The Roommate Buddies [PROLOG]

The Roommate Buddies

Bukan fanfiction milik ifaloyshee, melainkan titipan dari seorang teman. Harap memberikan komentar setelah membaca ya!

Title                   :    The Roommate Buddies (Prologue)

Author/twitter   :    lucky_baek123 (twitter: @lukiluhanniee)

Cast                   :    Byun Baekhyun, Park Ahra (OC), Xi Luhan

Genre                :    Romance, Fluff, Comedy, Hurt, Sad

Rating               :    I don’t know, maybe… PG17??

Length               :    Chapter

Disclaimer         :    This story is purely mine^^

Credit Poster Yaumila @ HSG

Prologue

ʚ Suasana Canggung yang Panas ɞ

.

.

.

“Kau tidak terkena penyakit kelamin, kan?” tanya seorang gadis dengan matanya yang lebar pada pemuda bertelanjang dada yang saat ini sedang berada di atasnya. Pemuda itu memutar bola matanyaa kesal, wajah gadis itu sangat polos… terlalu polos bahkan untuk pemuda yang setiap hari selalu bermain-main dengan gadis-gadis bertubuh sexy di club malam tempatnya bekerja, dan jika saja keadaan tidak berubah menjadi sepanas ini maka pemuda itu akan senang sekali menganggap gadis tersebut sebagai seorang deonsaeng yang senantia dilindunginya.

 

“Tidak,” ucap pemuda itu pelan sambil memandang tajam wajah gadis yang berada di bawahnya itu, terlentang dengan polos bak mangsa yang tak lagi berdaya di hadapan pemburunya. Gadis itu nampak cantik, bahkan hanya dengan sinar remang di bawah rembulan malam, pemuda itu tanpa ragu mengakui hal tersebut. Bola mata yang besar, wajah yang mungil dengan rona pipi merah alami yang cantik, serta bibir mungil merah muda yang ingin sekali segera ia rasakan kelembutannya. Pemuda itu hendak menjatuhkan ciuman dalam pada bibir gadis tersebut, ketika gadis tersebut menahan dada pemuda tersebut… mendorongnya perlahan untuk membuat jarak yang cukup di antara mereka berdua.

 

“Kau tahu, di Amerika ini disebut sebagai bentuk proteksi diri… aku harus yakin kau benar-benar tidak punya penyakit kelamin. Aku masih 26 tahun, masih cukup muda untuk menjalani hidup yang sehat tanpa penyakit kelamin,” ucap gadis tersebut cepat dengan nada yang sedikit bergetar, nampak sekali bahwa gadis itu sedikit gugup sebenarnya.

 

“Kau benar, kita memang harus selalu memproteksi diri… tapi demi Tuhan, Ahra.. kau sudah bertanya hal tersebut 15 kali… 15 kali!! aku tidak punya penyakit kelamin, dan aku selalu memastikannya setiap bulan. Dan lagi saat ini, kita menggunakan pengaman. Jujur saja padaku, sebenarnya kau ingin melakukan ‘nya’ atau tidak?” ucap pemuda itu kesal, sambil menarik rambutnya kesal, berusaha menyalurkan rasa frustasinya dengan mencabut seluruh helai rambutnya. Ini bukan kali pertama bagi pemuda itu berada di atas ranjang dengan wanita seperti ini, bahkan bisa dibilang ini kali-9999999 baginya, ia terlalu lihai untuk menghitung berapa jumlah pastinya, tapi yang jelas saat ini… ini kali pertama baginya merasa benar-benar putus asa berada di atas ranjang dengan seorang gadis.

 

“Jinnja? Sudah 15 kali? Bagaimana kau bisa menghitungnya?” tanpa rasa bersalah, gadis itu bertanya dengan raut mukanya yang polos, membuat pemuda tersebut semakin mengeram putus asa.

 

“Sudahlah, jika kau benar-benar tidak ingin melakukannya. Maka kita tidak perlu melakukannya,” ucap pemuda tersebut sambil menarik boxernya yang melorot, ia hendak bangkit dari ranjangnya ketika gadis itu justru memegang tangan pemuda itu erat.. mencegah pemuda berambut hitam itu untuk pergi meninggalkannya.

 

“Jangan pergi,” ucap gadis itu sambil memegang lengan pemuda itu, memaksa pemuda tersebut kembali berada di atas ranjang bersamanya.

 

Pemuda itu, duduk tepat di samping gadis tersebut dan memegang lembut tangan mungil gadis itu. Ia menatap gadis itu dalam, membelai rambut gadis itu pelan. Ada rasa aneh, ketika jemari-jemari indah itu menyentuh rambut gadis tersebut, ia merasa seakan ada sengatan listrik yang mulai mengalir dari kepalanya, menuju jantungnya dan kemudian menjalar ke ujung kakiknya, membuatnya merasa membeku di bawah dinginnya angin malam yang masuk melalui celah-celan jendela ruangan tersebut.

 

“Jadi kau yakin akan melakukannya kali ini?” tanya pemuda itu lembut, namun entah mengapa gadis itu mendengar sedikit ancaman dalam nada pemuda tersebut. Gadis itu terdiam untuk beberapa saat, otaknya seolah memunculkan segala gambaran kemungkinan yang akan terjadi jika ia membuat keputusan besarnya saat ini. Ini sama seperti berbelanja di toko yang tidak mau menerima refund, kita harus memikirkan akan membeli apa dan dengan seksama memeriksa barang yang akan kita beli tersebut, karena jika kita terlanjur membeli maka barang tersebut tidak akan pernah bisa dikembalikan lagi.

 

Pemuda itu menghela napas, ia bisa merasakan keraguan dalam wajah gadis itu. Baginya tidak masalah untuk melakukan hal ini sebanyak apapun itu, tapi ia jelas tidak pernah ragu ketika melakukannya dan ia tidak akan pernah bisa menerima keraguan seperti itu ketika melakukan hal tersebut. Ia tidak ingin disalahkan, ia ingin menjadikan hal ini seperti win-win solution, dimana kedua belah pihak merasa senang, terpuaskan, tanpa ada yang merasa dirugikan. Dan jelas, keraguan bukanlah salah satu faktor yang dapat menciptakan hal tersebut.

 

Ia bangkit dari duduknya, kali ini ia benar-benar tidak akan bertanya pada gadis itu. Suasana seperti ini sudah cukup membuatnya merasa canggung, dan bagi seorang ahli sepertinya ini adalah sebuah aib yang memalukan. Ia baru akan melangkahkan kakinya, menjauh dari ranjang tersebut… berusaha menenangkan dirinya dari suasana canggung yang cukup panas itu ketika, ia merasakan sepasang tangan lembut yang hangat kini sedang merangkulnya dari belakang.

 

“Aku yakin, Baekhyun-sshi,” ucap gadis itu pelan, suaranya sangat pelan hingga terdengar seperti bisikan, tapi bagi pemuda itu suara gadis tersebut cukup untuk membuatnya tersenyum. Ia membalikkan badannya, menangkup wajah gadis yang tingginya tidak jauh beda dengannya itu, menatapa lekat kedua manik gadis itu, seolah mencari pantulan keraguan yang mungkin masih nampak di kedua mata polos tersebut.

 

“Baiklah, kali ini kau tidak akan bisa menolak lagi,” ucap pemuda itu sambil menjatuhkan bibirnya di atas bibir lembut gadis itu, merasakan dirinya mulai terbius dengan rasa manis yang lembut dari bibir tipis itu. Dan siapa sangkah, ‘aksi’nya kali ini tidaklah sama dengan aksi-aksinya sebelumnya… siapa sangkah gadis polos tidak berpengalaman yang terus menerus mengeluh sakit di sepanjang malam itu, justru membuat pemuda itu terjatuh di sebuah lubang yang dalam. Lubang yang biasanya dijauhi oleh seorang player ahli sepertinya, lubang yang orang-orang sebut sebagai cinta.

 

47 responses to “The Roommate Buddies [PROLOG]

  1. Omg. Ada adegan dewasa >< . Tapi sepertinya ceritanya akan seru. Buat chapter 1 nya jangan lama lama ya author, hehe dan juga jangan pendek ceritanya. Ini saran. Hehe. Fighting author!

  2. ahhhhh baekh yg imut” itu ga kebanyang jadi player >.<

    wahhhh ceritany pasti bakaln seru apagi yg mainny uri baek kkkkkk~XD ok dirunggu chap selanjutnya author-nim 😀

    fighting!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s