[Fanfiction] OH BIHUN VS OH SEHUN

BmEXDcLCcAEdDRp

Author :

@Seungwonation

Judul :

Oh Bihun VS Oh Sehun

Cast :

EXO K Sehun | EXO K Baekhyun | EXO Bihun

Genre :

Hidayah

Length :

Oneshot

Rated :

General

Disclaimer :

Semua cast milik agensinya masing-masing, kecuali story line murni karya @Seungwonation

Summary :

Sehun membenci orang itu. Sangat-sangat membencinya. Ia tak segan untuk meneunjukan rasa ketidak sukaannya itu, hingga akhirnya namja bertampang songong itupun menerima azabnya.

Happy Reading

~ oOo ~

Cerita ini berawal ketika seorang remaja bernama lengkap Oh Sehun baru saja pulang sekolah. Namja bertampang songong tapi cengeng itu di sambut oleh ke dua orang tuanya ketika pulang ke rumah.

Sehun bisa di bilang sangat beruntung karena terlahir dalam keluarga yang sakinah mawadah warohmah, serta ketajiran yang gak akan abis ampe 7 turunan, tapi sayang Sehun adalah keturunan ke 8 huhuhu

Hidup Sehun bisa di bilang sempurna dengan tampang, kekayaan, popularitas, serta dukungan kedua orang tua yang sangat menyayanginya.

Namun semua itu akan berubah ketika negara api menyerang….

Sore itu keluarga Sehun kedatangan tamu istimewa. Sehun yang awalnya mau masuk ke dalam kamarnya tiba-tiba di cegah oleh ibunya yang bernama Ceu Mimin.

“Hunnie, kemari sebentar, nak,” panggil Ceu Mimin ketika melihat anak semata wayangnya itu hendak masuk ke dalam kamar.

“Waeyo, mak?” tanya Sehun, ia heran melihat raut wajah ibunya yang terlihat sendu itu.

“Ayo ikut, Emak ama Abah mau ngenalin kamu ama seseorang,” kata Ceu Mimin.

Sehun merengut, “Mak, sudah berkali-kali Sehun bilang, kalau Sehun itu gak mau di jodoh-jodohin!” sergahnya.

“Yee, sapa juga yang mau jodohin kamu, nak,” protes ibunya.

“Oh, kirain Emak mau jodoh-jodohin Sehun kaya kemarin,” katanya. “Pokoknya Sehun gak suka di jodoh-jodohin lagi ah, ini kan bukan jaman Taeyeon Nurbaya lagi, mak.”

“Tenang aja, mulai sekarang Emak gak bakal jodoh-jodohin kamu kaya kemarin lagi. Apa lagi di jodohin sama si Nenden, anak juraga jengkol itu,” ungkap Ceu Mimin dengan raut wajah sedih.

Sehun terdiam karena melihat raut wajah ibunya yang seperti menyimpan sebuah misteri ilahi. Dia bingung dan bertanya-tanya, kenapa ibunya terlihat sedih seperti janda yang kehilangan keperawanannya. /eh

Sehun mengikuti ibunya menuju ruang tamu yang jaraknya hanya 5 langkah. Di sana sudah ada ayahnya Sehun, yaitu Ustad Baekhyun. Di depan Ustad Baekhyun ada 3 orang manusia, satu perempuan dan satu laki dewasa, serta seorang anak lelaki seumuran Sehun.

“Sehun, kemarilah, nak,” Ustad Baekhyun menyuruh anaknya itu untuk mendekat.

Dengan perasaan bingung, Sehun menuruti perkataan ayahnya. Ia duduk dia antara ibu dan ayahnya.

Ustad Baekhyun yang hari itu memakai baju koko putih serta sarung kotak-kotak cap gajah ngejengkang mengusap surai anaknya dengan lembut.

“Ahh, anak abah sudah gede rupanya,” gumam Ustad Baekhyun dengan sorot mata yang teduh.

Sehun semakin heran. Ia bertanya-tanya kenapa ayahnya tiba-tiba memperlakukannya seperti itu.

“Bah, sebenernya ada apa sih? Kok abah sama emak aneh banget sikapnya hari ini,” tanya Sehun yang tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.

Dengan mata berkaca-kaca, Ceu Mimin membuang muka dari Sehun seolah menyembunyikan sesuatu.

“Emak…” lirih Sehun tak tega.

“Sehun, ada yang harus kami katakan padamu,” kata Ustad berkumis tipis itu. “Tapi sebelumnya abah harus memperkenalkan mereka dulu padamu, nak,”

Kedua mata berwarna coklat milik Sehun reflek melirik ke tiga orang yang berada di depannya itu. Entahlah, rasanya ada perasaan tak suka ketika Sehun melihat ketiga orang berpenampilan kamseupay iyuwh itu.

“Kenalkan, mereka adalah Tuan Oh Yes dan Nyonya Oh No,” ujar Ustad Baekhyun memperkenalkan mereka.

Sehun mengangguk dan memperkenalkan dirinya dengan sopan. “Anyeong haseo, Oh Sehun imnida,”

Ustad Baekhyun kini beralih pada namja yang duduk di antara Tuan dan Nyonya Oh.

“Dan dia adalah Oh Bihun…”

Sehun menatap namja yang usianya di perkirakan seumuran dengannya itu. Melihat Oh Bihun membuat kepala Sehun pusing di sertai mual-mual. Rasa tidak suka dan benci menjadi kesan pertamanya ketika melihat Oh Bihun.

“Sehun, kamu sudah cukup dewasa untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi…” kata Ustad Baekhyun dengan nada serius. Sementara Ceu Mimin berusaha menahan isak tangisnya.

Sehun jadi makin bingung. Author juga bingung. Dan Cak Lontongpun ikut-ikutan bingung. Jantung Sehun berdegup kencang. Ia menunggu apa yang akan di ucapkan ayahnya dengan serius.

“Sehun…” Ustad Baekhyun diam sejenak sambil menarik nafas panjang. “Sebenarnya kau bukanlah anak kandung abah dan emak…” ungkap Ustad Baekhyun dengan nada tercekat.

Akhirnya kata-kata itu terucap juga dari mulutnya. Ucapan Ustad Baekhyun terdengar tidak ikhlas. Batinnya terasa perih, bagaimanapun ia sudah menganggap Sehun sebagai anak kandungnya selama ini.

Berbeda dengan Ustad Baekhyun yang mencoba untuk bersikap tegar, Ceu Mimin yang sedari tadi udah carismabay akhirnya tak dapat membendung perasaannya lagi. Istri Ustad Baekhyun itupun langsung mewek gogoakan sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.

“APAAHHH?” pekik Sehun. Kamera zoom in zoom out ketek Baekhyun.

“I-Ini… Tidak benar kan? Abah pasti bohong. Sehun itu anak abah ama emak kan?!” seru Sehun dengan nada tinggi. Ia menatap abah dan emaknya secara bergantian.

“Tidak, nak. Itu semua benar…” ujar Ustad Baekhyun menegaskan.

“Tak mungkin… Kalian pasti bohong…” lirih Sehun dengan nada bergetar.

Sehun mengepalkan kedua tangannya. Ia merasa kedua matanya terasa panas, dan tanpa di sadarinya, bulir-bulir krystal bening mulai jatuh membasahi pipinya yang seputih susu kental manis cap enak, yang penting enak.

“Terkadang, kenyataan memang sangat menyakitkan bagi sebagian orang. Sebagai manusia kita hanya bisa sabar dan tawakal, nak.” Ustad Baekhyun mulai ceramah.

Nyatanya gak ada yang ngedengerin ceramahan Ustad Baekhyun yang di kutip dari skrip adegan sinetron religi indonesia itu. /pupkpuk Baekhyun/

Dengan berurai air mata, Ceu Mimin langsung memeluk Sehun dengan erat. “Kamu anak emak, Hun, anak emak. Apapun yang terjadi kamu tetep anak emak!” Ceu Mimin memekik dengan histeris. Kasihan Ceu Mimin, dia pasti belum bisa menerima kenyataan yang terjadi. Astagfirullah, jangan sampe tukang lotek itu jadi gila.

Pelukan hangat Ceu Mimin ternyata membuat pertahanan Sehun akhirnya runtuh juga. Namja bertampang songong itu mewek gogoakan dalam pelukan ibunya. Ngokkk… Ngokkk… Ngokkk… Begitu bunyinya.

“Emakk….” lirih Sehun mengeong kaya anak kucing yang di buang di pinggir jalan. Sumpah tampang Sehun pas mewek kobe banget hahaha

“Lalu kalau kalian bukan orang tua kandung Sehun, jadi Sehun ini anak siapa? Hikse… Hikseu…” tanya Sehun pada kedua orang tuanya dengan sesegukan.

Ustad Baekhyun dan Ceu Mimin melirik keluarga Oh di depannya. Sehun yang mengerti dengan maksud lirikan kedua orang tuanya itu buru-buru menggeleng dengan cepat.

“Andwae, jangan bilang kalau… Ahh, pokoknya jangan…” sergah Sehun penuh harap sambil menatap kedua orang tuanya secara bergantian.

“Maaf membuatmu kecewa, nak Sehun. Tapi kamilah orang tuamu yang sebenarnya!” ungkap Tuan Oh Yes di ikuti oleh seringai nista dari ketiganya.

Sehun menepuk jidatnya sambil menggerutu tak jelas.

“Bohong. Ini semua pasti settingan. Kamera mana kamera, pasti Sehun lagi di kerjai acara TV kan?!” Sehun celingak sana celingak sini, mencari-cari sesuatu yang tidak ada keberadaannya.

“Sayangnya ini kenyataan, nak. Kemarilah peluk ibumu…” perintah Nyonya Oh No.

Sehun pura-pura muntah. “Ogah banget. Masa Sehun yang wangi ini harus meluk rakyat jelata kaya kamu, iyuwh banget deh,” cemoohnya.

“Sehun, jaga ucapanmu. Abah gak pernah ngajarin kamu ngomong tidak sopan pada orang tua!” bentak Ustad Baekhyun marah.

Sehun mengerling malas. “Tapi, bah. Ucapan Sehun itu bener, lihat penampilan gembel mereka! Jadi orang tua Sehun? Cih, mereka itu cocoknya jadi pembantu kita!” balas Sehun tak kalah sengit.

“Astagfirullah, nak. Kenapa kamu ngomong kaya gitu ckckck” kata Ceu Mimin tampak kaget.

Sementara keluarga Oh saling berpelukan. Mereka jadi minder karena kata-kata Sehun barusan. Mereka merasa kotor dan tidak pantas untuk menjadi orang tua anak yehet itu.

“Pokoknya, Sehun gak mau punya orang tua kaya mereka, amit-amit jabang babi deh!” Seru Sehun bersikeras.

“Jangan ngomong kaya gitu, nak. Gitu-gitu juga mereka adalah orang tua kandungmu, nak,” kata Ustad Baekhyun menasihati.

Sehun mengerling malas, “Terus? Gue harus bilang wOw sambil ngesot korea-cikijing gitu?” Katanya dengan nada menantang.

“Sehun. Kita gak pernah ngajarin kamu jadi orang songong ah, sopan dikit!” Ceu Mimin menegur anaknya yang di nilai kurang sopan itu.

“Sudahlah, Ceu Mimin. Kami udah biasa kok di gituin,” kata Nyonya Oh No.

“Iya, Ceu Mimin, lagian bener kata Sehun, kita emang gak pantas buat jadi orang tuanya,” kata Tuan Oh No menambahkan.

“Tuh denger, mak, mereka udah sadar diri kok,” bisik Sehun pada ibunya.

“Hush ah, tetep aja kamu gak boleh ngomong kaya gitu sama mereka,” kata Ceu Mimin.

“Sehun,” panggil Tuan Oh Yes.

Sehun melirik ayah kandungnya itu dengan tatapan sinis. “Apa?” Ketusnya.

“Sebelumnya kami mau minta maaf karena sudah datang tiba-tiba dan membuat hidupmu jadi berantakan,” kata Tuan Oh Yes menjelaskan.

“Ya ya seterah lo aja deh, tua bangka!” Ujarnya ketus.

Tuan Oh Yes meneguk ludah. “Seperti yang kamu tadi bilang, kami memang tidak pantas buat menjadi orang tuamu. Kami tak punya apa-apa, lihat adikmu saja ampe busung lapar gini,” ungkapnya.

Sehun melirik Oh Bihun, yang mereka klaim adalah saudara kembarnya. Perutnya buncit kaya orang kurang gizi di negeri-negeri yang sedang bertikai. Ia mengelus dadanya, untuk saja dia gak di urus sama mereka, pikirnya.

“Terus apa hubungannya si muka gembel itu kelaparan dengan Sehun? Mau minta duit gitu? Please deh, kalau mau minta sedekah itu ke mesjid bukan kesini!” seru Sehun suudzhon.

“Astagfirullah, sumpah tak ada sedikitpun niat kami kemari untuk menguras hartamu, nak!” sergah Nyonya Oh, sementara Sehun mengerling dengan malas.

“Benar, Sehun, kami kemari bukan karena uang. Tujuan Ayah dan Bunda kemari adalah untuk minta maaf karena sudah menelantarkanmu,” ungkap Tuan Oh.

Sehun berdecak kesal mendengar alasan Ayah kandungnya itu. Menurutnya, Ayahnya itu sedang berdusta layaknya di sinetron-sinetron RC*I.

“Cih, maaf kau bilang?” desis Sehun. “Setelah 17 tahun kalian membuangku, dengan seenak udelnya kalian minta maaf?!” nada bicara Sehun mulai meninggi dan terdengar emosi.

Ustad Baekhyun menepuk pundak Sehun.

“Kendalikan emosimu, nak. Cobalah untuk mendengarkan alasan mereka dulu,” kata Ustad yang dulu pernah jadi cabe di gang Dolly itu.

“Nggak, beh, Sehun gak mau denger apa kata gembel-gembel itu. Lagian Sehun yakin mereka udah latihan untuk menghadapi situasi ini,” Sehun beralasan.

Remaja bertampang songong itu kemudian beralih kepada Tuan Oh dan rombongannya yang kamseupay itu.

“Eh, pak tua! Udah deh gak usah bertele-tele lagi, cepat katakan apa mau kalian! Gini-gini Sehun itu anak Roleplayer famous yang squad dan famsnya dimana-mana, drama kaya gini mah udah mainstream banget!” ungkap Sehun panjang lebar.

Gue yang followernya udah ribuan juga biasa aja tuh!” ujar Oh Bihun dengan nada menyindir.

“Diem lo, bangsat! Follower hasil open follow aja bangga!” betak Sehun. Oh Bihun langsung diem dan menunduk ketakutan.

“Sehun, tolong jangan kasar pada saudara kembarmu ini,” pinta Nyonya Oh pada Sehun.

“Saudara kembar? Oh, yang benar saja deh, masa gue yang ganteng menggelora bung karno punya saudara kembar yang mukanya kaya pantat panci seperti dia, immposible banget tahu gak!” Sehun terus mencela Oh Bihun di sela-sela protesnya.

“Sehun, jaga bicaramu!” seru Tuan Oh.

“Terserah gue dong, mulut-mulut gue ini, emang masalah buat lo, hah?!” Tantang Sehun dengan tampang nyolot.

Tuan Oh hanya bisa berdecak kesal sambil mengucap Istighfar. Sebagai orang tua kandungnya, Tuan Oh merasa bersalah karena tidak mampu mengurus Sehun dengan benar, sehingga membuatnya menjadi pribadi yang kasar.

“Tuan Oh… Nyonya Oh… tolong maafkan sikap Sehun ya, biasanya dia tak pernah seperti ini kok,” ujar Ceu Mimin yang merasa tak enak pada mereka.

“Iya, Sehun itu anak yang sholeh dan sopan kok sebenarnya,” kata Ustad Baekhnyun menambahkan, sementara Sehun tetap memasang raut wajah angkuhnya, tak ada sedikitpun rasa menyesal di wajahnya.

“Iya, pak Ustad, kami mengerti kok. Mungkin nak Sehun ini masih shock dengan kenyataan yang sebenarnya ini,” Ujar Tuan Oh berusaha memaklumi sikap Sehun.

“Nah, Oh Bihun, sekarang ayo sapa kakak kembarmu ini!” perintah Nyonya Oh pada Oh Bihun.

Oh Bihun kemudian berdiri, lalu memperkenalkan dirinya secara resmi pada Sehun.

“Anyeong haseo, Sehun Hyung, kenalin aku adalah Oh Bihun, Uljajang from Cikijing, adik kembarmu yang telah lama hilang kini telah kembali!” ungkap Oh Bihun dengan sopan, dan Sehun rasanya ingin muntah seketika.

“Eh, kampret. Gak usah manggil gue Hyung, deh. Najis banget sumpah!” seru Sehun dengan nada tinggi.

Entah kenapa jika berbicara dengan Oh Bihun, bawaannya tuh panas banget, Sehun jadi suka teriak-teriak gak jelas. Entahlah, mungkin karena efek tampang Oh Bihun yang luar binasa menjijaykan atau karena Sehun merasa ada orang yang tampangnya lebih nyebelin dari tampangnya.

Yang jelas, muka si Oh Bihun emang perlu di ruqyah deh kayanya hahaha

“Kenapa kau berkata seperti itu, Hyung? Apa kau tidak senang bertemu dengan adik kembarmu yang manis ini?”

“Senang dari hongkong, musibah iya. Lagian sok ngaku-ngaku manis, gak pernah ngaca ya, muka burik gitu ngaku-ngaku manis!”

“Tapi aqoeh memang manis, Hyung!” Oh Bihun mencoba untuk beraegyo. Dia berbbuing-bbuing ala Tao sambil mempoutkan bibirnya manis, ahh ralat; gak ada manis-manisnya kok. Kalian bayangin aja sendiri gimana musibahnya liat orang bertampang xxx kaya Oh Bihun beraegyo ria.

“Ahh, my eyes!” pekik Sehun tak tahan melihat super aegyo Oh Bihun. Ia menutup mata dengan ke dua tangannya seolah-olah tak ingin kepolosan matanya tercemar limbah mematikan.

Sementara itu Ceu Mimin terlihat berbisik-bisik dengan suaminya, Ustad Baekhyun.

“Pah, untung anak yang kita urus itu Sehun yah, gak tahu deh apa jadinya kalau anak yang kita temuin di tong sampah 17 tahun itu adalah Oh Bihun,” bisik Ceu Mimin.

“Iya, mah, kalau misalnya yang kita temuin di tong sampah itu Oh Bihun, mungkin papah gak akan membawanya ke rumah ini, tapi langsung papah timpa sama sekantung kresek sampah,” balas Ustad Baekhyun.

“Ah, jangan lupa di semprot sama baygon juga, pah, biar tampang buriknya itu gak mencemari lingkungan kita yang asri ini.” timpal Ceu Mimin menambahkan, sementara Ustad Baekhyun hanya mengangguk-angguk setuju dengan pendapat istri tercintanya itu.

Baiklah, mari kita tinggalkan sejenak obrolah Ustad Baekhyun dan istrinya yang sangat bersyukur kalau Oh Bihun bukanlah anak yang harus di urusnya 17 tahun yang lalu itu. Sekarang mari kita lanjutkan perdebatan sengit Oh Sehun yang tidak ikhlas dunia akhirat mempunyai saudara kembar seperti Oh Bihun.

“Sehun, kenapa kau begitu sinis pada Oh Bihun? Kasihan dia, sudah sejak kecil dia ingin bertemu dengan saudara kembarnya, yaitu kamu!” kata Tuan Oh Yes memberitahu Sehun.

“Eh, upil Sooman, mata lo soek ya? Kembar dari mana sih? Jelas-jelas gue dan si Bihun itu bagaikan jamban dan isinya, gue jambanya dia isinya!” protes Sehun.

“Percayalah pada Bunda, nak. Bihun itu benar-benar kembaanmu, lihat saja rambut kalian begitu sangat mirip,” Nyonya Oh No berusaha meyakinkan putra yang sudah di terlantarkannya itu.

Sehun memperhatikan potongan rambut Oh Bihun yang berwarna-warni sepertinya. Yah, Sehun harus mengakui kalau rambut mereka memang mirip, tapi bukan berarti mereka betul-betul saudara kembar kan.

“Prett ah, enak aja rambut gue yang sweet kaya gulali ini di samain sama rambut si Bihun yang kucel kaya kemoceng buat ngelap mobil di perempatan lampu merah itu. Duh, gak level banget deh!” seru Sehun beralasan.

Nyonya Oh No ingin membalas perkataan Sehun, namun suaminya, Tuah Oh Yes buru-buru mencegahnya.

“Sehun, Ayah dan Bunda bisa terima kalau kamu tidak bisa mengakui kami sebagai orang tuamu. Ayah tahu kami terlalu hina di hadapanmu,”

“Oh, baguslah kalau kalian udah sadar!” timpal Sehun dengan nada mencemooh.

Tuan Oh Yes diam sejenak sambil menarik nafas panjang. Ia kemudian melanjutkan, “Kedatangan kami kemari memang bukan untuk mendapat pengakuan darimu. Sebenernya kami mau….”

“Kami mau menitipkan Oh Bihun pada keluarga ini!” potong Nyonya Oh No dengan antusias.

“APAHHHHH?????!!!!!!” teriak Sehun, Ustad Baekhyun, dan Ceu Mimin berbarengan. Mereka tampak shock mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Nyonya Oh No.

“Yah, seperti yang sudah istriku tadi katakan, kalau sedari kecil Oh Bihun sudah merindukan sosok kakaknya, Sehun. Mungkin ini yang di maksud dengan intuisi saudara kembar,” kata Nyonya Oh No.

“Dan kami pikir, Sehun pun pasti merasakan hal yang sama seperti yang di rasakan Bihun. Maka dari itu kami memutuskan untuk menitipkan Bihun pada keluarga Ustad Baekhyun, yah biar Sehun gak kesepian juga sih.” ungkap Tuan Oh Yes menjelaskan.

Ustad Baekhyun melirik Sehun dan istrinya dengan ragu-ragu. Ia bingung harus menanggapi permintaan Tuan Oh Yes dan Nyonya Oh No seperti apa. Sementara Ustad Baekhyun berdilema ria, Sehun dan Ceu Mimin menatap Ustad Baekhyun dengan pandangan penuh harap agar dia menolak permintaan mereka.

“Papah, jangan terima dia, nanti keluarga kita bisa sial 7 turunan!” seru Ceu Mimin tak setuju.

“Iya, beh, nanti apa kata tetangga kalau mereka tahu Bihun tinggal di sini, mereka pasti akan menganggap kita miara setan iprit!” kata Sehun.

Ustad Baekhyun menatap anak dan istrinya, sebenernya ia juga tak ingin memelihara Bihun di rumahnya. Tapi bagaimana caranya dia menolak permintaan keluarga Oh yang kini tengah saling berpelukan layaknya pesera Indonesian Dodol yang tengah menunggu keputusan dewan juri.

“Ustad Baekhyun, Oh Bihun hanyalah seorang anak kecil yang masih polos dan tak berdosam tolong berikan dia kesempatan,” pinta Nyonya Oh No.

Ustad Baekhyun melirik Oh Bihun sekilas. Sumpah, Ustad Baekhyun tak berani untuk menatap Bihun lama-lama. Soalnya efek samping dari muka burik Oh Bihun itu sungguh luar binasa mematikan. Gejalanya di awali dengan pusing dan mual, mata mulai katarak, sulit bernafas, kejang-kejang, hingga akhirnya Innalilahi wa innailahi rajiun.

“Baiklah, sebagai kepala keluarga di rumah ini, saya memutuskan kalau Oh Bihun…..” Ustad Baekhyun sengaja menggantung kalimatnya sambil melihat reaksi tegang semua orang.

“…. boleh tinggal di rumah ini…” ucapnya kemudian.

Tuan dan Nyonya Oh Yes Oh No serta Oh Bihun langsung bersorak-sorak bergembira. Mereka langsung saling berpelukan di iringa dengan sebuah tawa bahagia. Sementara di sisi lain, Sehun dan Ceu Mimin tampak shock, mereka masih tidak percaya dengan keputusan yang baru saja di katakan Ustad Baekhyun.

“Papah, kenapa papah membiarkan makhluk itu tinggal di sini? Pokoknya Bunda gak mau punya anak seperti Oh Bihun yang mukanya kaya boneka santet itu!” protes Ceu Mimin tak terima, ia masih berharap kalau suaminya itu akan mengubah keputusannya.

“Maafkan papah, bun. Papah juga terpaksa, amat sangat-sangat terpaksa. Papah harap bunda mau mengurus Bihun sama seperti Sehun,” kata Ustad Baekhyun.

Ceu Mimin speechles, ia tak tahu harus biacara apa lagi, yang bisa ia lakukan sekarang hanya menangis tersedu-sedu meratapi nasib karena harus mengurus anak setan seperti Oh Bihun. Duh, kasian Ceu Mimin, pasti batinya tertekan ya hahaha

Pandangan Ustad Baekhyun kini tertuju pada Sehun yang kini masih menunduk dan tak bergerak sedikitpun.

“Dan kau Sehun, babeh berharap kau bisa menerima Bihun sebagai adik kembarmu, babeh mau kalian bisa hidup berdampingan meskipun kalian berbeda alam.” kata Ustad Baekhyun menasehati anaknya itu.

Sebuah seringai mencemooh mengembang di wajah Sehun. Ia masih tak percaya dengan keputusan ayahnya yang setuju menyetujui rencana Oh Bihun tinggal dirumahnya…. Menjadi saudaranya… Berbagi kamar bersamanyaa… Ahhh, Sehun gak ihlas dunia akhirat, pokoknya dia gak setuju, lebih baik dia mati gantung diri di pohon toge dari pada harus berbagi kamar dengan si setan alas groban, Oh Bihun.

“Cih, ini tidak mungkin. Babeh pasti bercanda, ini cuman trollan kan, beh?!”

Usttad Baekhyun menggeleng pelan. “Tidak Sehun, babeh gak bercanda, ini ciyuzan,” katanya.

Bibir Sehun bergetar sementara matanya kembali berkaca-kaca. “Oke fine, jadi babeh lebih milih si anak bagong itu dari pada Sehun, eoh?!”

“Woi, kalau gue anak bangong, berarti lo juga bagong dong, kan lo saudara kembar gue!” ujar Oh Bihun menimpali.

“Diem lo, bagong, gue gak ngomong ama lo!” bentak Sehun dengan kasar pada adiknya yang bermuka najis tra la la itu.

Oh Bihun memeluk lengan ibunya, ceritanya sedih gitu.

“Baiklah, kalau babeh lebih milih si anak tomcat itu, lebih baik Sehun pergi saja dari rumah ini!”

“Hyung, gue itu anak bagong atau anak tomcat sih? Kok labil sih?” tanya Oh Bihun yang sedang di pukpuk oleh ibunya.

Sehun melirik Oh Bihun dengan sinis. Ia kemudian mengacak-acak rambutnya frustasi seraya berteriak-teriak histeris kaya anak SMA yang gagal UN.

Layaknya orang stress, Sehun kemudian berlari dengan histeris. Semua orang tampak terkejut.

“Sehun, kau mau pergi kemana, nak?” tanya Ceu Mimin dengan nada cemas.

“Sehun mau pergi, mak, mau pergi! Sehun gak tahan di sini, panas banget ada anak setan!” teriak Sehun dengan histeris.

Ceu Mimin dan Ustad Baekhyun terlihat melihat kejiwaan Sehun yang mulai terganggu, sementara Tuan dan Nyonya Oh Yes Oh No terlihat asyik ngemilin tomcat rica-rica yang di suguhkan oleh Ceu Mimin.

Melihat Sehun hendak pergi, Oh Bihun berinisiatif untuk mengejarnya. Ia tak mau kehilangan kakaknya itu untuk yang ke dua kali. Ushh, so sweet deh, huekk.

“Sehun Hyung, jangan pergi… Tunggu aku…..” teriak Oh Bihun dengan efek slow motion gitu. Ia berlari mengejar Sehun sambil merentangkan tangan untuk memeluk kakanya itu.

Sehun bergidik jijik. Sebelum Oh Bihun memeluk dirinya, Sehun langsung menendang Oh Bihun dengan keras, sehingga membuat anak bagong itu jatuh tersungkur dan menabrak vas bunga sepuluh ribuan yang di beli Ceu Mimin di pasar loak.

Oh Bihun merintih kesakitan sambil memegang kepalanya yang bocor karena kejedug ujung meja.

“Anj*ing lo, gak usah pake peluk-peluk gue deh, najis tahu gak!” hardik Sehun kasar dengan mata yang berkilat marah.

oh Bihun tertunduk. Terdengar sebuah isakan kecil, ngokk… Ngokkk…. Ngokk… Begitulah suaranya. Sepertinya dia sedang menangis. Manusia alay itu pun kemudian mengangkat wajahnya dan menatap tajam Sehun.

“Hyung, kenapa kau memperlakukanku dengan hina seperti ini? Padahal aku hanya ingin menjadi adik kembarmu yang manis,” katanya di sela-sela tangisnya.

“Cih, jangan ngimpi deh. Ampe keriput sooman ada ekstraknyapun gue gak akan mengakuin lo sebagai saudara gue. Haram hukumnya!” ujar Sehun sinis.

“Kau akan menyesal karena telah memperlakukanku seperti ini, Hyung. Ingat, Allah itu tidak pernah tidur, dia pasti akan mendengarkan doa dari orang yang terdzalimi sepertiku,”

Sehun mengerling malas, “Yah yah yah, gue udah sering denger babeh Baekhyun ngomong gitu di tempat ceramahan,” katanya acuh.

“Kau kejam, Hyung, kau kejam. Suatu saat nanti pasti Allah akan menurunkan azabnya padamu, pasti!” seru Oh Bihun dengan nada tinggi. Dan seketika itu pula langit langsung dor dar gelap.

Sehun agak bergidik ngeri, namun ia tak bergeming. Karena tak ingin berurusan dengan Oh Bihun, Sehun pun segera bersiap pergi. Namun saat ia hendak melangkah, tiba-tiba kakinya keserimpet kabel listrik, lalu ia pun terjatuh.

Parahnya, ia terjatuh ke tempat Ceu Mimin mengistrika baju. Di sana masih ada sebuah setrikaan panas yang masih menyala. Gagal mengelak, wajah Sehun menabrak setrikaan itu.

Sehun menjerit saat bibirnya harus mencium panasnya setrikaan yang lupa Ceu Mimin matikan.

Singkat cerita, beberapa minggu kemudian bibir Sehun jadi dower, bahkan dia jadi gak bisa ngomong karena ternyata lidahnya juga terkena setrikaan. Saat ini Sehun hanya bisa dia melamun di depan kandang sapi sambil meratapi nasibnya yang malang itu.

Sesekali Sehun menyeka bulir-bulir air krystal yang hampir jatuh di ujung matanya. Ia menyesal karena sudah ngata-ngatain Bihun dan juga ke dua orang tua kandungnya.

Sehun sadar betul kalau azab itu benar-benar ada. Buktinya sekarang ia menjadi cacat, belum lagi Oh Bihun yang dulu di katain muka burik olehnya, sekarang udah jadi ganteng karena operasi plastik dan kini menjadi maknae dari boyband terkenal, EXO.

Kemalangan Sehun belum berakhir, Ustad Baekhyun dan Ceu Mimin membuangnya begitu saja dan kemudian mengangkat Bihun menjadi anaknya.

Dan akhirnya Sehun sendirian di saat idul fitri, gak ada yang ngasih kupat dan kue, hanya ada tangisan menyesal yang parau.

~ oOo ~

Reader yang baik adalah reader yang habis baca langsung pencet like dan memberikan komentar dengan sopan dan santun. Karena kalau gak komen, author gak akan segan-segan kirim santet ke rumahmu *eh*

Gak tahu cara komentar? Jamban juseyo!

Cara komentar gampang kok, tinggal masukan nama dan email (asal aja emailnya), terus url bisa di isi atau nggak, abis itu isi kolom komentar terus kirim deh, gampang kan hehehe

Nah, kalau kalian mau chit-chat dengan authornya yang tampan rupawan menggelora bung karno, kalian bisa mention ke twitter @Seungwonation atau search facebook author Kim Seungwon.

Dan kalau kalian mau baca ff buatanku yang lain, kalian bisa klik link ini >>> Library Seungwonation <<<

Gomawo, salam cipok dari author yang kegantengannya mewah seperti emas dan menggoda seperti coklat ini.

 

 

57 responses to “[Fanfiction] OH BIHUN VS OH SEHUN

  1. sumpah demi oh bihun. saya bacanya sampe kebelet. iyalah. bisa dibayangin mereka berdampingan. adoh. saya juga bisa mati tegang bandingin mereka berdua

  2. Sumpah sebenernya gue kesel bacanya -___- masa bias gue yg gantengnye naudzubillah digituin tapi ye gpp lah ye ‘-‘ sekali2 baca ff sehun lgi kesiksa/? *maapkan diriku sehun oppa;(* goodjob ye author-oppa/?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s