THE BROTHERS [Part One – Hello, New World]

Annyeong, saya hadir kembali dengan fanfic titipan. Happy reading dan jangan lupa beri komentar~! Terima kasih.bro

| Previous: Prologue |

THE BROTHERS

TITLE : THE BROTHERS

LENGTH : CHAPTERED

GENRE : FAMILY, ROMANCE

RATING : PG – 13

AUTHOR : NAOMIREE @_nraesky

CAST

EXO COMPLETE MEMBER

LEE AHREUM

LEE YURIN

JESSICA JUNG

KIM TAEYEON

HAN DASOM

SEO JOO HYUN

CHOI SULLI

 

 

DISCLAIMER : LEE AHREUM, YANG SEJAK DULU HANYA HIDUP SEBATANG KARA MENDADAK MEMILIKI 12 SAUDARA LAKI-LAKI DALAM HIDUPNYA……

 

PART ONE

Hello, New World”

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ahreum masih berkutat dengan pikirannya, memikirkan ucapan Ny. Choi—ibu barunya—itu di sepanjang perjalanan. Mempunyai saudara? 12 laki-laki? Ahreum tercekat sendiri jika memikirkannya. Memang , Ahreum dari dulu sangat menginginkan mempunyai sebuah saudara dalam kehidupannya. Seharusnya kan ia senang bisa mempunyai saudara, tapi entahlah Ahreum tidak mengerti dengan perasaannya saat ini. Cukup terkejut, mungkin. Ahreum hanya bisa terus berjibaku dengan pikirannya sendiri sepanjang perjalanan, gadis berkulit putih itu sesekali merasa gelisah dan memilin ujung swater yang di kenakannya.

Tanpa dirasa, mobil sedan berwarna mengkilap kehitaman itu sudah memasuki kawasan perumahan elit, Ahreum bisa melihat deretan pohon pinus di sepanjang jalan dan kemudian mobil yang dikemudikan Tuan Choi itu sudah melesat memasuki pintu gerbang sebuah rumah besar berwarna putih.

“Kita sudah sampai~ Ahreum-a, selamat datang di rumah!” Ny. Choi menepuk tangannya sumringah menatap Ahreum ketika mobil sudah berhenti di depan sebuah pekarangan rumah ber-cat putih yang sangat indah.

Ahreum melangkahkan kakinya keluar dari dalam mobil dan tidak bisa berhenti mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling dimana menampakkan sebuah rumah yang sangat besar yang terdiri dari 3 lantai dengan taman yang begitu menakjubkan seakan Ahreum sedang berada di lokasi Syuting Secret Garden—Drama Favoritnya. Takjub. Ya, Ahreum takjub dengan semua ini. Disinikah ia akan tinggal?

“Bagaimana Ahreum~a? Apa kau suka ? Mulai sekarang ini adalah rumah baru—mu” ujar Tuan Choi dari arah bagasi belakang yang sibuk mengeluarkan koper-koper Ahreum sambil tersenyum. Ahreum tersadar akan lamunannya, dan gadis itu mulai menepuk-nepuk pipinya pelan. Ia tidak sedang bermimpi kan?

Ketakjuban Ahreum berlanjut ketika mereka bertiga masuk ke dalam rumah. Ahreum tidak bisa menahan hasratnya untuk membuka mulut ketika melihat isi kediaman Keluarga Choi. Baru di ruang tamu saja ia sudah melihat lampu kristal yang sangat mahal terpasang di langit-langit rumah, sofa-sofa menarik yang kelihatan mewah, ukiran-ukiran di sekeliling dinding yang memukau, dan beberapa pembantu yang sibuk mondar-mandir bekerja dan menyambut kedatangan mereka. Ahreum tidak pernah menyangka, kalau orang tua barunya ini sangat kaya, karena kalau dilihat tampilan Tuan & Ny. Choi ini sangat sederhana dari awal pertemuan.

“Benarkah ini rumah kita?Abeoji, Omonim, benarkah aku akan tinggal di sini?” Ahreum membuka suaranya ketika mereka sudah sampai di ruang tengah. Ahreum merasa dia sedang bermimpi dan ini semua terlalu menakjubkan untuk dialami seorang Lee Ahreum, gadis yang selama ini selalu mendapat peruntungan buruk dengan image anak buangan.

“Tentu saja, sayang. Kau masih tidak percaya?”

“Ahreum~a, kau benar-benar menggemaskan. Eomoni sangat merasa beruntung memiliki anak menggemaskan seperti dirimu” Ny. Choi kembali menepuk tangannya sambil tersenyum memperhatikan ekspresi Ahreum sejak kedatangannya ke dalam rumah.

“Selamat Datang, Tuan & Nyonya. Dan Selamat Datang juga untuk Nona muda. Kami akan melayani Nona dengan baik” deretan pelayan memenuhi tangga dan menunduk menyambut kedatangan Ahreum dan lucunya Ahrum juga balas menundukkan punggungnya membuat pasangan Tuan & Ny Choi tersenyum melihat tingkah anak baru mereka ini.

“Kemana para Tuan Muda?” tanya Tuan Choi setelah menginstruksikan kepada salah satu pelayan untuk membawa koper-koper Ahreum ke atas.

“Mereka baru saja pulang Tuan. Mereka sedang berkumpul di lantai atas” jawab Kepala Pelayan.

“Baiklah, Ahreum. Ayo, temui kakak-kakakmu”

“Eeh?” Ahreum membulatkan matanya mendengar ucapan Ny. Choi yang sudah merangkul pundaknya dan menuntunnya menuju lantai atas. Bertemu mereka? Bertemu para 12 lelaki itu? Apa yang harus Ahreum lakukan? Ahreum kembali berkutat dengan pikirannya, terlalu takut rasanya untuk bertemu dengan para saudara baru nya itu. Terlebih lagi mereka semua adalah lelaki, meskipun Ahreum mempunyai rasa penasaran yang amat besar terhadap bagaimana rupa para saudara barunya, ia lebih takut dengan reaksi apakah yang akan ditunjukkan para lelaki itu. Bagaimana kalau mereka seandainya tidak menyukai kehadiran Ahreum yang baru bergabung di keluarga ini?

Ahreum mengigit bibir bawahnya pelan , ‘rileks, rileks, Ahreum~a’ Ahreum mengulangi tiap kata itu dalam hatinya , namun semuanya berujung dengan Ahreum yang memilih menundukkan wajahnya saja.

Ny.Choi sudah membuka knop pintu sebuah ruangan dan menuntun Ahreum untuk masuk ke dalamnya, namun Ahreum tetap tidak berani mengarahkan pandangannya ke arah depan.

“Selamat Sore anak-anak. Kalian sudah pulang rupanya? Eomma punya berita baik, kenalkan ini adik baru kalian!” Ny. Choi mengucapkannya dengan suara sangat nyaring membuat Ahreum semakin memperdalam kepalanya untuk menunduk.

“Adik?”

“Maksud eomma adik perempuan untuk kami?”

“Eomma mengadopsi anak lagi?”

“Apa ini…. Dia?”

 

Ahreum mengigit bibir bawahnya begitu mendengar satu persatu suara lelaki di telinganya. Ahreum bersumpah kalau seandainya ia punya kekuatan, ia pasti menggunakannya untuk menghilang kali ini.

“Ahreum~a, ayo perkenalkan dirimu kepada para kakak” ujar Tuan Choi membuat Ahreum sanggup terjungkal dari tempatnya berdiri sekarang.

Ahreum menarik nafasnya dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. ‘Aku tidak boleh seperti ini. Mereka akan menganggapku aneh. Ayo, Ahreum,kuatkan hatimu’ ujar Ahreum dalam hatinya kemudian mulai memberanikan diri mengangkat wajahnya , menatap kumpulan 12 laki-laki diruangan itu yang semuanya sudah mengarahkan tatapan mereka ke sosok Ahreum sejak gadis itu mengangkat wajahnya. Ahreum merasakan suaranya tercekat di tenggorokan begitu ia melihat 12 lelaki –dengan tampilan sangat keren—menatap ke arahnya, gadis itu seperti kehilangan kekuatan untuk bersuara.

“A… an.. anyeong ha… ha..se..yo. Lee Ahreum im.. nida” Ahreum tergagap sendiri dengan ucapannya lalu ia membungkukkan dirinya seperti orang bodoh.

‘Lee Ahreum, paboyaa~ apa yang kau lakukan?’ Ahreum meringis sendiri saat ia menundukkan tubuhnya.

“Mulai sekarang kalian mempunyai adik perempuan. Kami memutuskan untuk mengadopsi satu anak lagi, rumah ini sudah seperti asrama lelaki tanpa kehadiran anak perempuan.” Ujar Tuan Choi lagi.

“Kenapa tidak mengadopsi anak kecil saja?” salah satu diantara para lelaki dengan rambut agak sedikit berwarna itu membuka suara.

“Itu merepotkan. Kalian mau merawatnya? Gadis usia 18 tahun adalah yang terbaik, dia sudah besar, cantik, dan menggemaskan. Kalian harus menjaganya, arra?” timpal Ny. Choi.

“Ne, eomoni~” jawab mereka serempak. Sementara Ahreum hanya diam menatap para saudara barunya itu, mereka semua sangat tampan dan kelihatan hampir seumuran dengan dirinya. Mimpi apa ia hingga bisa memiliki 12 saudara seperti itu? Lagi-lagi Ahreum berpikir kalau ia belum juga bangun dari mimpinya.

“ Baiklah sudah cukup perkenalannya.Uri Ahreum pasti sudah lelah. Ayo ke kamar Ahreum~a. Dan kalian semua jangan membuat gaduh. Chanyeol-a, awas kalau kau sampai kedapatan menyetel DVD aneh lagi. Sehun-a, jangan makan sembarangan. Intinya, kalian semua jangan berisik.” tambah Tuan Choi kemudian menuntun Ahreum menuju kamar. Ahreum hanya mengangguk menurut kemudian mengikuti langkah Tuan Choi.

“Ini menarik. Aku tidak pernah menyangka kita akan mempunyai seorang adik perempuan” ujar lelaki bertopi itu disofa.

“Eomma dan Appa jadi sensitif karena anak itu. Bagaimana menurutmu, hyung?”

“Tidak masalah. Dia kelihatannya pendiam dan tidak banyak tingkah. Iya kan, Luhan?”

“Aku pikir dia manis. Bagaimana menrutmu, Kris hyung?”

“Aku tidak tahu. Aku mengantuk.”

“Tapi sepertinya aku pernah melihat gadis itu, tapi dimana ya?”

“Benar. Xiumin benar. Aku juga merasa wajahnya tidak asing”

“Tunggu…… bukankah dia gadis yang menangis di jalan tempo hari itu??”

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ahreum sudah memakai piyama tidurnya yang terbuat dari kain satin lembut itu, Ahreum berani bertaruh kalau ini pasti adalah piyama mahal hanya dari menghirup aromanya saja. Kemudian gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar dan mendecakkan bibirnya melihat kamar barunya yang sangat luas yang sepertinya 8 kali lipat lebih lebar dan luas dari kamarnya di panti asuhan. Kemudian pandangannya beralih ke arah tempat tidur berwarna pink yang di hiasi boneka-boneka lucu itu. Ah, Ahreum selalu bermimpi bisa mempunyai tempat tidur secantik ini sejak kecil.

Ahreum mencubit pipinya sendiri. Sakit. Berarti Ahreum benar-benar tidak bermimpi. Ini semua kenyataan, rumah ini, keluarga baru, kamar puteri ini….. semuanya kenyataan!

Kkruyukkk~

Ahreum memegang perutnya, mendadak teringat bahwa ia sedang merasa lapar. Ini salahnya sendiri karena menolak ajakan Ny. Choi untuk makan bersama tadi padahal ia sendiri belum makan apapun sejak meninggalkan panti asuhan. Ahreum masih merasa canggung, apalagi kalau ia harus bertemu para lelaki itu, jadi ia memilih tinggal di kamarnya saja terlebih dahulu dan berbohong kalau ia masih merasa kenyang.

“Eottohke? Aku lapar.” Ringis Ahreum. “ Dasar, perut bodoh”

Akhirnya Ahreum memberanikan diri keluar dari kamarnya, dengan gaya mengendap-endap gadis itu mengikuti nalurinya untuk mencari satu ruangan yang bernama dapur. Namun Ahreum tidak pernah menyangka bahwa mencari dapur di rumah ini sangat sulit. Rumah ini sangat luas dan besar, memiliki banyak tangga yang sanggup membuat mata Ahreum berputar dan ruangan-ruangan yang membuat Ahreum bingung dan segan untuk membukanya.

Ahreum tersesat. Dirumahnya sendiri.

“Ya!!! Kenapa dari tadi aku terus berputar-putar di area ini? Dimana sebenarnya dapur?” Ahreum menggaruk kepalanya sendiri bingung, sementara perutnya dari tadi sudah konser ingin minta makanan.

“Ada apa?” sebuah suara mengagetkan Ahreum , membuat gadis itu sontak menoleh dan menemukan 2 orang pria sedang berdiri di belakangnya. Ahreum hampir saja terjungkal saking kagetnya.

“Kau mencari sesuatu? Sepertinya kau kebingungan?” tanya lelaki bersweater cokelat itu.

“Eumm…. Itu…..” Ahreum kebingungan, ia harus bilang apa? Mengatakan bahwa ia keluar kamar malam-malam begini karena kelaparan itu pasti sangat konyol.

Kkruyukkk~

Suara aneh yang berasal dari perut Ahreum memecah suasana. Ahreum meringis sambil memeluk perutnya,”Dasar perut bodoh!”

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Ini yang namanya dapur keluarga di rumah ini. Kau bisa memesan makanan apapun semaumu” ujar lelaki dengan rambut kehitaman dengan senyum yang sangat manis itu pada Ahreum. Ahreum mengangguk, kemudian memperhatikan sekeliling dapur ini yang diisi oleh banyaknya pelayan yang sedang mengurus makanan dan mencuci beberapa peralatan dapur. Ahreum jadi bertanya-tanya, sekaya apa sih orang tua angkatnya itu hingga mampu mempunyai pelayan sebanyak ini.

“Ahjumma~ adik baru kami kelaparan. Tolong siapkan ia makanan. Ahreum~a, kau mau makan apa?” tanya lelaki bersweater cokelat itu memecah lamunan Ahreum.

“Eummm…. Ramen?” jawab Ahreum pelan. Kedua lelaki itu tertawa mendengar jawaban Ahreum membuat gadis itu bertanya apakah ada yang salah dengan jawabannya barusan.

“Kau hanya ingin makan ramen? Benarkah?” tanya lelaki berambut hitam itu masih dalam keadaan tertawa. Ahreum mengangguk seadanya.

“Baiklah, Ahjumma. Kau dengarkan dia mau makan apa?” ujar lelaki itu kemudian membawa Ahreum duduk di dekat lounge.

“Kau bisa menunggu ramenmu disini. Aku masih harus mengerjakan tugas. Kau baik-baik ya disini? ” tanya lelaki berambut hitam itu ramah membuat Ahreum kembali mengangguk untuk kesekian kalinya.

“Ah~ aku juga masih belum menyelesaikan karya sastra bodoh itu. Ahreum~a, sampai besok ya! Nikmati ramen—mu” ujar lelaki bersweater itu dengan polos dan melambaikan tangannya pada Ahreum.

“Tunggu…………” panggil Ahreum membuat kedua langkah lelaki itu terhenti.

“Boleh ku tahu nama kalian?” tanya Ahreum pada akhirnya.

“Tentu. Suho imnida—“ jawab lelaki dengan rambut kehitaman itu sambil tersenyum.

“Kalau aku, Chen . Ingat ya, Chen.” Timpal lelaki disebelahnya.

Ahreum mengangguk dengan pelan “Suho dan Chen ya~”

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ahreum berjalan kembali ke kamarnya sambil menangkup mangkuk ramen di kedua tangannya sambil tersenyum, memilih untuk menyantap ramen lezat itu di kamarnya saja. Uh~ Ahreum benar-benar lapar kali ini. Namun seketika Ahreum merasa kembali bingung kemana arah kamarnya ketika ia berhadapan dengan tembok kali ini. Ahreum kembali memutar jalannya dan terjebak di antara banyaknya pintu diruangan ini. Ahreum jadi merasa menyesal tidak mengingat nomer kamarnya tadi, sekarang ia jadi merasa pusing sendiri kan dimana sebenarnya kamarnya berada? Pintu kamar di rumah ini semuanya sama saja.

Tiba-tiba Ahreum mendengar suara yang cukup gaduh dari sebuah ruangan, terdengar suara beberapa lelaki yang sedang bersendau gurau dari ruangan itu. Ahreum menatap pintu ruangan itu dalam diam, ia ingin bertanya namun ia masih merasa segan. Tapi pepatah mengatakan, malu bertanya sesat di jalan. Ahreum tidak mungkin kan berputar-putar di penjuru ruangan seperti orang bodoh?

“Ayolah, Ahreum. “ ujar Ahreum pada dirinya sendiri, lalu memantapkan dirinya untuk membuka knop ruangan itu.

Kebetulan sekali tidak terkunci. Ahreum menjulurkan kepalanya kedalam pintu, menatap 4 orang yang sedang asyik bergurau sambil menonton sebuah layar televisi itu dengan suara berisik.

“Eummm~ bolehkah aku minta tolong?” tanya Ahreum dengan suara pelan membuat perhatian ke—empat pria itu beralih ke arah Ahreum.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

“Lurus saja , lalu ketika bertemu guci besar kau belok ke kanan. Kamar no.2 dari samping, itu kamar—mu” ujar lelaki berkaos merah itu sambil menunjukkan arah kamar Ahreum.

“Ah~ khamsahamnida. Maaf merepotkan kalian.” Ahreum membungkukkan badannya berterima kasih kepada 4 pemuda yang sudah berdiri di hadapannya sambil tersenyum.

“Tidak perlu sungkan. Aku Kyungsoo. Tapi kau bisa memanggilkanku D.O” Ujar lelaki itu lagi.

“Kalau aku Xiumin.”

“Aku Tao”

“Dan dia Kai” lanjut Xiumin sambil menunjuk lelaki yang sedang melipat tangan sambil berdiri di belakang.

Ahreum hanya mengangguk kemudian menatap para lelaki itu satu persatu, mulai dari lelaki berkaos merah, lelaki dengan wajah sumringah, lelaki dengan mata panda, dan lelaki yang berkulit agak gelap di belakang itu.

“Aku akan mengingatnya dengan baik. Terima kasih sudah membantuku” ujar Ahreum kemudian berjalan menuju arah kamarnya.

“Dia gadis yang lucu. Aku pikir ini baik bagi kita untuk punya adik perempuan” ujar DO begitu sosok Ahreum sudah menghilang dari pandangan.

“Benar. Aku sangat suka wajahnya. Dia sangat menggemaskan” Xiumin menepuk tangannya dan memasang wajah lucu.

“Ya, setidaknya ia bukanlah tipikal gadis centil yang memuakkan” timpal Tao sambil memijit kantung matanya yang tambah menghitam.

“Bagaimana menurutmu, Kai~a?”

“Dia…. Menarik” jawab Kai diiringi sebuah seringaian yang sanggup membuat bulu kuduk ketiga suaranya bergidik.

“Tapi untung ya dia tidak sempat melihat ke televisi. Dia bisa berpikir yang tidak-tidak melihat kita sedang menyaksikan film Miyabi” lanjut Xiumin sambil terkekeh kemudian mengelus sampul DVD Bintang Jepang Maria Ozawa itu.

“Ya~ tapi kita memanglah orang yang tidak-tidak” timpal DO sambil tertawa.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ahreum meniup uap panas yang keluar dari ramennya kemudian menatap ke arah pintu kamarnya yang terbuka. Ahreum sangat ingat kalau tadi ia menutup pintu kamarnya, namun kenapa sekarang jadi terbuka? Ahreum berjalan mendekat ke arah kamarnya dan bersamaan dengan itu, seorang pria dengan kaos abu-abu keluar dari kamar ahreum membuat gadis itu hampir saja terjungkal karena kaget.

“Kau meninggalkan kamar dalam kondisi kran air masih menyala. Aku hanya masuk untuk mematikannya” ujar lelaki itu datar dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Mendengar itu, Ahreum jadi menepuk jidatnya sendiri. Dasar Lee Ahreum pelupa, bisa-bisanya ia lupa mematikan kran air saat selesai mandi tadi.

“Omona~ aku melupakannya. Mianhae~ aku tidak akan melakukannya lagi” ujar Ahreum dengan nada bersalah.

“Hn,” lelaki itu hanya menjawab dengan dehaman kecil, kemudian berjalan memasuki kamar yang berada tepat disamping kamar Ahreum.

“Dia dingin” gumam Ahreum pada dirinya sendiri, kemudian menatap pintu kamar dengan itu dengan tulisan ‘Kris Wu Fan’ di depannya.

“Kris? Wu? Fan? Dia tadi… masuk kesini, berarti ini kamarnya?” Ahreum nampak berkutat dengan pikirannya, berarti lelaki tadi itu adalah tetangga kamarnya. Ahreum memilih untuk tidak terlalu peduli, kemudian melangkah masuk ke kamarnya untuk menyantap ramen di tangannya sebelum dingin .

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

“Ini benar-benar enak! Mashita!” Ahreum bergumam puas sambil menyeruput kuah ramen dari mangkuknya. Sejak kecil, Ahreum memang sangat menyukai ramen di banding apapun. Tapi, kemudian gadis itu tersadar akan sesuatu, sadar bahwa ia sama sekali tidak mengambil air minum dari dapur tadi.

“Ya!! Lee Ahreum! Bagaimana mungkin kau bisa makan tanpa minum!” Ahreum meneriaki dirinya sendiri dengan nada frustasi. Gadis itu jadi bingung sendiri, mengapa ia bisa jadi se-pelupa ini. Mata Ahreum kemudian beralih menuju sebuah tombol merah di samping tempat tidurnya. Sejak kedatangannya di kamar ini, gadis itu memang menaruh rasa penasaran yang besar terhadap tombol menyolok berwarna merah itu.

“Kira-kira , ini apa ya?” gumam Ahreum, kemudian memberanikan diri memencet tombol tersebut, kemudian beberapa detik kemudian telepon yang berada di atas laci meja belajar Ahreum berdering dengan sendirinya membuat Ahreum hampir saja tersedak dengan ramen yang di makannya. Ini aneh. Telepon itu langsung berdering setelah Ahreum memencet tombol besar kemerahan itu.

“Yeo..yeoboseyo?” ucap Ahreum ketika menerima gagang telepon tersebut.

“Nona muda, Ini Pelayan Choi Sulli—imnida. Ada yang bisa ku bantu?” ucap suara di seberang, terdengar suara mirip layanan Call Center dengan nada yang imut.

“Eh? Anu……. Aku ingin sebotol air mineral. Bisakah kau mengambilkannya untukku?” tanya Ahreum meskipun masih diselimuti kebingungan.

“Tentu saja. Aku akan segera membawakannya untuk nona muda”

Selang 5 menit kemudian, terdengar suara ketukan di depan kamar Ahreum membuat gadis itu segera beringsut untuk membuka pintu dan mendapati seorang gadis cantik dengan seragam maid—ala pelayan sudah menanti didepan kamarnya.

“Nona muda, ini air minumnya.” Ucap gadis dengan senyum lebar itu.

“Khamsahamnida. Apa kau pelayan disini?” tanya Ahreum .

“Geurae. Choi Sulli imnida. Aku pelayan dirumah ini.Ibuku adalah salah satu pelayan utama dirumah ini, tapi dia sedang sakit jadi aku menggantikannya” ucap gadis bernama Sulli itu dengan nada ceria. Sementara Ahreum hanya memandang gadis itu dengan takjub, well, gadis ukuran seperti Sulli ini terlalu cantik untuk menjadi seorang pelayan.

“Ada yang bisa ku bantu lagi?”

“Eumm, tidak ada sih. Tapi bisakah kau menemaniku makan sebentar?”

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jadi nona muda sama sekali tidak tahu kalau Orang tua angkat nona adalah pemilik Choi Corperation?” Sulli membulatkan matanya tidak percaya mendengar pengakuan Ahreum yang menyatakan bahwa ia sama sekali tidak tahu menahu tentang status dan kekayaan orang tua angkatnya.

“Aku tidak tahu. Aku diadopsi secara mendadak. Aku selalu berpikir bahwa selamanya aku akan menghabiskan hidupku di panti asuhan. Namun ternyata, ada orang yang mau mengadopsiku” cerita Ahreum.

“Aku juga baru tahu di perjalanan bahwa aku akan memiliki 12 saudara. Kau tahu Sulli~a, itu terlalu mengejutkan untukku” lanjut Ahreum.

“Aku mengerti nona–. Tapi nona sangat beruntung. Aku pikir tuan dan nyonya tidak akan mengadopsi anak lagi. 12 anak lelaki di rumah ini sudah cukup banyak” ujar Sulli, Ahreum mengiyakan. Ia sendiri bingung dengan jalan pikir orang tua angkatnya.

“Kalau nona ingin tahu, Tuan dan Nyonya tidak bisa memiliki anak. Menurut desas desus yang kudengar, Nyonya itu mempunyai penyakit mandul, sedangkan Tuan ada gejala impoten. Setelah 5 tahun menikah, mereka kesepian karena tidak memiliki anak di rumah besar ini. Kemudian mereka mengangkat seorang anak bayi bernama Suho saat berkunjung di panti asuhan Hwadam. Lalu nyonya diundang ke acara amal panti asuhan di Beijing, dan secara mengejutkan ia mengadopsi anak bernama Kris dari panti asuhan itu. Tidak berhenti dari situ, Tuan ternyata juga mengadopsi 3 anak sekaligus saat ia berkunjung di Busan. Ia menemukan Tuan Muda Baekhyun, Chanyeol dan DO saat itu. Orang-orang berpikir mereka sudah cukup dengan anak sebanyak itu, namun 3 tahun kemudian, Nyonya kembali mengadopsi 5 anak sekaligus dari Panti Asuhan di GangZhou yaitu adalah Tuan muda Xiumin, Luhan, Lay, Chen dan Tao. Lalu tahun berikutnya, Tuan besar mengangkat 2 anak sekaligus yaitu Tuan muda Kai yang ia dapat terlantar di Bandara dan Tuan muda Sehun yang ia temukan pingsan karena kelaparan saat di jalan pulang. Ke 12 lelaki itu tumbuh bersama dan menjalin hubungan saudara yang sangat erat meskipun mereka di ambil dari tempat yang berbeda-beda dan sekarang di kenal dengan nama EXO” cerita Sulli dengan gaya story tellingnya yang mengagumkan sementara Ahreum hanya bisa ternganga mendengar cerita Sulli barusan.

“Nona muda terkejut ya~. Sudahlah, nona tidak usah memikirkannya. Nona harus tidur cepat karena besok adalah hari pertama nona bersekolah” ujar Sulli dengan nada ceria.

“Kau benar. Aku harus cepat tidur. Ya, ampun kepalaku pusing mendengar ceritamu barusan, Sulli-ah”

 

****************************************************************************************************

Ahreum melihat bayangan dirinya di kaca pagi itu, gadis itu nampak berbeda dengan seragam abu-abu rokok yang terlihat mahal, apalagi kalau bukan seragam sekolah Dangwon yang sedang di kenakannya.

“Seragam ini benar-benar berbeda dari seragam lamaku. Dari kainnya saja aku sudah tahu kalau ini bukan barang murah” gumam Ahreum sambil membentuk pita seragamnya.

“Ini hari pertamaku bersekolah di SMU Dangwon. Dunia baru sudah dimulai. Lee Ahreum, Fighting!” Ahreum mengepalkan tangannya dengan penuh semangat di depan cermin, kemudian dengan semangat gadis itu menjepit poninya dengan jepitan yang biasa digunakannya, lalu mengambil tas ranselnya bergegas turun kebawah.

“Waa~ Uri Ahreum benar-benar cantik dengan seragam itu!!” Jeongmal Kyeopta” Ny. Choi histeris sendiri begitu menyapa Ahreum yang baru turun dari tangga. Ahreum hanya tersenyum sendiri mendengar pujian ibunya, namun akhirnya Ahreum jadi tersadar bahwa ruangan makan sepi pagi itu. Kemana perginya 12 laki-laki itu?

“Mereka tidak sarapan?” tanya Ahreum begitu sudah menangkup roti daging di tangannya.

“Kakak-kakakmu, ya? Mereka sudah berangkat pagi-pagi tadi” ujar Tua Choi santai.

“Eh? Kenapa mereka pergi pagi sekali? Apa aku yang terlambat? Aku bahkan berpikir bahwa ini masih pagi….” Ujar Ahreum kaget.

“Bukan. Mereka sudah terbiasa pergi sekolah di jam yang sangat pagi. Kalau mereka berangkat di jam yang normal mereka bisa membuat macet jalanan Kota Seoul.” Jawab Ny. Choi.

“Eeeh?” Ahreum masih mengerutkan keningnya pertanda kebingungan. Apa hubungannya mereka dengan macetnya jalanan kota Seoul?

“Maksud Ibu—mu, kakak-kakakmu itu mempunyai aura yang sangat besar” jelas Tuan Choi sambil membaca koran ditangannya. Ahreum baru paham, ya, ia akui 12 lelaki itu memang sangat tampan dan keren. Saat baru pertama bertemu saja Ahreum sudah seperti kehilangan kata-kata. Dan nampaknya mereka adalah orang-orang yang baik, pikir Ahreum.

“Habiskan sarapanmu, appa akan mengantarmu ke sekolah. Ini hari pertama mu, bukan?”

“Ne—appanim,” sahut Ahreum sopan.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ahreum berjalan memasuki gerbang Dangwon High School ketika sudah turun dari mobil mengkilap ayah angkatnya dan di buat termangu dengan keindahan sekolah elit nomer satu di Seoul ini. Benar-benar berbeda dengan sekolah lamanya yang merupakan sekolah reguler biasa, benar kata orang-orang bahwa Dangwon bukanlah sekolah biasa. Pekarangan, taman, gerbang, dan gedung—nya benar-benar kualitas yang berbeda.

Saking terpakunya, Ahreum jadi tidak melihat jalannya dan tidak sengaja menabrak seseorang.

“Ya!! Siapa yang berani menabrakku di pagi ini? Who dare you?” gadis pirang yang tanpa sengaja menabrak Ahreum itu langsung memasang wajah juteknya dengan logat inggris—nya yang kebarat-baratan.

“Mianhae~, aku benar-benar tidak sengaja” Ahreum sontak membungkukkan badannya tanda minta maaf namun gadis blonde itu justru mendorong dirinya hingga tersungkur di tanah.

“Jessica~a, kendalikan emosimu. Ini masih pagi dan kau sudah emosi. Benang yang baru saja kau tanam di pipimu bisa putus begitu saja.” Gadis berambut bergelombang di samping si—blonde itu membuka suaranya dengan gaya memperhatikan ujung jari kukunya.

Mendengar itu, gadis bernama Jessica itu langsung menyentuh pipinya dan memasang wajah cemas.

“Kau benar Fany-a, aku tidak mau wajahku keriput karena hal tidak penting. Well to the Well, aku akan membiarkanmu kali ini, lusher!” Jessica pun berjalan pergi diikuti oleh Tiffany—sahabatnya.

Ahreum hanya mendengus melihat kedua orang itu, apa-apaan ini, baru pertama ia sudah mendapat perlakuan seperti ini?

Setelah bangkit dan membersihkan rok seragamnya, Pandangan Ahreum pun beralih ke arah koridor kelas yang terlihat cukup ramai, berbagai murid terlihat sengaja berlari dan ada pula yang sengaja keluar dari kelas mereka demi mengerubungi sesuatu. Kemudian Ahreum baru tersadar kalau orang-orang itu sedang mengerubungi 12 laki laki yang sekarang sedang berstatus sebagai kakaknya.

EXO!!! EXO!! EXO OPPA!! Lihat aku Oppa~!!!!! Oppa~ Jebalyo~ lihat sebentar saja!!!” para murid perempuan itu berteriak seperti orang kesetenan berusaha mengiringi langkah EXO dan berebut mendapatkan perhatian mereka. Ahreum bergidik sendiri melihat adegan itu, EXO—yang merupakan para kakaknya itu benar-benar populer rupanya di sekolah ini.

Ahreum merasa tidak asing dengan salah satu murid wanita yang berlari sangat kencang dan berteriak paling keras itu, wajah gadis itu tidak asing baginya, Ahreum berusaha menyipitkan matanya memperhatikan wajah gadis itu lebih jelas, sampai akhirnya ia tersadar bahwa gadis itu adalah…..

“Han Dasom??? Sedang apa ia disini?” Ahreum tersadar bahwa gadis paling heboh itu adalah Han Dasom, gadis yang suka menindas dan berkelahi dengannya di sekolah lamanya dulu. Ahreum akhirnya teringat dengan ucapan Dasom terakhir kali mereka bertemu, bahwa ia akan pindah ke Dangwon secepatnya, rupanya itu benar.

EXOOOO!! EXO Oppa!!! Oppa!! Saranghaeyo Oppa!! Neomu Joaheyo!!! Oppaaa!!!” Ahreum memegang kupingnya karena kebisingan dengan para murid wanita buas yang sedang mengerubungi para saudaranya itu. Suara para murid wanita itu benar-benar menggelegar dan sanggup membuat gendang telinga siapapun pecah.

“Apa-apaan ini? Sekumpulan gadis bodoh” sebuah suara membuat Ahreum sontak berbalik dan mendapati seorang gadis berambut panjang hitam dengan poni segaris menatap tidak suka kepada kerubungan yang menutup jalur akses menuju koridor kelas itu.

“Apa hebatnya EXO bodoh itu?” Lanjut gadis itu dengan suara pelan namun masih sanggup di dengar oleh Ahreum yang berada tidak jauh dari tempat gadis itu berdiri. Gadis itu memasang wajah datar dan tidak sukanya menatap para murid perempuan yang sedang histeris mengerubungi para lelaki itu.

Ahreum jadi tercekat sendiri mendengar ucapan gadis itu bukan karena gadis itu sudah menghina para kakanya namun gadis di belakangnya ini mempunyai hawa dingin yang kuat, Ahreum bisa merasakan hal itu. Namun yang membuat Ahreum terkaget adalah perubahan wajah gadis itu secara tiba-tiba, gadis itu langsung mengubah air mukanya yang tadinya datar menjadi tiba-tiba tertawa seorang diri , dan lebih anehnya lagi suara tawa gadis itu terdengar sangat menakutkan di telinga Ahreum. Gadis berambut panjang itu meraih sebuah boneka kelinci dari dalam saku seragamnya, tawanya semakin menakutkan ketika ia menatap boneka kecil itu.

“Hihihihihi~ Yurin eonnie ingin bertanya, kenapa ada orang-orang konyol semacam EXO di dunia ini? Hihihihhihihihihihi~ apa kau tahu Yongyong? Mereka… membuatku muak saja. Hihihihihihihihi” Ahreum merasakan bulu kuduknya berdiri mendengar ucapan gadis itu yang sudah melangkah pergi sambil masih melihat boneka kecil ditangannya.

“Gadis itu, dia benar-benar mempunyai suara yang menakutkan” gumam Ahreum seorang diri sambil masih tetap mengarahkan pandangannya ke gadis berambut panjang itu.

 

Sementara itu EXO benar-benar sudah merasa jengah terus di kerubungi oleh para kumpulan wanita histeris ini. Para gadis dengan beragam bentuk ini benar-benar menakutkan membuat EXO bahkan tidak sanggup bergerak untuk menuju kelas mereka masing-masing.

“Issh… para orang ini benar-benar, apakah mereka tidak bisa membiarkan kita lewat?” gerutu Xiumin dengan wajah lucunya.

“Ini sangat menyebalkan. Hari-hari kita selalu dilalui dengan para manusia bringas ini” ujar Baekhyun terlihat jengah.

“Sudahlah~ bukankah mereka fans kita?” Suho berusaha menenangkan yang lainnya.

“Aish~ kupingku sebentar lagi akan tuli permanen kalau terus mendengar teriakan mereka” ringis Kai sambil mengusap telinga kanannya.

“Hei-, bukankah itu Ahreum?” Lay mengarahkan telunjuknya ke arah Ahreum yang sedang berdiri di arah aula dan entah sedang melihat apa. Pandangan para lelaki itu akhirnya mengarah kepada sosok gadis bertubuh agak kurus yang sedang berdiri di sana.

“Ternyata eomma menyekolahkannya disini” ujar Luhan terus memperhatikan Ahreum yang entah sedang menatap apa.

“Dia terlihat cantik dengan seragam itu, benar kan Kris Hyung?” ujar Chanyeol sambil menyenggol lengan Kris.

“Hm.” Jawab Kris singkat namun tatapannya tertuju ke arah sosok Ahreum disana.

“Permisi nona-nona, bisakah kau membiarkan kami lewat? Kami harus menemui seseorang” ujar Kai memecah suasana dan berjalan maju menerobos para kerubungan itu diikuti yang lainnya.

Sementara Itu, Ahreum masih menatap sosok gadis berambut panjang itu yang mulai berjalan menjauh. Gadis itu masih saja sibuk tertawa dan berbicara sendiri. Ahreum menggelengkan kepalanya pelan, ia jadi teringat bahwa ia harus segera ke ruang guru untuk mengetahui kelasnya, namun gadis itu sama sekali tidak tahu ruangan guru di sekolah ini.

“Uri Ahreum ternyata kau disini” sebuah suara membuyarkan lamunan Ahreum, membuat gadis itu sontak mengangkat wajahnya dan mendapati ke 12 lelaki dengan bentuk dan model berbeda-beda mengarahkan semua tatapan mereka ke arah Ahreum.

“Ne~?” ujar Ahreum kaget kenapa para lelaki ini sudah berada di depannya, bukankah tadi mereka masih di kerubungi oleh para murid wanita disana? Kenapa mereka tiba-tiba jadi berada di depan Ahreum secara serentak?

“Jangan khawatir, kami sebagai para Oppa akan membantu kebingunganmu” ujar Suho diikuti anggukan yang lainnya.

Ahreum membulatkan matanya terkejut mendengar ucapan barusan.

“Eeeh??”

 

 

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~TO BE CONTINUE~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

 

Note : Hei, aku hadir dengan membawa Part 1 dari FF yang Prolognya sudah lama keluar ^^ Part 1 ini masih tahap awal, masih tahap pengenalan Lee Ahreum terhadap kehidupan barunya pasca sudah di adopsi^^ Aku tahu Ff ini masih memiliki banyak kekurangan, mohon Kritik, Saran dan kesannya yaa~^^ Dan maaf juga kalo Part 1 ini kurang banyak dan agak pendek, soalnya sulit rasanya buat nulis di bulan puasa ini dimana energi itu diserap sama rasa lapar, jadi maaf kalau gak maksimal^^ tapi aku akan berusaha untuk part ke depannya^^

Untuk yang mau contact me :

Follow :@_nraesky

FB : Naomi Reeyu

Khamsahamnida ^^

168 responses to “THE BROTHERS [Part One – Hello, New World]

  1. Pingback: THE BROTHERS [Part Six - Brother Complex] | FFindo·

  2. Pingback: THE BROTHERS [Part Seven – That Angel] | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s