[Oneshoot] You’re Hero

Hai, ini bukan FF saya melainkan FF titipan. Setelah membacanya, dimohon memberikan apresiasi dalam bentuk komentar ya. Terima kasih.

You’re Hero

my hero

Tittle/judul fanfic: You’re Hero

Author: VARTSTORY

Length: Oneshoot

Genre: Angst | Romance

Rating: PG-13

Main cast : Oh Sehun | Jung Jihyun (OC)

Additional Cast: Kim Jongin | Jung Soojung

Disclaimer: also published on my blog vartstory.wordpress.com and superjuniorfanfic1315.wordpress.com

 

Aku mengepakkan baju-bajuku dan memasukkannya ke dalam koper, ya besok sekolahku akan mengadakan perjalanan ke Pulau Jeju. Sungguh aku sangat bersemangat untuk mengikuti trip itu, karena Pulau Jeju adalah tempat di Korea yang ingin aku kunjungi selain itu yang membuatku semangat adalah Oh Sehun, kekasihku yang juga akan mengikuti trip ini bersama denganku.

Hubunganku dan Sehun baru berjalan hampir 6 bulan, dan yang membuatku bangga karena menjadi kekasihnya adalah karena Sehun adalah seorang ketua kelas di kelasku dan juga seorang namja yang digilai oleh hampir semua yeoja di Danwon. Aku sangat ingat bagaimana saat-saat aku mulai jatuh pada pesona seorang Oh Sehun. Saat itu adalah pemilihan ketua kelas, ada beberapa orang mencalonkan dirinya untuk menjadi ketua kelas tapi hanya Sehun lah calon ketua kelas yang direkomendasikan oleh beberapa siswa di kelasku. Ya dia dicalonkan bukan mencalonkan diri, dan itulah pertama kalinya aku mulai meliriknya. Awalnya ku kira dia dicalonkan karena dia adalah namja yang cukup popular tapi ternyata perkiraanku salah, Sehun dicalonkan karena dia adalah siswa yang pintar dan juga bertanggung jawab. Pada setiap saat jam pulang sekolah Sehun adalah orang terakhir yang keluar dari kelas, aku pernah bertanya padanya kenapa dia selalu keluar terakhir dan dia menjawab

“aku dipercaya oleh seonsengnim dan teman-teman untuk menjadi ketua kelas karena itu aku harus menjaga kepercayaan mereka dengan memeriksa setiap sudut kelas, apakah ada barang teman-teman yang tertinggal atau apa ada sampah yang masih berserakan disudut kelas dan di kolong-kolong meja. Selain itu aku juga harus mengusir beberapa orang yang ingin berpacaran di kelas saat jam pulang sekolah usai.”

Dan kata-katanya itulah yang membuatku jatuh cinta padanya, dan mulai mendekatkan diri pada sosok Charming Class President Oh Sehun. Dan sampai pada akhirnya Sehun menyatakan perasaannya padaku, awalnya aku terkejut karena dia mempunyai perasaan yang sama denganku bahkan aku sempat berfikir jika Sehun menyatakan perasaannya karena kasihan padaku karena memang sewaktu itu berita tentang diriku yang menyukai Oh Sehun sudah berhembuh kencang namun semua fikiran negative itu ku buang jauh-jauh saat Sehun memberikan alasan kenapa dia memilihku menjadi kekasihnya.

“aku menyukaimu saat pertama kali kita menjadi siswa di kelas ini. Saat pertama kali ku melihatmu masuk ke dalam kelas, aku tidak bisa menghilangkan pandanganku darimu. Bahkan aku masih mengingat jelas bagaimana bentuk pita merah muda yang menghiasi rambutmu saat itu. Dan sebenarnya sejak saat itu aku ingin bisa lebih dekat denganmu namun dari informasi yang kuterima kau sangat bersikap dingin pada namja yang mendekatimu, karena itulah aku urung untuk mendekatimu. Sampai pada akhirnya kau mengajakku berbicara dan menanyakan alasan kenapa aku selalu menjadi orang terakhir yang keluar dari kelas. Bahkan saat itu entah kenapa aku bisa berbicara dengan kalimat sepanjang itu. Dan kau tahu, saat mengetahui berita bahwa kau menyukaiku, aku sangat bahagia. Dan aku mulai menyusun kalimat ini untuk menyatakan perasaanku. Kau pasti bingung karena omonganku yang sangat panjang ini namun satu hal yang harus kau tahu, aku mencintaimu Jung Jihyun.”

Mungkin itu adalah pernyataan cinta terpanjang yang pernah ada namun hal itulah yang membuat Sehun semakin menarik dimataku. Karena Sehun adalah sosok namja yang tidak banyak berbicara namun saat berada di hadapanku dia akan berbicara dengan sangat panjang, seperti mengeluarkan semua yang ada di otaknya. Memikirkan Sehun seperti ini membuatku merindukannya, ah ye aku ingat jika Sehun belum berbelanja makanan untuk besok, lebih baik aku mengajaknya untuk berbelanja bersama.

Aku pun menekan speed dial 1 di ponselku, dan langsung terhubung oleh ponsel Sehun.

“Sehun-ah na-ya. Bisakah kau menemaniku membeli makanan ringan untuk besok. Kau juga belum berbelanja makanan untuk besok bukan?”

“mianhae Jihyun-ah aku tidak bisa, aku masih harus menyusun kelompok ruang tidur dan juga kelompok wisata untuk besok.”

“bukankah itu tugas Ahn Seonsengnim?”

“ne ini memang tugasnya tapi dia memintaku untuk mengurusnya karena dia harus mengurus siswa kelas sebelah karena wali kelas mereka sedang sakit dan tidak bisa mengurus kelompok untuk murid-muridnya.”

“kenapa kau mau? Seharusnya Ahn Seonsengnim mengutamakan kelas kita, bukan kelas orang lain dan menyuruhmu untuk melakukan semua tugasnya.”

“bukankah kau tahu jika aku sulit untuk mengatakan tidak pada semua tugas yang diberikan seonsengnim?”

“ne arra, dan itulah sikapmu yang sering membuatku kesal. Kau bahkan tidak memikirkan dirimu sendiri tuan Oh, seharusnya saat ini kau sedang beristirahat atau menghabiskan malam denganku bukannya mengurusi hal yang seharusnya bukan menjadi tanggung jawabmu.”

“bisakah kita berhenti mendebatkan hal ini? Aku tidak mau bertengkar denganmu.”

Aku memutuskan sambungan teleponku begitu saja, sungguh aku sama sekali tidak berfikir jika niatanku untuk mengajak Sehun berbelanja akan berujung dengan perdebatan seperti tadi. Dan sikap Sehun tadilah yang terkadang memicu keributan diantara kami, entahlah karena Sehun yang terlampau rajin atau terlampau bodoh yang membuatnya sering kali dimanfaatkan oleh beberapa seonsengnim untuk mengerjakan tugasnya. Mulai dari mengoreksi nilai ulangan, merekapitulasi absen hingga mengurusi pembagian kelompok wisata untuk esok. Aku sudah seringkali memarahi Sehun karena sikapnya yang sulit untuk menolak permintaan seonsengnim tapi semuanya berakhir seperti tadi.

Aku memutuskan untuk berbelanja sendiri, aku berjalan menuju lemari dan mengambil sweater hitam milikku dan memakainya. Aku berjalan keluar dari rumah dengan malas karena sejujurnya aku ingin sekali berbelanja makanan dan menghabiskan waktu malam ini dengan Sehun. Tapi aku enggan berdebat lagi dengannya, karena aku tahu aku pasti akan kalah.

“apa kau tidak takut jika memasang ekspresi mengerikan seperti itu Oh Sehun akan kabur darimu?” aku menoleh kearah sumber suara dan menemukan Kim Jongin teman Sehun yang juga temanku sedang tersenyum jahil kearahku. Aku memutar bola mataku malas dan kembali melanjutkan langkahku.

“kenapa kau berjalan sendiri? Dimana Sehun?” aku menoleh kearah Jongin dan menatapnya tajam.

“jangan berpura-pura bodoh Kim Jongin, kau disini karena Sehun yang menyuruhmu bukan?” lihatlah tebakanku benar bukan, Jongin langsung tersenyum lebar sambil menggaruk kepalanya.

“ne dia menyuruhku, apa kau lupa jika kekasihmu itu tidak pernah membiarkanmu pergi sendirian, dan selalu merasa bersalah karena tidak bisa menemanimu dan akhirnya meminta bantuanku untuk mencarimu dan menemanimu.” Aku mengangguk pelan, ya Sehun memang tidak pernah membiarkanku pergi sendirian. Jika dia tidak bisa menemaniku dia selalu meminta seseorang untuk menemaniku tanpa ku tahu, dan orang yang paling sering dimintainya tolong adalah Jongin.

“kapan sahabatmu itu bisa berkata tidak pada seonsengnim yang memberikannya tugas Jongin-ah?” aku menghela nafas sembari mendorong pintu mini market dan mengambil keranjang belanjaan.

“kekasihmu itu adalah tipe orang yang akan mengemban tugas dan tanggung jawabannya selama orang-orang masih mempercayainya. Dan Sehun juga bukan tipe orang yang akan membantu seseorang yang membutuhkan bantuannya selama dia masih bisa membantu.”

Aku mendengus kesal mendengar pernyataan Jongin yang 100 persen benar, “ne tapi tidak dengan mengorbankan waktunya bukan?”

Jongin menyenderkan tubuhnya pada dinding sambil melipat kedua tangannya dan menatapku dengan kedua manic matanya, “mengorbankan waktunya atau mengorbankan waktu kalian berdua?”

Aku menunduk malu mendengar ucapan Jongin, ya memang benar jika aku merasa kalau Sehun mengorbankan waktu kami berdua hanya untuk melaksanakan tugas yang diberikan seonsengnim. Tapi bukankah wajar jika aku mengiginkan waktu berdua dengan kekasihku sendiri?

Jongin menepuk pundakku pelan dan tersenyum, “sudahlah besok selama di Jeju, Sehun akan menjadi milikmu. Dan aku juga yakin, Sehun  pasti mengatur agar dia dan kau menjadi satu kelompok.”

Aku menghembuskan nafas pasrah, “ya semoga saja.”

Aku menarik koperku tanpa semangat sama sekali, bahkan kapal feri bertuliskan sewol di depanku ini sama sekali tidak membuat semangatku muncul. Entahlah rasanya aku enggan menaiki kapal ini, ya mungkin ini semua karena perdebatanku dengan Sehun di telepon semalam yang membuat sampai saat ini kami tidak bertegur sapa. Ah anni, lebih tepatnya aku yang tidak menyapanya. Aku mencoba menghindari Sehun.

Saat ini aku dan teman-temanku tengah berbaris sembari mendengarkan pengarahan dari Kepala Sekolah, setelah Kepala Sekolah selesai memberikan pengarahan aku dan teman-temanku berjalan memasuki kapal Sewol. Aku bisa melihat Sehun yang juga berjalan memasuki kapal, aku menyesal karena telah melihatnya. Memandangnya seperti ini bagaikan obat-obatan terlarang yang membuatku selalu kecanduan karena saat ini mataku seperti tidak ingin berpaling untuk melihat objek lainnya selain Sehun.

“Sampai kapan kau mau memandangi Sehun seperti itu terus” suara Soojung membuyarkan pandanganku terhadap Sehun.

“apa kau tidak lelah saling mendiami seperti ini? Apa nanti saat tiba di Jeju kau tidak ingin menghabiskan waktu bersama dengannya?” aku sama sekali tidak menjawab pertanyaan Soojung dan hanya menundukkan kepalaku.

Tiba-tiba Soojung menyikut lenganku yang membuatku langsung menegakkan kepalaku dan melihat Sehun berjalan kearahku, “ini kunci kamar kalian, taruh semua barang kalian di kamar setelah itu berkumpullah di restaurant untuk sarapan bersama dengan yang lainnya.” Ucapnya lalu pergi meninggalkan kami, sepertinya Sehun sadar kalau aku marah padanya sehingga dia tidak menegurku. Sehun memang bukan tipe pria yang akan merajuk dan memberikan hadiah saat kekasihnya sedang marah padanya, Sehun adalah tipe pria yang akan membiarkan emosi kekasihnya mereda ketimbang melakukan hal-hal yang kekanakkan. Dan itulah yang sering dia lakukan padaku, dia akan berbicara padaku ketika emosiku mereda.

“Sehun-ah jhakkaman, ada yang ingin Jihyun bicarakan padamu.” Aku langsung menatap tajam Soojung saat pernyataan bohongnya itu keluar dari mulutnya. Dan lihatlah sekarang Sehun membalikkan tubuhnya.

“apa sebelumnya kami boleh berkeliling kapal ini?” pertanyaan bodoh itu keluar begitu saja dari mulutku, Soojung yang berada di sampingku langsung menggelengkan kepalanya karena sikapku yang tidak memanfaatkan kesempatan dengan Sehun. Sehun sendiri hanya menjawab pertanyaanku dengan dehaman kecil yang diikuti oleh anggukan kepalanya lalu Sehun berlalu meninggalkanku dan Soojung begitu saja.

“kenapa kau malah menanyakan hal bodoh seperti itu? Apa kau tidak lihat expresi kecewanya saat kau menanyakan pertanyaan bodoh tadi­?” Kecewa? Benarkah Sehun kecewa saat aku menanyakan pertanyaan bodoh tadi? Jika iya berarti dia berharap jika aku akan mengatakan permintaan maaf atau hal lainnya yang berkaitan tentang perdebatan semalam.

Aku dan Soojung berjalan menuju kamar yang telah dipersiapkan untuk kami berdua, dan selam perjalanan menuju kamar kami, Soojung terus menerus menyalahkan sikapku.

“saat kapal ini menepi, aku akan meminta maaf pada Sehun.” Ujarku pada Soojung yang dibalas senyuman puas olehnya. Aku pun merebahkan tubuhku di kasur dan mencoba menenangkan perasaanku entahlah, sejak bangun dari tidurku tadi perasaanku terus menerus tidak enak. Rasanya aku ingin mengajak Sehun untuk kabur dari wisata ini.

“kajja, kita sarapan.” Ucap Soojung namun aku hanya menggelengkan kepalaku.

“kau sendiri saja, aku ingin tidur sebentar lagipula aku sudah sarapan tadi.”

“baiklah, kau bisa menemukanku di restaurant.” Ucap Soojung lalu keluar dari kamar kami berdua.  Aku pun memejamkan merapatkan selimut dan memejamkan mataku.

30 menit kemudian

Aku terbangun saat ponselku bergetar, Soojung mengirimiku pesan untuk segera menyusulnya ke dek bawah kapal ini karena ada sebuah barang yang ingin dia beli di pertokoan yang memang terdapat di kapal feri ini. Aku pun mengambil jaketku dan keluar dari kamar namun saat aku baru berjalan beberapa meter, lampu kapal tiba-tiba padam dan hanya menyisakan kegelapan dan juga beberapa teriakan yang sangat ku benci. Aku langsung menyenderkan tubuhku pada dinding kapal ini dan berharap jika lampu segera menyala, sungguh aku tidak habis pikir bagaimana kapal sebagus ini bisa mengalami mati listrik. Aku pun menyalakan ponselku untuk mendapatkan sedikit penerangan dan hanya mendapatkan bahwa hanya diriku yang berada di koridor kapal ini. Aku sungguh menyesali keputusanku untuk tidur dan menolak ajakan Soojung.

Aku bernafas lega saat lampu mulai menyala dan bergegas untuk menyusul Soojung namun baru beberapa langkah, aku mendengar suara ledakan dan kemudian kapal ini bergetar yang membuatku langsung terduduk di lantai. Aku langsung merasa ada yang tidak beres dan langsung bangkit dan berlari menuju tempat berkumpulnya orang-orang, saat aku berlari aku merasa jika kapal mulai miring tapi aku tetap berlari sampai pada akhirnya sebuah benda mendarat di keningku yang membuatku langsung terjatuh. Aku merasakan perih di kepalaku, aku pun menyentuh kepalaku dan melihat darah di telapak tanganku. Namun samar-samar aku mendengar suara Sehun memanggil namaku dan melihat bayangan Sehun sedang berlari kearahku.

“kepalamu.” Sehun memegang kepalaku dan mengambil sapu tangan disakunya untuk menahan darah yang keluar dari kepalaku.

“apa yang terjadi?”

“kapal menabrak sesuatu dan sepertinya sebentar lagi kapal akan tenggelam.” Aku membelalakkan mataku saat mendengar pernyataan Sehun jika kapal ini akan tenggelam. Tubuhku bergetar dan air mata mulai menumpuk di mataku.

“tenanglah kau akan selamat, percaya padaku.” Sehun membantuku berdiri lalu merangkulku untuk membantuku berjalan.

“apa kita bisa selamat?” tanyaku lalu Sehun menoleh kearahku dan tersenyum.

“ne ku dengar kapten dan kru kapal sudah mengirimi panggilan darurat dan sebentar lagi bantuan akan datang. Jangan takut, ada aku disini. Aku tidak akan membiarkanmu meninggal, kalaupun kau meninggal kau akan meninggal ditemani oleh anak cucumu, diranjang hangatmu bukan dikapal ini.”

Saat ini aku bisa melihat orang-orang berteriak dan menangis beberapa dari mereka ada yang berlari kesana kemari dan ada juga yang tetap diam di tempatnya mengikuti instruksi dari kru kapal ini. Tapi Sehun tidak mengindahkan panggilan kru itu untuk tetap diam di tempat dan terus membawaku.

“kenapa kita tidak menuruti ucapan orang itu?” aku protes padanya, karena kru kapal tadi mengatakan lebih aman jika aku dan Sehun diam ditempat.

“jika kita diam, kita akan mati. Nantinya saat bantuan datang kita tidak mempunyai waktu untuk keluar dari kapal ini.” Ucapnya sambil terus merangkulku dan berpegangan pada apapun yang berada di sampingnya karena keadaan kapal yang semakin miring sampai pada akhirnya kami berhasil keluar dari kapal dan melihat Jongin dan juga Soojung yang sedang berpegangan pada besi untuk menahan tubuhnya.

“Ya Tuhan kepalamu.” Ucap Soojung, saat melihat kepalaku yang berlumuran darah.

“sesuatu membentur kepalaku saat aku sedang berlari untuk mencari kalian.”

Aku melihat banyak penumpang yang mulai keluar dari dalam kapal dan berpegangan pada besi yang sedang ku pegang sedangkan sebelah tanganku menggenggam tangan Sehun dengan sangat erat. Sehun dan Jongin terus melihat keberadaan kapal penyelamat yang akan mengeluarkan kami. Namun tiba-tiba Sehun melepaskan genggaman tanganku lalu melepaskan pelampungnya dan memberikannya kepadaku.

“kenapa kau memberikannya kepadaku? Pakai kembali pelampung ini.” Ucapku namun Sehun tetap bersikeras agar aku menerima pelampung itu dan memakainya. Karena Sehun terus memaksa, aku terpaksa memakai pelampung itu.

“kau tunggulah disini sebentar, aku harus membantu teman-teman yang lain.” Ujarnya, aku menggelengkan kepalaku dan menahan tangannya.

“jangan pikirkan orang lain, pikirkan dirimu sendiri Oh Sehun.” Ucapku dengan nada tinggi, Jongin dan Soojung pun membantuku untuk menahan Sehun namun Sehun terlalu keras kepala.

“didalam masih banyak teman-teman kita yang tetap mendengarkan instruksi kru untuk berada di dalam, mereka akan mati jika menuruti instruksi kru itu.” Sehun melepaskan tanganku dan kembali memasuki kapal, sementara Soojung dan Kai terus menenangkanku dan mengatakan jika Sehun akan segera kembali.

Beberapa menit kemudian aku bisa melihat beberapa kapal mulai mendekat dan aku pun berharap jika Sehun segera kembali dan harapanku terkabul Sehun keluar dengan diikuti oleh beberapa teman-teman kami, tapi Sehun bukannya bergabung bersama dengan kami Sehun malah kembali masuk ke dalam kapal dan keluar dengan membawa beberapa pelampung dan memberikannya kepada teman-teman kami yang belum memakai pelampung, aku pun bersusah payah untuk menghampiri Sehun karena keadaan kapal yang semakin miring.

“tetaplah disini, beberapa kapal semakin mendekat kearah kita.”

“aku harus kembali masuk dan mencari pelampung, teman-teman yang lain banyak yang belum mendapatkan pelampung.”

“omong kosong dengan semuanya, tetaplah disini bersamaku hingga bantuan datang.” Aku terus menahan tangan Sehun agar tidak pergi meninggalkanku dan tiba-tiba kapal kembali bergoyang dan semakin miring. Aku melihat sebuah perahu mendekat kearah kami dan berteriak agar kami melompat dari kapal karena keadaaan kapal yang sangat tidak memungkinkan jika kami bertahan.

Sehun pun menarik tanganku dan kembali menahan dirinya di besi yang tadi kami pegang, namun dia menyerahkanku kepada Jongin yang membuatku mengerutkan kening karena sikapnya yang sangat sulit ku mengerti.

“kau harus segera melompati kapal ini bersama dengan Jongin dan Soojung, saat kau sudah sampai di air berenanglah dengan cepat ke perahu terdekat. Air dibawah sangatlah dingin, dan jangan biarkan dirimu kalah oleh dinginnya air laut.” Sehun menatap mataku lekat dan mengelus kepalaku lalu pandangannya mengarah kearah Jongin, “Jongin-ah jebal, jaga Jihyunku. Pastikan dia sampai ke perahu penyelamat”

Aku menatap Sehun dengan mata berkaca-kaca, dan meminta penjelasan Sehun terhadap ucapannya tadi begitu juga dengan Soojung dan Jongin.

“yaa Sehun-ah apa yang kau bicarakan? Kita akan melompat ke laut bersama dan kau yang akan menjaga Jihyun bukan aku.”

“aku harus kembali ke dalam untuk menarik keluar beberapa teman-teman dan juga mencari pelampung untuk diriku sendiri dan kalian segeralah lompat dari kapal ini. Orang-orang semakin banyak, jangan sampai kalian tidak mendapatkan perahu penyelamat.”

Aku menahan tangan Sehun dan aku bisa merasakan jika kini air mata sudah membanjiri wajahku, “jebal kajjima.”

Sehun tersenyum dan menghapus air mataku, “berjanjilah padaku, kau akan selamat. Tidak peduli sedingin apa air dibawah sana, tidak peduli seputus asa apa kau saat menghadapi dinginnya air dibawah, kau harus tetap selamat dan kau tidak boleh melanggar janjimu. Yakso?” Sehun menautkan kelingkingnya sambil tetap tersenyum aku pun menautkan kelingkingku dengan kelingking Sehun.

“ne yakso, geunde kau juga harus berjanji kalau kau akan selamat.” Sehun lagi-lagi tersenyum dan menampilkan smile eyesnya yang sangat kusukai.

“aku akan menemuimu di taman tempat pertama kali kita berkencan saat hari jadi kita tiga hari lagi.”

Aku menganggukkan kepalaku dan sebelah tanganku kini menggengam tangan Jongin yang kini sudah berada diantaraku dan juga Soojung. Kami bertiga mulai menaiki rentetan besi pagar kapal ini dan bersiap untuk melompat namun pandanganku tidak bisa lepas dari sosok Sehun yang masih tersenyum hangat kearahku. Sampai pada akhirnya mataku tertutup karena aku, Jongin dan juga Soojung mulai melompati pagar kapal. Aku membuka mataku saat aku merasakan dinginnya air laut, Sehun benar air disini sangatlah dingin. Dan sungguh suhu air ini membuatku tidak bisa berfikir bahkan aku sangat tidak sanggup untuk berenang ke permukaan sampai pada akhirnya Jongin menarik pelampungku ke permukaan.

“Jihyun-ah gwechana? Apa kau sanggup berenang hingga ke perahu disana.” Ucap Jongin dengan bibir bergetar sambil menunjuk kearah perahu penyelamat yang terletak beberapa meter dari kami, aku melihat Jongin serta Soojung bergantian yang juga sama-sama menggigil sepertiku lalu menganggukkan kepalaku. Kami beriga pun segera berenang ke perahu terdekat, aku bisa mendengar suara beberapa orang yang juga berada di dalam air seperti kami. Aku terus berenang sambil memikirkan Sehun dan juga janji yang kuberikan pada Sehun tadi. Dan akhirnya kami bertiga sampai di perahu penyelamat, beberapa ahjussi menarikku, Soojung dan juga Jongin keatas perahu. Ahjussi tersebut memberikanku selimut, dan kini aku menyenderkan tubuhku di bahu Jongin yang sama-sama memakai selimut untuk menghangatkan tubuh kami. Kesadaranku mulai berkurang dan aku sama-samar melihat Sewol kini sudah terbalik 90 derajat. Aku selamat Sehun-ah, kau juga harus selamat.

Aku mengerjapkan mataku dan menghirup aroma obat-obatan yang menyengat, dan aku bisa melihat Jongin dan juga kedua orang tuaku tengah menatapku bahagia. Tapi dimana Sehun?

“Jongin-ah, Sehun…dimana Sehun?” tanyaku namun yang ku temukan dari Jongin hanyalah raut kesedihan.

“Sehun belum di temukan Jihyun-ah.” tangisku pecah saat mendengar ucapan Jongin. Dengan segera aku melepaskan alat infuse ditubuhku dan bangkit dari tidurku yang membuat kedua orang tuaku langsung menahanku.

“kau harus kembali beristirahat.”

“anni eomma, aku harus menemukan Sehun.”

“kau bisa mencari Sehun saat kesehatanmu pulih.” Lanjut appaku, namun aku tidak menghiraukan mereka sama sekali.

“appa eomma, Sehun lah yang membuatku berada disini bersama kalian. Sehun yang menyelamatkanku. Jika Sehun tidak mencariku mungkin aku akan menjadi bagian dari beberapa siswa yang hilang.”

Tangisku kembali pecah yang membuat kedua orang tuaku mau tidak mau menyetujui keinginanku. Dan dengan ditemani Jongin menuju pelabuhan untuk mencari informasi mengenai Sehun, dan kedua orang tuaku menunggu dirumah sakit. Sedangkan Soojung sudah dibawa pulang oleh kedua orang tuanya.

Saat sampai di pelabuhan, aku melihat beberapa orang tua yang histeris mendapatkan anak mereka dibawa oleh tim sar dalam keadaan tidak bernyawa. Aku pun menatap Jongin yang kini berada disampingku.

“sudah berapa hari aku tidak sadarkan diri?”

“dua hari.” Air mataku lagi-lagi turun, dua hari? Jadi selama dua hari Sehun belum juga ditemukan?

Aku dan Jongin berjalan menuju tepi pantai agar bisa lebih dekat dengan beberapa tim SAR dan ditengah-tengah kerumunan orang tua, aku melihat orang tua Sehun. Aku dan Jongin pun langsung berlari kearah mereka.

“ahjumma.” Panggilku, saat melihatku eomma Sehun langsung memelukku dan kini kami berpelukan sembari menangisi sosok Oh Sehun.

“Sehun masih belum bisa ditemukan Jihyun-ah.” ucap eomma Sehun sambil terisak begitu juga aku.

“mianhae ahjumma, jika aku bisa lebih memaksa Sehun pasti dia tidak akan hilang seperti ini,”

Appa Sehun mengelus pundakku dan tersenyum, “sudahlah ini bukan salahmu, kami tahu bagaimana watak Sehun. Dia memang keras kepala.”

Eomma Sehun pun melepaskan pelukannya dan kini kami tengah menatap lautan sambil berharap mendapatkan keajaiban tentang keadaan Sehun. Aku mencoba menahan tangisku dan melihat seorang tim Sar datang dengan membawa kantong jenazah, appa Sehun dan juga Jongin pun menghampiri Tim Sar itu untuk mengetahui siapa yang berada di balik kantong jenazah itu walau sebenarnya aku sangat berharap bukan Sehun yang berada di dalamnya. Dan sepertinya harapanku sia-sia, karena kini aku melihat appa Sehun tengah menangis begitu juga dengan Jongin yang menghampiriku dengan mata berkaca-kaca sembari membawa sesuatu ditangannya.

“jangan katakan jika jenazah yang dibawa orang tadi adalah Sehun, jebal Jongin-ah.” Jongin hanya menundukkan kepalanya tanpa membalas pertanyaanku, aku pun mengguncangkan tubuh Jongin untuk meminta penjelasan darinya. “KIM JONGIN JAWAB AKU.” Aku berteriak frustasi, Jongin pun menyerahkan sebuah gelang padaku yang membuatku menangis histeris dipelukan Jongin. Gelang ini adalah gelang yang ku beli bersama dengan Sehun dihari jadi kami yang ke 2 dan gelang ini adalah gelang pasangan yang hanya diproduksi 1 pasang yang artinya jenazah tadi adalah Sehun.

Aku berjalan menuju ambulans bersama dengan Jongin, aku dan Jongin kini berada di ambulans sedangkan kedua orang tua Sehun menaiki ambulans yang lain karena eomma Sehun yang langsung tidak sadarkan diri saat mengetahui Sehun yang berada di balik kantong jenazah tadi.

Tanganku bergetar saat mencoba membuka kantong jenazah yang terdapat tubuh Sehun didalamnya, dan lagi-lagi aku menangis histeris saat melihat mata Sehun tengah tertutup dengan wajah yang pucat yang sangat damai. Karena melihatku yang terus histeris, Jongin langsung memelukku dan menutup kembali kantong jenazah Sehun. Selama perjalanan menuju Incheon aku hanya menangis dan menangis, ya orang tua Sehun memutuskan untuk langsung memakamkan Sehun karena tidak mau melihat tubuh anak mereka yang bisa membusuk dalam waktu dekat.

“Sehun-ah !!” aku memanggil Sehun yang kini tengah berjalan menjahiku, aku pun berlari mengejar Sehun dan memeluknya dari belakang.

“kau ingin pergi kemana? Tetaplah disini bersamaku.” Sehun tersenyum kearahku lalu mencubit kedua pipiku.

“suatu tempat yang sangat indah.”

“aku ikut”

“kau akan ikut bersamaku tapi tidak sekarang, hiduplah dengan baik. Dan satu lagi, Jongin adalah namja yang baik. Saranghae Jung Jihyun.” Sehun melepaskan tanganku dan pergi menjauh dariku dan entah kenapa kakiku sulit untuk bergerak dan aku hanya bisa meneriaki namanya.

“OH SEHUN !!!”

Aku terbangun dan kini aku tengah berada di kamar rumah sakit dengan Jongin yang menatap cemas kearahku.

“Sehun…dimana Sehun. Antar aku untuk menemui Sehun sekarang Jongin-ah.” Jongin menganggukkan kepalanya dan menantarku keruangan tempat Sehun berada yaitu ruangan duka.

Aku bisa melihat beberapa teman-teman kami dan juga Soojung tengah menangis dan menatap kearah peti mati yang berada di tengah-tengah mereka begitu juga dengan kedua orang tua Sehun yang kini tengah berdiri di samping peti mati tersebut. Saat melihatku berjalan kearah mereka, appa Sehun menarik mundur eomma Sehun untuk duduk dan mempersilahkan diriku untuk melihat Sehun untuk terakhir kalinya.

Aku melihat Sehun tengah terbaring di peti dengan memakai tuxedo hitam dan rambut blondenya yang tersisir rapi. Aku pun mengelus pelan rambut Sehun dan juga pipinya dan mencoba untuk menahan tangisku.

“bukankah kau bilang kau akan selamat? Bukankah kau bilang akan menemuiku di pantai tempat pertama kali kita berkencan saat hari jadi kita esok? Kenapa kau tidak menepati janjimu.” Kini aku bisa mendengar kalau hanya suaraku yang berbicara pada Sehun yang lebih mendominasi ruangan ini. Bahkan aku tidak peduli tatapan iba orang-orang yang kini tengah menatapku.

“kau tahu, jika aku tahu kau tidak akan selamat. Aku akan menemanimu di kapal itu hingga kau bisa menyelamatkan semua teman-teman kita dan mendapatkan pelampung. Jika aku tahu aku tidak akan membiarkanmu lepas dariku. Jika aku tahu, aku tidak akan membuatmu kecewa waktu itu.” tangis yang sedari tadi ku tahan akhirnya pecah, Jongin yang melihatku menangis langsung merangkulku dan menenangkanku.

“bukankah kau tidak suka jika aku berpergian sendirian, jika kau tidak ada siapa lagi yang akan menemaniku? Kau juga tidak bisa lagi menyuruh Jongin untuk menemaniku. Irreona Sehun-ah jebal irreona” Aku mengenggam jemari Sehun yang dingin dan kaku.

“kajja Jihyun-ah, upacara pemberkatan untuk Sehun akan segera dimulai.” Jongin merangkulku dan membantuku berdiri.

“berikan aku waktu beberapa menit lagi Jongin-ah, jebal.” Pintaku pada Jongin, Jongin pun menganggukkan kepalanya.

Aku kembali mengarahkan pandanganku kearah Sehun lalu kembali menggeggam tangannya dan menciumnya. Setelah itu aku kembali meletakkan tangan Sehun dan mengarahkan wajahku ke wajah Sehun dan mencium bibirnya, ciuman pertama sekaligus terakhir yang kulakukan untuk Sehun.

“saranghae Oh Sehun, jheongmal saranghae.” Bisikku tepat ditelinga Sehun lalu mencium keningnya dan menghapus jejak air mataku di wajahnya yang pucat. Setelah itu Jongin merangkulku dan membantuku duduk di kursi yang tersedia. Aku mengikuti upacara pemberkatan Sehun dengan terisak.

Aku kembali kerumahku setelah pemakaman Sehun berakhir, sebenarnya aku tidak mau meninggalkan Sehun sendiri namun kedua orang tuaku memaksaku pulang dan karena keadaanku yang sangat terlihat menyedihkan. Dan kini aku hanya terduduk di kursi meja belajarku sambil menatap fotoku dan Sehun yang terbingkai indah sampai pada akhirnya eommaku masuk ke dalam kamarku dan memberikan ponselku.

“appa dan eomma sudah menservis ponselmu, syukurlah tidak ada kerusakan parah dan tidak ada juga data-data yang hilang.” Aku memeluk eommaku dan berterima kasih karena eomma dan appa tidak membiarkan ponselku yang rusak akibat air laut begitu saja karena di dalam ponsel itu terlalu banyak kenanganku dan Sehun.

Saat eommaku keluar dari kamarku, aku menyalakan ponselku dan menemukan beberapa pesan suara. Tanganku bergetar dan air mataku kembali turun saat membaca nama yang tertera dalam pesan itu. Oh Sehun. Aku pun membuka pesan suara Sehun yang tanggal pengirimannya tepat saat Sewol tenggelam 15 April 2014.

“Jihyun-ah kau mendengarku?” suara Sehun mulai terdengar dan aku menganggukkan kepalaku seakan aku sedang menerima telepon darinya.

“syukurlah kau bisa selamat dan menepati janjimu, mianhae sepertinya aku tidak bisa menepati janjiku. Jangan menangis seperti itu, kau tahu bukan aku sangat tidak suka jika kau menangis apalagi jika kau menangisiku. Aku akan merasa bersalah jika kau terus menangis. Hiduplah dengan baik saat aku tak ada lagi di sampingmu, jangan terus menangisi kepergianku karena itu membuatku tidak tenang.  Kau harus kembali menjadi Jihyunku yang periang.” Tangisku kembali pecah saat mendengar suara Sehun yang semakin terdengar bergemetar, aku yakin saat Sehun merekam pesan ini dia sedang berada di dalam air.

“kau tahu aku sama sekali tidak menyesal jika hidupku berakhir disini karena aku menolong beberapa teman-teman kita. Jika saat itu aku ikut melompat bersamamu dan meninggalkan teman-teman yang lain aku akan hidup dengan diliputi rasa bersalah seumur hidup. Jihyun-ah kau tahu, disekelilingku saat ini terdapat beberapa orang yang mungkin sudah tak benyawa tapi aku sama sekali tidak takut. Karena aku tahu setelah itu Tuhan akan membawaku ke tempat yang sangat indah, dan kau harus percaya jika suatu hari nanti kita dapat kembali berkumpul di tempat yang sudah Tuhan persiapkan.” Suara Sehun yang terdengar di telingaku sangat menyedihkan.

“Jihyun-ah berjanjilah padaku kau akan kembali hidup normal, dan melanjutkan hidupmu. Aku sudah menitipkanmu kepada Jongin, dan hanya Jonginlah namja yang kupercayai dan kurelakan untuk menjadi penggantiku. Karena aku tahu, Jongin adalah namja yang tulus.” Bodoh, hanya kata itu yang keluar dari mulutku. Bagaimana bisa Sehun menitipkanku pada Jongin, seharusnya dia tahu jika aku tidak akan bisa mencari penggantinya.

“Jihyun-ah…..” suara Sehun semakin terdengar melemah dan terdengar desisan dari suaranya.

“saranghae…. jheongmal saranghae.” Kini suara Sehun sudah tidak terdengar lagi dan membuatku semakin menangis histeris karena itu berarti Sehun sudah tak lagi sadarkan diri.

Flashback Sehun Point Of View

Aku berlari menuju kamar Jihyun yang terletak di dek 3, saat mendengar jika kapal akan tenggelam hanya Jihyunlah yang aku khawatirkan. Dan saat aku sedang berlari, aku melihat seorang gadis tengah terduduk dengan kepala yang bersimbah darah. Aku semakin membulatkan mataku saat meyakini jika gadis itu adalah Jihyun.

“JIHYUN-AH.” aku berteriak memanggil namanya dan berlari kearahnya.

“kepalamu.” Ujarku lalu mengeluarkan sapu tangan disakuku untuk menahan darah yang keluar dari kepala Jihyun.

“apa yang terjadi?” suaranya terdengar melemah membuatku meruntuki diriku sendiri karena terlambat untuk menemukannya.

“kapal menabrak sesuatu dan sepertinya sebentar lagi kapal akan tenggelam.” Saat mendengar ucapanku, aku bisa melihat mata Jihyun yang mulai berkaca-kaca.

“tenanglah kau akan selamat, percaya padaku.” Aku pun membantu Jihyun berdiri dan merangkulnya agar dia bisa berjalan dan kami bisa segera bertemu dengan Jongin dan Soojung yang tengah menunggu di luar kapal.

 “apa kita bisa selamat?” Aku tersenyum kearahnya, bermaksud untuk membuat rasa takut Jihyun berkurang.

“ne ku dengar kapten dan kru kapal sudah mengirimi panggilan darurat dan sebentar lagi bantuan akan datang. Jangan takut, ada aku disini. Aku tidak akan membiarkanmu meninggal, kalaupun kau meninggal kau akan meninggal ditemani oleh anak cucumu, diranjang hangatmu bukan dikapal ini.” Ujarku sambil terus membopong Jihyun yang semakin terlihat ketakutan, saat kami melewati kru kapal yang tengah menyuruh teman-temanku dan beberapa penumpang untuk tetap diam di tempat, Jihyun melancarkan protesnya. Aku pun menjelaskan padanya jika kami menuruti kru kapal itu kami akan mati karena tidak mempunyai waktu untuk keluar dari kapal. Saat kami sampai di tempat Jihyun dan Jongin.

Aku terus memantau keberadaan kapal penyelamat dan menyadari jika Jihyun tidak memakai pelampung, aku pun membuka pelampungku dan terus memaksa Jihyun untuk memakai pelampung yang aku berikan. Aku kembali mengingat teman-temanku dan juga penumpang lain yang masih berada di dalam kapal, aku memutuskan untuk kembali masuk ke dalam untuk membawa mereka keluar selagi bisa.

“kau tunggulah disini sebentar, aku harus membantu teman-teman yang lain.” Jihyun menggelengkan kepalanya dan menggenggam tanganku.

“jangan pikirkan orang lain, pikirkan dirimu sendiri Oh Sehun.”

“didalam masih banyak teman-teman kita yang tetap mendengarkan instruksi kru untuk berada di dalam, mereka akan mati jika menuruti instruksi kru itu.” Aku melepaskan tangan Jihyun dan masuk ke dalam kapal. Di dalam kapal aku memaksa semua teman-temanku yang masih mempercayai instruksi kru kapal untuk tetap berada di dalam kapal.

“jika kalian tetap bertahan di dalam kapal kalian akan terjebak dan tidak akan mempunyai waktu untuk keluar dari kapal ini saat bantuan datang.” Aku berteriak dan berharap jika mereka mendengar ucapanku, dan syukurlah beberapa dari mereka sudah bangkit dari tempatnya dan menghampiriku. Aku pun membawa mereka keluar dari ruangan ini menuju tempat dimana Jihyun, Jongin dan juga Soojung berada. Setelah itu aku ingin kembali masuk ke dalam kapal untuk mencari beberapa pelampung namun Jihyun sudah terlebih dulu menahanku.

“tetaplah disini, beberapa kapal semakin mendekat kearah kita.”

“aku harus kembali masuk dan mencari pelampung, teman-teman yang lain banyak yang belum mendapatkan pelampung.”

“omong kosong dengan semuanya, tetaplah disini bersamaku hingga bantuan datang.” Jihyun kembali menahan tanganku dan tiba-tiba kapal kembali bergoyang dan semakin miring kemudian aku bernafas lega karena mendengar suara yang berasal dari perahu penyelamat yang menyuruh kami untuk melompat dari kapal ini. Aku pun menarik tangan Jihyun dan menahan diriku di pagar besi kapal ini dan menyerahkannya kepada Jongin.

 “kau harus segera melompati kapal ini bersama dengan Jongin dan Soojung, saat kau sudah sampai di air berenanglah dengan cepat ke perahu terdekat. Air dibawah sangatlah dingin, dan jangan biarkan dirimu kalah oleh dinginnya air laut.”  Aku memutuskan untuk membiarkan Jihyun, Jongin dan Soojung menyelamatkan diri tanpa diriku karena aku masih ingin menyelamatkan teman-teman yang lain selagi ku bisa.

 “Jongin-ah jebal, jaga Jihyunku. Pastikan dia sampai ke perahu penyelamat”

 “yaa Sehun-ah apa yang kau bicarakan? Kita akan melompat ke laut bersama dan kau yang akan menjaga Jihyun bukan aku.” Jihyun, Jongin dan juga Soojung melancarkan protesnya tapi aku kembali meyakinkan mereka jika aku harus kembali menyelamatkan teman-teman yang lain.

“aku harus kembali ke dalam untuk menarik keluar beberapa teman-teman dan juga mencari pelampung untuk diriku sendiri dan kalian segeralah lompat dari kapal ini. Orang-orang semakin banyak, jangan sampai kalian tidak mendapatkan perahu penyelamat.”

“jebal kajjima.” Jihyun menarik tanganku, dan aku bisa melihat air mata mulai turun dari mata indahnya. Aku pun tersenyum untuk menenangkannya dan menghapus air matanya.

“Berjanjilah padaku, kau akan selamat. Tidak peduli sedingin apa air dibawah sana, tidak peduli seputus asa apa kau saat menghadapi dinginnya air dibawah, kau harus tetap selamat dan kau tidak boleh melanggar janjimu. Yakso?” Aku menautkan kelingkingku dan dengan ragu Jihyun pun ikut menautkan kelingkingnya.

“ne yakso, geunde kau juga harus berjanji kalau kau akan selamat. Aku akan menemuimu di tepi taman tempat pertama kali kita berkencan saat hari jadi kita tiga hari lagi.” 

Jihyun menganggukkan kepalanya dan bersiap melompati pagar kapal ini bersama dengan Jongin dan juga Soojung. Pandangan Jihyun terus mengarah kepadaku yang membuatku merasa berat untuk melepaskannya. Saat Jihyun mulai melompat dan tubuhnya masuk ke dalam air aku merasa sangat cemas dan ingin rasanyaku melompat apalagi Jihyun belum juga muncul ke permukaan sedangkan Soojung dan Jongin sudah muncul. Aku memandang Jongin yang tengah menatapku dengan tatapan cemas, kemudian Jongin kembali masuk ke dalam air dan muncul di permukaan bersama dengan Jihyun. Aku pun bernafas lega saat Jihyun mulai berenang mendekati perahu penyelamat dan berhasil menggapai perahu itu bersama dengan Jongin dan juga Soojung.

Saat Jihyun sudah berhasil selamat aku kembali masuk ke dalam kapal yang semakin miring dan mencari teman-temanku dan menyuruh mereka semua keluar. Sampai pada akhirnya aku merasa jika kapal ini sudah miring hingga 90 derajat, aku pun menahan tubuhku pada tiang dan berusaha keluar dari kapal ini. Namun jalan keluar tadi ku pergunakan sangat sulit untukku karena keadaan kapal yang sangat miring dan juga lantai kapal yang sangat miring. Aku pun mencari jalan keluar lain bersama dengan penumpang lainnya namun semua jalan keluar yang ada tidak bisa untuk kami pergunakan. Sampai pada akhirnya kami menemukan kaca yang diluarnya terdapat beberapa tim penyelamat yang menyuruh kami untuk memecahkan kaca tersebut, aku dan beberapa orang langsung mencari alat untuk memecahkan kaca tersebut tapi semua alat yang kami pergunakan tidak bisa untuk memecahkan kaca tersebut.

Kapal kembali bergoyang dan membuat aku dan penumpang lainnya terjatuh, dan air juga sudah mulai memasuki kapal ini. Aku pun berusaha menggapai tempat tinggi dan mengeluarkan ponselku dan mengirimkan Jihyun sebuah pesan suara.

“Jihyun-ah kau mendengarku? Syukurlah kau bisa selamat dan menepati janjimu, mianhae sepertinya aku tidak bisa menepati janjiku. Jangan menangis seperti itu, kau tahu bukan aku sangat tidak suka jika kau menangis apalagi jika kau menangisiku. Aku akan merasa bersalah jika kau terus menangis. Hiduplah dengan baik saat aku tak ada lagi di sampingmu, jangan terus menangisi kepergianku karena itu membuatku tidak tenang.  Kau harus kembali menjadi Jihyunku yang periang.” Air di dalam kapal semakin meninggi dan kini setengah tubuhku sudah terendam air yang bersuhu sangat dingin.

“kau tahu aku sama sekali tidak menyesal jika hidupku berakhir disini karena aku menolong beberapa teman-teman kita. Jika saat itu aku ikut melompat bersamamu dan meninggalkan teman-teman yang lain aku akan hidup dengan diliputi rasa bersalah seumur hidup. Jihyun-ah kau tahu, disekelilingku saat ini terdapat beberapa orang yang mungkin sudah tak benyawa tapi aku sama sekali tidak takut. Karena aku tahu setelah itu Tuhan akan membawaku ke tempat yang sangat indah, dan kau harus percaya jika suatu hari nanti kita dapat kembali berkumpul di tempat yang sudah Tuhan persiapkan.” Aku mengatur nafasku agar tidak terdengar menyedihkan ditelinga Jihyun jika nanti dia mendengar pesan suaraku ini karena kini Air semakin naik dan tubuhku terendam hingga batas dada, dan sungguh aku merasa sangat kedinginan. Aku bahkan sudah melihat beberapa tubuh penumpang dan juga teman-teman yang ku kenal mengapung di kapal ini.

“Jihyun-ah berjanjilah padaku kau akan kembali hidup normal, dan melanjutkan hidupmu. Aku sudah menitipkanmu kepada Jongin, dan hanya Jonginlah namja yang kupercayai dan kurelakan untuk menjadi penggantiku. Karena aku tahu, Jongin adalah namja yang tulus….Jihyun-ah…..”  Sungguh Tuhan, aku tidak bisa lagi menahan dinginnya air ini. Semua tubuhku sudah gemetar, dan ku yakin kini bibirku mulai membiru.

“saranghae…. jheongmal saranghae.” Tubuhku semakin melemah dan ponselku terlepas dan jatuh ke dalam air begitu saja. Aku berusaha untuk terus menahan kesadaranku dan berusaha untuk bisa selamat. Aku pun menyelam ke dalam air untuk mencari pintu keluar. Mungkin akan lebih mudah jika keadaan kapal sudah terisi air karena aku bisa lebih mudah menggapai pintu keluar namun saat tubuhku masuk ke dalam air aku meruntuki diriku sendiri karena aku tidak kunjung menemukan pintu keluar belum lagi dinginnya air semakin membuat diriku gila. Dan kini kesadaranku sudah hampir hilang karena aku tidak mendapatkan oksigen dan juga suhu air yang sangat menusuk tubuh. Saat mataku hampir tertutup aku melihat bayangan Jihyun serta kedua orang tuaku tengah tersenyum kearahku dan membuatku merasa bersalah karena tidak bisa bertahan untuknya. Mianhae Jihyun-ah, appa, eomma aku tidak bisa bertahan. Aku mencintai kalian.

Flashback Sehun Point Of View End.

Saat ini tepat 6 bulan aku menjalani hubungan bersama Sehun dan kini aku tengah terduduk di sebuah taman. Berharap jika kematian Sehun adalah mimpi belaka dan Sehun datang ke taman ini untuk menemuiku. Tapi itu hanyalah harapan bodoh, karena sudah 2 jam aku terdiam di taman ini namun tidak ada sosok Oh Sehun datang menghampiriku dengan smile eyes yang sangat ku sukai.

Dan entah kenapa aku merasakan wangi parfum Sehun, aku pun mengedarkan pandanganku dan tak menemukan apapun. Ya mungkin aku gila tapi aku merasakan hangat ditubuhku seperti Sehun sedang memelukku, aku pun menoleh ke samping kiriku dan menemukan Sehun tengah tersenyum hangat kearahku lengkap degan smile eyesnya. Aku pun tersenyum kearah Sehun, namun tiba-tiba sebuah jaket melingkar ditubuku dan aku melihat Jongin tengah berdiri di samping kananku.

“Jongin-ah, Sehun berada disini. Dia menepati janjinya untuk menemuiku.” Ucapku semangat lalu memandang kembali ke sisi kiriku dan tidak menemukan sosok Sehun lagi. “tadi dia disini Jongin-ah, Sehun duduk di sampingku dan tersenyum kepadaku.” Aku mulai histeris, Jongin pun menarikku ke dalam pelukannya. Aku bahkan tidak peduli orang-orang memandangku aneh, karena tadi aku sungguh melihat Sehun tersenyum kearahku.

Kini aku kembali masuk sekolah seperti biasa, suasana kelas sangat berubah. Tidak ada lagi canda tawa yang menghiasi kelas ini tidak ada lagi teriakan para gadis yang menjadi korban kejahilan dan tidak ada lagi sosok ketua kelas dan juga kekasihku, Oh Sehun.

Mungkin aku sudah gila, karena kini aku melihat Sehun tengah duduk di bangkunya yang berbeda dua baris di depanku. Dan membalikkan tubuhnya lalu tersenyum kearahku, senyum yang sangat sangat damai. Yang membuatku berfikir jika Sehun sudah bahagia diatas sana.

 

56 responses to “[Oneshoot] You’re Hero

  1. dadaku rasanya sesek gara” nahan tangis…
    asli ini keren bangeett…
    aahhhh…gemes banget sma sehun, knapa wktu itu dia gak lompat aja, knapa sehun knapa.?? 😥
    emangnya wktu itu sehun gak mikirin jihyun, gak mikirin gimana sedihnya jihyun kalo sehun gak selamat….
    keren pokonya, ditunggu next ffnya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s