Sweet Cupcake

Hai, ini bukan FF saya melainkan FF titipan. Setelah membacanya, dimohon memberikan apresiasi dalam bentuk komentar ya. Terima kasih.

“ Sweet Cupcake ? ”

sweet cupcake

Author: Pinkeucho

Cast: Kim Nayeon (OC) | Park Chanyeol

200+ words full of eung-absurd-story.

 

Hal paling menyebalkan di dunia ini adalah

Ketika kau harus mengantar seranjang cupcake dengan seorang Park Chanyeol.

Kring~~

Bunyi bel sepeda barusan benar-benar terkutuk.

Begitu bencinya, Nayeon sampai mengutuk bel sepeda tak bersalah itu. Demi Tuhan, apa yang harus Nayeon lakukan agar dia terbebas dari perintah ibunya yang satu ini. Nayeon menarik kedua ujung rambut panjangnya ke bawah dan bertingkah tak wajar. Ah, sekarang dia benar-benar terlihat seperti gadis gila yang baru saja patah hati.

 “Ibu, aku rasa aku sakit perut”, keluh Nayeon sambil memegangi perutnya dan berpura-pura kesakitan. Sebetulnya, ia ragu cara ini akan berhasil. Tapi, apa daya. Di kala mencari akal sudah menemui jalan buntu, hayati harus apa (?)

“Jangan banyak alasan. Cepat pergi atau uang jajanmu akan ibu po-tong!”, Tuh, kan benar.

Penekanan pada kata potong itu seirama dengan hentakan pisau yang sedang ibu gunakan untuk memotong wortel. Nayeon bergidik kala hentakan itu cukup menusuk pendengarannya.

Kenapa ibu jadi seseram ini.

Dan lagi—Nayeon paling sebal jika ibu sudah mengancam dengan kelemahan terbesarnya –uang jajan- ya.. kalau begini Nayeon yang terkenal pantang menyerah bisa apa.

Dengan berat hati Nayeon mengayunkan langkahnya menuju gerbang rumah. Bahkan berjalan dari dapur hingga gerbang pun sama beratnya dengan berjalan dari Korea ke Jepang. Eh—tunggu. Lagipula siapa juga yang mau pergi dari Korea menuju Jepang dengan jalan kaki. Memangnya ini jaman Nabi Adam.

Nayeon membuka kenop pintu dengan kasar dan detik berikutnya, sepasang matanya menangkap sesosok lelaki yang tengah duduk di atas sepeda berwarna cokelat. Lelaki itu pun menoleh dan balik menatap Nayeon dengan tatapan dinginnya.

Sungguh. Apa tidak ada tatapan lain yang lebih hangat, huh ? Ah, dan satu lagi. Tampang itu benar-benar tidak cocok dengan dirinya. Dia lebih cocok dengan tampang narsis dan konyolnya yang melebihi pelawak terlucu se-Korea Selatan. Nayeon membatin dengan wajah sinis, Tapi begitu membayangkan wajah derp lelaki tadi, dia terkikik geli. Oke, bagi yang hanya melihat tampangnya saat ini mungkin akan merasa bahwa kewarasan Nayeon perlu diragukan.—dan beruntung tidak ada yang memperhatikannya sekarang.

“Cepatlah kemari. Aku tidak punya banyak waktu”, Nayeon bertambah kesal saat Chanyeol mulai menggerutu. Bahkan lelaki ini lebih galak dibanding gadis yang sedang mengalami ‘masa-nya’. Gadis itu pun menghampiri Chanyeol dan duduk di belakangnya. Chanyeol tidak langsung mengayuh sepedanya. Ia malah menatap gadis –yang sedari tadi berwajah murung- itu dengan sedikit malas.

“Berpegangan, jelek”

“Tidak usah pakai jelek. Dasar tiang listrik komplek”

Yeah, perdebatan konyol itu pun kembali mulai. Untungnya tidak terus berlanjut sampai jangka waktu yang tak bisa ditentukan. Dengan sangat terpaksa, Nayeon melingkarkan tangannya di pinggang Chanyeol. Jika Nayeon sedang kerasukan, mungkin kedua tangannya tidak akan melingkar di pinggang Chanyeol. Melainkan di leher lelaki tinggi itu, lalu mencekiknya dengan semangat membara.

Ya..  sepertinya tidak ada salahnya juga Nayeon berpegangan pada Chanyeol. Karena sekarang, lelaki itu mengayuh sepedanya seperti orang kesetanan !

“Yah! aku tahu kau sedang buru-buru tapi bisa kau pelankan sedikit ? Sungguh, angin musim ini sudah sangat kencang dan kau memperburuknya— Yah! awas di depan kita ada mobil. Dasar bodoh. Pelan-pelan!”

Demi Tuhan. Jika sekarang kau fokus pada Nayeon, wajah gadis ini sekarang benar-benar pucat. Selama di perjalanan yang ia lakukan hanyalah berdoa semoga dirinya tidak mati konyol hanya karena dibonceng Chanyeol.

Tanpa sadar, Nayeon mempererat pelukannya dan menyandarkan kepalanya di punggung Chanyeol dengan mata terpejam. Sungguh, gadis itu tidak ingin melihat apapun sekarang.

Di saat seperti ini sebetulnya Nayeon tidak ingin menyalahkan Ibu. Oh, ayolah bisnis cupcake macam apa ini. Ibu bisa saja menyewa seorang kurir untuk selalu mengantarkan pesanan pada pelanggan. Bukan menyuruh putri semata wayangnya yang mengantar. Ah, ralat. Sebenarnya itu semua tidak masalah asalkan tidak bersama dengan manusia yang ada di depannya ini. Lagipula, Nayeon bisa mengendarai sepeda kok. Sudah pasti, dia bisa mengantarnya sendiri. Tapi kata ibu,

“Ibu takut banyak yang mengganggumu di jalan. Maka dari itu, ibu menyuruh Chanyeol menemanimu”

Seandainya ibu tahu hubungan kami bagaimana. Dan sekali lagi, seandainya ibu tahu kalau sekarang Chanyeol-lah yang mengancam keselamatan putrinya.

“Hei, mau sampai kapan kau memelukku ? Kita sudah sampai”, Astaga. Nayeon bahkan tidak sadar kalau sudah sampai. Ini bukan efek terlalu nyaman memeluk sang mantan kok. Sungguh. Bukan.

“Jika kau rindu padaku, pelukannya bisa nanti saja. Atau jangan-jangan kau ingin lebih ?”, lanjut lelaki itu dengan menampakkan smirk-nya.

Sialan kau, Chanyeol. Benar-benar sialan. Seandainya kau tahu sudah berapa kali aku mengumpat hari ini karenamu. Batin gadis itu geram.

“Lupakan. Aku sama sekali tidak tertarik”, balas Nayeon ketus. Nayeon pun berlalu tanpa memedulikan lelaki itu. Biar saja. Mau dia meninggalkan Nayeon di sini juga tidak masalah. Ia bisa pulang sendiri. Lagipula dirinya masih malas melihat Chanyeol sampai detik ini.

Nayeon menekan bel begitu sampai tepat di depan gerbang sebuah rumah. Tak lama, seorang wanita paruh baya muncul dengan tongkat penopang menyertainya.

“Permisi. Apa benar ini rumah Nyonya Song ? aku datang untuk mengantarkan cupcake pesanan anda”, sapa Nayeon dengan lembut. Ya, tentu saja berbeda 180 dejarat jika sudah berbicara dengan Chanyeol.

“Ah, ternyata sudah jadi. Kelihantannya ini enak. Terima kasih ya, nak”, Nyonya Song lalu membarternya dengan beberapa lembar won.

“Apa kau datang bersama pacarmu ? dia tampan ya. Sepertinya dia anak yang baik”

Nayeon serasa ditimpa batu. Ia hampir tersedak begitu mendengar penuturan Nyonya Song barusan. Mungkin luarnya saja yang seperti anak baik. Orang akan tahu dalamnya setelah jauh mengenalnya. Ya, mungkin Nayeon-lah yang paling tahu.

“P-pacar?—ah bukan seperti itu. Aku bukan pacarnya”,

  1. Kenapa bicaraku jadi gugup begini.Ayolah, ambilkan apapun yang bisa menggetok kepalaku saat ini.

Kemunculan seorang gadis dari dalam rumah secara tiba-tiba menginterupsi perbincangan yang ingin sekali Nayeon akhiri. Tampaknya Nayeon harus bersyukur pada gadis belia itu. Gadis itu langsung menghampiri Nyonya Song dengan wajah super riangnya. Kuulangi. SUPER.

“Nenek sedang apa ?—Eoh, siapa kakak ini?”, Nayeon menunjuk dirinya sendiri dengan ragu.

Dia bertanya padaku atau bukan? Tapi matanya seperti tidak sedang menatapku. Pikir Nayeon masih dengan wajah bingungnya.

“Annyeonghaseyo.. Park Chanyeol imnida. Bangapseumnida”, sapa lelaki yang berada di belakang Nayeon. Oh, jadi dia bertanya pada lelaki itu. H—Hei, bahkan Nayeon tepat berada di depan gadis ini. Eum—ya tidak tepat di depannya juga sih. Tapi bahkan badan Chanyeol setengah tertutup oleh Nayeon.

“Annyeong.. aku Sohyun. Ngomong-ngomong kakak tampan sekali”, ujar gadis tadi sedikit malu-malu. Dia sedikit membenamkan wajahnya di balik punggung Nyonya Song setelah tadi berucap.

“Ah terima kasih. Kau juga gadis yang manis”, Chanyeol membalas dengan senyuman yang dapat meluluhkan hati wanita manapun.

Eh, apa-apaan ini. Gampang sekali Chanyeol mengatakan dia manis. Dasar-_- Batin Nayeon yang bisa dibilang tidak terima—atau cemburu ?

“Eh, kakak bisa saja. Tidak juga kok”, sekarang pipi gadis itu nyaris menyerupai tomat segar.

Jangan percaya. Dia hanya bercanda. Batin Nayeon sekali lagi.

“Aku tidak bercanda. Kau memang manis”, ujar Chanyeol seperti membalas apa yang ada di pikiran Nayeon. Cukup berhasil membuat Nayeon tersedak ludahnya sendiri.

Ah, oke aku mulai muak mendengarnya. Batin Nayeon untuk terakhir kalinya sebelum—

“Ngomong-ngomong kakak yang ini siapa ? kenapa wajahnya kusut sekali ?”

—Sebelum kata-kata barusan menusuk hati Nayeon. Bahkan kali ini Nayeon tidak hanya tersedak ludahnya sendiri. Nyonya Song sedikit menyikut Sohyun atas ungkapannya yang terlalu jujur. Nayeon hanya menganga tidak percaya.

Yaampun, tega sekali dia menyamakan diriku dengan baju yang belum disetrika. Wajah imut begini ia bilang kusut. Batin Nayeon dramatis terdengar penuh penderitaan. Namun diakhiri dengan percaya diri yang luar bisa. Tapi memang benar sih wajah Nayeon bisa dibilang imut.

“Maafkan cucuku. Dia memang belum dewasa. Jangan diambil hati perkataannya”

“Ahaha… tidak masalah Nyonya. Aku paham. Eum—kalau begitu aku izin pulang dulu. Permisi” Nayeon hanya bisa tertawa hambar. Entahlah. Gadis itu segera berbalik dan lebih memilih untuk meninggalkan rumah tadi. Berada di sana sama halnya dengan dihukum di tengah lapangan kala matahari sedang terik. Betul-betul membuat kepanasan dan juga jengkel. Daripada ia terlihat seperti orang bodoh yang tengah menatap acara-gombal-menggombal-antar-Chanyeol-dan-gadis-genit-bernama-Sohyun-tadi, lebih baik dirinya tidur di rumah. Nampaknya memang benar, sore kali ini enggan bersahabat dengan gadis bernama Kim Nayeon.

“Hei, jelek! Mau kemana kau ?”, pekik Chanyeol yang mana membuat Nayeon kembali menghembuskan napas dengan kasar. Lelaki itu kemudian menghentikan sepedanya tepat di depan Nayeon.

“Ke rumah sakit jiwa. Tentu saja pulang ke rumah”, jawab Nayeon kesal setengah mati begitu Chanyeol sudah ada di hadapannya. Jujur saja, Nayeon sendiri bingung bagaimana menjelaskan perasaannya kala menatap lelaki itu. Yang jelas perasaannya ini bisa diakumulasi menjadi sebuah kata cemburu, yang mana Nayeon tidak tahu  atau lebih tepatnya tidak ingin mengakuinya.

Chanyeol menunduk dan mensejajarkan kepalanya dengan Nayeon. Gadis itu reflek memundurkan kepalanya. Chanyeol menatap lekat kedua mata berwarna coklat hazel milik Nayeon.

“Kau cemburu ya ?”, tanyanya jahil setelah berhasil menangkap sesuatu di mata Nayeon.

“Haha.. tidak mungkin. Jangan bercanda”

“Benarkah ? tapi matamu mengatakan aku cemburu, Chanyeol-ah” lelaki itu berucap dengan nada dibuat manja. Berhasil membuat bulu kuduk Nayeon bergidik kala mendengarnya.

“Betulkan dulu otakmu. Tidak mungkin aku cemburu. Apa perlu kuantarkan ke reparasi mobil ? sepertinya alat rumah sakit pun sudah tidak sanggup membetulkan otakmu”, Nayeon berjalan menjauh dan mendahului Chanyeol. Yang gadis itu inginkan adalah menghilangkan perasaan aneh yang terus bergelut di hatinya. Dan perasaan itu akan hilang –menurut Nayeon- jika sudah menjauh dari Chanyeol.

Sekilas, mata Nayeon menangkap objek lelaki yang tengah mengendarai sepeda berlalu mendahului dirinya.

Pergi saja sana. Aku benar-benar sudah tidak peduli. Ya.. itu sih kata batinnya yang terkontrol. Bagaimana dengan kata hati Nayeon yang sesungguhnya ? tentu saja berbanding terbalik.

Tiba-tiba saja, terdengar suara sepeda jatuh yang cukup mengagetkan Nayeon. Gadis itu mengalihkan pandangannya dari jalanan beraspal menuju arah di hadapannya. Chanyeol kini tengah berjalan ke arah Nayeon. Terlalu cepat, sampai Nayeon tidak sadar lelaki itu sudah memegang kedua bahunya dan menyapu lembut bibir Nayeon untuk beberapa detik.

“Maaf kalau aku begitu menyebalkan dan pernah membuatmu menangis. Asal kau tahu, aku selalu mencintaimu dan aku tidak pernah sekalipun membencimu”, Demi Tuhan. Kata-kata itu membuat Nayeon ingin meleleh sekarang juga. Nayeon menatap dalam-dalam mata Chanyeol. Namun, tak satupun keping kebohongan yang ia dapat. Gadis itu hanya takut jika apa yang lelaki itu lakukan tadi hanya bercanda. Yeah, tahu sendiri Chanyeol bagaimana. Sikapnya bisa berubah-ubah. Kadang jahil, kadang dingin, kadang seenaknya. Mungkin sekarang ada yang harus Nayeon tambah dalam daftar. Kadang manis.

“Aku juga—mencintaimu”, yeah, Nayeon akui ia tidak bisa menahannya lagi. Keduanya saling bertukar senyum. Kalau boleh jujur, Nayeon sangat merindukan senyum ini. Senyum tampan sekaligus manis yang memabukan. Senyum yang lalu-lalu sempat menyemangati harinya sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk berakhir.

Tapi sekarang hubungan itu kembali terbentuk. Yeah, semoga saja tidak ada kata putus lagi dalam kamus hubungan mereka.

“Kalau begitu—maukah kau menjadi kekasihku ?” entahlah. Bukannya terenyuh Nayeon malah ingin tertawa mendengar pernyataan Chanyeol barusan. Dimana lelaki itu belajar menjadi seromantis ini ? Seingat Nayeon, dulu Chanyeol tidak menembaknya dengan cara semanusiawi ini. Maksudnya—cara itu bahkan tidak bisa dikatakan sebagai menembak-seorang-gadis. Ya seperti—

‘Hei kau mau permen tidak? Tidak mau ? yasudah’, ya kurang lebih mirip seperti itu.

“Tentu saja tidak.—tidak akan aku sesali untuk tidak menolaknya”, Nayeon kemudian terkekeh geli. Cukup membuat Chanyeol berpikir untuk sekian detik hampir menuju menit malah.

“Berbelit-belit sekali. Bilang saja iya”, Chanyeol sedikit mengercutkan bibirnya dan bagi Nayeon wajahnya benar-benar menggemaskan saat ini. Uugh. Susah payah untuk tidak mentertawakannya. Sungguh berbanding drastis jika dibandingkan dengan Chanyeol yang tadi menjemput Nayeon.

“Yasudah. Ayo, aku antarkan pulang”, Chanyeol menggenggam tangan Nayeon dan menarik gadis itu seenaknya.

“Tidak, tidak. Terima kasih. Aku masih menyayangi jantungku”, masih teringat bagaimana brutalnya Chanyeol mengayuh sepeda tadi. Nayeon tidak ingin menjadi korban kebut-kebutan Chanyeol untuk kedua kalinya. Bayangkan saja, di tengah jalan raya, bahkan sepeda motor kencang pun hampir terbalap olehnya. Dia pikir sedang mengikuti turnamen apa. Atau jangan-jangan benar dia sedang mengikuti turnamen tanpa sepengetahuan Nayeon ? ibarat sambil menyelam minum vitamin. Sambil mengantar Nayeon sekalian ikut turnamen. Duh, mikir apa sih

“Kalau tidak mau, akan kucium lagi. Atau kau mau meminta yang lebih dalam ?”, Chanyeol menaik-naikan alisnya.

Demi Tuhan. Nayeon ingin sekali menendang lelaki di hadapannya ini. Enak sekali dia mengancam Nayeon, “Aah, iya iya baiklah. Tapi  sebelum mengantarku ke rumah, izinkan aku mengantarmu ke rumah sakit untuk membetulkan otak mesummu itu” , Chanyeol kemudian meringis setelah mendapat jitakan dari Nayeon. Gadis itu kemudian berlalu lebih dahulu menghampiri sepeda Chanyeol yang dibiarkan terjatuh di jalan. Benar-benar anak ini. Bahkan bocah setinggi tiang itu sampai tidak sempat memposisikan standar sepedanya terlebih dahulu.

 

Hal paling menyebalkan di dunia ini adalah

Ketika kau harus mengantar seranjang cupcake dengan seorang Park Chanyeol.

Karena perasaanmu tidak pernah bisa menentu bila bersamanya

 

Fin ❤

Judulnya ga nyambung blas :”D wis mentok nyari judul gimana dong heheh :”D

tbh, rasanya kaku banget jebaaalll lama ga nulis fanfic ;_; –entahlah udah berapa bulan- yang jelas, yang sudah baca tolong tinggalkan jejak yaa plis jangan siders gitu  L sedikit kata dari kalian aku udah seneng kok apalagi ngereview tulisanku hehe.. oiya yang mau mampir ke blogku boleh kok XD *promosi* *biarin*>> kyungdozx.wordpress.com




Numpang promosi yaw ><
Buat kalian yang suka bikin fanfic dan pengen ikutan lomba
Yuks join di Event ini, hadiahnya menarik lho!
Visit here

35 responses to “Sweet Cupcake

  1. hahayde, dua-duanya sama-sama koplak ternyata.. ckck /kicked/
    iya ya? bahasanya agak kaku dikit, mungkin faktor authornya baru comeback lagi kali ya? ah entahlah aku tak peduli, yang jelas aku suka chanyeol-nya ❤ waks
    himnaeseyoo author! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s