THE B2ST SERIES

Ini bukan ff ditjao, melainkan ff titipan dari salah seorang teman. Harap memberikan apresiasi berupa komentar setelah membaca ya, terima kasih sebelumnya.

The B2ST Series

THE B2ST SERIES

.

.

.

.

.

Starring by

B2ST

.

.

.

.

.

.

.

_

Consist 6 chapters

friendship, romance, and angst genres

General

.

.

.

.

.

.

Special dedicated for B2ST Fans—B2UTY & B2STLY

.

.

.

.

.

.

.

.

© JJ FF

T E A S E R

“Kenapa?” tanyaku mulai kehabisan akal.

Gadis dihadapanku hanya bergeming. 

Jarak kami yang begitu dekat membuatku ingin segera memeluknya dengan erat agar ia tak bisa meninggalkanku sendirian lagi seperti yang telah lalu. Namun keinginan itu kutahan sekuat tenaga mengingat segala perlakuannya padaku.

“Kita akhiri saja semua,” balasnya dingin tanpa menatap kedua mataku.

Aku tersenyum miris seraya memandangnya terakhir kali. Aku menarik napasku yang terasa begitu sesak seakan oksigen di ruangan ini seakan terserap habis entah kemana. Gadis dihadapanku ini adalah belahan jiwaku yang kucintai sekaligus aku benci saat ini.

Whoever you meet, you have to be happier as much as pain you caused me.

……..

Aku membuatnya menangis.

Pria macam aku ini?

Aku melangkahkan kakiku ragu mendekatinya yang tengah duduk di bangku taman. Bahunya nampak naik dan turun tak karuan, mengikuti isakan tangisnya yang pecah. Hatiku seketika terasa begitu perih, seperti tengah disayat oleh sebuah belati bahkan kurasa lebih sakit.

I’m sorry.

Ia mendongakkan kepalanya, menatapku dengan kedua manik mata berkaca-kaca. Deruan napasnya yang tersengal karena telah menangis masih dapat kudengar samar. Tak ada sepatah kata yang keluar dari bibir mungilnya namun air matanya yang sudah membasahi pipi sudah dapat mewakilkan seberapa kecewanya ia padaku.

“Kenapa kamu datang kemari? Apa kamu menyesal sekarang?” tanyanya masih terisak.

Aku mengangguk cepat lantas bersimpuh di hadapannya, menggenggam kedua tangan mungilnya erat kemudian menatap manik matanya yang mempesona. Ia membalas tatapanku dengan sorot mata kecewa.

Why am I regretting now?” kataku balik bertanya. Ia bergeming. Aku bangkit lalu mencium keningnya singkat lalu kembali menatapnya lekat-lekat, “Because you are so precious to me.”

……..

            Aku berjalan kearah cermin dan berdiri disisinya. Aku masih dapat menatap wajahnya yang cantik bagaikan malaikat. Kini aku beralih menatap lurus ke depan cermin tempatku berdiri namun nihil tak ada yang bisa kulihat.

            Sekarang ia berjalan menuju ranjangnya dan duduk ditepian. Tangannya meraih sebuah figura berisikan fotoku dan dia di tepian Sungai Han dua bulan yang lalu. Saat itu cuaca sedang sangat cerah dan aku pun memutuskan untuk mengajaknya berjalan-jalan sambil menikmati angin lembut membelai wajah kami.

“Kenapa kamu sekarang meninggalkanku selamanya?” ucapnya nanar seraya mengusap wajahku dalam foto hingga setetes air mata jatuh membasahi figura itu. Aku berusaha menyentuhnya namun nihil, usahaku sia-sia dan tak berguna.

Aku mendekatinya, berbisik ke telinganya, “I still can’t trust everything. I believe it’s just a fiction not a fact. I will be back, sweetheart. I promise.

……..

            “Ini hampir tengah malam dan kamu belum tidur?” tanyanya heran. Aku mengangguk membenarkan. Kemudian hening terjadi diantara kami berdua. Hanya ada senyum manisnya yang kupandang dari balik layar.

            “Ada satu pertanyaan yang tiba-tiba terlintas!” sahutku.

            “Pertanyaan soal apa?” tanyanya penasaran.

            “Do you think of me from time to time there?

……..

Aku berlarian menembus keramaian yang nampak tak ada habisnya sembari mencari sosok gadis yang kucinta. Hari ini sudah kupustkan untuk mengatakan semuanya sebelum semuanya terlambat dan aku menyesal. Bersama dengan seikat bunga mawar putih yang dipadukan dengan anggrek bulan, aku siap membuatnya terkesima.

“Mwo?! Kau kenapa berlarian seperti itu?” tanyanya kaget ketika mendapati diriku sudah sampai dihadapannya dengan keringat berucucuran dan napas tersengal. Ia mengeluarkan sebuah sapu tangan dan menyeka keringat di keningku lembut. Aku pun meraih tangannya, menggenggamnya erat sambil menatapnya.

Even though I’m not the style that expresses it like this, these words come out unintentionally when I look at you—

Aku mengambil jeda panjang diantaranya, “—I love you.

……..

            “Aku sakit.”

            “Lantas kenapa?”

            “Aku hanya akan membebanimu.”

            “Aku tidak perduli.”

            “Lupakan aku…”

            “Forgetting you is like erasing myself.

……..

15 responses to “THE B2ST SERIES

  1. Pingback: THE B2ST SERIES: #2 Shadow | FFindo·

  2. Pingback: THE B2ST SERIES: #3 I’m Sorry | FFindo·

  3. Pingback: THE B2ST SERIES: #4 Because of You | FFindo·

  4. Pingback: THE B2ST SERIES: #5 Good Luck | FFindo·

  5. Pingback: THE B2ST SERIES: #6 Midnight | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s