba berada di hadapan Suho, menatap saudaranya itu heran.

“Mengantar Aeri pulang, bye!” seru Suho, melangkahkan kakinya melewati Kai dengan cepat. Kai terpatung mendengar ucapan hyung-nya itu. Rasa cemburu mengelilingi hatinya, namun laki-laki itu menggelengkan kepalanya. Suho hyung hanya bersikap baik saja. Kau tahu seperti apa kakakmu itu, Jongin. Dia adalah arti dari seorang gentleman.

**

Thank you Suho. Kau tahu, kau tak perlu mengantarku sampai sini.” Ujar Aeri, merogoh isi tasnya—mencari kunci apartemen miliknya. Suho mengedikkan bahunya, “Well, can’t help it. Sorry

Aeri menggelengkan kepalanya pelan, sebuah tawa lagi-lagi keluar dari bibirnya, mengundang tatapan heran dari Suho.

“Apakah ada yang lucu, Aeri-ssi?”

“Tidak, Suho. Hanya saja, aku baru menyadari satu hal lagi yang membuatku percaya kalau kau dan Jongin bersaudara.” Jelas Aeri, masih tertawa kecil mendengar ucapan Suho tadi. Tidak heran, mereka berdua bahkan mengatakan hal yang sama pagi ini.

Alis Suho terangkat mendengar ucapan Aeri, namun ia tidak ingin menanyakan lebih jelas apa yang di maksud oleh Aeri.

“Baiklah, apakah itu adalah clue bahwa aku harus segera pulang?” tanya Suho begitu Aeri berhasil membuka pintu apartemennya. Aeri tertawa kecil mendengar ucapan Suho, ia menganggukkan kepalanya. Suho tersenyum pada Aeri, sebelum ia melambaikan tangannya dan berbalik arah, “Bye Aeri”

Bye Suho” balas Aeri, melambaikan tangannya pada Suho.

Sebuah senyum masih terlihat di wajah Aeri, meskipun waktu telah berjalan semenjak Suho mengantarnya pulang. Sikap Suho yang benar-benar baik dan seperti gentleman, ntah kenapa selalu membuat sebuah senyum merangkak ke wajah Aeri. Aeri tidak tahu, apa yang membuat sikap Suho begitu berdampak pada dirinya. Ia tidak merasakan jantung yang berdegup kencang, ataupun kupu-kupu di dalam perutnya. There is something about Suho, but she can’t pinpoint what it is exactly.

Drrt drrt.. Drrt drrt..

Bunyi getaran handphone milik Aeri mengalihkan perhatian gadis itu. Rahang gadis itu mengeras begitu melihat nama yang tertera di layar handphone-nya itu. Jantungnya berdegup kencang, namun bukan berdegup dalam arti baik. Gadis itu merasakan amarah yang naik ke ubun-ubunnya hanya dengan melihat nama orang yang ia benci dengan segenap hati tertera di layar handphone-nya. Orang yang sudah menghancurkan hidupnya sekali, dan ia yakin. Orang itu akan membuat hidupnya hancur sekali lagi, meskipun sudah seberapa jauh Aeri berlari menghindarinya. Namun orang itu terus menerus dapat menemukannya.

Park Jungsoo.

Aeri melempar handphone miliknya ke lantai, membiarkan benda persegi itu pecah berkeping-keping. Ia segera lari ke dalam kamarnya, mencari handphone miliknya yang lain. Yang hanya ia dan Sehun yang tahu. Aeri menekan angka 1 begitu ia menemukan handphone miliknya, menelpon Sehun yang ntah tengah berada di mana.

“Aeri? Ada a—“

“Sehun, ia kembali”

Sehun mengumpat dalam benaknya mendengar suara Aeri yang terisak. Tanpa pikir panjang, laki-laki itu bangun dari kasurnya dan segera meraih pakaiannya.

TO BE CONTINUED..

 

A.N: Gimanaaa chap 1 nyaa? Semoga ga mengecewakan ya. Maaf buat typo sama grammar………….

Di prolog kemaren, emang aku ga ngasih detailnya cameo di fict ini. Karena sebenernya, bakal banyak cameo di sini -_- jadi aku mutusin buat nulis yang bener-bener main characternya aja. Oh iya, TAU GAK AKU TERHARU LIAT RESPON PROLOG KEMARIN YA TUHAN /ugly sobs

GA NYANGKA BANGET YA TUHAN :””D

Aku Cuma berharap, semoga chap 1 nya ga membosankan. And please bear with me and this fict ‘till the end ❤

 

P.S: oh iya, park jungsoo di sini sebenernya bukan leeteuk, lebih ke oc. Cuma karena aku gatau nama yang lebih bagus… jadi pinjem namanya leeteuk hehe /peace love and gawl/plaak/salah

135 responses to “[1] Secretly, Falling

  1. Banyak teka teki banget disini banyak banget yg buat penasaran park aeri tuh sebnernya punya masalah apa? Sehingga hidupnya kayaknya kelam gitu. Park jungsoo itu siapa? Sebenernya perasaan aeri ke kai itu gmna? Maaf telat banget baru baca -_-

  2. Jdi mrk berdua hny partner dlm pemuasan nafsu ajj?.
    Aeri ngga tau kah kamu klw kai itu dh mlai cinta bgtzz sm km…
    next dh ke chapter selanjutnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s