An Angel in Senior High School [CHAPTER 1 — WELCOME TO EARTH!]

An Angel in Senior High School

 

—Storyline by AlinePark @angiiewijaya—

 

Main Cast
Kim Mi Jung [OC’s]
Mark Tuan Yi-En [GOT7] as Mark Tuan

Other Cast
Lee Gi Kwang [Beast/B2ST] as Lee Gi Kwang
Jessica Lee Mi Hyeon [OC’s]
Lee Sung Yeol [Infinite] as Lee Sung Yeol
Nam Ji Hyun [4Minute] as Nam Ji Hyun
Nam Woo Hyun [Infinite] as Nam Woo Hyun
Son Na Eun [A-Pink] as Son Na Eun

Genre
Romance, Fantasy

Length
Series

Rating
Teenager

Disclaimer
Inspired by a new Korean Drama synopsis, ‘High School Love On’. But, I think it will be a very different plot. Because I don’t have a motive to make it same. Just inspiration. If the plot same, it just an accident. I’m sorry, but please enjoy!

 

PREVIOUS

 

An Angel in Senior High School [Prolog + Cast]

 

An Angel in Senior High School
Chapter 1 — Welcome to Earth!

 

HAPPY READING

 

Di antara banyak kerumunan orang, seorang gadis tampak berjalan keluar dari pintu kedatangan. Ia menyeret sebuah koper pink besar dengan tangan kanannya. Matanya yang tertutup kacamata hitam itu tampak mencari-cari ke sekeliling bandara.

“Jessica!”

Gadis itu menoleh mendengar teriakkan tersebut. Ia tersenyum lega begitu melihat siapa yang memanggilnya. Ia pun langsung berlari pelan ke arah orang itu. Ternyata, orang itu tidak sendiri. Ia bersama dua orang lainnya. Jessica yang sudah berdiri depan mereka, langsung melepas kacamata hitamnya dan membungkukkan tubuhnya sopan.

“Annyeong haseyo ajussi, ajumma.”

“Aigoo, kau makin cantik saja.” ujar seorang wanita setengah baya. “Orang tuamu tidak bisa menjemput. Mereka sedang berada di Italia sekarang. Jadi, kau akan tinggal bersama kami untuk beberapa saat, arraseo?”

“Ah, terimakasih ajumma. Aku jadi merepotkan.”

“Ah, aniya. Kami senang dengan kedatanganmu.” jawab seorang pria setengah baya, yang berdiri tepat di samping wanita tadi. Tiba-tiba, pria itu menoleh ke arah belakang.

“Ya! Mark! Kau tidak mau menyapa Jessica?”

Seorang laki-laki berambut coklat langsung mendongakkan kepalanya. Sedaritadi, ia hanya berkutat dengan ponselnya sambil duduk di bangku yang dipenuhi oleh orang-orang yang sedang menunggu. Sebenarnya, ia sudah menyadari kehadiran gadis bernama Jessica itu, hanya saja, ia malas untuk menghampirinya. Tapi, karena pria setengah baya itu—alias ayahnya—sudah memanggilnya, dengan terpaksa ia menghampiri gadis itu.

“Hello Yi-En! Remember me?” sapa Jessica cerah dengan bahasa inggrisnya yang fasih. Tidak lupa, ia juga melingkarkan tangannya di lengan Mark.

“Ah, ne, Jessica-ssi.” jawab Mark seadanya—dan tanpa menggunakan bahasa inggris. Setelah itu, ia melepaskan tangan Jessica.

Jessica tidak berhenti sampai situ. Ia malah melingkarkan tangannya kembali sambil memanyunkan bibirnya.

“Ya. Kenapa kau jadi cuek sekali padaku?”

Ayah Mark pun hanya menatap tajam ke arah Mark, lalu mengalihkan pembicaraan mereka.

“Ah, ayo kita ke rumah. Kami sudah menyiapkan makan siang untukmu.”

“Jinjja? Wah, sekali lagi terimakasih ajumma!” ujar Jessica kembali dengan senyum cerahnya. Tapi ekspresinya langsung berubah kembali ketika Mark berjalan mendahuluinya—dan melepaskan tangannya untuk kedua kalinya.

Para kumpulan gadis langsung duduk di bangku kosong begitu masuk ke dalam ruangan yang berukuran besar itu. Di antara banyak gadis, terdapat seseorang yang tampak hanya diam, memejamkan matanya, dan mengatup kedua tangannya.

“Tolong. Kali ini aku harus bisa pergi ke bumi.”

TAK! TAK!

Semuanya pun langsung menjadi hening. Gadis yang sedang berdoa itupun langsung menolehkan kepalanya ke depan. Ternyata, di depan sana ada sebuah panggung yang sekarang sedang ‘dikuasai’ oleh seorang wanita yang memegang sebuah tongkat hitam. Tampaknya, ia menggunakan tongkat itu untuk membuat suara ketukkan keras agar para gadis bisa diam.

“Astaga. Kim sonsaengnim selalu mengerikan jika sudah di akhir bulan.”

“Tentu saja, ini kan pemilihan salah satu dari kita untuk menjadi Angel di bumi.”

Wanita yang dipanggil Kim sonsaengnim itu—alias Kim Tae Yeon—menatap ke arah seratus gadis yang masih duduk dalam diam itu.

“Baiklah, seperti biasa, hari ini aku akan mengumumkan siapa yang menjadi Angel untuk bulan ini.”

Semua pun tampak menegang mendengar kalimat tersebut. Tidak semuanya tegang karena takut nama mereka tidak disebut. Ada saja yang tegang karena penasaran. Tapi, tidak sedikit yang mengharapkan nama mereka disebut.

“Seperti biasa, aku akan memilih berdasarkan nilai dan sikap kalian selama belajar menjadi seorang Angel. Jika nilai kalian jelek dalam pelajaran kemanusiaan, kalian tidak bisa menjalani misi sebagai seorang Angel. Kenapa? Karena kalian pasti akan kesulitan ketika sudah berada di bumi.”

Tae Yeon kembali berhenti, mengambil jeda untuk menyebut nama seorang gadis yang akan menjadi Angel.

“Jika sebelumnya Lee In Jung yang terpilih. Bulan ini adalah…,”

“Untuk gadis bernama Kim Mi Jung, silahkan ke kantorku.”

Seorang gadis yang sedaritadi—melanjutkan—berdoa langsung mendongakkan kepalanya. Ia menatap ke arah Tae Yeon yang turun dari panggung tanpa berkedip. Gadis lainnya menyorakki dan mengucapkan selamat kepadanya, meski beberapa gadis tampak pergi dari ruangan tersebut karena iri.

“Wah! Chukkae Mi Jung-a!”

“Kau beruntung sekali!”

“Kau memang bekerja keras belakangan ini.”

“Selamat Mi Jung-ssi!”

“Cepatlah ke ruang Kim sonsaengnim!”

Mi Jung tampak sadar dari lamunannya. “Ah, ne, aku duluan ya! Terimakasih semuanya!”

Akhirnya, Mi Jung bangkit dari bangkunya. Ia pun langsung meninggalkan para gadis lain yang tampak masih menyorakkinya.

Tak membutuhkan waktu lama, Mi Jung sudah sampai di kantor. Tae Yeon sudah duduk di bangkunya. Begitu melihat Mi Jung, ia langsung menunjukkan senyum cantiknya.

“Silahkan duduk, Kim Mi Jung.”

Sembari Mi Jung melangkah ke kursi, Tae Yeon mengobrak-abrik laci mejanya. Tidak lama setelah Mi Jung sudah dengan posisi duduk yang nyaman, wanita di depannya itu meletakkan sebuah map hitam—yang tampaknya ia cari sedaritadi.

“Mmm, baiklah, ini adalah pertama kalinya kau menjalani misi sebagai Angel. Aku sangat bangga padamu, kau cepat belajar.”

“Kau tidak memilihku karena aku anakmu ‘kan, eomma?”

Tae Yeon menggeleng sambil membaca isi map hitam tersebut. “Tentu saja tidak. Aku memilihmu karena kau mendapat nilai yang bagus. Kau juga sangat bersemangat.”

Mi Jung tersenyum tipis. “Lalu, kenapa eomma menyuruhku untuk berpura-pura seakan-akan aku bukan anakmu?”

“Aku hanya tidak ingin terjadi masalah. Jaga-jaga.” jawab Tae Yeon sambil menutup map hitam tersebut. “Baiklah, sekarang aku akan memberikan beberapa pengarahan untukmu.”

Mi Jung menegakkan tubuhnya. Ia menatap ibunya itu dan berusaha fokus dengan segala yang diucapkannya.

“Kau harus menjalani misimu selama satu bulan. Jika kau gagal, kau harus keluar dari kelas Angel. Aku bisa mendeteksi apakah kau berbohong atau tidak dalam menyampaikan laporanmu.”

Mi Jung mengangguk-ngangguk mengerti. Tiba-tiba, ekspresnya berubah. “Oh, iya, kau bilang jika kita ke bumi kita harus menjatuhkan diri ktia dari awan. Apa akan…, sakit?”

Tae Yeon tertawa. “Tidak hanya sakit, kau akan banyak terluka. Kau ‘kan berubah menjadi manusia, pasti tubuhmu terluka.” jawabnya. “Jadi, supaya lukamu cepat sembuh, kau harus minum obat penyembuhan herbal sebelum pergi ke bumi.”

Mi Jung menompangkan dagunya di telapak tangannya. “Memangnya kenapa ‘sih, kita harus ke bumi dengan cara seperti itu.”

Tae Yeon tersenyum maklum. “Kecelakaanmu akan membuatmu bertemu dengan seseorang di bumi yang akan membantumu. Kau tidak mungkin membawa uang banyak untuk membeli rumah di sana bukan?”

Mi Jung hanya menjawabnya dengan mengangguk. Meski ia senang, tapi ia masih takut dengan rasa sakit ketika jatuh ke bumi. Tae Yeon pun tampak berhenti membahas hal tersebut, ia membuka map hitam yang baru saja ia baca. Kali ini, map itu diarahkan kepada Mi Jung.

“Ini adalah targetmu.”

Ternyata map hitam itu berisi sebuah data diri tentang orang yang menjadi target Mi Jung. Target adalah manusia di bumi yang harus dibantu oleh Angel.

“Dia adalah orang yang pendiam. Meski begitu, yang menjadi masalahnya adalah tentang percintaan. Ayahmu tidak mendapatkan informasi detailnya. Tapi aku rasa, ia memiliki masalah dengan seorang perempuan.”

“Ahh, begitu rupanya.” gumam Mi Jung. Ia membaca data orang itu dengan baik. Ia terpaku begitu melihat beberapa kumpulan foto orang itu.

“Kenapa melihatnya seperti itu? Ia tampan bukan?”

“Eh?” wajah Mi Jung memerah. “Ya…, harus kuakui begitu. Dia cocok memakai apapun. Seragam sekolah, baju basket, kemeja santai…,”

Tae Yeon tertawa untuk kedua kali melihat anaknya itu. “Ayahmu bercanda kepadaku. Katanya, ia sengaja memilih target itu untukmu karena ia tampan.”

Mi Jung tersenyum pahit. “Gi Kwang oppa lebih tampan.”

Tae Yeon yang mendengar gumaman tersebut langsung menghela nafas dan berpura-pura tidak mendengar. Ia pun mengakhiri pembicaraan.

“Ya, baiklah. Itu saja yang ingin kubicarakan. Beristirahatlah dan persiapkan dirimu untuk besok. Jangan membebani pikiranmu.”

Akhirnya, Mi Jung pergi meninggalkan kantor Tae Yeon. Ia berusaha menghapus pikirannya mengenai laki-laki yang bernama Gi Kwang itu. Sembari berjalan, ia memilih untuk kembali melihat data targetnya.

“Mark Tuan.” gumamnya.

Malam pun datang setelah Mi Jung direkrut menjadi Angel. Ia baru saja menjalani makan malam spesial bersama kedua orang tuanya, sebagai perayaan keberhasilannya. Sekarang, ia sedang berbaring di kasurnya sambil melihat pemandangan di luar jendela. Kebetulan, jendela kamarnya berada tepat di samping kasur.

Ia bisa melihat jelas awan—yang merupakan pijakkannya—yang semula berwarna putih cerah berubah menjadi hitam. Seingatnya, jika terjadi seperti itu, berarti di suatu daerah pada bumi sedang diguyuri hujan. Ia sangat iri dengan manusia yang dapat merasakan kumpulan air yang jatuh itu. Tapi, perasaan itu langsung disingkirinya, mengingat bahwa ia akan pergi ke bumi besok.

Setelah menikmati pemandangan tersebut, ia memutar tubuhnya menghadap ke arah meja kecil yang berada di sisi samping lain kasurnya. Ia mengambil sebuah bingkai foto yang berdiri di atas meja tersebut, kemudian melihat foto yang terdapat di bingkai sambil tetap berbaring.

“Gi Kwang oppa,” gumamnya. “kenapa di saat aku berhasil, kau tidak ada?”

“Apa yang sedang kau lihat?”

Mendengar suara yang cukup familiar, Mi Jung langsung menyembunyikan bingkai foto tersebut dibalik bantal. Ia pun mengubah posisi rebahannya menjadi duduk.

Ternyata, Tae Yeon lah yang masuk ke kamar Mi Jung. Ia berjalan menuju kasur dan duduk di sana. Tangannya yang cukup mungil untuk seumurannya, bergerak ke bawah bantal lalu mengambil bingkai foto tersebut. Mi Jung pun hanya bisa pasrah ketika ibunya melihat foto di bingkai tersebut.

Tae Yeon menghela nafas. “Apakah aku terlalu sibuk sampai-sampai tidak tahu kau masih menyimpan ini?”

“Eomma…”

“Kau tahu, mood-ku sedikit hancur karena tampaknya hari ini kau memikirkannya terus.” ujarnya. “Aku dan appa sudah bilang kepadamu untuk tidak memikirkan Gi Kwang lagi. Dan foto ini, bukankah aku sudah membuangnya? Kau memungutnya?”

“Itu hanya untuk…”

“Untuk apa? Kenang-kenangan? Kau pikir itu akan membuatmu lebih baik, dengan mengenangnya, begitu? Apakah itu membuatmu berhenti bersedih?”

“APA YANG EOMMA TAHU?!”

Tae Yeon terkejut mendengar teriakkan Mi Jung. Baru pertama kali putrinya itu berteriak di hadapannya. Mi Jung bahkan dengan berani menatapnya tajam. Emosi pun terlihat dari raut wajahnya.

“Mi Jung-a, jaga omo—“

“Dulu appa dan eomma yang memaksa kami berdua untuk bersama! Tapi sekarang, appa dan eomma menyuruh kami berpisah! Kalian menyuruh kami berpisah di saat kami saling mencintai, eomma! Apa karena ia sudah meninggal, kalian tidak menganggapnya lagi, begitu?!”

Tangisan Mi Jung pecah. Air mata mengalir deras membasahi pipinya. Ia berpikir, apakah air matanya sama seperti hujan? Apakah hujan juga menangis untuknya, sekalipun ia tidak bisa melihatnya?

“Mi Jung-a…” Tae Yeon merasa bersalah karena termakan emosinya.

“Kalian tidak tahu apa yang kurasakan. Aku kehilangan sosoknya eomma. Sosok yang selalu berjuang ketika aku menolaknya. Sosok yang selalu tidak membuatku kecewa ketika aku menerimanya.” Mi Jung terisak. Tangisannya tertutupi oleh kepalanya yang menunduk.

“Dan aku kehilangan sosok yang aku cintai.”

Tae Yeon ikut menundukkan kepalanya. Ia kembali melihat bingkai foto yang sedaritadi ia pegang. Foto tersebut diambil ketika hari pertama Mi Jung masuk ke sekolah Angel. Ia sedang berdiri di depan sekolah sambil menunjukkan senyum manisnya. Bahkan, matanya ikut tersenyum, membentuk sebuah eye smile.

Ia juga tidak sendirian, seorang laki-laki dengan seragam malaikat merangkulnya sambil ikut tersenyum. Laki-laki itu cukup mempesona dengan wajah tampannya, ditambah tubuhnya yang cukup kekar. Kedua matanya juga sama seperti Mi Jung, membentuk sebuah eye smile yang tak kalah manis. Ya. Laki-laki itu adalah Lee Gi Kwang.

“Aku rasa kau memang harus tahu mengenai hal ini, Mi Jung-a.”

Drrt .. Drrt ..

Laki-laki itu langsung menggeliat di atas kasur begitu mendengar alarm berbunyi dari ponselnya. Masih dengan mata terpejam, tangan panjangnya meraba-raba meja kecil di samping kasur. Setelah bersusah payah, akhirnya ia dapat mengambil ponselnya yang masih berbunyi itu.

8.50 AM
Kerja kelompok di rumah Ji Hyun pukul 9 pagi

Ia langsung membulatkan matanya ketika membaca sebuah note yang terdapat pada alarm tersebut. Dengan terburu-buru, ia langsung bangkit dari kasur dan membuka lemarinya untuk mengambil pakaian. Masih tidak mempercayainya, ia kembali melihat ke arah ponselnya.

“Aish! Bukannya aku memasang alarm pukul 7 pagi?! Kenapa baru menyala sekarang?!”

Tidak mau menghabiskan waktu untuk mengurusi alarmnya, laki-laki itu memilih untuk segera masuk ke kamar mandi. Sekitar 5 menit kemudian, ia keluar dengan pakaian baru yang masih terlihat berantakkan.

Drrt .. Drrt ..

Baru saja tangannya ingin meletakkan handuk di gantungan pintu, ponselnya kembali berbunyi. Ia pun segera meraih benda tersebut. Kali ini, terdapat sebuah panggilan masuk.

“Ah, Ji-Ji Hyun-a,”

“Ya! Lee Sung Yeol! Jangan sampai kau terlambat ke rumahku, arraseo?!”

“Ah, ne, a-aku sudah di tengah perjalanan.”

“Baguslah kalau begitu.”

Laki-laki yang ternyata bernama Sung Yeol menghela nafas berat. “Aish, kenapa gadis itu galak sekali sih?”

Matanya kemudian kembali melihat ke arah layar ponselnya. Keluhannya berubah menjadi senyuman begitu melihat foto seorang gadis yang menjadi wallpapernya.

“Tapi, kau tetap saja seorang putri bagiku, Nam Ji Hyun.”

Tiba-tiba ia tersadar dari lamunannya. Ia kembali melihat ke arah jam pada ponselnya.

“Aigoo! Aku akan terlambat!”

Ia pun segera mengambil sebuah tas ransel di kursi meja belajarnya dan keluar dari kamar.

Sung Yeol sedang melakukan perjalanan menuju rumah Ji Hyun. Ia mengemudikan mobilnya cukup kencang—karena tidak ingin diamuk oleh putrinya itu.

BAK!

Ia terkejut melihat ‘sesuatu’ yang aneh jatuh dari atas. Tapi, ia menduga bahwa itu adalah tubuh seseorang. Ia pun mulai panik.

“Tunggu! Apa aku menabraknya?!”

Sung Yeol kembali berusaha mengingat kejadian sedetik yang lalu. Ia langsung menggeleng kepalanya.

“Tidak mungkin, aku melihatnya jatuh dari atas! Astaga! Apa jangan-jangan ia bunuh diri dari atas pohon?!” Sung Yeol mulai panik kembali.

“Eh, tunggu, bukannya jika kita menemukan orang seperti ini dan membiarkannya, kita akan…, dihantui?”

Sung Yeol menjerit. “Astaga, kenapa aku harus menonton film horror sih semalam?! Membuatku telat bangun, terburu-buru, dan melihat hal seperti ini! Aish, kenapa kesialan datang bertubi-tubi kepadaku?”

Akhirnya, Sung Yeol keluar dari mobilnya. Ia menghampiri—yang diduga—mayat itu. Ternyata, ia adalah seorang perempuan.

“Aish, wajahmu cantik, tapi kenapa kau bunuh diri seperti ini? Bahkan kepalamu itu membuat wajahmu menjadi menyeramkan.”

Dengan sangat terpaksa sambil mengucap doa dalam hati, Sung Yeol mengangkat tubuh gadis itu dengan kedua tangannya. Ia memasukkan gadis itu ke dalam bangku belakang mobilnya. Setelah memastikan bahwa posisi gadis itu baik-baik saja—dan memungkinkan untuk tidak terjatuh—ia kembali ke bangku pengemudi. Ia menghela nafas berat, tidak percaya dengan apa yang dialaminya.

Drrt .. Drrt ..

Meski tangan kanan Sung Yeol mengambil ponselnya yang berbunyi, ia tidak mengalihkan perhatiannya dari menyetir. Dan ia pun sudah tahu siapa yang menelfonnya, sehingga tanpa melihat nama sang penelfon ia langsung mengangkat panggilan tersebut.

“Ya! Kau di mana?!”

“Ji Hyun-a, dengarkan aku. A-aku rasa, aku tidak bisa datang ke rumahmu. Aku sedang membawa mayat yang entah bagaimana bisa mati di depan mataku sendiri.”

“Mwo? Apa yang kau bicarakan? Mayat?”

“Aish! Sudahlah, aku akan bicara padamu nanti, okay?”

Sung Yeol mematikan sambungan telfon sebelum Ji Hyun menjawabnya. Ia benar-benar terlalu panik dan merasa tidak punya waktu untuk menjelaskan. Sekarang, yang harus ia lakukan nomor satu adalah orang yang sedang dibawanya—atau yang dianggapnya mayat.

Tak lama setelah percakapannya dengan Ji Hyun, ia sampai di depan UGD rumah sakit terdekat. Dengan cepat, beberapa petugas membawa sebuah ranjang dorong. Mereka juga membantu Sung Yeol untuk mengangkat gadis itu dari dalam mobil.

Setelah sudah dipindahkan ke ranjang, para petugas itu membawanya ke dalam UGD. Sung Yeol tidak langsung mengikuti mereka. Ia memarkirkan mobilnya terlebih dahulu, baru ia ikut ke dalam.

“Apa yang terjadi kepadanya?”

Sung Yeol tersentak mendengar pertanyaan dokter tersebut. “Astaga, apa kejadian ini akan masuk akal?”

“Itu…, ketika aku menyetir mobil, tiba-tiba aku melihat gadis ini jatuh. Entahlah, aku tidak mengingat jelas. Aku hanya melihatnya seakan-akan terjatuh di depan mobilku.”

“Dokter, kami tidak menemukan wali dari gadis ini.” ujar seorang suster yang tiba-tiba datang.

“Apa?” sang dokter terkejut. Ia mengusap wajahnya yang terlihat sedikit pucat.

“Dokter, apa anda baik-baik saja?”

Dokter itu menghela nafas, kemudian menoleh ke arah Sung Yeol. “Bersediakah engkau menjadi walinya?”

“NE?!”

Sung Yeol membulatkan matanya mendengar tawaran sang dokter—yang terdengar seperti paksaan. Ini sudah kelewatan, membawanya ke rumah sakit saja sudah membuatnya cukup gila. Dan sekarang ia harus menjadi wali dari gadis itu?

“Aku tidak menyuruhmu untuk menjadi wali yang membayar pengobatan gadis itu.”

Kali ini Sung Yeol diam. Ia tidak mengerti dengan apa yang dokter itu katakan.

“Kau pikir gadis itu butuh pengobatan? Lihatlah keadaannya sekarang.”

Sung Yeol menolehkan kepalanya, menatap gadis itu yang masih terbaring dengan keadaan tidak sadar. Ia langsung terkejut melihatnya. Ia masih ingat luka pada kepalanya cukup besar dan menyeramkan. Tapi, sekarang luka itu hanya terlihat seperti goresan kecil.

“Ia adalah seorang Angel.”

“Angel? Malaikat? Begini, dokter…,” Sung Yeol melirik sebentar ke arah tanda pengenal pada jas dokter itu. “Ah, okay, dokter Nam Il Jun, begini, aku sudah cukup gila melihat seorang gadis meloncat dari atas. Dan kau memberi penjelasan yang sangat tidak masuk akal kepadaku! Ini jauh lebih buruk dibanding aku harus membayar pengobatannya!”

“Sudah kubilang dia tidak membutuhkan pengobatan,” ujar sang dokter yang ternyata bernama Il Jun. “tapi ia membutuhkanmu.”

“Membutuhkanku? Aish, apa yang kau mak—“

“Nanti kau bicaralah kepadanya jika ia sudah sadar. Aku masih ada jadwal operasi.”

“Tu-tu-tunggu dulu! Dokter Nam!”

Il Jun sama sekali tidak mengindahkan panggilan Sung Yeol. Merasa kesal, Sung Yeol langsung mengacak-acak rambutnya.

“ARGHH!”

Sung Yeol berteriak cukup kencang, membuat beberapa orang di UGD mengalihkan perhatiannya. Seorang suster pun menghampirinya.

“Maaf Tuan, harap kecilkan suaramu.”

Setelah suster itu pergi, Sung Yeol hanya bisa pasrah. Ia mengadahkan kepala ke atas dan membuang karbon dioksida dari mulutnya. Ia masih tidak percaya jika hal seperti ini terjadi di kehidupannya.

“Eung…”

Sung Yeol terkejut mendengar gumaman, yang menurutnya sedikit menyeramkan. Ia yakin bahwa gadis yang ia tolong lah yang bersuara. Tapi sebelum menoleh, ia mulai berpikir, jangan-jangan gadis itu mati dan menghantuinya? Ia pun langsung bergidik dan berusaha menepis pikiran tersebut.

Akhirnya, Sung Yeol menolehkan kepalanya. Ia langsung mengucap syukur begitu melihat gadis itu sadar, alias tidak ‘menghantuinya’.

Setelah gadis itu beberapa kali mengerjapkan matanya, ia menoleh ke arah Sung Yeol yang masih menatapnya.

“Aku…, di mana?”

“Kau di rumah sakit.” jawab Sung Yeol.

Mendengar jawaban Sung Yeol, gadis itu menatapnya semangat sambil mengubah posisinya menjadi duduk.

“Jinjja? Ini di bumi?”

“Ya. Kau pikir ini di mana? Kau ini siapa sih? Apa kepalamu memiliki gangguan karena terbentur?”

“Tidak, aku baik-baik saja.” jawab gadis itu.

Sung Yeol menghela nafas kesal. “Baiklah, siapa kau?”

“Aku?” tanya gadis itu sambil menunjuk dirinya sendiri. Ia kemudian tersenyum sambil mengulurkan tangannya, berniat mengajak Sung Yeol bersalaman.

“Namaku Kim Mi Jung.”

Sung Yeol menatap gadis di depannya itu makan dengan lahap. Ya, siapa lagi jika bukan Mi Jung. Mereka berdua sudah kembali dari rumah sakit. Dan hebatnya, dokter Nam Il Jun, yang menurut Sung Yeol adalah dokter gila, membayar semua biaya pengobatan Mi Jung meski sebenarnya cukup murah. Tentu saja, luka Mi Jung sembuh dengan sendirinya.

“Ya. Apa tenagamu sudah cukup untuk bercerita kepadaku?”

Mi Jung menghentikan makannya. Ia menoleh ke arah Sung Yeol—masih dengan nasi penuh di mulutnya—dengan tatapan bingung. Tapi sedetik kemudian, ia mengerti apa maksud laki-laki itu. Ia ingat, ia meminta makanan sebelum ia bercerita karena sangat lapar. Ia meletakkan mangkuk nasinya di atas meja.

“Aku adalah seorang Angel yang bertugas untuk menolong orang di bumi. Aku berasal dari langit. Kau bilang, kau menemukanku terjatuh dari atas bukan? Aku rasa, aku sedang jatuh ke bumi saat itu. Kau mau membantuku kan?”

Sung Yeol membulatkan matanya.

“MWO?!”

Mi Jung mengangguk dengan polos. Ia memasang wajah memelasnya sambil menempelkan kedua telapak tangannya.

“Kumohon.”

Sung Yeol mengusap wajahnya. “Begini ya, aku sudah cukup frustasi mendengar ceritamu yang tidak masuk akal, dan sekarang kau menyuruhku membantumu menyelamatkan manusia, begitu?”

Mi Jung menggeleng. “Aniya. Kau hanya perlu memberiku tumpangan untuk tinggal.”

“Ya! Kau pikir aku gila apa?! Masa aku membiarkanmu tinggal di sini?! Kau ini perempuan! Orang-orang bisa menggosip yang tidak-tidak! Sudahlah, lebih baik kau pergi saja dari rumahku!”

Sung Yeol bangkit berdiri. Ia berjalan menuju pintu depan untuk membukanya, berniat mengusir Mi Jung. Gadis itu akhirnya mengalah sambil membawa tasnya. Meski begitu, ia tampak terlihat santai dan tidak takut.

“Baiklah aku pergi. Lagipula aku yakin, kau akan mencariku nanti. Karena ibuku bilang, kalau orang yang melihatku jatuh, ialah yang akan membantuku di bumi. Annyeong!”

Mi Jung akhirnya keluar dari apartemen Sung Yeol. Tapi, laki-laki itu malah menjadi tidak tenang.

“…kalau orang yang melihatku jatuh, ialah yang akan membantuku di bumi.”

“ARGHH! Untuk apa aku memikirkannya?! Mungkin bukan aku yang melihatnya pertama kali! Bisa saja sudah ada yang melihatnya!”

Meski ia berkata seperti itu, hati Sung Yeol memberikan sinyal-sinyal aneh. Tapi ia tetap berusaha menyangkalnya dan segera pergi ke meja makan untuk membersihkannya.

“Apa ia akan baik-baik saja? Sekarang kan sudah malam.”

Sung Yeol membuang karbon dioksida dari mulutnya. Ia meletakkan kembali piring yang sebelumnya sudah berada di tangannya ke atas meja makan. Kakinya yang panjang langsung berlari mengambil jaket dan keluar dari apartemen.

DRAK!

Baru saja Sung Yeol membuka pintu, ia langsung disambut oleh seseorang yang terduduk di lantai. Orang itupun langsung menoleh ke arahnya sambil mengerjapkan beberapa matanya.

“Aku pikir kau akan membutuhkan waktu lama untuk berubah pikiran.”

Sung Yeol menatapnya kesal, sedikit menyesali perbuatannya. Ia berkacak pinggang. “Ya. Memang siapa ‘sih yang harus kau tolong itu? Kau mau menolongku? Aku tidak membutuhkanmu.”

Orang itu—yang sudah dipastikan adalah Mi Jung—menggeleng. Ia membuka tasnya, kemudian mengobrak-abrik isinya. Tak membutuhkan waktu lama, ia mengeluarkan sebuah map hitam dan mengulurkannya kepada Sung Yeol. Laki-laki itupun mengambilnya dengan acuh tak acuh.

Mata Sung Yeol membulat meski baru melihat foto laki-laki yang menjadi target Mi Jung.

“Mark Tuan?”

“Iya. Namanya tercantum di situ.”

Sung Yeol langsung menutup map hitam itu. Mi Jung sedikit heran dengan ekspresi dan tingkah Sung Yeol. Ia hanya berpikir kalau laki-laki itu sudah membaca biodata Mark, padahal sebaliknya. Tapi, laki-laki itu tidak berbicara apa-apa melainkan membalikkan tubuhnya untuk masuk kembali ke apartemen.

“Cepat masuk. Aku akan membantumu.”

Mi Jung hanya diam setelah Sung Yeol menghubungi seseorang dengan panggil ‘ajumma’. Jika ia tidak salah menangkap percakapan tersebut, laki-laki itu tampak menyuruh ajumma itu datang ke rumah. Itu membuatnya semakin bingung—mengingat bahwa Sung Yeol memberinya pertolongan ‘tiba tiba’.

“Sung Yeol-ssi,” ini baru pertama kalinya Mi Jung memanggil namanya. “kenapa kau tiba-tiba mau menolongku?”

Sung Yeol menghela nafas pelan. “Itu karena Mark adalah sahabatku.”

“Ne? Jinjja?”

“Aku sebenarnya tidak yakin jika kau bisa menolong Mark. Entah apa itu masalahnya. Tapi, aku akan membantumu karena ia sahabatku.”

“Benarkah kau akan membantuku Sung Yeol-ssi?” Mi Jung menatapnya takjub.

“Aish, kau tidak perlu menggunakan embel-embel itu. Berapa umurmu?”

Mi Jung tampak berpikir. Ia sering lupa umurnya di bumi karena hal seperti itu jarang dibahas di langit. Tapi ia bisa meyakinkan bahwa ia tidak terlalu tua.

“Kalau di bumi aku sudah kelas 11.”

“Woah, kau masih muda ya. Aku kelas 12.”

“Benarkah? Kalau begitu aku bisa memanggilmu ‘oppa’?”

“Eh?”

Mi Jung terkejut dengan ucapannya. Ia memang sedikit berlebihan meski dengan orang yang baru ia kenal.

“E-eh, ma—“

“Ya, boleh saja ‘sih.”

TING TONG.

Percakapan mereka terhenti begitu bel pintu berbunyi. Sung Yeol dengan cepat membuka pintunya. Ia sudah yakin sekali bahwa orang yang ia hubungi tadilah yang datang. Dan benar saja, seorang wanita setengah baya masuk ke dalam apartemen.

“Ada apa Tuan memanggilku ke sini?” tanya wanita itu setelah dipersilahkan Sung Yeol untuk duduk.

“Ah, ajumma, aku tahu ini akan merepotkanmu. Ia ini adalah temanku, orang tuanya baru saja meninggal karena kecelakaan. Tidak ada keluarga lain yang ingin menampungnya, sehingga aku menolongnya. Tapi, aku tidak mungkin membiarkannya tinggal di rumahku karena ia perempuan. Jadi…,”

Sung Yeol memberi kode kepada Mi Jung melalui senggolan kaki. Mi Jung pun cepat mengerti dan segera menundukkan kepalanya, berusaha menunjukkan kesedihan palsunya.

“bisakah kau menampungnya? Aku akan menambahkan gajimu berapapun! Asal kau mau mengurusnya dan membantuku untuk memindahkannya ke sekolahku. Kau mau kan ajumma?”

Wanita paruh baya itu sangat terkejut. Ia menatap Sung Yeol dan Mi Jung bergantian.

“Tapi Tuan, bagaimana dengan orang tua anda? Apa mereka mengetahuinya?”

“Kau tidak perlu memberitahu mereka. Aku tidak mau mereka tahu. Aku juga menggunakan uangku untuk menolong gadis ini. Kau mau kan ajumma menolongku? Hanya kau yang bisa kupercayai.”

Wanita paruh baya itu tidak langsung menjawab. Raut wajahnya tampak ragu dengan ‘tawaran’ yang mendadak itu. Sung Yeol pun berusaha menatapnya dengan penuh harapan. Sedangkan Mi Jung, ia tetap menduduk sambil berdoa.

“Tolong ini berhasil!”

Rumah sederhana itu menjadi terang begitu lampu dinyalakan. Wanita paruh baya itu berjalan duluan dan disusul oleh Mi Jung. Ya, akhirnya wanita itu menyetujui tawaran Sung Yeol dan malam itu juga Mi Jung tinggal bersamanya.

Ia mempersilahkan Mi Jung untuk duduk di sofa ruang tamu. Ia tidak langsung duduk bersama gadis itu, tapi ia pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman. Mi Jung sendiri hanya terdiam sambil menatap sekeliling. Meski rumah itu sederhana, tapi seluruh isinya tertata rapi.

Tak berapa lama, wanita itu datang membawa minuman. Ia meletakkannya terlebih dahulu di meja, baru duduk di atas sofa.

“Aku turut berduka cita atas meninggalnya orang tuamu. Aku salut melihatmu cukup tegar.”

Mi Jung tersenyum tipis, memulai aktingnya. “Ya, pasti mereka tidak ingin melihatku bersedih di sini.” ujarnya. “Ah, ajumma, aku minta maaf jadi merepotkanmu. Aku tidak bermaksud seperti itu.”

Wanita itu tertawa pelan. “Tidak usah sungkan. Aku tidak bisa menolak jika Tuan Sung Yeol meminta bantuan. Lagipula, kau sudah sangat kesulitan, bagaimana bisa aku tega kepada gadis secantikmu.”

“Ah, kau sangat baik sekali. Terima kasih ajumma.” Mi Jung bangkit berdiri sambil membungkukkan tubuhnya 90 derajat. Tapi, dengan cepat wanita itu menyuruhnya duduk.

“Aigoo, kau benar-benar anak yang sopan.” ujar wanita itu sambil tertawa kembali.

“Ah, ngomong-ngomong, apa hubungan ajumma dan Sung Yeol oppa?”

“Kami berdua? Dia majikanku, aku bekerja di apartemennya dari pagi sampai sore.” jawabnya. “Dia benar-benar anak yang baik meski sangat kaya raya. Ia tinggal sendirian di apartemen itu dan sudah bekerja di perusahaan ayahnya.”

Mi Jung terkejut mendengar hal itu. Ia tidak bertanya apa-apa tetapi wanita itu tampaknya ingin bercerita banyak. Ia pun mulai penasaran.

“Benarkah?”

Wanita itu mengangguk. “Ia mengurusi perusahaan yang berada di Korea. Sedangkan ayahnya, ia sibuk mengurusi cabang perusahaan di Amerika. Ibunya pun juga sibuk menjadi model di Perancis. Ia awalnya tinggal di rumah bersama pamannya, dan tentu bersamaku juga. Tetapi setelah menghasilkan uang cukup banyak, ia memilih untuk membeli apartemen. Akupun membantunya dalam sehari-hari.”

“Woah, Sung Yeol oppa sehebat itu?”

“Ya, begitulah. Aku tidak menyangka, saat masih bersama orang tuanya, ia lebih banyak diam kepadaku. Aku berpikir kalau ia orang yang sombong. Tapi setelah tinggal sendiri dan aku mulai membantunya, baru kusadari kalau ia orang yang baik. Ia bahkan banyak bicara.”

Mi Jung tampak mengangguk-ngangguk mengerti sambil bergumam ‘o’ panjang. Ia mulai menyimpulkan kalau Sung Yeol adalah orang yang baik. Hanya saja, laki-laki itu mungkin belum berbicara banyak karena mereka baru berkenalan.

“Ah, ajumma, namamu siapa?”

“Namaku?” tanya wanita itu. “Kim Ju In.”

Dua minggu sudah lewat setelah Mi Jung tinggal bersama Ju In. Hubungannya dengan Ju In semakin dekat. Wanita itu memintanya untuk memanggilnya ‘eomma’. Mereka berdua memang cocok, ditambah marga yang sama.

Dan Sung Yeol, laki-laki itu memang banyak berbicara setelah mereka berdua semakin dekat. Mereka berdua pun tampak seperti sepasang kakak-adik.

Lalu kabar Mi Jung sendiri?

Ia sudah melakukan test untuk masuk ke sekolah. Ia mendapatkan nilai sangat tinggi, sehingga ia diberikan diskon cukup besar untuk biaya administrasi—meski Sung Yeol akan sanggup membayar tanpa diskon. Aktenya pun juga sudah siap, ia hanya perlu menunggu hari esok, hari pertama ia masuk sekolah.

Ia cukup berdebar mengingat akan hal itu. Selain karena akan menjadi pengalaman baru, ia akan bertemu dengan Mark Tuan. Sung Yeol memang sengaja mendaftarkan gadis itu ke sekolahnya agar bisa bertemu dengan targetnya itu.

Sekarang, ia sedang pergi ke sebuah kafe. Ia terpaksa pergi sendirian karena Sung Yeol ada rapat di perusahaan—padahal sekarang adalah hari Minggu. Meski begitu, ia tetap senang, ia bisa melihat banyak hal baru dan mengabdikannya sebagai foto dengan iPhone putih berselimut cashing merah muda yang baru dibelikan Sung Yeol kemarin. Laki-laki itu juga menjelaskan berbagai macam aplikasi, dan salah satu yang paling Mi Jung suka adalah Instagram.

“Permisi Nona, ini pesanan anda.”

Mi Jung mengalihkan perhatian dari ponselnya begitu mendengar suara seorang perempuan yang tampak memanggilnya. Ternyata perempuan itu adalah seorang pelayan yang mengantar coklat panas pesanannya. Ia pun langsung mengangguk dan tersenyum kepada pelayan itu, begitu pula sebaliknya.

“Selamat menikmati.”

“Ah, terimakasih.”

Akhirnya, pelayan itu pergi meninggalkan Mi Jung. Sebelum meminumnya, Mi Jung memotret coklat panas tersebut dan menguploadnya ke Instagram. Ia tersenyum sendiri melihat hasil fotonya.

“Memang smartphone di bumi itu keren.”

Setelah bergumam seperti itu, Mi Jung meminum coklat panasnya dengan santai sembari mendengar live music di kafe tersebut.

Di sela-sela Mi Jung menyantap coklat panasnya, tanpa ia sadari seseorang memperhatikannya. Orang itu tampak sedikit terpesona dengan pemandangan itu. Selain karena posisi Mi Jung yang menarik, pemandangan kafe dengan tambahan coklat panas itu membuatnya semakin indah. Tanpa babibu lagi, orang itu mengeluarkan kamera DSLR nya dan memotret momen tersebut. Ia tersenyum melihat hasil foto tersebut.

“Nice photo for today.” ujar orang itu dengan bahasa inggris yang fasih.

Drrt .. Drrt ..

Perhatian orang itu teralihkan begitu ponselnya berbunyi. Ia mengangkat panggilan tersebut.

“Yoboseyo?”

“Ya! Kau kan sedang sakit! Cepatlah kembali ke rumah!”

“Aku akan kembali nanti. Kau tenang saja. Okay mom?”

Hubungan diputus oleh orang itu. Ya, sekarang ia memang sedang sedikit demam, pakaiannya saja sedikit tebal. Tapi ia merasa bosan jika harus beristirahat terus-terusan. Dan akhirnya, ia memilih untuk melakukan hobinya, photography.

Ia menyenderkan tubuhnya ke bangku kafe sambil melihat hasil foto-foto yang ia ambil. Ia berhenti cukup lama ketika sampai di foto Mi Jung.

“Ya, tidak jelek juga ‘sih. Tapi tidak cantik juga. Hanya style nya yang bagus.”

Matanya kemudian melihat ke tempat Mi Jung duduk. Tapi, ternyata bangku itu sudah kosong. Ia terkejut dan melihat tempat itu lebih detail. Matanya semakin membulat begitu melihat iPhone putih bercashing merah muda tergeletak di atas meja itu. Ia melihat sekeliling, kemudian mendapati Mi Jung yang sudah berada di pintu kafe, berniat untuk keluar.

“Ya-ya-ya!”

Orang itu menjadi panik. Ia meletakkan beberapa lembar uang di atas meja, lalu berlari mengambil ponsel Mi Jung. Ia pun berusaha untuk mengejar gadis itu.

Ketika sudah berada di luar kafe, ia tidak dapat langsung menemukannya. Kerumunan orang membuatnya semakin susah mencari. Ia berlari dan sesekali menyerobot orang-orang. Tubuhnya dengan cepat menjadi lemas karena ia sendiri kurang fit.

Setelah cukup lama mencari, ia tidak menemukan Mi Jung sama sekali. Salah satu tangannya memegang lututnya karena lelah. Sedangkan satu lainnya, mengangkat ponsel itu agar bisa ia lihat.

“Aish, siapa ‘sih kau ini? Merepotkan saja membuatku melakukan hal ini.”

“Eung…”

Orang itu menggeliat di atas ranjang begitu terbangun dari tidurnya. Pertama kali yang ia lihat setelah langit-langit kamar adalah barang di tangannya. Ternyata, ia masih memegang iPhone putih bercashing merah muda itu selama tidur. Karena lelah mencari sang pemilik—alias Mi Jung, sesampainya di rumah ia langsung memilih untuk beristirahat.

Rasa penasaran yang masih terselimuti dari dirinya itupun membuatnya membuka ponsel tersebut. Ia sebenarnya berniat untuk menghubungi seseorang dari kontaknya, tapi tangannya cukup jail untuk melihat-lihat ponsel itu. Ia pun membuka gallery gambar.

Ia mendapati beberapa selca dari gadis itu. Dan dari situlah, ia baru bisa mengenali wajah Mi Jung. Meski sudah melihatnya tadi, ia masih belum bisa mengingat dengan jelas apalagi hanya dari sisi samping.

“Eh, dia lumayan juga.”

Orang itu menggelengkan kepalanya dengan wajah memerah. Bagaimana bisa ia memikirkan hal itu. Baiklah, itu hal normal memuji seorang perempuan. Tapi ini bukanlah gayanya!

Baru saja ia akan membuka yang lain, ponsel itu mati. Ia membulatkan matanya.

“Astaga, apa tadi baterainya habis? Aish, ini kan iPhone, kabelnya tidak sama dengan Samsung!”

Ia langsung mengacak-acak rambutnya. Karena kejailannya yang bodoh itu, ia tidak bisa menghubungi kerabat atau teman dari sang pemilik ponsel. Tepat saat sedang memikirkan hal itu, seseorang masuk ke kamarnya dengan kasar.

“Yi-En, are you—“

“Ya! Kenapa kau tidak mengetuk?!”

Mark—dengan panggilan Yi En, alias orang itu, langsung menutupi tubuhnya yang tidak memakai potongan baju sama sekali dengan selimut. Tidak lupa, ia menyembunyikan ponsel Mi Jung di balik punggung.

“Aku hanya ingin mengingatkan pacarku untuk makan malam kok.” ujar gadis itu sambil tersenyum, tanpa memperdulikan keadaan Mark. Ia pun tampak ingin mendekati laki-laki itu.

“Ya! Ya! Stop!” Mark menegur. “Aish, dengar ya, aku ini bukan pacarmu. Aku akan turun lima menit lagi. Sekarang, lebih baik kau pergi dari sini.”

“Tapi—“

“Jessica-ssi, cepat keluar!”

“Baiklah, baiklah! Aku akan keluar!”

Jessica tampak pasrah dan keluar dari kamar Mark. Mark pun hanya bisa mengacak rambut coklatnya itu.

TAP. TAP.

Hari ini adalah hari pertama Mi Jung masuk ke sekolah. Ia berjalan mengikuti seorang guru wanita di lorong yang sepi karena semua murid sudah masuk ke kelas. Tapi wajahnya tidak menunjukkan keceriaan. Sekarang yang muncul di pikirannya hanyalah ponselnya yang hilang. Ia merasa sangat tidak enak kepada Sung Yeol—bahkan belum menceritakannya.

“Nah, ini kelasmu mulai sekarang. 11-2.”

Langkah Mi Jung langsung terhenti. Ia melihat sebuah pintu dengan papan di pinggirannya menghadap ke lorong bertuliskan ’11-2’. Mendadak, perasaannya malah menjadi gugup.

“Ayo masuk.”

Mi Jung kembali mengikuti wanita itu masuk ke dalam kelas. Semua murid yang awalnya biasa saja, karena berpikir hanya seorang guru yang masuk, langsung berbinar-binar sekaligus bingung melihat Mi Jung ikut masuk ke dalam dengan seragam yang sama seperti mereka.

“Selamat pagi semuanya.”

“Pagi Kim Sonsaengnim.”

“Hari ini, kita kedatangan seorang murid baru. Silahkan perkenalkan dirimu.”

Mi Jung menatap ke arah Kim Sonsaengnim yang memberinya kesempatan untuk memperkenalkan diri. Ia pun membungkukkan tubuhnya 90 derajat, sebagai tanda kesopanannya.

“Annyeong haseyo. Aku Kim Mi Jung. Aku pindah ke sini karena dibantu oleh Lee Sung Yeol setelah orang tuaku meninggal. Aku harap kalian bisa membantuku di sini.”

“Jadi, kedua orang tua Mi Jung meninggal karena kecelakaan. Aku harap kalian bisa membantunya dengan menunjukkan diri kalian sebagai sahabat.” jelas Kim Sonsaengnim. “Kau bisa duduk di sana.”

Mi Jung akhirnya berjalan ke sebuah bangku kosong dengan seorang gadis yang merupakan teman sebangkunya mulai detik itu. Tempat yang ia duduki berada di paling kanan barisan ke empat dari lima barisan.

Gadis itu langsung mengulurkan tangannya begitu Mi Jung sudah duduk di bangkunya.

“Son Na Eun ibnida!”

“Ah, ne, Kim Mi Jung ibnida.” Mi Jung memperkenalkan diri sekaligus membalas uluran tangan tersebut.

“Ngomong-ngomong, aku turut berduka cita atas meninggalnya orang tuamu.”

Mi Jung menunjukkan senyum pahitnya—memulai aktingnya. “Gomawo Na Eun-ssi. Tapi aku juga selalu mencoba tegar kok.”

“Jangan pakai embel-embel ‘-ssi’, anggap saja kita teman dekat.”

“Ah, ne, baiklah.”

Akhirnya, pelajaran pun dimulai. Semua murid membuka buku Sejarah mereka. Ya. Kim Sonsaengnim adalah wali kelas mereka sekaligus seorang guru Sejarah. Mi Jung sedikit tidak bersemangat. Sejarah bukanlah pelajaran konsisten seperti Fisika, Matematika, atau Biologi. Sejarah tiap bagian dunia berbeda-beda. Sampai sekarang, ia masih belum menangkap pelajaran Sejarah Korea karena terfokus pada ‘dunia asal’nya.

Di tengah-tengah Kim Sonsaengnim menjelaskan, tiba-tiba Na Eun memberinya selembar kertas dengan coret-coretan tinta yang membentuk sebuah kalimat. Konsentrasinya pun menjadi buyar. Ia membaca tulisan di yang tertera di sana.

Hey, mau makan siang bersamaku di kantin? Aku tidak berani berbicara karena Kim Sonsaengnim paling tidak suka murid yang ribut.

Saat jam makan siang, Mi Jung bersama Na Eun pergi ke kantin bersama. Na Eun dengan baik hati membelikan makanan untuk teman barunya itu. Sebenarnya, Mi Jung merasa tidak enak dan tidak nyaman ditinggal sendirian. Syukurnya, Na Eun tidak membutuhkan waktu lama untuk membeli makanan.

“Gomawo Na Eun-a, aku jadi tidak enak.”

Na Eun tertawa pelan. “Tidak apa-apa, anggap saja itu sambutan dariku.”

Tiba-tiba Mi Jung terpikirkan sesuatu ketika kunyahan pertamanya. “Kau tidak mengajak teman-teman yang lain?”

Na Eun memanyunkan bibirnya. “Mereka ada latihan musik dari klub. Hanya aku yang tidak ikut karena aku lebih suka melukis.”

“Lalu kau ikut melukis sendirian?”

“Tidak. Beberapa dari mereka yang ikut musik juga ada yang ikut melukis. Tapi di saat-saat seperti ini aku malah sendirian.”

Mi Jung mengangguk-ngangguk. “Ah, ngomong-ngomong, aku ingin melihat lukisanmu jika ada waktu.”

Na Eun membulatkan matanya. “Jinjja? Bagaimana kalau besok? Aku ingin menyelesaikan sebuah lukisan hari ini dan kau akan menjadi orang yang pertama kali melihatnya. Bagaimana?”

“Mmm. Baiklah, jika aku tidak ada halangan.”

Mereka pun melanjutkan menyantap makan siang. Na Eun yang awalnya sangat terfokus dengan ramyeon favoritnya itu, tiba-tiba mengalihkan perhatiannya ke arah belakang Mi Jung. Tampaknya ia melihat seseorang. Dan benar saja, ia melambaikan tangannya sambil tersenyum.

Awalnya, Mi Jung tampak tidak peduli dan memilih berkutat dengan makanannya. Tapi, gerakkan tangannya terhenti dan matanya berhenti berkedip begitu mendengar Na Eun memanggil orang itu.

“Ya! Gi Kwang! Makan di sini saja!”

 

TO BE CONTINUED

 

NEXT CHAPTER

 

An Angel in Senior High School
Chapter 2 — Unexpected Meeting

 

HALOOO~ Aduh maaf ya Chapter 1 nya lama. Ketabrak pergi-pergi sama masuk sekolah -_- Tapi akhirnya sudah jadi, yeayyy. Maaf romance nya belum kerasa. Author aja bikinnya bosen, eh Sung Yeol ga bikin bosen sih ❤ *dibakar*. Tapi kan biar alurnya santai gitu ^^~ Udah deh, segitu aja kali Author mau ngomong. Lagi gamau bawel karena ini seleseinnya aja malem-malem, udah melayang-layang(?)

 

JANGAN JADI SILENT READERS, COMMENT DAN LIKE JIKA SUDAH BACA.
JIKA ADA KESALAHAN, SILAHKAN LAPOR!

 

THANKS FOR READING ^^

41 responses to “An Angel in Senior High School [CHAPTER 1 — WELCOME TO EARTH!]

  1. Ih sung yeolnya baik banget sihhh, pengendeh jadi mi jungnyaaa, keren kok… Lanjutin ya thor, gak sabar liat sung yeol lagi *apasih* 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s