After Kiss (Chapter 5 — End)

after-kissAfter Kiss

by

Zola Kharisa

Cast: Shin Jisun (OC), Cho Kyuhyun, Lee Donghae, Super Junior’s

Genre: Fantasy, Romance

Rating: PG-15

Length: Short Chaptered

Previous: [Chapter 1] [Chapter 2] 

[Chapter 3] [Chapter 4]

NOTES

Akhirnya sampai di bab terakhir! *tebar convetti* dari awal memang sudah dibilang bahwa fiksi ini hanya sebatas ‘short chaptered’, sebenarnya berupa one-shoot yang terlalu panjang. Bab ini sedikit lebih ‘banyak’ dibanding kemarin. Semoga tidak mengecewakan dan selamat membaca!

.

Ya! Berhentilah Cho Kyuhyun!” Changmin menatap kesal Kyuhyun sambil mengambil gelas soju yang hampir saja diteguk Kyuhyun entah untuk keberapa kali.

Kyuhyun memandang tajam Changmin. “Kau tidak perlu ikut campur Shim Changmin! Kembalilah ke tempatmu!” bentak Kyuhyun seraya mengambil gelas soju itu kembali dari tangan Changmin. Sementara Changmin mendengus kesal dan menggelengkan kepalanya.

“Kau harus pulang, sekarang! Aish, bagaimana bisa kau bilang seperti itu sedangkan kau yang sebenarnya mengajakku untuk bertemu di tengah-tengah pemotretanku? Lagi pula, ada apa denganmu? Kau tidak pernah meminum soju sebanyak ini sebagai pelepasan stresmu Kyuhyun-ah!”

Kyuhyun menghela napas, dan dengan setengah kesadarannya ia membenamkan kepalanya di meja bar.

“Hei, ayolah, ada apa denganmu Cho Kyuhyun?”

Kyuhyun masih membenamkan kepalanya ketika suaranya yang hampir berbisik itu terdengar.

“Aku takut Changmin, aku takut kalau gadis itu akan pergi meninggalkanku.”

***

Kyuhyun berjalan seperti orang linglung ketika memasuki pintu apartemennya. Matanya terlihat memerah, aroma alkohol menyeruak dari napasnya yang berembus.

Langkah Kyuhyun menuntunnya ke dapur. Niat awalnya hanya untuk menenggak air putih, tapi tiba-tiba dengan kesadaran yang belum terkumpul, samar-samar ia mendengar suara seseorang bersenandung.

Dan Kyuhyun tahu pasti siapa yang sedang melakukan itu.

Jisun membelakangi Kyuhyun dengan apron berwarna biru. Aroma makanan yang khas dan sudah dihapal benar Kyuhyun membuat ia berjalan mendekati gadis itu.

“Kau… memasak apa?”

Suara itu. Suara bariton itu. Jisun sudah tahu benar siapa yang kini berada di sampingnya. Ia tidak ingin menoleh, tetapi bau khas soju yang mamasuki area penciumannya membuat Jisun akhirnya menolehkan kepalanya ke samping.

“Kau mabuk?”

Tidak mengindahkan pertanyaan itu, Kyuhyun mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan.

“Aku lapar.”

“Aku memasak makanan kesukaanmu, jajjangmyeon.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Mudah saja, makanan itu tertulis dengan rapi di note yang ditempel di pintu kulkasmu.”

Kyuhyun tersenyum, betapa ia ingin memeluk kembali gadis itu—seolah-olah tidak ada yang terjadi di antara mereka berdua. Dan perasaan ganjil itu akhirnya—Kyuhyun mengertinya.

Tanpa disadari Kyuhyun, Jisun menggigit bibir bawahnya yang bergetar. Ia ingin sekali menangis saat ini, tapi ditahannya.

Ini hari ulang tahunnya, dan seharusnya ia bisa mendapatkan ciuman yang tulus itu. Umur ke-duapuluh satunya ini seharusnya ia bisa bereinkarnasi. Tapi sebuah perasaan takut menyelundup ke hatinya yang resah. Ia takut, ia tidak bisa mengatakannya pada Kyuhyun.

Jadi malam ini, biarkan ia membuat Kyuhyun nyaman dan memiliki kenangan yang berarti tentangnya.

***

Ketakutan Jisun perlahan semakin merasukinya ketika tubuhnya dirasa semakin ringan. Gadis itu sudah tidak tahan, ia menangis. Suara sesenggukkannya membuat Kyuhyun yang sedang berada di ruang tamu dengan langkah cepat mendatangi asal suara itu.

“Jisun!”

Suara pekikkan itu menggema di seluruh penjuru kamar. Kyuhyun bisa melihat Jisun tengah berdiri di balkon seraya kedua tangannya tertangkup di wajahnya. Gadis itu menangis, dan Kyuhyun sangat tahu itu.

Dengan langkah cepat, ia menghampiri Jisun.

“Kau kenapa?” Kyuhyun menarik tangan Jisun yang menutupi wajahnya. Jantung Kyuhyun berdetak dengan cepat ketika melihat mata gadis itu memerah, sembab.

“Kau—“

“Bisa kau menciumku, Kyuhyun?”

Kyuhyun terperangah. “Apa?”

“Bisakah kau menciumku dengan tulus?”

Kyuhyun mundur selangkah, jantungnya bahkan berdetak dengan lebih cepat. Sangat cepat.

Permintaan itu seperti pernah dirasakannya.

“Apa Donghae Hyung tidak—“

“Aku menolaknya,” Jisun tersenyum samar. “Oppa pantas mendapatkan gadis yang lebih baik daripada aku. Awalnya aku memang merasa tertarik padanya, namun perlahan kusadari kalau itu hanya sebatas kagum, tidak lebih. Aku menganggapnya sebagai kakak bagiku sendiri. Hanya itu.”

Kyuhyun yang mendengar itu merasa sesuatu membuncah di dalam dirinya. Dia tidak tahu apa yang terjadi antara Jisun dan Donghae tapi mengetahui fakta bahwa gadis itu menolak hyung-nya membuat dia terperangah—senang. Tiba-tiba saja mulutnya berbicara tanpa dikontrol, “Apa kau menyukaiku?”

Jisun tersenyum tipis, lalu menarik bahu Kyuhyun, mempersempit jarak di antara mereka.

“Haruskah aku mengatakannya?”

Kyuhyun tersenyum, lalu dengan perlahan mendekatkan wajahnya pada Jisun.

Dan ketika bibir mereka bertemu, Kyuhyun menciumnya dengan lembut tanpa kesan menuntut atau pun semacamnya. Yang ada di benaknya sekarang adalah ungkapan perasaannya yang sesungguhnya pada Jisun, berharap dengan itu Jisun dapat menyadari bagaimana perasaannya.

Semua berlalu dengan cepat, cahaya putih yang begitu menyilaukan menerpa mata Kyuhyun ketika ia baru saja melepaskan ciumannya dengan Jisun.

Dan sejenak ia merasa seperti berada dalam mimpi, ia berharap apa yang ada di depan matanya adalah mimpi. Ia ingin semuanya adalah mimpi.

Ketika tubuh gadis itu perlahan menghilang dari hadapannya, dengan senyum manis yang merekah di kedua sudut bibirnya, dengan satu kalimat dalam bahasa Prancis yang sama sekali tidak dimengertinya.

“Je t’aime, que nous nous reverrons.”

***

Konser SM Town Live World Tour III di Indonesia sukses besar. Menggaet puluhan ribu penggemar di Stadion Gelora Bung Karno menjadikan konser tersebut sebagai konser terbesar yang diselenggarakan di Indonesia.

Malam itu, sebelum kepulangan mereka ke Seoul, para artis SM Town berniat untuk menghabiskan malam mereka dengan perayaan kecil di restoran hotel bintang lima yang menjadi tempat reservasi menginap. Sebagian anggota f(x) dan Girls Generation sudah melakukan battle dance di lantai restoran yang lengang. Sementara sebagian yang lainnya ikut menonton dan bersorak-sorak.

Anggota Super Junior tampak berpesta wine—kecuali dengan seorang namja yang kini tengah memegang PSP hitam miliknya. Ia nampak acuh tak acuh dengan sekitarnya—dan perubahan sikapnya menjadi lebih buruk daripada yang dulu.

Bila Kyuhyun dulu diberi julukan ‘evil magnae’, rasanya julukan itu sudah tidak lagi cocok disandang olehnya sekarang. Ia lebih pantas disebut ‘ice Kyu’ atau ‘ice magnae’ melihat betapa tak acuhnya, dan dinginnya namja itu saat ini.

Semuanya terjadi selama dua minggu belakangan. Kyuhyun menjadi lebih pendiam, dan ia hanya berbicara seperlunya. Ia tidak pernah lagi mengerjai atau menjahili para hyung-nya, dan sekalipun ia tersenyum, ia lakukan hanya di depan kamera dan di depan para penggemarnya. Tidak lebih.

Seseorang datang dengan sekaleng soft drink dan Kyuhyun seketika mem-pause permainannya sejenak.

“Ada apa Hyung?”

“Mengapa magnae kita menjadi seperti ini?”

“Menjadi seperti apa?” Kyuhyun melirik sekilas Donghae, sesaat tatapannya menerawang.

“Kau terlihat begitu berbeda Kyuhyun, ada apa sebenarnya denganmu? Apa semua ini ada masalahnya dengan… perginya Jisun?” Donghae terlihat hati-hati ketika mengatakannya.

Kyuhyun menghela napas. Sadar cepat atau lambat ia pasti akan membahas hal ini dengan hyung-nya itu.

“Aku tahu kau mencintainya, Kyuhyun. Tapi bukan berarti—“

“Kau juga mencintainya, Hyung.”

“Aku menyukainya.”

Kyuhyun menghela napas berat. “Gadis itu menghilang, ia benar-benar meninggalkanku.”

Donghae mengangkat alis. “Sebenarnya, ke mana Jisun pergi?”

Kyuhyun tersenyum miris. “Di tempat yang sama sekali tidak kuketahui.”

“Mengapa kau tidak mencarinya?”

Kyuhyun menggeleng. “Ia pernah mengatakan satu hal padaku kalau kami pasti bertemu lagi, Hyung.” Tatapan Kyuhyun menerawang, kembali teringat akan peristiwa dua minggu yang lalu. Dan ingatannya kembali bertumpu pada sesosok gadis yang amat familiar untuknya seperti duduk di bangku penonton saat konser tadi. Namun ia buru-buru membuang jauh-jauh pikirannya. Lagi pula, mana mungkin gadis itu berada di Indonesia?

Donghae tersenyum, batinnya mengatakan kalau memang yang dipilih Jisun adalah Kyuhyun, sedari awal. Namun ia malah memaksakan egonya—yang seharusnya bercermin berapa umurnya sekarang. Harusnya, ia sudah cukup dewasa untuk mengerti dengan situasi seperti itu.

“Kalau begitu, tunggulah sebentar lagi Kyu. Mungkin kau bisa bertemu dengan Jisun nanti. Dan aku mohon, tetaplah profesional pada pekerjaanmu. Kudengar para Sparkyu Indonesia membicarakanmu yang terlihat kurang bersemangat saat konser.”

Kyuhyun terdiam sejenak dan mengangguk, “Akan aku usahakan, Hyung.”

***

Kyuhyun berjalan masuk ke dalam apartemennya yang sepi. Tidak ada suara yang menyambutnya lagi satu bulan terakhir ini. Dan itu membuat seluruh perasaannya seperti tersedot habis tak bersisa. Perasaannya hampa, dan itu membuatnya seakan sulit bernapas.

 Kyuhyun berjalan memasuki ruang tidurnya. Benda-benda itu masih berada di sana, di posisi yang sama dengan terakhir kali ia menginjakkan kakinya, satu bulan yang lalu.

Langkahnya hampir diseret, menggiringnya ke lemari pakaian yang berada di sudut ruangan. Membukanya, dan perasaannya semakin terasa tidak nyaman saat melihat beberapa dress dan pakaian-pakaian wanita lainnya tergantung di sana. Rapi, dengan aroma yang sangat ia rindukan—padahal gadis itu, menggunakan sabun dan sampo yang sama dengan Kyuhyun. Namun entah mengapa, tetap saja terasa berbeda.

Kyuhyun mengambil salah satu dress berwarna biru langit. Dress yang sampai saat ini terus menyimpan kenangan di dalam batin Kyuhyun. Dan entah apa yang membuat air matanya seperti ingin menyeruak untuk keluar. Oh, konyol. Seorang Cho Kyuhyun ingin menangis?

Kyuhyun membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, kedua lengannya mendekap dress milik Jisun. Ia yakin orang-orang yang melihatnya sekarang pasti akan berpikir Kyuhyun sudah tidak waras. Tapi ia tidak peduli. Ia sangat merindukan gadis itu, hingga ia berharap dress yang dipeluknya sekarang adalah tubuh Jisun.

Kyuhyun memejamkan matanya. Hari ini entah mengapa ia sangat ingin menginap di apartemennya. Meski sekarang ia tidak tahu alasan apa yang dipakainya untuk tidak tidur di dorm—mengingat apartemennya terlalu banyak menyimpan kenangan—namun Kyuhyun merasa ia akan tidur lebih nyenyak di sana. Entah apa yang membuatnya berpikir begitu.

Dan tak lama kemudian, ia terlelap dengan mimpi yang sudah menunggunya.

***

“Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.”

“Apa kau benar-benar mengatakannya, Nona Peri?”

“Aish, mengapa kau masih terus memanggilku dengan kata ‘Peri’?!”

“Mengapa? Rasanya itu lebih cocok melihat wajahmu yang rupawan,”

“Kau belajar darimana kata-kata seperti itu, hah?”

“Aku belajar darimu. Aish, kalau kau tidak mau aku mengatakan itu ya sudahlah.” Namja itu menjauhkan tubuhnya, membuat gadis dengan sebutan Nona Peri itu seperti kehilangan oksigennya ketika perlahan aroma Kyuhyun  menghilang dari indra penciumannya.

“Apa ini caramu melepas rindu, Cho Kyuhyun?”

Namja itu berbalik, lalu dengan cepat menarik tangan gadis itu. “Kau mau tahu bagaimana caranya aku melepas rindu?” Kyuhyun mengambil kunci mobil.

“Kita mau ke mana?”

“Aku sudah tidak tahan. Kita ke rumah orang tuaku, aku ingin mengatakan pada semua keluargaku kalau aku akan melamarmu, Nona Peri.”

***

Kyuhyun menggeliat pelan ketika seseorang dengan suara yang cukup keras berusaha menggoncang-goncangkan tubuhnya. Lantas mata namja itu terbuka perlahan dan bersiap mengeluarkan makian pada orang yang telah membangunkan tidurnya itu sebelum ia tersentak dengan siapa orang di hadapannya sekarang.

Shin Jisun?

“Mengapa kau bangun lama sekali?”

Kyuhyun mangerjapkan matanya sekali.

“Kau tahu betapa sulitnya membangunkanmu, hah?”

Kyuhyun bangkit dari posisi tidurnya. Tangannya mengusap-usap matanya yang tidak gatal.

Aigoo, halusinanasi macam apalagi ini?

“Kau berpikir sedang berhalusinasi? Oh ayolah, Kyuhyun.”

Kyuhyun tersentak, matanya terbuka lebar. Tangannya terangkat dan mendadak satu tamparan mendarat mulus di pipi putihnya.

Aish, mimpi ini mengapa terasa nyata sekali?!

Ya! Apa kau masih berpikir ini mimpi, Cho Kyuhyun?!”

Kyuhyun terperangah lalu dengan ragu menyentuh puncak kepala orang itu.

Lalu jemarinya turun menyusuri lekukan wajah orang itu.

Telujuknya bermain-main dengan leher gadis itu.

Terdengar;

Suara ringisan saat titik sensitifnya disentuh, terdengar.

Ya! Mengapa kau jadi menyentuh-nyentuhku seperti ini, hah?!”

Suaranya itu, siapa lagi kalau bukan…

Shin Jisun?

“Kau benar-benar Shin Jisun?” Suara Kyuhyun terdengar pelan dan… bergetar.

Orang itu duduk di tepi tempat tidur, memperhatikan lekuk wajah Kyuhyun. Samar-samar ia dapat melihat Kyuhyun nampak tak percaya menatapnya. Tunggu, samar-samar? Tidak, pandangan orang itu mengabur. Dan entah bagaimana caranya, kini tubuhnya sudah terlentang di atas tempat tidur. Kyuhyun memerangkapnya di bawah tubuhnya.

“Kau menghilang, dan sekarang kau kembali. Mengapa kau seenaknya sendiri?”

Jisun hampir saja limbung ketika aroma Kyuhyun merasuki indra penciumannya.

“Bagaimana bisa sekarang kau di sini? Bagaimana bi—“

“Berhentilah, Kyu. Aku akan menjelaskannya, sekarang.” Jisun mengambil napas, “Maaf karena aku menghilang secara tiba-tiba waktu itu. Tapi, kau tahu, saat itu adalah hari ulang tahunku, 9 September tepatnya. Dan itu adalah waktunya aku bereinkarnasi, Kyuhyun-ah. Butuh waktu sekitar sepuluh hari untuk bisa menormalkan semuanya.”

“Aku juga harus meminta maaf lagi padamu. Entah kau akan percaya atau tidak, namun kurasa kau harus memercayainya. Aku selalu merahasiakan ini darimu tapi… kau tahu, setiap kali aku bereinkarnasi, tubuhku akan berpindah dari satu tempat, ke tempat lain. Makanya saat malam itu, aku menghilang dari pandanganmu. Tempat di mana tubuhku berpindah juga tidak terduga. Dan ketika tubuhku berpindah, saat itu aku berada di… Indonesia.”

Kyuhyun mengerjap. “Tidak masuk akal, tapi aku akan coba mengerti.”

Jisun tersenyum. “Dan ciumanmu saat itu memang tulus, Kyuhyun. Aku menjadi manusia seutuhnya sekarang.”

Mata Kyuhyun membulat, meski batinnya kini berseru-seru. “Bagaimana cara agar kau mengetahuinya?”

“Mudah saja, aku hanya tinggal meminta seseorang untuk menciumku. Ternyata di Indonesia aku bertemu sosok yang juga memiliki daya tarik menarik seperti kau—“

“Seseorang menciummu?” Pandangan Kyuhyun menggelap. “Kau yang memintanya?”

Jisun tersenyum, merasa ingin menggoda Kyuhyun lebih lanjut. “Dia sangat lucu Kyuhyun. Aku benar-benar ingin diciumnya berkali-kali.”

Mata Kyuhyun membelalak. “Oh, sialan. Ini benar-benar!” Kyuhyun mengacak rambutnya, frustrasi.

“Aku belum bilang kalau yang menciumku itu seekor kucing, ya?”

Seketika, pandangan Kyuhyun berubah horor. Jisun hanya tersenyum tanpa dosa. “Mengapa? Ingin aku pergi lagi, Kyu?”

“Jangan pernah melakukannya sekali-kali, Shin Jisun.”

“Apa kau mencintaiku?” suara spontan Jisun terdengar.

Kyuhyun tersenyum, lalu wajahnya bergerak maju. “Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, Jisun.”

“Benarkah?”

“Kau tidak lihat betapa tersiksanya aku, selama kau tidak ada?”

Jisun tertawa. “Kau terlihat begitu tersiksa,”

“Namun kau sepertinya tidak.”

Jisun menghentikan tawanya. “Perlukah aku mengulangnya? Bukankah mimpi-mimpi yang menghantuimu selama ini sudah menjelaskan semuanya, Cho Kyuhyun?”

Kyuhyun tersentak. “Apa maksudnya?”

“Ini ulah Felix, lagi. Ia bilang, orang yang akan menciumku dengan tulus dan membebaskanku dari kutukan itu adalah orang yang akan mendapat mimpi yang dikirim oleh Felix dari surga. Ia bilang, mimpi itu akan sedikit berbanding terbalik dengan kenyataannya.”

“Pantas,” Kyuhyun menyahut cepat. “Mimpi yang mengusikku dulu adalah seorang gadis yang menangis, tersesat, dan tiba-tiba memintaku untuk menjadi kekasihnya. Mimpi yang berulang-ulang dan begitu aneh. Benar, bukan?”

Jisun mengangguk. “Tapi selanjutnya kau mendapat mimpi yang berbeda bukan? Seorang… Peri?”

“Bagaimana kau tahu?”

Jisun nyengir. “Maaf, aku membaca sedikit pikiranmu saat kau tidur tadi.”

“Kau masih bisa membaca pikiran?” Kyuhyun menatapnya waspada.

“Hmm, iya sepertinya. Itu juga baru kusadari saat mencoba membaca pikiranmu.”

“Oh, ya bagaimana bisa kau masuk ke dalam sini?”

“Pintu apartemenmu terbuka, Kyu. Bagaimana kalau pencuri masuk?”

Kyuhyun menghela napas, lalu tiba-tiba kepalanya teringat sesuatu. “Berarti kalau aku menciummu, kau tidak akan berubah menjadi kupu-kupu lagi, ‘kan?”

Jisun mengangguk pelan. “Aku sudah menjadi manusia seutuhnya.”

“Kalau begitu…” Kyuhyun mendekatkan wajahnya pada wajah Jisun. Ia memiringkan kepalanya dan satu kecupan mendarat di bibir Jisun.

“Kau—“ Kyuhyun mengecup lagi bibir Jisun, seolah merasakan perlahan manis dari bibirnya.

“Kyu…” Kyuhyun menempelkan lagi bibirnya pada bibir Jisun. Kali ini ia memejamkan mata, dan bibirnya mulai bergerak perlahan, seirama dengan bibir Jisun yang juga membalas ciumannya.

“Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.” Kyuhyun menempelkan dagunya pada bahu Jisun. Menghirup aroma gadis itu dalam-dalam. Paru-parunya seperti penuh dalam satu tarikan napas.

“Kau sudah tahu apa jawabanku, Kyuhyun.”

Kyuhyun tersenyum, lalu mengeratkan pelukannya pada tubuh Jisun. “Aku tahu, mungkin ini terlambat tapi… selamat ulang tahun, Jisun.”

Jisun melepas perlahan pelukan Kyuhyun, namja itu masih memerangkap Jisun di bawah tubuhnya, dengan kedua tangannya yang menjadi penyangga agar Jisun tidak tertindih tubuhnya.

“Sebagai kado, bagaimana kalau kau ikut aku ke rumah orang tuaku?”

Jisun terperangah, menatap Kyuhyun ragu. “Apa yang mau kau lakukan?”

Kyuhyun tersenyum, seolah menenangkan Jisun. “Aku ingin menjadi pengganti sayapmu ketika kau tidak bisa lagi terbang. Maka, aku harus melindungimu terus, Jisun. Jadi, maukah kau…”

***

“Aku minta maaf, Oppa.”

Donghae tersenyum. “Bukan salahmu. Lagi pula, aku tidak bisa memaksamu, ‘kan?”

Meski ragu, tapi akhirnya Jisun mengangguk. “Terima kasih, Oppa.”

Donghae mengambil gelas Macchiato-nya lalu menyeruputnya perlahan. “Kyuhyun begitu mencintaimu, Jisun-ah. Ia tidak pernah terlihat sebahagia itu sebelumnya. Kau tahu, selama kau menghilang, namja itu menjadi sangat pendiam dan dingin. Bahkan Seohyun yang sudah ia anggap adiknya sendiri itu saja tak diacuhkannya. Seohyun selalu bercerita padaku bahwa Kyuhyun sedang menyukai seseorang, tapi ragu untuk mengatakannya. Makanya waktu itu Seohyun pernah mendatangi apartemen Kyuhyun untuk saling bertukar pikiran. Dan akhirnya… kau lihat, Kyuhyun berterus terang mengatakan cinta padamu, ‘kan? Bahkan sekarang,” Donghae melirik cincin di jari manis Jisun. “Dia sudah berani mendahuluiku.”

Jisun tersenyum kaku, rona merah membakar pipi putihnya. Ia merasa bodoh pernah berpikir yang tidak-tidak antara hubungan Kyuhyun dan Seohyun. Lalu, soal pertunangan itu, ia tidak menyangka respon keluarganya benar-benar baik. Bahkan kakak perempuan Kyuhyun, Cho Ahra, sempat memikirkan hal yang tidak-tidak semenjak Kyuhyun bermain di Saturday Night Live—dan akhirnya pikirannya itu menguap begitu Kyuhyun membawa seorang gadis berkebangsaan Prancis, yang dapat menggunakan bahasa Korea dengan lancar dan fasih.

“Oh ya,” Donghae menyentakkan lamunan Jisun. “Kau darah keturunan Prancis tapi mengapa wajahmu sedikit mencondong ke Asia?”

Ah, Jisun lupa mengatakan alasannya pada Kyuhyun.

“Ayahku keturunan Korea. Mungkin aku juga mewarisi darahnya itu,”

“Lalu bahasamu, bagaimana? Kau terlihat seperti orang Korea asli.”

“Aku mempelajarinya selama satu bulan penuh, Oppa.”

Donghae menatap takjub Jisun. “Satu bulan dan kau sudah fasih seperti ini?”

Jisun mengangguk pelan, ingatannya kembali pada silsilah asal keluarganya. Seorang keturunan bangsawan, dengan orang tua sebagai dua tokoh yang berpengaruh dalam seluruh aspek Prancis. Jadi, tidak mungkin jika ia tidak mewarisi kecerdasan orang tuanya, bukan?

“Ya, mungkin—“

Seseorang tiba-tiba berdeham, membuat namja dan yeoja itu menoleh. “Apa kalian sudah selesai berbicara?”

Donghae terdiam sejenak lalu menatap Kyuhyun geli. “Baiklah, sepertinya aku harus pergi sekarang. Oh, ya Jisun-ah, jika kau sudah bosan dengan Kyuhyun, mungkin kau bisa berpaling padaku?” Donghae mengerling sengaja menggoda Kyuhyun yang kini terlihat mengepulkan asap dari telinganya.

Jisun hanya menanggapinya dengan tawa, meskipun di dalam hatinya ia merasa tidak akan pernah bosan bersama dengan Kyuhyun. Sedetik pun.

“Kau terlihat bahagia,” ucap Kyuhyun terdengar menuduh.

“Aku memang bahagia.”

Kyuhyun mendengus, pikirannya kembali mengingat potongan-potongan wajah Donghae dan Jisun saat berbicara tadi.

Jisun yang menyadari perubahan raut Kyuhyun, lalu dengan iseng mencoba membaca pikiran namja itu. Dan tawanya yang sudah tidak bisa lagi ditahannya akhirnya terlepas. Ia tidak bisa menyembunyikan lagi tawa cerahnya itu.

Kyuhyun yang melihat itu hanya menatap Jisun bingung. Tapi beberapa detik setelah itu, perasaan senang menyelimutinya saat mengetahui Jisun bisa tertawa selepas itu saat bersamanya.

“Kau cemburu Cho Kyuhyun, mian aku membaca pikiranmu.”

Kyuhyun yang tadi berniat menarik dua sudut bibirnya ke atas menjadi urung melakukannya saat mendengar Jisun kini sudah terus-menerus menggodanya.

“Aish, lebih baik kau—“ Pandangan Kyuhyun berhenti pada sosok Donghae yang kini sedang mengobrol dengan Seohyun.

“Bisakah kau membaca pikiran kedua manusia itu?” tanya Kyuhyun seraya menunjuk Donghae dan Seohyun.

Awalnya Jisun ingin menolaknya, tapi melihat tatapan memelas Kyuhyun, akhirnya ia mencoba untuk membaca pikiran keduanya dan…

“Bagaimana?”

Senyuman yang lebih mirip sebuah seringai itu terukir di bibir Jisun. “Keduanya saling tertarik…”

Kyuhyun yang mendengar itu tertawa renyah. Ia sudah menduga hal itu. Dan entah bagaimana caranya kedua sejoli itu sudah membentuk sebuah senyum yang sama. Yang membuat Leeteuk yang kebetulan berjalan melewati keduanya langsung bergidik begitu merasa aura mirip dengan milik Kyuhyun yang sempat hilang beberapa waktu ini kembali. Dan saat kepala Leeteuk menoleh, ia sudah melihat Jisun dan Kyuhyun menunjukkan seringainya, menatap satu titik yang lain.

Leeteuk mengikuti arah pandangannya, dan berhenti pada sosok Donghae dan Seohyun.

Lalu namja itu menghela napas berat. “Semoga mereka tidak menjadi korban pertama dari pasangan evil yang baru saja kembali itu,” gumamnya pelan, sangat pelan.

.

.

.

You are the first person who has been able to make my heart beat slower and faster at the same time. And also you make me believe if love is makes anything possible.”

Yay, selesai!

Bagaimana? Bagaimana?

Saya sudah punya satu sekuelnya dan kalau responnya banyak, akan saya post secepatnya.

Terimakasih untuk semua pembaca yang sudah menyempatkan waktu luangnya membaca cerita kurang jelas ini. Kurang lebihnya saya minta maaf, sebab fiksi ini hanya sedikit mengalami pengeditan dan tanpa cek ulang sejak tahun 2012 lalu. Seperti yang sudah saya bilang, fiksi ini memang cerita lama, sehingga diksi yang digunakan masih belum seberapa. Komentar, saran, kritikan amat saya tunggu di boks komentar.

Baiklah, sekian dari saya. Untuk cerita lainnya bisa kunjungi blog saya: (click this) atau yang berkenan kita bisa saling sharing (tanya-tanya) di ask.fm: (click this) HAHAHA ceritanya promosi XD

Oke (ini benar-benar terakhir) terimakasih untuk semuanya terutama sudah mau membaca catatan tidak jelas ini.

Love!

29 responses to “After Kiss (Chapter 5 — End)

  1. Yaa endingnya happy 😀 tapi aku penasaran jisun ngomong apa sih yang pake bahasa prancis itu? :/ ih tapi… kenapa akhirnya donghae sama seohyun.. harusnya donghae sama jessica terus seohyun sama yonghwa aaaa /shipper kumat/ pokoknya aku suka ff fantasy.. semakin ga realistis semakin keren keke. Keep writing, authornim. Fighting!

  2. Author-niiim~ entah kenapa dalam pikiranku ialah “kenapa dia terpikirkan buat cerita reinkarnasi yang begitu manis dan klasik?” Sepele kok tapi kamu mengemasnya dengan kesan sejarah masa lalu , walaupun yah, aku gatau itu beneran apa engga, tp aku sangat sangat senang kyaaaaa ada lagi tokoh2 suju dijadiin ff, setelah sekian tahun yg menjadi tokoh ff adalah hoobae mereka wkwk
    Sekali lagi tokoh suju dijadiin ff ga memuakkan wahhahaha

    Smooch author
    :*
    #keepwritinghwaiting

  3. happy ending as our wish..^^
    bagus thoor..neomu joahae..
    semangat terus buat next project ya thor..

  4. wah sweet story ^^
    bener” sweet, konfliknya gak terlalu berat (ringan) tapi enak buat dibaca dan menarik
    alurnya juga pas gak kecepetan gak lambat juga
    intinya i like this story ^^

  5. GILAAAAAAAAAAA baca dari part 1 sampe selesai, keren bangett. Kyuhyun nya anjir laaahh hahaha, bikiñ lg thor yg lebih2!! Tapi castnya sehun:( klo ga sehun donghae:( klo ga chen atau eunhyuk /g 💃💃💃💃💃💃

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s