Sunny Rain (bagian 2)

sunnyrain

Sunny Rain

Author: Gee Kazuko

Cast(s): Byun Baekhyun / OCs

Genre: AU, Fluff, Friendship | Length: Chaptered | Rating: PG-13

Disclaimer: I don’t own Byun Baekhyun character. This story copyright (c) 2014 by Gee Kazuko, all rights reserved.

Happy reading~!

prev:  bagian 1

__________________________________

 

Tokyo, pertama kalinya dan aku… sendirian.

Aku tak pernah berpikir tentang ini sebelumnya. Kenapa aku memilih pergi ke negeri yang bahkan tak kukuasai penuh bahasanya. Sudah terlalu sering aku memperdebatkan hal yang sama dengan ayah. Tentang alasanku menunda ujian masuk universitas; untuk bisa pergi ke Jepang.

“Apa yang kau cari di sana? Liburanmu sudah sangat panjang.” Dengan wajah serius, ayahku mengalihkan perhatiannya dari koran yang tengah dibacanya, dan memandangku lekat-lekat. Sejak awal aku sudah berpikir akan dicap tak berguna mengenai keputusan ini. Mengorbankan ujian masuk universitas demi seseorang yang tiba-tiba menghilang di hari kelulusan sekolah.

“Aku akan menikah. Kau harus melupakanku.” Aku separuh tak percaya ia mengatakan kabar burung yang kuabaikan berhari-hari. Mana mungkin aku bisa melupakannya setelah kami pernah menghabiskan waktu bersama.

Aku dan dia sejak dulu memang tidak ditakdirkan untuk bisa menjalin hubungan lebih dari kami bayangkan. Tiap kali aku pergi ke ruang guru, dia selalu menunduk sibuk memeriksa tugas dari beberapa kelas. Tapi tak pernah kuabaikan tentang itu, karena mungkin ia hanya tak melihatku. Kulambaikan tanganku, tidak untuk serta merta melewati garis kesopanan di ruangan itu.

“Taengoo!!” Entah suaraku yang kelewat nyaring atau aku salah memanggilnya begitu. Hampir semua orang menelik ke arah kami. Mereka tidak salah, hanya saja aku tidak mengerti bagaimana memanggilnya dengan benar. Sementara kami sudah sering berbagi panggilan demikian.

Saat aku bicara tentangnya, ayah menilikku sesaat dari kacamata bacanya. “Apa kau benar-benar punya teman di Jepang?” Aku sudah menduga, beliau tak akan memercayaiku.

“Calon suaminya tinggal di Tokyo. Dan mereka memilih menggelar pernikahan di sana.”

Saat mengatakan itu aku tidak menaruh harapan penuh pada ayah. Karena aku yakin ayah tidak akan memercayaiku sekali pun aku berkata jujur. Menilik dilain sisi beliau menyayangkan aku harus mengorbankan ujian untuk hadir ke sana.

“Jika aku tak datang, aku akan sangat menyayangkan tidak memberitahunya bahwa aku mendapat nilai terbaik di ujian.”

Seketika ayah tertawa sengau.

“Tapi itu sudah basi.” Memang sih, ujian kelulusanku sudah lama berlalu, tapi aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku serius belajar.

“Apa si Jangkung akan ikut denganmu?” Aku meringis, menyadari sesuatu bahwa Park Chanyeol tak mungkin kulibatkan dalam hal ini. Bisa saja dia akan mengejekku habis-habisan karena melakukan hal yang tak mungkin dilakukan oleh seorang lelaki sepertiku. Jatuh cinta, itu bukan gayaku. Dan berjuang mati-matian untuk menyeberangi lautan demi cinta itu adalah hal terbodoh yang dilakukan. Ia benar-benar menjaga janjinya sejak kecil. Kami tidak akan lemah hanya karena wanita.

“Chanyeol tidak mengenalnya,” aku berbohong, “kami kenal di kelas bahasa, dan ia membantuku banyak untuk ujian.” Ada jeda yang lama sebelum ayah berdeham. Aku menunduk, berharap, separuh tidak yakin.

Ah, mengapa ayah tidak segera bicara.

“Kau begitu dekat dengannya?” Aku mengangguk lemah, dan melihat ayahku menaruh korannya.

“Kapan pesta pernikahannya digelar?” Wajahku terangkat, mendapat sinyal yang tidak salah kuduga lagi.

12 Juni. Tapi aku memilih untuk datang dua hari sebelum acara. Mengingat bagaimana aku harus berjuang lagi usai merengek pada Kepala Sekolah untuk mengetahui di mana alamat yang bisa kutuju saat tiba di sayap utara terminal satu Narita Airport. Dan aku harus menerima hasilnya bahwa Kepala Sekolah pun tak tahu apa-apa selain alamat rumah yang ditinggalkan lima tahun lalu sebelum ia pulang ke Seoul.

Aku tak menyangka ia harus pergi sejauh ini.

***

 

Hujan sudah berhenti beberapa menit lalu, menyisakan rintik-rintik kecil yang membuat kepala pusing di saat seperti ini. Sudah lebih dari sepuluh kali aku berbalik kesana-kemari, mengingat rute yang ditunjukan seorang gadis Jepang yang tak sengaja membuka pintu kala aku menemukan teru teru bozu di depan rumahnya. Ia yang salah, atau aku yang lupa dengan urutan rutenya.

“Lurus … lalu kanan, toko bahan makanan. Menyeberang … dan belok kanan. Toko roti … sebelah kiri….”

“… di sebelahnya ada gang kecil menuju alamat ini,” suara alto gadis itu menyambar di pikiranku.

Ada sebuah bangunan putih pucat berkanopi hijau. Di kaca etalase tertulis “Japonaise Café & Bakery” yang terekspos besar-besar. Perlu kupastikan berkali-kali. Aku melongok ke sebelah toko, hanya ada pepohonan dan semak belukar di tepi trotoar. Wajahku kaku menyadari sesuatu yang aneh di dalam toko. Seorang pelayang di dalam tampak tengah menilikku seperti seorang penguntit. Gawat! Sudah hampir tiga puluh menit aku mondar-mandir di depan tokonya.

Aku membungkuk sedang dan tersenyum polos sambil lalu. Ia meringis sejadi-jadinya. Langkahku segera menghindari besar-besar, menggepit payung dengan satu tangan, membuka alamat dan menoleh sebelah kiriku sekali lagi.

“Melewati sebuah toko roti, aku harus bergerak ke kiri….”

Kali ini aku sudah cukup memastikan.

Tidak ada jalan kecil di sini!

“Apakah gadis itu menipuku?” Aku menghela napas. Sepertinya aku benar-benar harus berbalik sekarang. Bertandang ke “Japonaise Café & Bakery” adalah ide yang tercetus di kala siang hari yang merepotkan ini. Mencium aroma roti yang bercampur aroma hujan. Mungkin dengan secangkir cokelat panas bisa lebih nikmat.

Aku frustasi.

***

 

Aku mungkin bukanlah orang pertama atau terakhir yang mengenyakkan diri di jam siang ini. Selama satu jam mataku berkeliar di layar ponsel, tampak menyadari suara gerimis yang menambah hawa sepi dari ruangan “Japonaise Café & Bakery”. Menjadi satu-satunya orang yang duduk di sini teramat membuat kakiku kaku untuk menapak ke teras.

Aku yakin seyakin yakinnya. Gadis pelayan itu masih menggenggam sebuah majalah dengan gemetar di balik konter pesanan. Bunyi jarum jam tak membuatnya berpindah sedikit pun mengawasiku dengan tipu membaca majalah. Apa lelaki imut sepertiku patut dicurigai? Aku mengerucutkan bibir.

Waktu menunjukkan pukul 13.05. Aku melirik ke arahnya sejenak, menyadari kesenyapan yang dirasa makin membunuh karakterku. Sepertinya aku tidak bisa terus berada di sini. Gadis pelayan itu tampak tersenyum kaku padaku, menepikan majalahnya di samping mesin kopi. Ia pasti mengira jika aku akan mengutil sesuatu dari rak-rak rotinya lalu diam-diam pergi.

Cepat-cepat aku bergerak ke konter lantas menyapa, “Sumimasen[1].” Dia mengangkat wajahnya.

Tanganku merogoh sesuatu dari saku jins, “Aku ingin ke alamat ini,” ujarku, menunjukkan sebuah kertas berisikan alamat yang tintanya hampir luntur. Ia membaca seksama, lantas beberapa saat kemudian menunduk lesu.

Gomenasai[2], aku baru bekerja di sini dua hari,” jawabnya dengan suara dalam. Ah, pantas saja. Dia harus menjaga tanggung jawabnya di sini tentang sikapnya padaku. Untuk kesekian kalinya aku menghela napas kecewa.

“Ah, begitu, ya. Thank you.”

Ia mengangguk. Tatkala aku berbalik menyeret kembali kertas itu, tiba-tiba aku teringat sesuatu yang membuatnya terkejut, “Jika sebuah penginapan?!”

“H-hotel?”

Aku mengangguk ragu, mengingat berapa tarif yang tertera di beberapa website yang kukunjungi tadi. Harganya bisa separuh dari sisa saldo yang diberi ayah.

“Ada di jalan besar menuju Omotesando.”

Aku menelan ludah. Entah di mana itu, mungkin masih di Shibuya atau Harajuku dan mungkin jika kesana aku akan tersesat sampai ke Tokyo Bay—menenggelamkan diri sebelum datang ke pernikahannya.

***

 

Tak ada yang lebih memusingkan alih-alih menatap alamat yang mungkin palsu. Aku sempat berniat menelepon Chanyeol untuk meneror Kepala Sekolah, tapi kupikir tak ada gunanya. Sepulang nanti si Jangkung itu bisa saja menjebloskan kepalaku di ceruk wastafel sambil menertawaiku yang cengeng. Aku sudah di sini, selangkah lagi sampai hari H tiba. Apa aku hubungi saja dia?

Tidak mungkin, aku menggeleng lemah. Ia pasti sedang sibuk mengurus pernikahannya. Lagi pula aku datang untuk memberinya kejutan.

Kakiku terus melangkah ke arah yang dikatakan gadis pelayan tadi. Orang-orang tidak banyak yang berkeliaran di jam begini. Terlebih cuaca yang tak mendukung. Setidaknya aku beruntung, gerimis masih mau menemaniku. Halte bus berada sekitar 10 meter lagi dariku, namun aku terhenti sejenak, menggigit bibir.

Ini mungkin sebuah takdir atau jalan yang harus kutempuh selama di Tokyo. Aku berdeham. Sementara kedua mataku menangkap perawakan mungil dengan balutan sweater pink bergaris putih tengah menanti sebuah bus. Sebelah tangannya mengenggam gada payung, melihat gerimis masih saja bergerak manis. Entah darimana, aku seperti punya keyakinan penuh bahwa aku masih bisa berlari sampai hari itu tiba.

Matte[3]!!”

Langkahku bergerak cepat. Pintu bus sudah terbuka. Aku berlari mengejarnya yang akan naik bus. Seketika itu, mungkin ia dengar, mungkin ia tidak melupakanku, mungkin ia ingin membiarkan waktu terulur lebih lama sampai aku tiba.

O…mae-san[4]?” Mata bulatnya menatapku tak yakin.

Aku menyeringai, sok akrab, “Hai!”

Wajahnya tampak malas membalas salamku. Tampak tak bersahabat menyadari kami bertemu—lagi. Miss Teru teru bozu.

“Hei, kalian mau naik, tidak?!” Suara sang sopir bus menyentak kami bersamaan.

Gadis itu beranjak masuk diikutiku, lantas mengambil tempat paling belakang, satu kursi di depan deretan kursi paling belakang. Aku dengan lega bersandar di belakangnya. Bus mulai berjalan. Meninggalkan jejak kebingunganku di sana. Apa langkahku sudah benar? Tidakkah aku terlalu kekanak-kanakkan seperti apa yang dikatakan dia? Aku memejamkan mata. Meyakinkan pada diriku sendiri bahwa aku sedang tidak merengek. Tersesat di negeri orang, tanpa petunjuk lain yang bisa menolong. Mungkin ini yang dimaksudkannya saat ia menolakku di semester lalu. Menjadi pria dewasa mungkin tidak semudah seperti apa yang dikatakannya, tapi aku akan membuktikan bahwa dia salah menilai tentangku.

Aku harus bertemunya. Harus.

Gadis di depanku tampak sibuk dengan sesuatu di tangannya. Kepalanya yang dipenuhi rambut keriting buatan berwarna kemerahan bergerak menyamping. Alih-alih menghindar, pandanganku berpindah ke jalanan yang diguyur gerimis dari kaca bus. Aku melirik gerak jemarinya yang menyelipkan rambut ke belakang telinga.

Aku masih belum tahu, gadis ini akan turun di mana. Dan di mana pula aku akan turun. Namun, aroma sitrus segar dari depan membuatku merasa nyaman bersandar di kaca bus. Menikmati bulir hujan yang bergulir di sana.

“Tenanglah. Semua akan baik-baik saja,” aku membatin.

***

 

[1] Permisi/Maaf

[2] Maaf

[3] Tunggu

[4] Kamu (informal)

____________________

A/N: Terima kasih untuk sampai menikmati pada chapter ini, hehehe. Bisa tebak pov’ siapa di chapter ini??! Yes, Baekhyun!! Saya sengaja buat per chapter beda pov, jadi biar jelas konflik di kedua kubunya, haha. Maaf jika masih ada yang belum mengerti. Ini alurnya memang lambat, dan saya nggak tahu kapan bisa lanjutin lagi karena beberapa hal yang harus saya persiapkan untuk ujian. Terima kasih untuk doa kalian. Dan terima kasih sekali jika kalian mau sempatin komen untuk chapter ini apa yang harus saya perbaiki kedepannya. Ditunggu~!! Sankyuuu~~ ^^ lalala~~ sampai jumpa di chapter selanjutnya dengan Mayu’s pov. 😀

17 responses to “Sunny Rain (bagian 2)

  1. Oh jadi ceritanya Baek ngejar cintanya, akhirnya dia ke Jepang buat nemuin Taeng gitu… Salut buat Baek! 😀

    Miss Teru teru bozu itu bohongin Baek atau alamat yang dicari Baek itu alamat palsu? Ciiee udah kayak lagunya ayu ting ting aja nih, kemana… kemana… kemana… *plakk* *napa malah nyanyi?*

    Gak sabar nunggu part selanjutnya, hihi 😀

    • hehehe, ya begitu deh 😀
      kita liat lanjutannya nanti yaaa. hahaha mungkin Baek lagi demam lagunya Ayu Ting Ting /slapped
      Siappp, terima kasih sudah baca Sunny Rain :DD

  2. Yaa~ bapaknya Baekhyun baik ya (atau malah kelewat baik?) Ngijinin ke Jepang cuma buat ngejar Taeyeon :3
    Jangan-jangan Taeyeon nggak nikah, cuma menghadiri pernikahan siapanya gitu/?
    Wkwk kan bisa aja, apalagi di chapter sebelumnya dingin gitu. Emang ada cowok yang bisa deket ama Taeyeon? :p wkwk

    Ditungguㅡsangat ditungguㅡya next chapter nya? :3 hihiiiiiii

  3. Pingback: Sunny Rain (bagian 3) | FFindo·

  4. lho kurang panjang thor….. ditunggu lanjutannya. banyakin juga bahasa jepangnya biar bisa sekalian belajar bahasa jepang, kan sekalian kaya menyelam minum air. hehehe

  5. Pingback: Sunny Rain (bagian 5) | FFindo·

  6. Pingback: Sunny Rain (bagian 6) | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s