GEE! [Part 5]

gee

GEE!

 

GEE : Banyak orang yang membenci sebuah perencanaan yang dibuat oleh orang lain, tanpa persetujuan, bahkan bisa digolongkan dalam sesuatu hal yang memaksa. Tapi, ketika mereka sudah terbiasa dengan hal itu, apapun tentang ketidaksukaan akan menghilang. Itu akan menjadi sebuah hal yang menyenangkan ketika ada sesuatu yang sudah biasa kalian lihat dimata kalian. Sesuatu yang indah sekali, yang membuat kalian terkejut tiap kali melihatnya.

Perseteruan bahkan sama sekali belum dimulai sejak awal. Ini baru awal-awal yang tidak terlalu buruk untuk dibaca. Sebuah perjalanan hidup tidak selalu baik.

 

GEE!

 

Author : sanacamberlain

Genre : Romance, Comedy, Thriller, Mystery, Marriage Life, School Life

Cast : Xi Luhan, Park Hana, and Other Cast

Rating : PG 17

Leight : Chapter

Previous : 4

| GEE! Part Five |

 

Pintu-pintu kelas sudah dibuka sejak lima menit yang lalu dan waktu sudah menunjukan pukul 06:00 waktu setempat, namun walaupun begitu, sekolah masih sangat sepi. Hanya ada satu atau dua murid saja yang mulai memasuki pelataran halaman sekolah Yohan. Beberapa lagi masih terjebak dijalanan yang mulai padat dan sebagiannya lagi masih tertidur pulas diatas tempat tidur mereka.

Ini merupakan kelas senior bagi Park Hana, Xi Luhan, Byun Baekhyun, Yoon See Jung, Park Chanyeol, Kim Minseok, Oh Sehun, dan Do Kyungsoo. Hana lagi-lagi mendapat urutan kedua dikejuaraan sekolah untuk tahun kedua disemester empatnya. Ia lagi-lagi kesal mengetahui bahwa Xi Luhan ada diurutan pertama. Dirobek-robeknya kertas yang diberikan Pak Ahn—pengawalnya. “Apa kau tidak tahu kalau semalam aku habis menangis gara-gara laki-laki brengsek itu?” tanya Hana dingin pada pria dihadapannya.

Pak Ahn menunduk. “Maaf, nona. Saya hanya menuruti perintah anda.”

Mereka yang baru saja keluar dari kamar Hana menuju ruang makan hanya diam. Park Hana pun begitu, gadis itu hanya menghela napas mendengarkan ucapan Pak Ahn. Ia bahkan sudah membayangkan bagaimana hari ini? Bertemu Xi Luhan? Akankah hal itu terjadi? Ia tidak suka bertemu lelaki itu disekolah.

“Hana!” Steven Park sudah ada diruang makan sambil melambai kearah Bibinya. Anak laki-laki itu tersenyum manis sekali, membuat Hana ikut tersenyum. “Kau akan sekolah hari ini?”

Hana duduk disalah satu kursi dimeja makan, dihadapannya sudah ada Park Jungsoo yang sedang mengunyah makanannya. Gadis itu mengangguk sambil bergumam. “Kapan Steven kami pulang ke Kanada?” ujarnya sambil membelai rambut anak kecil yang duduk disampingnya.

Steven terkekeh sambil menyuap makanan yang disuapkan oleh Ibunya. “Ibu bilang, kami pulang hari ini.”

Park Hana menyeruput tehnya. Ia menatap Kakaknya. “Begitu?” lalu beralih menatap Steven. “Baguslah.” Katanya dingin sambil menatap Jungsoo tajam.

“Kau harus belajar baik-baik.” Jungsoo menyuap makanannya lagi tanpa mau menatap Adiknya.

“Tentu saja.” Jawab Hana. Ia menyuapkan potongan rotinya kedalam mulut. “Aku akan mengalahkan Xi Luhan juga.”

Stephanie menoleh. “Dia pacarmu itu, kan?”

Park Hana memutar bola matanya. “Tepatnya dia musuhku.”

Park Jungsoo tertawa. “Kalian sudah berpacaran, bukan?”

Hana menatap Kakaknya tajam. “Terserah katamu saja.” Lalu bangkit dari tempatnya. “Aku pergi dulu.” Lalu ia melangkah kearah Steven Park. “Steven kami yang tampan, aku pergi sekolah dulu.” Lalu ia mencium pipi anak laki-laki itu.

“Hati-hati, Hana.” Ujar Steven sambil tertawa kecil.

Hana hanya bergumam sambil beralih kearah Stephanie dan mencium pipi Kakak iparnya itu. “Unnie, hati-hati dijalan.” Yang dijawab dengan senyum manis Stephanie.

Hana baru saja akan meninggalkan ruangan makan ketika Jungsoo berucap. “Kau sama sekali tidak mau mengucapkan apa-apa padaku?”

Hana menoleh dan menatap Jungsoo dengan pandangan merendah. “Perlukah?” Hana tertawa dipaksakan lalu berjalan kearah Jungsoo dengan tawa ramah yang dibuat-buat. “Oh, Kakakku yang tampan, jaga Steven-ku, ya!” lalu ia mencium pipi kakaknya. Kelihatan manis dan lucu sekali dimata para pelayan, begitu juga dengan Stephanie dan Seteven. Hal yang jarang sekali ditemukan oleh mereka, mengingat keduanya memiliki watak yang sama.

 

GEE!

 

Wu Yifan baru saja memasuki pelataran halaman sekolah Yohan. Ia tersenyum manis sekali ketika beberapa murid menatapnya dengan tertarik. Tidak percaya kalau disekolah mereka akan ada murid baru yang sangat tampan dengan postur tinggi seperti model. Wajahnya pun begitu sempurna, tidak ada cacat sedikitpun.

Ia masih berjalan menuju pintu ruang masuk utama ketika beberapa mobil melewatinya dan berhenti didepan pintu ruang masuk utama. Yifan menghentikan langkahnya dan menatap siapa pemilik mobil-mobil itu.

“Itu Park Hana, yatuhan!”

“Park Hana!”

Yifan menatap beberapa murid yang meneriaki nama Park Hana dengan jelas, lalu kembali menatap gadis yang sekarang sudah berdiri dibelakang kemudi sambil dikawal oleh beberapa orang pengawal. Yifan tersenyum, mengejek. Kita bertemu lagi, Park Hana.

Sampai satu menit ia berdiri disana dan beberapa murid mulai membuat keramaian karena setelah perginya mobil Park Hana, lima mobil kembali datang, membuat Yifan kembali menghentikan langkahnya. Dan sekarang ada lima lelaki yang mengenakan seragam yang sama persis sepertinya keluar dari mobil. Yifan menghela napas sambil mengulum senyum. Ini akan jadi permainan yang baik sekali.

 

GEE!

 

Park Hana tidak menemukan See-Jung ketika ia memasuki ruangan kelas barunya pagi ini. Ia menyernyit lalu kembali mundur untuk memastikan apakah ini kelasnya. Tapi, ini merupakan kelasnya, kelas khusus tiga. Ah, mungkin See Jung bel

um sampai disekolah. Namun, kemudian ia menggeleng. Tidak mungkin See Jung terlambat. Ini sudah lewat dari jam tujuh. Ia kembali menggeleng dan mulai memasuki kelasnya, mencari bangkunya.

Hana menghela napas, akhirnya ia menemukan bangkunya. Ia menatap mejanya dengan tatapan menerawang, bertanya-tanya mengapa ia belum menemukan See Jung. Ia membalik dan membuat anak-anak kelas yang sedang menatapnya itu terkejut. “Apa kalian melihat See Jung? Kenapa dia belum datang?”

“Kau tidak tahu? Kelas See Jung dipindahkan.” Mencelos. Itu yang dirasakan perasaannya ketika mengetahui kelas See Jung dipindahkan. Sekarang, ia sudah berada diluar kelas menuju kelas 3A, tempat kelas See Jung sekarang.

Ia memasuki kelas itu dan menemukan See Jung sedang membaca sebuah buku. Park Hana menghela napas lega. “Yak! Yoon See Jung!”

Gadis yang dipanggil mengangkat wajahnya. Ia tersenyum manis ketika menemukan Park Hana sedang berjalan kearahnya. Gadis itu duduk diatas mejanya dan menepuk kepalanya. “Bodoh! Kenapa tidak memberitahuku kalau kau pindah kelas?”

See Jung hanya menggeleng. “Aku bahkan tidak tahu kalau aku pindah kelas.”

Park Hana menyernyit lagi. Ia menoleh dan menatap sekelilingnya. Gila! Ini adalah kelas Luhan. “Gawat, aku harus pergi dulu sebelum Luhan datang.”

See Jung tertawa. Ia menahan tangan Park Hana. “Duduklah.”

Park Hana melepas tangan See Jung kasar. “Kau gila! Aku tidak mau bertemu dengannya.”

See Jung menggigit bibir bawahnya lalu mengangguk. “Kalau begitu pergilah.”

Park Hana mengangguk. Ia mencubit pipi See Jung sambil tersenyum. Aku akan kembali lagi jika tidak ada Luhan. Lalu pergi meninggalkan ruangan itu, See Jung hanya bisa tersenyum sambil menghela napas.

Park Hana baru saja keluar dari kelas See Jung dan baru akan melangkah lagi ketika beberapa orang menahannya. Ia mengangkat wajahnya dan mendapati kawanan Luhan. Gadis itu menghela napas dan menatap satu persatu teman-teman Luhan dengan kesal. “Jangan menghalangi jalanku.” Tegasnya.

Kyungsoo, Sehun, Minseok dan Chanyeol tertawa sambil membuka jalan untuk Park Hana. Gadis itu mendelik kearah Minseok dan Chanyeol lalu melangkah melewati empat lelaki itu.

Dan ngomong-ngomong, ia tak menemukan Xi Luhan diantara barisan kawan-kawan Minseok. Park Hana tertawa bahagia penuh kemenangan. Lelaki itu mungkin sakit dan tidak sekolah diawal kelas tiga. Hana lagi-lagi tertawa dalam hati, ia benar-benar bahagia sampai berharap bisa mengenyahkan Xi Luhan dari muka bumi ini.

Gadis itu sudah sampai didepan kelasnya, ketika ia mendengar ada keributan disana. Beberapa murid dari kelas lain juga turut menyaksikan perkelahian yang bahkan Hana tidak ketahui. Ini aneh, jarang sekali ada perkelahian seperti ini dikelas. Ia lalu menatap anak-anak yang menghalangi langkahnya dan mendengar suara Jeon Myeon—ketua kelasnya— berteriak.

“Awas.” Kata Park Hana pada salah satu murid lelaki yang menghelangi jalannya pintu masuk. Ia lalu menoleh untuk melihat siapa yang sudah berkelahi dipagi-pagi buta begini. Gadis itu membelak, benar-benar tidak percaya.

“Hey, Byun Baekhyun! Xi Luhan! Kataku berhenti.” Teriak Joon Myeon entah sudah keberapa kalinya.

Park Hana menatap dihadapannya tanpa berekspresi. Bagaimana Xi Luhan melemparkan tinjuan kewajah Baekhyun, membuat lelaki itu tersungkur dan menggerang kesakitan. “Yak,” Park Hana berujar, dengan suara yang agak ditinggikan. “Hentikan.”

Luhan menoleh, lelaki itu baru saja akan melemparkan tinjuan lagi, namun tertahan dan akhirnya benar-benar melepaskan Baekhyun. Sedangkan lelaki itu menggigit bibirnya menahan sakit. Park Hana menatap dua-duanya, masih tidak percaya. “Bodoh.” Lirih gadis itu. “Kalian pikir kalian hebat hanya dengan membuat kekacauan seperti ini?” lanjut gadis itu. Ia membalik, merasa ingin memukul sesuatu. Jelas kesal sekali melihat kejadian barusan.

 

GEE!

 

“Ibu lihat, kan, kekacauan yang dibuat Luhan?” Park Hana menatap Ibunya dengan geram. Sekarang gadis itu sudah ada diruangan Ibunya bekerja. “Ini adalah hari pertama sekolah.” Lanjut gadis itu. “Tidak seharusnya—“

“Apa itu kurang?” Direktur Yoo mengangkat wajahnya. Ia menatap mata putrinya tanpa rasa bersalah. “Apa aku harus membuat mereka lebih sadar lagi?”

“Jangan berani menyentuh teman-temanku.” Mata gadis itu sudah memerah. Ia menggigit bibir bawahnya. “Aku akan mengikuti apa katamu asal jangan sentuh teman-temanku.” Lanjut Hana.

“Jauhi mereka.” Direktur Yoo memainkan cursor komputernya. “Sebelum aku lebih jauh melakukan yang tidak kau inginkan.”

Park Hana membalik, meninggalkan ruangan itu tanpa berpamitan pada Ibunya. Sakit sekali. Orang tua nya selalu melakukan berbagai cara agar ia dan Baekhyun juga See Jung tidak berteman. Mereka selalu menghalalkan segala cara. Park Hana meringis, menahan tangisnya agar tidak keluar. Gadis itu sudah keluar dari koridor, menuju lapangan belakang sekolah yang sepi.

Park Hana duduk diatas bangku. Sikunya ditopang diatas pahanya, sedangkan telepak tangannya menutup seluruh bagian wajahnya. Ia menangis. Ia bahkan lelah mendapat perlakuan seperti ini oleh Ibunya. Apa yang sudah ia berikan pada orang tuanya rasanya tidak sebanding dengan apa yang orang tuanya berikan padanya. Semuanya jadi tidak adil ketika teman-temannya menjadi korban kebengisan orang tuanya. Apa salah Baekhyun dan See Jung?

“Ah, kau menggangguku.” Park Hana mendongak. Ia mendapati Xi Luhan dengan wajah bengkak dimana-mana. Lelaki itu sepertinya baru saja selesai tidur. Matanya terlihat sayu. “Kenapa lagi kau menangis?” Luhan sudah duduk disampingnya.

“Kau bertanya?” Park Hana mendelik. Astaga, ia menoleh lagi. “Yak, kenapa kau disini?”

“Aku mau menemani pacarku yang sedang menangis.”

“Tutup mulutmu!” ujar Hana sakratis. “Kubilang jangan pernah temui aku ketika sedang disekolah.” Lanjut gadis itu.

“Kenapa?” tanya Luhan masih bersikap biasa saja. “Ketemu atau tidak, sebentar lagi semua orang akan tahu kalau kita akan bertunangan.”

“Aku tidak suka.” Ujar Hana, tanpa menatap Luhan.

“Aku juga tidak suka.”

“Jangan ikuti aku.”

“Kenapa kau ge-er sekali?”

Hana menoleh dan menatap Luhan tajam. “Pergi dari sini.”

“Aku tidak mau.” Jawab Luhan, ia mendekatkan dirinya kearah Park Hana dan bersandar dipundak gadis itu, membuat gadis itu mendorong Luhan dan memprotes bahwa ia tidak suka Luhan seperti itu padanya. “Diamlah, Park Hana. Kau bahkan sering seperti ini dengan Baekhyun, kenapa aku yang notabennya pacarmu tidak kau izinkan?”

Hana terdiam. Ia melirik Luhan yang juga terdiam disampingnya. “Pelankan suaramu.”

“Aku tidak mau.” Hana meringis dan kembali mendorong Luhan. Namun, lelaki itu cepat-cepat menahan pinggang Hana. Memeluk gadis itu. “Jika kau pergi, aku benar-benar akan memberitahu mereka semua.”

Bola mata gadis itu membesar. Ia akhirnya diam sambil menatap lengan Luhan yang melingkar dipinggangnya. Kenapa ia mengikuti perintah lelaki itu? Bukankah ini adalah Park Hana. Seseorang yang tidak pernah diancam dan tak pantas diancam? Hana beranjak dari tempatnya, membuat Luhan meringis karena badannya terbanting diatas bangku. Gadis itu pergi begitu saja meninggalkannya, membuat Luhan mengulum senyum.

“Ternyata kau masih egois. Oh, benar-benar.” Luhan menggigit bibir bawahnya dan tertawa disana. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dengan malu-malu.

 

GEE!

 

Nice shot!” Kyungsoo merangkul pundak Luhan ketika mereka sedang berkumpul di bascamp—salah satu tempat favorit mereka.

Luhan tersenyum sambil menerima rangkulan tangan Kyungsoo.

“Dasar orang gila.” Chanyeol merutuk sambil duduk diatas kursi dibelakang Luhan dan Kyungsoo. Ia meraih bantal dan memeluknya. “Pagi-pagi begini untuk apa kau mengurus Park Hana?”

Luhan ikut duduk dihadapan Chanyeol, kursi yang berada disebrang kursi yang sudah diduduki Chanyeol. Ia mencomot satu anggur yang disimpan dinakas samping kursi itu. “Kalian akan tahu sebentar lagi.”

Pintu terbuka, ada Min Seok disana sambil membawa lima bubble tea kesukaan Sehun dan Luhan. “Coba kutebak, kalian sedang membicarakan orang gila yang sudah membuat kekacauan dihari pertama sekolah, benarkan?”

Kyungsoo tertawa sambil meraih bubble tea yang sudah disimpan Min Seok diatas kursi lalu dibagikannya pada Chanyeol dan Luhan. “Ini pertama kalinya ia memukul Baekhyun.” Kata Kyungsoo sambil melemparkan bubble tea kearah Luhan.

Luhan menangkapnya dengan baik. “Itu salah satu harapanku.” Jawabnya enteng sambil menatap Min Seok dengan senyum mengejek.

Min Seok mendelik kearah Luhan, ia menyeruput bubble tea nya dan duduk disamping Luhan. “Ngomong-ngomong, kemana Sehun?” tanya Min Seok setelah menyadari bahwa ia sama sekali tidak menemukan Sehun diruangan itu diikuti Luhan yang mimiknya berubah cemas, ikut-ikutan mencari dimana Sehun.

“Mungkin dia sedang membeli makanan.” Jawab Kyungsoo kelihatan tidak peduli.

 

GEE!

 

Oh Sehun sangat bersyukur sekali ada lelaki bernama Wu Yifan dihidupnya hari ini. Jadi, ketika ia akan membeli makanan ke supermarket dan mengambil seluruh makanan yang diperlukan seluruh teman-temannya di bascamp, ia nyaris saja dipermalukan oleh pemilik toko kalau Wu Yifan tidak menawarkan padanya untuk meminjam dulu uang lelaki itu. Bodoh, Sehun lupa jika ia meninggalkan dompetnya ditas. Tadi, ia tidak memasuki pelajaran Biologi dan malah pergi ke toilet dan meninggalkan dompetnya. Ia benar-benar lupa.

“Oh, jadi, kau pindah kesini karena ingin terus bersama Kakakmu?” Sehun memiringkan kepalanya sambil tertawa. Sedikit tersanjung. “Kalian begitu romantis.”

Yifan, yang ikut berjalan disampingnya tersenyum. “Kau tau Luhan?”

Langkah Sehun terhenti, ia menatap Yifan heran. “Kau tau Luhan darimana?”

Yifan menggaruk tengkuknya. “Siapa yang tak kenal Xi Luhan? Dia adalah pewaris Hansol.”

Sehun tertawa. Sebenarnya ia menertawai kebodohannya. “Aku lupa dia dari Beijing.” Sehun menggeleng. Kenapa hari ini aku begitu bodoh? Pikir Sehun.

“Apa Luhan sudah lama tinggal disini?”

Sehun mengangguk sambil bergumam. “Dia sudah disini sejak kecil.” Mereka lalu berbelok memasuki gedung sekolah. “Luhan tidak pernah menyukai Beijing, entah kenapa.”

Wu Yifan melirik Sehun diam-diam. “Namamu Sehun, kan?”

Sehun menoleh sambil mengangguk. “Kau Yifan? Ah, tentu saja aku tidak akan pernah lupa.” Jelas Sehun.

Yifan terkekeh. “Bisa kita bertemu lagi?” ia lalu memperhatikan sekitarnya. “Tapi ini rahasia.” Kata Yifan sambil memberi kartu namanya.

Sehun mengangguk tanpa curiga. “Tentu saja.” Ia menerima kartu nama Yifan dan menyimpannya disaku celana. “Aku akan menghubungimu sepulang sekolah.”

Wu Yifan mengangguk, diam-diam tersenyum meremehkan. “Baiklah, kita berpisah disini, aku harus kembali kekelas.” Ujar Yifan.

Sehun mengangguk. Ia mengangkat kantung makanannya dan menampilkan cengirannya. “Sekali lagi, terima kasih banyak.” Lalu akhirnya kembali melangkah meninggalkan Yifan yang sama sekali tidak mau beranjak dari tempatnya. Lelaki itu menatap punggung Sehun yang semakin menjauh. Aku juga senang mengenalmu, lelaki bodoh.

 

GEE!

 

“Oy,” Sehun membuka pintu basecamp nya dan menemukan ketiga temannya, kecuali Luhan. “Astaga, aku hampir mati.” Katanya sambil membanting tubuhnya diatas kursi dan menyimpan kantung makanannya diatas nakas.

Min Seok, Kyungsoo, dan Chanyeol menatap heran kearah anak itu, membuat Sehun menyadari jika tatapan yang dilemparkan teman-temannya membuat suasana jadi tidak begitu semenarik sebelum ia datang.

“Aku hampir mati karena tidak membawa dompet.” Lanjutnya lalu menghela napas panjang.

“Itu balasan karena kau membolos.” Ejek Min Seok sambil tertawa, diikuti oleh tawa Kyungsoo dan Chanyeol.

Yang diejek hanya mendengus sambil membuka kantung makanannya. Ia sudah lapar sekali sejak disupermarket, tapi rasa terimakasihnya pada murid baru bernama Wu Yifan itu lebih mendominasi dibanding rasa leparnya.

“Jadi, bagaimana bisa kau lolos dari supermarket?” tanya Chanyeol ikut mencari makanan di kantung makanan yang dibawa Sehun.

“Ada laki-laki yang menolongku.” Ujarnya sambil menyuap roti sebesar lengannya dan menyeruput sekotak susu. “Dia baik sekali, Ya Tuhan.”

Kyungsoo menoyor kepala Sehun, membuat laki-laki itu kesal sedangkan Kyungsoo hanya tertawa. “Kau begitu berlebihan ketika ada seseorang yang menolongmu.”

“Kukira tidak ada lagi yang akan menolongmu melihat betapa kejamnya Oh Sehun selama ini.” Min Seok mengambil cemilan yang diberikan Kyungsoo padanya, membukanya dan mulai memakannya.

Sehun mengangguk. “Dia murid baru, makanya tidak tahu.” Ujarnya sambil tertawa puas.

Chanyeol menatap Sehun sambil memiringkan kepalanya, laki-laki itu berhenti memakan makanannya. “Murid baru?” ia menatap Min Seok dan Kyungsoo, yang mimiknya sama sepertinya, heran. Lalu ia kembali menatap Sehun. “Siapa?”

Sehun menyuap rotinya lagi. “Namanya Wu Yifan, anak kelas 3C.”

 

GEE!

 

“Aku bersumpah! Dia bahkan sangat tampan.”

Park Hana mendengus sekali lagi. Ia merasa kesal sekali karena sejak tadi Yoon See Jung terus mengoceh soal murid baru yang sangat tampan, tinggi, dan juga pintar. Ia bahkan bisa menjawab apa yang diberikan oleh guru matematikanya. Tapi Park Hana tetap tidak peduli dan mengatakan bahwa wajar saja kalau anak baru itu bisa melakukannya. Ini Yohan, bukan sekolah yang hanya mengandalkan tentang seberapa kayanya seseorang, tapi nilai akademik juga perlu sekali diterapkan. Tapi, setelah itu Yoon See Jung tetap mengoceh, sedangkan Park Hana kembali tidak peduli dan tetap melanjutkan pekerjaannya membersihkan luka-luka diwajah Baekhyun.

“Dasar orang gila.” Tindas Park Hana kesal. Begitu See Jung selesai mengoceh dan pergi keluar dari basecamp mereka untuk mencari minum, barulah Park Hana bersuara lagi.

“Aku memang sudah gila.” Jawab Baekhyun menatap kedua mata gadis itu.

Sejak ia ditarik oleh gadis itu ke basecamp ini dan mengobati luka-lukanya, ia tidak berhenti menatap mata itu. Mata Park Hana yang cantik, yang jarang sekali diketahui oleh orang lain. Mata itu selalu menindas, tapi sayangnya Baekhyun sangat menyukainya. Ia menyukai Park Hana karena awal mula mata itu yang menatapnya lembut sekali. Baekhyun selalu meleleh jika mata itu menatapnya.

Park Hana tidak merespon sama sekali ucapan Baekhyun, gadis itu sebenarnya sibuk mencari bahan pembicaraan agar suasana tidak menjadi sekaku ini. Tapi, karena tidak kunjung menemukan sebuah bahan pembicaraan, gadis itu akhirnya hanya diam sambil menempelkan perban pada luka Baekhyun.

“Sudah selesai,” ia meraih tangan Baekhyun dan mengelus punggung tangan lelaki itu. “Jangan sekali-kali lagi melakukan ini.”

“Aku kesal sekali,” Baekhyun menunduk menatap tangan Hana yang membelai tangannya. “Jadi, aku melakukannya.”

“Kau harus percaya padaku,” Park Hana mencium punggung tangan Baekhyun dan tersenyum kearah lelaki itu ketika ia mengangkat wajahnya. “Ini akan baik-baik saja.”

Baekhyun balas tersenyum setelah sejak tadi ia menampilkan wajahnya yang begitu kesal sekali. Hatinya luluh lagi. “Kau tidak masuk dua jam pelajaran pertama dan dua jam kedua.” Ia mencubit pipi Park Hana. “Jika tidak mau masuk ke tempat rehabilitasi lagi, sekarang juga kau harus kekelas.”

Hana menggigit bibir bawahnya. Ia tidak mau, benar-benar tidak mau. “Aku—“

“Kau bilang, semuanya akan baik-baik saja?” Baekhyun menatap mata Park Hana. Ia membelai pipi gadis itu lalu mencubitnya. “Termasuk Xi Luhan yang ada dikelasmu, itu akan baik-baik juga.”

Park Hana mendengus. Lalu ia beranjak meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan sepatah kalimat pada lelaki itu. Baekhyun hanya menghela napas panjang. Ia menggigit bibir bawahnya. Frustasi. Ia benar-benar tidak ingin kehilangan gadis itu, apapun yang terjadi.

 

GEE!

 

Kesal. Park Hana kesal sekali karena Byun Baekhyun sama sekali tidak menahannya untuk tidak tinggal di basecamp sementara untuk menunggu kepindahan kelasnya. Ia akhirnya berjalan dikoridor kelas tiga menuju kelasnya dengan uring-uringan. Alih-alih ia mendengar suara See Jung yang memanggilnya. Ia membalik dan begitu terkejut karena seseorang sudah menjatuhkan air jus—yang baunya tidak ia sukai— pada bajunya. Park Hana menggeram dan ia mengadahkan wajahnya untuk melihat siapa yang berani-beraninya melakukan hal ini padanya.

“Kau?” ia membelak.

“Lama tidak bertemu, Park Hana.”

“Yak! Aku memanggilmu.” See Jung sudah berada dihadapannya. Lalu ia menoleh kearah lelaki dihadapan Hana, karena gadis itu tidak menggubris ucapannya. See Jung sama seperti Hana, membelak kaget. “Oh—“

Wu Yifan tersenyum kearah Yoon See Jung lalu kembali lagi menatap Park Hana yang masih terkejut sekali melihatnya. Lalu ia menatap seragam gadis itu. “Ups, maaf.” Ia tersenyum, sinis lalu pergi meninggalkan koridor itu, membuat suasana menjadi ramai karena ada seseorang yang berani sekali mempermalukan Park Hana didepan seluruh murid disekolah ini.

See Jung masih tidak percaya kalau laki-laki yang baru saja ia ceritakan pada Hana saat di basecamp tadi menyapa gadis itu dan rupanya Wu Yifan mengenal Hana. “Kau kenal dia?”

Park Hana menatap See Jung. Wajahnya begitu mengerikan dari biasanya dan See Jung tahu, setelah ini akan ada bencana besar. Park Hana marah sekali. Ia meninggalkan See Jung begitu saja.

“Apa yang kalian lihat?” kata Yoon See Jung dengan suara yang dinaikkan ketika melihat segerombolan murid tengah berkumpul disekelilingnya. “Pergilah kekelas masing-masing dan jangan coba-coba untuk mencari tahu masalah ini.” Lanjutnya lalu pergi dari koridor itu, mengikuti kemana Park Hana akan pergi.

Park Hana melangkah memasuki koridor loker dan membuka lokernya. Mimiknya berubah terkejut ketika tidak menemukan seragam ganti yang sama untuk mengganti seragam yang sekarang sudah kotor sekali. Gadis itu menggerang kesal lalu meraih ponselnya sambil berjalan keluar gedung sekolah. “Ambilkan baju untukku sekarang juga.”

“Nona.” Panggil Pak Ahn. Park Hana mengangkat wajahnya dan meraih kantung yang diberikan pengawalnya itu. Ia begitu saja melenggang pergi menuju kamar mandi dan mengganti pakaiannya.

Park Hana menghela napas dan kembali mengingat kejadian yang baru saja dialaminya dikoridor kelas dua tadi. Jadi, namanya Wu Yifan? See Jung mengatakan kalau anak baru itu bernama Wu Yifan. Kenapa Hana sudah lupa dengan nama anak itu? Gadis itu menghela napas, Yifan tentu saja bukan orang yang pantas ia pikirkan. Tapi, sekarang berbeda sekali. Laki-laki itu pernah mengancamnya dulu dan sekarang ia membuktikan ucapannya. Bagaimana Hana tidak khawatir tentang dirinya sendiri? Wu Yifan mungkin saja bukan lelaki baik. Hana menghela napas lagi, begitu cemas. Lalu akhirnya meninggalkan tempat itu, ia baru ingat kalau harus masuk kelas.

 

GEE!

 

Luhan menyimpan kapur yang ia pakai setelah menuliskan jawaban atas soal yang diberikan oleh guru fisikanya. Pintu terbuka dan ia menghentikan langkahnya ketika melihat siapa yang baru saja memasuki kelas. Lelaki itu menyunggingkan senyum meremehkan dan kembali ketempat duduknya.

Park Hana hanya memutar bola matanya lalu duduk ditempatnya. Ia menampilkan wajah tanpa dosa sambil melihat apa saja isi materi yang sudah diterangkan Guru Cha.

“Park Hana, kau bisa mengerjakan kedepan?”

Park Hana mengangkat wajahnya. Ia menghela napas, takut, lalu melirik kearah samping, dimana Luhan duduk. Lelaki itu memperlihatkan senyum menantang.

“Aku akan menjawabnya dihari lain.” Jawab Hana akhirnya. “Apa Saem tidak lihat? Aku baru saja masuk.” Lanjutnya.

Guru Cha hanya menghela napas, kesal, lalu menyuruh murid membuka halaman selanjutnya.

“Payah.” Gertak Luhan yang terdengar begitu jelas ditelinganya. Gadis itu menoleh dan memelototi lelaki itu. Yang dipelototi hanya tertawa, mengejek gadis itu.

Diperlakukan seperti itu, Hana akhirnya menyerah karena takut mengganggu murid lain. Ia membuka bukunya dan menatap begitu banyak materi dan soal-soal disana. Ini mungkin tidak akan begitu sulit jika nanti ia membuat janji dengan guru privatnya untuk membahas kembali materi pertama disemester lima ini.

Park Hana menghela napas. Xi Luhan mungkin sudah bisa mengerjakan sepuluh soal sedangkan ia belum mengerti apa-apa tentang materi yang sedang disampaikan oleh Guru Cha. Ucapan yang dilontarkan oleh guru berparas cantik itu hanya menjadi angin lalu baginya. Gadis itu meringis, ia benar-benar tidak mengerti.

 

GEE!

 

“Kerjakan baik-baik.” Laki-laki itu menepuk pundak pria dihadapannya. Pelan-pelan ia berbicara didalam ruangan kecil itu agar tidak ada satupun orang yang mendengar mereka. “Ini adalah kesempatan kita.” Lanjutnya.

“Byul Hal adalah dendam kita sejak lama.” Lanjutnya.

Pria itu mengangguk. “Kau juga harus berhati-hati, Yixing.”

“Pasti.” Ia kembali menepuk pundaknya. “Semoga kita beruntung, Paman.” Lalu akhirnya ia pergi meninggalkan ruangan itu, diikuti pria yang berada dihadapannya.

 

GEE!

 

Ruangan itu terdiri dari meja yang panjang dari ujung ke ujung ruangan, juga kursi yang banyak sekali. Dihadapan meja itu ada satu layar yang besar, yang biasanya dipakai untuk menyampaikan berbagai persentasi dan isi-isi rapat. Selebihnya hanya ada nakas dan AC.

Beberapa menit yang lalu, ruangan itu begitu sepi. Tapi sekarang, semua kursi sudah ditempati oleh para pengusaha-pengusaha bertitle besar untuk Negara mereka. Hari ini, Yohan memutuskan untuk mulai bekerja sama kembali dengan Hoansu. Perusahaan itu terus menerus meminta rekomendasi dari berbagai perusahaan lain agar Yohan mau menerima Hoansu dan melupakan masa lalu.

Byul Hal sudah memikirkan matang-matang persoalan ini. Tentang Hoansu yang ingin sekali menyatukan kembali tali persaudaraan mereka yang sudah terputus selama sepuluh tahun. Byul Hal menghela napas. Bukannya tidak ingin bekerja sama lagi seperti dulu, tapi Hoansu sudah membuat Yohan diambang kematian dulu dan ia tidak ingin hal itu terjadi lagi.

Ia masih ingat sekali, kenangan-kenangan buruk yang diciptakan Hoansu untuk perusahaannya. Bagaimana perusahaan itu mengambil sedikit demi sedikit karyawannya, menghanguskan seluruh kepercayaan masyarakat dengan menipu banyak konsumen, dan juga mematikan seluruh tali perhubungan dengan berbagai perusahaan ternama. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang cepat merubah Yohan menjadi sedamai seperti sekarang. Byul Hal kembali menghela napas. Sebenarnya ini adalah hal yang paling berat sekali.

Akhirnya, dengan berat hati, ia menerima uluran tangan Lei Kuan Yin dan tersenyum. Kemudian suara tepuk tangan bergumuruh keras sekali diruangan itu.

 

GEE!

 

Park Hana baru keluar dari ruangan kelasnya—saat bel tanda pulang sekolah sudah berbunyi lima menit yang lalu—ketika ia menemukan Wu Yifan sedang berdiri diambang pintu dengan tangan dilipat didepan dada dan senyum menjijikan terpampang diwajahnya. Hana membelak, ia menoleh kesamping, masih ada tas Luhan, itu artinya lelaki itu masih akan kembali kekelas.

“Apa?”

Yifan tersenyum manis. “Aku tidak menyangka kita bisa bertemu disini.” Lelaki itu melangkah mendekati Hana. Sedangkan gadis itu merengsek mundur, terlalu ngeri melihat laki-laki dihadapannya.

“Tidak menyangka? Bukannya kau yang sengaja datang kesini?” Hana merengut lalu kembali bersuara saat menemukan Yifan yang tidak mau berhenti melangkah kearahnya. “Menjauh dariku, Brengsek!” tukas Park Hana keras.

Wu Yifan tertawa. “Aku bukan orang yang takut padamu, asal kau ingat itu!”

Park Hana berhenti melangkah. Jika ia kembali melanjutkan langkahnya, Yifan akan menghimpitnya diantara dinding. Dan jika Luhan melihatnya, ini akan menjadi hal yang buruk jika melihat kondisi laki-laki itu yang babak belur karena sudah mencari masalah dengan Baekhyun tadi pagi.

“Apa? Apa yang kau cari dariku?”

Yifan tertawa, ia duduk diatas meja belajar. Ia menunduk kemudian mengangkat wajahnya dan menatap Hana. “Aku hanya mencari seorang teman.”

Hana balas menatap Yifan. “Aku bukan orang yang pantas menjadi kawanmu.” Lalu berjalan melewati lelaki itu, ia meraih tasnya dan akan meninggalkan ruangan itu ketika Yifan menahan pergelangan tangannya. “Lepaskan.” Bentak Hana keras. Ia menatap Yifan dengan pandangan marah sekali. “Berani sekali kau menyentuhku!” lanjutnya.

“Kalau begitu, Luhan akan menjadi temanku.” Kata Yifan sambil melepaskan tangan gadis itu.

Park Hana membelak. Ia menatap Yifan. “Sebenarnya apa maumu, huh?”

Yifan mendekat kearah Park Hana, ia membelai pipi gadis itu, membuat Hana menepisnya dan menampar Yifan. “Jangan pernah menyentuhku.”

Yifan mundur. Luhan sudah ada diambang pintu.

“Apa yang kalian lakukan?” tanya Luhan dengan suara datar, seperti sebuah senjata tajam yang siap mengoyak Yifan kapanpun ia mau.

Hana menoleh kearah ambang pintu, lalu disusul Yifan. Mereka berdua menemukan wajah Luhan yang begitu merah marah. Luhan melangkah kearah Yifan, menghalangi Park Hana. “Kau bahkan sudah tahu kalau Hana akan menolakmu, sekarang pergi dan jangan dekati dia.”

Yifan tersenyum lalu mengangkat kedua tangannya. “Aku mengerti,” ia menatap Park Hana yang terlihat sedang bersembunyi dibalik badan Luhan. “Park Hana, aku pergi.” Lalu ia tersenyum manis. “Tapi, aku akan kembali.” Dan berjalan kearah pintu, menutup pintu itu dan berlalu dengan cepat.

“Kau tahu siapa dia?” Park Hana rupanya ketakutan. Suara gadis itu bergetar dibalik punggung Luhan.

Luhan membalik lalu bergumam. Ia mengangkat wajah Hana dan menatap gadis itu. “Jangan pernah dekati dia. Mulai sekarang, aku akan menyuruh See Jung agar terus bersamamu.”

Park Hana balas menatap Luhan. Ia mendorong lelaki itu. “Bodoh, sekarang kau bahkan sadar apa fungsi See Jung selain menjadi temanku.”

Luhan menatap kesal kearah Park Hana.

Park Hana balas menatap kesal kearah Luhan. “Kau pindah kekelas ini, apa sebenarnya maksudmu?” Hana menggerutu. “Kau bahkan tidak berguna sama sekali.”

Luhan membelak. Ia meraih tangan Hana dan menarik gadis itu, membuat Hana memekik keras dan meronta agar tangannya dilepaskan. “Kau bahkan tidak menyadari jika tatapan Yifan terus terarah pada bibirmu.”

Park Hana diam. Tidak lagi protes. Ia menatap mata Luhan, mencari dimana kesalahan-kesalahan yang dilakukan lelaki itu. Tapi, Luhan benar. Mata itu mengatakan benar padanya. Hana tidak bisa memungkiri jika ia terhipnotis akan mata itu. Dan sekarang ia menyadari wajah Luhan yang mendekat kearahnya, Hana membelak dan mendorong lelaki itu sekuat tenaga.

“Mungkin aku salah!” ia bersuara tinggi lagi. “Seharusnya kau yang harus aku jauhi.” Kata Hana lalu meninggalkan kelas itu, membuat Luhan menatap gadis itu tanpa mengerjap. Terlalu kaget akan omongan gamblang gadis itu.

Luhan hanya bisa diam ditempatnya ketika gadis itu meninggalkannya. Mungkin aku salah? Luhan menyerap baik-baik kalimat itu. Seharusnya kau yang harus aku jauhi? Lelaki itu menyeringai. Jika Hana menjauhinya, rasanya gadis itu akan sulit melakukannya mengingat bagaimana Luhan terus mendakatinya tiap waktu. Luhan mendecak sebal. Bisa-bisanya gadis itu bersuara tinggi dihadapan wajahnya.

Luhan berjalan kearah bangkunya dan menata buku-bukunya lalu dimasukannya kedalam tas kemudian pergi meninggalkan ruangan kelasnya.

 

GEE!

 

Park Hana sudah marah sekali saat ia mulai menaiki mobilnya yang dikendarai oleh Pak Ahn. Gadis itu tidak menyangka sekali dengan apa yang terjadi hari ini. Pagi-pagi sekali ia menemukan Baekhyun dan Luhan yang tengah babak belur, lalu di jam istirahat ia menemukan Wu Yifan, temannya saat ia berada dipusat rehabilitasi.

“Tolong cari tahu tentang lelaki bernama Wu Yifan.” Ujar Hana pada Pak Ahn. “Dia membuatku kesal sekali hari ini.”

Pak Ahn mengangguk disusul dengan gumaman.

Suasana kembali diam dan Hana hanya memperhatikan jalanan kota Seoul yang ramai sekali dimalam hari. Gadis itu menghela napas, ia bahkan tidak menyadari kalau hari sudah larut. Semua hal yang ia lakukan hari ini membuat mood nya jelek sekali dan ini diawali oleh kelakuan Xi Luhan. Sejak ia masuk pusat rehabilitasi itu dan bertemu dengan Luhan, ia pikir benar yang selalu ia pikirkan sejak dulu untuk menjauhi lelaki itu. Luhan membuatnya gila, benar-benar gila.

Sejak pertama kali masuk sekolah, Luhan menjadi pusat perhatian kedua orang-orang disekolahnya. Apalagi setelah mengetahui bahwa lelaki itu merupakan anak pewaris dari Hansol, perusahaan terbesar di China. Semua orang mulai memperhatikan tingkah dan gerak-gerik Luhan, tapi walau begitu, Hana bersyukur, setidaknya ada sedikit pengalihan yang membuatnya sedikit lebih tenang.

Mobil sudah berhenti dihalaman rumah, membuat pikiran gadis itu teralihkan. Ia cepat-cepat keluar dari mobilnya dan memasuki rumahnya yang besar. Dipintu depan, pelayan sudah menyapanya, satu pelayan menyerahkan nampan kearah Park Hana agar gadis itu menyimpan tasnya disana.

“Ibu sudah pulang?” tanyanya pada Bibi Geum—seorang wanita tua yang sudah menjadi pelayan dirumah ini sejak gadis itu kecil.

“Sudah Nona, beliau sedang beristirahat diruangannya.” Jawab Bibi Geum.

Hana hanya mengangguk sambil berjalan menaiki anak tangga. Tapi, kemudian berhenti ketika ia mengingat sesuatu, dibalikan badannya menghadap Bibi Geum. “Tolong panggil Guru Privatku sekarang, aku harus mengerjakan sebuah soal yang tidak aku mengerti.”

Bibi Geum menunduk, menerima perintah gadis itu lalu wanita itu menoleh kebelakang dan berbisik pada satu pelayan tentang satu perintah yang dibuat oleh Hana.

Park Hana memasuki kamarnya dan langsung membanting tubuhnya diatas tempat tidur, ia benar-benar merasa kelelahan.

“Air panasnya sudah siap Nona.” Ujar salah satu pelayan padanya.

Hana hanya bergumam lalu beranjak dari tempat tidurnya, meninggalkan ruangan tidur dan memasuki kamar mandinya.

 

GEE!

 

Xi Luhan sedang berada diruang kerjanya, duduk disana sambil mengerjakan soal-soal fisika yang dikiranya sulit. Sudah lebih dari sejam ia terus bergelut dengan buku besar, pensil, dan kalkulatornya. Kadang-kadang ia rehat sejenak untuk menghilangkan penatnya, baru kemudian menulis lagi.

“Tuan,” Luhan mengangkat wajahnya, ia menyimpan pensilnya dan menatap Pak Lim. “Makanan anda sudah siap.”

Luhan menghela napas, ia beranjak dari tempatnya dengan ogah-ogahan. “Ini yang tidak aku suka.” Ia mulai meracau, lelaki itu berjalan mengikuti Pak Lim, pergi meninggalkan ruangannya. “Kenapa makanannya tidak dibawa kekamarku saja, sih?” tanyanya kesal.

“Kenapa harus dibawa kekamarmu kalau ternyata dirumah ini sudah tersedia ruang makan?”

Luhan mengangkat wajahnya, agak terkejut melihat Ayahnya yang sudah duduk diatas meja sambil menyimpan koran yang habis ia baca diatas nampan yang dibawa oleh pelayan.

“Sejak kapan Appa datang?”

Xi Youlan mulai menyuap makanannya. “Sejam yang lalu.” Jawabnya singkat.

Luhan mengangguk. Ia duduk disalah satu kursi disana, disamping kanan tempat Ayahnya duduk.

“Apa kau menikmati hari pertama sekolahmu?”

“Tidak juga.” Jawab Luhan. Ia mulai mencicipi sup Seolleongtang kesukaannya. Lelaki itu bergumam kecil sambil tersenyum tipis.

“Kau berkelahi?”

Luhan menghentikan acara mengunyahnya. Walau ia tidak sedang menatap Ayahnya sekarang, ia bisa merasakan kalau pria itu sudah menatapnya tajam. Luhan meringis kecil, ini alasannya ia tidak suka Ayahnya datang. Dan ngomong-ngomong, kenapa Ayahnya selalu datang diwaktu yang tidak tepat baginya?

“Sehun memukul wajahku karena rindu.” Luhan berkata gugup. Berbohong memang bukan hal yang benar sama sekali, tapi setidaknya ia harus berbohong demi dirinya, demi keselamatannya.

Xi Youlan hanya mengangguk-nganggukan kepalanya. Pria itu diam-diam masih mengawasi perilaku anak lelaki satu-satunya. “Oh, bagaimana dengan Hana?”

Luhan meraih air mineral dan meminumnya, lalu ia menoleh kearah Ayahnya dan tersenyum. “Kami baik-baik saja.”

“Kalau baik-baik saja, tidak mungkin kau mengerjakan soal sendiri dikamar.” Komentar Ayahnya.

Luhan terdiam. Apakah harus seperti itu?

“Kami tidak begitu baik dalam hal mengerjakan soal bersama-sama.” Ujar Luhan. Park Hana adalah rivalnya, bagaimana mungkin ia mau bekerja sama dengan gadis itu? Luhan berdecak. Mimpimu saja, gumamnya.

“Aku tidak mau tahu, pokoknya kau harus datang kerumahnya setelah makan malammu selesai.” Ujar Xi Youlan dengan nada suara yang ditekankan. Ia meminum tehnya lalu beranjak dari tempatnya, meninggalkan ruangan makan.

Luhan menghela napas panjang dan membanting sendoknya. Ia bersandar disandaran kursi dan menatap semua pelayan yang sedang menunduk dihadapannya. “Apa sebagai pacar yang baik aku harus seperti itu?” tanyanya pada seluruh pelayan didepannya.

Tapi, seluruh pelayan itu hanya diam, sama sekali tidak mengerti kepada siapa Tuan mereka bertanya.

Yak! Aku bertanya pada kalian.” Kata Luhan sambil berteriak dan menendang meja.

Pelayan-pelayan itu membungkuk. “Ya, Tuan.” Seru mereka semua.

Yang diberi jawaban langsung mendengus. “Aku kesal sekali.” Ujarnya sambil beranjak dari tempatnya.

Dikamar, Luhan mulai mengemas buku-bukunya. Ia sama sekali tidak mengerti Ayahnya, orang tua itu bahkan tahu kalau ia dan Hana bermusuhan. Lalu, kenapa juga ia harus dijodohkan?

“Ah, aku juga harus membawa ini.” Katanya saat menemukan buku rumus fisikanya. Ia baru teringat bahwa Hana sama sekali belum mengerti apa-apa tentang materi yang disampaikan oleh Guru Cha tadi siang. “Sekalian aku akan mengejeknya habis-habisan.” Lanjutnya sambil menggerling jahil.

Ia sudah siap dengan apa yang ia perlukan, Luhan meninggalkan kamarnya dan mulai menuruni tangga, melewati satu persatu anak tangga untuk sampai dilantai dasar.

“Apa perlu kami antar?” tawar Pak Lim.

Luhan menoleh pada Pak Lim. “Tidak perlu, aku akan mengendarainya sendiri. Lagipula ini masih jam sembilan. Aku akan segera menghubungimu secepatnya kalau memang aku sudah tidak kuat untuk mengendarai.” Jelasnya lalu pergi keluar rumahnya dan mengendarai mobilnya.

 

GEE!

 

Park Hana baru saja selesai mandi. Ia masih mengeringkan rambutnya ketika ia mendengar bunyi gaduh diluar kamarnya. Alis Hana terangkat tinggi, ia berusaha terfokus untuk mendengar suara-suara gaduh itu dan melotot kearah pintu. Kakinya bergerak menuju arah pintu dan tangannya terangkat membuka knop pintu. Ketika pintu sudah dibuka, ia menemukan beberapa pelayan didepan pintu sambil menunduk. Sementara dilantai bawah, suara-suara gaduh itu semakin nyaring, membuat telinganya sakit.

Kini Hana berjalan kebawah, diikuti pelayan yang tadi menjaga didepan kamarnya. Matanya terbelalak menatap Ayahnya yang sudah menghempaskan barang-barang berbelah keatas lantai dengan Ibunya yang sudah terduduk diatas lantai sambil mengisak.

Appa!” teriaknya dengan suara tercekat.

Ayahnya tidak bergeming mendengarkan suara Hana. Pria itu mengangkat satu lagi vas bunga besar dan siap dilemparkan kearah Ibunya.

Hana sudah menjerit tertahan, gadis itu ingin menahan Ayahnya, tapi kakinya serasa ditancapkan oleh paku besar agar tidak bisa kemana-mana.

Sementara itu, Luhan datang dari arah ruang makan sudah menarik Yoo Lahim pergi dari tempatnya sehingga vas bunga besar yang dilemparkan Ayahnya tidak mengenai wanita itu. Luhan cepat-cepat berlari kearah Park Byul Hal dan memukul keras pundak pria itu sehingga tidak sadarkan diri dipelukannya.

Hana baru bisa menghela napas ketika melihat semua yang terjadi dihadapannya. Gadis itu tiba-tiba tidak sadarkan diri dirangkulan tangan para pelayan yang sejak tadi berjaga dibelakang punggung gadis itu.

“Semuanya tolong bereskan ini.” Ujar Luhan sambil menarik tubuh besar Byul Hal menuju kamarnya.

Yoo Lahim yang setengah sadar membantu Luhan mengangkat suaminya. “Terima kasih, Lu.”

Luhan hanya membalasnya dengan tersenyum tipis. Ia juga tidak menduga bahwa perihal seperti ini akan ada dalam sebuah keluarga harmonis seperti keluarga Park. Ia bahkan tidak bisa membayangkan apa jadinya jika ia tidak ada disana tadi, jika ia terlambat datang tadi.

Park Byul Hal masih tidak sadarkan diri diatas tempat tidurnya. Luhan berdiri disisi tempat tidur sambil menatap pilu pria itu. “Apakah ada masalah?” tanyanya pada Yoo Lahim yang sedang duduk disisi tempat tidur sambil menatap suaminya.

Yoo Lahim menghembuskan napasnya panjang. “Yohan bekerja sama lagi dengan Hoansu.”

Luhan menyernyit. “Hoansu?” ia tidak mengerti sama sekali. Tapi, yang jelas, ia bisa menebak bahwa hubungan antara mereka tidak terjalin dengan baik.

“Pergilah kekamar Hana. Dia pasti cemas.” Saran Yoo Lahim setelah mereka terdiam beberapa detik.

Luhan mengangguk, ia menunduk dan segera meninggalkan ruangan itu. Ibu Direktur cukup mengerti juga kalau ia sudah penat sekali dikamar itu. Luhan hanya bisa menghela napas lega.

Ketika Luhan masuk kedalam kamar Hana, ia melihat gadis itu sedang berbaring diatas tempat tidurnya dengan pelayan yang mengelilinginya.

Begitu Luhan berjalan perlahan kearah ranjang, para pelayan seakan sudah mengerti dan segera meninggalkan ruangan itu. Luhan mengatupkan bibirnya, ia begitu gugup sekali melihat gadis itu berbaring lemas diatas tempat tidur seperti sekarang.

“Apa kau benar-benar tidur?” Luhan bersuara ketika lelaki itu sudah duduk disisi tempat tidur.

Hana membuka matanya, ia melirik kearah Luhan dan mendelik. “Aku kesal sekali.” Ujarnya berusaha untuk merubah posisinya menjadi duduk dan bersandar dibantal-bantal, dibelakang punggungnya.

Luhan memiringkan kepalanya. Apakah gadis itu kesal karena kedatangannya?

“Karena aku?”

Hana menatap Luhan. “Karenamu juga, tapi aku lebih kesal karena tidak diperbolehkan melihat Appa.”

Luhan menatap Park Hana dan berdecak. “Aku sama sekali tidak ada gunanya ternyata.” Lalu beranjak dari tempatnya.

“Apa maksudmu datang?” tanya Hana cepat-cepat. Luhan menoleh, menatap Hana. Tapi, gadis itu segera mengalihkan pandangannya. “Kau tidak perlu datang tiap hari kesini.”

Luhan membalikan tubuhnya, ia membuang bukunya kehadapan Park Hana. “Sebenarnya aku tidak peduli apakah kau harus tau tentang apa yang diajarkan oleh Guru Cha tadi siang, tapi karena kau sekarang calon tunanganku, jadi kau harus tau.” Luhan menggigit bibirnya karena Hana terus menatap kearahnya, membuatnya benar-benar gugup. “Aku tidak mau punya tunangan yang tidak tahu apa-apa.”

Hana mendecak, ia meraih buku-buku Luhan dan membukanya. Gadis itu menelan ludahnya. Xi Luhan, laki-laki itu mengapa membuatnya kehilangan kata-kata sekarang. Ia tadi hampir mau membalas ucapan lelaki itu, tapi begitu Luhan mengatakan bahwa lelaki itu tidak ingin memiliki tunangan yang tidak tahu apa-apa, kata-kata gadis itu seakan-akan mengambang dilangit-langit tenggorokannya. Dan, tentang lelaki itu yang sudah menolong keluarganya tadi, apakah ia harus berterima kasih?

Park Hana menghela napas, ia beranjak dari tempat tidurnya dan memakai sendal rumahnya. Ia meraih buku-bukunya yang ada dilaci belajarnya lalu berjalan kearah pintu.

“Kau mau kemana?” tanya Luhan yang keheranan melihat tingkah Hana.

Hana sudah membuka knop pintunya, tapi ditutup kembali dengan agak keras. “Ke perpustakaan.” Jawabnya sambil menatap Luhan tajam.

Luhan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Gadis itu benar-benar lucu sekali. “Oh, jadi kita akan belajar diperpustakaan? Bukan diranjangmu?” tanya Luhan sambil menahan senyumnya.

Hana mendelik kearah lelaki itu ketika beberapa pelayan yang berada disekitar mereka mendengar ucapan Luhan dan tertawa tertahan. “Terserah apa katamu saja.”

 

TBC

Halo, makasih banyak sudah membaca GEE part 4. komentar dan saran tentu sangat membantu sekali dan semoga kalian belum puas dengan part 5 ini. mohon maaf juga karena keterlambatannya. Saya harap kalian suka dengan part ini dan mau menunggu untuk part selanjutnya. Dan tentu saja, saya membuat alur cerita dengan semestinya, mungkin bagi kalian yang tidak mengerti dengan alur cerita ini, karena kalian hanya membaca bagian yang kalian suka saja, seperti momen Hana dan Luhan. Tolong, saya tidak membuat cerita tanpa tujuan dan akhir yang menarik, jadi bacalah seluruh cerita dan saya yakin kalian akan mengerti.
Xoxo,
sanacamberlain

33 responses to “GEE! [Part 5]

  1. Author pertama maaf karen aku baru comment di part ini soalnya dalam sehari aku baca part1-part5,jadi kupikir nulis commentnya disini aja.
    Ceritanya makin seru dan rumit aku suka terus itu Yifan sama Yixing mau bales dendam sama bapaknya Hana?
    Apa Luhan sama Hana akan akur?
    Ceritanya banyak rahasia bikin penasaran
    Okedeh ditunggu part 6 nya ya thor

  2. thor kok lama banget sih ngepost chapter selanjutnya…
    udah 8 bulan nihh nunggu chapter selanjutnya…
    #authornimhwaiting#keepwriteyathor..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s