GEE! [Part 4]

GEE POSTER

GEE : Banyak orang yang membenci sebuah perencanaan yang dibuat oleh orang lain, tanpa persetujuan, bahkan bisa digolongkan dalam sesuatu hal yang memaksa. Tapi, ketika mereka sudah terbiasa dengan hal itu, apapun tentang ketidaksukaan akan menghilang. Itu akan menjadi sebuah hal yang menyenangkan ketika ada sesuatu yang sudah biasa kalian lihat dimata kalian. Sesuatu yang indah sekali, yang membuat kalian terkejut tiap kali melihatnya.

Perseteruan bahkan sama sekali belum dimulai sejak awal. Ini baru awal-awal yang tidak terlalu buruk untuk dibaca. Sebuah perjalanan hidup tidak selalu buruk.

***

Previous : 3 

GEE!

 

Author : sanacamberlain

Genre : Romance, Comedy, Thriller, Mystery, Marriage Life, School Life

Cast : Xi Luhan, Park Hana, and Other Cast

Rating : PG 17

Leight : Chapter

| GEE Part 4 |

 

Musim Panas, Juni 2006

 

Siapa orang yang bisa kau percaya selain Ibumu? Ibu yang seharusnya menjadi tempat bersandar, berkeluh kesah, malah menipumu, selalu berkata bohong padamu. Apakah dia pantas dikatakan Ibu? Apa dia pantas dipanggil Ibu? Apa dia pantas untuk dipercaya?

Ini adalah cerita musim panas yang mengenaskan, saat tujuh tahun yang lalu untuk pertama kalinya Xi Luhan menginjakan kakinya di Seoul.

 

[FLASHBACK ]

 

Xi Luhan menghapus air matanya. Pesawat yang ia naiki dengan tujuan Seoul sudah landing sejak lima menit yang lalu, tapi laki-laki kecil itu tidak berengsak dari tempatnya. Ia merutuk kesal.

“Tuan, semuanya sudah siap.” Luhan melirik Pelayannya. Ia akhirnya beranjak dari tempat itu. Berjalan meninggalkan pesawat dan memasuki bandara.

“Kenapa Ayah tidak menjemputku?” ujarnya datar pada Pelayan Lim—pengawal setianya.

“Beliau sedang ada di Moscow, Tuan.”

Luhan hanya menghela napas mendengar penuturan seperti itu. Ia bertanya-tanya pada dirinya, apakah Ayahnya tidak pernah peduli tentang dirinya? Kenapa pekerjaan menjadi nomor satu untuknya?

Ia sudah berjalan keluar dari bandara, sementara Pelayan Lim memanggil pengawal lain. “Halo? Halo?”

Luhan menatap Pak Lim. “Apakah walkie-talkiemu rusak? Kenapa dari tadi kau hanya bilang Halo dan Halo?”

Pak Lim menunduk. “Maaf, Tuan. Anda silahkan tunggu disini, saya akan memanggil pengawal lain untuk membawa mobil.”

Luhan hanya mengangguk tak peduli. “Cepatlah. Ini dingin sekali.” Katanya sambil memasukan kedua tangannya kedalam saku jaketnya.

Luhan menatap punggung Pak Lim yang menjauh. Lalu membalik kebelakang, ada satu sampai tiga orang yang berlalu lalang. Menakutkan, gumamnya. Ia membalik kedepan dan terkejut bukan main. “Tuan, kau mau naik taksi? Sepertinya barang bawaanmu begitu banyak.” Ada seorang Paman yang mengerikan dimata Luhan, ia membalik lagi kebelakang dan melihat beberapa kopernya, memang banyak, lalu ia membalik lagi kedepan dan menggeleng.

“Tidak. Aku menunggu jemputanku.” Jawab Luhan singkat.

“Ah, anda pasti berbohong. Mana ada yang akan menjemput anda di jam selarut ini?” tawar Paman itu.

Luhan tetap menggeleng. “Maaf, tapi aku memang akan dijemput.” Kata lelaki itu sambil mengalihkan pandangannya kearah lain. Sudah tidak terdengar lagi suara Paman itu berbicara, lelaki itu lega, ia pasti sudah pergi.

“HEY PENCURI!” Luhan menoleh kearah seorang anak perempuan, ia menunjuk kearah belakang Luhan dengan mata yang menatap matanya. Luhan menoleh kebelakang dan menemukan Paman tadi mengambil dua kopernya. Lelaki itu membelak dan cepat-cepat mengejar pria itu, namun, anak perempuan yang berteriak sebelumnya sudah terlebih dulu mengejar pria itu.

“Paman, berhenti!” anak perempuan itu menarik salah satu koper dan mengangkatnya, membuat Paman itu terjatuh. Luhan yang melihat itu, cepat-cepat mengambil kopernya. Sedangkan anak perempuan itu menginjak alat kelamin Paman itu, membuat pria itu menggerang kesakitan.

“Anak-anak nakal.” Luhan mendongak dan mendapati satu sampai tiga orang seperti Paman yang sudah tersungkur kesakitan tadi. Ia menoleh kearah anak perempuan tadi dan menatap anak perempuan itu. Si anak perempuan menarik lengan kanan Luhan.

“Kau bisa berkelahi?” Luhan membelak.

“Berke—“

“Oke, dalam hitungan tiga, kita pukul alat kelamin mereka satu-satu.”

Luhan membesarkan matanya. Ia bahkan tidak bisa berkelahi. Apa-apaan ini? Kenapa juga anak perempuan itu menyuruhnya? Dan sekarang mereka dikelilingi para preman. Tamatlah riwayatnya.

Anak perempuan itu sudah maju duluan dan Luhan tidak ingat kapan anak perempuan itu menginstruksikannya. Luhan menendang alat kelamin pria itu dan menginjak kakinya, sebisa mungkin dengan ketakutan yang luar biasa.

Dan sampai dua menit berlalu, belum ada satu diantara mereka yang terjatuh. Hingga akhirnya, pelayannnya bersama pengawal… oh, bersama pengawal si anak perempuan sepertinya datang menghampiri mereka dan membabak belur seluruh preman.

“Nona, kita harus pulang sekarang.” Si anak perempuan yang sedang mengambil koper Luhan mengangguk. Luhan yang sejak tadi memperhatikan si anak perempuan tersenyum. Itu merupakan koper yang isinya barang-barang favoritnya. Beruntung sekali dirinya.

“Ini,” si anak perempuan memberikan dua kopernya pada Luhan. “Lain kali berhati-hatilah.” Ujar anak itu. Kalau dilihat-lihat dari postur tubuhnya, anak perempuan itu mirip dengannya, mungkin dia adalah kakak atau tidak seumuran.

“Tuan, anda baik-baik saja?”

Luhan membalik pada Pak Lim sambil mengangguk, ia baru akan membalik lagi dan menemukan si anak perempuan sudah meninggalkan tempat itu. Ia bahkan belum sempat berterima kasih.

“Tuan, apa ini milik anda?”

Luhan menoleh dan menatap sebuah gelang berwarna emas putih, berkilap berlian-berlian yang mewah. Itu tentu punya si anak perempuan tadi. Luhan meraih gelang itu sambil menggeleng. “Bukan,” ia menatap mobil yang membawa anak perempuan itu. “Aku pasti akan menemukannya.” Ia menggenggam gelang itu erat-erat.

 

[END OF FLASHBACK]

 

GEE!

 

Musim Gugur, Oktober 2013

 

Masa romantis bagi Negaranya adalah Musim Gugur. Xi Luhan selalu menikmati masa musim gugurnya dengan minum teh hijau dibawah pohon-pohon besar yang daunnya berubah menjadi kuning atau jingga. Tapi, sepertinya hari pertama di musim gugur sudah menjadi hari terburuknya. Ia tidak bisa tidur semalaman karena terus-terusan mengingat kejadi enam tahun yang lalu, tentang anak perempuan yang ia cari sampai sekarang.

“Gila, aku hanya ingin berterima kasih dan memberikan gelang itu. Tapi kenapa sesulit itu bertemu dengannya?” Luhan menggeram.

Minseok tidak menjawab pernyataan temannya, lelaki itu menatap gelang yang ada ditangannya. Gelang putih berwarna emas dengan berlian yang mengelilinginya dan satu huruf ‘H’ yang tersimpan didalam berlian paling besar digelang itu. “Bukannya kau bilang, anak perempuan itu adalah Park Hana?”

Luhan duduk diatas sofa dan memeluk bantalnya. “Aku hanya menebak saja waktu itu.”

Minseok tertawa kecil. “Tapi, itu adalah pertemuan pertamamu dengan Park Hana,” Minseok menyimpan gelang itu didalam kotak, dimana gelang itu selalu disimpan Luhan. “Dan kau selalu bilang, kau akan langsung mengenal anak perempuan itu jika bertemu nanti.”

Luhan menggeleng. Awalnya ia memang senang karena pertama kali ia bertemu dengan Park Hana, ia langsung bisa menebak bahwa gadis itu adalah anak perempuan yang dicarinya, tapi ketika mengetahui Park Hana adalah gadis jahat, bengis, dan merupakan penyandang Cruel of Seoul, ia tidak lagi mau menganggap gadis itu adalah anak perempuan impiannya. Cinta pertamanya.

“Kim Minseok,” gumam Luhan. “Aku benar-benar gila.”

Minseok menghela napas. “Kau memang selalu gila.” Minseok memutar bola matanya dan ikut duduk disofa, dihadapan Luhan. “Bisa-bisanya kau meniduri Park Hana.”

Rupanya Minseok mau mengganti pembicaraan lain? Luhan bersandar disandaran sofa dan mengangkat sebalah kakinya keatas kaki yang lain. “Ia kedinginan dan aku hanya ingin menghangatkannya saja.” Jawab Luhan sekenanya mengingat lagi kejadian yang ia lakukan bersama Park Hana saat ditenda, beberapa hari yang lalu.

Kalau dipikir-pikir tidak ada yang salah. Luhan sudah baik sekali karena sudah menghangatkan gadis itu. Bahkan Hana sendiri yang menginginkan kehangatan itu. Diam-diam Luhan tersenyum.

“Kau akan lihat kemarahan Baekhyun besok pagi.”

Luhan menggeleng sambil tersenyum asimetris. “Kenapa dia harus marah? Dia bukan sekedar permen karet bagi Park Hana.”

Minseok menggeram. “Masalahnya sekarang bukan itu.”

“Jadi apa?”

“Aku kalah taruhan.”

Luhan mengerutkan alisnya dan seolah tahu tentang tatapan itu, Minseok melanjutkan. “Kami bertaruh, apakah kau akan meniduri Park Hana dalam waktu dekat ini.” Minseok mengangakat kedua tangannya. “Good. One shot for me.

Luhan menggeleng. “Dasar tidak ada kerjaan.”

Minseok mendengus. “Dua tikus itu yang mengajak dan aku tidak suka jika ditentang, mereka menentangku bahwa aku sangat payah.”

“Jadi, jika kau kalah?”

Minseok menggeram. “Aku harus punya pacar dalam waktu dekat ini.”

Luhan tertawa keras. “Kau—“ Luhan tertawa lagi lebih keras.

Minseok menutup wajahnya. “Oh shit.

Dan akan ada banyak perubahan setelahnya. Minseok yang seumur hidup tidak pernah tertarik soal dunia cinta, sekarang mau tidak mau harus memiliki kekasih. Bahkan ia tidak pernah memiliki cinta pertama seperti Luhan yang menyukai anak perempuan itu dan Chanyeol yang tertarik pada See-Jung diawal pertama SMA tingkat satu. Lalu Kyungsoo dan Sehun yang menyukai satu perempuan meskipun hubungan mereka tetap biasa-biasa saja. Minseok benar-benar gila sekarang.

“Kau mau kita keluar? Kurasa aku ingin berjalan-jalan sedikit.” Tawar Luhan setelah berdiam beberapa menit. Minseok terdiam sebentar, terlihat menimbang-nimbang, namun akhirnya menyetujuinya.

 

GEE!

 

Kyungsoo dan Sehun sedang duduk diatas kursi, didalam cafetaria. Tempat favorit mereka adalah duduk ditempat paling depan, dekat jendela dan memperhatikan orang-orang yang sedang beraktifitas. Dan es krim favorit mereka berdua adalah Cream Chocolate with Shupadupa Jelly. Mereka akan menghabiskannya dalam waktu dua menit. Setelah itu, baru mereka akan memesan menu utama makanan hari itu. Baik Kyungsoo ataupun Sehun memiliki watak yang sama, senang menjahili orang dan bertarung. Keduanya tidak terlalu tergila-gila pada wanita, tapi kadang selalu menarik perhatian wanita dengan gaya mereka yang High Class.

Orang tua Kyungsoo bekerja sebagai pemilik Restaurant daging terbesar di Korea Selatan dan Orang tua Sehun merupakan dokter ahli bedah disebuah rumah sakit.

“Besok sekolah.” Sehun menghela napas malas. “Apakah akan menarik? Ini tahun senior kita.”

Kyungsoo mengangguk. “Kita akan belajar lebih banyak dari biasanya.”

Sehun menghela napas lagi. “Kita juga harus mengejar ketertinggalan selama ini.” Katanya agak menyesal karena selama disekolah hanya main yang ia utamakan.

“Oh, ya?” Kyungsoo tiba-tiba mengingat sesuatu. “Bagaimana jika dekati Park Hana untuk belajar bersama?”

“Bodoh, kau pikir dia akan suka.”

Kyungsoo merengut. “Kita menyukai gadis itu, tapi, dia sama sekali tidak menyukai kita.”

Sehun menggeleng sambil melambai-lambaikan ibu jarinya. “Ingat, Kyungsoo.” Lalu menatap Kyungsoo. “Dia hanya membenci Xi Luhan, bukan kita.” Tekannya diakhir kalimat.

“Aku benci Xi Luhan, aku benci dia dan seluruh teman-temannya.” Kyungsoo dan Sehun saling menatap lalu mengerjap dan menoleh kebelakang. Mata mereka membelak. Park Hana sedang memesan makanannya sambil merengut membicarakan sesuatu tentang Xi Luhan. Merasa diperhatikan, gadis itu menoleh diikuti Baekhyun. Tatapan Kyungsoo dan Sehun bertemu dengan Hana.

“Kenapa kalian menatapku?” tanya Hana datar.

Kyungsoo dan Sehun menggeleng sambil menampilkan cengirannya. “Hai, Park Hana.”

Kyungsoo dan Sehun melihat Park Hana menoleh kearah Baekhyun. “Kau kenal mereka?” tanya Hana pada Baekhyun.

“Mereka teman-teman Xi Luhan.” Ujar Baekhyun malas dengan tatapan kearah menu makanan.

Park Hana menoleh lagi kearah Kyungsoo dan Sehun dengan mata menatap tajam kearah mereka berdua. “Kita tidak jadi makan disini.”

Baekhyun mengangkat wajahnya, agak terkejut namun akhirnya mengangguuk dan menarik lengan Park Hana meninggalkan cafe itu.

Kyungsoo dan Sehun yang melihat pergelangan tangan Park Hana yang ditarik oleh Baekhyun tiba-tiba menggeram kecil. “Sombong sekali anak itu.”

Sehun mengangguk. “Kita harus memberi dia pelajaran.”

“Siapa?”

Kyungsoo dan Sehun mendongak. Mereka lagi-lagi menggeram kesal. “Xi Luhan, kau mengagetkan kami.”

Luhan duduk dihadapan mereka berdua, menghalangi pemandangan kedua temannya. “Hey, kau bisa duduk disini,” Sehun menunjuk kursi disampingnya.

Luhan menggeleng sambil menaikan kakinya kekaki yang lain. Lalu, dicondongkan wajahnya kedepan, “Siapa yang yang akan kalian beri pelajaran?”

Kyungsoo dan Sehun menggeleng. “Tidak ada.”

Luhan mengaduh kecewa. “Aku bahkan mendengar dengan jelas.”

Minseok datang dan duduk disamping Luhan dengan dua cangkir kopi yang ia simpan dihadapan mereka berempat. “Byun Baekhyun, siapa lagi?”

Xi Luhan mengangguk. “Kalian terlalu baik,” ia menyeruput kopinya. “Bahkan aku tidak butuh bantuan kalian untuk menyingkirkan semut itu.” Lanjutnya.

Kyungsoo menaikkan alisnya. “Kau benar-benar menyukai Park Hana?”

Luhan tertawa keras. “Bagaimana bisa?” ia menatap peluh-peluh kopinya. “Aku hanya ingin bermain sedikit dengannya.”

Kyungsoo dan Sehun saling menatap, lalu menatap Minseok yang menggeleng sambil menyeruput kopinya. Lelaki itu tidak mengelurkan sepatah kata apapun. Seakan-akan sudah tau rencana ini sejak awal

Dari awal, Kyungsoo dan Sehun memilih jalan yang salah.

“Kalian menang,” Minseok berujar. “Pertarungannya dimulai dari sekarang.”

“Kyungsoo-ya.” Luhan menatap Kyungsoo lalu beralih menatap Sehun. “Sehun-ah.” Ia tersenyum penuh penghinaan. “Aku jadi memikirkan kalian akhir-akhir ini.”

“Jadi hanya karena wanita kau jadi berpikir bahwa kami menantangmu?”

Luhan menggeleng, menyalahkan ucapan Sehun. “Kau tahu, kan? Park Hana selalu diinginkan oleh tiap lelaki dinegara ini.” Ia menyeruput kopinya lagi. “Tapi, cobalah berpikir. Dua dari kami berlima yang menginginkan Park Hana dan bekerja sama untuk mendapatkannya.” Luhan menunjuk kepala Kyungsoo. “Dimana kalian simpan otak kalian? Kalian akan menjadi psikopat untuk bisa membagi badannya?”

“Dibanding dua, ia lebih baik memilih satu.” Ia beranjak dari tempatnya. “Dan kalian sudah memenangkan pertarungan ini.” Lalu pergi diikuti Minseok meninggalkan cafe itu.

“Apa-apaan ini?” Sehun bergumam, tidak percaya.

“Sepertinya dia juga pantas kita singkirkan.” Ujar Kyungsoo, membuat Sehun bergumam, ragu namun akhirnya menyetujui.

 

GEE!

 

Dalam sebuah ruangan makan, hanya ada satu orang lelaki yang duduk disana, memakan makanannya dengan tenang. Bahkan ketenangan membuatnya damai dan merasa tidak terganggu. Tapi, tiba-tiba seseorang memasuki ruangan itu, membuatnya berhenti menyuapkan makanannya, sepertinya memang merasa terganggu dengan kedatangan orang lain.

Tapi alih-alih terganggu, Wu Yifan tidak mempedulikan kakaknya, ia hanya ingin makan, mengisi perutnya yang kosong di pagi-pagi seperti ini. “Sebenarnya apa yang kau dapatkan?” ia mendengar suara kakaknya dengan nada yang sedikit ditinggikan.

“Tidak ada.”

Wu Yixing menggeram. “Kenapa? Kenapa kau pulang kesini tanpa apa-apa?”

Wu Yifan menyimpan sendoknya dan diam sebentar. “Gege, aku juga akan pindah ke Seoul.”

“Memangnya apa yang akan kau lakukan?”

“Aku sudah mendaftar di Yohan, disana banyak sekali hal yang bisa aku lakuukan.”

Yixing menatap adiknya. “Kau yakin dengan itu?”

Yifan menoleh kearah kakaknya. “Aku mengikuti cara yang sama denganmu.”

Yixing mengangguk, ia membelai pundak adiknya dan menepuk-nepuk. “Ingat, tidak ada cinta. Kendalikan nafsumu, kau harus ingat siapa yang membunuh orang tua kita.” Yifan mengangguk. “Aku akan mengurus tempat tinggalmu.”

Yifan mengangguk dan beberapa menit kemudian, Yixing pergi meninggalkan ruang makan mereka. Mereka yang hanya tinggal berdua dirumah itu. Orangtua mereka meninggal saat Yifan berada disekolah dasar, sepuluh tahun yang lalu. Sekarang mereka tinggal disebuah rumah yang merupakan asuransi orang tua mereka. Yifan menggerang, ia mengambil sesuatu dari kantung celananya dan menatapnya. Foto seorang gadis. Ia mendengus kesal lalu kemudian merobek foto itu hingga menjadi kertas yang tak berguna lalu dibuangnya ditempat sampah.

Sejenak, ia tiba-tiba kehilangan selera makannya. Akhirnya, lelaki itu meninggalkan ruangan itu.

GEE!

 

 

Cafe itu tidak begitu rame sekali karena waktu masih menunjukan jam sembilan pagi. Hanya ada beberapa orang yang kelihatan sibuk dengan laptop atau tidak, hanya duduk sambil memakan makanannya lalu berlalu dari cafe itu dengan cepat.

Byun Baekhyun menatap perempuan kesayangannya yang sedang duduk dihadapannya sambil memakan es krim kesukaannya, mungkin kesukaan mereka berdua. Ia tidak lagi melihat wajah sayu gadis itu setelah saling maaf memaafkan kemarin. Walaupun sudah diceritakan semuanya dan Hana sudah jujur sepenuhnya—tidak ada lagi hal yang ia sembunyikan—, tapi Baekhyun tetap masih menyimpan rasa kecewa. Tidak menyangka mengapa Hana bisa melakukan hal seperti itu dengan musuhnya sendiri.

“Apa yang kau pikirkan?”

Baekhyun mengangkat wajahnya lalu menggeleng. “Besok sudah sekolah.”

Park Hana mengangguk. “Ini adalah tahun senior kita.”

“Bagaimana rasanya?”

Hana menaikkan alisnya sebelah. “Apa—oh, aku tentu harus mendapat urutan pertama ditahun ini.”

Baekhyun menyipitkan matanya. “Kau memikirkan Xi Luhan?”

Park Hana mendelik namun mengatupkan bibirnya. “Kenapa kau sensitif sekali? Aku tidak memikirkan apapun tentang itu.”

Baekhyun mengangguk, mempercayai ucapan gadis itu.

Tiba-tiba saja Park Hana menggenggam tangannya. “Byun Baekhyun, percayalah. Aku membenci lelaki itu.”

Baekhyun menaikkan pundaknya, ogah-ogahan. “Ya, aku mempercayainya.”

“Kenapa sikapmu jadi begitu, sih? Aku sudah mengatakan semuanya.”

Baekhyun memakan es krimnya. Ia menghela napas dan menggeleng-geleng. “Jika Luhan tidak membicarakan hal itu, apa kau masih akan tetap mengatakannya padaku?”

Park Hana menatap Baekhyun. “Tentu saja.”

“Hai, sayang.” Tiba-tiba saja Baekhyun mendapatkan Luhan sedang mencium pipi Park Hana, lalu lelaki itu duduk disamping gadis itu dan membelai rambut Park Hana.

“Xi Luhan, kau gila?” rutuknya kesal.

“Baekhyun, kau kenapa?”

Baekhyun menatap kesekeliling, sudah banyak orang yang menatapnya ketakutan. Lalu ia menatap kearah tempat duduk disamping Hana, tidak ada Xi Luhan. Ada apa dengan dirinya?

“Baekhyun, kau baik-baik saja?” Baekhyun menatap Park Hana. Gadis itu sudah menatapnya khawatir. Ia tidak tahu, beberapa detik yang lalu, ia melihat Luhan mencium pipi gadisnya dan sekarang sudah tidak ada. Apakah… ia gila?

“Kurasa aku harus kerumah sepupuku.” Ujar Baekhyun sambil memijit pelipisnya. Ia menatap Park Hana yang mengerutkan dahinya.

“Siapa?”

“Jinki Hyeong.”

“Sepupumu yang bekerja sebagai psikiatri itu?” Hana membelak. Terlalu terkejut. Sedangkan Baekhyun hanya mengangguk. “Oh, Byun Baekhyun. Kau sama sekali tidak gila.”

Baekhyun menggigit bibirnya. “Aku hanya mau mengecek saja.” katanya lalu menghela napas.

GEE!

 

Jadi, disinilah Byun Baekhyun sekarang. Menatap betapa rapihnya rumah sepupunya. Walaupun Jinki tinggal sendiri dan sama sekali belum menikah, lelaki itu tetap menjaga rumahnya, membersihkan rumahnya yang bersih. Intinya, Jinki adalah penjaga kebersihan.

“Kau hanya mengalami stress ringan.” Lee Jinki—yang bekerja sebagai psikiatri—memberikan secangkir teh dan menyimpannya didepan Baekhyun, diatas meja kecil yang ada ditaman belakang rumahnya. “Kau sangat menyukainya.” Jinki duduk dihadapan Baekhyun.

Baekhyun mengangguk sambil bergumam, ia menyeruput tehnya. “Kami sudah berkenalan sejak SMP, aku menyukainya sejak saat itu.”

“Cinta pertama?”

Baekhyun mengangguk.

“Siapa?”

Baekhyun mengangkat wajahnya. “Kau tidak akan percaya, Hyeong. Dia Park Hana.”

Lee Jinki mengangguk. “Kenapa tidak akan percaya? Rasanya sah-sah saja kalau kau memang menyukainya.” Baekhyun terdiam. “Kalian saling menyukai atau hanya kau yang menyukainya?”

“Kami sudah berhubungan sejak aku SMP, dia baik sekali padaku, dia memperlakukanku sangat baik. Lalu, aku bilang menyukainya dan dia juga bilang menyukaiku, aku senang sekali waktu itu dan sampai sekarang aku tidak tahu bentuk hubungan kami apa, sebagian besar orang-orang mengatakan kami adalah pacar, tapi lebih banyak yang tidak suka dengan hubungan kami.”

“Dan sekarang, Xi Luhan itu, dia benar-benar menggangguku.”

Jinki berdegem. “Kalian sudah pernah berhubungan lebih dari berpegangan tangan—ya, kau pasti tahu maksudku.”

Baekhyun mengangguk. “Kami sering melakukannya.”

“Apa dia pernah berpacaran sebelumnya? Didalam hubungan kalian.”

Baekhyun mengangkat wajahnya. Pacaran? Selama dia berhubungan dengan Park Hana, apakah gadis itu pernah pacaran? Ya, dia pernah berpacaran dan itu benar-benar menyakiti perasaanya. Tapi, itu sebelum ia memberi tahu tentang perasaannya pada Park Hana.

“Sudah. Tapi itu sebelum aku mengatakan suka padanya”

“Xi Luhan, apa dia memiliki hubungan sebelumnya dengan Hana?”

“Mereka musuh.” Ujar Baekhyun kesal.

Lee Jinki tertawa kecil sambil menggeleng. “Byun Baekhyun, kau percaya tentang musuh yang menjadi cinta?”

Banyak sekali orang yang sering mengatakan hal itu. Baekhyun bersuara, “Jika kita terlalu membenci seseorang, kita akan berbalik memikirkannya dan akhirnya menyukainya pelan-pelan.” Baekhyun mengatupkan bibirnya. “Aku sering memperingatkan hal seperti itu pada Park Hana.” Ujarnya lesu.

 

GEE!

 

            Park Hana baru turun dari mobil dan menemukan tali sepatunya terlepas, membuatnya yang sedang bertelepon bersama See Jung jadi sulit bergerak.

            “Dia aneh sekali, See Jung.” Park Hana menyelipkan ponselnya diantara pundak dan telinganya. Ia memperbaiki tali sepatunya yang terlepas. “Dia berteriak dan mengatai Luhan gila.” Gadis itu menatap sepatunya, sudah pas. Lalu melangkah memasuki rumahnya. “Dan tidak biasanya dia tidak mengantarku pulang,” Hana menghela napas dan menaiki satu persatu anak tangga menuju kearah kamarnya. “Aku tahu, aku tahu. Tapi, kita sudah saling memaafkan, apa yang salah?” gadis itu baru memasuki kamarnya dan terkejut bukan main. “See Jung, kumatikan dulu ponselnya.” Lalu disimpannya disaku jaketnya. “Apa-apaan ini?”

            Park Hana bahkan merasakan kalau ia menahan napasnya selama satu detik sebelum akhirnya melepas ponselnya dari telinga. Apa-apaan ini? Kenapa Xi Luhan bisa masuk kedalam kamarnya? Laki-laki itu sekarang menyeringai dan duduk disisi tempat tidur.

            “Kenapa kau begitu kaget?”

            Park Hana bersandar dimeja belajarnya dan menatap Luhan dengan tangan dilipat didada. “Keluar dari kamarku!” ia menghela napas. “Bahkan aku tidak pernah mengizinkan siapapun yang masuk kekamarku tanpa izin.”

            “Hana,” teriak Steve Park, keponakannya. Luhan menatap Hana kemudian menyeringai lagi, sedangkan Hana menghela napas kesal.

            “Steve, jangan masuk sebelum aku izinkan.” Kata Hana pelan-pelan.

            Steve yang menatap Luhan beralih menatap Hana. “Siapa paman ini? Pacar barumu?”

            Hana menutup wajahnya, malu.

            Luhan tersenyum pada Steve dan mendekati anak lelaki itu. “Memangnya pacar Bibimu ini sering kekamarnya?”

            Steve menggeleng, “Dia tidak pernah mengizinkan teman-temannya masuk, kecuali Baekhyun dan See Jung Nuna.” Anak lelaki itu menunjuk Hana. “Mereka selalu baik padanya,”

            Luhan mengangguk dan mendongak menatap Hana. “Kalau begitu, aku juga merupakan orang yang baik pada Bibimu.”

            “Steve, apa yang kau cari?” Hana mulai kesal.

            “Aku mencari pensil gambarku, semalam kuletakan disini.” Ia menunjuk meja sofa Park Hana. “Apa kau menyembunyikannya?” raut wajah anak lelaki itu berubah menyelidik.

            Hana menggeleng, “Coba kau tanyakan Pelayan Soul, dia yang membereskan kamarku semalam.” Jawab Hana malas.

            “Begitu?” Hana mengangguk, lalu beberapa detik kemudian, anak lelaki itu meninggalkan kamarnya.

            “Kenapa Jung Soo Hyeong masih di Seoul?”

            Hana beralih menatap Luhan. “Kenapa kau sok peduli pada keluargaku?”

            Luhan tersenyum dan menatap Park Hana. “Kau lupa, ya? Mereka akan menjadi keluargaku, Nona Xi.”

            Hana mendelik. “Jangan berharap, kau bahkan tidak ada bedanya dengan tikus hitam yang tak berguna.”

            Luhan tertawa. “Jika aku tikus, aku tidak mungkin menjadi Penerus Hansol dan juga—“ ia menoleh kearah Park Hana. “Tidak mungkin mengalahkanmu.”

            “Cepat katakan apa yang kau inginkan?” tanya gadis itu, sudah kesal sekali.

            “Ah, benar.” Ia mendekat kearah Park Hana, membuat gadis itu membelakan matanya dan mundur beberapa langkah. Xi Luhan semakin mendekat, semakin senang dengan reaksi Park Hana yang menurutnya sangat lucu sekali. “Park Hana…” katanya dengan nada berbisik. “Bagaimana ini? Aku benar-benar menyukaimu, aku merindukanmu setiap saat.”

 

GEE!

 

            Ya Tuhan, kado apa yang kau berikan padaku? Gumam Hana kesal.

            Park Hana menatap Xi Luhan dengan ogah-ogahan. Mereka sekarang sedang duduk dimeja makan untuk makan malam bersama Ibunya dan juga Kakaknya serta Kakak Ipar dan Keponakannya.

            Luhan terus-terusan memperlihatkan sikapnya yang ramah juga manis dihadapan Ibunya dan Kakaknya. Mereka tidak berhenti berbincang dari beberapa menit yang lalu, mulai dari; Bagaimana lelaki itu bisa meninggalkan Ibunya sendirian di Beijing? Sampai bagaimana dua makhluk dihadapan Hana tidak pernah berhenti menyindirkan tentang kelakuannya yang buruk dan Luhan memang yang terbaik.

            “Kau perlu mengajari Hana lebih banyak.” Celutuk Jung Soo membuat Luhan tertawa begitu manis sekali dan Hana hanya mendelikan matanya.

            “Aku akan berusaha, Hyeong.” Jawab Luhan sambil mengelus rambut Hana, memperlihatkan keakraban mereka sebagai teman satu sekolah.

            “Paman,” Steve sudah ada dibawah kaki Luhan ketika Hana menoleh. Anak lelaki itu memberikan toples bintang milik Hana, membuat sang pemilik membelak dan cepat-cepat menarik sebelum Luhan mengambilnya.

            “Steve, kenapa kau mengeluarkan ini?” Hana memberikan pada pelayannya. “Kau tidak boleh mengeluarkan barang-barang yang sudah kita janjikan.”

            Steve kembali duduk ditempatnya sambil menatap Hana. “Bukannya kau bilang bahwa toples itu akan kau berikan pada suamimu?”

            Semua terdiam, namun, akhirnya diredam oleh deheman Ibu Park. “Maafkan Steve, Lu.” Ujar Nyonya Park.

            Luhan menggaruk tengkuknya, merasa gugup akan hal yang terjadi beberapa detik yang lalu. “Tidak apa-apa, aku hanya terkejut saja.”

            Semuanya tertawa kecuali Park Hana. Gadis itu menatap Ibunya dengan tatapan bertanya-tanya. Tidak mengerti akan hal yang dilakukan Steve beberapa detik yang lalu dan juga tentang sikap Kakaknya yang agak aneh. Jung Soo bahkan tidak pernah berbicara selama ini dengan Baekhyun atau See Jung. Bahkan watak Luhan lebih buruk dibanding Baekhyun, tapi, mengapa Jung Soo kelihatan lebih senang dengan Luhan dibanding Baekhyun?

            “Aku akan kembali lagi besok, sayang.” Mereka sudah ada dihalaman rumah keluarga Park. Hana dengan terpaksa harus mengantar Luhan sampai pintu luar, demi kenyaman pemilik rumah, kata Ibunya.

            Park Hana menatap Xi Luhan dengan tajam. “Jangan pernah lagi.”

            Luhan tertawa, ia mengangkat pundaknya. “Kenapa? Kita adalah sepasang kekasih.”

            “Bualanmu.” Gumam Hana geram.

            Luhan menatap Hana, ia melangkah maju dan berdiri tepat dihadapan gadis itu. “Apa kau tidak melihatnya?”

            “Apa?”

            Wajah Luhan berubah serius. “Tentang seluruh kejadian hari ini tentang kita.”

            “Kau pikir aku bodoh? Kau—“

            “Ya, kau bodoh Park Hana.” Sergah Luhan cepat. “Kau lebih bodoh dibanding yang kupikirkan.”

            Hana membelak. “Hey, Xi Lu—“

            “Besok adalah hari pertama sekolah. Pastikan kau tetap berada di dalam jarak pandanganku.” Lalu lelaki itu mencium pipi Park Hana dan membalik. “Ah, aku tidak sabar bertemu denganmu besok.” Kata lelaki itu berusaha mencairkan suasana.

            Park Hana masih diam dan menatap Luhan. “Kukatan bahwa aku bukan wanita murahan seperti wanita-wanitamu.”

            Luhan membalik dan tersenyum, mengejek. “Ya, kau wanitaku.”

            “Aku benar-benar membencimu.”

            Luhan tertawa. “Aku lebih mencintaimu , Park Hana.”

            “Kau gila!” Hana membalik, benar-benar marah.

            Luhan tersenyum menatap punggung Park Hana. “Kau tidak akan mengucapkan selamat malam pada pacarmu?” teriak Luhan.

            “Terserah kau saja!” balas Park Hana berteriak membuat Luhan tertawa.

            Selamat malam, Park Hana.

 

GEE!

 

            Ruangan itu adalah ruangan kerja Yoo Lahim. Ibu dari dua anak keluarga Yohan. Ia bekerja sebagai direktur di SMA Yohan. Dan sekarang, ia merasa terganggu sekali dengan kedatangan Park Hana. Anak perempuannya itu menatapnya dengan wajah memerah menahan tangis.

“Ibu, apa yang kau lakukan?”

            Nyonya Yoo Lahim, Ibunya yang duduk dikursi kerjanya menatap anak perempuannya. “Memang apa yang Ibu lakukan?”

            “Ibu menjodohkanku dengan Luhan?” Yoo Lahim tersenyum sambil mengangguk, ia menunduk menatap berkas-berkasnya. “Ibu tau, kan, jika aku tidak pernah suka pada Luhan?”

            “Ini bukan masalah suka dan tidak suka.” Ibunya menatap Park Hana. “Kalian sudah besar dan sudah perlu mengerti tentang hal seperti ini.”

            “Sejak awal aku tidak suka dengan permainan keluarga ini.” Gadis itu menatap geram sang Ibu. “Aku tidak ingin seperti ini.”

            “Kau pikir kau siapa, Park Hana?” Yoo Lahim balas menatap anaknya geram. “Kau adalah pewaris tahta dan pewaris tahta tidak akan pernah memiliki sebuah kehidupan bebas. Hidupmu sudah kami atur sejak dulu.”

            “Kalau begitu,” Park Hana menatap Ibunya ragu. “Keluarkan aku dari rumah ini.” Air matanya jatuh, merasa sakit hati.

 

GEE!

 

            Xi Luhan diam diatas tempat duduknya. Sambil memegang gelang—milik perempuan kecil yang masih ia cari sampai sekarang—ia menatap layar komputernya dengan serius. Sudah satu jam sejak ia pergi dari rumah Park Hana dan ia tidak beranjak dari tempatnya. Ia terus menatap anak gadis itu. Anak gadis yang ada didalam layar komputernya. Park Hana masih menangis sejak sejam yang lalu dan ia merasa tidak enak akan hal itu. Dan penyebab ia tidak merasa enak akan perasaannya itu, ia sendiri bingung mendeskripsikannya.

            Park Hana sudah resmi menjadi kekasihnya. Itu yang dikatakan Ayahnya dan Orang tua Hana. Mereka merupakan seorang pewaris tahta yang akan benar-benar maju dimasa depan, kata Xi Youlan, Ayahnya. Luhan pun baru diberitahu oleh Ayahnya lewat pembicaraan yang dilakukannya semalam lewat Video Call, Ayahnya menyuruh Luhan untuk kerumah Park Hana dan menemui Nyonya Park.

            “Ini permintaan Suamiku dan Ayahmu, kau harus menerima amanat ini.” Kata Yoo Lahim saat Luhan menemui wanita itu tadi siang.

            Luhan tidak bisa berkata apa-apa selain terkejut melihat cincin yang diberikan Yoo Lahim kepadanya. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Nyonya besar itu.

            “Kau dan Park Hana akan bertunangan sebulan kemudian diawal tingkat tiga.”

            Saat itu, ia merasakan tenggorokannya tercekat, jantungnya berdegup sangat kencang dan kakinya lemas sekali.

            “Setuju tidak setuju kalian harus menerimanya.” Direktur Yoo mengambil sebuah map yang tersimpan dihadapannya dan memberikannya pada Luhan. “Ini merupakan daftar kegiatan kalian untuk memperomosikan Perusahaan, dimulai dari Hotel, perancangan terbaru Hansol sampai demo gaun pengantin.”

            “Direktur Yoo, apa—“

            “Hana pasti akan menerimanya dengan cepat, melihat kalian begitu dekat, itu tidak begitu buruk.”

            Luhan dibuat melongo dengan kalimat Direktur Yoo. “Kami bahkan bermusuhan.” Celetuk lelaki itu.

            “Itu tidak begitu buruk.”

            Direktur Yoo menatap bingkai foto yang memperlihatkan anak perempuannya. “Musuh bukan untuk dihindari dan sejak awal, Park Hana bukanlah seseorang yang harus ditakuti olehmu.”

            Xi Luhan memperhatikan lagi gelang ditangannya dengan teliti, berusaha mencari tahu tentang point yang paling utama disana. Huruf ‘H’ besar bertengger disana, dilapisi berlian yang cantik. Ia benar-benar ingin menemui gadis kecil itu. Gadis kecil yang kuat, yang sudah menolongnya. Luhan tersenyum, kau bukan lagi jodohku sekarang, gumamnya pelan. Ia lalu menyimpan gelang itu ketempatnya dan beralih menatap komputernya, yang sekarang sedang menampilkan Park Hana yang sudah tertidur pulas diatas sofa. Luhan meringis. Ayolah, apakah aku harus mengangkat tubuhmu agar kau tidak tidur disofa? Bahkan besok adalah hari pertama sekolah. Ujar Luhan dalam hati sambil tersenyum manis sekali.

 

TBC

 

Halo, terimakasih sudah membaca part 4. Komentar tentu sangat dibutuhkan sekali dalam pembuatan FF ini. Dalam komentar sebelumnya, saya minta maaf karena banyak dari kalian yang mengeluh karena kalian tidak begitu mengerti dengan ceritanya, itulah mengapa saya sangat butuh sekali komentar-komentar anda. Semoga di Part ini, seluruh ketidak mengertian kalian terjawab. Dan juga, jangan puas dengan Gee! keep reading Gee and support author.
Love,

sanacamberlain

 

29 responses to “GEE! [Part 4]

  1. klo dipikir2 Luhan udh yakin pemilik gelang adl Hana hanya dia tdk mau mempercayai itu. Mungkin gk Luhan masang kamera pas masuk ke kamar Hana. dan bintang milik Hana yg dibawa Stave itu bikin penasaran. Ku pikir mereka gk begitu dekat tp walaupun Hana agak ketus tp dia sayang sm Steve buktinya dia sampe pnya rahasia yg di bagi ke Steve..hehe #soktau kambuh. 🙂

    seneng liat chap ini, interaksi antara Luhan dan Hana lebih banyak.
    pokoknya sukaaaaa… Next chap di tunggu.

  2. wahh jngan” yg punya gelang itu Hana??
    next thor
    pensaran sma lanjutan.na 🙂
    FIGHTING^^!!!!!!

  3. Aah luhan ><
    Gemes jadinyaaaaa. Cie habis in bakal seru pastinya. Haha. Kelihatannya konfliknya banyak ya XD

  4. Pingback: GEE! [Part 5] | FFindo·

  5. wah, konfliknya makin rumit ternyata..
    baekhyun kenapa bisa ngebayangin hal kaya gitu ya?._. tapi kasian baekhyun *hug*
    itu luhan masang cctv ya dikamarnya hana? wah, ckck.
    eh, kris mau balas dendam tuh? ke siapa? keluarganya hana atau luhan? ah, ini makin seru ><

  6. aku masih belum ngerti bagian akhirnya. Jadi si luhan mengawasi park hana dari layar laptopkah? apakah si luhan punya cctv buat ngawasin si hana? waw. bener2 dipersiapkan dengan matang ya rencana itu.

    hmm. aku jadi penasaran dgn 2 sejoli ini (ya aku mulai suka dgn mereka sekarang!)
    Semoga akan ada banyak kejadian menarik selanjutnya! 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s