[Oneshoot] Complicated

Hai, ini bukan FF saya melainkan FF titipan. Setelah membacanya, dimohon memberikan apresiasi dalam bentuk komentar ya. Terima kasih.

Complicated

 10482389_764210343644385_2002386280_n

Title             : Complicated

Author         : Rere_L.Kim/El_Ciel.Oz

Genre           : Drama, Romance, Angst

Cast              :

–         Lu Han               (EXO-M)

–         Im Jae In            (OC)

–         Kim Minseok    (EXO-M)

Rating         : PG-15

Type            : Oneshoot

 

Copyright ©2014 Rere_L.Kim

 

Complicated Story

“Cintaku terlalu besar hingga membuatmu selalu tersakiti” – Lu Han

 

“Cintaku tak ubahnya seperti bintang dilangit.

Meski terang atau mendung sekalipun, bintang akan tetap ada ditempatnya.

Menemani dan menghias langit dengan atau tanpa kau dapat melihatnya” – Im Jae In

 

***

 

“Na neol joahae”

 

Mendengar sebaris kalimat yang berisikan 3 kata itu, seorang gadis bersurai hitam panjang yang biasa dipanggil Jae In, Im Jae In itupun mematung ditengah jalan. Tangan kanannya yang memegang phonsel dan tengah menerima panggilan masuk itupun terasa amat lemas.

 

“M-mworagu?” ucapnya terbata seraya mencoba menguatkan diri

“Na neol joahagu” ulang seorang yang menghubungi Jae In “Aku tau kau terkejut, hanya saja aku benar2 tak bisa memendamnya lebih lama lagi. Setiap menit perasaan ini berkembang layaknya udara yang memenuhi ruang sebuah balon. Aku tidak memaksamu untuk menerimanya, aku hanya ingin kau mengetahuinya” jelasnya panjang lebar

“L-Lu…”

“Tidak usah kau lanjutkan” potongnya “Aku tau betul kondisi yang kau alami saat ini. Aku benar2 tidak menuntut kau membalasnya. Aku sudah mengatakan semuanya, sekarang aku lega. Baiklah, selamat beraktivitas kembali nona Im”

 

Dan suara panggilan yang terputus mendengung setelahnya. Jae In masih mematung ditempatnya, ditengah lalu lalang manusia yang berjalan ditrotoar yang merupakan jalan utama diarea pusat perbelanjaan.

 

***

 

Disebuah ruangan yang mirip seperti mini gallery salah satu club sepak bola ternama nampak seorang pemuda tengah terbaring diatas pembaringannya. Terdengar helaan nafas lesu darinya. Kedua pasang mata indahnya dibiarkan menatap kosong langit2 kamarnya.

 

“Aku sudah gila” gumamnya pelan

 

“Na neol joahae”

 

Satu kalimat itu terus terputar diotaknya. Sesekali ia mendesis, meruntuki perbuatan yang baru saja ia lakukan 10 menit terakhir ini. Sekali lagi, bibir mungilnya mengeluarkan helaan nafas lesu tanpa gairah.

 

“Luhan!!! Tolong bantu ambilkan barang digudang!” terdengar samar seruan seorang wanita yang tak lain adalah Ibu kandung dari seorang pemuda yang akrab dipanggil Luhan

 

Luhan. Pemuda berdarah china yang menetap di Seoul bersama ibu dan kakak laki2nya sejak 5 tahun terakhir setelah kematian ayahnya. Luhan bekerja disebuah cafe yang tak jauh dari rumahnya. Dia hanya butuh waktu 20 menit dengan bersepeda untuk sampai ditempat kerjanya.

 

“Aigoo, berat sekali” keluh Luhan begitu ia meletakkan sekotak kardus yang berukuran sedang dikonter dapur

“Gomawo” ujar Ibunya dengan senyum tulusnya

“Hyung dimana eomma?”

“Dia pergi ke supermarket untuk membeli beberapa bahan makanan yang habis” jelasnya tanpa menoleh kearah Luhan yang ada didepan konter dapur

 

Hening. Sejenak Luhan membiarkan keheningan merayap mengisi kekosongan antara ia dan ibunya yang memang sedang sibuk mencoba resep baru.

 

“Eomma”

“Eung”

 

“Menurut eomma… emm… bagaimana memulainya?” runtuk Luhan pada dirinya sendiri

“Kau mau bertanya apa? Kenapa nampak gugup begitu?” tanya ibunya yang sesekali menatap Luhan

 

“Jae In”

“Ada apa dengan gadis itu?”

“Aku… menyukainya” ucap Luhan lemah namun masih dapat didengar jelas oleh ibunya

“Lalu, ada apa dengan- MWO???” perhatian ibunya langsung terpusat pada anak bungsunya itu “Kau apa?” ibunya kini sudah berhadapan dengan Luhan dari balik sisi konter yang lain

“A-aku, aku menyukainya” ulang Luhan gugup

“Aigoo” seru ibunya heboh seraya menepuk 3x bahu kanan Luhan “Akhirnya kau bisa menyukai seorang gadis juga. Eomma sempat khawatir padamu yang terlalu mencintai pemain sepak bola yang kau idolakan. Aigoo, eomma turut senang mendengarnya” Luhan tersenyum tipis

“Menurut eomma bagaimana?”

“Jae In gadis yang baik, eomma juga sudah mengenal keluarganya. Eomma pasti memberikan restu untuk kalian berdua”

“Jeongmal?” Luhan nampak antusias

 

Sang ibu mengangguk pasti dengan senyum bahagia yang terus ia pamerkan pada anak bungsunya. Bukan tanpa alasan ibu Luhan merestui hubungan mereka. Sudah sejak lama ibu Luhan memimpikan putra bungsunya bersanding dengan gadis cantik yang bernama Im Jae In. Bukan hanya parasnya saja yang cantik, hatinya pun secantik wajahnya. Meski tak dipungkiri dia terlihat sedikit ke kanak2an, namun Jae In adalah sosok sempurna yang pernah ditemui Ibu Luhan walaupun ia dibesarkan dilingkungan yang bisa dibilang, keluarga yang tak harmonis.

 

“Tapi jangan bilang Hyung dulu ne eomma, aku- belum tentu aku diterima oleh Jae In” seketika semangat membaranya beberapa detik lalu surut ditelan waktu

“Kau malu dengan Hyungmu begitu?” ibunya terkikik geli mendengar alasan Luhan

“Eung” jawabnya terang2an

 

***

 

Malam mulai larut. Cahaya bulan semakin berpendar terang dilangit cerah malam ini. Jam analog yang terpajang manis diatas nakas coklat tua telah menunjukkan pukul 00.00 am KST. Gadis manis yang dikenal dengan nama Jae In itu masih betah duduk dibalik jendela kamarnya memandang bulan dilangit malam yang cerah. Kepalanya disandarkan diatas kedua tangannya yang terlipat diantara lututnya yang ditekuk.

 

“M-mworagu?”

“Na neol joahagu”

“Aku tau kau terkejut, hanya saja aku benar2 tak bisa memendamnya lebih lama lagi. Setiap menit perasaan ini berkembang layaknya udara yang memenuhi ruang sebuah balon. Aku tidak memaksamu untuk menerimanya, aku hanya ingin kau mengetahuinya”

“L-Lu…”

“Tidak usah kau lanjutkan”

“Aku tau betul kondisi yang kau alami saat ini. Aku benar2 tidak menuntut kau membalasnya. Aku sudah mengatakan semuanya, sekarang aku lega. Baiklah, selamat beraktivitas kembali nona Im”

 

“Kau benar2 membuatku gila tuan Lu” gumam gadis itu dengan senyum tipis yang tersungging samar dibibirnya “Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku”

 

Dan seperti orang gila, gadis itu bercakap pada diri sendiri. Hingga smartphone berwarna putih dengan layar 6 inch itu berdering menandakan sebuah pesan singkat baru saja masuk. Dengan malas, Jae In berjalan dan duduk dibibir tempat tidurnya lalu meraih phonsel kesayangannya yang tergelatak manis diatas tempat tidurnya.

 

Mata indahnya membulat membaca pesan singkat yang datang dari seseorang dengan nama “Xia Lu”. Tak selang berapa lama, Jae In tersenyum sumringah seperti orang gila.

 

From : Xia Lu

 

Geuriwoyo my precious little princess

 

Jae In tak langsung membalas pesan yang baru ia baca. Ia justru malah membaringkan tubuh sintalnya ketempat tidur. Menatap langit2 dengan wajah terkonyol yang ia punya serta senyum yang tak mudah untuk diartikan. Senangkah? Tersanjungkah? Atau ia hanya menganggapnya sebagai lelucon?

 

Sedetik kemudian, Jae In meraih kembali phonselnya dan buru2 mengetikkan sederet kata untuk membalas pesan singkat yang berhasil membuat jantungnya berdetak tak karuan dalam hitungan detik.

 

To : Xia Lu

 

Aku tak tau harus bagaimana menjawabnya. Hanya saja tiba2 aku merasakan sesuatu ketika membacanya :3

 

***

 

Luhan hampir melompat kegirangan membaca pesan singkat yang baru ia terima. Wajahnya berhias senyuman bahagia. Jari lentiknya kembali menari diatas keypath untuk membalas pesan yang dikirim oleh gadis pujaannya.

 

To : My Little Girl

 

Apa itu berarti kau menerimaku?

 

Butuh waktu 15 menit untuk Luhan mendapat balasan atas pertanyaan yang ia ajukan pada sosok gadis yang selama kurang lebih 1 tahun ini berstatus ‘anak dari teman ibunya’. Ya, Luhan bertemu dengan Jae In ketika ibunya membutuhkan bantuan untuk acara syukuran kelulusan putra sulung keluarga Lu yang tak lain adalah kakak kandung Luhan. Dan sejak pertemuan itu, Jae In sering berkunjung kerumah Luhan untuk sekedar menggantikan ibunya yang tak dapat hadir membantu Ibu Luhan.

 

From : My Little Girl

 

Kau tau aku mengalami sedikit, yah kau tau ‘trauma’ pada lelaki bukan? Ini mungkin akan sedikit sulit. Tapi jika itu denganmu….

 

 

Mungkin akan beda ceritanya

 

Dan sebentar lagi mungkin Luhan akan membuat bantal tak berdosa bahkan tak bernyawa yang kini ada dipelukannya bernasib na’as, mengingat kelakuan Luhan saat ini yang dengan anarkinya memeluk, memukul, menggingit, bahkan mencabiknya meski untungnya tak membuat sang bantal kehilangan sarungnya.

 

Sungguh, jantungnya saat ini berpacu seperti sebuah genderang perang yang ditabuh kencang. Bahkan Luhan sendiri kuwalahan mengatur nafasnya yang sedikit terengah merasakan sesak gara2 jantungnya yang kelewat berpacu kencang.

 

“Selamat pagi” seru Luhan nyaring saat menghampiri meja makan dimana Ibu dan Hyungnya tengah berkumpul

 

Hari berganti terlalu cepat. Baru saja kedua manik mata rusa Luhan melihat jam dinding dikamarnya menunjukkan pukul 01.00 am KST, tiba2 kini jarumnya tepat berada diangka 6, dan itu berarti ia melewatkan jam tidurnya semalam.

 

“Kau kenapa?” tanya Xiumin, kakak laki2 Luhan “Semangat sekali pagi ini” celoteh Xiumin seraya mengangkat cangkir kopinya “–tumben” imbuhnya, sejurus dengan itu, ia menyesap kopi dalam cangkirnya

“Kau diterima?” tebak ibunya yang masih sibuk menata beberapa piring lauk diatas meja

“Emmm” Luhan menampilkan gestur seperti berfikir keras “Aku rasa begitu” ucapnya kemudian dengan wajah yang teramat sumringah

“Diterima? Sepertinya hanya aku disini yang tidak tau apa2” Xiumin menatap ibunya dan Luhan bergantian dengan sorot mata yang menuntut

 

“Akhirnya Luhan punya yeochin” bisik ibunya yang dapat didengar Xiumin serta Luhan

“MWO???”

 

***

 

“Mwo???” gadis itu memekik nyaring ketika jam menunjukkan pukul 08.00 pm KST dan hampir melempar smartphone miliknya kesembarang arah

“Mian” suara dari sebrang terdengar lesu dan menyesal teramat dalam

“Eo-eott- ahh” gadis itu serasa kehabisan suara untuk sekedar mengucap satu kata

“Jae In a”

 

Gadis itu, Im Jae In terlihat berantakan dengan wajah yang tak dapat didiskripsikan. Dia terlihat marah dengan kilat kekecewaan, ia juga terlihat ingin menangis dengan sorot mata yang kosong, dan yang paling parah, ada guratan kesedihan yang luar biasa dalam disana.

 

“Kau masih disana?”

“E-eung” suaranya terdengar serak

“Oh tuhan, aku harus bagaimana? Aku juga tidak menyangka Xiumin Hyung akan mengatakan hal yang sedemikian menyakitkan” adu seorang disebrang yang tak lain adalah Luhan

“Separah itukah aku eo? Sampai Xiumin oppa tidak merestui hubungan yang bahkan belum sempat kita rajut?”

 

Gagal. Air mata Jae In mengalir begitu saja ketika ia mengucapkan kalimat terakhir. 15 menit lalu adalah 15 menit terburuk yang pernah dilalui Jae In. 15 menit dimana Luhan dengan berat hati menceritakan tentang penolakan dari saudara kandungnya.

 

Xiumin, saat berkumpul dimeja makan pagi ini meluapkan emosinya ketika mendengar bantahan Luhan. Yah, Xiumin melarang Luhan menjalin hubungan special dengan gadis bermarga Im itu dengan alasan yang menurut Luhan bahkan Ibunya kurang logis.

 

“Kau tau, Jae In itu tak ubahnya seperti anak kecil. Kau ingin aku punya adik ipar seperti itu? Luhan, banyak gadis cantik dan dewasa diluar sana yang bahkan tanpa kau repotpun sudah mengantri untuk menjadi pasanganmu. Kenapa harus Jae In Luhan??? Kau tau kedua orang tuanya tidak ada yang bisa jadi panutan” Xiumin berseru seraya bangkit dari duduknya “Pokoknya aku tidak setuju kalau kau menjalin hubungan dengan gadis itu titik, tidak ada protes apapun”

 

Begitulah pagi cerah Luhan hancur seketika setelah mendengar penuturan kakak laki2nya perihal ‘hubungan yang akan dijalin’ dengan gadis impiannya, Im Jae In. Luhan benar2 tak mengerti jalan pikiran kakaknya itu. Meski ia sempat memikirkan tentang masa depan impiannya dengan Jae In, tapi Luhan belum ada niatan untuk membawa hubungannya pada jenjang sejauh itu seperti ‘Pernikahan’. Tapi kenapa kakaknya itu sudah berfikir kesana?

 

“Aku lelah, bisakah aku istirahat sekarang?” pinta Jae In dengan nada lemah

“Eung” setelah diam selama kurang lebih 5 detik Luhan bersuara “Istirahatlah” imbuhnya

 

***

 

1 bulan lalu terasa mimpi semalam untuk Luhan dan Jae In. Setelah memutuskan untuk tetap bersama dan mengukir beberapa kenangan manis, kini Luhan dan Jae In harus menanggung akibatnya. Beberapa hari lalu, Xiumin yang memang sebelumnya sudah curiga, memergoki mereka yang sedang asik berjalan beriringan dengan tangan yang saling bertautan layaknya sepasang kekasih.

 

Dan sejak saat itu, Xiumin dengan tegas memberikan ultimatum kalau Luhan sekali lagi kedapatan tengah bertemu dengan Jae In, maka Xiumin tak segan2 mengirim Luhan kembali ke china dan tinggal disana bersama sahabatnya Lay.

 

Luhan membaringkan tubuh lelahnya diatas tempat tidur. Pandangannya menerawang. Alih2 menenangkan pikirannya, Luhan menghela nafas dalam. Luhan benar2 gusar dan gelisah saat ini. Dan penyebabnya adalah gadisnya. Ia benar2 merindukan sosok menggemaskan Jae In. 1 minggu sudah lebih dari cukup membuatnya gila karena memikirkan gadis impiannya. Berlebihan memang, tapi itulah Luhan. Ia benar2 merindukan setiap bagian dari seorang Im Jae In.

 

Selain badannya yang tak terurus, pekerjaannya dicafe pun makin kacau. Beberapa kali Luhan mendapat teguran dari managernya karena kedapatan melamun dan paling parah membolos kerja.

 

Perlahan ia mencoba memejamkan kedua mata sayunya. Merasakan kenyamanan yang susah payah ia bangun seorang diri. Apa yang dapat dilakukan seorang Lu Han sekarang ini. Kata2 kakaknya benar2 tak terbantahkan. Jika kakaknya sudah mengucapkan sesuatu, maka itu juga yang harus terjadi.

 

Kedua kelopak mata yang susah payah dipejamkan itu seketika terbuka lebar mendengar dering ringtone khusus diphonselnya. Tanpa melihat nama pemanggil, Luhan bisa langsung tau dari ringtone yang berbunyi. Bingo, itu Im Jae In.

 

“Yeobusaeyo” sapa Luhan sumringah dan segera merubah posisinya menjadi duduk

“Hey, kau terdengar sangat senang sekali. Merindukanku?” goda Jae In

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau tak merindukanku huh” cecar Luhan

 

Gadis itu terkekeh ringan menanggapi celotehan ketus yang dilontarkan Luhan untuknya. Ia terkekeh karena ia tau dengan pasti, Luhan tak benar2 mengucapkannya dengan nada ketus dari hatinya.

 

“Hari ini aku tidak akan menangis lagi karena merindukanmu” alis Luhan bertaut mendengarnya “Bagaimana kalau hari ini kita bertemu?” sekali lagi, gadis itu membuat Luhan menautkan alisnya

“Ja-Jae In a–“

“Gwenchana” potong Jae In cepat “Aku berani jamin, Xiumin oppa tak akan memakiku lagi seperti kemarin. Apalagi membiarkan kekasihku ditampar keras oleh hyungnya sendiri, ne”

 

Lega. Itulah yang dirasakan Luhan saat ini. Entah bagaimana mengungkapkannya, hanya saja kata2 Jae In bagaikan seperti obat penenang untuk Luhan. Ia tersenyum teramat manis meski gadisnya tak dapat melihatnya, ia tetap tersenyum setelah mendengar jaminan dari gadisnya.

 

“Tunggu, kau pulang jam berapa hari ini?”

 

Satu pertanyaan sederhana itu berhasil mengikis senyum Luhan perlahan. Namun tak butuh waktu lama senyum itu terkembang lagi dengan sempurna.

 

“Kau pikir aku akan membiarkan kesempatan ini berlalu begitu saja tanpa usaha sedikitpun? Jangan harap nona Im” Luhan terkekeh diakhir kalimatnya

“Arraso, bagaimana kalau kita bertemu di ‘Seoul National Museum’ 1 jam lagi”

“Eung” sahut Luhan tepat sebelum ia memutuskan sambungan telfonnya

 

***

 

Jae In Pov

 

Jarum jam dijam tanganku menunjuk angka 4, tepat 1 jam setelah aku menghubungi Luhan. Sore ini aku mengajaknya bertemu dengan iming2 ‘aman’ dari bibir tipis seorang lelaki bernama Lu Xiumin. Sebenarnya, sejak 1 jam yang lalu aku sudah berada disini, ‘Seoul National Museum’. Tempat dimana aku mengajaknya untuk bertemu atau kita bisa menyebutnya kencan.

 

Dari tempatku sekarang, dapat kulihat dengan sangat jelas meski jaraknya jauh. Seorang pemuda yang tengah mengenakan kaos putih polos dengan blazzer coklat susu serta celana yang senada, berjalan dengan penuh semangat dan keceriaan menuju pintu masuk museum.

 

Yah, dia Luhan. Putra bungsu nyonya Xing, yang beberapa minggu lalu mengutarakan perasaannya padaku tanpa basa basi. Meski dia tau aku punya trauma terhadap laki2, namun dia berbeda. Simple, supel, ramah dan bertanggung jawab. Setidaknya itulah yang menjadi pertimbanganku untuk mencoba sembuh dari trauma yang telah menghantuiku sejak 5 tahun terakhir ini.

 

Melhat wajahnya berseri dan dipenuhi senyum seperti itu membuat hatiku kembali terasa seperti disayat2 dengan kejamnya. Bukan karena Luhan, bukan. Tapi karena kakak Luhan, Xiumin. Luhan melambaikan tangannya ketika kedua manik mata indahnya menangkap sosokku yang tengah duduk dibangku yang ada dibawah pohon tak jauh dari gedung museum.

 

“Kau sudah lama?” ucapnya begitu ia memposisikan tubuhnya duduk tepat disebelahku

“Emm” aku hanya menggeleng pelan untuk menjawab pertanyaannya dengan sedikit mengembangkan senyum terbaikku

 

Ia membalas senyumku dengan senyum khasnya seraya mengacak lembut puncak kepalaku. Sungguh aku benar2 merindukan sentuhan hangatnya. Ia kemudian meraih tangan kananku lalu menautkan jemari lentiknya diantara jari2 ku.

 

Sore ini, aku menghabiskan waktu yang teramat berharga untukku bersama Luhan. Tertawa bersama, bercanda dan melepas rindu hingga tak terasa twilight yang tadinya masih menghias langit senja tiba2 berganti dengan bintang2 yang bertabur indah dilangit malam.

 

Dan disinilah kami sekarang, duduk berdampingan dipadang rumput taman yang tak jauh dari museum. Tangan kami masih bertaut seakan ada lem disana yang membuatnya terus merekat dan sulit dilepaskan. Ketika sedang asyik memperhatikan bintang yang ada dilangit, tiba2 Luhan mencium tanganku yang sejak sore tadi bertaut erat dengan tangannya.

 

Ketika aku menoleh kearahnya, disana sudah kudapati wajah Luhan yang terlihat begitu damai dengan senyum itu. Senyum yang entah harus dengan apa aku menjelaskan seberapa kuat pesonanya dimataku.

 

Tangannya yang lain mengusap pipiku lembut dan penuh kehangatan. Kedua manik matanya menatapku, seakan hanya ada aku objek yang dapat ia lihat. Wajahnya perlahan semakin bergerak untuk menghapus jarak diantara kami.

 

Mataku terpejam ketika dengan lembutnya bibir luhan mengecup keningku cukup lama. Tanpa terasa sesuatu mengalir deras dari kedua pelupuk mataku yang terpejam. Luhan menatapku bingung karena tiba2 saja aku terisak dalam. Ia memelukku. Pelukan hangat yang nantinya akan selalu aku rindukan. Yah, benar. Waktuku  tak banyak. Aku harus segera menyelesaikan ini sebelum sesuatu dalam diriku membelot.

 

“Maaf aku lancang” gumamnya lirih dengan wajah yang penuh rasa bersalah

 

Ibu jarinya dengan lembut mengusap sisa2 air mata dipipiku. Memberikan sentuhan hangatnya diwajahku. Bukannya lebih baik, aku justru semakin terisak jauh lebih dalam dari sebelumnya. Aku tau apa yang ada dipikiran Luhan sekarang. Ia pasti bertanya2 mengapa aku bersikap seperti ini.

 

“Luhan” panggilku sendu sesaat sebelum Luhan melonggarkan pelukannya

 

Melihat mata indahnya yang tersirat sebuah kekhawatiran seperti sekarang ini membuat lidahku kelu. Harus dari mana aku memulainya.

 

“Aku– aku ingin kita tidak bertemu lagi setelah ini”

 

Seperti perkiraanku, Luhan tercengang kaget mendengar kata2 itu keluar dari mulutku. Aku masih menunduk, tak kuasa untuk menatap wajah malaikatnya. Sedang air mataku? Ia mengalir tanpa kendali, membuatku terlihat teramat rapuh.

 

“K–kau… apa?” Luhan bertanya dengan suara yang ketara sekali menahan emosi

“Aku tidak ingin bertemu lagi denganmu”

 

Aku ingin mengubur diriku hidup2 saat ini. Bagaimana bisa kalimat sakral itu kuucapkan dengan lancarnya. Jangankan tidak bertemu, berfikir untuk meninggalkan Luhan saja sudah dipastikan akan membuatku terkapar sakit untuk beberapa hari.

 

“Jae In a–“

“Luhan a” sahutku tak membiarkannya untuk meneruskan kalimatnya “Jika kau melanjutkan kalimatmu… aku akan pergi sekarang juga” Luhan diam seketika “Aku baik2 saja Luhan, jadi kau juga harus baik2 saja”

 

Semakin lama kalimat yang keluar dari mulutku membuat alis Luhan semakin bertaut. Aku bodoh atau apa sebenarnya. Bagaimana bisa aku mengatakan ‘Baik2 saja’ ketika aku mengucapkannya dengan suara parau dan terdengar sangat terluka seperti ini. Dari mana Luhan akan yakin jika begini.

 

Oh tuhan, aku benar2 terlihat sangat kacau sekarang. Nafasku tak beraturan karena menahan tangis yang semakin lama semakin anarki saja. Aku masih tak sanggup mendongak, sekedar untuk melihat wajah Luhan. Aku terlalu takut untuk itu. Takut jikalau nantinya aku tak dapat mengendalikan emosiku dan memutuskan suatu hal tanpa berfikir panjang.

 

Tiba2 sesuatu menutupi pandanganku dan sesuatu membuatku merasa… tenang. Ku beranikan diri untuk mendongak menatap wajah Luhan yang terlampau dekat. Sesuatu yang menutupi pandanganku adalah dada yang tak terlalu bidang namun sangat nyaman untuk kepalaku bersandar disana. Dan sesuatu yang membuatku merasa tenang adalah pelukan hangat Luhan.

 

“Kau tetap sama” ucapnya dengan terkekeh pelan “Aku tau kau seperti apa. Jadi jangan lakukan semuanya sendiri. Aku disini Jae In. Aku akan terus berada disampingmu meskipun Xiumin hyung menentang hubungan kita”

 

Aku meronta agar Luhan melepaskan pelukannya. Meski sedikit kepayahan karena Luhan yang semakin mempererat pelukannya, akhirnya aku terbebas dari rengkuhan tangannya setelah dengan-tidak-sengaja aku membentaknya.

 

“Kau tidak mengerti Luhan” seruku penuh emosi

“Apa yang tidak ku mengerti Jae In” Luhan berseru hampir berteriak hingga membuat nafasku sedikit tercekat “Aku mengerti dengan kondisi yang kita alami saat ini karena Xiumin hyung, aku mengerti kau melakukan ini semua karena Xiumin hyung, aku mengerti kau juga sama sepertiku yang tersiksa karena rindu ini semakin berkembang seiring berjalannya waktu. Lalu apa yang tak ku mengerti Jae In?”

 

“Karena aku mencintai pria lain”

 

Sekali lagi aku membentaknya. Dengan penuh amarah aku membentaknya. Meluapkan emosi yang sudah tercampur aduk sejak lama. Luhan terdiam dan menatapku penuh tanya. Tanpa ia mengucapkan sepatah kata pun, aku tau ia ingin bertanya ‘apa maksudmu’ padaku lewat raut wajah dan sorot matanya.

 

“M-mwo?”

“Ya Luhan, aku mencintai pria lain. Aku sadar aku tidak bisa memilikimu seutuhnya karena Xiumin hyung. Jadi selama 1 bulan terakhir ini, aku juga mengencani pria lain” Luhan diam dengan ekspresi datarnya.

 

“Jinjja ya?” Luhan bertanya dengan lemah

“Eung” aku mengangguk beberapa kali untuk menjawabnya

“Putuskan dia” putusnya tegas

“Apa? Aku tidak bisa begitu saja memutuskannya. Kau pikir aku ingin menderita terus menerus karena memikirkan mu?” aku menatapnya, namun tak berani menatap tepat kemanik matanya “Aku juga ingin bahagia dengan orang yang aku cintai dan pastinya juga mencintaiku Luhan. Aku tau kau juga mencintai ku, tapi Xiumin oppa? Itu terlalu sakit Luhan. Jadi aku putuskan untuk meninggalkanmu dan hidup bahagia bersama pria itu”

“Kau tidak akan melakukannya Jae In, aku mengenalmu, kau–“

“Tidak!!!” potongku “1 bulan cukup membuatku berfikir untuk kebahagiaanku sendiri Luhan. Semua orang bisa berubah kapan saja. Butuh waktu 5 tahun untukku merubah ketakutanku untuk menjalin hubungan dengan seorang pria, tapi butuh waktu 1 bulan untukku merubah ketakutanku akan bayang2 kebahagiaan yang tak dapat mungkin ku raih bila bersamamu”

 

Luhan nampak tengah mati2an menahan emosinya. Ku prediksikan ia akan membuka suara dengan lantang dan pedas. Tapi aku salah, ia justru meraih daguku dan mencium singkat keningku. Beberapa tetes cairan hangat dari kedua kelopak matanya membasahi pipiku. Tuhan, dia menangis. Luhan menangis.

 

“Kau benar, kau pantas bahagia. Dan bukan aku orang yang bisa membuatmu bahagia. Pergilah, kejar kebahagiaanmu. Aku akan mendoakan semua yang terbaik untukmu”

 

Serasa ada sesuatu yang meledak dari dalam diriku. Aku bahkan hampir tak dapat merasakan detak jantungku. Tangisku seketika berhenti. Tak ada lagi air mata yang keluar, bahkan ketika melihat Luhan yang tersenyum penuh ketulusan beranjak dari tempatnya dan mengucap ‘selamat tinggal’ sebelum ia melenggang pergi. Meninggalkan ku yang masih mematung menatap punggungnya yang semakin menjauh.

 

“Kau yang terbaik Luhan” gumamku yang masih saja menatap bayangan Luhan yang sudah hampir tak terlihat

 

 

“Xiumin oppa?”

 

Hari ini tidak biasanya Xiumin oppa datang mengunjungiku yang baru pulang bekerja direstoran ayam. Raut wajahnya benar2 tak bersahabat. Ia bahkan menarik lenganku kasar. Yang ada dihadapanku kini adalah sosok lain dari Xiumin oppa yang biasanya selalu manis dan ramah.

 

“Aku tidak akan basa basi denganmu lagi, peringatanku benar2 tak ada gunanya untuk kalian berdua. Aku hanya akan mendengar jawaban yang pasti. Kau ingin meninggalkan Luhan atau Luhan yang meninggalkanmu? Pilih salah satu”

 

Aku mematung ditempatku. Mendadak suara bising anak2 kecil yang bermain tak jauh dari tempatku sekarang ini menghilang begitu saja. Yang terdengar hanyalah kekosongan. Aku ingin tuli saat ini juga, agar aku tak bisa mendengar kalimat itu dari orang yang notabene nya adalah orang yang Luhan hormati sebagai kakak.

 

“Jika kau tetap ngotot seperti Luhan yang ingin mempertahankan hubungan kalian berdua, aku jamin satu hal. Luhan akan membencimu disisa hidupnya”

“Kenapa oppa ngotot sekali ingin memisahkan aku dengan Luhan? Ada yang salah dengan hubungan kami?”

“Ada” jawabnya cepat “Kau” telunjuk kanannya dengan tegas menunjuk wajahku “Kau adalah alasan terbesar yang mendasariku untuk menghancurkan hubunganmu dengan adikku” Xiumin tersenyum remeh setelahnya “Gadis yang orang tuanya bermasalah. Kau pikir aku sudi membiarkan nantinya Luhan menderita karena mu huh? Kau mungkin berbeda dari kedua orang tuamu, tapi ‘buah jatuh tak jauh dari pohonnya’ akan berlaku juga padamu nantinya. Jadi sebelum terlambat, putuskan hubunganmu dengan Luhan. Bagaimanapun caranya”

 

 

Ingatan tentang hari itu kembali terputar nyata dalam otakku. Apa salahnya terlahir dari keluarga yang bermasalah? Jika boleh memilih, aku tidak ingin punya ayah pemabuk, suka bermain wanita, menghambur2kan uang, ringan tangan dan mencampakkan ibu dengan kejamnya. Sedang ibu? Meski dulu ibu juga pernah mencoba menghilangkan stresnya dengan cara mencari lelaki lain, tapi setidaknya tak separah apa yang dilakukan ayah. Ibu masih bisa memperbaiki kesalahannya yang hanya sekali ia lakukan.

 

“Sebelum aku melihatmu tersenyum bahagia dengan seorang wanita yang berdiri disampingmu dipelaminan, aku akan tetap menyimpan cinta ini untukmu Luhan” dan air mataku kembali turun dengan derasnya “Ne sarangi saram… annyeong” gumamku sepelan mungkin

 

-fin-

41 responses to “[Oneshoot] Complicated

  1. Kenapa sad ending 😦
    Alasan xiumin ga setuju sama hubungan mereka berdua cuma itu doang. Kirain aku alasan xiumin ga setuju gara dia juga suka sama jae in.
    Tapi tetep bagus thor

  2. Kok sad ending? Kok kok kok -..-
    Ehhh Luhan sama Jae In aja . Dohh ya ampunnn
    Pemikiran aku awalnya tuh si Xiumin suka juga sama Jae In.
    Tapi disini abang Xiu nyeplos banget ngomongnya, arghhh kesel saya kesel. Ya ampunnnnnn
    Eyy thor, apakah ini cerita nyata? Gak bisa dibuat happy ending? Atau buat sequel dong …

    Keren kok keren
    Keep writing ya^^

  3. Sad ending.. T.T
    Kyaaaa.. umin jahat!..
    Cerita.y keren tp-.. huaaa.. kasihan Luhan ama Jae in..

  4. Pingback: [Oneshot] What Should We Do (Sequel of Complicated) | FFindo·

  5. uh~ nyesek … nyesek sumpah 😥

    aku kira xiumin bakalan ngomong ke jae in klok dia suka ama jae in eh ternyata enggak wkwkwk

  6. huft apa salahnya kalau punya adik ipar yang lahir dari keluarga bermasalah :3 kasihan jae in dan luhan, cinta mereka jadi terpisahkan . huhuhu sedih.
    Bagus author ffnya (y) tetap semangat publis tulisannya iya author:)

  7. kasian banget jae in sama luhannya, gara-gara xiumin nih pake ngelarang segala. jadi sad ending dehT^T

  8. “Butuh waktu 5 tahun untukku merubah ketakutanku untuk menjalin hubungan dengan seorang pria, tapi butuh waktu 1 bulan untukku merubah ketakutanku akan bayang2 kebahagiaan yang tak dapat mungkin ku raih bila bersamamu”

    Oemji!!! Dalem! Sakit! Wkwk Ga nyangka endingnya bakalan bener bener sad ending! 😦

    Kalo menurut aku, Xiumin alesannya ga logis banget deg thor. Jadi kesel akunya wkwkwk

    Kan ceritanya si Jaein nih imut2 gmn gitu, tapi disini kurang dapet kesan ‘imut’ nya gitu thor *sotoy

    Adegan pas Luhan meluk Jaein tuh yang paling nyess…

    Taoi bagooossshh jalan ceritanya. Fighting!!! ^^/

    • Hahahahahaha
      Padahal itu kalimat aku pikir bakal ribet dan sedikit sulit dicerna
      Eh malah ngena
      hwahahahahaha
      Bersyukur aja mah sayanya >.<

      Bikinnya sambil nahan emosi si
      Jadi mungkin kebawa
      hehehehehe

      Yap.
      Dan itu juga yang tak pertanyakan pada orang yang menghilhami (?) karakter Xiumin disini
      Alasan kok g mutu
      *emosi lagi* 3:)

      Haduh imut2nya gimana nih?
      hahahahaha
      Maafkan Jae In yang tak berhasil dikentelkan(?) karakternya O.O

      Alamak
      Kalau aku yang ngena tu pas Luhan akhirnya cium kening Jae in sebelum pergi
      Itu buat Jae In mati rasa. ngejlekk(?) banged

      Hwahahahahahahahaha
      semakin lama kosa kata yang tak gunakan makin absrud
      hehehe

      Halah, balas komen aja juga panjang gini
      hahahaha
      Maafkan daku Gia 😀

      Makasih komennya 🙂
      Fighting 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s