I Just Don’t Realized You (Chapter 7)

Ini bukan ff ditjao, melainkan ff titipan dari salah seorang teman. Harap memberikan apresiasi berupa komentar setelah membaca ya, terima kasih sebelumnya.

Previous :

Chapter 1 – Chapter 2 – Chapter 3 – Chapter 4 – Chapter 5 – Chapter 6

COVER 4

Title: I Just Dont Realized You

Author: @baekxlu/njhbac0n

Main Cast: Choi Junhong (Zelo B.A.P), Park Bin (OC)

Other Cast: Park Chanyeol (EXO), Kwon Hangmi (OC) etc!

Length: Chaptered.

Genre: Romance, Marriage Life, School Life

Rate: PG-14 s/d PG-15

Disclaimer: fanfiction ini terinspirasi dari teman saya yang menyukai ZELO B.A.P. maaf kalau fanfiction ini banyak typonya, alur ceritanya kecepetan/kependekan, eyd yang kurang bagus dan perihal-perihal negatif lainnya. Maklum, saya masih pemula di dunia perfanfiction versi k-pop!^^

H A P P Y   R E A D I N G

~Chapter 7~

AUTHOR POV

Seoul sedang mengalami musim gugur di bulan ini.

Dan tentunya angin sore hari di musim gugur seperti ini dapat membuat semua orang kedinginan.

Walaupun tidak sedingin musim salju, tapi suhu di musim gugur dapar membekukan mereka juga.

Banyak pejalan kaki yang memakai mantel hangat di tubuh mereka ataupun syal yang melilit di leher mereka.

Sama sepertinya dengan Park Bin, gadis itu merasakan hal yang di rasakan oleh semua warga di Seoul ini.

di tambah lagi, gadis itu sedang dalam berkendaraan menggunakan kendaraan beroda dua yang jelas terbuka dan lebih memudahkan angin menerpa ke sekujur tubuhnya.

Dan juga gadis itu masih memakai seragam sekolahnya dengan rok 5cm di atas lutut tanpa berbalut mantel hangat atau pun syal yang melilit di lehernya.

Gadis itu sedikit menggigil kedinginan, karena sudah 30 menit lamanya ia berkendaraan dengan berbalut busana seperti itu

Namun ia tetap menahan hawa dinginnya tersebut karena ia tak mau merepotkan Choi Junhong jika ia berkeluh tentang masalah ini.

Maka dari itu yang hanya ia bisa lakukan adalah memegang ujung mantel Choi Junhong dengan cukup erat.

Mungkin kehangatan dari mantel tersebut dapat menjalar ke tubuhnya?

Oh ayolah Park Bin, kau sudah cukup berumur untuk memikirkan itu semua. Tentu saja tidak akan. 

Tapi tiba-tiba, belum juga gadis itu dan Choi Junhong sampai di rumah orang tua Choi Junhong.

Choi Junhong memberhentikan motornya di depan sebuah taman.

Setelah mematikan mesin motornya, pria itu membuka helmnya dan menaruh helmnya di atas motornya.

Rambutnya sedikit berantakan akibat membuka helm tersebut.

Walaupun Park Bin tak dapat melihat muka Choi Junhong saat ini, tapi Park Bin yakin sekali bahwa muka lelaki itu pasti sungguh sangat tampan saat ini.

Park Bin pun hanya bisa mengelap bibirnya pelan dengan lidahnya sendiri.

Baru saja Park Bin akan berhenti berimajinasi akan ketampanan Choi Junhong, lelaki itu turun dari kendaraannya.

Dia melihat ke arah Park Bin yang masih duduk di kursi belakang motornya tersebut sambil melihat ke arahnya.

Lalu lelaki itu pun mendesah cukup berat.

Pantas saja gadis itu sedari tadi mengigil kedinginan (Park Bin tak tahu jika ia menggigil seperti itu) dan memegang ujung mantel Choi Junhong cukup kuat.

Gadis itu hanya menutupi tubuhnya dengan seragam sekolah dan jas sekolahnya itu.

Jangan lupakan rok yang yang hanya menutupi pahanya sampai 5 cm dari atas lututnya.

Demi tuhan, apa yang ia pikirkan untuk memakai rok sependek itu ke sekolah?

Lelaki itu memang tak memacukan motor sportnya dengan kecepatan tinggi

Namun tetap saja dengan pakaian seperti itu, dengan kecepatan tinggi atau tidak, pasti gadis itu akan merasa kedinginan.

Dalam waktu yang cepat, Choi Junhong melepas mantelnya

Dan langsung menyampirkannya di kedua bahu gadis bernama Park Bin itu.

Tubuh gadis itu menegang ketika Choi Junhong menyampirkan mantelnya di tubuh gadis tersebut.

“ke..kena..pa Junhong-ssi” tanya Park Bin dengan terbata-bata.

Sekarang di tubuh Choi Junhong menyisakan sweater lengan panjang berawarna hitam berkerah sampai leher. (lelaki itu telah mengganti seragamnya sebelum menjemput Park Bin tadi)

“suaramu yang seperti orang kedinginan mengganggu di telingaku”

Choi Junhong pun kembali menaiki motor sportnya.

Lalu memasang helm fullface nya kembali.

“tapi.. dengan pakaian seperti itu kau bisa kedinginan Junhong-ssi..” jawab Park Bin dengan nada rendah.

“aku sudah terbiasa berkendaraan dengan pakaian seperti ini. Tenang saja”

Tadinya ia akan benar-benar menjalankan lagi motornya untuk melesat ke jalanan Seoul sebelum ia memikirkan sesautu.

“dan kau, jangan kau pakai rok mini itu lagi untuk ke sekolah.” Tuturnya secara tiba-tiba.

“ne?”

Dia mendengar Choi Junhong mengatakan sesuatu. Namun helm full-face nya tersebut meredam suara Choi Junhong di balik sana.

Dia pun membuka kaca helm-nya

“jangan kau pakai rok mini itu untuk ke sekolah lagi. Aku tak suka melihatnya”

Choi Junhong pun menyalakan mesin motornya lagi lalu kembali melesat ke jalanan Seoul yang sudah tampak sedikit gelap.

Di dalam perjalanannya itu Park Bin bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

 

‘memangnya kenapa kalau aku pakai rok sependek ini? bukankah semua murid perempuan di sekolahku dan dia sama saja memakai rok seperti ini?’

“Annyeong haseyo…”

Gadis itu dan seorang lelaki bertubuh jangkung yang berada di belakangnya memasuki rumah bertingkat 2 yang cukup mewah.

Seorang pelayan rumah (menurut pikiran gadis itu) menghampiri mereka berdua

“ah tuan muda Choi dan Park Bin agasshi… silahkan masuk”

Benar, itu pelayan untuk rumah kediaman keluarga Choi.

Choi Junhong pun mendahului langkahnya dari Park Bin lalu menaiki anak-anak tangga untuk menuju ke lantai 2.

Park Bin hanya terpaku melihat kepergian Choi Junhong.

“Park Bin agasshi, apakah nona ingin memasuki kamar nona?”

Pelayan tadi menyadarkan Park Bin dari penglihatannya terhadap Choi Junhong yang sudah menghilang.

“iya, kalau saya boleh tahu, dimana kamar saya?”

“Mari saya antar..”

Pelayan tersebut pun melangkahkan kakinya untuk menaiki anak tangga yang menghubungkan lantai 1 dan lantai 2.

“kamar nona tepat berada di sebelah kamar tuan muda Choi”

Pelayan kediaman rumah keluarga Choi pun menunjuk sebuah kamar yang berada di pojok lantai 2 tersebut.

Di sebelah kamar tersebut, terdapat sebuah kamar yang berarti kamar tersebut adalah kamar Choi Junhong.

“baiklah, saya akan masuk ke kamar terlebih dahulu, terima kasih.. um kalau boleh saya tahu, siapa nama ahjumma?”

Pelayan tersebut pun tersenyum simpul

“panggil saja saya Ahn ahjumma. Saya pengganti pelayan Cho yang sekarang di pindahkan tugas untuk menjadi pelayan di rumah nona, apa saya benar?”

“ah, begitu rupanya, iya Cho ahjumma sekarang menjadi pelayan di rumah saya. Kalau begitu, terimakasih Ahn ahjumma”

Park Bin pun mengangguk hormat . detik selanjutnya dia melangkahkan kakinya untuk menghampiri kamarnya tersebut.

“dan juga, jika ada keperluan lainnya, tinggal panggil saya saja nona” Ahn ahjumma pun  berbicara lagi.

“baiklah”

.

Inilah suasana makan malam yang Park Bin rindukan

Bersama sebuah keluarga, perbincangan-perbincangan kecil, dan tak lupa lelucon yang di lontarkan oleh masing-masing anggota keluarga.

Semenjak Park Bin tinggal bersama Choi Junhong, gadis itu sedikit melupakan bagaimana rasanya suasana makan malam bersama sebuah keluarga seperti saat ini.

Namun, tetap.

Choi Junhong tak berada di meja pada makan malam ini.

“dasar pria manja, lelaki itu kenapa tidak turun sedari tadi?!”

Nyonya Choi menyerapah Choi Junhong dikarenakan sejak makan malam ini dimulai, lelaki itu belum juga turun dari kamarnya.

‘apakah Choi Junhong masih tak mau satu meja denganku sampai-sampai dia tak ikut makan malam disini?’ batin Park Bin.

“Ahn ahjumma” panggil Nyonya Choi kepada seorang pelayan rumahnya itu.

Seorang wanita yang tadi mengantar Park Bin ke kamarnya datang menghampiri Nyonya Choi.

“ne, Nyonya..”

“tolong panggilkan Choi Junhong untuk turun ke ruang makan dan makan malam disini. Tak tahukah lelaki itu bahwa aku merindukannya dan dia malah tak ikut makan malam disini”

Dapat di dengar dari nada suara Nyonya Choi bahwa dia tampak kesal dengan perilaku anaknya tersebut.

“baiklah Nyonya..”

Pelayan Ahn pun memutar tubuhnya bermaksud untuk pergi menghampiri ke kamar Choi Junhong.

“ah ya, Park Bin, apakah Choi Junhong memperlakukanmu dengan baik selama sebulan lebih pernikahan kalian?”

Tuan Choi pun membuka suaranya.

Park Bin pun menghentikan kegiatan makannya dan langsung melihat ke arah Tuan Choi.

“tentu saja, Choi Junhong berlaku baik kepadaku.”

“Iya, dengan mendiamiku setiap hari. Mengganggapku tidak ada. Itulah perlakuan ‘baik’nya terhadapku.”  Batin Park Bin pada dirinya.

“ah bagus kalau begitu, kupikir Choi Junhong akan berlaku kasar padamu karena..”

Tuan Choi memotong pembicaraannya

“karena apa, Tuan Choi?” tanya Park Bin penasaran kepada tuan Choi.

Tuan Choi pun menghela nafas pendek kemudian melihat lurus ke arah Park Bin.

“dia benar-benar menolak perjodohan ini, bahkan ketika aku memberitahunya bahwa dia akan di jodohkan dia sampai mengurung dirinya seharian.”

Park Bin pun hanya tersenyum kecut.

Benar saja, Choi Junhong melakukan tindakan bodoh seperti itu hanya karena dia akan di jodohkan dengan dirinya saja.

Memangnya apa yang salah dengan diri Park Bin? Sampai-sampai lelaki itu benar-benar tak mau di jodohkan oleh Park Bin?

Apakah benar lelaki itu telah memiliki kekasih ketika di jodohkan dengan Park Bin?

Tapi lelaki itu sudah bilang bahwa dia tak memiliki kekasih manapun sekarang.

Walaupun Park Bin sudah tahu alasannya mengapa lelaki itu menolak untuk di jodohkan dengannya

Tetap saja, Park Bin membutuhkan alasan yang lebih masuk akal lagi agar ia bisa mengerti tentang Choi Junhong

“dan juga, ketika pertama kali kalian di pertemukan, kau masih ingatkan bagaimana sikap Choi Junhong kepadamu?” lanjut tuan Choi lagi

Park Bin pun mengangguk pelan.

“maafkan kelakuan putraku, Park Bin. Tapi aku yakin, suatu saat nanti dia mulai bisa membuka hatinya untukmu, walaupun aku tak tahu sampai kapan.”

Park Bin pun langsung menjawab dengan cepat

“bukankah sudah kubilang tadi bahwa Choi Junhong berlaku baik kepadaku, tuan Choi? Sungguh, dia sungguh-“

Tuan Choi memotong dengan cepat lagi

“aku tahu kau berbohong Park Bin. Pasti dia berlaku tak baik kepadamu kan? Jawab dengan jujur kali ini.”

Park Bin pun terdiam cukup lama.

Dia tak mungkin memberitahu semua perlakuan Choi Junhong kepadanya selama ini.

Choi Junhong memang tak berlaku kasar dengannya, namun dia berlaku seperti tidak menganggap Park Bin ada saja di dunianya itu.

“jadi benar, Choi Junhong berlaku kasar padamu, Park Bin?” tanya tuan Choi dengan sedikit meninggikan suaranya karena Park Bin tak menjawabnya sedari tadi.

“tidak. Tidak Tuan Choi, sungguh Choi Junhong tak berlaku kasar sama sekali padaku. Sungguh.”

Jawab Park Bin sekarang dengan nada lebih tenang.

Agar meyakinkan tuan Choi bahwa semuanya baik-baik saja.

Tuan Choi pun menghela nafas berat.

“baiklah, aku percaya padamu. Entah kau sedang berbohong atau tidak. Tapi.. aku sungguh berterimakasih padamu, karena kau masih mau bersabar dengannya. Kau sungguh gadis yang baik, Park Bin.”

Park Bin pun sedikit tersipu malu.

“tidak usah berlebihan seperti itu tuan Choi, itu memang sudah kewajibanku untuk bersabar karena aku sekarang sudah menjadi istri Choi Junhong..”

Tuan Choi pun tersenyum salut kepada Park Bin.

“ah pelayan Ahn, bagaimana? Apakah Choi Junhong akan turun?”

Tiba-tiba Ibu Choi Junhong berbicara kepada pelayan Ahn yang baru saja datang ke ruang makan.

Untuk memberi informasi mengenai keabsenan Choi Junhong di meja makan saat ini.

“maaf nyonya, tuan muda bilang bahwa dia tidak akan turun. Sepertinya dia sedang sakit nyonya.”

Park Bin pun melanjutkan dengan cepat

“sakit?”

Pelayan Ahn menganggukan kepalanya pelan.

“iya nona, sepertinya tuan muda Choi sedang sakit. Dia tidak mau membuka pintu kamarnya dan jika saya dengar dari suaranya tadi, suaranya sedikit agak parau nona.”

Ibu Choi Junhong pun berdecak sebal.

“anak itu, ketika berliburan ke rumahnya malah sakit. Dia tak tahu cara merawat diri atau bagaimana sih”

Park Bin pun merasa bersalah.

Pasti Choi Junhong menjadi sakit seperti ini karena tadi dia mengendari sepeda motor tanpa menggunakan mantel karena mantelnya ia pinjamkan ke Park Bin.

“ah Ibu.. jangan salahkan Choi Junhong, ini salah aku.. aku sebagai istrinya tak bisa merawatnya dengan benar..”

Park Bin pun meminta maaf kepada Ibu Choi Junhong dengan muka tertunduk mendalam.

“oh ayolah Park Bin, ibu tak menyalahkanmu! Anak itu pasti sakit karena ulahnya sendiri.. kau pasti sudah merawatnya dengan baik, aku tahu sekali itu..”

“tapi Bu–..”

Ibu Choi Junhong memotong dengan cepat

“pelayan Ahn, sekarang anda siapkan sup hangat beserta handuk hangat untuk Choi Junhong. Dan untukmu Park Bin, berhenti menyalahkan dirimu dan rawat Choi Junhong sekarang!”

Tegas Ibu Choi Junhong kepada kedua orang yang di sebutkannya tadi.

“baiklah Ibu”

Seorang bocah lelaki sedang memegangi tangan gadis kecil di hadapannya.

Gadis itu tampak menunduk dalam, berbeda dengan bocah lelaki yang memegang tangannya tersebut itu.

 

“haruskah kau pergi?”

Bocah lelaki itu jelas-jelas berbicara pada gadis kecil di hadapannya, namun gadis kecil itu tak menjawab apapun.

 

“lalu jika kau pergi, siapa yang akan menemaniku lagi?”

 

Gadis kecil itu mendongakkan kepalanya.

 

Zelo-ya..”

 

Bocah lelaki itu tak menghiraukan panggilan gadis kecil tersebut dan malah menanyakan sesuatu lagi

“jika kau pergi, siapa yang akan membacakan aku cerita lagi di bawah pohon taman ini?”

 

Zelo-ya..”

 

“jika kau pergi, siapa yang akan menghapus air mataku ketika aku mengingat ibuku lagi?”

 

Zelo-ya…”

 

“jika kau pergi, siapa yang akan menjadi pengganti ibuku lagi? Demi tuhan, cuman kau yang bisa menggantikan posisi ibuku!”

 

Bocah lelaki itu telah menjatuhkan air mata yang sudah tidak dapat ia bendung lagi.

Gadis kecil di hadapannya adalah satu-satunya perempuan yang paling berharga di dunia bocah lelaki itu setelah Ibunya meninggal.

Katakanlah bahwa cinta itu tak berlaku untuk anak-anak seumuran bocah lelaki dan gadis kecil itu.

Tapi sungguh, bocah lelaki itu sangat menyayangi gadis kecil di hadapannya.

Dan sekarang, gadis kecil dihadapannya akan pergi dan entah kapan akan kembali?

 

 

Gadis kecil itu pun memajukan langkahnya, selangkah agar lebih dekat dengan bocah lelaki yang sedang menjatuhkan air mata tersebut.

Dia mengangkat tangan kirinya lalu menaruh telapak tangannya di permukaan wajah bocah lelaki itu.

Tak lupa juga ia menghapus air mata yang jatuh di pipi bocah lelaki itu.

 

“aku janji akan kembali. hilangkanlah semua rasa takutmu itu, karena aku berjanji akan kembali.”

 

“kapan?”

 

Gadis kecil itu menurunkan tangannya.

“entahlah..”

 

Entah? Bahkan gadis itu saja tak tahu kapan ia kembali dan itu semakin membuat bocah lelaki di hadapannya mengeluarkan air mata lebih deras lagi.

 

“bahkan kau saja bilang entah, lalu bagaimana jika kau tak kembali!”

 

Bocah lelaki itu sedikit meninggikan suaranya. Sedikit membentak gadis ang ada di hadapannya.

Demi tuhan, bocah lelaki itu sedang dalam perasaan yang teramat kalut.

Gadis yang mengubah hidupnya menjadi lebih terang setelah kepergian Ibundanya akan meninggalkan ia juga sama halnya seperti Ibunya.

 

“hey.. Zelo-ya, bukankah aku tadi sudah bilang AKU PASTI KEMBALI. dan kau tahu aku kan, jika aku sudah berjanji, aku pasti akan menepati janjiku kan?”

 

Bocah itu pun lalu mendongakkan kepalanya melihat ke arah gadis tersebut.

 

“kau benar-benar janji?”

 

Gadis kecil itu pun tersenyum merekah.

“janji. Aku sangat berjanji Zelo-ya”

 

Bocah lelaki itu pun menarik gadis kecil yang ada di hadapannya untuk jatuh ke rengkuhannya.

Dia tak peduli jika ini terlalu berlebihan untuk anak seumuran mereka.

Dia hanya ingin menyalurkan perasaannya terhadap gadis kecil tersebut.

 

“dan sekarang kau harus berjanji kepadaku..”

 

Bocah itu sedikit mengernyit heran. Ia tak dapat melihat muka gadis kecil ini karena ia masih merengkuhnya dalam.

“apa?”

 

“jangan lupakan aku”

.

.

.

“Junhong-ssi?”

Choi Junhong pun membuka matanya mendengar sebuah suara memanggilnya.

Park Bin. Gadis itu telah diam di kamar Choi Junhong sejak satu jam yang lalu sambil memerhatikan Choi Junhong ketika tertidur

Namun sekitar 15 menit yang lalu, Junhong tampak sangat gelisah ketika tidur tadi.

Tak lupa juga dari dahinya mengucur peluh-peluh keringat yang menandakan bahwa ia sedang kedatangan mimpi buruk.

“kau? Kenapa kau bisa masuk kesini!?” tanya Choi Junhong sedikit membentak kepada Park Bin.

Lelaki itu langsung menduduki dirinya ketika mendapati Park Bin berada di dalam kamarnya.

Dia juga menjauhkan sedikit tubuhnya, mendapati Park Bin duduk di tepi ranjang tempat tidurnya yang membuat jarak mereka tampak sempit itu.

“ah..begini..aku..disuruh Ibumu..untuk..menjagamu..” jawab Park Bin dengan terbata-bata sambil menundukkan wajahnya.

Choi Junhong pun menaikkan sebelah alisnya.

“menjagaku? Aku baik-baik saja dan sekarang aku minta kau pergi dari sini!” bentak Choi Junhong kepada Park Bin.

“tapi kau sedang sakit Junhong-ssi dan aku yakin kau pasti sakit karena tadi sore kau meminjamkan mantelmu kepadaku..”

Gadis itu makin menundukkan wajahnya dalam.

Park Bin benar-benar merasa bersalah karena ini semua.

“kau tidak akan sakit seperti ini kalau saja kau tak meminjamkan mantelmu padaku..”

Dia memotong pembicaraannya.

Choi Junhong dapat melihat bahwa gadis itu sedikit mengigit bibirnya.

“maafkan aku..aku benar-benar minta maaf…”

Gadis itu memohon maaf kepada Choi Junhong?

Demi tuhan, Choi Junhong sama sekali tidak merasa keberatan dengan perihal tadi sore yang membuatnya sakit seperti sekarang ini.

Choi Junhong malah berpikir bahwa lebih baik dirinya saja yang kedinginan daripada harus mendengar gadis itu mengigil kedinginan seperti tadi sore di kursi belakang motornya.

“sudahlah, itu bukan salahmu juga. Kan sudah kubilang jika aku sudah tebiasa mengendarai motor tanpa mantel jugakan?”

Choi Junhong berusaha meyakinkan gadis itu bahwa ini bukan kesalahannya.

“tapi tetap saja Junhong-ssi..kau kedinginan dan terkena flu seperti ini karena kau tak mengenakan mantel di cuaca sedingin tadi..”

Gadis itu menjeda kalimatnya sementara lalu melanjutkan lagi

“maka dari itu, maafkan aku dan biarkan aku menolongmu..”

Gadis itu sudah tak menundukkan wajahnya lagi entah sejak kapan dan malah menatap Choi Junhong dengan dalam.

Junhong sedikit menelan salivanya sendiri mendapati Park Bin menatapnya seperti itu.

Tak dapat Junhong pungkiri lagi, bahwa gadis itu memang sungguh sangat cantik.

Choi Junhong pun menarik nafas pendek.

Dia terlalu lelah untuk berdebat dengan gadis itu.

Ia juga masih merasakan pening yang hebat sejak ia bangun tadi karena mimpi buruknya tersebut.

“kalau begitu..”

Choi Junhong menggeser sedikit tubuhnya agar lebih dekat dengan Park Bin.

“biarkan aku memelukmu”

Park Bin pun mengerjap selama beberapa detik.

“apa?”

Choi Junhong terlalu pusing untuk menjawab pertanyaan Park Bin.

Maka dari itu,

Ia langsung menjatuhkan kepalanya ke pundak Park Bin.

lalu membenamkan wajahnya di antara leher dan bahu Park Bin.

Tak lupa juga ia melingkarkan lengannya di pinggang Park Bin, walau pinggangnya terhalang oleh kedua lengan Park Bin

“biarkan ini semua selama beberapa menit. Aku takut untuk kembali tidur”

Dapat dirasakan bahwa darah yang mengalir di tubuh Park Bin, semuanya langsung mengalir menuju wajah Park Bin akibat perlakuan Choi Junhong padanya sekarang.

Untung Choi Junhong tak dapat melihat betapa merahnya wajahnya Park Bin sekarang.

Kalau Choi Junhong melihat ini semua, matilah Park Bin saat itu juga.

“ba..ik..lah Junhong..-ssi..”

Choi Junhong pun tersenyum kecil ketika mendapat jawaban ‘bukan penolakan’ dari Park Bin.

Dia pun mengeratkan pelukannya lebih dalam lagi.

Untuk meresap aroma tubuh gadis tersebut lebih dalam lagi.

“wangi bayi.. gadis ini sungguh sangat kekanakkan…” batin Choi Junhong pada dirinya sendiri.

Ia pun melanjutkan gumamnya lagi.

“tapi aku sangat menyukai aromanya..”

.

 

“besok ulangan sejarah 3 bab!” koar sang guru killer no.2 di Seoul High School, Jun seonsaengnim.

Tak lama dari situ seluruh siswa di kelas 11-4 meneriakan satu huruf dengan serempak.

“AAAAAAA”

“saya tak menerima keluhan! Persiapkan untuk ujian kalian minggu depan nanti atau kalian ingin mendapat hukuman ketika nilai kalian di bawah kkm!?” koar lagi Jun seonsaengnim

“ne, seonsaengnim” jawab seluruh siswa 11-4 dengan serempak lagi.

“baiklah, kalau gitu pelajaran saya tutup sampai sini. Selamat siang”

Jun seonsaengnim pun keluar dari kelas seraya membawa globe bumi untuk pelajaran mengenai penjajahan-penjajahan di berbagai belahan dunia.

Seorang siswa dengan rambut hitam dan tubuh yang sangat jangkung itu membalikkan arah tubuhnya ke belakang.

“bagaimana ini Park Bin? Aku sungguh tak mengerti dengan pelajaran si Jun-killer itu!”

Ya, Park Chanyeol memang memanggil guru killer no.2 di Seoul High School dengan sebutan ‘Jun-killer’

“kau pikir aku mengerti dengan semua omongannya yang mengenai sejarah itu!? Tentu saja tidak Park Chanyeol!”

Gadis itu sedikit mengeluh sambil memasukkan buku sejarahnya ke dalam tas.

Sungguh, 3 jam pelajaran sejarah bukanlah main baginya.

Kalian pikir, dengan 3 jam terus menerus dan hanya membahas tentang penjajahan di berbagai belahan bumi itu sungguh menyenangkan?

Well, menurut Park Bin SANGAT TIDAK MENYENANGKAN.

Untuk apa ia belajar sejarah di masa lalu yang tak mungkin akan berpengaruh kepada kehidupannya di masa kelak?

Dan di tambah, besok akan ada ulangan sejarah.

3 BAB.

Dan semua bab itu membahas tentang penjajahan oleh Belanda, Inggris dan Jepang.

Hey, kalian pikir itu semua gampang untuk di hapalkan dalam satu hari?

Park Chanyeol pun mendesah dengan nafas berat

“lalu bagaimana ini Park Bin? Kau kan sudah tau jika kita tak mendapat nilai yang tidak cukup kita akan di beri hukuman”

Lalu Park Chanyeol mengangkat tangannya ke dahinya. Untuk memijit kepalanya yang pusing karena 3 jam sejarah tadi.

“ Dan juga, kau tentu tau si ‘Jun-killer’ itu jika memberi hukuman akan tanpa belas kasihan kan?”

Tentu saja Park Bin sangat tahu.

Ia pernah sekali mendapat hukuman dari Jun seonsaengnim karena ketahuan tidur di kelas.

Alhasil ia harus diam di depan ruangan kelasnya SELAMA 2 JAM dan TAK BOLEH JONGKOK SEDIKIT PUN!

Jun seonsaengnim sungguh-sungguh guru yang sangat kejam.

“dan aku tak mau aku di beri hukuman seperti dulu lagi” Park Bin pun meneruskan.

Park Chanyeol menurunkan tangannya dari dahinya lalu mengetuk-ngetuk meja Park Bin selama beberapa kali.

“aku tahu!” pekik Park Chanyeol tiba-tiba.

“bagaimana jika kita belaja bersama? Sepulang sekolah nanti?” tambahnya lagi.

Park Bin pun menggigit bibirnya pelan sambil melihat ke arah atap kelasnya.

Dia sedang berusaha mengingat bahwa ia tak memiliki satu janji pun dengan siapa-siapa.

Apalagi dengan Choi Junhong.

“baiklah, dimana?” Park Bin pun menjawab setelah dirasanya dia benar-benar tak memiliki janji dengan siapapun atau Choi Junhong.

“di rumahmu saja, bagaimana? Lagipula aku belum pernah mengunjungi rumahmu.”

Tidak. Tidak bisa.

Ini bahaya, jika Park Chanyeol berkunjung ke rumah Park Bin(dengan Choi Junhong tentunya) pernikahannya dengan Junhong bisa terbongkar ketika Park Chanyeol mendapati Choi Junhong berada di rumahnya.

Park Bin pun memutuskan untuk menolak.

“tidak bisa Chanyeol-a, rumahku sedang di renovasi dan kita tak mungkin belajar di rumahku. Bagaimana kalau rumahmu saja?”

Bohong. Tentu saja Park Bin berbohong.

“baiklah, kalau begitu sepulang sekolah ini kau pulang bersamaku dan langsung ke rumahku. Setuju?”

Park Chanyeol mengangkat sebelah alis matanya sambil tersenyum lebar.

“baiklah Park Chanyeol!”

Park Bin terkekeh pelan dengan tingkah Park Chanyeol yang menurutnya terlalu berlebihan.

“ Ah! dan juga, bagaimana kita mendapat materi semua pelajaran di bab itu? Buku yang aku punya tak memuat semua pelajaran tentang sejarah sejarah busuk itu!” protes Park Bin.

Chanyeol pun sedikit mendesir sambil memikirkan sesuatu.

“bagaimana kalau kau pinjam ke perpustakaan saja?” usulnya.

Park Bin pun mengangguk mantap.

“setuju!”

.

.

.

“sejarah…”

Gumam Park Bin dengan jemari-jemari lentiknya menari sambil menunjuk deretan buku di sebuah rak di perpustakaan.

Dia pun menghentikan langkahnya ketika dia berhasil menemukan buku yang ia cari.

“ini dia!”

Park Bin mengambil buku tersebut.

Ia telah menemukan 3 sumber buku yang di perlukannya nanti ketika belajar bersama dengan Park Chanyeol sepulang sekolah nanti.

Setelah itu, ia pun membalikan badannya untuk menuju ke tempat  di perpustakaan, bermaksud untu meminjam buku-buku tersebut.

“sejarah tentang Inggris….ada”

Gadis itu mengecek buku yang ia pinjam sambil melangkahkan kakinya menuju tempat untuk peminjaman buku tersebut.

“sejarah tentang Belanda…ada”

“sejarah tentang Jepang…”

BUG!

“argh!” pekik seorang gadis dengan suara melengking.

Sedangkan Park Bin? Gadis itu telah tersungkur ke bawah dan buku-bukunya jatuh berserakan.

“kau lagi!?” gadis yang tadi memekik dengan suara melengking tersebut telah membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang menabraknya.

Ya, Park Bin terlalu berkonsentrasi dengan buku-bukunya tersebut sampai-sampai ia tak memerhatikan jalanan yang ada di hadapannya.

Dan alhasil gadis itu menabrak seorang wanita.

“kau bodoh Park Bin, matilah kau sekarang” Park Bin bergumam di dalam hatinya setelah mengetahui siapa gadis yang ia tabrak.

Siapa lagi kalau bukan sunbaenya itu, Kwon Hangmi?

“kau… kau benar-benar gadis tak tahu malu! Kau berani-beraninya menabrakku?!” bentak Kwon Hangmi pada Park Bin yang masih tersungkur di bawah.

Kali ini Park Bin menundukkan wajahnya dalam-dalam.

“maaf sunbae.. sungguh..aku..tak..sengaja” Park Bin menjawab dengan terbata-bata.

Sungguh kali ini gadis itu sangat-sangat merutuki kebodohannya yang tak memperhatikan jalan.

Lalu seseorang menjulurkan tangannya kepada Park Bin.

Gadis itu hanya menatap telapak tangan tersebut selama beberapa detik.

“bangunlah”

Suara itu!?

Park Bin pun mendongakkan kepalanya dengan cepat setelah ia mendengar suara siapa itu.

Pria dengan kulit seputih susu itu menjulurkan tangannya ke arah Park Bin.

“Choi Junhong! Kenapa kau membantu gadis itu? Jelas-jelas gadis itu bersalah telah menabrakku!” pekik Kwon Hangmi kepada Choi Junhong dengan sedikit geram.

Choi Junhong tak menjawab pertanyaan Kwon Hangmi.

Ia malah menarik lengan Park Bin agar bisa berdiri.

Tarikan Choi Junhong terlalu keras sehingga Park Bin pun bisa berdiri tegak lagi dalam satu tarikan.

Setelah Park Bin seutuhnya berdiri, Choi Junhong pun membungkukkan badannya.

Ia merapikan buku-buku yang Park Bin bawa tadi.

Setelah itu, ia menyodorkan buku-buku tersebut ke arah Park Bin.

“lain kali ketika kau berjalan, tolong fokus ke depan.” Jawab Choi Junhong dengan datar namun tak terkesan dingin juga.

Park Bin pun mengerjap selama beberapa detik.

“ah..terima kasih..sunbae..” Park Bin pun menjawab seraya mengambil buku-buku yang Choi Junhong sodorkan itu.

“kau!! Kau seharusnya minta maaf kepadaku!!” tiba-tiba gadis bernama Kwon Hangmi mengkoar-koar lagi seperti macan yang kelaparan.

“sudahlah Hangmi-ya, itu bukan sepenuhnya kesalahan dia. Kau juga menghalangi jalan untuk para pejalan disini tadi sehingga gadis itu tak bisa lewat tadi dan hasilnya ia menabrakmu” jelas Choi Junhong kepada Kwon Hangmi.

Ya, memang Kwon Hangmi dan Choi Junhong berdiri di tempat yang salah sehingga mereka berdua menghalangi akses para pelajar untuk berjalan di ruang perpustakaan tersebut.

Sebenarnya Choi Junhong melihat Park Bin berjalan tadi sambil membaca bukunya.

Namun ia terlambat untuk menggeser Kwon Hangmi agar gadis Park tersebut bisa berjalan tanpa menabrak Kwon Hangmi.

Park Bin pun menunduk dalam lagi.

“maafkan aku sunbae.. aku sungguh-sungguh bodoh tak memerhatikan jalanan tadi.. maafkan aku Hangmi sunbae..” Park Bin memohon maaf kepada gadis Kwon tersebut.

Kwon Hangmi pun memutar kedua bola matanya dengan arogan

“kau pikir aku bisa dengan semudah itu memaafkanmu!?” bentaknya kepada Park Bin.

Park Bin pun makin menundukkan wajahnya dalam.

Sungguh saat ini juga Choi Junhong merasa kesal dengan Kwon Hangmi.

Jelas-jelas Junhong tadi sudah bilang bahwa Park Bin tak sepenuhnya bersalah dalam hal ini karena Kwon Hangmi juga menghalangi jalannya.

Choi Junhong hapal betul dengan temannya yang satu ini, Kwon Hangmi memang gadis yang menuntut tinggi senioritas di Seoul High School.

Namun sungguh, apa karena masalah se-sepele ini Kwon Hangmi harus membentak Park Bin seperti itu?

Jika Kwon Hangmi mengetahui hubungan pernikahan Choi Junhong dengan Park Bin saat ini juga, ingin sekali Choi Junhong membentak Kwon Hangmi tak kalah kerasnya ketika gadis itu membentak Park Bin.

“sudahlah Kwon Hangmi, kau tak malu apa denga tatapan seluruh siswa di perpustakaan ini? Sudah kubilangkan ini bukan sepenuhnya salah gadis ini juga..”

Choi Junhong pun mencoba untuk membela Park Bin dengan alasan tersebut.

“biarkan saja mereka tahu bahwa hoobae kita yang satu ini sungguh sangat tak tahu sopan santun!”  balas Kwon Hangmi sambil mendelik ke arah Park Bin yang telah menunduk sangat dalam.

Mungkin gadis itu ketakutan sekali dengan Kwon Hangmi.

Dirasanya tak ada yang bisa ia katakan lagi untuk menghentikan semua tingkah Kwon Hangmi, Choi Junhong pun menarik lengan Kwon Hangmi untuk pergi dari perpustakaan.

“Ya! Ya! Junhong-a!” pekik Kwon Hangmi dengan tubuhnya yang terseret oleh Choi Junhong.

Mereka berdua sudah sedikit jauh dari Park Bin sekarang.

“Ya! Ya! Park Bin, urusan kita belum selesai!” teriak Kwon Hangmi dari depan pintu perpustakaan dengan tangan diseret oleh Choi Junhong.

Detik selanjutnya, tubuh mereka berdua benar-benar hilang dari balik perpustakaan.

Park Bin pun hanya menatap pintu perpustakaan dengan tatapan kosong.

Gadis itu merasa hatinya mencelos jatuh ke dalam karena tadi Choi Junhong menarik lengan gadis bernama Kwon Hangmi.

Bukan, Park Bin tak suka jika ia melihat Choi Junhong menyentuh lengan gadis Kwon tersebut.

Lebih tepatnya, Park Bin cemburu.

“ya! Bin-a! Kau tak apa-apa?” pekik Park Chanyeol dari depan Park Bin.

Lelaki itu tadi memasuki ruang perpustakaan dengan terburu setelah ia mendengar suatu keributan di dalam perpustakaan tersebut.

“Apakah Hangmi sunbae memarahimu lagi?” tanya Park Chanyeol dengan khawatir.

Park Bin tak menjawab pertanyaan Park Chanyeol.

Dia malah menundukkan wajahnya ke dalam.

Lalu ia menjatukan buku-buku yang tadinya akan ia pinjam ke tangan Park Chanyeol

“kau urus buku itu, aku ingin ke kelas sekarang.”

Park Bin pun berjalan meninggalkan Park Chanyeol yang sedang kewalahan menerima buku-buku yang baru saja Park Bin taruh di tangannya tadi.

Tak beberapa lama kemudian, Park Bin juga menghilang dari pintu perpustakaan.

Chanyeol menatap pintu perpustakaan tersebut setelah gadis itu benar-benar menghilang dari penglihatannya.

“kenapa dia?”

“Park Chanyeol, aku lelah…”

Park Bin pun menguap dengan membuka mulutnya sedikit.

Ya, Park Bin memang sedang belajar bersama di rumah Park Chanyeol.

Sesuai janji mereka tadi, setelah sepulang sekolah mereka akan belajar bersama.

Tak lupa juga Park Bin telah bilang kepada Lee ahjussi yang selama ini menjemputnya bahwa dia akan pulang sendiri.

“kau mau kubuatkan apa? Jus?” tawar Park Chanyeol kepada Park Bin.

Park Bin pun memukul punggungnya pelan karena ia merasa mati kaku di bagian punggungnya itu akibat duduk lesehan berlama-lama di ruang tamu kediaman Park Chanyeol.

“terserah kau saja, yang penting kita istirahat dulu..”

Chanyeol pun menaruh pulpennya yang sedari tadi ia pegang.

Lalu selanjutnya ia mengangkat tubuhnya untuk berdiri dan bergegas ke dapur untuk membuatkan Park Bin sesuatu.

Setelah kepergian Chanyeol tersebut, gadis Park itu mengangkat tubuhnya untuk berdiri dan beralih untuk duduk di sofa di ruang tamu kediaman Chanyeol itu.

Dia menyandarkan punggungnya untuk merelaksasikan otot-otot punggungnya yang kaku tadi.

Sudah 5 jam gadis itu belajar di rumah Park Chanyeol, dan menurut gadis itu mereka berdua sudah belajar cukup jauh untuk ujian besok.

“aku akan memejamkan mataku sebentar” batin gadis itu.

Detik selanjutnya pun ia memejamkan matanya sebentar hanya untuk menetralisi otaknya yang telah penuh dengan ‘sejarah busuk’ itu.

Tapi gadis itu tak merasa bahwa gadis itu telah jatuh ke dalam alam mimpinya.

“Park Bin.. aku hanya mendapati teh di dapurku jadi tak apakan jika aku—“

Park Chanyeol yang tiba-tiba datang dari arah ruang keluarga (sebelumnya dari dapur) dengan secangkir teh hangat di tangannya melihat ke arah sofa di ruang tamu.

Gadis yang ia suka selama 10 tahun ini sedang tertidur di sofa tamu.

Chanyeol sangat merasa tertegun melihat gadisnya tersebut tertidur seperti itu.

“pasti dia lelah sekali..”

Chanyeol pun melangkahkan kakinya dengan pelan-pelan agar gadis tersebut tidak bangun oleh karenanya.

Ia menaruh secangkir teh tersebut di meja tamunya.

Lalu setelah itu, dia memberanikan diri untuk duduk di sebelah Park Bin (dengan hati-hati tentunya)

“sungguh dia sangat cantik dengan mata tertutup sekalipun seperti ini” pikir Chanyeol.

Bahkan, Park Chanyeol pun sampai menelan saliva nya sendiri akibat melihat gadisnya tertidur dan dia melihat sedekat ini.

Memang sebelumnya Chanyeol pernah melihat Park Bin tertidur di ruang perpustakaan tempo hari yang lalu.

Tapi entah mengapa, dengan sedekat ini, Park Chanyeol pun sampai menelan salivanya sendiri karena terpesona akan kecantikan Park Bin.

Sehelai rambut Park Bin sedikit menghalangi wajah Park Bin dan itulah sebabnya Park Chanyeol dengan beraninya mengangkat tangannya mendekati wajah gadis tersebut.

Bermaksud untuk menyingkirkan sehelai rambut gadisnya tersebut agar tak menghalangi wajah cantiknya.

1 langkah lagi saja agar tangan Chanyeol menyentuh rambut gadis tersebut,

Namun gadis itu telah mengganti posisi kepalanya dan jatuh berakhir di bahu Park Chanyeol.

Chanyeol dapat merasakan degup jantungnya yang sangat bertempo cepat.

Mungkin akan meledak sebentar lagi, mungkin.

Dia menurunkan tangannya pelan.

Ia pun dengan pelan juga memutar lehernya bermaksud untuk melihat ke arah gadis tersebut.

Gadis itu tertidur di bahu Chanyeol dengan wajah tertutup oleh rambutnya.

“bagaimana aku bisa melihat wajahnya jika rambutnya terus saja menghalangi itu” keluh Chanyeol pada dirinya sendiri.

Dia pun dengan pelan mengangkat tangannya lagi bermaksud untuk menyingkirkan helaian rambut Park Bin yang menghalangi wajah cantiknya.

Sama seperti tadi, 1 langkah lagi saja tangan Park Chanyeol menyentuh rambut Park Bin namun sesuatu terjadi.

Berbeda dengan tadi, kali ini Park Bin membuka matanya.

“apa yang akan kau lakukan Chanyeol?”

Detik selanjutnya Park Bin menegakkan tubuhnya.

“kenapa aku bisa tertidur di bahumu?” tanyanya lagi dengan nada dingin.

Chanyeol cukup kaget dengan terbangunnya Park Bin dan melihat dirinya akan menyentuh Park Bin.

Dan sekarang Park Bin menanyakan dua pertanyaan yang cukup membuat Chanyeol bingung menjawabnya.

“kk..kau yang tertidur di bahuku! Dan tadi aku cuman akan memukul nyamuk di pipimu, tak lebih”

Untuk pernyataan yang pertama, Chanyeol memang menjawab dengan sebenarnya karena gadis itu yang tiba-tiba jatuh tertidur ke bahunya, bukan Park Chanyeol yang menidurkannya di bahunya kan?

Sedangkan untuk pernyataan kedua, tentu Park Chanyeol berbohong. Jelas-jelas lelaki itu ingin menyibakkan rambut Park Bin yang menghalangi wajah cantik Park Bin.

Tapi mana mungkin Park Chanyeol menjawab itu dengan jujur? Mungkin Park Bin akan menganggapnya lelaki mesum.

Dapat di lihat bahwa gadis itu awalnya memicingkan matanya namun tiba-tiba ia melihat ke arah jam tangannya.

“astaga Park Chanyeol! Sudah jam 9 malam dan pasti orang tua ku akan marah jika aku belum pulang juga sampai nanti!” pekik Park Bin tiba-tiba.

Chanyeol pun sedikit mendengus sebal.

Dia tak mau kalau Park Bin pulang dari rumahnya.

Kalau bisa, ia ingin menahan Park Bin untuk tinggal di rumahnya

“baiklah, akan ku antarkan kau pulang”

***TBC***

Halo lagi!

Aku bingung mau ngomong apa ya?

Ya pokonya apakah ini masih garing atau kecepetan alurnya?

Ya lagi dan lagi aku minta maaf ya sedalam-dalamnya. Maaf kalau kalian belum dapet “sweet” nya di fanfiction ini. maaf banget yaaa, aku rasa aku ngecewain kalian nih karena serius menurut aku sih belum ada sweet-sweetnya ini. maaf maaf banget yah *ngebow sampe 90 derajat*

Tapi tetep aku mau bilang makasih banget ke kalian yang udah RCL. Thank you so much!!!

Buat kak Dita, makasih ya udah ngepot fanfiction ini. masih dengan, kata saranghae ga cukup buat ngebales kebaikan kakak>.<

(btw sorry kalau posternya aneh or anything. Aku belum ada waktu dan ide lagi buat bikin posternya. Jadi so sorry ya guys! >.<)

68 responses to “I Just Don’t Realized You (Chapter 7)

  1. waaaah panjang nih aku suka! bagus ffnya:’) lanjutannya secepetnya ya.. udah gasabar banget hehe

  2. Pingback: I Just Don’t Realized You (Chapter 8) | FFindo·

  3. Pingback: I Just Don’t Realized You (Chapter 9) | FFindo·

  4. Pingback: I Just Don’t Realized You (Chapter 10A) | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s