A!—Part 2. Bunga Matahari

markek copy

A!

BAB 2

BUNGA MATAHARI

MinHyuniee storyline

PROLOG | BAB 1

OC’s/You as Oh Hana | GOT 7’s Mark Tuan

EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Amber Liu | SHINee’s Lee Taemin | BTS’s Kim Taehyung | BTOB’s Lee Minhyuk | HELLOVENUS’s Kim Hyelim | BAP’s Choi Junhong | NU’EST’s Choi Minki | SEVENTEEN’s Choi Seungcheol | After School’s Lee Kaeun | Tuan’s Family | etc

Chaptered (3,454 words) | romance, comedy, school life, family, AU, OOC, little bit smut, typos

PG-17 [WARNING!]

Heyo!! Maaf banget saya update-nya kelamaan (T_T) hikseu, saya sibuk MOS #infopenting, makanya saya lupa kalau saya punya tagihan FF yang belum rampung. Btw, sori ya kalau pendek, ini udah saya sempet-sempetin ngetik biar kalian gak lumutan nunggunya (emang ada yg nunggu? #plak). Oke deh, saya udah menyarankan agar anak dibawah tiga/tujuh belas tahun tidak membacanya, tapi kalau masih ngeyel mau baca ya silahkan. Resiko ditanggung pembaca. Last, saya mau ngucapin happy reading!

DON’T LIKE? DON’T READ! DON’T BASH/FLAME ME!

-A-

MARK’s SIDE

“Kau apakan, Hana?”

Aku melirik sebentar seorang pemuda yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan pintu masuk ruanganku. Sejurus kemudian, aku pun terkekeh kecil. Kembali kusibukkan kedua tanganku untuk merapikan meja kerjaku tanpa merespon perkataan pemuda berkemeja hijau tersebut. Matahari sudah tenggelam di ufuk barat setengah jam yang lalu dan itu tandanya aku benar-benar harus pulang sekarang.

hyung.”

Tercekat, aku memilih untuk mendongakkan kepalaku, menatap malas pemuda berambut hitam legam yang kini sudah ada di depan meja kerjaku dengan ekspresi datarnya. Kami bertatap-tatapan seolah-olah sedang berkomunikasi lewat mata padahal aku hanya menatapnya dengan pandangan ‘menjauhlah-dariku’, tapi mengapa rasanya Minhyuk—nama si pemuda berambut hitam legam—menatapku dengan tatapan seperti mengajak berkelahi? Tsk, dasar anak muda.

“Apa kau ada jadwal kuliah malam, Minhyuk-ah?” bertanya mungkin bisa meluluhkan suasana. Tumpukkan kertas-kertas hasil ujian itu kumasukkan kedalam ranselku.

“Menurutmu?” Minhyuk nampak enggan membalas, ia menghempaskan dirinya pada tempat duduk di depan mejaku.

Aku mengendikkan bahu, lalu beranjak dari tempat dudukku, mengambil ransel hitamku kemudian mengulum senyum tiga jari untuk juniorku itu. Well, ya Minhyuk memang sempat menjadi juniorku waktu smp tapi begitulah, entah karena aku memang cerdas atau terlalu beruntung, aku berhasil lebih unggul darinya dengan predikat siswa teladan nasional. Andai saja waktu itu aku tidak satu sekolah dengannya. Dia sangat misterius, dan juga ia selalu menatapku dengan tatapan yang sangat menyeramkan. Sialnya, sekarang dia menjadi muridku.

“Sehun. Oh Sehun. Kau mengenalnya, bukan?”

Lamunanku buyar, tubuhku terpatung begitu saja.

“Dia kakak kandung Oh Hana. Jadi jangan macam-macam dengannya.”

Seketika mataku melebar.

Oh tidak. Ini malapetaka.

-A-

Oh Sehun. Kakak kandung Oh Hana. Oh Sehun. Sehun. Hana…

“Markeu~ibu sudah membuatkanmu makan malam, sayang! Turunlah!”

Aku tersentak ketika suara teriakan ibu mengudara. Sontak saja lamunanku buyar. Menghela nafas, aku membiarkan beberapa kertas ujian muridku berserakan pada meja cukup besar yang ada di hadapanku. Aku melepaskan kacamataku, lalu memijit pelan pelipisku agar menghilangkan rasa pusing yang tiba-tiba menyerangku. Ini sudah yang kesekian kalinya aku mengabaikan pekerjaanku hanya untuk seorang Oh Hana, dan aku masih saja tidak bisa menemukan alasan mengapa aku terus memikirkannya.

“Tunggu sebentar, Ibu!” sahutku lemas.

Rasanya aneh sekali, kenapa aku memikirkan hal yang tak seharusnya aku pikirkan? Lagipula, apa hubungannya aku dengan Hana? Dia salah satu muridku, dan dia memang harus kubimbing karena nilainya memang cukup ‘fantastis’ untuk seukuran mahasiswi jurusan Human Sociality semester 3. Well, untuk masalah ini, kata fantastis itu ada arti lainnya. Bahkan lembar jawaban ujian susulannya tadi pun penuh dengan coretan asal tentang bagaimana proses penyakit flu babi bisa terjadi. Harus kuakui kalau ini lebih parah daripada jawaban ujian semester 1 nya tahun lalu. Aku tak habis pikir, dia itu mau masuk jurusan sosial umum atau kedokteran sih? Lebih-lebih, ternyata dia adalah adik dari seorang Oh Sehun yang dulunya adalah mahasiswa terkenal di universitas Inha. Coret tulisan terkenal untuk arti lain, karena nyatanya Oh Sehun pernah mericuh pada saat kelas guru besar Jang berlangsung.

Well, Guru besar Jang adalah dosen paling berpengaruh di universitas Inha. Jadi, wajar saja jika Oh Sehun dikategorikan sebagai mahasiswa ter-‘kenal’ disana. Jangan tanyakan kerusuhan apa yang dia lakukan dulu, aku tidak ingin membahasnya sekarang.

Dosen-dosen di Inha seringkali melemparkan kata-kata protes untuk ketua yayasan kami, tapi beliau selalu memberikan alasan yang sama mengenai mengapa Oh Sehun tidak dikeluarkan dari Universitas Inha.

‘Dia adalah mahasiswa yang sangat cerdas, jadi berhentilah mengeluhkan perilakunya di kelas kalian. Kelakuan orang cerdas memang lain dari yang lain.’

Aku yang waktu itu adalah dosen yang sedang dalam masa percobaan pun cukup heran dengan perilaku Oh Sehun si mahasiswa paling cerdas dan—uhuk—tampan se-antero kampus itu. Jika dia saja sudah berani melakukan hal seperti itu pada guru besar Jang, apalagi kepadaku? Untung saja aku tidak pernah mengajarnya, dan lebih untung lagi dia tidak pernah memakai kekerasan jika sedang beraksi, kalau pernah, mungkin saja saat ini juga aku sudah memberikan nilai A pada Hana dan meluluskannya dari kelasku. Aku tidak ingin terlibat masalah dengan siapapun yang kenal seorang Oh Sehun. Salahkan saja aku yang selalu masa bodoh dengan latar belakang murid-muridku. Ini benar-benar hal yang tak terduga.

“Apa kau baik-baik saja?”

Untuk kesekian kalinya lamunanku buyar. Refleks, kepalaku menoleh ke arah pintu masuk kamarku dan selanjutnya tanpa sadar helaan nafas lega keluar dari bibirku.

“Ya, aku baik-baik saja, Ayah.” Jawabku kemudian.

Laki-laki paruh baya yang merangkap sebagai Ayahku itu tampak berjalan memasuki kamarku, membiarkan pintu masuk terbuka karena aku tahu dia hanya ingin memastikan keadaanku saja. Ayah duduk di kasurku, masih dengan kedua mata yang mengawasiku dari sana.

“Kau ada masalah dengan pekerjaanmu?” Ayah bertanya lagi dengan tatapan menyelidik.

Aku memutar kursiku, “Sungguh, aku tidak apa-apa, Ayah. Katakan pada Ibu kalau aku akan turun sebentar lagi.” Balasku seraya merenggangkan badanku yang sedikit kaku akibat terlalu lama duduk. Mataku memicing, berusaha melihat ekspresi Ayahku yang sepertinya masih tak percaya pada ucapanku.

“Kalau kau ada masalah, kau bisa bercerita pada Ayah.”

Mataku memutar malas, inilah yang membuat aku enggan bersikap mencurigakan di hadapan Ayah. Sekalinya curiga, dia akan terus saja menghantuiku dengan berbagai pertanyaan yang memojokkan. Tapi aku bersyukur, setidaknya itu berarti Ayah selalu memperhatikanku.

“Apa Ibu sudah selesai memasak?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan.”

“Oh ayolah, Ayah. Ini bukan masalah yang penting.” Aku beranjak dari tempat dudukku dengan kacamata yang sudah bertengger manis pada hidung bangirku.

“Ayah hanya tidak ingin kau menjadi tidak konsentrasi karena memikirkan masalahmu itu. Sedikit bercerita pada Ayah mungkin bisa membuatmu tenang.”

Aku menghela nafas (lagi), lalu dengan terpaksa mendaratkan bokongku pada tempat di sebelah Ayahku. “Jadi begini, ada seorang pemuda yang berprofesi sebagai guru, dia selalu memikirkan sesuatu mengenai seorang perempuan yang tak lain adalah muridnya sendiri. Apakah itu aneh? Maksudku, sebenarnya apa yang membuat guru itu memikirkan perempuan tersebut?”

Ayah tampak berpikir sebentar sementara air mukanya berubah menjadi sedikit keruh. Keningnya mengernyit, “Tentu saja itu tidak aneh. Kau ini pura-pura bodoh atau bagaimana? Itu artinya guru tersebut tertarik pada muridnya. Kurasa itu hal yang wa—“

“Tsk, mau sampai kapan kalian berdua membiarkan Ibu menunggu di bawah?”

Terkejut, sontak kepalaku mendongak hingga iris mataku menemukan seorang perempuan bertubuh mungil kini sedang bertolak pinggang di hadapanku dan Ayah. Aku mengulas senyum tiga jari, berusaha menghindar dari tatapan mematikan adikku. Sementara Ayah tampak mencibir karena ucapannya dipotong oleh anaknya sendiri.

“Ayah hanya me—“

“—membicarakan hal yang tak penting dengan Mark. Begitu ‘kan? Hah, sudah kuduga.” Adik perempuanku—Grace—memutar bola matanya malas. Aku menahan tawaku ketika ekspresi Ayah berubah menjadi suram setelah Grace lagi-lagi memotong ucapannya. Mereka berdua benar-benar kekanakan.

“Cepatlah turun. Bicarakan saja hal itu jika kita sudah selesai makan, dan uhm, kurasa Ibu akan mengomel panjang lebar setelah ini, jadi bersiap-siaplah.”

Sepertinya sakit kepalaku akan kambuh setelah ini.

-A-

Apa aku salah liat?

“Totalnya 10.000 yen, tuan.”

Sepertinya tidak.

“Tuan?”

Itu Hana dan… Junhong? Bukan bukan! Mungkin itu…

“Tuan? Permisi?? Apa anda jadi membeli barang-barang ini?”

Aku tersentak kaget. “A-ah? Apa?”

Pegawai perempuan itu menatap heran diriku. Ia menggeleng kecil, kemudian mengulang lagi jumlah harga barang-barang yang kubeli. Setelah itu, aku keluar dari minimarket dengan mata yang sibuk mencari muridku di tempat ketika aku melihatnya sedang berjalan bersama pemuda asing. Aku menghela nafas kecewa saat mengetahui bahwa mereka sudah hilang tanpa jejak dari tempat itu. Dan selanjutnya aku hanya mengumpat kecil dalam perjalanan pulang menuju rumahku.

Hari ini adalah hari libur nasional, dan itu artinya hidupku hari ini akan membosankan. Seharusnya aku senang, tapi entahlah, akhir-akhir ini aku terlalu banyak pikiran sampai-sampai kurasa otakku akan meledak saking penuhnya.

Masalah pertama. Kemarin, saudara jauhku yang berasal dari Yeoksam-dong tiba-tiba datang saat aku dan Ayah sedang dalam proses mendengarkan petuah Ibu yang—uhm—bisa juga disebut sebagai omelan. Dia mengatakan kalau ia disuruh ibunya untuk tinggal di rumah keluargaku hingga ia lulus dalam program kuliah Hukumnya nanti; itu memerlukan waktu 1 tahun lagi. Oke, Grace mengijinkannya; dengan alasan bahwa saudara jauhku itu tampan, Ayah juga, apalagi Ibu, dan sekarang mereka menunggu keputusanku. Bukannya aku tidak suka padanya, tapi… ah sudahlah. Aku tidak ingin menyakiti hatinya lagi dengan kata-kataku. Well, nama saudara jauhku itu adalah Choi Seungcheol. Dia manusia super—dalam arti hiperaktif dan aneh. Jangan pernah bertanya kenapa dia kusebut manusia super, aku bahkan masih sulit menjelaskan sebenarnya dia itu saudaraku atau bukan. Oh baiklah, lupakan itu.

Masalah kedua, Grace membeberkan rahasiaku. Sebenarnya itu bukanlah sebuah rahasia, anggap saja itu aib. Tadi pagi perempuan bar-bar itu menghancurkan kamarku—dia mengelak dengan alasan bahwa kamarku memang hancur dari awal. Hingga akhirnya ia menemukan secarik foto ‘terlarang’ milikku yang sengaja kusimpan diatas lemari. Kemudian, dia pun berlari menuju Ibu dan Ayahku sambil berteriak ‘ada-orang-gila’ dengan suara cemprengnya. Lalu yang kudengar setelahnya adalah suara tawa menggelegar dari semua penghuni rumah, ya terkecuali aku. Demi apapun, aku tidak akan mau meminjamkannya laptop lagi.

Dan masalah yang terakhir adalah, Bunga Matahari. Hari ini aku berniat untuk berkunjung ke rumah bibi Lee yang senang sekali berkebun. Dia sangat baik kepadaku, oleh sebab itulah aku selalu membelikannya sebuket bunga Matahari karena dia menyukai warna cerah pada bunga tersebut. Yang menjadi masalahnya sekarang adalah toko bunga yang sering kukunjungi itu kini tengah tutup. Aku tidak tahu dimana lagi aku bisa mendapatkan bunga Matahari selain di toko bunga tersebut.

Ini sungguh rumit.

Lebih baik aku hilang ingatan saja daripada memikirkan semua masalah menjengkelkan ini.

“Ahhh—nghh opp-ahh, be-berhentihh ssh…”

Aku meneguk ludahku kasar. Mataku mengedarkan tatapan waspada ke sekitar gang sempit yang setiap hari kulewati saat pulang kerja. Sampai akhirnya manik mataku terpaku pada dua sosok manusia yang sepertinya sedang melakukan sebuah ‘kegiatan’. Keningku mengernyit heran. Ini bahkan masih terlalu pagi untuk melakukan hal seperti itu di tempat umum.

Mengendikkan bahu, aku lalu meneruskan perjalanan pulangku tanpa memperdulikan apa yang pasangan itu lakukan disana.

Opp-aah nghhh.. ssh ohh yeah di-disanahh..”

Refleks, tubuhku membeku saat jarakku sudah lumayan dekat dengan sepasang kekasih tersebut. Aku tidak tahu mengapa rasanya suhu tubuhku menjadi naik secara tiba-tiba setelah mendengar ‘suara’ itu. Belum lagi, area bagian bawahku yang tiba-tiba teg… ang… err… ini gawat!

Mataku menyipit, berusaha melihat apa yang sebenarnya mereka lakukan.

“Aaah.. aaah.. ra-rasakann inihh b*tch!”

Kontan mataku melotot. Ternyata mereka sedang making love disana! Pantas saja daritadi kulihat lelaki itu menaik turunkan badannya dengan cepat di atas tubuh seorang perempuan yang mungkin saja adalah pacarnya. Astaga Tuhan, itu bahkan lebih parah dari blue film yang sering ditonton oleh rekan-rekan kerjaku di kampus! Mereka melakukannya dengan gaya baru! Err… kenapa aku menjadi bersemangat seperti ini?

“Mereka hot ‘kan?”

Sontak aku menolehkan kepalaku, menemukan seorang pemuda yang tadi membuat jantungku hampir ingin lompat dari rongganya. Pemuda itu tampak menyeringai, dan juga sepertinya dia menatapku dengan tatapan meremehkan. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku celananya, kemudian berjalan mendahuluiku—dan juga melewati kedua sejoli yang masih asik bercumbu. Aku melongo, antara heran dan tidak mengerti dengan apa yang tadi orang itu katakan. Tidak mau berlama-lama mendengar suara erotis dari pojok gang, aku pun langsung berjalan mengikuti pemuda tersebut. Menurut instingku, ada sesuatu yang ingin pemuda itu sampaikan padaku.

“Abaikan saja mereka,” Dia berucap setelah aku berhasil  mensejajari langkahku dengannya, “bukan hanya disitu, mereka melakukannya dimana-mana. Yeah, kau tahu. Pasangan anak muda jaman sekarang memang seperti itu.” Lanjutnya santai. Aku mengangguk –sok- paham.

Omong-omong, namaku Kim Taehyung. Kau bisa memanggilku Taehyung. Aku kelahiran 1995.” Ia tersenyum tipis, menghilangkan kesan jutek yang tadinya melekat pada dirinya.

“Aku Mark. Mark Tuan. 1993.”

Taehyung menambah lebar senyumannya, “Senang bisa mengenalmu, hyung.”

“Ya aku juga.”

Pemuda di sampingku nampak sedang sibuk memikirkan sesuatu, sedangkan aku hanya diam sambil menatap kosong trotoar yang ada di bawahku. Selama perjalanan pulang, tak ada satu pun dari kami yang membuka pembicaraan setelah berkenalan tadi. Aku tidak perduli atau lebih tepatnya tidak mau perduli pada alasan mengapa Taehyung bersikap aneh seperti itu. Biarlah dia saja yang menyimpan semua pemikirannya, lagipula aku tidak ada masalah dengannya, jadi untuk apa aku ikut memusingkan dia? Tsk, tampaknya hari ini aku terlalu banyak berpikir.

Aku menaruh sepatuku di rak lalu masuk ke dalam rumah. Grace menyambutku seperti biasa dengan tawa cerianya, sementara Ayah dan Ibu terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka di dapur. Aku menggeleng heran saat Grace berteriak kegirangan karena katanya Seungcheol akan pindah malam ini. Mungkin mereka akan cocok jika berpacaran, hm. Iya… mungkin.

“Selangkanganmu kenapa?”

Deg!

Sial!

Dengan secepat kilat, aku langsung berlari menuju kamarku, mengabaikan teriakan Grace yang sepertinya baru sadar dengan tonjolan yang ada diantara selangkanganku ini. Buru-buru aku mengunci kamarku. Sedikit ragu, aku melirik kebawah dan ternyata benar, ‘adikku’ masih bangun. Pantas saja tadi aku merasa sangat tidak nyaman saat berjalan. Aku menghela nafas pasrah. Kuhempaskan tubuhku di kasur, lalu membuka sedikit celana serta zipperku.

Well, tampaknya permainan ‘solo’ku akan berlangsung lama.

Hah, sungguh menyedihkan.

-A-

‘klining klining’

Pandanganku menyapu seluruh sudut ruangan sebuah toko bunga bergaya natural yang baru saja aku masuki. Aku tersenyum simpul saat iris mataku bertemu dengan sebuah manik mata coklat gelap yang baru saja tiba di hadapanku. Kulangkahkan kakiku mendekati si pemilik mata menawan tersebut, mengabaikan beberapa orang yang tadinya tampak sedikit terkejut ketika melihatku datang.

“Selamat datang, Tuan muda.” Suara lembut itu mengudara. Lee Kaeun—nama gadis berambut brown choco dan manik mata coklat gelap—itu tersenyum lebar seraya menundukkan badannya sembilan puluh derajat dihadapanku. Aku balas tersenyum, namun sejurus kemudian aku pun mengacak rambutnya gemas.

“Apa Ibumu ada di halaman belakang?” aku bertanya setelah berhasil membuatnya mengerang kesal karena kelakuanku.

Ia memajukan bibir bawahnya, lalu menjawab, “Ibu sedang mengurus pesanan besar dari seorang pelanggan baru. Kukira kau tidak akan datang hari ini. Ibu membutuhkan bantuanmu, Mark o-p-p-a.”

Aku mengalihkan pandanganku sambil menahan tawaku yang jika keluar rasa-rasanya akan semakin membuat gadis mungil di depanku ini terus berprilaku menggemaskan. Aku paling tidak kuat berhadapan dengan seorang gadis manis. Tolong garis bawahi kata-kata itu.

Mataku kontan membulat ketika menemukan sesosok gadis manis yang kukenal sebagai muridku kini terlihat sedang mengobrol dengan Bibi Lee. Tubuhku membeku seakan baru saja melihat sesuatu hal yang mustahil saat ini.

“Kau lihat itu? Sepertinya dia ingin merayakan sesuatu, seperti… pesta peringatan hubungan…? Atau mungkin pes—“

“Hana?” Aku bergumam, membuat Kaeun yang ada tepat di sampingku langsung menghentikan gerakan bibirnya.

“Kau kenal dia, oppa?”

Tak kuperdulikan suara Kaeun yang memanggilku saat aku berlari menuju Hana—sosok gadis yang berhasil mencuri perhatianku. Mataku sama sekali tak berkedip, pandanganku hanya fokus padanya, dan entah mengapa aku merasa telah terhipnotis dengan sosok gadis yang memiliki senyum menawan itu. Dia membuatku melakukan hal yang tak seharusnya kulakukan, seperti sekarang, kini aku berdiri di hadapannya dengan tampang bodohku. Sementara itu, Hana tampak cengo saat melihatku. Oh tidak, hancur sudah image cuekku ini.

“Markie?” terkejut, sontak aku menoleh ke sampingku hingga aku bisa melihat seorang wanita paruh baya yang tersenyum hangat padaku. “Bibi kira kau tidak datang.” Ujarnya lembut.

“Bibi kenal orang ini??”

“Ah iya, laki-laki cerdas ini bernama Mark Tuan. Dulunya dia itu tetangga bibi sebelum bibi pindah kesini. Dia sering membantu bibi merawat tanaman di halaman belakang rumah bibi.” Aku mengedip cepat setelah mendengar Bibi Lee menjelaskan sesuatu pada Hana.

“Markie, ini Oh Hana. Pelanggan baru bibi.”

Aku tersenyum kikuk, sedangkan Hana hanya menatapku datar.

“Bibi, aku harus cepat-cepat pergi. Apa pesananku sudah jadi?” ia berucap sehabis membuang mukanya saat aku hendak mengatakan sesuatu padanya. Aku mencibir kesal.

Cih, bocah ini takkan kuberikan nilai A sampai kapanpun.

“Tunggu sebentar, bibi ambilkan dulu.” Bibi Lee pun beranjak pergi menuju halaman belakang rumahnya, tempat dimana biasanya ia menyalurkan hobi berkebunnya. Sementara aku kini harus meneguk ludah sendiri karena gadis di hadapanku tampak tak ingin bekerja sama denganku. Hana mengedarkan tatapannya ke sekeliling, terlihat berusaha tak perduli dengan keberadaanku. Sekarang aku mulai berpikir, apa memang wanita selalu bersikap seperti ini jika bertemu dengan seorang pria?

“Maaf atas kelakuanku tempo hari. A-aku hanya… err… yeah kau tahu sendiri, aku tidak bisa mengontrol emosiku. Jadi… maafkan aku.”

Hana diam. Aku pun diam.

Sabarlah Mark Tuan. Sabar.

“Kalau kau tak memaafkan aku.. juga tidak apa. Sebena—“

“Ayah dan Ibuku tinggal di Busan. Mereka jarang berkunjung ke Seoul. Kakak laki-lakiku terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Tapi aku memakluminya karena memang dia bekerja untuk memenuhi kebutuhanku selama bersekolah di Seoul. Jadwal pergi dan pulang kerja kakakku berlawanan dengan jadwal kuliahku… hingga aku jarang sekali dapat bertemu dengannya. Terkadang aku merasa seperti tak punya siapa-siapa. Walaupun begitu, aku tetap tidak ingin merepotkan Hyelim dan Junhong yang selalu memaksakku untuk memanggil mereka jika aku kesepian. Masalah keluarga mereka bahkan lebih pelik daripada masalahku, namun mereka tetap tegar. Tidakkah aku terlihat manja dan kekanakan? Haha.. Ya, anak bungsu keluarga Oh ini memang sangat kekanakan..” Hana berkata panjang lebar diiringi dengan tetesan air mata yang mengalir perlahan dari sudut matanya. Manik matanya menatap ke sembarang arah, seperti berusaha untuk menutupi kesedihannya dariku.

Aku terdiam, tidak tahu harus berbuat apa. Ini kali pertama, aku merasa tidak berguna di hadapan seorang wanita dan untuk pertama kalinya juga, aku melihat seorang wanita menangis di depanku. Lebih-lebih dia tiba-tiba menceritakan tentang kehidupan pribadinya. Aku kira Oh Hana adalah wanita terkuat di dunia ini; mengingat dia pernah menendangku saat pertama kali bertemu dengannya. Ini benar-benar membingungkan.

Kuulurkan tangan kananku untuk menyentuh pucuk kepalanya, membiarkan instingku bekerja sesuai keinginannya. Aku mengelus kepalanya secara perlahan, menyalurkan apa yang ingin aku katakan lewat belaian lembut di kepalanya. Hana menundukkan kepalanya sembari mengelap air mata yang entah sejak kapan telah beranak. Ia menangis sesenggukan, membuatku tak tahan menatapnya terus menerus. Entah apa yang merasukiku, kedua tanganku menarik tubuhnya begitu saja hingga aku dapat memeluknya. Demi Neptunus, aku hanya ingin membuatnya tenang tapi mengapa jadi seperti ini? Aish, bodoh sekali kau Mark!

“Kau ini seperti bunga matahari, mengembang disaat matahari terbit dan layu disaat matahari terbenam. Kau tidak bisa menopang hidupmu sendiri karena kau hanya bergantung dengan sinar matahari. Kau selalu mengikuti kemana arah matahari berdiam diri, oleh sebab itulah kau tidak punya pendirian sendiri. Tapi dibalik itu semua, kau adalah bunga yang indah, selalu dikerubungi oleh banyak serangga. Mereka membantumu dan mereka juga membutuhkanmu. Jadi, kau tidak boleh menyerah. Aku yakin sebenarnya semua orang yang ada di dekatmu itu sangat menyayangimu. Termasuk aku. Percayalah, kami semua membutuhkanmu.”

Aku mengeratkan pelukanku pada tubuh kecilnya. Membiarkan bajuku basah oleh tangisannya. Mataku terpejam erat, seakan membenarkan ucapanku tentang membutuhkannya. Kurasakan tangan mungilnya menggengam erat kemejaku. Tubuhnya bergetar saat aku membisikkan kata ‘jangan-menangis’ di telinganya. Itu semakin membuatku sakit. Entah kenapa ada perasaan aneh di hatiku tiap kali melihatnya ada di sekitarku.

Tunggu sebentar… jangan-jangan… aku menyukainya?!

“Mark oppa!”

Dengan gerakan cepat, Hana melepaskan pelukanku kemudian mengelap air matanya memakai bajunya. Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal ketika Bibi Lee dan Kaeun menghampiriku dan Hana. Bibi Lee nampak menghela nafas kecil saat Kaeun berlari dan langsung memelukku. Iris mataku menatap lekat pada sebuah pot bunga yang tengah dibawa oleh Bibi Lee. Dengan gerakan pelan, aku melepaskan pelukan Kaeun dari tubuhku.

“Ini pesananmu, Hana-yya.”

Hana tersenyum simpul, lalu mengambil pot bunga matahari berhiaskan pita berwarna peach yang dibawa oleh Bibi Lee, “Terimakasih banyak, Bi. Sehun oppa pasti akan sangat menyukai bunga ini. Aku permisi dulu.” Ia membungkukkan badannya sebelum berjalan pergi dari toko bunga Bibi Lee.

Aku menatap lekat sosoknya sampai ia menghilang di belokan jalan.

“Apa kau menyukainya, oppa?”

Kupejamkan mataku sebentar, mencoba mencari jawaban dari pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Kaeun.

Apa aku menyukainya?

.

“Tidak. Aku tidak menyukainya.”

 

TO BE CONTINUED

-A-

Hello~ Hello~ LOL finally selesai juga chapter duanya. Ini udah lumayan panjang loh, jadi kalau ada yang protes lagi mending bikin ff sendiri deh /GA. Btw, terimakasih banyak buat komentar dan like-an kalian di chapter sebelumnya. Padahal saya rasa cerita ini gak begitu bagus, apalagi bahasanya masih hancur-hancuran -_- lol saya merasa gagal /sigh. Saya mohon jangan ada yang jadi silent readers lagi ya, kemarin saya liat masih banyak yang jadi siders, makanya saya rada ogah-ogahan ngelanjutinnya, tapi untung aja masih banyak yang perduli dan nge-comment dua kali supaya ff ini dilanjutin. Hiks, makasih banyak loh kawan-kawan. Oke deh, segitu aja cuap-cuap saya disini. Kalau kalian mau nitip ff bisa langsung hubungi saya di twitter @oversgm 😀 hehe sampai ketemu di chapter selanjutnya! See ya~

Advertisements

56 responses to “A!—Part 2. Bunga Matahari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s