After Kiss (Chapter 3)

After Kiss 3After Kiss

by

Zola Kharisa

Cast: Shin Jisun (OC), Cho Kyuhyun, Lee Donghae, Super Junior’s

Genre: Fantasy, Romance

Rating: PG-15

Length: Short Chaptered

Previous: [Chapter 1] [Chapter 2]

.

“Kau lelah, Kyuhyun? Apa kau masih sakit?”

Kyuhyun yang tengah duduk pada sofa sambil meneguk air putih melirik sekilas Sungmin yang sudah berdiri di sampingnya.

“Sedikit, namun aku tidak sakit Hyung. Hanya butuh istirahat lebih kemarin.”

Sungmin menepuk bahu Kyuhyun pelan. “Kalau ada sesuatu, kau bisa ceritakan padaku.”

Kyuhyun menatap Sungmin sejenak, lalu menghela napas. Sedikit percuma berkata tidak-ada-yang-terjadi pada namja yang sepertinya sudah tahu luar dan dalam dirinya.

Hyung, apa yang akan kau lakukan jika ada seorang gadis asing tinggal di rumahmu?”

Sungmin mengernyit, tidak mengerti arah pembicaraan Kyuhyun. “Mengapa kau menanyakan itu?”

“Jawab saja, Hyung.”

Sungmin terdiam sesaat, lalu berpikir. “Hmm, kalau ada gadis yang tinggal di rumahku… mungkin aku akan melakukan sesuatu padanya,”

Kyuhyun mengernyit. “Sesuatu? Maksudnya apa?”

Sungmin tersenyum jahil. “Kau tidak perlu berpura-pura bodoh Kyuhyun-ah. Kau pasti tahu apa maksudku,” Sungmin mengedipkan sebelah matanya.

Seketika Kyuhyun bergidik melihat Sungmin. “Kurasa kau sudah tertular virus yang disebarkan oleh Si Monyet itu.”

Sungmin tertawa renyah. “Tenang saja, aku hanya bercanda. Lagi pula, mengapa kau menanyakan hal seperti itu? Atau jangan-jangan kau—“

Yaa! Jangan berpikiran macam-macam, Hyung! Aku hanya menanyakan hal itu saja, tidak lebih,” elak Kyuhyun. Perasaannya kini berharap ada seseorang yang dapat membantu menolongnya agar tidak terpojok oleh Sungmin. Bisa gawat jika ia akhirnya harus membeberkan semuanya pada hyung-nya yang manis itu.

“Mukamu memerah—“

“Kyuhyun-ah, apa hari ini kau pulang ke dorm? Oh, ya aku ingin bilang bahwa kalian harus mempersiapkan diri untuk konser SM Town di Jepang minggu depan. Jadi, kau Kyu, jaga kesehatanmu. Aku tidak ingin saat di Jepang nanti kau malah melarikan diri seperti kemarin.”

Kyuhyun mengembuskan napas lega karena pengharapannya terkabul. “Tentu saja, Leeteuk Hyung. Aku minta maaf soal kemarin, awalnya aku berniat pergi ke toilet namun akhirnya malah menuntunku keluar dari gedung.” Kyuhyun melontarkan cengiran yang langsung dibalas tatapan kau-memang-selalu-begitu yang dia dapatkan dari Leeteuk.

“Baiklah, hari ini semua anggota tidak ada jadwal lagi, jadi kita bisa istirahat lebih awal malam ini. Kau akan ke dorm, atau ke apartemenmu, Kyu?” tanya Leeteuk di akhir sambil memandang Kyuhyun.

“Sepertinya aku akan ke apartemen, Hyung. Besok kita masih ada jadwal di KBS, ‘kan? Lagi pula sepertinya aku harus merapikan apartemenku itu.” Kyuhyun beranjak dari duduknya, dan siap melangkahkan kaki keluar dari studio pemotretan sebelum tangan kekar Eunhyuk menahannya.

“Kau tidak sedang demam ‘kan, Kyu? Sejak kapan kau mau rajin-rajin merapikan apartemenmu itu?” Pertanyaan Eunhyuk berhasil menarik perhatian seluruh anggota Super Junior yang ada. Kyuhyun awalnya terlihat sedikit salah tingkah sebelum akhirnya melontarkan cengiran innocent.

“Berubah sedikit demi sedikit bukankah baik?” Kyuhyun tersenyum polos lalu melepaskan tangan Eunhyuk yang menahannya.

Melenggang pergi meninggalkan seluruh anggota Super Junior yang menatap Kyuhyun tidak percaya.

“Bagaimana bisa seorang bocah mengatakan hal seperti itu?” gumam Eunhyuk pelan, sangat pelan.

***

Kyuhyun keluar dari sebuah butik terkenal di daerah Apgujeong. Kedua tangannya menenteng beberapa backshopping dengan senyum yang masih terus merekah di bibirnya. Beberapa orang mulai menatap penuh perhatian pada Kyuhyun—sepertinya mereka mulai menyadari siapa namja di balik topi baseball dan kacamata hitam miliknya.

Kyuhyun nampak tak peduli, namun ia semakin mempercepat langkahnya menuju mobil yang terparkir tak jauh dari butik dengan nama yang sudah mendunia itu, Chanel, ketika beberapa gadis dirasanya mulai mengikuti dirinya. Ia sebenarnya tidak bermaksud untuk tidak melayani para penggemarnya. Tapi pertimbangan yang dia punya juga cukup besar, di mana bisa gawat bila penyamarannya ketahuan di daerah Apgujeong yang semakin malam, semakin ramai. Bisa-bisa ia membuka fans meeting mendadak di tempat itu.

Namja itu menghela napas lega begitu ia sudah duduk di kursi kemudi ketika beberapa orang mulai menjerit memanggil-manggil namanya. Lantas ia menyalakan mesin mobil, dan mulai menjalankan mobilnya melewati hingar bingar jalan raya yang cukup ramai malam itu.

***

“Kau sudah pulang?”

Suara Jisun menyeruak menyambut Kyuhyun yang kini berjalan memasuki apartemennya. Kyuhyun bisa mendengar suara Jisun lebih dominan pada seruan, daripada bertanya.

Kyuhyun mendudukkan tubuhnya di sofa seraya menaruh kantung-kantung belanjaan di atas meja, sementara Jisun sudah melangkahkan kakinya ke dapur.

“Apa kau lelah?” Jisun menyodorkan segelas air putih yang langsung diminum Kyuhyun dalam sekali teguk.

“Cukup lelah. Ah, aku membelikanmu itu. Aku tidak tahu bagaimana kesukaanmu, tapi… semoga kau suka.”

Jisun memiringkan sedikit kepalanya, lalu tatapannya beralih pada kantung-kantung belanjaan yang sudah tergeletak rapi di atas meja. Dengan ragu, Jisun membuka satu per satu kantung-kantung itu dan matanya terperangah tak percaya begitu melihat pakaian-pakaian yang manis, dengan warna pastel mendominasi sudah berada di atas pangkuannya. Lalu, ia membuka lagi kantung yang lainnya, dan menemukan beberapa peralatan make up dan sepatu—mulai dari sepatu flat hingga high heels namun tidak cukup tinggi—mengingat Kyuhyun takut Jisun belum terbiasa memakainya.

“Kau suka?”

 Jisun menoleh pada Kyuhyun dengan pandangan berbinar. “Aku suka! Jeongmal gomawoyo, Kyuhyun!”

Kyuhyun tersenyum simpul menatap Jisun yang terlihat senang. Berarti pengorbanannya pergi ke Apgujeong yang menghabiskan waktu selama satu jam itu tidak berbuah kecewa. Juga dengan pengorbanan waktunya yang seharusnya bisa ia gunakan untuk istirahat lebih lama.

“Oh ya,” suara Kyuhyun menginterupsi, membuat Jisun yang tengah mencoba sepatu flat berwarna coklat kayu itu mendongak. “Kau bilang aku yang membantumu untuk mendapatkan ciuman tulus itu… jadi, apa kau sudah punya rencana? Atau kau tertarik pada seseorang?”

Jisun kembali menegakkan tubuhnya, berpikir sejenak. “Se-sebenarnya ada. Hmm, hanya tertarik, tapi—“

“Siapa?”

“Salah satu anggota Super Junior… Lee Donghae.”

Kyuhyun memejamkan matanya sesaat dan menghela napas. Mengapa gadis-gadis seperti tidak memiliki pilihan lain selain hyung-nya yang satu itu? Mengapa harus Lee Donghae dan, Lee Donghae? Mengapa tidak Eunhyuk atau Ryeowook?

“Kyuhyun,”

Kyuhyun membuka matanya dan menatap bola mata cokelat milik Jisun. “Minggu depan Super Junior dan artis naungan manejemenku lainnya akan mengadakan konser SM Town Di Jepang. Apa kau mau ikut?”

Jisun tampak heran dengan reaksi Kyuhyun yang datar, tak terkejut dengan pengakuan spontan Jisun bahwa dia tertarik dengan namja berjulukan ikan itu.

“Apa boleh?”

“Tentu saja,” Kyuhyun bangkit dari sandarannya. “Aku bisa memberikanmu tiket VVIP gratis, di mana mungkin hanya kau saja yang bisa mendapatkannya. Aku akan membawamu ke belakang panggung dan berkenalan dengan anggota Super Junior. Bagaimana?”

Mendengar tawaran menggiurkan itu Jisun mengangguk mantap. “Tentu aku mau! Hmm, apa aku harus memberi imbalan?”

Kyuhyun beranjak dari duduknya. “Tentu.”

Bahu Jisun perlahan turun mendengar apa yang diucapkan Kyuhyun tadi. Kali ini, namja itu ingin mendapatkan imbalan apa darinya?

“Imbalannya adalah sekarang kau harus menyiapkan aku air panas. Aku ingin mandi, Jisun.”

Jisun mendongak tak percaya, namun beberapa detik setelah itu tersenyum lebar. “Kukira apa. Baiklah, tunggu lima menit lagi dan semuanya akan siap, Tuan Cho!”

***

Jisun mengecek isi koper kecilnya. Ia hanya diperbolehkan membawa koper kecil oleh Kyuhyun karena selama di perjalanan, Jisun akan kembali pada sosok kupu-kupunya terlebih dahulu. Sedangkan yang akan membawa koper kecil milik Jisun adalah Kyuhyun. Namja itu tidak ingin repot membawa dua koper besar sekaligus, sehingga Jisun hanya diperbolehkan membawa beberapa baju dan minimal dua sepatu saja untuk dimasukkan ke dalam kopernya.

“Jisun-ah, ppalli!”

Jisun tersentak ketika mendengar suara berat Kyuhyun. Buru-buru ia menutup resleting kopernya dan merapikan tatanan pakaian serta rambutnya di depan cermin.

“Mengapa kau la—“ Kyuhyun menggantung ucapannya ketika dilihatnya Jisun keluar dari kamarnya. Matanya memandang Jisun tidak berkedip. Gadis itu nampak sangat cantik dalam balutan dress berwarna biru langit dengan high heels berwarna senada. Rambut cokelat tua panjangnya dibiarkan terurai, menutupi sisi leher jenjang gadis itu. Sementara dress sampai lututnya terlihat sangat pas membalut tubuh, pinggangnya yang ramping, dan kaki jenjangnya nampak terekspos dengan baik. Kyuhyun yang melihat itu yakin bahwa beberapa orang yang seandainya melihat Jisun saat ini akan berpikir bahwa Jisun seorang model. Melihat betapa menawannya gadis itu sekarang.

“Kau terpana melihatku?” Suara Jisun menyentakkan Kyuhyun kembali pada kehidupannya sekarang. Sedikit salah tingkah lantaran tertangkap basah tengah memandang gadis itu kagum. Sementara sebagai pengalihan, Kyuhyun mengusap lehernya pelan.

“Ah, sepertinya kita harus berangkat sekarang,” Kyuhyun berbalik, dan hendak melangkahkan kakinya ketika Jisun menahan pergelangan tangannya.

“Bukankah anggota Super Junior yang lain menunggu di bawah? Kau tidak akan membiarkanku berjalan bersamamu, bukan?”

Bagai tersadar, Kyuhyun tersenyum tanpa dosa. “Aku lupa,” Kyuhyun mendekatkan wajahnya pada wajah Jisun. Sementara rona merah mulai menjalari pipi gadis itu. Selalu. Jantungnya selalu berdegup dengan cepat dan pipinya akan terasa memanas setiap Kyuhyun berniat mengecupnya. Begitu pula dengan Kyuhyun, kalau saja ia tidak berpikir bahwa itu semua dia niatkan untuk membantu gadis di hadapannya dan gadis itu baru dikenalnya kurang dari sepuluh hari, mungkin ia sudah tidak akan lagi mengecup gadis itu selain di bibir. Mungkin.

Cup. Satu kecupan mendarat di dahi mulus Jisun. Dan gadis itu merasa ada yang aneh ketika Kyuhyun mengecupnya cukup lama dari biasanya. Seolah-olah, Kyuhyun sedang tidak diburu waktu atau memang ingin berlama-lama mengecup dahi Jisun.

Kilatan cahaya putih dengan cepat memenuhi ruang tamu apartemen Kyuhyun ketika dia melepas kecupannya. Namja itu tahu persis apa yang akan terjadi. Sosok cantik Jisun tidak akan ada dalam penglihatannya lagi sampai beberapa jam ke depan. Digantikan dengan seekor kupu-kupu yang memiliki warna terlalu langka, namun dengan roh yang sama pada gadis yang beberapa menit lalu berada di hadapannya.

“Kalau begitu, kita berangkat sekarang,” ujar Kyuhyun meski ia tahu tidak akan mendapat sahutan. Tangan kirinya mengambil alih koper Jisun, sementara kupu-kupu itu—baca: Jisun—lebih memilih terbang seirama dengan langkah kaki Kyuhyun yang meninggalkan apartemen.

***

Kyuhyun sudah duduk dengan nyaman saat pesawat pribadi milik S.M. Entertainment diberi tahu akan segera lepas landas. Koper-kopernya sudah ditaruh di dalam bagasi. Sementara tentang Jisun, gadis itu dengan wujud kupu-kupunya kini hinggap di bahu Kyuhyun—tidak berani terbang ke sana kemari takut-takut pihak yang tidak diinginkan malah membuangnya keluar dari dalam pesawat. Oh, memikirkannya membuat Jisun bergidik.

“Sepertinya Sungmin tidak duduk di sini,”

Kyuhyun yang baru saja terpejam kini harus membuka kembali kelopak matanya ketika sebuah suara yang familiar untuknya terdengar.

Hyung, kau tidak duduk dengan pasanganmu itu?” Kyuhyun menolehkan kepalanya ke samping, dan berdecak pelan begitu melihat Sungmin sedang asyik mengobrol dengan Eunhyuk.

Donghae mengempaskan tubuhnya di samping Kyuhyun. “Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu. Aku tidak ingin mengganggu mereka.”

Kyuhyun mengangguk, lalu baru saja akan kembali menutup mata ketika tiba-tiba otaknya teringat sesuatu.

Hyung,”

“Hmm,”

“Ada salah satu kenalanku ingin bertemu denganmu. Hmm, dia bukan seorang ELF atau pun penggemar dariku atau pun darimu. Tapi… dia ingin bertemu denganmu setelah konser nanti malam. Bagaimana? Kau mau?”

Mata Donghae yang semula terpejam kini terbuka. “Seorang gadis?”

Ne. Namanya Jisun, Shin Jisun.”

Donghae mengangguk. “Boleh saja,”

Kyuhyun tersenyum samar. “Baiklah, akan aku kenalkan gadis itu padamu nanti.”

Donghae mengangguk sekali lagi. Lalu, keduanya sudah mulai memejamkan mata. Tidak tidur, hanya sebagai gambaran kalau mereka sedang istirahat dan diharap tidak ada seseorang yang mengganggu mereka.

Sementara Jisun dalam wujud kupu-kupunya yang mendengar itu sedikit terkejut. Jantungnya bergerak lebih pelan. Ia tidak sabar dapat bertatap muka dengan Donghae secara langsung.

Dan semoga harapannya untuk menjadi manusia seutuhnya, mendapat titik terang.

***

Semua anggota Super Junior selain Kyuhyun, manejer, dan para kru sudah berjalan menuju kamar hotel masing-masing. Kyuhyun masih berada di meja resepsionis, meminta satu kamar kosong lainnya untuk gadis yang kini sedang menjelma menjadi kupu-kupu.

“Apa masih ada satu kamar kosong lain?”

Sang karyawan itu mengangguk. “Jika itu untuk Anda yang meminta, saya bisa memberikan satu kamar kosong yang tersisa di lantai yang di-booking oleh manejemen Anda. Tapi kalau untuk umum, ada beberapa kamar kosong lain namun berada beberapa lantai di atas kamar Anda.”

Kyuhyun berpikir sejenak, menimbang-nimbang kamar mana yang lebih baik untuk Jisun.

“Hmm, kalau begitu saya ambil untuk umum saja. Kamar dengan kelas eksekutif, dan pencahayaan yang baik serta dapat melihat citylights dengan jelas saat malam. Ada?”

Karyawan itu tampak melihat-lihat layar LCD di depannya. “Ada. Tiga lantai di atas kamar Anda, Tuan.”

“Baiklah, saya ambil yang itu.”

Kyuhyun menyerahkan kartu kreditnya. “Dan tolong diprivasi. Saya tidak ingin terjadi sesuatu pada teman saya nanti.”

Karyawan itu mengangguk, lalu tak lama kemudian mengembalikan kartu kredit Kyuhyun. “Hotel kami adalah yang terbaik di Jepang. Kami akan memperketat penjagaan jika Anda menginginkannya,” sahut karyawan itu seraya memberikan kunci kamar pada Kyuhyun.

“Semoga pelayanan kami membuat Anda puas,” lanjut karyawan itu lagi. Sementara Kyuhyun hanya membalas dengan sebuah senyuman dan berlalu menuju lift.

***

Jisun mengempaskan tubuhnya di atas tempat tidur yang nyaman. Matanya terpejam, menikmati suasana kamarnya yang terasa hangat dan… entahlah, dia tidak bisa mendeskripsikannya dengan jelas.

Setelah Kyuhyun mengecup sayapnya, tubuhnya kembali menjadi manusia. Dan sekarang, ia bisa menghirup udara dengan bebas sesukanya.

“Aku harus pergi sekarang. Terimalah ini,” Kyuhyun menyadarkan Jisun bahwa dunia bukan milik gadis itu seorang. Refleks Jisun bangun sekaligus tangannya menangkap sesuatu yang dilempar namja itu.

“Ponsel?” tanya Jisun bingung.

“Kau bisa menghubungiku jika kau butuh bantuanku. Tekan angka satu untuk panggilan cepat padaku. Siang ini hingga sore aku akan pergi bersama member lainnya ke Tokyo Dome untuk survei.”

Jisun mengangguk-angguk. “Kau akan kembali ke sini?”

“Aku akan menjemputmu nanti.” Kyuhyun tersenyum lalu berbalik meninggalkan Jisun yang kini sudah berkutat pada koper kecil yang dibawanya.

Jadi, baju apa yang harus kupakai untuk konser nanti malam?

***

Suara terdengar begitu riuh di dalam stadion berkapasitas hampir seratus ribu orang. Sorak sorai penonton malam itu tak henti-hentinya terdengar, bahkan ketika konser tersebut masih butuh waktu beberapa puluh menit lagi sebelum dimulai.

SM Town, proyek yang digunakan oleh S.M. Entertainment yang terdiri dari artis-artis papan atas Korea yang berada di bawah label tersebut, kini mengadakan konser ketiga kalinya dalam kurun waktu lima tahun. Konser yang bertajuk SM Town Live World Tour III ini sukses membawa ratusan ribu penggemarnya di dalam konser mereka. Dengan harga tiket yang bervariatif, dan kemampuan para artis yang bernaung di bawahnya, konser ini menjadikannya termasuk salah satu konser terbesar tahun ini.

Seorang gadis dengan balutan kaus putih tanpa lengan yang dipadukan jaket berbahan denim, dan celana jins pensil keluaran Chanel membuatnya tampak terlihat sederhana namun menawan. Sebut saja gadis itu, Jisun. Ia sudah duduk di antara puluhan ribu penonton yang juga ikut menonton konser. Senyumnya juga terus berkembang di bibirnya, manakala hatinya tidak sabar melihat penampilan para artis papan atas Korea yang memiliki penggemar hampir di seluruh dunia.

Dan juga, melihat penampilan Kyuhyun secara langsung.

***

Konser ditutup dengan kemunculan seluruh artis SM Town di atas panggung. Jeritan penonton tak henti-hentinya terdengar saat awal konser dimulai bahkan ketika di akhir konser seperti ini. Jisun hampir saja merasa kalau telinganya itu tuli untuk beberapa menit. Namun semuanya terasa terbayar ketika dilihatnya para artis SM Town melambai ke arah penonton, tersenyum, seolah-olah mereka semua adalah keluarga. Atau mereka semua memang satu keluarga besar.

Namun mendadak Jisun merasa ada sesuatu yang ganjil ketika dari kursi VVIP-nya—yang sebenarnya kursi VIP—melihat beberapa anggota Super Junior berangkulan dan saling perpegangan tangan dengan beberapa anggota Girls Generation dan f(x). Tak terkecuali dengan Kyuhyun, yang menurut pandangan dan sepengetahuan Jisun kini sedang merangkul Sunny dari Girls Generation, dan tangan kirinya tengah dimain-mainkan oleh Sulli f(x).

Tunggu, mengapa aku harus merasa sedikit tidak suka? Oh ayolah, dia bukan siapa-siapamu, Jennifer.

Namun pandangan Jisun seakan tidak bisa lepas dengan sosok Kyuhyun yang kini sedang tertawa lepas. Dan perasaan Jisun semakin terasa ganjil ketika ia mengingat Kyuhyun belum pernah tertawa selepas itu saat bersamanya.

Jangan konyol, dia memang tidak pernah tertawa lepas ketika bersamamu karena kalian memang tidak pernah melakukan hal yang berbau lelucon.

Tersentak akan gagasan itu, Jisun menjatuhkan lightstick-nya ke bawah kursi. Ia berusaha menggapainya, dan ketika berhasil, ia dikejutkan oleh salah satu gadis yang tiba-tiba menegur di sampingnya.

“Kau orang Korea?”

Jisun menghela napas begitu tahu gadis yang menegurnya itu bukan orang Jepang. “Iya.”

Gadis itu tersenyum seraya mengulurkan tangan. “Akhirnya… kenalkan, Jung Soorin imnida. Kau terlihat tidak seperti orang Eropa.”

“Shin Jisun imnida. Aku memang bukan keturunan Korea.” Jisun menyambut uluran tangan itu dengan gugup sembari tersenyum tipis.

Soorin mengangguk-angguk, tiba-tiba berceloteh, “Aku sudah lama ingin menonton konser ini. Semenjak konser ini dimulai beberapa tahun yang lalu, aku sudah menabung sampai sekarang. Dan ternyata kesampaian juga,” dia tersenyum pada Jisun.

Sepertinya para fangirl memang ramah tamah, Jisun membatin.

“Kau ELF?” tanya Soorin ketika melihat Jisun memegang lightstik berwara biru safir.

“Ah,” Jisun tampak salah tingkah. “Iya.”

Mata Soorin melebar. “Benarkah? Wah, berarti kita sama! Tidak sedikit yang datang hanya karena sekadar suka, bukan benar-benar penggemar.” Soorin mengacungkan lightstick-nya yang berwarna serupa dengan Jisun. Sementara Jisun hanya menanggapi dengan senyuman hingga mata.

“Siapa anggota Super Junior yang kau suka?”

Jisun terkejut mendengar pertanyaan Soorin yang terlihat menggebu-gebu. “Hmm, semuanya.”

Mata Soorin membelalak. “Benarkah? Ah, apa kau tidak tertarik dengan salah satu di antaranya? Kalau aku, favoritku… Cho Kyuhyun!”

Jisun yakin jika ia sekarang sedang minum atau makan, mungkin ia akan tersedak saat ini juga. “Cho… Kyuhyun? Apa yang kau suka darinya?”

“Semuanya!” Mata Soorin menatap lurus ke arah panggung. “Dia tampan, suaranya sangat bagus, dan yang terpenting dia adalah seorang magnae!”

Jisun mengernyit. “Mengapa magnae menjadi bagian yang terpenting?”

Soorin tersenyum penuh arti. “Karena umurku dengannya tidak jauh beda. Yah, mungkin saja suatu saat aku bisa menjadi kekasihnya?”

Jisun yang mendengar itu memutar bola matanya. “Apa dia terlihat seperti sedang single?”

Soorin mengernyit, bingung begitu mendengar suara Jisun yang terdengar dingin. “Kau kenapa? Ah, kurasa ia sedang dekat dengan salah satu anggota Girls Generation. Nah, itu! Lihatlah!”

Jisun dengan malas menoleh ke arah yang ditunjuk Soorin. Dan mendadak perasaan ganjil itu semakin merasukinya.

“Kyuhyun dan Seohyun… terlihat serasi, bukan?”

Jisun tidak menjawab, lebih memilih fokus pada dua sejoli yang kini sedang tertawa lepas di atas panggung. Sang namja dengan pistol mainan airnya kini terlihat tengah menyemprot rambut sang yeoja. Sementara sang yeoja tidak mau kalah, ia membalas sang namja dengan mencipratkan air dari botol minumnya.

“Hei, kau tidak apa-apa, Jisun-ssi?”

Jisun tersentak lalu buru-buru menggeleng. “Tidak apa-apa, aku hanya—ne, mereka terlihat serasi.”

Soorin menatap Jisun sejenak lalu tersenyum tipis. “Sepertinya kau tertarik dengan salah satu anggota Super Junior,”

Jisun mengangkat bahu. “Siapa?”

“Cho Kyuhyun. Menurutku kau tertarik padanya, pandanganmu mengatakan kalau kesimpulanku selama beberapa menit ini tidak salah.”

***

Kesuksesan hari pertama konser SM Town di Jepang kali ini membuat Lee Soo-Man, pendiri sekaligus tetua S.M. Entertainment ikut serta turun ke lapangan secara langsung. Leeteuk mendapat pelukan hangat pertama kali saat Lee Soo-Man berada di belakang panggung dan memberi ucapan selamat pada artis yang bernaung di bawah labelnya. Kyuhyun yang berdiri tak jauh dari Leeteuk juga mendapatkan pelukan ketiga kalinya dari Lee Soo-Man, dan sebuah ungkapan pujian yang membuat roh namja itu terbang sementara.

 “Kau tampil luar biasa, Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun yang mendengar itu berterimakasih beberapa kali dan mengembangkan senyumnya. Untuk kesekian kalinya, ia mendengar ungkapan pujian dari mulut seorang yang amat diseganinya.

Hampir satu jam berlalu semenjak konser berakhir. Ratusan ribu penonton itu belum sepenuhnya keluar dari arena stadion. Beberapa masih berdesak-desakkan, sementara yang lainnya masih berbaris rapi di belakang—tak terkecuali dengan Jisun, yang mendapatkan pesan dari Kyuhyun bahwa selesai dari konser malam ini, ia tidak bisa menemuinya di belakang panggung akibat situasi yang tidak memungkinkan. Jadi, mereka akan bertemu di kafe hotel malam ini. Bertemu dengan Kyuhyun dan juga, Donghae.

***

Jisun mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kafe. Lima menit yang lalu, ia mendapat pesan dari Kyuhyun bahwa namja itu sudah berada di sana. Matanya meneliti satu per satu pengunjung kafe yang ada, sebelum tatapannya berhenti pada dua sosok namja dengan segala rupa penyamarannya sudah duduk di ruangan yang berbeda di dalam kafe itu. Dinding ruangan tersebut masih berupa kaca, sehingga Jisun dapat melihat dua sosok namja meski terlihat samar-samar.

“Anda Nona Shin?”

Seorang pelayan menegur Jisun dengan bahasa Korea yang terdengar lancar ketika gadis itu baru saja ingin melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan. Jisun tersenyum seraya mengangguk.

“Anda sudah ditunggu oleh Tuan Kyuhyun dan Tuan Donghae.”

Suara pelayan itu terdengar memelan ketika menyebutkan nama dua orang itu. Lalu Jisun mengangguk lagi sebelum langkahnya menggiringnya jauh lebih dalam.

Jantungnya berdegup seirama dengan langkahnya yang dibuat memelan. Dari ekor matanya ia bisa melihat Kyuhyun tengah menatapnya, sementara Donghae duduk dengan posisi memunggunginya.

A-Annyeong,”

Kyuhyun dan Donghae serempak menoleh. Kyuhyun memasang ekspresi tenang—karena memang ia sudah melihat Jisun dari kejauhan dengan posisi duduknya yang menghadap pintu masuk—namun Donghae, tampak tertegun sejenak.

Jisun yang merasa diperhatikan Donghae akhirnya bersuara. “Shin Jisun imnida. Maaf membuat waktu berhargamu terbuang.”

Donghae masih memperhatikan wajah Jisun yang dibalut dengan make up tipis, namun sudah terlihat begitu rupawan. Penampilannya memang bisa terbilang sederhana, namun jaket denim itu memberi kesan lain yang ditangkap mata Donghae. Entah apa.

Donghae tersenyum. “Kurasa aku tidak perlu memperkenalkan diri,” cengiran tanpa dosanya terukir. “Silahkan duduk, Jisun-ssi.”

Jisun mengangguk, lalu mengambil tempat duduk di antara mereka berdua.

“Kau habis menonton konser kami?” Donghae memulai pembicaraan ketika mereka bertiga sudah selesai mengatakan pesanannya pada seorang pelayan.

“Ah, iya,” sahut Jisun gagap saat menyadari sebuah lightstick masih berada di genggamannya, buru-buru ia memasukkannya ke dalam tas.

Donghae menahan senyum. “Kau salah satu penggemar kami?”

Jisun mengangkat alis. “Hmm, sebenarnya bukan. Tapi aku suka lagu-lagu kalian.”

“Lagu apa yang kau suka dari penampilan kami saat konser tadi?”

“Aku suka saat kalian menyanyikan lagu Sorry, Sorry dan U.”

“Oh, itu juga salah satu lagu favoritku. Apa kau menyukai artis SM Town lainnya?”

“Aku suka semuanya!”

“Bisakah kau memilih salah satu?”

“Hmm, Super Junior saja.”

“Mengapa terdengar memaksa sekali, Shin Jisun?”

“Kalau aku bilang lebih suka SHINee, apa pendapatmu?”

“Kau harus lebih menyukai Super Junior dulu, baru SHINee.”

“Ck, berarti aku harus tetap memilih Super Junior, ‘kan?”

“Tentu saja!”

Jisun dan Donghae lantas terkekeh geli. Sementara Kyuhyun merasa terabaikan—tidak, ia seperti merasa ada sesuatu yang salah dari dirinya. Tapi, namja itu tidak tahu dengan persis apa itu.

Perasaan terbaikan Kyuhyun menghilang sesaat ketika seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka. Dan namja itu baru menyadari bahwa menu yang dipesan oleh Jisun dan Donghae sama. Hot Cappuccino dengan penambahan cokelat bubuk di atasnya.

Dan mengetahui itu, Kyuhyun merasa suatu perasaan salah tersebut kembali merasukinya.

“Kau juga menambahkan cokelat bubuk di atasnya?”

“Rasanya kita mengucapkan kata-kata itu bersamaan kepada pelayan tadi.”

“Kau benar.” Donghae tertawa, diikuti pula Jisun. Sementara Kyuhyun hanya mengaduk-aduk malas Coffee Latte-nya dengan tidak berselera.

Pikirannya kini kembali berkutat pada suatu perasaan salah ketika melihat Donghae dan Jisun tertawa bersama di depan matanya.

***

“Terimakasih, Kyuhyun.” Suara Jisun terdengar dari ambang pintu kamar hotelnya. Kyuhyun hanya tersenyum seadanya dan bersiap melangkah pergi ketika mendadak tangan Jisun sudah menarik pergelangan tangannya.

Jisun tampak ragu. “Bisakah kau… menciumku? Efeknya tinggal bertahan satu jam lagi, dan aku tidak ingin tidur dalam kondisi berwujud kupu-kupu.” Jisun mengeluarkan tatapan meminta, membuat desahan frustrasi keluar dari bibir Kyuhyun.

Kyuhyun melirik ke arah kiri dan kanannya. Lorong hotel itu sepi, namun Kyuhyun tak ingin mengambil risiko.

Ia berbalik alih menarik pergelangan tangan Jisun masuk ke dalam kamar hotel gadis itu. Ditutupnya pintu kamar dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih menggenggam erat pergelangan tangan Jisun.

“Bisakah—“

Ucapan Jisun tidak berlanjut begitu Kyuhyun menyudutkannya ke dinding. Kedua tangan namja itu berada di samping wajah Jisun, sementara kedua matanya menatap Jisun lekat-lekat.

Jisun menyadari jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Bahkan semakin cepat begitu Kyuhyun memiringkan kepalanya dan perlahan wajahnya mendekat maju. Jisun menegak air liurnya susah payah. Keringat mulai membasahi pelipisnya.

Terpaan napas Kyuhyun membuat Jisun memejamkan mata—meski ia tidak ingin, namun tubuhnya merespon hal yang berbeda.

Oh Tuhan, selamatkan aku!

Kyuhyun hampir saja ikut memejamkan matanya ketika kesadarannya kembali terkumpul. Lantas ia menjauhkan sedikit wajahnya, lalu dengan perlahan memberi tiga kecupan di pipi putih gadis itu. Matanya menyusuri wajah Jisun lamat-lamat, dan berhenti di bibir merah mudanya dan seketika saja Kyuhyun terenyak, tiba-tiba keinginan untuk mencium gadis itu begitu mendominasi.

Sementara Jisun terperangah dan membuka matanya. Mendapati pipinya yang terasa sialan panas, cepat-cepat dia menunduk.

“Maaf,” ucap Kyuhyun sesal hampir berbisik. Jisun mendongak dan tersenyum canggung.

“Kau tidak perlu meminta maaf padaku, Kyuhyun,” ujar Jisun, sama pelannya.

TBC.

Masih ada yang inget sama cerita ini? Semoga aja enggak kelamaan postingnya 😀 

Oke, bab selanjutnya akan aku post kalau komentarnya nembus angka harapan, jadi dimohon kesediaannya untuk memberikan apresiasi. Terimakasih!

47 responses to “After Kiss (Chapter 3)

  1. Astaga, baca tulisan kamu kayak baca tulisan Ilana Tan. Selalu keren dengan bumbu romansa dan fantasi yang pas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s