Another Story – [Chapter 2]

Hai, ini bukan FF saya melainkan FF titipan. Setelah membacanya, dimohon memberikan apresiasi dalam bentuk komentar ya. Terima kasih.

Another Story (2nd Chapter)

 chapter2

 

Title                :

Another Story

Author            :

  • yoorak

Genre             :

Romance, Drama

Length            :

Chapter

Casts               :

 Oh Sehun      Kim Yoora (OC)         Etc.

 

 

‘Kau dapat hitung jumlah jemari tanganmu. Dalam hidupku,telah kuputuskan hanya satu cintaku. Dan ialah kau. Izinkan aku menggenggam setiap sela lima pasang jemari mu, bisakah?’

 

~oOo~

 

Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Sedangkan matanya kini sontak terkejut melihat sosok yang tiba-tiba hendak pergi dan segera berlalu di gedung tempat mereka berada. Bahkan masih begitu banyak orang di sekitarnya. Maka dengan kerja keras ia berusaha mengeluarkan diri dari kerumunan dan segera berlari menyusul ke pelataran gereja. Berusaha menyusul, dan ingin mengetahui hendak kemana ia pergi.

Kris telah kehilangan jejak Yoora yang baginya t’lah berlari begitu cepat. Maka tanpa pikir lebih lama ia segera berlalu menuju mobilnya yang terparkir. Dan dengan kekuatan gas penuh, mobil ternama itu melesat cepat menjauhi gedung pernikahan.

Kris menatap pintu yang tertutup di hadapannya. Telah berulang kali, ia mengetuk pintu bercat abu-abu itu. Namun masih sama seperti awal, tak ada jawaban dari dalam.

“Permisi tuan”

Kris memutar tubuhnya, melihat seorang ahjumma tengah berdiri di tepi halaman flat milik Yoora. Kris melirik seadanya melihat ahjumma tengah meletakkan sebuah kantung plastik hitam ke salah satu wadah tempat sampah di sisi pintu kediamannya. Kris membungkukkan tubuhnya dengan sopan. “Ah, ne ahjumma

“Kau mencari nona Kim?”

“I-iya. Apa dia ada di rumah?”

“Mm… Sedari pagi tadi ia berangkat pergi, saya belum melihatnya kembali pulang”

Kris mengangguk mengerti.

“Oh baiklah, terimakasih ahjumma

“Sama-sama”

Kris pun membalas senyum ahjumma tersebut yang telah kembali ke rumahnya yang tepat berada di sebelah rumah Yoora. Kembali Kris menatap pintu dihadapannya dengan khawatir.

Kini mobilnya telah terparkir di parkir Kyunghee University. Hampir lima belas menit, tak hentinya Kris berlari nyaris memutar fakultas kedokteran tempat Yoora biasa berkumpul dengan temannya maupun kantin. Bahkan Kris telah berlalu menuju perpustakaan tempat Yoora biasa membaca buku-bukunya.

Dan seketika iapun teringat,

“Perpustakaan kota!”

“Tempat yang sering ia kunjungi”

Maka dengan penuh harap Kris kembali ke tempat parkir dan dengan keyakinan mobilnya melaju kencang menuju perpustakaan kota. Yang membuatnya bertambah khawatir adalah langit yang berubah menjadi mendung, semakin temaram menandakan akan turunnya hujan pagi itu.

Kris membuka pintu mobilnya,menyempatkan menatap ke sekeliling. Berharap gadis yang ia cari muncul.

Begitu menyadari halaman perpustakaan yang sepi, membuat langkah Kris kembali bergerak memasuki gedung perpustakaan kota. Segera ia berkeliling, mencari sosok Yoora di setiap sudut.

Kris mulai tersengal-sengal, bahkan nafasnya yang menderu nyaris terdengar di gedung perpustakaan yang begitu sunyi. Matanya terus mengedar, dan langkahnya yang terburu-buru juga tak berhenti berharap. Berungkali melintasi tumpukan novel, juga berbagai buku tebal mengenai kedokteran yang tidak ia mengerti.

“Dimana kau, Kim Yoora?” lirihnya

Keringat telah bercucuran di pelipisnya, namun tanpa lelah ia kembali berjalan mencari sosok Yoora di sana. Ia pun melihat tempat ia duduk bersama Yoora tempo hari, yang membuatnya menghentikan langkah sesaat. Ia mengulas senyum miris.

“Begitu beruntungnya Oh Sehun yang dapat kau cintai”

Kris menghela nafasnya. Meraba perlahan permukaan meja kayu dihadapannya dengan telunjuk jenjangnya tempat dimana pengunjung perpustakaan akan membaca buku pilihan mereka disana. Seperti saat ia bersama Yoora kala itu.

Namun seketika ia membulatkan matanya, mengingat perkataan Yoora ketika tengah bersamanya di sini.

“Lelaki itu memang menyebalkan”

“Kenapa?”

“Ia sudah berhutang padaku, kemarin aku hampir kehujanan di Namsan karna menunggunya”

“Kemarin kalian bertemu?”

 “Sore kemarin. Ya, kami memang sering bertemu disana”

Kris menggigit bibir bawahnya, cemas.

“Mungkinkah Yoora? di Namsan? Hujan begini?” bisik Kris seraya menatap tak percaya ke arah jendela.

Dari balik jendela itu, hujan cukup deras tengah mengguyur meski tanpa angin dan petir tapi bagaimanapun pasti akan begitu dingin keadaan di luar sana.Dan kini, Kris telah melajukan kembali mobilnya seraya berbicara sendiri dengan kepanikan.

“Kim Yoora…”

Dengan asal,Kris memakirkan mobilnya di pelataran yang ada. Bahkan decitan mobilnya begitu memekikkan telinga, terlalu gila dalam hal kecepatan mobil saat hujan deras seperti ini. Tak peduli bagaimana licinnya jalan yang bergesekan dengan ban mobilnya. Bergegas ia meraih payung yang ada di jok belakang, dan dengan segera ia keluar menghadang derasnya hujan yang turun di pagi hari itu.

Kris melangkahkan kakinya dengan cepat, matanya menatap ke sekeliling taman yang sepi. Sepatunya ia biarkan basah terkena hujan, jas yang ia kenakan pun telah menjadi korbannya pula.

Ia menghela nafasnya, merasa frustasi mencari sosok Kim Yoora. Dan tepat, pandangannya tertuju pada seorang gadis yang tengah duduk sendiri membiarkan tubuhnya basah. Maka dengan cekatan Kris berlari menghampiri gadis itu, dan berdiri dihadapannya.

“Kim Yoora…”bisiknya

Tangan Kris berusaha menyodorkan payungnya sedikit agar gadis itu tak kehujanan lagi tanpa mengindahkan bagian tubuhnya yang justru mulai terkena siraman hujan. Gadis itu mendongak, memperlihatkan wajahnya yang begitu kacau. Penampilannya yang cantik kini telah lusuh dan basah kuyup. Bibirnya pun sedikit memucat dan hidung juga matanya memerah seperti sehabis menangis. Ia seperti mengatakan sesuatu, namun Kris tak mendengarnya.

“Maaf telah membuatmu menunggu” ucap Kris sebisanya.

Perlahan ia beranjak dari duduknya tanpa melepas pandangan dari mata Kris. Dan seketika Yoora menunjukkan wajah terkejutnya, saat berhadapan dengan tubuh tinggi Kris.

“K-Kris?”

Kris hanya tersenyum, begitu lega dapat menemukan Yoora. Meski dalam keadaan kurang baik, tapi yang terpenting ia dapat menemukan gadis itu. Ia tak ingin melihat Yoora tersiksa seorang diri. Di balik nafasnya yang tersengal-sengal, Kris ingin berteriak jika ia begitu ingin melindungi Kim Yoora.

“Bagaimana kau bisa disini?”

Pertanyaan Yoora yang membuat Kris kembali mengulum senyum. Ia tak tahu harus menjawab apa, entah sadar atau tidak kalimat jawaban Kris terucap lembut. “Karna kau disini, Kim Yoora”

Yoora menatap kedua mata Kris bergantian, ia tidak percaya dengan keberadaan Kris yang kini berdiri dihadapannya dan memayungi tubuh mereka berdua.

“Kenapa kau disini, Yoora?”

Yoora menundukkan kepalanya, tersenyum miris.

“Karna aku terlalu bodoh, Kris”

Kris menatap iba Yoora yang menunduk. Maka tangannya bergerak satu-persatu melepas jas yang ia kenakan seraya menggenggam payung di tangannya. Menyadari Kris bergerak, membuat Yoora mendongakkan kepalanya.

Yoora terkejut melihat Kris yang perlahan memakaikan tubuhnya yang menggigil dengan jas milik Kris. Yoora hanya menatap Kris dengan tatapan terimakasih, sedangkan Kris menyampirkan jasnya ke kedua bahu Yoora. Kini lebih baik, tubuh Yoora yang menggigil telah dibalut jas yang cukup tebal milik Kris.

Yoora tersenyum sayu, kepalanya terasa begitu pusing terlalu lama dibawah hujan.

“Terimakasih banyak, Kris…”

Payung yang digunakan untuk melindungi tubuh mereka dari hujan kini terjatuh, membiarkan air hujan yang dingin juga deras turun membasahi mereka. Kedua tangan Kris telah reflex ia gunakan untuk menahan tubuh Yoora yang jatuh tepat dalam pelukannya. Yoora tak sadarkan diri.

Kris sempat termenung, beberapa detik ia merasa jantungnya yang berdegup lebih cepat. Ia berusaha melihat wajah Yoora. Dan benar saja jika Yoora memejamkan matanya, bibirnya memutih yang membuat Kris sontak tersadar jika Yoora tengah pingsan dan tidak baik diguyur hujan lebih lama lagi.

Kris bergerak mengangkat tubuh Yoora yang lebih kecil darinya, membawa Yoora dalam gendongannya. Kris bergegas menuju mobil, dan segera melesat pergi ke tempat dimana Yoora dapat membaik kesehatannya.

 

~oOo~

‘Perhatikan Yoora jika ia datang ke sini, jaga dirinya baik-baik’

Oh Sehun, ia menatap heran pesan singkat yang ia kirim ke nomor Kris pagi tadi. Ia mengerutkan dahi seraya menatap kosong keramaian kota Seoul di kala malam di balik kaca jendela sebuah apartemen mewah tempatnya berada.

“Kenapa dia belum membalas pesanku sejak tadi?” batin Sehun cemas.

“Kau ingin teh, Sehun?”

Sehun menoleh, mendengar suara lembut seorang gadis yang telah berdiri di belakang sofa panjang yang ia duduki.

“Tidak, terimakasih”

Gadis itu mengangguk mengerti, ia pun berbalik tanpa menyuratkan ekspresi apa-apa.

“Oh, Lee Ahnjung!”

Seketika ia menghentikan langkahnya dan menatap Sehun dengan tatapan bertanya.

“Hm, aku akan pergi setelah ini. Kau dapat tidur lebih dulu”

“Baik”

Ahnjung pun pergi meninggalkan Sehun sendiri.

Ahnjung pun melangkahkan kakinya menuju satu-satunya kamar yang ada. Sehun hanya menatap punggung gadis yang telah ia nikahi itu dengan nanar, juga tatapan sendu. Matanya pun menatap ke sekeliling ruang apartemen mewah yang telah di sewa eomma nya khusus untuk Sehun dan Ahnjung. Sehun hanya tersenyum miris.

Dengan langkah gontai ia melangkahkan kaki keluar dari apartemen tersebut. Menyusuri koridor sendiri seraya merapatkan hoodie yang ia kenakan. Tatapan matanya hanya tertuju ke depan, tatapan yang kosong.

‘Aku terlalu jahat jika menyembunyikan perasaanku pada Yoora.

Dapatkah kau menerima resiko ini?

Menikah dengan suami yang mencintai gadis lain?’

Lamunan Sehun seketika buyar begitu nada dering dari ponsel yang berada dalam genggamannya, yang sontak membuatnya menghentikan langkah sesaat. Maka dengan lesu, ia mengangkat benda tersebut dan tiba-tiba wajahnya begitu antusias melihat nama yang tertera.

“Yoboseyo, Kris?”

“Yoboseyo. Maaf, aku tidak memberimu kabar sejak pagi tadi. Kau tidak perlu khawatir, dia bersamaku. Sedang istirahat”

“Ia benar-benar datang? Apa yang terjadi sebenarnya?”

“Di Namsan, dia membiarkan dirinya kehujanan. Dan kini dia jatuh sakit, syukur suhu nya sudah mulai turun”

“Namsan? Dia sakit?”

“Sudah, kau tak perlu mengkhawatirkannya. Aku berjanji akan menjaganya, hingga pulih”

Sehun hendak menjawab, namun ia hanya mengangguk walau ia yakin jika Kris takkan melihatnya.

“Baik, terimakasih. Jaga dia, jaga baik-baik”

“Hm, tentu saja”

Klik

Sehun memutuskan hubungan teleponnya, ia pun mendesah lega. Kembali ia memasukkan benda tipis itu ke dalam saku hoodie miliknya. Matanya menerawang, mengingat sosok Kim Yoora.

“Jangan pernah menangisiku lagi. Aku tidak pantas akan air matamu”

Ia menghela nafas sejenak, membiarkan pandangannya kosong. Dengan perlahan ia membalikkan tubuhnya dan kembali menuju apartemen yang baru ia tinggali sekitar sepuluh menit.

Tangannya bergerak menekan tombol password yang ada, dan tepat pintu pun terbuka membiarkannya masuk. Ia mengusap matanya yang mulai dilanda kantuk. Hari ini begitu melelahkan, batin juga pikirannya juga terasa penat menghadapi hari ini. Diawali pernikahan yang begitu menyiksanya, ocehan eomma yang menyuruh untuk mencintai Ahnjung, dan berkumpul dengan sanak saudara yang berdatangan. Memasang topeng wajah bahagia seharian membuat wajahnya lelah tersenyum.

Sehun segera melepas hoodie yang ia kenakan, dan menyampirkannya ke sisi sofa yang ada. Namun sontak ia terkejut mendengar erangan yang begitu jelas.

Mata Sehun membulat melihat Ahnjung yang tengah menggeliat merasa terganggu yang kepalanya terkena sampiran hoodie milik Sehun.

“Ahnjung? Kenapa tidur di sofa?”

Sehun pun teringat, keadaan apartemen yang hanya memiliki satu kamar.Ia pun memandang wajah lelah Ahnjung dengan miris. Ia bergerak meraih selimut yang masih terlipat di sisi Ahnjung. Melebarkannya dan menyampirkan di tubuh Ahnjung. Kembali, Sehun menatap Ahnjung dengan cemasnya.

“Kau sungguh tidak beruntung dapat menikah dengan namja sepertiku, Lee Ahnjung”

 

~oOo~

Sinar matahari pagi yang tidak begitu terik perlahan menyusup melalui celah-celah tirai sebuah kamar.Angin perlahan berhembus dari sisi jendela yang sengaja dibuka, membiarkan sirkulasi udara yang terus berganti.

Erangan terdengar dari seseorang yang masih terbaring di ranjang, kedua mata yang terasa berat tetap ia usahakan untuk dibuka. Tangannya bergerak, menyentuh keningnya yang terasa begitu pening. Bibirnya yang pucat pun cukup mengering, melengkapi identitasnya sebagai orang yang tengah tidak sehat.

Perlahan, ia bangun dari rebahannya dengan cukup sulit. Menopang tubuhnya dengan kedua sisi tangannya dan beranjak duduk. Matanya mengedar di sebuah ruangan tempatnya berada, tempat yang asing baginya. Ruangan serba putih, terkesan mewah terlihat dari barang-barang yang ada di sana.

“Apa aku ada di rumah sakit?”

Namun ia tak yakin dengan hal itu, menyadari ukuran ruangan yang menurutnya kurang logis untuk ukuran kamar rumah sakit. Ukuran ruangan beserta barang-barang yang ada sama sekali tidak mungkin berada di rumah sakit. Terlalu megah.

Masih dengan mata menyipit ia tersadar, sebuah infus ada di punggung tangan kanannya. Ia mencoba untuk mendongak ke cairan yang terus mengalir ke dalam tubuhnya. Kini pun ia juga baru menyadari, bahwa dirinya tengah mengenakan sebuah piyama.

“Sudah sadar, Kim Yoora?”

Suara berat yang begitu ia kenal membuat Yoora menoleh ke arah pintu. Kris tengah berjalan menghampiri dengan pakaian yang telah rapi ia kenakan. Tangannya membawa sebuah nampan dengan sebuah mangkuk dan segelas air putih. Kris berjalan mendekati Yoora yang masih tak bergeming.

Dan Yoora hanya mengangguk seraya tersenyum. Kris pun duduk di sisi ranjang Yoora seraya memperhatikan Yoora yang memperlihatkan kemajuan.

“Setidaknya kulitmu sudah tidak sepucat kemarin, suhu tubuhmu juga sudah turun”

Ne, terimakasih banyak Kris”

“Tidak, kau tidak perlu berterima kasih. Dokter yang membuatmu lebih baik”

Yoora tersenyum lega, merasa beruntung karna Kris telah datang menemuinya kemarin.

“Jadi ini rumahmu?”

“Bukan, ini rumah orangtuaku”

“Lalu dimana orangtuamu?”

“Mereka, ya, selalu sibuk. Mereka di luar negeri”

“Dan bagaimana dengan apartemenmu?”

“Aish Kim Yoora, kau sedang sakit saja banyak sekali pertanyaan”

Yoora menatap Kris dengan polos yang membuat Kris tersenyum.

Yoora sesaat terdiam, sekali lagi matanya mengedar ke penjuru ruangan tempatnya berada kini. Mengagumi setiap marmer yang melapisi lantai, dinding putih yang dibalut porselen, barang-barang antik berwarna putih senada dengan suasana kamar. Pintu yang megah pun tak luput Yoora kagumi. Dan ranjang,berukuran besar bagi dirinya yang bertubuh kecil memiliki dashboard kayu jati yang bercat putih dengan ukiran mahal.

“Kau harus makan, ne?”

Suara Kris membuyarkan lamunan Yoora, membuat gadis itu menoleh ke arah Kris.

Yoora tidak menjawab, matanya tak lepas dari gerak-gerik Kris yang begitu cekatan meletakkan segelas air putih serta mangkuk berisi bubur dan sendok melamin di sisinya. Kris meletakkan nampan di bawah kursi yang ia duduki di sebelah Yoora.

“Pertama, kau harus minum air putih. Dari kemarin kau belum kunjung sadarkan diri, pasti tenggorokanmu sangat kering sekarang”

Kris menyodorkan segelas air putih. Dengan perlahan Yoora meraihnya, namun tangan Kris enggan melepas genggamannya pada batang gelas kaca yang membuat Yoora mengernyit.

“Biar aku bantu” ucap Kris seolah mengerti tatapan Yoora.

Yoora hanya menurut, tangannya dan Kris yang sama-sama memegang gelas tersebut.

“Sekarang kau harus makan. Perutmu itu kosong, dua hari lagi kau ada kelas kan?”

Yoora hanya mengangguk.

Kris meraih semangkuk bubur hangat di atas nakas, tangannya beralih pada sebuah sendok dan menyendok bubur yang masih mengepul asapnya dengan perlahan. Meniupnya sesekali hingga memastikan jika bubur itu sudah aman masuk ke dalam mulut Yoora. Sedangkan Yoora, gadis berusia sembilan belas-menjelang duapuluh- itu menatap Kris tidak percaya. Seorang lelaki mau mengurusnya layaknya bayi, meniupkan bubur hangat untuknya.

“Bubur ini buatanku, jadi maklumi saja jika rasanya aneh”

Yoora tak dapat menahan senyumnya, dan perlahan tapi pasti mulutnya terbuka dan memasukan bubur ke dalam mulutnya. Ia memutar bola matanya,dan menatap Kris yang ternyata sedang menatapnya juga dengan tatapan berharap.

Yoora mengulum senyum sebelum berkata, “Enak”

Kris tak dapat menahan senyumnya yang lebar, matanya berbinar. Tak sia-sia ia mempelajari resep Bibi Yoon-pembantu Kris- secara kilat. Kris senang jika Yoora menyukai masakannya.

“Kalau begitu kau harus menghabiskannya”

Yoora mengangguk dengan senyumnya. Namun, baru Kris akan menyendok sesuap bubur lagi, Yoora menyentuh pergelangan tangan Kris.

“Ada apa?” Kris menatap Yoora bingung

“Kau..”

“Kenapa kau begitu baik padaku? Merawatku, memberi makan, menyediakan tempat istirahat, membiarkanku tinggal di rumah mewahmu, dan mencariku dari pernikahan Oh Sehun..”

“Kau terlalu baik Kris, aku tidak pantas menerima ini. Aku hanya gadis bodoh, yang sedang patah hati dan–“

Perkataan Yoora terhenti begitu merasakan Kris telah menggenggam telapak tangannya yang dibalut infus dengan begitu lembut. Terasa erat hingga Yoora menghentikan pembicaraannya.Dari genggaman itu, Yoora tidak merasakan sakit. Tangan Kris yang lebih besar darinya mengenggamnya dengan rasa hangat yang Yoora rasakan.

“Jangan berkata seperti itu. Aku baik padamu? Tidak, aku melakukan ini hanya atas dasar ingin menjagamu”

Yoora menatap Kris dengan tatapan sulit dimengerti. Entah terkejut, ataupun tidak mengerti.

“Aku merasa sakit saat melihatmu menangis. Di taman itu, saat kau menangis begitu lepas hingga membiarkanmu terguyur dinginnya hujan. Kau sungguh tidak memperdulikan kesehatanmu”

Kris memejamkan matanya, kini mangkuk bubur tak lagi dalam dekapannya. Kedua tangan Kris menggenggam tangan Yoora yang berada di atas ranjang, kepalanya menunduk beralih dari wajah Yoora.

“K-Kris?”

Yoora melepaskan genggaman tangan Kris di tangannya. Tangannya beralih menyentuh wajah Kris, mengangkat wajah Kris hingga menatapnya. Yoora tersenyum melihat wajah Kris yang terlihat begitu nanar.

“Terimakasih Kris, kau sungguh baik. Bahkan kata baikpun tidak cukup mendeskripsikannya”

“Terimakasih, sudah mau memperhatikanku. Terimakasih banyak sudah mengkhawatirkanku”

Kris tak dapat menahan senyum melihat senyum yang ada di wajah Yoora. Perlahan,Yoora meraih bahu Kris dan memeluk Kris dengan mata menerawang. Tangannya mengelus punggung Kris dengan lembut,senyuman pun belum hilang dari bibirnya.

“Sungguh, kau terlalu baik Kris”

Kris hanya mengangguk menanggapinya. Dengan keberanian, tangan Kris pun membalas pelukan Yoora dengan canggung. Hening…

“Yoora?”

“Hm?”

Yoora melepas pelukannya dan menatap Kris dengan tatapan bertanya.

“Sebegitu besarnyakah cintamu pada Sehun sampai kau menangisinya dan hingga jatuh sakit?”

Pertanyaan Kris yang begitu to the point membuat Yoora sedikit tersentak. Namun bukan bingung atau kembali bersedih, ia justru menatap Kris dengan berbinar. Mencoba menutupi kerapuhan yang ia rasakan.

“Kau ingin menjagaku, kan?”

Sontak Kris menjadi salah tingkah, bola matanya berputar dan gerak tubuhnya menjadi kaku.

“Kris?”

Kris pun kembali menatap Yoora dengan menaikkan kedua alisnya.

“Ya aku memang ingin selalu menjagamu”

“Kalau begitu, teruslah menjagaku. Dan hentikan pertanyaanmu tentang Oh Sehun”

Kris tersenyum mengerti. Paham dengan perkataan Yoora yang bermaksud sedang tidak menginginkan pembicaraan perihal Oh Sehun.

 

~oOo~

Derap langkah dari sepatu bertalu menyentuh lantai yang berkeramik. Langkahnya yang panjang terus menyusuri koridor. Di punggungnya sebuah ransel berisi berbagai buku kedokteran terdapat di dalamnya. Langkahnya semakin terburu-buru, dengan raut wajah yang terlihat lebih gelisah. Rambutnya yang lurus kerapkali tertiup angin karna langkahnya yang begitu cepat. Dengan seketika, langkahnya terhenti.

Melihat Kim Yoora dan Kris, bersama.

Dengan tekad kuat, ia menghampiri mereka yang tengah berbicara.

Annyeong!” ucap Sehun dengan bersemangat, mencoba menyembunyikan raut wajahnya yang baru saja terlihat.

Kris dan Yoora menatap Sehun dengan tidak percaya juga bingung. Melihat Sehun yang terlihat begitu berbeda. Berbeda.

Rautnya terlihat begitu bersemangat. Yoora mengalihkan pandangannya canggung melihat sosok Sehun sejak pernikahan lelaki itu tiga hari lalu. Saat ia melihat sosok Sehun di altar. Menunggu seorang gadis, yang bukan dirinya.

Kris pun tak dapat menyembunyikan raut wajah bingung. Karna jelas saja, terakhir ia memberitahu keadaan Yoora via pesan singkat tidak di balasnya, bahkan setiap Kris menelponnyapun Sehun tak pernah mengangkat.

Dan sekarang, pris bertubuh tinggi kurus itu berdiri dihadapan mereka dengan wajah bersemangat. Senyum yang sangat jarang Sehun tunjukkan, dengan gamblang kini terlihat diwajahnya.

“Hei, kalian kenapa jadi diam?”

Kris pun tersadar dari lamunannya. Dan Yoora masih enggan menatap Sehun, mulutnya terkatup rapat.

“Hai Sehun! Kau.. Hari ini, terlihat,begitu bersemangat?” ucap Kris susah payah

Sehun hanya tersenyum.

“Hey Kim Yoora?”

Yoora membulatkan matanya, entah mengapa hatinya terasa runtuh tatkala mendengar namanya terucap dari mulut Sehun. Lelaki yang telah mengajarkannya apa itu persahabatan, juga rasa sayang. Perlahan Yoora menoleh, menunjukkan senyum yang ia coba natural. Namun tetap saja, terlihat begitu nanar senyumnya. Hambar.

“Hai”

“Kau tidak datang ke pernikahanku? Kemarinpun kau tidak masuk ke kampus”

Pernikahan?

Dibalik dress selutut yang Yoora kenakan, tangannya mengepal. Pandanganya tertunduk dan mulutnya enggan berbicara. Sedangkan Kris menatap gadis di sisinya dengan khawatir.

“Itu semua karna aku”

Sehun mengalihkan pandangannya pada Kris. Dan begitu pula dengan Yoora, perlahan melirik Kris yang membuka suara.

“Aku sudah bertemu dengan Yoora di gereja, dan aku segera mengajaknya pergi berjalan-jalan mencari udara segar hingga kami lupa waktu”

Sehun tersenyum miris, mendengar perkataan Kris yang begitu pandai. Pandai merajut kata, membuat kebohongan yang sama-sama telah mereka tahu.

“Oh begitu, hubungan kalian semakin baik saja. Aku senang mendengarnya”

Yoora menatap Sehun dengan tidak percaya, tak ia sadari genangan airmata telah berada di pelupuk matanya. Genggaman tangannya pun semakin erat menggenggam dress yang ia kenakan. Kris pun demikian, menatap Sehun dengan tidak percaya. Hilang kabar, dan kini pria itu berkata semacam hal yang memungkinkan menyakitkan perasaan Yoora.

“Semoga kalian dapat menyusulku”

Ucap Sehun dengan antusias, dan tanpa menunggu diantara Kris dan Yoora menjawab Sehun telah melenggang pergi meninggalkan mereka berdua dalam keheningan.

Raut wajah Sehun berubah, menyiratkan perasaan sesalnya. Rahangnya mengeras, langkahnya terburu-buru meninggalkan. Ia menggit bibir bawahnya. Dan saat ia memejamkan mata, setetes air mata telah jatuh.

 

~oOo~

Lelaki itu menatap layar ponselnya dengan menahan amarah juga bingung. Nama ‘Oh Sehun’ tertera di sana. Kali ini sudah kali ke tiga ponselnya berdering dan memunculkan nama yang sama. Saat pertama, Kris dengan begitu enggan dan malas menjawab hanya membiarkan ponselnya terus berdering.

Sejak kejadian lima hari lalu, Sehun yang tiba-tiba muncul di hadapannya dan Yoora lalu berkata seperti demikian. Yang membuat Yoora belakangan ini menjadi lebih diam dan terkadang melamun. Sejak hari itu pula Sehun tak pernah masuk kampus lagi. Bahkan Kris menghubunginya pun begitu sulit. Membuatnya begitu heran dengan apa maksud Sehun yang bersikap seperti itu. Kerap menghilang tanpa kabar.

Sekarang, ponselnya kembali berdering kali keempat. Dengan tegas Kris pun menerima panggilan itu.

“Yoboseyo”

“Yoboseyo”

“Kris? Dapatkah kau menemuiku sekarang?”

“Untuk apa?”

“Ini penting, ini tentang Yoora”

“Kau bahkan masih dapat menyebut namanya dengan begitu mudah, hah?”

“Aku menunggumu di sini, Evergreen”

Klik

Kris baru akan kembali berbicara, namun ia sadari jika sambungan telah terputus sepihak. Sehun segera memutuskan sambungannya.

“Sebenarnya apa maumu, Oh Sehun?!”

 

~oOo~

Denting lonceng berbunyi menandakan ada pengunjung yang memasuki Evergreen. Kafe yang salah satu cabang dari Tokyo Jepang itu cukup ramai di jam makan siang orang kantoran. Di salah satu kursi enam yang berada tepat menghadap ruang dapur,dipenuhi para gadis kuliahan yang sibuk dengan gadget terbaru mereka. Sedangkan di sisi mereka, dua bangku yang berhadapan di sisi jendela duduklah seorang pria dengan raut wajahnya yang datar.

Oh Sehun melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, pukul 12:31 p.m. Matanya kembali menerawang ke luar jendela kaca besar di sisinya, menatap jalan raya kota Seoul yang monoton.

Tiba-tiba ia mengulum senyum, melihat sebuah audi hitam terparkir di tepi jalan. Menunjukkan sesosok sahabat yang ia tunggu.

Lonceng yang tergantung di atas pintu kembali berbunyi. Menampakkan sosok Kris yang berdiri tegap seraya mengedarkan pandangannya. Sehun hanya terdiam melihat Kris yang tengah mencarinya. Dan tepat!

Mata Kris bertemu dengan Sehun yang hanya tersenyum tipis. Sedangkan Kris, dengan wajah datar bergerak mendekati tempat Sehun berada. Dan segera duduk di hadapan Sehun tanpa basa-basi.

“Ada apa?”

“Kau dapat meminum kopimu dulu, Kris. Masih hangat”

Kris melirik secangkir kopi di hadapannya yang terlihat masih hangat. Maka tanpa ragu Kris menyeruput secangkir minuman ber kafein itu dengan perlahan. Melihat Kris yang meletakkan cangkirnya, Sehun pun berniat memulai percakapannya.

“Aku akan pindah”

“Pindah?” kening Kris berkerut samar.

Ne, ke Jepang”

Tiba-tiba Kris mengepalkan tangannya, semakin tajam menatap wajah Sehun. Nada bicara Sehun terlampau biasa, seolah tak ada masalah apapun yang sudah terjadi.

“Hampir satu minggu ini aku tidak masuk, itu karna aku sibuk mengurus surat-surat kepindahanku”

“Aku akan melanjutkan kuliahku disana, bersama Ahnjung”

“Itu semua karna eomma mu?” pertanyaan Kris yang begitu dingin membuat Sehun mengangguk.

“Kau sangat pandai Kris”

“Bagaimana dengan Yoora?”

“…” Sehun terdiam, mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

Kris menatap Sehun dengan menahan amarah, menatap perubahan sikap dari sahabatnya yang nampak tidak lagi memperdulikan keberadaan Yoora di sisinya kini.

“Aku ingin memberitahunya, tapi–“

“Kau terlalu takut, pengecut”

Kata-kata kasar yang keluar dari mulut Kris membuat Sehun menatapnya dengan tidak percaya, seorang Kris tidak pernah bicara seperti itu. Yang ia tahu, Kris lelaki yang sopan dan selalu menjaga sikapnya.

Jadi Kris benar-benar mencintai Yoora? Benar-benar menjaga gadis itu?

“Kau akan pergi lama dan tidak memberi salam apapun padanya? Kau tak tahu jika belakangan ini dia sering melamunkanmu?”

Kris menghela nafasnya kasar, saat emosinya mulai tersulut.

“Bagaimanapun ia sedang berusaha keras untuk melupakanmu! Jangan seperti itu, Oh Sehun. Kau dapat membuatnya merasa tidak berharga di matamu”

Sehun masih terdiam, apa yang dikatakan Kris memang benar adanya. Ia pengecut, tak ada keberanian untuk memberitahu Yoora.

“Aku tidak sanggup melihatnya menangis”

“Biarkan dia menangis untukmu terakhir kalinya”

“Lusa, aku akan berangkat”

“Maka temui dia besok”

“Apa ia masih mau menemuiku?”

“Tentu masih, dan saat hari keberangkatan kau dapat pergi ke Jepang dengan tenangnya”

Sehun tersenyum miris. Memang tidak salah jika ia bertemu dengan Kris hari ini.

“Kris?”

Kris hanya menaikan alisnya dan menatap Sehun apa adanya.

“Aku tidak menyesal memilihmu”

“Apa?”

“Kau berhak mencintai Yoora, ia pantas mendapatkan kasih sayang darimu. Kau berhasil menjaganya”

Kris hanya memalingkan wajah, dan berkata.

“Tapi masih kau yang ia cintai”

 

~oOo~

Kim Yoora menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Matanya menerawang ke langit-langit kamar. Di tangannya, sebuah ponsel yang masih berada dalam genggamannya. Bibirnya tiba-tiba bergetar, di pelupuk matanya menggenang kembali air mata yang telah terbiasa muncul.

Kata-kata Kris barusan kembali terngiang.

 

“Tumben sekali kau mengajakku pergi bersama”

“Tidak hanya kita berdua”

“Lalu?”

“Kita akan menemui Sehun”

Sesaat Yoora terdiam, tangannya terasa lemas.

“Yoora?”

“Ah ne

“Ada hal penting yang harus kau ketahui darinya”

“Apa?”

“Besok kau akan mengetahuinya dari dirinya secara langsung”

 

 

Yoora menatap layar ponselnya yang berwarna hitam,dan kembali menatap langit kamar dengan menerawang.Matanya mengerjap,dan dengan perhatian dia berbisik.

“Oh Sehun”

“Apa lagi yang kau harap?”

 

~oOo~

Hening. Canggung.

Suasana yang bagaimana telah tercipta di meja bernomor 15 di kafe Evergreen. Seorang pelayan telah meletakkan dua cangkir cappuccino dan segelas milkshake di atas meja. Namun mereka –Yoora,Sehun dan Kris- masih saling diam, sibuk dengan pikiran masing-masing dan enggan membuka suara.

Kris melirik Sehun yang tengah menyeruput minumannya, dan beralih pada Yoora yang duduk di sebelahnya yang tengah menatap keluar jendela yang berada di sisinya. Ia menghela nafas, dan memulai percakapan.

“Hm, aku harus pergi sekarang. Aku harus mengerjakan grafik untuk presentasiku minggu depan. Permisi”

Ucapan Kris hanya dibalas anggukan oleh Sehun dan Yoora, maka Kris hanya tersenyum simpul melihat Yoora yang tengah menatapnya.

Dengan kaki panjangnya, Kris melangkah menuju pintu. Namun seketika langkahnya terhenti. Pandangannya ia alihkan ke mana meja Sehun dan Yoora berada. Melihat mereka yang duduk berhadapan dan masih saling diam. Dan tetap, Kris berjalan keluar yang membuat lonceng berdenting.

“Apa yang ingin kau katakan padaku, Sehun?”

Sehun menatap Yoora yang bertanya dengan nada bicara nya yang terkesan dingin.

“Aku akan pindah. Meneruskan kuliahku ke Jepang, bersama Ahnjung”

Tangan Yoora yang berada di atas meja, dengan lemah ia tarik kebawah. Menggenggam tas yang ia pangku dengan erat, pandanganya menunduk menatap segelas milkshake yang belum ia sentuh sama sekali tanpa minat.

“Lalu?”

“Apa maksudmu lalu?”

Yoora mengangkat wajahnya, menunjukkan tegasnya perkataan yang ia ucap.

“Apa tujuanmu memberitahuku?”

Sesaat Sehun terdiam. “Aku, aku hanya ingin pamit padamu. Besok aku akan berangkat”

Yoora tersenyum miris.

“Bukankah kau senang melihatku bersama Kris? Kau tak perlu pamit padaku, karna aku takkan mencarimu”

“Oh begitu. Aku senang mendengarnya”

Yoora terperangah mendengar suara Sehun yang begitu lembut, sebuah ulasan senyum pun muncul di wajahnya yang pasrah.

“Aku senang kau dapat cepat melupakan perasaan itu… Jadi aku tidak perlu merasa bersalah lagi”

Nada Sehun yang melunak sontak membuat Yoora harus mati-matian menahan air matanya yang telah menggenang. Bibir Yoora pun bergetar, mendengar setiap kata yang terucap dari Sehun.

“Aku dapat tenang di Jepang nanti”

Sehun menghela nafasnya sejenak.

“Aku akan tinggal di sana selama empat tahun. Aku harus pindah kesana karna eomma. Beliau akan menjalani perawatan disana karna penyakit jantungnya, terlebih lagi semua kerabat eomma  tinggal di Jepang. Bersama Ahnjung, kami tinggal di sana”

“Tapi.. Aku mohon maaf. Jika disana aku akan merindukanmu, Kim Yoora”

Pertahanan Yoora ambruk sudah, air mata yang telah ia tahan dengan kerja keras pada akhirnya menetes juga. Masih belum juga bergeming, hanya menatap Sehun dengan nanar dan mendengar dengan baik setiap perkataannya.

“Aku mengerti”

“Aku, aku sedang berusaha melupakan perasaanku. Aku, aku tidak mungkin merusak hubungan mu dengan Ahnjung. Terimakasih Sehun, terimakasih untuk segalanya”

“Jangan lupakan aku sebagai sahabatmu” sahut Sehun yang disambut senyuman oleh Yoora

Kini Sehun menengadahkan telapak tangannya, meletakkannya di atas meja. Tangan Yoora pun beranjak dan dengan perlahan meletakkan tepat diatas tangan Sehun membuat tangan mereka saling mengamit. Kembali, air mata Yoora tak lagi tertahan menetes seraya matanya menatap tangan nya yang digenggam begitu erat oleh Sehun.

“Hentikan air matamu, jangan menangis lagi”

Namun bahu Yoora justru naik turun, menahan isakan. Maka tangan Sehun yang satunya kembali ia gunakan untuk menggenggam tangan Yoora dan menatap Yoora dengan senyum tulus.

“Sampai bertemu lagi. Semoga Kris dapat menjagamu dengan baik, tidak sepertiku”

Yoora mengerjapkan matanya yang tak henti menatap genggaman tangannya dengan Sehun.

“Tidak, kita hanya belum ditakdirkan untuk bersama”

Sehun tersenyum, mengeratkan genggaman tangannya. Berbisik yang membuat Yoora memandangnya haru.

“Aku tidak pernah menyesal telah mencintaimu, Kim Yoora”

 

~oOo~

Kris mengalihkan pandangannya, tangannya semakin erat menggenggam setir mobil. Ia tersenyum. Dan menghela nafasnya dengan lega.

“Senang melihat kalian seperti itu”

“Begitu manis”

“Tapi..”

“Aku tidak sanggup melihatnya, lebih lama”

Raut wajahnya berubah, menunjukkan perasaannya yang sebenarnya. Pandangan yang sejak tadi ia tujukan pada sepasang muda-mudi yang tengah duduk berhadapan di salah satu meja di sebuah kafe tempat mobilnya terparkir di seberang. Kafe Evergreen meja nomor 15, tempat Sehun dan Yoora duduk berhadapan. Dilihatnya mereka saling berbincang dengan raut yang begitu menyentuh. Dan yang membuat Kris mengeratkan genggeman tangannya pada setir adalah saat tangan Yoora dan Sehun yang saling menggenggam dengan erat seakan tak ingin terpisah.

Hal itu yang membuat Kris mengalihkan pandangannya, tak sanggup terus menatap bagaimana perasaan mereka masing-masing yang jelas masih saling mencintai. Perlahan Kris kembali memalingkan wajah dan melihat Sehun yang tengah mengusap pipi Yoora.

“Gadis itu…menangis lagi?” lirihnya

Tangan Kris terangkat, mencoba meraih Yoora dari kejauhan. Ingin mengusap setiap tetes air mata gadis itu yang jatuh, namun tidak bisa.

“Aku tidak berhak melakukannya”

Dengan enggan, Kris menyalakan mesin. Dan segera menginjak pedal gas menjauhi kafe yang berdiri kokoh di sisi jalan raya kota Seoul.

 

~oOo~

Matahari mulai bergeser dengan enggan menuju ufuk barat. Memperlihatkan langit yang semakin gelap, ditambah gumpalan awan hitam menunjukkan langit mendung. Seorang gadis duduk termenung di sebuah bangku yang berada tepat di sekitar taman sebuah menara kebanggaan kota Seoul.

Kim Yoora, matanya tak lepas dari jalan yang ada di hadapannya. Pandangannya kosong, dan tak menghiraukan sudah banyak sepatu yang melintas di penglihatannya. Dan tiba-tiba, ia merogoh ponselnya di dalam tas yang ia bawa. Sekedar melihat sudah pukul berapa sekarang.

Ia mengerjap melihat pemberitahuan yang berada di sana.

 

‘6 missed calls from Kris’

‘4 messages from Kris’

 

“Kris?”

Belum sempat coba untuk menelpon Kris, sebuah panggilan masuk terlebih dulu muncul.

‘Kris’

Ia menerima sambungan telepon itu dan segera menempelkan ke sisi telinganya.

“Yob–“

“Yoora kau dimana? Sedari tadi, kau tidak mengangkat teleponku”

“Aku, di Namsan”

“Tunggu aku disana!”

Klik

Sontak Yoora menatap ponselnya dengan terheran, dahinya mengernyit.

“Tunggu? Seberapa lama aku harus menunggunya disini?”

“Yoora!”

Yoora terkejut, matanya ini beralih pada seorang lelaki yang ia kenal bernama Kris sudah muncul dihadapannya dengan tubuh yang tersengal-sengal. Di tangan Kris, ia lihat sebuah ponsel berada di sana.

“Kris? Cepat sekali kau–“

“Kau ini! Sudah berapa kali aku menelponmu? Mengirim pesan?”

“Aku–“

“Apa ponselmu kau silent?”

“Itu–“

“Aku sungguh mengkhawatirkanmu! Tidak bisakah kau memberi kab–“

“Kris!”

Ucapan Kris terhenti begitu Yoora beranjak dari duduknya dan segera menarik dan langsung menggenggam kuat salah satu sisi tangan Kris dikarenakan Kris yang tak kunjung selesai bicara. Jarak mereka yang begitu dekat membuat Kris tak dapat kembali meneruskan pembicaraannya. Terlebih bagaimana cara Yoora menatapnya saat itu.

“Maaf, aku memang silent ponselku. Dan aku baik-baik saja, aku minta maaf karna telah membuatmu khawatir”

Kris menatap kedua manik mata Yoora, dan segera mengalihkan pandangannya yang membuat terciptanya jarak antara dirinya dengan Yoora.

“Hm, baik aku mengerti” ucap Kris dengan salah tingkah

“Oh ya, kenapa kau bisa secepat itu muncul di sini?”

Kris kembali menatap Yoora, mengerjapkan matanya dan kembali memandang kedua mata Yoora bergantian. Mencoba menunjukkan keyakinan pada tatapannya.

“Dan kau sendiri, kenapa selalu menyendiri dan menghilang tanpa kabar setelah bertemu dengan Sehun?”

 

~oOo~

Sebelumnya~

 

Sehun dan Kris, saling duduk berhadapan di salah satu kafe terdekat dari Kyunghee University. Tepat setelah menemui Yoora, Sehun bergegas mengajak Kris bertemu yang memang tepat berada di Kyunghee. Sudah cukup lama mereka berbincang, dengan raut serius layaknya membahas pembicaraan penting.

“Kau harus berjanji”

Kris mengangguk mengerti.

“Tentu saja” jawabnya yakin

Kris mengalihkan perhatiannya pada ponsel di genggamannya, berulangkali menghubungi kontak seseorang dengan raut wajah terheran.

“Kau terlihat gelisah, Kris?”

Kris yang telah berulang kali mencoba menghubungi sebuah nomor pun memandang Sehun sekilas.

“Dia belum juga mengangkat teleponku”

“Benarkah? Tadi saat kami keluar dari Evergreen, aku sudah melihatnya berjalan menuju halte bus”

“Tapi sudah empat kali aku menghubunginya dan belum juga ada yang ia angkat”

Kembali Kris menekan pilihan ‘call’ pada nomor Yoora yang tertera. Dan lagi, panggilannya tidak juga digubris oleh sang penerima telepon. Sedangkan Sehun, ia hanya tersenyum tipis melihatnya.

“Coba kau pergi ke Namsan”

Perkataan Sehun membuat Kris menatap Sehun dengan tatapan penuh tanda tanya. Sehun pun mengangguk.

“Namsan?”

“Sekarang kau pergilah ke sana, dan jangan pernah menyerah untuk mencoba menghubunginya”

Maka tanpa menjawab apapun, Kris bertolak dari duduknya dan segera keluar dari sebuah kafe tempatnya berada. Menuju parkiran, dan menggunakan mobilnya mencari keberadaan Yoora.

“Taman Namsan?” gumamnya

Kris baru turun dari mobilnya masih dengan telepon yang tertempel di telinga. Seketika matanya membulat menyadari teleponnya tersambung.

“…”

“Yoora kau dimana? Sedari tadi,kau tidak mengangkat teleponku”

“…”

“Tunggu aku disana!”

Klik

Tak perlu lama, di mata Kris kini telah menangkap seorang gadis yang tengah duduk seorang diri di salah satu bangku yang ada. Maka dengan segera Kris berlari menuju gadis yang bernama Kim Yoora.

“Yoora!”

Dilihatnya Yoora yang masih duduk di bangku tersebut seraya menatap Kris dengan terkejut. Nafas Kris yang tersengal-sengal tidak ia perdulikan. Yoora mendongakkan kepalanya.

“Kris? Cepat sekali kau–“

“Kau ini! Sudah berapa kali aku menelponmu? Mengirim pesan?”

“Aku–“

“Apa ponselmu kau silent?”

“Itu–“

“Aku sungguh mengkhawatirkanmu! Tidak bisakah kau memberi kab–“

“Kris!”

Tubuh Kris sesaat menjadi kaku, matanya yang bertemu dengan kedua mata Yoora yang begitu jelas dekat. Tangan Yoora menggenggam kuat tangannya. Menatap Kris dengan begitu serius yang membuat Kris tak lagi sanggup meneruskan perkataannya.

“Maaf, aku memang silent ponselku. Dan aku baik-baik saja, maaf telah membuatmu khawatir”

Kris berusaha menyembunyikan senyumnya, mengalihkan pandangannya mencoba menahan senyum mendengar perkataan Yoora yang begitu lembut.

“Hm, baik aku mengerti”

“Oh ya, kenapa kau bisa secepat itu muncul di sini?”

Kris kembali menatap Yoora, memandang wajah gadis dihadapannya dengan keyakinan dan menegaskan tatapannya.

“Dan kau sendiri, kenapa selalu menyendiri dan menghilang tanpa kabar setelah bertemu dengan Sehun?”

Pertanyaan Kris yang membuat Yoora sontak terdiam, memundurkan satu langkahnya dan kembali duduk di bangku dibelakangnya. Sedangkan Kris, masih berdiri di hadapan Yoora dan menunduk menatap Yoora yang tidak membalas tatapannya.

Gadis itu menghela nafasnya.

“Aku, aku hanya mencoba untuk mengenang kenanganku dengannya. Untuk yang terakhir kali”

Dibalik poni yang menutupi sebagian wajah Yoora, Kris melihat senyum miris yang muncul.

“Sudah terlalu banyak kenanganku dengannya disini”

“Dari awal kami yang memulai persahabatan, hingga sekarang aku mengerti jika aku memang harus melepas kepergiannya”

“Dia yang tengah menuju ke kehidupannya yang baru, tanpa diriku”

“Aku hanya tengah mencoba untuk mengenangnya, tanpa ingin ia kembali padaku”

Suara Yoora semakin lirih, hembusan angin senja menerpa rambutnya yang tertiup angin. Taman pun semakin sepi, hanya beberapa orang berpakaian kantoran yang berlalu lalang. Kris menatap Yoora dengan nanar, walau ia tidak dapat melihat wajah Yoora namun ia mengerti dan paham jika Yoora telah meneteskan air matanya kembali.

Perlahan, Kris menurunkan tubuhnya. Menahan tubuhnya hingga berlutut dihadapan Yoora. Salah satu tangannya ia gunakan untuk mengangkat dagu Yoora dengan begitu lembut. Hingga dapat ia lihat raut wajah Yoora yang tengah tersenyum, senyum yang menguatkan dirinya sendiri.

Tangan Kris pun beralih pada pipi Yoora, yang telah basah karna air mata yang mengalir. Dengan begitu hati-hati, ia menghapus air  mata yang ada.Begitu hati-hati seakan-akan Yoora adalah benda berharga yang mudah rapuh.

Sedangkan Yoora hanya terdiam, menatap Kris yang tengah serius. Ia terpaku dengan apa yang tengah Kris lakukan. Wajahnya yang begitu tenang, membuat Yoora juga merasakan ketenangan. Namun sontak ia mengerjapkan matanya begitu Kris yang tengah berlutut di hadapannya itu menggenggam kedua tangannya dengan erat.

Yoora terperangah mendengar Kris yang membuka suara dengan lembut namun tegas.

“Aku akan berusaha untuk membantumu”

“Melupakan perasaanmu pada Sehun yang jelas membuatmu tersiksa”

Dan selanjutnya, Kris berbisik.

“Would you be mine?”

 

~oOo~

 

Cinta itu tidak butuh izin

Cinta juga tak dapat dipaksa

Cinta bukan berarti gelimang harta

Tapi cinta

Berikat kuat dengan waktu juga rasa dalam dada

 

 

END~

 

Yeaay udah selesai ceritanyaaa. Hm, gantung? Absurd? Aneh? Maaf aja yaa:( Tapi mau bagaimanapun cerita akhirnya udah begitu. Dengan looonggshoot di chapter ini._. Dan untuk yang ingin tau bagaimana jawaban Yoora, kalian bisa tanyain langsung ke Yoora. Atau bisa juga prediksi sendiri dari paragraf singkat di akhir cerita Hehehehe

Makasih banyak buat para readers yang berbaik hati mau membaca Another Story chapter pertama, apalagi yang sampe komen^^ (semoga dapet pahala._./ Amin) ;D Seneeng banget liat komen para readers sebelumnya, maaf bgt ya kalo akhir ceritanya ga sesuai permintaan dan harapan:’) Semoga chapter terakhir ini gak begitu mengecewakan ya:”)

Terimakasih sekali lagi buat kak diajengdea23 yang udah baik banget nge post ff aku ini. Semoga kapan-kapan aku bisa nge-post ff abal punyaku lagi^^. Karena membaca dan menulis ff itu sama menyenangkannya^^.

Satu hal lagi yang paling penting, #SAYNOTOPLAGIARISM !!!

UNPLAGIARISM YA KAWAN! J­­­

8 responses to “Another Story – [Chapter 2]

  1. ah kok endingnya gitusih huhu:”( tega banget sih kak, ngegantungin orangg:(((( need sequel inimah udah

  2. Yaakkk kenapa gantung author-ssi
    Setelah menunggu sekian lama…inikah balasanmu hhuuuwwaaa 😥
    *nangisdipelukanSehun
    oke. .Tetep aja nanggung thor-ssi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s