THE B2ST SERIES: #2 Shadow

Ini bukan ff ditjao, melainkan ff titipan dari salah seorang teman. Harap memberikan apresiasi berupa komentar setelah membaca ya, terima kasih sebelumnya.

Previous:

Teaser – Fiction

#2

THE B2ST SERIES

.

.

.

.

.

Starring by

B2ST

.

.

.

.
Special Performance by

Lee Gi Kwang

&

YOU

as

Park Min Young

.

.

.

General

Friendship and Angst

.

.

.

.

Sorry for some typo(s)

.

.

.

.

Now Playing : B2ST – Shadow

 

__

#2

“Park Min Young!” pekikku sambil berlari menghampirinya.

Gadis bernama Min Young itu diam di tempatnya, menungguku yang masih berlarian seperti bocah kecil mengejar Sang Ibu yang akan pergi ke pasar. Angin sore yang berhembus lembut terkadang membuatku terbuai hingga ingin menghentikan laju kakiku namun itu semua kutahan agar tak terjadi sebab Min Young bisa jadi sangat galak jika terlalu lama menunggu.

“Gi Kwangie, kenapa lama sekali?” tanyanya dengan nada merendahkan. 

“Setidaknya aku masih bisa berlarian sesuka hatiku. Kemana saja yang aku mau,” balasku tanpa pikir panjang sambil mengatur napasku yang masih tak beraturan. Raut wajah Min Young seketika berubah seratus delapan puluh derajat, senyum hangatnya menghilang terganti wajah murung.

Aku telah melakukan kesalahan fatal!

“Min Young-a, mianhae.”

Min Young memandangku sendu, tak lama ia menganggukkan kepalanya lemah kemudian mengalihkan pandangannya dariku. Harusnya aku bisa menjaga mulutku yang suka berbicara seenaknya ini. Sudah berapa kali aku bicara semaunya tanpa berpikir bagaimana jika aku berada di posisi Min Young? Pastinya sudah lebih dari lima puluh kali.

Angin semakin berhembus kencang, Min Young memeluk tubuhnya sendiri seraya menjaga suhu tubuhnya tetap hangat. Min Young itu berbeda. Bukan maksudku untuk merayunya atau karena aku menyimpan rasa lain pada Min Young, tetapi sungguh karena ia benar-benar berbeda.

Min Young mengidap penyakit lemah jantung.

Kira-kira sudah tiga bulan dokter memvonisnya begitu. Awalnya kukira ia akan menangis tujuh hari tujuh malam, menghabiskan lima belas ton tisu kering untuk menyeka air matanya, mengunci diri di kamar hingga tak ingin makan apapun atau bertemu siapapun, atau segala hal-hal yang biasanya terjadi di drama-drama ketika dokter baru saja memvonis si tokoh utama dengan penyakit yang berat atau bahkan mematikan.

Tetapi seperti yang sudah aku katakan di awal, Min Young berbeda. Ketika dokter memvonisnya, ia terlihat jauh lebih tegar dari bayanganku. Hanya menangis sesekali lalu kembali seperti semula, seakan Min Young sudah siap akan segala hal yang akan terjadi dengan dirinya. Tetapi aku tahu, setegar apapun Min Young ia pasti rapuh juga dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menjaganya, menjadi jantungnya yang kuat.

“Wah kenapa disini panas sekali?” gumamku tiba-tiba sambil melepaskan jaket yang kukenakan lantas menaruhnya diatas kedua bahu Min Young asal.

“Bilang saja mau meminjamiku jaketmu,” sambungnya tak habis pikir. Ia menatapku sejenak sebelum memakai jaket yang kupinjamkan dengan benar, “Terima kasih, Gi Kwangie.” Aku mengangguk ragu lalu tersenyum selebar yang aku mampu.

“Gi Kwangie, mungkin mulai besok aku sudah tidak bisa kemari lagi.”

Aku sontak menoleh kearah Min Young, raut wajah penuh tanda tanya bercampur keterkejutan kurasa tepampang jelas di wajahku. Min Young pun ikut menoleh kearahku, pandangan kami bertemu, ia masih memandangku dengan sorot mata teduhnya yang menenagkan jiwa.

“Aku harus mulai pengobatanku. Jadi mulai besok aku akan berada di rumah sakit—” Min Young menggantungkan kata-kata selanjutnya, ia menutup matanya bersamaan dengan rasa takut yang tiba-tiba saja datang menghantuiku.

“—entah sampai kapan aku akan berada disana. Tidak tahu apakah segalanya bisa berjalan sesuai apa yang selama ini aku harapkan—aku sembuh—tetapi kau tak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja. Kau yang bilang kalau aku berbeda, kan?” lanjutnya dengan suara yang mulai bergetar—Min Young tengah menahan tangisnya.

Aku tak lekas menjawabnya, aku hanya menariknya mendekat untuk masuk dalam pelukanku yang hangat. Bahkan aku tak pernah sekalipun berani membayangkan jika hal buruk terjadi pada Min Young. Aku akan selalu berpikiran positif. Aku adalah jantung Min Young. Kami harus kuat.

“Aku akan baik-baik saja,” ulang Min Young berkali-kali dalam pelukanku. Aku semakin mempererat pelukanku, “Aku berbeda. Aku lebih kuat karena Gi Kwang adalah jantungku.”

“Benar, aku adalah jantungmu.”

__

Keesokan harinya, tepat pada pukul delapan pagi, aku sudah rapi berdiri di depan rumah Min Young dengan sebuah boneka teddy bear berukuran lumayan besar hingga sanggup menutupi wajahku. Orang-orang yang lewat takkan mungkin mengiraku sebagai seorang kurir pembawa paket, kan? Baiklah.

Aku mengetuk pintu kediaman rumah Min Young, tak lama wajah Min Young segera nampak dihadapanku. Wajahnya lebih pucat dari kemarin tetapi ia masih saja bisa memukul lenganku pelan.

“Memangnya aku anak kecil berumur lima tahun yang akan senang jika diberikan boneka sebesar ini?” komentarnya dengan nada sinis.

“Jadi aku sia-sia membawa ini?” balasku. Min Young mengangguk. Aku membuang napasku kasar sedangkan ia masih memandangku sinis dan dingin, “Setidaknya hargai aku yang rela membawa ini kemari dan menunggumu beberapa saat di depan rumah. Beruntung orang-orang tidak menganggapku kurir pembawa barang.”

“Jadi berapa hargamu, Gi Kwangie?”

Aku melotot menatap Min Young, “Apa maksudmu?!”

Min Young pun merubah ekspresi wajahnya menjadi lebih bersahabat seperti biasanya, ia mengambil alih boneka super besar dari dalam gendonganku lalu memeluknya sangat erat, “Aku tadi hanya bercanda. Terima kasih Gi Kwangie,” ucapnya yang tiba-tiba saja diakhiri dengan kecupan ringan di pipiku.

__

Sore ini di rumah sakit, aku sedang menemani Min Young berjalan-jalan sebentar di taman rumah sakit. Aku mendorong kursi rodanya dengan hati-hati. Pengobatan awal yang berjalan siang tadi berjalan cukup baik namun entah mengapa Min Young kelihatan tak bersemangat setelahnya.

Aku pun berhenti di dekat sebuah bangku taman, Min Young kuposisikan berhadapan denganku yang sudah duduk diatas kursi tersebut. Kami saling berpandangan. Keheningan sempat menyelimuti kami berdua, hanya angin sore yang sesekali mengisi keheningan itu.

“Aku sakit.”

Dua kata itu meluncur manis dari bibir mungil Min Young. Seluruh tubuhku seketika menegang dan terasa kaku.

“Lantas kenapa?” balasku susah payah, takut pembicaraan kami mengarah pada satu muara yang buruk.

            “Aku hanya akan membebanimu.”

            “Aku tidak perduli,” sanggahku yakin.

            Min Young menunduk, “Lupakan aku…”

Forgetting you is like erasing myself,” balasku sambil menyentuh dagunya dan mengangkat wajahnya. Aku pun menangkup wajahnya yang pucat pasi dengan kedua tanganku, memandangnya dalam hening.

            “Jangan berlebihan,” balasnya dengan manik mata yang berkaca-kaca. Aku menggelengkan kepalaku. “Lee Gi Kwang-ssi, terima kasih karena sudah sejauh ini berada disisiku,” tambahnya lalu segera berhambur dalam pelukanku.

            “Tidak perlu berterima kasih, Park Min Young-a. Tentu saja aku akan selalu ada disisimu, selain aku ini adalah jantungmu, aku juga adalah bayanganmu.”

JJ NOTES

Yap ini adalah yang ke #2 dari B2ST Series yang sudah saya hadirkan. Semoga bisa lebih baik dari yang sebelumnya dan yang selanjutnya menjadi lebih baik dari yang ini.

 

Terima kasih kepada para pembaca! Dan saya  juga tetap menunggu apresiasi dari para pembaca. Sekian 🙂

15 responses to “THE B2ST SERIES: #2 Shadow

  1. Yg ini menurutku kurang sreg/?
    Terus, akhirnya minyoung sembuh atau enggak sih?
    Uhmm okedeh~ keep writing!

  2. Pingback: THE B2ST SERIES: #5 Good Luck | FFindo·

  3. Pingback: THE B2ST SERIES: #6 Midnight | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s