[5] Secretly, Falling

BuzaN3aCYAAiG3Y

SECRETLY, FALLING

By: hgks11

Park Aeri – Kim Jongin – Kim Joonmyun

PG15-17

[due to the scenes and languages]

Drama-Romance-Angst-University AU

***

WARNING! : PLEASE TO THE ONE WHO IS STILL UNDERAGE, PLEASE DON’T READ THIS FICT IF I MAY ADVICE YOU. THERE ARE SOME SCENES THAT’S NOT SUITABLE FOR PEOPLE UNDERAGE. THANKS.

[be wise before you decided to read this fict]

 

 [ 4 ]

 

 

AUTHOR’S POV

 

Beep beep! Beep beep!

 

 

“Nghh” Kai mengerang pelan mendengar jam alarmnya yang terus menerus berbunyi. Tangan kirinya meraba-raba meja di sebelah kasurnya, mencari-cari penyebab kegaduhan di pagi hari itu. Telapak tangannya bergerak ke atas dan ke bawah, lalu ke kanan dan ke kiri. Tapi ia tidak dapat menemukan jam beker miliknya itu.

Geez” menyerah, akhirnya Kai membuka kedua kelopak matanya dan bangun dari posisi tidurnya. Kedua tangannya terangkat, mengusap pelan kedua matanya sambil mengumpulkan nyawanya yang masih bertaburan.

 

Klik.

Hoaamm~” sejumlah karbondioksida keluar dengan bebasnya dari mulut Kai yang menganga lebar. Kai mengusap tengkuknya pelan, sebelum ia beranjak dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.

Kai merapihkan rambut coklat miliknya, setelah ia selesai dengan rutinitas paginya. He looks exceptionally in a good mood today. He’s not cranky in the morning and he even styling his hair carefully.

 

 

“Kai?” Suho yang baru bangun dari dunia mimpinya, menangkap sosok Kai yang keluar dari pintu kamarnya. Suho mengusap kedua matanya, tidak percaya dengan yang ia lihat sekarang.

 

Apakah aku masih bermimpi?

Ouch!” Suho memekik pelan ketika ia merasakan rasa sakit di lengannya yang ia cubit sendiri. Suho memandang Kai yang masih berada di depan pintu kamarnya, dengan alis yang saling bertautan. Suho melirik jam dinding yang berada di dekat mereka, dan kerutan di dahi laki-laki berambut pirang itu semakin bertambah.

“Kenapa kau bangun pagi-pagi sekali?” tanya Suho sambil memicingkan matanya. Kai hanya tersenyum lebar penuh makna, membuat Suho semakin penasaran.

Geunyang” jawab Kai sambil mengendikkan kedua bahunya acuh, lalu meninggalkan Suho yang masih mengenakan piyama itu. Suho memandang punggung Kai penuh curiga.

 

 I wonder what’s going on Kai’s mind rn.

Suho mengikuti langkah adiknya, menuju meja makan yang masih kosong. Dan alis Suho lagi-lagi saling terpaut melihat Kai yang sedang membuat roti isinya sendiri sambil bersenandung. Dengan langkah terburu-buru Suho menghampir Kai dan mendekati laki-laki itu.

 

“Kau tidak sedang sakit bukan?” tanya Suho sambil menempelkan punggung tangannya di kening Kai. Kai menatap Suho aneh, “Ani” jawabnya menyingkirkan tangan Suho dari jidatnya. Suho menarik kursi di sebelah Kai, memandangi adiknya dengan tatapan curiga.

Hyung berhenti menatapku seperti itu” protes Kai risih. Suho menopang kepalanya dengan tangan kanannya yang ia letakkan di atas meja makan, lalu memutar tubuhnya ke arah Kai.

 

Then spil it. What’s wrong with you today? It looks like you have a special ocasion?

Well..” Kai melirik jam tangan di pergelangan tangannya, lalu tersenyum lebar seperti anak kecil ke arah Suho.

I have a morning date Aeri” ujar Kai masih dengan senyum lebarnya.

 

Deg.

Untuk sepersekian detik, jantung Suho terasa seperti berhenti untuk sesaat. Ah.. date..

I gotta go, hyung. Bye!”

E-eoh, bye..

Suho memperhatikan punggung Kai  yang tampak menjauh, perasaan aneh menyelimuti hati laki-laki berambut pirang itu. Di satu sisi, ia ikut senang melihat Kai yang tampak ceria seperti itu. Sudah lama rasanya, melihat Kai bertingkah seperti itu. Sudah berapa tahun? 5? 6?

Tapi di sisi lain ia ingin menjadi egois dan menjadikan Aeri miliknya sendiri. Bukankah sudah cukup Suho terus menerus mengalah pada Kai selama hidupnya?

 

 

**

 

 

Kai berdiri dengan gelisah di depan pintu apartemen Sehun. Jantung laki-laki itu berdegup kencang, bulir-bulir keringat tampak di pelipis laki-laki itu.

Kenapa kau jadi gugup seperti ini Kim Jongin? Ini seperti bukan dirimu saja.

 

Bagaimana aku tidak gugup? This is the first time I’m going on a morning date with Aeri!

 

Morning date? Tch, kau pasti sedang bercanda. Hanya kau yang berlebihan menganggap ini date, Kai. Kau tidak tahu apakah Aeri juga menganggap ini ‘morning date’ seperti yang kau katakan.

 

Aish! Just shut up, will you? Aku merasa seperti orang gila bertengkar dengan diriku sendiri di dalam pikiranku.

 

 

Kai menggelengkan kepalanya pelan, mengusir suara-suara di dalam pikirannya. Memantapkan niatnya, Kai menekan bel apartemen Sehun.

Sehun berjalan malas ke pintu apartemennya, ketika ia mendengar suara bel. Sekilas ia melihat wajah Kai di monitor, membuat alisnya terangkat.

 

Kenapa pagi-pagi begini Kai sudah kemari? Batinnya.

Memutuskan untuk menanyakan alasan Kai nanti, Sehun membukakan pintu apartemennya untuk Kai.

“Pagi, Oh Sehun” sapa Kai dengan senyum lebar di wajahnya. Sehun memutar kedua bola matanya malas, melihat Kai yang terlihat super-duper bersemangat di pagi hari itu.

 

Ini aneh, pikir Sehun.

“Ada apa kau ke sini?” tanya Sehun, sembari ia dan Kai beriringan berjalan menuju ruang tengah apartemen Sehun yang luas.

Eoh, Kai sudah di sini?” belum sempat Kai menjawab pertanyaan Sehun, tiba-tiba Aeri keluar dari kamar Sehun dan menghampiri Sehun dan Kai yang kini sudah duduk di sofa depan tv. Alis Sehun saling berpautan melihat Aeri yang sudah mandi dan tampak rapi. Sedangkan Kai di sisi lain, alisnya ikut terpaut begitu ia melihat sebuah bekas memerah di antara bahu dan leher Aeri.

 

“Seharusnya Aeri tinggal di apartemenku saja” gerutu Kai pelan. Ia tahu arti di balik bekas memerah di dekat leher Aeri itu. Ditambah gadis itu baru saja keluar dari kamar Sehun.

“Kau ingin pergi, Aeri?” tanya Sehun begitu Aeri mengambil posisi duduk di sampingya. Aeri menganggukkan kepalanya pelan, lalu mendekatkan wajahnya ke leher Sehun.

 

“Ya.. Aku ada tugas dari Cho Ssaem pagi ini” gumam Aeri pelan, membuat rambut-rambut kecil di tengkuk Sehun berdiri karena hembusan nafas Aeri.

“Hhh” Sehun mendesah pelan, begitu bibir Aeri yang mungil menyentuh kulitnya yang sensitif. Aeri memejamkan kedua kelopak matanya, menikmati setiap kali bibirnya menyentuh pelan kulit sensitif Sehun, menggoda laki-laki berkulit pucat itu perlahan. Kai mendecakkan lidahnya kesal, melihat Aeri yang menyembunyikan wajahnya di balik leher Sehun. Tanpa basa-basi, Kai menarik lengan Aeri dan beranjak dari posisi duduknya.

“Kami pergi, bye!” seru Kai sambil menarik Aeri keluar dari apartemen Sehun. Sahutan protes dari bibir Aeri tak dihiraukan sama sekali oleh Kai, laki-laki berambut coklat itu terus menarik Aeri keluar dari apartemen. Sehun yang baru menyadari apa yang terjadi, menggelengkan kepalanya pelan.

“Tsk, Kim Jongin. Jealous monster” ujar Sehun pelan, tersenyum mengejek.

 

 

 

 

“Yah! Kim Jongin!” Aeri menatap tajam ke arah Kai begitu laki-laki itu masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin. Nafas Kai tampak terengah-engah karena mengendalikan emosi yang bergemuruh di dalam dadanya. Aku tidak mengerti, kenapa aku bisa menyukai perempuan seperti Aeri, gerutu Kai dalam hati.

“Yah! Kim Jong—“ ucapan Aeri terputus begitu Kai mendaratkan bibirnya di atas bibir Aeri, membungkam mulut gadis itu. Kai melumat bibir bawah Aeri, membuat Aeri menutup kedua kelopak matanya secara refleks. Her fingers find their own way to Kai’s neck, holding it tightly. Seductivly, Kai moves his lips on Aeri’s. He licks Aeri’s lips slowly, as if he’s asking for her permission. But Aeri close her lips firmly, not letting Kai’s tounge enter her mouth easily. Aeri can hear Kai’s groans at the back of his throat. She’s smirking slightly, receiving such a respon from Kai.

 

“A-ah!” Aeri memekik pelan, when Kai’s cold fingers touch her stomach’s bare skin. Nafas gadis itu tertahan, merasakan jemari-jemari Kai yang bergerak semakin ke atas di balik pakaian yang ia kenakan.

“Shh” Aeri hissed lowly, saat jari Kai menekan tulang rusuknya while his tounge skillfully teasing her tounge inside her mouth. Jari-jari Kai bergerak semakin ke atas, hingga ujung-ujung jemarinya menyentuh kawat bra milik Aeri. Aeri menahan nafasnya, menantikan jari-jari Kai untuk menelusuri tubuhnya lebih jauh. Kai menyeringai di sela-sela ciumannya dengan Aeri, melihat Aeri yang tampak menanti. Menyeringai jahil, Kai menghentikan gerakan tangannya dan mengeluarkan tangannya dari balik kaos Aeri, membuat gadis itu merengut kesal ketika Kai juga memisahkan bibir mereka.

 

“Yah—“

“Jika-kau-ingin-a hot-make-out-session-just-do-it-with-me-not-with-that-jerk-oh sehun” Kai mengecup sekilas bibir Aeri di setiap sela-sela kata yang ia ucapkan. Aeri terdiam beberapa saat, tak mengerti apa yang harus dilakukannya karena sikap baik Kai yang tiba-tiba. Kini Kai sudah mengemudikan mobilnya dan meluncur di jalanan Seoul yang ramai. Tapi Aeri belum juga bisa menemukan alasan dibalik sikap Kai barusan.

Aish, whatever. I won’t think about it again, batin Aeri menyerah.

 

 

**

 

 

Are you done?” aku menganggukkan kepalaku pelan pada Kai. Laki-laki berkulit gelap itu ternyata sedari tadi menunggukku di luar ruangan sambil bersandar balik dinding. Ia membuang puntung rokok yang sedari tadi bertengger di bibirnya, mematikan benda bernikotin itu. Aku mengibas-ngibaskan udara di depanku, sambil menatap sebal ke arah Kai. He only scoffed when he saw me. Aku memutar kedua bola mataku malas, “Jerk” gumamku.

 

Aye! Aye! Sorry, miss ‘I hate cigaratte’” ujarnya tersenyum mengejek. I punched his shoulder a little hard, enough to make him flinch.

Are you a girl or boy?! You punch is quite hard

I heard that, Kim Jongin

Kai mengendikkan kedua bahunya acuh sambil menyamakan langkahnya denganku. Ingin rasanya aku menarik bibirnya itu agar berhenti tersenyum mengejek padaku. Menyebalkan.

 

 

“Eh, Aeri?” langkahku terhenti begitu aku mendengar namaku disebut. Aku tersenyum kecil melihat Luhan yang kini berdiri di hadapanku, dengan kacamata bulat miliknya dan sebuah clutch yang kuyakin pasti berisi tab miliknya.

“Kai?” sebelah alis Luhan terangkat, membuatnya terlihat begitu menggemaskan dan hot at the same time. I wonder, bagaimana rasanya menelusuri kedua alis laki-laki itu dengan jari-jariku. Lalu jari-jariku akan turun menelusuri setiap lekuk wajahnya, hingga ke bibirnya lalu ke leher dan pundak Luhan. His baby skin under that shirt is still so vague in my mi—

Yo, Luhan hyung. Ada apa kau ke kampus pagi-pagi seperti ini?” sialan. Kai kau membuyarkan imajinasiku! Kau tidak tahu betapa hot-nya Luhan di atas ran—

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, Kai. Kau tidak pernah ke kampus sepagi ini sebelumnya” euggh. That lips of Luhan is jus—

“Aku mengantar bocah satu ini”

What the—“ “Aww aw! Yah! T-the f-fuck!”

“Rasakan kau, jerk. Siapa yang kau bilang bocah, hah?” sahutku ketus. Enak saja aku di bilang bocahRasakan sekarang, adik kecilmu itu akan terus berdenyut kesakitan. Aku menyeringai puas melihat Kai masih kesakitan sambil memegang celananya. Sekilas kulihat Luhan ikut tertawa hingga wajahnya berubah merah.

 

Oppa, you wanna grab a breakfast with me?” tanyaku, menatapnya dengan wajah memohon. Ia tampak menggelengkan kepalanya pelan sambil tertawa kecil melihatku. Apakah wajahku terlihat jelek hingga ia tertawa seperti itu?

It’s rare seeing you doing cute things like this, Aeri-ya. Of course” ia mengacak pelan rambutku, membuatnya berantakan. Aku hanya tersenyum lebar melihatnya yang tersenyum padaku, aku tak menghiraukan rambutku yang dibuatnya berantakan. Luhan pasti akan merapikannya lagi setelah ia mengacaukan tataan rambutku.

 

Yah! Lalu bagaimana denganku?!” protes Kai yang sudah kembali normal. Aku mengangkat kedua bahuku acuh, lalu menoleh ke arahnya.

“Menurutmu, bagaimana?” tanyaku tersenyum miring pada Kai.

Shit” aku tertawa kecil bersama Luhan mendengar Kai yang mengumpat.

Such a meanie” ujar Luhan pelan di telingaku, lalu mengacak rambutku lagi.

You are, not me” jawabku sambil tersenyum lebar. Luhan mendecakkan lidahnya mendengar jawabanku, lalu ia merapikan lagi rambutku.

 

 

Do you know?”

I don’t know

GeezI hissed hearing his answer. I punched his shoulder, but he just laughed it out.

“Bagaimana aku bisa tahu? Kau belum memberitahuku, Aeri” jelasnya di sela-sela tawanya.

“Kau tidak pernah berubah, oppa. Kau ingat?”

“Tida—“

“Jangan potong ucapanku, okay?” ujarku menatap tajam ke arahnya. Ia menyengir tiga jari padaku, sambil mengangkat tangannya dan berkata, “Peace~ haha”

Aku memutar kedua bolaku malas, namun sebuah senyum bertengger di ujung bibirku.

 

“Kau selalu mengacak rambutku, lalu merapikannya lagi. Sedari dulu, kau selalu begitu. Tak pernah berubah. Aku jadi ingat saat pertama kali kita bertemu” ujarku menerawang masa-masa kecilku bersama Luhan dan Sehun.

“Ya, aku juga ingat. Bagaimana aku bisa lupa? Kau ingat bukan, Sehun? Ia mengiraku seorang perempuan” ujarnya sambil tertawa kecil.

“Tentu saja. You’re his first crush, oppa!”

 

 

 

FLASHBACK

“Aeri! Come here!” Aeri kecil berhenti membuat bunga dari lilin malam yang sedang dipegangnya.

Mommy call me?” tanya Aeri pada Sehun yang duduk di hadapannya. Bocah laki-laki itu mengendikkan kedua bahunya, masih asik membuat ular dari lilin malam berwarna hijau.

Aeri-yaa! Sehuniee!” suara itu terdengar lagi. Aeri beranjak dari posisi duduknya dan menarik lengan Sehun.

C’mon, my mom call us! Palliiii~” ujarnya tak sabar.

Okay okay” Sehun mengikuti langkah-langkah kecil Aeri ke ruang tamu, menghampiri ibu Aeri dan dua orang dewasa lainnya di ruangan itu. Kedua bola mata Sehun terpaku begitu ia melihat seorang anak laki-laki yang memilik bola mata yang besar dan benar-benar tampak seperti perempuan. Sehun kecil tidak bisa mengalihkan pandangannya dari anak laki-laki yang dikiranya perempuan itu. Mungkin Sehun kecil tidak menyadari, tapi kedua matanya seperti berubah menjadi hati begitu ia melihat bocah yang berada tak jauh darinya itu.

 

“Ada apa, mom?” tanya Aeri kecil, masih menggandeng tangan Sehun di sebelahnya.

“Ajak Luhan oppa bermain di luar, okay?” ujar wanita cantik yang Aeri panggil mommy itu. Aeri menganggukkan kepalanya pelan, “Okay mom

C’mon, Lu oppa. Let’s play!” Luhan kecil tampak ragu mendengar ajakan dari Aeri, namun setelah kedua orang tuanya membujuknya, ia baru mau mengikuti Aeri dan Sehun ke taman belakang rumah Aeri.

Uhm, jadi namamu Luhan?” tanya Aeri kecil begitu mereka bertiga duduk berdampingan di atas rumput hijau. Luhan kecil menganggukkan kepalanya pelan.

“Namamu?”

“Aku Aeri”

“Aeri” ujar Luhan dengan huruf R yang jelas, membuat Aeri kecil sedikit terkejut.

“Kau bisa menyebut namaku dengan benar!” serunya senang. Luhan menggelengkan kepalanya pelan sambil tertawa kecil, melihat wajah Aeri yang tampak begitu senang.

“Tentu saja, aku lebih tua darimu. Aku sudah bisa melafalkan huruf R dengan jelas” jelas Luhan pada Aeri, sambil mengacak rambutnya pelan—gemas melihat Aeri yang tampak sangat lucu.

“Jangan acak rambutku!” protes Aeri, tapi bocah perempuan itu tetap memasang wajah senang, begitu Luhan buru-buru merapikan lagi rambut perempuan itu.

“Akhirnya, ada yang memanggil namaku dengan benar. Tidak seperti Sehun yang tidak bisa—“

Yah! Park aewwi!” Sehun menatap kesal ke arah Aeri begitu namanya dibawa-bawa. Dalam hati, Sehun kecil berteriak ‘Jangan permalukan aku di depan perempuan cantik ini!’.

See, oppa? He calls me Park Aewwi” ucapan Aeri membuat kedua bola mata Sehun melebar.

Oppa?” tanyanya pelan. Aeri menolehkan kepalanya ke arah Sehun sambil menganggukkan pelan.

“Kau laki-laki?” tanya Sehun kecil pada Luhan yang menatapnya polos.

“Ya, tentu saja” jawab Luhan. Raut wajah Sehun seketika berubah gelap, seperti ada awan mendung berada tepat di atas kepala bocah laki-laki itu. Aeri yang menyadari perubahan wajah Sehun, menatap sahabatnya itu curiga. Hingga sebuah pertanyaan melintas di otak Aeri, “Kau mengira dia perempuan, Oh Sehun? Dan kau menyukai—“ sebuah tangan kecil milik Sehun menyekap mulut Aeri, membuatnya tak bisa melanjutkan ucapannya. Aeri menatap kesal ke arah Sehun, namun bocah laki-laki di sebelahnya itu glares back at her.

Shut up” gumam Sehun kecil dengan wajah memerah seperti tomat.

 

END OF FLASHBACK

 

 

 

***

 

 

 

Sedari tadi, makanan di hadapanku belum tersentuh sama sekali. Aku hanya meneguk kopi milikku, sambil memperhatikan Aeri dan Luhan di hadapanku. Aku masih belum mengerti, hubungan apa yang Aeri and Luhan hyung shares? They look so close, like when Aeri with Sehun. Tapi, kenapa aku baru menyadarinya? Jika dipikir lagi, selain denganku, Sehun juga dekat dengan Luhan hyung. Dan seingatku, mereka adalah teman kecil juga. Apa itu berarti Aeri dan Luhan juga teman kecil?

 

“Kim Kai?” lamunanku buyar begitu Luhan hyung melambaikan tangannya di depan wajahku.

Eoh?” jawabku sekenanya.

“Biar aku yang mengantar Aeri pulang. We have something to do” aku menghela nafas pelan mendengar ucapan Luhan hyung. Sesungguhnya aku ingin menghabiskan seharian ini dengan Aeri, aku bahkan sudah berencana untuk membolos kelas Cha ssaem karena aku ingin pergi bersama Aeri.

Oh, okay. I’ll get going then. I also have something up. Bye” ujarku beranjak dari tempat dudukku, menganggukkan kepalaku ke arah Luhan dan Aeri.

Aku berjalan menyusuri pertokoan di sekitar cafe tempatku, Aeri dan Luhan sarapan tadi. Kukeluarkan ponsel persegi milikku dari dalam saku, mengecek notif yang masuk.

“Tak ada yang penting” gumamku pelan, setelah aku melihat notif-notif itu. Menghela nafas pelan, kuputuskan untuk berjalan-berjalan di sekitar komplek pertokoan beberapa saat lagi. Lagipula, sudah lama aku tidak berjalan-jalan sendirian seperti ini.

 

 

**

 

 

So, tell me. Which one of them?” tanya Luhan pada Aeri. Aeri menatap  laki-laki di sampingnya itu dengan alis terangkat, “What do you mean, Lu?”

Tsk. You know what I’m talking about” ujar Luhan. Aeri mendesah pelan, “I don’t know, Lu” jawabnya jujur.

“Bagaimana kau bisa tidak tahu?”

 

Aeri mendesah pelan, lalu menatap laki-laki di hadapannya itu dengan muka memelas. Gadis itu benar-benar tampak seperti tersesat dan tak tahu arah, membuat Luhan menghela nafas.

“Siapa yang membuatmu lebih nyaman?” tanya Luhan.

“Ntahlah, Lu. Saat bersama Kai, aku merasakan adrenaline-ku yang terpacu cepat. Ia selalu bisa membuatku merasa bahwa aku.. pantas untuknya. Bahwa aku memang lawan yang bisa bersanding dengannya. Kai selalu bisa memuaskan hasratku. You know la, Lu. It’s not like you or Sehun can’t, but both of you are my loves one. Sometimes, it doesn’t feel right to fuck with both of you. But with Kai, I can fuck all I want. Sedangkan bersama Suho..” alis Luhan terangkat begitu Aeri tampak berpikir sejenak. Tanpa gadis itu sadari, sebuah senyum kecil terlihat di ujung bibirnya.

“Aku merasa seperti menjadi Aeri yang dulu pernah ada. Kau tahu, bukan? Aeri yang dulu masih munafik dan naif. I feel like I’m a high schooler all over again. He knows how to make me smile just with a small thing. Sometimes he acts like a child, and suddenly my heart will be thumping in a weird tempo. His embrance feels so different. I felt save in his embrance, like at home. And he doesn’t want to fuck me. He said, he wants to make love to me. But I don’t know what’s the difference between make love and fuck. All I know, having sex with Suho.. is just so mind blowing. He doesn’t even care dengan nafsunya, ia menyisihkan nafsunya hanya untuk memuaskanku terlebih dahulu. Memastikan bahwa aku—“

 

Stop ‘till there, sweety. I don’t need any detail about your sex life with Suho, okay?” ujar Luhan jahil, menghentikan ucapan Aeri. Kedua pipi Aeri tampak merona memerah mendengar ucapan Luhan, bahkan gadis itu menundukkan kepalanya karena ia malu. Luhan menggelengkan kepalanya pelan, sebuah senyum lebar terpampang di wajahnya yang tampan.

“Kau tahu Aeri-ya? I think you’ve falling in love..”

 

 

***

 

 

 

So, kenapa Luhan tiba-tiba menyuruhku untuk menjemputmu?” tanya Suho dari balik kemudi. Aeri yang duduk di sampingnya, mengangkat kedua bahunya sambil menggelengkan kepalanya pelan. Pikirannya masih dipenuhi dengan ucapan Luhan tadi.

“Kau tahu Aeri-ya? I think you’ve falling in love..”

Is he true?” gumam Aeri tanpa sadar menyuarakan pikirannya.

“Who?” tanya Suho yang tak sengaja mendengar gumaman Aeri. Buru-buru Aeri menggelengkan kepalanya, “Aniya aniya” sahut Aeri cepat. Alis Suho terangkat mendengar jawaban Aeri, namun laki-laki berambut pirang itu lebih memilih untuk tidak menanyakan lebih lanjut dan kembali fokus dengan jalanan di depannya.

 

Selama beberapa saat, hening menyelimuti kedua insan manusia itu. It’s not like an awkward silent, but it’s a comfortable one. It just feels like they don’t need to talk to each other, their existence itself already enough for both of them.

So, how was your morning date with Kai?” tanya Suho ragu, memecah keheningan di antaranya dan Aeri. Suho menggigit bibir bawahnya pelan, merasakan jantungnya yang berdegup kencang menanti jawaban Aeri.

So, sarapan bertiga bersama Luhan termasuk morning date bagi Kai?” Aeri tertawa kecil mengingat kejadian tadi pagi, sedangkan Suho diam-diam menghela nafas lega. Sebuah senyum terlihat di wajah Suho, “Jadi, kalian sarapan bertiga?”

“Ya, begitulah. Kami bertemu dengan Luhan di kampus, jadi kuajak saja ia untuk sarapan bersama. Kau tahu? Adikmu itu memanggilku bocah di depan Luhan”

“Bocah?”

“Uhm! Jadi kutendang saja selangkangannya, lalu ia meloncat kesakitan” jelas Aeri sambil tertawa. Suho yang mendengar cerita Aeri itu, ikut tertawa bersama gadis cantik di sebelahnya itu, lalu menggelengkan kepalanya pelan.

You’re such a meanie. Poor Kai, I knew how painful it was”

I’m not a meanie, okay? That’s his fault, memanggilku bocah”

Then, akan kuingat untuk tidak memanggilmu bocah. Aku masih ingin punya Suho kecil di masa depan” Aeri tertawa hingga eyesmile miliknya terlihat mendengar ucapan Suho, lalu Suho pun ikut tertawa bersama Aeri.

 

 

***

 

 

 

“Jelaskan padaku sekali lagi, kenapa aku harus ikut kalian?” tanya Aeri menatap tajam ke arah Sehun dan Luhan yang memasukkan baju-baju milik gadis itu ke dalam koper.  Luhan menolehkan kepalanya ke arah Aeri, menggelengkan kepalanya pelan melihat Aeri yang seperti menujukan laser padanya dan Sehun.

 

You know why, Park Aeri. You’re not save if we leave you here, alone. Or do you want us to call your parents, eh?” Aeri mendesis sebal mendengar ucapan Luhan.

Don’t call them. I hate calling them” Luhan mendecakkan lidahnya, “Then you must come with us. Don’t complain again, okay sweety?

Yeah, if not I’ll kick you out of my apartment

I know you won’t, Oh Sehun. So don’t say bullshit

 

Aeri menghela nafas, pasrah pada dua orang laki-laki di depan lemari pakaiannya itu. Mau tak mau, gadis itu harus ikut bersama Luhan dan Sehun. Ia tahu, ia tidak akan aman jika ia sendirian, meskipun ia berada di apartemen Sehun. Park Jungsoo sialan itu bisa saja menemukannya lagi, seperti ia menemukan alamat apartemennya. Lagipula, ia juga tidak ingin Luhan menelpon orang tuanya. Kedua orang tua Aeri, oh scratch that. Her father and her step mom are always outside the country. If they’re not in Paris, maybe they’re in New York or other side of Europe. Since the day her father re-married with that woman, Jungsoo and her will be at Seoul and their parents at the other side of the globe. Mereka hanya datang ke Seoul sebulan sekali atau 2 minggu sekali. Sekarang, setelah Aeri kuliah mereka semakin jarang ke Seoul, karena ayahnya telah memberikan kepercayaan pada Aeri bahwa gadis kecilnya itu sudah bisa mandiri. Aeri hanya tidak ingin mengkhawatirkan ayahnya dengan masalah kecil.

 

Done!” Sehun dan Luhan ber-high five ria begitu mereka selesai mengepak baju Aeri. Kedua laki-laki itu menoleh ke arah Aeri, dengan senyum lebar di masing-masing wajah mereka.

Okay then, let’s go. I’m in

Yoohooo!” “Yosh!”

Aeri tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya pelan melihat ekspresi senang di wajah Sehun dan Luhan, seperti saat tim bola favorit mereka baru saja mencetak gol. Sometimes, just sometime. They look like an innocent boy all over again.

 

 

**

 

 

It’s beach~~!! Woohoo~!

Beach! Beach!

Yahooo~!”

Kris dan Suho menggelengkan kepala mereka melihat kawan-kawan mereka yang langsung turun dari mobil mereka masing-masing dan segera berlari ke arah pantai, tanpa peduli dengan koper-koper mereka yang masih berada di bagasi mobil mereka. Aeri keluar dari mobil Sehun, mengenakan hotpants dan kaos tipis. Gadis berambut coklat berkemilauan itu menghampiri Kris dan Suho yang bersandar di depan mobil Kris, sambil memperhatikan teman-teman mereka yang sudah basah dengan air laut yang asin.

 

“Kalian tidak ikut ke sana?” tanya Aeri sambil menunjuk ke arah Kai dan Sehun yang saling melempar air seperti anak kecil. Suho menepuk tempat di sebelahnya, mengisyaratkan agar Aeri mendekat ke sampingnya. Suho melepas jaket yang dikenakannya, lalu menyampirkannya di bahu Aeri, begitu ia melihat kaos tipis yang dikenakan Aeri.

Thank you” ucap Aeri pelan, tersenyum. Suho menganggukkan kepalanya pelan, sebelum tangan laki-laki itu melingkar di pinggang kecil milik Aeri, memperkecil jarak di antara tubuh mereka. Kris yang tak sengaja melihat kedekatan Suho dan Aeri itu, menyunggingkan sebuah senyuman kecil.

 

“Sepertinya, aku akan menyusul mereka” ujar Kris tiba-tiba, melepas cardigan abu-abu yang dikenakannya, dan melemparnya ke arah Aeri.

Nice catch, girl” Kris mengerlingkan sebelah matanya pada Aeri, membuat Aeri menggelengkan kepalanya pelan sambil tertawa kecil. Suho juga ikut tertawa, melihat punggung Kris yang semakin menjauh dari mereka berdua.

 

“Jadi, kau memutuskan untuk ikut?” tanya Suho, masih melingkarkan tangannya di pinggang Aeri. Aeri menganggukkan kepalanya pelan, kedua lengannya bersila di depan dadanya.

“Sehun dan Luhan memegang kartuku, jadi mau tak mau aku harus ikut dengan mereka” ujar Aeri mencibir. Suho menyengir mendengar ucapan Aeri, “Apa kau benar-benar tidak ingin ikut, eh?”

Aeri menggelengkan kepalanya, “Ani, sekarang aku berubah pikiran. Untung saja aku ikut dengan mereka kemari”

“Kenapa kau berubah pikiran?” tanya Suho dengan alis terangkat. Aeri menolehkan kepalanya ke arah Suho, menatap kedua bola mata laki-laki itu.

 

Karena ada kamu di sini, Kim Joonmyun. Jawab Aeri dalam hatinya.

Aeri mengangkat kedua bahunya acuh, “Ntahlah, tiba-tiba saja aku berubah pikiran”

Weirdo” kedua mata Aeri melebar melihat Suho yang menjulurkan lidah ke arahnya, membuat laki-laki itu benar-benar terlihat seperti anak kecil.

Yah, siap yang kau panggil weirdo?! I’m not a weirdo, meanie” Aeri meninju pelan bahu Suho sambil menjulurkan lidahnya, membuat Suho tertawa.

You’re the Minnie, because I’m the Mickey” jantung Aeri berdegup kencang begitu ia mendengar ucapan Suho. Suho tampak tersenyum ke arah Aeri, dari kedua bola matanya perasaan senang terpancar dengan jelas. Aeri seperti larut ke dalam mata coklat Suho yang indah. Kedua insan manusia itu tidak bisa lepas dari perasaan senang dan excited yang menyelubungi mereka. Mereka merasa seperti hanya ada mereka berdua di dunia ini, hingga—

 

Hyung! Aeri! Come here!”

C’mon join us!”

Suho menggelengkan kepalanya pelan, mendengar sahutan-sahutan dari Tao dan Chen. Laki-laki berambut pirang itu menolehkan kepalanya ke arah Aeri lagi, menatap gadis itu dengan eyesmile miliknya.

C’mon, it looks fun” Aeri hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan, masih terpesona dengan eyesmile milik Suho. Tangan Suho yang melingkar di pinggang Aeri kini sudah berada di samping tangan gadis itu, lalu mengaitkan jari-jari mereka. Sambil bergandengan tangan, Suho dan Aeri menghampiri teman-teman mereka di pinggir pantai.

 

 

**

 

 

“Oh Sehun”

“Hmm?”

“Bagaimana menurutmu?”

“Apa?”

“Bagaimana jika aku mengatakan perasaanku pada Aeri?”

Sehun menolehkan kepalanya ke samping, mendengar ucapan sahabatnya itu.

“Kau yakin, Kai? I remind you, dia mungkin saja partner in crime-mu selama ini. Tapi belum tentu ia memiliki perasaan yang sama denganmu” ujar Sehun. Kai mendesah pelan, lalu menengadahkan kepalanya ke depan. Ia menatap Aeri yang tengah bermain air laut bersama Luhan dan Xiumin, juga Tao dan Chen. Sebuah senyum mencari caranya sendiri hingga muncul di wajah Kai, ketika ia melihat Aeri yang tertawa bersama Luhan dan Xiumin.

“Ya, aku yakin” jawab Kai mengangguk mantap. Sehun menepuk pundak Kai, “Satu saranku, Kai. Apapun jawaban Aeri nanti, kau harus bisa menerimanya”

Yeah.. But I hope she will say yesso I won’t have to face a heartbreak, lanjut Kai dalam hatinya.

 

 

 

TO BE CONTINUED..

 

 

 

 A.N: First, jangan protes karena aku baru ngepost chap 5 sekarang yaa~ kemarin komennya nyampe 50, tapi ga dalam waktu 1 x 24 jam, jadi aku baru post sekarang, baru selesai juga ini hoho

Semoga kalian suka sama chap 5, maaf buat grammar… typo.. dan chap ini membosankan sepertinya.. di chap 5 ini emang sengaja aku buat konfliknya ga muncul. Seperti yang kalian tahu, ada pepatah/? “It’s always calm before the storm” yaaaa kurang lebih begitulah wkwk So be prepared for the next next next chap okay? <333

 

Ps: Psst yang request Kai-Aeri moment, semoga pada suka sama Kai-Aeri moment di sini<3 jujur aja, pas aku nulis aku jadi sumringah bayangin Kai-Aeri<333 And for Suho-Aeri shipper/? Out there, semoga suka juga Suho-Aeri moment di sini<333

66 responses to “[5] Secretly, Falling

  1. Kalo moment aku lebih suka momentnya suho-aeri kesannya suho gentle and sweet tapi aku kai-aeri shipper hehe penasaraaaaan chapter selanjutnya dan konflik apalagi yg akan dihadapi mereka. Gasabar pengen tau aksi-katakan-cinta kai dan jawaban aeri kan aeri lagi jatuh cinta sama suho. Ditunggu banget yaaa :3

  2. waaa waaa.. jadi luhan jga prnah sma aeri, aigoo..
    luhan han ku.. >•< lebai ya??
    aku bru tau loh klo part 5nya udh kluar ato aku lupa ya… heheh

    kyknya bkal tmbah srru nih. aplg mulai ad tnda klo aeri suka sma suho. yoo yoo dtnggu lnjutnnya

  3. Maap thor aku baru comment di chapt ini
    Di chapt sbelomnya aku udh baca, cuma telat.. Jdi kupikir aku sekalian aja comment disinii
    Ffnya daebak bgt
    Sampe bikin aku bingung pengen ngeship siapa ._. Kai-Aeri apa Suho-Aeri…
    Tpi kayaknya aku lebih ke Kai Aeri deh, soalnya Kai bias akuu 🙂
    Next 😉

  4. chapter ini seru bgt. cuma kasian kai nya kurang greget sama aeri nya, malahan suho yang lebih krenyes/? ahahaha
    next ditunggu ya. aku kai-aeri shipper agak kurang puas sama moment mereka ya karena kesannya aeri lebih milih suho yang deketin aerinya dengan cara yang lebih santai(?)
    oke lah keep writing and fighting authornim

  5. Menurut ku, aku lebih suka Kai – Aeri. Soalnya cerita ini menonjolkan tentang Kai – Aeri. Tpi tetep bagus kok ff nya.

    Kira” , kalau aeri ketemu lagi sama kakak tirinya. Gmana tuh ?
    Next chapt thor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s