Continuous Winter – Final Chapter


Continuous Winter

Copyright © EnnyHutami’s fanfiction 2014

| Lenght : Series | Rating : PG-15 | Genre : Gloomy, Thriller, Romance | Cast : Oh Sehun, Park Hyeju, Byun Baekhyun, Jung Jiyoo and others | Disclaimer : Ispired by movie with title ‘Girl’ |

Note : Yang suka silakan baca dan berikan tanggapan di kolom komentar serta like-nya. Bagi yang tidak suka dilarang keras untuk membaca dan bashing.

~œ Swinspirit œ~

Siang ini salju kembali turun, menambah tumpukan salju di jalan, atap, dan juga pepohonan yang tak berdaun. Dari dalam kedai kopi di pertengahan kota Seoul, Hyeju duduk sendirian ditemani secangkir kopi panasnya untuk menghangatkan tubuhnya.

Setelah berpikir semalaman, ia memutuskan untuk menetap di Seoul dan tinggal di rumah lamanya sendirian. Tetapi, ia akan kembali ke desa untuk mengurus keperluan sekolahnya dan juga mengambil barang-barangnya. Seharusnya kemarin ia sudah berangkat ke desa, tetapi ia ingin bertemu dengan paman Junhong dan juga Howon. Ia ingin mendapat kejelasan tentang perintah kepada ayahnya untuk membunuh keluarga Yongguk.

Kemudian sebuah mobil sedang hitam berhenti tepat di depan kedai dan dua orang laki-laki muncul. Satunya berumur pertengahan dua puluh tahun dan satunya mungkin berumur setengah abad.

“Maaf membuatmu menunggu lama.” Ucap laki-laki tengah baya yang mengenakan setelan formal berwarna biru gelap setelah duduk di hadapan Hyeju. Tidak seperti Junhong, laki-laki itu memiliki wajah tegas dan serius. Sementara itu, laki-laki satunya yang bisa Hyeju tebak sebagai Howon duduk di kursi di sebelah laki-laki tengah baya itu. Hanya melempar senyum basa-basi yang sopan pada Hyeju.

“Saya meminta maaf karena mengganggu waktu Anda, tetapi…,”

“Saya tahu.” Sela laki-laki tengah baya tersebut sembari mengulas senyumnya. Paman Junhong. Choi Hyun Cheol. Lalu, “Kau putri Park Sungjin, benar bukan?”

Hyeju mengangguk dan menjawab, “Ya.”

Hyun Cheol pun melanjutkan. “Maaf. Saya tidak tahu jika anak itu akan bertindak sejauh itu.” Tanpa perlu diberitahu siapa yang maksud ‘anak itu’ olehnya, Hyeju pun tahu yang dimaksudnya adalah Bang Yongguk.

Lalu, Howon pun merundukkan kepalanya, membungkuk meminta maaf. “Maaf, seharusnya saya bisa mencegah Bang Yongguk membunuh Park Sungjin dan Park Hyejin.”

“Tidak apa-apa.” Sahut Hyeju. Berpikir jika bukan salah Howon jika ayah dan kakaknya meninggal karena Bang Yongguk yang membunuhnya. Meskipun orang yang memberikan minuman beracun pada ayahnya itu adalah kakaknya sendiri, Park Hyejin, yang tidak tahu jika Yongguk berencana untuk membunuh ayahnya. Lalu, “Jadi, meskipun saya tahu ini rahasia, saya tetap ingin tahu alasan ayah saya menghabisi keluarga Bang Yongguk.”

Sebelum menjawab Hyun Cheol merubah posisi duduknya agar lebih santai. Sementara itu, Howon berdiri untuk memesan minuman hangat untuk dirinya dan ‘ayah angkat’nya.

“Saat itu Bang Moonhwak terlalu banyak mengetahui rahasia, dan akhirnya dia berencana untuk berhianat dengan cara membongkar rahasia tersebut kepada publik dengan mengajak ayahmu. Dan ayahmu yang saat itu berstatus sebagai profesor di tim kami, memberitahu kepada kepala tim. Lalu mereka menyuruh ayahmu menghabisi keluarga Bang Moonhwak,”

Tanpa sadar, Hyeju menahan napasnya mendengar cerita laki-laki tengah baya yang duduk di hadapannya. Ia bahkan tidak menyadari kedatangan Howon yang kembali dengan dua gelas berisi kopi panas. Sesungguhnya ia ingin bertanya apa rahasia itu, tetapi ia tahu laki-laki di depannya tidak akan pernah memberitahunya.

“Jadi saat ayahmu memberitahuku—hanya memberitahuku—jika ia tidak membunuh Bang Yongguk yang saat itu berusia sembilan tahun, aku mencarinya ke seluruh panti asuhan dan mendapatkannya berteman baik dengan Howon. Dan setelahnya kuputuskan untuk menjadi wali Howon.” Lalu Hyun Cheol menoleh pada Howon dengan senyum bangganya. “Kerja bagus, nak.”

Dengan sopan, Howon merundukkan kepalanya lagi dan menggumamkan kata terima kasih.

Kemudian Hyun Cheol kembali menaruh perhatiannya pada Hyeju lagi. “Ada yang ingin kau ketahui lagi?” tanyanya ramah. Sangat berbanding terbalik dengan dugaan Hyeju sebelumnya saat melihat raut wajah tegasnya.

Hyeju pun menggeleng. “Tidak. Itu sudah cukup.” Ujarnya. Untuk yang pertama kalinya, ia menemukan bahwa kehidupan Yongguk tidak jauh berbeda darinya. Hanya saja selama hidupnya, Yongguk menyimpan dendam yang mungkin terlalu dalam.

~œ~œ~œ~

“Bagaimana keadaan Hyeju?” tanya Jisoo untuk memulai pembicaraan ketika dirinya dan Sehun tengah berada di restoran ramen yang menjadi tempat kesukaan Luhan. Ia terus menatap wajah Sehun yang masih terdapat luka dan plester.

Sehun mengambil mienya dengan sumpit alumuniumnya. “Sudah lebih baik.” Jawab Sehun, lalu memasukkan mie tersebut ke dalam mulutnya dengan suara seruput khas orang memakan mie. Lalu, “Bagaimana denganmu sendiri?” ia balik bertanya sembari mengangkat wajahnya untuk balik menatap Jisoo.

Jisoo pun mengangguk seraya melengkungkan bibir tipisnya, lalu mengangguk. “Jauh lebih baik darimu.” Jawabnya, dengan menyindir luka-luka yang didapatkan Sehun di wajahnya. Sehun pun hanya menanggapinya dengan dengusan tawa lalu menyendok kuah ramennya untuk menghangatkan perut dan tubuhnya di musim dingin ini.

Kemudian hening. Tak ada yang bersuara lagi di antara keduanya. Jisoo sadar, ketika dirinya hanya berdua bersama Sehun, jika bukan dirinya yang memulai obrolan, makan yang terjadi hanyalah kesunyian. Karena Sehun bukanlah tipe orang yang suka memulai berbicara lebih dulu jika bukan karena hal penting.

Lalu Jisoo pun membuka mulutnya, mencoba menanyakan hal yang membuatnya janggal atas sikap Sehun belakangan ini. “Sehun… apa kau… menyukai Hyeju?” tanyanya dengan hati-hati dan terus menatap wajah Sehun untuk melihat reaksinya.

Tepat seperti dugaannya, Sehun terdiam sembari menatap mangkuknya. Dan positif dengan jawaban yang dicarinya.

“Aku hanya tertarik dengannya. Dia tidak seperti gadis yang lainnya.” Jawab Sehun setelah terdiam beberapa saat.

Jisoo tidak tahu bahwa kalimat yang baru saja Sehun katakan benar atau tidak. Yang ia tahu hanyalah rasa tertarik itu bisa semakin berkembang kapan saja. Dan setelah semua kejadian yang terjadi belakangan ini, tidak mungkin jika keduanya tidak saling menyukai.

“Benarkah?”

Mendengar pertanyaan Jisoo, Sehun mengangkat kepalanya dan menatap Jisoo yang tengah menunggu jawabannya. Keningnya berkerut heran melihat ekpresi Jisoo yang seolah-olah menunggu jawaban ‘ya’. Dan dugaan itu terbesit begitu saja di otaknya.

“Kau menyukaiku?” tanya Sehun sembari menatap tepat di bola mata Jisoo. Mendapati pupil mata Jisoo yang melebar, ia pun tahu bahwa pertanyaannya tepat mengenai sasaran. Lalu ia melanjutkan pertanyaannya, “Kau mulai menyukaiku sejak ciuman waktu itu, bukan?”

“Aku…,” Jisoo hendak menjawab pertanyaan Sehun, tetapi ia menutup kembali mulutnya ketika merasakan debaran jantungnya yang berdetak terlalu cepat dan merasa tidak sanggup untuk balas menatap mata Sehun yang terlalu dalam. Ia tahu bahwa dirinya mulai merasakan perasaan yang lebih dari sekedar teman pada Sehun, tetapi ia terlalu takut untuk mengakuinya, bahkan kepada dirinya sendiri.

Melihat Jisoo yang memalingkan pandangan darinya ketika ia menatap Jisoo dan menunggu jawaban gadis itu, Sehun pun meletakkan sumpitnya di atas meja dan merubah posisi duduknya agar lebih nyaman. Lalu, “Aku tahu karena diriku hatimu bergetar, mungkin setelah Luhan meninggal, hatimu berpaling darinya. Dan aku meminta maaf karena itu. Aku hanya tidak tahu bahwa apa yang telah kulakukan adalah salah. Tidak seharusnya aku menciummu ketika kau milik Luhan.”

Jisoo terdiam mendengarnya, kali ini mengangkat wajahnya untuk membalas tatapan Sehun kembali. Ia tidak mengerti mengapa Sehun mengatakan semua itu, sebelum Sehun melanjutkan kalimatnya.

“Tetapi keadaan tidak sama lagi. Aku berusaha melupakanmu selama di sana. Melupakanmu dan juga Luhan—”

“Ayo mulai dari awal.” Sela Jisoo. Dapat Sehun lihat mata Jisoo yang mulai memerah.

Kening Sehun berkerut mendengar apa yang baru saja Jisoo katakan. Sebelum otaknya berpikir apa maksud dari perkataan Jisoo, ia merasakan Jisoo menyentuh tangannya yang ia letakan di atas meja.

“Kita bisa memulai semuanya dari awal. Kau dan aku.”

Apa yang baru saja Jisoo katakan mungkin akan membuat Sehun tersenyum dan membalas genggaman tangan Jisoo, tetapi itu adalah Sehun yang dulu. Dan Sehun yang sekarang justru melepaskan genggaman tangan Jisoo dan menaruhnya di bawah meja. Ia pun juga mengatakan kata, “Maaf,” yang berarti ia menolak ajakan Jisoo untuk memulai semuanya dari awal. Lalu, “Kau tahu, mungkin hari ini aku hanya mengatakan bahwa aku tertarik pada Hyeju karena dia berbeda dari gadis lainnya. Tetapi, aku tidak menjamin apa yang akan kukatakan kedepannya.” Ia melanjutkan.

“Sehun…,”

“Maaf.” Ucap Sehun kemudian mendorong kursi yang didudukinya, lalu berdiri untuk membayar ke kasir dan pergi meninggalkan Jisoo yang masih terdiam di kursinya.

~œ~œ~œ~

Kelopak mata itu bergerak dan perlahan-lahan terbuka dengan pandangan yang masih terlihat buram. Lalu ketika ia mengerjapkan matanya berkali-kali untuk memfokuskan pandangannya, ia mendapati langit-langit berwarna putih bersih.

Ia meregangkan tubuhnya yang terasa pegal, kemudian memiringkan tubuhnya dan mendapati seorang lelaki yang berada di sebelahnya masih dengan mata terpejam. Rambut kecokelatannya jatuh di atas dahinya yang putih, sedikit mencapai mata. Ketika ia menyingkirkan helai-helai rambut tersebut dari Seokjin, tangan Seokjin pun terangkat dan memeluk pinggangnya. Masih dengan mata terpejam.

“Bagunlah. Mandi lalu sarapan.” Ucapnya pelan pada Seokjin, masih memainkan rambut di dahi Seokjin.

Seokjin meringis ketika tangan Jiyoo menyentuh luka di wajahnya. Lalu ia meraih tangan Jiyoo dan menggenggamnya. Matanya terbuka dan mendapati wajah khawatir Jiyoo di depannya. “Kini sudah selesai. Kita bisa memulai semuanya dari awal.” Katanya, sembari menyelipkan helai rambut Jiyoo ke belakang telinga.

Jiyoo terdiam. Ia tahu jika tidak akan semudah itu. Ia juga memikirkan bagaimana Yongguk, Youngjae, dan Hoya. Ia dan Seokjin kabur begitu saja begitu tersadar posisi mereka tidak menguntungkan. Saat itu, beruntung ia mengantongi sebuah pisau lipat sehingga ia bisa melepaskan tali yang mengikat tubuhnya dan juga tubuh Seokjin. Setelah itu, diam-diam mereka masuk ke dalam kamar Seokjin untuk mengambil tas yang sudah Seokjin siapkan sejak lama. Dompet, tabungan, dan berkas-berkas kepemilikan apartemen yang ternyata telah disiapkan Seokjin sejak lama.

Kemudian Seokjin bangun, memperlihatkan dadanya yang bidang karena ia tak pernah mengenakan kaus jika tertidur. Lagipula, tak ada pakaian untuk tidur. Ia takut pakaiannya lusuh jika digunakan untuk tidur. Lalu, Seokjin pun berjalan masuk ke kamar mandi.

Tak lama setelah Seokjin menutup pintu kamar mandi, derang bel pun terdengar. Jiyoo bangun dan sedikit merapikan rambutnya sebelum membuka pintu.

“Layanan kamar.” Ucap seseorang dari luar sana. Memunculkan fakta bahwa kini keduanya bukan di apartemen milik Seokjin, melainkan hotel.

Ketika Jiyoo membukakan pintu kamar, ia pun mendapati seorang pelayan wanita dengan seragam dan rak dorong di depan pintunya melayangkan senyum sopan padanya.

Setelah itu, Seokjin keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya dan handuk yang tersampir di pundaknya. Matanya mengernyit melihat makanan yang diletakkan di atas meja. “Kau memesan layanan kamar?” tanya Seokjin, dan Jiyoo menggeleng. Lalu, “Aku tidak memesannya.”

Jiyoo menatap Seokjin heran. Lalu, matanya beralih dan membuka penutup makanan yang paling besar. Dan ia mendapati secarik kertas di sana.

Seokjin pun mengambil secarik kertas yang dilipat dua itu dari tangan Jiyoo dan membacanya. Kemudian, ia mendengus setelah membaca seluruh kalimatnya. Lalu, “Hoya yang memesannya.”

“Mereka semua berhasil kabur?” tanya Jiyoo. Terselip harapan jika Yongguk dan lainnya berhasil kabur.

Namun, Seokjin menggelengkan kepalanya, membuat harapan tersebut musnah begitu saja. Seokjin pun memberitahu apa yang terjadi selama mereka kabur, sehingga Jiyoo merasa bersalah pada Yongguk. Ia ingin membantu, tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan lagi sekarang. Terlebih lagi, sekarang ia dan Seokjin tengah dicari.

Lalu, “Mandi dan sarapan lah. Setelah ini kita pergi dari sini.” Kata Seokjin sembari mengenakan kausnya.

~œ~œ~œ~

“Kau yakin akan tetap tinggal?” Sehun bertanya ketika ia mendapati Hyeju tengah merapikan kamar Hyejin yang barang-barangnya terbungkus kain putih.

Untuk pertama kalinya, Hyeju mengikat rambutnya—meskipun beberapa helai rambut tidak sampai ke belakang dan menutupi wajah gadis itu. Diam-diam Sehun tersenyum. Semakin hari, Hyeju terlihat lebih normal. Mungkin semua itu berkat kasus ayahnya yang sudah berakhir.

Semuanya sudah selesai.

Namun, meskipun telah selesai. Ada satu pertanyaan yang masih mengganjal Sehun. Tentang Luhan.

“Ya. Aku rasa lebih baik memulai semuanya di Seoul.” Jawab Hyeju dengan suara rendahnya.

Kemudian Sehun menutup pintu kamar dan berjalan menuju jendela, lalu menutupnya ketika melihat Hyeju bergidik kedinginan.

Selama sesaat, keduanya terdiam. Sehun yang menatap lurus ke luar jendela tanpa ekpresi seperti biasanya, dan Hyeju yang menghentikan kegiatannya lalu mengambil sebuah foto dari saku celananya. Sebuah foto yang mungkin sangat berarti bagi Sehun.

“Ini…,” ucap Hyeju. Menyodorkan foto tersebut pada Sehun yang langsung menoleh mendengar suaranya. Lalu Sehun pun mengambil lembar foto tersebut dengan heran. Dan ketika ia melihat foto tersebut, Mata Sehun membulat.

“Bagai—”

“Dari saku jaket yang kau pinjamkan padaku waktu itu.” Sela Hyeju. Lalu, “Sebelum Luhan bunuh diri, dia bertengkar hebat dengan Jisoo.”

Sehun mengerjap. “Apa?”

“Luhan melihat kau mencium Jisoo. Kemudian dia berniat untuk mengakhiri hubungannya dengan Jisoo agar kau dan Jisoo…,” Hyeju tak menyelesaikan hubungan. Entah karena alasan apa, ia tak bisa melanjutkannya. Meskipun begitu, Sehun mengerti apa yang mungkin akan dikatakan Hyeju. Jadi, ia tak memprotes agar Hyeju melanjutkan kalimatnya. “Luhan orang baik.” Lalu ia melanjutkan, dengan nada sedikit canggung.

Masih dengan merundukkan kepalanya, tidak berani menatap wajah Sehun, Hyeju pun berbalik untuk meninggalkan Sehun sendiri. Tidak ingin tahu apa keputusan Sehun selanjutnya, yang ia yakin kembali bersama Jisoo. Ia terlalu takut untuk merasakan sakit lagi. Tidak dalam urusan hatinya.

“Aku menolaknya.” Dan seakan mendengar pikiran Hyeju, Sehun berkata. Menghentikan langkah Hyeju seketika. Lalu, “Jisoo… aku menolaknya untuk bersama.” Lanjutnya menjelaskan.

Meskipun tidak melihat wajah Hyeju secara langsung, Sehun bisa melihat sudut bibir Hyeju yang tertarik ke belakang, membentuk sebuah senyum kecil yang mungkin tidak disadari oleh Hyeju sendiri. Dan begitulah Sehun tahu jika Hyeju juga menyukainya.

Dengan langkah pelan, Sehun pun mendekati Hyeju. Lalu, “Sesenang itu aku menolaknya?” tanya Sehun jahil untuk pertama kalinya. Fakta bahwa hampir semua remaja laki-laki jahil terlihat sekarang. Seorang Sehun bahkan bertanya dengan senyum jahil di wajahnya.

Hyeju membalikkan badannya hendak memprotes pertanyaan Sehun. Namun, sebelum ia mengeluarkan kalimatnya, ia bisa merasakan bibir Sehun di bibirnya. Hanya saling menempel, pada awalnya, tetapi Sehun mulai menggerakkan bibirnya untuk melumat bibir bawah Hyeju karena tak terlihat ada penolakan dari Hyeju. Dan itu membuat Hyeju mengerjapkan matanya berkali-kali karena terkejut dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini.

“Hyeju kau sudah siap—Wow!” berbarengan dengan ucapan Baekhyun dan pintu kamar yang terbuka tiba-tiba oleh Baekhyun, Hyeju hampir meloncat menjauhkan diri dari Sehun. Untuk kedua kalinya, Baekhyun menginterupsi. Pertama saat Sehun memeluk Hyeju saat Hyeju menangis karena mimpinya. Dan ini adalah yang kedua.

“Maaf, kalian bisa lanjutkan kembali.” Ucap Baekhyun lagi sembari menutup pintu kembali. Baekhyun terlihat sama terkejutnya dengan Hyeju yang kini wajahnya merah bak kepiting rebus.

Tanpa berani menatap Sehun, Hyeju segera keluar dari kamar Hyejin, membuat Sehun yang melihatnya tersenyum. Menurutnya, tingkah Hyeju barusan sangatlah lucu dan lugu. Sungguh sisi yang berbeda dari penampilan suramnya.

~œ~œ~œ~

Dengan sepatu bot sepanjang mata kakinya, Hyeju berjalan melewati tumpukan salju yang hampir masuk ke dalam sepatunya. Di pinggir danau beku tempat biasa ia berseluncur, ia melihat Sehun duduk di atas pohon besar yang tumbang dan biasa dijadikan tempat duduk olehnya dan Sehun. Ketika Sehun melambai ke arahnya, ia membenarnya syal putih tulang pemberian Junhong sebelum ia berangkat pulang ke rumah dan diam-diam mengulum senyum di balik tirai rambut hitamnya.

“Hai,” sapa Hyeju ketika ia mengambil tempat di sebelah Sehun.

Sehun hanya membalas sapaan Hyeju dengan sebuah senyuman, lalu memutar sedikit tubuhnya ke belakang dan merogoh sesuatu dari dalam tas plastik besar di belakang pohon. Lalu ia mengeluarkan sepasang sepatu seluncur berwarna biru dengan garis-garis putih besar. “Untukmu.” Katanya.

“Tapi, sepatuku yang lama masih bagus.” Balas Hyeju mencoba menolak pemberian Sehun.

“Pakai ini.” Sehun memaksa. Sebenarnya ia tahu jika Hyeju memimpikan kejadian saat kakaknya dibunuh dengan besi di bagian alas sepatu miliknya. Dan ia tahu karena mimpi tersebut Hyeju tak ingin tidur beberapa hari ini. Jelas terlihat pada kantung matanya yang menghitam sehingga wajahnya yang putih terlihat cukup mengerikan seperti dulu.

Mau tak mau Hyeju mengambil sepatu pemberian Sehun dan memakainya saat Sehun menyuruhnya. Sedangkan itu, Sehun merogoh tas yang sama dan mengambil sepatu berwarna hitam seluruhnya yang ukurannya lebih besar.

Lalu, “Ajarkan aku.” Pintanya sambil menatap mata Hyeju.

“Kau tidak bisa?”

“Tidak pandai sepertimu.” Koreksi Sehun.

Setelah Hyeju menyetujui untuk mengajarkan Sehun, keduanya pun turun ke danau beku yang alasnya tidak benar-benar halus untuk berseluncur. Tetapi, tidak seperti yang Sehun akui, sebenarnya dia sama seperti Hyeju. Dia pandai dalam berseluncur di atas es. Meskipun tidak bisa berputar seperti apa yang selalu diperlihatkan Hyeju sebelumnya.

Sembari berseluncur, keduanya saling tertawa ringan dan bergurau layaknya remaja yang tengah berkencan. Normal. Tidak seperti Hyeju dan Sehun satu bulan yang lalu, yang horor ataupun dingin seperti es.

“Sehun,” panggil Hyeju sembari mengejar Sehun untuk mensejajarkan diri.

Sehun berhenti dan berbalik. “Hm?” tanyanya.

“Aku akan kembali ke Seoul besok.” Kata Hyeju sembari menatap wajah Sehun untuk melihat reaksi laki-laki itu. Lalu, “Aku akan bersekolah di sekolah lamamu. Bersama Jisoo.” Lanjutnya.

“Besok?” ulang Sehun.

Hyeju mengangguk. “Ya, besok.”

“Tidak terlalu cepat?”

“Kita kembali kemari sudah lebih dari satu minggu, Sehun.” Hyeju mengingatkan.

Sehun mengalihkan pandangannya ke samping. Ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Ia ingin mencegah Hyeju untuk tidak pindah ke Seoul, tetapi gadis itu terlalu keras kepala untuk dibantah. “Baiklah,” ucap Sehun. “Aku mengerti.”

Sehun memang mengatakan bahwa dirinya mengerti, tetapi yang dilihat Hyeju adalah Sehun tidak mengerti sama sekali. Laki-laki itu tidak mau menatap matanya dan terus menoleh ke arah lain. Jadi, “Sehun,” Hyeju memanggil lagi.

“Mm—”

Sebelum Sehun benar-benar menoleh, ia telah mendapati Hyeju yang menempelkan bibirnya pada sudut bibir Sehun. Gadis itu berjinjit dengan ujung sepatunya yang tajam di atas es, kedua tangannya memegang pundak Sehun untuk menahan berat tubuhnya agar tidak terpeleset dan jatuh konyol.

Sehun yang mengerti posisi Hyeju yang terkesan sulit, ia pun menyuruh Hyeju untuk tidak berjinjit lagi dengan sentuhan tangannya dan kini ia yang merundukkan kepalanya agar Hyeju bisa menjangkaunya. Lalu mulai mengulum bibir bawah Hyeju dan Hyeju yang mulai membalas ciuman pada akhirnya.

Kemudian Sehun lah yang pertama melepas ciuman mereka untuk menghirup oksigen.

“Kalau begitu, tunggu aku di Seoul dua tahun lagi.” Ucap Sehun. Dan Hyeju pun menganggukan kepalanya dengan wajah yang memerah di tengah dinginnya cuaca di kota kecil ini.

“Aku menunggumu.” Balas Hyeju malu-malu.

Dan Sehun pun kembali menghilangkan jarak di antara wajah keduanya.

~œ END œ~

AKHIRNYAAAAAA! Akhirnya kata END bisa aku tulis di CW! Yaampuuun, aku seneng sendiri ahayyy;3 aku mau ngucapin terima kasih buat para readers-nim yang udah setia nungguin ini. Aku janji bakal 2 minggu ya? Tapi karena ada adegan kisseu yang bakal aku masukin, jadi aku nunda nulis karena masih bulan ramadhan’-‘ dan karena aku mulai sibuk buat nyiapin tugas ospek, jadi ya…. gitu dehK kalo ada yang mau minta sequel…. aku gak janji loh buatin sequel, abis bingung bakalan bikin cerita apa, mending buat yang baru aja ya yg bisa bikin thrilling gitu wkwk

Dan aku minta perhatian buat D&N nih, kayaknya msh lack banget ya d&n-nya?:| aku… rada kesulitan sebenernya kalo buat yg tentang life gitu, enak yg crime gitu, tapi aku gak pinter di bagian laws. Itu butuh otak dan googling terus-__- (kok jadi curhat?). intinya, aku minta tolong buat pada baca Day & Night ya readers-nim^^ kali aja suka hehe

Nah, karna masih edisi lebaran, aku sebagai author yang masih termasuk amatiran ini meminta maaf dan doa restu, mau nikahin kim myungsoo wkwkw canda deng. Intinya minal aidzin wal’faidzin ya minasaaaaan *bow* PPYONG~!!!!

Advertisements

68 responses to “Continuous Winter – Final Chapter

  1. Sebenernya.. need sequel(?) pas Sehun udah ke Seoul jugaa.. wkwk
    Syukur yaa liat akhirnya mereka saling jatuh cintaa♥♥ happy ending jugaa~
    seokjin sama jiyoo kapan ditangkepnyaa? upss

  2. Wahh gila sumvah ini fanfic wajib dibaca beh keren banget 😀 alur ceritanya beh bagus banget,kosakatanya bikin enak buat dibaca,suka banget sama penokohannya,ceritanya dapet banget feelnya bikin nangis,bikin senyum,bikin baper seketika 😀 aku kasih 10 jempol kalo bisa 😀 sebelumnya minta maaf karena komen dichapter 1 doang benaran maaf banget jadi silent readers dibeberapa chapter 😦 okehh semangat terus aku selalu mendukungmu 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s