THE PORTAL 2 [ Part 2A : 15 Days ]

theportal2wallpaper21

Title :

THE PORTAL 2

 

Author :

citrapertiwtiw a.k.a Citra Pertiwi Putri ( @CitraTiwie )

 

Main Cast(s) :

– A Pink’s Son Naeun / Son Yeoshin as the Witch

– INFINITE’s L as the Witch ( another side : Kim Myungsoo )

– A Pink’s Jung Eunji / Jung Hyerim as The Princess of Junghwa Kingdom

– INFINITE’s Lee Howon / Hoya as The Bodyguard and celebrity

 

Genre : Fantasy, Romance, Friendship, and little bit Comedy

 

Other Casts :

In Junghwa :

– CNBlue’s Jung Yonghwa as The King / Eunji’s Father

– SNSD’s Seo Joohyun as The Queen / Eunji’s Mother

– BAP’s Jung Daehyun as The First Prince / Eunji’s brother

– F(x)’s Jung Soojung / Krystal as The Second Princess / Eunji’s sister

– BtoB’s Jung Ilhoon as The Second Prince / Eunji’s Brother

– SNSD’s Lee Soonkyu / Sunny as The Palace’s Witch

– B2ST’s Son Dongwoon as Naeun’s Brother

– B.E.G’s Son Gain as Naeun’s Sister

– SNSD’s Kim Hyoyeon / A Pink’s Hong Yookyung as the most mysterious witch in Junghwa

– SNSD’s Kim Taeyeon as L’s Mother & Hyoyeon’s sister (good side : as Kim Haeyeon, Junghwa’s Headmaster)

– A Pink’s Kim Namjoo as Hyoyeon’s foster daughter

– EXO’s Byun Baekhyun as the Prince from another Kingdom

 

In South Korea :

– EXO’s Kim Jongin / Kai as Myungsoo’s brother

– INFINITE’s Lee Sungyeol as a medium

– INFINITE’s Nam Woohyun as Naeun’s foster brother

– A Pink’s Park Chorong as Myungsoo’s best friend & Woohyun’s fiancee

– B2ST’s Yoon Doojoon & 4Minute’s Heo Gayoon as Eunji’s foster parents

– A Pink’s Yoon Bomi as Eunji’s foster sister

– EXO’s Do Kyungsoo / D.O as an ordinary boy

– Girl’s Day’s Bang Minah as a celebrity, and introducing ;

– Girl’s Day Yura / Kim Ahyoung as Minah’s Manager

– INFINITE’s Kim Sunggyu as Yura’s Father and Junghwa High School’s teacher

 

Rating : PG15 – NC17

 

Type :

Chaptered, Season

 

Cerita Sebelumnya :

Synopsis The Portal 1

Part 1              : I Hate My Life

Part 2              : Big Decision

Part 3A           : I Will Find You | 3B : You Will Find Me

Part 4               : Another Me

Part 5               : Over Protective?

Part 6               : Faithfulness

Part 7               : Something New

Part 8               : The Hidden Truths

Part 9               : Unpredictable

Part 10             : The Scandals

Part 11             : Reality

Part 12             : True Love

Part 13             : It’s Time To…

Part 14             : The Real Story

Part 15 ( final ) : Open or Close The Portal?

PROLOG SEASON 2

Part 1             : Nice to Meet…You?

 

Ringkasan Cerita Sebelumnya :

Rencana pernikahan Pangeran Baekhyun dan Putri Krystal tak hanya membawa keadaan buruk bagi kondisi kerajaan, namun juga bagi bangsa penyihir, khususnya keluarga kecil L.

Permintaan mencurigakan Baekhyun untuk mengadakan perjalanan ke negeri Gwangdam selama 15 hari untuk melangsungkan pernikahan disana membuat L merasa ada sesuatu yang tidak beres sebab para penyihir tak diperbolehkan ikut dalam perjalanan tersebut. Dan di cerita sebelumnya, L mulai mengumpulkan beberapa bukti kuat atas keresahannya, dimulai dari cahaya merah yang terus mengganggu Lin, putranya, hingga bertemunya ia dengan Kim Namjoo di dalam kelas sekolah sihir yang akan ia asuh dan ia ajar. Bukankah anak angkat Hyoyeon itu hanyalah manusia biasa yang sudah mati dibunuh olehnya? Mengapa gadis itu muncul lagi di sekolah sihir bahkan menjadi calon muridnya?

Setelah berdebat dan marah beberapa kali, Naeun akhirnya mengalah dengan keputusan L yang tetap memintanya pergi ke dunia nyata disaat negeri Junghwa sepi nanti, ia bahkan akan pergi sendiri karena rupanya dalam hukum dunia sihir, Lin tak bisa dibawa pergi ke tempat yang jauh sebelum usianya satu tahun. Maka itu, L-lah yang akan menjaga putra mereka selama enam belas hari kepergiannya.

Apakah Naeun akan pergi ke dunia nyata bersama Kai? Tidak. adik kandung dari Kim Myungsoo itu kembali dibuat galau oleh Howon yang memintanya untuk menggantikan posisi sang artis sebagai pengawal untuk perjalanan 15 hari nanti, sebab Howon tak bisa ikut karena jadwalnya di dunia nyata yang padat dan membuatnya terpaksa pulang duluan, meninggalkan Hyerim –tanpa pamit dan hanya meninggalkan sebuah surat–.

Jadi, tak hanya L dan Naeun yang akan berpisah karena perjalanan 15 hari itu, Howon dan Hyerim pun sama, bahkan menurut Naeun, sepertinya perpisahan mereka akan berdampak buruk bagi hubungan keduanya.

Di dunia nyata, sisi baik L, Kim Myungsoo rupanya melanggar larangan Hoya untuk tidak keluar dari apartemen selama sang artis pergi. Dengan berbagai alasan, lelaki itu keluar dari apartemennya, mulai dari mengunjungi Haeyeon karena ada sesuatu yang harus ia sampaikan, hingga menolong (lagi) tetangganya yang terus-terusan –sengaja- bergantung padanya.

Setelah berhari-hari hanya sekedar menolong dan pulang, kali ini akhirnya Myungsoo berkesempatan untuk mengenal Yura, sang tetangga yang tak hanya seorang manajer untuk Minah namun juga anak dari Kim Sunggyu, guru Kimia di SMAnya. Perkenalan mereka berjalan mulus dan mereka begitu cepat akrab karena memiliki umur yang sama, terlebih Yura adalah gadis yang ceria walaupun sering sok tahu. Bagaimanapun juga, Myungsoo sudah mendapatkan teman, yang untuk sementara bisa menggantikan Sungyeol dan Chorong, kedua sahabat yang sangat ia rindukan.

Yura, yang sepertinya senang dengan Myungsoo cenderung aktif setelah perkenalan. Gadis itu mengajak Myungsoo untuk menonton film bersamanya hingga sebuah pertemuan yang sangat ditakutkan Hoya dan Eunji tidak dapat terelakkan.

Di gedung bioskop, tanpa disadari mereka duduk bersama L dan Naeun yang sedang menghabiskan waktu bersama mereka sebelum kepergian Naeun ke dunia nyata.

Gedung teater yang gelap membuat insiden yang tak terduga terjadi.

Naeun memeluk dan mencium Myungsoo!

****

NB : Terimakasih banyak atas komentar  untuk part 1. Gak nyangka sebanyak itu, hehe. Enjoy part 2!!!

 

2A

15 Days

 

Author POV

 

“ Apa aku perlu membunuh semua orang di tempat ini agar kau percaya?”

“ YA! berhenti bicara seperti itu!”

“ Hahaha. Aku hanya bercanda, tapi aku tidak bohong. Aku duduk disini sejak tadi.”

Naeun mulai linglung, dirabanya kembali kursi penonton di sebelah kanannya yang kini sudah kosong karena si pemilik pergi akibat tindakannya, kemudian ia menoleh ke bangku sebelah kirinya, ke arah suaminya yang mengaku bahwa sejak tadi ia tak berpindah tempat duduk kemanapun.

“ Jangan membohongiku, kau disini kan tadinya?” Naeun menepuk-nepuk bangku kosong tersebut, L sampai gemas karena secara tak langsung istrinya itu membuatnya melewatkan beberapa adegan film yang sedang ia tonton. Lelaki itupun mengeluarkan tiket mereka dari sakunya.

PLAK!

Ditempelnya dua tiket tersebut di kening indah Naeun hingga istrinya itu terkejut dan sedikit kesakitan.

“ Lihat tiketnya, D4 dan D5, mana mungkin aku duduk di D3.”

Setelah itu L kembali melahap popcornnya dan kembali fokus pada filmnya, mengabaikan Naeun yang masih kebingungan memperhatikan tiketnya.

“ Tapi aku melihatmu di..sini..”Naeun ingin mengotot namun takut L mendadak murka karena sudah berkali-kali ia meyakinkan suaminya itu.

“ Memangnya kau bicara dengan orang di D3 itu?”tanya L tanpa menoleh kearahnya.

Aku bahkan memeluk dan menciuminya.” Naeun tak mungkin menjawab demikian karena L akan langsung naik darah jika tahu hal itu, tapi apa benar L tak tahu apapun? Apakah ia memang tak berpindah tempat duduk? Naeun tak mungkin berani mencium orang yang bukan suaminya.

“ Apa mataku sudah rabun? Tidak..tidak mungkin..aku bisa melihat dengan jelas. Aku..”Naeun berpikir sendiri karena kelihatannya L tak bisa lagi diajak bicara.

“ Kau melihat hantu? Makanya jangan terlalu paranoid dengan film horor.” potong L, ia lantas menarik Naeun dan membenamkan wajah cantik istrinya itu di dadanya agar tak melihat film mengerikan di depan mereka.

“ Kau benar-benar disini sejak tadi?”yeoja itu masih saja bertanya dengan suara kecil.

“ Sepertinya kau mulai gila karena akan berpisah denganku besok.”

“ Aku tidak gila.. aku benar-benar melihat…” Naeun tak bisa melanjutkan kata-katanya karena L memasukkan beberapa popcorn ke dalam mulutnya.

“ Diam. Aku tidak bisa menonton.”

Naeun menurut, sembari mengunyah popcornnya, ia memilih untuk tidur dalam pelukan L meski hatinya masih tak tenang. Lelaki itu mengelus rambut indahnya pelan, kemudian menatap bangku kosong disamping Naeun sejenak.

 

“ Apa Yeoshin benar-benar melihat seseorang disana?”

*****

 

“ Apa aku harus mati saja agar tidak bertemu hari esok?”

Krystal mondar-mandir di dalam kamarnya, sesekali mengintip lewat lubang pintu kamarnya, mengawasi koridor yang masih saja ramai dilalui oleh pegawai-pegawai istana yang sibuk mempersiapkan keberangkatan ke negeri Gwangdam besok. Jika ia nekat keluar, ia tentu akan diawasi kemanapun ia pergi.

Putri bungsu keluarga kerajaan Jung itu benar-benar depresi, namun sejujurnya ia masih takut mati. Jadi ia memiliki rencana lain untuk membatalkan keberangkatan besok. Dan rencana itu hanya akan bisa terlaksana jika ia keluar dari kamarnya.

“ Aku pasti bisa. Lihat saja.”

Gadis itu tak main-main, disambarnya sebuah korek dan beberapa batang kembang api yang ia simpan di bawah tempat tidurnya. Diangkatnya sedikit gaunnya, kemudian ia memberanikan diri memutar knop pintu dan keluar dari kamar.

 

“ Mau kemana, Tuan Putri?”

Benar saja, beberapa orang pengawal langsung bertanya saat ia baru saja keluar. Gadis itu mencoba santai.

“ Aku ingin main kembang api karena ini hari terakhirku di istana.” Krystal menunjukkan kembang api yang ia bawa, “…jangan ikuti aku.”

Para pengawal itu terpaksa menurut, lagipula keinginan Krystal tidak macam-macam, semua tahu gadis itu sangat suka bermain kembang api sejak putus dengan L.

Krystal menoleh ke belakang beberapa kali sebelum menginjak tempat yang ia tuju, halaman timur, tempat dimana ratusan kereta yang akan digunakan untuk perjalanan itu diletakkan. Mulai dari kereta mewah untuk keluarga kerajaan hingga kereta-kereta biasa untuk mengangkut penduduk. Krystal beringsut menuju kereta mewah terlebih dahulu sembari menyalakan koreknya.

“ Perjalanan akan batal! Hahaha!”

Krystal memasukkan sebatang koreknya yang sudah ia nyalakan ke dalam jendela kereta, setelah itu buru-buru mundur beberapa langkah sebelum api semakin besar. Wajah cantiknya nampak tak sabaran melihat kereta yang akan membawanya itu terbakar habis.

 

“ YA!!! PANAS! PANAS! APA INI!?”

“ Heh?” gadis itu terkejut. Ada orang di dalam keretanya? Bagaimana kalau sampai mati terbakar?

“ Aaaa!!! Gila!!!”

Terlihat seorang lelaki keluar dari kereta dengan seragam pengawalnya yang diselimuti api, ia nampak kebingungan mencari air dan ketakutan karena jika seragamnya habis terbakar maka giliran tubuhnya yang terkena api.

Krystal terpaksa keluar dari persembunyiannya, mengejar lelaki itu kemudian menariknya menuju kolam ikan terdekat.

BYUR!

Diceburkannya lelaki itu ke dalam sana hingga api yang membakar pakaiannya padam. Lelaki itu menghela nafas lega meski harus bergabung dengan ikan-ikan sementara Krystal melebarkan kedua matanya ketika akhirnya bisa melihat jelas siapa lelaki itu oleh bantuan lampu-lampu sekitar kolam.

 

“ Kai?”

 

Ah, rupanya lelaki tampan berkulit gelap itu bersedia menggantikan Lee Howon.

*****

 

Teng..tong..

 

Myungsoo berhenti meminum air putihnya dan melirik jam analog yang tertempel di dinding apartemennya, pukul sebelas. Apa Yura lagi? Lelaki itu tertawa sendiri karena gemas sebab ini terjadi setiap hari, baru saja mereka pulang dari bioskop, ia kira Yura kelelahan dan tak berniat ‘mengganggu’nya.

Dengan ikhlas, lelaki itu membuka pintu apartemennya.

“ Selamat malam, Kim Myungsoo.”

Lelaki itu tertawa lagi sejenak, rupanya dugaannya salah. Bukan Yura yang memencet belnya, melainkan seorang lelaki berseragam pegawai dengan ID card menggantung di lehernya.

“…hei, jangan tertawa. Aku lelah datang kesini jauh-jauh.”lelaki itu agak kesal.

“ Oh.. mianhae.. bukan maksudku menertawaimu. Memangnya.. Anda siapa?” tanya Myungsoo sopan dan sedikit berbasa-basi, karena jika dilihat dari ID card yang digunakan lelaki itu, ia adalah salah seorang karyawan di agensi Hoya, Portal Entertainment.

“ Aku karyawan di Portal Entertainment, ingin mengantarkan ini untukmu. Seharusnya tadi sore aku kesini, tapi kantor sedang sangat sibuk.” lelaki itu menyodorkan sebuah amplop kearah Myungsoo.

“ Mwo? Gaji manajer?”Myungsoo agak terkejut saat melihat tulisan yang ada di amplopnya.

“ Iya. Kau tidak mau?”

“ Eh, bukan begitu, tapi..”

“ Baguslah, kau sadar kan kau tidak banyak bekerja? Sekarang Hoya di Jepang dan kau malah ada disini. enak sekali hidupmu, aku iri.”potong sang karyawan sambil menyerahkan sebuah kertas dan pulpen.

“…tanda tangan disini, tanda terima gaji.”

Myungsoo hanya tertawa geli mendengar omelan si karyawan, ia pun bertanda tangan disana, meski rasanya agak bersalah juga sebab mendapatkan uang tanpa usaha. Seharusnya L yang mendapatkan uang ini, karena setidaknya penyihir itu sempat bekerja untuk Hoya.

“ Mwo? Ini tanda tanganmu?”si karyawan agak bingung saat Myungsoo mengembalikan kertasnya.

“ Ya. Kenapa?”

“ Saat pertama kali menandatangani kontrak sebagai manajer, tanda tanganmu tidak begini. Aku hafal tanda tanganmu karena bentuknya unik.”

“ Hah? Seperti apa bentuknya?”

“ Menyerupai huruf L, padahal namamu saja tidak ada huruf L-nya kan? Hahaha.”

Myungsoo manggut-manggut saja karena tahu tentu itu tanda tangan L.

“…kau mengubah tanda tanganmu?”tanya si karyawan itu.

“ Hah? i..iya.. karena memalukan, tidak ada huruf L pada namaku, hehe.” jawab Myungsoo seadanya, sang karyawan geleng-geleng kepala.

“ Ck, ya sudah. Nanti aku laporkan pada CEO agar tidak terjadi kesalahpahaman. Kalau begitu aku pergi.”

“ Tidak masuk dan minum dulu?”

“ Tidak, terimakasih. Kau bekerja keraslah, aku iri sekali. Gajiku saja tidak sebesar gajimu, padahal aku lelah bekerja di kantor siang malam. Apalagi kau kerja untuk artis terkenal.”

Myungsoo mengangguk dan tersenyum dengan sedikit menahan tawanya, “ Ya, aku akan bekerja keras.”

“ Nah, begitu dong. Karena ada manajer yang tidak seberuntung dirimu.”si karyawan sedikit mendekat dan berbisik dengan nada bicara ala penggosip sembari menunjuk pintu apartemen Minah dan Yura.

“ Kim Yura?”

“ Nah, kau mengenalnya? Dia manajer Minah, gajinya mengendap di rekening artisnya. Kasihan, kan? Minah sangat galak padanya, tidak seperti Hoya yang sepertinya sangat baik padamu.”

“ Ah, begitukah?” Myungsoo hanya menanggapi seadanya karena tak ingin ikut bergunjing.

“ Begitulah. Kalau semakin banyak orang yang tahu, ini pasti akan jadi berita di media massa. Ah sudahlah, aku pamit.”

Karyawan itu pergi, meninggalkan Myungsoo yang kini menatap iba ke arah pintu apartemen Yura, merasa kasihan karena ia tahu Yura bekerja demi membantu ayahnya –Sunggyu- yang tak menerima gajinya sebagai guru karena SMA Junghwa yang masih ditutup dan beliau terpaksa tidak mengajar. Pantas saja, saat menerima uang tambahan dari Minah, Yura sangat senang dan langsung mengajaknya menonton film.

Meski sayangnya, gadis yang mencium Myungsoo sembarangan di dalam gedung teater membuat uang Yura untuk membeli tiket terbuang sia-sia karena mereka keluar dari gedung teater sebelum waktunya.

 

Myungsoo masuk kembali ke dalam apartemennya. Ia tak tidur, bersiap-siap melanggar perkataan Hoya untuk yang ke sekian kalinya : keluar apartemen.

***

 

“ Kau kumat lagi?”

“ Ya! aku tidak kumat.”

“ Lalu mengapa kau ingin membakar kereta ini? aku sedang enak-enaknya tidur di dalam, eh ada batang korek berapi jatuh ke bajuku.”

Krystal menahan tawanya, membuat Kai gemas dan tak bisa marah. Lelaki itu lantas melepas pakaiannya yang basah dan sedikit gosong, membiarkan Krystal melihatnya bertelanjang dada.

“ Hmm.. biar aku mintakan seragam baru untuk…”

“ Nanti saja, aku bisa sendiri.”

Krystal tak jadi berdiri dan justru merapat di samping Kai, keduanya duduk di mulut pintu kereta yang selamat dari aksi nekat Krystal, meski Kai yang kebetulan sedang menjaga kereta tersebut sempat menjadi korban.

“ Aku kira kau sudah tidak menjadi pengawal lagi disini.”gadis itu membuka pembicaraan karena Kai diam saja.

“ Aku baru saja datang, menggantikan Howon.”jawab lelaki itu singkat tanpa menoleh kearah sang gadis, sebab tekadnya untuk move on sudah bulat.

“ Padahal kau bisa menolak. Apa..kau merindukan aku? kau masih mencintaiku?”

Kai tak heran mengapa Krystal bisa seterus terang ini, sejak pertama bertemu gadis itu memang selalu seperti ini.

“ Perasaan mencintai dan perasaan ingin melindungi itu beda, kan?”jawab Kai, dan Krystal tahu apa maksudnya.

“ Kau hanya ingin melindungiku?”

Lelaki itu hanya mengangguk, membuat Krystal merasa kecewa dan tak ingin berbicara lebih lanjut. Gadis itu lantas mengeluarkan beberapa batang kembang api yang ia bawa dan menyerahkan satu untuk mantan kekasihnya itu.

“ Aku tahu kau trauma karena aku pernah mengamuk di menara gara-gara kembang api. Tapi aku bawa korek, ayo main.”

Lelaki itu menerima kembang apinya, menyalakannya dan memainkannya bersama Krystal. Sesekali diliriknya sang tuan putri, Kai tersenyum.

Lega rasanya melihat Krystal masih bisa tersenyum meski esok ia harus meninggalkan kerajaannya untuk menikah dengan orang yang tak ia cintai. Dan perihnya, Kai-lah yang akan menjaganya dan Baekhyun di dalam kereta besok. Mengawal perjalanan mereka selama lima belas hari.

“ Seharusnya kau bermain dengan pangeran Baekhyun, sambil mengobrol agar bisa lebih kenal satu sama lain.”

“ Bagaimana aku mengajaknya? ia tidak menyukaiku.”

“ Lalu mengapa ia ingin menikahimu?”

Krystal hanya mengangkat bahunya, ia mulai lesu mendengar nama calon suaminya itu. Bukan hanya karena ia tak mencintainya, ia juga merasa terlalu muda untuk menikah, ia bahkan menikah di usia yang lebih muda dari Yeoshin.

Baiklah. Ini untuk terakhir kalinya. Kai menarik gadis itu untuk merapat dan bersandar di bahu telanjangnya, hingga gadis itu merasa seperti tersengat listrik saat menyentuh kulit eksotisnya, namun lebih dari itu, Krystal merasa sedikit tenang.

“ Ini akan berakhir buruk..mengapa ia harus menikahiku? Apa yang ia inginkan dariku jika ia saja masih suka menyebutku gadis gila?”

Kai jadi ingat dengan apa yang ia lihat kemarin, saat Baekhyun membuka pintu kamar Madame Sunny dan berbicara sendiri. Ia tahu sesuatu yang buruk akan terjadi, namun apa yang bisa ia perbuat untuk mencegahnya? Lagipula ia sudah berniat untuk melupakan apapun yang pernah ia lalui di negeri Junghwa jika ia sudah pulang ke dunia nyata nantinya.

“…seandainya saja penyihir boleh ikut perjalanan besok, mungkin aku akan meminta tolong mereka untuk membawaku kabur.”sambung gadis itu.

“ Apa Baekhyun memberitahu alasannya melarang penyihir ikut perjalanan besok?”tanya Kai, Krystal menggeleng.

“…ck, benar-benar tidak beres.”

“ Dari awal juga aku tahu. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Raja dan Ratu menurut padanya karena ia selalu mengancam.”

“ Kukira ia pangeran yang baik, ia adalah orang pertama yang kutemui saat aku menginjak negeri ini. Ia sangat ramah.”

“ Benarkah? Lalu mengapa sekarang ia seperti itu? apa ia berada di bawah pengaruh..sesuatu?”

Kai menggelengkan kepalanya, ia pun menatap langit malam yang tak berbintang untuk berpikir.

Bukan ide yang ia dapatkan, ia justru menangkap seberkas cahaya berwarna merah berjalan menuju salah satu kereta yang jaraknya agak jauh dari kereta tempat ia dan Krystal duduk sekarang. Cahaya itu sempat ia lihat sebelumnya saat ia menjaga Lin sampai membuat putra L dan Naeun itu menangis.

“ Kau melihatnya? Aku juga.”ucap Krystal saat membaca raut wajah Kai, “…aku sering melihat cahaya itu di sekitar istana, tapi sering menghilang tiba-tiba.”

“ Benarkah?”

Krystal mengangguk, “ Cahaya itu kesana, kan?” gadis itu menunjuk salah satu kereta yang dihampiri oleh cahaya tersebut.

Kai berdiri dan menarik tangan Krystal, mengajak gadis itu untuk mendekat pada kereta tersebut dengan bersembunyi di balik salah satu kereta yang lain.

“ Kau datang?”

Seseorang keluar dari kereta yang dihampiri cahaya tersebut, Pangeran Baekhyun. Sejak kapan ia ada disana? dan siapa yang ia tunggu?

“ Berikan bukunya.”

Cahaya itu menghilang dan menjelma menjadi seorang gadis berjubah hitam yang kelihatan tak asing bagi Kai. Sementara Krystal terkejut sekaligus bingung karena tak mengenali siapa gadis itu, yang jelas ia yakin yang ia lihat adalah seorang penyihir.

“ Bukannya itu Yookyung nuna?”pikir Kai heran, “…dia juga teman Myungsoo hyung, mantannya Sungyeol hyung. Kok dia ada disini?”

“ Apa yang kau bicarakan?”Krystal heran, Kai mulai sakit kepala dan mengucek matanya beberapa kali untuk memastikan, namun yang ia lihat memanglah sosok Yookyung.

 

“ Kembalikan jasadku dulu, aku ingin pulang. Tugasku sudah selesai. Bukankah kau bilang kau akan menepati janjimu?”

 

“ Kenapa Baekhyun berkata seperti itu?”Krystal tak mengerti.

 

“ Aku akan membebaskanmu untuk sementara, kau hanya bisa benar-benar pulang saat semuanya benar-benar kuakhiri.”jawab gadis yang Kai yakini adalah Yookyung itu.

“ Terserah, yang jelas aku sudah menyelesaikan tugasmu yang ini. Biarkan aku pulang sebentar..”Baekhyun nampak memelas, Kai dan Krystal semakin tak mengerti.

“ Berikan dulu bukunya.”

Baekhyun mengeluarkan sebuah buku dan menyerahkannya pada gadis itu. buku Rahasia Dunia Luar, membuat Krystal akhirnya tahu bahwa lelaki itu yang mencurinya dari Madame Sunny.

“ Aku harus beritahu Madame!”Krystal ingin masuk ke istana, namun Kai menahan lengannya.

“ Jangan, perasaanku tidak enak.”

“ Tapi..”

“ Sshhh..” Kai menutup mulut gadis itu karena masih ingin mendengarkan pembicaraan Baekhyun dan Yookyung.

 

“ Jika ini bukan yang asli, artinya kau harus mencari lagi.”ucap ‘Yookyung’, Baekhyun menghela nafas berat.

“ Bagaimana dengan Namjoo?”

“ L baru mengajar di kelasnya lusa. Dan tak semudah itu juga mencuri dari penyihir sialan itu. dia sangat ahli menjaga sesuatu.”

“ Seharusnya kau saja yang melakukannya, sekalian membunuhnya.”

“ Aku punya tugas yang lebih penting, mengincar bayinya. Kurasa bayinya bukan penyihir biasa, penglihatannya sudah sangat jeli meski baru berusia sebulan, ia selalu mengetahui kedatanganku. Bahkan sampai sekarang matanya terus berjaga setiap malam.”

“ Benarkah? Ck, ini akan sulit.”

“ Maka itu, kau tidak bisa pulang dengan mudah.”

Baekhyun kembali menghela nafas berat, “ Baiklah, aku tahu. Tapi kau membiarkanku ‘libur’ sebentar kan? Keluarkan aku.”

Gadis itu mengangguk, perlahan ia menyentuh dada sang pangeran kemudian menarik tangannya kembali dengan kuat hingga lelaki itu terjatuh di tanah.

 

“ Kalian sudah selesai?”

Baekhyun bertanya dengan nada lemah, kemudian duduk dan melihat ke sekitarnya dengan bingung karena banyaknya kereta di sekelilingnya.

“…apa keberangkatannya sudah dekat? Mengapa banyak kereta disini?”

Yookyung tersenyum, “ Ya. kau akan memulai perjalanan besok, pangeran.”

“ Besok?”pangeran itu terkejut.

 

Kai dan Krystal tak kalah terkejutnya, mengapa Baekhyun mendadak berubah dan kebingungan?

 

“ Ya, besok. Hari yang aku tunggu-tunggu karena negeri ini akan sepi.”

Wajah sang pangeran sedikit muram, namun tak ada yang bisa ia lakukan.

“ Apa aku akan langsung menikah?”

“ Tepat sekali. Selamat atas pernikahanmu yang sudah dekat, pangeran. Dan terimakasih atas kerjasamanya.”

Baekhyun memijat kepalanya yang terasa sakit, ia berdiri dengan sekuat tenaga dan menahan penyihir didepannya yang sudah hendak pergi.

“ Aku tidak menyangka akan melakukan tindakan sejahat ini pada kerajaan Junghwa. Aku sudah memaafkan mereka yang sudah menipuku. Tapi kau datang disaat yang tepat, membuatku merasa dendam lagi pada kerajaan ini.”

“ Itu bagus.”

 

“ Sebenarnya itu Yookyung nuna betulan atau bukan sih? Jadi dia yang memprovokasi Baekhyun untuk balas dendam ke kerajaan ini?” Kai berpikir keras sebab masih kebingungan mengapa Yookyung muncul, tentu karena ia tak tahu apa yang pernah terjadi di dunia nyata.

Sementara Krystal mulai berkaca-kaca, sebab akhirnya tahu Baekhyun menikahinya untuk melakukan balas dendam pada kerajaannya.

Kai kembali menatap Baekhyun dan Yookyung, rupanya gadis itu sudah menghilang, meninggalkan Baekhyun yang masih agak linglung melihat ratusan kereta di sekelilingnya. Apa pangeran itu tidak sadarkan diri beberapa hari ini? apakah ia habis dirasuki oleh sesuatu? Dari pembicaraan mereka berdua, Kai yakin sesuatu merasuki Baekhyun. Tapi siapa? Kai tak begitu pandai berpikir jauh.

“ Sebenarnya siapa perempuan itu?”tanya Krystal bergetar, “…apa dia penyihir? Kenapa dia mempengaruhi Baekhyun agar balas dendam pada kerajaan ini? apa tujuannya?”

Kai tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya membiarkan Krystal menangis dalam pelukannya. Jika ia nekat untuk melawan Baekhyun, ia takut sesuatu yang lebih buruk akan terjadi, apalagi sosok Yookyung yang ia lihat benar-benar misterius, ia takut dicelakai oleh gadis itu.

“ Apa ini ada hubungannya dengan L? kalau dari yang aku dengar dari pembicaraan mereka sebelum Baekhyun linglung seperti itu..”pikir Kai, namun ia langsung mengacak-acak rambutnya, “…aah! Aku tidak tahu! Aku ini bodoh, kenapa harus ditakdirkan untuk memikirkan hal-hal seperti ini sih!?”

“ Apalagi aku..”sela Krystal sambil terisak, “…aku tak bisa melakukan apa-apa meskipun sudah tahu ini semua. Apa aku harus pasrah? Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah kami menikah..”

Kai benar-benar menyesal. Seandainya saja ia tahu hal misterius ini dari hari-hari yang lalu, mungkin ia punya waktu untuk mendiskusikannya dengan L dan mungkin bisa menolong Krystal.

 

Tapi sekarang sudah terlambat, waktu semakin mendekati hari esok, hari dimana seluruh rakyat negeri Junghwa mengikuti perjalanan selama 15 hari ke negeri Gwangdam, menyisakan bangsa penyihir yang dilarang untuk ikut atas permintaan Pangeran Byun Baekhyun. Atau mungkin, seseorang yang mempengaruhinya…?

***

 

“ Wah, rajin sekali mengambil tengah malam begini. Hampir saja kami tutup, padahal bisa diambil besok.”

Salah seorang pegawai tempat servis mengambilkan sebuah radio dari meja kerjanya dan memberikannya pada Myungsoo, “…biaya servisnya tiga puluh ribu won.”

Karena mengambil radio tersebut sendirian tanpa pemiliknya, dengan enteng Myungsoo mengeluarkan beberapa lembar uang dari amplop yang baru saja ia terima saat di apartemen, ia membayar biaya servis tersebut.

“ Terimakasih.”

Lelaki tampan itu mengangguk dan tersenyum, “ Terimakasih kembali, aku permisi.”

Kini Myungsoo agak kerepotan berjalan. Karena selain mengangkut radio di bahu kanannya, ia juga membawa beberapa kantong kresek di tangan kirinya, entah apa yang ia beli tengah malam itu. sekarang ia berjalan pulang menuju apartemennya.

“ Ah, sayang sekali tadi tidak menonton filmnya sampai selesai.”

Saat melihat salah satu poster film yang tertempel di satu tembok yang ia lalui, lelaki itu merasa agak menyesal. Tentu, sebab ia meninggalkan gedung bioskop bersama Yura beberapa jam yang lalu sebelum filmnya selesai.

Semua karena gadis itu. Myungsoo benar-benar tak habis pikir.

Pelan-pelan, lelaki itu mengarahkan jemari tangan kanannya menuju bibir tipisnya, mencoba membayangkan dan merasakan kembali apa yang terjadi pada bibirnya itu beberapa jam yang lalu.

“ Satu kali? Ah ani.. dua kali? Tidak.. tiga..empat..lima? enam..? ah.. apa sepuluh?”

Lelaki itu menepuk-nepuk pelan bibirnya dan menghela nafas panjang.

“…ini ciuman pertamaku..kenapa harus berkali-kali? Ya Tuhan.. gadis penyihir itu..”

Tunggu.. gadis penyihir? Jadi Myungsoo sudah bisa percaya bahwa yang memeluknya memanglah Son Yeoshin? Gadis yang ia lihat dalam sketsa itu? gadis yang berjasa membuat ramuan untuk menghidupkannya itu?

Mata elang Myungsoo masih cukup tajam, meski gedung teater cukup gelap, ia yakin betul gadis yang tiba-tiba ‘menyerang’nya itu adalah Son Yeoshin alias Son Naeun sebab diam-diam Myungsoo mengingat setiap detil fisiknya terutama wajah cantik dan rambut coklatnya. Tapi mengapa hal semacam ini bisa terjadi? Bukankah ia dan Naeun berada di dunia yang berbeda? Apakah Myungsoo hanya merasakan fatamorgana?

“…tidak.. tidak mungkin. Kalau hanya fatamorgana, seharusnya wangi ini tidak ada.”

Myungsoo menarik dan mencium kemeja putih yang ia kenakan, masih tertinggal wangi parfum sang gadis disana. Aroma lily, aroma yang sangat Myungsoo sukai. Saking eratnya gadis itu memeluknya, wangi parfumnya sampai tertinggal di kemeja Myungsoo.

 

“…aku yakin Son Yeoshin benar-benar ada disana, tapi..bagaimana bisa?”

*

 

“ Kau puas?”

Naeun menggeleng sambil mempoutkan bibirnya, L geleng-geleng kepala dan merangkul istrinya itu, kemudian berjalan bersama menyusuri trotoar jalan yang sudah sepi.

“ Baiklah, ini salahku. Tapi kita harus pulang, tempat hiburan sudah tutup semua. Lagipula meninggalkan Lin lama-lama tidak baik, kan?”

“ Tapi kalau pulang, aku akan tidur. Aku tidak mau tidur, tidur hanya akan mempercepat pertemuanku dengan hari esok.”

“ Lalu kau mau apa?”

“ Aku ingin melihatmu sampai waktu kita benar-benar habis. Apa tidak bisa? Lagipula aku tidak mengantuk, aku sudah tidur di bioskop.”

“ Baiklah, lihat saja aku di rumah sampai kau bosan.”

“ Ya! tidak begitu.. iih, dasar penyihir jahat tidak peka.”

“ Lalu maumu apa? Ck.”L semakin gemas karena Naeun benar-benar rewel sekarang, mungkin karena ia sudah menuruti keinginannya untuk pergi ke dunia nyata, jadi di sisa waktu ia ingin dimanjakan.

Naeun terdiam sejenak, mendadak ingat dengan ciumannya dengan –seseorang yang ia anggap- L di bioskop beberapa saat yang lalu.

“ L..”

“ Hm?”

“ Saat menciummu tadi, aku merasa seperti itu pertama kalinya kita berciuman. Rasanya berbeda dari biasanya, tapi sangat membuatku nyaman..”

L mengerutkan keningnya, “ Memangnya kapan kau menciumku?”

“ Di..bioskop.”

Mwo? Tidak sama sekali. Kapan kau melakukannya?”

Gila. Apa aku benar-benar mencium orang lain? Naeun memucat, masalahnya sampai saat ini ia yakin betul L-lah orang yang telah ia peluk dan ia cium di bioskop itu.

“…jangan-jangan kau mencium orang yang kau bilang ada di sebelah kananmu it…..”

“ Ya! ani..ani.. aku tidak mungkin melakukannya!” Naeun buru-buru mengelak, “…berarti.. aku bermimpi saja menciummu saat di bioskop. Aku kan tidur, hehe.”

“ Ck, ada-ada saja. Lalu rasanya seperti ciuman pertama?”

Naeun mengangguk polos.

“…kau mau apa jadinya?”

“ Hm..ah, aku malu.”gadis itu menyembunyikan wajahnya yang mendadak memerah.

“ Cepat bilang sebelum aku membunuh orang disini.”

“ Ya! mengancam saja bisanya.”Naeun menginjak kaki lelaki itu.

“ Makanya cepat beritahu aku. waktu kita semakin sedikit, sayang.”

Naeun menggigit bibir bawahnya, kemudian menatap L sekilas.

“ Ng.. karena ciuman yang kurasakan itu seperti ciuman pertama, mungkin jika kita melakukan itu, rasanya seperti pertama kali juga..”

“ Maksudmu?”

Sial. L sedang berpura-pura bodoh atau memang ia tidak mengerti? Naeun sudah cukup menahan malu.

“…jangan berbelit-belit, langsung saja.”

“ Kau masih ingat cara membuat Lin!?” ucap Naeun penuh emosi dengan membuang rasa malunya, kemudian memalingkan wajah cantiknya sejenak setelah menanyakan hal itu.

Penyihir tampan disampingnya nampak sumringah, ia mengeratkan pegangan tangannya dan langsung mengajak istrinya itu berlari.

“ Mana ramuan portalnya!? Ayo cepat pulang!”

Naeun tertawa malu, ia ikut berlari dengan L menuju tembok tempat mereka keluar dari portal.

 

Myungsoo melihat dua orang berpakaian hitam datang dari belakang dan menyalip jalannya dengan berlari. Awalnya lelaki itu tak peduli, namun ia menghirup sesuatu yang tak asing saat kedua orang berpakaian hitam itu melintasinya.

Aroma lily.

Kemungkinannya ada dua. Pertama, aroma lily yang ia cium berasal dari parfum murahan dan digunakan orang banyak. Atau kedua, gadis yang ‘menyerang’nya di bioskop itu baru saja melintasinya.

Myungsoo melihat ke depan, ternyata dua orang yang baru saja melintasinya masuk ke dalam tembok. Lelaki itu terkejut sekaligus takjub, ia langsung mengingat isi buku yang ia baca tentang portal itu. mungkinkah…

Myungsoo berlari kecil menuju tembok tersebut, namun sayang tembok itu sudah tertutup. Semoga saja yang barusan ia lihat bukanlah halusinasi, hal ini membuatnya semakin yakin bahwa Son Yeoshin benar-benar ada di bioskop beberapa saat yang lalu.

“ Apa dia dengan L? huh.. untung L tidak melihatku, ia pasti akan sangat aneh melihat ada orang yang sama persis dengannya.”gumam Myungsoo.

Hingga ketika ia menunduk, ia menemukan sesuatu. Dengan tetap menjaga radio dalam pegangannya, Myungsoo sedikit membungkuk untuk mengambil sebuah kalung berwarna hitam yang tergeletak di depan tembok.

“…wah, bagus sekali. Tapi..bagaimana aku mengembalikannya?”

***

 

“ Maaf mengetuk pintumu tengah malam begini, kau pasti terpaksa bangun tid….”

“ Itu.. kenapa kau bawa?”Yura memotong permintamaafan Myungsoo dan nampak terkejut sekaligus berbinar melihat apa yang dibawa oleh lelaki itu, radionya.

“ Hehe, ya..tadi aku kebetulan lewat tempat servisnya dan…”

Omona.. terimakasih! Ayo masuk dulu!”

“ Oh, tidak usah.. ini sudah sangat malam. Ambil saja radionya. Aku juga membawa….”

“ Tidak apa-apa! Sudah ayo masuk saja, aku sendirian. Minah kan tidak ada.” Yura menarik lelaki itu untuk masuk, Myungsoo terpaksa mengalah dan langsung meletakkan radio milik gadis itu ke tempat semula.

“ Kenapa kau tidak bilang mau keluar lagi?! Kalau aku tahu kan aku bisa menemanimu. Apalagi radio itu kan milikku, bagaimana dengan uang servisnya? Pasti masih berhutang di tempat servis kan? Aduh.. bagaimana ini..? uangku sudah habis untuk tiket menonton tadi, gajiku masih di rekening Minah.. aku tidak berani minta u…..”

“ Sudah kubayar.”Myungsoo memotong celotehan Yura, membuat mata gadis itu membesar.

“ Hah? Kau yang membayarnya? Berapa? Mahal? Aduh.. aku berhutang padamu.”

“ Murah saja kok. Tidak perlu kau ganti.”jawab lelaki itu seadanya, ia pun meletakkan beberapa kantong kresek yang ia bawa ke atas meja.

“…ini, untukmu. Aku permisi ya, sudah malam sekali.”

Yura menganga, ia mengintip isi kantong tersebut. Rupanya beberapa makanan ringan dan sebuah DVD film horor. Myungsoo benar-benar baik, ia tahu Yura kecewa karena tak selesai menonton, jadi ia membelikan gadis itu DVD meski filmnya berbeda namun bergenre sama. Gadis itu jadi tak rela Myungsoo cepat-cepat pulang.

“ Ya!! tunggu dulu!” Yura buru-buru berlari dan menyeret Myungsoo yang sudah berada di mulut pintu untuk kembali dan duduk dengannya.

“ Kenapa?”

“ Kau memberiku film, itu artinya kita akan menonton bersama, kan? Kenapa kau malah pamit pulang?”

“ Besok pagi saja menontonnya, ini sudah sangat malam..”

“ Pagi? Ya! tidak akan seram kalau menontonnya pagi. Justru malam lebih terasa. Lagipula kalau besok, bagaimana kalau Minah pulang? Aku dilarang menggunakan TVnya.”

“ Tapi ini sudah terlalu larut, aku…”

“ Kau mengantuk? Tidur saja disini, aku takut tidur sendirian. Ini pertama kalinya Minah meninggalkan aku sendirian di apartemen.”

“ Maaf, aku tidak bisa.”Myungsoo mencoba menolak dengan halus karena tak mungkin ia menginap di apartemen perempuan.

“ Kenapa? Kau trauma dengan perempuan gara-gara kejadian di bioskop tadi?”

Lagi-lagi Yura sok tahu, Myungsoo menggelengkan kepalanya, namun gadis itu kembali mengoceh.

“…apa yang dilakukan perempuan aneh itu padamu? Dia hanya memelukmu kan? Apa dia mencium bibirmu? Aku tidak begitu jelas melihatnya. Hah, kalau sampai dia menciummu.. aku akan mencarinya sampai ke ujung dunia!”

Myungsoo hanya tertawa kecil mendengarnya, “ Sudah ya, aku pulang.”

Andwae..” Yura mulai memelas, “…baiklah, kali ini aku merepotkanmu lagi. Tapi tolong.. aku takut sendirian..”

“ Bukankah sebelum aku datang kau juga sendirian?”

“ Hah? Eh..itu..”Yura agak salah tingkah, “…itu..aku..aku mencoba berani saja. Sebenarnya aku takut, makanya aku lega kau datang.”

“ Tapi aku tidak mungkin disini..”

“ Setidaknya sampai aku tertidur di sofa ini, baru kau boleh pulang.”

Myungsoo menghela nafasnya, namun berusaha untuk ikhlas.

“ Baiklah, tidur sana.”

Yura tersenyum girang, dengan sembunyi-sembunyi ia menyambar remote pintu apartemennya dan mengunci pintunya agar Myungsoo tak bisa keluar sebab lelaki itu tak tahu passwordnya.

******

 

“ Putri Krystal, kau dari mana?”

Gadis itu hanya menggeleng lalu bergabung dengan ketiga saudaranya yang sudah sejak tadi dikumpulkan oleh Madame Sunny di kamarnya. Sesuai pesan Kai, karena lelaki itu tak mau terjadi sesuatu pada Krystal, gadis itu tak perlu bercerita apapun tentang apa yang baru saja mereka temukan.

“ Ada apa Madame memanggil kami berempat kesini?”tanya Daehyun tak sabaran.

“ Misi rahasia?”tebak Ilhoon.

“ Tepat.” Madame Sunny menjentikkan jarinya, “…kalian tahu, kan? Penyihir akan tetap disini, besok negeri ini akan sangat sepi. Entah, mungkin karena aku masih kehilangan buku Rahasia Dunia Luar milik kerajaan, aku jadi memiliki firasat buruk. Jadi aku ingin memantau kalian selama lima belas hari perjalanan itu.”

“ Bagaimana caranya?”

Madame Sunny mengambil satu sangkar kecil dari bawah tempat tidurnya, membuka kain penutup sangkar tersebut. Rupanya seekor merpati putih ada didalam sana.

“ Tulislah surat tentang perjalanan kalian setiap hari padaku, dan titipkan pada burung ini. terbangkan saja dia, nanti dia akan kembali.”

“ Apa Raja dan Ratu tahu?”

“ Tidak, hanya kalian berempat. Dan jangan biarkan Baekhyun tahu, jadi terbangkan merpati ini saat ia tidur di perjalanan. Baekhyun tidak ingin ada penyihir yang mengganggu perjalanan besok, tapi aku tidak mungkin membiarkan kalian pergi begitu saja.”

“ Apa burung ini makan sesuatu? Biar kami bawa makanannya.”kata Daehyun.

Madame Sunny menggeleng, “ Merpatiku sangat istimewa. Ia tak perlu makan, ia perantara yang baik, dan ia bisa terbang kemana saja.”

Hyerim langsung tertarik mendengarnya, ia mengambil sangkar tersebut.

 

“ Apa ia bisa terbang ke dunia nyata?”

***

 

04.15 AM

 

“ Aaaa!!”

L mendadak terbangun dari tidurnya, terpaksa melepas tubuh Naeun yang sepanjang malam menempel padanya. Setelah memasang bawahannya dengan terburu-buru, lelaki itu segera menghampiri tempat tidur Lin untuk menenangkan putra kecilnya itu.

“ Sshh.. ada apa? Ada apa?”

Lin tetap menangis, apa ia ingin menyusu? L merasa tak tega membangunkan Naeun yang benar-benar pulas karena kelelahan.

Lelaki itu beringsut menuju jendela sejenak, menyingkirkan gordennya untuk melihat situasi di luar rumah, siapa tahu ia melihat lagi cahaya merah yang sering mengganggu anaknya itu.

Namun tidak, yang ia lihat justru rombongan warga negeri Junghwa di jalanan yang berbondong-bondong berjalan menuju istana dengan membawa barang-barang mereka. Sepagi inikah mereka akan pergi?

Kini Lin tak hanya menangis, bayi itu mulai menggeleng-gelengkan kepalanya saat ikut melihat pemandangan di jendela, membuat L merasa bingung dan semakin berfirasat buruk. Sepertinya Lin juga tahu sesuatu yang buruk akan terjadi setelah mereka semua pergi meninggalkan negeri Junghwa dengan bangsa penyihir.

“ Sayang sekali kau tidak bisa ikut ibumu hari ini. Cepatlah besar, kau harus tahu dunia nyata. Kalau perlu tinggal disana jika negeri ini tak aman lagi.” L menyentuh lembut pipi Lin dan menghapus airmata putranya itu lalu memeluknya. Tangisan Lin mulai reda, ia merasa nyaman berada dalam pelukan L, bahkan menempelkan hidung kecilnya dengan polos di dada bidang ayahnya itu.

“…kenapa? Apa tubuhku wangi bunga lily? Hahaha..ini ulah ibumu, dan kau masih terlalu kecil untuk mengetahui prosesnya.”

Lin tersenyum geli sekarang, apa ia mengerti apa yang dikatakan oleh L? mengerti atau tidak, yang jelas L merasa lega karena anaknya kembali tenang. Ia pun menutup jendelanya, lalu mengembalikan Lin ke tempat tidur kecilnya.

“…sepertinya Yeoshin juga harus cepat pergi ke dunia nyata. Ya, lebih cepat lebih baik.”

L menghampiri Naeun yang masih tertidur pulas, mendekat dan mengecup keningnya singkat, kemudian menarik selimut hitam mereka untuk menutupi tubuh naked istrinya itu sebelum ia tergoda lagi untuk melanjutkan kegiatan mereka semalam. Hari ini ia harus melakukan sesuatu yang lebih penting.

“ Terimakasih atas surga yang kau berikan semalam. Kau pasti lelah, tapi kau harus tetap pergi hari ini. maafkan aku.”

L mencium bibir mungil Naeun beberapa lama, setelah itu kembali menggendong Lin dan membawa putra kecilnya itu keluar dari kamar.

***

 

“ Kim Haeyeon, ada yang ingin menemuimu.”

“ Sepagi ini?” Haeyeon terkejut karena sipir penjara menjemputnya, “…bukankah ini masih subuh?”

“ Ya, tapi mereka sampai membayar untuk bertemu denganmu. Sudah, keluar saja.”

Haeyeon yang kebingungan segera meletakkan buku yang ia baca dan berdiri, berjalan keluar dari selnya mengikuti sang sipir yang menggiringnya menuju ruang depan dimana dua anak muda rupanya sedang menungguinya.

 

“ Woohyun? Chorong?”

Hati sang kepala sekolah mulai bergejolak, tentu karena ia merindukan Chorong. Bagaimana dengan Woohyun? Jangan harap, semua warga sekolah tahu ia selalu berselisih dengan siswa konglomerat yang merupakan rival Myungsoo itu.

Kedua anak muda itu masih menatapnya bingung.

“ Taeyeon, kenapa kau ada disini?”

Ah, baru ingat. Woohyun dan Chorong sama sekali belum tahu bahwa Haeyeon dan Myungsoo hidup kembali. Wajar jika mereka menduga bahwa wanita didepan mereka adalah Taeyeon. Mereka pasti datang karena melihat berita penangkapan sang kepala sekolah yang kemarin diumumkan di seluruh media massa.

Haeyeon terdiam sejenak, dilema untuk memilih jujur atau tidak. Tanpa seizin Hoya atau Eunji, ia takut melakukan apapun sembarangan.

“ Ng.. ya, aku Taeyeon.”

Sang kepala sekolah memilih untuk berbohong. Pertimbangannya, ia tak ingin kedua siswanya itu syok dan pada akhirnya membanjirinya dengan pertanyaan, karena mau tak mau ia juga pasti akan mengatakan tentang Myungsoo. Haeyeon masih belum berani membocorkan kebangkitannya dari kematian pada orang lain tanpa persetujuan Hoya atau Eunji.

Apalagi membicarakan Myungsoo, kemungkinan besar Woohyun akan marah dan tak terima jika tahu sang rival yang asli benar-benar hidup kembali.

“ Taeyeon, kenapa kau menyerahkan diri?”tanya Chorong tak mengerti, Haeyeon berpikir keras.

“ Aku.. aku merasa bertanggung jawab saja atas sekolah kalian, aku tidak mungkin di negeri Junghwa terus dan membiarkan sekolah itu ditutup.” jawab Haeyeon.

“ Tapi kau kan penyihir, kau bisa melakukan hal lain untuk menyelesaikan kasus di sekolah itu.” Woohyun tak habis pikir.

Haeyeon menggeleng dan menjawab seadanya, “ Aku akan bertanggung jawab dengan cara ini.”

“ Lalu kapan kau sidang?”

“ Kurang lebih lima belas hari lagi.”

“ Kau sudah tahu apa yang akan kau katakan dan jelaskan di sidang itu? kau tidak mungkin menyebut apapun tentang penyihir, kan?” tanya Chorong.

Haeyeon mengangguk saja.

“ Apa yang akan kau lakukan?”

Sang kepala sekolah menghela nafas, sepertinya ia sudah kehabisan ide untuk berbohong karena berbohong memang bukanlah keahliannya.

“ Datang saja ke persidanganku nanti.”

“ Apa L sebagai pembunuhnya juga akan datang?”tanya Woohyun, “…aku sama sekali belum tahu kabarnya di negeri Junghwa sana, apa adik angkatku bahagia sekarang? Ia sudah melahirkan, kan?”

Ck,” peluh dingin mulai membasahi kening sisi baik dari Taeyeon itu, apa yang harus ia jawab? Ia tak tahu apapun tentang situasi di negeri Junghwa.

“…keadaan baik-baik saja.”jawab wanita itu singkat, membuat Woohyun dan Chorong saling bertatapan dengan bingung.

“…kenapa kalian datang sepagi ini?”tanya Haeyeon, penasaran sekaligus mengalihkan pembicaraan.

“ Karena pagi ini juga, setelah dari sini kami langsung ke bandara.”jawab Chorong dibarengi anggukan Woohyun.

“ Kalian mau kemana?”

“ Amerika.”

Mwo?

“ Kami ingin mencari rumah disana, mumpung belum bisa masuk sekolah, kami memanfaatkan waktu libur cuma-cuma ini.”

“ Tapi.. untuk apa mencari rumah?”

“ Kami berencana untuk menikah dan tinggal di Amerika setelah sekolah kami selesai.”

Haeyeon menganga. Ia yakin, jika Chorong tahu Myungsoo hidup kembali, gadis itu pasti akan membatalkan rencananya dengan Woohyun. Tapi Haeyeon memilih bungkam, ia tak mau membocorkan apapun dulu.

“ Kami tidak tahu bisa datang ke sidangmu atau tidak. yang jelas aku ingin kau memperjuangkan SMA Junghwa, masaku untuk menjadi president school tinggal sedikit, aku tidak ingin masa itu sia-sia.”ucap Woohyun, membuat Haeyeon sedikit mencibir dalam hatinya karena rival Myungsoo itu masih saja gila jabatan.

“ Kita sudah ketinggalan pelajaran hampir satu bulan, padahal kami ada di tahun terakhir dan akan ujian. Sekolah harus dibuka, lakukan cara apapun untuk itu, Kim Taeyeon, aku mohon.”tambah Chorong, Haeyeon mengangguk saja meski ia belum tahu apa yang harus ia lakukan sebab ia sama sekali tidak bersalah.

“ Nam Woohyun.”setelah berpikir sejenak, Haeyeon memanggil Woohyun dengan hati-hati, lelaki itu segera menatapnya.

“ Ya?”

“ Tolong hubungi guru Kimiamu dan suruh dia mengunjungiku besok.”

Woohyun dan Chorong agak terkejut.

“ Kami kira kau tidak hafal dengan guru-guru di sekolah.”

Haeyeon hanya tersenyum tipis menanggapinya, “ Woohyun, tolong hubungi guru Kimiamu itu, aku perlu bicara dengannya. Ia hanya akan menurut jika kau yang memintanya.”

“ Baiklah. Nanti aku hubungi.”tanpa menaruh kecurigaan sedikitpun, Woohyun menurut saja, apalagi guru yang dimaksud oleh Haeyeon itu memanglah guru yang lebih simpatik padanya ketimbang Myungsoo, berbeda dari guru-guru lainnya.

“ Untuk apa kau meminta Sunggyu songsaenim mengunjungimu?”tanya Chorong penasaran, sekaligus berperasaan tak enak.

Karena entah, setiap mendengar nama guru itu, Chorong merasa tak begitu nyaman karena Sunggyu satu-satunya guru yang tidak simpatik padanya dan dua sahabatnya, terutama pada Myungsoo. Guru paling killer itu justru menyayangi Woohyun, yang notabene adalah rival berat Myungsoo.

Haeyeon hanya menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Chorong, tanda ingin merahasiakan tujuannya.

“ Seandainya saja kita punya waktu lebih banyak untuk bicara denganmu.” Woohyun agak menyesal karena waktu semakin sempit, “…kami harus ke bandara sekarang.”

“ Ya, kami harus pergi.”sambung Chorong.

Haeyeon mengangguk mengerti, “ Semoga selamat sampai tujuan.”

“ Terimakasih, kau juga. Kami tidak menyangka kau punya rasa tanggung jawab. Kurasa penyihir tak sejahat yang kukira.”

Haeyeon tersenyum, dalam hati merasa agak bersalah karena telah membohongi kedua siswanya itu.

“ Kim Taeyeon. Tolong perjuangkan sekolah, ingat itu.”Woohyun mengulang permintaannya sebelum ia pergi, Haeyeon mengangguk.

“ Sudah terlalu lama kita meninggalkan mayat Kim Myungsoo dan kepala sekolah Kim Haeyeon disana, mereka pasti kesepian.”ucap Chorong sedih.

Haeyeon kembali tersenyum.

 

“ Seandainya kalian tahu, mereka sudah tidak disana.”

***

 

Myungsoo terkejut, suara pintu yang terbuka membuatnya terbangun dari tidurnya di sofa apartemen Yura. Sementara sang gadis yang berhasil menjebaknya semalam masih terlelap dengan mulut menganga disampingnya.

Lelaki itu buru-buru berdiri karena pintu terbuka, ia ingin keluar. Namun langkahnya terhenti ketika melihat si pembuka pintu berdiri dengan wajah geram di depannya.

“ Kim Myungsoo!!?? Sedang apa kau disini!? di tempat tinggal anakku!? Apa kau disini semalaman!?”

Myungsoo tersentak, “ Sunggyu songsaenim, kau salah paham.. aku..”

“ YURA!!!”

“ Ya!!!” Yura langsung terbangun mendengar teriakan ayahnya, terkejut sekaligus menyesal karena Myungsoo masih ada disana.

“ Apa yang kalian lakukan, hah!? Jadi begini kelakuanmu jika Minah membiarkanmu sendiri?!”

Appa..aku bisa jelaskan……”

“ Apa lagi!!?? Sudah jelas!!”

Yura menunduk, melirik Myungsoo yang memijat-mijat kening disampingnya. Merasa malu dan bersalah.

“…Kim Myungsoo, aku benar kan? Kau tidak sebaik yang guru-guru katakan. Akhirnya aku menemukan alasan mengapa aku tidak bisa memperlakukanmu seperti yang lain.”

Myungsoo menghela nafas pelan, mencoba sabar.

Songsaenim..bisa beri saya waktu untuk menjelaskan?”

“ Tidak. keluar kau! Jangan temui anakku lagi!”

Lelaki itu pasrah. Setelah membungkukkan badannya dengan sopan, ia melangkah keluar. Yura panik, takut lelaki itu membencinya mulai saat ini.

“ Myung…..”

“ YA! jangan panggil dia!”Sunggyu memotong, Yura mengacak-acak rambut panjang-lurusnya hingga berantakan. Gadis itu benar-benar menyesal telah jahil pada Myungsoo semalam.

 

“ Ini salahku..”

*****

 

“ Getah pohon aren, sayap kupu-kupu, darah manusia bukan penyihir. Nah.. untung aku masih punya darah Howon, si artis terkenal itu.”

Dengan tangan yang masih tetap menggendong Lin, L mempersiapkan komposisi-komposisi ramuan portal untuk Naeun di dapur agar saat bangun nanti istrinya itu langsung membuatnya saja.

“…air hujan tetesan ke lima belas? Ah.. komposisi sinting macam apa ini.” L geleng-geleng kepala saat membaca kembali resepnya, Lin tertawa melihat wajah bingung ayahnya itu.

“…lihat, bahkan ibumu punya botol berisi air hujan tetesan pertama sampai terakhir. Ck, inilah mengapa ayahmu yang tampan ini tidak pernah bisa membuat ramuan, melihat komposisinya saja sudah pusing.”

L meletakkan komposisinya di meja dapur dan Lin memperhatikan satu per satu komposisi itu dengan polos. Karena kelak ia akan menjadi ahli ramuan juga seperti ibunya, L yakin itu.

“ Sedang apa kau pagi-pagi begini?”

“ YA!”

L terkejut, lagi-lagi Taeyeon datang tiba-tiba dan tidak muncul dari pintu.

“ Ck, aku tidak akan memukulmu lagi. Mana Yeoshin?”tanya Taeyeon sambil mengambil alih Lin dari gendongan L.

“ Untuk apa mencarinya pagi-pagi begini?”

“ Mana Yeoshin?”Taeyeon tak menjawab pertanyaannya.

“ Ia masih tidur.”

“ Hah? Tumben, biasanya ia bangun lebih awal darimu.” Taeyeon heran, dan langsung curiga saat melihat beberapa bercak merah di tubuh L yang masih topless.

“…apa yang kalian lakukan semalam hah!? Pantas saja Yeoshin masih tidur, dia pasti lelah. Dia akan pergi hari ini, seharusnya tidak usah seperti itu dulu! Dasar pengantin anak-anak!”

BUK!

Taeyeon memukul anaknya, Lin tertawa melihat bekas tangan Taeyeon yang memerah sempurna di punggung L, mengalahkan merahnya ‘bercak-bercak lain’ yang ada disana.

“ Baru saja kau bilang tidak akan memukulku.”sungut L sembari meringis kesakitan, “…terserah kami lah! Kami sudah menikah.”

BUK!

Taeyeon memukulnya lagi. Dua bekas telapak tangan pun tergambar sempurna di tubuh putih L.

“ Tetap saja harus tahu situasi! Bagaimana kalau dia hamil lagi saat sudah di dunia nyata!?”

“ Tidak, ia tidak akan hamil. Kau kira kami tidak tahu cara mencegahnya? Sudah ah, jangan cerewet.” jawab L sambil mengusap-usap bekas pukulannya, “…ada apa mencari Yeoshin?”

“ Bangunkan dia, aku ingin bicara.”

“ Bicara apa?”

“ Bangunkan dia.”

“ Tidak mau, beritahu aku dulu.”

“ Kau akan murka jika aku beritahu.”

“ Aku justru semakin penasaran.”

“ Ini tentang kedua kakaknya, jadi aku bicara dengan Yeoshin saja.”

“ Tidak, bicara denganku. Mereka iparku juga.”

L terlihat serius sekarang, Taeyeon menghela nafas,ada perasaan takut juga jika L sudah seperti ini.

“ Kau tahu, kan? Kemarin saat kalian jalan-jalan sebentar ke dunia nyata, aku yang menjaga Lin sendirian di rumah ini, Kai sudah pergi ke istana untuk menggantikan Howon.”

L mengangguk, “ Lalu?”

“ Karena aku disini, rumah keluarga kutinggalkan dalam keadaan kosong. Dan kau tahu apa yang aku dapati saat aku pulang?”

L menggeleng, “ Ada apa?”

“ Laci-laci dalam keadaan terbuka, beberapa perhiasanku hilang.”

Mata elang L langsung memicing, Taeyeon merasa agak gugup.

“ Dan kau menduga Dongwoon dan Gain yang mencurinya?”

“ Bukan menduga lagi, aku sudah melakukan praktik sihir untuk mengetahui siapa pencurinya. Dan memang mereka pelakunya.”

L langsung tertawa dengan wajah sadis, membuat Taeyeon agak panik karena ini kebiasaan anaknya jika merasa gatal ingin melukai orang.

“ L, aku akan melabrak mereka sendiri.. makanya aku minta pertimbangan Yeoshin dulu, kau tidak perlu….”

 

“ Biar aku yang urus.”

***

 

“ Hyerim, jadi? Biar aku temani.”

Hyerim mengangguk saja mendengar perkataan Daehyun meski masih belum mengalihkan pandangannya dari jendela besar di kamarnya, memandangi warga negeri Junghwa yang mulai berdatangan dan ramai-ramai naik ke atas kereta.

“ Kenapa? Mereka membawa sangat banyak barang. Seperti hendak pindah dari negeri ini, bukan pergi untuk sementara.”ucap Daehyun seraya berdiri di samping Hyerim dan ikut menatap jendela.

“ Kau benar, kita pun sama.”

“ Aku tidak mungkin meninggalkan negeri ini selamanya, aku calon pemimpin negeri ini, bukankah begitu?”

Hyerim mengangguk sambil tertawa kecil, kemudian menoleh kearah sang kakak, tawanya pun membesar.

“ Hahaha!”

“ Ya! kenapa? Kau yang ingin aku pakai pakaian aneh ini.”Daehyun yang mengerti langsung mengelak.

“ Itu bukan pakaian aneh, di dunia nyata kau pasti akan digilai wanita jika berkeliling kota dengan pakaian seperti itu.”

“ Benarkah?”

Hyerim mengangguk, Daehyun kembali melihat sedikit refleksi dirinya di kaca jendela dan merapikan penampilannya yang tidak biasa. Anak pertama keluarga kerajaan itu memakai kaos dan celana denim pemberian Howon. Ketiga saudaranya pun sama, Hyerim membagikan pakaian dari dunia modern pada mereka untuk dipakai hari ini, gadis itu sendiri memakai jaket modis dan celana pendek pemberian Howon. Pagi itu istana sempat gempar karena keempat anak raja itu memakai kostum yang tidak biasa.

Oppa.”

“ Hm?”

“ Apa Krystal baik-baik saja?”

“ Hmm.. ia memakai pakaian darimu, dan ia terlihat keren. Sayang wajahnya masih murung dari kemarin. Tapi tenang saja, kita akan menjaganya.”

“ Syukurlah. Oh ya, bagaimana dengan merpati dari Madame?”

“ Ilhoon sedang menyelundupkannya ke dalam kereta kita.”

“ Ya ampun, semoga tidak ketahuan.”

“ Tidak akan, dia penyelinap yang baik. Ya sudah, jadi kan ke rumah Yeoshin? Biar kutemani. Jangan mengulur waktu, tidak lama lagi kita berangkat.”

Hyerim mengangguk, ia meninggalkan jendela dan pergi keluar dari istana lewat belakang secara sembunyi-sembunyi dengan Daehyun, menuju rumah Naeun karena ada yang harus mereka lakukan disana.

*

 

“ Kukira kalian akan berangkat malam. Rupanya sepagi ini..”

Naeun meletakkan satu botol ramuan portal di atas meja kemudian duduk di depan Daehyun dan Hyerim.

“ Pangeran, kau cocok dengan pakaian itu.”puji Taeyeon yang bisa melihat mereka dari dapur, membuat sang pangeran tertawa malu.

“ Howon yang memberikannya padaku.”

“ Ooh. Jinjja?” mengingat Howon, Naeun melirik Hyerim yang nampak asyik bercanda dengan Lin.

“ Hei, sudah kau baca surat dari si artis? Apa isinya?”tanya Naeun penasaran.

“ Belum, aku akan membacanya di jalan.”jawab Hyerim santai, “…apa dia mengatakan sesuatu sebelum pergi?”

“…katakan pada Hyerim, aku mencintainya. Dan aku minta maaf.” Naeun mengingat perkataan Howon sebelum sahabat L itu memasuki portal. Meski ia harus menyampaikannya, ia merasa ragu karena takut Hyerim sedih dan bertanya-tanya mengapa kekasihnya itu tiba-tiba meminta maaf.

“ Tidak, ia hanya ingin kau membaca surat itu.”jawab Naeun.

“ Ooh, ya sudah.. mungkin ia hanya ingin pamit.”Hyerim berusaha berpikir positif meski nampak jelas gadis itu merindukan Howon.

“ Kemana L?”tanya Daehyun.

Naeun menggeleng, “ Aku tidak tahu. Dari pagi ia sudah pergi. Taeyeon tahu dia kemana, tapi merahasiakannya dariku. Ya sudah, tidak apa-apa selama L baik-baik saja.”

Taeyeon yang masih berada di dapur dan mendengar perkataan Naeun hanya tersenyum, kagum dengan kesabaran menantunya itu. ia memang tak memberi tahu Naeun bahwa setelah mandi L pergi ke rumah kedua kakaknya untuk melabrak, Naeun pasti kecewa jika tahu L belum bisa mengontrol emosinya padahal sudah berjanji menjadi penyihir baik.

“ Oh iya, tumben sekali madame Taeyeon ke rumah kalian. Ada apa?” tanya Hyerim penasaran.

“ Taeyeon membantuku membuat ramuan portal, aku buat beberapa botol hari ini.”jawab Naeun jujur.

Mwo? Untuk apa membuat banyak-banyak? aku hanya minta satu.”

“ Aku juga akan menggunakannya.”

“ Kau akan ke dunia nyata?”tanya Daehyun, Naeun mengangguk. Hyerim mulai panik dalam hatinya, mengingat Kim Haeyeon dan Kim Myungsoo yang ada disana.

“ L yang menyuruhku bahkan memaksaku kesana. Aku tidak tahu apa alasannya. Tapi ia bilang demi kebaikanku juga, jadi aku menurut. Hmm.. tolong jangan bilang ini pada raja atau ratu, mereka pasti melarang.”

Daehyun mengangguk, namun heran dengan wajah Hyerim yang memucat.

“ Ada masalah?”bisik sang kakak, Hyerim hanya menggeleng.

“ Tenang saja, kita akan bertemu nanti.”ucap Naeun polos.

Hyerim gelisah, apalagi Naeun akan pergi tanpa L kesana.

 

“ Bagaimana jika dia bertemu Myungsoo?”

***

 

“ Ampun.. L, kami benar-benar kesulitan jadi terpaksa melakukan ini..”

“ Lagipula ini salahmu, kenapa tak mau memakai sebelas peti emas itu dan membagikannya dengan kami!?”

“ Kami hidup susah..”

“ Kami juga ingin kaya….”

L menahan emosinya mati-matian, berusaha untuk tak melanggar janjinya untuk menjadi penyihir baik meski kedua penyihir didepannya benar-benar tak tahu diri dan membuat emosinya tersulut. Mimpi apa ia semalam sampai mempunyai ipar seperti ini? yang mencuri perhiasan ibunya tengah malam hanya karena ingin hidup kaya.

“ Kembalikan perhiasan Taeyeon, itu warisan. Kalian tidak bisa menjualnya!” L mencoba meminta dengan sabar meski wajah tampannya sudah memerah dan tangannya sudah meremas tongkat sihirnya kuat-kuat.

“ Tidak mau, berikan kami setengah dari peti-peti emas yang kau curi dulu, baru kami kembalikan perhiasan ini.”jawab Dongwoon berani.

“ Apa susahnya memberikan isi peti emas itu pada kami!? Kami sudah memberikan uri Yeoshin yang berparas sempurna untukmu, beri kami tanda terimakasih!”sambung Gain.

“ Aku akan memberikannya nanti, tapi bukan begini caranya.”

“ Kapan!? Kami sudah terlalu lama hidup miskin!”

L mulai sakit kepala, ternyata susah juga menahan marah. Ia benar-benar benci dituntut seperti ini.

Baiklah. Semoga Naeun tidak tahu.

Lelaki itu mulai menodongkan tongkat sihirnya dan menatap tajam kedua iparnya itu. Keduanya gemetaran.

“ Kembalikan dulu perhiasan ibuku, atau…..”

 

“ Permisi!”

L menurunkan tongkatnya dan menoleh saat melihat siapa yang datang ke rumah Dongwoon dan Gain. Seorang gadis yang memakai jubah khusus sekolah sihir, dan L benar-benar mengenali gadis itu.

Kim Namjoo.

“ Oh, iya.. kau pasti mau mengambil ini kan?” Gain buru-buru mengambil sebuah tas berwarna abu-abu yang ada di sudut ruang tamu kemudian menyerahkannya pada gadis itu, L memperhatikannya dengan bingung.

“ Oh. Annyeong L songsaenim..kau mulai mengajar besok, kan?”gadis itu menyapanya dengan senyuman yang terkesan mengejek, Dongwoon dan Gain yang notabene tak mengenal Namjoo hanya bisa diam karena tak mengerti.

L diam saja sampai gadis itu pamit untuk kembali lagi ke sekolah karena hanya ingin mengambil tasnya yang ia titip di rumah keluarga Son itu, jarak sekolah sihir dan rumah lama Naeun itu memang sangat dekat.

“ Berapa gajimu mengajar di sekolah nanti? Apa banyak? kalau banyak, bagikan pada kami.”ucap Dongwoon santai dibarengi anggukan Gain.

“ Kalian kenal anak itu?”tanya L, tak menghiraukan perkataan dua iparnya barusan.

“ Kim Namjoo? Dia salah satu siswa tahun ajaran baru. Ada masalah?”

L menoleh kearah jendela, terlihat Namjoo tengah bermain bola bersama teman-temannya. Lelaki itu tak habis pikir mengapa gadis itu muncul lagi, jelas-jelas ia sudah membunuhnya berbulan-bulan yang lalu sebelum ia pergi ke dunia nyata. Terlebih Namjoo adalah manusia biasa, mengapa ia bisa masuk ke sekolah sihir?

 

Gadis itu menyadari mata elang seseorang tengah mengawasinya dari balik kaca jendela rumah yang baru saja ia kunjungi, saat menerima bola dari temannya, gadis itu tak lagi mengincar gawang, namun mengarahkan bola tersebut ke arah jendela seraya tersenyum licik.

“ Rasakan.”

 

BUK!

PRANG!!!

Sebuah bola terpental keras dan berhasil memecahkan kaca jendela rumah keluarga Son, L segera menghindar namun pelipis kanannya terlanjur berdarah akibat terkena pecahan kaca, Dongwoon dan Gain terkejut.

Namjoo buru-buru berlari ke rumah tersebut, pura-pura terkejut dengan apa yang terjadi.

Aigo..maaf, aku tidak sengaja.. benar-benar tidak sengaja!”

Dongwoon dan Gain mengangguk dan lebih memilih untuk memunguti beling daripada menolong iparnya.

“ Sshh..” L memegangi pelipisnya yang semakin deras mengeluarkan darah, ditatapnya Namjoo yang kini kembali tersenyum meledek kearahnya. Lelaki itu putus asa, ia menghilang.

“ Mana L?”tanya Dongwoon dan Gain yang baru menyadari L sudah tidak ada di dalam rumah mereka.

“ L songsaenim menghilang di depanku. Wah, dia keren sekali ya.”ucap Namjoo, sementara Dongwoon dan Gain menghela nafas lega karena L tak jadi merebut kembali perhiasan Taeyeon yang mereka curi.

Namjoo berjongkok, membantu Dongwoon dan Gain memunguti belingnya.

“ Maaf sebelumnya, tapi tadi aku sengaja menendang bolanya kemari.”

“ Hah?”

“ Tenang dulu, aku akan jelaskan kenapa aku melakukannya jika kalian mau bekerja sama denganku.”

“ Bekerja sama?”

***

 

“ L!? kau darimana..? apa yang terj……”

“ Jangan bertanya.”

L mengambil beberapa lembar daun sihir dari laci dan mengobati luka di pelipisnya sendiri, Naeun mengikutinya kemanapun lelaki itu berjalan di dalam rumah.

“ Mana mungkin aku tidak bertanya kalau melihatmu berdarah seperti itu!”

“ Aku baik-baik saja. Cepat siapkan ramuan portalmu, kau harus segera pergi.” dengan tangan yang masih menempelkan daun sihir di pelipisnya, L memeriksa barang-barang yang akan dibawa istrinya ke dunia nyata, kemudian memasukkan semua barang milik Myungsoo yang ia simpan ke dalam tas Naeun sebab ia sudah berniat untuk mengembalikan barang-barang itu ke dunia asalnya meski pemilik aslinya –ia anggap- sudah tiada.

“ L, apa aku harus pergi secepat in….”

“ Mana ramuanmu? Jangan mengulur waktu! Kau harus cepat pergi. Kau tidak lihat kereta-kereta itu mulai pergi? Negeri kita akan segera sepi.”

Taeyeon, yang mengawasi mereka dari balkon lantai atas merasa ada hal tidak beres lagi yang dialami L hingga anaknya itu meminta Naeun untuk pergi secepatnya. Namun ia tak bisa menebak apa yang terjadi dan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sepasang pengantin muda yang sebentar lagi akan berpisah itu. Naeun nampak mengulur-ulur waktu dengan menyusui Lin dulu sementara L justru sibuk mempersiapkan barang-barang bawaan Naeun dan memasukkannya ke dalam tongkat sihir istrinya itu.

L menyerahkan tongkat sihir Naeun dan menarik Lin dari gendongan istrinya itu meski ia belum selesai menyusu, mengembalikan putra mereka itu ke tempat tidur.

“ Peras saja, masukkan ke dalam botol.”

Sial, apa saking paniknya L sampai mengeluarkan kata-kata kejam itu? Naeun dongkol, namun tidak ingin berdebat karena sebentar lagi akan berpisah dengan suaminya itu.

“ Kau kira gampang!? Sakit tahu!”sungut Naeun sembari menerima tongkat sihirnya dengan kesal, “…aku sudah membuat ramuan pengganti ASI. Kau harus berikan pada Lin setiap hari.”

“ Bagus. Aku mengerti. Cepat pergi.”

Naeun tak mengerti dengan sikap L yang tiba-tiba seperti ini, ia kira suaminya itu akan melepasnya dengan romantis setelah apa yang mereka lakukan semalam. Tapi kenyataannya justru seperti ini.

Naeun menghampiri Lin yang berbaring di tempat tidur kecilnya, menggendongnya sebentar dan menciumi putranya itu beberapa kali, matanya mulai berkaca-kaca.

“ Lin-ku.. Baik-baik disini dengan ayahmu yang menyebalkan, ibu akan sangat merindukanmu. Jangan tidur larut malam lagi ya..”

“ Ehm.”L memberinya kode untuk segera pergi ke tembok belakang.

Naeun terpaksa meletakkan Lin kembali dan keluar kamar dengan berjalan mundur.

“ Bye, Lin.. ibu akan merindukanmu..”

***

 

“ Apa kau sudah menerima gajimu?”

“ Su..dah.”

“ Ck, belilah ponsel yang murah saja dengan gaji itu. Aku repot menghubungimu kalau begini! Kau jadi terpaksa keluar apartemen, kan!?”

Myungsoo sedikit menjauhkan gagang telepon dari telinganya karena Hoya mengomel dari seberang sana. Ada apa dengan artis yang biasanya baik dan sabar itu? apa ia sedang ada masalah hingga sensitif seperti ini?

Tidak, Myungsoo melarang benaknya untuk berpikir negatif. Bagaimanapun juga Hoya sudah banyak menolongnya.

“ Y..ya.. aku akan cari ponsel murah.”jawab Myungsoo seadanya, lelaki itu terpaksa keluar apartemen lagi karena takut sebab gurunya, Kim Sunggyu, masih ada disana bersama Yura. Ia bisa mendengar omelan dan hujatan sang guru padanya meski ia sudah kembali ke kamarnya. Daripada sakit hati dan merasa tidak tenang, ia keluar dan mencari box telepon untuk menghubungi Hoya.

“ Eh, nanti sajalah aku kirimkan dari Jepang. Daripada kau lama-lama keluar dari apartemen. Cepat pulang! Selama aku pergi kau selalu di apartemen, kan?”

Myungsoo menelan salivanya kuat-kuat, ia sangat benci berbohong namun kali ini ia terpaksa.

“ Ya, aku tidak kemana-mana.”

“ Bagus. Kalau begitu aku tutup..”

“ Eh, Hoya-ssi..!”

“ Apa?”

“ Kapan kau dan tuan putri Eunji pulang?”

“ Eunji masih di Junghwa. Aku tidak tahu kapan ia pulang. Aku sendiri di Jepang.”

“ Kapan tuan putri Eunji pulang? Apa ia membawa adikku?”

“ Maaf, Myung. Kau harus bersabar beberapa minggu lagi, mereka belum bisa kembali ke dunia nyata karena ada sesuatu di negeri Junghwa.”

“ Sesuatu? Apa?”

“ Perjalanan…..”

Tiittt..

Telepon terputus, rupanya waktu teleponnya sudah habis dan ia perlu memasukkan uang lagi untuk melanjutkan telepon.

Myungsoo meletakkan gagang teleponnya dan memilih untuk keluar saja, merasa sayang menggunakan uangnya lagi untuk menelepon interlokal walaupun rasanya penasaran ada apa di negeri Junghwa hingga Eunji dan Kai belum bisa ke dunia nyata sekarang. Padahal ia benar-benar sudah merindukan Kai.

Kini lelaki itu melangkah menuju sentra elektronik yang tak jauh dari tempat ia berdiri, berniat untuk mencari ponsel sendiri karena tak ingin merepotkan Hoya.

***

 

“ Aku pergi.”

“ Hm.”

Naeun masih merasa janggal dan rasanya masih ingin mengulur waktu, ingin tahu mengapa sikap L mendadak seperti ini disaat ia hendak pergi. Lelaki itu terlihat rela saja bahkan terkesan mengusirnya.

“ Aku benar-benar pergi.”

“ Ya, cepat siram ramuannya ke tembok.”

“ B..baik.. akan kusiram..”dengan terpaksa Naeun membuka penutup botolnya.

L masih tetap berdiri dengan cuek di belakangnya. Dibalik wajah tak peduli lelaki itu, ia menyimpan banyak keresahan setelah bertemu dengan Namjoo. Keyakinannya bahwa Hyoyeon beserta Namjoo dan –atau mungkin- Sungyeol mulai melancarkan strategi untuk balas dendam membuatnya ingin Naeun segera aman di dunia nyata dan membiarkannya menanggung dosa-dosa masa lalunya sendiri. Maka itu, ia meminta istrinya itu agar segera pergi, dengan cara yang agak kejam dan menyebalkan agar Naeun tak perlu khawatir dan mengingatnya selama di dunia nyata.

Naeun menyiramkan ramuannya ke tembok hingga portal terbuka. Dengan langkah berat ia mulai mendekati lubang tersebut tanpa berbalik lagi pada L yang sudah terlanjur membuatnya kesal.

“ Selamat ting…”

Plek!

Ucapannya terhenti ketika L memasang jubah hitam di punggungnya dan membalikkan badannya lalu menariknya dengan cepat.

Lelaki itu menciumnya, membuat airmatanya seketika jatuh. Dengan sedih ia mengalungkan tangannya dan memperdalam ciumannya, merasa tak ingin pergi. Aroma lily dari tubuh Naeun dan aroma cedarwood dari tubuh L menyeruak diantara mereka.

“ Aku akan menjaga Lin, jangan khawatir. Aku bisa melakukannya.” L melepas ciumannya dan mengelus pipi Naeun yang merah dan panas, yeoja itu mengangguk tanda percaya, lalu mengarahkan tangannya menuju daun sihir yang masih menempel di pelipis suaminya itu.

“ Anggap saja ini kecelakaan karena aku yakin kau tidak akan memberitahuku siapa yang melukaimu.” Naeun melepas daun tersebut dan mengelus bekas lukanya dengan ibu jarinya, lalu perlahan mengarahkan bibirnya kesana, mengecupnya lembut sambil membisikkan mantra hingga luka itu menghilang.

“ Terimakasih.”L tersenyum, membuat Naeun merasa senang karena sejak tadi lelaki itu bersikap menyebalkan padanya. Mereka kembali berciuman untuk yang terakhir kalinya.

“ Selamat mengajar besok, L songsaenim.”bisik Naeun disela ciumannya, membuat L tak mampu menahan tawanya karena merasa aneh dipanggil ‘guru’ oleh istrinya.

“ Bersenang-senanglah tanpa aku di dunia nyata, dan lihat perbedaannya.”

Airmata Naeun kembali menitik, ia memeluk L erat dan menangis.

” Kirimkan aku mimpi kapanpun jika hanya itu yang bisa dilakukan agar kita bisa bertemu. Jangan biarkan aku gila karena merindukanmu..”

“ Arasseo.. Dasar cengeng.”L menghapus airmata istrinya itu, “…aku masih suka melihatmu menangis, tapi tidak untuk kali ini. karena aku juga ikut menangis dalam hatiku.”

“ Lalu mengapa kau menyuruhku pergi? Ini terakhir kalinya aku bertanya, aku berharap kau bisa memberiku alasannya..”

L menghela nafas sejenak.

“ Aku yakin Hyoyeon masih hidup, dan ia sedang melakukan segala cara untuk balas dendam padaku. Disaat negeri ini sepi, aku merasa ia akan muncul untuk membunuhku. Aku tidak ingin kau ikut menanggungnya, jadi… kau harus pergi.”

“ Apa?!”

L mengangguk pelan dan lelaki itu mulai menangis, namun buru-buru dihapusnya airmata yang jatuh ke pipinya untuk meyakinkan istrinya bahwa ia tidak pantas dikhawatirkan.

“ Kenapa kau baru bilang!!?” Naeun terisak dan merasa panik, “…tidak..aku tidak mau pergi.. aku harus melindungimu.. aku..”

“ Pergilah. Biar aku menghadapinya sendiri.”

“ L.. itu tidak mungkin..”

“ Aku sudah cukup sering membuatmu menderita selama dua belas tahun kita saling mengenal. Ini giliranmu untuk bahagia dan aku yang menderita. Ini memang tanggung jawabku atas apa yang pernah aku lakukan di masa lalu..”

Naeun menggeleng kuat dan ia semakin menangis ketika L memaksa untuk melepas pelukannya.

“…pergilah.”

“ Tidak, aku tidak..”

“ Kita pasti bisa bertemu lagi. Hanya lima belas hari, semoga aku dan penyihir yang lain bisa bertahan. Bersenang-senanglah.”

L mengecup kening Naeun singkat dan mendorong pelan istrinya itu untuk masuk ke dalam portal.

“…selamat tinggal, Son Yeoshin.”

“ Tidak.. L !!!”

***

 

“ Lumayan.. yang penting bisa telepon dan sms.”

Myungsoo mengotak-atik ponsel murahan yang baru saja ia beli sambil menyusuri trotoar jalan yang ia lalui kemarin, hingga ketika ia melintasi sebuah tembok, seberkas cahaya menyilaukannya.

“ Wah, temboknya berlubang.. apa itu port… aaa!!!”

BRUK!!!

Lelaki itu terjatuh dan ponselnya terlempar ke jalan raya hingga dalam hitungan detik tergilas oleh mobil yang lewat. Ia benar-benar syok, namun tak dapat berdiri mengambil ponsel itu karena seorang gadis berjubah hitam yang baru saja keluar dari tembok dan mendorongnya hingga terjatuh itu kini menindih tubuhnya. Membuatnya merasakan aroma lily itu lagi.

 

“ Maaf.”

 

Keduanya saling tatap dan mengucapkan kata itu bersamaan. Mata keduanya sama-sama membesar ketika saling menyadari wajah satu sama lain. Terlebih gadis itu.

“ S..Son..Son Yeo..”

“ Tidak.. tidak mungkin..” gadis itu buru-buru berdiri dan menggeleng tak percaya, Myungsoo ikut berdiri dan mencoba menenangkan gadis itu yang tentu saja terkejut melihatnya.

“ Ada apa? Kenapa kau ketakutan sekali?”

“ Tidak mungkin.. tidak!”

Gadis itu berlari tanpa arah karena tak percaya dengan apa yang ia lihat, Myungsoo mengejarnya.

“ Hei! Tunggu!”

“ Tidak.. tidak mungkin!”

“ Ya!! awas!!!!”

“ AAAAAAA!!”

 

BRUK!!!

Jalanan mendadak macet dan semua orang bergerombol secepat kilat di tengah jalan, Myungsoo berlari dan menerobos mereka, terkejut mendapati seorang Son Yeoshin yang sudah tak sadarkan diri dengan darah di beberapa bagian tubuhnya akibat dihantam oleh sebuah mobil beberapa detik yang lalu.

********

 

“ Ah? Jadi disini baru pagi?”

Chorong sedikit linglung saat baru saja turun dari pesawat dan menatap langit Amerika yang baru mulai cerah. Woohyun segera merangkulnya dan membawakan tasnya.

Jet lag?

Gadis itu mengangguk pelan dan merasa lemas. Ia bersandar di bahu Woohyun, “ Siapa yang menjemput kita?”

“ Supir ayahku.”

“ Jadi selama kita disini kita diantar supir?”

“ Tidak, aku bisa membawa mobilnya nanti. Memangnya kenapa?”

“ Aku ingin ke makam Yookyung.”

“ Sekarang?”

Chorong mengangguk. Meski badannya terasa sakit akibat lelah di perjalanan, makam Yookyung adalah tempat pertama yang ingin ia kunjungi saat ia tiba di Amerika.

*

 

R.I.P

Hong Yookyung

September 22, 1994 – August 15, 2012

 

Chorong mengelus nisan makam mantan kekasih sahabatnya itu, yang harus mati akibat kekejaman dunia sihir, demi kepentingan Kim Hyoyeon. Ia masih tak bisa membayangkan betapa sakitnya Sungyeol saat mendengar kabar ini dan kini justru ditahan oleh pembunuh mantan kekasihnya itu di dunia lain.

Woohyun, yang notabene bukanlah teman Yookyung turut berduka sekaligus bersyukur karena ia tak jadi bergabung dengan mantan kekasih Sungyeol itu. Ia telah sembuh dari penyakitnya, meski setelah itu masalah baru kembali muncul, yakni ketidakjelasan keberadaan dan keselamatan Sungyeol. Ia merasa sedih melihat Chorong yang masih sering murung memikirkan cenayang itu.

Ssrrkk..srrkk..

Terdengar suara langkah kaki yang berpadu dengan rerumputan sekitar makam. Dari kejauhan terlihat seorang lelaki dengan celana jeans dan hoodie hitam bertutup kepala. Ia nampak membawa satu ikat bunga dan berjalan mendekati makam Yookyung.

Woohyun dan Chorong berdiri, menatap lelaki itu dengan tidak percaya. Sama halnya dengan lelaki itu ketika melihat sepasang kekasih yang mengunjungi makam mantan kekasihnya tersebut.

 

“ Kalian disini? wah, seakan tahu aku butuh pertolongan.”lelaki itu membuka pembicaraan dengan senyum pahit.

Chorong tak mampu menahan airmatanya, ia berlari dan memeluk lelaki itu erat-erat.

 

“ Kenapa kau ada disini, Lee Sungyeol!?”

*******

 

“ Kau seperti gelandangan makan seperti itu.”

Sang cenayang tetap melahap croissant didepannya dengan lahap dan tak peduli dengan komentar Woohyun. Sementara Chorong dengan penuh perhatian memberinya minum dan membersihkan sisa makanan di sekitar mulutnya. Ia memang sahabat perempuan yang baik.

“ Jadi Hyoyeon yang melemparmu ke Amerika?”tanya Chorong pelan, Sungyeol mengangguk dan berusaha menelan makanannya.

“ Dan Woohyun benar, aku memang menjadi gelandangan disini.”jawab cenayang itu dongkol, “…kau tahu? Sekarang aku sakit-sakitan, sudah beberapa kali rohku terlepas dari ragaku.”

“ Hah? Maksudmu?” Chorong sangat khawatir dan ia baru sadar Sungyeol terlihat lebih kurus dan pucat dari biasanya.

“ Hyoyeon penyihir gila, dendamnya sudah menghilangkan akal sehatnya.”Sungyeol menghela nafas berat, “…ia menyuruhku merasuki tubuh orang lain demi kepentingannya. Aku sudah melaksanakan tugasku seperti yang ia inginkan dan aku minta dipulangkan sebentar ke dunia nyata, tapi ia malah melemparku sembarangan kesini.”

Woohyun dan Chorong menganga, sulit untuk percaya.

“…oke, kalian tidak percaya? Aku sudah tinggal dua malam disini. aku tidur di jalan, dan aku mencari uang dengan mengamen dan meramal agar bisa tetap hidup. Ini pertama kalinya aku mengunjungi Amerika dengan tangan kosong. Aku kira aku tidak bisa ke Seoul, tapi kalian datang, kuharap Woohyun tidak pelit membelikanku tiket ke Seoul.”

“ Itu gampang. Yang penting kau tidak pergi lagi. Chorong terus memikirkanmu.”jawab Woohyun.

“ Maaf, tapi setelah dendam Hyoyeon benar-benar terbalaskan, baru aku bisa bebas. Maafkan aku..”Sungyeol memeluk Chorong, gadis itu semakin manja dalam pelukannya dan Woohyun memaklumi hal itu. karena memang sejak dulu ia tak pernah cemburu melihat kedekatan Chorong dan Sungyeol. Lain halnya jika Chorong dengan Myungsoo, Woohyun selalu merasa ingin meledak.

“ Apa yang sedang direncanakan Kim Hyoyeon?”tanya Woohyun.

“ Banyak. yang jelas semua itu untuk satu tujuan, memusnahkan L.”

“ Dan kau terlibat?”

“ Terpaksa. Ini juga karena kesalahanku.”

“ Tidak bisakah kau lari saja darinya? Semua sudah selesai, Sungyeol-ah..”Chorong begitu sedih.

“ Selesai? Tapi hidup dia belum selesai.”Sungyeol menatap Woohyun dengan polos, Chorong tertawa kecil.

“ Woohyun sudah sembuh.”

Mwo? Bukankah kanker tidak bisa disembuhkan?”

“ Aku memakai ramuan itu untuk Woohyun. ramuan yang pernah kita bertiga bicarakan. Tidak apa-apa, kan? Aku tidak menggunakannya untuk Myungs….”

“ Sshhh..” Sungyeol menaruh jari telunjuknya di bibir Chorong, “…it’s okay. Ia tak perlu ramuan itu lagi.”

“ Maksudmu?”

“ Kau belum tahu?”

“ Belum tahu..apa?”

******

 

Esok paginya…

 

L merapikan penampilannya di depan kaca dan beberapa kali membetulkan dasinya. Hari ini adalah hari pertamanya mengajar di sekolah sihir. Semalaman ia begadang mempersiapkan materi. Setelah Naeun pergi, ia tak bisa tidur karena kesepian.

“…Yeoshin-ku.. kau sedang apa sekarang? Maaf tidak mengirimimu mimpi, aku tak mau membuatmu khawatir. Tapi kenapa sekarang aku yang mengkhawatirkanmu..”

L benar-benar merindukan Naeun dan perasaannya benar-benar buruk. Melepas istrinya itu rupanya tak semudah yang ia bayangkan sebelumnya. Namun ia mencoba fokus hari ini, ia tak ingin mengajar dengan buruk didepan siswanya hanya karena merindukan istrinya.

Lelaki itu meraba-raba leher bertatonya, mencari sebuah kalung panjang yang biasa bergantung disana. Namun ia baru sadar kalung tersebut tak ada lagi di lehernya.

“…kemana kalungku? Sial!” ia panik, namun tak bisa mencari kalung tersebut karena harus segera berangkat ke sekolah. Dengan terpaksa ia membatalkan pencariannya dan menggendong Lin yang sudah dipakaikannya satu stel pakaian hitam ke kereta bayi.

Ya, L akan membawa putranya itu ke sekolah. Taeyeon tak bisa menjaganya karena ia berada di istana, menemani Madame Sunny menjaga tempat terbesar di negeri Junghwa yang sudah sepi saat ini.

***

 

Myungsoo menutup tas ranselnya rapat kemudian berdiri di depan kaca, merapikan penampilannya sambil meraih sebuah kalung panjang berwarna hitam yang ia letakkan di meja. Iseng, ia mencoba mengenakan kalung tersebut lalu melihat refleksi dirinya lagi di depan kaca.

“…wah, cocok juga rupanya.”lelaki tampan itu merasa bangga, diraihnya liontin berbentuk persegi pada kalung tersebut. Ternyata bisa dibuka.

Terlihat sebuah sketsa lain dari Son Yeoshin disana, dilukis dengan ukuran yang begitu kecil. Apa L yang menggambarnya? Entahlah, yang jelas Myungsoo benar-benar kagum melihatnya, ditambah sebuah tulisan tangan yang sangat indah disamping tulisan tersebut, tulisan yang mengukir nama “ Son Naeun”.

Menatap sketsa wajah itu lama-lama membuat Myungsoo merasakan hal lain. Semacam aura yang membuatnya merasa seperti L. Merasa ikut memiliki Naeun. Terdengar aneh, namun ini benar-benar terjadi dalam diri lelaki itu.

Jika tidak, mungkin Myungsoo tidak akan menolong Naeun yang kini masih tak sadarkan diri di rumah sakit, dan ia pun mungkin tak akan serajin hari ini, memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam tas untuk dibawa ke rumah sakit sebab ia berniat untuk menjaga gadis itu sampai sadar.

 

Myungsoo tetap memakai kalungnya, setelah itu memanggul tasnya yang cukup berat karena ia juga membawa makanan dan buah-buahan untuk Naeun.

“ Myungsoo!”

Lelaki itu menoleh, nampak Yura keluar dari apartemennya dengan seragam sekolah lengkap, ia bingung melihat penampilan Myungsoo hari ini.

“ Kau..mau kemana? Bawa tas sebesar itu.. ah.. kau pasti mau mendaki gunung! Kau mau hiking? Oh iya.. kau kan anak pencinta alam..”

Myungsoo tertawa kecil karena belum apa-apa gadis itu sudah sok tahu.

“ Tidak, aku mau ke rumah sakit.”

Mwo?? Siapa yang sakit?”

“ Susah menjelaskannya. Aku duluan ya..”Myungsoo memasuki lift.

“ Ya!!”

“ Apa?”

“ Ayo sama-sama, aku mau ke sekolah.”Yura ikut memasuki lift dan menekan tombolnya, pintu pun tertutup.

“ Kau tidak dengan…ayahmu?”tanya Myungsoo hati-hati.

Yura merasa tak enak sekarang, mengingat kejadian malam kemarin.

“ Tidak.. ayahku sudah pergi dari subuh.”

“ Ooh.. sampaikan padanya aku sangat minta maaf.”

“ Ini bukan salahmu, ini salahku..tidak perlu minta maaf.”

“ Apa kau sudah menjelaskannya?”

Yura mengangguk, “ Tapi tidak selesai, perkataanku dipotong terus.”

Myungsoo tertawa kecil, “ Sudahlah.. yang penting tidak terulang lagi.”

Mianhae..Myungsoo-ssi.”

Gwenchana, Yura-ssi.”

Yura merasa agak lega sekarang, “ Huh.. untung saja ayah sudah pergi. Subuh tadi ia ke kantor polisi.”

“ Kantor polisi?”

Yura mengangguk, “ Katanya kepala sekolah SMA Junghwa yang dipenjara itu ingin menemui ayahku. Aneh kan? Apa yang ingin dia bicarakan, coba? Apa jangan-jangan ia ingin ayahku menggantikannya menjadi kepala sekolah? Ahahaha… kalau begitu ayahku akan punya banyak uang!”

Kali ini Myungsoo menganggap serius kesok-tahuan Yura karena ia sendiri heran mengapa Haeyeon memanggil Sunggyu.

 

“ Apa benar dugaan Yura? Sunggyu songsaenim menggantikan kepala sekolah? Aku tidak bisa membayangkannya.”

******

 

“ Terimakasih sudah menjaganya, suster. Sekarang biar aku yang menjaganya.”

“ Ya. dokter bilang, walaupun belum sadar, kondisi pasien tidak begitu buruk. Hanya kakinya saja yang mengalami hantaman keras, kami sudah melakukan operasi kecil, dan mungkin ia akan kesulitan berjalan selama beberapa hari.”

“ Aku mengerti. Terimakasih, suster. Aku akan menghubungi jika ada sesuatu.”

Sepeninggal sang suster, Myungsoo itu memasuki ruangan perawatannya dengan canggung, meletakkan ranselnya dan mendekati Naeun yang masih terbaring lemas dengan selang infus di tangan putihnya dan selang oksigen di hidungnya. Kepala, tangan dan kakinya pun dibalut perban. Myungsoo merasa sedikit bersalah karena setelah melihat wajahnyalah gadis itu terpaksa berlari dan akhirnya ditabrak oleh mobil.

“ Kenapa kau takut melihatku? Justru aku sisi baiknya..” canda Myungsoo seraya mengelus rambut indah gadis itu, tanpa sadar semakin mendekat untuk mencium aroma lily yang sangat ia sukai.

“…apa kau benar-benar ada di bioskop waktu itu?”tanya Myungsoo pelan, “…tidak apa-apa, aku tahu kau hanya salah orang. Tapi aku merasa sedikit bersalah karena ciuman pertamaku kulakukan dengan istri orang lain..”

Myungsoo jadi tertawa sendiri setelah berkata seperti itu, ia pun duduk di samping tempat tidur Naeun dan mengusap tangan putih gadis itu dengan lembut.

 

“…jangan khawatir, aku akan menjagamu.”

***

 

“ Wah! Hari ini dan seterusnya kita akan diajar oleh guru yang tampan!”

“ Lihat, L songsaenim membawa anaknya!”

“ Waahh.. lucu sekali!”

L tersenyum kearah para siswanya yang masih berkumpul di koridor dan menyambut kedatangannya ke kelas. Rupanya mereka tak takut lagi, mungkin karena kepala sekolah sudah meyakinkan mereka. Mereka justru terlihat tak sabar menunggu guru baru sekaligus wali kelas mereka itu.

“ Masuklah, aku akan segera menyusul.”

Para siswa itu menurut, mereka masuk ke dalam kelas dan duduk dengan tertib. Sementara L membuka lokernya sebentar untuk mengambil buku tambahan yang diletakkan kepala sekolah disana.

Namun apa yang ia lihat saat membuka loker tersebut?

Tak hanya buku, ia juga menemukan secarik kertas tertempel disana. sebuah pesan yang ditulis dengan tinta merah dan membuatnya merasa… terancam?

 

“ AKU AKAN MENYISAKAN TIGA.”

 

“ Menyisakan… tiga?”

 

To be Continued

 

Yes! Selesai juga akhirnya part A ini. tidak sepanjang part 1 tapi proses pembuatannya lebih lama dari part 1 😀

Semoga puas dengan part ini, jangan lupa meninggalkan LIKE terutama COMMENT karena author tidak mengharapkan adanya silent readers.

Sampai lupa di part berikutnya!

 

Next >> Part 2B : Day 15

 

 

 

 

222 responses to “THE PORTAL 2 [ Part 2A : 15 Days ]

  1. yang ada di kalungnya L itu aura naeun kan ???
    makanya myungsoo seperti punyanura memiliki naeun /Lol..
    di akhir part serem juga ternyata…

  2. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 9 : The Real Ending] [FINAL] – FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s