[Oneshoot] It’s You

Hai, ini bukan FF saya melainkan FF titipan. Setelah membacanya, dimohon memberikan apresiasi dalam bentuk komentar ya. Terima kasih.

It’s You

its-u

Poster by : oxybsh

Title:  It’s You || Author: LE || Genre: Romance, School-life, AU || Rating: General || Lenght: Vignette || Main casts: Oh Soojin (OC) ; Choi Junhong/Zelo (BAP)

 

a/n: Ini FF sequel dari You’re My Idol , request dari readers yang kurang puas dengan FF itu dan mumpung ada ide jadilah sequel jinhong version hehe. Jika ada kesamaan nama tokoh, alur, dll itu ketidaksengajaan karena cerita ini murni dari otak author yang mulai berasap (?). Terimakasih banyak untuk kak diajengdeaa yang berbaik hati memposting FF ini. Semoga dapat menghibur^^

 

***

 

Jika kau pernah merasakan apa itu cinta pertama… maka selamanya kau tak akan bisa melupakannya.

Gadis belia dengan rambut ikal yang dikucir kuda sedang meremas kertas putih tulang dalam genggaman tangan kanannya. Bibir kemerahmudaannya mengerucut, sesekali menggumamkan kata-kata yang tidak jelas, seperti umpatan. Sejenak ia memejamkan matanya lalu menarik napas dalam dan dikeluarkannya secara pelan-pelan.

“Ini keterlaluan.”

Gadis dengan tinggi 158 cm membuka matanya kembali dan melihat pemandangan yang tidak asing lagi sejak tiga hari yang lalu. Disini ia berdiri di tepat depan kelas yang setiap harinya dikerumuni gadis berseragam sekolah seusianya, bahkan ia tak jarang melihat sunbae-nya yang sedang berjajar rapi di depan kelas 1-A untuk mengintip seseorang lewat jendela kelas yang terbuat dari kaca transparan tersebut.

Ck, apa-apaan mereka.” Gadis itu berdecak sebal,  melipat kedua tangannya didepan dada dengan masih tak berhenti meremas kertas di dalam genggaman tangan kanannya –sebuah kebiasaan unik jika gadis berusia 13 tahun sedang dalam situasi kesal dan dongkol.

Ia melangkahkan sepasang kakinya dengan sedikit hentakan menuju ke kelas tersebut, meski bukan kelas dimana ia menghabiskan sepertiga harinya untuk belajar.

“Kudengar dia pindahan dari Amerika…”

“Ya, dia adik dari fashion desainer asal Korea Selatan yang terkenal di Amerika-“

“-Jecelyn Choi?!”

“Wooahh.. kudengar nilai akademisnya sangat baik dan meminta beasiswa…”

“Kenapa beasiswa? Dia kan kaya?”

“Entahlah aku juga tidak ta-”

“ –Siapa yang kau bicarakan?”

“Oh Soojin?!” Tiga siswi yang mengintip di balik jendela terjengkit kaget saat mereka menemukan gadis cantik berkucir kuda yang sedang menyeringai dibelakangnya. Gadis itu –Oh Soojin maju selangkah mendekati tiga siswa yang notabenenya adalah teman seangkatannya.

“Siapa yang kalian maksud? Siswa baru itu lagi?” tanya Soojin dengan ekspresi penasaran sengaja dibuat-buat. Tak perlu menunggu jawaban dari ketiga siswi didepannya, Soojin memajukan badannya dan mendesak di antara siswi lain yang berjajar rapi di dekat jendela kaca yang memanjang tersebut.

Sepasang bola mata Soojin bergerak horisontal hingga tatapan matanya berhenti tepat di sebuah obyek yang membuatnya menganga.

Terlihat bocah laki-laki yang sedang duduk manis di bangku pojok kelas dengan menulis entah apapun yang Soojin sendiri tidak terlalu tau menahu dengan pasti apa yang sedang dilakukan bocah laki-laki tampan tersebut.

Bukan karena ketampanan siswa baru yang baru genap tiga hari masuk sekolah Seoul Junior Highschool yang membuat Soojin dengan sempurna memincingkan mata dengan bibir yang mengerucut.

Ia terlalu sebal dan panik sendiri, sebenarnya. Gadis itu hendak ‘melabrak’ siswa baru tersebut akibat rasa penasaran akut yang selalu memenuhi otaknya semenjak melihat wajahnya yang tidak familiar dan selalu ia ingat.

“Jelas sekali dia Junhong.” Soojin menggumam, untuk kesekian kalinya.

“Apa aku harus menanyakan langsung?”  batin Soojin menimang-menimang, sejujurnya tujuan Soojin berdiri disini ialah memastikan bahwa siswa baru tersebut adalah benar-benar Choi Junhong –teman masa kecilnya.

Ia memutar tubuhnya lalu berjalan dengan langkah ragu.

Tepat di depan pintu kelas yang setengah terbuka Soojin memberhentikan langkahnya. Tangan kanannya masih meremas kertas putih tulang yang sudah tidak berbentuk lagi dan lusuh. Soojin mendesah pelan. Tangan kirinya yang bebas di udara kini ragu untuk membuka pintu kelas lebih lebar lagi agar dia dengan leluasa bisa masuk ke dalam kelas tersebut.

Gadis cantik berkulit putih itu terlalu gugup. Ia menarik tangannya kembali.

“Ayo Soojin! Kau harus berani!”

Soojin melempar kertas lusuh ke arah tong sampah terdekat, meski jaraknya agak jauh ternyata tepat sasaran. Kemudian gadis itu mengangkat sedikit wajahnya, terkesan percaya diri. Semangatnya tumbuh seiring dengan rasa penasaran yang kian menjadi tatkala ia berhasil melangkahkan sepasang kakinya masuk ke dalam kelas yang diisi oleh beberapa murid yang ia sendiri tidak mengenalnya satu per satu, terlalu asing.

Awalnya banyak murid di dalam kelas maupun diluar kelas yang bingung dengan kehadiran Soojin yang notabenenya adalah siswi populer di sekolahnya, apalagi Soojin hendak menghampiri siswa baru pindahan dari Amerika tersebut.

Ya, Soojin memang populer di sekolah karena kecantikannya, meski dia masih menyandang sebagai hoobae tak sedikit murid Seoul Junior Highschool entah seangkatan maupun sunbae yang tau namanya.

Dengan langkah tegas dan percaya diri Soojin menghampiri siswa baru yang masih sibuk dengan dunianya. Kemudian Soojin memberhentikan langkahnya tepat di samping mejanya. Soojin selalu menyebut nama bocah laki-laki yang sedang menundukkan kepalanya tersebut adalah Junhong, meski ia ragu apa memang benar siwa baru tersebut benar-benar teman lamanya.

Atau jika ia mau, Soojin menyebutnya dengan sebutan cinta pertama.

“Hai.” Soojin menyapa, ia menggoyangkan tangan kanannya dengan canggung. Meski ia tau bocah laki-laki di depannya masih dengan menundukkan kepala sedang tidak melihatnya.

Bocah laki-laki tersebut mengangkat wajahnya lalu menolehkan sedikit ke kiri. Dilihatnya gadis cantik dengan kuncir kuda yang tersenyum kikuk ke arahnya.

“Ada apa?” sahutnya enteng.

Soojin menurunkan sudut bibirnya.

Sebenarnya Soojin ingin sapaannya di balas, atau jika tidak bocah laki-laki itu terkejut kemudian bertanya,

‘Apa kau Soojin?’

Oh ayolah, semua itu hanya bayangan Soojin belaka. Soojin terlalu berharap lebih.

“Apa dia lupa?”

“Ah.. itu aku mau tanya..” Soojin menggantungkan kalimatnya. Ia bingung dan gugup. Sekarang ia merasa kedua tangannya yang mengepal mendadak lemas.

“… apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Soojin untuk memancing bocah laki-laki berambut coklat itu untuk mengakui. Mengakui kalau dia adalah temannya. Soojin sangat berharap bocah laki-laki yang kini menggaruk dagunya benar-benar Junhong –temannya saat masih dibangku TK yang sudah lama pergi. Soojin merasa temannya itu kembali meski tidak dengan nama Junhong, atau apapun itu namanya.

Yang Soojin tau bahwa siswa baru di depannya namanya Junhong. Choi Junhong.

“Dimana?”

Bocah laki-laki itu berdiri dari duduknya menatap Soojin dengan lekat. Soojin terkesiap, awalnya ia menunduk karena malu tapi setelah mendengar respon bocah laki-laki yang sepertinya benar-benar lupa dengannya mendadak mengangkat wajahnya, atau lebih tepatnya mendongak karena Soojin lebih pendek darinya. Ya, bocah laki-laki seusianya pasti tidaklah setinggi ini.

“A-apa?” Soojin terbelalak. “K-kau melupakanku?” tanya Soojin reflek, ia menatap wajah bocah laki-laki di depannya yang kini tengah membuang muka.

Bocah laki-laki itu tidak menjawab, ia lebih menikmati pemandangan langka di dalam maupun di luar kelas.

Mungkin Soojin masih belum menyadari kalau dirinya kini menjadi pusat perhatian. Para murid kini tengah menatapnya heran, seperti tontonan mengasyikkan yang patut dilihat –mungkin.

“Katakan Junhong-ah, itu kau kan?” Soojin bertanya lagi, ia sangat yakin bocah laki-laki di depannya adalah benar Junhong –teman kecilnya dulu yang kini beranjak remaja dan semakin tampan.

Bocah laki-laki itu menghela napas, “Aku Zelo..”

“..dan sepertinya kita tidak pernah bertemu.” Lanjutnya, Soojin yang mendengar itu membulatkan kedua matanya.

“Tidak mungkin.”

Zelo kini kembali duduk di bangkunya. Sedangkan Soojin masih berdiri dengan mulut yang menganga, gadis itu terlalu tidak percaya dan terkejut dengan respon Zelo diluar dugaannya.

Soojin merasa kedua bola matanya memanas.

“Kau bohong.”

Soojin berbalik lalu berjalan cepat untuk keluar dari ruang kelas. Dengan sesekali mengusap ujung matanya yang mengeluarkan air mata. Soojin menangis.

Soojin sangat kecewa.

Dengan berkali-kali menabrak murid lain, Soojin terus berjalan sepanjang lorong sekolah sampai akhirnya ia memberhentikan langkahnya tepat berada di dalam gudang sekolah yang sepi.

Ia terisak sendirian di sana.

“Kau jahat Junhong-ah..” Soojin menendang tembok gudang dengan kesal, melampiaskan seluruh kekecewaannya.

Gadis yang baru menginjak masa puber itu memberhentikan aksi menendang tembok gudang yang tidak bersalah. Ujung kakinya sakit. Lalu Soojin menyandarkan punggungnya dengan masih menangis.

Gadis puber mana yang tidak pernah merasa kesal. Mungkin dirinya ada pada masa dimana ia sulit mengatur emosinya sendiri. Itu hal yang wajar, apalagi Soojin telah di permalukan di depan Zelo. Ya, gadis itu mengungkit kejadian sepuluh menit yang lalu di kelas 1-A dan itu membuatnya semakin dongkol.

Tidak seharusnya Soojin berterus terang mengungkit nama Junhong di depan bocah laki-laki lain. Apalagi dirinya terlihat sangat keras kepala saat itu dan tidak tau diri. Soojin baru menyadarinya.

Soojin berjongkok, menelungkupkan wajahnya yang basah di atas rok bermotif kotak-kotaknya. Ia tahu, sebelum dia berlari ke gudang bel pelajaran pertama telah berbunyi dan kini dirinya enggan untuk mengikuti pelajaran pertama di kelasnya.

Jika Soojin bisa hilang begitu saja, atau tidak ia tenggelam di perut bumi. Soojin sangat rela.

Sementara disisi lain, siswa dengan tinggi badan 170-an berlari di koridor sekolah yang sepi. Tas ransel merah yang ia bawa di punggung bergoyang seiring dengan langkah cepat kaki panjangnya. Dengan sesekali menoleh kekanan-kekiri untuk menemukan sosok yang di carinya.

Siswa tersebut tak lain adalah Zelo yang kini memberhentikan langkahnya saat di depan pintu gudang yang setengah terbuka, dengan langkah pelan ia mendekati pintu tersebut.

Terdengar sangat jelas isakan tangis seorang gadis di dalam sana.

Dengan cepat Zelo membuka pintu gudang lebar-lebar. Hal pertama yang ia lihat adalah meja dan kursi kayu yang rusak, selebihnya ia melangkahkan kakinya masuk ke gudang lebih dalam lagi.

Tepat di pojok gudang yang bebas dari barang-barang yang sudah tidak digunakan lagi seorang gadis menelungkupkan wajahnya sambil berjongkok. Zelo tersenyum tipis kemudian dia berjalan mendekati gadis itu –Oh Soojin.

Zelo tidak bergeming. Ia masih berdiri tepat di depan Soojin meski gadis yang tengah menangis itu tidak melihatnya.

“Hei,” Zelo bersuara.

Soojin berhenti menangis setelah suara berat khas laki-laki terdengar sangat jelas di telinganya. Soojin menarik wajahnya kemudian mengusap wajahnya yang basah dengan  asal.

“Dasar cengeng.”

Hal pertama yang dilihat Soojin adalah sepasang kaki yang tertutupi dengan celana seragam siswa di sekolahnya. Soojin sadar, ia mendongakkan wajahnya.

“Zelo?!” pekik Soojin kaget. Detik selanjutnya ia mendapati Zelo yang ikut berjongkok di depannya.

“Apa kebiasaanmu masih suka menangis?” tanya Zelo dengan memiringkan wajahnya. Soojin terkesiap. Mulutnya terkatup rapat.

Sebenarnya Soojin berharap ia bisa mundur karena jarak mereka yang terpaut dekat, tentu tidak bisa karena dirinya tengah bersandar di dinding. Atau jika ia mau ia ingin dinding di balik badannya retak lalu dirinya bisa lari dari sini juga. Terlalu memalukan bila siswa baru –Zelo yang terbilang sangat tampan di depannya kini menatapnya sedangkan Soojin yakin wajahnya sangat memalukan.

“Nona Oh, kau itu sangat cengeng…” Zelo mengeluarkan sapu tangan dari saku celana kremnya. Lalu Zelo mengusapkan sapu tangan di permukaan wajah Soojin dengan lembut.

“… masih seperti dulu–”

“ –Kau mengingatku?” tanya Soojin cepat, tatapan matanya memohon menunggu jawaban Zelo.

Zelo menarik kembali tangannya.

“Tentu saja.” Zelo mengangguk,  kemudian memasukkan kembali sapu tangannya ke dalam saku celana.

“Oh Soojin si gadis kecil yang cengeng dan ingusan teman baikku saat TK.” lanjut Zelo lalu terkekeh kecil.

Soojin tersenyum mendengarnya.

“Jadi… kau benar Junhong kan? Choi Junhong?”

Zelo mengangguk mantap.

“Iya Soojin.. lihat aku masih sama kan?” Soojin tertawa, sejenak ia lupa atas kekecawaanya.

Mereka diam, suasana jadi semakin canggung. Apalagi Soojin dan Zelo atau Junhong tidak bertemu hampir 7 tahun.

“Lalu kenapa tadi kau membohongiku Junhong-ah?” tanya Soojin mengembalikan suasana akrab lagi, ia jadi ingat kejadian tadi di kelas Zelo.

“Namaku Zelo.” Sahut Zelo alias Junhong tidak terima.

“Ya! Namamu Junhong, selamanya kau itu Juhong.” Balas Soojin dengan sedikit meninggikan suaranya.

Selanjutnya mereka sama-sama tertawa.

“Ya kau harus memanggilku Zelo, eum.. karena aku suka nama itu.” Soojin mengangguk mengerti.

“Lalu kenapa tadi kau pura-pura tidak mengenalku Jun- eh Zelo-ah?”

“Tadi aku cuma mengerjaimu… dan ekspresimu tadi sangat lucu, kurasa.” Jawab Zelo, ia lalu tertawa lagi mengingat insiden pagi ini.

Ck, keterlaluan.” Soojin mengerucutkan bibirnya.

Sejujurnya Soojin merasa lega sekaligus senang kini dirinya bisa bertemu lagi dengan Junhong atau kini yang akrab di panggil Zelo.

Arraseo… Soojin bagaimana kalau kita keluar?” tanya Zelo, ia berdiri dan dikuti oleh Soojin.

“Kemana?” tanya Soojin, kepalanya masih mendongak manatap wajah Zelo yang memutar bola matanya seraya berpikir.

Zelo mengangkat bahunya.

“Ngomong-ngomong kenapa kau sangat pendek,”

Ya!”

***

 

Soojin tersenyum bahagia, poni yang menutupi dahinya kini tertiup angin bebas. Sementara tangan kanannya sesekali menapikan anak rambutnya yang berterbangan, ia menolehkan wajahnya ke kanan menatap punggung di depannya.

“Junhong-ah, kau masih tidak memberitauku akan kemana kita?” tanya Soojin. Sementara yang diajak ngobrol tidak menyahut.

“Junhong-ah..”

“Panggil aku Zelo.” Zelo mengingatkan Soojin untuk yang kedua kalinya lalu mempercepat laju sepedanya dan membuat Soojin sedikit terkejut.

“Kau mau aku jatuh?!” Soojin memukul pelan punggung Zelo.

“Tidak. Nanti kau akan menangis lagi.”

“Ya! Aku tidak cengeng.” Sahut Soojin tidak terima sedangkan Zelo hanya tertawa.

 

Zelo mengerem sepedanya saat tiba di depan bangunan tua yang sepertinya tidak terurus selama beberapa tahun.

Ia turun dan di ikuti Soojin di belakangnya, sejenak mereka saling bertatapan.

“Apa yang telah terjadi?” tanya Zelo penasaran, Soojin hanya mengangkat bahunya.

“Aku dengar mereka menutup sekolah ini.” Jelas Soojin singkat, Zelo mengangguk mengerti dan memilih tidak bertanya lagi.

Kemudian mereka berjalan beriringan masuk ke dalam ruangan yang lumayan berdebu dimana mereka pernah menghabiskan waktu untuk belajar dan bermain disana. Masih sama seperti dulu, banyak terdapat gambar dan hiasan lucu yang tertempel didinding serta kursi dan meja kecil yang tertata rapi.

“Aku ingat dulu kita duduk di sini…” kata Soojin sambil meniup atas kursi yang lumayan berdebu setelah itu ia duduk disana. Mengingat masa kecilnya bersama Zelo dan sesekali terkekeh kecil.

“Benar, eum.. Soojin?”

Nde?”

Zelo duduk di kursi sebelah Soojin.

“Karena tadi kita bolos sekolah bagaimana kalau kita belajar bersama?” tanya Zelo, ia membuka resleting tasnya lalu mengeluarkan beberapa buku pelajaran. Sementara Soojin masih menimang-nimang, tidak ada salahnya belajar. Tapi kenyataannya bahwa Soojin termasuk gadis yang malas-malasan jika berhubungan dengan hal-hal yang berbau dengan ‘belajar’ dan itu membuatnya bosan.

“Bagaimana ya? Eum, kalau kau yang meminta aku mau.” Jawab Soojin dengan tersenyum.

Zelo terkekeh mendengarnya, “Matematika atau Bahasa Inggris? Kau pilih yang mana?”

Soojin memutar bola matanya, berpikir.

“Aku tidak suka Matematika dan Bahasa Inggris.” Jawab Soojin pelan. Dia malu kalau Zelo mengetahui bahwa Soojin bukan gadis yang pintar, tapi setidaknya Soojin berkata jujur.

Zelo menghembuskan napas pasrah. “Kalau begitu matematika ya?”

Andwe.., a-aku tidak bisa..” Soojin menggigit bibir bawahnya dengan tatapan mata memohon. Zelo menggaruk rambut belakangnya asal. “Aku ajari, kau mau?”

Soojin diam. “Kau yakin?”

“Ya, kalau perlu sampai kau mahir. Bab mana yang menurutmu sulit?” tanya Zelo. Dia membuka halaman daftar isi buku paket matematikanya. Sementara Soojin hanya diam, dia malu untuk mengakui kalau semua pelajaran yang diajarkan seonsaengnim belum ia kuasai.

“Soojin-ah?”

Zelo membuyarkan lamunan Soojin dan membuatnya terkesiap, “Eh?! Junhong- maksudku Zelo aku belum mengerti, eum.. aku belum paham semuanya.” Soojin menundukkan kepalanya malu sekaligus tidak ingin melihat reaksi Zelo nantinya. Ia takut kalau Zelo tidak mau lagi berteman dengannya

Padahal di balik semua pikiran negatif Soojin semuanya tidak benar, Zelo malah tertawa kecil kemudian mengacak poni Soojin gemas. Soojin tersadar, ia kembali menegakkan kepalanya dan melihat Zelo dengan senyum yang manis. Soojin hanya bisa tertawa kikuk.

“Tidak apa-apa Soojin. Kalau begitu aku ajari dari awal ya, kita mulai dari bab aljabar.”

Zelo memajukan kursinya, ia duduk tepat disamping Soojin yang kala itu sedang membunyikan rasa bahagia dan kagum setiap kali berada di dekat Zelo.

Zelo membuka halaman demi halaman buku yang ada di pangkuannya, dengan suara yang jelas ia menerangkan semua hal yang telah ia pelajari dengan sabar kepada Soojin. Pada awalnya gadis itu mendengarkan semua penjelasan Zelo. Sesekali Soojin mengangguk mengerti meskipun kadang kala ia kurang paham. Tapi dengan sabar Zelo mengulanginya kembali dan memberikan beberapa soal untuk mengetes Soojin. Meskipun sering salah , Zelo menanggapinya dengan baik dengan membenarkan dan memberitau Soojin dimana letak kesalahannya.

Soojin mengulum senyum. Sebenarnya di saat Zelo sedang menerangkan, gadis itu malah tidak sepenuhnya fokus pada apa yang di ajarkan Zelo. Soojin sibuk mengagumi setiap detail bentuk wajah Zelo yang terpaut dekat dengannya. Soojin merasa hatinya berbunga-bunga dan ia sangat senang berada di dekat Zelo.

“Ya! Kau tidak mendengarkanku?” tanya Zelo setelah menemukan Soojin dengan menopang dagu menatapnya. Sejujurnya Zelo agak risih sekaligus geli melihat kelakuan sahabat kecilnya itu.

Soojin menggeleng sebagai respon, “Aku mendengarkanmu. Ayo lanjutkan,”

Zelo menutup bukunya. “Tidak bisa nona Oh, apa dengan malihat wajahku kau bisa mengerti penjelasanku. Ya, aku sudah susah payah mengajarimu dan-“

“-Junho- eh Zelo-ah..” Soojin memotong ucapan Zelo yang terkesan menggebu-gebu. Zelo menutup mulutnya menunggu apa yang akan diucapkan Soojin.

Sementara Soojin sibuk membuang mukanya. Pipinya memerah karena malu, sebenarnya ia ingin mengungkapkan sesuatu yang penting dan mendesak, menurutnya.

“Ada apa?” tanya Zelo tidak sabaran. Soojin menolehkan kembali kepalanya menatap Zelo.

“Aku menyukaimu,”

Zelo diam dengan mulut yang sedikit terbuka, sementara Soojin menundukkan kepalanya menahan malu.

Soojin sempat berpikir bahwa dia bodoh dan tidak seharusnya mengakui secepat ini. Soojin berdiri lalu memunggungi Zelo dan menutupi wajahnya yang memerah. Ia sangat malu serta takut kalau Zelo ternyata tidak mempunyai perasaan yang sama dengannya.

Zelo menarik napas panjang. “

Aku juga menyukaimu.” Ucap Zelo pelan, sangat pelan.

Soojin menurunkan kembali kedua tangannya, ia membulatkan matanya terkejut. Cepat-cepat ia memutar tubuhnya setelah samar-samar mendengar ucapan Zelo barusan.

Jijja?!” pekik Soojin kelewat senang.

Zelo berdiri setelah memasukkan semua buku dan alat tulis kedalam tasnya. Kemudian ia mengangkat bahunya, “Ini sudah sore. Ayo kuantar pulang.”

Zelo mengabaikan pertanyaan Soojin dan memilih berjalan keluar mendahuluinya, karena ia tidak mau memperlihatkan pipinya yang kini memerah. Sementara Soojin mengerucutkan bibirnya sedikit kesal, tapi detik selanjutnya ia tersenyum kembali kemudian berjalan mengikuti Zelo dengan langkah yang riang.

 

***

 

Gomawo Zelo-ah. Hari ini aku sangat senang. Sekali lagi terimakasih ya..” ujar Soojin dengan nada ceria setelah turun dari sepeda Zelo setelah mereka sampai di depan gerbang rumah keluarga Oh.

Zelo mengangguk cepat. “Cheonma, aku juga senang. Cepat masuk sana, Oppa-mu pasti mencarimu.” Suruh Zelo dengan lagak mengusir.

Soojin berdecak, “Aniya.. mungkin juga Oppa tadi sempat ke sekolah, biarkan saja dia terkejut karena tadi aku bolos, hehe..” Soojin terkekeh dan menggaruk tengkuknya kikuk.

Kemudian mereka berdua saling tertawa.

Arraseo.. ” Zelo hendak mengayuh pedal sepedanya dan detik itu juga Soojin membalikkan tubuhnya.

“Soojin?”

Soojin membalikkan tubuhnya lagi setelah mendengar seseorang menyebutkan namanya .

Ne?”

Zelo mengecup singkat pipi Soojin. Hanya beberapa detik kemudian Zelo menarik kembali wajahnya.

“Sampai ketemu besok!”

Zelo mengayuh sepedanya cepat dengan pipi yang memerah. Lain halnya dengan Soojin yang menegang karena terlalu syok menerima ciuman singkat dari Zelo. Gadis itu sangat senang sekaligus malu. Ia hanya bisa menatap punggung Zelo yang semakin mengecil jauh dari jarak pandangnya sambil menyentuh pipi kanannya dengan mulut yang masih menganga tak percaya.

Soojin tersadar, ia menolehkan kepalanya kekanan-kekiri dengan was-was.

“Jangan sampai ada orang yang melihatnya.”

Setelah dirasa lega, Soojin berbalik kemudian berjalan dengan sesekali melompat-lompat riang masuk ke dalam rumahnya.

 

FIN

 

Curcolan author (?) : semoga kalian puas meski FF ini masih banyak kekurangan:’) dan semoga aja dapet feel-nya! Kalo masih ada typo maaf ya :’) Untuk seri kakak-kakaknya (?) mungkin akan segera di publish kalau peminatnya banyak, so tetep pesen LE => Like dan Komentar J <= wkwkwk.. jangan sungkan untuk mengkritik atau memberikan saran. Happy Holiday!

Khamsa^^

36 responses to “[Oneshoot] It’s You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s