Memories : Two of Two (END) :

memories-choisoojoon

MEMORIES

EXO Sehun | Song Jae In (OC/You) | EXO Luhan

Author : @MinhoNoona (Choi Soo Joon)

Genre : Romance,Angst,Life

Rate : PG-15

Length : Two Shoot

Summary :

Karena cinta adalah sesuatu yang sulit ditebak,tak tahu kapan dan dimana ia akan bermuara…

Poster : Lee YongMi @ http://allthingsiwannapost.wordpress.com

Previous Story :

Jae In & Sehun adalah sepasang kekasih yang sudah setahun lamanya menjalin hubungan,si gadis baik dan namja pemberontak tapi anehnya mereka bisa saling jatuh cinta dan melengkapi. Masalah sudah ada sejak lama,Ayah Jae In tak pernah menyetujui putrinya berhubungan dengan Sehun,beliau lebih setuju jika Jae In menjalin kasih dengan Luhan—namja yang sudah dikenal putrinya sejak masih kanak-kanak. Sayangnya Jae In tidak menyimpan perasaan apa-apa terhadap pria bermarga Lu itu. Akankah Jae In & Sehun sanggup memperjuangkan hubungan mereka? Apa jadinya kalau Luhan terbang ke Seoul hanya untuk menemui Jae In? Siapa yang akhirnya menjadi masa depan gadis bermarga Song itu? Sehun–namja yang dicintainya? atau Luhan—namja yang mencintainya?

SEHUN

“Tumben sekali kau sudah berada di rumah,Sehun-ah,” suara seorang laki-laki paruh baya mengusik kesendirianku.

Aku menoleh. Appaku sudah pulang. Tapi keadaannya sama saja,dia pulang dengan langkahnya yang terhuyung dan tentu saja matanya yang merah.

“Aku sedang malas diluar rumah,” sahutku.

“Haha,Appa yakin gadismu itu yang mempengaruhimu. Aish,berhati-hatilah siapa tahu di masa depan dia jadi gadis yang jahat,”

Aku menggeleng pelan.

“Tidak mungkin,Appa. Jae In bukan tipe perempuan seperti itu,”

“Tahu apa kau tentang perempuan,huh? Aku ini lebih berpengalaman darimu,contohnya Eommamu itu,”

Gigiku bergemeletuk dan otomatis tanganku mengepal.

“Jangan bawa-bawa nama Eomma,Appa,”

“Cish,kenapa? Memang kenyataannya dia meninggalkan kita berdua bukan? Bahkan sampai detik ini dia tak memperdulikanmu,”

“Dia tidak meninggalkanku,dia hanya meninggalkan Appa. Itu pun karena sikap Appa yang sudah keterlaluan,harusnya Appa tidak membawaku,aku menyesal tinggal bersamamu,Appa,” aku menatapnya penuh amarah.

PLAK !!! Tanpa banyak pertimbangan,tangan Appa sudah terayun menampar pipiku. Entah sudah keberapa kalinya semenjak aku hidup dengan Appa,aku menerima hal seperti ini.

“Jaga bicaramu !!! Aku sudah mati-matian bekerja keras,ini balasanmu,huh? Sebaiknya kubiarkan kau membusuk saja di jalanan !!!”

“APPA !!!” aku memekik.

“Kenapa? Kau ingin hidup dengan Eommamu dan Se Joo? Pergi sana !!! Appa tidak akan pernah menahanmu !!!” Appa mendorongku kasar hingga aku terhempas di sofa,ia melangkahkan kaki menuju kamar dan BLAM ! pintu kayu itu tertutup dengan kasar.

Entah kenapa,tiba-tiba air mataku mengalir pelan. Aku benar-benar merindukan Eommaku dan Se Joo–kembaranku. Apa kabar mereka? kenapa mereka tidak pernah memberi kabar padaku? Apa mereka masih mengingatku? Aku meraih ponselku dan tanganku bergerak menuju kontak ‘Eomma’. Nomor yang anda tuju tidak terdaftar. Eomma,apa kau sudah tidak menyayangiku lagi? Apa semua perkataan Appa itu benar adanya?

***

Dua Hari Kemudian,Kampus…

“Sehun-ah…,” ditengah-tengah makan siang tiba-tiba Jae In bersuara.

Wae?” 

“Dia akan datang,” ujarnya lirih,pelan sekali.

“Maksudmu? Oppa dari masa kecilmu itu? Yang kedua…ani,lebih tepatnya ayahmu sangat inginkan untuk jadi kekasihmu?”

Jae In mengangguk.

“Kau tinggal menolaknya bukan?” sahutku setenang mungkin,meski sebenarnya aku sendiripun tidak setenang itu.

“Kau tahu benar bagaimana ayahku,dia seseorang yang sulit merubah keputusannya,”

Aku menaruh sumpitku diatas mangkuk,menatap Jae In sambil menghembuskan nafas panjang.

“Lalu aku harus sepertinya? menjadi mahasiswa cerdas yang lulus 2,5 tahun dan kini jadi manajer perusahaan,begitu? aku bukan dia,Song Jae In. Kita berdua berbeda,sangat berbeda,” tegasku.

Jae In meringis,ia tahu kini aku tengah marah dan kecewa.

Arraseo,aku tahu. Aku sama sekali tidak memintamu untuk jadi sepertinya,aku ingin kau yang apa adanya,”

“Kalau begitu bersabarlah,aku akan berusaha keras agar masa depanku lebih baik lagi dan tentu saja menjadi layak untuk berada disampingmu. Kau tahu,semuanya hanya untukmu,”

Jae In tersenyum kecil,ia meraih tanganku dan mengenggamnya hangat.

“Jeongmal gomawo,Sehun-ah. Gomawoyo,” 

Aku membalas senyumannya,setelah itu obrolan kami berdua jauh lebih ringan dan melanjutkan makan siang yang sempat tertunda.

JAE IN

20.00 KST,Kediaman Keluarga Song…

“Katanya dia sedang dalam perjalanan,Jae In-a. Dan dua jam lagi akan sampai di Seoul,” ucap Appa.

“Nuguya?” aku berlagak polos,padahal aku tahu benar siapa sosok yang dimaksud Appa.

“Tentu saja Oppamu,Luhan,Jae In-a,” Eomma duduk disampingku.

“Dia bukan Oppa kandungku,Eomma. Jadi apa urusannya denganku?”

“Hei,kenapa kau berbicara seperti itu? Bukankah kalian berdua sangat dekat?”

Aku mendelik.

“Tanyakan saja pada Appa,komentarnyalah yang membuatku enggan bertemu dengan Luhan,” aku beranjak dari dudukku.

“Dengar,Jae In-a !!! Kau harus menjemputnya saat dia tiba ke Seoul dan perlakukan dia dengan baik,” Appa setengah berteriak.

Aku menghembuskan nafas kasar dan menatap kedua orangtuaku.

“Terserah,Appa,”

Aku melanjutkan langkahku dan masuk ke kamar. Aku membuka laci dan mendapati fotoku dengan seorang laki-laki. Di foto itu terlihat jelas kami berdua memakai seragam putih-abu.

“Oppa,mianhae…,” ucapku pelan.

Sungguh,bukan maksudku untuk membencimu Oppa tapi keadaan membuatku menjadi seperti ini. 

***

22.30 KST,Bandara Incheon…

Dengan mata lima watt,aku membuntuti langkah Appa dan Eomma. Dengan setelan t-shirt putih dan celana jins pendek selutut aku pergi ke bandara,meski sempat dimarahi Eomma aku tidak peduli,bahkan aku mengancam untuk tidak ikut menjemput. Akhirnya kedua orangtuaku pun pasrah dengan penampilanku yang apa adanya.

“Maaf,sudah membuatmu lama menunggu,Luhan-ah,” suara Appa terdengar begitu ramah saat kami bertiga menemui seorang laki-laki yang duduk manis sambil memainkan ponselnya.

Laki-laki itu menoleh dan melepas kacamata hitam yang sedari tadi bertengger di hidungnya,ia berdiri dan lalu membungkuk dalam sambil tersenyum.

Abeonim,Eommonim bangapseumnida,” ucapnya.

“Ah,kau ini semakin tampan saja. Senang bertemu lagi denganmu,Luhan-ah,” Eomma memeluknya hangat.

“Jae In-a,kenapa kau diam saja?” Appa menyodokku.

Long time no see..Oppa,” ucapku pelan.

Luhan tersenyum,tangannya bergerak menyentuh pundakku halus. Aku yakin,jika tidak ada kedua orangtuaku disini pasti kini ia sudah memelukku.

“Kau pasti lelah,Luhan-ah. Jadi sebaiknya kita segera ke rumah,” suara Eomma memecah kebekuan diantara kami berdua.

Luhan mengangguk,ia menarik kopernya dan keluar dari arrival gate. Tak sampai lima menit,kami berempat sudah berada di mobil. Appa dan Eomma duduk di depan sementara aku dan Luhan berada di kursi belakang.

“Jae In-a..,”

“Hhmmm…,”

Neomu bogoshipeo..,” suaranya tidak terlalu keras namun aku masih bisa mendengarnya.

Aku tidak menanggapinya,namun aku berjengit kala tangan Luhan mengenggam tanganku hangat. Aku berusaha melepaskannya tapi apa daya tenaganya jauh lebih besar lagi,terlebih lagi kedua orangtuaku tengah menatap kami berdua sambil tersenyum dari balik kaca spion.

Esok Paginya…

“Kau mau kemana,Jae In-a?” tanya Appa ketika aku turun dari lantai dua.

Appa,Eomma dan Luhan sudah duduk manis,mereka bertiga tengah menikmati sarapan.

“Tentu saja kuliah,Appa,” ucapku.

“Kau tidak mau sarapan dulu?” tanya Eomma.

“Tidak,Eomma. Hari ini hanya dua mata kuliah,setelah itu aku akan langsung pulang,”

“Kau pergi dengan siapa?” tanya Appa lagi.

“Se…,”

“Sehun? Tidak perlu,suruh dia pergi sendiri saja ke kampus. Luhan-ah,kau tidak keberatan kan jika mengantar Jae In ke kampus?”

“Appa !!! Ige mwoya?” aku memekik.

“Kenapa?”

“Iya,tentu saja aku tidak keberatan,abeonim. Dengan begitu kami berdua juga bisa berjalan-jalan,”

“Nah,itu ide bagus. Kalian berdua cepat pergi nanti terlambat,”

Aku mendengus pelan,setelah berpamitan akhirnya kami berdua pergi menggunakan mobil.

“Sehun,apa dia nama kekasihmu?” tanya Luhan ditengah perjalanan.

“Ya,dia kekasihku,Oppa. Apa perlu kukenalkan dia padamu?”

Luhan tersenyum kecil,ia berpaling menatapku sesaat.

“Tentu,kurasa itu bukanlah ide buruk. Aku ingin tahu sosoknya seperti apa sampai kau begitu mencintainya,”

“Yang jelas dia berbeda darimu,Oppa,”

Suasana hening sesaat.

“Jae In-a,apakah dimataku aku benar-benar Oppamu?”

Aku menghembuskan nafas panjang.

“Ya,kau Oppaku. Benar-benar Oppaku,aku harus mengatakannya berapa kali,Oppa? Sungguh,aku tidak mau membuatmu tersiksa dan terluka dengan perasaanmu padaku,”

Luhan menggerakkan persenelingnya dan kembali mengulas senyum.

“Sepertinya aku baru bisa merelakanmu sampai aku yakin kalau namja pilihanmu itu memang pantas dan yang terbaik untukmu,”

Oppa,jebal…,” 

“Tenanglah,aku akan menepati janjiku. Jika dia memang pantas untukmu,aku juga akan meyakinkan Appamu,”

“Oppa..,” perasaan bersalah menjalar di hatiku,Oppa seharusnya kau tidak perlu jatuh cinta padaku.

1 Jam Kemudian,Kampus…

“Oppa,sampai disini saja,” ucapku saat kami berdua sampai parkiran.

Ani,aku ingin mengantarmu sampai dalam. Aku ingin melihat kampusmu dan tentu saja kekasihmu itu,”

“Kau benar-benar ingin mengenal dan melihat sosoknya,Oppa?” tanyaku.

Luhan mengangguk penuh keyakinan,aku membuka pintu mobilku begitu juga dengan dia. Kami berdua berjalan beriringan.

“Jae In-a,darimana saja…,” air muka Sehun berubah kala ia melihat Luhan,aku tahu ini bukanlah pertanda baik.

“Oppa,ini dia kekasihku,Oh Sehun. Sehun-ah,kenalkan dia sahabatku di Beijing,Luhan,”

Mereka berdua sama sekali tidak bereaksi,keduanya hanya saling menatap satu sama lain. Sepertinya mereka terkejut dan…kenapa mereka seperti saling mengenal satu sama lain???

“Oppa? Sehun-ah?” aku memecah lamunan mereka.

“Ah,jadi dia. Annyeonghaseyo,jeoneun Luhan imnida,bangapseumnida,” Luhan mengulas senyum dan lalu mengulurkan tangannya.

Hyung…,” lirih Sehun.

Aku mengerenyitkan alis.

Hyung?” ucapku.

“Ah,mungkin kekasihmu ini bergurau,Jae In-a,”

“Sehun-ah,apa kau mengenal dia sebelumnya?” tanyaku ulang.

“Dia..,” belum sempat Sehun melanjutkan kalimatnya,Luhan sudah memotongnya.

“Kami baru saling mengenal sekarang,mungkin kekasihmu ini menemukan seseorang yang mirip denganku. Jadi dia terkejut,aku pulang ya. Nanti kujemput lagi,bye,” Luhan melambaikan tangannya dan bergegas meninggalkanku juga Sehun.

Sehun-ah,neo gwaenchana?” aku mengguncang tubuh Sehun.

Sehun tampak menelan ludah.

Nan…gwaenchana,” setelah itu Sehun meninggalkanku begitu saja. Sebenarnya ada apa dengan dia???

SEHUN

Seperti biasa,aku menunggu di halte bus yang letaknya tak jauh dari rumah Jae In. Aku mengirim pesan singkat padanya :

Jae In-a,ppali. Nanti kita bisa terlambat. -Sehun-

10 menit berlalu,tak ada balasan darinya. Aku berusaha menghubunginya tapi malah pesan suara yang kudengar. Aish,sebenarnya dia kemana??? batinku. Dengan gelisah aku menunggunya,tapi betapa terkejutnya aku kala mendapati Porsche Carera putih miliknya melewatiku,hei bukankah ia sudah janji denganku? kenapa ia berangkat sendiri? Tapi entah salah lihat atau tidak,Jae In tidak sendirian. Ia duduk di kursi penumpang dan seorang laki-laki duduk di kursi supir dan aku yakin benar itu bukanlah supirnya.

Hey,kenapa kau malah pergi dengan oranglain? -Sehun-

Jae In sama sekali tidak membalas pesanku,aku bergegas menaiki motor dan lalu menstaternya. Dalam hitungan detik aku sudah melesat cepat menuju kampus.

***

Dengan gelisah aku menunggu Jae In di lorong kampus,benar saja tak lama sudah kulihat sosoknya sedang berjalan kearahku. Dan,hei siapa di belakangnya? kenapa mirip dengan namja yang kulihat bersamanya di mobil tadi??? batinku.

“Jae In-ah,darimana saja…,” kata-kataku terputus begitu saja.

Jae In,dia tidak salah bawa orang,kan? batinku.

“Oppa,kenalkan dia kekasihku,Oh Sehun. Sehun-ah,kenalkan ini sahabatku di Beijing,Luhan,”

Aku menelan ludah. Luhan. Aku lupa kalau nama chinanya adalah Luhan dan kukira Luhan yang Jae In maksud bukan dia. Oh,Tuhan jadi seseorang yang akan Appanya jodohkan adalah dia??? batinku. Aku dan Luhan saling menatap,tidak ada yang bersuara.

“Oppa? Sehun-ah?” suara Jae In memecah keheningan diantara kami berdua.

“Ah,jadi dia. Annyeonghaseyo,jeoneun Luhan imnida,bangapseumnida,” dalam hitungan detik,ekspresi Luhan berubah.

Hyung…,” desisku pelan,keluar begitu saja dari mulutku.

Hyung?” Jae In mengerenyitkan alisnya heran.

“Ah,mungkin kekasihmu ini bergurau,Jae In-a,”

Bergurau? Jadi bagimu sekarang aku hanyalah tak lebih dari gurauan,Hyung? 

“Apa kalian saling mengenal sebelumnya?” tanya Jae In.

“Kami baru saling mengenal sekarang,mungkin kekasihmu ini menemukan seseorang yang mirip denganku. Jadi dia terkejut,aku pulang ya. Nanti kujemput lagi,bye,” Luhan melambaikan tangannya dan bergegas meninggalkanku dan Jae In.

Sehun-ah,neo gwaenchana?” Jae In mengguncang tubuhku.

Nan…gwaenchana,” setelah itu aku meninggalkan Jae In begitu saja.

Siang Harinya…

Jae In belum keluar dari kelas terakhirnya,sementara kelas ketigaku baru akan dimulai setelah jam makan siang usai nanti. Mataku terbeliak kala mendapati Luhan sudah duduk manis di salah satu kursi di pojokan lorong kampus. Aku bergegas menghampirinya dan duduk disampingnya.

Long time no see…Hyung,” ucapku.

“Jadi kau adalah kekasihnya?” tanyanya to the point.

“Dan kau adalah namja yang akan dijodohkan ayahnya? Jadi kau yang membuat ayahnya tidak merestui hubunganku dan Jae In?”

“Maksudmu?”

“Ayahnya selalu membanggakanmu,bahwa kau adalah calon terbaik untuk Jae In. Tidak ada celah untuk siapapun dan bahkan untukku,setahun tidak berarti apa-apa,Hyung. Ayah Jae In sama sekali tidak tersentuh,baginya kau adalah satu-satunya untuk Jae In,” jelasku.

“Tapi itu bukanlah apa-apa..,”

“Kenapa? Kau memiliki segalanya. Cerdas,tampan,sukses dan satu lagi kau akan segera memiliki Jae In,tapi kurasa hal terakhir itu tak akan kubiarkan kau mendapatkannya dengan mudah. Dia milikku,Hyung,” tegasku.

Luhan mengulas senyum tipis.

“Itulah masalahnya,dia tidak mencintaiku. Dia hanya menganggapku sebagai Oppanya,tidak lebih,”

“Dan dia tidak tahu kalau kau adalah Oh Se Joo? Apa kalian berdua saling mengenal saat di Beijing?”

“Yah,begitulah. Kami berdua saling mengenal saat Jae In pindah ke Beijing ketika masih Junior High School. Kami berdua sangat dekat hingga duduk di Senior High School,hubungan Eomma dan kedua orangtua Jae In sangat baik sehingga merencanakan perjodohan itu. Sayangnya,Jae In tidak suka itu sementara aku memiliki perasaan lebih padanya. Dia pindah ke Seoul,komunikasi kami berkurang intensitasnya tapi itu tidak mengurangi perasaanku padanya. Aku terpukul saat tahu kalau dia sudah memiliki seorang kekasih,tak kusangka ternyata kekasihnya adalah kau,Sehun-ah,” ceritanya.

Suasana hening sejenak,hingga akhirnya aku memutuskan untuk kembali bicara.

“Apa kabar dengan Eomma,Hyung? Aku…,”

“Ternyata kalian berdua ada disini,” kehadiran Jae In membuat obrolan kami berdua terputus.

“Kuliahmu sudah selesai,Jae In-a? Ayo kita pulang,” Luhan beranjak dari duduknya,bersikap seolah tidak ada apa-apa.

“Apa kalian berdua sedang mengobrol? Sepertinya kehadiranku menganggu,”

“Tidak,kita baru bicara sebentar. Benar kan,Sehun-ssi?”

Aish,pandai sekali ia berakting. Aku mengangguk pelan.

“Sehun-ah,untuk hari ini…,”

“Sudahlah,tidak apa. Lagipula aku masih ada kuliah sampai sore,jadi aku tidak bisa mengantarmu pulang,”

“Kami berdua duluan,Sehun-ssi,”

Aku menatap kepergian Jae In & Luhan dengan perasaan campur aduk.

LUHAN

“Sebenarnya tadi kalian bicara apa? Sepertinya serius sekali,” ucap Jae In.

“Ah,tidak ada. Hanya pembicaraan dua orang yang saling mengenal,itu saja,”

“Oppa..,”

“Hhhm?”

“Kenapa kau mau bicara dengannya?”

“Memangnya kenapa? Apa itu salah? Apa karena aku memiliki perasaan padamu jadi aku tidak boleh bicara dengannya? tenanglah,Jae In-a,aku hanya ingin menilainya dan memastikan kalau dia…,”

“Aku sudah menilai dan memastikan sejak lama kalau dia memang yang terbaik untukku,Oppa,” tegasnya.

Aku menelan ludah. Sebenarnya aku tidak perlu menilai dan memastikannya karena dia adik kembarku,Jae In-a. Tapi kenapa sesulit ini melepaskanmu untuk Sehun???

“Oppa,pulanglah…,” pinta Jae In.

“Aku akan tetap disini,”

“Untuk apa? Masih banyak yang bisa kau kerjakan di Beijing dan temukanlah…,”

“Gadis yang kucintai? Tidak semudah itu,”

“Aku tahu niatmu sama sekali tidak tulus,Oppa. Kau masih tetap bersikeras ingin memilikiku bukan?”

Aku menatap lurus jalanan dengan tatapan menerawang.

“Maafkan aku,” lirihku.

“Kau memang jahat,Oppa,”

__________________________________________________________________________________________

Akankah akhirnya Jae In tahu kalau Luhan itu adalah Se Joo–saudara kembar Sehun? Mungkinkah perjodohan Luhan-Jae In akan terus berlanjut? atau mungkinkah Sehun & Jae In yang akhirnya akan bertahan? Relakah Se Joo merelakan Jae In demi Sehun? Haha,kan biasanya saya nih yang nulis ceritanya sampai akhir sekarang giliran kalian deh para readers,sekarang di komentarnya kalian menulis ending ceritanya sesuai versi kalian (diusahakan sedetail mungkin ya) ,ending terbaik bakal saya tulis nanti di episode yang bener-bener terakhir *apadeh* partisipasi kalian sangat ditunggu,gomawo 🙂

33 responses to “Memories : Two of Two (END) :

  1. Kemungkinan besar sih,, jae in dan sehun bakalan tetap jadian,,
    Luhan dan jaein tidak jadi dijodohkan…
    Udah ketebak 😔

    • jae in ama sehun dong.. kan luhan hyungnya jadi harus ngalah ama sehun dong.. lagian jae in juga nganggep luhan sebagai oppanya doang gak kurang gak lebih

  2. Akhirnya pasti sama sehun ya? udh ketebak
    Coba jaein nya dibikin nyesel pernah milih sehun’-‘ haha

  3. Kenapa….ga sampe ending aja……..
    Ahhh penasaran banget:( ngegantung bgt sungguh:(
    Dunia sempit bgt ya ternyata…….
    Pls dong buat kelanjutannyaa ehehe
    Nice ff yaa;)

  4. omonaaa, kak hebat bener deh bikin og penasaran
    . jae innya sama sehun atuhlaahhh: 3 ditunggu yg selanjutnya ya kak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s