[2] Secretly, Falling

secretly falling

 

SECRETLY, FALLING

By: hgks11

Park Aeri – Kim Jongin – Kim Joonmyun

PG-17

[due to the scenes and languages]

Drama-Romance-Angst-University AU

***

WARNING! : PLEASE TO THE ONE WHO IS STILL UNDERAGE, PLEASE DON’T READ THIS FICT IF I MAY ADVICE YOU. THERE ARE SOME SCENES THAT’S NOT SUITABLE FOR PEOPLE UNDERAGE. THANKS.

[be wise before you decided to read this fict]

 

 [ 1 ]

 

 

AUTHOR’S POV

 

 

BRAAAKK

 

“Aeri? Aeri?!” Sehun menatap nanar ruangan di depannya yang kosong, membuat laki-laki itu semakin panik.

“Se..hun?” Sehun menolehkan kepalanya ke arah kamar Aeri, mendapati sosok gadis itu yang tengah berdiri di ujung pintu.

 

“Aeri? Kau tidak apa-apa? Apakah ia datang menemuimu? Apa ia sudah tahu di mana kau tinggal sekarang?” Aeri tidak bisa menolak sebuah senyum yang datang ke wajahnya, menggelengkan kepalanya pelan, mendengar pertanyaan demi pertanyaan yang terlontar dari bibir laki-laki yang tengah memeluknya itu.

“Tidak, Sehun. Tidak, tidak, tidak. Ya, aku baik-baik saja” ujar Aeri, tertawa kecil. Sehun menghela nafas pelan, sebelum ia melepaskan lengannya yang melingkar di tubuh mungil milik Aeri. Sehun menangkup wajah Aeri dengan kedua tangannya, menatap gadis cantik di hadapannya dengan seksama. Kedua mata Aeri tampak sedikit sembab, hidung dan pipinya merona merah, dan Sehun masih bisa melihat bekas air mata yang sempat mengalir di sana.

 

“Benar, kau tidak apa-apa?” tanya Sehun, ingin memastikan sekali lagi keadaan Aeri. Aeri menggelengkan kepalanya, menatap Sehun.

“Serius, aku tidak apa-apa Sehun. Maaf, aku membuatmu panik sepagi ini. Tapi sungguh aku tidak apa-apa. Aku hanya.. kaget melihat namanya muncul di layar handphoneku”

“Kau masih menyimpan nomor psikopat itu?!” tanya Sehun kesal, ia menatap tak percaya pada gadis di hadapannya itu. Aeri menghela nafas, kepalanya tertunduk.

 

Mianhae, Sehun” hanya kedua kata itu yang keluar dari bibir mungilnya, membuat Sehun mengacak rambutnya frustasi.

“Kenapa Aeri? Kau belum bisa melupakan keparat itu?!”

Kepala Aeri semakin tertunduk mendengar pertanyaan Sehun. Bibir gadis itu gemetar, gambar-gambar kejadiaan yang sangat dibencinya itu menari-nari di benaknya. Jeritan minta tolong terdengar dengan jelas di telinga Aeri, membuat ia menutup kedua telinganya erat-erat. Gadis itu menggelengkan kepalanya keras, air mata mengalir dengan deras dari kedua kelopak matanya.

 

 

“T-to-long.. He-lp!!

Kedua bola mata Sehun melebar, menyadari Aeri yang sudah terduduk di atas lantai dengan badan gemetar. Gadis itu berteriak, dan terus berteriak seperti malam itu.

“Aeri?! Aeri? Park Aeri?” Sehun mengguncang-guncangkan badan Aeri, berusaha membuat Aeri sadar kembali. Namun Aeri tetap berteriak minta tolong, tangisnya semakin deras dan terdengar memilukan.

 

“Aeri, Aeri, Aeri, Park Aeri. Ini aku, Oh Sehun. Aeri, Oh Sehun” Sehun menarik Aeri ke dalam dekapannya, berharap Aeri akan berhenti berteriak. Sehun menggerakkan tangannya yang berada di punggung Aeri, mengusapnya dengan penuh kasih. Pelan-pelan, badan Aeri berhenti berguncang, teriakkannya sudah tak terdengar lagi, dan air matanya telah kering. Aeri melingkarkan lengannya di pinggang Sehun, memeluk lelaki itu erat.

 

Mianhae..” lirih Aeri pelan. Sehun menggelengkan kepalanya, “Ani, aku yang harus meminta maaf. Maaf karena kau kembali teringat kejadiaan itu. Aku benar-benar minta maaf, Aeri”. Aeri hanya bergumam, sebelum ia menelusupkan wajahnya di leher Sehun, mencari kehangatan dari orang yang ia sayang itu.

 

 

**

 

 

“Sudah lebih baik?” Aeri meraih segelas coklat panas dari tangan Sehun, menganggukkan kepalanya pelan menjawab pertanyaan Sehun.

 

“Syukurlah” ujar Sehun menghela nafas pelan. Laki-laki itu duduk di samping Aeri dengan kaki saling bersilang, dan kedua tangannya memegang cangkir berisi coklat panas miliknya. Dari ujung matanya, Aeri dapat melihat rambut Sehun yang terlihat berantakan, dan rona kemerahan di sekitar leher panjang milik Sehun. Aeri menggigit bibir bawahnya, adrenalin mengalir deras di darahnya melihat Sehun yang tampak menggoda. Gadis itu menurunkan cangkir miliknya ke atas meja, sebelum ia membalikkan badannya menghadap ke arah Sehun.

 

“Sehun?” panggilnya ragu.

“Hmm?” Sehun menolehkan kepalanya pada Aeri.

 

Shit. Umpat Sehun dalam hati ketika ia melihat wajah Aeri. Ia tahu benar arti dari ekspresi wajah Aeri sekarang. Sehun mengacak rambutnya frustasi, darahnya terasa mendidih sampai ke ubun-ubun. Setiap kali melihat Aeri yang seperti ini, membuat rasa amarahnya pada bajingan Park Jungsoo itu semakin bertumpuk. Jika bukan karena laki-laki itu, Aeri tidak akan menjadi seperti ini.

 

“Kau yakin, Aeri-ya?” tanya Sehun ragu. Aeri menganggukkan kepalanya pelan, tak berdaya dengan apa yang diinginkan tubuhnya itu. Sehun menghela nafas pelan, “Aku akan membunuhmu, Park Jungsoo. Aku berjanji” rutuk Sehun pelan.

“Kemarilah” ujar Sehun setelah meletakkan cangkir yang berada di tangannya, mengisyaratkan agar Aeri mendekat padanya.

 

“Maafkan aku Sehun, maafkan aku. Aku lagi-lagi kalah dengan hasrat yang memabukkan ini. Aku minta maaf” ujar Aeri pelan, memeluk Sehun yang berada di depannya. Sehun menggelengkan kepalanya pelan, mengusap punggung Aeri dengan sabar.

“Kau tidak perlu minta maaf, Aeri. Aku mengerti kondisimu. Aku akan melakukan apapun untukmu, kau hanya perlu memintanya” Sehun menatap tepat ke kedua bola mata Aeri, kesungguhan tercermin dengan jelas di kedua mata Sehun.

Thank you..” gumam Aeri pelan, sebelum Sehun menarik tengkuk wanita itu. And their lips connect in sync, like a piece of puzzle.

 

 

***

 

 

 

“Baek hyung!” Tao mencibir ketika Baekhyun mengambil coklat yang berada di tangannya. Baekhyun memutar kedua bola matanya malas, menjulurkan lidahnya pada Tao.

“Baek hyung!” Baekhyun menirukan suara Tao, mengejek. Tao melirik tajam ke arah laki-laki berwajah puppy itu, sebelum ia beranjak dari sofa dan menghampiri Kris yang tengah membaca sebuah komik di tangannya.

 

“Di mana Sehun?” Kai memiringkan kepalanya, sebelum ia mengedikkan kedua bahunya, menjawab pertanyaan Luhan. Diliriknya jam berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tangannya, 12:30 A.M. Tidak biasanya Sehun bolos kelas pagi, batin Kai.

 

“Sehun?” Suho menaikkan sebelah alisnya melihat Sehun yang berjalan ke arah mereka dengan tangannya yang melingkar di pinggang Aeri. Well, he knows that Sehun and Aeri is super duper close. But they never had any skinship in public..?

 

Yo Sehun! Aeri!” Tao melambaikan tangannya pada kedua sejoli itu, sebuah senyum sumringah terlihat di wajah lelaki bermata panda itu. Sehun menganggukkan kepalanya pada Tao, sedangkan Aeri tersenyum kecil, masih merasa tidak enak. She hates it when he had sex with Sehun. It’s not like Sehun is horrible or else, but she feels disgusted with herself. How can you just fuck your own buddy that already like your own brother?

 

“Yah” Sehun menyenggol pelan lengan Aeri, membangunkan gadis itu dari lamunannya.

“Huh?”

 

Sehun menggelengkan kepalanya pelan sambil mendecakkan lidahnya. Ia menepuk kursi di depan Aeri, mengisyaratkan agar gadis itu segera duduk di sampingnya. Suho yang melihat ekspresi bingung milik Aeri, tertawa kecil. Sebuah senyum dengan sendirinya muncul di wajah laki-laki itu. Namun berbeda dengan Kai. Kedua bola mata laki-laki berkulit gelap itu terus menerus memperhatikan setiap gerak-gerak Sehun dan Aeri yang kini duduk tepat di hadapannya. Ia mengenal betul sahabatnya itu, Sehun tidak pernah secara bolos kelas pagi seorang diri. Even when he’s so fucked up and have a horrible headache. There’s something odd with Oh Sehun today.

 

Dengan bibir tertutup rapat, Kai masih terus memperhatikan kedua manusia di hadapannya itu. Alisnya terangkat ketika ia menyadari sesuatu di dekat daun telinga Sehun. Sebuah bekas kemerahan dapat terlihat di daerah sensitif Sehun, that almost never be touched by his one nightstand.

 

 

SRAAAKK

 

“Yah! Kai!”

Tiba-tiba Kai bangkit dari tempat duduknya dan menarik kasar pergelangan tangan Aeri—membawa gadis itu secara paksa ikut dengannya. Sehun menatap nanar peristiwa yang terjadi beberapa detik lalu di hadapannya. Otaknya masih meregristrasi apa yang baru saja terjadi. Hingga ketika ia menyadari Aeri yang sudah tidak berada di sampingnya, lelaki itu mengepalkan tangannya. Panik tertulis jelas di setiap inci wajahnya. Chanyeol menahan Sehun ketika laki-laki bermarga Oh itu hendak bangkit dari tempat duduknya dan menyusul Kai juga Aeri.

 

 

Hyung, lepaskan” ujar Sehun dengan gigi yang menggeretak. Rahangnya terkatup keras, dan tatapan matanya tampak kesal. Chanyeol menggelengkan kepalanya, mengacuhkan omongan laki-laki yang berusia lebih muda darinya itu.

HyungSehun’s voice sound fierce now, make Chanyeol flinch a bit. Suho menggelengkan kepalanya tegas, menepuk pundak Sehun.

 

You won’t be able control your damn temper there, Sehun.

But I’m really, really am worried about her hyung. You don’t understand..” Sehun mengacak rambutnya frustasi, menatap nanar ke arah Suho. Suho menghela nafas, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya mendengar perkataan Sehun.

Fine. If you are really worried about her, you can go there. But I’m coming with you

No problem, hyung. As long as I can make sure she’s save and sound.”

 

 

 

Yah! Kai! Lepas!” Kai tak menghiraukan protes yang keluar dari bibir Aeri, lelaki itu terus melangkahkan kakinya ke belakang kampus. Genggaman tangannya di pergelangan Aeri tampak begitu kuat, hingga kita bisa melihat bekas memerah di sana. Nafas Kai memburu ketika ia dan Aeri sampai di hamparan rumput hijau itu, terduduk lelah. Aeri segera menarik tangannya dari genggaman Kai begitu cengkraman lelaki itu melonggar. Aeri menatap nanar pergelangan tangannya yang tampak merah dengan cap tangan Kai. Gadis itu menatap tajam ke arah Kai—sending him daggers.

 

What’s wrong with you Kim Kai?!Aeri hissed.

Kai menolehkan kepalanya ke arah Aeri, and suddenly everything’s going blank. It’s like his brain stop functioning and he can’t think of anything. At the back of his mind, he knows why he did that.

 

Aeri menatap aneh ke arah Kai. 5 menit yang lalu, ia menarikku ke sini seperti orang gila. Tapi sekarang ia diam dan tak berekspresi. Like seriously, what’s going on with this guy? Batin Aeri.

 

Is it not enough?” Kai asked out of blue.

“What?”

“Sex”

 

Aeri terdiam mendengar ucapan Kai. Gadis itu menundukkan kepalanya ke bawah, berusaha menyembunyikan wajahnya dari pandangan Kai. Aeri dapat merasakan air mata yang mulai terbendung di kelopak matanya. Namun gadis itu memikirkan setiap hal positif yang ia bisa, agar air mata miliknya tidak pecah dari bendungan di kelopak matanya.

Sedangkan Kai, menatap Aeri tak percaya.

 

Am I not enough yet, Park Aeri? So after you had sex with me, then you’re going to have another one with Oh Se—

 

 

BUUKK

 

Sebuah bogem mentah mendarat di pipi Kai, membuat lelaki itu terjungkal ke belakang. Aeri menengadahkan kepalanya mendengar suara pukulan yang mendarat di pipi Kai, membuat rahangnya terlihat sedikit kebiruan sekarang. Kedua bola matanya menangkap sosok Sehun yang berdiri tegak di hadapannya, dengan nafas terburu dan tangan terkepal. Tak jauh dari mereka, Suho tampak berlari ke arah mereka—atau lebih tepatnya Kai. Laki-laki berambut pirang itu menghampiri adiknya, mengecek keadaan adiknya.

 

“Oh Sehun, didn’t I say you should control that damn temper of yours?!” sentak Suho sedikit keras pada Sehun. Sehun tak menghiraukan ucapan hyung-nya itu, ia menatap tajam ke arah Kai yang balik menatap tajam ke arahnya.

 

“Kim Jongin, I know you’re my bestest best best best friend. But, you don’t have any right to judge Aeri for what she had done. Kau tahu aku akan melakukan apapun untuk melindungi Aeri, bukan?”

“Jangan buat aku membalikkan badanku darimu demi Aeri, Jongin. I mean it” gumam Sehun, cukup keras untuk didengar oleh ke-empat orang di sana.

 

C’mon, Aeri.” Sehun mengulurkan tangannya pada Aeri, yang langsung disambut oleh Aeri. Sehun menggenggam tangan Aeri, membawa gadis itu pergi dari Kim bersaudara yang masih terduduk di atas hamparan rumput hijau.

 

 

***

 

 

 

Look, Oh Sehun. I’m sorry?”

Yo, bro. Sorry okay?

“Sehun-ah, aku minta ma—aish!”

 

 

Suho menggelengkan kepalanya pelan, melihat Kai yang mengacak rambutnya frustasi. Laki-laki berperawakan tinggi itu menghela nafas sebal, sembari mengistirahatkan badannya di atas sofa. Ia memijat kedua pelipisnya, pusing dengan situasi yang tengah ia hadapi. Tidak seharusnya aku melakukan itu, batin Kai.

 

Yah!” Kai memekik kaget ketika sebuah handuk menutupi pandangannya, mendarat dengan mulus di atas wajahnya.

“Lebih baik kau mandi, sana. Dinginkan dulu otakmu itu, Jongin” ujar Suho tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah yang tengah ia baca. Kai menghela nafas—lagi—sebelum ia menganggukkan kepalanya pelan, beranjak dari sofa yang empuk. Suho melirik Kai yang berjalan menjauh, lalu menghela nafas seperti Kai. Perasaan bersalah masih menggelayuti hatinya, membuatnya tak tenang meskipun ia sudah meminta maaf pada Sehun.

 

 

 

“Hyung, it’s not your fault. I’m so sorry I punched Kai. I was just.. really mad. You know” Sehun menggerakkan lengannya ragu, berusaha menjelaskan alasannya pada Suho yang menghampirinya. Sebuah helaan nafas terselip keluar dari bibir Suho, sebelum lelaki itu menggelengkan kepalanya pelan.

“Aniya, I’m sorry because I snapped at you earlier. I shouldn’t have. Sorry Sehun

“Nah, it’s okay hyung. So we’re even?”

“Yap, of course haha”

 

 

***

 

 

 

Avoiding Kai is one thing, but Suho? It’s another thing.

Aku tidak tahu kenapa aku mulai menghindari Suho—tanpa sadar. Jika Sehun didn’t point it out, maybe I’ll never aware that I avoid him. Kakiku seperti mempunyai pikirannya sendiri setiap kali aku melihat Suho dalam radius 1 meter. Kedua kaki milikku ini pasti akan berbalik arah dan pikiranku blank. Ah, aku benar-benar tidak tahu mengapa aku begini.

 

 

“Aeri?” sebuah suara yang sangat kukenal menghamburkan lamunanku. Seketika, moodku jatuh hingga ke dasar ketika melihat wajahnya di balik pintu lokerku.

Look, Aeri. I’m so sor—“ aku memutar kedua bola mataku malas, lalu berbalik arah meninggalkan Kai tanpa menghiraukan ucapannya. Aku tak ingin melihat laki-laki itu, ia membuatku merasa seperti seorang whore. Well, menurutku ia pasti menganggapku seperti itu. Setidaknya itu yang tersirat dalam ucapannya saat di belakang kampus beberapa hari yang lalu. Jujur saja, aku tidak terlalu peduli dengan ucapan orang lain jika mereka menganggapku seperti itu. Tapi Kai? Ntah kenapa aku sedikit tersinggung dengannya. Ada sesuatu yang aneh denganku ketika aku menyadari ucapannya.

 

 

Bump.

Aku menghela nafas, “Sorry, aku tidak melihat ke mana aku berjalan” ujarku singkat, malas berurusan dengan siapapun saat ini. Namun sepasang sepatu Nike di hadapanku tak bergeming, sang pemiliknya masih berdiri tegap di depanku. Ugh, kenapa ia tidak pergi juga?

 

“Aeri?” mataku melebar ketika suara lembut itu menelusup masuk ke telingaku. Jantungku berpacu dengan cepat, tidak seperti biasanya. Ada apa denganku?

 

“Aeri? Kau tidak apa-apa?” jari lentiknya yang menyentuh daguku, membuatku mau tak mau menengadahkan wajahku. Dan kini kedua bola mataku dapat melihat dengan jelas wajah seorang malaikat. What the hell? Ada apa dengan otakku. Kenapa aku bisa berkata seperti itu?

 

“Hey hey, kau benar-benar tidak apa-apa kan Aeri?” aku berhenti menggeleng-gelengkan kepalaku mendengar pertanyaan Suho. Kini ia menatapku dengan tatapan heran, membuat semburat merah muncul di wajahku.

“Y-ya aku tidak apa-apa, Suho. Hmm.. I gotta go” buru-buru aku mengalihkan pandanganku dari wajahnya, dan melangkahkan kakiku menghindarinya. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba aku menjadi gugup di depan Suho. Bukankah aku tidak berbuat salah padanya? Tapi kenapa aku merasa seperti aku berbuat salah padanya? Ugh, what’s wrong with me.

 

“Hey hey Aeri-ya! Wait!” Suho menarik pergelangan tanganku, membuat langkah kakiku terhenti.

“Kenapa kau menghindariku?”

 

Skakmat.

Kenapa aku menghindari Kim Suho? Aku juga tidak tahu, jawabku dalam hati.

 

“Apakah karena kejadian dengan Kai kemarin?” tanyanya hati-hati. Aku tidak tahu, Suho.

Dapat kudengar sebuah helaan nafas keluar dari bibirnya, make me wonder, what is he thinking about?

 

“Kau tahu, Aeri? Don’t take it to your heart.. For what Kai said. I won’t judge you like he is, so you don’t need to avoid me, okay?” kehangatan menyelimuti hatiku mendengar perkataan Suho. Aku yakin, ia tahu tentang apa yang dikatakan oleh Kai lain hari itu benar. Ya Tuhan, kenapa ada laki-laki sebaik Suho?

 

 

Ne, thank you Suho. That’s mean a lot for me

You’re welcome… pretty—Aeriwhat? Apakah telingaku salah dengar? Ia memanggilku.. pretty bukan?

“A-ah, aku harus pergi. Sampai jumpa, Aeri” dalam hitungan detik, sosok Suho sudah tak lagi berada di hadapanku. Jantungku masih berdetak dengan cepat, semburat merah masih merona di kedua pipiku. What’s wrong with me?

 

 

***

 

 

 

“Hey, Sehun. Kenapa kau serius sekali?” tanya Luhan pada Sehun yang menatap lekat-lekat ipad yang berada di tangannya. Laki-laki dengan kulit putih itu semenjak Luhan tiba hingga kini, tak pernah melepaskan pandangannya dari layar di hadapannya, membuat Luhan heran melihatnya.

 

Yah, Oh Sehun” Luhan melempar bantal ke arah Sehun, yang mendarat dengan mulus di wajah Oh Sehun.

Hyung!” Luhan memutar kedua bola matanya malas, melihat Sehun yang menatap tajam ke arahnya. Luhan beranjak dari sofa yang ia duduki, dan berpindah ke sebelah Sehun, mengintip apa yang tengah dongsaeng-nya itu lihat. Kedua alisnya saling bertautan tidak suka, ketika ia menyadari apa yang sedari tadi menyita perhatian Sehun.

 

“Kenapa kau mencari informasi tentangnya, Sehun?” nada tidak suka terdengar jelas di suara Luhan. Sehun menghela nafas mendengarnya. Ia menyandarkan kepalanya ke sofa yang ia duduki, sebelum ia menjawab pertanyaan Luhan.

 

Ia kembali, hyung

For real?

Like fucking real hyung!” snap Sehun. Pikiran Luhan seketika menjadi kosong, blank.

 

“Apa yang harus kulakukan, hyung? Aku tidak ingin.. Aeri kembali ke jurang yang sama dua kali” lirih Sehun pelan. Bayangan kejadian beberapa hari lalu masih teringat jelas di benak Sehun. Ia mengacak rambutnya frustasi, he feels so helpless.

 

Luhan memutar otaknya, memikirkan jalan keluar yang baik. Well, to be honest Luhan adalah satu-satunya orang yang tahu Aeri di balik facade yang gadis itu tampilkan. Mungkin, Luhan memang tidak berada di sana saat kejadian itu, tapi Luhan tahu benar how messed up she was, and still she is.

 

“Kita harus waspada, Sehun. Kita tidak bisa membiarkan psikopat itu mendekati Aeri lagi”

 

 

***

 

 

 

Kai menendang batu kerikil di hadapannya absent minded. Kedua tangannya berada di dalam kantung celananya, sebuah topi hitam menutupi hampir sebagian wajahnya. Laki-laki itu terus berjalan, menyusuri deretan toko di kota Seoul. Sinar rembulan menyinari langkahnya, bintang-bintang di langit menemani malamnya yang sepi. Jika Baekhyun melihat sosok Kai saat ini, pasti Kai akan di olok-oloknya habis-habisan.

 

“Seorang Kim Kai lebih memilih strolling along the street instead being in a club at night? Tch I’m impressed.

Mungkin seperti itulah Baekhyun akan berkata.

 

Kai melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya begitu melihat sebuah cafe yang masih terang benderang.

 

01:58 A.M

Tidak biasanya, batin Kai.

 

Tanpa sadar, kedua kakinya membawa laki-laki itu ke arah cafe tersebut. Lonceng yang berada di pintu masuk berbunyi pelan ketika Kai membuka pintu cafe itu. Cafe itu tampak sepi, hanya ada beberapa pegawai dan beberapa orang dengan hoodie mereka yang tebal.

 

Kai melangkahkan kakinya ke arah kasir, memesan sebuah americano dengan ukuran medium. Ketika ia berbalik, sebuah sosok yang tidak disadarinya tengah duduk di salah satu bangku dekat jendela. Laki-laki itu mengenakan jaket hitam miliknya dan sebuah syal yang hampir menutupi sebagian wajahnya. Udara malam di Seoul memang sedikit dingin, tidak heran jika melihat orang-orang mengenakan pakaian tebal dan syal.

 

Kai memutar otaknya, menimbang apakah ia harus menghampiri sahabatnya itu apa tidak.

 

Well, tbh aku belum meminta maaf padanya. Jadi, ga ada salahnya kan?, batin Kai sambil mengedikkan kedua bahunya.

Akhirnya ia berjalan ke arah sahabatnya itu, menarik kursi di samping laki-laki itu.

 

 

Suara gesekan kursi membuyarkan lamunan Sehun, membuatnya menolehkan kepalanya ke samping. Ia menatap kosong ke arah Kai yang kini sudah duduk di sampingnya, dengan segelas americano di tangannya. Malas menanggapi kedatangan Kai yang tiba-tiba, Sehun memutuskan untuk kembali mengalihkan perhatiannya ke jalanan Seoul yang tampak sepi. Hening menyelimuti kedua sahabat karib itu, tidak satupun dari keduanya berbicara. Simply, they just sit there and drawn into their own mind.

 

“Oh Sehun” panggil Kai, memecah keheningan yang sedari tadi menemani mereka berdua. Kai menghela nafas, tidak mendapatkan respon apapun dari Sehun.

Look, dude. I’m… Sorry. Really I’m sorry. Tidak seharusnya aku berkata seperti itu pada Aeri” aku Kai. Kini Sehun menolehkan kepalanya ke arah Kai, menatap sahabatnya itu. Ia dapat melihat kesungguhan di kedua bola mata Kai, namun ntah kenapa hatinya belum mengizinkan untuk memaafkan Kai.

“Bagus kau sadar” respon Sehun acuh, membuat Kai lagi-lagi menghela nafas.

 

 

“Kau tahu? Aku menyukai Aeri” ujar Kai tiba-tiba. Kedua mata Sehun terbelalak mendengar pengakuan Kai. Like, are you fcking serious? Seorang Kim Jongin menyukai Park Aeri yang hampir ia bilang whore kemarin?

That’s why I’m jealous when I know she had sex with you, after me. Bisa kau bayangkan bukan? Gadis yang kau sukai had sex with your own best friend?” Sehun terdiam mendengar suara Kai. Suara laki-laki itu parau, seperti menahan tangis yang terbendung di kedua kelopak matanya.

 

“Tapi tetap saja, kau tidak berhak untuk menghakimi Aeri, Kai. Kau tidak tahu alasan di balik itu semua.” Lirih Sehun pelan.

“Alasan apa? Bisakah kau memberitahuku?”

 

“………” Sehun terdiam, sebelum laki-laki itu berkata, “You know I can’t, Jongin. That’s not my place to tell you

 

Fine. Jika kau tidak bisa memberitahuku, jangan salahkan aku jika aku memandang Aeri seperti seorang pela—“

Don’t you dare say that word, Kim Jongin

Whatever, Oh Sehun” Kai memandang Sehun kesal, lalu beranjak dari posisi duduknya dan pergi meninggalkan Sehun begitu saja. Pupus sudah, niatnya untuk berbaikan dengan Sehun. Kupikir, jika kau tahu aku menyukai Aeri, semuanya akan lebih mudah. Tapi ternyata aku salah. Aku salah menganggap kau bisa mengertiku, Oh Sehun.

 

 

**

 

Seorang laki-laki, tak jauh duduk di cafe yang sama dengan Kai dan Sehun. Saat laki-laki itu memasuki cafe tersebut, ia tidak menyangka akan bertemu dengan Sehun—sahabat gadis yang masih ia cintai sampai saat ini. Gadis yang pernah menjadi saudara tirinya, Park Aeri.

 

 

TO BE CONTINUED… .

 

 

 

A.N: gimanaaaa? Semoga chap 2 ini ga mengecewakan *amiiiin* maaf juga buat typo, and grammar as always……….. /sobs

Jujur, tadinya aku agak ragu mau ngepost chap 2 ini—berhubung ini bulan puasa (you know what i mean). Tadinya, aku mau ngepost ini pas hari pertama puasa, tapi baru kesampean sekarang hoho. Soalnya, kalo aku mau ngepost pas hari itu, yakin deh pasti lgsg di password chap ini haha. Udah ah, semoga suka chap 2 nya yaa<333

 

P.S: oh iya, kalo—ini KALO loh, chap 3 misalnya nanti di protect, nanti kalian bisa mt/dm ke twitter aku di yggkxx/hgks11

141 responses to “[2] Secretly, Falling

  1. Duh penasaran deh, aeri sakit yah? Kesian yah huhu. Kesian jg klo kai ga tau titik masalahnya gtu kaya aku *eh. Haha makanya mau lanjut baca dlu

  2. Kayaknya aeri mengidap suatu penyakit kayak kecanduan sex gitu ya? Kai terlalu cemburu banget.. Jadi park aeri itu suka sama suho? Waw agak complicated ya. Chapter selanjutnya di protect ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s