[One Shot] Miss You (Sequel of Our Love Story) – Sehun’s Side

FF ini ditulis oleh @blackpearlnine / @NPutuSNKP, bukan oleh saya (Rasyifa), saya hanya membantu untuk membagikannya di FFindo. Tolong berikan apresiasi kalian ya melalui jejak komentar. Terimakasih~

miss you (sehun's side)

Title: Miss You (Sequel of Our Love Story) – Sehun’s Side

Author: blackpearlnine

Length: Oneshot

Genre: Romance

Rating: PG17

Cast: Oh Sehun [EXO] | Shin Minyoung [OC]

Additional Cast: Chen/Kim Jongdae [EXO] | etc.

Disclamer: FF ini original buatan aku sendiri. Kesamaan nama tempat ataupun nama-nama yang lain (?) hanya kebetulan semata 😀 sudah di posting di blog pribadi : http://blackpearlnine9497.wordpress.com

Link Fanfiction: Our Love story Part 1Part 2Part 3Part  4 ENDMinyoung’s SideSehun’s Side

Happy reading 🙂

**********

Oh Sehun melirik jam tangan mewah yang melingkar di tangan kirinya. Jam telah menunjukkan pukul 1 siang. Tepat pukul 1 siang, Sehun akhirnya kembali menginjakkan kaki di tanah kelahirannya. Ia sangat merindukan Korea. Ia merindukan kedua orangtuanya, teman-temannya, dan termasuk Shin Minyoung.

Bandara Incheon siang ini lumayan sepi dibandingkan ketika ia berangkat ke Amerika 10 tahun yang lalu. Sehun mendorong trolinya begitu keluar dari gedung kedatangan luar negeri. Pandangannya mengedar ke seluruh penjuru mencari orang yang akan menjemputnya.

“Direktur!”

Mata Sehun melirik ke asal suara yang menyebut kata Direktur tadi. Lalu berjalan mendekati namja itu.

Setelah 5 tahun ia sekolah di Harvard, bukannya kembali ke Korea ia justru dipercaya oleh perusahaan untuk memimpin cabang perusahaan yang ada di Amerika. Sehingga ia harus bersabar lagi untuk kembali ke Korea. Dan kini, 10 tahun telah berlalu dan ia tak sabar ingin segera pulang dan termasuk memberi kejutan pada pujaan hatinya yang sudah lama tak ia temui.

“Kau, Sekretaris Kim?” tanya Sehun begitu pria itu sudah berada di depannya.

Pria yang disebut Sekretaris Kim itu membungkuk lalu tersenyum tipis. “Selamat datang kembali, Direktur Oh.”

[PLAK]

Sehun menepuk bahu sekretaris muda itu lalu merangkul pria itu layaknya teman. “Ya, Jongdae Hyung! Kau menyebalkan sekali. Kau bertingkah seolah aku ini bosmu. Hey! Kau sangat berbeda. Aku sampai tak mengenalimu.” Sehun tertawa pelan. Lalu mereka berjalan bersama menuju mobil bersama dua koper milik Sehun yang mereka geret bersama.

“Kau memang bosku, Sehun-ah,” kata Jongdae seraya menepuk bahu pria di sampingnya.

Sehun terdiam. Lalu berkata, “Benarkah? Bukannya kau sekretaris abeoji?”

Ani. Mulai sekarang aku sekretarismu.”

Wajah Sehun langsung berubah. Sungguh ia merasa tak enak karena tadi menepuk bahu Jongdae sembarangan. Padahal pria itu sudah bersusah payah menjemputnya, bahkan kini dia menjadi sekretaris Sehun. Meskipun sebenarnya mereka sudah sangat dekat semenjak kuliah di Harvard 5 tahun yang lalu. Namun karena Jongdae ditugaskan di Korea dan Sehun ditugaskan untuk tetap di Amerika, mereka jadi tidak pernah bertemu lagi dan ini pertemuan pertama mereka setelah sekian lama.

“Aku merasa sungkan, Hyung.” Sehun menatap Jongdae dengan tatapan merasa bersalah.

Jongdae tertawa pelan lalu mengacak rambut Sehun pelan. “Dasar kau ini. Tadi kau menggunakan banmal padaku. Sekarang kau memanggilku Hyung lagi. Santai saja, Sehun-ah.”

Sehun mengangguk kecil layaknya anak kecil. “Mumpung Presdir tidak ada di sini, tak usah sungkan padaku.”

Perkataan Jongdae membuat Sehun tertawa geli lalu mengangguk setuju.

*****

Sehun menatap foto seorang yeoja yang ia jadikan wallpaper ponselnya. Mengelus wajahnya perlahan, kemudian beralih menyentuh bibir gadis itu. Sehun rasanya akan gila jika tidak bertemu kekasihnya itu dalam waktu dekat.

“Presdir sudah cerita soal proyek pertamamu?”

Pertanyaan Jongdae yang sedang menyupir di sampingnya membuyarkan lamunan Sehun. “Nde? Maksud Hyung proyek resort di Jeju?”

“Benar. Presdir ingin kau bekerja sama dengan Team Leader Shin yang juga berperan dalam proyek ini. Kau bisa meminta bantuannya jika ada yang tidak jelas.”

Sehun menghela napasnya. Baru saja hari pertama ia menginjakkan kaki di Korea lagi, ayahnya sudah memberinya proyek besar seperti ini. Tapi tak apalah, setidaknya sesampainya ia di apartemen, ia akan istirahat dan setelah itu menghubungi Shin Minyoung.

“Hmm..yeojachingu-mu?”

Sehun tertegun begitu Jongdae melirik ponselnya yang men-display foto Minyoung. Namja berambut cokelat gelap itu hanya menyengir lalu menekan tombol kunci yang ada di sisi samping ponsel. “Iya. Kami pacaran sejak SMA.” Sehun pamer pada Jongdae.

Jongdae bersiul pelan sambil tetap fokus menyetir. “Jadi kalian LDR?”

Ne, Hyung. Tapi kami jarang berkomunikasi lagi karena kesibukan dia sebagai pimpinan timdi perusahaan tempatnya bekerja. Dan katanya ia ada proyek ke luar Seoul selama setahun.”

“Baguslah kalau begitu. Jarang sekali ada pasangan kekasih yang tahan LDR.”

“Jangan bilang kalau Hyung curhat?” Sehun meledek. Wajah Jongdae berubah jadi masam lalu semakin melajukan mobilnya. “Oh baiklah, Hyung. Aku takkan menyinggungnya lagi.”

Mereka pun sampai di apartemen Sehun. Jongdae membawa satu koper Sehun sementara Sehun juga masih bersusah payah mengeluarkan kopernya dari mobil. Baru saja Sehun akan menurunkan koper dari mobil, ia mendengar suara dering panggilan yang berasal dari ponsel Jongdae. Dan entah firasat saja atau apa, Sehun rasa ia harus ke kantor sekarang juga.

Yeoboseyo?….Oh iya, aku ada di apartemen Direktur Oh, kami baru saja sampai……..Jigeum? Oh ne, gamsahamnida.”

Sehun melirik Jongdae yang datang menghampirinya. “Ada apa, Hyung?” tanya Sehun.

Melihat perubahan wajah Jongdae, Sehun berani taruhan kalau ia harus ke kantor sekarang.

“Sekretaris Lee meneleponku, katanya rapat diadakan begitu kau sudah tiba di Seoul. Kita harus ke kantor sekarang juga.”

Huffftt..Sehun mengerti sekarang alasan kenapa ayahnya menyuruh Sehun untuk memakai setelan jas saat akan pulang ke Korea. Ternyata ini. Sehun memperbaiki letak dasinya lalu kembali masuk ke mobil bersama Jongdae.

*****

Sehun mengedarkan pandangan matanya ke seluruh penjuru gedung perkantoran yang tengah ia pijak. Tak kalah besarnya dengan kantor di Amerika, ucapnya dalam hati. Ia tak menyangka kalau hari ini ia akan mulai bekerja di kantor ini. Ia jadi tak sabar ingin bertemu Minyoung dan bercerita soal berbagai macam hal, termasuk pekerjaan mereka.

Jongdae mengajaknya untuk naik lift untuk menuju lantai 7, tempat mereka akan rapat. Sambil menunggu lift sampai di lantai 7, Sehun kembali mengeluarkan ponselnya dan menatap wallpaper ponselnya. Sungguh, Sehun sangat merindukan gadisnya ini. Baiklah, ia hanya perlu bersabar melewati rapat perdananya sebagai Direktur Eksekutif di sini dan setelah itu ia akan pulang dan langsung menelepon Minyoung.

[TING]

Denting lift berbunyi. Sehun dan Jongdae jalan beriringan menuju ruang rapat. Suara tok tok tok sepatu pantofel mereka yang tak terlalu keras itu tetap menggema di seluruh gedung, dan Sehun hanya bisa geleng-geleng kepala. Mungkin karena sudah 10 tahun ia tidak pulang, Sehun jadi agak kagum dengan perubahan yang terjadi.

“Bagaimana perkembangan untuk cabang kita di Amerika?”

Suara Jongdae membuyarkan lamunan Sehun seraya berjalan menuju ruang rapat.

“Ya, produksi di sana semakin membaik dari tahun ke tahun. Sejalan dengan marketing yang berjalan lancar juga. Dan gathering yang diadakan sebulan yang lalu sukses besar menyaring calon-calon pekerja yang potensial,” kata Sehun dengan percaya diri.

Jongdae tersenyum cerah lalu merangkul Sehun. “Wah, kau tahu artinya, Oh Sehun?”

“Apa itu, Hyung?” Sehun jadi sangat ingin tahu kalau Jongdae sudah membahas perihal perusahaan dengannya. Jongdae tertawa pelan kemudian kembali melirik jalanan yang ada di hadapannya.

“Oh, sepertinya itu Team Leader Shin.” Jongdae menunjuk sosok wanita berambut panjang yang tengah berdiri membelakangi mereka.

Entah apa yang Sehun rasakan mengenai wanita itu. Ia merasa seperti pernah melihat wanita itu. Bahkan ia jadi teringat dengan sosok Minyoung. Namun dengan langkah santai Sehun mengikuti Jongdae yang memimpin jalan di depannya. Tepat saat wanita itu berbalik badan, tubuh Sehun serasa membatu.

Aku tidak bermimpi ‘kan?

Shin Minyoung di hadapanku?

Ini terasa seperti mimpi terindah yang ia alami sejak 10 tahun terakhir. Bermimpi bertatapan langsung dengan kekasihnya yang sudah lama tak ia temui. Tubuhnya ingin segera berlari dan memeluk gadis itu, namun otaknya mencegah karena mengingat ini masih di kantor.

Annyeonghaseyo, Team Leader Shin.”

“…….”

Sapaan Jongdae diabaikan oleh Minyoung. Sehun masih bertatapan mata dengan Minyoung, ia tebar senyuman paling manisnya pada gadis itu. Namun gadis itu tak meresponnya, Minyoung menatap Sehun seperti akan menangis.

Team Leader Shin…Minyoung-ssi….Shin Minyoung…..aigoo..haruskah aku mengeluarkan suara tinggiku? Hya..”

“Oh, annyeonghaseyo Sekretaris Kim. Maafkan aku. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu.”

Sehun tersenyum tipis. Ternyata tak hanya dia yang terkejut. Minyoung pun juga merasakan hal yang sama, sampai tak mempedulikan panggilan Jongdae tadi.

“Oh iya, perkenalkan. Ini adalah Direktur Eksekutif yang baru. Oh Sehun. Dan Direktur Oh, ini adalah pimpinan dari timyang mengerjakan proposal mengenai pembangunan Junsang Resort kedua di Jeju, Shin Minyoung.”

“Senang bertemu denganmu, Team Leader Shin…”

Sehun mengulurkan tangannya pada Minyoung yang masih memberinya tatapan rindu dengan mata yang berkaca-kaca. Oh ya ampun, gadis itu selalu saja menangis begitu melihatnya, termasuk ketika mereka ber-video call.

“Sama-sama, Direktur Oh.” Minyoung menjawab dengan canggung.

Ini sudah lama…

Hari ini kita bertemu…

Kemudian aku menggenggam tanganmu….

Sehun memberi senyuman terbaiknya. Tangan Minyoung terasa sangat dingin di genggamannya. Ia makin khawatir akan keadaan kekasihnya ini, apa yang gadis itu perbuat selama ia pergi sampai tangannya sedingin es?

“Ayo kita ke ruang meeting. Presdir akan segera datang, Direktur.”

Reuni singkat mereka terhenti karena Sekretaris Kim menyarankan mereka untuk segera ke ruang meeting.

*****

Mata Sehun tak bisa lepas dari sosok Shin Minyoung yang sedang mempresentasikan proposal di hadapan para peserta rapat. Saking fokusnya pada Minyoung, ia sampai lupa dengan setumpuk kertas yang ada di hadapannya.

Peserta rapat lain sedang fokus pada proposal di hadapan mereka masing-masing, sementara Sehun masih saja tak bisa melepaskan pandangan pada Minyoung. Meskipun begitu ada saat ketika mata mereka bertemu dan saat itu Sehun baru berpura-pura fokus pada proposal. Sungguh konyol memang, ini terjadi karena Sehun masih terkejut dengan pertemuan mereka. Bahkan ia meminta Jongdae mencubitnya sebelum masuk ke ruang rapat.

“Sekian yang dapat saya presentasikan. Gamsahamnida.”

Sehun bertepuk tangan dengan semangat 45 ketika Minyoung telah selesai presentasi. Dilihatnya Minyoung yang membungkuk 90 derajat kepada seluruh peserta rapat lalu kembali ke tempat duduknya dengan iringan tepuk tangan para peserta rapat. Lalu ia pura-pura memandangi slide di depan lalu beralih kembali ke proposal yang ada di hadapannya begitu Minyoung meliriknya lagi.

Meskipun kelihatannya Sehun sedang membaca isi proposal di hadapannya, sebenarnya ia masih membayangkan sosok anggun Minyoung ketika gadis itu presentasi di depan. Kenapa ia menyebutnya anggun? Tentu saja, Minyoung banyak berubah semenjak usia mereka memasuki kepala 2.

Minyoung ketika SMA adalah gadis innocent dengan poni yang selalu menghiasi keningnya, rambut hitam layaknya langit malam, berwajah pucat—karena ia tak pernah memakai make up—dan masih banyak lagi. Namun kini gadis itu berubah banyak.

Mulai dari rambutnya yang jadi warna cokelat gelap dan sedikit bergelombang, namun Sehun tetap menyukainya. Justru gadis itu terlihat jauh lebih cantik dan manis. Kemeja cream berbahan sifon yang diselipkan ke dalam rok, dipadu dengan rok span selutut warna cokelat, ditambah dengan high heel yang senada dengan warna kemejanya. Dan tak lupa aksesoris seperti gelang dan anting-anting yang tak terlalu ribet namun tetap cantik menghiasi pergelangan tangan dan telinganya. Ah, pokoknya jauh dari Minyoung yang dulu lebih suka pakai T-Shirt, jaket kulit, jeans, dan sepatu boot seperti koboi.

Berniat menatap Minyoung yang berada di seberangnya, Sehun mengangkat kepalanya dan menemukan Minyoung sedang menatapnya dengan dagu yang tersangga oleh salah satu tangannya, kemudian Sehun iseng-iseng memberikan wink pada Minyoung sehingga membuat gadis itu salah tingkah dan pura-pura membaca file-file di hadapannya.

Sehun tersenyum tipis lalu kembali membaca kertas-kertas di hadapannya. Sebaiknya kini ia fokus bekerja dulu. Toh nanti setelah selesai rapat ia berniat mengajak gadis itu ke apartemennya untuk makan malam bersama.

*****

Sehun mengakhiri tulisan kecilnya di sticky note begitu Kim Jongdae masuk ke ruangannya. Lalu ia berdiri dari kursi putarnya dan menghampiri Jongdae.

“Kau menulis sticky note lagi, Direktur Oh? Apakah ada yang kurang?” tanya Jongdae langsung, tentu saja dengan bahasa formal—karena ada beberapa pegawai yang baru saja akan keluar dari ruangan Sehun.

Sehun tersenyum tipis lalu memberikan sticky note itu pada Jongdae. “Maafkan aku, Sekretaris Kim. Aku berubah pikiran, sepertinya aku saja yang ke sana. Presdir menyuruhku pulang cepat sekarang.”

Ye? Jigeum? Ada apa dengan ayahmu, Oh Sehun?” Nada bicara Jongdae kembali santai begitu pegawai yang lain sudah tak ada di ruangan Sehun.

Sehun mengangkat bahunya. “Abeoji bilang padaku, aku harus menemui calon istriku secepat mungkin. Sebelum beliau berubah pikiran untuk menjodohkanku.”

Jongdae tertawa pelan. Ia menepuk bahu Sehun. “Presdir Oh sudah cerita soal hubungan kalian. Dan beliau setuju—tentu saja karena Nyonya Shin dan keluarga Oh sudah dekat sejak dulu. Jadi untuk apa beliau berubah pikiran untuk menjodohkanmu? Beliau takut suatu hari kau harus menikah demi keselamatan perusahaan? Takkan. Karena beliau yakin perusahaan takkan mengalami kejadian seperti dulu lagi. Junsang sudah membaik semenjak 5 tahun belakangan ini. Terutama dengan datangnya Oh Sehun yang sudah menyelamatkan cabang perusahaan di Amerika dari keterpurukan.”

Sehun tersenyum dan memeluk Jongdae erat-erat. “Gamsahamnida, Sekretaris Kim. Aku akan bekerja keras untuk Junsang—tentu saja.” Lalu ia melepaskan pelukannya dari Jongdae. “Keundae, Hyung. Sepertinya kau bicara panjang lebar sekali. Ada apa denganmu?”

Jongdae mengendikkan bahu. “Aku hanya mengulang kalimat Presdir kemarin, hanya mengganti kata ‘aku’ dengan kata ‘beliau’. Semudah itu.”

Sehun senang luar biasa. Tentu saja. Saat ia masih bekerja di Amerika, ayahnya sempat menentang hubungannya dengan Minyoung. Mengingat dirinya yang bertanggung jawab atas cabang perusahaan mereka di Amerika, ayahnya takut jika Sehun tak bisa berkonsentrasi penuh pada perusahaan jika berhubungan dengan Minyoung.

Tapi dengan kesuksesan yang telah diraih Sehun di Amerika, ayahnya yakin pilihan Sehun tepat. Toh Shin Minyoung adalah sosok pekerja keras dan kreatif yang selalu memberi ide cemerlang untuk proyek-proyek di Junsang—setidaknya itu yang Sehun dengar dari ayahnya setelah rapat tadi.

“Dan jujur saja, Shin Minyoung adalah gadis yang ingin Abeoji perkenalkan padamu begitu sampai di sini. Tapi ternyata kalian sudah pacaran sejak SMA. Lanjutkan, anakku!”

Sehun tersenyum mengingat kalimat yang terlontar dari ayahnya. Tanpa pikir panjang, Sehun membereskan barang-barangnya dan berkata, “Tolong sampaikan kertas itu padanya, Hyung..jebal..ne?”

Jongdae yang berdiri di tempatnya sejak tadi hanya mengangguk dan memberi acungan jempol pada Sehun. “Arrayo, cepat buatkan aku keponakan ne?”

Ye? Jongdae Hyung, kami bahkan belum mengucapkan janji di altar.”

*****

Setelah membereskan barang-barangnya, Sehun keluar dari ruangannya lalu berjalan dengan cepat dan gesit menuju ruangan Team Leader Shin yang tak lain adalah kekasihnya itu. Ia terlihat begitu exited sampai rasanya ia ingin memeluk gadis itu begitu pintu di depannya terbuka.

Bermaksud memberi kejutan, Sehun tetap berdiri di depan pintu tanpa mengetuknya. Soal menunggu lama? Tak masalah baginya. Toh jam kerja sebentar lagi usai, jadi gadis itu akan segera keluar bukan?

Ding..dong…benar perkiraannya. Pintu langsung terbuka dan sosok Shin Minyoung-lah yang membukanya. Dan Sehun rasanya ingin tertawa karena melihat ekspresi Minyoung yang tak kalah lucunya dengan komedian Kim Junho yang sedang terkejut.

Mungkin karena terkejut dan merasa ini adalah mimpi, Minyoung terlihat goyah dan nyaris saja jatuh. Dan untungnya, Sehun langsung memakai kesempatan itu untuk memeluk pinggang Minyoung.

Lumayan, setidaknya ini baru 30% membayar kerinduanku padanya.

Sehun memamerkan senyuman paling indahnya untuk menyapa kekasih yang ada dalam pelukannya ini. “Hi babe,” sapanya dan sesaat kemudian ia melemparkan wink pada gadis itu.

Ia mengamati wajah manis Minyoung yang kini berjarak tak lebih dari 30 centi darinya. Kenapa wajah gadis ini terlihat seperti kepanikan? Dan kenapa wajahnya terlihat seperti orang sakit? Apa dia kelelahan? Itu berbagai pertanyaan yang selalu Sehun ucapkan dalam hati begitu melihat wajah gadis ini.

“Ada apa dengan wajahmu? Kau sakit? Ayo kita pulang.”

Tanpa pikir panjang atau babibu lagi, Sehun menarik pinggang Minyoung untuk mendekat padanya lalu ia langsung menutup pintu ruangan Minyoung.

Mwo? Kita? Pulang ke mana?” tanya Minyoung. Sehun hanya tersenyum penuh arti tanpa berkata apapun.

*****

Akhirnya mereka sampai di apartemen milik Oh Sehun. Pria itu membukakan pintu masuk kemudian ia masuk duluan dengan Minyoung yang mengekorinya di belakang. Menurut Sehun, mungkin gadis itu berpikir jika ia akan mengantarnya pulang. Tapi kenyataannya ia justru membawa gadisnya ke apartemennya. Alasannya sungguh simple. Sehun ingin mereka makan malam bersama dan setelah itu ia akan melamar Shin Minyoung.

Dan kerennya, ketika Sehun menghubungi Nyonya Shin, beliau justru menyuruhnya untuk menjaga Minyoung selama seminggu ini karena Nyonya Shin sedang melakukan investigasi kasus di luar kota. Sungguh calon ibu mertua yang baik, pikir Sehun.

“Kenapa kau tidak tinggal di rumah yang lama?”

Pertanyaan Minyoung terdengar konyol bagi Sehun. Untuk apa ia tinggal di rumah besar itu lagi jika ia akan segera menikah? Ia ingin tertawa rasanya, namun mengingat gadis ini tidak tahu apa-apa, Sehun menutup pintu apartemen lalu melepaskan jas dan menaruhnya sembarangan di sofa—tentu saja dengan wajah datarnya.

Abeoji ingin aku belajar hidup mandiri. Ayahku sosok yang keras, Minyoung-ah. Tidak seperti Eomeoni yang membebaskanku mengambil keputusan.”

Sehun melirik Minyoung mengangguk paham. Kemudian Sehun berjalan menuju counter dapur untuk menyiapkan bahan-bahan yang akan mereka masak sementara Minyoung memilih duduk di sofa.

“Sehun-ah,” panggil Minyoung tiba-tiba.

Merasa dirinya dipanggil, Sehun mengangkat wajahnya kemudian menatap Minyoung yang duduk di seberangnya. “Wae?” tanyanya.

Minyoung menggeleng pelan. “Aniya, geunyang….bogoshipda..

Sehun tersenyum melihat semburat merah yang muncul di pipi Minyoung yang mulai tirus. Kemudian ia berjalan mendekati sofa kemudian duduk di sebelah Minyoung lalu meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya erat. “Aku tak pernah berhenti mengatakan itu sebelum aku tidur. Aku juga sangat merindukanmu, Minyoung-ah..”

Sehun menarik gadisnya ke dalam pelukan eratnya. Baru sebentar saja tubuh mereka menyatu, Sehun merasakan kemejanya sedikit basah. Ya, Minyoung menangis. Dan Sehun yakin gadis ini menangis bahagia. Karena ia pun begitu. Ingin sekali rasanya ia menangis, namun entah apa yang membuat air matanya tak mau turun. Jadi Sehun cukup tersenyum bahagia dan mengelus rambut panjang Minyoung dan mengecup puncak kepalanya.

Sehun takkan pernah melepaskan Minyoung lagi. Sudah cukup 10 tahun mereka berpisah. Dan ia bersumpah siapapun yang berani memisahkan mereka, Sehun takkan tinggal diam. Pelukan Sehun semakin erat hingga ia dapat merasakan debar jantung gadisnya.

Gomapda karena telah kembali, Hunnie,” kata Minyoung masih dalam pelukannya, oh sungguh. Memeluk Minyoung rasanya sudah cukup mengobati penyakit rindu Sehun. Ia tak butuh obat penenang atau semacamnya, cukup Shin Minyoung saja.

“Sama-sama, Youngie. Saranghae..” Suara lembut Sehun menjawab kata-kata Minyoung.

Nado saranghae…”

Sehun merasa kecewa ketika Minyoung melepaskan diri dari pelukannya. Namun, rasa kecewanya pergi begitu saja ketika kedua tangan hangat milik gadis itu menangkup wajah Sehun. Mengusapnya perlahan untuk melampiaskan rasa rindu.

Mereka saling melempar senyum bahagia. Ada gejolak aneh yang memenuhi diri Sehun, namun ia menahannya karena ia merasa belum pantas melakukannya. Sehun hanya bisa tersenyum tanpa melepaskan kedua lengannya yang melingkar di pinggang Minyoung.

“Aku masakkan yang sederhana saja ya?”

Minyoung berjalan menuju dapur lalu mengambil celemek putih yang tergantung di dinding dapur dan memasangnya dengan susah payah.

Aigoo…gadis ini sungguh konyol. Kalau dia memang tidak bisa memasangnya dengan benar, kenapa tidak menyuruh Sehun saja? Pria itu tertawa pelan lalu berjalan menuju dapur, berdiri di belakang Minyoung kemudian membantunya memasangkan celemek dan dengan liciknya Sehun memanfaatkan momen ini untuk memeluk kekasihnya dari belakang.

Sehun berbisik lembut di telinga Minyoung lalu menaruh dagunya di bahu gadis itu dengan manja. Dan sekali lagi, Sehun yang nakal ini iseng-iseng meniup daun telinga Minyoung. Membuat gadis itu merinding. “Aku lapar, chagi. Oh, tidak. Seharusnya aku memanggilmu yeobo.”

“Dasar kau ini. Baiklah terserah kau saja, Hunnie.”

*****

Dengan lahap Sehun memakan japchae buatan Minyoung, tentu saja ia makan dengan lahap karena Minyoung memasaknya dengan daging sapi yang banyak. Sehun sangat suka daging sapi, terutama sapi lokal. Ah~ mereka belum menikah tapi suasana di sini sudah seperti telah menikah, atau lebih tepatnya terasa seperti malam pertama bagi Sehun. Oh tunggu? Malam pertama? Haha..Sehun memang sudah mulai terkontaminasi yang aneh-aneh. Dan ini semua karena ajaran Xi Luhan yang sudah berkeluarga dan Kim Jongdae yang tengah menunggu kehadiran buah cintanya bersama sang istri.

Entah ini karena ikatan batin mereka yang kuat, Sehun merasa Minyoung tidak memakan makanannya. Alhasil ia mengangkat kepalanya dan menemukan Minyoung sedang menatapnya dengan mata sayunya dan dagunya tersangga oleh tangan kanannya.

“Apa ada sesuatu di wajahku?” tanya Sehun.

“Eh..” Gadis itu baru tersadar dan langsung menegakkan tubuhnya. “Aniya. Aku..”

“Persis seperti buatan Eomeoni.” Sehun sengaja memotong pembicaraan Minyoung, bermaksud agar gadis itu ikut makan bersamanya.

“Kau tidak makan? Haruskah aku menyuapimu?” tanya Sehun dengan mimik wajah seperti evil. Ya, ia sedang menggoda yeoja ini.

Minyoung hanya mengangguk lalu meraih tangan Sehun dan menggenggamnya erat. “Aku akan makan. Tenang saja. Melihatmu saja sudah membuatku cukup kenyang. Jadi mungkin aku akan makan sedikit saja. Jadi kau yang harus makan lebih banyak.”

Sehun tertawa kecil dan semakin mengeratkan genggaman tangan mereka. “Eiihh..kau selalu membuatku terkesima dengan kata-katamu itu, Shin Minyoungie.”

Minyoung mengendikkan bahu lalu kembali mengambil sumpitnya. “Arra. Makanlah yang banyak.”

Mereka kembali melanjutkan acara makan malam mereka. Terkadang gelak tawa mulai terdengar dari sosok Minyoung ketika Sehun mengatakan hal-hal lucu, terutama ketika mereka kembali mengingat masa SMA mereka. Sehun memang sedikit tercengang melihat Minyoung yang tertawa begitu ceria.

Ketika mereka masih LDR, mereka sering cerita berbagai macam hal ketika video call. Bahkan Sehun sampai cerita tentang Gag Concert yang sering ia tonton di televisi ketika di Amerika, tapi Minyoung tidak pernah tertawa seceria ini. Benar, ini semua terjadi karena rasa rindu mereka yang telah terbayar lunas.

“Minyoungie,” panggil Sehun ketika mereka telah selesai makan. Minyoung mengangkat wajahnya kemudian kembali menatap Sehun yang berada di depannya.

“Iya, Sehunie. Waeyo?”

Sehun terdiam sejenak dengan kedua tangan tertangkup di atas meja. Lalu selang beberapa saat, sebuah kotak hitam muncul di tangan Sehun. Minyoung terlihat kaget begitu Sehun mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam.

Mwoya igeo?” tanya Minyoung.

Belum menjawab pertanyaan Minyoung, Sehun sudah duluan meraih tangan kanan Minyoung dan mengusap setiap jari-jari mungil gadis itu. Tak lama kemudian tangan Sehun yang satunya membuka kotak hitam yang berisi sebuah bandul berbentuk hati dengan batu berlian di tengahnya.

Sehun telah menyiapkan hadiah itu sejak dirinya masih ada di Amerika. Karena baginya, Minyoung bagaikan batu berlian, bersinar di antara kegelapan. Minyoung sosok wanita paling berarti bagi Sehun—tentu saja setelah ibunya. Bandul berbentuk hati itu menyimbolkan dirinya, dan batu berlian itu adalah Minyoung.

“Cincin yang ada di kalung itu, sebaiknya pakai di jarimu. Dan mengganti bandulnya dengan yang ini.” Sehun menggeser kotak itu.

Sehun membuka dua kancing paling atas kemejanya lalu mengeluarkan kalung couple yang ia terima dari Minyoung sebelum ia berangkat ke Amerika 10 tahun yang lalu.

Aku masih memakainya…

Dan tak pernah kulepas…

Kau tahu artinya? Selama ini aku tak pernah melepaskanmu….

Sehun melepas kalung itu lalu mengeluarkan cincin yang ada di kalung itu. “Cincin ini. Tak pernah kulepas. Karena aku tak ingin melepaskanmu, Shin Minyoung.”

Ia memberikan cincin itu pada Minyoung. “Jika kau ingin bersamaku, sematkanlah cincin ini di jariku. Maka aku akan memegangmu erat-erat.”

Air mata Minyoung mulai jatuh. Sehun tak repot dengan Minyoung yang sungguh emosional hari ini. Wajar saja. Sehun pun merasakan hal yang sama. Tapi ia sudah terlalu rindu sampai mengeluarkan air mata pun tak bisa.

Sehun sungguh bahagia. Secara tak langsung Minyoung menerima lamarannya. Ya, gadis itu menyematkan cincin itu ke jari Sehun dan menggenggamnya erat tanpa ada keraguan sedikitpun dari body language-nya.

“Pegang aku erat-erat. Maka aku akan berpegangan padamu.”

Mata Sehun mulai berbinar dan berkaca-kaca. “Kau mau menikah denganku?”

Sekali lagi, Minyoung mengangguk pasti. Tanpa ada keraguan sedikitpun dari kedua matanya.

Sehun pun segera berjalan ke belakang Minyoung, bermaksud memasangkan bandul itu pada kalung gadis itu. Ia melepas kaitan kalung itu begitu gadis itu mengikat rambut tergerainya dengan tangan lalu mengangkatnya ke atas. Setelah terlepas, Sehun mengganti bandul kalung itu dengan bandul yang ia hadiahkan untuk Minyoung. Setelah terpasang dengan baik, Sehun kembali mengalungkan kalung itu di leher Minyoung dan kemudian ia berlutut di depan Minyoung untuk menyematkan cincin yang sama dengan miliknya itu di jari manis Minyoung.

Sehun kembali memeluk Minyoung dan kini mereka berdiri menghadap jendela sambil melihat pemandangan indah kota Seoul di malam hari.

Dan akhirnya…aku bisa meraihmu…

Memelukmu…..

Yeobo,” panggil Sehun manja. Bukannya mendapat balasan yang setimpal, Sehun justru meringis pelan ketika merasakan geli di perutnya karena Minyoung mencubit perut ratanya.

“Kita bahkan belum menikah, kau sudah berani memanggilku yeobo,” gerutu Minyoung.

“Jadi sepertinya kita harus cepat-cepat menikah agar kau tidak mencubitku setiap aku memanggilmu.”

“Kenapa harus cepat-cepat? Kita bahkan belum memberitahu orangtua kita.”

“Untuk apa? Toh mereka sudah tahu.”

Minyoung menghadap ke Sehun dan kembali mencubitnya. Dan Sehun kembali meringis dan berteriak sedikit, tentu saja memberi respon agar wanita itu tenang. Ya, Sehun senang sekali menggoda calon istrinya itu.

Yeoboya, kenapa mencubitku lagi?” Sehun ber-aegyo di depan Minyoung.

“Jadi orangtua kita sudah tahu kalau malam ini kau melamarku?”

Sehun mengeratkan pelukannya di pinggang Minyoung dengan mata yang tak henti berkedip-kedip, bermaksud menggoda gadis itu. “Bahkan sudah merencanakannya sejak kita SMA.”

Mwo? Ya, Oh Sehun! Kenapa kau jahat padaku?”

“Meskipun aku jahat, kau tetap mencintaiku bukan?”

SKAAKK MAT. Sehun tertawa pelan melihat wajah syok Minyoung.

“Bukan itu maksudku. Tapi bagaimana bisa?”

Eomma-mu dan Eomeoni sudah berencana untuk menjodohkan kita sejak kecil. Awalnya aku tak tahu. Aku mengetahuinya saat mengantarmu pulang karena kurang darah.”

Sehun menatap Minyoung usil. Alis gadis itu terangkat. “Hey, kenapa jadi menyinggung soal kurang darah? Aku tidak pernah begitu lagi. Jadi jangan membahasnya. Itu sungguh memalukan.”

“Apa salahnya? Toh sebentar lagi aku akan melihat semuanya.”

[PLETAK]

Yak. Sehun mendapatkan jitakan pelan dari Minyoung. Haha, benar-benar lucu. Jadi ini maksud Jongdae dan Luhan mengenai menggoda istri? Ah Sehun baru mengerti sekarang. Ia mengulum senyuman di bibirnya dan kembali mendengarkan celotehan Minyoung.

“Apa maksudmu dengan ‘melihat semuanya’? Jangan ma…”

[CHU]

Sehun langsung menyerang (?) Minyoung karena ia sudah tidak tahan mendengar gadis itu bicara. Kalau sudah mengomel, mungkin kecepatan bicara Minyoung sama cepatnya dengan kecepatan lari sprint.

Sehun melumat lembut bibir mungil Minyoung, tanpa ada kesan menuntut. Ia memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan bergantian sambil melumat dan mengisapnya. Kini ia hanya ingin melepas rindu, tanpa ada nafsu belaka. Ia merindukan semua yang ada pada Minyoung, bahkan ciuman pertama mereka ketika di bandara. Sehun ingat persis betapa hangatnya ciuman itu.

Tak lama menunggu respon wanitanya, Sehun akhirnya disambut oleh Minyoung. Wanita itu memeluk pinggang pria itu dengan erat dan ikut dalam lumatan itu. Beberapa detik kemudian mereka melepaskan ciuman mereka dan kembali membuka mata mereka masing-masing. Sungguh, Sehun menikmatinya dan mungkin Minyoung juga. Mengingat betapa intens-nya mereka. Dan ini semua karena rindu yang menjalari tubuh mereka.

Yeobo,” panggil Sehun. Dan kali ini Sehun tidak merasakan cubitan di perutnya lagi.

“Hmm..wae?”

“Kau tidak marah karena kupanggil yeobo. Itu artinya kau sudah siap jadi Nyonya Oh?”

Ya! Oh Sehun!”

[CHU~]

END

Hi hello~ #ala Madam Jung lagi# Otte? Makin gereget? Saya pun geregetnya makin jadi. Oke gak usah dibahas 😀 Mianhae karena sepertinya agak menjurus ke situ ya? Haha..saya mulai gila dan sepertinya kena overdose karena si yehet yang makin uwoooooo..

Oke, akhirnya selesai juga #yahaa #yehet #ohorat makasi buat cinta (?) dan apresiasi kalian untuk fanfic ini. Ini adalah project pertama saya setelah kemarin laptop abis kena musibah sampai semua isinya ilang. Jadi ngulang dari awal deh nulis FF huhuhu #akurapopo

Mampir ke blog saya ya, di situ ada beberapa FF baru yang bisa kalian baca 🙂

Once again, be a good reader ok 🙂 thank you thank you thank you #ala D-Unit# makasi semua. Aduhhh gak bisa berhenti ngucapkan terima kasih buat kalian. Oke saya keut di sini. Terlalu banyak ngoceh wakaka 😀 gomawo *bow*

18 responses to “[One Shot] Miss You (Sequel of Our Love Story) – Sehun’s Side

  1. All, makasi ya buat komentar dan semangatnya untuk FF ini. Untuk sequel sedang aku susun kerangkanya, mungkin cuma aku posting di wp pribadi aja. Karena aku ada project baru, mungkin agak lama prosesnya. Jadi mohon sabar menunggu ya 😉
    oiya ini ngomong-ngomong maaf banget ya gak bisa balas komentarnya satu-satu. beberapa hari ini aku ol dr hp jadi agak susah, karena hp mulai ngadat dan lola hehe 😀 once again makasi ya 🙂

  2. hwaa..versi sehun bnr2 ngejelasin rencana sehun dr awal buat ngelamar minyoung..ternyata sehun jg gugup y wkt ketemu minyoung..hehe..tp ttp so sweet..

  3. Bikin sequelnya lagi doongg ehehe
    Sequel pas mereka nikah trus sampe mereka punya anak wkwk
    Nice ff yaaap;)

  4. Pingback: INTRO_RASYIFA | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s