Continuous Winter – Chapter 11


Continuous Winter

Copyright © EnnyHutami’s fanfiction 2014

| Lenght : Series | Rating : PG-15 | Genre : Gloomy, Thriller, Romance |

| Cast : Oh Sehun, Park Hyeju, Byun Baekhyun, Jung Jiyoo and others |

| Disclaimer : Ispired by movie with title ‘Girl’ |

Note : Yang suka silakan baca dan berikan tanggapan di kolom komentar serta like-nya. Bagi yang tidak suka dilarang keras untuk membaca dan bashing.

Previous

~œ Swinspirit œ~

Tubuh Junhong terasa membeku ketika moncong pistol itu terasa tepat di belakang perutnya dengan deru napas yang terasa panas di belakang lehernya. Tahu dengan apa yang seharusnya ia lakukan saat ini, ia pun mengangkat kedua tangannya ke atas kepala. Meyakinkan seseorang di belakangnya bahwa ia tak memegang senjata apapun.

“Diam dan ikuti aku.” Ucap suara itu. Suara yang terdengar cukup familiar baginya sehingga menimbulkan kerut heran di dahinya.

“Hoya hyung?” tanya Junhong hati-hati. Masih dalam posisi diam di tempatnya berdiri.

“Ya.” Jawab lelaki yang dipanggil Hoya oleh Junhong. Yang memiliki nama asli Lee Howon.

Mendengar jawaban Howon, Junhong pun menghela napas lega dan menurunkan kedua tangannya. Dan Howon pun menjauhkan pistolnya dari tubuh Junhong.

“Ikuti aku.” Ucap Howon lagi, kali ini dengan melangkah lebih dulu untuk menuju sebuah ruangan agar keduanya bisa berbicara.

“Saat aku melihatmu keluar dari mobil, aku penasaran sekali mengapa kau bergabung dengan mereka, Hyung.” Ujar Junhong setelah mereka masuk di sebuah ruangan yang kelihatannya tidak digunakan karena ruangan tersebut begitu kosong. Tanpa perabotan satu pun.

“Pamanmu yang menyuruhku.” Jawab Howon dengan volume suara pelan sehingga hanya Junhong yang bisa mendengarnya. “Pamanmu membiayai hidupku sejak aku di panti, tetapi tidak mengadopsiku. Dan kini aku menjadi tangan kanannya.” Ia pun menjelaskan.

Junhong pun mengangguk mengerti. Ia tidak terkejut. Toh, ia tahu jika pamannya memang berkerja untuk keamanan negara. Dan sedikit banyak, ia tahu tentang peristiwa ayah Hyeju dan temannya dengan menguping diam-diam ketika ayahnya dan pamannya membicarakan hal tersebut.

“Dan apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana jika pamanmu tahu? Dia pasti membunuhku.”

Junhong memamerkan deretan giginya. “Tenang saja. Paman sedang di Inggris bersama ayah dan ibu.” Jawabnya santai. Lalu, “Di mana Hyeju?” ia bertanya.

“Di kamar penyekapan.” Jawab Howon, kemudian membuka pintu dan melihat ke kanan dan kiri. Dan ketika dirinya tak melihat satu orang pun, ia pun keluar dengan Junhong yang mengekor di belakangnya.

Sejujurnya, banyak pertanyaan yang ada di otak Junhong tentang Howon. Ia memang tidak mengenal Howon begitu baik, tetapi keduanya pernah bertemu dan mengobrol beberapa kali. Terima kasih berkat Junhong yang supel sehingga obrolan mengalir begitu saja dengan Howon yang merupakan seorang yang pendiam.

“Aku tidak tahu apakah Hyeju baik-baik saja di dalam atau tidak.” Ujar Howon jujur dengan volume suara pelan agar hanya Junhong lah yang bisa mendengarnya.

“Bagaimana mungkin kau tidak tahu?” Jawab Junhong setengah berbisik. Ia ingin memprotes tentang Howon yang tidak mengetahui keadaan Hyeju, tetapi ia tahu jika dirinya tidak boleh membuat keributan meski sekecil apapun. “Kau tidak tahu apa yang mereka rencanakan?”

“Yongguk
tidak pernah benar-benar memberitahu rencananya tentang keluarga Hyeju.” Sahut Howon seraya melangkah pelan dan hati-hati. Untuk pertama kalinya, Junhong tahu nama orang yang berada di balik semua ini. Orang yang menaruh dendam pada Hyeju. Lalu, “Aku selalu ingin mencegahnya membunuh, dan semuanya berhasil kecuali keluarga Hyeju. Termasuk Hyejin.” Howon melanjutkan.

“Hyejin noona? Kau mengenalnya?”

“Dulu dia berkerja bersama kami, menjadi seorang dokter di klinik yang dibuat Yongguk.”

“Howon hyung!”

Mendengar suara teriakan yang terdengar tidak jauh dari tempat mereka mengendap-endap sekarang, keduanya—baik Howon ataupun Junhong—terlonjak kaget. Kemudian Howon membuka pintu di sebelahnya yang merupakan kamar mandi dan menyuruh Junhong untuk bersembunyi di sana jika ada orang yang mendekat.

Sebelum mendatangi Youngjae yang baru saja memanggilnya, Howon pun mengantongi senjata apinya kembali ke dalam saku jaketnya.

“Ada apa?” tanya Howon dengan wajah seriusnya yang membuat alisnya melengkung.

“Dia tidak bersuara lagi.” Ucap Youngjae. Lalu, “Haruskah aku memberitahu Yongguk agar kita segera pergi dari sini?” ia bertanya.

Kemudian Howon melirik ke arah sofa serba putih yang diletakkan di depan pintu kamar yang dijadikan kamar penyekapan Hyeju. Sebuah laptop yang layarnya menampilkan sebuah program. Ia memang tidak sepintar Youngjae, tetapi ia tahu jika Youngjae tengah menghapus sesuatu. Mungkin sesuatu untuk menghapus jejak yang telah dilakukannya melalui laptop tersebut untuk mencuri data-data rahasia nasional?

Mungkin, ini kesempatan bagus untuk mengeluarkan Hyeju sebelum Yongguk membunuhnya. Jadi, sebuah ide muncul di benaknya. “Di mana kuncinya?” tanyanya dengan tangan menengadah seperti orang yang tengah meminta sesuatu.

Youngjae menggeleng sehingga membuat mata Howon menyipit heran. “Jangan masuk ke dalam. Jiyoo mengaktifkan gas karbon monoksida setelah gadis pertama dibebaskan.”

Kening Howon mengkerut lebih dalam. “Apa?” karbon monoksida?

Kali ini Youngjae mengangguk. “Akan kupanggil Yongguk hyung dan yang lainnya untuk bersiap pergi.” Katanya lalu melangkahkan kakinya pergi. Namun sebelum Youngjae benar-benar pergi, Howon pun menahannya dengan membungkam mulut Youngjae dan menahan kedua tangan Youngjae dibelakang pinggangnya hanya dengan satu tangan.

Youngjae hendak memprotes dan memberontak, tetapi tiba-tiba seseorang dengan perawakan jangkung muncul dan turut membantu Howon. Lagipula, tenaga Howon lebih kuat dibanding Youngjae yang kerjanya hanya duduk di depan laptopnya.

“Cari di saku jaketnya.” Perintah Howon, dan Junhong yang langsung mencari sesuatu di saku jaket Youngjae. Lalu, Junhong pun mendapatkan apa yang ia cari—sebuah kunci.

Mengerti situasi yang sedang terjadi, Youngjae pun memberontak semakin keras sehingga Howon mulai kesulitan. Jadi, terpaksan Howon melepas tangannya dari mulut Youngjae setelah Junhong beralih pada pintu kamar sekap Hyeju dan mengangkat tubuh Youngjae yang sedikit lebih kecil dibanding dirinya, lalu membantingnya ke lantai.

Youngjae mengerang merasakan tulangnya remuk karena berbenturan dengan lantai yang dingin. Untuk saja bukan kepalanya yang jatuh duluan ke lantai. Jika iya, mungkin dirinya sudah terkapar tak sadarkan diri sekarang.

Hyung… kau…,” Youngjae hendak mengatakan sesuatu, tetapi urung karena merasakan nyeri luar biasa di tulang ekornya. Ia merasa tubuhnya remuk seketika berkat bantingan Howon.

“Maaf, tetapi selama ini aku tidak berada di pihak kalian.” Sahut Howon, masih berdiri di tempatnya.

Sementara itu, Junhong yang telah membuka pintu mendapati Hyeju yang tergeletak tak sadarkan diri di lantai dengan deruan napas yang terlalu cepat dibandingkan normalnya. Junhong sama sekali tidak menyadari jika ruangan tersebut sudah penuh dengan gas karbon monoksida yang nyatanya memang tidak berwarna ataupun berbau, tetapi ia tahu karena ia mendengar percakapan antara Howon dan Youngjae barusan.

Tidak ingin berlama-lama, Junhong pun mengangkat Hyeju yang tidak sadarkan diri untuk membawanya ke rumah sakit.

“Masih bernapas?” tanya Howon pada Junhong yang menggendong Hyeju dengan kedua tangannya di depan, tidak memedulikan Youngjae yang masih tidak bisa berkutik di tempatnya.

Sebelum Junhong sempat mengangguk, suara ledakan yang dari ujung pistol terdengar dan mengenai lengan kanan Junhong yang baru saja hendak keluar dari kamar. Otomatis Junhong pun kehilangan keseimbangannya dan jatuh karena tidak mampu menopang berat tubuh Hyeju di saat lengannya baru saja tertembak. Setelah meletakkan kepala Hyeju di atas pahanya, Junhong memegang lengan atasnya dengan sebelah tangannya yang tidak terluka. Mencoba menekan rasa sakit di lengannya.

Ketika menoleh, Howon pun mendapati Yongguk di sana dengan posisi yang sana seperti seseorang yang hendak menembak dengan pistolnya.

~œ~œ~œ~

“Sebelumnya kau tahu aku menguasai bela diri?” tanya Baekhyun pada Baekhyun ketika dirinya selesai menyeret tubuh Seokjin dan Jiyoo ke tempat yang lebih tersembunyi.

Sehun mengelap sudut bibirnya yang terdapat darah yang sudah mengering. “Ya,” jawabnya tanpa melihat ke arah Baekhyun, melainkan menatap ke arah Jiyoo dan Seokjin yang tergeletak di lantai kotor dan berlumut dengan tangan dan kaki terikat. Lalu, “Aku pernah melihatmu mengajari anak-anak kecil.”

Mendengarnya, Baekhyun pun mengangguk-angguk sembari menggumamkan kata ‘oh’ tanpa suara. Kemudian matanya beralih pada Jiyoo yang tak sadarkan diri. Jujur saja ia merasa tersakiti, melihat Jiyoo dan Seokjin, mendengar Jiyoo yang mengumpat padanya. Mungkin jika bukan karena Hyeju, ia tidak tahu siapa sebenarnya Jiyoo. Dan yang terparahnya, ia pernah tidur bersama Jiyoo.

“Kau tidak apa-apa?” pertanyaan Sehun membuyarkan lamunan Baekhyun. Dan Baekhyun pun langsung mengalihkan pandangannya. “Kau tidak terlihat baik.” Lanjut Sehun.

“Justru kau yang terlihat tidak baik.” Balas Baekhyun. Ketika melihat raut heran di wajah Sehun yang hampir setiap harinya tak berekpresi itu, Baekhyun pun menunjuk wajah Sehun yang babak belur dengan dagunya.

Kemudian terdengar suara tembakan yang terlalu nyaring untuk tidak tertangkap telinga Sehun dan Baekhyun. Keduanya pun menukar saling pandang, menandakan mereka memiliki pikiran yang sama, lantas mereka berlari masuk ke dalam ruangan lewat pintu yang digunakan Seokjin dan Jiyoo sebelumnya.

Baekhyun sempat terperangah sejenak melihat interior bangunan yang sangat berbeda dari di luar tadi yang penuh dengan lumut dan tidak terawat dengan barang-barang hangus yang bersebaran di sekitarnya. Namun, Sehun menepuk punggung Baekhyun agar ia kembali fokus.

Tidak mudah mencari tempat penembakan karena suara tembakan hanya terdengar satu kali. Jadi, Sehun dan Baekhyun pun menelusuri seluruh lorong dan membuka satu per satu pintu yang hanya memperlihatkan ruangan kosong.

Ketika Sehun hendak membelok, ia mengurungkan niatnya dan langsung menghentikan larinya dan juga lari Baekhyun. Ia lantas menyuruh Baekhyun untuk diam saat Baekhyun hendak bertanya.

Lalu, sekali lagi Sehun mengintip dari balik tembok dan mendapati Yongguk tengah berdiri dengan pistol yang diacungkan di depan dadanya. Apa Junhong dalam bahaya sekarang?

Tidak sabar dengan Sehun yang belum juga ingin menjawabnya, Baekhyun pun menggeser tubuh Sehun yang seperti tengah memikirkan sesuatu dengan pandangan kosong ke depan. Baekhyun pun ikut mengintip dan mendapati Yongguk perlahan melangkahkan kakinya maju. Kemudian Baekhyun menarik jaket Sehun untuk mengintip kembali bersamanya.

Melihat Yongguk yang sudah tidak berada di pandangannya sepanjang lorong, Sehun pun kembali melangkahkan kakinya lagi. Kali ini lebih berhati-hati untuk tidak menimbulkan suara, dan Baekhyun mengukuti di belakang.

Kemudian Baekhyun menyadari tangan Sehun yang merogoh sesuatu di saku jaketnya. Dan ketika tangan Sehun kembali turun ke sisi tubuhnya, Baekhyun sadar jika kini Sehun menggenggam pistol. Cepat-cepat Baekhyun menahan Sehun dengan matanya yang membelalak kaget.

“Dari mana kau dapatkan itu?” tanya Baekhyun berbisik. Terlihat panik karena dirinya yang belum pernah melihat ataupun memegang pistol sungguhan sebelumnya.

“Junhong.” Jawab Sehun.

~œ~œ~œ~

Suara sirene mobil polisi bergema di bangunan yang telah terbengkalai sejak belasan tahun yang lalu itu. Empat mobil polisi tersebut segera menurunkan beberapa polisi yang telah siap untuk menggeledah seluruh sudut dengan senjata api yang telah mereka siapkan. Dan seorang gadis yang masih mengenakan seragam sekolahnya turun dari salah satu mobil. Gadis itu hendak masuk ke dalam, tetapi seorang petugas kepolisian melarangnya.

“Temanku ada di dalam dan aku tahu dimana tempat mereka akan menyekapnya!” Gadis itu, Kim Jisoo, bersikeras untuk masuk dan melihat sendiri apakah Sehun baik-baik saja atau tidak.

“Akan lebih menyulitkan jika kau masuk ke dalam.” Kata petugas tersebut, mencoba memberitahu Jisoo dengan sabar.

Menyadari bahwa dirinya mungkin memang akan menyulitkan dengan kemampuan bela dirinya yang nol besar, Jisoo pun akhirnya menyerah dan menunggu di dalam mobil sedangkan petugas itu masuk ke dalam lokasi.

Setelah menunggu kurang lebih satu jam, sebuah sirene ambulan terdengar. Ketika ia menoleh ke belakang dan mendapati satu mobil ambulan yang baru saja tiba dan langsung bersiap-siap dengan beberapa perawat.

“Apa ada yang terluka parah?” tanyanya pada diri sendiri.

Kemudian ia segera keluar dari mobil ketika salah seorang petugas kepolisian keluar membawa seorang gadis yang tidak sadarkan diri, yang langsung ia yakini jika gadis itu adalah Hyeju. Setelah itu, ia pun melihat Sehun yang muncul bersamaan dengan tiga temannya.

“Sehun!” panggilnya terlalu bersemangat sembari menghampiri Sehun yang wajahnya sudah babak belur. Sudut bibir yang robek, pipi yang memerah dan ada beberapa goresan luka, dan sudut mata yang membiru. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya kemudian dengan khawatir.

Sehun pun mengangguk sembari mengulas senyumnya yang jarang ia perlihatkan pada orang-orang untuk menenangkan Jisoo. Namun Jisoo terlanjur melihat darah di kaus Sehun, tepatnya di perut sebelah kanan. Bahkan Sehun tidak berjalan dengan benar.

“Aku baik-baik saja. Jangan khawatir.” Ucapnya ketika dua perawat menghampiri. Satunya untuk menangani Sehun dan satunya lagi untuk Junhong yang sebelah lengannya mengeluarkan banyak darah.

Jisoo ingin memprotes, tetapi tidak ada gunanya memprotes tentang keadaan Sehun sekarang padahal perawat tengah menanganinya.

“Ada yang ingin memberitahu apa yang terjadi?” seorang detektif yang tadi satu mobil dengannya mendekat. Dan Howon pun bersedia untuk menceritakan apa yang terjadi sehingga kini tinggal lah Jisoo dan Baekhyun yang hanya mendapati beberapa luka kecil di wajahnya.

“Kukira kau akan cepat mencari bantuan.” Ucap Baekhyun.

Mendengar suara Baekhyun, barulah Jisoo tahu jika laki-laki yang menjawab teleponnya tadi adalah dia.

“Tak ada yang percaya kata-kataku di kantor polisi.” Balas Jisoo jujur. Sedikit kesal ketika ingat tak ada satupun yang mempercayai kata-katanya meskipun keadaan dirinya buruk. Lalu ia melihat polisi membawa dua orang laki-laki yang lengannya diborgol. Dan, “Apa yang terjadi?” tanyanya pada Baekhyun. Juga ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya.

Lalu Baekhyun pun menceritakan tentang apa yang terjadi pada keluarga Hyeju.

“Oh? Wanita itu tidak ada?” Jisoo memotong cerita Baekhyun ketika ia tak mendapati Jiyoo.

Kening Baekhyun berkerut dan melihat sekeliling. Benar saja. Yang telah aman di dalam mobil polisi dengan kedua tangan yang diborgol hanyalah Yongguk dan Youngjae. Jiyoo dan Seokjin tidak terlihat. Kemudian Baekhyun menghampiri salah satu polisi.

“Apa semua tempat sudah digeledah?” tanya Baekhyun sesopan mungkin. Setelah itu, Jisoo ikut bergabung karena ia juga tahu jika ada seorang wanita di dalam komplotan tersebut.

Polisi itu mengangguk. “Ya. Ada apa?”

“Ada dua orang lagi yang belum tertangkap. Satu wanita dan satu laki-laki. Sebelumnya, aku sudah mengikatnya di bagian luar rumah di lantai tiga—”

“Tidak ada siapa pun di dalam.” Kemudian seorang petugas datang untuk laporan, membuat Baekhyun dan Jisoo menoleh pada petugas tersebut dengan heran.

“Wanita itu yang mengantarkan makanan untukku dan membukakan pintu untukku keluar.” Sahut Jisoo, mengingat wajah Jiyoo yang tidak terlihat seperti orang jahat.

Baekhyun tidak tahu apa yang terjadi pada Jiyoo dan Seokjin, tetapi ia yakin seharusnya keduanya sudah sadarkan diri sejak tadi. Dan jika benar begitu, mereka bisa melepaskan diri dari tali yang mengikat tangan dan kaki mereka lalu kabur sebelum polisi datang.

Ketika Baekhyun hendak mengatakan sesuatu lagi, seorang petugas terlihat membawa sebuah tali yang sebelumnya mengikat Sehun, lalu ia buat untuk mengikat Seokjin dan Jiyoo.

Mereka kabur?

~œ~œ~œ~

Sehun bergerak maju dan memperlihatkan dirinya dihadapan semua orang, lalu berdiri di belakang Yongguk dengan moncong pistol yang diarahkan ke belakang kepala Yongguk. Lantas membuat Yongguk langsung menghentikan langkahnya dengan kedua tangannya yang memegang pistol turun ke sisi tubuhnya.

Merasakan tangan Sehun yang bergetar—karena moncong pistol yang menyentuh kepalanya—Yongguk pun menggunakan kesempatan tersebut untuk membuat suatu keadaan yang menguntungkannya. Ia pun menunduk sejenak agar jika Sehun menarik pelatuknya, kepalanya masih aman, lalu berbalik untuk mengarahkan kakinya ke arah perut Sehun. Untunglah Sehun dapat bereaksi cepat dengan menggerakkan tangannya sehingga kaki tersebut tidak langsung menendang perutnya. Namun, Sehun tetap terhuyung mendur ke belakang.

Pada waktu yang sama dengan gerakan Yongguk, Hoya hendak membantu Sehun, tetapi ia lupa dengan Youngjae yang ternyata sudah berdiri di belakangnya dan langsung menariknya dan meninjunya ke samping sehingga ia jatuh di atas meja yang hampir retak. Untung saja meja tersebut terbuat dari kayu, bukan dari kaca.

Sementara itu, Baekhyun yang sedari tadi bersembunyi langsung muncul dan menendang Yongguk dari samping sehingga Yongguk yang hendak menghabisi Sehun lagi terdorong ke samping dan membentur tembok. Dan saat itulah Junhong kembali membawa Hyeju untuk segera keluar dengan lengannya yang terus saja mengeluarkan darah segar.

Sehun melihat apa yang Junhong lakukan, tetapi dibanding dengan membawa Hyeju keluar jelas-jelas ada Junhong yang membawanya, Sehun lebih memilih untuk membantu Baekhyun yang mulai kewalahan menghandapi Yongguk.

Dan saat itulah Sehun melihat Yongguk mengeluarkan sebuah benda mengkilap dari saku celananya, yang baru Sehun sadari benda tersebut adalah pisau lipat setelah ujungnya menancap di perutnya.

Kemudian Sehun membuka matanya dan mendapati dirinya berada di ruang rawat rumah sakit. Dan di sanalah ia melihat Hyeju yang masih terbaring di atas bangsal dengan alat bantu pernapasan yang menutupi hidung dan mulutnya. Ia pun menghela napas lega mengingat kejadian yang masuk ke dalam mimpinya sudah berakhir.

Begitu juga ketakutan Hyeju selama ini. Semuanya telah berakhir.

Merasakan sakit di bagian perutnya, Sehun pun mengerang lalu meraba perut sebelah kanannya yang baru saja menerima jahitan. Hanya dua jahitan, tetapi sukses membuat Sehun tak bisa bergerak terlalu bebas. Namun, ia tidak diharuskan menginap di rumah sakit dan mengenakan piyama rumah sakit. Hanya Hyeju dan Junhong yang diharuskan menginap.

Dan Junhong pun sudah bisa keluar dari rumah sakit pagi ini.

Lalu, ketika Sehun menolehkan kepalanya ke arah Hyeju, ia mendapati jari Hyeju yang bergerak, yang langsung membuat Sehun berdiri dari sofa dan menghampiri Hyeju.

“Hyeju,” panggilnya, ia pun melihat mata Hyeju yang perlahan membuka. “Hyeju, kau mendengarku?” kemudian ia bertanya ketika Hyeju menutup kelopak matanya lalu membukanya kembali.

“Sehun-a,” ucap Hyeju dengan suara yang terdengar pelan dan lemah.

Mendengar suara Hyeju, tanpa sadar Sehun menarik sudut bibirnya, tersenyum lega karena Hyeju telah sadar dan mengucapkan namanya sesaat setelah membuka mata. Sehun tidak tahu mengapa, tetapi ia sangat senang mengetahui fakta tersebut.

~œ~œ~œ~

“Kalian akan kembali secepat ini?” tanya Junhong ketika mereka, dirinya, Hyeju; Sehun; dan Baekhyun, tengah berada di rumah Hyeju dan keempatnya tengah sibuk memberekan barang-barang mereka. Lalu, “Hyeju, kau baru saja keluar dari rumah sakit kemarin. Seharusnya kau beristirahat sekarang.”

Hyeju mengulas senyum kecil mendengarnya. Dan untuk pertama kali, Junhong dan Baekhyun melihat senyum di bibir tipis Hyeju yang menghilangkan hampir setengah dari image seram yang dimiliki Hyeju sejak kecil. Lalu, “Aku sudah beristirahat di rumah sakit, bukan?” ia balik bertanya. Dan Junhong hanya membuka mulutnya untuk menyanggah, tetapi kembali menutupnya kembali ketika hal yang sama ia katakan pada ibunya yang baru saja kembali dari Inggris setelah mendengar kabar tentangnya.

“Oh iya, Junhong, apa yang sebenarnya terjadi pada laki-laki itu?” kali ini Baekhyun yang bertanya.

Junhong mengerutkan keningnya saat berpikir siapa yang dimaksud oleh Baekhyun. Lalu, “Maksudmu Hoya hyung?” tanyanya balik, dan Baekhyun mengangguk.

Dan sebelum Junhong bercerita tentang Howon, Sehun pun ikut duduk di sofa untuk mendengarkan. Begitu juga Hyeju yang berdiri tidak jauh.

“Hoya hyung adalah anak angkat pamanku, tetapi tidak tinggal bersama pamanku. Dan baru kemarin aku tahu jika hyung bersama mereka karena perintah pamanku.” Ucap Junhong. Lalu, “Hanya itu yang aku tahu.”

Tentu saja apa yang diucapkan Junhong tidaklah cukup sehingga mereka memasang wajah kecewa. Kecuali Hyeju yang justru penasaran dengan satu hal.

“Junhong, mengapa kau membantuku?” pertanyaan Hyeju membuat ketiga laki-laki itu menoleh sejenak ke arah Hyeju, lalu Baekhyun dan Sehun yang segera beralih pada Junhong yang masih menatap Hyeju.

“Karena janjiku pada ayahmu. Kau tahu, bukan?” Jawab Junhong.

“Aku tahu ada alasan lain.” Sanggah Hyeju yang tidak puas dengan jawaban Junhong.

Junhong terdiam sebentar sehingga menimbulkan kecurigaan oleh Sehun yang kini mulai menyipitkan matanya ke arah Junhong. Lalu, “Ayahku seorang pengacara, dan pamanku berkerja di keamanan negara. Aku sudah terbiasa dengan kasus-kasus kriminal sejak kecil, dan kini bercita-cita menjadi cops. Itu sebabnya…,”

Tanpa perlu Junhong melanjutkan kalimatnya, Hyeju pun mengerti. Jadi, Junhong membantu dirinya bukan semata-mata karena janji kepada ayahnya, tetapi hanya untuk pengalamannya sendiri. Tetapi jangan salah. Hyeju sama sekali tidak merasa kecewa, ia justru lega mendengar alasan Junhong yang masuk akal itu. Jika hanya semata-mata menepati janji kepada ayahnya, pasti ada hal lain yang bisa disembunyikan Junhong. Untunglah bukan seperti itu.

Lalu Hyeju membuka mulutnya lagi. “Junhong-a, aku ingin bertemu Hoya dan pamanmu.”

~œ To be Continue œ~

a/n: heyhoooo! Di chapter kali ini, konflik udah kelar, tapi masih belum jelas tentang ini dan itu kan? Yang masih penasaran, silahkan menunggu dua minggu dari sekarang muahaha. Satu chapter lagi adalah finalnya. Di finalnya, kita akan membuka rahasia demi rahasia ahayyy. Tentang Yongguk, tentang Hoya, tentang Junhong, dan tentang Jiyoo&Seokjin juga. Di chapter ini, selain membuka rahasia(?) tentunya juga kita kupas (iris deh?) tentang romancenya muehehehe. Buat yang penasaran, stay tune! Dan jangan lupa baca Day&Night!!!

Sekian. Sampai bertemu minggu2 yg akan datang~~~ PPYONG!!~~~

Advertisements

82 responses to “Continuous Winter – Chapter 11

  1. Uwahh.. udah mau part akhir ajaa♥♥
    Gilakk.. ini seriusan keren banget~
    Jiyoo lolos.-. aku kok kesel yahh? kalo seokjin gapapa. wakakaka ampun..
    good job lahh~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s