[Chapter 3] DESIRABLE

DESIRABLE

Author: Ifaloyshee | Characters: Kim Jongin, Jo Sebyul (OC) | Genre: Angst, dark, Marriage life | DISC: The idea is mine, included the plot and a whole of this story. The Characters are belong to their parents. Don’t reblog or copy without my permission! |Rating: Mature

chapter 1 | chapter 2

Living room

3PM

                Kejadian pagi tadi seperti mimpi bagi Sebyul. Biasanya ia terbangun di pagi – pagi buta untuk menyiapkan sarapan pagi, membersihkan apartemen-nya lalu keluar untuk sekedar jalan – jalan pagi kemudian berlanjut ke Sekolah rakyat untuk mengajar. Namun pagi ini semuanya sangat berbeda, ketika ia terbangun, yang dilihatnya pertama kali bukanlah ranjang kecilnya yang nyaman… melainkan sebuah ranjang besar yang justru membuatnya tidak nyaman. Dan ia melakukan hal yang sama, kesalahan yang sama, sebanyak dua kali. Sebyul menatap keluar jendela dengan kedua lututnya yang ia tekuk, tidak peduli dengan ketinggian apartemen milik Jongin ini, dirinya masih terdiam duduk diambang jendela.

Disisi lain, melihat seorang wanita depresi bukanlah kali pertama bagi Jongin. Ia melihat ibunya seperti itu sebelumnya—ketika tingkat profit LG corp menurun—namun diusia semuda ini Jongin belum pernah melihat wanita se’hancur’ Sebyul. Dan ia menyesal, menyesal telah merebut satu – satunya barang berharga milik seorang perempuan. Namun begitu perjanjiannya, kan? Sebyul setuju ketika di halte bus Jongin menyatakan kalau keduanya akan memberikan hal yang saling menguntungkan satu sama lain.

Jongin tidak mengerti dengan wanita satu ini.

“jangan duduk disitu, kau tidak mau terguling kebawah kan.”

Sebyul bergeming.

“Sudahlah. Apa lagi yang perlu kau sedihkan? Lihat hanphone-mu terus berdering. Mungkin adikmu yang cengeng itu rindu padamu.”

Sebyul langsung menoleh kearah Jongin dengan tatapan sebal. “Junhoong tidak cengeng.” Tukasnya lalu turun dari jendela, melangkahkan kakinya untuk meraih hanphonenya.

Jongin menoleh kearah Sebyul dari balik sofa, mengamati perubahan wajah pada gadis itu ketika menerima telpon. “Dengar… aku baik –baik saja. Kau tidak perlu khawatir. Aku akan ada dirumah ketika kau pulang nanti…ya… ya aku tidak akan mengulanginya lagi, lain kali aku akan mengabarimu… kau, masuk ke kelasmu sekarang. Oke?” tepat ketika Sebyul mematikan sambungan teleponnya, ia menoleh kearah Jongin. Pandangan mereka bertemu.

Ketika berbicara ditelepon, Jongin tidak mengerti kenapa Sebyul terlihat dewasa dimatanya. Dari tatapan teduh itu, intonasi nadanya yang tenang—padahal ia sedang sakit tenggorokan—seolah Sebyul tidak ingin membuat Junhoong khawatir atau apa. Jongin berkedip, membuat Sebyul mengalihkan pandangannya. Lalu keduanya terdiam.

Cukup lama.

Keduanya benar – benar tutup mulut, sampai hanya terdengar bunyi jarum jam dan nafas Sebyul yang agak tersendat. Sepertinya gadis itu baru saja menangis ketika duduk dijendela tadi.

“Jongin..”

Jongin tidak menjawab, bahkan ia tidak menolehkan wajahnya. Ia hanya menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut Sebyul.

“Anggap saja kita tidak pernah melewati hari ini. Untuk tadi malam, ataupun kejadian tadi pagi, anggap saja tidak pernah terjadi. Kita bahkan bukan teman, aku bukan siapa – siapa untukmu. Begitupula kau. Kau bisa lanjutkan hidupmu dan aku bisa kembali ke apartemen untuk berskenario kepada Junhoong dan—“’

“Lalu bagaimana denganmu?!”

Jongin bangkit berdiri dari sofa, kini berdiri berhadap – hadapan dengan Sebyul. “Lalu bagaimana denganmu..” ulangnya lagi.

“kenapa denganku..”

“Aku bercinta denganmu dua kali—“

“Stop!” Sebyul mengangkat tangannya, menutupi telinganya. “jangan katakan itu. Menjijikan.”

Jongin mengangguk kecil, ia bisa mengerti kenapa sebyul seperti ini. Ia bisa memahami itu. Tapi menurutnya, sebyul tidak mau menerima kenyataan dan memilih untuk berlari. Padahal seharusnya sebuah masalah bukan untuk ditinggalkan, melainkan diselesaikan?

Perlahan Jongin menarik kedua tangan Sebyul yang menutupi telinga gadis itu lalu berkata. “Kita bercinta, dua kali.” Ucapnya dengan intonasi pelan, Sebyul mau menarik kembali tangannya namun tangan Jongin menahannya. “Tidak, Sebyul. Dengarkan aku, kau harus realitas. Kalau kau mau lari begitu saja.. penyesalanmu tentang hari ini dan tadi malam tidak akan pernah hilang. Ketika kau melihatku di café secara kebetulan suatu hari, yang kau ingat hanyalah betapa brengseknya Kim Jongin, membuang jauh kepolosanmu dalam satu malam saja. Aku tidak mau kau seperti itu.” Sebyul terdiam selama beberapa detik, lalu menghempaskan tangan Kai.

“Tapi ini menjijikan, aku bahkan tidak mengenali siapa diriku lagi—aku jijik dengan diriku sendiri aku—“

“jangan membuatku semakin merasa bersalah padamu!”

“Kau memang bersalah!”

“tapi kau bahkan mendesah tadi malam, keras sekali, kau menikmatinya. Kalau hal itu menjijikan padamu kau pasti sudah mendorong ku jauh – jauh sejak tadi malam!”

“Karena aku..” Sebyul melihat kedalam mata Jongin lalu kehilangan kata – katanya. “just leave me. Like you always do to the other girl.”

Aku mungkin One Night Stand dengan banyak wanita, lalu menyuruh mereka pulang dipagi harinya—“

lakukan hal yang sama denganku!”

Jongin menatap Sebyul tidak percaya, lalu ia melangkah untuk memperkecil jaraknya dengan Sebyul. “Kau yakin?” Tanya Jongin, meyakinkan, nadanya begitu rendah sampai terdengar menakutkan bagi Sebyul. Jongin mengulurkan tangannya lalu mengelus tengkuk Sebyul perlahan. “Seberapa murah harga dirimu?”

Sebuah tamparan mendarat tepat dipipi Jongin.

Jongin membalasnya dengan menampar balik pipi Sebyul.

Tidak percaya. Ini sungguh tidak bisa dipercaya, menurut Sebyul. Seumur – umur belum pernah ada seorang pria yang berani menamparnya. Dan Kim Jongin… seberapa memikatnya pria ini, Sebyul yakin kalau dalam hatinya ia sangat membenci Jongin entah sejak kapan. Pria ini merenggut keperawanannya, menamparnya?

“hanya ingin mengingatkanmu, gadis keras kepala.”

“Mengingatkan apa?!”

“Kita membuat sebuah perjanjian kemarin malam, di halte, kau ingat? Bahwa aku akan menikmati tubuhmu dan kau menikmati uangku.”

“lalu kau menyebutku seorang pelacur.”

“aku tidak pernah berkata begitu.”

“secara tersirat.”

“namun aku tidak berpikir kau seorang pelacur.”

“seks lalu mendapatkan uang… lalu kau menyebut aku apa kalau bukan pelacur?”

you’re just helpless. And I want to help you.”

“fuck that shit Kim Jongin!”

Jongin membekap mulut Sebyul, menatap gadis itu dalam – dalam. Memperingatkan. “behave.” Lalu ia menurunkan lagi tangannya.

“Percaya padaku, kau tidak seburuk apa yang kau pikirkan tentang dirimu sendiri saat ini. Sekarang katakan apa yang kau mau dan kau mendapatkannya. Kau tidak perlu meminta dalam bentuk uang pun aku akan menurutinya. Ketika kau sampai ke apartemenmu nanti, kau bisa menelfon ku, ketika kita bertemu di café, kau bisa mengobrol denganku.”

Mendengar itu, ekspresi Sebyul melunak berangsur – angsur. Ia bisa merasakan kehangatan yang telah hilang selama beberapa tahun lamanya. Ia merasa ada pertolongan untuknya. Walaupun Sebyul masih tidak yakin, setidaknya ia harus menurut kali ini. Lagipula tidak bisa dipungkiri kalau dirinya memang membutuhkan uang kan?

Walaupun begitu kata ‘pelacur’ terus terngiang – ngiang dikepalanya. Memikirkan bahwa betapa buruk dirinya. Jika ada sebuah pertanyaan tentang seberapa besarnya kau mencintai diri sendiri dari angka 1-10, dengan lantang pasti Sebyul akan menjawab: 100.

“Mengapa kau melakukan ini padaku?”

Jongin mengulurkan tangannya untuk mengelap darah diujung bibir Sebyul karena tamparannya tadi, “Aku sudah mengatakan padamu, kau butuh pertolongan.”

“Apakah… gadis – gadis lain yang bercinta denganmu tidak membutuhkan pertolongan?”

“Tidak.”

“Tidak?”

“Mereka kebanyakan anak dari seorang pewaris, anak dari rekan – rekan ayahku. Mereka hanya tau bagaimana caranya menghabiskan uang…sedangkan kau? Kau bersusah payah mencari uang.”

right..”

Lalu… Jongin?” Sebyul mendongakkan wajahnya. “Sekarang, bolehkah aku menagih permintaanku sekarang?”

Tentu saja. Apa?”

“Datang ke apartemenku besok. Dan aku harap kau tidak keberatan untuk membawa ATM mu.”

 

 

 

 

***

 

Sebyul’s Pov

 

 

Selang satu hari setelah kejadian itu, aku mengunjungin sekolah Junhong seperti yang aku biasa lakukan setiap satu minggu sekali—untuk memantau bagaimana prestasi Junhong disekolah. Namun kali ini berbeda, yang membuatku berbeda adalah…pertama; dari segi transportasi. Biasanya aku menaiki subway atau taksi namun kali ini Audi sportback berwarna hitam mengkilap yang membawaku ke sekolah Internasional ternama di Seoul.

Tentu saja pria bernama Kim Jongin, memang siapa lagi yang mau menghabiskan won hanya untuk berganti mobil dengan warna yang berbeda – beda dengan entah tujuan atau maksudnya apa. Dan menuruti permintaanku seusai pertengkaran sewaktu itu, disinilah kami berada saat ini.

Jongin memainkan handphone-nya, mengetik pesan sementara aku berjalan disampingnya menyusuri lorong sekolah. Sebuah bangun sekolah yang tampak elit dan modern dengan berbagai mobil serta motor berharga ribuan dollar yang terjejer rapi. Memang sekolah elit. Dan tentu saja menyekolahkan Junhong disini bukan karena dilihat dari sisi elitnya, namun dari segi kualitasnya.

Itulah kenapa aku mengajak pria disebelahku ini untuk kesini, menemui kepala administrasi keuangan sekolah untuk melunasi biaya sekolah Junhong yang sudah tertunda cukup lama.

“Apakah dulu ini sekolahmu?” tanyanya masih terpaku pada layar ponsel, barangkali saling kirim pesan dengan pacarnya.

Aku menoleh karah Jongin, mengamati sebentar rambutnya yang kini berwarna hitam lalu menoleh kedepan lagi. “Tidak. Aku dulu di Gwangju, tidak mungkin panti asuhan mau menyekolahkan aku disini.”

Jongin mengangguk singkat lalu menyimpan ponselnya.

“Kau pernah bersekolah disini?”

Jongin mengangguk. “Ya dulu ini SMA ku.” Ia menghentikan langkahnya lalu menunjuk keatas, kearah sebuah kelas yang berada dilantai dua. “Dulu itu kelasku.” Aku mendongak mengikuti arah pandangnya.

“Baiklah..”

Lalu kami berdua kembali berjalan menyusuri koridor.

“Aku yakin guru – guru disini masih mengenaliku.”

“Oh ya?”

Jongin mengangguk.

“Coba kau ceritakan padaku.”

Ia hanya tertawa singkat, lalu melirikku. “Kau benar – benar mau mendengarnya—“

Tiba –t iba ponselnya berdering, membuat Jongin mengalihkan pandagannya dariku kepada ponsel yang sedang digenggamnya. Ia menyentuh screen ponsel tersebut kemudian meletakkannya disamping telinga kanannya. Pandangan Jongin terlihat acuh dan kedua bibirnya terkatup rapat seolah enggan menjawab telepon, tapi toh ia bersuara walaupun hanya dengan jawaban – jawaban singkat yang menyebalkan.

“ya…okay. Arasseo. Hm? Okay…”

Setelah terhitung sekitar dua puluh detik, Jongin kembali memasukkan ponselnya kedalam saku. Aku mengerutkan alis kearahnya dengan ekspresi bingung dan ia hanya menyunggingkan smirk menyebalkannya. “Aku rasa kita sudah sampai.” Ia menghentikan langkahnya sambil menarik tanganku. Secara otomatis aku juga berhenti mengikutinya.

“Kau masih ingat dimana ruang administrasi sekolah.”

“tentu saja.” Jongin mengambil dompet dari balik saku nya lalu mengeluarkan dua lembar kartu kredit. Ia menyodorkan keduanya padaku. “Kau memintaku untuk melunasi uang sekolah Junhong kan?”

“Y-Ya.. aku..”aku mengulurkan tanganku dengan ragu, apakah dia serius dengan dua kartu kreditnya ini? “tapi tidak sebanyak itu..”

Jongin meraih lenganku lalu meletakkan kedua kartu kreditnya diatas telapak tanganku. “Lunasi saja sampai dia lulus. Kau tidak perlu susah – susah mengambil shift siang dan malam di café.”

Agaknya aku harus cukup berterimakasih pada pria konglomerat ini.

 

***

Aku baru saja selesai membuat secangkir kopi dan hendak meletakkan diatas meja ketika Jongin tiba – tiba muncul dihadapanku dengan sebatang rokok ditangannya, dan aku hanya menghela nafas lalu menempatkan diri untuk duduk dihadapannya. Dia tampak menawan dengan pakaian kasualnya, dan rambutnya agak basah karena air hujan.

“Jadi kenapa kau menelponku kemarin malam dan menanyakan jadwal mengajarku?” tanyaku to te point pada pria yang sedang menikmati nikotin dengan kedua mata terpejam ini. Ia membuka matanya lalu mengepulkan asap, aku mengalihkan sedikit wajahku, agak alergi dengan asap rokok.

“aku ingin ikut denganmu.”

Alisku melengkung bingung, “ikut denganku?”

“Ya.”

“Jangan bercanda… Kau tidak akan menyukainya.”

“Kenapa tidak?”

“itu… itu bukan suatu hal yang suka dilakukan oleh orang kaya.”

“benarkah?” Jongin tertawa remeh disela – sela batang rokoknya, “Memang kau pernah menjadi orang kaya? Tau apa kau soal orang kaya?”

Aku mendesis padanya, “Memang tidak pernah. Tapi aku banyak bekerja pada orang – orang kaya, pemilik café ini salah satunya, dia hanya tau tentang minum….dunia malam…mabuk…menghabiskan uang untuk membeli barang –barang tidak berguna..”

Jongin melipat tangannya diatas meja, menatapku dengan tatapan intensnya. Dan aku suka bagaimana alisnya melengkung tegas, tampak menawan sekali. Namun tetap saja… aku tidak beranggapan bahwa pria ini lebih dari tampan. Sebatas tampan saja. Dan keren. “Dan kau tidak menyukainya?”

“Tentu saja tidak! Kau gila, dia punya istri dan dua orang anak dia—“

“maksudku.. menyukai dalam standar umum bukan dalam hal..” Jongin mengerutkan alisnya, nampak bingung dengan apa yang akan ia utarakan namun aku mengerti maksudnya.

“Oh ya.. dalam hal standar umum juga aku tidak menyukainya. Tentu saja.”

“Aku satu garis dengannya.”

“Oh begitu?”

“Barangkali kau mau membawaku ke jalan yang benar.” Jongin membuang punting rokoknya yang sudah mati keluar jendela lalu menyesap kopi buatanku. Raut wajahnya tampak datar dan aku tidak tau yang barusan ia katakana itu serius atau tidak.

“Aku bukan Tuhan.” Jawabku singkat. Jongin hanya menyunggingkan senyuman konyol seolah – olah aku baru saja melucu lalu dia mendongak. “Lalu kau suka pria yang seperti apa?”

Aku mengerutkan alis. “Apakah hal itu penting bagimu?”

Dia mengedikkan bahu. “Hanya bertanya.” Jawabnya singkat. Dan aku rasa dia memang tidak memiliki maksud lain dari sekedar bertanya.

“Aku tidak tau..”

Jongin mengangkat sebelah alisnya, menanti kelanjutan ucapanku namun aku diam saja sambil menatapnya datar. Tapi sepertinya tatapan Jongin menuntutku untuk menjawab pertanyaannya, dan barangkali aku memberikan kesan agak rude dengan menjawab secara acuh-tak-acuh. Jadi aku menegakkan posisi dudukku kemudian menarik nafas. “Seperti wanita yang lain… aku harap aku punya criteria khusus untuk pria yang aku sukai, tapi yang terlintas dipikiranku hanya seorang pangeran. Prince charming yang akan menjemputku ke kerajaannya suatu saat nanti.” Aku menjawab dengan begitu lepas sambil menatap kedua jari ku yang bertautan diatas meja, fantasiku berkeliaran bebas ke dongeng – dongeng fairytale namun hancur seketika ketika suara tawa jelek milik Jongin terdengar.

Aku mendongak kearahnya dan benar saja, Jongin tertawa lebar dan pandangan tidak percaya. Dan aku ingin menampar ekspresi menyebalkannya itu. Sungguh.

“Aku tau.. aku hanya seorang barista dan yang sering kulihat disini hanya sekumpulan ahjussi yang meminum kopi hitam dan berbicara keras – keras, tentu saja tidak ada pangeran berkuda putih yang mau mampir ke café pojok jalanan seperti ini atau barangkali ia tidak mau kudanya teracuni oleh kafein.” Aku berkata dalam satu tarikan nafas, kedua mataku tidak lepas dari Jongin dan dalam hitungan tiga detik Jongin kembali tertawa.

Astaga, apakah aku baru saja mengatakan hal yang lucu?!

Kini jongin memukul – mukul meja cukup keras dengan sebelah tangan memegangi perutnya. Tawa membahananya masih membenahi ruangan dan aku mulai merasa tidak nyaman oleh tatapan pegawai – pegawai café yang sedang membereskan dapur—menatap kearah kami dengan alis terangkat—dan aku hanya tersenyum canggung sambil menggaruk tengkukku yang tidak gatal.

“Aku tidak tau apa yang kau tertawakan.”

Jongin berhenti tertawa lalu mengerling kearahku sebentar. “Pfft.. apa kau selalu melucu dengan wajah datar begitu?” tanyanya. Aku menunjuk wajahku dengan ekspresi bingung, “memang aku melucu?”

Jongin menepuk dahinya.

“Oke.. oke.. tapi aku tidak bermaksud melucu, hanya…berumpama saja. Apakah menurutmu itu lucu?!”

Jongin mengangguk dengan jelas.

“Aku tidak tau dengan selera humor orang – orang jaman sekarang.”

Dia tertawa lagi, namun sebentar saja kemudian melirik kearah jam tangannya. “Hei let’s jogging for awhile!”

“at this hour?” aku melirik kearah jam yang menunjukkan pukul sepuluh malam. “apakah kau gila?!”

“hanya jalan – jalan dimalam hari. Aku bosan. Dan aku tidak punya teman.”

Aku hanya memutar kedua bola mataku. Sebenarnya jam kerjaku juga sudah berakhir dan aku seharusnya pulang sejak sepuluh menit yang lalu dan jika Jongin mengajakku berjalan – jalan mungkin tidak ada salahnya. Tapi aku masih merasa cukup asing dengannya… dan aku belum percaya sepenuhnya dan aku…

“kau curiga terhadapku?” Jongin sepertinya menangkap tatapan selidikku kearahnya. “pada pria yang memiliki hati malaikat sepertiku? Aku melunasi sekolah Junhong yang seharga—“

“Oke..oke. apa maumu?”

“I just need a friend.”

“but im not a good friend.” Aku bangkit dari kursi dan membawa cangkir kopi JOngin yang sudah kosong menuju meja bar, meletakkannya disana.

“I don’t care. I just need a friend and whether its good or bad, I’ll bear with it.”

Aku memutar bola mata. Lalu melepas kemeja seragamku, melipatnya dan memasukkan kedalam tas, menyisakan tanktop hitam yang cukup tebal dan panjang—itulah mengapa aku berani melepasnya disini; Hanya tersisa Jongin didalam café.—kemudian mengenakan cardigan.

“Aku kira kau akan telanjang didepanku.” Ucap Jongin begitu aku menghampirinya. Aku langsung memukul lengannya dengan keras. “Keparat kau.”

“ouch, watch your words miss!”

“Kenapa? Aku sudah bilang padamu kalau aku bukan teman yang baik.”

Jongin menyenggol lenganku. “Dasar tolol.”

Aku berhenti, memutar tubuhku untuk melihat kearahnya dengan tatapan kesal. “Kau lebih tolol!”

“kau paling tolol.” Jongin menyeringai.

“kau paling paling paling tolol!”

 

***

 

Still at the same night.

 

Aku melangkah keluar dari dalam toko roti kecil yang terletak disalah satu rumah yang berjejer di Hongdae, menghampiri Jongin dengan dua buah muffin ditanganku. Jongin menanti dalam diam didepan toko dengan tatapan tidak lepas dari muffin ditanganku ini.

Berpetualang kuliner adalah salah satu hal yang aku senangi dan biasanya aku lakukan seorang diri dengan alasan agar aku bisa bebas mencoba tempat makan manapun yang aku mau. Dan toko roti ini adalah salah satu favoritku di Hongdae, berhubung Jongin mengajakku berjalan – jalan di sekitar café—dan Hongdae tidak begitu jauh dari sana—maka aku mengajaknya ketempat ini.

Aku memberikan satu buah muffin kearahnya dan dia hanya mengangguk kecil. “ini muffin.”

“tentu saja. Siapa bilang ini ramen.”

“aku jarang memakan muffin. Tidak pernah.”

“Sekarang kau coba ini, dan jangan menyalahkanku kalau kau mulai menyukai muffin setelah memakannya.”

Kami berdua berbalik untuk melanjutkan berjalan dibawah temaram sinar bulan, malam tidak begitu dingin namun cukup untuk membuatku merapatkan jaket secara otomatis. Jongin malah tidak terlihat kedinginan sama sekali, ia hanya mengenakan baju hangatnya tanpa jaket. Dan masih mengamati muffin ditangannya. “makanan ini bukan seleraku.”

“Oh ya?” aku menggigit sedikit muffinku, dan Jongin menatapku tanpa berkedip.

Nampaknya pria ini sedikit tergiur karena tidak lama setelahnya Jongin mengigit kecil muffin dari samping, mengunyahnya dengan gerakan lambat lalu menelannya. Aku bisa melihat pergantian di raut wajahnya yang signifikan. Aku tau muffin ini enak dan Jongin tidak bisa mengelak. “Bagaimana?” Tanyaku dengan senyuman jahil.

“Mungkin aku patut menyesal.” Kemudian dalam hitungan beberapa detik saja, muffin itu habis dilahap oleh Kim jongin yang mengatakan kalau muffin bukan seleranya.

Lucu sekali.

Malam itu kami menghabiskan waktu dengan mengisi perut berbagai macam makanan masuk begitu saja tanpa memikirkan berat badan yang menjadi resiko besar bagi kami berdua nanti—apalagi aku; karena aku wanita, tentu saja—dan Jongin tidak mau menggunakan transportasi apapun dan memilih untuk berjalan saja karena menurutnya malam begitu panjang dan akan menjadi bosan jika dilalui didalam mobil. Walaupun kakiku pegal sekali tapi toh aku tidak menolak, aku tidak tau kenapa.

Terakhir aku melirik jam tanganku, jarum jam berada tepat pukul satu pagi. Dan aku mengeceknya sekitar sepuluh menit yang lalu jadi dipastikan kalau saat ini sekitar pukul satu lewat dua puluh atau hampir setengah dua pagi. Kami berdua duduk disebuah kedai dengan berbagai soup dan teh. Aku duduk berhadap – hadapan dengan Jongin.

“jadi bagaimana bisa kau putus dengan kekasihmu?”

Aku tidak tau bagaimana Jongin bisa berpikir untuk menanyakan hal ini sementara aku tidak pernah bercerita tentang apapun perkara kisah cintaku dimasa lalu. Dan dia bertanya seolah sudah mengenalku sejak lama. Kenyataannya tidak.

“Kenapa kau tiba – tiba menanyakan hal ini?” aku mengaduk – aduk teh dengan gerakan lambat, kedua pandanganku terpaku pada larutan teh hijau yang masih mengepulkan asap karena panas.

“hanya ingin tau.”

“Ini topic sensitive bagiku.”

“bagaimana bisa?”

“Ini topic sensitive bagiku.”

“bagaimana bisa… hal itu sensitive terhadapmu?”

Aku meletakkan sendok diatas meja dengan agak kesal lalu mendongak kearahnya. “Sudah tau kalau ini sensitive dan kau masih bertanya juga. Just.. stop it.”

Tetapi anehnya Jongin tidak merasa kaget, justru ia hanya meyeringai seolah sudah mengantisipasi kalau aku akan marah. “Okay.” Jongin mengalihkan pandangannya kearah jendela; menatap jalanan sepi yang agak lembap karena hujan tadi.

“Jadi kenapa kau putus dengan kekasihmu?” tanyaku balik. Jongin masih menatap keluar jendela, kemudian tatapannya berubah menjadi sendu… aku tidak tau apakah ini karena pertanyaanku atau bukan.

“itu juga topic sensitive bagiku.”

Aku memutar bola mata. “oh ya? Kau membawa seorang gadis sekitar tinggi dengan tas Prada dua minggu yang lalu kedalam café, dan selang beberapa hari setelahnya kau membawa gadis yang lebih pendek dengan potongan rambut aneh ke dalam café. Aku yakin putus dengan wanita bukanlah topic sensitive bagimu.”

Jongin menoleh kearahku lalu tertawa. Kini kedua matanya berubah menjadi cerah kembali. “Hei apa kau memperhatikan pacar-pacarku sedetail itu? Dan…. Memang bukan topic sensitive… bagaimana bisa menjadi sensitive, aku saja tidak pernah memakai perasaanku.”

Dasar gila. Ucapku dalam hati pada pria satu ini. Dan ingin sekali aku meneriakkinya tapi sepertinya terlalu kasar. “Benarkah? Lalu dengan maksud apa kau mengencani mereka semua?”

Jongin hanya menaikkan sudut bibirnya; membentuk seringaian penuh maksud yang langsung aku ketahui artinya. Lalu ia memasukkan satu sendok cream soup kedalam mulutnya.

“dasar gila.” Kali ini aku tidak peduli mau terdengar kasar atau tidak.

“Aku tidak pernah memaksa, yang benar adalah… mereka mau saja menuruti mauku dan berharap ada suatu perasaan yang lebih dari sekedar ‘teman tidur’ setelah kami sex. Mereka hanya wanita – wanita bodoh yang terlalu banyak berharap.”

“Setidaknya mereka wanita dan kau harus menghargainya. Mereka punya kehormatan yang kasat mata, kau tidak boleh seenaknya menghancurkan kehormatan mereka.”

“aku tidak pernah menghancurkan kehormatan mereka. Sekarang, aku Tanya pendapatmu, bagaimana kalau ada seorang wanita cantik yang sengaja membuka dua kancing kemejanya sambil mengerling nakal ketika sedang mengobrol dengan pria? Aku normal. Aku punya hormone. “

Aku memiringkan wajahku menatap Jongin, menatapnya tidak percaya kemudian menggelengkan kepala. “bitch.”

“kalau kau bisa menghormati mereka, pasti kau bisa mengenyahkan nafsumu. Bayangkan saja… jika ada seorang pria sepertimu yang melakukan hal itu pada ibumu. Apa kau tidak marah?!”

Jongin mengeluarkan tawa miris, aku tidak tau kenapa tapi ia terdengar menyedihkan. “Aku tidak pernah menghormati ibuku.”

Aku mencoba mencari celah penyesalan diwajah Jongin ketika dia mengatakan hal itu, namun aku tidak menemukannya. Hanya ada Jongin yang keras seperti batu, yang tidak berperasaan, bahkan ketika ia berbicara tentang kehormatan ibunya. Betapa buruknya pria ini, dan seharusnya aku berlari kabur sekarang juga.

Tapi aku..entah kenapa, merasa kasihan padanya?

“Hei aku punya penawaran bagus untukmu.” Jongin menatapku dengan tatapan dinginnya—dan sepertinya aku sudah mulai terbiasa dengan hal ini.

“Penawaran bagus? Jangan bilang ini tentang—“

“Tidak ada seks atau apapun yang bisa melukai kehormatanmu, wahai Putri Emansipasi Wanita. Kali ini maksudku baik.”

Aku mendengus kesal. “Apa?”

“Kemarin malam salah satu staff dari Public Relation di perusahaan mengatakan kalau mereka sedang membutuh penerjemah bahasa Jepang yang akan membantu merka untuk berkomunikasi dengan pasar marketing Jepang. Entah kenapa aku langsung teringat denganmu, dan walaupun gaji nya tidak begitu banyak tapi aku rasa kau membutuhkan ini?”

Aku menatapnya selama beberapa detik. “kau serius?”

“Ya.”

“Tapi latar belakangku… aku dari panti asuhan. Apakah kau sudah memikirkan tentang hal itu sebelumnya?”

“ya…. Itu tidak masalah.”

“aku menerimanya.”

Jongin mengeluarkan tawa menyebalkannya. “Dasar impulsive.”

“tapi.. kau serius kan?”

“Ya..ya.. aku serius. Kenapa kau curiga sekali, Putri emansipasi wanita.”

“berhenti memanggilku begitu!” dan Jongin hanya tertawa.

“Dasar keparat.”

“Wow… wow… sudah berapa kali kau berkata kasar hari ini, Miss?”

Aku mengabaikannya dan mengalihkan pandanganku pada sup yang masih tersisa, lalu menghabiskannya. “Hei mungkin kita harus pulang. Aku ada urusan dan harus bangun pukul sepuluh pagi.” Jongin mengecek jam tangannya. “Tulis alamat Sekolah Rakyat itu dan aku akan kesana setelah selesai dengan urusanku besok.”

Aku membuka tote bag-ku lalu mengambil notes dari dalam beserta pena. Aku menuliskan alamat sekolah rakyat tersebut, menyobek notesnya lalu meletakkannya didepan Jongin. “Pukul dua siang aku selesai mengajar, jadi jangan lebih dari pukul dua atau kau akan sia – sia saja.”

“Oke. Dan aku akan menjemputmu setelah kau mengubungiku. Deal?”
Jongin mengulurkan tangannya kearahku dengan senyum konyolnya. Aku menatap uluran tangannya selama beberapa detik lalu mengulurkan tanganku sambil tersenyum. “Deal.”

“Thank you, friend.”

“Same here, friend.”

***

 

di original chapter 3 sebenernya ada inappropiate scene (NC-17) tapi aku cut berhubung lagi bulan puasa 🙂 HAHA kesel ngga. terus ini jadi aku gabung sama chapter 4 nya (yg versi original) (dikira KFC kali original) kalo mau baca NC nya ya silakeun ke blog pribadi aku ya tapi di protect. mensyen aja ke @grangeriokai (syarat: nyebutin id comment, umur, dan mintanya abis buka puasa.)

terimakasih, ditunggu reviewnya~

 

 

Promote; Crossheart –Krystal x Myungsoo, Sulli x Minho

 

 

 

 

Advertisements

95 responses to “[Chapter 3] DESIRABLE

  1. pantesan awalnya aku bingung kok tiba-tiba udah begitu. tapi aku jadi penasaran sama Jongin, dia keliatan kayak orang baik dan jahat diwaktu yang bersamaan.

  2. well cara jongin yang seolah(2) bertanggung jawab membuatku sedikit tersentuh.. ah tapi gak buat sebyul.. dia super keras kepala tapi endingnya ngikut jugak..
    hahaha.. ini jongin beneran suka apa gimana cobak?

  3. Yah… diprotect yang chap 3 nya 😦
    Gw pnsrn nih sma crtanya….
    Keren thor keren!
    Fighting!

  4. Aaaa ternyata chap 3 disini ga di proteksi, pdhl ganiat baca nc nya tp udh terlanjur mention yadudahlahh… Aku suka sm topic pembicaraan mereka yg agak kasur tp seru aja jd flow gitu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s