[Chapter 4] DESIRABLE

DESIRABLE

Author: Ifaloyshee | Characters: Kim Jongin, Jo Sebyul (OC) | Genre: Angst, dark, Marriage life | DISC: The idea is mine, included the plot and a whole of this story. The Characters belong to their parents. Don’t reblog or copy without my permission! |Rating: Mature

chapter 1 | chapter 2 | Chapter 3

5TH Story

Backsound: Ellie Goulding – beating heart (for Jongin and Sebyul’s scene)

 

 

 

Pagi dihari yang lain dengan intensitas hujan yang sama mengguyur Seoul sejak tadi malam. Aku tidak tau beberapa kali sudah aku terbangun karena suara gemuruh yang tiba – tiba mengagetkanku dan membuatku menjerit tertahan. Junhong beberapa kali juga mengecekku didalam kamar. Namun sepertinya pagi ini hujan sudah tidak begitu lebat dan petir nya juga sudah sirna. Tapi tetap saja aku harus pergi ke perpustakaan—tidak ada pengecualian, hujan sekalipun.

Pukul empat pagi lewat tiga puluh lima menit. Sekilas aku melirik kearah jam dinding. Setengah jam yang lalu Junhong sudah berangkat sekolah karena dia ada camp untuk suatu organisasi selama tiga hari. Dan hal itu berarti aku akan sendirian di Apartemen selama dua hari kedepan.

Aku membetulkan posisi topi beanie ku kemudian membuka pintu.

“Sebyul.”

Jantungku hampir saja copot ketika mendapati Jongin berdiri dihadapanku, tepat ketika aku membuka pintu. Dan ia sungguh kacau—ia basah kuyup dan tampak lelah; aku bisa melihat lingkar hitam dibawah kelopak matanya. Aku masih terdiam menunggu pernyataannya—apa maksud dia berkunjung ke apartemenku dengan basah kuyup begitu dan di pagi dini seperti ini?!

“Aku minta maaf.” Ucapnya. Dan dengan jarak sedekat ini aku bisa mencium bau alcohol dari dalam mulutnya.

Oke, dia mabuk.

“Untuk?”

“Untuk tidak pergi ke Sekolah rakyat.”

Aku hanya mengangguk, memaklumi Jongin karena memang dari awal aku yakin pria sepertinya mana mau mengunjungi daerah pinggiran yang jauh dari kemewahan. Barangkali dia tidak mau kakinya kotor ketika memijak tanah, bukan aspal, atau dia tidak mau mobil milyaran dolar nya rusak karena jalan yang tidak rata.

“Bukan karena aku tidak mau.” Jongin mengatakan seolah dia bisa membaca pikiranku. Ia memejamkan matanya beberapa saat lalu membukanya lagi, “Aku ada urusan sewaktu itu, dan aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja.”

“Okay. No problem.”

“Aku benar – benar menyesal—“ Jongin terhuyung, reflek aku langsung menangkap tubuhnya. “Maafkan aku.”

“Ya! Jongin! Astaga!” Aku mendorong pelan tubuh Jongin lalu melingkarkan lengannya di leherku, membawa pria hangover satu ini kedalam apartemen. Dan agaknya cukup menyebalkan karena lantai apartemenku kini basah karenanya.

Tiba – tiba Jongin sudah memelukku, menyandarkan kepalanya diatas bahuku dan …. Aku tidak yakin dengan yang satu ini, dia menangis?

Dia tampak seperti angjing kecil yang hilang arah akan rumahnya.

Aku mendorong tubuhnya perlahan.

“Lebih baik kau mengeringkan tubuh mu terlebih dahulu.”

 

 

***

 

 

 

Selama kurang lebih satu jam aku membiarkan Jongin mandi dan berganti pakaian didalam kamar Junhong sedangkan aku membuat kopi didapur. Aku harap dia sudah pulih sepenuhnya dari hangovernya dan tidak melakukan sesuatu yang buruk. Maksudku… ketika dia mabuk, mungkin saja dia melakukan hal yang diluar kontrolnya kan?

Aku rasa aku cukup kuat untuk menendang perutnya jika memang itu diperlukan.

“Hei sepertinya aku merusak showermu, aku akan memanggil tukang nanti.” Jongin muncul dihadapanku dengan handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya, satu tangannya menunjuk pintu kamar Junhong lalu ia menurunkan kembali tangannya untuk merapikan ujung kaos putih polos milik Junhong yang agaknya kurang besar untuk Jongin.

Aku perlahan bangkit dari posisi tidurku, duduk diatas sofa dengan merapikan rambutku. Karena bosan menunggu Jongin sepertinya aku tertidur beberapa saat tadi. Ya, aku tertidur. Aku bermimpi bertemu ibu—well, ini sudah menjadi rutinitas bagiku.

“Tidak.. tidak apa – apa. Memang sudah rusak sejak dulu.”

“Benarkah? Aku kira itu salahku.. aku sempat kehilangan control karena masih mabuk.”

Aku tertawa kecil. “Apakah sekarang kau sudah sadar?”

“Ya.” Jongin nyengir lalu duduk disebelahku. “Aku sering hangover jadi sudah terbiasa. Aku bisa mengatasinya.”

Sepertinya Jongin memakai sabun pria terlalu banyak sehingga aromanya tercium begitu jelas, dan harum sabun milik Junhong ini kesukaanku—aku juga yang membelikan untuk Junhong jadi wajar. Dan ini sesungguhnya…cukup memabukkan.

“Aku belum melihat Junhong sejak pagi, apakah dia masih tertidur?”

Aku menyandarkan punggungku pada sofa, mencoba memfokuskan diri pada tayangan drama murahan yang sedang diputar ditelevisi untuk mengalihkan pikiranku dari harumnya aroma pria disebelahku ini. Well, sepertinya tidak ampuh.. mana remote nya? Aku harus mengganti dengan chanel lain yang sekiranya menarik perhatianku.

“Sebyul?”

Kukira terakhir kali aku meletakkan remote tidak jauh dari sofa, kenapa sekarang tidak ada?

Aku hampir tersentak ketika Jongin menyikut lenganku. Reflex aku menoleh kearahnya dengan mulut membisu. “Kau tidak apa – apa?” tanyanya. Aku hanya mengangguk lalu tersenyum canggung.

“Jadi dimana dia?”

“dia.. dia siapa?”

“Junhong.”

“Junhong..?”

Jongin mendecak kesal. “Kau tidak mendengar pertanyaanku tadi?”

Aku mengerutkan alis. “o-oh, Junhong sedang ada camping di sekolahnya.”

“Jadi dia tidak ada disini?” Jongin memutar tubuhnya menghadapku, “Jadi kau sendirian?”

“Umm.. ya.” Jawabku sekenanya. Jongin tidak merespon apapun setelahnya, ia menyandarkan punggungnya pada sisi sofa lalu memejamkan mata. Sepertinya akan baik – baik saja kalau aku meninggalkannya sebentar ke dapur. Aku ingat masih memiliki sedikit ramyun diatas panci.

Dengan begitu aku beranjak menuju dapur lalu memanaskan ramyun sebentar, mengambil mangkok lalu menuangkan ramyun diatasnya. Jongin masih memejamkan matanya ketika aku menghampirinya dengan semangkuk ramyun. Aku harap ia tidak tertidur.

“Jongin?” ucapku sambil menepuk pundaknya pelan. Ia kunjung mengerjapkan matanya lalu menoleh kearahku dengan tatapan bingung. Aku tersenyum miring, “Aku punya ramyun untukmu.” Ucapku mengedikkan kepalaku pada semangkuk ramyun hangat yang tersaji diatas meja. Jongin memandang ramyun itu kemudian menatapku kembali. “Untukku?”

Aku mengangguk. Jongin mengambil mangkuk ramyun tersebut lalu mulai memakannya. Ia terlihat menikmatinya walaupun ramyun tersebut mungkin masih panas, Jongin tetap memakannya dengan lahap saja. Dia pasti lapar sekali.

Jongin menoleh kearahku. “Kau tidak makan?” aku hanya menggeleng.

“Aku akan mengganti ramyun ini nanti.”

“makan saja dengan tenang. Tidak usah perhitungan begitu.”

Jongin menoleh kearahku lagi. “lalu? Kau tidak mau apa – apa dariku?”

Aku mengerutkan alis mendengar pertanyaannya.

“baiklah.” Jongin mengangguk lalu kembali pada makanannya.

“kalau memang kau menganggap kau berhutang padaku, kau cukup membayarnya dengan datang ke Sekolah Rakyat minggu depan. Mungkin ini cukup mengejutkan bagimu tapi… ya, kedatanganmu ditunggu disana.” Ucapku. Jongin hendak memasukkan ramyun kedalam mulutnya tetapi aksinya tersebut terhenti, “menungguku?” tanyanya tidak percaya. Aku sudah duga dia akan kaget.

Aku mengangguk. “aku mengatakan kalau akan ada seorang guru lagi yang datang dari seoul, seorang pria yang baik dan tampan. Lalu mereka bersemangat sekali. Dan.. aku juga mengatakan kalau kau akan membawa banyak snack kesana.” Ucapku sambil mengedikkan bahu. Aku juga tidak tahu kenapa aku mengucapkan hal itu pada anak – anak diSekolah Rakyat, mungkin sekedar ingin membuat mereka berjingkat senang.

Jongin tersenyum. “Kau membuat scenario sendiri, Miss.”

“ya.. ya.. aku tau.”

“Aku akan datang minggu depan.”

Aku menoleh kearah Jongin dengan takjub, “jinjja?!”

Jongin tidak menjawab, ia sibuk menghabiskan ramyunnya. “kau serius?!” seruku menepuk pundaknya secara spontan, membuat Jongin yang sedang meneguk kuah ramyun langsung tersedak. Ia hampir saja menyemburkan kuahnya kemana – mana. Jongin menoleh kearahku dengan death glare nya. Ia menghela nafas lalu meletakkan mangkuk ramyun kosong itu diatas meja. “Ya aku akan datang.”

Jongin melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 9 pagi kemudian menoleh kearahku. “Kau tidak bekerja?”

“Seharusnya aku bekerja, tapi seorang pria mabuk pagi – pagi buta mengetuk pintu rumahku dan pingsan. Bagaimana bisa aku meninggalkannya begitu saja?”

Jongin nyengir menyebalkan. Sialan. Aku menjambak ujung rambutnya, membuat Jongin berteriak kesakitan. “Yah! Apa yang kau lakukan!”

“Bisa tidak kau minta maaf padaku? Seumur – umur aku tidak pernah melewatkan jam kerjaku satu kali pun dan—“

“Maaf.” Ucap Jongin, ia tersenyum miring. Aku menghela nafas.

“tapi kau serius soal datang ke Sekolah Rakyat itu kan?”

“Ya.”

Aku tidak bisa menyembunyikan senyum yang merekah mengingat kalau Jongin akan datang ke Sekolah Rakyat minggu depan dan pasti anak – anak akan sangat senang nanti. “Oke sekarang kau lebih baik… pulang?”

“apakah kau baru saja mengusirku?”

Ekspresi Jongin terlihat mengerikan seolah ia begitu tersinggung. Membuatku takut saja. “Uhm—ya. Maksudku, aku akan pergi bekerja sebentar lagi dan di apartemen tidak ada siapa – siapa selain aku. Tidak mungkin juga kan aku membiarkanmu sendiri saja diapartemenku.” Ucapku dengan berusaha sesopan mungkin. Sebenarnya rasanya sudah malas juga kalau pergi ke perpustakaan terlambat, yang ada aku hanya disemprot oleh ocehan tentang betapa pentingnya bekerja tepat waktu itu. Walaupun aku tidak pernah terlambat, tapi aku mengetahui hal itu dari pegawai lain yang datang terlambat.

“lalu kau mau beralasan apa jika ditanya tentang keterlambatanmu?”

“umm.. aku akan membuat scenario mungkin atau apa—ya, mengarang cerita. Tidak mungkin aku mengatakan tentang sebenarnya. Bisa saja aku diberi label buruk oleh satu pegawai perpustakaan.”

“apakah menerimaku sebagai tamu membuatmu diberi label buruk?”

“tidak juga. Tidak jika kau datang secara sopan di waktu yang masuk akal dan dalam keadaan sadar.”

Jongin terkekeh. “shit.” Ia melirikku dengan ujung matanya lalu kembali bersandar pada sofa. “tidak usah bekerja hari ini. Aku tau kau pasti malas juga.”

Astaga, apakah dia membaca pikiranku?! “Siapa bilang aku malas?”

“kalau kau tidak malas, kau tidak akan akan membuatkanku minuman dan ramyun.”

Aku hanya memutar bola mata. “Jawaban macam apa itu!”

“sudahlah. Aku mau tidur.”

“Tidur?!” aku melotot kearahnya. Dan Jongin bisa – bisanya mengacuhkan tatapan kesal ku, dia justru menaikkan kedua kakinya keatas sofa lalu merebahkan tubuhnya seolah ini rumahnya, bukan rumah seorang wanita yang secara gamblang sedang mengusirnya. Aku menggoyangkan kakinya, “cepat bangun dan pulang kerumah. Tidur saja di ranjang mewahmu itu.” Jongin tidak bereaksi.

“Jongin!”

Dia tetap diam saja.

“oh, ayolah. Aku harus bekerja. Kau tau tidak gajiku bisa saja dipotong karena membolos bekerja!”

“aku akan bayar gajimu dua kali lipat.”

Aku terdiam. Jongin membuka matanya lalu menyeringai. “Aku akan membayar gajimu dua kali lipat.” Ucapnya lagi dengan intonasi yang lebih jelas. Ia menatapku menanti jawaban yang akan keluar dari mulutku tapi aku tidak seperti apa yang ia harapkan saat ini, aku tidak langsung menurut begitu dia menawariku uang yang lebih banyak. Demi Tuhan, dia tidak bisa menjadikan uang sebagai alasan untuk segala sesuatu. “tidak terimakasih. Kalau kau mau disini, silakan saja. Aku akan mencuci piring didapur.” Dengan begitu aku bangkit sambil membawa mangkuk ramyun bekas Jongin, gelasnya, lalu melangkah menuju dapur.

“Hei sebyul!”

Aku tidak memperdulikan panggilannya. Kubuat diriku sibuk mencuci piring dengan sengaja juga membuka kran air sehingga tidak ada keheningan diantara kami berdua. Jongin memanggilku lagi tapi aku masih mengabaikannya.

Jongin menyusulku ke dapur, menarik kursi makan lalu duduk disana. Dia melipat tangannya sambil memperhatikanku. “kau yang mengatakan sendiri padaku untuk menukar tubuhmu dengan uangku, malam itu, kau ingat, kan?”

Aku berhenti mengelap piring lalu menghela nafas keras. Emosiku naik sampai ujung kepala saat ini. Aku sebal sekali dia kembali mengungkit kejadian tentang malam itu. “Jongin, bukankah aku pernah mengatakan padamu juga untuk tidak mengingat – ingat tentang malam itu?” aku berbalik kearahnya dengan tatapan sedingin es. Jongin tertawa remeh. “tapi hal itu terjadi. Kau tidak bisa melupakannya begitu saja.”

“Oh… ayolah. Aku tidak mau memperdebatkan hal ini lagi! Ya. Memang terjadi. Tapi saat itu aku….aku…sedang kacau. Dan jangan mengaitkan kejadian pagi ini dengan menukar-tubuhku-dengan-uangmu. Satu, karena aku murni menolongmu. Dua, hal ini tidak ada kaitannya. Dan tiga, kau bisa mengatakannya dengan bahasa yang lebih sopan kan?”

Aku tidak tau apa yang baru saja aku katakan, seperti sederet kata tiba – tiba muncul dalam pikiranku dan aku melepaskannya begitu saja. Tetapi sepertinya Jongin terkejut, ia terdiam cukup lama dengan ucapanku. Ia menatapku, seolah sedang mencari sesuatu didalam mataku. “Kau jujur.”

Aku mengerutkan alis mendengar ucapannya.

“Maaf—ini mungkin terdengar menyakitkan bagimu, tapi tadinya aku kira kau menolongku semata – mata agar bisa memperoleh imbalan dariku. Kau membuatkanku ramyun dan meminjamkan baju adikmu, aku kira kau memasang harga pada hal – hal itu. Tapi.. kata – katamu barusan, membuktikan kalau aku salah.”

Yang benar saja. Apakah segala hal didunia ini harus disertai imbalan?

give and take. Aku hidup dengan hal itu sepanjang hidupku.” Ucap Jongin setengah melamun. Ia memperhatikan cangkir yang tergeletak diatas meja, cangkir milik Junhong dengan gambar Iron Man disana. “hei dimana kau mendapatkan cangkir ini?”

“itu, aku mendapat hadiah dari undian kecil – kecilan di minimarket.”

“Aku suka Iron Man.” Ucap Jongin terlalu lugu. Aku hanya tertawa canggung. “Kau mau itu?”

“Apakah aku boleh mengambilnya?”

Aku menggeleng. Jongin menghela nafas kecewa. “itu milik Junhong.” Ucapku seraya menghampiri Jongin lalu duduk dihadapannya. “dia menyukai tokoh Marvel sehingga aku sengaja memilih cangkir ini ketika memenangkan undian.”

“kalau kau mau, aku akan mengambilkannya untukmu bulan depan. Kau tau? Aku selalu beruntung dalam undian macam seperti itu. Setiap bulan aku pasti menang.”

Jongin tertawa. “Oke.” Jawabnya singkat lalu menatapku. Kami berdua selama beberapa menit bertatapan, kemudian tiba – tiba saja dia bercerita tentang bagaimana ia mengoleksi miniatur Iron Man dan Spiderman, Hulk, yang ia pajang didalam kamarnya. Ia bercerita tentang bagaimana tokoh – tokoh superhero itu beraksi dan membedakannya dari segi komik dan filmnya. Aku beberapa kali menonton—karena Junhong sering memutar filmnya—dan cukup mengerti ceritanya jadi kami saling bercerita tentang tokoh – tokoh dalam komik Marvel itu.

Rasanya aneh.

Aneh karena kami, aku dan Jongin, bertengkar beberapa menit yang lalu tapi dengan cepat kami bisa akur kembali dan bertingkah seolah tidak terjadi apapun. Dan cahaya dimatanya ketika sedang menceritakan hal yang ia sukai, ia tidak pernah begitu sebelumnya. Selama ini yang aku tangkap dari tatapan Jongin hanyalah dingin dan kosong.

Rasanya waktu bergulir cepat. Ia kini sudah berdiri diambang pintu apartemenku sedang memakai sepatunya hendak pulang. Dan hari hampir siang. Dia menghabiskan pagi sepenuhnya diapartemenku. Kami. Berdua.

Jongin melambaikan tangannya. “Annyeong!”

 

***

 

The Company of Kim, Gangnam District, Seoul.

 

Jongin menerima lima panggilan tidak terjawab sejak tadi pagi dan dua belas pesan yang belum dibaca didalam ponselnya. Ia menyadari kalau ponsel tersebut berdering namun dengan sengaja tidak ia perdulikan. Karena pengirimnya hanya dari satu orang saja. Dan akhirnya ada yang mengirimi pesan dari pengirim yang lain, Jongin pun membukanya ketika ia hendak mengemudikan Bugatti Veyron-nya.

“Jongin, Clara akan pergi ke apartemen-mu kalau kau tidak datang ke kantor sekarang juga. Ibumu yang menyuruhku mengatakan ini padamu.”

Pesan sesingkat itu dari Chanyeol, teman bermainnya, langsung membuat Jongin menuju Gangnam tanpa pikir panjang. Dan didepan gedung mewah menjulang tinggi inilah ia saat ini. Jongin sempat mampir ke department store terdekat untuk membeli baju yang lebih formal karena akses menuju apartemennya lebih jauh. Ia tidak boleh datang dengan kaos tipis milik Junhong. Namun Jongin melipat kaus Junhong dengan rapi, memasukkannya dalam paper bag didalam mobilnya.

Ketika memasuki gedung, beberapa orang yang bertugas disana beriringan membungkuk hormat menyambut kedatangan Jongin. Sejujurnya Jongin sangat malas pergi ke kantor saat ini dengan kantung mata menggantung tebal dan rasa kantuk yang ia tahan. Ia belum sempat tidur tadi malam.

“sial. Dasar wanita sial. Awas saja kalau dia berani memberitahu alamat apartemenku.” Rutuk Jongin tak hentinya sepanjang jalan menuju lantai 34. Ia memasuki lift lalu menyender pada dinding lift dengan mata terpejam. “Buat scenario dikepalamu. Ayo Kim Jongin. Buat scenario yang bagus.” Ucapnya pada diri sendiri. Pintu lift terbuka, Jongin menghela nafas lalu melangkah menuju ruang yang tidak jauh dari sana. Beberapa sambutan sopan menyertai langkahnya, tentu saja.

“Selamat pagi tuan Kim.”

“Selamat pagi Tuan.”

Jongin tidak merespon apapun, karena menurutnya ini membosankan. Ia hanya terus berjalan dengan dagu mendongak seolah membiarkan aura angkuhnya terlihat.

“Ibu sudah aku katakan—“

“Jongin, kau sudah datang. Darimana saja kau?”

Jongin menutup pintu dibelakangnya. Dihadapannya terdapat dua orang yang wanita, yang pertama duduk dibalik meja kerja dengan umur sekitar empat puluh-an, tampak dingin seperti Jongin. Dan yang kedua, seorang wanita pendek dengan badan seksi dibalut oleh dress satin berwarna soft pink. Jongin ‘mengenal’ mereka berdua sebagai ibu—wanita yang duduk dibelakang meja kerja—dan satunya lagi, Clara. Wanita yang seumuran dengannya. “Menginap dirumah Luhan.”

it’s been a while, honey.” Wanita bernama Clara ini menghampiri Jongin dengan senyum merekah lalu memeluk Jongin. Tanpa pikir panjang Jongin membalas pelukan Clara dengan erat, memanfaatkan kesempatan. Tentu saja.

so how have you been?” Tanya Clara lagi. jongin mencium pipi Clara singkat. “Good. Everything goes well.”

“Good to hear.” Clara menyentuh dada Jongin dengan senyuman diwajahnya, “Wanna have a date this afternoon?” ucap Clara dengan mengerlingkan matanya. Wanita yang baru saja datang dari California ini diam – diam memperhatikan ponsel Jongin yang dipegang Jongin dalam keadaan masih menyala, ia sedikit memiringkan kepalanya untuk membaca hangul dalam pesan teks yang ia lihat dalam ponsel Jongin.

‘Jo Sebyul’ terlalu jelas tulisan itu terlihat bagi Clara. Dan Jongin sama sekali tidak memergoki aksi ini.

 

 

***

 

“Jadi siapa Jo Sebyul itu?” Tanya Clara selepas pertemuan menegangkan antara Jongin, ibu Jongin dan dirinya didalam ruang kerja sang direktur utama Kim Company itu. Clara duduk menyilangkan kakinya dihadapan Jongin yang kini membeku atas pertanyaan Clara. “Apa? Jo Sebyul?” Jongin memastikan.

Clara menyeringai. Ia memasang tampang seolah sudah berekspektasi dengan benar soal reaksi Jongin saat ini. “Jo Sebyul. Kau menghubunginya siang ini.”

“Dia bukan siapa – siapa.”

come on, Kim Jongin.” Clara mengibaskan tangannya, masih dengan seringaian yang tidak luput dari wajahnya dan menatap Jongin penuh tuntutan seolah sedang menginterogasinya. “Kalau memang dia bukan siapa – siapa, kau tidak akan mengiriminya pesan siang ini. You never text someone, you prefer them to call you first. Dan jika dia bukan siapa – siapa, kau tidak akan memasang tampang terkejut begitu ketika aku menanyakan tentang nya.”

Jongin menghela nafas keras. Sial dengan fakta bahwa wanita dihadapannya ini sudah mengenalnya bertahun – tahun lamanya. “She’s just another girl that I slept with. I don’t love her, neither she does.”

Clara tertawa remeh. “Back to the statement that I’ve said just now. You never text someone unless it was really mean to you. And you only, literally, ignore the girls, leave her in the morning after you sleep with her.”

now you’re acting like you know anything about me.”

“I do know.”

Jongin hampir menggebrak meja. “shit.”

“sekarang apa mau mu?” Tanya Jongin dengan intonasi tajam.

Clara mengangguk puas lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, menggerakan jari – jari lentiknya diatas layar kemudian memperlihatkan ponselnya kehadapan Jongin. “Aku tau kau ahli dalam urusan ini. Ada sebuah rumah produksi kecil – kecilan di daerah Gyonggi-do. Tidak lama ini mereka mengeluarkan produk face-treatment yang cukup melejit dipasaran dengan perkembangan profit 5 % setiap bulannya dan setiap kurva peningkatan profit bertambah tinggi, perusahaanku mengalami penurunan yang signifikan.”

Jongin memperhatikan seksama ponsel milik Clara, ia sepertinya ingat siapa pemilik rumah produksi ini. “ini.. milik Do Seohee.” Jongin mendongak perlaham untuk menatap Clara.”Istri Kyungsoo.”

“apakah kau gila? Dia salah satu temanku—aish, rumah produksi nya baru berdiri dua tahun dan kau mau aku menghancurkannya? Apa pengaruhnya bagi perusahaanmu yang sudah puluhan tahun berdiri?!” seru Jongin marah.

“sepuluh tahun kedepan ini bisa berpengaruh besar.”

“I didn’t sign up for this!”

“setuju dengan ini atau kau mau nama Jo Sebyul masuk kedalam daftar black-list Ibumu?”

***

 

Sebyul’s POV

 

Aku memperhatikan bangunan cukup besar dihadapanku yang kini jendela dan pintunya tertutup rapat tidak seperti dua hari yang lalu ketika aku masih bisa masuk dengan bebas kedalam dan membersihkan tumpukan buku yang berjejer rapi disana. Dibagian depan jendela besar yang menghadap langsung dengan jalan raya, tertempel kertas dengan tulisan bold berukuran besar.

‘bangunan ini disewakan, hubungi email dibawah ini’

Tidak pernah terpikir olehku kalau berhenti dari pekerjaan rasanya bisa sehampa ini. Aku berada disini bertahun – tahun seperti semua benda mati didalam sana tidak lagi menjadi benda mati, mereka kertas dengan kumpulan jiwa didalamnya. Mereka seperti teman yang tidak pernah meninggalkanku, namun kini aku sadar… benda tak bernyawa saja tega meninggalkanku.

Aku merapatkan sweater karena udara begitu dingin, beberapa kali menyesap cokelat hangat yang tadi sempat kubeli di kafe tak jauh dari sini. kini aku lebih sering menghabiskan waktu di Sekolah Rakyat karena dari pagi sampai siang aku benar- benar menjadi pengangguran. Kecuali jika ada beberapa shift kosong di café, aku akan bekerja dua kali lipat.

Akhirnya kuputuskan saja untuk pulang ke apartemen saja daripada berdiri disini berlama – lama. Toh tidak ada yang berubah ketika aku datang dan berharap perpustakaan ini buka lagi, semua sama saja. Mungkin manusia sekarang tidak suka membaca buku, mereka punya internet dan menemukan apa saja disana secara gratis, kan?

Aku harus berlajar memahami dan menerima dengan lapang dada.

Setelah terdiam didalam bus sambil memperhatikan jalanan ramai di Seoul pagi ini, aku sampai didepan pintu apartemenku. Lagi – lagi sendirian karena Junhong—tentu saja—masih disekolah dan… aku jadi teringat Jongin, tiga hari ini dia tak ada kabar. Dia selalu begitu, menghilang begitu saja namun akan tiba – tiba muncul suatu hari.

Aku memasukkan kata sandi dan hampir membuka pintu ketika seseorang secara tiba – tiba menarik bahuku dari belakang, kemudian mendorong ku ke dinding. Aku terlalu kaget untuk mencerna apa yang terjadi denganku, tetapi otakku cukup berfungsi dengan baik untuk menyadari kalau beberapa pria dengan tampang kejam berdiri dihadapanku. Dan seorang wanita berada diantaranya.

Sebuah tamparan mendarat persis di wajahku. Aku jatuh dengan keras ke lantai dan tidak ingat apa – apa lagi.

 

***

 

tbc-

 

Makasih buat komennya di chapter 3 ya, seneng sekali responnya banyak dan sempet nongkrong di star selama berhari – hari huhuhu :”) wah siapa yg nampar sebyul nih? tungguin di chapter 5 ya!

 

ifaloyshee

 

 

Advertisements

65 responses to “[Chapter 4] DESIRABLE

  1. Kok mereka sweet banget sih :3
    Gw jadi pengen wkwkwk
    Lanjut terus ya thor! Suka nih cerita~

  2. Kyaaaaaa Clara pasti boong kan itu pasti suruh an Clara atau ibunya jongin kan?? Huaa kasian sebyul dia kan ga slh. Jongin sm sebyul jd sweet deh lamalama

  3. Clara? Ibunya Jongin?

    Hanya itu nama yang mampir diotak setelah baca pertanyaan kakak diakhir
    hahahahahaha

    Entahlah
    saya penasaran dia siapa

    Jongin perlahan2 mengclaim Sebyul jadi ‘sesuatu’ yang berharga untuknya

    Jiahahahaha

    Okheh okheh

    keep writing 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s