How To Steal A Kiss – 9th. Strong Heart

htsakver2a

Title : How To Steal A Kiss – 9th. Strong Heart

Author : ohyeolliepop

Genre : Romance, School-life, (maybe) Comedy

Rating : T

Cast : Park Hyunjo (OC), All of EXO members, Choi Jinri [f(x)], Jung Soojung [f(x)], Park Cheonsa (OC)

Disclaimer : I own nothing but the storyline. Please be a good reader. Do not plagiarize.

((jangan ada yang tanya kenapa sub-titlenya begini pls))

 Credit poster : G.Lin 

Previous : 8

 

Park Hyunjo merasa sesuatu yang tidak beres sedang terjadi dalam hidupnya. Belakangan ini, ia sering mengalami hal-hal ganjil yang terasa aneh dan tidak biasa.

Pertama, Hyunjo berada dalam sebuah kebetulan yang sangat menguntungkan; ponsel Cheonsa tertinggal di dorm, persis ketika Hyunjo memutuskan untuk tidak berangkat sekolah dan mengurung diri di sana. Seberapa besar kemungkinannya?

 

Yah, sebenarnya Hyunjo tidak suka mencampuri privasi orang lain–tapi, hei, kali ini kan situasinya berbeda. Mengintip sedikit mungkin tidak ada salahnya.

Kedua, ternyata untuk menghilangkan perasaan sedih dan patah hatinya, Hyunjo tidak butuh obat anti-depresan, obat tidur, obat pembunuh serangga, atau semacamnya.

Ia hanya butuh sebuah misi detektif sederhana, yang siapa tahu bisa mengubah segalanya.

Ketiga, karena sebuah acara di televisi Hyunjo jadi teringat pada masa kanak-kanak yang hampir tidak pernah dikenangnya. Masa dimana ia masih sudi mengenakan ransel berwarna pink norak, atau botol minuman bermotif Keroppi yang membuatnya merasa sedang minum bersama seekor katak.

Tapi siapa sangka bahwa kenangan-kenangan manis (atau lebih tepatnya, menggelikan) ini justru menjadi kunci tersendiri bagi masalah yang sedang Hyunjo hadapi.

 

***

 

Sinar lampu yang menyilaukan mencuri masuk ke dalam indera penglihatan Soojung, lantas membuat gadis itu mengerjapkan matanya perlahan. Kepalanya berdenyut nyeri seperti baru saja menghantam sesuatu yang keras.

Soojung mendesah pelan sebelum berusaha untuk membuka kelopak matanya secara sempurna. Sejurus kemudian gadis itu mengalihkan pandangannya, mencari tahu ada dimana ia sekarang. Meja kecil, kotak obat, alat pendeteksi detak jantung–hei, ini kan ruang kesehatan sekolah. Soojung benar-benar yakin, dan ia tidak mungkin salah mengenali.

“Soojung-ah, kau sudah sadar?” Entah darimana datangnya, tahu-tahu Jinri muncul di dekat tempat tidur Soojung, dengan membawa secangkir minuman di tangan kanannya. “Kau benar-benar membuatku khawatir, tahu. Aku belum pernah berhadapan dengan orang pingsan sebelumnya.”

Jinri mendengus kesal bercampur lega. Tadi ia benar-benar panik dan nyaris menelepon ambulans–untung saja Soojung sudah sadar lebih dulu. “Ini, aku membuatkanmu ocha hangat.” Jinri menyodorkan cangkir yang sedari tadi digenggamnya, dan Soojung menerimanya dengan sedikit ragu.

Gadis itu menyesap minumannya–astaga, rasa ocha­-nya benar-benar tidak enak. Pahitnya bukan main. Sebenarnya Soojung ingin sekali berhenti meminumnya, namun pandangan penuh harap Jinri membuatnya tidak bisa berkutik. Menyakiti hati Jinri yang sedang memasang puppy eyes sama saja dengan menarik-narik telinga seekor kelinci kecil yang tidak bersalah.

Setelah bersusah payah menandaskan ocha-nya, Soojung menaruh cangkir minuman itu ke atas nakas dan kembali memusatkan perhatiannya kepada Jinri. “Apa tadi aku pingsan?” tanya Soojung.

“Tidak,” gerutu Jinri. “Kau hanya kehilangan kesadaranmu selama beberapa menit dan membuatku jantungan.”

“Oh, maaf,” gumam Soojung sembari mengiris kecil. Kening gadis itu berkerut samar, ia sedang berusaha mengingat kejadian apa yang menyebabkan dirinya pingsan dan berakhir di ruang kesehatan sekolah seperti ini.

Kalau tidak salah, tadinya ia ada di koridor–sedang mengintip Jinri yang akan mengembalikan sapu tangan milik Lay. Kemudian tiba-tiba Kai datang, mengancam akan mengacaukan misi detektifnya, lalu mengajaknya berkencan. Ah, itu dia! Sekarang Soojung ingat, tepat setelah Kai berkata ‘kau harus pergi kencan denganku’, ia merasa ada jutaan bintang yang meledak dalam kepalanya dan tiba-tiba saja semuanya menjadi gelap.

Tapi kenapa Kai tidak ada disini?

“Jinri-ya, apa kau yang membawaku ke ruang kesehatan sekolah?”

Jinri diam dan terlihat seperti sedang mengingat.

“Mm, tidak,” sahutnya kemudian. “Sebenarnya Kai sunbaenim yang membawamu kesini. Ia hanya memintaku untuk menjagamu karena tidak mungkin ia membolos saat pelajaran kalkulus. Itu sama saja dengan bunuh diri.”

Kerutan di kening Soojung semakin mendalam. “Apa kau melihatku saat jatuh pingsan?”

Jinri menggeleng pelan, “Tidak. Aku bahkan tidak tahu kau pingsan dimana–tadinya aku ada di koridor untuk mengembalikan sapu tangan milik Lay sunbaenim.”

Luar biasa. Padahal Soojung pingsan di area yang sama dengan Jinri–bagaimana bisa Kai membawanya ke ruang kesehatan tanpa sepengetahuan gadis itu? Jangan-jangan Kai itu superman atau semacamnya.

“Oh ya, hampir saja aku lupa!” Jinri menepuk keningnya, kemudian merogoh saku jas almamaternya dan terlihat seperti mencari sesuatu. Setelah berhasil menemukan apa yang ia cari–selembar notes kecil berwarna kuning–, ia menyerahkannya kepada Soojung. “Ini untukmu, tadi Kai sunbaenim menitipkannya padaku.”

Soojung mengamati notes itu dan Jinri secara bergantian–bingung.

“Aku belum membacanya, kok.” Jinri menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

Soojung menghela nafas, “Dan aku juga tidak menuduhmu, kok.”

Kini manik mata Soojung mulai membaca barisan kalimat yang tertera dalam notes itu–yang ditulis secara acak-acakan. Ck, tulisan Kai benar-benar jelek. Setengah latin, dan naik-turun seperti pegunungan Himalaya. Soojung butuh waktu sekitar dua menit untuk bisa membaca dengan jelas apa bunyi tulisannya.

Maaf tidak menunggumu saat pingsan, aku ada kelas kalkulus. Hei, tapi kenapa kau pingsan? Kau benar-benar bahagia, ya?

Kutunggu kau di taman dekat sekolah, lusa pukul tiga sore. Jangan sampai terlambat.

–Kai.

Ya Tuhan, meski ditulis dengan tulisan yang sangat buruk, tapi ini manis sekali (setidaknya bagi Soojung). Gadis itu tidak dapat mencegah dirinya untuk tidak tersipu malu setelah membaca pesan tersebut–demi kumis Lucifer yang tebal dan mengerikan, sekarang pipinya pasti sudah merona merah seperti kepiting rebus.

Jinri yang cepat menangkap perubahan air muka Soojung mencolek pipi teman baiknya itu, kemudian bertanya dengan jahil, “Hei, Jung Soojung. Kau sedang jatuh cinta, ya?”

Soojung yang salah tingkah menepis tangan Jinri dan pura-pura terlihat kesal, “Tidak, ini hanya efek aneh setelah pingsan.”

“Ah, benarkah?” Jinri mengerjapkan matanya, “Jadi bukan karena ajakan kencan dari Kai sunbaenim?”

Yaa! Tadi kau bilang kau tidak membacanya!” Soojung yang luar biasa malu dan panik segera bangkit dari tempat tidur dan menjitak kepala Jinri. Untuk beberapa saat rasa pusing di kepalanya dapat teralihkan.

Sementara itu Jinri hanya dapat tertawa sembari mengelus kepalanya yang malang. Ia sudah membaca isi notes itu, tentu saja. Dan Jinri juga sudah meramalkan bahwa cepat atau lambat, Soojung dan Kai akan melakukan pendekatan.

Err, omong-omong bagaimana dengan sapu tangan itu? Kau berhasil mengembalikannya?” tanya Soojung–berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan.

Ia juga mengkhawatirkan nasib Jinri, sebenarnya. Kalau sampai misi teman baiknya itu gagal hanya karena Kai memintanya untuk datang ke ruang kesehatan, Soojung bersumpah akan mencekik lelaki itu hidup-hidup. Rencana Jinri yang sudah sedemikian hebatnya tidak boleh gagal begitu saja.

Namun bukannya menjawab, yang bersangkutan justru tersenyum misterius. “Aku akan menceritakannya padamu nanti. Sekarang kau istirahat dulu, jangan banyak bicara!”

Tepat setelah itu, dengan brutalnya Jinri menarik selimut Soojung sampai menutupi seluruh tubuh gadis itu.

“DEMI TUHAN–JINRI! AKU TIDAK BISA BERNAPAS!”

 

***

 

Hyunjo melirik jam dinding, kemudian decakan kesal lolos dari bibir mungilnya. Ia tidak tahu harus melakukan apa selain berguling-guling di atas tempat tidur–sendirian di dalam dorm hampir membuatnya mati karena bosan.

Sebenarnya Hyunjo bisa saja menonton drama di televisi, tapi sungguh ia tidak punya minat sedikitpun untuk sekedar mengambil remote dan mengganti channel. Lagipula Jinri juga melarangnya untuk menonton drama percintaan, gadis itu takut Hyunjo akan bertindak nekat. Astaga, padahal dibayar dengan sebuah pulau pun Hyunjo tidak akan mau melakukannya.

“Ya Tuhan,” erang Hyunjo. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri, setengah frustasi dan setengahnya lagi bingung. Selagi ia meraung seperti orang kesetanan, matanya yang jeli menangkap sesuatu–nakas Cheonsa yang setengah terbuka.

Hyunjo berhenti mengeluarkan suara-suara aneh. Pandangannya terkunci pada nakas tersebut, dan kilat matanya menunjukkan rasa penasaran yang teramat besar. Selama bertahun-tahun menempati dorm yang sama dengan Cheonsa, belum pernah sekali pun Hyunjo membuka loker nakas itu. Ia sangat menghargai privasi teman-temannya yang lain.

Tapi.. Kali ini Hyunjo tidak dapat menahan dirinya untuk tidak beringsut mendekati nakas Cheonsa dan mengintip apa isinya.

Dengan posisi yang setengah terbuka, Hyunjo dapat melihat ada beberapa buku (yang kelihatannya tidak penting), sebuah bolpoin, sebuah pengikat rambut, dua buah permen karet, dan–wow, sebuah ponsel.

Hyunjo mengerjapkan matanya tidak percaya.

Ponsel Cheonsa tertinggal di dorm persis ketika Hyunjo sedang bolos sekolah dan mengurung diri sana. Seberapa besar kemungkinannya? Itu hampir sama gilanya dengan Hyunjo yang mengira dirinya akan dibantu oleh Luhan, namun justru mendapat sebuah ciuman dari Sehun.

Hidung Hyunjo berkerut tak suka ketika mengingat kejadian itu. Memutuskan untuk kembali fokus kepada ponsel Cheonsa, gadis itu membuka nakas perlahan dan dengan hati-hati mengeluarkan ponsel tersebut dari tempatnya.

“Oh-ho,” gumam Hyunjo, sembari menimang ponsel tersebut. Ia bukan tipikal orang yang ingin tahu rahasia orang lain, tapi.. Bukankah kali ini kasusnya berbeda? Siapa tahu ia bisa menemukan informasi penting yang berhubungan dengan perubahan sikap Cheonsa belakangan ini. Iya, kan? Siapa tahu.

Gadis itu menarik napas dalam-dalam–mengumpulkan keberanian untuk melihat apa isi ponsel Cheonsa.

“Ya Tuhan, maafkan Hyunjo. Ini terpaksa.” Dengan mata terpejam, gadis itu sibuk merapalkan doa. “Semoga ini tidak dosa–dan kalau pun ini berdosa, semoga Cheonsa yang menanggungnya. Meninggalkan ponsel di dorm, kan, kesalahannya.”

Setelah merasa yakin, Hyunjo membuka matanya kembali dan menggunakan ibu jarinya untuk mengusap layar ponsel Cheonsa.

Masukkan kode pengaman.

“Astaga,” dengus Hyunjo. Ia lupa tentang masalah kode pengaman–seharusnya ia tahu, siapa pun pasti melindungi ponselnya dengan kata sandi. Tidak terkecuali Cheonsa.

“Apa ya, kata sandinya?” Hyunjo menggembungkan pipinya, berusaha mencari kombinasi huruf dan angka yang masuk akal.

ParkCheonsa. Gagal. Sisa sembilan kali kesempatan.

Hyunjo meringis, mungkin kode pengamannya tidak sesederhana itu. Lantas apa? Gadis itu bangkit dari duduknya, kemudian berjalan mondar-mandir. Kalau di dalam drama, setelah berjalan tidak jelas seperti itu biasanya si tokoh utama langsung mendapat ide yang cemerlang. Hyunjo berharap hal itu juga berlaku pada dirinya.

Cheonsa1996. Gagal. Sisa delapan kali kesempatan.

“Bukan?” Hyunjo mengernyit heran.

PC1996. Gagal. Sisa tujuh kali kesempatan.

Hyunjo memberengut kesal, “Bukan juga?”

CheonsaCute. Gagal. Sisa enam kali kesempatan.

Hyunjo mulai panik, ia baru saja membuang kesempatan menebaknya yang berharga dengan sebuah kata sandi yang konyol–CheonsaCute. Apa-apaan.

“Berpikir, Hyunjo. Berpikir..,” sugestinya sekuat tenaga.

CheonsaPark. Gagal. Sisa lima kali kesempatan.

“Gagal lagi?” lolong Hyunjo nelangsa.

Mungkin passwordnya berhubungan dengan EXO, Hyunjo pikir. Sedikit tidak masuk akal, tapi–hei, bisa saja, kan?

CheonsaEXO. Gagal. Sisa empat kali kesempatan.

Uh–sial, sial, sial! Kesempatannya semakin menipis, dan Hyunjo semakin bingung. Ia sudah tidak tahu lagi kata sandi apa yang sekiranya digunakan oleh Cheonsa.

EXOCheonsa. Gagal. Sisa tiga kali kesempatan.

“KYAAA!” pekik Hyunjo. “Tiga kali kesempatan! Ingat, tinggal tiga kali kesempatan. Berpikirlah dengan baik dan benar.”

Hyunjo memijit kepalanya perlahan, mungkin mengira hal itu akan membantu.

EXO. Gagal. Sisa dua kali kesempatan.

“Entahlah.” Hyunjo meniup poninya putus asa. Apa ia memang tidak ditakdirkan untuk memeriksa isi ponsel Cheonsa?

EXO12.

Dan wajah Cheonsa beserta deretan menu terpampang besar di layar.

“AIGOOOOO!” Hyunjo melompat kegirangan. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas dan menggoyangkan badannya sebagai bentuk selebrasi kemenangan. Luar biasa, ia berhasil menebak kata sandi ponsel Cheonsa!

Woohoo! Rupanya aku memang ditakdirkan untuk ini!” Masih sama antusiasnya dengan yang tadi, Hyunjo melompat ke atas tempat tidurnya. Tangannya dengan cekatan menekan menu message yang menjadi target penyelidikan pertamanya, dan matanya memeriksa satu persatu nama yang tertera.

Dari Yeaji, operator, Yeaji, Eomma, operator, operator, operator..

“Tidak ada yang penting,” gumam Hyunjo, setelah iseng-iseng membuka percakapan Cheonsa dengan Yeaji dan hanya menemukan obrolan tentang tugas disana.

Belum mau menyerah, Hyunjo terus melakukan scroll down dan berharap akan menemukan sesuatu yang menarik–seperti nama salah satu anggota EXO, misalnya. Tapi ternyata nihil–Hyunjo tidak dapat menemukan sesuatu di menu message Cheonsa.

Hyunjo menekan tombol back dengan kecewa. Matanya kemudian menelusuri pilihan menu yang lain, kira-kira menu apa yang menjadi target operasi selanjutnya?

“Ah, ini saja.” Hyunjo menekan menu gallery setelah mempertimbangkan kemungkinan adanya foto-foto penting disana.

Deretan album yang tersedia langsung terjejer rapi di depan mata Hyunjo. Kebanyakan contoh gambar yang tersedia adalah foto Cheonsa–dan parahnya, kebanyakan adalah foto selca. Uh, terima kasih. Hyunjo disini untuk mencari informasi, bukannya untuk melihat selcaselca Cheonsa yang menggelikan.

Hampir saja Hyunjo menekan tombol back, namun gadis itu tersadar–siapa tahu ada foto penting yang terselip di antara selca Cheonsa. Jadi gadis itu membuka satu per satu album yang ada, sembari meyakinkan diri bahwa matanya akan tetap baik-baik saja setelah melihat ratusan selca itu.

Selca, selca, selca..” Hyunjo menggeser foto demi foto. Sesekali ia tertawa kecil ketika dirinya kebetulan menemukan selca dengan pose yang konyol atau aneh. Diam-diam ia ingin mengirim salah satu selca itu ke ponselnya, dan menjadikan foto tersebut senjata pertahanan jika Cheonsa terus bertindak yang aneh-aneh. Tapi Hyunjo urung melakukannya, tentu saja. Ia tidak sejahat itu.

“Selca lagi, sel–eh?” Mata Hyunjo menyipit kala dirinya menemukan sebuah foto. Bukan, bukan selca Cheonsa yang sedang berenang bersama lumba-lumba–melainkan foto Chanyeol.

Meskipun terlihat sedikit berbeda (rambut Chanyeol klimis sekali, Hyunjo saja geli melihatnya), ia yakin seratus persen bahwa lelaki dalam foto itu adalah Chanyeol. Tidak mungkin salah, telinga dan hidung lelaki itu sangat khas. Jadi mudah dikenali.

“Untuk apa Cheonsa menyimpan foto Chanyeol sunbaenim?” Hyunjo berpikir sebentar, namun ia tidak kunjung mendapat jawaban atas pertanyaannya sendiri.

Detik berikutnya gadis itu mengambil ponselnya dan mengirim foto Chanyeol dari ponsel Cheonsa. Tidak lupa ia juga mengabadikan foto Chanyeol yang sedang dibuka di ponsel Cheonsa, untuk berjaga-jaga kalau suatu hari gadis itu menghapus fotonya.

Hyunjo menatap ponselnya puas, tidak menyangka dirinya bisa sehebat ini. Ia lalu berjingkat dan menaruh ponsel Cheonsa ke tempatnya semula, juga menutup nakas itu sedikit agar terlihat sama seperti yang tadi.

“Benar-benar sebuah kebetulan yang mengagumkan,” desis Hyunjo bahagia. Ternyata keputusannya untuk tidak berangkat sekolah hari ini sangat tepat. Ia berhasil mendapat sesuatu yang penting, dan rasa patah hatinya juga dapat teralihkan untuk sementara.

“Tunggu saja tanggal mainnya, Detektif Hyunjo akan segera beraksi!”

 

***

Sehun melempar ponselnya ke atas, kemudian menangkapnya cepat saat pengaruh gravitasi membuat benda itu terjatuh ke bawah. Ia melakukannya berulang-ulang, seperti orang bingung yang tidak punya arah dan tujuan.

“Sehun-ah, apa yang sedang kau lakukan?” Baekhyun menepuk punggung Sehun, nyaris membuat lelaki itu kehilangan keseimbangan dan gagal menangkap ponselnya yang melayang turun. Untung saja refleks Sehun sangat, sangat baik. Jadi ponsel itu berhasil diamankan dalam genggamannya.

“Menurutmu?” Sehun menyahut dingin. Wajar saja, sih. Ia kan sedang kesal terhadap Baekhyun.

Err, sedang melempar-lempar ponsel seperti orang bodoh?” Oh, ya ampun. Kelihatannya Baekhyun tidak menangkap sinyal-sinyal ‘bahaya’ yang dikirimkan oleh Sehun, buktinya ia masih menimpali perkataan lelaki itu seenak hati.

“Oh ya, bagaimana dengan si Park Hyunjo itu? Apa kau sudah mulai mendekatinya?” tanya Baekhyun, sembari menyambar satu bungkus keripik kentang entah-punya-siapa yang terletak tidak jauh dari tempatnya duduk.

Sehun mengendikkan bahunya tak acuh, “Belum.”

Baekhyun baru akan membalas perkataan Sehun ketika Tao–dengan bersungut kesal–mengambil bungkus keripik kentang di tangannya. “Ini punyaku, tahu! Kenapa kau makan?” gerutu Tao. Setelah merasa cukup memberi Baekhyun tatapan ‘what-the-hell-did-you-just-eat’, lelaki itu melenggang pergi dan berkumpul dengan Lay.

“Uh, bocah,” cibir Baekhyun pada punggung Tao yang menjauh. Sehun mendengus, seperti yang bicara sudah dewasa saja.

“Jadi, kapan kau akan mendekatinya?” Baekhyun bertanya lagi.

Sehun mengendikkan bahunya untuk yang kedua kali, “Tidak tahu.”

Baekhyun berdecak, “Ck, bagaimana sih kau ini? Kau tidak boleh membuang banyak waktu.”

“Apa yang dikatakan bacon itu benar sekali,” sambar Kyungsoo–yang tahu-tahu datang dan duduk di antara Sehun dan Baekhyun dengan santainya.

“Kau tahu? Tadi aku ingin meminjam buku astronomi di perpustakaan, tapi sayangnya buku itu sudah lebih dulu dipinjam oleh seorang hoobae. Namanya Rin–sesuatu, aku tidak ingat. Ketika aku mendekatinya dan coba membujuknya untuk meminjamkan buku itu padaku dulu, ia malah menuduhku yang tidak-tidak. Katanya aku sedang taruhan dengan Chanyeol untuk mendekatinya–gila, yang benar saja.”

Sehun dan Baekhyun melongo. Barusan itu adalah kalimat terpanjang yang pernah diucapkan oleh Kyungsoo! Biasanya lelaki itu hanya mengeluarkan kalimat-kalimat pendek seperti ‘oh ya’, ‘jangan bercanda’, atau ‘aku tidak ingin menceritakannya padamu’. Dan ternyata Kyungsoo bisa bicara lebih panjang dari itu.

“Jadi begitu.” Sehun menghela nafasnya berat. Memangnya ia harus membalas apa? ‘Oh kasihan sekali kau Do Kyungsoo, karena kesalahan Chanyeol yang bodoh kau jadi dituduh macam-macam oleh hoobae yang tidak kau kenal. Tapi sebenarnya lebih kasihan diriku sendiri, sih, karena harus bertanggung jawab atas semua ini’? Tidak mungkin, kan.

“Untuk kali ini saja, aku sepakat dengan bacon,” lanjut Kyungsoo–melirik Baekhyun sekilas sebelum akhirnya nyengir dan pergi.

“Apa-apaan.” Baekhyun mendelik, “Omonganku itu benar dari dulu, Kyungsoo saja yang selalu menyangkalnya.”

Ya, ya, terserahlah. Sehun mengacak rambutnya, ia tidak sedang dalam mood yang bagus untuk mendengar celotehan Baekhyun. Situasinya semakin tidak mengenakkan, bahkan Kyungsoo saja bisa terkena getahnya. Mungkin Sehun memang harus cepat bertindak atau masalahnya akan menjadi semakin rumit.

“Baek,” panggil Sehun pelan.

Baekhyun menoleh, dan sedikit terkejut melihat Sehun sedang menelungkupkan kepalanya di meja seperti orang frustasi. “Y–ya?” lelaki itu menyahut ragu.

“Bagaimana cara mendekati seorang hoobae?” tanya Sehun.

Baekhyun meringis. Dunia ini sudah terbalik atau bagaimana? Seorang Oh Sehun–yang notabene dipuja-puja gadis satu sekolah–minta cara mendekati seorang gadis kepada dirinya, yang baru pernah pacaran dua kali?

“Aku tidak mahir dalam hal-hal seperti itu,” sahut Baekhyun, sedikit menyembunyikan gengsinya. Malu juga rasanya kalau ia mengaku pada Sehun bahwa ia tidak tahu cara mendekati gadis dengan baik dan benar. “Lebih baik kau bertanya pada Kris atau Kai. Kurasa mereka bisa membantumu.”

Sehun mengangkat kepalanya, “Kris atau Kai?” Ia melirik Baekhyun, kemudian menganggukkan kepalanya. “Benar juga.”

Sejurus kemudian Sehun bangkit dari duduknya, memutuskan untuk menghampiri Kris yang sedang sibuk mengobrol dengan Suho.

“Kris,” panggil Sehun, tanpa mengacuhkan Suho yang menatapnya kesal karena dirinya tidak ikut disapa. “Bagaimana cara mendekati seorang hoobae?”

Alis Kris bertaut, “Hyunjo?”

Sehun mengangguk, “Siapa lagi? Tidak mungkin Suho, kan.”

“Hei!” protes Suho, tapi tidak mendapat tanggapan yang serius dari Sehun maupun Kris. Tidak ada yang mau repot-repot mendengarkannya saat ini.

Err.” Kris terlihat sedang berpikir keras. “Langsung menyatakan cinta padanya dan bilang kau hanya butuh sebuah ciuman untuk bisa jatuh cinta padanya?”

Sehun melotot, “Tidak ada cara yang lain?”

“Tidak ada,” ujar Kris tenang. “Kecuali kau beri aku waktu dua menit lagi, mungkin aku punya cara yang lebih baik dari itu.”

Oh tidak, terima kasih. Dua menit Sehun terlalu berharga untuk ia pertaruhkan dengan ide Kris yang kemungkinan besar akan jauh lebih parah dari yang sebelumnya.

“Tidak, tidak perlu. Thanks untuk sarannya.” Sehun buru-buru menyingkir sebelum Kris memberinya saran yang lebih aneh lagi–seperti berenang di laut lepas bersama Hyunjo dan paus biru, misalnya.

Sehun mengedarkan pandangannya, mencari Kai. Meskipun sudah melihat sampai ke sudut-sudut terkecil seperti bawah bangku, ia tetap tidak berhasil menemukan sosok teman baiknya tersebut.

“Chen.” Sehun menahan bahu Chen yang kebetulan sedang lewat, “Apa kau lihat Kai?”

Chen merengut sebentar, memeriksa kantung kemeja dan celana sekolahnya, kemudian menggeleng sedih. “Tidak.”

“Oh, oke.” Sehun melepaskan bahu Chen dengan sedikit kecewa–bertanya pada tembok yang tidak bisa bicara mungkin lebih menyenangkan daripada harus bertanya pada Chen.

Kali ini Luhan yang melintas bersama Xiumin, dan Sehun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk memanggil mereka. “Lu, Xiumin!” Sehun berlari kecil ke arah dua lelaki itu, kemudian mengajukan pertanyaan yang sama, “Apa kalian lihat Kai?”

Dengan cepat Luhan menggeleng, “Tidak.”

“Memangnya kenapa?” timpal Xiumin.

“Sebenarnya tidak kenapa-kenapa, sih.” Sehun mengusap tengkuknya canggung, “Aku hanya ingin bertanya padanya tentang–err–cara mendekati Hyunjo.”

Xiumin menepuk keningnya refleks. Menurutnya bertanya kepada Kai tentang hal seperti itu adalah kesalahan. KESALAHAN–ditulis dengan huruf besar. Bukannya Kai tidak tahu bagaimana cara mendekati seorang gadis, tapi caranya itu benar-benar tidak bisa ditebak.

Kau tahu, Kai bisa mengajak seorang gadis kencan dengan cara yang paling normal seperti mengajaknya kenalan lebih dulu, sampai cara yang paling ajaib–seperti mengancam tidak mau mandi seminggu jika gadis itu tidak mau pergi kencan dengannya.

Hei, Xiumin tidak mendramatisirnya. Kai memang melakukan itu ketika mengajak Sooyoung–putri kepala sekolah mereka–kencan beberapa bulan yang lalu.

Dan sementara Xiumin terkejut, tampaknya Luhan sedang memikirkan hal yang lain. Kentara sekali dari wajahnya yang berubah serius.

“Sehun-ah, apa kau tahu tanggal lahir Hyunjo?” Luhan mengajukan pertanyaan secara tiba-tiba, membuat Sehun dan Xiumin serempak melongo bingung.

“Tidak,” sahut Sehun.

“Apa kau tahu dimana Hyunjo tinggal?”

“Di dorm?”

“Bukan yang itu–maksudku, tempat tinggal asli. Rumahnya.”

“Oh, kalau begitu tidak.”

“Apa kau tahu ada berapa saudara yang Hyunjo punya?”

“Tidak.”

“Apa kau makanan kesukaan Hyunjo?”

“Tidak.”

“Apa kau tahu warna kesukaan Hyunjo?”

“Tidak.”

“Apa kau tahu makanan apa yang biasanya Hyunjo pesan di kafetaria?”

“Tidak.”

Kali ini Xiumin angkat bicara, “Apa kau tahu ada berapa bolpoin dalam kotak pensil Hyunjo?”

“Xiu!” potong Luhan sebelum Sehun sempat menjawab ‘tidak’. “Bukan itu intinya.”

Setelah merasa puas mengomeli Xiumin, Luhan kembali memusatkan perhatiannya kepada Sehun.

“Kau benar-benar tidak tahu siapa Hyunjo, Sehun-ah. Kau tidak bisa mendekatinya jika seperti ini. Tidak mungkin kan, kau mendekati gadis yang bahkan tidak kau kenal?” keluh Luhan.

“Lebih baik kau mencari informasi dulu tentang Hyunjo, baru kau bertanya lagi bagaimana cara mendekatinya. Orang-orang juga akan lebih mudah dalam memberi saran, karena sudah tahu gadis seperti apa Hyunjo itu. Kau mengerti?”

Sehun terdiam. Ia rasa Luhan ada benarnya juga. Ah, kenapa hal ini bisa luput dari pemikirannya?

“Aku mengerti, Lu,” ucap Sehun. “Sangat mengerti.”

 

***

 

Hyunjo masih sibuk mengamati foto Chanyeol di ponselnya. Dengan tatanan rambut yang menggelikan seperti itu (klimis, seakan baru dicuci dengan minyak), ia berani bertaruh foto tersebut diambil sebelum Chanyeol masuk sekolah menengah atas. Bisa jadi, empat-lima tahun yang lalu.

Tapi kenapa Cheonsa bisa punya foto Chanyeol ini?

Kening Hyunjo berkerut-kerut, ia merasa seperti berhadapan dengan soal kalkulus yang sulit. Apa mungkin Cheonsa sebenarnya mengenal Chanyeol?

Ah, rasanya tidak mungkin. Kalau mereka saling mengenal, kenapa Cheonsa tidak pernah sekalipun menyebut nama Chanyeol saat membicarakan EXO dengan Jinri dan Soojung? Dan, kenapa Chanyeol juga terlihat seperti tidak mengenal Cheonsa?

Lagi-lagi otak Hyunjo buntu, tidak berhasil menemukan jawaban.

Gadis itu mematikan ponselnya, mengeluh bosan, kemudian mengambil remote dan mengganti channel. Akhirnya, setelah berjam-jam, Hyunjo menonton televisi juga.

Ganti. Ganti. Ganti.

“Memangnya tidak ada acara yang bagus saat aku sedang bosan?” keluhnya apatis. Ia sudah lelah menekan tombol ‘next’ terus-menerus tanpa menemukan tayangan yang bisa menarik minatnya.

Ibu jari Hyunjo nyaris menekan tombol ‘next’ untuk yang kesekian kalinya, ketika wajah seorang anak yang lucu memenuhi seluruh layar televisi di dorm-nya. “Aih, imut sekali!” Mata Hyunjo berbinar-binar.

Ia mengurungkan niatnya untuk mengganti channel lagi, dan menonton acara tersebut dengan seksama. “Superman Returns..,” gumamnya kala membaca judul acara yang tertera di sudut atas layar. “Kenapa aku tidak pernah lihat acara ini sebelumnya, ya?”

Yah, saat ini otak Hyunjo terlalu lemah untuk bisa mengingat bahwa tempo hari kerjaannya hanya menonton drama, drama, dan drama saja.

Melihat tingkah Sarang–nama anak yang luar biasa imut–dalam acara itu membuat Hyunjo mau tak mau jadi teringat masa kecilnya di taman kanak-kanak, ketika ia masih sebaya dengan Sarang. Ia sama menggemaskannya dengan Sarang, lengkap dengan rambut mangkuk berponi dan pipi yang minta dicubit semua orang.

Masih tergambar dengan jelas dalam benak Hyunjo hari pertamanya di taman kanak-kanak. Meskipun sudah mendapat seluruh amunisi sekolah yang ia inginkan–botol minuman bermotif Keroppi, ransel kecil berwarna pink, dan jepit rambut kupu-kupu–Hyunjo kecil tetap merengek tidak mau berangkat ke sekolah.

Ia tidak siap berpisah dengan orang tuanya di gerbang sekolah (yang lebih dianggapnya sebagai gerbang penjara kala itu), dan berbaur bersama teman-temannya yang baru. Ia tidak pernah siap untuk beradaptasi.

Belum lagi, di dalam kelasnya yang baru, ia terpaksa duduk dengan bocah laki-laki karena seluruh anak perempuan telah mendapat teman sebangkunya masing-masing. Rasanya Hyunjo kecil ingin menangis dan pulang saja, ia tidak mau duduk dengan anak laki-laki.

Namun, sialnya hal itu tetap terjadi.

Hyunjo kecil melirik anak yang duduk di sebelahnya takut-takut, berkenalan mungkin tidak ada salahnya.

“H–hai,” panggil Hyunjo kecil gugup.

 

Anak laki-laki itu menoleh dan menatap Hyunjo tidak suka. “Kenapa?” tanyanya ketus dan sangat tidak bersahabat. Jangankan tersenyum, anak itu justru mengerucutkan bibirnya.

 

Hyunjo kecil menciut, ia ingin mengurungkan niatnya untuk mengajak anak itu berkenalan–tapi bagaimana jika ia tidak punya teman sama sekali? Ia tidak mau kemana-mana sendirian.

 

Hyunjo kecil pun mengumpulkan seluruh keberaniannya yang tersisa untuk berkata, “Na–namaku Park Hyunjo.” Ia mengulurkan sebelah tangannya ragu-ragu, “Namamu siapa?”

 

“Huangzi.” Anak itu menjawab dingin, dan ia bahkan tidak menjabat uluran tangan Hyunjo kecil.

 

Uh, menyebalkan! Hyunjo kecil kan hanya ingin bersikap ramah dan mencari teman, kenapa si Huangzi ini terkesan tidak menghargainya sama sekali?

 

“Kenapa kau jahat sekali?” tudingnya kesal. Hyunjo kecil memang penakut, tapi ia tidak suka mendapat perlakuan seperti yang tadi–jadi ia harus melawan.

 

Huangzi berdecak seperti orang dewasa, “Aku tidak suka anak perempuan. Mereka berisik!”

 

Hyunjo kecil melotot tidak terima, “Aku juga tidak suka anak laki-laki! Mereka bau!”

 

“Kalau begitu kau dari sini! Kau tidak boleh duduk denganku!”

 

Hyunjo kecil memakai tasnya sembari terisak, ia ingin memukul Huangzi–tapi ia pasti dimarahi Appa kalau sampai ketahuan. Tidak punya pilihan lain, Hyunjo kecil menyingkir.

 

Masih menangis, ia melihat teman-teman satu kelasnya. Tidak ada yang terlihat seperti peduli padanya, dan Hyunjo kecil benar-benar merasa sendiri.

 

“Hei.”

 

Hyunjo kecil menoleh begitu bahunya ditepuk halus oleh seseorang–ternyata bocah laki-laki lainnya. Berbeda dengan Huangzi yang ketus, anak itu tersenyum lebar dan menampakkan deretan giginya yang putih bersih namun bolong satu di depan.

 

“Kalau kau mau, kau bisa duduk denganku di situ,” ucap anak itu, seraya menunjuk bangku dimana baru ada satu ransel berwarna biru laut di atasnya.

 

Hyunjo kecil mengerjapkan matanya gembira, tangisnya pun mulai mereda. “Boleh?”

 

“Boleh!” sahut anak itu riang.

 

“Berarti kau mau jadi temanku, kan?” lanjut Hyunjo. “Namaku Park Hyunjo. Namamu siapa?” Hyunjo mengulurkan tangan kanannya lagi–dan kali ini ia mendapat sambutan.

 

“Salam kenal, Hyunjo. Namaku Oh Sehun.”

Badan Hyunjo mendingin–kini ia baru teringat akan sesuatu.

 

***

Saat ini Jinri dan Soojung sedang berjalan menuju ke kelas. Yah, setelah merasa kondisinya sudah lebih baik, Soojung memaksa Jinri untuk mengantarnya kembali. Ia tidak mau berlama-lama berada di ruang kesehatan.

“Jinri-ya, kenapa disitu ramai sekali?” tanya Soojung heran, begitu ia melihat banyak sekali murid yang berkerumun di sekitar papan pengumuman. Kelihatannya mereka sedang membicarakan sesuatu yang benar-benar seru.

Jinri mengendikkan bahunya tak tahu menahu. “Ayo, kita lihat saja ada apa.”

Kedua gadis itupun beringsut mendekati kerumunan, kemudian sibuk meneriakkan kata ‘permisi’ agar dapat mencapai barisan paling depan. Setelah berhasil menerobos keramaian dan menginjak beberapa sepatu yang entah siapa pemiliknya, Jinri dan Soojung dapat melihat apa yang menjadi sumber keributan ini.

Sebuah kertas.

Atau lebih tepatnya, sebuah surat cinta.

Kening Soojung berkerut samar kala memperhatikan surat tersebut, rasanya ia pernah melihat tulisan tangan si penulis. Tapi siapa dan dimana tepatnya, Soojung tidak dapat mengingatnya secara pasti.

“Untuk Donghae songsaenim tercinta.” Jinri mulai membacanya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

“Aku menulis surat ini karena aku benar-benar mengagumi songsaenim. Menurutku songsaenim adalah guru yang hebat, pelajaran olahraga tidak pernah terasa menyenangkan sebelum songsaenim menjadi pengajarnya.”

Tunggu. Sepertinya Jinri pernah membaca kalimat ini.. Tapi, dimana?

“Selain mahir dalam bidang olahraga, songsaenim juga sangat tampan. Dan bukan cuma aku, kok, yang bilang begitu. Hampir semua murid perempuan sependapat denganku–hanya saja, percayalah padaku songsaenim, aku yang paling mengagumi songsaenim. Aku ini penggemar nomer satu songsaenim.”

Jinri tercekat. Sebelum membaca nama si pengirim surat, ia mencengkeram lengan Soojung takut-takut, “Soojung-ah, tiba-tiba perasaanku jadi tidak enak.”

Soojung menelan ludah, “Aku juga.”

Pada akhirnya kedua gadis memberanikan mata dan jiwa mereka untuk melihat nama si pengirim yang tertera di bagian paling bawah surat.

Here we go.

 

 

 

 

“..Park Hyunjo.”

 

Ya Tuhan! Bagaimana bisa?

 

Annyeong^^

Aku mau ngomong lumayan banyak kali ini, brace your eyes /apa/

Pertama-tama, aku mau minta maaf sama kalian semua._. maaf banget karena aku memproteksi chapter sebelumnya dengan password, kalian pasti jadi repot banget dan mungkin ada yang belum dapet password-nya sampe sekarang. Sekali lagi, maaf T-T buat yang belum tahu apa passwordnya bisa dilihat disini ya. Jujur aku gaada maksud buat mempersulit kalian kok, seharusnya aku seneng banget ya kalian udah mau baca ffku yang abal-abal ini T-T ❤

Kedua, err, still can’t believe that I have finished this part–kalian tahu ga, kemarin-kemarin aku sempet stuck banget sama HTSAK. Gatau harus gimana, sampe akhirnya banyak nulis ff yang lain buat pelarian sementara. Dan akhirnya, setelah capek main kabur-kaburan, aku balik lagi deh ngerjain ff ini :’D ((sebenernya dibantu juga sih sama comeback-nya f(x), ay ay it’s a red light light~))

Ketiga, di chapter-chapter sebelumnya banyak yang minta ‘jalan ceritanya gini aja’, ‘banyakin bagian ini’, atau ‘fokus ke itu’–and I just want to say, sorry, mungkin aku gabisa memenuhi permintaan kalian. Usul-usul dari kalian aku tampung kok, tapi untuk jalan cerita aku tetep pengen memutuskannya sendiri. Semoga kalian ga keberatan, ya ;-;

Keempat, cuma mau kasih tau aja, aku ada banyak project lain loh di luar HTSAK :3 ada The Unexpected You (Jongin/Luhan/OC–on going), The Exonyxs (Baekhyun/Chanyeol/Jongin/OC–coming soon), dan EXO’s Problem (all of EXO members–on going). Silahkan aja kalo kalian mau baca-baca^^

Oh ya, jangan lupa komentarnya ya. Aku akan seneng banget kalo kalian mau kasih pendapat tentang ff ini ❤

Thanks for reading. Readers saranghaja!

Regards,

ohyeollieop

308 responses to “How To Steal A Kiss – 9th. Strong Heart

  1. Aish pasti si cheonsa? Kesel dej sm dia! Aaah jadi sehun temen kecilnya Hyunjo. Widiih cinta lama bersemi kembali(?) Aku tunggu next chap nya thor! Hwaiting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s