[Ficlet] You’re an Idiot

youre-an-idiot

Tittle : You’re an Idiot

Author : alifially

Cast(s) : Lee Jong Suk | Ai (OC) | Kim Woobin

Genre : Romance, Fluff

Rating : PG-15

Poster by : L.JOO

Disclaimer : I own nothing except the storyline

Also posted in other blog(s)

She doesn’t say ‘I love you’ like a normal person. Instead, she’ll laugh, shake her head, give you a little smile, and say

‘you’re an idiot.’

If she tells you that you’re an idiot, you’re a lucky man

Lee Jong Suk POV

Taman berbunga yang berwarna-warni kala musim semi, cerah kala musim panas, berwarna merah muram kala musim gugur, kini menyisakan warna putih akibat guyuran salju pertama, kemarin sore. Udara bersuhu hampir mendekati 0oC menyergap dari segala sudut. Kursi taman yang panjang di hadapanku masih kosong. Padahal beberapa bulan yang lalu saat daun maple berlomba-lomba gugur mencapai rumput di tanah, kursi itu setiap hari ditempati oleh sepasang kekasih yang tampaknya bahagia. Namun hubungan mereka berakhir begitu saja tanpa peringatan. Laki-laki itu meninggalkan gadisnya dengan penuh kasih sayang dan menyisakan kenangan indah padanya sebagai cinta pertama.

Aku merapatkan mantelku dan akan melanjutkan berpetualang dalam alur yang diciptakan Haruki Murakami dalam setiap karya sastranya, ketika kudengar suara langkah kaki bersepatu di atas salju yang berserakan. Aku mendongak. Seorang gadis tanpa topi wol dan sarung tangan berjalan gontai ke arah kursi panjang di hadapanku. Beberapa butir salju yang telah turun dari langit menghiasi rambut coklat gelapnya. Gadis itu memakai masker berwarna merah muda. Hanya mata ber-iris darkgray yang ia perlihatkan dari seluruh wajahnya.

Tunggu, warna mata itu. Bukankah warna mata itu adalah milik gadis yang menempati kursi panjang di hadapanku beberapa bulan yang lalu? Dia kembali lagi di udara sedingin ini?

Ia menghempaskan diri di atas kursinya dan menatap lurus tepat pada lensa mataku. Aku tak tahu apa yang terjadi pada bibirnya di balik masker cerah itu. Namun matanya mengatakan ia sedang tersenyum tipis padaku. Ia menggerakkan jarinya di udara. Seperti Tom Marvolo Riddle saat memperkenalkan dirinya pada Harry Potter di kamar rahasia. Ia menulis namanya di udara. Ai. Cinta dalam bahasa Jepang.

Tepat saat aku akan mengangkat tanganku untuk melakukan hal yang sama dengannya, seorang pemuda jangkung datang dan duduk di sampingnya. Untuk sesaat ia menoleh pada pemuda itu. Tampaknya ia tak mengenal pemuda itu karena mereka tak saling bertegur sapa. Namun ternyata Ai tidak menolehkan kepalanya lagi untuk memberiku kesempatan memperkenalkan diri. Ia terpaku dengan pemuda di sebelahnya yang kini balas menatapnya, “Kim Woobin.” Oh, apakah semua orang yang datang ke taman ini selalu menyebutkan nama mereka tanpa ada niat untuk berkenalan? Aku memutar bola mataku dan kembali pada kegiatanku yang sempat tertunda.

***

Musim dingin sudah berlalu. Jika musim semi datang beserta cherry blossom dengan warna merah mudanya yang cerah, maka aku datang kembali ke taman berbunga beserta karya Haruki Murakami yang lain. Gadis bermasker merah muda itu masih duduk manis di kursi panjang di hadapanku. Siapa namanya? Oh, Ai. Ia sendirian di sana.

Sudah kesekian kalinya semenjak musim dingin kemarin kami bertemu. Namun kami tak pernah bertegur sapa. Bahkan aku pun tak pernah punya kesempatan untuk memperkenalkan diriku padanya. Namun secara perlahan aku mengenal dirinya. Dirinya yang susah ditebak dan selalu berubah mood kapan pun ia mau. Ia pun sudah berteman akrab dengan pemuda jangkung yang mengetahui namanya lebih terlambat dari diriku.

Aku terduduk dan meletakkan buku Haruki Murakami di sampingku. Aku melipat dada memandangnyanya. Tiba-tiba saja, memandang gadis bermasker merah muda itu lebih menyenangkan ketimbang memutar otakku dalam alur cerita. Ngomong-ngomong, mengapa gadis itu tak melepas maskernya? Bukankah ia gadis manis yang tak perlu menyembunyikan wajahnya? Dulu aku suka melihat caranya tersenyum pada kekasihnya. Senyum yang lebar bersama dengan eye smile yang memancarkan kebahagiaan.

Lama aku memandanginya, tiba-tiba sosok jangkung kembali menghampirinya. Bukan. Sosok jangkung itu bukan Kim Woobin yang selalu bersamanya akhir-akhir ini. Sosok itu adalah kakak kelasku di universitas. Park Haejin dengan wajah creepy-nya membuat hampir semua wanita yang melihat tergila-gila padanya, “Dimana Woobin?” aku menengok pada Ai yang bertanya tanpa basa-basi pada Haejin. Oh, jadi Woobin adalah teman dari laki-laki aneh itu? Tetapi mengapa aku tak pernah melihatnya bersama Woobin?

Aku tak mendengarkan apa yang selanjutnya mereka bicarakan. Hanya saja Haejin memaksa gadis bermasker itu untuk membuka maskernya. Aku tak tahu apa yang gadis itu pikirkan. Namun ia menuruti apa kata Haejin dan membuka maskernya. Aku melihat wajah sempurnanya kembali. Sedetik tanpa sadar aku terpesona dengan wajah yang sudah lama tak aku lihat itu. Wajah yang tak menampakkan perasaan apa yang tengah ada di baliknya. Aku tergugah kemudian dari pesonanya saat kulihat Haejin mengecup pipi gadis polos itu. Gadis itu terkejut dan beranjak dari kursinya meninggalkan Haejin yang kecewa dan memandangku kosong.

***

Sepanjang musim semi yang berwarna dan musim panas yang cerah, gadis itu masih setia duduk di sana. Sendirian mengisi waktu luangnya tanpa melakukan apapun. Hanya duduk terdiam sembari mendengarkan musik dari iPod-nya. Ia sudah tak mengenakan masker andalannya. Tetapi ia tidak seperti dulu. Yang selalu tersenyum walau wajahnya terlindung di balik masker. Aku lebih menyukainya memakai masker dan selalu tersenyum ketimbang melihatnya dengan wajah manis tanpa sedikit pun senyuman terlukis di bibirnya. Kemana senyuman tipis itu lenyap? Ia hampir menghabiskan dua periode musim dengan lukisan datar di wajahnya. Ingin rasanya aku menyapa. Tetapi kesempatan itu lagi-lagi hilang ketika orang lain menyapanya terlebih dahulu. Pemuda jangkung yang entah hilang kemana selama ini. Kim Woobin.

“Kau tak mengenalku?” Ai bergumam pada dirinya sendiri namun masih dapat ditangkap oleh pendengaranku apa lagi pendengaran Woobin.

“Kau..”

“Ai.”

“Oh.. kau gadis bermasker itu.”

Canggung. Ai membuka mulutnya tak percaya. Matanya berkaca-kaca dan ia menundukkan kepalanya. Ia merindukan Woobin. Namun tak begitu dengan pemuda itu. Ai beranjak dan tak pernah kembali lagi ke kursi panjang yang sudah terkontaminasi dengan harumnya identitas Ai.

***

Aku kembali datang kesini. Entah dorongan apa yang selalu membawaku kesini untuk merasakan kesepian. Ai tidak pernah datang lagi kesini semenjak itu. Meninggalkan aku sendirian disini yang menginginkan menyebut namaku barang sekali padanya.

Sebutir salju jatuh di ujung jariku dan melumer berhadapan dengan hangatnya suhu tubuhku. Salju pertama di musim dingin tahun ini mulai menghiasi bumi. Aku menghembuskan napas yang kemudian mengepul bebas di hadapanku menyerupai asap rokok.

Aku merapatkan mantelku dan akan melanjutkan berpetualang dalam alur yang diciptakan Haruki Murakami dalam setiap karya sastranya, ketika… kurasakan seseorang duduk di sampingku. Aku menoleh. Seorang gadis tanpa topi wol dan sapu tangan, menatapku lembut dalam bola mata darkgrey-nya. Tak lupa masker merah muda yang aku yakin ada senyuman tipis di baliknya. Tangannya bergerak di udara. Menuliskan ‘Ai’ di hadapanku. Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Ini kesempatanku memperkenalkan diri padanya.

Namun lagi-lagi gerakanku terpotong. Terpotong dengan suara lembutnya, “You’re an idiot..” aku terdiam kaku. Suaranya lebih membuatku membeku daripada udara dingin sore ini.

You’re an idiot, Lee Jong Suk.” ia meneteskan air matanya. Aku masih terpaku. Tak tahu apa yang harus aku lakukan. “You’re an idiot. Sampai aku tak menyadari keberadaanmu yang selalu setia bersamaku disini.” Ia menundukkan kepalanya, membuat butiran-butiran salju yang menghiasi rambutnya berguguran. Bahunya berguncang. Ia menangis.

Aku mendongakkan dagunya. Mengajaknya untuk saling pandang. Matanya menangis bahagia. Aku tersenyum tipis kemudian kurapikan rambut halusnya dan membersihkan salju-salju di rambutnya. Kupakaikan topi wol biruku di atas kepalanya dan menggenggam tangannya erat, “Aku memilikimu yang selalu setia disini. Tetapi mengapa aku selalu mencari yang tidak ada?”

Aku memeluknya, “Cinta seperti sesuatu yang mengendap-endap di belakangmu. Suatu saat, tiba-tiba kau baru sadar, cinta menyergapmu tanpa peringatan.”

Tangis bahagianya kembali pecah.

-fin-

7 responses to “[Ficlet] You’re an Idiot

  1. Aaah, manis banget
    suka sama cara penyampaian nya. Walaupun sempat agak bingung di tengah2, waktu Park Haejin tau2 datang.
    Hehe 😀
    Keep writing thor!

  2. sukaaa x’3 /telat /barubaca
    bahasanya keren, mudah dimengerti/?
    tapi thor, aku penasaran deh. eum, lebih ke kepo/? sebenernya apa sih yg diomongin Ai sm Haejin juga sm Woobin?
    bikinin yang Ai POV dong thor, biar kekepoan aku terbayarkan/? kalau boleh sih;3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s