THE BROTHERS [Part Two – School Days]

Annyeong, saya hadir membawa fanfic titipan dari Naomiree, happy reading~! Jangan lupa komentarnya 🙂 Thanks.

bt

 | Previous: Prologue, ONE |

THE BROTHERS

TITLE : THE BROTHERS

LENGTH : CHAPTERED

GENRE : FAMILY, ROMANCE

RATING : PG – 13

AUTHOR : NAOMIREE @_nraesky

CAST

EXO COMPLETE MEMBER

LEE AHREUM

LEE YURIN

JESSICA JUNG

KIM TAEYEON

HAN DASOM

SEO JOO HYUN

CHOI SULLI

 

 

DISCLAIMER : LEE AHREUM, YANG SEJAK DULU HANYA HIDUP SEBATANG KARA MENDADAK MEMILIKI 12 SAUDARA LAKI-LAKI DALAM HIDUPNYA……

 

PART TWO

School Days”

 

 

Ahreum benar-benar merasa terkejut saat 12 lelaki—yang tidak lain dan tidak bukan adalah—para kakaknya itu menghampirinya secara serentak saat gadis itu tengah berdiri di depan aula sekolah dengan raut wajah penuh kebingungan, namun berikutnya Ahreum merasa bersyukur –para lelaki itu—datang menghampirinya pada saat yang tepat. Ya, Ahreum merasa beruntung karena para saudaranya itu datang untuk mengatasi kebingungan Ahreum dan menunjukkan tempat ruang guru kepada Ahreum bahkan mereka bersedia mengantar Ahreum ke ruangan itu meskipun Ahreum tidak memintanya. Well, kalau tidak ada mereka Ahreum pasti sudah kelimpungan mencari dimana keberadaan ruang guru yang sebenarnya di sekolah yang amat besar ini mengingat Ahreum merupakan gadis yang suka buta arah dan bingung sendiri menghadapi gedung besar macam sekolah ini. Untuk pertama kalinya, Ahreum merasa beruntung memiliki saudara. Jadi seperti inikah rasanya memiliki saudara? Tempat dimana kau bisa mencari tempat bersandar disaat kau kebingungan? Ahreum sekali lagi merasa bahwa mungkin masih belum bangun dari tidur panjangnya di kamar sempit panti asuhan, namun seketika gadis itu menyadari bahwa ini semua adalah kenyataan. Ahreum menarik nafasnya perlahan.’ Tuhan, kau selalu memberikan kemalangan kepadaku selama 18 tahun ini. Tapi sekarang kau memberikan ku hidup yang tidak pernah kubayangkan. Keluarga, saudara, dan juga bersekolah di tempat prestisius ini, aku tidak pernah membayangkannya’ desis Ahreum dalam hatinya.

“Jadi kau pindahan dari Jeonju high School” sebuah suara membuyarkan lamunan Ahreum, gadis itu mengangkat wajahnya, menatap seorang wanita cantik berambut pendek agak kecoklatan dengan blazer hitamnya yang sedang mengamati dengan seksama angket data kepindahan milik Ahreum. Ahreum jadi tersadar, bahwa sekarang ia sedang berada di ruang guru untuk mengurus berkas kepindahannya plus mengetahui di kelas mana ia akan di tempatkan.

“Ne~” sahut Ahreum pelan, menjawab pertanyaan wanita itu.

“Aku Kim Taeyeon. Aku adalah guru Sastra untuk kelas dua, dan aku adalah wali kelasmu untuk tahun ini” ujar wanita yang ternyata merupakan seorang guru itu dengan senyum ramahnya.

“Mohon bimbingannya” Ahreum menundukkan punggungnya dengan sopan ketika wanita bernama Kim Taeyeon itu menyodorkan kembali formulir dan kartu identitas milik Ahreum.

“kulihat kau diantar oleh banyak orang tadi. Kemana mereka pergi?’ tanya Taeyeon kembali. Ahreum jadi teringat saat para oppanya itu menuntun Ahreum serempak masuk ke ruang guru seperti mengantarkan seorang murid Sekolah dasar, Ahreum benar-benar merasa malu saat semua tatapan diruang guru mengarah padanya saat itu.

“Eumm… itu.. mereka sudah pergi. Bukankah jam pelajaran sudah berlangsung?” jawab Ahreum sekenanya, Taeyeon mengangguk tanda paham.

“Baiklah. Ikuti aku. Aku akan menunjukkan kelas barumu” lanjut Taeyeon yang disambut anggukan pelan oleh Ahreum.

Sekarang Ahreum sedang berjalan mengikuti langkah Taeyeon di depannya, sesekali tatapan gadis itu sedikit beralih saat ia melewati beberapa kelas yang sedang melangsungkan pelajaran. Terdengar beberapa murid yang sedang melatih kemampuan berbahasa inggris mereka dengan fasih dan intonasi yang mengagumkan saat ia melewati beberapa kelas. Ahreum mendecakkan bibirnya tanpa sadar mendengar itu semua. Ya, seharusnya kau tidak perlu kaget Lee Ahreum. Standar pendidikan di Dangwon memang sudah sepatutnya seperti ini , mengingat sekolah ini adalah sekolah nomer satu seantero Kota Seoul, tentu rasanya akan berbeda jika Ahreum membandingkannya dengan sekolah lamanya yang bukan apa-apa.

Taeyeon memberikan kode kepada Ahreum untuk masuk begitu mereka berhenti di kelas yang berada di bagian cukup pojok. Ahreum bisa melihat ada tanda nomer 2-1 di atas pintu kelas ruangan itu. Sejenak Ahreum merasakan perasaan ragu dan takut menghampiri benaknya, perasaan yang mungkin akan selalu dihadapi anak baru seperti dirinya. Namun detik berikutnya, Ahreum menarik nafas dari hidungnya dan menghembuskannya secara perlahan, kemudian gadis itu memantapkan hatinya untuk masuk kedalam ruangan yang akan menjdi kelasnya itu.

“Perhatian semua! Hari ini kita kedatangan murid baru. Ayo, perkenalkan dirimu kepada yang lain” ujar Taeyeon seongsaenim memecah keheningan kelas kala itu.

Mau tak mau, Ahreum harus mengangkat wajahnya yang dari tadi ia biarkan tertunduk sejak langkahnya memasuki kelas dan bisa Ahreum lihat beberapa orang di bawah mulai memperhatikannya, terutama para murid lelaki yang nampak exicted dengan kehadiran murid baru sementara beberapa murid perempuan memperlihatkan tatapan malas mereka ke arah Ahreum. Namun yang membuat Ahreum senang berikutnya, begitu ia menangkap sosok seorang Sulli sedang melambaikan tangannya di bangku paling belakang dengan semangat. Ya ampun, Ahreum merasa sangat bahagia mengetahui Sulli ternyata juga bersekolah disini dan satu kelas dengannya.

“Lee Ahreum imnida. Mohon bantuannya, semua” ucap Ahreum tanpa nada kecanggungan sedikit meskipun perasaannya agak sedikit gugup kali ini.

Kemudian Taeyeon saenim menyuruh Ahreum untuk duduk di bangku kosong membuat gadis itu segera melebarkan matanya mencari kursi yang kosong. Ahreum menemukannya, ada sebuah bangku kosong di deretan 5 baris paling kiri yang merupakan bangku di depan Sulli duduk. Tanpa perlu menunggu banyak waktu lagi, gadis itu segera duduk di satu-satunya bangku kosong di kelas itu.

“Nona muda, aku sangat senang nona bisa satu kelas denganku” ujar Sulli terlihat sumringah begitu Ahreum sudah duduk di bangku yang berada persis di depannya.

Ahreum membalikkan badannya dan membalas senyum Sulli dengan semangat “Nado Sulli~a. Aku juga benar-benar merasa senang” balas Ahreum dengan wajah cerah.

Namun detik berikutnya, Ahreum mendengar suara aneh di telinganya. Ya, aneh. Suara seperti seorang gadis sedang menyanyi dalam suara kecil namun ini terdengar sangat menakutkan dan mampu membuat bulu kuduk Ahreum bergidik.

“Sulli~a, apa kau mendengar sesuatu?” tanya Ahreum mengusap tengkuknya yang mulai merasa merinding.

“Ah… itu….” Ucapan Sulli terdengar mengambang, Ahreum akhirnya memilih mengikuti pandangan Sulli yang mengarah ke arah bangku disamping Ahreum dimana menampakkan seorang gadis dengan rambut panjangnya yang hitam sedang memainkan gunting berwarna pink ditengannya, gadis itu nampak memotong beberapa lembaran kertas menjadi potongan – potongan kecil yag pada akhirnya mengotori meja sambil menyanyikan sebuah lagu yang—entah apa—namanya dengan suara kecil dan pelan yang terdengar err… menyeramkan. Rupanya suara aneh yang tadi di dengar Ahreum berasal dari gadis di sampingnya ini, dan well akhirnya Ahreum tersadar bahwa gadis di sebelahnya ini adalah gadis yang sama dengan gadis yang dilihatnya berbicara sendiri dengan suara yang menyeramkan saat di dekat aula sekolah pagi tadi. Kebetulan sekali, gadis itu menjadi teman sebangkunya sekarang.

“Annyeong. Lee Ahreum—imnida.” Ahreum menyodorkan tangannya di dekat gadis itu hanya untuk berniat menyapa, namun Ahreum sama sekali tidak mendapatkan gubrisan apapun dari gadis itu sehingga membuat Ahreum terpaksa menarik tangannya kembali. Gadis itu, entah mengapa tidak memperdulikan Ahreum dan tetap bernyanyi aneh sambil menggunting kertasnya.

“Sudahlah nona~, dia memang seperti itu…” sahut Sulli berbisik kepada Ahreum. Ahreum hanya mengangguk pelan meskipun raut kekecewaan terlihat dengan jelas di wajah gadis itu.

“Hihihihihihi…. Aku mendapatkan teman sebangku? Aku? Aigoo~ ini sudah lama sekali” secara mengejutkan gadis itu membuka suara membuat Ahreum maupun Sulli terkejut satu sama lain.

“Hihihi…. Annyeong. .. Lee Yurin Imnida.. hihihi” secara mengejutkan gadis itu yang sekarang menyodorkan tangannya ke arah Ahreum membuat Ahreum membalas tangan gadis itu meskipun masih merasa aneh karena gadis itu memperkenalkan dirinya dengan suara tawanya yang—eum—Ahreum bersumpah bahwa itu sangat teramat terdengar menyeramkan.

“Nona, kau maklum saja ya. Gadis ini agak sedikit miring” Sulli kembali berbisik ditelinga Ahreum dengan suara pelan dan tatapan iba karena nona mudanya ini harus sebangku dengan seorang Lee Yurin.

“apa maksudnya?” tanya Ahreum tidak mengerti.

“kenapa kau memegang tanganku?” sebuah suara kembali terdengar, Ahreum kembali menatap teman sebangkunya itu yang sekarang sudah merubah raut wajahnya menjadi datar menatap tangannya yang berjabat tangan dengan tangan Ahreum.

Ahreum mendelikkan matanya bingung, bukankah tadi gadis ini yang duluan menjabat tangannya?

“Euh~ ini. Inilah sosok Lee Yurin yang sebenarnya.” Sulli menghela nafasnya pelan melihat adegan di depannya, sementara Ahreum masih diliputi rasa bingung yang luar biasa dengan perubahan ekspresi dan tingkah laku teman sebangkunya ini. Wajar jika Ahreum bingung pikir Sulli. Yurin memang gadis paling membingungkan di sekolah ini.

“Kalian terlambat lagi rupanya~” suara Taeyeon saenim memecah suasana membuat pandangan Ahreum teralihkan ke arah pintu kelas dimana menampakkan 6 orang lelaki langsung masuk saja memasuki ruang kelas seakan tidak memperdulikan keadaan mereka yang sudah jelas-jelas terlambat masuk di saat jam pelajaran sedang berlangsung.

Ahreum mengenali para lelaki itu. Tentu saja ia kenal, mereka adalah saudara Ahreum. Ahreum berusaha mengingat nama-nama mereka, 6 orang yang memasuki kelas dan langsung duduk di bangku tanpa rasa bersalah itu adalah D.O, Kai, Sehun, Lay, Chen dan Tao, benar kan?

“Ahreum?” Chen menyadari kehadiran Ahreum diantara banyaknya murid diruangan ini, membuat DO, Kai, Lay, sehun dan Tao ikut mengarahkan pandangan mereka ke arah pandangan Chen yang sudah melambaikan tangannya ke arah Ahreum yang ikut membalas lambaian tangan Chen.

“Jackpot! Ini yang namanya jackpot” sungut Sehun.

“Benar, diantara banyaknya kelas di sekolah ini, dia pada akhirnya satu kelas dengan kita” gumam Kai perlahan.

 

***

“Jadi nona muda–, singkatnya Tuan muda DO, Kai, Lay, Chen, Tao dan Sehun itu berada di kelas yang sama dengan kita. Kelas 2-1. Tuan muda Chanyeol berada di kelas 2-3. Sementara tuan muda yang lainnya seperti Suho, Kris, Baekhyun, Luhan dan Xiumin berada di kelas 3-1 karena mereka lebih senior” cerita Sulli panjang lebar ketika ia menemani Ahreum berkeliling sekolah saat jam istirahat.

“Aku mengerti. Tapi Sulli~a, kau tidak perlu memanggilku dengan sebutan nona muda bahkan di sekolah. Itu membuatku tidak enak”

“Aku kan pelayan mu nona. Itu sudah seharusnya”

“Tapi aku tidak menganggapmu seperti itu. Aku menganggapmu sebagai Choi Sulli, temanku. Jadi hentikan panggilan nona muda itu” ujar Ahreum . Sulli mengangguk dengan pelan, dalam hati Sulli benar-benar merasakan bahwa Ahreum adalah sosok gadis yang benar-benar berhati baik, Tuan dan Nyonya Choi tidak salah mengadopsi anak. Ahreum, gadis ini, benar-benar memiliki perasaan yang lembut dan baik hati. Jarang ada gadis seperti ini, pikir Sulli.

Ahreum dan Sulli terus mengobrol sambil berjalan tanpa sadar Ahreum tidak sengaja menabrak seorang gadis karena sibuk bercerita dengan Sulli. Ini kedua kalinya Ahreum menabrak orang di hari pertamanya ini, Ahreum hanya berharap gadis ini tidak sejudes dan sekasar gadis yang ditabraknya tadi pagi.

“Tidak apa-apa. Bukan kau yang salah, aku yang tidak melihat jalan” gadis yang ditabrak Ahreum itu beringsut pelan untuk bangkit membuat Ahreum bisa bernafas lega setidak nya gadis ini tidak marah-marah dan mendorong Ahreum seperti gadis blonde tadi pagi.

“Aku benar-benar minta maaf” Ahreum kembali menampakkan raut wajah bersalahnya,

“gwechana. Sepertinya kau anak baru. Aku tidak pernah melihatmu” jawab gadis itu dengan menampakkan senyumnya yang manis di wajah cantiknya.

“Begitulah” jawab Ahreum ceria.

“Seohyun imnida. Aku senior disini. Aku adalah ketua klub musik. Lain kali kau bisa berkunjung kalau kau mau”

“Jinjja??” Ahreum bergumam senang, gadis di depannya ini selain berwajah cantik rupanya ia memiliki hati yang baik, pikir Ahreum.

“Tentu. Senang bertemu denganmu. Sampai jumpa” gadis bernama Seohyun itu membungkukkan tubuhnya dengan elegan kemudian beranjak pergi meninggalkan Ahreum dan Sulli yang sudah menatapnya kagum.

“Dia benar-benar memiliki kecantikan yang mengagumkan. Dan dia juga sangat baik pada kita. Iya kan Sulli~a. Aku iri” ujar Ahreum melanjutkan langkahnya menatap Sulli dengan semangat.

“Ya, dia adalah Seohyun—dewi Dangwon yang terkenal. Dia cantik dan mempunyai hati yang baik, semua orang tahu itu” timpal Sulli.

“Benarkah? Image dewi itu memang sangat cocok dengan dirinya” ujar Ahreum.

Seohyun menghentikan langkahnya, tepat saat ia merasa Ahreum dan Sulli sudah melangkah cukup jauh kemudian memutar badannya perlahan menatap Ahreum yang sudah berjalan agak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Wajah damai yang dari tadi ditampakkan gadis itu menghilang seketika, berubah menjadi wajah tidak senang.

“Aku tidak suka gadis itu” gumamnya pelan.

 

***

Jessica dan Tiffany – 2 senior yang cukup berpengaruh itu melangkahkan kaki mereka sambil membawa nampan menuju bangku ekslusif yang memang sudah menjadi tempat mereka di kantin sekolah ini dengan gaya bak model papan atas membuat beberapa murid berdecak melihat mereka.

“Sica~ah, kau serius makan siangmu cuman ini?” Tiffany membulatkan matanya tidak percaya melihat menu makanan Jessica yang hanya terdiri dari sebuah selada , beberapa potong kol dan brokoli yang kelihatan sangat tidak mengugah selera.

“Kenapa? Aku sedang diet. Bagaimanapun, seorang Jessica harus tampil sempurna, aku harus mempertahankan berat badanku ini” ujar Jessica mulai meyantap hidangan di depannya dengan semangat yang dibuat-buat. Tiffany hanya menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya yang satu ini, well, apa yang perlu di khawatirkan Jessica?? Ia sudah sangat kurus dengan pinggang sekecil itu, namun Tiffany tidak heran secara Jessica ini adalah Queenka sekolah yang selalu menuntut ke—sempurnaan kapanpun, dan dimanapun.

“Hari minggu ini kita jadi kan Shopping bersama?” ucapan Jessica selanjutnya membuat Tiffany hampir saja tersedak dari sphagetti yang di sedang di santapnya. Uh~ Tiffany lupa kalau ia sudah duluan berjanji pada Jessica untuk shopping bersama minggu ini padahal ia mempunyai hal yang lebih penting.

“Mian Sica~a, aku tidak bisa. Aku ada janji kencan dengan Nickhun Oppa” jawab Tiffany tidak enak. Raut wajah Jessica pun berubah seketika.

“Jadi kau sudah pacaran dengan anak Thailand itu?”

“Jangan bilang begitu. Dia adalah pangeran—ku” Tiffany melanjutkan makannya tidak memperdulikan wajah Jessica yang nampaknya tidak senang dengan status sahabatnya yang sudah resmi punya pacar.

“Kupikir kau seharusnya mencari pacar juga Sica~a” ucapan Tiffany barusan itu sukses membuat Jessica tersedak dengan brokoli yang sedang di masukkan ke mulutnya.

“YA!! FANY!! APA YANG KAU KATAKAN!!”

Tiffany mengusap telinganya mendengar teriakan Jessica yang memekakkan telinga.

“Aduh Sica~,kau kan cantik, mengagumkan, kaya, apa yang kurang darimu?” Fany berusaha membenarkan cara bicaranya menghadapi Jessica—sahabatnya satu ini. Padahal Tiffany ingin sekali meneriaki gadis di depannya ini dengan teriakan ‘ Kau itu Judes, jutek, kasar, sombong, pencitraan, semua ada pada dirimu Jessica Jung!!’

Jessica hanya mendengus mendengar ucapan Tiffany. Jessica tahu dirinya cantik, berbakat, tubuhnya indah, semua orang tahu itu.

“Kenapa kau tidak berpacaran dengan salah satu dari EXO” Ucapan Tiffany selanjutnya membuat Jessica kembali tersedak untuk kedua kalinya.

“Tiffany Hwang!” teriak Jessica, sungguh kenapa Tiffany menjadi sangat ceplas-ceplos sih hari ini? Semua omongan yang keluar dari mulut gadis berambut bergelombang itu benar-benar terlalu mengejutkan untuk seorang Jessica.

“Apa ada yang salah? EXO itu adalah kumpulan cowok paling keren, beken, dan populer di sekolah kita, sangat cocok kan dengan dirimu. Kau tinggal pilih salah satu dari mereka, lagipula feelingku mengatakan bahwa cowok-cowok semacam EXO itu cuman lihat tampang saja. Kau pasti bisa mendapatkannya dengan mudah, secara kau adalah Seorang Jessica Jung. Daripada kau single terus, kan aku yang repot” Tiffany kembali berujar tanpa merasa bersalah sambil menyeruput orange juice—nya. Jessica benar-benar merasa terkelupas mendengar semua ocehan Tiffany yang diajukan padanya. Gadis blonde itu sudah akan mengamuk dan menjejali mulut Tiffany dengan selada kalau saja orang-orang itu tidak datang memasuki kantin dan mengalihkan perhatiannya.

Ya, ke-12 lelaki itu yang tak lain adalah EXO dengan teratur memasuki kantin dan duduk di bangku ekslusif yang letaknya tidak begitu jauh dari meja Jessica dan Tiffany. Jessica tidak melanjutkan acara makan sayuran bergizinya, gadis pirang itu menatap ke arah sana dalam diam, ke arah EXO. Tidak, lebih tepatnya ke arah lelaki itu, lelaki yang merupakan bagian dari EXO.

‘Itu tidak mudah . Benar-benar tidak mudah’ gumam Jessica dalam hatinya.

 

***

Ahreum mengedarkan pandangannya mencari sosok Sulli yang tiba-tiba menghilang sambil membawa 2 botol kopi espresso favoritnya. Tadi ia sempat meninggalkan Sulli sebentar demi mentraktir gadis itu kopi dingin namun begitu kembali Sulli sudah menghilang dari tempatnya berdiri tadi. Kemana perginya gadis bertubuh tinggi yang agak bongsor itu? Ahreum sudah akan melanjutkan langkahnya hendak mencari Sulli namun semuanya terhenti begitu ia merasakan sebuah tangan menarik rambutnya kasar, Ahreum berbalik dan melihat sosok Dasom—lah yang ternyata menarik rambutnya sekasar ini.

“Ya!! Han Dasom ! apa yang kau lakukan?” Ahreum menarik tangan Dasom agar melepaskan rambutnya namun Dasom malah memperparah dengan mendorong tubuh gadis itu, untung saja Ahreum masih bisa menjaga keseimbangannya hingga tidak terjatuh.

“YAA!! LEE AHREUM!! SEHARUSNYA AKU YANG BERTANYA!! APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?” Teriak Dasom dengan wajah kesetanan, kelihatan sangat tidak terima mendapati sosok Ahreum berada di sekolah ini.

“Kau tidak lihat? Aku resmi menjadi murid disini” balas Ahreum.

“Hah? Jangan bercanda. Mana mungkin anak buangan sepertimu bisa bersekolah di Dangwon? Memangnya Ibu Kepala mu itu mampu membiayai uang sekolahmu disini? Di Jeonju saja kau menunggak, apalagi disini!” Dasom tertawa meremehkan, seakan Ahreum baru saja melontarkan sebuah lelucon kepadanya.

“Berhenti memanggilku anak buangan. Aku sudah bukan Ahreum yang kau kenal dulu. Sekarang kau tidak bisa memanggilku anak buangan lagi, aku sudah mempunyai keluarga.” Ujar Ahreum dengan tenang meskipun rasanya ia benar-benar gerah untuk berhadapan dengan Dasom kali ini.

“Keluarga? Keluarga macam apa yang mau mengambil anak buangan sepertimu? Keluarga seperti apa??” Dasom kembali menjambak rambut Ahreum tanpa ampun karena itu memang sudah jadi kebiasaannya saat disekolah lamanya dulu, menindas Ahreum.

“Ya!! Han Dasom, sakit… appo…” Ahreum memukul-mukul tangan Dasom agar lepas dari rambutnya, sungguh cengkraman Dasom di rambutnya benar-benar bisa membuat rambut Ahreum rontok seketika, sementara Dasom benar-benar puas menjambak musuh abadinya satu ini namun itu semua tidak berlangsung lama begitu kehadiran seorang gadis berambut panjang itu datang dan dalam satu tarikan berhasil menarik tangan Dasom agar lepas dari rambut Ahreum dan mendorong tubuh Dasom ketembok begitu saja.

“Hihihi… anak baru…anak baru…ckckck… baru masuk beberapa hari saja kau sudah belagu! Hihihi ….kau pikir kau itu siapa?” gadis itu yang tak lain adalah Yurin dengan kasarnya mendorong kepala Dasom menuju tembok, untung saja Dasom bisa membelokkan kepalanya sedikit hingga tidak terbentur.

Dasom berusaha bangkit dan melawan gadis yang entah kapan datangnya itu namun selalu gagal karena gadis dengan rambut panjang ini sudah menindih kakinya.

“hihihi… sepertinya kau suka sekali menarik rambut orang ya? Sini, kutarik rambutmu” Dasom mengerang kesakitan begitu Yurin sudah menarik rambut tipis gadis itu, gadis ini benar-benar bringas saat menarik rambut Dasom ditambah dengan suara tawanya itu yang benar-benar menakutkan.

“Sudah, Yurin—ssi. Biarkan dia pergi.” Ahreum memegang tangan teman sebangkunya itu agar melepaskan Dasom dan benar saja begitu Yurin mengangkat kakinya dari kaki Dasom, Dasom dengan cepat mengambil langkah seribu untuk melarikan diri sambil menangis memegangi rambutnya.

“Terima kasih, Yurin—ssi. Terima kasih sudah menolongku” Ahreum mengucapkan banyak terima kasih sambil menatap gadis di depannya ini.

Tawa Yurin mereda, berganti dengan raut datar tenang yang sekarang di tunjukkan gadis itu.

“Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya benci ada orang yang bertingkah di sekolah ini” ujar Yurin datar sedatar jalanan aspal. Gadis itu sudah akan melanjutkan langkahnya pergi, namun Ahreum menahan tangan gadis itu.

“Tidak boleh seperti itu. Kau harusnya berkata ‘sama-sama’. Kita ini kan teman” Ahreum menyunggingkan senyumnya menatap gadis berkulit pucat didepannya.

Mendengar itu Yurin seperti merasa tersentak. Teman? Sudah lama ia tidak mendengar hal itu. Sudah sangat lama…

“Tapi… aku… tidak seperti gadis lainnya” ujar Yurin pelan, seakan mengingatkan Ahreum untuk sadar apakah ia benar-benar mau berteman dengan gadis aneh yang dianggap gila oleh orang-orang?

“Itu berarti kau unik. Pokoknya mulai detik ini kita berteman, oke?” Ahreum semakin memperat pegangan tangannya dengan senyum sumringah.

Yurin benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikir gadis ini. Ini pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang mengajaknya untuk menjadi teman.

 

***

“Seharusnya kita juga mengajak Ahreum untuk makan siang bersama” DO membuka suaranya begitu sepiring steak di depannya sudah habis dan hanya menyisakan sedikit saus encer dan kacang polong yang tidak begitu disukainya.

“Ya, seharusnya kalian mengajaknya. Kalian kan sekelas dengannya. Lagipula, Kalian harus ingat apa kata eomma, kita harus menjaganya” sahut Suho sambil mengarahkan pandangannya ke arah DO, Kai, Tao, Chen, Lay dan Suho bergantian.

“Tadi kita mau mengajaknya, tapi dia sudah keburu pergi bersama anak pelayan itu.” Sahut Tao, Suho hanya mengangguk.

“Aku selesai” suara Kris yang terdengar agar serak memecah suasana, lelaki bertubuh tinggi itu nampaknya sudah selesai menghabiskan makan siangnya dan bangkit dari bangku kantin lalu beranjak pergi. Yang lain tidak begitu heran, mereka sudah paham benar dengan sikap Kris sebagai salah satu kakak tertua mereka setelah Suho. Lelaki itu mempunyai sifat yang agak cuek, pendiam, dan kebanyakan menyendiri di banding berbaur dengan saudaranya yang lain.

“Lagi-lagi dia begitu” sungut Luhan seakan tahu persis kebiasaan seorang Kris.

“Hanya dia yang nampaknya tidak terlalu peduli dengan kehadiran adik baru kita” timpal Sehun, Baekhyun membenarkan.

‘Itu adalah hal yang wajar. Seorang Kris memang tidak pernah kelihatan tertarik akan sesuatu” tambah Chanyeol.

“Sudahlah, jadi bagaimana hari pertama Ahreum di kelas?” Xiumin berusaha mengalihkan topik pembicaraan dari pada sibuk menggosipi Kris, itu tidak akan ada habisnya.

“Dia belajar dengan baik dan teliti. Dia kelihatan tenang. Sepertinya kehadirannya menambah suasana baru di kelas. Bagaimanapun, dia kelihatannya akan baik-baik saja” jawab Lay sambil berusaha menghabiskan kudapannya.

“Kalian tahu, sejak kita pertama kali bertemu dengan Ahreum di pinggir jalan itu. Aku merasakan bahwa gadis itu berbeda. Terutama saat ia menangis hari itu, aku masih mengingatnya dengan saat baik. Dan kebetulan atau apa, dia tiba-tiba menjadi adik kita. Menjadi satu-satunya anak perempuan di rumah” ujar Chanyeol dengan gaya seriusnya yang terkesan dibuat-buat karena sukses membuat DO tertawa melihat ekspresinya.

“Tapi dia bahkan tidak mengingat kita. Dia tidak ingat bahwa kita sudah pernah bertemu dengannya sebelumnya” Kai membuka suaranya, setelah sekian lama diam dan hanya sibuk memainkan ponselnya.

Semuanya setuju dengan ucapan Kai. Untuk pertama kalinya ada gadis yang tidak mengingat wajah para EXO saat pertemuan pertama.

 

***

Pelajaran Sosiologi untuk kelas 2-1 kosong hari itu karena sang guru sedang sakit demam parah membuat kelas tersebut dibebaskan dari pelajaran sampai bel pulang selesai. Sulli meskipun ia sangat ingin menemani Ahreum namun gadis itu terpaksa harus pergi ke ruang klub menjahit karena siang itu akan diadakan seminar kursus menjahit dan menyulam gratis yang tentu tidak ingin Sulli lewatkan, sementara itu DO, Kai, Sehun, Lay, Chen dan Tao tidak menampakkan batang hidung mereka di kelas semenjak istirahat siang tadi membuat Ahreum mau tidak mau memilih berjalan keluar kelas bersama Yurin sekarang. Ahreum tidak mungkin hanya berdiam diri dikelas saja menunggu kedatangan Sulli jadi ia memilih mengikuti Yurin yang nampak tidak betah di dalam kelas, lagipula Yurin –gadis itu sudah menjadi temannya sekarang.

“Jadi aku mempunyai hal yang aneh terjadi pada diriku. Aku tidak tahu itu kapan terjadi, tapi saat aku benar-benar merasa benci akan sesuatu secara refleks aku akan tertawa sendiri dan melakukan hal yang … membuat orang-orang berpikir aku gadis gila” cerita Yurin saat mereka berhenti di sebuah bangku taman sambil memakan croisant yang tadi sempat mereka beli saat mengunjungi kantin.

Ahreum menimpali ucapan Yurin dengan mengangguk paham.

“Kau merasa akan’gila’ saat kau merasa benci akan sesuatu?” tanya Ahreum, sedikit mengerutkan keningnya bingung.

“Ya, kira-kira seperti itu. Saat aku melihat hal-hal yang aku benci, aku akan merasa panas dan tidak bisa mengontrol diriku sendiri. “ jawab Yurin. Ahreum jadi paham, jadi itu sebabnya Yurin bisa berubah ekspresinya dengan sangat cepat, yang dari tadinya tertawa menjadi berwajah datar kembali.

“Sesuatu seperti apa?” tanya Ahreum penasaran sambil melahap kue croisant itu memasuki mulut kecilnya. Yurin menoleh mendengarkan pertanyaan Ahreum barusan, kemudian mata gadis itu nampak seperti memikirkan sesuatu.

“Sesuatu yang kubenci. Sesuatu seperti aku melihat kecoa, orang menyebalkan, orang tidak tahu diri, atau seperti aku melihat… EXO” Jawab Yurin pelan, kata terakhir yang meluncur dari bibir gadis itu sukses membuat ahreum terkejut bahkan hampir tersedak dengan croisant yang sedang dimakannya. Ahreum jadi mengingat kembali saat ia pertama kali melihat Yurin di dekat aula, gadis itu sempat mengeluarkan kata seperti “mengapa ada orang-orang semacam EXO didunia ini? Membuatku muak saja”. Ya! Ahreum mengingat kalimat itu dengan sangat jelas.

“Jadi kau membenci… EXO?” Tanya Ahreum hati-hati, Yurin mengangguk dengan semangat.

“Kenapa?”

“Aku hanya tidak suka. Semenjak kedatangan EXO di sekolah ini, semuanya menjadi berubah. Mereka menyulap para anak perempuan menjadi seseorang yang tidak waras menyerukan nama mereka. Saat tahu EXO datang, mereka akan melompat keluar dari jendela demi agar bisa melihat wajah para lelaki itu dan mulai berteriak tidak jelas dan pada akhirnya membuat murid yang tidak terlalu peduli seperti aku kesusahan untuk masuk kelasku sendiri. EXO itu, mereka sok penguasa, sok segala-galanya, sok penting, sok terkenal! Huh~ aku benar-benar benci! Lagipula aku tidak begitu menyukai pria tampan” jawab Yurin dengan suara bersemangat, dari nadanya Ahreum bisa tahu kalau gadis ini sangat amat teramat tidak menyukai para kakaknya itu.

“Tapi …. Itu kan bukan salah mereka. Kau tidak harus benci pada mereka” sungut Ahreum pelan, mendengar itu Yurin menatap Ahreum lekat-lekat.

“Apa kau juga tertarik pada EXO seperti gadis-gadis tidak waras lainnya?” tanya Yurin sedikit mendelikkan pandangan matanya.

“Ti…tidak….. bukan seperti itu” kilah Ahreum sambil mengibaskan tangannya. Ia tidak tertarik pada EXO seperti gadis-gadis lainnya yang mengerubungi EXO tadi pagi, tapi situasi menjadi lain karena bukankah EXO itu adalah saudara Ahreum?

“Baguslah kalau begitu. Kuberitahu padamu, jangan pernah tertarik dengan namanya EXO. Mereka adalah orang-orang berbahaya” ujar Yurin santai.

“Berbahaya? Apa maksudmu?” Ahreum nampak tidak mengerti, ia tidak setuju dengan ucapan Yurin barusan karena baginya—para saudaranya itu merupakan orang yang baik. Buktinya mereka memperlakukan Ahreum—sebagai anggota keluarga baru—dengan sangat baik, setidaknya begitulah pikr Ahreum

“Baiklah, kalau kau mau tahu. Akan kutunjukkan sesuatu” Yurin akhirnya meraih tangan Ahreum untuk bangkit meninggalkan bangku taman itu, kemudian dua gadis ini berjalan menyusuri koridor gedung B dengan pelan-pelan.

‘Yurin—ah, kita mau kemana?” tanya Ahreum bingung begitu mereka menyusuri koridor yang agak sepi dan menampakkan beberapa kelas yang nampak kosong tanpa penghuni.

Yurin menaruh telunjuknya dibibir mengisyaratkan agar Ahreum tidak berisik, kemudian dengan pelannya gadis itu berbisik

“Ini adalah koridor kelas klub seni. Biasanya kalau jam seperti ini, kelas-kelas disini akan sepi karena beberapa anggotanya akan kembali melanjutkan pelajaran masing-masing” ujar Yurin membuat kening Ahreum masih mengerut tanda kebingungan.

“Dan aku akan menunjukkan padamu agar kau paham ucapanku barusan” lanjut Yurin masih dengan suara pelannya yang entah mengapa masih terdengar menyeramkan di telinga Ahreum saat ini.

Saat sampai di tembok dekat ruangan kelas inti Klub Seni Ahreum seperti mendengar sesuatu, sesuatu yang tidak mengenakkan untuk ukuran telinganya. Suara seperti seorang gadis yang sedang mendesah dan detik berikutnya juga terdengar suara lelaki dengan nada yang sama.

“Yurin~ah, suara apa itu?” Ahreum menahan lengan Yurin karena baginya ini pertama kalinya ia mendengar suara aneh semacam itu.

Yurin tidak menjawab, ia menyuruh Ahreum untuk mendekatkan dirinya ke jendela ruang inti klub Seni itu untuk melihat apa yang sedang terjadi di ruangan itu. Meskipun awalnya ragu, Ahreum mengikuti isyarat Yurin untuk mendekatkan dirinya ke jendela kelas dan menjinjitkan tubuh mungilnya untuk melihat kedalam karena jujur saja Ahreum penasaran.

Dan detik berikutnya, Ahreum membelalakan bola matanya dan menutup mulutnya dengan satu tangan begitu melihat apa yang sedang terjadi di ruangan klub inti seni yang sepi itu. Ahreum melihat seorang lelaki sedang memeluk tubuh seorang murid wanita dan sesekali menyentuh bokong murid wanita itu dan yang parahnya lagi kedua orang itu berciuman sangat panas di ruangan kelas sepi itu. Namun yang membuat Ahreum tercengang dan terkejut adalah karena ia mengenali siapa murid lelaki yang sedang mencium gadis itu dengan kasar dan penuh gairah, lelaki itu adalah… salah satu dari saudaranya… salah satu dari kakaknya… salah satu dari EXO…Kalau tidak salah lelaki berkulit agak sedikit gelap itu bernama…. Kai?
Ahreum memilih membalikkan tubuhnya tidak sanggup melihat lebih lanjut adegan seperti itu, gadis itu mengucek matanya karena ini adalah pertama kalinya ia melihat hal seperti itu.

Yurin tersenyum melihat ekspresi Ahreum kemudian membawa sahabatnya itu pergi dari tempat itu.

“Itu adalah Kai, salah satu anggota EXO. Dan dia adalah contoh yang ingin kuperlihatkan padamu Ahreum-ah agar kau sadar kalau EXO itu berbahaya. Karena kau anak baru yang sepertinya belum tahu apa-apa jadi kuberitahu, kau harus menghindari mereka” ujar Yurin dengan tenang begitu mereka berdua sudah keluar dari gedung B dan sekarang kembali berada di bangku taman tempat mereka berbicara tadi.

Sementara itu Ahreum masih menampakkan wajah terkejutnya, beberapa kali gadis itu menelan ludah jika mengingat apa yang sudah di lihatnya tadi. Sungguh, ia sangat shock melihat hal itu mengingat Ahreum sangat polos dan dibesarkan dilingkungan yang sangat religius di panti asuhan sejak kecil.

Ia ingin menceritakan kepada Yurin bahwa ia adalah adik angkat EXO dan para EXO itu adalah saudaranya namun lidah Ahreum terlalu kelu untuk membuka suaranya.

 

***

Bel tanda pulang sudah berbunyi sedari tadi, Yurin sudah pulang dan tidak bisa menemani Ahreum karena mereka tidak searah untuk pulang sementara Seminar kursus yang dihadiri Sulli masih belum selesai. Ahreum memutuskan untuk pulang sendiri dan menyusuri lapangan seorang diri. Setidaknya ia masih ingat jalan pulang, Ahreum sudah menghafalkan arah dengan baik saat ia diantar ayah angkatnya kesekolah tadi pagi, jadi sepertinya tidak akan ada masalah.

“Ahreum!” suara lelaki terdengar membuat Ahreum sontak menoleh dan mendapati para saudaranya yang tak lain adalah EXO berkumpul di parkiran seakan memang sudah menunggu Ahreum sejak tadi. Ahreum sebenarnya ragu untuk mendekat namun tidak enak karena ia sudah di panggil jadi gadis itu turut menghampiri para kakaknya di parkiran yang sangat luas itu.

“Ada apa?” tanya Ahreum hati-hati.

“Kau mau pulang? Ikut denganku saja” Chanyeol mengusap mobil sport kuningnya dengan bangga membuat Ahreum tersadar bahwa para EXO ternyata memiliki kendaraan pribadi masing-masing, ke 12 lelaki tampan itu sudah stand by di kendaraan mewah mereka masing-masing yang benar-benar sanggup membuat Ahreum menganga melihatnya.

“Apa yang kau katakan? Ahreum akan pulang denganku…” DO menyela ucapan Chanyeol di balik mobil birunya yang menyilaukan mata.

“Tidak, Ahreum akan pulang bersama Oppa Suho, iya kan Ahreum~a?” tanya Suho keluar dari mobil hitam mengkilapnya.

“Tidak, Ahreum harus pulang denganku!”

“Ahreum harus naik mobilku!”

“Apa-apaan, harus aku yang mengantarnya pulang”

“Sepertinya akan lebih baik kalau Ahreum pulang bersamaku”

“Seharusnya Ahreum naik mobilku saja”

Detik berikutnya terdengar suara Baekhyun, Xiumin, Chen, Lay, Tao, dan juga Sehun yang turut nimbrung berdebat akan mengantar Ahreum . Benar-benar sepert anak kecil, pikir Ahreum.

“Ahreum , kau pulang denganku saja” sebuah lengan secara tiba-tiba merangkul pundak Ahreum membuat gadis itu menoleh dan mendapati sosok Kai sudah berdiri disampingnya bahkan merangkul pundak Ahreum tanpa beban.

Ahreum terkejut, gadis itu secara tiba-tiba melompat membuat rangkulan Kai terlepas dan lelaki itu menatap Ahreum bingung. Ahreum tidak akan seterkejut ini kalau saja ia tidak melihat Kai melakukan hal itu di ruangan klub seni….. ah tidak… Ahreum tidak ingin mengingatnya.

“Maafkan aku. Aku bisa pulang naik bis” ujar Ahreum pelan memecah suasana yang tadinya berisik mendebatkan bersama siapakah Ahreum akan pulang.

“Tidak bisa begitu. Kami kan Oppa—mu. “ ujar Sehun.

“Adik kami tidak bisa dibiarkan pulang hanya dengan naik bis” tambah Lay.

“Dan lagipula, untuk apa kau punya kami kalau tidak ada yang mengantarmu pulang” ujar Suho.

Ahreum mengigit bibir bawahnya pelan. Ia benar-benar merasa terkunci mendengar semua ucapan itu.

“Anu….. itu…. Aku sedang pusing. Aku tidak bisa naik mobil untuk saat ini” Ahreum mengigit bibir bawahnya sendiri saat kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya, Ya! Alasan konyol macam apa itu Lee Ahreum! Pusing dan tidak bisa naik mobil? Ayolah~ tidak masuk akal.

“jadi begitu” sungut Kai seakan paham diikuti anggukan yang lainnya.

“Hei–, bukankah Kris membawa motor hari ini?” Suho mengalihkan pandangannya ke arah Kris yang berada di deretan paling belakang sedang duduk bersandar di motor sport berwarna silvernya. Hanya lelaki itu satu-satunya yang tidak membawa mobil hari ini.

Ah~jangan! Ahreum ingin berteriak dalam hatinya. Kris adalah lelaki dengan kepribadian yang dingin, Ahreum bisa merasakan hal itu sejak mereka bertemu di depan kamar Ahreum. Dan Ahreum merasakan bahwa Kris ini mungkin satu satunya orang yang tidak terlalu menyukai kehadiran Ahreum semenjak datang dirumah, dan entah mengapa Ahreum selalu merasa segan dan risih tiap melihat lelaki itu. Entah apa jadinya kalau mereka sampai pulang bersama, Ahreum benar-benar merasa tidak enak.

“Kris, kau mau kan mengantar Ahreum pulang? Kasihan, dia tidak bisa naik mobil” lanjut Suho membuat rasanya Ahreum ingin berubah menjadi partikel zat cair saat itu juga.

“Hm” sahut Kris singkat kemudian menjalankan mesin motornya dan berhenti tepat di depan Ahreum kemudian menyodorkan sebuah helm berwarna hitam kepada gadis itu.

“Naiklah” ujar Kris di balik kaca helm—nya. Ahreum menerima helm itu dengan hati-hati kemudian dengan pelan-pelan gadis itu naik ke atas motor sport silver Kris.

“Hati-hati, Ahreum—ah” Xiumin melambaikan tangannya kepada Ahreum saat Kris sudah akan mengemudikan motornya. Ahreum hanya membalas lambaian tangan Xiumin itu bagaikan gadis tanpa nyawa.

Dan detik berikutnya, motor sport yang dikendarai Kris dan Ahreum pun melesat melewati tempat parkir dan gerbang sekolah.

Ahreum bisa merasakan angin kota Seoul yang sangat kencang menerpa tubuhnya , Kris mengemudikan motornya dengan sangat cepat melintasi jalan membuat Ahreum harus berhati-hati menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak terlempar melewati jalan.

“Pegang tubuhku” tiba-tiba Kris membuka suaranya di balik kaca helm—nya membuat Ahreum sedikit terkejut karena tiba-tiba lelaki ini bersuara.

“A..apa?” tanya Ahreum hati-hati karena ia tetap ingin menjaga keseimbangannya dan lagipula ia tidak begitu mendengar ucapan Kris tadi karena suara angin mendominasi telinganya.

“Pegang tubuhku, kalau tidak kau akan jatuh” ulang Kris kali ini setengah berteriak supaya suaranya bisa di dengar oleh Ahreum.

Ahreum membulatkan matanya begitu ia sudah mendengar ucapan Kris kali ini dengan suara yang lebih jelas. A.. Apa? Ahreum menggelengkan kepalanya secara tidak sadar, ia tidak mungkin melakukan hal itu.

Namun tiba-tiba motor sport itu melalui jalan yang kurang baik membuat tubuh Ahreum secara tiba-tiba bergerak dan secara spontan memegang jas seragam Kris agar ia tidak terjatuh.

Motor yang dikendarai Kris semakin melaju dengan cepat, mau tak mau membuat Ahreum harus mengeratkan pegangangannya terhadap tubuh Kris kalau ingin sampai di rumah dengan selamat.

“Tuhan, ampuni aku” gumam Ahreum dalam hati sambil menutup matanya~

 

 

 

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~TO BE CONTINUED~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

 

 

Note’s : TBC—an dulu yaa para readers ku sekalian!! Haha, sekian untuk Part kali ini semoga kalian suka dengan ceritanya. Dan maaf banget kalau ceritanya agak-agak gak jelas, ampuni yaa~ halangan menulis part ini mungkin karena aku masih kekurangan energi di bulan puasa ini dan sejujurnya aku bukanlah EXO Fans jadi lumayan ribet buat nulisnya . Aku cuman suka lagu-lagu EXO tapi kalau disuruh bedain mana Luhan mana Sehun mana Chen mana Lay aku angkat tangan dehh~~

Dan oh ya~ aku mau kasih tau kalau FF aku sebelumnya yang judulnya ROMANCE RHAPSODY itu mungkin gak akan di lanjutin lagi TT^TT kayaknya kalian gak begitu tertarik cerita macam pembantu-majikan gitu jadinya aku mau fokus sama FF ini aja hahaha :v

Ya udah ya, selamat berpuasa ^^ mohon komentar, kritik dan sarannya untuk FF ini~ sampai jumpa di next part :3 oya berhubung kouta ku sedang menipis sepertinya kalian harus menunggu untuk part selanjutnya

Contact Me on :

Twitter : @_nraesky

Facebook : Naomi Reeyu

107 responses to “THE BROTHERS [Part Two – School Days]

  1. Pingback: THE BROTHERS [Part Four - Love Letter] | FFindo·

  2. Pingback: THE BROTHERS [Part Five - Dating] | FFindo·

  3. Pingback: THE BROTHERS [Part Six - Brother Complex] | FFindo·

  4. Pingback: THE BROTHERS [Part Seven – That Angel] | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s