My Precious Wife – [Wedding Day]

 My Precious Wife: Wedding Day

Previous:

Prolog

MPW1

Title: My Precious Wife || Author: @diajengdeaa || Cast: Lu Han (EXO) , Lee Ji Hee (OC) || Genre: Romance, Marriage-life, Angst || Rating: PG–16  ||  Chaptered

 

Disclaimer: Cerita ini sepenuhnya berasal dari imajinasi saya. Apabila ada kesamaan alur, tokoh, cerita , itu merupakan ketidak-sengajaan. Please, don’t take or copy this story. Keep your manners, guys. Thank you and lav ya!

 

***

I do, love you.

***

Moonlight Sonata – Beethoven

Taeyeon – Love, That One Word

[Chapter 1]

 

“Saya, Lu Han, mengambil engkau, Lee Ji Hee, sebagai istriku yang sah, untuk memiliki dan menjaga dari hari ini hingga seterusnya, baik dalam keadaan kaya maupun miskin, dalam kondisi susah maupun senang, untuk bergantung kepada engkau dan hanya engkau, selama kita masih hidup. Saya mencintaimu, Lee Ji Hee—aw!”

 

“Bodoh!  Kau mengucap kata-kata yang salah, Lu.  Seharusnya kau mengucapkan, ‘dengan cincin ini aku menikahi engkau, dengan kasih yang setia saya memberkahi engkau, semua ucapan-ucapan baik saya akan saya bagi bersama denganmu, di dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus, memberkati sampai selama-lamanya. Amin’.  Bukan ‘saya mencintaimu, Lee Ji Hee’.  Kau sungguh tidak romantis, Luhan!”

 

“Aku tidak mempunyai cincin untukmu, aku hanya punya hati jadi kuberikan padamu.  Dan hei!  Aku lebih tua darimu.  Sopanlah sedikit, Ji Hee.”

 

Senyuman tipis terpancar dari wajah tampan Luhan jika ia mengingat masa kecilnya.  Kala itu ia berumur 9 tahun sedangkan lawan mainnya, atau gadis kecilnya tersebur baru 7 tahun.  Terpaut 2 tahun memang, tetapi mereka sangatlah akrab.

 

Hal itu dikarenakan orang tua mereka yang selalu mendekatkan Luhan dengan gadisnya semenjak kecil.  Meskipun seringkali Luhan memintanya untuk memanggil dirinya oppa, tetapi gadis itu menolaknya dengan alasan ‘tidak nyaman’.

 

Dan pada akhirnya, Luhan membiarkannya.

 

Kala itu, ia bersungguh-sungguh mengucapkan kata ‘aku mencintaimu, Ji Hee.’ , tetapi gadis itu menganggapnya hanya bercanda karena memang mereka sedang bermain ‘pernikahan’.

 

Seringkali hal tersebut menjadi bahan lelucon Ji Hee ketika mereka berdua beranjak dewasa.  Baik Luhan ataupun Ji Hee akan tertawa keras dan menahan malu jika mengingat memori itu.

 

Kala itu mereka menghadiri pemberkatan pernikahan seorang relasi bisnis Ayah Ji Hee, kebetulan juga merupakan teman sekolah Ayah Luhan.  Maka dari itu, mereka ikut untuk menghadiri acara tersebut.

 

Luhan kecil mengenakan tuxedo dan pasangannya yang sangat pas dengan tubuh kecilnya yang kurus.  Sedangkan Ji Hee menggunakan dress putih dengan rambutnya yang diikat separuh, menjadikannya lebih anggun namun sederhana.  Luhan menyukai penampilannya.

 

Dan selesai dari acara pemberkatan, Luhan mengajak Ji Hee ke taman belakang gereja dan melakukan aksi permainannya.  Yaitu, meniru ucapan ‘janji suci pernikahan’.

 

Untuk kesekian kalinya, Luhan tertawa.  Betapa polosnya Luhan dan Ji Hee saat itu.  Mereka masih jauh dibawah umur, tetapi sudah berani melakukan aksi tersebut walaupun dianggap permainan oleh mereka berdua.

 

Dari kecil, Luhan menginginkannya.  Luhan berharap suatu saat, ia akan mengucapkan janji suci tersebut untuk Ji Hee.  Ia mencintai Ji Hee dan ingin memilikinya.

 

Dan sekarang harapannya terkabulkan.

 

Hari ini Luhan menikah dengan gadis yang dicintainya selama hidupnya itu.

 

Lee Ji Hee.

 

Nama yang selalu terukir dalam hati lelaki itu.  Tak peduli berapa banyak masalah atau rintangan yang datang padanya, dan selalu pada akhirnya ia tetap mencintai Ji Hee.

 

Luhan dan Ji Hee telah dijodohkan sejak kecil.  Tetapi itu bukan alasan Luhan mencintai gadis itu, tetapi hatinya tulus mencintainya meski gadis itu tidak mengetahuinya selama ini.

 

Hanya Luhan yang mengetahui perjodohan itu.  Hanya Luhan sedangkan Ji Hee sama sekali tidak tahu.  Sehingga gadis itu bersikap sewajarnya sahabat dengan sahabatnya, bukan seseorang dengan kekasihnya.  Dan itu ia lakukan sampai ketika rahasia itu terbongkar.

 

Saat itu juga, gadis itu membenci semuanya.  Ia membenci Luhan karena lelaki itu tidak mengatakan apapun tentang perjodohan ini dan menyembunyikannya darinya.

 

Ji Hee membenci Luhan.

 

“Bagaimana bisa kau menyembunyikan hal ini dariku, Lu?  Bahkan selama ini aku hidup selalu bersamamu, kau tidak mengatakannya?  Ini tidak masuk akal, Lu.”

 

“Sejak kecil kita selalu bersama.  Menghabiskan pagi hingga malam, tertawa bahkan menangis bersama tetapi kau sama sekali tidak memberitahuku tentang perjodohan ini?  Orang macam apa kau itu, huh?”

 

“Aku membencimu, Lu.”

 

Senyuman di wajah lelaki bermata rusa itu memudar, hilang terbawa oleh kenangan yang melintas di otaknya.

Kata-kata itu selalu terngiang dalam benak Luhan, menyiksa batinnya setiap saat.  Sejak saat itu, Ji Hee menjauhinya.  Bersikap selayaknya orang asing padanya, bahkan sampai sekarang.  Telah tiga bulan setelah semuanya terbongkar.  Tiga bulan sudah Ji Hee mengetahuinya dan membenci Lu Han.

 

Baik orang tua Luhan maupun orang tua Ji Hee tidak memberitahu gadis tersebut karena dipikirnya lebih baik Luhan saja yang memberitahu Ji Hee sendiri.

 

Tetapi bodohnya, Luhan menyembunyikannya.  Tetapi sayangnya, orang tua mereka tidak pernah menyinggung permasalahan itu selama ini.

 

Hanya Luhan yang layaknya ‘tersangka’ atas kebencian Ji Hee padanya.  Seringkali lelaki itu berdiam diri di kamar, atau berkunjung ke rumah gadis itu walaupun gadis tersebut enggan menemuinya.

 

Luhan menyalahkan kebodohannya.  Menyalahkan segala sesuatu yang diperbuatnya, segala sesuatu yang disembunyikannya selama ini.

 

Ia menyesal tidak memberitahuinya.  Ia berharap waktu dapat berulang kembali dan ia akan mengatakannya pada Ji Hee.

 

Hopeless.

 

Semuanya telah terjadi.  Luhan harus menerimanya, apapun yang terjadi.

 

Hari ini, akan menjadi hari yang paling bersejarah dalam hidupnya.  Harapannya terjadi tetapi ia harus menerima kebencian dari Ji Hee.  Gadis yang akan menyandang sebagai istrinya.

 

Luhan menghela nafasnya, panjang.  Kepalanya mendongak, menatap pantulan dirinya di cermin besar ruangan ini.  Ia telah rapi, dengan tuxedo putih senada dengan yang lainnya.  Kedua tangannya juga telah terbalut sarung tangan putih.  Sedangkan rambutnya telah ditata rapi layaknya seorang pangeran kerajaan dengan sentuhan gel rambut yang dibuat untuk menjaga kerapiannya.  Hari ini adalah hari yang paling ia tunggu.

 

“Permisi, tuan.  Sang pendeta telah siap dan pemberkatan akan segera dimulai.”

 

Luhan menoleh dan mendapati seorang Event Organizer membungkukkan badannya setelah sebelumnya telah berucap.  Tidak lama kemudian ia mohon ijin keluar ruangan dan menunggu di depan pintu, bermaksud untuk mengikuti di belakang Luhan.

 

Hati Luhan bergemuruh, berdesir tak menentu.  Sebenarnya ia belum siap, tetapi waktu sangatlah cepat berganti dan ini adalah puncak dari perasaannya.  Tujuan akhir dari apa yang ia inginkan selama ini.

 

Lantas, ia mengibas-ibaskan kedua tangannya serta menghembuskan nafasnya kasar.  Ia gugup, tentu saja.  Namun beruntung, keringat tidak timbul karena kegugupan yang dirasakannya.

 

Tetapi sayang, hal yang diperbuatnya justru membuatnya semakin gugup.  Jantung berdetak lebih kencang tatkala ia melangkahkan kakinya keluar ruangan itu.  Sang Event Organizer mempersilahkan Luhan untuk turun terlebih dahulu dan mengikutinya dari belakang.

 

Luhan tahu, setelah ini hidupnya akan berubah.  Ia tahu, sebentar lagi keinginan terbesar dan terlama-nya akan tercapai.

 

Luhan tahu, tetapi hatinya belum siap menerima perlakuan Ji Hee yang masih bersikap acuh tak acuh padanya.

 

***

 

“Mempelai wanita telah tiba.”

 

Sontak jantung Luhan berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya karena mendengar seruan tersebut.  Pintu gereja terbuka lebar dan menampilkan sosok wanita yang terbalut oleh gaun putih panjang senada dengan milik Luhan.  Wajahnya tertutupi oleh kerudung wajah dan tangannya ia letakkan pada lengan sang Ayah.

 

Luhan berbalik dengan gugupnya dan memandang sosok itu.  Mulutnya sedikit terbuka, kagum karena kecantikannya.  Namun segera mungkin ia menstabilkan sikapnya, tidak ingin yang lain –tamu serta keluarga- melihatnya.

 

Jantung Luhan semakin bermaraton seiring langkah-langkah itu mendekat padanya.  Semua yang berada di ruangan itu telah berdiri, menyambut sosok yang disebut mempelai wanita beserta Ayahnya.

 

Kau bisa Luhan. Kau bisa Luhan. Kau bisa.

 

Luhan terus menerus berkata pada dirinya sendiri, menguatkan pondasi dirinya agar tidak terlihat gugup.  Tetapi hari ini adalah hari dimana ia bisa terkena serangan jantung, terlebih melihat Ji Hee yang begitu cantiknya akan bersanding di sebelahnya.  Mengucapkan janji suci pernikahan untuk mereka berdua.

 

Ayah Ji Hee tersenyum bangga pada Luhan ketika langkahnya –begitu juga dengan Ji Hee- telah tepat berada di hadapan lelaki yang akan segera menjadi menantunya itu.  Lantas ia melepaskan pegangan Ji Hee dan memberikan tangan puteri kesayangannya itu pada Luhan.

 

“Ayah percaya padamu, Luhan.  Jadilah suami yang baik untuk  Ji Hee.”

 

Tanpa perlu diragukan lagi, Luhan pasti akan menyanggupinya.  Sebelumnya ia telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan selalu menjaga dan menyayangi gadis itu.  Karena selama ia hidup, Ji Hee adalah cinta pertamanya dan Luhan akan terus menjaganya sampai akhir hayatnya.

 

Tidak perlu memakan waktu yang lama, Luhan mengambil alih genggaman Ji Hee, gadis itu.  Luhan menggenggamnya erat, menyelipkan jari-jarinya pada celah jari-jari Ji Hee.  Sekilas ia tersenyum manis pada calon istrinya, tetapi hanya wajah datar yang tertutupi kerudung transparant yang dapat ia lihat.

 

Ia mengajak Ji Hee untuk lebih maju sehingga mereka berdua tepat berada di depan altar, atau lebih tepatnya di hadapan sang pendeta.  Genggaman Luhan semakin erat, tubuhnya ia dekatkan pada Ji Hee.

 

Gadis itu tidak bergeming sedikit pun, tubuhnya terasa kaku.  Ia hanya menatap lurus kedepan, menatap sang pendeta.  Luhan meliriknya, dan akhirnya ikut menatap sang pendeta.

 

Pendeta tersebut sejenak melihat mempelai masing-masing, dan ia bertanya, “Apakah kalian sudah siap?”

 

Luhan mengangguk sedangkan Ji Hee tetap diam.  Melihat reaksi Luhan, sang pendeta menghela nafas sebentar sebelum memulai upacara pernikahan.  Kemudian sang pendeta memulai dengan beberapa pujian sebelum akhirnya memulai prosesi pengucapan janji suci pernikahan.

 

“Pada pernikahan suci ini, yaitu di Seoul, pada hari Sabtu tanggal 2 Maret 2014 akan dipersatukan, saudara Lu Han dengan saudari Lee Ji Hee.  Sekarang sebagai seorang hamba Allah saya akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada mempelai pria dan mempelai wanita. Pertanyaan-pertanyaan ini dimaksudkan untuk mengetahui  kesungguh-sungguhan  mereka  dalam memasuki pernikahan kudus ini. Saya juga akan menanyakan sebuah pertanyaan kepada Jemaat Tuhan untuk dijawab bersama-sama.”

 

“Mempelai pria dan mempelai wanita diharapkan untuk menjawab dengan bebas dan tegas karena memang janji nikah harus diucapkan  dengan sungguh-sungguh,  bebas,  tanpa  paksaan dan disaksikan oleh Allah dan JemaatNya. Inilah janji nikah saudara yang harus dipegang teguh sampai maut memisahkan. Sesuai dengan niat hati saudara yang tulus dan suci, hendaklah saudara-saudari berdiri dihadapan Tuhan Yesus dan JemaatNya  serta menjawab pertanyaan ini dengan jelas dan tegas.”

 

Pendeta menghadap ke arah Luhan.  “Aku bertanya padamu, Lu Han-ssi. Apakah kau mengakui dihadapan Tuhan Yesus dan JemaatNya bahwa kau bersedia dan mau menerima Lee Ji Hee  sebagai istri saudara satu-satunya dan hidup bersamanya dalam pernikahan suci seumur hidupmu?”

 

Pertanyaan pertama telah dilontarkan dari sang pendeta, namun lelaki di hadapannya tidak langsung memberi jawaban. Sekilas Luhan melirik Ji Hee yang masih diam dan tidak bergeming sedikitpun. Memantapkan hatinya, ia menarik nafas kemudian menghembuskannya panjang.  “Ya, saya bersedia.”

 

“Apakah kau mengasihinya sama seperti kau mengasihi diri sendiri, mengasuh dan merawatnya, menghormati dan memeliharanya dalam keadaan susah dan senang, dalam keadaan kelimpahan atau kekurangan, dalam keadaan sakit dan sehat dan setia kepadanya selama kalian berdua hidup?”

 

“Ya, saya bersedia.”

 

“Apakah kau bersedia menjaga kesucian perkawinan kau ini sebagai suami yang setia dan takut akan Tuhan sepanjang umur hidupmu?”

 

Pertanyaan terakhir yang harus dijawab lelaki yang biasa dipanggil Lu itu.  Tidak membutuhkan waktu yang lama, lelaki itu mengangguk mantap.  “Ya, saya bersedia.”

 

Pendeta mengangguk sekali lalu beralih menatap Ji Hee.  Akhirnya Luhan bisa bernafas sedikit lebih lega, namun harus kembali menahan nafasnya ketika pertanyaan sepertinya tadi ditujukan pada Ji Hee.  Kini, giliran sosok wanita di sebelahnya yang harus menjawab.

 

“Aku bertanya padamu, Lee Ji Hee-ssi. Apakah kau mengakui di hadapan Tuhan Yesus dan JemaatNya bahwa kau bersedia dan  mau menerima Lu Han  sebagai suami saudari satu-satunya dan hidup bersamanya dalam pernikahan suci seumur hidupmu?”

 

Seharusnya Ji Hee yang gugup, tetapi kenyataannya wanita itu tetap diam dan tenang.  Justru sekarang Luhan yang khawatir pada Ji Hee, takut wanita itu menolak, berkata tidak bersedia.  Sang pendeta pun menanti jawaban dari seorang Lee Ji Hee.

 

Cukup lama wanita itu terdiam.  Tamu serta keluarga dari kedua pihak mempelai mulai sedikit heboh karena mempelai wanita tidak kunjung memberi jawaban.

 

Menyadari akan hal itu, Luhan mendekatkan dirinya lebih lagi pada Ji Hee.  Tangannya yang menggenggam tangan calon istrinya itu semakin di eratkannya.  “Ji Hee, jawablah.” bisik Luhan.  Tidak lama kemudian, Ji Hee membuang nafasnya hingga kerudung wajahnya menyembul.  Ia juga memejamkan matanya seraya menjawab,

 

“Ya, saya bersedia.” Baik Luhan, pendeta maupun seluruh penghuni di gereja itu menghela nafas lega mendengar jawaban sang mempelai wanita.

“Apakah kau bersedia tunduk kepada suami seperti jemaat tunduk kepada Kristus, mengasuh dan merawatnya, menghormati dan memeliharanya dalam keadaan susah dan senang, dalam keadaan kelimpahan atau kekurangan, dalam keadaan sakit dan sehat dan setia kepadanya selama kalian berdua hidup?”

 

“Ya, saya bersedia.”

 

“Apakah kau bersedia menjaga kesucian perkawinan ini sebagai istri  yang setia dan takut akan Tuhan sepanjang umur hidupmu?”

 

“Ya, saya bersedia.”

 

Bagaimanapun, jantung Luhan semakin berdetak kencang menyadari bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut telah mereka lewati.  Ini adalah hal tersulit untuknya, terlebih menyadari akan kondisinya dengan Ji Hee pasca terkuaknya rahasia besar ini.

 

Pendeta berdeham pelan lalu melanjutkan ucapannya, “Kepada seluruh sidang Jemaat Tuhan dan para hadirin yang menyaksikan dan mendengarkan janji-janji ini saya bertanya.  Apakah saudara sekalian mendukung dan mendoakan kedua saudara ini dalam hidup nikah mereka? Kalau sidang Tuhan dan para hadirin bersedia, harap  bersama-sama menjawab ‘Amin’.”

 

Semuanya serentak menjawab, “AMIN.”

 

Pendeta mulai membacakan sebuah ayat Alkitab kembali.  Kemudian mengambil sebuah kertas tebal dan diarahkan pada Luhan.  Kertas itu berisikan kalimat-kalimat yang harus Luhan katakan sebagai sumpah suci pernikahannya dihadapan Allah.  Namun sebelumnya pendeta menyuruh Luhan dan Ji Hee saling berhadapan.

 

“Lu Han-ssi,  sekarang ucapkan janji nikah saudara dengan sungguh-sungguh. Dengan kebebasan dan tanpa paksaan.”

 

Luhan berdeham kecil guna menghilangkan suara parau-nya yang disebabkan oleh kegugupan. “Demi nama ALLAH BAPA, PUTRA, DAN ROH KUDUS.  Saya, Lu Han menerima  engkau, Lee Ji Hee menjadi satu-satunya istri dalam pernikahan yang sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, semasa kelimpahan dan kekurangan, di waktu sakit dan di waktu sehat, untuk dikasihi dan diperhatikan serta dihargai, seperti Kristus mengasihi JemaatNya sampai kematian memisahkan kita, menurut titah kudus Tuhan dan iman percaya saya kepadaNya, kuucapkan janji setiaku kepadamu.” ucap janji Luhan dihadapan Ji Hee.

 

Pendeta mengarahkan kertas yang lain namun serupa pada Ji Hee.  “Lee Ji Hee-ssi , sekarang ucapkan janji nikah saudari dengan sungguh-sungguh. Dengan kebebasan dan tanpa paksaan.”

 

Ji Hee menatap tulisan-tulisan yang ada di pandangannya sekarang.  Sejenak ia kembali terdiam, namun setelahnya apa yang dinantikan oleh orang banyak terutama Luhan terdengar.

 

“Demi nama ALLAH BAPA, PUTRA, DAN ROH KUDUS.
Saya, Lee Ji Hee menerima engkau, Lu Han  menjadi satu-satunya suami dalam pernikahan yang sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, semasa kelimpahan dan kekurangan, di waktu sakit dan di waktu sehat, untuk dikasihi dan diperhatikan serta dihargai, seperti Kristus mengasihi jemaatNya sampai kematian memisahkan kita, menurut titah kudus Tuhan dan iman percaya saya kepadaNya, kuucapkan janji setiaku kepadamu.”

 

Sang pendeta mengangguk lalu meletakkan lembaran itu di atas mimbar dan mengambil sebuah kotak kecil yang terlapisi oleh kain merah beludru.  Tentu saja kalian mengetahuinya.  Kotak terbuka, menampilkan sepasang cincin yang terbuat dari emas murni namun kesan yang terdapat di dalamnya begitu elegan.  Dapat dipastikan bahwa Luhan telah memesan khusus untuk cincin pernikahannya.  Oh, jangan lupa untuk mengikut-sertakan Ji Hee dalam hal ini, walaupun saat itu ia tidak sadar bahwa cincin ini untuk dirinya.

 

Pendeta mengangkat kotak kecil yang telah terbuka itu ke udara, tepatnya diatas kepalanya.  Kemudian ia berucap, “Cincin ini menggambarkan kasih antara seorang suami dan isteri. Cincin yang melingkar tidak mempunyai ujung dan pangkal, melambangkan kasih yang tidak akan berhenti. Cincin ini terbuat dari emas murni , tidak akan berkarat, melambangkan kasih yang tidak akan luntur dan rusak. Demikian kiranya kasih antara kedua saudara ini, Lu Han dan Lee Ji Hee tidak akan berakhir selama keduanya hidup, bertambah hari bertambah suci, bertambah hari bertambah matang dan bertambah hari bertambah tulus.”

 

Tangan pendeta yang tengah mengangkat kotak kecil itu kini mulai turun.  “Lu Han-ssi,  masukkan cincin ini pada jari manis tangan kanan nona Ji Hee sebagai tanda kasihmu kepadanya yang tidak akan berakhir dan tidak akan luntur.”

 

Gugup, tangan Luhan mulai bergerak mengambil cincin yang berukuran lebih kecil.  Kemudian ia mengambil tangan kanan Ji Hee, memasukkan cincin itu pada jari manisnya, menandakan bahwa wanita itu adalah miliknya. Saat lelaki itu memasukkannya, ia menatap jari-jari yang menjadi jari favoritnya selama ia hidup.  Jari-jari yang selalu digunakan untuk menjambak ataupun mengelus rambutnya, bahkan memberikan sentuhan yang manis pada dirinya.

 

Luhan merindukannya.  Merindukan setiap sentuhan yang Ji Hee berikan padanya ketika semua ini belum terjadi.  Ketika semuanya masih tersimpan dalam sebuah rahasia besar dan tidak tercium oleh siapapun.

 

“Ji Hee, aku tahu kau marah padaku.  Tetapi setidaknya, biarkan hari ini saja kau menjadi dirimu yang lama untukku.  Atau jika kau keberatan, cukup kau lakukan demi orang-orang yang sedang melihat kita.  Hari ini saja, kumohon tersenyumlah.” lirih Luhan yang masih dapat didengar dengan jelas oleh pendengaran Ji Hee.

 

Tidak ada reaksi, tidak ada respon yang pasti.  Ji Hee tetap terdiam dengan wajah datar namun cantiknya.  Enggan untuk menjawab permohonan lelaki yang hanya menghitung menit, resmi menjadi suaminya.  Ucapan permohonan itu seperti angin dan sekarang ia kembali berfokus pada ucapan pendeta.

 

“Lee Ji Hee-ssi, masukkan cincin ini pada jari manis tangan kanan Lu Han  sebagai tanda kasihmu padanya yang tidak akan berakhir dan tidak akan luntur.”

 

Ji Hee mengambil cincin itu kemudian mengambil tangan kanan Lu Han yang terasa manly karena banyak terdapat urat nadi yang nampak, sehingga terkesan sangat pria.  Ia memasukkan cincin itu pada jari manis lelaki itu.

 

“Aku tidak menyangka bahwa ternyata cincin ini untuk pernikahan kita. Huh, sungguh sesuatu yang sangat tidak terduga.” lirih wanita itu.  Sebongkah perasaan sesal kembali menyerang Luhan tatkala telinganya mendengar ucapan yang terkesan mengejek itu.  Ia sadar bahwa seharusnya dahulu ia tidak mengatakan hal dusta pada Ji Hee.  Seharusnya ia berkata jujur bahwa cincin itu untuknya dan Ji Hee.  Seharusnya ia lakukan itu, tetapi nyatanya ia tidak.

 

“Maaf.” balas Luhan.

 

Ji Hee enggan membalasnya, justru membalikkan badannya kembali ke hadapan pendeta.  Terasa sekali bahwa Luhan sangatlah lemah pada sosok Ji Hee.  Jika sebelumnya ia sangat berani padanya, tetapi untuk kali ini ia sangat berbanding terbalik dengan sifat asalnya.

 

Pemain musik kembali melantunkan sebuah lagu yang diikuti oleh seluruh sidang Jemaat gereja.  Lalu setelah pujian berakhir, pendeta merentangkan tangannya, memberkati Luhan dengan Ji Hee.

 

“Dengan  demikian, dalam  nama Tuhan Yesus  Kristus, saya Yong Moo Hyun sebagai Hamba Tuhan menyatakan dihadapan Tuhan dan JemaatNya bahwa saudara Lu Han dengan saudari Ji Hee resmi dan sah sebagai suami istri di hadapan Tuhan.”

 

“Inilah pasangan yang diberikan oleh Tuhan yang sepadan denganmu.  Terimalah dengan ucapan syukur dan ketulusan.  Oleh karena itu berikan ciuman padanya, Lu Han­-ssi, sebagai bentuk ketulusan dan syukurmu.”

 

Ini adalah sesi terakhir pemberkatan nikah. Luhan gugup, bingung, walaupun dahulu ia sering mencium Ji Hee, namun entah mengapa hari ini ia merasa sangat canggung.  Dengan keberanian sedikit, ia beranjak membuka kerudung wajah Ji Hee.  Kemudian ia letakkan kedua tangannya pada pinggang mempelainya itu, mendorongnya agar lebih dekat.

 

“Aku mencintaimu meskipun kini kau membenciku, Ji Hee.” bisiknya sebelum akhirnya bibirnya mendarat di bibir Ji Hee.  Hanya menempel, tidak sampai hati untuk bertindak lebih karena ia tahu ini bukan saatnya.  Kini pandangan Luhan gelap, ia memejamkan kedua matanya.  Menyalurkan perasaan bahagianya dalam ciumannya, dan hanya terdengar sorak sorai seluruh tamu beserta keluarga yang menggema di telinganya.

 

Welcome to new life, Lu Ji Hee.

 

***

 

Seusai pemberkatan, acara dilanjutkan dengan resepsi di Ballroom Bayan Tree Club Hotel, salah satu hotel bintang lima Seoul yang berada di dekat Namsan Tower.  Desain interiornya yang sangat impresif, membuat para pengunjung disana sangat nyaman dan terasa berkelas.  Dan juga terdapat ruangan khusus yang disebut galeri hotel, tempat dimana terdapat beberapa koleksi kerajinan tradisional yang dibuat oleh para seniman lokal. Tidak perlu diragukan lagi bagi orang-orang untuk menetap disana.

 

Acara resepsi ini di ramaikan oleh beberapa dancer dan juga musik jazz yang dibintangi oleh penyanyi bernama Ailee.  Baik orang tua Luhan maupun Ji Hee yang telah menyiapkan acara pernikahan anaknya itu dengan semeriah dan se-istimewa mungkin.  Karena Luhan dan Ji Hee adalah anak tunggal, sehingga mereka akan menyiapkan acara semegah mungkin.

 

Dalam resepsi ini, terlihat Luhan sangat bahagia sedangkan Ji Hee hanya terdiam, sesekali tersenyum bila berbicara dengan kerabat atau keluarganya.  Setelah itu ia kembali beraut datar, meskipun Luhan telah berulang kali berbicara dengannya.  Bahkan ketika mereka sedang makan perjamuan, -di meja besar dan diisi oleh keluarga-keluarganya saja- Ji Hee hanya menampilkan senyum kecilnya disaat semua bersenda gurau.

 

Kini pasangan baru itu tengah berjalan menuju kumpulan teman-temannya.  Luhan menaruh tangan Ji Hee pada lengannya dan berjalan beriringan sembari menyapa seluruh tamu undangan yang sedang menikmati pesta.  Mereka menghampiri Kris, Suho, Xiumin, Kyungsoo dan juga Lay yang telah menjadi teman dekat Luhan serta Ji Hee yang secara tidak langsung mengenal mereka.

 

“Hai pasangan baru! Selamat untuk pernikahan kalian.” ucap Lay sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan setelah melihat Luhan bersama Ji Hee menghampiri.  Luhan menyambut jabatan tangan itu dengan senang, “Terima kasih, Lay!”

 

Begitu pun juga dengan yang lain juga mengucapkan selamat pada pasangan baru itu.  Sedikit banyak mereka mengobrol, berbagi candaan serta menunjukkan hasil jepretan Kyungsoo saat pemberkatan nikah di gereja beberapa jam yang lalu.  “Kau memang sangat pintar, Kyung.  Terima kasih.” puji Luhan ketika melihat fotonya sedang mencium Ji Hee.  Hatinya berdesir kala itu.

 

“Hah, aku tidak menyangka kalian akan benar-benar menikah sekarang.” gumam Kris yang didengar lainnya.  Ji Hee hanya tersenyum tipis, ia juga tidak menyangkanya.  Luhan menyimpan sebuah rahasia besar selama ini dan membuatnya tidak habis pikir dibuatnya.

 

“Ji Hee-ya, kau cantik sekali hari ini.” goda Xiumin.  “Jadi menurutmu aku tidak cantik di hari-hari sebelumnya?  Kau keterlaluan, Xiumin.” gerutu Ji Hee, berpura-pura untuk terlihat sebal.  Ia pikir tidak ada salahnya untuk bersenda gurau dengan temannya, terlebih ini adalah hari pernikahannya.  Ya, walaupun kenyataannya ia masih marah pada Luhan.

 

“Hei, bukan begitu maksudku.  Ah kau ini terlalu sensitif, Ji Hee.”

 

“Xiumin-ah, Ji Hee sangatlah cantik setiap saat.  Bahkan hari ini ia terlihat berkali-kali lipat cantiknya.  Benar, ‘kan?” kata Luhan sembari menepuk tangan Ji Hee yang bertengger di lengannya.  Sontak teman-temannya itu menggoda mereka berdua, namun tetap saja Ji Hee hanya menampilkan senyum tipis.

 

Tidak beberapa menit kemudian, adik sepupu Luhan memanggilnya untuk segera bergabung dengan keluarga yang lain.  Tidak lain juga adalah keluarga Luhan yang berasal dari China, datang menghadiri pernikahannya.  Sungguh, lelaki itu sangat senang menyambutnya.  Maka dari itu, Luhan pamit pada teman-temannya itu untuk pergi ke sudut lain.

 

“Luhan, keponakan kesayanganku!  Selamat untuk pernikahanmu dengan Ji Hee.” ucap Bibi Luhan yang menggunakan bahasa China.  Ji Hee yang tidak tahu artinya hanya tersenyum bodoh guna menutupi kebodohan bahasanya.  Bibi Luhan yang bernama Wei Ai itu menepuk pipi Luhan, berkata bahwa ia tidak menyangka Luhan yang dulu masih sangat kecil sekarang telah tumbuh dewasa menjadi seorang pria.

 

Kemudian Bibi Ji Hee datang bergabung, mengucapkan selamat serta ikut bersenda gurau bersama.  Ia juga tidak menyangka bahwa Luhan semakin terlihat tampan dan manly, sedangkan Ji Hee terlihat semakin dewasa dan juga cantik.

 

“Bagaimana rupa anak mereka kelak?  Pastinya sangat tampan dan cantik, menurun rupa orang tuanya, bukan?” goda Bibi Ji Hee yang disambut tawa serta anggukan setuju keluarga yang lain.  Ji Hee hanya berkata untuk jangan terlalu memuji mereka, karena hanya akan membuat volume otaknya membesar.

 

***

 

Sebuah bangunan besar dan memiliki kesan mewah berada di hadapan Ji Hee sekarang.  Bangunan yang memiliki dua lantai, dan di teras depan terdapat beberapa pilar yang terbuat dari beton kuat guna untuk menyangga bangunan tersebut.  Dan juga halaman depan yang luas, dihiasi oleh sebuah taman beserta kolam kecil di tengahnya.  Taman itu diisi oleh bunga mawar, lily, Bleeding Heart Flower dan juga terdapat pohon Cherry Blossom yang menjadi kesukaan Ji Hee.  Ji Hee menyukai warna pink, sehingga Luhan memilih semua bunga maupun pohon yang berwarna seperti itu.

 

Sebenarnya Luhan sendiri juga takjub dengan bangunan yang diberikan orang tuanya dan Ji Hee sebagai hadiah pernikahannya.  Ji Hee pun juga takjub, terlebih dengan taman halaman depan itu.  Ingin ia berlari dan membelai semua tanaman jika saja ia tidak memakai gaun pengantin seperti saat ini.

 

Ini adalah rumah yang akan ditempati Luhan dan Ji Hee di sisa hidup mereka sebagai pasangan suami istri.  Rumah yang akan terisi oleh sebuah keluarga kecil Luhan saat ini.

 

Seluruh pembantu rumah tersebut –orang tua Ji Hee telah menyiapkan beberapa pelayan rumah- mengusung barang bawaan Luhan dan Ji Hee masuk ke dalam rumah.  Sehingga pasangan baru tersebut hanya tinggal menjejakkan kakinya tanpa adanya beban yang ditanggung.

 

Tidak ingin berlama-lama berada di luar dengan pakaian tersebut, Luhan menggenggam tangan Ji Hee dan menggiringnya masuk ke dalam. “Ayo masuk.”

 

Namun Ji Hee menepis pelan, “Biarkan aku berjalan sendiri, kumohon.” Kembali merasakan kekecewaan yang sama, Luhan membiarkan wanita yang telah resmi menjadi istrinya itu masuk mendahuluinya.

 

 

***

 

Jam telah berpusat di angka 1 dini hari.  Pagi dan hari yang baru telah datang.  Diluar sedang turun hujan walaupun tidak lebat, maklum bulan ini adalah musim semi.  Dimana musim yang memiliki intensitas hujan lebih tinggi dari musim yang lain, tetapi anginnya membuat orang-orang ingin berlibur atau sekedar memanjakan mata.

 

Luhan sudah mandi dan berganti baju.  Ia duduk di tepi ranjang kamar barunya.  Bukan, bukan hanya kamarnya seorang, melainkan kamar bersama sosok yang dicintainya, Ji Hee.  Istrinya kini masih berkutat membersihkan diri di kamar mandi, Luhan mendengar gemercik air dari shower.

 

Luhan merinding saat mengingat perkataan Tao, sepupunya dari China, tentang malam pertama. Tao terpaut 3 tahun lebih muda dari Luhan, tetapi pikiran anak itu telah melebihi batas yang bisa disebut, jorok.  Tao bahkan mempunyai banyak kekasih di kampusnya sekarang.  Ia sangat playboy, berbanding terbalik dengan kakak sepupunya yang setia pada satu wanita hingga sekarang.

 

“Gege, malam ini adalah malam pertama kalian.  Malam pertama yang tidak ada penggantinya, maksudku begini, malam ini adalah malam yang harus kau manfaatkan sungguh-sungguh dengan Jie-Jie (kakak perempuan).  Jangan sampai kau melewatkannya, Ge!”

 

Seketika Luhan mengutuk Tao dalam hatinya, berkata bahwa adik sepupunya itu telah berlebihan memberikan perkataan seperti itu.  Hei, bukannya yang menikah itu aku tetapi mengapa anak ingusan itu yang heboh? –batin Luhan saat itu.  Seulas senyum lebar terukir di wajah tampan lelaki itu, karena bagaimanapun Luhan juga pernah memikirkannya.

 

Cklek

 

Suara dari pintu kamar mandi terbuka, membuat Luhan terperanjat kaget.  Ia telah kembali dari pikiran-pikiran itu.  Ji Hee keluar dengan piyama berwarna pink telah melekat di tubuhnya.  Rambutnya terlihat basah, menandakan bahwa ia baru saja keramas.  Wangi sabun dari kamar mandi sukses memasuki rongga hidung Luhan, menciptakan aroma yang lebih enak di kamarnya ini.

 

Ji Hee menggulung rambutnya dengan handuk, kemudian ia berjalan ke kopernya, mengambil pelembab wajah.  Ia melirik Luhan yang sedang menatapnya, seluruh gerakannya lelaki itu selalu mengekorinya dari kedua sudut mata rusanya.

 

Setelah ia rasa sudah mengambil keperluannya, ia beranjak keluar.

 

“Kau mau kemana?” tanya Luhan, suaminya yang kini menatap heran.

 

Ji Hee menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan lelaki itu.  Mungkin benar, ia rasa ini sudah berlebihan.  Seharusnya ia tidur di ranjang yang sama dengan suaminya sekarang, tetapi karena kemarahannya, ia menghindari lelaki itu.  Ia sendiri sadar bahwa ini sudah seperti anak-anak, tetapi untuk kali ini ia benar-benar belum siap.

 

“Aku akan tidur di kamar lain.”

 

Mata Luhan melebar, terkejut dengan jawaban Ji Hee.  “Mengapa?  Hei, tidurlah disini denganku.” pintanya.

 

“Aku tidak ingin.  Aku lelah, Lu, dan aku juga belum siap untuk tidur denganmu.  Oh, dan juga, bukankah kau tidak senang jika orang lain tidur di ranjangmu?  Aku bisa mengerti sifatmu.”

 

Luhan mendengus, hatinya terasa sesak mendengarnya.  “Ji Hee, kumohon.  Kita sudah menikah sekarang, jadi ranjangku adalah ranjangmu juga.  Lagipula bukannya kita sudah sering tidur bersama, hm?  Lalu untuk apa kau menghindar untuk tidur denganku?”

 

“Lu, aku lelah.  Aku benar-benar lelah sekarang dan tidak ingin berdebat denganmu.  Tidurlah dan biarkan aku tidur di kamar lain.” ucap Ji Hee sebelum akhirnya ia melangkah keluar kamar, meninggalkan Luhan dengan perasaannya yang kini kacau.

 

Luhan terdiam.

 

Tidak ada kata yang ingin keluar dari mulutnya.  Bahkan kini hatinya pun ikut membisu, tak mampu untuk merasakan hal lain selain sesak.  Sepeninggal Ji Hee, Luhan menghela nafas berulang kali –ia selalu membuang nafas ketika hatinya bergemuruh-.

 

Luhan menoleh pada tempat kosong di ranjangnya.  Ia berpikir, ia menyesal.  Seharusnya Ji Hee berada di sisinya sekarang, tidur bersamanya.  Dan Luhan juga bisa menghirup aroma tubuh Ji Hee yang menjadi aroma favoritnya selama ia hidup.  Seharusnya Luhan dapat memeluk Ji Hee sekarang, dan menikmati malam pertamanya.  Hei, pikiran itu datang lagi.

 

Namun nasihat Tao tidak terlaksana.  Luhan tidak melakukan malam pertamanya bersama Ji Hee, karena nyatanya di malam pertama pun Ji Hee memilih untuk sendiri. Lelaki itu harus menelan pahitnya kenyataan bahwa ia ditolak oleh Ji Hee, istrinya.

 

Luhan mulai berbaring, namun kemudian tangannya bergerak meraba sisi permukaan di sebelahnya yang dibiarkan kosong.

 

“Seharusnya kau berbaring disini bersamaku, Ji Hee.”

 

Untuk kesekian kalinya, Luhan menghela nafasnya panjang.

 

“Seberapapun ketida-sukaanku terhadap orang lain yang ikut tidur di ranjangku, tetapi aku akan selalu bahagia jika kau yang berada disisiku.  Aku akan sangat senang jika kau selalu memejamkan matamu untuk terlelap di sampingku, Lu Ji Hee.”

 

Ia bergumam dalam hatinya, berharap jika suara hatinya menembus dinding yang menjadi pembatas antara dirinya dengan Ji Hee saat ini.

 

“I do love you.”

 

to be continued…

 

***

 

Hei guys!

Masih ingat sama aku? /sok ngartis/ bwahahaha, seharusnya aku lanjutin HG , tapi gatau kenapa mood hilang buat lanjutin dan alhasil FF ini yang aku lanjutin. Maaf yaa..

Gatau chapter ini bisa membawa feel atau enggak karena jujur aku ngebut ngerjainnya, pendek juga isinya /lah/

Terus itu bagian pas pemberkatan nikah, bwahaha aku sebenernya gatau sama sekali, terus search di mbah gugel >< wkwk kalau ada typo yaa maafkan ya.

Aku juga pengen sedikit curhat, sekarang siders pada bertebaran dimana-mana ya T^T aku sedih banget deh, merasa gimana gitu. Yang jelas, aku pengen sesuatu, gak sulit juga kok.  Mbok ya siders iku nyadar diri , wong cuma nulis beberapa kata baik/kritikan aku lho rapopo /yakan keluar bahasa jowone/. Kan lebih sulit mengetik sebuah cerita daripada sebuah komentar, yakan?

Dan aku juga berterima kasih buat para readers yang selalu ninggal jejak baik berupa komentar ataupun like. Terima kasih banyak ya ❤ huhuhu aku terharu deh.

Oke dah, pokoknya itu yang pengen aku sampein, gak panjang lebar karena aku gak terlalu pandai untuk menguntai kata-kata romantis /slapped/ wkwkw 😀

Oya, untuk beberapa chapter yang akan datang ada yang bakal aku protect, jadi siapkan dirimu ya sayang-sayangku! ❤

See you !

 

Regards,

 

diajengdea

208 responses to “My Precious Wife – [Wedding Day]

  1. Annyeong, aq riders bru nich 🙂
    huhu 😥 kasian luhan tdur sndirian #aqmaukok nemenin 😉 #plakk #gaje_abaikan

  2. Aku readers baru.. Salam kenal thor..
    Suka banget sm ff ini.. Jarang ada yg dingin cewenya bukan cowony.. Semangat eoni buat lanjutinnya!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s