(Unforgettable) Love Lessons

Love-Lessons

Title : (Unforgettable) Love Lessons!

Author : hyeri

Cast :

  • Luhan
  • Suho (Kim Joon Myun)
  • Cho Hyun Ji

Genre : Romance

Rating : PG-13

Length : Ficlet (2000+ words)

Disclaimer : Kesamaan nama tokoh atau apapun yang menyakut fanfic ini bukanlah suatu kesengajaan. Cast bias milik Tuhan, kecuali OC. Plot/alur/cerita hanya milikku seorang. Ini semua adalah rangkaian imajinasi yang ku tuangkan melalui kata per kata dalam tulisan.  DON’T BE PLAGIATOR!

P.S. Tulisan yang bercetak tebal dan miring bisa dibilang kilasan balik atau flashback. At least, minta ampun atas adanya typo yang menyebar di mana-mana dan cerita yang amburadul lol Happy reading y’all!

***

(Author’s Pov)

This melody…

Alunan tenang musik klasik terdengar dalam satu ruangan penuh milik seorang lelaki—dengan perawakan tampan tentunya—yang tengah mengesap pelan Hot Coffee Latte miliknya sambil terduduk santai di sofa empuk.

Lelaki itu bernama Lu Han, seorang pianis terkenal dengan keturunan China-Korea berusia sangat muda yaitu 24 tahun. Prestasinya sudah tidak bisa dipungkiri lagi, kehandalannya dalam hal musik terutama piano sudah diakui dunia. Telah banyak lagu-lagu romantis dan melankolis yang ia ciptakan.

Rumah besar nan mewah yang terletak di kawasan elit daerah Gangnam, Korea Selatan ini seperti surga bagi Luhan, namun siapa sangka ia juga bisa merasakan bosan. Hari-harinya akan terpenuhi dengan menulis ataupun mengaransemen suatu lagu. Terkadang, di saat ia merasa jenuh, lelaki ini akan menutup semua gorden jendela rumahnya dan hanya menyisakan cahaya lilin yang bernaung di atas piano besarnya. Gelap tidak gelap, terang tidak juga terang, itulah suasana yang ia sukai. Dari situlah, terbentuk sebuah lagu atau alunan klasik dengan susunan nada yang indah muncul dari gerakan-gerakan jemarinya di atas piano.

Seakan rindu dengan piano klasik miliknya, ia beranjak dari sofanya dan menuju ke arah benda mati yang sudah ia tinggalkan selama lima tahun lamanya. Tentu saja, ia baru saja pulang dari Amerika dua minggu yang lalu. Tidak kaget memang, jika ia merindukan piano ini.

Kini, ia duduk berhadapan dengan piano besar—berwarna warna putih mix dengan krem metalik yang menambah kesan modern namun juga klasik—dengan pelan namun pasti. Setelah terdiam kurang lebih 3 detik, akhirnya jemarinya bergerak dan mulai menari-nari pelan di atas piano hingga terdengarlah dentingan piano yang menyeruak seisi rumah. Alunan yang lembut dan indah di dengar seakan mengekspresikan perasaan seorang Luhan saat ini. Permainan piano yang cukup lama hingga ia memejamkan kedua matanya ini terdengar pilu dan menghanyutkan. Kepalanya bergerak seiring dengan irama piano yang ia ciptakan.

Kenapa iramanya terdengar sangat memilukan?

Seorang gadis manis dengan rambut panjang—yang sengaja ia urai bebas—masuk ke dalam rumah Luhan. Sementara Luhan masih asyik dengan pianonya, gadis itu dengan polosnya duduk di sofa favorite Luhan. Gadis yang jika dikira-kira berumur sekitar 2 tahun lebih muda dari Luhan itu, kini mencoba mendekati Luhan dan bersender di samping piano yang masih dimainkan Luhan sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya membentuk bulan sabit pertanda tengah tersenyum memperhatikan Luhan yang masih asyik dengan pianonya. Ia berdiri di hadapan Luhan yang sedari tadi masih belum menyadari keberadaan gadis manis ini.

Tiga nada terakhir yang Luhan berikan di atas pianonya menjadi berakhirnya permainan klasik yang Luhan berikan di siang itu. Ia tersenyum sebelum akhirnya terkaget dengan keberadaan seorang gadis manis di hadapannya yang tengah memberikan applause ke arah Luhan karena permainannya tadi.

“Kau sangat hebat! Daebak! Permainanmu itu tidak pernah berubah, Luhan-ya!” ucap gadis manis itu.

Terpahat jelas di wajah Luhan senyum tipisnya, kemudian ia berdiri meninggalkan tempat favorite-nyaitu—piano—ke arah dapur sekedar membasahi tenggorokannya yang kering sedari tadi. Hey, bukankah ia baru saja meminum Hot Coffee Latte? Come on, apakah hanya gara-gara beberapa menit ia bermain piano dia udah merasakan dehidrasi? Apa karena kedatangan gadis ini?

Sambil menuangkan air putih dingin ke dalam gelasnya, ia berucap, “Kau sedang apa ke sini Hyun Ji-ssi?”

Gadis itu, Cho Hyun Ji, kini sigap berdiri dari rutinitasnya menghirupi wangi bunga mawar yang Luhan sengaja taruh di samping piano. Ia dengan cepat berlari-lari kecil ke arah dapur sambil menyipitkan matanya―menghadap Luhan.

“Apa tadi kau bilang? Hyun Ji-ssi? Aish, anak ini. Kau memanggilku dengan panggilan -ssi? Aku dan kau telah kenal satu sama lain sejak kecil! Hebat sekali kau memanggilku dengan sapaan tidak saling mengenal.” jelas Hyun Ji panjang lebar. Luhan hanya tertawa kecil melihat tingkah laku sahabatnya yang satu ini. Ya… benar, hanya seorang sahabat.

“Hah lucu sekali, kau bahkan tidak memanggilku Oppa, kan? Hey, aku juga lebih tua darimu 2 tahun. Salahkah aku?” jawab Luhan santai. Mendengar itu, Hyun Ji berdecak kecil sambil mengeluarkan sedikit aegyo-nya sambil melihat-lihat ke arah pandangan lain sudut rumah Luhan sambil mengusap pelan kedua bahunya.

Hening, tidak ada suara yang keluar dari mereka setelahnya. Luhan hanya menatap lurus ke depan enggan untuk bertemu mata dengan Hyun Ji. Mereka hanya sibuk dengan kesibukannya masing-masing, Luhan yang sedari tadi hanya minum dan Hyun Ji yang mengusap kedua bahunya dikarenakan hawa dingin yang memang saat ini—di Korea salju tengah turun ditambah lagi dengan pendingin ruangan Luhan.

“Tadi-“

“Aku-“

Luhan dan Hyun Ji seakan mendapatkan takdir waktu yang sama untuk berbicara. Mereka tertawa karena hal ini.

“Kau saja yang duluan,” sergah Luhan.

“Baiklah,” Hyun Ji mengambil napas lalu menghembuskannya pelan dan melanjutkan omongannya, “Tadi kenapa kau bermain piano dengan nada yang, hm … cukup me-mi-lu-kan?”

Luhan terdiam sesaat mencari-cari jawaban yang pas untuk pertanyaan Hyun Ji, “Aku … aku sedang sedih akhir-akhir ini. Kau tahu kan, setiap kali aku menghabiskan waktu di depan piano hanya untuk mengekspresikan suasana yang kualami. Dan kini suasana yang kurasakan adalah sedih. Jadi, jangan heran jika permainan pianoku tadi terdengar memilukan.” jawab Luhan dengan wajah yang hampir tanpa ekspresi.

Hyun Ji mengangguk kecil seraya mengambil gelas dari meja Luhan lalu menuangkan minuman jus dingin—yang berasal dari kulkas—ke dalam gelasnya. Terjadi keheningan lagi sesaat, sungguh apa yang sedang mereka pikirkan saat ini sebenarnya?

***

(Luhan’s Pov)

“Sampai Jumpa Luhan-ya~”

Klek

Ku tutup pintu ini dengan berat. Napasku terengah-engah karena sedari tadi, diriku tidak bisa mengontrol detak jantung ini.

Selepas kepergian Hyun Ji―sahabatku, kembalilah aku merasa sendiri dalam kesepian. Satu kilasan lagu yang kuciptakan secara langsung sebelum ia datang sesungguhnya mengungkapkan tentang kesedihanku terhadap Hyun Ji. Cerita yang panjang hingga berakhir dengan kepedihan terjadi padaku.

Ku buka sedikit tirai gorden hingga menyisakan celah kecil. Mataku terpaku melihat ia masuk ke dalam sebuah mobil mewah milik seseorang yang ia sangat cintai. Kim Joon Myun atau Suho, itulah namanya. Seorang lelaki yang kini menjadi kekasih Hyun Ji, sahabatku. Lelaki yang mengambil cinta pertamaku. Aku tidak marah. Aku tidak dendam terhadap Suho. Yang ku inginkan adalah kebahagian Hyun Ji. Melihatnya tersenyum dan selalu menceritakan hal-hal gembira bersama Suho kepadaku setiap harinya, aku bersedia, walau menyakitkan.

Andai, dia tahu bahwa di sini aku masih terus menunggu dan menunggunya. Tak peduli jika ia masih berstatus kekasih orang atau bukan, aku akan tetap mencintainya. Walau ini sedikit terdengar berlebihan dan menjijikkan, namun … inilah kenyataannya.

Dreett Dreett

“Pesan?” gumamku saat melihat satu pesan masuk ke ponselku.

Luhan-ya. Jangan bersedih lagi, ya. Asal kau tahu, lagumu tadi sangat tidak enak didengar! Jadi, mari bersenang-senang ^^

Dari Hyun Ji rupanya.

Pikiranku kini melayang, berangan-angan jika saja yang menjemput Hyun Ji tadi adalah aku, menjadi kekasih Hyun Ji adalah aku dan menciumnya lembut layaknya pasangan adalah aku. Seandainya… aku lebih dulu sehari dari lelaki itu.

(Luhan’s Pov End)

***

(Hyun Ji’s Pov)

Ku langkahkan kakiku ke arah mobil BMW hitam milik Suho. Suho adalah kekasihku, my namjachingu. Kami baru saja memutuskan berpacaran sekitar satu bulan yang lalu, ketika semuanya berjalan seperti biasa hingga menjadi luar biasa.

Aku dan Suho masuk di Universitas yang sama yaitu Korea National University of Arts, namun berbeda jurusan. Suho berada di jurusan Akting dan aku di Multimedia. Namun, Suho telah lebih dulu lulus. Tapi tetap saja, kami masih saling berhubungan dan bertemu hingga saat ini, begitu pula dengan Luhan.

Bagaimana tidak, aku, Luhan dan Suho adalah sahabat sejak SMA. Luhan dan Suho satu angkatan, sedangkan aku menjadi adik kelas mereka. Berbeda angkatan dan kelas tidak menjadi masalah bagi kami. Kami melalui hari-hari seperti biasa, sampai mereka telah lebih dahulu lulus, sedangkan aku masih harus berada di kelas 2.

Jika aku dan Suho melanjutkan studi ke Korea National University of Arts, lain halnya dengan Luhan. Ia memutuskan untuk ke luar negeri dan studi di Berklee College of Music, alasannya hanya satu, yaitu ingin memuaskan hasratnya bermain dan mandalami musik khususnya piano. Dan, yah… bisa dilihat sekarang apa hasilnya. Nama Luhan, menjadi nama kebanggaan Universitasnya karena ia telah berhasil menjadi Komposer, Penulis Lagu sekaligus seorang Pianis termuda di dunia. Aku yang notabene adalah sahabatnya, sanggat bangga. Dan kini ia telah kembali…

Kurang lebih 5 tahun Luhan meninggalkan Korea Selatan dan kami. Dan selama lima tahun itu pula Suho dan aku menjadi lebih dekat. Di SMA, aku sudah tahu bahwa sebenarnya Suho telah menyukaiku, hal ini aku ketahui dari Luhan. Dan kalimat spontan yang keluar dari mulutku pada waktu itu, hingga sekarang aku masih mengingatnya jelas saat mendengar penyataan dari Luhan tersebut.

“Kau bercanda?! Suho tidak mungkin menyukaiku. Aku yakin 100% jika Suho dan aku tidak akan pernah menjadi sepasang kekasih.”

Salah.

Kata-kata yang sempat terucap dariku kini menjadi sebuah kebalikan yang mengejutkan untukku. Seakan bila ada ibarat mengatakan, “’Tidak’ akan menjadi ‘Iya’” itulah yang kualami sekarang. Aku dan Suho menjadi sepasang kekasih sekarang. Dan yang tidak kusangka adalah… selama itukah Suho menunggu dan mencintaiku?

Hey, sayang?” Kalimat yang pertama kali muncul ketika aku masuk ke dalam mobilnya. Sudah tidak asing lagi. Aku hanya tersenyum sebagai balasannya.

Suho seperti biasa memasangkan sabuk pengaman ke tubuhku. Satu hal manly yang paling kusuka darinya. Aku mungkin sudah benar-benar jatuh ke dalam pelukannya, kata cinta untuk dirinya sudah tidak bisa kuhitung. Aku sungguh mencintainya lebih dari apapun.

(Hyun Ji’s Pov End)

***

(Author’s Pov)

Minggu kedua Luhan menetap di Korea sungguh menyebalkan. Sendirian di rumah, selalu pergi keluar yang entah tidak punya tujuan. Alangkah baiknya jika dirinya memiliki pasangan hidup? Hidupnya tidak akan sebosan ini. Tapi tak sedikit pun Luhan memikirkan tentang mencari pasangan, karena yang ada di kepalanya hanyalah kepercayaan bahwa Hyun Ji adalah satu-satunya wanita yang ia cintai. Tidak ada ruang untuk nama wanita lain.

Ditambah lagi dengan fakta bahwa, kepulangannya ke Korea hanya semakin membuat bertambahnya kesedihan lelaki melankonis ini. Mengapa? Keberadaan Hyun Ji lah menjadi alasannya. Bagaimana tidak, setiap kali dirinya berkunjung ke apartemen wanita itu—setidaknya hanya ini satu-satunya tujuan Luhan untuk pergi keluar rumah—selalu saja ada Suho di sana. Tidak bisakah sekali saja sahabat SMA-nya tidak muncul ketika dirinya tengah berdua dengan wanita yang ia cintai?

Kini kembali Luhan menuju ke arah piano classic miliknya. Sambil berdiri di samping pianonya, ia menekan tuts piano tersebut secara sembarangan. Namun yang terdengar hanyalah nada-nada sedih yang keluar. Hasratnya untuk memainkan alat musik ini akhirnya datang. Secara perlahan ia gulung ujung lengan sweater putihnya, tak luput juga dirinya mengambil nafas pelan dan menjernihkan pikirannya. Diambilnya lembaran kertas notasi musik kerjanya yang berisikan partitur-partitur ciptaannya. Ia lihat satu per satu lembaran kertas tersebut, hingga akhirnya matanya terpaku oleh satu kertas musiknya yang berjudul “My Lonely Life Without You.”

Setelah merapikan kembali lembaran demi lembaran kertas karyanya dan meletakkannya dalam susunan rapi, Luhan mulai memainkan lagu berjudul “My Lonely Life Without You” ini dengan perlahan. Jemarinya tampak santai dan lihai* memainkan setiap nada yang keluar dari piano kesayangannya. Keindahan permainannya menjadi sempurna ketika suara merdunya ikut mengiringi setiap bait nada yang ia mainkan.

“Is it all my fault?”

“Apakah ini semua kesalahanku?

“As you come closer, my heart hurts so much. Do you know it, girl?”

“Semakin kau mendekat, hatiku terasa sangat menyakitkan. Apakah kau mengetahuinya?”

“Right, it’s all my fault to lose you….”

“Benar, ini semua kesalahanku karena kehilanganmu….”

“Right, it’s all my fault to….”

……..

Lagu ciptaannya kali ini sangat mewakili bagaimana perasaannya sekarang. Benar, wanita di lagu itu adalah Cho Hyun Ji. Cinta pertamanya yang tidak akan pernah ia lupakan sampai detik ini. Sulit baginya untuk mencintai orang lain dan menjadikannya cinta pertama layaknya wanita bernama Hyun Ji ini.

There is no such thing like second love, third love, right? It’s only first love exists

Ding.

Satu nada terakhir menjadi pelengkap sebuah maha karya dari pianis ini. Segera Luhan mengambil kunci mobil dan syal putihnya, bergegas menuju apartemen Hyun Ji.

***

Luhan terdiam menatap Hot Coffee Latte kesukaannya. Jantungnya berebar kencang saat ini, pikirannya sesak dan penuh dengan setiap kata yang keluar dari mulut Hyun Ji saat itu. Sambil melonggarkan syal putihnya, ia menoleh ke luar jendela kedai kopi yang sedikit terlindung oleh salju tipis. Matanya terlihat hampa, walaupun kenyataannya yang dirinya lihat saat ini adalah betapa indahnya salju kecil turun di kota Seoul ditemani oleh terangnya cahaya lampu jalanan. Memang kedai kopi ini menjadi tujuan pertama Luhan jika dirinya merasa gundah dan tidak nyaman. Itulah apa yang lelaki itu rasakan detik ini.

            “Aku menyukaimu … ah, bukan, aku mencintaimu, Cho Hyun Ji.”

          Seketika itu gerakan tangan Hyun Ji yang tengah menuangkan teh ke gelas Luhan terhenti. Pikirannya kosong dan entah apa yang harus dia lakukan. Hyun Ji hanya bisa menunduk dan memikirkan dalam-dalam apa yang baru saja Luhan ungkapkan.

          “Lu … maaf jika ini menyinggungmu, tapi ku mohon, tinggalkan apartemenku.”

          Luhan menoleh, “Aku menyukaimu, aku menyayangimu, aku mencintaimu … sebagai wanita bukan sebagai sahabat.”

          “Lu …”

          “Ku mohon, pertimbangkan perasaanku. Aku lebih dulu memilikinya sebelum Suho namun aku menyesal karena Suho akhirnya yang memilikimu. Jebal.”

          “Lu … Aku menyukaimu, aku menyayangimu, aku mencintaimu … sebagai sahabat bukan sebagai lelaki di mataku. Aku tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Lu … aku dan Suho, kau mengerti ‘kan? Aku mencintainya dan dia mencintaiku.”

          “So do I! I love you more than anything, and longer than you think. I’ve been waiting for you … can you see my feelings?”

          “You don’t get it, Lu. Aku tidak mencintaimu sebagai lelaki yang kelak akan menjadi pasanganku. You’re wrong, kau adalah sahabat terbaikku dan Suho. Tolong jangan rusak hubungan kami … aku memohon. Just let our friendship goes ‘till the end. Kau mau ‘kan?”

Hyun Ji menolaknya. Jelas sekali. Mungkin sudah sangar terlambat bagi Luhan untuk mengungkapkan perasaannya. Ia sangat menyesal. Cinta pertamanya harus pupus. Hatinya terluka dan membuat hari ini menjadi tidak terlupakan dalam hidupnya.

1 jam berlalu. Dirinya hanya terdiam di bangkunya tanpa sedikit pun Luhan menyentuh Hot Coffee Latte miliknya. Akhirnya ia pulang dengan membawa kehampaan dalam dirinya di malam hari yang dingin ini.

Pelajaran cinta yang pertama: Kejarlah cinta pertamamu selagi bisa. Karena kau tidak akan pernah tahu perasaannya terhadapmu.

Pelajaran cinta yang kedua: Diam tanpa tindakan bukanlah pilihan. Pilihanmu hanyalah maju atau berhenti dan lupakan semuanya.

Pelajaran cinta yang ketiga: Cinta pertama tidak akan selalu menjadi kekasih pertamamu. Tapi cinta pertamamu mungkin akan bisa menjadi ‘your last love’.

The End

Cuap-Cuap Author: Mungkin kalian lupa dengan saya hoho. Udah ngaku aja, saya gak bakal neror kalian satu-satu kok /kasih senyum manis/ Sebelumnya minta maaf atas ketidakjelasan fanfic ini /? Semuanya hanya untuk menyalurkan situasi desakan yang harus dijalani (oke, ini apa) Terima kasih atas kerjasamanya untuk membaca fanfic amburadul ini LOL Dan maaf jika ada kesalahan dalam EYD dan Engrish saya doh.

Silahkan RCL ^o^)/ Saya menerima kritik dan saran apapun~

26 responses to “(Unforgettable) Love Lessons

  1. Feelingnya Luhan ngena banget thor …
    Jadi nyesek sendirii….
    Yg jelas, ffnya daebak bgt T_T ….

    Keep writing ya thor 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s