[Series] Married With A Gay – Chapter 1

FF ini ditulis oleh @nidariahs , bukan oleh saya (Rasyifa), saya hanya membantu untuk membagikannya di FFindo. Tolong berikan apresiasi kalian melalui jejak komentar setelah membaca. Terimakasih~
*Untuk melihat index FF lainnya yang pernah dititipkan melalui saya, Klik disini

married-with-a-guy

Title     : Married With A Gay (Chapter 1)

Genre  : AU, Romance, Marriage Life, Angst

Main Cast: Xi Luhan as EXO M Luhan, Ariel Lau (OC), Zhang Yi Xing as EXO M Lay

Other Cast : Find by your self

Rating : PG

Length : Multichapter

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

Cover by : leesinhyo @exoluhanfanfictionindonesia

Link Married With A Gay: ( Chapter 1 – Chapter 2Chapter 3Chapter 4 Chapter 5Chapter 6Chapter 7 Chapter 8Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12 AChapter 12 BChapter 13 [END] Released)

***

Luhan menatap malas gadis yang tengah menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.Dan dengan nada merengek-rengek, gadis itu terus memohon pada Luhan agar pria itu tidak meninggalkannya.

Baiklah, sebut saja Luhan memang jahat terhadap gadis itu. Sebut saja ia adalah pria brengsek yang hanya mempermainkan hati perempuan. Toh, karena niat awalnya ia hanya ingin tahu apakah ia bisa tertarik pada seorang perempuan…

Dan juga, Ahn Jaehee merupakan salah satu murid terkenal seantero sekolah dengan prestasi dan wajah cantik yang dimilikinya.Semua orang selalu berkata bahwa Luhan adalah laki-laki beruntung karena berhasil mendapatkan Jaehee dengan mudah. Walaupun disisi lain, mereka sama sekali tidak tahu jika Luhan hanya menjadikan gadis itu sebagai kelinci percobaannya.

“Luhan Oppa! Lihat aku!” titah gadis itu. Ia masih tidak terima dengan pernyataan Luhan bahwa hubungan mereka berakhir begitu saja. Dan yang membuat dadanya terasa kebas, Luhan dengan gamblang berkata bahwa Jaehee hanya kelinci percobaannya saja.Luhan tidak mencintainya.Luhan hanya membohongi Jaehee selama ini.

Dan…baiklah.Hentikan itu sekarang.adakah yang lebih menyakitkan dari itu semua?

Luhan pun memutar bola matanya malas ke arah wajah gadis itu, “Apalagi?Aku sudah mengatakan semuanya, dan sekarang kau butuh penjelasan apalagi?Adakah yang kurang jelas?” tanyanya dengan nada kesal yang kentara. Meskipun tidak tega melihat Jaehee hancur karenanya, tapi ia pikir bertindak tegas atas apa yang diucapkannya juga perlu untuk saat ini.

Untuk memperjelas bahwa ia tidak menyukai Jaehee.

“Kau menyukai oranglain?” akhirnya Jaehee bersuara. Dan pertanyaan iu benar-benar menohok perasaan Luhan. Tidak.Sama sekali tidak ada yang salah dengan pertanyaan Jaehee. Juga, sama sekali tidak masalah seandainya ia memang memiliki seseorang yang disukainya…

Masalahnya, adalah siapa yang disukai Luhan saat ini.

“Oppa, jawab aku.Apakah ada oranglain?” desak Jaehee lagi.Ia benar-benar tidak sabar untuk melancarkan labrakan terhadap gadis manapun yang berani merebut Luhan-nya. Tidak.Ia tidak mau hubungannya kandas begitu saja. Seolah semuanya tidak berarti.Ia sudah melewatinya setahun.

Luhan hanya terdiam mencoba membenarkan perasaan dan pikirannya. Dan akhirnya, ia pun mengangkat bahunya dan mengangguk pelan, “Aku pikir dengan menjadi kekasihmu aku bisa melupakan orang itu. Tapi ternyata tidak. Kau…sama sekali tidak menarik. Kau bahkan tidak menaruh satu kesanpun dalam hubungan ini.”Luhan pun menjeda dengan helaan napasnya, “Tapi jika kau mau, aku bisa menjadi temanmu saja…” dan ucapan Luhan terhenti saat tamparan keras itu melayang dengan naas ke pipinya.

“Cukup.Kau brengsek.Dan kau pikir kau bisa memperbaiki segalanya dengan mudah?Kita berakhir?Ya.Kita berakhir. Bahkan aku tidak berharap pernah menjadi kekasihmu Xi Luhan-ssi,”

Luhan pun hanya tersenyum tipis.

  1. Seharusnya aku memang tidak pernah melakukannya, maafkan aku Jaehee-a…

***

“Kudengar kau memutuskan Jaehee, benar begitu?” tanya Yi Xing sambil memantulkan bola ke atas tanah. Dan sambil menunggu jawaban Luhan, Yi Xing mencoba melempar bola ke dalam ring yang berhasil ditangkas Luhan.

Luhan hanya tersenyum menanggapi pertanyaan itu.Sepertinya orang-orang senang sekali memperhatikan dirinya. Semua tentangnya, semua orang seperti mencatatnya dengan baik di sebuah buku biografinya yang tidak ia ketahui. Benar-benar aneh.

“Jadi, itu benar?” tanya Yi Xing sedikit tercengang dengan reaksi Luhan. Jadi, itu benar?Luhan memutuskan Jaehee? Dan ia pun terdiam mengingat bagaimana kecewanya ia saat tahu Jae Hee justru jatuh ke tangan Luhan tanpa ia bisa berbuat apa-apa. Karena dulu, Yi Xing juga menyukai Jae Hee.

“Kenapa diam?” tanya Luhan bingung ketika melihat Yi Xing tidak menghalanginya saat memasukkan bola. Apakah ada ucapannya yang salah?

Yi Xing pun mendengus pelan.Kemudian mendekat ke arah Luhan dan menepuk pundak sahabatnya itu, “Kenapa?Apa kalian ada masalah?” tanyanya dengan nada bijak. Walaupun jika bukan dalam situasi serius, Luhan pasti akan menampakan wajah ingin muntah.

Dan Luhan sendiri tahu Yi Xing baru saja bicara serius terhadapnya.Ia hanya mengerjapkan matanya dan mencoba mengolah pertanyaan Yi Xing.

“Kau tidak suka aku putus dengannya?” tanya Luhan balik.

Yi Xing pun tersenyum dan justru berjalan mendekati tas nya yang berada di pinggir lapang, diikuti Luhan yang berjalan dibelakangnya. Kemudian, Luhan berhenti berjalan saat menerima sebotol air mineral.Dan meneguknya bersama dengan Yi Xing sambil duduk disisinya saat itu.

“Dia gadis yang baik.Dia juga sangat pengertian, tidak banyak menuntut apapun terhadapmu. Dan…kalian putus begitu saja?” tanya Yi Xing lagi. Ia harap ia tidak mendengar jawaban yang tidak mengenakkan di telinganya.

Luhan hanya terdiam sambil memutar-mutar botol air mineralnya, “Aku tahu. Tapi aku sama sekali tidak menyukainya. Bukankah lebih baik ini semua berakhir daripada berlanjut tapi karena keterpaksaan?”

Yi Xing benar-benar hampir tersedak mendengar jawaban gamblang Luhan.Terlebih, Luhan mengatakannya dengan nada sangat santai, seolah-olah semuanya bukan masalah yang perlu diperhitungkan.

“Kau…tidak menyukainya?” tanya Yi Xing dengan suara melunak. Ia harap ia salah dengar, tapi ternyata tidak. Ia mendapat jawaban anggukkan dari Luhan.

“Aku menyukai oranglain.Dan kupikir, dengan memacarinya bisa merubah perasaanku terhadap orang yang kusukai itu,” Luhan termenung menatap kosong air di dalam botol yang mulai tenang, “Tapi salah besar.Melupakannya tidak semudah aku memacari Jaehee.”

Yi Xing benar-benar ingin menghajar Luhan sekarang.pria itu benar-benar brengsek dan sekarang lelaki itu berkata dengan enteng bahwa ia tidak menyukai Jaehee dan secara tidak langsung lelaki itu mengatakan bahwa ia hanya memperalat Jaehee?

“Lu, aku tidak tahu kau setega itu.”Ucap Yi Xing kecewa.

Luhan pun menatap Yi Xing, kemudian tersenyum kecut, “Tidak ada yang lebih tega selain kenyataan bahwa aku menyukai orang yang salah.”

Karena orang itu adalah kau Zhang Yi Xing…kau.

***

Luhan membelalakan matanya.Ia masih terlalu terkejut untuk mencerna seluruh ucapan ibunya beberapa saat lalu. Dan otaknya langsung berlari pada satu nama, Zhang Yi Xing. Semuanya akan berdampak jelas terhadapnya dan terhadap Yi Xing.

“Mama tidak mau tahu,” ucap wanita itu lagi sambil menatap Luhan serius, “Kau tidak bisa menolak. Kau harus kembali ke Beijing lusa dan meneruskan seluruh studimu disana.”Lanjutnya lagi dengan tegas.Seolah berkata bahwa Luhan tidak boleh memiliki alasan apapun mengenai kepindahannya yangs udah diatur.

Luhan kembali menatap wajah ibunya.Ia berharap semuanya adalah kebohongan karena…ia tidak bisa meninggalkan Yi Xing. Tidak.Ia tidak mau. Ia tidak mau pergi begitu saja setelah semua yang menderanya selama ini. Ia sudah cukup tersiksa dengan semua ketidaknormalan yang ia miliki karena Seoul. Dan setelah ia mengorbankan banyak hal, ia kembali ditarik kembali ke Beijing begitu saja?

“Ma.Bukankah aku sudah bilang dulu, jika aku tidak bisa tinggal di Seoul dan mama terus memaksaku. Dan sekarang Mama ingin aku meninggalkan Korea begitu saja?”

Lim Yu Zie –ibu Luhan- hanya menatap serius manik mata putra tunggalnya.Ada nada sedih disana. Dan Yu Zie sama sekali tidak tahu kemana arah perasaan putranya berbicara.

“Bukankah itu bagus? Artinya kau bisa kembali ke Beijing, kan? Seperti keinginanmu.”

Luhan pun bangkit dari tempat duduknya.Menahan segala emosi yang menjepit dadanya.Ia tidak mungkin berteriak-teriak terhadap ibunya sendiri. Ia tidak bisa berkata bahwa ia jatuh cinta terhadap seseorang dan ia tidak bisa meninggalkannya. Karena orang itu adalah Zhang Yi Xing…

Ia tidak siap.

Sama hal nya ketika ia harus menelan kenyataan itu pertama kalinya. Ia tidak siap.

“Kenapa Mama selalu melakukan segala sesuatu sesuai kehendak Mama tanpa mempertimbangkan perasaan oranglain?!” dan setelah mengatakannya, Luhan langsung menyeret kakinya dengan kasar menjauhi ruang tengah rumahnya tersebut.

“Pulang ke Beijing atau kau takkan pernah bisa kembali ke Beijing, Xi Luhan.”

Luhan langsung mematung mendengar ancaman ibunya.Dan Luhan tahu, ibunya tidak pernah main-main dengan ucapannya sendiri.

Dan detik berikutnya, hal pertama yang muncul dalam otaknya adalah…

Bagaimana cara ia menghadapi hari kedepannya dengan keadaan seperti sekarang ini.

***

Yi Xing hanya melongo menatap Luhan tak percaya. Sahabatnya akan pergi? Kembali ke Cina?Tapi kenapa?

“Lu, kau harus menjelaskan sesuatu padaku. Apa ada masalah?” tanya Yi Xing sekali lagi. Bagaimaapun Luhan adalah sahabatnya.Bagaimanapun Luhan adalah satu-satunya orang yang Yi Xing percaya.Terlebih, mereka berdua sama-sama berkewarganegaraan Cina.Ia sama sekali tidak menyangka Luhan akan pindah begitu saja.

Luhan yang tengah membereskan lokernya tiba-tiba berhenti dan menatap Yi Xing.Ada aura luka di mata rusa itu. Dan Yi Xing sama sekali tidak bisa membaca bagian mana yang membuat Luhan terlihat begitu kacau sejak tadi pagi dan berakhir dengan kalimat pamit yang diutarakannya.

Luhan pun mengangkat tangannya dan menepuk pundak Yi Xing beberapa kali, “Aku…akan merindukanmu sobat. Terimakasih untuk segalanya,”

Dan tanpa sepengetahuan siapapun, Luhan menyimpan luka sangat dalam.Tidak.Sebenarnya ada banyak. Namun yang terbesar adalah rasa takut kehilangannya pada Yi Xing yang benar-benar sudah hampir di depan mata.

ia benar-benar akan merindukan Yi Xing. Sangat merindukannya.

***

6 years later…

Seoul, South Korea

Pagi itu, Ariel Lau memulai kegiatan paginya dengan kata terlambat yang menghentak-hentak otaknya.Bagus.Bagus sekali. Setelah dipusingkan dengan setumpuk tugas dari dosen yang benar-benar mencekiknya, searang ia melupakan presentasi penting dan yang terparah ia tidak belajar sama sekali tadi malam.

Oh. Bagus sekali.Ia sama sekali belum benar-benar terbiasa dengan kehidupan Korea. Padahal, dia sudah tinggal disana hampir 4 tahun. Tapi melawan godaan semacam drama korea atau acara musik kesayangannya di tiap channel TV benar-benar setan terparah di Korea. Sepertinya ia harus membuang TV-nya jauh-jauh. Walaupun ia tahu, itu tidak mungkin dan tidak akan pernah terjadi.

Dan setelah menemukan semua barang-barangnya, termasuk satu buku yang rencananya akan ia baca selama perjalanan menuju kampusnya –Kyunghee University, ia langsung berjalan cepat menuju pintu apartemennya. Tak melewatkan satu hal pun, tak terkecuali tersandung botol jus yang belum sempat ia bereskan di ruang tengah.

Persetan dengan semua itu.Dosen Kim lebih mendominasi otaknya saat ini ketimbang kerapihan apartemennya yang layak dipertanyakan.

Dan Ariel hampir menjerit kaget saat melihat sesosok pria tengah berdiri di depan pintunya dengan menampakkan tampang konyolnya. Dan detik berikutnya, ia memukul lengan pria itu dengan buku yang dipegangnya.

“Gege!Kau gila?Kau ingin membuatku jantungan?” protes Ariel sambil mengusap dadanya.

Zhang Yi Xing –nama pria itu, hanya tersenyum melihat ekspresi Ariel yang menggemaskan di matanya. Oh yeah ~ ia memang menyukai segala sesuatu yang berkaitan dengan Ariel. Semuanya.

“Coba kutebak, kau pasti terlambat, kan?”katanya dengan nada menyebalkan –menurut Ariel.

Ariel pun hanya mendengus. Kemudian ia langsung mendorong Yi Xing menjauh dari pintu dan menutup pintunya dengan cepat, “Jika kau sudah tahu, harusnya kau tidak menggangguku Ge!” gerutu Ariel sambil berjalan cepat dengan Yi Xin yang mengekori Ariel dari belakang.

“Bukankah bagus jika ada aku?Artinya akan ada yang mengantarmu, kan?” sahut Yi Xing dengan santai.

Ariel pun memutar bola matanya, “Masalahnya aku sudah benar-benar telat Gege!!!” pekik Ariel yang kini sudah berbalik menghadap Yi Xing.

***

Ariel Lau merupakan salah satu mahasiswi asal Cina yang mendapat beasiswa kuliah di Kyunghee University. Meskipun lahir dan dibesarkan di Toronto –Kanada, tapi karena kebangkrutan ayahnya, membuat kedua orangtuanya berpisah 10 tahun silam dan Ariel memutuskan untuk ikut dengan ibunya ke Cina. Meskipun harus terpisah dari ke-3 kakaknya yang masih tinggal di Kanada saat ini.

Dan bertemu Zhang Yi Xing merupakan kebetulan yang sangat menarik.Ariel menyebutnya dengan ‘rangkaian takdir’.Ia tidak pernah menyangka jika akhirnya ia memutuskan untuk menerima seniornya sendiri 2 tahun lalu. Pria paling tengil, menyebalkan, dan masih banyak deskripsi lain yang memungkinkan Ariel mencoret namaYi Xing dari daftar pria tipe idealnya.

Tapi siapa kira ia justru jatuh hati pada pria semacam itu? Melupakan segala macam tetek bengek masalah criteria idamannya dan yang ia tahu, ia hanya mencintai Zhang Yi Xing.

Dan meskipun mereka berdua sama-sama bisa menggunakan bahasa Cina, tapi mereka lebih memilih untuk menggunakan bahasa korea. Dengan alasan, kaena mereka berkenalan di Korea dan Yi Xing sudah menghabiskan separuh umurnya di Korea.

“Ariel Lau.” Tiba-tiba dosen menyebut nama Ariel dari depan kelas. Dan sayangnya, Ariel masih tenggelam dalam lamunannya sendiri.

Geram tak mendapat sahutan, sekali lagi sang dosen menyebut nama Ariel dan kali ini Ariel berhasil tersadar dari lamunannya.

“Kau bisa keluar jika kau tidak tertarik dengan mata kuliahku Nona Lau.”

Dan Ariel pun hanya bisa menelan ludahnya pahit.Ia pun buru-buru minta maaf sebelum sang dosen mengamuk dan membuat nilainya turun menjadi C. tidak boleh. Itu tidak boleh terjadi atau Ariel akan kehilangan segalanya.

***

“Kenapa kau sering sekali berkunjung kemari?Kau kan sudah tidak kuliah lagi,” kata Ariel sambil mengunyah makanan ringan milik Yi Xing.Saat ini, mereka tengah berada di halaman belakang kampus yang tentunya semua orang tahu bagaimana keindahan tempattersebut.

Yi Xing hanya mendengus. Kemudian ia pun mengambil Milkshake nya dan angkat suara setelah menyedot minuman itu, “Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh mengunjungi pacarku sendiri?”

Ariel terkekeh pelan mendengar nada sewot yang dilontarkan oleh Yi Xing. Dan ya, ia tidak akan lupa bagaimana protektifnya laki-laki itu terhadapnya. Ariel awalnya tidak begitu nyaman dengan sikap Yi Xing yang satu itu.Tapi lama-lama, Ariel justru menyukainya.Meskipun mungkin karena Ariel hanya terbiasa.

“Kau tidak percaya padaku?” tanya Ariel dengan nada kesal dibuat-buat.

Yi Xing dengan cepat menggeleng, “Aku hanya khawatir mahasiswa-mahasiswa genit itu mencoba mendekatimu. Semenjak aku kerja, aku sulit sekali memantau bagaimana sikap memuakkan mereka.”

“Memangnya ada ya mahasiswa yang lebih genit daripada Zhang Yi Xing?” tanya Ariel sedikit mengejek. Tentu saja, seorang Zhang Yi Xing di matanya tetap seorang pria tengil yang juga genit, pandai merayu dan…playboy? oh. Tidak. Yi Xing tidak playboy karena hanya Ariel yang mau menerimanya sebagai kekasih.

“Yak yak yak. Kau mulai lagi…”

Ariel pun tertawa dan mengakhiri tema pembicaraan mereka dengan cubitan di kedua pipi Yi Xing –salah satu kegiatan yang Ariel suka. Meskipun sebenarnya Ariel lebih suka menyentuh lesung pipi Yi Xing, hanya saja ia tak ingin mengambil resiko Yi Xing mengomelinya sepanjang hari karena ia tidak menyukainya.

“Besok kau libur, kan? Bagaimana jika kita jalan-jalan ke pantai?” tawar Yi Xing menatap mata Ariel. Sudah lama sekali ia tidak menghabiskan waktu berdua bersama Ariel.

Ariel mendengus pelan. Kemudian ia pun mengalihkan pandangannya ke arah lain, “Untuk apa? bukannya kau lebih suka menghabiskan waktumu dengan teman kencanmu yang berasal dari Cina itu, huh?” sewot Ariel sedikit kesal mengingat kejadian sebelumnya. dimana Yi Xing lebih memilih mengangkat telpon temannya daripada mengobrol dengannya, lebih sering membalas pesan temannya daripada membalas pesan dari Ariel –dan…ugh! itu amat sangat menjengkelkan.

Yi Xing terdiam beberapa saat sebelum akhirnya membiarkan tawanya meledak begitu saja. Ariel cemburu? Ariel cemburu pada…Luhan? astaga. Bahkan Luhan seorang pria dan yang benar saja.

“Gege…itu sama sekali tidak lucu. Jadi, seharusnya tidak ada yang membuatmu tertawa disini,” gerutu Ariel kesal.

Perlahan Yi Xing pun menghentikan tawanya. Ia tidak igin membiarkan Ariel marah padanya karena hal konyol seperti mentertawakan Ariel dan membuat Ariel tidak ingin menemuinya.

“Jadi, kau tidak ingin pergi besok?”

“Siapa bilang?” sewot Ariel dengan nada tidak terima, “Tentu saja aku mau. Besok kau harus menjemputku. Jika kau terlambat semenit saja, aku tidak ingin berkencan denganmu lagi.”

Yi Xing pun hanya tersenyum dan mengacak rambut Ariel pelan, “Aku tau kau hanya menggertakku. Bahkan sehari saja aku tidak menghubungimu, kau bisa mengkhawatirkanku. Sangat…”

***

-Beijing, China-

Luhan hanya memutar bola matanya malas saat sang ibu mulai berceramah panjang mengenai kencan butanya yang gagal total. Oh, come on~ apakah hari ini merupakan masa dinasti-dinasti yang membosankan? Dimana kaum bangsawan harus menikah lagi dengan kaum bangsawan? Lagipula Luhan masih muda, ia belum mau memikirkan hal hal terlalu serius semacam pernikahan.

Ditambah, Luhan tidak merasa tertarik sedikitpun pada gadis-gadis yang dibawa sang ibu. Tidak. Tepatnya ia tidak tertarik pada wanita…

Dan meskipun ia tersakiti dengan kenyataan ini, tapi Luhan tetap tidak bisa mencoba untuk menerima satupun gadis-gadis itu. Tidak. Ia hanya memikirkan satu orang yang selalu dirindukannya, ia hanya teringat pada seseorang yang selalu menyusup kedalam mimpinya secara diam-diam.

Zhang Yi Xing…ia hanya teringat pada nama itu. Nama yang tenggelam namun tetap tersimpan di sudut hatinya secara diam-diam.

“Luhan, dengar. Jika kau terus seperti ini, setidaknya kau membawa seseorang kehadapanku untuk menjadi menantu keluarga Xi. Kita membutuhkan penerus Lu. Aku menginginkan seorang cucu,” ucap sang Ibu sambil memijit pelan pelipisnya. Oh tentu saja. Ia terlalu dipusingkan mengenai putra tunggalnya yang belum mendapat kepastian masalah pasangan.

Benar. Memang benar Luhan masih muda, ia masih bisa menikah kapanpun Luhan mau. Luhan juga masih berhak mengejar banyak impian dan ambisinya yang belum tercapai. Tapi keinginannya untuk menimang seorang cucu begitu besar. Ia juga terlalu khawatir karena Luhan belum juga memiliki seorang kekasih. Bahkan, ia tidak pernah terlihat dekat dengan gadis manapun.

“Lu…”

“Aku akan memikirkannya. Mama hanya perlu bersabar…” potong Luhan cepat. Meskipun di sudut hatinya terdalam, ada satu keraguan besar yang mengganggu perasaannya.

Kemudian, Luhan pun bangkit dari tempa duduknya dan meninggalkan ruang tengah rumahnya. Mengambil kunci mobilnya dan langsung pergi dari rumah besar itu. Ia butuh sedikit hiburan, sungguh.

***

Luhan kembali memandangi layar ponselnya yang masih terlihat gelap. Ia menunggu balasan sms seseorang yang dirindukannya. Yang belakangan ini kembali muncul ke permukaan hari-harinya. Sedikit menghiasi warna hidupnya. Yeah ~ walaupun sedikit, tapi Luhan sangat menyukainya. Dan sangat berharap, selamanya nama Yi Xing akan menghiasi warna hidupnya.

Tak terusik dengan dentuman musik keras yang menyentuh gendang telinganya, Luhan tetap tersenyum saat nama Yi Xing muncul di layar ponselnya diantara remang-remang lampu Night Club yang didatanginya.

“Oh yeah ~ aku sangat menikmati pekerjaan baruku sebagai pianis disini. Bagaimana denganmu, Lu? Apa kau meneruskan bakatmu dalam menyanyi? Atau olahraga?”

Sederhana dan singkat. Tapi Luhan terlalu menyukainya.

Dengan cepat Luhan menjawab.

“Pasti sangat menyenangkan ya. Kau tahu, Mama takkan melepaskanku begitu saja. Tentunya aku harus meneruskan perusahaan yang dibangun kakekku dengan susah payah. Hanya aku harapan satu-satunya dari keluarga Xi saat ini.”

Dan setelah menjawab sms Yi Xing. Tiba-tiba seorang wanita yang Luhan akui cantik dengan rok mini mendekatinya. Dia kenal gadis itu, dan tentu saja ini bukan yang pertama kali Luhan ‘bersama-sama’ dengan wanita murahan yang dibayar mahal seperti itu. Luhan bahkan sudah beberapa kali tidur dengan wanita-wanita semacam itu. Berharap dirinya yang seorang gay merupakan kebohongan semata. Mungkin saja ia menyukai Yi Xing hanya sebagai teman, kan? Dan sayangnya, berkali-kalipun ia berusaha menikmati ‘tidurnya’ dengan gadis-gadis itu, itu tak pernah berhasil.

“Kau sepertinya sedang ada pikiran, ada masalah Xi?” panggil gadis itu dengan nada manjanya.

Luhan menarik senyumnya dengan terpaksa, “Tidak juga. Kurasa seseorang baru saja membuat aku sedikit terhibur,” sahut Luhan jujur. Ia idak bohong, ia merasa lebih baik ketika Yi Xing membalas sms nya barusa.

“Ah, benarkah? Siapa? Kekasihmu?” tanya gadis itu semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Luhan.

Luhan hanya mengangguk ringan, “Tidak. Bukan kekasihku, tapi seseorang yang aku sukai…” dan hatinya sedikit terluka saat mengatakannya.

Gadis itu pun hanya tersenyum kecut, “Ouh…sayang sekali. Kurasa kesempatanku untuk mendapatkan hatimu sedikit terlambat.” Gerutunya kemudian.

“Tidak. Kurasa aku sudah menyukainya sejak lama…”

“Ah benarkah?” kata gadis itu lagi sambil menuangkan minuman alkohol yang dipesan Luhan ke dalam gelas Luhan.

Luhan pun mengangguk dan meneguk minumannya.

Dan kemudian, gadis itu pun menarik kedua sudut bibirnya, “Tapi kurasa dia tidak pernah mendapatkanmu seperti ini,” gadis itu pun langsung menyentuh rahang Luhan dan menyambar bibir pria itu dengan sedikit kasar. Luhan tahu ia tidak pernah menyukainya, tapi Luhan tetap membalas ciuman gadis itu. Bahkan menarik tengkuk gadis itu untuk memperdalam ciumannya. Berharap ia bisa sembuh dengan itu…

Walaupun gagal.

***

Ariel langsung berlari meninggalkan Yi Xing yang berjalan dibelakangnya. Seperti anak kecil, ia langsung berlari ke arah ombak seolah-olah menantangnya, kemudian ia langsung berlari ketika ada ombak yang berlari mengejarnya.

Yi Xing hanya menggeleng sembari tersenyum kecil. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa ia jatuh hati pada gadis se-childish Ariel. Meskipun dia mahasiswi kesayangan dosennya yang selalu terlihat berwibawa dan membawa karisma yang entah bagaimana Yi Xing menjelaskannya, tapi disisi lain Ariel tetaplah Ariel. Gadis biasa yang tengah mengejar impiannya, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ia bawa.

Dan semuanya yang ada pada Ariel, Yi Xing menyukainya.

“Gege! Kemari! Jangan diam saja!” panggil Ariel yang sedikit memecah lamunan pria itu.

Dan Yi Xing pun balas tersenyum. Hanya berjalan sedikit menghampiri Ariel, dan tidak benar-benar menyusul Ariel yang sudah diterpa ombak di setengah tubuhnya. Ia malas terkena air laut yang membuat tubuhnya lengket.

“Ayolah Ge~ kenapa diam saja? Kemari!” panggil Ariel dengan nada manjanya. Lihat, kan? Ariel benar-benar seperti anak kecil.

“Tidak. Kau saja Nona Lau. Aku malas basah.” Sahut Yi Xing tetap berada di tempatnya.

Ariel pun mengerucutkan bibirnya tidak terima. Bagaimana bisa Yi Xing yang jelas-jelas mengajaknya berkencan justru malah memilih diam berada di tepi pantai seperti itu? Benar-benar tidak asyik.

“Gege…”

Yi Xing tetap menggelengkan kepalanya saat mendengar rengeka Ariel. Dan dengan kesal Ariel pun menghampiri Yi Xing dan langsung menarik lengan pria itu. Dan tentu saja itu gagal karena Yi Xing justru balik menarik lengan Ariel dan langsung menempelkan bibirnya di permukaan bibir gadis itu.

“Sepertinya setelah kau lulus kuliah, aku akan langsung mengikatmu dengan cincin pernikahan,” kata Yi Xing setelah melepaskan ciumannya. Tangan pria itu langsung melingkar sempurna di pinggang Ariel, tidak peduli dengan banyak pasang mata yang memperhatikan mereka.

Dan tanpa terasa, pipi Ariel berubah menjadi merah. Ia cukup terkesima dengan perlakuan Yi Xing.

“Aku akan menunggumu,”

***

Luhan benar-benar merasa terpukul saat melihat status terbaru Yi Xing di akun SNS-nya. Disana tertulis, “I always loving you Miss.Lau.” oh yeah. Luhan baru saja merasakan cemburu yang…entahlah. bagaimana cara Luhan mendeskripsikannya?

Luhan harusnya bisa siap dengan kenyataan ini. Luhan harusnya tahu satu hal, bahwa Yi Xing hanya sahabatnya dengan dunia normalnya. Berkebalikan dengan Luhan yang perlu menanggung beban cukup berat. Terutama di dadanya, tepat di hatinya yang belakangan sering terluka. Dan kali ini, lukanya sedikit lebih parah.

Yi Xing memiliki kekasih.

Yi Xing akan menikah nantinya.

Yi Xing akan memiliki kehidupan bahagianya dengan keluarganya yang akan menjadi tanggung jawabnya.

Dan bagaimana dengan Luhan?

***

Luhan sebenarnya malas saat sang Ibu lagi-lagi memanggilnya. Ia harap kali ini tidak ada pembahasan mengenai gadis yang akan dijodohkan sang ibu terhadapnya. Ia terlalu pusing. Ia belum selesai dengan urusan hatinya, dan ia tidak ingin dipusingkan oleh permintan ibunya.

Saat Luhan masuk ke ruang kerja sang ibu, ibunya langsung mendongak menatap putranya dan meletakan semua berkas-berkas yang Luhan sendiri kurang tahu apa isinya.

“Ma, aku lelah. Jika Mama…”

“Kau bahkan sudah menolak sebelum aku mulai bicara, Lu,” tutur sang ibu dengan nada kecewa. Ia tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan putranya, ia sendiri juga sebenarnya merasa jengah harus memperkenalkan banyak gadis pada Luhan. Tapi ia juga butuh kepastian untuk masa depan putranya sendiri.

Luhan mendengus pelan. Ia tidak tertarik untuk melakukan kencan buta dengan siapapun. Ia lelah. Lelah fisik dan juga pikiran.

“Maaf Ma. Tapi sungguh, kumohon kali ini saja jangan dulu bahas mengenai gadis manapun. Jika aku siap, aku pasti akan menikahi seseorang nantinya,” dan Luhan baru saja berbohong.

Nyonya Xi pun langsung menyandarkan punggungnya ke sandaran kursinya dan melipat tangannya angkuh.

“Jadi kau memiliki kekasih?” Nyonya Xi mulai dengan interogasinya.

“Ma…”

“Kalau begitu kenapa tidak kau coba kenalkan padaku? Gadis mana dia? Siapa namanya?”

“Ma…”

“Luhan…”

“Mama stop! Aku tidak memiliki kekasih! Aku hanya menyukai seseorang dan…”

Luhan langsung tersadar kemana arah pembicaraannya. Ia benar-benar terpancing.

“Dan apa?”

Luhan mendengus pelan sebelum akhirnya berkata, “Tidak akan pernah bisa memilikinya,”

Nyonya Xi yang belum menangkap maksud perkataan Luhan hanya menautkan alisnya bingung, “Kenapa?”

“Karena dia…Yi Xing,”

Dan sekali lagi Nyonya Xi mengerutkan dahinya, “Yi Xing? Apa maksudmu?” dan setelah teringat satu nama Yi Xing lagi, Nyonya Xi langsung membulatkan matanya.

“Tunggu dulu. Bukankah teman SMA mu…”

“Ya, yang kumaksud adalah Zhang Yi Xing.”

***

Ariel terus saja mengusap hidungnya dengan tissue yang mendadak ia beli tadi pagi sebelum berangkat kuliah. Entah gara-gara apa, tiba-tiba saja flu menyerangnya dan membuat hidungnya mampet semalaman. Dan yang terparah, ia terpaksa harus tidur melewatkan jam belajarnya karena efek obat flu yang diminumnya.

“Baek, tugasmu sudah selesai?” tanya Ariel dengan suara sengaunya yang mengganggu ditelinga Ariel.

Baekhyun yang sedang sibuk dengan Ipad nya hanya menoleh sekilas, kemudian mengangguk pelan. Tidak tertarik dengan pembahasan tugas dan lebih tertarik menanyakan soal suara sengau Ariel yang menurutnya…lucu?

“Kau kenapa?” tanya Baekhyun akhirnya.

Ariel yang baru duduk di samping Baekhyun langsung menyahut, “Flu. Apalagi?” sahut Ariel agak ketus.

Baekhyun pun mengernyitka dahinya dan menyikut lengan Ariel ringan, “Kau tidak perlu sewot begitu. Aku kan hanya bertanya.” Balas Baekhyun tak kalah ketus yang dibalas helaan napas Ariel.

“Lagipula pertanyaanmu tidak elit sama sekali.” Gerutu Ariel.

Baekhyun pun hanya menggeleng pelan, tidak habis pikir dengan gadis berdarah Cina yang entah mengapa bisa ditakdirkan untuk menjadi temannya.

Ariel baru saja akan berceloteh panjang pada Baekhyun mengenai Yi Xing-nya saat tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Dan untuk pertama kalinya Ariel membenci nada dering ponselnya sendiri. Padahal itu lagu favoritnya dari DBSK –salah satu boyband favoritnya di Korea.

Dan Ariel kehilangan rasa kesalnya saat tahu siapa orang yang menelponnya disaat kesehatannya tengah diambang kata kurang baik itu. Dan dengan cepat Ariel mengangkatnya.

“Ni Hao ~ Mama…”

***

Yi Xing menghela napas berat saat mendapati Ariel yang tengah sibuk membereskan ini itu ke dalam tas dan kopernya. Entah Yi Xing harus menyebutnya kabar baik atau kabar buruk. Tapi Ariel terlalu senang untuk ini, Ariel sudah lama tidak bertemu ibunya dan tiba-tiba ibunya menyuruh Ariel datang ke Beijing. Padahal Ariel selalu dilarang pulang ke Beijing jika tidak mendesak. Nyonya Lim –nama ibu Ariel- ingin Ariel sungguh-sungguh dalam masalah pendidikan. Jadi, apapun alasannya jika menurut sang ibu itu tidak mendesak, maka Ariel tidak akan bisa pulang.

“Berapa lama kau akan berada di Cina?” tanya Yi Xing mencoba menyembunyikan keresahannya. Walaupun Ariel mengetahuinya.

Ariel pun tersenyum lembut ke arah Yi Xing, “Aku akan kembali secepatnya. Jangan khawatir.” Ucapnya meyakinkan. Entah sejak kapan Yi Xing berubah menjadi sangat manja seperti sekarang ini.

“Ujianmu sudah selesai dan kau hanya perlu menunggu sidang akhir.” Gumam Yi Xing tanpa sadar, pikirannya sudah melayang jauh kemana-mana. Dan apalagi yang dipikirkannya jika bukan soal Ariel?

“Dan setelah itu aku akan kembali untukmu. Menagih janjimu,” kata Ariel yang membuat Yi Xing tersenyum kecil. Oh yeah ~ ucapan Ariel sejalan dengan pikirannya barusan.

“Aku harus menemui orangtuamu segera,”

Ariel pun mengangguk, “Ya. Harus.”

***

Luhan tercenung saat mendapati sang ibu terkapar lemah di ranjang rumah sakit setelah mendapat pengakuannya yang…menyakitkan. lagi, Luhan menyeka airmatanya dan mengusap wajahnya dengan frustasi. Kelainannya bukan hanya menyakiti dirinya sendiri, tapi juga orang yang paling disayanginya di dunia ini.

Luhan akan melakukan apapun untuk sembuh. Sungguh. Ia akan melakukan apapun asal ia tidak lagi melakukan hal yang bisa membuat ibunya sakit seperti ini. Ia benar-benar tidak bermaksud menyakiti ibunya.

Demi Tuhan. Jika ia tahu akan berakhir seperti ini, ia tidak akan mengatakan hal yang sebenarnya pada sang ibu. Ia terlalu tolol, bodoh dan naif. Harusnya ia bisa berpikir lebih panjang dan bukannya malah mengikuti emosinya.

“Tuan Muda? Anda baik-baik saja?” Luhan mendongak menatap Bibi Lim –kepala pembantu di rumahnya.

Luhan pun hanya bisa tersenyum kecut. Ia tidak menjawab sama sekali. Ia keburu diserang rasa malu karena…Bibi Lim mengetahui kelainannya. Dia tahu Luhan gay dan tentunya ini sedikit menyakiti perasaannya. Bagaimanapun gay adalah bentuk penyimpangan sosial yang tidak mudah diterima di masyarakat. Dan ia tidak mau membayangkan bagaimana jijiknya Bibi Lim saat melihatnya.

Bibi Lim pun duduk di samping Luhan. Ia sangat tahu bagaimana kacaunya pikiran dan perasaan Luhan. Kemudian ia pun mengusap pelan pundak anak tunggal majikannya ini. Melihat Luhan, membuatnya teringat pada kedua putranya yang tinggal di Kanada, Clinton dan Henry.

“Tidak apa-apa. Tenang saja, Nyonya Besar baik-baik saja,” ucapnya setengah menghibur. Merasa cukup iba dengan masalah yang baru saja menimpa keluarga Xi ini.

Luhan pun menoleh ke arah Bibi Lim dan menatapnya dalam, “Bibi tidak merasa risih padaku?” tanyanya dengan suara parau. Ia sama sekali tidak menyembunyikan semua perasaannya. Tidak. Ia tidak lagi bisa.

Bibi Lim pun tersenyum pada Luhan, “Untuk apa? Tidak ada alasan sama sekali untukku merasa risih pada anda. Setiap orang memiliki masalahnya masing-masing. Dan siapapun pasti berharap tidak memiliki masalah, walaupun itu tidak mungkin,” katanya lagi dengan nada tenang. Juga sedikit menenangkan Luhan.

Dan obrolan ringan mereka berakhir saat dokter yang tengah memeriksa Nyonya Xi keluar dari dalam ruang pemeriksaan.

“Bagaimana keadaan ibu saya dok?” tanya Luhan to the point.

Sang dokter awalnya hanya menatap Luhan sampai akhirnya ia mengangguk pelan, “Syukurlah dia baik-baik saja. Nyonya Xi hanya perlu istirahat cukup dan tidak terlalu banyak pikiran. Sebentar lagi dia akan sadar,”

Dan mendengar itu, Luhan langsung bisa bernapas lega. Ia langsung berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga ibunya dengan baik. Bagaimana pun caranya.

***

Beberapa menit lalu, Nyonya Xi baru saja membuka matanya. Dan tentu saja, airmata menjadi penghias utama ruangan itu. Airmata penyesalan Luhan dan juga airmata kesedihan Nyonya Xi. Ia juga ikut merasa terluka saat tahu bagaimana beban yang dipikul putranya selama ini.

Dengan sekuat tenaga, Nyonya Xi mengangkat tangannya dan mengusap kepala Luhan. Sudah sangat lama sekali ia tidak melakkan itu pada putra semata wayangnya yang sangat manja dan egois itu. Ia merindukan bagaimana sikap keras kepala Luhan saat membantar perkataan Nyonya Xi. Dan ia rasa, ia salah telah membiarkan Luhan sempat tinggal di Korea dan membiarkan Luhan bertemu dengan Yi Xing.

“Lu…jangan menangis. Ini semua bukan salahmu. Mama yang salah…” ucapnya menenangkan Luhan.

Luhan menggeleng cepat, “Aku yang salah. Maaf Ma…maaf…”

Nyonya Xi kembali menggeleng, “Tidak ada satu pun orang yang berharap dirinya tidak normal…bukan, berbeda. Kau hanya berbeda, dan tidak ada yang salah dengan itu, kan? Tidak ada satupun orang yang tidak ingin hidup normal. Semua bukan kesalahanmu. Bukan kau yang menginginkannya, kan?” tangan wanita itu kembali mengusap kepala putra tunggalnya.

“Ma…”

“Pulanglah Lu, aku baik-baik saja. Kau juga perlu istirahat,”

Luhan pun menggeleng cepat, “Tidak Ma, aku harus tetap disini…”

“Lu, dengarkan Mama kali ini saja. Pulanglah malam ini, kau bisa datang kembali kemari besok,”

“Ma…”

“Bibi Lim, suruh Supir Song mengantar Luhan pulang.”

“Ma…” sekali lagi Luhan merengek. Ia benar-benar tidak bisa meninggalkan Mamanya dalam keadaan seperti ini. Ia yang membuat sang Mama sakit, ia yang membuat masalah dalam keluarga Xi, bagaimana bisa ia meninggalkan ibunya begitu saja?

“Lu, jika kau menyayangiku, ikuti perintahku. Mengerti? Kau baik-baik saja. Bahkan jika aku mau, besok aku sudah bisa kembali ke rumah. Jaga kesehatanmu baik-baik, kau tahu posisimu saat ini menuntut segalanya darimu. Mengerti?”

***

Lim Jin Ha tersenyum kecil pada Tuang Song –salah satu supir pribadi Nyonya Xi- yang akan mengantar Luhan pulang. Ia sudah mengabdi pada keluarga Xi selama bertahun-tahun, dan bisa dibilang baru kali ini ia mendapati putra tunggal keluarga Xi sangat terlihat lemah. Begitu menunjukkan sisi dirinya.

“Apa Nyonya sudah memerintahkan untuk menghubungi Tuan Xi?” tanyanya sebelum ia membuka pintu mobil.

Lim hanya menggeleng pelan. Tangan wanita itu mulai memeluk tubuhnya sendiri, meskipun cuaca tidak dingin, tapi ia rasa ia butuh satu lapis baju hangat setelah masuk ke dalam.

“Kau tahu bagaimana buruknya hubungan mereka berdua. Padahal mereka saling mencintai. Aku tidak mengerti, bagaimana bisa ada hubungan semacam itu, padahal usia mereka tak lagi bisa dikatakan muda,” dan tanpa sengaja, Lim sudah berkelakar terlalu jauh. Bahkan tanpa sadar ia sudah mengenang banyak hal yang sebenarnya bukan lagi urusannya. Tapi sebagai seorang wanita yang pernah berkeluarga, tentu saja hati kecilnya tidak bisa diam begitu saja.

Tuan Song hanya tersenyum kecil, sedikit paham kemana arah pembicaraan dari wanita berkepala empat tersebut, “Kau hanya terlalu terbawa suasana Bibi Lim.” Sahutnya kemudian sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil dan pamit. Ia juga tidak buta mengenai bagaimana kenangan yang entah harus ia sebut pahit atau manis mengenai keluarga Lim dan anak-anaknya yang kini bermarga ‘Lau’ tersebut.

Lim hanya mengerjapkan matanya. Oh ya. Ia terlalu jauh melamun yang seharusnya ia tidak lamunkan.

Ia baru saja akan berbalik saat tiba-tiba ponselnya bergetar di dalam sakunya. Dengan cepat, ia pun segera mengeluarkan ponsel tersebut dari sakunya. Cukup tertegun saat mendapati nama ‘Withney Lau’ disana. Anak ketiganya yang kini menetap di Austria.

“Hallo?” sapanya terlebih dahulu. Sedikit senang karena rindunya dapat sedikit terobati pada sang putr tercinta yang kini sibuk mengejar mimpinya di Austria.

Dan untuk beberapa saat, mereka berdua tenggelam dalam obrolan santai yang cukup mereka rindukan. Tidak. Mungkin sangat. Bahkan Lim Jin Ha hampir lupa bahwa ia harus segera kembali untuk menemui majikannya.

“Ma, sebenarnya aku ada satu masalah…”

Dan Lim terdiam sesaat ketika mendengar curahan putrinya.

***

Dengan perasaan sungkan, Lim kembai memasuki kamar inap VVIP yang ditempati Nyonya Besar Xi. Ia pikir wanita itu sudah tertidur, tapi ia salah besar ketika ia mendapati Nyonya Besar-nya justru malah tengah tersenyum ke arahnya.

“Nyonya, aku…”

Nyonya Xi dengan cepat menggeleng, “Tidak apa-apa. Tenang saja. Aku juga tadi tengah butuh waku untuk sendiri…” akunya tanpa mau menoleh pada Lim.

Lim terus menunduk namun tetap memperhatikan setiap kata yang diucapkan oleh Nyonya Xi.

“Aku terlalu pusing untuk memikirkan putraku. Aku tidak tahu bagaimana cara anak itu menghadapi segalanya sendirian. Kupikir, soal rumor dia yang pergi ke club gay hanya omong kosong belaka. Tapi…melihat keadaan ini…” ia pun menghela napas beratnya.

Kemudian, Nyonya Xi pun menoleh ke arah Lim, “Aku butuh bantuanmu. Kau bisa membantuku Bibi Lim?”

=TBC=

Link Married With A Gay: ( Chapter 1 – Chapter 2Chapter 3Chapter 4 Chapter 5Chapter 6Chapter 7 Chapter 8Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12 AChapter 12 BChapter 13 [END] Released)

04082014 2119

77 responses to “[Series] Married With A Gay – Chapter 1

  1. aahhh , Luhan T.T lebih baik jujur dari awal saja . Yixing kenapa tak menyadari perasaan Luhan ???? dan kenapa Luhan malah pergi ke club malam terus ????

  2. kasian banget baca perjuangannya luhan disini, yang nambah bikin miris adalah dia engga menikmati kelainannya dia sebagai gay. itu bikin empati. tapi kok luhan bisa jadi gay ya? adakah alasannya? semacam latar belakang keluarga atau sosial gitu? kesian ih bacanya. semoga di ending dia bisa sembuh dan bahagia, seengganya dia engga berakhir menyedihkan walaupun udah sembuh.

    ah iya, aku mau kasih saran mungkin kalau mau buat ff yang genre atau alurnya rada mirip bisa kepake. kayaknya bakal lebih baik kalau orang yang disuka luhan itu disembunyiin dulu di chapter 1 sampe akhirnya pembaca penasaran sama orang yang disuka luhan. jadi efek kagetnya bisa kayak nyonya xi yang sampe masuk rumah sakit gitu pas tau itu si lay. terus penjelasan antara luhan yang menyukai lay agak di kurangi, kalau perlu di buat seolah lay yang menyukai luhan, kan disini kayaknya karakter lay perhatian gitu ke luhan. jadi pembacanya juga penasaran, ‘ini gay-nya yang mana ya?’. tapi namanya juga saran, bisa dipakai bisa tidak. ditunggu chapter selanjutnya🙂 karena aku penasaran sama keluarganya bibi Lim, ada sesuatu yang mencurigakan. hahaha.

  3. kasian banget luhan nya… menderita karena merasa berbeda…
    sebenernya apa yg nyebabin luhan jadi gay, dan knp dia bisa mikir klu dirinya gay? apa ada trauma d masa lalu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s