[4] Secretly, Falling

BupKnauCQAAEDAi

SECRETLY, FALLING

By: hgks11

Park Aeri – Kim Jongin – Kim Joonmyun

PG15-17

[due to the scenes and languages]

Drama-Romance-Angst-University AU

***

WARNING! : PLEASE TO THE ONE WHO IS STILL UNDERAGE, PLEASE DON’T READ THIS FICT IF I MAY ADVICE YOU. THERE ARE SOME SCENES THAT’S NOT SUITABLE FOR PEOPLE UNDERAGE. THANKS.

[be wise before you decided to read this fict]

 

 [ 3A ] / [3B]

 

 

AUTHOR’S POV

 

 

So we’re good now?” tanya Kai. Dengan sengaja, Sehun menekan luka di tangan Kai yang sedang diperbannya itu, sambil mendengus sebal.

“Ouch! Yah!” Kai meringis kesakitan sambil menatap tajam ke arah Sehun.

Yes. Are you happy?” Kai mengangguk-anggukkan kepalanya semangat—seperti anak kecil—dan sebuah senyum lebar menghiasi wajahnya. Sehun mencibir melihat wajah senang Kai, membuat laki-laki di hadapannya itu mengerutkan dahinya.

 

“Yah, kau tidak senang?” tanya Kai sambil memperhatikan Sehun yang membereskan kotak p3k miliknya.

“Bagaimana aku bisa senang? Sehabis ini aku yakin aku akan didamprat habis-habisan oleh Aeri” dengus Sehun.

Slow, dude! Kau kan her super duper bestest-test-test best friend she ever—“ sebuah bantal melayang ke wajah Kai, menghentikan ucapannya yang belum selesai.

“Yah!”

“Tapi, bukan berarti I’ll get out from her wrath that easy, you punk!” ujar Sehun sambil menatap tajam ke arah Kai, yang hanya ditanggapi dengan sebuah cengiran bodoh di wajah Kai.

 

Well, ayolah! Jangan merengek seperti itu, Oh Sehun. Anggap saja, kau tidak pernah membocorkan rahasia Aeri!” saran Kai masih dengan sebuah cengiran di wajahnya. Sehun menggeleng pelan, sebuah helaan nafas terselip keluar dari bibirnya. Tiba-tiba pikirannya melayang ke gadis yang selalu ada sepanjang hidupnya. Sebuah senyum muncul dengan sendirinya di wajah Sehun, saat gambar-gambar masa kecilnya dan Aeri berputar seperti sebuah film di otaknya.

 

 

FLASHBACK

“Sehun! Sehunnie!” Sehun kecil menolehkan kepalanya ke arah Aeri, menatap gadis berponi itu dengan tatapan bingung. Sehun berlari kecil dengan kedua kaki mungilnya, menghampiri Aeri yang terduduk di atas pasir pantai.

“Ada apa Aewwiiy?” tanya Sehun, masih kesusahan menyebutkan huruf R di nama Aeri. Aeri tersenyum lebar, jari mungilnya menunjuk gambar yang dibuatnya di atas pasir.

“Huh? Gambar siapa ini?”

“Kau tidak bisa menebaknya? Sehunnie pabo”

“Mwooyaa? Ummaa! Aewiy memanggilku pa—“ tangan mungil Aeri menutup mulut Sehun, menghentikan bocah itu mengadukannya pada ummanya. Aeri menatap tajam ke arah Sehun, memarahi laki-laki malang di sebelahnya.

Bibir Sehun mengerucutkan bibirnya sebal, melihat Aeri yang mempunyai kekuasaan atas dirinya. Dalam hatinya, Sehun kecil berkata, Saat aku besar nanti, aku akan tumbuh lebih besar dan tinggi darimu, Park Aeri! Lihat saja nanti! Kau tidak akan bisa mengejekku seenaknya lagi!

END OF FLASHBACK

 

 

 

Earth to Oh Sehun? Helloo?” lambaian tangan Kai di depan wajahnya, membuyarkan lamunan Sehun.

Huh?”

Tsk.” Kai mendecakkan lidahnya sebal, jadi sedari tadi Sehun tidak mendengarkan apa yang ia bicarakan?

“Kau tidak mendengar apa yang kubilang sedari tadi?” tanya Kai. Sehun menatap Kai bingung, “Memang kau bilang apa?” tanyanya balik. Kai mendengus kesal, laki-laki itu memutar kedua bola matanya malas.

“Aku bilang, bagaimana caranya agar Aeri bisa memaafkanku? Aku berkali-kali bertanya padamu tapi kau malah tersenyum lebar seperti seorang idiot. Apa yang kau pikirkan sedari tadi?” tanya Kai penasaran.

Ayee, nothing” Sehun mengibaskan tangannya pada Kai, tidak mau membahas tentang apa yang ia pikirkan. Tidak mungkin aku mau menceritakan tentang masa-masa di mana Aeri memerintahku seperti seorang diktator.

Kai mengendikkan kedua bahunya acuh mendengar ucapan Sehun.

 

“Jadi?” tanya Kai, kembali menanyakan masalah Aeri pada Sehun.

“Jadi apa?”

“Jadi bagaimana?”

“Bagaimana apa?”

Are you serious Oh Sehun?

What Kim Jongin?

Kai mengacak rambutnya, frustasi dengan kelakuan sahabatnya itu.

Whatever, Oh Sehun! Go to hell!” seru Kai sebal, sebelum ia beranjak dari tempat duduknya dan menuju kamarnya. Sehun menatap bingung Kai yang sudah menghilang di balik pintu kamarnya.

Tbh, what’s wrong with that kid? Tsk”

 

 

***

 

 

 

Arghh—do it slowly. Please—ouch!”

Oh my gosh I’m sorry Suho!”

Suho mengangguk-anggukan kepalanya lemah, mengisyaratkan agar Aeri berhenti meminta maaf.

 

Mian…

Suho menggelengkan kepalanya pelan melihat Aeri yang masih menggigit bibir bawahnya—merasa bersalah. Ia menangkup wajah Aeri dengan kedua telapak tangannya, membuat Aeri mau tak mau menatap wajah Suho.

“Bukankah kubilang tidak apa-apa? Pabo” ejek Suho, mencubit pelan hidung mancung milik Aeri. Aeri nyengir tiga jari mendengar perkataan Suho, yang dibalas dengan cengiran juga oleh Suho.

 

“Hey..”

“Hmm?”

“Kenapa tadi kau membelaku?”

Aeri terdiam mendengar pertanyaan Suho. Kenapa aku membelanya?, tanya Aeri dalam hatinya. Gadis itu memiringkan kepalanya pelan, mengingat-ingat apa yang terjadi beberapa saat lalu. Ia terus memutar otaknya, mencoba mencari jawabannya. Tapi nihil, ia sendiri tidak tahu kenapa ia membela Suho tadi.

 

Drrtt.. Drrtt..

Yeoboseyo?”

 

Aeri menghela nafas pelan, lega karena terhindar dari kewajibannya untuk menjawab pertanyaan Suho. Melihat Suho yang beranjak dari posisi duduknya, Aeri segera merapikan kotak p3k di depannya. Aeri berdiri, hendak mengembalikan kotak di tangannya ke buffet di kamar mandinya, namun sebuah tangan memegang pergelangan tangannya—membuatnya terhenti. Kedua bola mata Aeri menatap pemilik tangan yang kini melingkar di pergelangan tangannya, memandang laki-laki itu sedikit bingung. Suho masih tampak berbicara dengan seseorang yang ntah berada di mana dan siapa, tapi kedua bola mata laki-laki itu menatap ke arah Aeri—seolah-olah meminta gadis itu untuk menunggu sebentar.

 

Eoh, kkeuno” Suho memutuskan sambungan telepon dengan Luhan, sebelum ia mengambil jaketnya yang tersampir di bahu sofa.

“Kau tidak apa-apa jika kutinggal? Aku.. harus pergi ke suatu tempat” ujar Suho ragu. Sebelah alis Aeri terangkat, apa maksudnya dengan aku tidak apa-apa?

“Bagaimana jika Park Jungsoo sialan itu datang kemari saat kau sedang sendirian?” ujar Suho seperti bisa membaca pikiran Aeri. Perasaan hangat menjalar ke hati Aeri, melihat wajah Suho yang cemas. Sebuah senyum kecil mencari jalannya sendiri ke bibir gadis itu, membuat Suho menatap Aeri bingung.

Huh? Kenapa kau malah tersenyum?”

Aeri menggelengkan kepalanya pelan, “Kau tidak perlu khawatir, Kim Suho. Aku akan menelpon Sehun kemari”. Sebuah helaan nafas lega terdengar dari Suho, membuat senyum di wajah Aeri semakin lebar.

“Baiklah. Hati-hati, oke?” Suho menatap gadis di hadapannya dengan sebuah senyum lembut dan eyesmile-nya, sebelum ia melambaikan tangannya dan berjalan keluar.

Bye, Aeri

Bye Joonmyun..” balas Aeri pelan, pada pintu apartemennya yang kini sudah tertutup rapat kembali.

 

 

**

 

 

Hyung” Suho mempercepat langkahnya menghampiri Luhan, sebelum ia duduk di hadapan laki-laki berwajah remaja itu. Luhan menganggukkan kepalanya, tersenyum pada Suho meskipun Suho dapat melihat dengan jelas raut khawatir di wajah Luhan.

 

“Kau tidak apa-apa?” tanya Luhan begitu ia melihat lebam di wajah Suho. Suho mengibaskan tangannya, “Ahh, I’m alright. You don’t need to worry” kilah Suho, meskipun ia masih bisa merasakan pipinya masih berdenyut-denyut sakit.

Luhan menggelengkan kepalanya pelan, menghela nafas. “Aku sudah tahu apa yang terjadi antara kau dan Kai, Sehun baru saja memberitahuku. Oleh karena itu aku menelponmu ke sini”

Mulut Suho membentuk huruf ‘o’ mendengar ucapan Luhan, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. Apa itu berarti Luhan yang sebenarnya terjadi pada Aeri?

 

Hyung, boleh aku bertanya?” Luhan memandang Suho dengan alis yang sedikit terangkat, sebelum ia menganggukkan kepalanya. “Say it

“Apa yang sebenarnya terjadi pada Aeri?” tanya Suho ragu.

“Apa yang sudah kau ketahui tentang Aeri?” tanya Luhan balik. Kini, giliran Suho yang menghela nafas, lalu menggelengkan kepalanya pelan.

“Entahlah, Lu. Aku tak benar-benar tahu. Yang kutahu, ia begitu ketakutan setelah seorang laki-laki dengan perawakan tinggi keluar dari apartemennya. Dan Aeri.. ia terlihat begitu kacau..” lirih Suho begitu pelan, hingga suaranya hanya hampir tak terdengar oleh Luhan.

 

“Jadi.. kau bertemu dengannya” ucap Luhan pelan.

“Siapa yang kau maksud, Lu?”

“Park Jungsoo, kakak tiri Aeri. Dan juga, psikopat di balik semua trauma yang dialami oleh Aeri sekarang”

 

 

***

 

 

 

Aish!” Suho mengacak rambutnya frustasi, di depan pintu apartemennya sendiri.  Tangannya terkepal lalu terbuka, terangkat, lalu turun. Tangannya terangkat lagi, namun lagi-lagi tangan itu turun kembali. Ia menghela nafas gelisah, bingung bagaimana ia harus menghadapi Kai.

 

Hyung?” Sehun menatap bingung Suho yang terlonjak kaget di depan pintu, dengan tangannya yang terangkat—seperti ingin menekan bel.

“Kenapa kau tidak masuk?” tanya Sehun, yang hanya mendapat helaan nafas sebagai jawaban dari Suho.

Pabo!, maki Sehun dalam hatinya begitu ia menyadari kenapa Suho terlihat gelisah.

“Tenang saja, Suho hyung. Kai tidak lagi marah padamu”

“Benarkah?”

Sehun menganggukkan kepalanya, “Eoh. Masuklah hyung, aku harus ke tempat Aeri sekarang” jelas Sehun. Suho menganggukkan kepalanya mengerti, “Jaga Aeri baik-baik, Sehun” ujar Suho menepuk pundak kanan Sehun, sebelum ia masuk ke dalam apartemennya dan Kai.

“Tentu hyung, kau tidak perlu mengingatkanku” ujar Sehun pelan, lalu melangkahkan kakinya menuju lift.

 

 

**

 

 

Suho melangkah pelan memasuki apartemennya, kedua bola matanya mencari keberadaan adiknya. Suho menarik nafas dalam-dalam, ketika ia melihat Kai yang tengah duduk di atas sofa, dengan sebuah majalah di atas pangkuannya.

 

 

Ayolah, Suho. Cepat minta maaf dan selesaikan masalahmu dengan Jongin. Ini memalukan. Kau, Kim Joonmyun, bertengkar dengan Jongin hanya karena seorang wanita?

 

                                      Tapi dia bukan sembarang wanita, kau tidak mengerti!

 

 

Suho menggelengkan kepalanya pelan, mengusir suara-suara aneh yang terngiang di kepalanya. Lucu sekali, seorang pria berumur 22 tahun sepertinya masih berbicara dengan dirinya sendiri. Setelah berdiri di depan pintu hampir selama 1 jam  10 menit, akhirnya Suho memantapkan hatinya untuk menghampiri Kai. Dengan jantung berdebar, ia melangkahkan kakinya ke arah ruang tengah, dan memanggil adiknya.

“Kai?”

 

 

 

**

 

 

Kai duduk gelisah, kakinya sedari tadi mengetuk-ketuk lantai di bawahnya. Kedua bola mata laki-laki itu menoleh ke kanan dan ke kiri, seperti mencari sesuatu di antara kerumunan pejalan kaki di luar. Ia melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya, melihat angka-angka digital yang menunjukkan waktu.

 

Terlambat 5 menit.

 

Kai mendesah pelan, jantungnya sedari tadi tidak berhenti berdebar kencang. Aeri baru terlambat 5 menit, tapi ntah kenapa 5 menit itu terasa seperti 1 jam bagi Kai. Bongkahan kecil es batu yang berada di dalam minumannya sudah mulai mencair, membuat gelas itu terlihat lebih penuh dari sebelumnya.

 

 

Kai mendongakkan kepalanya begitu kursi di hadapannya di tarik oleh jari-jari lentik nan panjang yang ia kenal sangat baik. Seorang gadis dengan rambutnya yang tercepol rapi dengan beberapa helai anak rambutnya terlihat terurai duduk di depan Kai dengan wajah jutek. Perempuan itu menolehkan kepalanya ke arah jalanan—seakan-akan tidak mau menatap wajah laki-laki tampan di hadapannya. Kai mendesah pelan, “Aeri-ya..” panggilnya.

“Aeri?”

“Park Aeri”

“Aeri Park”

Tidak ada respon. Aeri sama sekali tidak menanggapi panggilan laki-laki berkulit gelap itu. Kai mengacak rambutnya kesal.

“Park Aeri, tak bisakah kau melihat ke arahku saat aku mencoba untuk berbicara padamu?” kini Aeri menolehkan kepalanya ke arah Kai, menatap laki-laki itu dengan tatapan tak tertarik. Lagi-lagi, Kai menghela nafas karena Aeri.

 

“Aeri—“

“Apakah kau memintaku kemari hanya untuk mendengarmu memanggil namaku, Kim Jongin?” potong Aeri pedas, menatap Kai sebal. Kai mendecakkan lidahnya, “Bisakah kau tidak memotong perkataanku, Park Aeri?”

 

“Dengar, Aeri-ya. Aku ingin meminta maaf atas kejadian kemarin, saat di apartemenmu. I’m so so sorry. I just—I can’t control my damn temper that time” aku Kai dengan kepala tertunduk. Kedua tangannya saling terkatup satu sama lain, dan sedari tadi sepatunya terus menerus berderap pelan di bawah meja. Aeri menatap laki-laki di hadapannya baik-baik. Ia tahu, tidak seharusnya ia berlaku seperti ini pada Kai—karena ia tidak tahu apapun tentang Aeri. Dan sekarang, setelah ia tahu tentang Aeri, laki-laki ini datang ke hadapannya meminta maaf sungguh-sungguh. Sebenarnya, Aeri sudah memaafkan Kai semenjak gadis itu tinggal di apartemen Sehun—ya, mau tak mau kini Aeri harus tinggal di apartemen Sehun. Apartemennya? Sudah tidak aman lagi.

 

Tapi tidak ada salahnya bukan? I wanna be angry just a little more, batin Aeri tersenyum licik dalam imajinasinya, begitu sebuah ide jahil muncul di otaknya.

 

“Kau kira meminta maaf segampang itu, Kim Jongin?” ujar Aeri ketus, menatap tajam ke arah Kai. Kai mendesah pelan, “Ya, aku tahu apa yang kulakukan tidak mudah untuk dimaafkan. Aku akan melakukan apapun agar kau memaafkanku, Aeri” jawab Kai penuh harap.

“Apapun?”

“Ya, apapun”

Well.. you can’t take back your words, Kim Kai

 

 

**

 

 

Shit. Shit. Dammit.

Kai terus-menerus mengumpat dalam hatinya, melihat Aeri yang tertawa terbahak-bahak bersama dengan Sehun di hadapannya. Laki-laki berperawakan tinggi dan berkulit sedikit gelap itu kini mengerucutkan bibirnya, sulking over his friends.

Aeri tertawa terbahak-bahak melihat Kai yang sedang mengepak-ngepakkan kedua lengannya seperti seekor ayam. Well, mungkin Kai memang seekor ayam, karena ia juga mengenakan kostum ayam berwarna putih dengan jengger merah.

Sehun sedari tadi memegang handphone miliknya sambil tertawa, merekam Kai dengan kostum ayamnya. Laki-laki berkulit pucat itu mengabaikan tatapan laser yang terus menerus diberikan oleh Kai padanya.

 

This is such a rare moment. I can use this to blackmail him in the future, fufufufu~~

Sebuah tawa evil keluar begitu saja dari bibir Sehun, membuat Kai yang tak sengaja melihatnya melotot ke arah Sehun.

 

Awas kau, Oh Sehun! You little piece of shit.

 

 

 

***

 

 

Ting tong.. Ting tong..

Ting tong.. Ting tong..

 

Sebelah alis Jungsoo terangkat begitu ia tidak mendengar jawaban apapun. Sudah beberapa hari ini, ia mengawasi apartemen Aeri dan beberapa kali mendatangi pintu apartemen gadis itu. Tapi ia tidak mendapatkan respon apapun. Ia sudah memasang kamera pengintai di sekitar apartemen Aeri, dan ia tidak melihat Aeri keluar dari apartemennya sama sekali. Lalu, kenapa ia tidak mendapat respon apapun?

 

“Shit” Jungsoo mengumpat begitu ia menyadari kemungkinan yang terjadi. Mungkinkah Aeri tidak lagi berada di apartemen ini?

“Aku harus memastikannya” gumam laki-laki itu, lalu mengeluarkan ponsel miliknya dari saku celananya. Jari-jarinya sibuk menyentuh layar touch screen itu, before he dials a phone number.

 

“Yah, sekarang juga kau pastikan di mana keberadaan Aeri. Kurasa ia sudah tidak berada di dalam apartemennya lagi. Laporkan padaku secepatnya!” perintah Jungsoo pada orang di seberang telepon. Dan tanpa basa-basi, ia langsung menutup sambungan telepon itu.

“Jika kau benar-benar sudah tak berada di dalam apartemenmu lagi, kau benar-benar bodoh Park Aeri. Kau kira aku tidak bisa melacakmu lagi, eh? I won’t let you off that easy, honey. I’ll find you again. And when I found you, I’ll make sure to take you with me” gumam Jungsoo, menyeringai licik.

 

 

TO BE CONTINUED…

 

 

 

A.N: MAAFKAN SAYAAAAAAA /SOBS HARD/

Maaf karena ngepostnya late banget.. bisa dibilang hampir sebulan.. trus pendek lagi chap 4 nya…… maafkan saya…. ;AAA;

Tapiiii untuk menebus/? Late post chap 4 ini, kalo dalam waktu 24 jam kolom komen di bawah ini bisa sampe 50 comments, chap 5 bakal posted besoook! /yahoooo

Chap 5 lgi on going, jadi aku bakal lembur deh 🙂

Maaf banget chap 4 ini kayaknya mengecewakan dan…… membosankan juga.  I’m so so sorryyy /deep bow/

 

 

 

 

91 responses to “[4] Secretly, Falling

  1. Ahaaaaa baru ngerti wkwkwk. Gila sampai segitu nya kali kakak tirinya aeri. Bagus bagus. Lanjut thor

  2. akkh,,,
    Crazy jungsoo,,damned u..
    I wanna kill u
    Huh
    Untung saja sehun adl sahabat yg slalu ada buat aeri
    Omg,,sweet kai…ur so gentleman

  3. Hahaha..ketawa ngakak waktu kai di minta maaf ke aeri dgn pake kostum ayam? ngakak sumpah..
    pengen bgt deh liat kai pake kostum begituan:v
    aeri evil bgt sumpah:v

    bikin KaRi/? —Kai Aeri pasangan pelissssss’-‘/\

  4. Gilaaaaaa jungsoo nya parah banget psikopatnya. Oke kai mungkin cowok yg bad temper banget dan suho sweet banget. Tapi entah kenapa aku lebih suka kai sama aeri hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s