[One Shot] Miss You (Sequel of Our Love Story) – Minyoung’s Side

FF ini ditulis oleh @blackpearlnine / @NPutuSNKP, bukan oleh saya (Rasyifa), saya hanya membantu untuk membagikannya di FFindo. Tolong berikan apresiasi kalian ya melalui jejak komentar. Terimakasih~

miss you (minyoung's side)

Title: Miss You (Sequel of Our Love Story) – Minyoung’s Side

Author: blackpearlnine

Length: Oneshot

Genre: Romance

Rating: PG17

Cast: Oh Sehun [EXO] | Shin Minyoung [OC]

Additional Cast: Chen/Kim Jongdae [EXO] | Jung Eunji [APink] | etc.

Disclamer: FF ini original buatan aku sendiri. Kesamaan nama tempat ataupun nama-nama yang lain (?) hanya kebetulan semata 😀 sudah di posting di blog pribadi : http://blackpearlnine9497.wordpress.com

Link Fanfiction: Our Love story Part 1Part 2Part 3Part  4 ENDMinyoung’s SideSehun’s Side

Happy reading 🙂

**********

Wanita berusia 28 tahun itu segera berjalan menyusuri gedung perkantoran dengan tas bermerk di genggamannya serta berbagai macam file di pelukannya. Ini sudah jam setengah 8, setidaknya ia belum terlambat masuk kerja. Masih banyak karyawan yang berkeliaran di sekitarnya. Ada yang baru memasuki gedung, ada yang berjalan menuju lift, dan bahkan pagi ini ia bertemu seorang cleaning service yang sudah rajin mengelap kaca.

“Sekretaris Kim! Tahan lift-nya.”

Shin Minyoung segera berlari mendekati lift di dekatnya begitu benda itu sudah mulai menutup. Sosok pria manis yang disapa Sekretaris Kim oleh Minyoung itu pun segera mengganjal lift dengan kaki kanannya lalu membiarkan Minyoung masuk ke lift.

Minyoung mengangguk pelan dan mengucapkan terimakasih, dengan senang hati sang sekretaris membalas ucapan terimakasihnya dengan membungkuk pelan.

“Sudah pulang dari Jeju, Team Leader Shin? Bagaimana menurutmu?” tanya Sekretaris Kim begitu Minyoung sudah di dalam lift.

“Ya begitulah. Tak bisa dipungkiri kalau Departemen Pariwisata Korea sedang gencar-gencarnya mempromosikan pulau itu. Indah sekali.” Minyoung menjawab sekedarnya karena sudah terlalu kagum pada Pulau Hawaii-nya Korea itu.

“Jadi bagaimana dengan proposal yang diajukan oleh tim-mu?”

“Ya, kami tinggal menunggu persetujuan. Dan jika sudah, akan dilanjutkan.”

Good job, sis.

Nada suara sang sekretaris sudah mulai santai di telinga Minyoung. “Ya, Kim Jongdae. Kenapa sejak tadi saja kau memanggilku sesantai itu? Aku jadi canggung.”

Kim Jongdae menjitak pelan kepala teman seperjuangan sekaligus rekan kerjanya itu. Dan membuat wanita berambut cokelat gelap itu meringis. “Aku ingin menguji kinerjamu selama lima tahun ini.”

Arra. Ya, kudengar istrimu sedang hamil? Kau minta dibelikan apa?”

“Apa saja yang menurutmu cocok. Aku percaya dengan pilihan kawanku yang hebat ini.”

Minyoung dan Jongdae adalah kawan seperjuangan ketika pertama kali bekerja di perusahaan ini. Jadi bisa dibilang, mereka sudah tahu suka dukanya bekerja di perusahaan besar seperti tempat mereka berdiri kini.

Tepat mereka selesai dengan perbincangan tadi, lift terbuka. Minyoung pun keluar duluan diikuti oleh Jongdae.

“Kalau begitu aku ke ruangan Presdir dulu,” kata Jongdae yang kemudian berjalan ke arah kanan menuju ruangan Presdir.

Minyoung yang berjalan ke arah kiri pun mengangguk dan melambaikan tangannya pada Jongdae. “Geurom. Annyeong!”

Ia pun berjalan menuju ruangannya dengan suara ‘tok tok’ dari high heel­-nya. Ya, karena pekerjaannya kini menuntutnya harus berpakai formal layaknya seorang karyawati pada umumnya membuat Minyoung telah terbiasa dengan high heel yang menghiasi kakinya. Pada awalnya memang sulit, namun pada akhirnya ia bisa.

Minyoung pun sampai di ruangannya. Memang terlihat minimalis, namun ia menyukainya. Ia menaruh tas dan file-filenya lalu duduk di kursi putarnya. Dan tanpa jeda istirahat sejenak, ia langsung menyambar kertas-kertas di mejanya. Sekedar mengecek dokumen-dokumen yang ada kaitannya dengan perusahaan.

Team Leader Shin?”

Ia langsung terhentak begitu kepala seorang wanita menyembul dari pintu ruangannya. Ck, kalau saja ini bukan di kantor atau jika saja di ruangannya tak ada CCTV, mungkin Minyoung sudah melempar pulpen yang ia pegang ke wanita itu.

Aigoo…kau mengejutkanku, Eunji-ssi. Ngomong-ngomong ada apa?” Minyoung memperbaiki posisi duduknya—karena tadi ia sempat terperosot.

Jung Eunji memasang wajah innocent lalu berjalan menuju meja Minyoung. “Proposal kita disetujui.”

“Benarkah? Waa..baguslah kalau begitu..”

“Tapi…”

“Ada tapinya?”

“Kita akan mengerjakannya setelah Direktur Eksekutif yang baru datang dari Amerika.”

Mwo?”

Percakapan singkat itu menghasilkan hasil yang tidak membuat Minyoung puas. Ia menggerutu di dalam hatinya dan mengatakan kenapa harus menunggu Direktur Eksekutif yang baru? Apa ia membawa ide untuk proyek ini? Tidak juga ‘kan?

“Direktur baru itu akan datang jam 1 siang ini. Jadi bisa saja rapat untuk membahas hal ini akan dilaksanakan sore ini juga.”

Kalimat Eunji membuat Minyoung melotot. “Hari ini? Astaga, aku padahal ingin pulang cepat hari ini.”

*****

Minyoung menatap laptopnya dengan tatapan serius sambil menyeruput teh yang ia buat. Matanya dengan jeli membaca setiap rentetan kalimat yang ada di laptopnya. Ia sedang mempersiapkan presentasinya dan ini sudah kesepuluh kalinya Minyoung membaca slide power point-nya.

Eunji tadi mengatakan bahwa direktur itu akan melihat presentasinya terlebih dahulu. Setelah direktur baru itu menyetujuinya, maka proyek akan langsung dikerjakan. Ya, ia hanya bisa berharap ia tak gagal mempresentasikannya nanti.

“Ayo kita ke ruang rapat,” ajak Eunji.

Minyoung mematikan laptopnya lalu mengambil tablet serta berkas-berkas yang diperlukannya sesampainya di ruang rapat. Lalu ia berdiri dari kursi putarnya kemudian berjalan mengikuti Eunji yang sudah berjalan duluan di depannya.

“Bagaimana perkembangan untuk cabang kita di Amerika?”

“Ya, produksi di sana semakin membaik dari tahun ke tahun. Sejalan dengan marketing yang berjalan lancar juga. Dan gathering yang diadakan sebulan yang lalu sukses besar menyaring calon-calon pekerja yang potensial.”

Kaki lincahnya terasa membatu begitu mendengar suara tak asing yang berasal dari belakangnya. Awalnya ia memang mendengar suara Kim Jongdae di telinganya, namun selanjutnya ada suara lain yang tedengar tidak asing baginya, bahkan ia sudah terlalu sering mendengarnya dari video call-nya bersama kekasihnya.

Oh iya. Ia nyaris saja lupa akan sosok Oh Sehun yang kini masih ada di Amerika untuk bekerja di sana. Bagaimana kabar namja itu? Sudah sebulan belakangan ini mereka jarang berkomunikasi lagi, baik melalui e-mail maupun video call Skype. Ia sudah tak sabar menunggu kepulangan namja itu. Entah kapan hari itu.

Awalnya Minyoung pikir namja itu hanya akan sekolah di sana. Tapi ternyata ia bekerja di cabang perusahaan ayahnya yang ada di Amerika sejak lulus kuliah hingga kini. Setidaknya itu informasi yang Minyoung ketahui, itupun ia tahu dari e-mail dan video call dari Sehun.

“Wah, kau tahu artinya, Oh Sehun?”

Tunggu. Oh Sehun? Hah, yang benar saja. Aku pasti sudah gila karena sangat merindukannya. Sudah 10 tahun ia belum kembali juga. Pasti ia masih sibuk bekerja di Amerika sana. Tapi apa benar Jongdae menyebut nama Sehun? Atau aku yang salah dengar?

“Apa itu, Hyung?”

Suara itu. Oh Sehun! Kaukah itu?

Minyoung membalikkan tubuhnya secara perlahan. Dan tepat ketika ia memutar badannya 180 derajat, sosok Kim Jongdae datang bersama seorang namja berpakaian rapi dengan tatanan rambut yang terlihat elegan itu. Namja itu adalah Oh Sehun.

Saat mata kita bertemu….

Kupikir itu adalah mimpi….

Annyeonghaseyo, Team Leader Shin.”

“…….”

Sapaan Jongdae diabaikan oleh Minyoung. Matanya masih tertuju pada pria berambut cokelat gelap yang berdiri di sebelah Jongdae.

Team Leader Shin…Minyoung-ssi….Shin Minyoung…..aigoo..haruskah aku mengeluarkan suara tinggiku? Hya..”

“Oh, annyeonghaseyo Sekretaris Kim. Maafkan aku. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu.”

Minyoung langsung menyapa Jongdae begitu tahu namja itu akan berteriak. Apa yang terjadi kalau seorang Kim Jongdae berteriak. Memang suaranya bagus dan enak didengar, tapi mengingat keadaannya kini, Minyoung tak mau mendengar Jongdae mengeluarkan suara tingginya.

“Oh iya, perkenalkan. Ini adalah Direktur Eksekutif yang baru. Oh Sehun. Dan Direktur Oh, ini adalah pimpinan dari timyang mengerjakan proposal mengenai pembangunan Junsang Resort kedua di Jeju, Shin Minyoung.”

“Senang bertemu denganmu, Team Leader Shin…”

Minyoung menatap tangan Sehun yang sudah terulur di depannya. Ia menatap tangan Sehun dan wajah pria itu bergantian. Melihat gesture Sehun yang terlihat seperti akan menurunkan tangannya kembali, Minyoung langsung menjabat tangan Sehun. Dan betapa mengejutkannya, Minyoung dapat merasakan tangan Sehun yang masih terasa hangat seperti dulu.

Saat tangan kita berjabat….

Aku masih berpikir bahwa itu bukan kau….

“Sama-sama, Direktur Oh.”

Minyoung menjawab dengan canggung.

*****

Meskipun keringat dingin keluar dari tubuhnya, Minyoung berusaha untuk tidak terlihat tegang ketika ia mempresentasikan proposal yang timnya buat. Dengan bakat bicaranya di depan umum yang sudah tak diragukan lagi, Minyoung mempersuasi pada peserta rapat untuk bekerja sama atau setidaknya ikut menyetujui proposalnya. Ya, ia hanya berharap yang terbaik untuk proposalnya ini.

“Sekian yang dapat saya presentasikan. Gamsahamnida.”

Minyoung membungkuk 90 derajat kepada seluruh peserta rapat lalu kembali ke tempat duduknya dengan iringan tepuk tangan para peserta rapat tak terkecuali Sehun. Diam-diam diliriknya sosok Oh Sehun yang masih memandangi slide di depan dan kemudian beralih kembali ke proposal yang ada di hadapannya.

Minyoung mengulum senyumnya lalu berusaha menyadarkan dirinya yang serasa masih di dalam mimpi. Bagaimana tidak, baginya bertatap muka langsung dengan Sehun terasa seperti mimpi di siang bolong. LDR yang mereka jalani selama 10 tahun ini terasa tak percuma baginya.

Sekali lagi ia kembali mengamati sosok Sehun yang terlihat tampan dan elegan dengan setelannya. Kemeja putih, dasi cokelat bergradasi, jas hitam, jam tangan mahal, celana kain hitam, bahkan sampai sepatu pantofelnya. Semuanya terpasang pada tubuh jangkung Sehun dengan baik. Tatanan rambut pria itu yang kini terlihat berbeda. Jika dulu sosok Oh Sehun yang ia kenal adalah sosok berambut cokelat terang dengan model rambut mirip jamur, kini rambut pria itu terlihat lebih gelap dengan tatanan yang lebih modis dan memberi kesan seorang eksmud—eksekutif muda.

Ketika ia masih sibuk mengagumi sosok Sehun yang duduk tepat berseberangan dengannya, Minyoung segera duduk tegak ketika kedipan mata Sehun mengarah padanya. Ia langsung salah tingkah kemudian berpura-pura membaca beberapa berkas di hadapannya.

*****

Temui aku di ruanganku setelah selesai rapat. –Sehun

Minyoung menatap sticky note berwarna biru muda yang kini ia pegang. Di otak Minyoung mulai muncul pikiran-pikiran aneh yang ada kaitannya dengan kalimat ini. Haruskah ia pergi ke ruangan Sehun?

“Pergi saja ke sana.”

Sosok Jongdae mengejutkan Minyoung. Dan sekali lagi, kalau saja ini bukan di kantor, mungkin Jongdae sudah mendapatkan memar dari Minyoung—karena mengejutkannya.

Ya! Kau mengejutkanku!”

Jongdae menempelkan sticky note berwarna sama dengan yang Minyoung pegang di LCD computer di meja Minyoung. “Aku kemari hanya ingin mengantarkan pesan Direktur Oh untukmu, Team Leader Shin,” kata Jongdae dengan penekanan kata saat memanggil Minyoung.

Alis Minyoung terangkat. “Kau menyindirku?” tanya Minyoung.

Dan lagi-lagi Jongdae menggeleng. “Ani.” Jongdae langsung pergi begitu saja. Lalu ia menyempatkan diri untuk berkata, “Turuti saja, Minyoung-ah. Sehun mencintaimu. Justru kini ia semakin gila karenamu. Arra?”

Minyoung ternganga. Ia langsung mengambil sticky note yang tadi Jongdae tinggalkan lalu membacanya.

Sebaiknya aku saja yang ke ruanganmu. Gidaryo, eoh? –Sehun

Ya. Sehun berhasil membuatnya semakin syok sekarang. Bagaimana jika pegawai yang lain melihatnya? Apa yang ada dipikiran mereka jika melihat seorang pria yang merupakan direktur di sini pergi ke ruangan seorang wanita yang hanya seorang pimpinan tim? Minyoung yakin besok akan ada berita besar jika ini terjadi.

Minyoung meraih tas jinjing lalu berjalan menuju pintu. Meskipun ia masih ragu, mau tak mau ia harus ke ruangan Sehun sebelum pria itu pergi ke ruangannya.

[DEG]

Jantung Minyoung hampir saja keluar dari tempatnya. Sosok Oh Sehun sudah berdiri di depannya dengan jarak yang sangat dekat dengan dirinya. Minyoung hampir saja jatuh ke belakang kalau saja Sehun tak memeluk pinggangnya.

Senyuman Sehun menyapa wajah Minyoung. “Hi babe,” sapa Sehun sambil mengedipkan satu matanya.

Bukannya bahagia ataupun exited, Minyoung justru terlihat panik. Karena beberapa pegawai melihat kejadian di pintu ruangannya dan mulai berkata yang tidak-tidak mengenai dirinya dan Sehun. Padahal kenyataannya, Sehun hanya berusaha menahan tubuh Minyoung agar ia tak jatuh.

“Ada apa dengan wajahmu? Kau sakit? Ayo kita pulang.”

Mwo? Kita? Pulang ke mana?”

*****

Benar-benar di luar dugaan. Sungguh, Oh Sehun sangat menyebalkan. Minyoung merasa seperti diculik dan dibawa ke tempat yang tak ia kenali. Meskipun kenyataannya Sehun membawanya ke apartemen milik pria itu. Alasannya sangatlah mudah. Ia hanya mau memakan masakan Minyoung untuk pertama kalinya. Bagaimana dengan ibu Minyoung? Tentu saja beliau mengizinkan karena Sehun bicara secara langsung di telepon.

Minyoung hanya bengong bak orang bodoh begitu masuk ke apartemen Sehun. Begitu mewah. Dan bahkan ia melangkahkan kakinya dengan hati-hati—takut terpeleset dan menjatuhkan barang-barang mahal milik Sehun.

“Kenapa kau tidak tinggal di rumah yang lama?” Minyoung berusaha mencairkan suasana canggung yang menyelimuti mereka—atau mungkin hanya dia.

Sehun menutup pintunya lalu melepaskan jasnya kemudian menaruhnya sembarangan di sofa. “Abeoji ingin aku belajar hidup mandiri. Ayahku sosok yang keras, Minyoung-ah. Tidak seperti Eomeoni yang membebaskanku mengambil keputusan.”

Minyoung mengangguk paham. Ia memang belum pernah bertemu ayah Sehun. Tahu bahwa Presdir Oh adalah ayah Sehun saja baru hari ini. Dan memang, jika Minyoung lihat selama ia bekerja di Junsang, sosok Presdir Oh memang mirip Sehun, dari wajah, kepribadian, hingga cara bicaranya.

Minyoung memilih duduk di sofa, sementara Sehun menyiapkan bahan-bahan yang akan mereka masak. Minyoung kembali menatap wajah Sehun. Tak pernah bosan ia melihat wajah pria itu. Wajah itu selalu membuatnya merasa hangat, aman, dan rasanya tak ingin jauh darinya.

“Sehun-ah,” panggil Minyoung.

Sehun mengangkat wajahnya kemudian beralih pada Minyoung. “Wae?”

Minyoung menggeleng pelan. “Aniya, geunyang….bogoshipda..” Minyoung tak berhasil menyembunyikan rasa malunya. Pipinya timbul semburat merah yang kemudian membuat Sehun berjalan mendekatinya.

Pria itu duduk di sampingnya, kemudian meraih tangan Minyoung dan menggenggamnya erat. “Aku tak pernah berhenti mengatakan itu sebelum aku tidur. Aku juga sangat merindukanmu, Minyoung-ah..”

Minyoung tertarik ke dalam dekapan Sehun. Dan tak terasa air matanya mulai mengalir. Dia menangis di pelukan Sehun lagi? Ya, sepertinya Sehun satu-satunya tempat ternyaman sedunia bagi Minyoung untuk menangis. Namun kali ini ia menangis bahagia. Dengan penuh rasa terima kasih, ia meluapkan air mata yang ia tahan selama ini. Air mata akan kerinduannya pada Sehun. Semuanya seperti telah dibayar.

Saat kau memelukku..

Aku sadar bahwa aku merindukanmu…

Dapat ia rasakan elusan lembut Sehun di rambutnya. Ya Tuhan, Minyoung bersumpah tak ingin jauh dari Sehun lagi. Cukup 10 tahun ini mereka terpisahkan oleh jarak, ia tak mau ada hal lain yang menyebabkan mereka pisah lagi. Minyoung tak ingin. Kecupan lembut Sehun ia rasakan di puncak kepalanya.

Gomapda karena telah kembali, Hunnie,” kata Minyoung tanpa melepaskan pelukannya.

“Sama-sama, Youngie. Saranghae..” Suara Sehun terdengar begitu lembut dan semakin menyamankan diri Minyoung

Nado saranghae…”

Minyoung melepaskan dirinya dari pelukan Sehun. Kedua tangannya terangkat menuju wajah pria itu, diusapnya perlahan untuk melampiaskan rasa rindunya. Memang tak cukup jika hanya mengusap wajahnya, namun untuk saat ini, Minyoung hanya ingin melakukan itu.

Mereka saling melempar senyum bahagia. Hingga akhirnya Minyoung tersadar akan waktu yang terus berjalan. Sehingga ia memutuskan untuk pergi ke dapur dan memasak untuk Sehun. “Aku masakkan yang sederhana saja ya?”

Ia mengambil celemek putih yang tergantung di dinding dapur lalu memasangnya dengan susah payah. Haah..Minyoung mulai merasa seperti dalam drama-drama di tv kini. Bagaimana tidak, Sehun datang membantunya memasangkan celemek kemudian memeluknya dari belakang. Ah, meskipun ini menggelikan dan berlebihan, Minyoung menyukainya.

“Aku lapar, chagi. Oh, tidak. Seharusnya aku memanggilmu yeobo.”

“Dasar kau ini. Baiklah terserah kau saja, Hunnie.”

*****

Minyoung tersenyum manis sembari menatap Sehun yang tengah memakan japchae-nya dengan lahap. Sembari menopang dagunya dengan tangan kanan, Minyoung memainkan sumpitnya asal namun tetap dengan tatapan mata yang terarah ke Sehun seorang.

“Apa ada sesuatu di wajahku?”

“Eh..”

Minyoung segera menegakkan tubuhnya begitu Sehun menyadari dirinya yang bengong menatapnya. “Aniya. Aku..”

“Persis seperti buatan Eomeoni.” Sehun memotong pembicaraan Minyoung. Sementara ia masih saja makan. “Kau tidak makan? Haruskah aku menyuapimu?” tanya Sehun dengan mimik wajah seperti evil.

Minyoung hanya mengangguk lalu meraih tangan Sehun dan menggenggamnya erat. “Aku akan makan. Tenang saja. Melihatmu saja sudah membuatku cukup kenyang. Jadi mungkin aku akan makan sedikit saja. Jadi kau yang harus makan lebih banyak.”

“Eiihh..kau selalu membuatku terkesima dengan kata-katamu itu, Shin Minyoungie.”

Minyoung mengendikkan bahu lalu kembali mengambil sumpitnya. “Arra. Makanlah yang banyak.”

Mereka kembali melanjutkan acara makan malam mereka. Terkadang gelak tawa mulai terdengar dari sosok Minyoung ketika Sehun mengatakan hal-hal lucu, terutama ketika mereka kembali mengingat masa SMA mereka. Kini Minyoung merasa lengkap kembali, 10 tahun kesepian dan hanya mengandalkan teknologi internet yang semakin canggih untuk komunikasinya dengan Sehun ia rasa sudah cukup sampai di sini. Ia tak rela jika Sehun jauh darinya lagi.

“Minyoungie,” panggil Sehun ketika mereka telah selesai makan. Minyoung mengangkat wajahnya kemudian kembali menatap Sehun yang berada di depannya.

“Iya, Sehunie. Waeyo?”

Sehun terdiam sejenak dengan kedua tangan tertangkup di atas meja. Lalu selang beberapa saat, sebuah kotak hitam muncul di tangan Sehun. Minyoung tentu saja takjub dan kaget, karena sepertinya ia melihat tangan Sehun kosong melompong tanpa ada kotak kecil berwarna hitam.

Mwoya igeo?” tanya Minyoung iseng.

Berharap mendapatkan jawaban dari Sehun adalah hal mustahil bagi Minyoung kini. Pria itu sudah duluan meraih tangan kanannya dan mengusap setiap jari-jarinya. Tak lama kemudian tangan Sehun yang satunya membuka kotak hitam yang ternyata berisi sebuah bandul berbentuk hati dengan batu berlian di tengahnya.

“Cincin yang ada di kalung itu, sebaiknya pakai di jarimu. Dan mengganti bandulnya dengan yang ini.” Sehun menggeser kotak itu.

Mata Minyoung terbelalak melihat Sehun yang membuka dua kancing paling atas kemejanya. Namun akhirnya ia kembali ke positive side. Sehun hanya ingin mengeluarkan kalung itu.

Kau masih memakainya, Sehun-ah?

Penantianku benar-benar tak sia-sia…

Kini ia percaya bahwa Sehun mencintainya. Kalung itu sudah 10 tahun lebih tergantung dengan anteng di leher kokoh Sehun, dan kini Sehun melepas kalung itu lalu mengeluarkan cincin yang ada di kalung itu. “Cincin ini. Tak pernah kulepas. Karena aku tak ingin melepaskanmu, Shin Minyoung.” Sehun memberikan cincin itu pada Minyoung. “Jika kau ingin bersamaku, sematkanlah cincin ini di jariku. Maka aku akan memegangmu erat-erat.”

Air mata Minyoung mulai jatuh. Ya, karena seorang Oh Sehun, Minyoung sungguh emosional hari ini. Tidak seperti hari-hari biasa yang Minyoung lalui dengan datar dan tanpa ekspresi. Tanpa ada keraguan di dalam hatinya, Minyoung menyematkan cincin itu ke jari Sehun dan menggenggamnya erat.

“Pegang aku erat-erat. Maka aku akan berpegangan padamu.”

“Kau mau menikah denganku?”

Sekali lagi, Minyoung mengangguk pasti. Tanpa ada keraguan sedikitpun dari kedua matanya. Minyoung mengikat rambut tergerainya lalu mengangkatnya ke atas begitu Sehun telah ada di belakangnya, bermaksud agar memudahkan kekasihnya itu melepaskan kalung yang ia pakai. Setelah terlepas, Sehun mengganti bandul kalung itu dengan bandul yang baru saja ia hadiahkan untuk Minyoung. Setelah terpasang dengan baik, Sehun kembali mengalungkan kalung itu di leher Minyoung dan kemudian ia berlutut di depan Minyoung untuk menyematkan cincin yang sama dengan miliknya itu di jari manis Minyoung.

Sehun kembali memeluk Minyoung dan kini mereka berdiri menghadap jendela sambil melihat pemandangan indah kota Seoul di malam hari.

Yeobo,” panggil Sehun manja. Mendengar panggilan baru yang terasa aneh, Minyoung segera mencubit perut calon suaminya hingga membuat pria itu meringis.

“Kita bahkan belum menikah, kau sudah berani memanggilku yeobo,” gerutu Minyoung.

“Jadi sepertinya kita harus cepat-cepat menikah agar kau tidak mencubitku setiap aku memanggilmu.”

“Kenapa harus cepat-cepat? Kita bahkan belum memberitahu orangtua kita.”

“Untuk apa? Toh mereka sudah tahu.”

Mata Minyoung melebar. Ia menghadap ke Sehun dan kembali mencubitnya.

Yeoboya, kenapa mencubitku lagi?” Sehun ber-aegyo di depan Minyoung.

“Jadi orangtua kita sudah tahu kalau malam ini kau melamarku?”

Sehun mengeratkan pegangannya di pinggang Minyoung dengan mata yang tak henti berkedip-kedip, bermaksud menggoda Minyoung. “Bahkan sudah merencanakannya sejak kita SMA.”

Mwo? Ya, Oh Sehun! Kenapa kau jahat padaku?”

“Meskipun aku jahat, kau tetap mencintaiku bukan?”

“Bukan itu maksudku. Tapi bagaimana bisa?”

Eomma-mu dan Eomeoni sudah berencana untuk menjodohkan kita sejak kecil. Awalnya aku tak tahu. Aku mengetahuinya saat mengantarmu pulang karena kurang darah.”

Alis Minyoung terangkat. “Hey, kenapa jadi menyinggung soal kurang darah? Aku tidak pernah begitu lagi. Jadi jangan membahasnya. Itu sungguh memalukan.”

“Apa salahnya? Toh sebentar lagi aku akan melihat semuanya.”

[PLETAK]

Yak. Sehun mendapatkan jitakan pelan dari Minyoung. “Apa maksudmu dengan ‘melihat semuanya’? Jangan ma…”

[CHU]

Lumatan demi lumatan Minyoung rasakan saat Sehun mencium bibirnya. Lumatan lembut yang—jujur saja—sangat Minyoung rindukan. Ia pun ikut dalam ciuman Sehun, memeluk pinggang pria itu dengan erat dan melanjutkan ciuman mereka. Ini ciuman kedua mereka setelah mereka berciuman terakhir kali di bandara 10 tahun yang lalu. Ia sungguh merindukan ini. Sungguh.

Beberapa detik kemudian kedua mata Minyoung kembali terbuka setelah beberapa saat lalu matanya terpejam karena—menikmati—ciuman tadi.

Yeobo,” panggil Sehun.

“Hmm..wae?”

“Kau tidak marah karena kupanggil yeobo. Itu artinya kau sudah siap jadi Nyonya Oh?”

Ya! Oh Sehun!”

[CHU~]

END

Link: Our Love story Part 1Part 2Part 3Part  4 ENDMinyoung’s SideSehun’s Side

Hi hello~ #ala Madam Jung# saya kembali membawa sequel dari Our Love Story yang kemarin. Otte? Makin gereget? Makin gemes? Saya pun pas nulis ikut gemes sampe lidah ikut kegigit #lol #alay XD untuk Sehun’s Side, ada kok jadi wait aja ya. Okefix #alawendi# gomawo sudah baca and be good reader ok? Thank you {} ^^

Advertisements

55 responses to “[One Shot] Miss You (Sequel of Our Love Story) – Minyoung’s Side

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s