[One Shot] The Last Breath

 FF ini ditulis oleh rizkirii, bukan oleh saya (Rasyifa), saya hanya membantu untuk membagikannya di FFindo. Tolong berikan apresiasi kalian ya melalui jejak komentar. Terimakasih~

securedownload

Tittle : The Last Breath | rizkirii | Kim Jongin, Jung Soojung | Angst, Hurt, Married-life | G— General Audience

Fancition ini pernah juga dipublish disalah satu blog teman, klik.

I don’t own the cast.

***

“I love you, in everytime I breathe”

***

Matahari menatapku sendu seolah tau apa yang ada di hatiku. Seorang lelaki yang sangat aku cintai, ralat, yang sangat aku benci sedang duduk di depanku. Ku tatap kedua bola matanya, ia tak berani menatapku.

Kegelisahan di hatinya terpampang jelas di wajah tampannya. Bahkan americano yang selalu menggodanya ia campakan begitu saja.

“Apa kau yakin kau…” Tanyanya dengan berhati hati melenyapkan keheningan.

“Ya. Aku hamil dan ini karenamu,” Jawabku tegas.

Tak ada keraguan di wajahku. Bahkan aku berhasil memanipulasi kehancuran batinku.

“Bagaimana bisa?” Ucapnya tidak bisa menerima kenyataan.

Disisi lain ada sedikit tatapan percaya dengan situasi yang saat ini menimpanya.

“Tutup mulutmu. Kau tahu betapa aku mencintaimu. Kau tahu aku memberikannya untukmu. Kau tahu betapa bodohnya aku karenamu. Ternyata aku sangat bodoh. Selama ini aku mencintai lelaki pengecut. Orang yang tidak pantas untuk disebut seorang lelaki.” Jawabku meluapkan amarah. Tanpa kusadari air mata suci membasahi pipiku.

Aku malu dengan diriku sendiri.

Diriku sangat mengecewakan. Aku bahkan jiji menatap cermin. Aku tak ubahnya sebuah gelas krystal cantik yang retak. Mewah, anggun, elegan tetapi sudah rusak, tidak ada daya tarik dan membahayakan.

“Gugurkan kandungan itu. Kita akan menikah saat kita lulus kuliah soojung. Ku mohon.” Jongin menggenggam tanganku. Dingin. Tangannya sangat dingin. Apa hatinya sudah membeku? Bagaimana dengan otaknya?

“Kau sungguh menyedihkan jongin,” Kulepaskan genggamannya. Ku tatap ia dengan tatapan hina. “Aku memang mencintaimu tapi aku jauh lebih mencintai anakku ini.” Ucapku meninggalkannya.

Kutembus hujan yang sedari tadi setia menemani bulan. Air hujan dan air mata menyatu.

Sungguh akulah yang terlihat menyedihkan.

“Soojung-a ayo cepat masuk!” Seru seorang wanita dari dalam mobil. Kulirik kearahnya ia adalah jessica unnie. Kakak perempuanku yang sedari tadi menungguku di luar. Aku tidak perbolehkan ia untuk menemaniku karena aku tahu pasti ia akan membunuh jongin disana. Aku tidak mau eonniku menjadi seorang kriminal.

“Jadi.. Bagaimana? Apa ia akan bertanggung jawab?” Tanyanya.

Aku hanya menangis dan terus menangis menghiraukan pertanyaannya.

“Aku tahu pasti akan seperti ini. Jangan pernah mengemis padanya lagi. Kita lihat saja suatu saat ia pasti akan mengemis kepadamu,” Ucapan jessica eonni sedikit membuatku tenang.

“Apa ayah dan ibu sudah tahu tentang hal ini?”

Deg. Bagaimana bisa aku memberitahu mereka. Bagaimana bisa? Tangisan ku semakin menjadi. Jessica eonni terlihat panik menatapku.

“Ah sudahlah mereka tidak akan membunuhmu kan?”

“Eonni, aku ingin mereka tahu sekarang.”

“Ha?”  Jessica eonni terlihat kaget mendengar permintaanku.

Akhirnya kita berdua tiba di rumah. Tempat kita mengungkapkan segala kepenatan hidup. Itulah fungsi rumah.

Aku harus memberi tahu mereka. Toh lambat laun mereka akan mengetahuinya. Ku tatap sebuah mobil sedan hitam menandakan ayah sudah pulang. Syukurlah berarti aku akan menyelesaikan semua masalah ini sekarang.

“Appa.. Aku hamil.” ucapku tanpa ada keraguan. Ku tatap wajahnya. Appa terlihat terkejut. Sama halnya dengan appa, eomma tak kalah terkejut. Bahkan sekarang sudah ada setetes air mata di pipi eomma.

“Siapa yang melakukan ini?” Tanya appa tanpa kemarahan menatapku. Kubaca wajahnya ia sangat kecewa. Terlihat dari indra penglihatannya tersenyum murung.

“Kim Jongin. Maafkan aku appa,” suaraku sedikit ku kecilkan. Aku sedikit tertunduk malu tak kuasa melihat tatapan appa yang membuatku semakin sakit. Ku dengar tangisan eomma makin menjadi saat ku sebutkan nama jongin. Eomma tahu betul hubungan aku dan jongin. Untunglah ada jessica eonni yang membantu menenangkan eomma.

“Apa dia akan bertanggung jawab?” tanya eomma dengan tangisan sendunya. Pertanyaan eomma membuatku gila. Bagaimana bisa aku menjawab tidak jika aku hanya semakin membuat eomma sakit. Bagaimana bisa aku menjawab ia jika jawabannya adalah tidak. Tuhan tolong aku.

“Soojung, ku harap kau memberikan hak hidup untuk calon anakmu itu,” Ucap appaku meninggalkan kita semua pergi menuju kamarnya. Aku hanya diam mendengar penyataan appa. Aku tidak sebodoh jongin yang menyuruh menggugurkan kandunganku.

***

Berita kehamilanku sudah tersebar di seluruh penjuru kampus. Cemoohan dan tatapan sinis sudah jadi santapan saat aku berjalan. Tak heran dengan keadaan ini sahabatku seperti sulli, chanyeol, amber dan baekhyun selalu menemaniku kemanapun aku akan beranjak.

Dosa apa yang telah ku lakukan kepada mereka? Mengapa mereka berbuat seperti ini? apa aku pernah membuat dosa kepada mereka? Apakah aku telah membunuh kedua orang tua mereka? Bahkan jongin sudah beberapa hari tidak masuk. Seperti seorang pengecut saja. Mengapa hanya aku yang menanggung semua ini?

Bahkan aku mendapat tamparan dari seorang fans jongin. Jika tidak di tahan oleh chanyeol mungkin aku akan masuk bui.

Sore mulai berganti malam. Saatnya aku untuk bergegas pulang. Ke satu satunya tempat yang bisa menerimaku. Rumah. Betapa terkejutnya aku ketika kedua orang tua jongin dan jongin sudah berada di ruang tamu. Ada luka lebam tepat di mulut dan mata jongin.

Sekarang posisiku sudah duduk diantara mereka. Tepatnya di samping jongin. Semua mata tertuju padaku dan jongin. Semuanya diam tak ada yang berani berbicara

“Aku akan bertanggung jawab,” Ucap jongin memecahkan kesunyian.

Kulirik wajah jongin tidak percaya. Hanya aku satu satunya yang terkejut dengan ini. Mereka semua sudah mengetahui hal ini.

Setelah semua urusan selesai, jongin mengajakku untuk berbicara berdua. Ku ajak ia pergi ke balkon di lantai 2. Tempat biasa kita bercengkrama dulu.

“Soojung-a maafkan aku. Kemarin aku terlalu bodoh menyuruhmu menggugurkan anakmu eh tidak. Anak kita.” Ucap Jongin menatap langit malam.

Hembusan angin menemani kita. Ucapan jongin membuatku lega. Aku bersyukur dengan anugerah yang tuhan berikan kepadaku. Aku diberikan keluarga yang mengerti dengan keadaanku. Menahan egonya dan bersikap rasional. Aku di berikan sahabat yang menerimaku apa adanya tidak peduli seberapa ‘kotor’ nya diriku. Aku memiliki jongin. Yang masih memiliki rasa bertanggung jawab.

“Siapa yang memukulimu sehingga kau mau menikahi wanita yang menyedihkan sepertiku?” Ia hanya menatapku setelah mendengar perkataanku.

“Aku yang membuatmu menjadi wanita yang menyedihkan soojung. Tapi dimataku kau berharga. Seribu kali lipat lebih berharga dibanding nyawaku. Aku hanya takut, anak itu akan menghilangkan kilauan dirimu. Ternyata aku salah. Anak itu membuat kau jauh lebih mulia dimataku. Chanyeol dan baekhyun kemarin memukuliku. Ah bukan. Mereka menyadarkanku. Jauh lebih sakit kehilanganmu dan anakku dibandingkan tendangan dan pukulan yang mereka berikan kepadaku,” Ucapan jongin membuat hatiku luluh.

Aku semakin mencintainya. Bahkan sebelumnya ia tidak pernah seromantis ini. Aku yakin hari jadi kita dia tidak mengingatnya.

“Hei, aku tidak sabar menunggu kehadiranmu.” ucap jongin sebari mengelus elus perutku.

“Kau tahu? Ini sangat menggelikan. Kau mencari kata kata yang indah itu di website mana?” ucapku tertunduk melihat jongin yang terduduk mengelus elus perutku.

“Dimatamu.” jawab jongin melihat ke mataku.

***

Jongin sudah mempersuntingku. Pernikahan yang diadakan kecil kecilan mengingat apa yang mendasari pernikahan ini. Hanya ada keluarga kami dan sahabat sahabat terdekat kami.

Jongin sudah membeli sebuah apartemen untuk kita diami bersama. Kegiatan kuliah kitapun sedikit terganggu. Cemoohan dan tatapan yang membuatku menjadi wanita paling kotor di dunia masih tetap menemani hariku. Tapi sekarang ada jongin yang selalu melindungiku. Bahkan ia menutup telingaku saat ada yang mencemoohku.

Kandunganku semakin membesar. Jongin selalu setia menemaniku mengecek kandunganku. Sampai suatu saat ketika kandunganku mencapai 4 bulan

“Nyonya soojung, seperti yang kita tahu rahimmu masih sangat muda bahkan usiamu baru 20 tahunkan? Pasti akan ada perbedaan dengan ibu ibu hamil lainnya. Kulihat ada cairan di otak bayi anda. Demi keselamatan anda, anda harus mengugurkan kandungan anda.” kata dokter dengan nada yang sangat lembut.

“A..apa ada cara lain dok?” Tanya jongin terlihat terkejut.

“Saya tidak akan menggugurkan kandungan saya walaupun itu akan membunuh saya,” tekadku sudah bulat. Apapun yang terjadi aku tidak akan membunuh bayiku sendiri.

“Jika itu keinginanmu nyonya, jangan terlalu stres. Anda harus rutin mengikuti mengikuti program ibu hamil. Jika keadaan ini semakin memburuk, terpaksa anda harus berhenti kuliah selama beberapa bulan.”

Perkataan dokter membuat hatiku semakin teriris. Aku harus berhenti meraih cita citaku sebagai seorang akuntan demi keselamatan bayiku. Bayiku adalah segalanya bagiku melebihi dari nyawaku.

***

Disinilah ku tiba. 15 Januari 2014 saat usia kandunganku mencapai 8 bulan aku harus melahirkan ia secara prematur.

Jongin pov.

Aku hanya berkutat dengan laptopku. Sesekali ia melihat si kecil kim soojung yang sedang tertidur lelap. Wajahnya cantik seperti ibunya. Aku selalu jatuh cinta setiap melihat peri kecilku itu. Aku kembali meneruskan ceritanku. Tidak. Itu cerita istriku.

15 Januari 2014.

Saat sedang mempersiapkan makan malam, soojung merasakan kontraksi yang sangat hebat. Akhirnya aku mengambil keputusan untuk membawanya ke rumah sakit. Ia langsung dilarikan ke ugd. Kata dokter ia akan melahirkan. Tapi usia kandungan soojung baru 8 bulan? Dokter mengatakan jika tidak melahirkan sekarang akan membahayakan bayi dan ibunya. Dokter menambahkan pula jika melahirkan normal prematur seperti soojung pasti akan merasakan sakit berkali kali lipat dibanding melahirkan normal.

Semua keluargaku dengannya sudah berkumpul di luar ruang persalinan. Hanya ada aku yang menemaninya. Ini akan membuatku sangat mencintainya. Soojung tersenyum menahan sakit kepadaku.

“Jongin tolong jaga anak kita. Sampaikan maafku kepada anakku. Mungkin anakku akan malu mengetahui ibunya seorang bodoh dengan gampang memberikan kesuciannya. Tapi ketahuilah aku sangat mencintai anakku. Lebih dari mencintai nyawaku sendiri. Katakan aku sangat mencintainya seumur hayatku,” Ucap soojung di iringi air mata.

“Apa yang kau katakan? Kau kuat soojung! Kau wanita yang hebat!” Ucapku menghapus air matanya. Ia hanya tersenyum menatapku.

Disinilah aku. Di samping istriku yang sedang berjuang melahirkan anak kita. Keringatku bercucuran deras. Seorang yang aku cintai sedang berjuang. Tidak bukan seorang tapi 2 orang. Aku hampir melupakan anakku. Soojung berteriak dan mencakar tanganku menahan kesakitannya. Jika tuhan mengizinkan aku rela aku yang berada di posisi soojung. Aku rela menahan semua rasa sakitnya soojung. Aku yang membuatnya seperti ini. Tapi mengapa soojung yang harus merasakan semua kesakitan ini. Soojung sungguh aku berdosa kepadamu.

Akhirnya tangisan bayi yang dinanti nanti keluar. Tangisannya sangat keras memenuhi ruangan persalinan. Aku tersenyum lega. Kulirik soojung ia tersenyum mendengarnya. Tapi kemudian ia tertidur. Semua orang di ruangan itu panik melihat soojung. Soojung tidak sadarkan diri.

Tangisan bayi itu berganti dengan tangisan tangisan orang dewasa. Setelah mengetahui soojung telah tidur untuk selamanya. Tuhan mengapa ini tidak adil? Apakah ini balasan untukku? Tuhan apa kau tidak merasa iba terhadap kami? Soojung bahkan belum memeluk anaknya yang selama ini ia perjuangkan.

Anakku yang berjenis kelamin perempuan tidak akan pernah melihat senyuman ibunya langsung seumur hayatnya.

***

Semuanya telah selesai. Pemakaman soojung telah selesai. Sekarang anakku kim soojung sudah bisa di bawa pulang. Kim ahra kaka perempuanku memutuskan tinggal bersamaku untuk menjaga bayiku.

Aku teringat satu hal.

Soojung memberi tahuku bahwa ia akan membuat sebuah novel.

Ku buka laptopnya. Ku baca semuanya. Hatiku seperti teriris oleh silet membacanya. Tangisan tidak dapat aku bendung. Sungguh aku mencintainya.

Sangat mencintainya. Jung Soojung.

-THE END-

39 responses to “[One Shot] The Last Breath

  1. haaaaa…poor Jongin & Soojung TT_TT ternyata Jongin mesti ngebesarin anaknya sendirian tanpa Soojung,sedih sebenernya cuma mungkin alurnya terlalu cepet jadi kurang kerasa. But nice ff,keep writing ^^

  2. Hiksss Hiikss Hhuuuaa…Uri Soojung bener2 Eomma yg daebak merelakan hidupnya demi Putri kecil yg manis 😦 🙂 , semua ibu yg baik pasti melakukan hal yg sma

  3. Pingback: INTRO_RASYIFA | FFindo·

  4. huhuuuu sedih, tapi ini kurang panjang alurnya. Jadi kurang mantep feelnya.. Tapi gpp ini tetep bagus kok Keep writing thor 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s