[Chapter 5] DESIRABLE

DESIRABLE

Author: Ifaloyshee | Characters: Kim Jongin, Jo Sebyul (OC) | Genre: Angst, dark, Marriage life | DISC: The idea is mine, included the plot and a whole of this story. The Characters are belong to their parents. Don’t reblog or copy without my permission! |Rating: Mature

chapter 1 | chapter 2 | Chapter 3 | chapter 4

5th Story

 

 

 

Sore itu, Sebyul terbangun dari tidur dan mendapati dirinya berada diatas ranjang empuk miliknya lengkap dengan selimut hangat yang membalut tubuhnya untuk menghalau dingin. Dari permukaan jendela hujan terlihat turun cukup deras, embunnya membuat permukaan kaca menjadi blur. Suara gemuruh petir terdengar bersahut – sahutan dengan rintik hujan. Pantas Sebyul tidur nyenyak, ia memang bisa tidur dengan sangat nyaman ketika hujan. Namun bukankah terakhir kali Sebyul sadar, ia tidak berada ditempat tidur kan?

Ia menguap, namun merintih ketika pipinya terasa pegal. Sebyul meringis merasakan nyeri di pipinya ketika ia membuka mulut lebar – lebar. Hal itu membuatnya tersadar oleh kejadian terakhir yang menimpanya sampai ia tak sadarkan diri. Tangan sebyul terangkat menyentuh pelan lebam di pipinya.

“Noona!”

Junhong berdiri diambang pintu, sekedar berteriak terkejut karena Sebyul sudah sadarkan diri kemudian berjalan menuju Sebyul dengan air putih di genggamannya. Ia meletakkan segelas air putih itu diatas meja kemudian memasang perhatian pada kakaknya. “Noona..” Junhong menyentuh pelan pipi Sebyul, gadis itu merintih kecil. “apakah ini sakit sekali?”

Sebyul menggeleng. Tidak mau membuat siapapun khawatir. “Gwenchana.”

Junhong menghela nafas. “Aku pasti akan menemukan segera siapa orang yang menamparmu sampai pingsan, noona. Kau tau betapa khawatirnya aku ketika menemukanmu tak sadarkan diri didepan pintu?! Aish, rasanya jantungku mau jatuh begitu saja.”

Sebyul terkekeh mendengar pengakuan Junhong. “Yang penting aku baik – baik saja sekarang, kan.”

“kau akan lebih parah dari ini kalau saja dia tidak menolongmu, noona.”

Sebyul megerutkan alisnya. “Dia siapa?”

Junhong menggigit bibir bawahnya kemudian membuat gesture ke pintu dengan jarinya. Masih tidak mengerti, Sebyul hanya mengikuti arah jari Junhong dengan mimic bertanya. “Maksudmu, siapa?”

 

Setelah diberitahu secara jelas oleh Junhong, Sebyul memutuskan untuk berjalan menuju balkon sambil memegangi kompres yang menempel dipipinya. Junhong meninggalkannya menuju dapur untuk memasak nasi untuk makan malam nanti. Di balkon apartemen Sebyul yang sempit, seorang pria duduk menghadap derai hujan. Dinginnya cuaca cukup membuat Sebyul merapatkan sweater kardigannya rapat – rapat namun tidak cukup dingin untuk pria itu yang hanya mengenakan kaus abu – abu tipis tanpa jaket.

“Hai.” Sebyul menempatkan dirinya disebelah Jongin. Menoleh pada pria itu dengan kedua alis terangkat, Jongin balas menoleh kearahnya. Sebyul butuh memiringkan wajahnya beberapa derajat untuk memperhatikan bercak merah diujung bibir Jongin. Kemudian bertanya – Tanya dalam pikirannya. “Kenapa denganmu?”

Jongin menangkap kemana kedua mata Sebyul memandang. Ia mengelap darah diujung bibirnya lalu tertawa singkat. “Ini ulah adik kecilmu.”

“maksudmu Junhong?”

Jongin menertawakan ekspresi polos Sebyul. “Tentu saja.”

“bagaimana bisa—“

“Dia memukul wajahku begitu melihatmu pingsan didepan pintu apartemen, dan hanya ada aku satu – satunya orang disana. Dia mengira aku yang memukulmu. Kenyataannya karena aku lah kau tertolong.”

“setidaknya kau tidak memukul Junhong balik.”

“Apa kekhawatiranmu hanya seputar itu saja? Wow kau pasti orang yang sangat tahu terimakasih ya.” Ucap Jongin sarkas dengan nada menyebalkan. Memang Jongin sering mengucapkan kalimat – kalimat yang menyebalkan, ia bahkan tidak menyadari ucapannya itu menusuk. Namun sepertinya Sebyul sudah mulai terbiasa dengan sikap Jongin ini. “Terimakasih untuk menolongku, Kim Jongin. Dan maaf atas ulah Junhong.” Sebyul mengucapkan dengan menekankan setiap kalimat. Ia memutar bola matanya setelah itu.

“Kau tau? Aku bisa saja menuntut adikmu dengan tuduhan tindak kekerasan dibawah umur.”

“Lakukan hal itu setelah kau lompati aku hidup – hidup.”

Jongin mendengus.

“Ngomong – ngomong, apa kau melihat siapa wanita yang memukulku? Bagaimana bentuk wajahnya atau—ciri cirinya?”

Tubuh Jongin membeku beberapa saat, ia langsung mengalihkan pandangannya dari Sebyul ke derai hujan yang mulai mereda. Ia terdiam sesaat memikirkan suatu hal lalu kembali menoleh kearah Sebyul. “Dia sudah pergi ketika aku datang, aku hanya menemukan beberapa pria bertubuh tegap disana.”

“Ah.” Sebyul mengangguk mengerti. “aku tidak mengenalnya, sepertinya, terakhir kali aku melihat wajahnya sebelum menamparku, dia bukan seseornag yang familiar. Tapi aku juga kurang yakin. Aku tidak tahu siapa dia.”

Aku tahu siapa dia.

“Mungkin dia seseorang yang membencimu.”

“Sudah pasti.”

“Musuhmu selagi kau di Sekolah Menengah? Atau kau pernah merebut kekasihnya?”

“Tidak mungkin musuhku selama sekolah juga, maksudku.. aku tidak punya musuh. Aku bahkan sangsi kalau mereka masih mengingatku. Dan merebut kekasihnya? Oh yang benar saja. Tapi kalau aku bertemu dia lagi, mungkin aku bisa saja merebut kekasihnya. Atas balasanku terhadap tamparan diwajahku ini.”

Jongin ingin tertawa mendengar pernyataan itu. Mau jadi apa kalau wanita seperti Sebyul melawan kekasihnya? Tentu saja Sebyul terlalu lemah. Menyakiti semut pun sepertinya Sebyul tidak tega. “Jangan membuatku ingin tertawa.”

Dengan cepat Sebyul menyikut bahu Jongin cukup keras.

“Yah!”

“Itu peringatan bagimu karena meremehkanku.”

Jongin mengangkat satu alisnya meledek. Entah dengan intense apa tapi Jongin senang membuat Sebyul marah. Bagaimana alis gadis itu menekuk kearah hidung dan dahi mengerut, serta bibir yang agak – agak dikerucutkan. Ekspresinya lucu. Seperti bocah umur lima tahun yang sedang merajuk. Jongin mengeluarkan sesuatu dari balik sakunya, permen dengan bungkus berwarna abu – abu perak lalu menyodorkannya pada Sebyul.

“Makan ini. You’ll feel better.”

Sebyul memperhatikan bungkusan permen tersebut. “feel better?”

“Bit-O-Honey. Rasanya enak sekali. Kau bisa melupakan sakit di pipimu sejenak saat kau memakannya.”

Sebyul menerima permen tersebut. Kemudian memakannya. Permennya terasa empuk dengan madu yang meleleh dari dalam daging permen tersebut, manis dari madunya bercampur dengan rasa cokelat yang meleleh. Sebyul juga mengecap rasa gurih dari kacang almond didalamnya. Perfect. Ujarnya dalam hati.

Jongin memperhatikan Sebyul yang sibuk mengunyah dengan pipi kembang kempis. Sebyul menoleh kearahnya, “Kau masih punya lagi?”

***

 

 

“Apakah aku pernah member izin padamu untuk menyakiti Jo Sebyul?”

“Kita membuat kesepakatan sebelumnya, dalam 24 jam kau tidak melakukan apapun terkait dengan usaha milik Kyungsoo maka aku mendatangi Sebyul, gave her a little fun.”

“Why are you such in a rush? Datang padaku dan coba saja tampar seorang Kim Jongin sampai pingsan. Mengapa kau mendatangi Sebyul? Hanya karena dia wanita maka kau bisa menamparnya? Such a loser.”

“dan mengapa kau repot – repot mau mengorbankan dirimu hanya demi wanita itu? Kau melindunginya seakan dia mutiara berharga. Dan aku tidak suka itu.”

“Oke sekarang apa maumu?”

“Aku memberimu 24 jam yang lain hanya untuk besok.”

 

 

***

 

 

 

Di hari minggu, Junhong bangun lebih awal untuk membereskan apartemen. Sekedar menggantikan tugas pagi yang biasa dilakukan oleh Sebyul dari mulai mencuci piring, memasukkan baju – baju kotor kedalam mesin cuci sempai mengeringkannya. Ia juga memanggang bacon untuk sarapan paginya. Semua ini dilakukan karena Sebyul harus berangkat pagi untuk mencari lowongan kerja sana – sini, ia tidak bisa mengandalkan gaji kecil nya dari café saja. Ia harus punya pekerjaan lain.

Siang ini ia menghabiskan waktunya di luar apartemen juga untuk menghadiri beberapa job affair. Ia pulang pukul tiga sore hari dengan menyempatkan diri membeli beberapa bahan mentah di supermarket untuk ia masak di hari – hari kedepannya (karena makanan siap jadi dihitung – hitung lebih boros ketimbang memasak sendiri) dan membeli dua ayam goreng untuk makan malam nanti. Sesampainya di apartemen, Junhong sedang duduk menyilangkan kaki diatas sofa dengan headphone terpasang ditelinganya, ruangan tidak kotor dan tidak juga berantakan. Sebyul menghela nafas lega, ia agaknya cukup bangga dengan adik laki – lakinya ini.

Sebyul langsung berjalan ke dapur begitu sampai di apartemen, mengeluarkan beberapa cokelat dari balik kantong plastic. Memasukkan sisanya kedalam kulkas. Cuaca yang dingin mendorong dirinya membuat cokelat panas untuk Junhong.

Junhong masih mengenakan headphone ­nya, beberapa buku tergeletak dihadapannya tak tersentuh. Ia terlalu sibuk untuk menjamah buku – buku tersebut.

“Junhong kerjakan PR-mu!”

Junhong segera melepas headphone-nya lalu mengambil sebuah buku dengan pena. Ia tidak mau noona-nya marah – marah dihari minggu karena dirinya tidak mau mengerjakan Pekerjaan rumah. Lagipula, Junhong lelah dan ingin cepat – cepat tidur. (ia tidak boleh tidur sebelum PR nya selesai)

Ketukan pintu beberapa kali terdengar. Junhong mengerang malas, ia bangkit dari sofa lalu berjalan terseok – seok menuju pintu sambil melihat monitor untuk mengetahui siapa yang datang. Pria berambut hitam cepak dengan kaus v-neck yang dilapisi oleh cardigan biru tua berdiri disana. Junhong menggeleng pelan, “Aish, kenapa ia suka sekali datang kesini sih!”

Junhong membuka pintu, “Mau apa kau kesini?”

Jongin berdiri diluar dengan kalem, ia sudah mengantisipasi reaksi Junhong terhadapnya. Sebyul pernah mengatakan kalau Junhong tidak suka menerima tamu malam – malam, dan juga ia tidak suka dengan kehadiran Jongin. Jongin sendiri mempertanyakan hal ini karena bagaimana mungkin pria setampan dirinya tidak disukai oleh Junhong???

“Kau suka Kitkat?”

“Mwo?!”

Kedua mata Junhong yang tadinya redup menyambut kehadiran Jongin kini melebar dengan percikan disana. “Kau mengatakan… KitKat?”

Jongin mengangguk. Ia menunjukkan kantung plastic yang ditentengnya. “Kitkat greentea.”

“simpan ini untukmu.” Jongin melemparkan bungkusan isi Kitkat itu kepada JUnhong yang lansgung dengan sigap ditangkap oleh Junhong. Ia masuk kedalam mengesampingkan Junhong yang berdiri menghalanginya, anak itu terlalu girang dengan cokelat kesukaannya yang kini berada digenggamannya. Junhong menjerit dramatis ketika mendapati bungkusan besar Kitkat berada didalam. “GOMAWO HYUNG!”

“bagaimana dia tau aku suka sekali Kitkat?” Junhong bergumam lirin ketika jongin sudah masuk kedalam apartemen dan mencari – cari keberadaan Sebyul.

Jongin bukanlah jongin kalau ia tidak bisa mendapatkan apa yang ia mau.

Apalagi kalau hanya dihalangi oleh bocah ingusan SMA yang sok berani menghadapnya.

Jongin menemukan Sebyul yang dicarinya, ia memandangi Sebyul dari belakang. Gadis itu mengenakan dress rumahan bermotif polkadot dengan tanpa lengan, dan hanya sepanjang paha sebyul saja. Rambut kecokelatannya dibiarkan tergerai seluruhnya kesamping kanan, memperlihatkan leher jenjangnya disisi kiri. Jongin tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menarik ujung bibirnya—menampakan seringaian khas nya ketika menjumpai wanita cantik.

Sebyul sedang mendengungkan lagu – lagu kesukaannya, kemudian ia berbalik dan terkejut mendapati Jongin berdiri tak jauh didepannya. Ia menaikkan sebelah alisnya seolah mempertanyakan kehadiran Jongin. “Halo, cantik.” Jongin melangkah mendekati Sebyul dengan tatapan yang tak lepas sedetik pun dari wajah sebyul. Lalu pandangannya turun dari wajah sampai ujung kaki, seolah sedang melakukan scanning pada tubuh sebyul.

Sebyul menghela nafas, kemudian menendang keras perut Jongin dengan lututnya. Cukup keras untuk membuat Jongin langsung menunduk dengan teriakan keras. “Yah!”

Sebyul berbalik lalu melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda, membuat cokelat panas untuk Junhong. Seolah ia tidak melakukan apa – apa pada Jongin. “melihatku dengan tatapan menjijikan begitu lagi, aku tidak akan main – main untuk menendang perutmu lagi.”

“Ahhh, jinjja.” Jongin meringis lalu menyenderkan punggungnya pada konter.

Sebyul tertawa sambil menuangkan lelehan cokelat kedalam gelas, ia melangkah menuju kulkas untuk mengambil satu bungkus susu full cream. Lalu ia tuangkan kedalam gelas yang sama. “Ngomong – ngomong ada apa kau datang malam – malam?”

“Sebenarya aku ingin minta pendapatmu.”

Sebyul menoleh kearah Jongin. Melihat side-profile pria itu yang tampak seperti biasanya, tidak pernah berubah, tampak though namun juga rapuh diatas yang bersamaan. Namun jongin selalu menegakkan wajahnya, mendongak, mengangkat dagu nya seolah ia tidak mau terlihat lemah. Tapi entah kenapa Sebyul bisa melihat seorang pria yang rusak disana. Sebyul menambahkan air panas ke dalam gelas lalu membawanya. “Tunggu disini. Aku akan memberikan ini pada Junhong sebentar.”

“wow darimana kau mendapatkan KitKan sebanyak itu?” sesampainya Sebyul diruang tengah, ia meletakkan gelas iron man berisi cokelat panas diatas meja. “Jongin hyung!” Junhong berseru layaknya anak kecil. Sebyul tertawa. Lalu berbalik untuk kembali menuju dapur namun seruan Junhong menahannya.

“Noona.”

“Ya?”

“Apa kau berkencan dengan Jongin hyung?” sebyul berbalik lalu memutar bola mata. “Huh? Tidak.”

“lalu mengapa dia sering sekali datang kesini?”

“Dia butuh teman.”

“Aaa, jinja? Tapi kenapa harus noona? Aku melihatnya membawa Bugati Veyron. Dan ia membelikanku Kitkat sebanyak ini. Aku yakin dia sangat kaya.”

“lalu kenapa Junhong-ah? Hanya karena noona tidak kaya maka Jongin tidak bisa menjadi teman noona?”

“umm.. aniyo. Lupakan saja noona.”

geundae.. jangan biarkan Jongin hyung menatap mu seperti tadi lagi, seolah dia mau memakanmu hidup – hidup.”

“Oh, jadi kau tadi mengintip?”

“A-aniyo!” Junhong mengibaskan tangannya secara gugup. “Aku hanya mengecekmu saja.. siapa tau dia berbuat macam – macam.”

“Sudahlah jangan berpikir aneh – aneh.” Kemudian Sebyul tertawa geli. Junhong menggemaskan jika ia sedang berusaha sok protektif terhadap Sebyul. Sok menjadi pria dewasa yang melindungi kakaknya. atau mungkin karena Junhong hampir tidak pernah menjumpai tamu pria datang ke apartemen mencari Sebyul. Ia bahkan memarahi teman sekolahnya ketika beberapa dari mereka minta dikenalkan pada Sebyul, atau menggoda Sebyul, mengatakan bahwa noona nya cantik sekali.

Jongin tertawa ketika Sebyul kembali ke dapur. “Selain menjadi adikmu, dia juga menjadi satpam bagimu?” ucap Jongin menertawakan perbincangan Sebyul dan Junhong tadi.

“dia memang begitu.” Sebyul menarik kursi lalu duduk, ia mendorong segelas cokelat panas diatas meja. “Ini untukmu.”

Jongin diam – diam memperhatikan kaki jenjang Sebyul yang sedang menyilang. Ia menggelengkan kepalanya, mencoba menjernihkan pikirannya lalu menarik kursi untuk duduk dihadapan Sebyul. Ia meneguk cokelat panas buatan sebyul lalu mendesah. “Hei ini enak sekali.”

“benarkah?” Sebyul menopang dagunya satu tangan diatas meja makan dengan membuat garis tak beraturan diatas meja dengan jari – jarinya. Jongin menghabiskannya dalam satu tegukan. Lalu menyapukan lidahnya mengitari bibirnya, menghapus sisa cokelat yang tertinggal disana.

Jongin terlihat lucu dan polos disaat yang bersamaan, dan Sebyul hanya menjumpai momen ini selama tiga kali—ketika Jongin tidur, berbicara tentang Iron Man, dan yang satu ini.

“jadi… kau mau meminta pendapatku atas hal apa?”

“Apa kau mau melepas temanmu karena sebuah ancaman?”

Sebyul terdiam sesaat sambil memandangi Jongin dengan alis menekuk bingung. “jadi kau punya teman?”

Jongin tertawa. Sebyul sungguh polos sekali. “Tentu saja! Tapi mungkin tidak…tidak lagi.”

“Umm… tergantung bagaimana bentuk ancamannya, tapi kau tidak bisa melepas begitu saja hal yang kau sayangi karena kepentinganmu sendiri. Kalau ancaman itu hanya untung bagimu saja. Begini, coba kau ingat – ingat saat pertama kali kau bertemu dengan temanmu, hal – hal baik apa saja yang sudah dia korbankan untukmu.”

Ini menyangkut kepentinganmu, babo.

Jongin menggelengkan kepalanya pelan. Kalau saja Sebyul tau kalau Sebyul lah yang sedang ia bicarakan saat ini.

“dia baik sekali. Namanya Do Kyungsoo. Dia pernah menampungku beberapa kali dirumahnya ketika aku kabur dari rumah, saat sekolah menengah dulu. Dia yang menyeretku dari perkelahianku dengan orang asing di club saat aku mabuk berat. Dia memasak makanan yang enak juga.”

“Tapi kalau aku tidak menghancurkanya, ada satu orang lain yang mungkin bisa terancam hidupnya.” Tambah Jongin.

“Siapa yang mengancammu?”

“Sebut saja, dia seorang wanita yang memiliki—“

“Seorang wanita?”

“Ya.” Jongin menoleh menatap Sebyul. Dengan jarak yang begitu dekat ia bisa melihat pori – pori di wajah Sebyul yang bersih tanpa makeup, dan bola mata Sebyul ternyata lebih kecokelatan jika dilihat lebih dekat.

“Aku tidak tau kenapa kau takut dengan ancaman seorang wanita.”

Dalam hati Jongin juga mempertanyakan hal yang sama, kenapa ia takut dengan ancaman Clara? Kenapa Jongin menurut begitu saja ketika Clara menyuruhnya menghancurkan bisnis Kyungsoo? Teman baiknya sejak kecil.

“Selama kau bisa melawannya sendiri dengan tidak mengorbankan siapapun, kenapa kau tidak melakukannya?”

Tiba – tiba ponsel Jongin berdering, Sebyul mengalihkan perhatiannya ke ponsel hitam yang tergeletak diatas meja. Clara is calling. Dan wajah cantik seorang wanita terpampang disana, ia butuh mencerna beberapa detik lamanya untuk mengenali siapa wanita itu. Dan ia pernah melihatnya. Sebyul terkesiap.

Jongin segera menyambar ponselnya kemudian berdiri dan berjalan menjauh untuk menerima telepon.

Foto dalam panggilan itu—

Hello, honey?”

Jongin melangkah keluar dari dapur, Sebyul bangkit berdiri untuk melihatnya yang kini berdiri didekat pintu apartemen dengan ponselnya yang masih menempel pada telinga Jongin. Sebyul mengamatinya sesaat lalu menghela nafas, “honey..” gumamnya lalu tersenyum kecut.

Jadi selama ini Jongin memiliki kekasih. Dan wanita yang menamparnya sewaktu itu adalah kekasih Jongin.

Sepertinya Sebyul mengerti kemana arah pembicaraannya dengan Jongin tadi. Bodoh! Tentu saja pria seperti Jongin pasti punya kekasih. Dan seorang pewaris sepertinya bagaikan mutiara yang tidak boleh jatuh ketangan orang yang tidak pantas. Oh, tentu saja wanita bernama Clara itu marah pada Sebyul.

Sebyul berbalik lalu mengambil selembar post-it yang tergeletak disamping kulkas. Ia menulis sesuatu disana. Ia melirik jam yang menunjukan pukul delapan lewat. Sebyul harus berangkat kerja sebentar lagi.

“Hei Sebyul, aku ada keperluan mungkin aku tidak bisa berlama – lama disini.”

Sebyul menoleh kebelakang lalu ia mengangguk pada Jongin. “Tunggu sebentar” ia membuka lemari kayu diatasnya, mengambil sebuah cangkir yang masih terbungkus rapi oleh plastik bening kemudian memberikannya pada Jongin.

Jongin menerimanya dengan bingung. “Kau mengatakan undiannya bulan depan?”

Sebyul mengangguk. “Aku belum mengatakan padamu kalau aku punya dua cangkir Iron Man.”

“Gomawo, Sebyul.” Sebyul hanya membalasnya dengan seutas senyuman. Jongin berbalik, berjalan melewati ruang tengah dimana Junhong sibuk mengerjakan PR nya dengan bungkus KitKan yang berserakan. Begitu Jongin sampai diluar dengan menutup pintu apartemen, ia memperhatikan gelas ditangannya.

Selembar post-it menempel didepan wajah Iron Man.

“Words are easy, like the wind; Faithful friends are hard to find.”

― William Shakespeare

 

 

 

***

 

01.43 AM

 

Jongin mengambil rokok keduanya dari dalam bungkus, menyulut ujungnya dengan api lalu meletakkannya diantara bibir. Aroma nikotin menguap diudara ketika Jongin menghembuskan asapnya. Ia merokok dengan damai, seolah tak ada beban. Tak ada kata – kata yang mampu mendeskripsikannya saat ini, pikirannya terlalu acak.

He always in a mess.

Alunan Romantically milik Block B mengudara didalam ruangan. Di salah satu café yang dikelola oleh Jongin. Ia nyaris minum malam ini, tapi Jongin butuh berpikir. Ia harus berpikir jernih jadi ia tidak boleh mabuk.

“Aku pikir kau tidak bisa mengancamku, Clara.”

“mengapa?”

“Apa yang membuatmu yakin kalau Sebyul bisa menjadi senjatamu untuk mengancamku? Memang kau tau apa hubunganku dengannya? Kau sudah melihat apartemennya? Apakah dia kaya? Dia biasa saja. Apa yang aku butuhkan darinya?”

“Kau peduli. Kau bisa berkata seperti ini karena aku belum memberikan namanya pada ibumu.”

“Clara, kalau kau terus- terusan curiga seperti ini, aku bisa saja mengencaninya. Atau kau mau aku menikahinya?”

Clara melebarkan matanya. Tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. “Jangan gila Kim Jongin!”

“Kau menamparnya sekali lagi, aku akan pastikan dia menjadi kekasihku.”

 

Sebyul benar, Jika Jongin bisa mengancam Clara balik kenapa tidak ia lakukan? Walaupun begitu ia mungkin akan membawa Sebyul secara pelan – pelan kedalam hidupnya. Ia tidak bermaksud begitu. Awalnya. Tapi sepertinya Sebyul terlalu menarik untuk diabaikan. Wanita itu butuh pertolongan, dan begitupun dirinya. Sebyul memmbuat Jongin berani. Jongin selalu bersembunyi dalam ancaman, dalam hubungan tanpa cintanya dengan Clara. Dengan ketakutannya terhadap ibunya. Jongin hanya berani main adu tangan saja, tapi mentalnya tak terlatih untuk berani.

He lost.

“Mana martini mu hari ini, Kai?”

Jongin menoleh dan mendapati Kyungsoo duduk disampingnya dengan senyuman lebar. “Aku sudah mengurus mobilmu, minggu depan Ferrari mu sudah bisa kembali lagi. dan korban tabrakan itu, dia sudah membaik dirumah sakit. Lain kali jangan mengemudi di Gangnam ketika kau hangover, babo kkamjong!”

Jongin yakin ia akan jadi pria terjahat sedunia kalau saja ia menghancurkan Kyungsoo. Mana mungkin bisa? Kyungsoo sebaik ini padanya. Ia mendapatkan afeksi layaknya ayah berperilaku pada anaknya, yang Jongin tidak pernah dapatkan dari kecil.

“Hei Kai!” seorang pria tinggi dengan rambut hitam cepak, dengan senyum lebar diwajahnya menampakkan deretan gigi rapinya yang bersih. Ia mengangkat sebotol Soju untuk dipamerkan pada Kai. “Mau minum malam ini?” Park Chanyeol. Sang Casanova.

“Dia sedang tidak minum malam ini.” Kyungsoo menyuarakan pikiran Jongin.

Diikuti oleh seorang pria yang lain yang berjalan dibelakang Chanyeol dengan tab ditangannya. Baginya kemanapun pergi, ada suatu hal yang harus ia pantau setiap saat. “Ya! Apakah kau tidak bosan dengan forex? Get a life, Luhan. Cari wanita!” Chanyeol menyenggol bahu Luhan. Pria tuan saham itu bergeming.

Kalau saja Jongin jadi menghancurkan bisnis Kyungsoo, tidak mungkin Kyungsoo tidak marah padanya, dan hal itu juga tidak menutup kemungkinan kalau ia akan kehilangan Chanyeol dan Luhan. Sungguh, terimakasih mungkin tidak akan cukup bagi Sebyul.

Sebyul, bagaimana aku membalasmu?

 

One message from Jo Sebyul

Hei apakah perusahaanmu masih membutuhkan translator bahasa Jepang?

 

 

Jongin tersenyum penuh arti.

“Yah kkamjongie! Wae?” chanyeol menyenggol lengan Jongin namun hanya dibalas dengan seringaian. “Sepertinya aku harus memecat satu translator bahasa jepang di kantor besok.”

“dan kau, Luhan.” Jongin menunjuk Luhan yang berdiri inosen dihadapannya. “Kau ikut denganku besok.”

“Aku? Hei aku ada janji dengan seorang Emiten untuk membicarakan saham—“

Jongin melototkan matanya.

“Ah, jinja.” Luhan menghela napas. “Ya. Aku ikut denganmu besok.”

 

 

TBC

 

sorry for late post!

to the point ya, aku stop Desirable di FFindo sampai chapter ini karena suka lupa publish di FFindo dan chapternya bakal panjang banget jadi kalo yang mau lanjutannya bisa baca di blog pribadi. DAN BACANYA DARI CHAPTER 7 YA SOALNYA CHAPTER 6 NYA SAMA KAYA CHAPTER 5 DISINI (bingung gak) XD

Btw jangan lupa komen ya! Thank you 🙂

 

 

 

 

 

27 responses to “[Chapter 5] DESIRABLE

  1. Aaargg Jinjja?? Aku baru buka ffindo lagi nih and beruntung banget Desirable chapter 5 udah di post 감사합니다 oke ceritanya seru thor tapi Sebyul bakal fall in love sama Jongin kan? Iya kan? Duh kepo nih keep writing ya thor aku tunggu chapter selanjutnya.Alright sekarang aku mau ke blog pribadi author

  2. Hahahahahaha

    Luhan nurut banged sama kkamjong

    makin lama makin tambah tambah dan tambah seru kak

    hahaha

    Ok
    yang dapat saya sampaikan hanyalan ‘Keep Writing’
    itu doang
    soalnya g ada yang mau dikomen dari hasil karya kakak 😀
    hehe

  3. it’s been a longg time since the last time I read this story
    wkwkwk
    jadi hubungannya jongin sama clara ini semacam gantung tapi clara punya kuasa buat ngontrol jongin gitu?
    hemm
    I guess sebyul emang hrus sma jongin buat ngajarin jongin buat jadi dewasa deh
    wkwkwk
    ditunggu cerita selanjutnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s