[3B] Secretly, Falling

 

 

SECRETLY, FALLING

By: hgks11

Park Aeri – Kim Jongin – Kim Joonmyun

PG-NC 17

[due to the scenes and languages]

Drama-Romance-Angst-University AU

 

***

WARNING! : PLEASE TO THE ONE WHO IS STILL UNDERAGE, PLEASE DON’T READ THIS FICT IF I MAY ADVICE YOU. THERE ARE SOME SCENES THAT’S NOT SUITABLE FOR PEOPLE UNDERAGE. THANKS.

[be wise before you decided to read this fict]

 

 [ 2 ]

 

 

AUTHOR’S POV

 

Jungsoo menatap gedung tinggi yang berdiri kokoh di hadapannya. Ia melirik sebuah kertas di tangannya, mengecek sekali lagi alamat yang tertera di sana.

 

Gangnam Apartment

Room 403

 

Begitulah yang tertulis di atas kertas putih itu. Jungsoo menyeringai puas, akhirnya ia menemukan alamat Aeri.

 

Well, it’s about time I find you again, sweety.

 

 

***

 

 

 

Chamkam!” Aeri segera mematikan kompor yang menyala di hadapannya, dan berlari ke pintu depan apartemennya begitu ia mendengar bel yang berbunyi. Buru-buru ia merapikan penampilannya sebentar, sebelum ia memeriksa intercom yang berada di dekat pintu apartemennya.

 

Nugu?” gumamnya heran, saat ia tidak melihat siapa pun di layar intercom miliknya. Mengendikkan kedua bahunya acuh, ia memasukkan password apartemennya dan membuka pintu.

 

Hello, Park Aeri

Aeri mematung melihat sosok laki-laki di hadapannya. Park Jungsoo menyeringai evil ke arah Aeri, membuat gadis di depannya itu gemetar. Tanpa izin, Jungsoo melangkahkan kakinya ke dalam apartemen Aeri, mengabaikan Aeri yang masih mematung di ujung pintu.

 

Not bad. You got a taste here” ujar Jungsoo, duduk di atas sofa empuk milik Aeri. Mendengar perkataan Jungsoo, Aeri seperti tersadar kembali. Otaknya kembali berfungsi, mencerna dengan baik bahwa Park Jungsoo sedang berada di dalam apartemennya—duduk di atas sofa di ruang tengahnya.

 

Oh.. My.. God..

 

Mengumpulkan semua keberaniannya, Aeri berjalan memasuki apartemennya, menghampiri Jungsoo.

“Apa yang kau lakukan di sini?” ujarnya pelan, namun cukup untuk Jungsoo mendengarnya. Laki-laki itu mengedikkan kedua bahunya acuh, “Menurutmu?” tanyanya.

 

“Kau tidak punya hak untuk berada di sini, Park Jungsoo

“Benarkah?” Jungsoo bangkit dari sofa, berjalan menghampiri Aeri yang menatap tajam ke arahnya.

“Bukankah seorang kakak sudah seharusnya menjenguk adiknya?” bisik Jungsoo di telinga Aeri, membuat gadis itu menjerit dalam hatinya. Gambar-gambar kejadian masa lalu memenuhi pikiran Aeri. Tubuhnya gemetar, ketakutan dan trauma terlihat jelas di kedua bola matanya yang jernih. Jungsoo menyeringai, melihat Aeri yang tampak ketakutan. Tangan laki-laki itu terangkat, jari-jarinya menulusuri pipi kiri Aeri.

 

“Kau tahu, Aeri-ya? Aku akan sangat senang jika kita bisa kembali seperti dulu. Di mana kau selalu menuruti apa kataku”

 

 

Andwae!

Aeri menggelengkan kepalanya lemah, menepis tangan Jungsoo yang masih berada di pipinya. Dengan keberanian yang tersisa, ia menatap tajam ke kedua bola mata Jungsoo.

Aniya. Tidak pernah ada kita, Jungsoo. And I was a fool back then, an innocent sister that tainted by her own brother!” jerit Aeri. Kedua tangannya terkepal erat, seperti hendak memukul Jungsoo. Namun Jungsoo tampak terkekeh mendengar ucapan Aeri, ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Sebuah seringai muncul di wajahnya, seiring ia menatap Aeri.

 

Well, tapi kau menikmatinya juga bukan? Ayolah, harus kau akui itu, Aeri.”

“Kau harus mengakui bahwa kau juga menginginkannya, Aeri. Kau tak bisa membohongi semua desahan yang kau keluarkan saat aku—“

 

PLAAAK!

Tangan Aeri mendarat dengan mulus di pipi Jungsoo, meninggalkan bekas memerah di pipi laki-laki itu. Jungsoo menatap Aeri geram, pipinya terasa sakit karena tamparan Aeri.

Yah! Kau, beraninya kau—“

 

Ting Tong.. Ting Tong..

Shit. Urusan kita belum selesai, Park Aeri.” Jungsoo menatap sinis ke arah Aeri, sebelum ia berjalan keluar pintu apartemen Aeri.

 

 

**

 

 

Ting Tong.. Ting Tong..

Suho menekan bel apartemen Aeri, berharap gadis itu berada di dalam.

Kenapa ia belum membukanya juga? Batin Suho heran. Ia hendak menekan bel itu sekali lagi, namun gerakannya terhenti begitu pintu berwarna coklat di hadapannya terbuka. Mata Suho terbelalak saat orang yang keluar bukanlah yang diharapkannya, melainkan seorang pria berperawakan tinggi dan sebuah bekas telapak tangan di pipi kirinya. Laki-laki itu menatap sinis ke arah Suho, sebelum ia secara sengaja menyenggol bahu Suho dan pergi begitu saja.

What’s his problem?” gumam Suho.

 

Suho melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen Aeri. Langkahnya terhenti begitu ia melihat Aeri terduduk lemas di atas lantai.

“Aeri?!” Tanpa pikir panjang, Suho menghampiri Aeri lalu menariknya ke dalam pelukannya.

“Lepaskan! L-le-pas!” tubuh Aeri yang gemetar meronta dalam dekapan Suho, berusaha melepaskan dirinya.

“Aeri, Aeri ini aku Suho. Tenanglah” bisik Suho pelan, memeluk Aeri lebih erat lagi.

 

“L-le-pas..” Aeri memukul dada Suho—meskipun gadis itu tidak memiliki banyak tenaga lagi. Perasaan takut, benci, jijik dan tak berharga bercampur aduk di dalam hati Aeri. Ia merasa begitu kotor dan menjijikkan. Kenapa semua ini harus terjadi padaku?! Jeritnya dalam hati.

 

Suho terus menerus membisikkan kata-kata ke telinga Aeri, berharap gadis di dalam dekapannya itu bisa tenang. Ia tidak mengerti, kenapa hatinya ikut merasa pilu melihat keadaan Aeri yang seperti ini?

 

It feels like my heart is bleeding. Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Aeri? Apa yang kau sembunyikan di balik facade-mu itu?

 

 

Setelah beberapa jam, tanpa sadar Suho sudah terlelap di atas Sofa. Aeri menatap laki-laki di hadapannya, wajahnya terlihat begitu damai seperti seorang malaikat. Ia tidak tahu, kenapa tiba-tiba Suho datang ke apartemennya. Tapi ia bersyukur, laki-laki itu datang. Jika tidak, ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya.

Tersenyum lemah, Aeri berjalan gontai ke kamar mandi. Ia terus menerus mengusap tubuhnya, kenangan buruk itu kembali menghantuinya lagi. Membuatnya merasa begitu kotor dan menjijikkan.

 

 

Enggh” Suho mengerang pelan, terbangun dari tidurnya. Laki-laki itu mengerjapkan matanya, berusaha mengusir rasa kantuk yang masih membayanginya. Ia menatap sekelilingnya, berusaha mengingat di mana dia berada.

 

Bukankah ini apartemen Aeri? Oh My Holy Fck!

“Aeri?!” Suho segera beranjak dari sofa dan mencari Aeri. Bagaimana bisa aku terlelap di atas sofa?!

 

“Aeri? Park Aeri?” Suho berlari kesana kemari, mencari sosok gadis pemilik apartemen itu. Ia membuka satu persatu pintu yang berada di apartemen itu, hingga gerakannya terhenti begitu ia membuka pintu kamar Aeri.

 

“Aeri..” Suho merasa seperti ada yang mencubit hatinya, saat ia mendengar suara tangis dari dalam kamar mandi Aeri. Sedikit ragu, ia melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar mandi itu. Suho mengetuk pelan pintu di hadapannya, “Aeri?” panggilnya. Namun tak ada jawaban dari dalam, yang terdengar hanyalah isakan tangis Aeri.

 

“Aeri.. Bolehkah aku masuk?”

 

Tetap tidak ada balasan dari Aeri. Suho menghela nafas gusar, perasaannya tidak enak. Dalam hatinya, ia ingin masuk dan memastikan keadaan Aeri. Tapi otaknya berkata bahwa itu merupakan hal lancang, karena Aeri belum memberikan permisi padanya. Akhirnya, setelah berdebat dengan dirinya sendiri, Suho memutuskan untuk memutar knop pintu di depannya.

 

“Aeri, aku masuk..” ujarnya pelan, sambil mendorong pintu kamar mandi.

“Aeri..” wajah Suho berubah pucat, melihat Aeri dengan tubuh gemetar dan rambut acak-acakan di bawah shower. Aeri menengadahkan kepalanya, melihat Suho yang sekarang berdiri di hadapannya. Wajah laki-laki itu terlihat tidak baik, alisnya saling bertautan. Aeri bisa melihat kerutan tidak suka di dahi Suho, kedua bola matanya memancarkan rasa khawatir dan iba.

 

“Aeri.. Kau akan sakit jika begini terus. Ayolah, keluar dari situ dan keringkan badanmu” ujar Suho lembut. Aeri tersenyum miring, air mata kembali membendung di kedua bola matanya. Ia menggelengkan kepalanya pelan, “Tidak Suho. Aku masih belum bersih. Aku masih kotor, menjijikkan. Aku belum bisa menghilangkan bekas tangan psikopat itu! Aku kotor, Suho. I’m tainted..

 

Aeri menggosok kembali badannya, rona kemerahan mulai tampak di sekujur tubuhnya karena Aeri terlalu keras menggosok tubuhnya. Bahkan ada beberapa di antaranya sudah lecet dan mengeluarkan darah.

 

Suho meraih handuk yang tergantung di dekat pintu, menghampiri Aeri yang masih terduduk di bawah shower. Ia mematikan shower yang mengguyur tubuh Aeri, lalu menyampirkan handuk yang diambilnya di tubuh Aeri. Aeri menatap nanar ke arah Suho yang kini mendekap tubuhnya. Suho mengangkat Aeri di kedua lengannya, membuat Aeri dapat merasakan kehangatan yang memancar dari tubuh Suho. Aeri menelusupkan kepalanya ke dada bidang milik Suho, mencari kehangatan dari laki-laki yang menggendongnya itu.

 

Pelan-pelan, Suho membaringkan Aeri di atas tempat tidurnya. Hening menyelimuti mereka semenjak Suho menyampirkan handuk di tubuh Aeri, namun keduanya enggan untuk memecah keheningan itu. Aeri menatap wajah Suho, mematri setiap inci wajah laki-laki itu dengan baik. Suho menatap balik ke arah Aeri, menatap dalam kedua bola mata coklat milik Aeri. Suho dapat melihat ketakutan, trauma dan rasa tidak percaya diri terpancar dari kedua bola mata Aeri, membuatnya meringis dalam hati. Tidak pernah ia melihat Aeri yang seperti ini. Aeri yang selama ini ia tahu, adalah Aeri yang percaya diri, mandiri, dan ia tidak pernah memedulikan semua hinaan yang terlontar untuknya. Aeri akan selalu mendongakkan kepalanya, menghadapi apapun di depannya dengan berani. Lalu kenapa sekarang gadis itu terlihat tak berdaya dan lemah seperti ini sekarang?

 

 

“Aku akan ambilkan bajumu. Kau harus segera mengganti pakaianmu itu, jika tidak kau bisa sakit” gumam Suho, sebelum ia beranjak dari tempat tidur Aeri. Namun gerakkannya terhenti begitu ia merasakan tarikan di lengan bajunya.

“T-tid-dak p-er-lu. S-ta-y…” pinta Aeri di sela-sela bibirnya yang gemetar menggigil.

“Tapi kau bisa sakit, Aeri. Lihat, kau sudah mulai menggi—“ ucapan Suho terhenti begitu Aeri menarik Suho dan mempertemukan bibir mereka.

 

Aeri tidak tahu apa yang merasuki dirinya, hingga ia menarik kerah baju Suho dan mempertemukan bibir mereka. Kedua bola mata Suho melebar, otak dan tubuhnya seakan-akan berhenti bekerja. Ia terpatung, kenyataan bahwa Aeri menciumnya belum diterima dengan baik oleh otaknya. Saat Aeri mengalungkan lengannya di leher Suho, barulah laki-laki itu sadar. Ia mulai membalas lumatan bibir Aeri, membuat adrenaline di dalam tubuh Aeri semakin terpacu.

 

Kini, Suho sudah berada di atas Aeri dengan kedua lengannya berada di sisi kanan dan kiri Aeri—menopang berat tubuhnya. Jemari-jemari Aeri menelusup ke tengkuk Suho, menarik kepala laki-laki itu agar menciumnya lebih dalam. Sebuah senyum jahil berada di wajah Suho begitu ia merasakan tangan Aeri yang terus menerus menariknya. He nibbles Aeri’s lower lip hard, make her moan slightly and her lips apart. He slides his tounge into Aeri’s mouth. Lidahnya bergerak menelusuri setiap inci rongga mulut Aeri, hingga lidahnya bertemu dengan lidah Aeri. Lidah mereka saling melilit satu sama lain, fight for a dominance. Namun Suho tidak akan semudah itu membiarkan Aeri mendominasinya. Lidah Suho melilit lidah Aeri dengan cara yang sangat sensual, membuat sebuah desahan lagi-lagi keluar dari mulut Aeri.

Tangan kanan Suho terangkat, jari-jarinya menelusuri figur tubuh Aeri. Dengan lembut, jari-jarinya menemukan jalannya ke ujung baju Aeri, menelusup masuk ke dalam balutan kain itu.

 

Engghhh” ciuman Suho dan Aeri terlepas beberapa saat, ketika Aeri mendesah saat jari-jari milik Suho touch her skin lightly. Kedua mata gadis itu terpejam, rambut-rambut kecil di sekujur tubuhnya berdiri hanya karena sentuhan Suho di perutnya. Suho menatap Aeri yang tampak menikmati sentuhannya, membuatnya lebih berani untuk menelusupkan jemarinya lebih jauh lagi.

 

“S-su-ho-hh hhh” nama Suho terlontar bersama dengan desah yang berusaha di tahan Aeri, begitu tangan Suho menyentuh tulang rusuknya.

“Aeri..” suara Suho seperti menggelitik telinga Aeri, membuat gadis itu semakin tegang. Ia membuka kedua kelopak matanya, hanya untuk mendapati Suho yang menatap ke arahnya.

 

“Kau yakin Aeri? Apakah kita harus berhenti sampai di sini?” Aeri bisa melihat keraguan yang terpancar di kedua bola mata Suho, membuat sebuah senyum merangkak ke wajah Aeri. Aeri menangkup wajah Suho dengan kedua tangannya, “Listen, Suho. Just do it, please. I need you”.

Suho mencium Aeri lembut, hanya sebuah ciuman innocent. Sebelum ia kembali menatap wajah Aeri dan berkata, “I won’t fuck you, Aeri. Because simply I can’t. I wanna make love with you. I don’t know why, but it just doesn’t feel right to fuck you. I’ll do you like a princess, slowly and sweet. Because deep down, I know you deserve it. I wanna know the you behind that facade of yours, Park Aeri” kesungguhan terlihat dengan jelas di kedua bola mata Suho, membuat Aeri tak kuasa menahan air mata yang keluar dari kelopak matanya. Belum pernah, belum pernah ada laki-laki yang memperlakukannya seperti Suho. Belum pernah ada, laki-laki yang bahkan berhenti hanya untuk menanyakan apakah ia boleh menyentuh Aeri atau tidak. Belum pernah ada, laki-laki seperti Suho.

 

Then make love to me, Suho. Drown me to your world, Kim Joonmyun

With my pleasure, princess

 

 

**

 

 

 

Suho menghela nafas pelan, melihat Aeri yang kini tertidur di hadapannya. Ia menopang kepalanya dengan tangan kirinya, kedua bola matanya masih menatap Aeri lekat-lekat. Kedua mata milik Aeri tampak sembab, meskipun waktu telah berlalu cukup lama.

 

Wajahmu terlihat lebih damai saat tertidur seperti ini. Apakah Kai selalu bisa melihat wajah cantikmu seperti ini setiap kali kalian telah berhubungan?

 

Jemari Suho menemukan jalannya sendiri ke wajah Aeri, mengusap lembut wajah gadis itu. Kasih dan sayang terpancar dengan jelas dari kedua bola mata Suho, tanpa laki-laki itu sendiri sadari. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, namun ia tidak menyadarinya. Ia terlalu terpesona dengan gadis di hadapannya, hingga ia tidak menyadari lagi hal-hal yang terjadi padanya.

 

Enggh” alis Aeri saling bertautan, bibirnya merengut dan dahinya tampak berkerut-kerut. Suho terkekeh pelan melihat Aeri, sebelum ia meletakkan jari telunjuknya di tengah-tengah kedua alis Aeri. Perlahan, kedua alis Aeri kembali seperti semula, dan kerutan-kerutan di dahinya pun juga menghilang. Suho menghela nafas lega, sebuah senyum muncul di wajahnya. Andai saja, andaikan aku bisa selalu berada di sampingmu, Park Aeri.

Jantung Suho berdetak cepat, perutnya dipenuhi dengan kupu-kupu yang beterbangan. Dan ia sadar,

 

 

He’s falling for Aeri..

 

 

 

And he falls hard.

 

 

***

 

 

 

Kai menggedor pintu apartemen Aeri tidak sabar, perasaan khawatir menyelimuti hatinya. Kai sudah berada di depan pintu apartemen Aeri semenjak 2 jam yang lalu, namun tidak ada respon apapun dari gadis itu. Biasanya, meskipun ia dan Aeri masih berada dalam hubungan yang tidak terlalu baik, gadis itu setidaknya akan membuka pintu apartemennya dan berteriak di depan wajah Kai. Berkata bahwa ia hanya menggangu saja, and told him to get lost. Namun sudah berkali-kali, Kai menekan bel apartemen Aeri, dan yang ia dapatkan hanyalah nothing.

 

Ia mencoba menelpon Sehun, yang mirisnya baru diangkat oleh Sehun setelah panggilan ke-20.

 

Mwo?” jawab Sehun di ujung sana. Kai menghela nafas pelan.

Dude, please. I already told you I’m sorry. So why don’t you just let it off?”

“……” Kai menghela nafas lagi, tidak mendapatkan respon dari Sehun.

 

Okay, aku menyerah. Terserah padamu Oh Sehun. Tapi aku menelponmu bukan hanya untuk meminta maaf. Aku ingin menanyakan di mana Aeri berada”

“Kenapa kau mencari Aeri?” Kai mengacak rambutnya frustasi, mendengar nada sinis dari Sehun.

“Aku sudah 2 jam berada di depan pintu apartemennya, dan ia tidak meresponku sama sekali! Kau tahu ini sudah larut malam bukan? Bagaimana kalau ia benar-benar tidak berada di dalam apartemennya?!”

 

Sehun terdiam mendengar ucapan Kai. Benarkah?, tanyanya dalam hati. Panik adalah satu kata yang tepat untuk menggambarkan Oh Sehun sekarang. Berbagai kemungkinan mulai bermunculan di otaknya, membuatnya benar-benar panik.

Bagaimana jika Jungsoo datang ke apartemennya? Bagaimana jika psikopat itu menculik Aeri? Bagaimana jika—

 

“Oh Sehun? Kau masih berada di sana bukan?” suara Kai membuyarkan pikiran Sehun.

“Aku tidak tahu, Kai. Lebih baik kau tetap berada di sana. Aku akan sampai 10 menit lagi” ujar Sehun sebelum ia memutuskan sambungan telepon itu, dan bergegas ke apartemen Aeri.

 

 

Kai masih berusaha menekan bel apartemen Aeri, berharap gadis itu hanya tertidur dan tiba-tiba membuka pintu apartemennya.

 

Sekali lagi. Aku akan menekannya sekali lagi.

Kai hendak menekan bel itu sekali lagi, namun gerakannya terhenti begitu telinganya mendengar suara pintu terbuka. Ia mendongakkan kepalanya, berharap ia melihat wajah gadis yang dirindukannya berada di hadapannya.

 

“Kai?” harapan Kai seketika pupus ketika ia melihat Suho berdiri di hadapannya. Ia dapat melihat rambut Suho yang tampak acak-acakan, dan mata kakaknya yang masih tampak mengantuk.

“Apa yang kau lakukan di apartemen Aeri, hyung?” mata Suho terbelalak mendengar pertanyaan Kai. Ia dapat melihat amarah dan cemburu memancar dari kedua bola mata adiknya.

 

“A-ah.. geunyang..

Just what?”

I just..

“Suho? Siapa itu?” Kai mematung begitu ia melihat Aeri yang keluar dari kamarnya, memakai kaos milik Suho yang tampak kebesaran di tubuh mungilnya. Ia merasa seperti ada yang menusuk jantungnya saat ia bisa melihat dengan jelas hickey yang berada di seluruh leher Aeri. Ia menatap kakaknya tak percaya, benaknya penuh akan amarah dan rasa cemburu.

 

BUKKK

“Suho!” Aeri memekik kaget begitu ia melihat Suho sudah tersungkur di lantai, memegangi pipinya yang terlihat membiru karena pukulan Kai.

“Kau tidak apa-apa?” Aeri berlari menghampiri Suho, rasa khawatir dan cemas mendatangi gadis itu. Kai menatap nanar kedua manusia di hadapannya. Tangannya masih terkepal erat.

 

So, after my best friend. Now you had sex with my brother too?!” Aeri menolehkan kepalanya mendengar suara Kai. Laki-laki itu menatap tajam ke arah Aeri, rahangnya mengatup keras dan kedua tangan bersilang di depan dada.

You’re a bitch, a whore, Park Aeri. I don’t know you’re this cheap

Aeri menggelengkan kepalanya, menatap tajam ke arah Kai.

Whatever, Kai! Terserah kau mau menganggapku apa, Kai. Aku tidak peduli, sama sekali tidak peduli! Tapi biar kusarankan kau, Kim Jongin. You may know my name and know me. But you won’t ever know the real me, like Sehun and Suho did!” jerit Aeri. Suho memegang pundak gadis itu, berusaha menenangkan Aeri yang tampak mulai gemetar.

 

Now, please go out from my apartment Kai

“Fine. Even if you don’t tell me to go out, I will go out on my own. I shouldn’t have come here at the first place

 

 

***

 

 

 

Kai memukul cermin di hadapannya kesal, serpihan-serpihan kaca dapat terlihat berserakan di atas lantai. Tangannya yang semula mulus, kini sudah berlumuran darah. Air mata mengalir deras dari kedua pelupuk matanya.

 

“Kai! Kai!”

Kai mengacuhkan suara Sehun yang memanggilnya dari luar kamar. Sehun menggedor pintu kamar Kai kuat, berusaha membuka pintu itu. Mencari akal, Sehun akhirnya memutuskan untuk mendobrak pintu kamar Kai.

 

Persetan jika pintu ini jebol. Aku tidak peduli. Aku harus berbicara pada bocah sialan itu.

Menarik nafas dalam-dalam, Sehun mulai menghitung aba-aba dalam hatinya.

 

1.. 2.. 3!

 

BRAAAKK

Pintu kamar Kai kini terbuka lebar, membuat Sehun dapat leluasa melihat kamar Kai. Mata laki-laki itu terbelalak lebar saat ia melihat sahabatnya terduduk lemas di atas kasur, kedua tangannya penuh dengan darah dan serpihan kaca berserakan di mana-mana.

 

“Kai apa yang kau lakukan?!”

Kai mendongakkan kepalanya, menoleh ke arah Sehun yang kini berdiri di dekatnya. Ia tersenyum miris, “Apa kau tahu Sehun-a? Dia, Park Aeri. Just fucked my brother!”

 

Sehun terdiam mendengar teriakan Kai. Ia tahu, ia tahu. Ia baru saja dari apartemen Aeri, dan mendapati Suho dengan pipi lebam di sofa ruang tengah Aeri. Awalnya, Sehun merasa heran dan lega bersamaan saat ia sampai di apartemen Aeri. Namun ketika ia menanyakan tentang Kai, raut wajah Suho berubah pucat. Laki-laki dengan pipi lebam itu menceritakan semua yang terjadi, mulai dari kedatangannya ke apartemen Aeri, sampai kepergian Kai.

 

“Dia punya alasan, Kai”

“Alasan apa Sehun? Aku tak menyangka aku bisa jatuh cinta pada perempuan seperti Aeri” lirih Kai pelan. Sehun menghela nafas pelan, ia dapat mengerti perasaan Kai sekarang. Siapa yang tidak akan kecewa jika perempuan yang dicintainya, berhubungan sex dengan saudaranya sendiri?

 

Fine. I’ll tell you this once, Kai. And I won’t tell you again.”

Sehun menarik nafas dalam-dalam, ia memantapkan hatinya. Aku harap, menceritakan hal ini dapat membuatmu lebih mengerti Aeri, Kai. Mungkin aku akan didamprat habis-habisan oleh Aeri karena ini. Tapi kau juga sahabatku, Kai. Aku akan melakukan apapun demi kalian berdua.

 

“Kau ingin tahu alasan kenapa Aeri seperti ini? She was rape by her own brother, Kai” Sehun memejamkan kedua matanya, helaan nafas lagi-lagi terselip keluar dari bibirnya.

Rape?” lirih Kai pelan. Ia menatap nanar ke arah Sehun, amarahnya naik ke ubun-ubun. Jadi, Aeri adalah korban pemerkosaan?

 

Sehun menganggukkan kepalanya pelan, “Dan karena itu, Aeri menjadi trauma. Pada kasus-kasus lain, biasanya korban pemerkosaan akan mengalami trauma atau stress, atau kemungkinan yang paling buruk  adalah menjadi sex addict. Tapi kasus Aeri berbeda, Kai. Ia mengalami semuanya. Luka yang ditorehkan psikopat itu terlalu dalam, sehingga ia menjadikan Aeri seorang sex seeker. That’s why, I won’t reject her when she needs me

 

Tubuh Kai mematung mendengar penjelasan Sehun. Kini semuanya jelas, kenapa Aeri masih berhubungan dengan laki-laki lain, meskipun ia dan Kai adalah partner in crime. Simply, because he’s not always there when she needs him.

 

 

Kau bodoh, Kim Jongin. Tidak seharusnya kau menghakimi Aeri layaknya seorang pelacur. Kau bodoh sekali, Kim Jongin.

 

 

 

TO BE CONTINUED… .

 

 

 

 

A.N: semoga.. semoga.. ini lebih bagus dari versi A… karena jujur aku kecewa sama versi A… itu nista banget…

Ga bisa bilang apa-apa…… Cuma bisa berharap ngga ngecewain kalian lagi :’)

98 responses to “[3B] Secretly, Falling

  1. aku belom baca chapter 3a nya karena belom dapet passwordnya 🙂 tapi serius aku penasaran apa yang terjadi sama aeri di chapter 3a. kakaknya aeri bener-bener menyeramkan, >< kenapa engga si sehun aja ya yang jadi kakaknya? haha apadeh.

  2. Author gmana biar bisa minta pass 3a secret falling….

    saya jrg bca ff bhasa indo…tp saya suka bgt sma bhasa yg authornim pakek… gak berlebihan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s